BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Desa Moahudu merupakan desa yang terletak di Kecamatan Tabongo

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Profil Lokasi Penelitian

Desa Moahudu merupakan desa yang terletak di Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo yang terdiri dari 9 desa. Jarak tempuh ke kota kabupaten cukup jauh, yakni sekitar 30 km. Sedangkan jarak ke kota kecamatan kurang lebih 10 km.

Jalan Raya,sejak akhir 2007 jalan raya sudah berasapal dan tak berlobang lagi. Sudah ada angkutan pedesaan/bentor yang melewati desa ini, meskipun saat ini kondisi jalannya sangat jelek. Hal ini secara tak langsung menyebabkan akses transportasi masyarakat terganggu. Namun ada informasi akan ada perbaikan jalan dari Pemerintah Daerah Kabupaten pada tahun anggaran 2013.

Secara administratif Desa Moahudu dibagi menjadi 4 Dusun, penduduk desa moahudu sebanyak 1337 orang yg terdiri dari 658 laki-laki dan perempuan sebanyak 626 orang . jumlah penduduk yang bekerja 544 orang yang manyoritas sebagai petani /peladang dan pengrajin tungku. Swadaya masyarakat Desa Moahudu sangat tinggi yang ditunjukkan dengan pembangunan sarana parasarana seperti jalan Trans Sulawesi swadaya dan gedung-gedung fasilitas publik. Kemandirian warga juga dibuktikan dengan pengembangan Desa Siaga, PNPM Mandiri Pedesaan, Lembaga Keuangan Mikro, Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan/P2KP, Desa Tangguh Bencana, Keabsaraan Fungsional, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)

32

(2)

untuk memproduksi berbagai produk pertanian antara lain pupuk organik, dan lain- lain

4.2. Paparan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap informan diperoleh gambaran tentang faktor-faktor penghambat pemberdayaan pengrajin tungku di Desa Moahudu Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo. Dilihat dari penampilan para informan, mereka terlihat seperti ketakutan ketika peneliti datang ke tempat usaha kerajinan mereka. Bahkan menolak untuk difoto. Padahal sebagai bahan dokumentasi, foto dianggap penting. Ketika melakukan proses wawancara pun mereka terlihat malu-malu dan enggan menjawab. Kelompok pengrajin itu berjumlah dua puluh satu orang yang dipimpin oleh ketua kelompok. Ketua kelompok yang mengarahkan dan member upah pada mereka. Kehidupan pedesaan terasa kental sekali di sana. Berikut ini pemaparan hasil wawancara dengan mereka.

4.2.1. Kompetensi Pengrajin

Kompetensi merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengrajin tungku dalam usaha kerajinan pembuatan tungku. Tanpa keahlian membuat tungku, pengrajin tidak bisa memproduksi tungku. Mereka belajar secara otodidak karena sering melihat dan mempraktekkannya secara langsung di bengkel. Terkait dengan kompetensi, berikut ini hasil wawancara dengan ketua kelompok pengrajin tungku.

“Kami bisa membuat tungku karena belajar dari seseorang. Dia adalah orang Gorontalo yang pesiar ke Kotamobagu. Pulang dari Kotamobagu,

(3)

dia membawa ilmu membuat tungku. Di Kotamobagu, tungku yang dibuat berbentuk bulat. Sedangkan di Gorontalo, tungku yang dibuat bukan bulat tapi sudah diubah sesuai dengan keinginan masyarakat Moahudu yaitu menjadi kotak persegi panjang yang nantinya akan memudahkan dimasukkan kayu bakar sebagai bahan bakarnya.”

WW/IY/PT/ 23-12-2012)

Senada dengan jawaban dari sang ketua, anggota pengrajin pun menjawab dengan pendapat yang sama. Berikut ini hasil waancaranya.

“Keahlian membuat tungku biasanya karena pengalaman. Pengalaman membuat seseorang menjadi jago atau ahli membuat tungku. Tidak perlu pendidikan formal atau kursus, asal ada kemauan pasti bisa. Karena di kelompok kami ada yang melatih dengan langsung praktek di bengkel tempat pengrajin tungku.”

