• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahapan Perencanaan

Dalam dokumen PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH (Halaman 153-0)

BAB 12: Perencanaan Program Penyuluhan Berbasis

12.5 Tahapan Perencanaan

Dari berbagai model perencanaan, Totok Mardikanto merumuskan tahapan-tahapan dalam perencanaan. Setiap tahapan itu menentukan apakah perencanaan yang telah disusun efektif atau sebaliknya.

1. Pengumpulan Data dan Informasi

Pada tahapan ini, data yang dikumpulkan merupakan data penting paling dasar. Tujuan pengumpulan agar dapat ditentukan tujuan, dan cara mencapai tujuan tersebut. Data yang dibutuhkan berupa: (a) sumber daya alam; keadaan lingkungan, iklim, sumber pengairan, (b) sumber daya manusia; jumlah penduduk, tingkat pendidikan, adat dan budaya, (c) kelembagaan; lembaga-lembaga yang tersedia, dan (d) prasarana dan sarana. Data lainnya yang diperlukan, yakni metode masyarakat mengelola pertaniannya, teknologi yang mereka gunakan. Kemudian data tentang aturan-aturan yang berlaku di masyarakat soal pertanian.

2. Analisis data dan informasi

Kegiatan analisis data dan informasi mencakup: (a) mendeskripsikan kondisi lapangan, (b) melakukan penilaian terhadap data awal, serta pengelompokan data menjadi: data aktual dan potensial, keadaan yang ingin dicapai dan sudah dapat dicapai, teknologi yang sudah digunakan dan dapat dikembangkan.

Kemudian tentang aturan yang sudah berlaku dan aturan lain yang mungkin dapat ditambahkan.

3. Mengidentifikasi tantangan

Hal ini penting dilakukan untuk menemukan solusi dari persoalan yang kemungkinan akan dihadapi. Willian Poundss (Onduko, 1990) menjelaskan sejumlah faktor yang bisa menimbulkan masalah, seperti munculnya inovasi. Masyarakat belum tentu menerima suatu inovasi karena berbeda dengan apa yang mereka terapkan selama ini. Kemudian, maslah juga akan timbul apabila terjadi penyimpangan antara harapan dengan kenyataan. Masalah bisa saja muncul karena faktor orang luar.

Masalah dapat timbul juga karena persaingan bisnis.

4. Pemilihan masalah

Sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa kemungkinan penyuluh akan menemukan masalah-masalah berbeda saat melakukan analisa kondisi lapangan. Tidak mungkin masalah tersebut diselesaikan oleh penyuluh. Karenanya, dalam penyusunan perencanaan, dipilih masalah mendesak dan butuh diselesaikan. Namun demikian, pemilihan masalah harus sesuai dengan kemampuan yang ada untuk mengatasinya.

5. Menentukan tujuan, alternatif dan strategi pencapaian tujuan

Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi, maka dapat dirumuskan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai.

Dalam perumusan tujuan harus memperhatikan prinsip SMART (Specific: simple, sensible, significant; Measurable: meaningful, motivating; Achievable: agreed, attainable; Relevant: reasonable, realistic and resourced, results-based; dan Time bound: time-based, time limited, time/cost limited, timely, time-sensitive).

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, maka langkah penting selanjutnya yang harus dilakukan adalah memilih alternatif pemecahan masalahnya. Permasalahan yang sudah diidentifikasi perlu disusun skala prioritas masalah yang akan dicarikan solusinya. Skala prioritas dapat ditentukan dengan memakai rumus penentuan skala prioritas, yaitu (1) prioritas 1: penting dan terdesak; (2) prioritas 2: penting tapi tidak terdesak; (3) Prioritas 3: Tidak penting tapi tidak terdesak; dan (4) prioritas 4: tidak penting dan tidak terdesak. Berdasarkan pertimbangan inilah skala prioritas dalam memecahkan masalah dapat ditetapkan.

Selanjutnya berdasarkan prioritas solusi yang telah ditetapkan maka perlu disusun strategi yang akan diterapkan untuk memecahkan masalahnya. Penyusunan strategi ini dapat dirumuskan dengan melakukan analisis SWOT yaitu singkatan dari Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman). Analisis

SWOT mengatur kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman utama ke dalam daftar yang terorganisir dan biasanya disajikan dalam bilah kisi-kisi yang sederhana. Strengths (kekuatan) dan Weaknesses (kelemahan) adalah berasal dari internal kita sebagai penuyuh. hal-hal yang dapat Anda kontrol dan dapat berubah.

