Pendahuluan
Memasuki era globalisasi, Indonesia masih saja mengalami masalah gizi pada anak sekolah dasar yaitu gizi kurang dan gizi lebih dengan berbagai risiko penyakit yang ditimbulkan.
Salah satu penyebab anak sekolah mengalami gizi kurang atau gizi lebih yaitu perilaku makan yang salah. Perilaku makan yang salah yaitu berkaitan dengan kurangnya mengkonsumsi buah dan sayur.1 Anak usia 5-9 tahun kurang mengkonsumsi buah dan sayur perhari dalam seminggu (96,9%) dan untuk usia 10-14 tahun (96,8%).2 Apabila tubuh kekurangan asupan buah dan sayur akan menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi seperti vitamin, mineral, serat dan dapat mengakibatkan sistem kekebalan tubuh menurun sehingga mudah terserang penyakit. Dampak lain jika tubuh kekurangan asupan buah dan sayur adalah timbulnya penyakit jantung (31%) dan stroke (11%) di seluruh dunia.3
Anak usia sekolah (5–14 tahun) merupakan kelompok usia anak yang mengalami tumbuh kembang pesat. Asupan zat gizi yang baik dan benar sangat diperlukan agar anak dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal. Sayangnya, terdapat berbagai tantangan konsumsi buah dan sayur bagi anak-anak, seperti kurangnya pengetahuan tentang gizi dari anak dan keluarga, pola makan, mutu makanan yang dikonsumsi, sosial ekonomi, dan lingkungan.1 Kurangnya pengetahuan tentang gizi akan menyebabkan seseorang salah dalam memilih makanan sehingga akan menurunkan konsumsi buah dan sayur dan berdampak pada masalah gizi.4 Pendapatan orang tua sangat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan. Tingkat pendapatan akan mencerminkan kemampuan daya beli bahan makanan di tingkat rumah tangga khususnya buah dan sayur baik jumlah maupun mutunya.5 Pergaulan dengan teman sebaya merupakan hal yang paling menonjol ketika anak dalam usia sekolah. Masa ini disebut juga masa berkelompok di mana anak mulai mengalihkan perhatiannya dari keluarga ke teman sebayanya, sehingga dapat mempengaruhi dalam menentukan makanan yang di konsumsi.6
Permasalahan itu pun masih terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menempati urutan ke-29 untuk kasus konsumsi buah dan sayur per hari dalam seminggu pada penduduk 5 tahun ke atas (92,4%). Pada kelompok umur 10-14 tahun sebanyak 96,8% kurang mengkonsumsi buah dan sayur perhari dalam seminggu. Penduduk dikategorikan cukup jika konsumsi buah dan atau sayur minimal 5 kali perhari dalam seminggu serta dikategorikan kurang apabila kurang dari 5 kali perhari dalam seminggu. Konsumsi buah dan sayur anak yang masih rendah disebabkan karena kelompok makanan tersebut biasanya kurang disukai anak.3 Menurut rekomendasi Pedoman Gizi Seimbang7, penduduk usia >10 tahun dianjurkan untuk mengonsumsi buah dan sayur sebesar 3-5 porsi sayur atau setara dengan 250 gram per hari dan 2- 3 porsi buah atau setara dengan 150 gram per hari.8
Permasalahan rendahnya buah dan sayur di Nusa Tenggara Timur dan perlunya pemenuhan kebutuhan itu untuk usia anak-anak maka penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan
gambaran konsumsi buah dan sayur serta status gizi pada anak Sekolah Dasar Masehi Tanarong, Desa Nggongi, Kecamatan Karera, Provinsi Nusa Tengga Timur. Diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi anak untuk memahami pentingnya konsumsi buah dan sayur untuk tubuh.
Metodelogi
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan melakukan pendekatan dekskriptif kuantitatif untuk mendapatkan data dekskripsi mengenai pola makan responden serta status gizi. Responden penelitian adalah anak Sekolah Dasar Masehi Tanarong kelas 4 dan 5 di Desa Nggonggi, Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan rentan usia 9-12 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Kelas 4 berjumlah 22 anak yang terdiri dari 10 laki-laki dan 12 perempuan, sedangkan kelas 5 berjumlah 20 anak terdiri dari 10 laki-laki dan 10 perempuan. Total keseluruhan responden yaitu berjumlah 42 anak. Kriteria yang digunakan yaitu kriteria inklusi dan esklusi. Kriteria inklusi merupakan kriteria atau ciri-ciri yang harus di penuhi setiap masing-masing populasi yang akan dijadikan sampel. Kriteria yang digunakan berfokus pada anak Sekolah Dasar kelas 4 dan 5 dengan rentang usia 9-13 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Kirteria esklusi merupakan kriteria atau ciri-ciri anggota populasi yang tidak bisa dijadikan sebagai sampel penelitian dimana jika subjek membatalkan kesediaannya untuk menjadi responden atau berhalangan hadir pada saat pengumpulan data.
