• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengalaman Membenahi Koperasi

Dalam dokumen PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH (Halaman 163-181)

BAB 13: Simpan Pinjam Berbasis Syariah

13.2 Pengalaman Membenahi Koperasi

Ketika dipilih dan ditunjuk menjadi Ketua Koperasi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala pada 13 Agustus 2012, dalam bulan puasa, penulis merasa ragu untuk dapat menjalankan koperasi dengan baik dan benar. Penulis juga ragu apakah dapat meyakinkan anggota untuk menyimpan pada koperasi, karena sewaktu menerima amanah ketua, koperasi dalam keadaan rugi yang cukup besar. Kekayaan koperasi pada Agustus 2012 Rp 122.200.000 dalam bentuk piutang pada anggota, tanpa ada uang tunai dan uang di bank. Sementara, simpanan anggota (pokok dan wajib) berjumlah Rp 161.439.000, sehingga koperasi mengalami rugi Rp 39.239.000.

Anggota meminta pertanggungjawaban pengurus lama untuk mengembalikan kerugian yang dialami koperasi. Dalam tiga bulan pertama, sebagai ketua, penulis berusaha meyakinkan

anggota dengan membuat laporan pembukuan sederhana dari pengurus lama. Pembukuan itu mengenai berapa kekayaan koperasi yang berasal dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota. Banyak anggota menjadi marah, kecewa dan sedih mengapa simpanan mereka berkurang, ke mana perginya.

Mereka menuntut uang simpanan mereka harus dikembalikan oleh pengurus lama, dan menjadi tanggung jawab pengurus baru untuk meminta kepada pengurus lama.

Pengurus lama berusaha untuk bertanggung jawab atas kerugian tersebut dengan bersedia menanggung sebagian kerugian. Yang paling banyak menanggung adalah bendahara (Rp 10 juta), kemudian ketua (Rp 3 juta), dan terakhir adalah sekretaris (Rp 1 juta). Kredit macet (Rp 13.350.000) pada anggota yang sudah meninggal diputihkan. Sisa kerugian dibebankan kepada anggota secara proporsinal menurut simpanan mereka.

Sungguhpun beberapa anggota tidak mau menerima kerugian, dan meminta semua kerugian ditanggung oleh pengurus lama, penulis sebagai ketua pengurus baru merasa empati kepada pengurus lama yang telah bekerja selama hampir 10 tahun, tanpa memperoleh jasa Sisa Hasil Usaha (SHU).

Bendahara menyatakan dengan setulus hati dan sejujurnya bahwa tidak ada uang koperasi yang diambil untuk kepentingan diri sendiri. Penulis yakin apa yang disampaikan beliau ada benarnya.

Sebab, koperasi bersedia bertanggung jawab terhadap beban biaya adat kebiasaan, memberikan kesejahteraan kepada anggota pada lebaran haji. Jumlahnya mungkin melebihi pendapatan yang dapat diperoleh dalam setahun.

Misalnya, pada Lebaran Haji 2011, pengurus memberikan 6 botol sirup dan 3 kg gula kepada setiap anggota (nilai uangnya mencapai Rp 48.000) sebagai pemenuhan kesejahteraan anggota oleh pengurus. Padahal, simpanan wajib seorang anggota setahun hanya dapat dikumpulkan Rp 60.000 (Rp 5.000 per bulan). Berapa persen jasa yang dapat diambil dari jasa pinjaman anggota untuk memikul beban kesejahteraan anggota tersebut? Akhirnya, simpanan anggota semakin lama semakin tergerus oleh beban kesejahteraan setiap tahun, dan mengalami kerugian, sementara

simpanan wajib sudah 10 tahun tidak meningkat. Inilah alasan mengapa penulis empati pada pengurus lama. Penulis pikir, pengurus lama hanya dapat disalahkan karena tidak melakukan pencatatan dan penghitungan dengan tepat tentang kewajiban dan jasa (sesuai anjuran Allah dalam Surat Al-Baqarah: 282).

Kesalahan pertama pengurus lama, tidak melakukan pencataan pinjaman dan simpanan secara berkala akumulatif (setiap bulan) dan tidak memperhitungkan pendapatan jasa yang dapat dialokasikan untuk kesejahteraan. Padahal, dalam anggaran dasar ditetapkan untuk kesejahteraan hanya 5% dari pendapatan.