(YYN/PT/23-12- 2012)

Hasil wawancara ini menunjukkan bahwa ilmu membuat tungku berasal dari Kotamobagu yang dibawa oleh orang Gorontalo yang pesiar ke Kotamobagu. Hal ini menjadi cikal bakal tumbuhnya pengrajin tungku di Desa Moahudu yang berlangsung hingga sekarang. Sehingga dapat dikatakan bahwa keahlian membuat tungku dipelajari para pengrajin secara non formal.

Kompetensi membuat tungku bukan merupakan hal yang luar biasa sulit didapatkan. Setiap orang bisa membuat tungku asal mau belajar dan berusaha dengan cara praktek langsung di lapangan. Kompetensi didapatkan karena pengalaman membuat tungku yang sering.

Terkait dengan faktor penghambat pemberdayaan pengrajin tungku, berikut ini hasil wawancaranya.

(4)

“Hambatan untuk belajar membuat tungku hampir tidak ada. Semua orang bisa melakukannya asal ada keinginan yang kuat untuk belajar. Rata-rata anak muda tidak suka, tapi bagi mereka yang sudah dewasa dan tidak punya pekerjaan membuat tungku menjadi alternatif untuk mendapatkan pekerjaan.

(YYN/PT/23 -12-2012)

Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa siapapun bisa menjadi pengrajin tungku asalkan ada kesungguhan untuk belajar. Namun, hanya orang yang sangat membutuhkan pekerjaan sekali yang tertarik dengan membuat tungku. Anak muda tidak tertarik dengan pekerjaan ini.

Hal senada juga dikatakan oleh pekerja tungku yang lainnya. Berikut ini hasil wawancaranya.

“Tungku di jaman sekarang dianggap barang kuno dan tidak modern. Anak muda tidak tertarik dengan yang kuno-kuno. Apalagi sekarang sudah ada gas elpiji 3 kg dengan kompor yang dibagikan secara gratis. Jadi anak muda berpikir tungku tidak akan lagi dibutuhkan warga. Pekerjaan yang lebih menarik bagi mereka biasanya di kota.”

(TN/PT/23 -12-2013)

Pendapat Kepala Desa Moahudu sendiri memiliki pendapat mengenai kompetensi pengrajin tungku ini. Berikut ini hasil wawancaranya.

Para pengrajin tungku ini sudah lama dan sudah terdaftar di kantor desa.

Profil mereka sudah ada. Kompetensi mereka sudah tidak diragukan lagi dalam membuat tungku. Yang menjadi kendala bagi mereka adalah pengelolaan keuangan dan manajmen serta pemasarannya. Masalahnya adalah pemerintah mensosialisasikan penggunaan gas elpiji. Banyak masyarakat yang belum siap menggunakan gas elpiji sesuai harapan pemerintah. Sehingga mereka tetap memilih kompor minyak tanah bahkan tungku yang sebenarnya sudah dinilai ketinggalan jaman.”

(KD/HO/23-12-2013)

(5)

Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa kompetensi bukan suatu yang diragukan lagi. Namun, ada faktor penghambat lain, komptensi bukan hanya keterampilan memproduksi tungku tapi juga mengelola keuangan serta harus mampu menggunakan strategi pemasaran yang baik.

4.2.2. Motivasi Kerja

Motivasi kerja merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dengan kompetensi.

Dalam bekerja, seseorang yang tidak memiliki motivasi, maka kompetensi seseorang tidak dapat berjalan sesuai dengan harapan. Kompetensi dengan motivasi berjalan bersama-sama untuk mencapai tujuan. Terkait dengan motivasi pengrajin tungku, berikut ini hasil wawancaranya.

“Kami sudah berkeluarga, sedangkan kami hanya lulusan sekolah dasar. Jadi, dimana perusahaan yang mau menerima kami sebagai karyawan. Motivasi kami untuk membuat tungku tinggi karena kebutuhan untuk menghidupi keluarga.

Namun, jika musim hujan atau musim yang sekarang ini tidak menentu membuat kami juga suka malas bekerja. Permintaan dari pasar juga kalo sedang tinggi bisa memotivasi kami. Tapi ketika pemerintah mensosialisasikan gas elpiji yang dibagikan pada warga, kami jadi takut tungku kami tidak akan laku lagi di pasaran. Tapi ternyata tidak juga, masih banyak masyarakat yang memilih kayu bakar dan tungku di desa-desa.”