Data mengenai pola makan didapatkan dengan mengisi lembar Semi Quantative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) dan dianalisa menggunakan Microsoft Excel dari frekuensi/hari, gram/hari serta rata-rata frekuensi/hari dan gram/hari semua responden. Kecukupan konsumsi buah dan sayur responden dianalisis dari konsumsi perindividu dengan membandingkan antara rerata konsumsinya dengan anjuran konsumsi buah dan sayur dalam Pedoman Gizi Seimbang.9 Sedangkan untuk mendapatkan data antropometri seperti tinggi badan dan berat badan yaitu dengan menimbang berat badan menggunakan alat timbang badan dan pengukur tinggi badan Stature meter. Data antropometri dianalisa menggunakan Microsoft Excel dengan menambahkan data IMT median dari buku SK-antropometri tahun 2020, lalu IMT anak dihitung secara manual dengan menggunakan rumus Z-core yaitu:
IMT/U < Median : 𝐼𝑀𝑇 𝑎𝑛𝑎𝑘−𝐼𝑀𝑇 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 𝐼𝑀𝑇 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛−𝐼𝑀𝑇 (𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑝𝑎𝑑𝑎−1𝑆𝐷
IMT/U > Median : 𝐼𝑀𝑇 𝑎𝑛𝑎𝑘−𝐼𝑀𝑇 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛 𝐼𝑀𝑇 (𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑝𝑎𝑑𝑎+1𝑆𝐷−𝐼𝑀𝑇 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎𝑛
Kategori status gizi menurut IMT/U anak usia 5-18 tahun yiatu gizi kurang (thinnes) dengan ambang batas - 3 SD sampai dengan < - 2SD, gizi baik (normal) – 2 SD sampai dengan + 1 SD, gizi lebih (overweight) + 1 SD sampai dengan + 2 SD, dan obesitas (obese) > + 2.
Pada saat pengambilan data di Desa Nggongi bertepatan dengan situasi pandemi Covid- 19, sehingga mengharuskan penduduk tetap berada di rumah dan kegiatan belajar anak pun dilakukan secara daring. Cara mendapatkan data responden yaitu pertama yang dilakukan adalah dengan mengunjungi rumah kepala sekolah SD Masehi Tanarong untuk meminta izin. Setelah itu, kepala sekolah memberikan kontak wali kelas 4 dan 5 untuk bertemu sehingga dapat menanyakan jumlah dan alamat rumah setiap anak yang dijadikan responden. Informasi yang diberikan terkait alamat rumah responden hanya disampaikan oleh wali kelas secara lisan. Sedangkan informasi terkait jumlah dan nama lengkap anak dengan menunjukkan absen kelas. Ketika sudah mendapatkan informasi tersebut, maka dilakukan proses pengambilan data.
Proses pengambilan data dilakukan dengan cara mengunjungi setiap rumah responden untuk melakukan wawancara tentang pola makan serta mengukur tinggi badan dan berat badan.
Terkait alamat responden, data alamat yang diberikan yaitu alamat nama tempat atau wilayah secara umum sehingga untuk letak rumah responden belum diketahui. Untuk mengetahui letak rumah setiap responden yaitu dengan meminta bantuan dari masyarakat setiap wilayah responden.
Pada saat bertemu dengan ibu responden tidak ada pendekatan khusus dikarenakan hampir sebagian tidak memiliki handphone. Setiap wawancara yang dilakukan membutuh waktu sekitar 40-50 menit, yang menjadi narasumber yaitu ibu responden. Penimbangan berat badan dilakukan di setiap rumah responden, sedangkan untuk pengukuran tinggi badan dilakukan disatu tempat (meminjam salah satu rumah responden). Proses pengambilan data dilakukan dari bulan November 2020 hingga bulan Januari 2021.
Hasil
Gambaran Umum Tempat Penelitian
Sekolah Dasar Masehi Tanarong merupakan sekolah dasar swasta yang berdiri pada tahun 1916 yang berlokasi di Desa Nggongi, Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa Nggongi merupakan Ibu kota Kecamatan Karera, jarak antara Ibu kota Kecamatan dan Ibu kota Kabupaten adalah 143 Km. Jika memakai kendaraan ke kota, jarak yang ditempuh yaitu 7-8 jam pada musim kemarau dan musim hujan 9-10 jam.