Kesalahan kedua, ketua dan sekretaris tidak mengawasi bendahara, sehingga bendahara kelihatannya bekerja sendiri, tersesat dari prinsip bisnis yang baik dan benar. Padahal, tanggung jawab terbesar ada pada ketua, kalau bendahara menyimpang dari tugasnya, dapat digantikan dengan anggota yang lain. Kesalahan ketiga, pengurus lama tidak membuat rekening koperasi pada bank. Seharusnya, simpanan wajib anggota, angsuran pokok dan dan jasa yang dikumpulkan setiap bulan dimasukkan ke dalam rekening koperasi pada bank terlebih dahulu. Baru kemudian uang itu dipinjamkan kepada anggota yang mengajukan pinjaman, dan juga harus ditransfer melalui bank untuk menambah bukti dokumen dan memperkuat persaksian dan kepercayaan. Dengan demikian mutasi rekening bank koperasi dapat dijadikan pengelolaan arus kas dan likuiditas dalam mengantisipasi penarikan simpanan sukarela anggota. Kesalahan berikutnya adalah pengurus tidak mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) setiap tahun.

Jangan hanya berkutat pada menyalahkan pengurus lama.

Yang sangat penting adalah pelajaran apa yang dapat diambil dari pengurus lama untuk membawa koperasi maju ke depan.

Langkah-langkah yang telah diambil untuk membawa koperasi lebih baik dan maju ke depan adalah:

 Memperkuat kemampuan diri pengurus (ketua, sekretaris, dan bendahara) dalam keyakinan menjalankan koperasi simpan pinjam berbasis syariah yang bersandarkan Alquran dan hadis

 Bertekad membuat pencatatan simpanan anggota setiap bulan, dengan mempelajari aplikasi sederhana Microsoft Excel dan Microsoft Access

 Menyampaikan laporan simpanan anggota setiap bulan

 Meminta Badan Pengawas dan Penasihat memeriksa laporan koperasi setiap bulan

 Membuat rekening koperasi di bank

 Ketua koperasi memeriksa bendahara setiap hari melalui internet banking

 Melakukan peminjaman kepada anggota melalui transfer rekening (tidak boleh tunai). Catatan sangat penting dan membantu.

 Menghitung beban biaya wajib yang harus dipikul koperasi (RAT dan kesejahteraan anggota)

 Membagi jasa kepada anggota setiap bulan, sebagaimana dilaksanakan oleh lembaga keuangan perbankan

 Berupaya jasa yang diberikan kepada anggota lebih tinggi dari jasa yang diberikan lembaga keuangan perbankan

 Mencari anggota potensial untuk untuk menambah simpanan melalui simpanan sukarela, dan terus menambah simpanan sukarela

 Mencari anggota pontensial untuk meminjam pada koperasi, kemudian menyimpan lagi paga koperasi.

Dengan demikian mempercepat peningkatan pendapatan jasa dan modal koperasi

 Mencari tambahan modal dari anggota luar biasa dan mitra koperasi pada unit Fakultas Pertanian Unsyiah

 Menaikkan simpanan wajib yang dapat disetujui anggota

 Menyelenggarakan RAT setiap awal tahun

Pelaksanaan langkah-langkah tersebut di atas telah membuahkan hasil. Kekayaan koperasi telah meningkat menjadi Rp 1,5 milyar pada akhir tahun 2013 (lebih dari 10 kali kekayaan pada Agustus 2012). Pendapatan jasa pinjaman mencapai Rp 180 juta, melebihi target yang ditetapkan dalam RAT 2013, yaitu Rp 100 juta. Pemberian kesejahteraan kepada anggota pada Lebaran Haji telah dapat dilaksanakan tanpa merasa waswas

akan tergerus simpanan anggota. Telah terbentuk dana cadangan koperasi sebesar Rp 40 juta. Untuk melakukan peminjaman dari koperasi, anggota tidak perlu antre, sebagaimana pada pengurusan sebelumnya. Anggota dapat meminjam dengan mudah sungguhpun pada hari libur, atau pada malam hari.

Dengan kekuatan modal koperasi yang dihimpun dari anggota, koperasi telah dapat memfasilitasi pembelian tanah rumah untuk 15 orang anggota yang belum mempunyai tanah rumah. Anggota tersebut meminjam pada koperasi untuk membeli tanah. Ini adalah praktek pembiayaan syariah murabahah (Sholihin: 2010 dan Johar: 2013).

Sekarang semua anggota telah merasa memiliki dan memberikan kepercayaan kepada koperasi, dan meminta koperasi menambah pelayanan kepada anggota dengan melaksanakan pembayaran rekening listrik, telepon, dan air PDAM untuk anggota yang membutuhkan. Menurut pengamatan penulis, banyak anggota telah mempunyai jiwa berkoperasi, dan ingin terus meningkatkan kinerja koperasi simpan pinjam ke depan.