(TN/PT/23-12-2012)

Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa pada dasarnya motivasi itu bersumber dan berasal dari dalam dan di luar diri seseorang untuk melaksanakan sesuatu tindakan tertentu. Hal ini dijelaskan bahwa ada seseorang yang melaksanakan sesuatu kegiatan karena dia sadar dan butuh bahkan perlu melakukannya. Ada orang lain nanti didesak atau didorong orang di sekitarnya baru melakukan suatu aktivitas tertentu.

(6)

Motivasi atau dorongan untuk bekerja ini sangat menentukan bagi tercapainya sesuatu tujuan, maka manusia harus dapat menumbuhkan motivasi kerja yang dimiliki setinggi-tingginya. Pengertian motivasi erat kaitannya dengan timbulnya suatu kecenderungan untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan. Ada hubungan yang kuat antara motivasi dan perbuatan atau tingkah laku, tujuan dan kepuasan, karena setiap perubahan senantiasa berkat adanya dorongan motivasi.

Motivasi timbul karena adanya suatu kebutuhan terarah kepada pencapaian tujuan tertentu. Apabila tujuan telah tercapai maka akan tercapai kepuasan dan cenderung untuk diulang kembali, atau bahkan terjadi peningkstan kebutuhan dan seseorang berupaya untuk memenuhinya. Inilah yang dimaksudkan dengan teori kebutuan seperti yang dikemukakan Maslow dengan hirarki kebutuhan.

Senada dengan hal tersebut, pengrajin tungku yang lain juga mengungkapkan pendapat yang sama. Berikut ini hasil wawancaranya.

”Kebutuhan untuk menghidupi keluarga merupakan motivasi kami untuk membuat tungku. Kami tidak memiliki keahlian lain.”

(YYN/PT/23 -08-2013)

Dari hierarki kebutuhan yang dikemukakan di atas bahwa upaya-upaya motivasi didasarkan atas tingkat kebutuhan tersebut. Apabila kebutuhan pada tingkat bawah (makan minum, dan kebutuhan biologis lainnya) telah dipenuhi maka kondisi ini menimbulkan kebutuhan untuk memenuhi perilaku yang menuntut kebutuhan yang lebih tinggi. Tingkat kebutuhan terbawah adalah kebutuhan fisiologis atau

(7)

kebutuhan untuk hidup terus misalnya kebutuhan untuk makan, pakaian, istirahat dan sebagainya. Itu sebabnya jika dalam suatu instansi selalu dipenuhi oleh pimpinannya gaji atau upah sehingga pegawai atau karyawannya dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan gajinya itu. Setelah kebutuhan tersebut terpenuhi, maka kebutuhan selanjutnya adalah kebutuhan akan keselamatan atau keamanan. Ketika instansi tu makin maju maka mulai dipikirkan bagaiman pegawainya memiliki tempat tinggal sebagai tempat untuk istirahat, mengamankan barang atau harta yang dimilikinya, pegawai memiliki jaminan kesehatan , asuransi harta, dan sebagainya.

Pekerjaan yang menghasilkan prestasi kerja yang baik, diakibatkan oleh 3 (tiga) keadaan psikologis yang dapat mendorong motivasi seseorang untuk beraktivitas dalam organisasi, ketiga kondisi psikologis tersebut adalah meliputi: 1) Bermanfaat, di mana aktivitas yang dilakukan harus memiliki sasaran yang jelas dipersepsikan penting dan bermanfaat. 2) Tanggung jawab, dalam hal ini pekerja harus yakin bahwa secara pribadi mereka bertanggung jawab terhadap hasil dan usahanya akan mempengaruhi basil.3) Pengetahuan tentang hasil, dalam hal ini pekerja harus mendapat informasi secara teratur dan tepat waktu tentang seberapa baik ia melaksanakan tugasnya, sehingga mereka dapat melakukan penyesuaian bila diperlukan.

Dengan demikian yang dimaksud dengan motivasi dalam penelitian ini adalah upaya masyarakat agar mau berbuat dan bekerja secara optimal dalam memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kemandirian masyarakat.

(8)

4.2.3. Dukungan Dana

Dukungan dana bagi pengrajin tungku merupakan bentuk pemberdayaan dalam meningkatkan kompetensi dan motivasi. pemberdayaan adalah rangkaian upaya pengendalian secara profesional terhadap semua unsur organisasi agar unsur-unsur tersebut berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara berdaya guna dan berhasil. Pemberdayaan mempunyai arah untuk mendayagunakan semua sumber (sumber dengan manusia dan sumber daya manusia) sesuai dengan rencana dalam rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan

yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, dukungan dana menjadi hal yang penting bagi keberlangsungan usaha kerajinan pembuatan tungku. Berdasarkan wawancara terkait dengan dukungan dana, Berikut ini hasil wawancaranya yang pertama dengan ketua pengrajin tungku.