Desa ini memiliki satu lembaga kesehatan yaitu Puskesmas Nggongi serta memiliki pasar yang hanya beroperasi pada hari sabtu jam 7-11 siang setiap minggu. Jarak pasar dari rumah responden yaitu sekitar 5 menit jika menggunakan kendaraan bermotor, sedangkan pejalan kaki bisa menempuh sekitar 10 menit. Sayuran yang biasa atau sering muncul dipasar yaitu sawi hijau, kangkung, bayam, daun singkong, bunga pepaya, dan terong. Sayur seperti wortel, brokoli, kol, buncis dan kacang panjang sangat jarang. Sedangkan buah yang sering dijual di pasar yaitu berbagai macam jenis pisang dan pepaya jarang dijual.
Tabel Hasil Penelitian
Tabel 1. Pola Konsumsi Makan Responden
Jenis Makanan Bahan Makanan Frekuensi
(kali/hari)
Rata-rata Konsumsi Harian (g)
Karbohidrat Nasi 2.90 347.6
Jagung 0.46 57.5
Singkong 0.07 13.1
Ubi 0.01 2.4
Mie Kering 0.40 54.2
Roti Manis 0.24 30.1
Protein Hewani Telur ayam 0.37 21.0
Daging ayam 0.01 0.9
Ikan teri 0.10 2.9
Ikan sarden kaleng 0.06 1.5
Ikan kakap 0.005 0.4
Ikan Mujair 0.004 0.1
Protein Nabati Tahu 0.01 1.9
Sayur-sayuran Kangkung 0.36 17.3
Bayam 0.31 15.0
Daun Singkong 0.54 40.1
Daun Ubi 0.15 9.7
Bunga pepaya 0.09 3.0
Sawi Hijau 0.50 35.4
Pucuk labu 0.11 5.5
Kacang Panjang 0.06 3.6
Terong 0.03 1.4
Buah Pepaya 0.15 27.5
Pisang Kepok 0.03 5.0
Pisang Ambon 0.01 3.0
Nangka 0.002 0.2
Jambu Air 0.002 0.6
Jambu Biji 0.01 4.1
Minuman Vita Jelly 0.38 61.1
Lanjutan Tabel 3.2.1. Pola Konsumsi Makan Responden
Teh gelas 0.02 6.6
Es kiko 0.66 72.3
Es Mr.cool 0.03 6.1
Susu Dancow 0.009 1.7
Kopi Hangat 0.09 18.5
Teh panas 0.47 84.0
Pada hasil tabel 1, perhitungan konsumsi harian diketahui berdasarkan hasil perkalian antara berat setiap porsi dengan frekuensi konsumsi, hasilnya lalu dibagi dengan jumlah hari untuk mengetahui berat makanan yang di konsumsi perhari. Untuk hasil frekuensi/hari didapatkan dengan frekuensi dibagi dengan jumlah hari. Data Frekuensi/hari dan berat/hari dari seluruh responden dihitung rata-rata untuk dijadikan hasil terakhir. Rata-rata konsumsi harian
sayur tertinggi pada hasil ini yaitu 40.1 gram dan frekuensi 0.54. sedangkan buah konsumsi harian tertinggi yaitu dengan berat 27.5 gram dan frekuensi 0.15.
Tabel 2. Status Gizi Responden
Variabel Frekuensi Presentase (%)
IMT/U
Gizi Kurang (thinnes) 0 0
Gizi Baik (normal) 38 90,5
Gizi Lebih (overweight) 4 9,5
Obesitas (obese) 0 0
Total 42 100
Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu kelas 4 dan 5 dengan jumlah secara keseluruhan adalah 42 siswa. Kelas 4 berjumlah 22 siswa (52,3%) dan kelas 5 berjumlah 20 siswa (47,6%). Berdasarkan jenis kelamin, perempuan berjumlah 22 siswa (52,3%) dan laki-laki berjumlah 20 siswa (47,6%). Kelas 4 berjumlah 22 siswa, dengan usia 9 tahun berjumlah 9 siswa dan 10 tahun berjumlah 13 siswa. Sedangkan kelas 5 berjumlah 20 siswa dengan usia 10 tahun berjumlah 10 siswa, 11 tahun berjumlah 7 siswa, dan 12 tahun berjumlah 3 siswa.
Responden lebih banyak tergolong dalam kelompok umur 10 tahun yaitu sebanyak 23 siswa.