Anggota telah mempercayai koperasi sebagai tempat menyimpan sebagian uangnya, karena dia telah buktikan bahwa koperasi dapat mengembalikan uang simpanan suka rela sewaktu ingin ditarik kembali. Ini adalah sifat likuiditas keuangan yang harus dimiliki oleh koperasi simpan pinjam. Ke depan, sifat likuiditas ini perlu dipertahankan, dan mendorong semua anggota mempunyai simpanan sukarela. Seharusnya, kekayaan koperasi tidak dimiliki oleh hanya segelintir anggota. Kalau kekayaan koperasi dimiliki oleh segelintir koperasi, koperasi akan mengarah kepada kapitalisme, dan jasa modal akan mengalir kepada segelintir anggota. Ini perlu diwaspadai.

Keteguhan prinsip sosial dan keteladanan pengurus akan sangat memengaruhi persepsi dan kepercayaan anggota kepada koperasi. Pengurus harus menjadi contoh untuk melakukan simpanan sukarela dan peminjaman. Pengurus tidak boleh mengharapkan mendapatkan upah yang besar dari pendapatan jasa. Banyak anggaran dasar koperasi menetapkan 5% SHU untuk pengurus.

Angka persen ini sangat kecil kalau perbandingannya adalah kelayakan biaya hidup, misalnya Upah Minimum Provinsi (UMP) Rp 1,5 juta per bulan. Ada koperasi melakukan pembayaran upah kepada pengurus, 50% dari pendapatan jasa. Kalau ini dilakukan, kapan terjadi pemupukan modal koperasi dalam bentuk modal cadangan?

Ingat perintah Allah: “dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya”.

Dengan merasa jemu atau capek (bahasa Aceh: hek), tentu pengurus mengharapkan besarnya balas jasa atas pekerjaan dan perhatian yang dicurahkannya (hak dan upah profesional).

Dengan alasan koperasi harus dikelola profesional, maka upahnya akan mengikuti profesionalisme. Karena koperasi adalah lembaga keuangan, pendapatan pengurus seharusnya diharapkan datangnya dari modal (simpanan sukarela) yang ditempatkan pada koperasi, bukan hanya dari bagian SHU pengurus. Kalau memungkinkan, pengurus menyimpan dananya lebih banyak dari anggota lain. Ada dua manfaatnya. Pertama, anggota lain yakin bahwa simpanannya tidak akan lenyap, karena pengurus menyimpan lebih banyak. Kedua, jerih payah pengurus didapatkan dari modalnya sendiri yang lebih besar.

Sebagai contoh pembelajaran, coba bandingkan persen jasa yang diperoleh oleh 2 lembaga keuangan pasar modal. Bank Nasional Indonesia (BNI) sekuritas merupakan salah satu pialang (broker) pada pasar modal Bursa Efek Jakarta. BNI menetapkan biaya transaksi 5 permil (0,5%). Bandingkan dengan SHU untuk pengurus pada koperasi yang ditetapkan 5%, bukankah sudah mencapai 10 kali lebih besar? Ada sebuah pialang lagi, Daewoo Securities Indonesia (perusahaan sekuritas asal Korea Selatan) yang menetapkan biaya transaksi lebih hemat, hanya 4 permil (0,4%). Dengan biaya transaksi yang murah diharapkan banyak investor yang masuk bergabung dengannya. BNI sekuritas sangat kecil asetnya dibandingkan Daewoo. Namun, jumlah investor di Daewoo jauh lebih banyak dibandingkan BNI Sekuritas.

Kalau kita tekuni dengan baik, ajaran agama Islam menganjurkan biaya operasional yang lebih efisien (murah). Untuk

memperoleh pendapatan yang besar, skala usaha dan modal diperbesar, pengetahuan dan keterampilan pengurus, pengelola dan pengusaha ditingkatkan, akhirnya pendapatan nominal manusia yang mengurusnya akan semakin tinggi. Membenahi dan mengurus koperasi pegawai negeri tentu lebih mudah daripada membenahi dan mengurus koperasi petani. Koperasi pegawai negeri, pendapatan anggotanya tetap dan teratur pembayarannya setiap awal bulan. Sementara koperasi petani, pendapatannya tergantung dari penjualan produksi yang dipanen tidak dalam interval waktu tetap setiap bulannya. Panen, tanaman pangan padi dan jagung misalnya, memerlukan waktu tiga bulan, sehingga pembayaran pinjaman petani baru dapat dilakukan setelah tiga bulan. Panen petani pun bervariasi dalam jumlah dan kualitas, sehingga setiap petani tidak dapat dihitung dengan pasti berapa pendapatannya setiap panen. Itulah kesulitan yang dihadapi penyuluh dalam membenahi atau mengurus koperasi petani.