“Kami bekerja secara berkelompok. Saya adalah ketuanya. Modal semuanya dari saya untuk membeli tanah liat yang dibeli di Kwandang dan konga padi sebagai campurannya dan pahat kayu. Dukungan dana pernah kami dapat satu kali dari Dinas Nakertrans sebesar lima juta rupiah per kelompok. Uang itu tidak cukup untuk modal bagi kami satu kelompok yang berjumlah sepuluh orang anggota.”

WW/IY/KPT/ 23-12-2012)

Berikut ini adalah penjelasan dari dua anggota kelompok pengrajin.

”Kami tidak mengeluarkan modal, modal berasal dari ketua kami. Pernah kami dengar ada yang memberi bantuan dari Nakertrans sebesar lima juta rupiah.

Kami hanya bekerja memproduksi dan menjual tungku. Upah yang kami terima sesuai dengan jumlah yang mampu kami produksi dan jual. Satu tungku dijual dua puluh lima ribu rupiah, kalo ada pembeli yang beli di bengkel. Tapi kalau di jual keliling kampung menggunakan motor atau dijual di pasar, kami bisa jual

(9)

dengan harga yang lebih tinggi sekitar tiga puluh ribu sampai tiga puluh lima ribu rupiah.”

(YYN/PT/23-12-2012)

”Jangankan untuk modal bu, untuk makan sehari-hari saja sudah sulit. Kami tidak memiliki modal, kami hanya bekerja memproduksi dan menjual tungku.

Kami diberi upah tujuh ribu lima ratus rupiah untuk satu tungku yang terjual.

Kalau belum terjual, kami belum dapat upah. Satu bulan kami menjual biasanya kalau lagi sepi sekitar lima puluh tungku, tapi kalau lagi bagus pembelinya bisa mencapai seratus tungku dalam sebulan. Kekuatan tungku itu sekitar satu tahun kalau tidak kena air terus.”

(TN/PT/23-12-2012)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa mereka pernah mendapatkan dukungan dana dari Dinas Nakertrans sebesar lima juta rupiah per kelompok. Selain itu, belum ada dukungan dana dari pemerintah atau dari manapun.

Biasanya, modal mereka dapatkan dari ketua pengrajin. Pengrajin tungku tidak pernah memikirkan modal, yang mereka tahu adalah bagaimana bekerja memproduksi tungku dan mampu menjualnya sebanyak mungkin sehingga mereka bisa memperoleh upah yang menjadi hak mereka.

Pemerintah memang memiliki peran penting bagi pertumbuhan usaha kecil seperti pengrajin tungku. Oleh karena itu, peran kepala desa menjadi keharusan dalam mengembangkan usaha kecil ini. Berikut ini hasil wawancara dengan kepala desa.

“Usaha kecil seperti produksi tungku ini memang kami perhatikan. Mereka pernah mendapatkan dukungan dana dari Nakertrans sebesar lima juta per kelompok. Di desa kami ada dua kelompok pengrajin tungku. Satu kelompok ada yang berjumlah sebelas orang dan yang satunya lagi berjumlah sebelas orang. Walaupun ada sosialisasi penggunaan gas elpiji, tapi kami tetap mempertahankan penggunaan tungku di desa kami. Karena bagaimanapun usaha kecil seperti pengrajin tungku harus tetap didukung demi keberlangsungan hidup

(10)

mereka. Semua pengrajin sudah berumah tangga, sehingga mereka menjadi tulang punggung keluarga.”

(HO/KD/24-12-2013)

Dari penjelasan kepala desa di atas, maka dapat dilihat bahwa pemerintah memperhatikan keberadaan usaha kecil pengrajin tungku ini. Terbukti dengan adanya bantuan dari Nakertrans sebesar lima juta rupiah.

4.1.4. Pemasaran

Ujung tombak sebuah produksi terletak pada pemasaran. Produk yang berkualitas baik jika tidak laku dipasaran maka tidak dikatakan berhasil produk itu.