Berdasarkan hasil tabel 2 status gizi responden menurut IMT/U, 4 siswa mengalami gizi lebih (overweight) dengan presentase 9,5% dan 38 siswa berstatus gizi baik (normal) dengan
presentase 9,5%. Siswa yang mengalami gizi lebih diantaranya yaitu 3 laki-laki dengan Z-score (+1,3, +1,4, +1,4) dan 1 perempuan (+1,6).
Pembahasan
Pada penelitian ini dapat dilihat hasil tabel 1, bahwa pola konsumsi makan buah dan sayur pada anak Sekolah Dasar Masehi Tanarong kelas 4 dan 5 di Desa Nggongi masih sangat rendah. Rata-rata konsumsi buah yang tertinggi pada hasil penelitian ini adalah buah pepaya dengan berat 27,5 gram/hari dan frekuensi 0,15 kali/hari. Jenis buah-buahan yang dikonsumsi anak dalam satu atau dua kali per minggu yaitu pepaya dan pisang, sedangkan nangka, jambu air, dan jambu biji satu kali per bulan. Begitu halnya dengan sayur, konsumsi sayur pada anak sekolah dasar juga masih sangat rendah. Rata-rata konsumsi sayur yang tertinggi pada hasil penelitian ini yaitu daun singkong dengan berat sekitar 40,1 gram/hari dengan frekuensi 0,54 kali/hari. Jenis sayuran yang masih dikonsumsi anak-anak pada penelitian ini adalah sayur daun singkong, sawi hijau, kangkung, bayam, daun ubi, pucuk labu, kacang panjang dan terong.
Konsumsi buah dan sayur pada anak Sekolah Dasar Tanarong kelas 4 dan 5 di Desa Nggongi masih belum sesuai dengan anjuran Pedoman Gizi Seimbang. Menurut anjuran Pedoman Gizi Seimbang7, anak usia sekolah dasar dianjurkan untuk mengkonsumsi buah dan sayuran sebanyak 300-400 gram yang terdiri dari 250 gram sayur dan 150 gram buah. Sedangkan hasil penelitian menunjukkan konsumsi buah dan sayur sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh ketersediaan bahan pangan seperti buah dan sayur yang masih kurang di Desa Nggongi. Ditandai dengan pasar hanya menjual 2-3 macam sayuran dan buah 1-2 macam serta pasar juga hanya beroperasi satu kali seminggu yaitu pada hari Sabtu. Buah dan sayur tidak hanya diakses dari pasar saja tetapi bisa juga didapatkan dari kebun sendiri. Memang ada bebearapa masyarakat yang menanam sendiri buah, akan tetapi buah yang ditanam yaitu kebanyakan buah musiman. Begitu juga halnya dengan sayur, tidak semua masyarakat di Desa tersebut menanam sayur sendiri. Selain itu, masyarakat Desa Nggongi juga bisa mendapatkan sayur dari penjual keliling. Namun penjual keliling juga tidak setiap hari menjual sayur dikarenakan tergantung musim panen sayurnya.
Konsumsi buah dan sayur diperlukan tubuh sebagai sumber vitamin, mineral dan serat dalam mencapai pola makan sehat sesuai anjuran pedoman gizi seimbang untuk kesehatan yang optimal.9 Vitamin dan mineral yang terdapat dalam buah dan sayur mempunyai fungsi sebagai antioksidan sehingga dapat mengurangi kejadian penyakit tidak menular terkait gizi, sebagai dampak dari kelebihan atau kekurangan gizi.10 Serat yang terkandung pada buah dan sayur juga akan memberikan rasa kenyang dalam waktu cukup lama yang dapat membantu mencegah untuk mengkonsumsi makanan secara berlebihan sehingga akan berpengaruh pada status gizi.11
Berdasarkan tabel 2, hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi anak Sekolah Dasar Tanarong kelas 4 dan 5 di Desa Nggongi lebih banyak berstatus gizi baik (normal) yaitu 38 siswa
dengan presentase 90,5% . Pada penelitian ini, status gizi normal menjadi nilai tertinggi pada anak meskipun konsumsi buah dan sayur sangat rendah yaitu komsumsi perhari sayur tertinggi yaitu daun singkong 39,6 gram dan frekuensi/hari 0,54. Konsumsi buah perhari yang tertinggi yaitu dengan berat 28,4 gram dan frekuensi 0,1. Begitu juga halnya dengan 4 siswa yang dikategorikan gizi lebih (overweight), konsumsi buah dan sayur sangat rendah yaitu konsumsi perhari sayur tertinggi yaitu 3,5 gram dan frekuensi 0,5 serta konsumsi buah perhari 0,8 gram dengan frekuensi 0,1. Meskipun konsumsi buah dan sayur sangat rendah, namun konsumsi zat makro karbohidrat seperti nasi masih tergolong normal yaitu berat rata-rata harian 347,6 gram dengan frekuensi 2,90 kali/hari. Hal ini sesuai anjuran Pedoman Gizi Seimbang bahwa anak usia sekolah dasar dianjurkan konsumsi nasi 3-4 kali sehari dengan 1 porsi 100 gram.9 Status gizi normal dan kurang maupun lebih diperoleh bukan hanya dari konsumsi makanan yang mengandung zat gizi
mikronutrien seperti vitamin dan mineral, tetapi juga dari asupan makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak dikarenakan zat gizi yang dibutuhkan tubuh adalah seluruh zat gizi yang terdiri dari zat gizi makro serta zat gizi mikro.12 Hal ini sejalan dengan penelitian lain13, bahwa status gizi masih tergolong normal dikarenakan anak mengkonsumsi pangan yang tinggi kalori lainnya meskipun kurang mengkonsumsi buah dan sayur.