Contohnya termasuk SDP penyuluh tim penyuluh, paten dan properti intelektual. Opportunities (peluang) dan Threats (ancaman) adalah hal eksternal yang mempengaruhi kegiatan penyuluhan atau hal-hal yang terjadi di luar kegiatan penyuluhan seperti harga komoditas dan pasar. Penyuluh dapat memanfaatkan peluang dan melindungi dari ancaman, meskipun sering penyuluh tidak dapat mengubahnya.

6. Pengesahan Program Penyuluhan

Setelah persiapan perencanaan dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan perencanaan program yang ditelah disusun. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan program yaitu: partisipasi petani, sumberdaya lokal, ketepatan waktu dan kesesuaian lokasi. Setelah pelaksanaan kegiatan penyuluhan dilakukan, maka perlu dilakukan evaluasi.

7. Rencana Evaluasi Program penyuluhan

Evaluasi merupakan proses penting yang harus masuk dalam perencanaan karena hasilnya akan menentukan apakah program tersebut akan dihentikan, dapat dilanjutkan, atau perlu dimodifikasikan untuk menghasilkan suatu program penyuluhan yang baru. Indikator keberhasilan penyuluh tergantung kepada hasil evaluasi. Rencana evaluasi harus mencakup: (1) evaluasi awal, (2) evaluasi fisik dan nonfisik, dan (3) evaluasi tujuan dan proses untuk mencapai tujuan. Sehubungan dengan hal tersebut penyuluh harus mempersiapkan pedoman rencana evaluasi dan teknik-teknik pengukuran sebagai indikator keberhasilan program penyuluhan.

12.6 Penyusun Perencanaan Profesional

Belum tentu semua orang mampu menyusun perencanaan yang baik. Pengalaman, kreatif, dan keterampilan merupakan bagian yang perlu dimiliki untuk menjadi perencana program profesional. Rincinya, sebagai penyusun rencana yang profesional memiliki keterampilan seperti di bawah ini:

1. Keterampilan membuat/mengambil keputusan (pengambilan keputusan rasional, peramalan, membandingkan alternatif tindakan, mempertimbangkan distribusi berupa implikasi dan kualitas/kuantitas dalam mencapai tujuan pembangunan, penggunaan model untuk ilustrasi realita).

2. Keterampilan mengimplementasi program (menjalankan suatu rencana, menyusun struktur pembiayaan, monitoring dan evaluasi, dan dokumen rencana).

3. Keterampilan berkomunikasi dan manajemen (kemampuan koordinasi, penulisan laporan, bekerja bersama masyarakat: mengidentifikasi kelompok masyarakat dan membantu inisiatif masyarakat lokal).

Keterampilan penyuluh dalam menyusun perencanaan program harus diiringi dengan kemampuan mengkomunikasikan perencanaan yang telah disusun kepada pihak yang berwenang.

Kemampuan ini yang kadang sering tidak dimiliki penyuluh secara berimbang sehingga perencanaan program penyuluhan yang telah disusun secara baik sering tidak dapat diimplementasikan karena tidak didukung oleh pengambil kebijakan. Oleh sebab itu, upaya menyelaras kedua kemampuan ini perlu dikembangkan oleh seorang penyuluh.

ٌ س ْ

فَن ْر ُظْن َ ت ْ

ل َو َ ّٰ

للا او ُ

قَّتا اوُن َم ٰ

ا َنْي ِذ َّ

لا اَهُّي َ آٰي اَمِبۢ ٌرْيِب خ َ َ ّٰ

للا َّ

ن ِاۗ َ ّٰ

للا او ُ

قَّتا َو ۚ ٍد َغِل ْتَم َّدَق اَّم

١٨ َ

ن ْو ُ ل َم ْعَت

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dibuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertaqwalah kepada

Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(Q.S Al-Hasyr: 18)

13.1 Latar belakang

Islam adalah agama yang sempurna. Dengan jelas Islam mengatur perihal akidah, ubudiyah dan muamalah. Prinsip akidah seorang muslim adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, patuh kepada-Nya dengan melakukan ketaatan dan berlepas diri dari syirik dan perilaku syirik. Akidah orang yang bertauhid berarti pula menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketaatan berarti menjalankan perintah dan menjauhi larangan, baik dalam kelompok tauhid, ubudiyah, maupun muamalah. Dengan demikian, tidak sempurna seseorang menjadi muslim (tidak masuk Agama Islam secara kafah) dengan mengesakan Allah, melaksanakan ibadah wajib dan sunah, tetapi kurang teliti dalam melaksanakan muamalah.