Namun, produk apapun jika berhasil laku di pasaran, maka berhasilah usaha tersebut.

Terkait dengan pemasaran, pengrajin tungku memproduksi dan memasarkan tungku mereka di pasar oleh pengrajin sendiri apakah itu dijual dibengkel sendiri, dijajakan berkeliling ke rumah-rumah penduduk dijual di pasar, atau dibeli oleh tengkulak.

Terkait dengan masalah pemasaran tungku, di bawah ini hasil wawancaranya.

“Penjualan tungku tidak sebagus ketika jaman dulu sebelum ada gas elpiji 3 kg.

Harga jual sekarang, jika dijual di bengkel hanya laku Rp25.000 saja. Kalau di pasar Rp30.000 sampai Rp35.000. Permintaan pasar memang tidak sebagus dulu. Dalam satu bulan saya bisa menjual sekitar seratus tungku kalo lagi nasib kurang bagus, paling hanya lima puluh tungku yang bisa terjual.”

(YYN/PT/23-08-2012)

Berdasarkan hasil wawancara, minat masyarakat terhadap tungku sudah mulai meredup. Bagaimanapun, tungku adalah alat tradisional yang masih bertahan hingga sekarang.

(11)

Pada kesempatan lain, ditanyakan kepada pembeli mengenai produk tungku yang pernah mereka beli. Berikut ini hasil wawancaranya.

“Tungku harganya masih terjangkau, murah. Tapi kami tidak takut menggunakan tungku. Tidak seperti menggunakan gas elpiji yang cara menyalakannya saja takut. Tungku bisa bertahan sampai satu tahun, kayu bakarnya juga mudah didapat dan sama murahnya.”

(ST/Pem/25-08-2012)

Pengalaman membeli tungku juga dirasakan oleh pembeli yang lain. Berikut ini adalah hasil wawancaranya.

“Saya biasa beli tungku dari tempat membuatnya langsung. Harganya lebih murah dibandingkan beli di pasar atau dari penjaja keliling. Biasanya setiap tahun saya beli dua sekaligus. Dapur saya memuat dua tungku. Kayu bakarnya biasanya dibeli di warung-warung. Waktu pemerintah memberikan kompor gas dan tabung elpiji 3 kg, saya takut memakainya. Pernah saya coba nyalakan di luar rumah di bawah pohon pisang agak jauh dari rumah. Tapi setiap kali saya coba nyalakan, perasaan takut itu tidak mau hilang. Jadi saya lebih memilih menggunakan tungku saja seperti biasanya. Saya tanyakan para birman, mereka ternyata memiliki pengalaman yang sama. Akhirnya, saya kasihkan sama orang yang ga takut sama kompor gas, kompor dan tabungnya.”

(INR/Pem/25-08-2012)

Dari hasil wawancara di atas, tungku masih diminati oleh masyarakat. Hal ini karena walaupun sudah ada kompor gas yang lebih praktis dan lebih ekonomis serta bersih mereka lebih memilih sesuatu yang sudah dipahami dan diyakini aman bagi dirinya ketika memasak.

Berbeda dengan pembeli lain yang menggunakan kompor gas dan tungku.

Walaupun di rumahnya ada kompor gas, mereka pun menggunakan tungku. Berikut ini hasil wawancaranya.

(12)

“Saya menggunakan kompor gas juga tungku. Dua-duanya saya pakai karena kebutuhan. Kalau lagi buru-buru, saya menggunakan gas memasaknya. Tapi kalau lagi santai, saya menggunakan tungku. Memasak menggunakan tungku hasilnya lebih enak dan nikmat, berbeda dengan memasak di kompor gas.

Kalau kompor minyak sudah lama tidak pakai karena minyak tanah harganya mahal dan seringkali tidak ada.”

(SP/Pem/25-08-2012)

Dari jawaban di atas, dapat dilihat bahwa tungku masih diminati dan dibutuhkan masyarakat. Walaupun sudah ada kompor gas yang lebih praktis, namun tungku tetap bisa dijadikan idola bagi ibu-ibu karena hasil masakan dapat lebih lezat.

4.3. Pemb ahas an Hasil Pen eli tian

Di zaman yang serba canggih seperti sekarang ini, Desa Moahudu merupakan desa yang penduduknya masih menggunakan tungku sebagai alat memasak mereka.