Kesimpulan
Rerata konsumsi buah dan sayur pada anak SDM Tanarong kelas 4 dan 5 di Desa Nggongi masih sangat rendah bila dibandingkan dengan anjuran kecukupan konsumsi buah dan sayur dalam konteks gizi seimbang (Pedoman Gizi Seimbang). Rata-rata konsumsi buah perhari yang tertinggi adalah buah pepaya dengan berat 27,5 gram/hari dan frekuensi 0,15 kali/hari serta rata-rata konsumsi sayur perhari yang tertinggi adalah daun singkong dengan berat sekitar 40,1 gram/hari danfrekuensi 0,54 kali/hari. Demikian juga bila dilihat dari berat atau porsi serta frekensi konsumsi, hampir seluruh 42 anak kurang mengkonsumsi buah dan sayur. Status gizi anak Sekolah Dasar Masehi Tanarong kelas 4 dan 5 sebagian besar berstatus gizi baik yaitu sebanyak 38 anak (90,5%) dan 4 anak overweight (9,5%).
Daftar Pustaka
1 Nuryanto, Pramono, A., Puruhita, N., Muis, S.F.. Pengaruh pendidikan gizi terhadap pengetahuan dan sikap tentang gizi anak sekolah dasar. Jurnal Gizi Indonesia, UNDIP dan PERSAGI, (2014) 3(1), 32-36.
2 Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian RI tahun (2018).
3 WHO. Fruit and Vegetable Intake in a Sample of 11-yer-old Children in 9 Europian Countries:
The Pro Children Cross-Sectional Survey. Ann Nutr Metab (2003).
4 Lestari AD. Faktor-faktor yang Behubungan dengan Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur pada Siswa SMP Negei 226 Jakarta Selatan. [Skripsi]. Jakarta: Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (2012).
5 Suryani N, Anwar R, Wardani HK. Hubungan Status Ekonomi dengan Konsumsi Buah, Sayur dan Pengetahuan Terhadap Status Gizi pada Siswa SMP di Perkotaan dan Pedesaan di Kotamadya Banjar Baru Tahun 2014. Jurnal Kesehatan Indonesia. (2015); 5(3):6-15 6 Soetjiningsih. Buku Ajar: Tumbuh Kembang Anak dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seto
(2014).
7 Depkes RI. Pedoman Umum Gizi Seimbang Tahun 2014. Depkes RI.
8 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013.
Lap Nas 2013. 2013;1–384.
9 Kementerian Kesehatan RI, Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI;
(2014).
10 Joanne L, Slavin and Beate Lloyd,. Health Benefits of Fruits and Vegetables. American Society for Nutrition. Adv. Nutr. (2012) 3: 506– 516.
11 Hermina & Prihatini, 2016. Gambaran Konsumsi Sayur dan Buah Penduduk Indonesia dalam Konteks Gizi Seimbang: Analisis Lanjut Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014. Buletin Penelitian Kesehatan, 44, 207.
12 Supariasa, IDN., Fajar, I., & Bakri, B. Penilaian Status Gizi. jakarta: Buku Kedokteran EGC (2012).
13 Fitriyah, R. Hubungan Asupan Dan Pola Konsumsi Vitamin, Protein Dan Zinc Dengan Kejadian ISPA dan Status Gizi Pada Anak. Media Gizi Indonesia. (2013) 9 (1). 60-65.