Pada bab ini penulis bertujuan untuk memberikan wawasan yang berkaitan dengan pengelolaan modal berbasis syariah kepada penyuluh pertanian lapangan. Penyuluh pertanian harus mempunyai kekuatan/keteguhan jiwa, sikap, dan keteladanan yang diperoleh dari Alquran dan hadis sebagai sumber utama pengetahuan. Kemudian sumber utama pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk menurunkan dan mengembangkan pengetahuan yang implementatif dalam masyarakat tani. Produksi pertanian merupakan salah satu muamalah yang kegiatannya memerlukan rentang waktu lama dalam mengelola modal, tenaga kerja, lahan, peralatan, dan sarana produksi. Jarak waktu antara awal kegiatan dan panen memerlukan pemahaman tentang muamalah tidak dengan cara tunai (simpan pinjam). Allah menjelaskan tentang muamalah dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 282 yang berbunyi,

BAB 13

SIMPAN PINJAM

BERBASIS SYARIAH

ُۗه ْو ُب ُ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai un-tuk waktu yang ditenun-tukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskann-ya sebagaimana Allah mengajarkannmenuliskann-ya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri ti-dak mampu mengimlakkan, maka henti-daklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan per-saksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menu-lis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menim-bulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Rasulullah dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Bukhari menjelaskan bahwa “Siapa yang meminjam harta manusia dengan tujuan membayarkannya kembali maka Allah akan membayarkannya, barang siapa yang meminjam dengan tujuan melenyapkannya, maka Allah akan melenyapkan hartanya”.

Mari kita mengambil poin-poin penting dari kedua sumber utama pengetahuan tersebut:

 Diperbolehkan muamalah dalam bentuk hutang piutang baik berupa hutang-hutang salam (suatu model muamalah perdagangan) atau pembelian yang harganya ditangguhkan, semua itu boleh dilakukan. Karena Allah Swt telah mengabarkannya tentang kaum mukminin, dan apapun yang Allah kabarkan tentang kaum mukminin maka sesungguhnya hal itu termasuk konsekuensi keimanan dan telah ditetapkan juga hal itu oleh Allah Yang Mahakuasa.

 Wajib menyebutkan tempo dalam seluruh hutang piutang dan pelunasannya. Apabila tempo itu tidak diketahui maka itu tidak diperbolehkan, karena sangat rentan terjadi tipu daya, berbahaya, dan termasuk dalam perjudian.

 Allah Swt memerintahkan untuk mencatat hutang piutang.

Hal ini menjadi wajib karena memelihara hak milik seseorang, contohnya harta anak yatim, wakaf, perwakilan, amanah. Intinya, pencatatan itu merupakan perangkat yang paling besar dalam menjaga muamalah yang ditangguhkan karena rentan terjadi kelupaan dan kesalahan, dan sebagai tindakan pencegahan dari orang-orang yang tidak amanah yang tidak takut kepada Allah Swt.

 Perintah Allah Swt kepada pengelola/pengurus (juru tulis) untuk menulis antara kedua pihak yang bermuamalah itu dengan adil. Ia tidak boleh condong kepada salah satu pihak karena faktor keluarga, musuh, atau dendam.

 Pencatatan antara kedua belah pihak yang bermuamalah termasuk amal yang paling utama dan perbuatan kebaikan

kepada keduanya. Pencatatan mempunyai tujuan untuk memelihara hak kedua pihak.

 Pengurus mesti mengetahui keadilan dan terkenal dengan keadilan. Bila dia tidak mengerti keadilan, pastilah dia tidak akan bisa mewujudkannya, dan apabila keadilannya tidak diakui oleh orang banyak dan tidak disukai mereka maka pastilah pencatatan juga tidak akan diakui, dan maksud yang diinginkan tidak akan terwujud untuk pemeliharaan hak.

 Kesempurnaan dari pencatatan dan keadilan dalam muamalah adalah bahwa pengurus itu ahli dalam merangkai kalimat dan teliti dalam perhitungan muamalah sesuai dengan jenisnya.