Keyakinan mereka akan keselamatan menggunakan tungku menjadi pertimbangan bagi mereka untuk tetap setia menggunakan tungku. Keselamatan memang menjadi bagian terpenting dalam kehidupan mereka. Walaupun banyak yang menggunakan kompor gas, tapi bagi merka ketakutan untuk menyalakn kompor gas menjadi trauma tersendiri. Sehingga mereka lebih memilih menggunakan tungku yang sudah akrab dengan mereka sejak dulu.

Pengrajin tungku di Desa Moahudu berjumlah dua puluh satu orang yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berjumlah sepuluh anggota dan kelompok kedua berjumlah sebelas orang. Semuanya adalah warga Desa Moahudu.

Ketua kelompok merupakan pahlawan bagi para anggotanya, karena urusan modal dan kebutuhan produksi menjadi tanggung jawab sang ketua. Dimulai dari

(13)

tempat produksi. Penyediaan bahan baku membuat tungku seperti tanah liat, kongo, pahat, dan bahan-bahan lainnya disediakan oleh ketua.

Berbeda dengan ketua, anggota bertugas untuk memproduksi dan memasarkannya saja. Cukup mudah bagi mereka yang hanya lulusan sekolah dasar bekerja seperti itu. Keahlian mereka yang dimiliki hanya itu saja. Sehingga menjadi harapan besar bagi mereka untuk bisa mendapatkan penghasilan dari produksi dan pemasaran tungku.

Jika dijumlahkan, dari penjualan selama satu bulan, mereka bisa meraih upah produksi dan penjualan kurang lebih sekitar tujuh ratus lima puluh ribu rupiah per orang. Bila dibandingkan dengan upah minimum regional kabupaten Gorontalo, upah itu belum memenuhi standar. Namun, dibandingkan dengan pengangguran, hal itu terlihat lebih baik. Tentu saja pasti ada faktor yang membuat penghasilan pengrajin tungku menjadi rendah.

Pertama, dari segi kompetensi. Kompetensi tidak cukup hanya mengandalkan yang sudah ada. Merasa cukup dengan keahlian yang ada belum dapat dikatakan berhasil. Jika biasanya pengrajin tungku bisa memproduksi tungku sebanyak dua puluh, maka harus dipikirkan bagaimana caranya memproduksi tungku dengan lebih banyak lagi. Sehingga jumlah yang akan dijual bisa lebih banyak lagi. Sangat mungkin sekali jika penjualan atau lingkup pemasarannya diperluas ke daerah desa tetangga, misalnya ruang lingkup pasarnya menjadi satu kecamatan.

(14)

Motivasi merupakan hal yang tidka kalah penting dengan kompetensi. Dengan adanya motivasi akan terjadi perubahan energi dalam diri seseorang yang mengandung kemauan untuk bekerja atau melakukan sesuatu yang diperlukan sekaligus berusaha meniadakan berbagai gejala psikologis yang membuat diri malas dan tidak mendukung keinginan menjalankan sesuatu pekerjaan/kegiatan berkaitan dengan hal tersebut.

Motivasi merupakan suatu daya yang timbul dalam diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu aktivitas, sekaligus meredam perasaan tidak mau yang ada dalam diri seseorang. Adanya kondisi tersebut tidak terlepas karena adanya keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan, adanya dorongan yang timbul didalam diri serta faktor tuntutan terhadap setiap manusia untuk mewujudkan tujuan- tujuan hidup yang ingin dicapai.

Motivasi pada dasarnya bertujuan menggerakkan seseorang atau kelompok orang dengan menumbuhkan dorongan atau motive dalam diri orang atau kelompok orang tersebut untuk melakukan tugas atau kegiatan yang diberikan kepadanya sesuai rencana dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Motivasi bertujuan memberikan dorongan, semangat, dan kekuatan untuk melakukan suatu kegiatan, pekerjaan, atau tindakan tertentu dalam mewujudkan dan mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan fungsi lain dari motivasi yaitu menentukan prioritas kegiatan yang harus dilakukan, antara yang bermanfaat atau sebaliknya bagi

(15)

pencapaian tujuan saat itu, sehingga motivasi memberi dorongan bagi seseorang untuk menyeleksi dan memilih kegiatan atau perbuatan.