Walaupun kesulitan yang dihadapi penyuluh lebih berat, sejatinya, jangan terlalu cepat mengatakan tidak bisa untuk mengurus atau membenahi koperasi petani. Di mana ada kemauan di situ ada jalan, demikian kata orang bijak. Penulis pikir, sukses koperasi petani tergantung pada penyuluh dan petani sendiri, sebagaimana sukses koperasi pegawai negeri tergantung kepada pengurus dan pegawainya. Penyuluh dituntut lebih teguh dan tegar pendiriannya untuk dapat mengurus koperasi petani.

Kalau penyuluh dapat memahami dengan baik dan menguasai watak petani, ada keyakinan bahwa koperasi petani akan baik dan maju. Besar kemungkinan koperasi petani dapat jauh lebih besar dari koperasi pegawai negeri. Kemungkinan ini bisa terjadi kalau produktivitas yang dikerjakan petani pada tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan perikanan terus bertambah tinggi, seiring dengan perjalanan waktu. Berikutnya, pinjaman petani dapat ditingkatkan untuk membiayai aset peralatan pertanian.

Kalau pinjaman petani sudah besar, tanpa ada kredit macet, tentu pendapatan jasa yang diperoleh koperasi petani akan besar pula. Ada 60% (pengalaman mengurus Koperasi Pegawai Negeri (KPN) Fakultas Pertanian Unsyiah) dari pendapatan jasa yang

dikembalikan kepada pemilik modal, anggotanya, dan sebagian besar (atau semua) modal koperasi adalah milik petani dan penyuluh, sehingga jasa itu kembali kepada petani dan penyuluh.

Dengan demikian, petani sudah ada satu sumber pendapatan lagi, yakni dari jasa modalnya. Penyuluh pun demikian, ada sumber pendapatan dari modal, selain gaji yang diberikan Pemerintah.

Kalau penyuluh dapat dipercayai oleh semua petani binaannya untuk memasarkan hasil panen mereka, pembayaran pinjaman petani akan lebih mudah diurus.

Untuk memperoleh persepsi baik dan kepercayaan anggota kepada pengurus, ada laporan yang harus disampaikan secara berkala, setiap bulan. Pertama, laporan yang disampaikan kepada anggota adalah buku simpanan anggota. Buku simpanan anggota memuat informasi jenis-jenis simpanan, tanggal, uraian, jumlah dan saldo. Sebagai contoh, disajikan sebuah buku simpanan anggota pada Tabel 1, Buku Simpanan Anggota per 30 April 2014, yang nama anggota telah dihilangkan, untuk menjaga kerahasiaan pribadi.

Tabel 1. Buku simpanan anggota KPN KOPEFTA per 30/04/2014 (Nomor Anggota : A108)

Periode Tanggal Uraian Jumlah Saldo

Simpanan:

Pokok

2012 Agustus 05/09/2012 Simpanan 50.000 50.000

Simpanan:

Wajib

2012 Agustus 05/09/2012 Simpanan 650.000 650.000

September 07/09/2012 Simpanan 5.000 655.000 Oktober 05/10/2012 Simpanan 5.000 660.000 Nopember 02/11/2012 Simpanan 5.000 665.000 Desember 04/12/2012 Simpanan 5.000 670.000

2013 Januari 10/01/2013 Simpanan 50.000 720.000

Pebruari 04/02/2013 Simpanan 50.000 770.000

Maret 11/03/2013 Simpanan 50.000 820.000

April 03/04/2013 Simpanan 50.000 870.000

Mei 03/05/2013 Simpanan 50.000 920.000

Juni 03/06/2013 Simpanan 50.000 970.000

Juli 03/07/2013 Simpanan 50.000 1.020.000 Agustus 01/08/2013 Simpanan 50.000 1.070.000 September 02/09/2013 Simpanan 50.000 1.120.000 Oktober 03/10/2013 Simpanan 50.000 1.170.000 Nopember 02/11/2013 Simpanan 50.000 1.220.000 Desember 01/12/2013 Simpanan 50.000 1.270.000

2014 Januari 03/01/2014 Simpanan 50.000 1.320.000

Pebruari 03/02/2014 Simpanan 50.000 1.370.000 Maret 08/03/2014 Simpanan 75.000 1.445.000 April 03/04/2014 Simpanan 75.000 1.520.000 Simpanan:

Sukarela

2012 September 07/09/2012 Simpanan 10.000.000 10.000.000 Nopember 14/11/2012 Simpanan 6.000.000 16.000.000 2013 Agustus 01/08/2013 Simpanan 5.000.000 21.000.000 Oktober 02/10/2013 Simpanan 6.000.000 27.000.000 2014 Pebruari 25/02/2014 Pengambilan 20.000.000 7.000.000 Simpanan:

SHU Simpanan

2012 Oktober 05/10/2012 Simpanan 77.080 77.080

Nopember 16/11/2012 Simpanan 132.723 209.803 Desember 04/12/2012 Simpanan 207.167 416.970

2013 Januari 28/01/2013 Simpanan 146.767 563.737

Pebruari 25/02/2013 Simpanan 144.453 708.190

Tabel 1 ...(lanjutan)

Periode Tanggal Uraian Jumlah Saldo

Maret 11/03/2013 Simpanan 133.763 841.953 April 22/04/2013 Simpanan 164.630 1.006.583 Mei 03/05/2013 Simpanan 175.841 1.182.424 Juni 05/06/2013 Simpanan 190.975 1.373.399

2013 Juli 03/07/2013 Simpanan 192.662 1.566.061

Agustus 01/08/2013 Simpanan 193.093 1.759.154 September 02/09/2013 Simpanan 233.556 1.992.710 Oktober 03/10/2013 Simpanan 235.165 2.227.875 Nopember 02/11/2013 Simpanan 234.568 2.462.443 Desember 02/12/2013 Simpanan 173.809 2.636.252 2014 Januari 03/01/2014 Simpanan 209.493 2.845.745 Pebruari 03/02/2014 Simpanan 204.301 3.050.046 Maret 03/03/2014 Simpanan 90.011 3.140.057 April 19/04/2014 Simpanan 90.273 3.230.330 Simpanan:

SHU Pinjaman

2012 Nopember 16/11/2012 Simpanan 26.232 26.232

Desember 04/12/2012 Simpanan 27.787 54.019

2013 Januari 28/01/2013 Simpanan 15.742 69.761

Pebruari 25/02/2013 Simpanan 17.624 87.385

Maret 11/03/2013 Simpanan 19.153 106.538

April 22/04/2013 Simpanan 22.980 129.518

Mei 03/05/2013 Simpanan 19.227 148.745

Juni 05/06/2013 Simpanan 26.176 174.921

Juli 03/07/2013 Simpanan 26.607 201.528

Agustus 01/08/2013 Simpanan 21.047 222.575 September 02/09/2013 Simpanan 21.269 243.844 Oktober 03/10/2013 Simpanan 35.969 279.813 Nopember 02/11/2013 Simpanan 15.000 294.813 Desember 02/12/2013 Simpanan 10.500 305.313

2014 Januari 03/01/2014 Simpanan 8.910 314.223

Pebruari 21/02/2014 Simpanan 7.288 321.511

Maret 03/03/2014 Simpanan 5.634 327.145

April 19/04/2014 Simpanan 147.475 474.620 Simpanan:

SHU Pembelian

2013 Maret 18/03/2013 Simpanan 15.000 15.000

Simpanan:

Qurban/Umrah

2013 Nopember 22/11/2013 Simpanan 135.000 135.000

Desember 06/12/2013 Simpanan 135.000 270.000

2014 Januari 08/01/2014 Simpanan 135.000 405.000

Pebruari 03/02/2014 Simpanan 135.000 540.000 Maret 08/03/2014 Simpanan 135.000 675.000 April 08/04/2014 Simpanan 135.000 810.000

Saldo 13.099.950

NomorSimpanan PenarikanSaldo UrutAnggotaPokokWajibSuka relaUmrah/QurbanSHU SimpananSHU PinjamanSHU Pembelian 1 A003 50.000 1.609.861 0 0 194.883 0 0 0 1.854.744 2 A007 50.000 1.600.464 0 0 199.654 138.498 0 0 1.988.616 ................................. 91 A108 50.000 1.520.000 27.000.000 810.000 3.230.330 474.620 15.000 20.000.000 13.099.950 92 A109 50.000 1.425.323 0 0 161.694 0 0 0 1.637.017 93 A110 50.000 1.425.323 0 0 200.796 752.298 0 0 2.428.417 94 A111 50.000 1.520.000 5.000.000 0 472.189 776.874 0 0 7.819.063 95 A112 50.000 1.425.323 0 0 184.288 641.589 0 0 2.301.200 96 A113 50.000 1.425.323 0 0 161.694 0 0 0 1.637.017 97 A114 50.000 1.425.323 0 0 161.694 0 0 0 1.637.017 98 A115 50.000 1.425.323 0 0 161.694 0 0 0 1.637.017 99 A116 50.000 1.425.323 0 0 161.694 0 0 0 1.637.017 100 A117 50.000 1.425.323 10.000.000 0 1.174.639 292.685 5.000 0 12.947.647 101 A118 50.000 1.425.323 0 0 203.974 694.863 0 0 2.374.160 105 A122 50.000 1.420.197 5.000.000 0 698.848 173.631 0 0 7.342.676 106 A123 50.000 1.415.071 0 0 159.852 0 0 0 1.624.923 107 A124 50.000 1.415.071 7.000.000 0 302.715 274.071 0 5.000.000 4.041.857 ................................. 256 Z009 0 0 60.140.000 0 679.533 0 0 51.220.000 9.599.533 257 Z010 0 0 10.000.000 0 209.644 0 0 0 10.209.644 258 Z011 0 0 5.000.000 0 138.722 0 0 0 5.138.722 259 Z012 0 0 20.700.000 0 497.762 0 0 8.670.000 12.527.762 Total12.250.000326.986.2791.909.615.21821.210.000131.673.60043.453.519140.000716.354.0591.726.968.849

Tabel 2. Rekapitulasi Simpanan anggota KPN KOPEFTA per 30 April 2014

Simpanan dilaporkan menurut jenisnya. Simpanan wajib dan SHU simpanan terdapat setiap bulan untuk masing-masing anggota, Simpanan pokok hanya ada sekali. Tidak semua anggota melakukan simpanan suka rela, simpanan kurban dan umrah, dan memperoleh SHU pinjaman. Masing-masing simpanan dilaporkan tanggal simpan atau tanggal pembagiannya. Kecuali simpanan pokok dan wajib, jenis simpanan lain dapat ditarik oleh anggota, kalau diperlukan, sehingga diperlukan informasi penarikan simpanan.

Laporan kedua yang disampaikan kepada anggota adalah rekapitulasi simpanan anggota. Laporan ini lebih sederhana informasinya, dan tidak banyak halaman. Pada setiap baris menyajikan informasi simpanan seorang anggota. Tanggal simpan dan tanggal penarikan tidak ditampilkan lagi, informasi yang ditampilkan adalah saldo simpanan, tetapi jenis simpanan masih tetap dipertahankan. Format rekapitulasi dapat dilihat pada Tabel 2. Laporan buku simpanan anggota dan rekapitulasi buku simpanan mempunyai kesamaan angka. Sebagian anggota pada Tabel 2 sudah dihilangkan untuk mengatur informasi dapat dimuat pada satu halaman. Nomor urut 3 sampai dengan 90 dibuang, dan nomor urut 108 sampai dengan 255 juga dibuang. Tabel 1 adalah contoh buku simpanan anggota untuk nomor anggota A108 (nama dirahasiakan). Baris 91 Tabel 2 adalah sama dengan Tabel 1, memberikan informasi yang sama tentang simpanan anggota dengan nomor anggota A108. Periksa Saldo (baris terakhir) Tabel 1 dengan kolom saldo Tabel 2, angkanya sama.

Laporan berikutnya yang mesti dibuat adalah rekapitulasi jenis simpanan anggota. Laporan ini diperlukan bagi pengurus dan pengawas untuk melihat performa koperasi secara umum, termasuk melihat likuiditas koperasi. Berapa jumlah penarikan simpanan suka rela yang sudah dilakukan tertera pada laporan ini. Laporan ini sangat singkat, seperti terlihat pada Tabel 3, hanya satu halaman, sementara laporan rekapitulasi simpanan anggota masih banyak halamannya. Tabel 3 juga mempunyai kesamaan informasi dengan Tabel 2, terutama baris jumlah dan kolom saldo.

Tabel 3. Rekapitulasi Jenis Simpanan per 30/04/2014, KPN KOPEFTA

No Jenis Simpanan Total

Simpanan Total Pajak Total

Penarikan Saldo SHU Simpanan Sukarela Wajib Jumlah 2.468.005.562 2.005.708 739.031.005 1.726.968.849

Coba perhatikan Jenis simpanan suka rela (baris 6). Je-nis simpanan ini yang besar jumlahnya, dan yang paling besar penarikannya. Ini mengindikasikan, likuiditas koperasi ini sudah baik. Kapan anggota mempunyai kemampuan untuk menambah simpanan dapat dilakukan. Begitu pula, pada saat diperlukan dapat ditarik kembali. Diharapkan, secara bergantian, ada ang-gota yang menambah simpanan suka rela, dan ada angang-gota lain yang menarik simpanan suka rela. Penarikan simpanan pokok dan simpanan wajib, menandakan banyak anggota yang keluar, ini disebabkan banyak anggota yang masuk masa pensiun.

Semua laporan di atas menggambarkan informasi pada sisi simpanan. Pada sisi pinjaman, informasi juga perlu dilaporkan, tetapi tidak perlu dikirim kepada semua anggota. Sebab, anggota akan merasa risih diketahui semua anggota tentang pinjamannya.

Laporan pinjaman cukup disampaikan kepada Badan Pengawas dan Penasihat Koperasi. Ada 2 laporan yang perlu dibuat secara berkala, misalnya setiap bulan. Pertama, laporan data pinjaman.

Setiap anggota melakukan pinjaman atau menambah pinjaman, harus dicatat dengan baik dan teliti. Besar pinjaman, angsuran pokok dan jasa (marjin modal) serta jangka waktu pelunasan ha-rus tercatat dalam akad perjanjian. Sungguhpun dalam akad per-janjian telah disepakati lama peminjaman, katakanlah 3 tahun, tetapi koperasi dapat melakukan dengan fleksibel dan luwes.

Misalnya, anggota yang rencana pinjaman 3 tahun tadi, karena ada kemampuan ekonomi ia ingin melunaskan dalam 6 bulan. Pengurus harus dapat menghitung kembali dan menjadwal ulang pada bulan pelunasan, tanpa merugikan anggota pemin-jam, dan tidak perlu dibebankan tambahan biaya administrasi.

Begitu pula, anggota yang belum lunas pinjamannya, pinjaman dapat dengan luwes ditambahkan, dengan menggunakan prinsip perhitungan yang akurat, tidak boleh merugikan koperasi dan ti-dak boleh pula merugikan peminjam. Merugikan koperasi dapat mengakibatkan kerugian bagi seluruh anggota.

Peminjaman pada koperasi dapat bersifat insidental, pin-jaman produktif, dan pinpin-jaman untuk memperoleh aset (Mulyono:

2012). Pinjaman bersifat insidental contohnya biaya berobat dia atau anggota keluarganya, biaya pendidikan anak, keperluan hari besar (lebaran). Pinjaman insidental pada dasarnya tidak boleh terlalu besar. Pinjaman bersifat produktif contohnya pembiayaan untuk dagang yang dilakukan oleh anggota atau keluarganya (istri atau suami dari anggota koperasi), pembiayaan untuk pelaksa-naan tender (kontrak), dan pembiayaan usaha perkebunan dan peternakan, dan pembiayaan usaha produktif lainnya yang mem-berikan nilai tambah terhadap modal. Pinjaman untuk memper-oleh aset contohnya adalah untuk pembiayaan membeli sebidang tanah, kendaraan atau rumah. Pinjaman untuk pembiayaan pro-duktif dan aset boleh dalam jumlah besar, bila dibandingkan den-gan pembiayaan insidental.

Tabel 4. Data angsuran pinjaman KPN KOPEFTA per tanggal 30/04/2014 (Nomor Anggota: A108)

No Bulan Tahun Jumlah

Pinjaman Cicilan

Pokok Cicilan Jasa

Cicilan Pokok+-Jasa

Sisa Pinjaman 1 Oktober 2012 5.000.000 500.000 100.000 600.000 4.500.000 2 Nopember 2012 4.500.000 500.000 100.000 600.000 4.000.000 3 Desember 2012 4.000.000 500.000 100.000 600.000 3.500.000 4 Januari 2013 3.500.000 500.000 100.000 600.000 3.000.000 5 Pebruari 2013 3.000.000 500.000 100.000 600.000 2.500.000 6 Maret 2013 2.500.000 500.000 100.000 600.000 2.000.000 7 April 2013 2.000.000 500.000 100.000 600.000 1.500.000 8 Mei 2013 1.500.000 500.000 100.000 600.000 1.000.000 9 Juni 2013 1.000.000 500.000 100.000 600.000 500.000

10 Juli 2013 500.000 500.000 100.000 600.000 0

11 Agustus 2013 5.000.000 500.000 100.000 600.000 4.500.000 12 September 2013 4.500.000 500.000 100.000 600.000 4.000.000 13 Oktober 2013 4.000.000 500.000 100.000 600.000 3.500.000 14 Nopember 2013 3.500.000 530.000 70.000 600.000 2.970.000 15 Desember 2013 2.970.000 540.600 59.400 600.000 2.429.400 16 Januari 2014 2.429.400 551.412 48.588 600.000 1.877.988 17 Februari 2014 1.877.988 562.440 37.560 600.000 1.315.548 18 Maret 2014 69.400.000 1.016.833 983.167 2.000.000 68.383.167 19 April 2014 68.383.167 1.031.238 968.762 2.000.000 67.351.929

20 Mei 2014 67.351.929 1.045.848 954.152 2.000.000 66.306.081

Jumlah 11.778.371 4.421.629 16.200.000

Tabel 4 menggambarkan perkembangan pinjaman yang dilakukan oleh anggota dengan nomor anggota A108. Dari Oktober 2012 sampai dengan Oktober 2014, anggota tersebut melakukan pinjaman kecil, bersifat insidental, yang juga pinjam simpan. Pada September 2012, anggota ini diajak oleh pengurus dan bersedia untuk meminjam Rp 5 juta. Tetapi, dia tidak menerima uang.

Setiap bulan dia menyetor pokok pinjaman Rp 500.000 dan jasa

Rp 100.000. Karena dia telah memberikan jasa Rp 100.000 setiap bulan, maka ia telah menyimpan uang di koperasi sejumlah Rp 5 juta. Perhatikan kembali Tabel 1, dia menyimpan suka rela Rp 10 juta, yang nyata dia menyimpan Rp 5 juta, Rp 5 juta lagi berasal dari pinjam simpan.

Dari perspektif syariat, menyimpan aset yang datang dari peminjaman tidak diperbolehkan. Alasannya, dia belum memiliki kekayaan, bagaimana mungkin dia dapat menyimpan? Sebenarnya, dia dapat menyimpan setiap bulan Rp 500.000, setelah 10 bulan, baru dia mempunyai simpanan Rp 5 juta. Ini praktek yang telah biasa dilakukan di dalam muamalah masyarakat muslim. Kembali ke Oktober 2012, dia sebenarnya baru menyimpan Rp 5.500.000, yaitu Rp 5 juta dia setor untuk simpanan suka rela, dan Rp 500.000 berasal dari setoran yang dipotong dari gajinya pada Oktober 2012. Sepuluh bulan sejak Oktober 2012 (Juli 2013), dia baru efektif melakukan simpanan Rp 10 juta.

Agama Islam menganjurkan umat, menurut kemampuan ekonominya, untuk memberikan kepada teman atau kerabat (terutama yang kurang mampu) makanan sebagai rasa syukur atas rezeki yang Allah berikan. Islam juga menganjurkan untuk saling memberi, tidak hanya menerima, untuk memperkuat tali persaudaraan muslim. Persaudaraan muslim, dari dimensi ekonomi, adalah mengakui rezeki yang diberikan Allah kepada saudaranya, dan rezeki saudaranya tersebut dia jaga, pelihara, dan lindungi dengan baik. Anggota dengan nomor A108 tidak berat memberikan Rp 100.000 sebagai rasa syukur atas rezeki yang diperolehnya setiap bulan kepada semua koleganya yang berserikat di bawah Koperasi KOPEFTA. Pada tahun 2012, anggota koperasi ini ada 256 orang, dan berarti pemberian Rp 100.000 tersebut dapat dinikmati oleh 256 orang, termasuk dia sendiri.

Bayangkan, betapa banyak penerima manfaatnya!

Sekarang, coba bandingkan Tabel 4 dengan Tabel 1 dalam periode yang sama. Pada Tabel 4, A108 mengurbankan Rp 100.000 pada November 2012. Pada bulan yang sama, dia mendapatkan SHU Simpanan Rp 132.723 dan SHU Pinjaman Rp 26.232, yang

jumlahnya menjadi Rp 158.955. Dengan berkurban Rp 100.000, dia bahkan dapat untung Rp 58.955. Ini manfaat perhitungan ekonomi syariat yang akurat dari seorang anggota. Ada 28 orang anggota mempunyai prilaku yang sama, dalam 10 bulan sudah ada pendapatan jasa koperasi Rp 28 juta, ditambah kekayaan mereka yang dikumpulkan koperasi Rp 140 juta. Dengan demikian

jumlahnya menjadi Rp 158.955. Dengan berkurban Rp 100.000, dia bahkan dapat untung Rp 58.955. Ini manfaat perhitungan ekonomi syariat yang akurat dari seorang anggota. Ada 28 orang anggota mempunyai prilaku yang sama, dalam 10 bulan sudah ada pendapatan jasa koperasi Rp 28 juta, ditambah kekayaan mereka yang dikumpulkan koperasi Rp 140 juta. Dengan demikian

Dalam dokumen PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH (Halaman 163-181)