 Pencatatan itu juga merupakan nikmat Allah untuk hamba-Nya, di mana urusan dunia muamalah tidak akan lurus kecuali dengan ada pencatatan. Barang siapa yang diajarkan Allah dalam keahlian penulisan, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadanya keutamaan yang besar, dan menjadi kesempurnaan syukurnya terhadap nikmat Allah Swt itu. Apabila dia dapat memenuhi kebutuhan hamba dengan penulisannya dan dia tidak boleh menolak untuk menulis. Karena itu Allah berfirman, “dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya”.

 Apabila jual beli itu adalah jual beli tunai, seyogyanya ada saksi padanya dan tidak berdosa bila tidak melakukan penulisan karena banyaknya dan adanya kesulitan untuk menulis (semua kasus yang ada).

 Meminta biaya terhadap penulisan dan kesaksian tidak diperbolehkan, karena pungutan itu merupakan tindakan yang dapat merugikan kedua pihak yang bermuamalah.

 Peringatan terhadap kemaslahatan dan manfaat yang diakibatkan oleh pengamalan akan petunjuk yang mulia ini bahwa dalam pengamalan tersebut terdapat

pemeliharaan hak, keadilan, menghilangkan perselisihan, selamat dari kelupaan, dan kebingungan. Karena itu Allah berfirman, “Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu” dan ini merupakan manfaat yang asasi bagi manusia.

 Mempersulit pengurus dan saksi adalah perbuatan fasik terhadap manusia, karena kefasikan itu keluar dari ketaatan kepada Allah, Dia berfirman, “Maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu”. Maka seberapa besar keluarnya seseorang dari ketaatannya kepada Allah, sebesar itu pula kefasikan yang ada padanya.

Apabila penyuluh pertanian telah memperkuat kekuatan diri, keteguhan jiwa, sikap dan keteladanan oleh sumber utama pengetahuan, Alquran dan hadis, tentu ia tidak akan goyah lagi oleh keadaan keuntungan ekonomi yang menguntungkan dirinya sesaat, tetapi dapat merugikan dirinya dalam jangka panjang.

Menurut UU Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, materi penyuluhan pertanian didefinisikan sebagai bahan penyuluhan yang akan disampaikan oleh para penyuluh kepada pelaku utama dan pelaku usaha dalam berbagai bentuk yang meliputi informasi, teknologi, rekayasa sosial, manajemen, ekonomi, hukum, dan kelestarian lingkungan.

Selama ini penyuluh pertanian banyak diberikan pelatihan yang berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang budi daya pertanian (on-farm). Padahal, kesejahteraan petani akan dicapai apabila kegiatan produksi mereka terus berkelanjutan dengan usaha sendiri tanpa harus bergantung banyak pada akses modal yang diberikan oleh pihak luar, termasuk benih dan pupuk dari pemerintah. Sebagian kecil produksi mesti dapat disimpan untuk melanjutkan kegiatan produksi berikutnya, dan bahkan disimpan lebih banyak lagi untuk memperbesar skala usaha tani mereka.

Misalnya, pada tahap awal, seorang petani hanya dapat mengelola 0,5 hektare (ha) sawah, dengan bantuan hibah benih dan pupuk. Pada musim tanam berikutnya, benih dan pupuk dapat diusahakan sendiri,

dan memperbesar skala usaha menjadi 1 ha sawah. Peningkatan skala usaha tani sawah terus dapat diperbesar pada musim-musim tanam berikutnya, sehingga dia dapat mempunyai sendiri peralatan pertanian, seperti traktor, mesin penanam (planter), mesin penuai (harvester), dan mesin penebah (thresher).

Kalau penyuluh mempunyai wawasan untuk meningkatkan kesejahteraan seperti gambaran sederhana di atas, maka ia harus mempunyai kemampuan pengetahuan ekonomi, manajemen, teknologi informasi, lembaga keuangan berbasis syariat, di samping pengetahuan dan keterampilan yang telah ada selama ini, tentang budi daya pertanian. Tulisan ini hanya menekankan pada simpan pinjam berbasis syariat, yang penyuluh dapat mengembangkan dirinya di tengah-tengah petani. Penyuluh pertanian seharusnya mempunyai kemauan dan tekad untuk membenahi koperasi yang telah ada di dalam kelompok atau gabungan kelompok tani. Kalau koperasi telah ada, arahan pembenahannya ada dua: koperasi simpan pinjam dan koperasi jasa pertanian. Atau, kalau koperasi petani belum ada, penyuluh pertanian dapat memprakarsai membangun dua koperasi: koperasi simpan pinjam berbasis syariah dan koperasi jasa. Kedua koperasi ini dapat saling melengkapi satu sama lain.

13.2 Pengalaman Membenahi Koperasi

Ketika dipilih dan ditunjuk menjadi Ketua Koperasi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala pada 13 Agustus 2012, dalam bulan puasa, penulis merasa ragu untuk dapat menjalankan koperasi dengan baik dan benar. Penulis juga ragu apakah dapat meyakinkan anggota untuk menyimpan pada koperasi, karena sewaktu menerima amanah ketua, koperasi dalam keadaan rugi yang cukup besar. Kekayaan koperasi pada Agustus 2012 Rp 122.200.000 dalam bentuk piutang pada anggota, tanpa ada uang tunai dan uang di bank. Sementara, simpanan anggota (pokok dan wajib) berjumlah Rp 161.439.000, sehingga koperasi mengalami rugi Rp 39.239.000.

Anggota meminta pertanggungjawaban pengurus lama untuk mengembalikan kerugian yang dialami koperasi. Dalam tiga bulan pertama, sebagai ketua, penulis berusaha meyakinkan

anggota dengan membuat laporan pembukuan sederhana dari pengurus lama. Pembukuan itu mengenai berapa kekayaan koperasi yang berasal dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota. Banyak anggota menjadi marah, kecewa dan sedih mengapa simpanan mereka berkurang, ke mana perginya.

Mereka menuntut uang simpanan mereka harus dikembalikan oleh pengurus lama, dan menjadi tanggung jawab pengurus baru untuk meminta kepada pengurus lama.

Pengurus lama berusaha untuk bertanggung jawab atas kerugian tersebut dengan bersedia menanggung sebagian kerugian. Yang paling banyak menanggung adalah bendahara (Rp 10 juta), kemudian ketua (Rp 3 juta), dan terakhir adalah sekretaris (Rp 1 juta). Kredit macet (Rp 13.350.000) pada anggota yang sudah meninggal diputihkan. Sisa kerugian dibebankan kepada anggota secara proporsinal menurut simpanan mereka.

Sungguhpun beberapa anggota tidak mau menerima kerugian, dan meminta semua kerugian ditanggung oleh pengurus lama, penulis sebagai ketua pengurus baru merasa empati kepada pengurus lama yang telah bekerja selama hampir 10 tahun, tanpa memperoleh jasa Sisa Hasil Usaha (SHU).

Bendahara menyatakan dengan setulus hati dan sejujurnya bahwa tidak ada uang koperasi yang diambil untuk kepentingan diri sendiri. Penulis yakin apa yang disampaikan beliau ada benarnya.

Sebab, koperasi bersedia bertanggung jawab terhadap beban biaya adat kebiasaan, memberikan kesejahteraan kepada anggota pada lebaran haji. Jumlahnya mungkin melebihi pendapatan yang dapat diperoleh dalam setahun.

Misalnya, pada Lebaran Haji 2011, pengurus memberikan 6 botol sirup dan 3 kg gula kepada setiap anggota (nilai uangnya mencapai Rp 48.000) sebagai pemenuhan kesejahteraan anggota oleh pengurus. Padahal, simpanan wajib seorang anggota setahun hanya dapat dikumpulkan Rp 60.000 (Rp 5.000 per bulan). Berapa persen jasa yang dapat diambil dari jasa pinjaman anggota untuk memikul beban kesejahteraan anggota tersebut? Akhirnya, simpanan anggota semakin lama semakin tergerus oleh beban kesejahteraan setiap tahun, dan mengalami kerugian, sementara

simpanan wajib sudah 10 tahun tidak meningkat. Inilah alasan mengapa penulis empati pada pengurus lama. Penulis pikir, pengurus lama hanya dapat disalahkan karena tidak melakukan pencatatan dan penghitungan dengan tepat tentang kewajiban dan jasa (sesuai anjuran Allah dalam Surat Al-Baqarah: 282).

Kesalahan pertama pengurus lama, tidak melakukan pencataan pinjaman dan simpanan secara berkala akumulatif (setiap bulan) dan tidak memperhitungkan pendapatan jasa yang dapat dialokasikan untuk kesejahteraan. Padahal, dalam anggaran dasar ditetapkan untuk kesejahteraan hanya 5% dari pendapatan.

Kesalahan kedua, ketua dan sekretaris tidak mengawasi bendahara, sehingga bendahara kelihatannya bekerja sendiri, tersesat dari prinsip bisnis yang baik dan benar. Padahal, tanggung jawab terbesar ada pada ketua, kalau bendahara menyimpang dari tugasnya, dapat digantikan dengan anggota yang lain. Kesalahan ketiga, pengurus lama tidak membuat rekening koperasi pada bank. Seharusnya, simpanan wajib anggota, angsuran pokok dan dan jasa yang dikumpulkan setiap bulan dimasukkan ke dalam rekening koperasi pada bank terlebih dahulu. Baru kemudian uang itu dipinjamkan kepada anggota yang mengajukan pinjaman, dan juga harus ditransfer melalui bank untuk menambah bukti dokumen dan memperkuat persaksian dan kepercayaan. Dengan demikian mutasi rekening bank koperasi dapat dijadikan pengelolaan arus kas dan likuiditas dalam mengantisipasi penarikan simpanan sukarela anggota. Kesalahan berikutnya adalah pengurus tidak mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) setiap tahun.

Jangan hanya berkutat pada menyalahkan pengurus lama.

Yang sangat penting adalah pelajaran apa yang dapat diambil dari pengurus lama untuk membawa koperasi maju ke depan.

Langkah-langkah yang telah diambil untuk membawa koperasi lebih baik dan maju ke depan adalah:

 Memperkuat kemampuan diri pengurus (ketua, sekretaris, dan bendahara) dalam keyakinan menjalankan koperasi simpan pinjam berbasis syariah yang bersandarkan Alquran dan hadis

 Bertekad membuat pencatatan simpanan anggota setiap bulan, dengan mempelajari aplikasi sederhana Microsoft Excel dan Microsoft Access

 Menyampaikan laporan simpanan anggota setiap bulan

 Meminta Badan Pengawas dan Penasihat memeriksa laporan koperasi setiap bulan

 Membuat rekening koperasi di bank

 Ketua koperasi memeriksa bendahara setiap hari melalui internet banking

 Melakukan peminjaman kepada anggota melalui transfer rekening (tidak boleh tunai). Catatan sangat penting dan membantu.

 Menghitung beban biaya wajib yang harus dipikul koperasi (RAT dan kesejahteraan anggota)

 Membagi jasa kepada anggota setiap bulan, sebagaimana dilaksanakan oleh lembaga keuangan perbankan

 Berupaya jasa yang diberikan kepada anggota lebih tinggi dari jasa yang diberikan lembaga keuangan perbankan

 Mencari anggota potensial untuk untuk menambah simpanan melalui simpanan sukarela, dan terus menambah simpanan sukarela

 Mencari anggota pontensial untuk meminjam pada koperasi, kemudian menyimpan lagi paga koperasi.

Dengan demikian mempercepat peningkatan pendapatan jasa dan modal koperasi

 Mencari tambahan modal dari anggota luar biasa dan mitra koperasi pada unit Fakultas Pertanian Unsyiah

 Menaikkan simpanan wajib yang dapat disetujui anggota

 Menyelenggarakan RAT setiap awal tahun

Pelaksanaan langkah-langkah tersebut di atas telah membuahkan hasil. Kekayaan koperasi telah meningkat menjadi Rp 1,5 milyar pada akhir tahun 2013 (lebih dari 10 kali kekayaan pada Agustus 2012). Pendapatan jasa pinjaman mencapai Rp 180 juta, melebihi target yang ditetapkan dalam RAT 2013, yaitu Rp 100 juta. Pemberian kesejahteraan kepada anggota pada Lebaran Haji telah dapat dilaksanakan tanpa merasa waswas

akan tergerus simpanan anggota. Telah terbentuk dana cadangan koperasi sebesar Rp 40 juta. Untuk melakukan peminjaman dari koperasi, anggota tidak perlu antre, sebagaimana pada pengurusan sebelumnya. Anggota dapat meminjam dengan mudah sungguhpun pada hari libur, atau pada malam hari.

akan tergerus simpanan anggota. Telah terbentuk dana cadangan koperasi sebesar Rp 40 juta. Untuk melakukan peminjaman dari koperasi, anggota tidak perlu antre, sebagaimana pada pengurusan sebelumnya. Anggota dapat meminjam dengan mudah sungguhpun pada hari libur, atau pada malam hari.

Dalam dokumen PENYULUHAN PERTANIAN BERBASIS SYARIAH (Halaman 153-0)