Keinginan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan, melatar belakangi seseorang untuk termotivasi untuk belajar. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat bersumber dari dalam diri sendiri maupun atas pengaruh dari pihak lain atau lingkungan interaktifnya. Karena motivasi pula seseorang tergerak untuk merealisasikan apa-apa yang didambakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa motivasi pada setiap orang bersumber dari dalam diri orang yang bersangkutan atau atas pengaruh dan dorongan dari pihak lain diluar dirinya sebagai stimulan (rangsangan) input untuk melakukan suatu tindakan, kegiatan dan pekerjaan yang memungkinkan tercapainya tujuan yang diinginkan pada saat itu.

Berdasarkan uraian–uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi dalam kehidupan manusia demikian beragam, baik ditinjau dari jenis kebutuhan, sumber timbulnya motivasi maupun sifat dari motivasi tersebut. Keberadaan jenis-jenis motivasi dalam diri seseorang, sangat tergantung pada kondisi yang dialami atau dihadapi saat itu yang menuntutnya untuk dipenuhi, sehingga ada motivasi yang diperlukan pada saat-saat tertentu saja dan ada pula yang diperluklan secara permanen. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa motivasi menjadi daya bagi setiap orang untuk berusaha menjalankan setiap tugas, pekerjaan-pekerjaan atau melaksanakan percuatan-perbuatan tertentu yang diperlukan olehnya dalam

(16)

memenuhi keinginan-keinginannya maupun dalam mewujudkan hasil kerja yang optimal.

Motivasi yang melekat pada pengrajin tungku terkait dengan kebutuhan mereka untuk mempertahankan keberlangsungan kehidupan bersama keluarganya. Semua pengrajin tungku berjenis kelamin laki-laki dan sudah berumah tangga. Sehingga mereka berperan sebagai kepala rumah tangga dalam keluarganya. Maka, mereka bertanggung jawab atas semua kebutuhan keluarga yang diperlukan. Hal ini menjadi motivasi bagi dirinya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh sebagai pengrajin tungku. Karena untuk mempertahankan kehidupannya, tidak ada lagi pilihan lain bagi para pengrajin tungku, mereka hanya memiliki satu keahlian yaitu memproduksi tungku.

Seharusnya, ketika harga bahan bakar minyak naik atau meningkat harganya berpengaruh pada harga jual tungku. Perubahan harga ini boleh jadi memotivasi pengrajin tungku untuk menghasilkan tungku yang berkualitas tinggi. Dengan begitu, penghasilan mereka dapat meningkat lebih baik lagi.

Dukungan dana merupakan penggerak bagi keberlangsungan produksi. Kurang modal akan menghambat proses produksi yang sudah direncanakan. Bantuan modal sangat penting. Seseorang diyakini akan sulit mencapai hasil yang baik apabila tidak memiliki modal yang memadai dalam menyediakan kondisi-kondisi yang diperlukan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa motivasi sangat penting sebagai pendorong bagi manusia untuk melakukan suatu pekerjaan sehingga dapat mencapai

(17)

tujuan yang telah ditetapkan, karena motivasi merupakan suatu bentuk energi yang menyebabkan setiap individu secara aktif melakukan pekerjaan atau tindakan tertentu yang diperlukan baginya dalam mewujudkan tujuan dan keinginannya.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat adalah bagian dari upaya membangun eksistensi pribadi, keluarga masyarakat, bangsa, pemerintahan, negara, dan tata dunia di dalam kerangka proses liberasi, humanisasi dan spiritualisasi kemanusiaan yang adil dan beradab, yang terwujud di berbagai medan kehidupan; politik, ekonomi, agama, hukum, pendidikan dan lain sebagainya. Gerakan-gerakan pemberdayaan bertujuan untuk menemukan alternatif-alternatif baru dalam pembangunan masyarakat. Pada hakikatnya, proses pemberdayaan dapat dipandang dari sistem kekuasaan yang mutlak absolut (intelektual, religius, politik, ekonomi dan militer).

Konsep ini merupakan sistem baru yang berlandaskan idiil manusia dan kemanusiaan (humanisme). Orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya, bahkan merupakan “keharusan” untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi pengetahuan, keterampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan mereka tanpa bergantung pada pertolongan dari hubungan eksternal.

Di Desa Moahudu, peran pemerintah dalam dukungan dana hanya baru dibantu oleh Nakertrans sebesar lima juta rupiah pada stiap kelompok. Bantuan modal tersebut sebenarnya tidak cukup untuk produksi. Sehingga para kelompok mengandalkan kelincahan para ketua untuk mendapatkan modal.

(18)

Dilihat dari performance para pengrajin, mereka tidak memahami secara jelas bagaimana dengan urusan keuangan. Hal ini disebabkan karena tingkat pendidikan mereka yang rendah. Yang mereka pahami adalah hak dan kewajibannya sebagai anggota pengrajin. Haknya yaitu upah yang bisa diperoleh jika bisa menyelesaikan satu tungku serta telah dijual baru mereka mendapatkan haknya. Jika tungku belum terjual, maka haknya belum dapat dipenuhi. Begitupun jika tungku sudah selesai diproduksi, mereka belum bisa memperoleh haknya. Sehingga dukungan dana sebesar apapun tidak akan berpengaruh pada hak dan kewajiban anggota pengrajin.

Mereka tetap memperoleh hak dan kewajiban yang sama.

Pemasaran terkait dengan kegiatan promosi dilakukan bertujuan untuk memperkenalkan hasil-hasil produk kerajinan tungku oleh penjual secara terkoordinasi guna membentuk saluran-saluran informasi dan persuasi guna memajukan penjualan barang atau jasa tertentu, atau penerimaan ide-ide atau pandangan-pandangan tertentu. Dengan adanya kegiatan promosi yang dilakukan perusahaan, maka pihak konsumen mengetahui dan mengerti dengan baik tentang produk apa yang ditawarkan oleh perusahaan.

Periklanan (Advertising) adalah bentuk komunikasi yang dibayar dimana terjadi proses identifikasi sponsor yang bertujuan untuk membujuk dan mempengaruhi konsumen, menggunakan elemen media massa yang merupakan sarana untuk menyampaikan pesan kepada audiens sasaran dan bersifat non-personal.

(19)

Untuk promosi tungku di Desa Moahudu terlihat belum maksimal karena dilihat dari system penjualan mereka, masih menggunakan cara yang sangat tradisional. Seperti hanya informasi yang disampaikan dari mulut ke mulut saja. Atau berdasarkan referensi teman.

Alangkah baiknya jika promosi tungku ini juga menggunakan media warung- warung yang di kampong dalam hal penjualan. Mengingat setiap orang selalu ke warung untuk memenuhi kebutuhannya. Walaupun pada mulanya orang hanya melihat di warung, tapi itu bisajadi pemacing pembeli akan datang. Yang akan ditanyak terlebih dahulu oleh para pembeli adalah “tungku ini dijual?”

Sehingga, mungkin saja orang yang pada awalnya tidak mau membeli tapi karena terlihat di warung, maka menjadi beli.

Penjualan Tatap Muka (Personal Selling) adalah satu-satunya alat promosi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan konsumen potensial secara langsung, artinya penjualan tatap muka merupakan aktivitas komunikasi antara produsen yang diwakili oleh tenaga potensial yang melibatkan pikiran dan emosi, serta tentu saja berhadapan langsung dengan konsumen.

Hal ini sudah dilakukan oleh para pengrajin. Istilahnya adalah jemput bola. Ini lebih memungkinkan mendapatkan pembeli yang lebih banyak. Kendalanya mereka hanya menggunakan motor sebagai alat tranportasinya. Sehingga hanya mampu mengangkut empat tungku dalam satu motor.

(20)

Sehingga, dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang menghambat pemberdayaan pengrajin tungku adalah

1. Peningkatan kompetensi membuat tungku dirasakan para pengrajin sudah cukup. Mereka tidak merasa harus ada usaha meningkatkan keterampilan kerja sehingga bisa menjadi produk yang lebih baik dan bernilai ekonomis yang tinggi.

2. Motivasi masyarakat terhadap keterampilan membuat tungku, masih rendah. Hal ini disebabkan karena keterampilan ini dianggap tidak menghasilkan keuntungan yang besar disamping karena tungku sudah dianggap sebagai barang kuno yang jarang dipakai masyarakat.

3. Dukungan dana baik dari pemerintah ataupun swasta belum maksimal mengembangakan produk ini. Sehingga produk ini masih sulit bersaing di pasaran dengan produk yang dianggap lebih praktis dan canggih.

4. Pemasaran yang selama ini dilakukan masih sangat tradisional dan monoton. Hanya mengandalkan kebiasaan lama dan tidak mencari inovasi baru dalam strategi pemasaran.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :