KONSUMSI BUAH DAN SAYUR PADA ANAK SEKOLAH
DASAR MENURUT STATUS SOSIAL EKONOMI BERBEDA
DI KOTA BOGOR
UTHU DWIFITRI
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Konsumsi Buah dan Sayur pada Anak Sekolah Dasar menurut Status Sosial Ekonomi Berbeda di Kota Bogor adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Februari 2014
Uthu Dwifitri
ABSTRAK
UTHU DWIFITRI. Konsumsi Buah dan Sayur pada Anak Sekolah Dasar menurut Status Sosial Ekonomi Berbeda di Kota Bogor. Dibimbing oleh SITI MADANIJAH dan YAYAT HERYATNO.
Penelitian ini bertujuan mengkaji konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah dasar menurut status sosial ekonomi berbeda di Kota Bogor. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Subjek diambil secara random sampling yang merupakan siswa-siswi yang terdaftar di 20 sekolah dasar (SD) di Kota Bogor. Tidak terdapat perbedaan antara frekuensi konsumsi buah dan sayur siswa di kedua kelompok sosial ekonomi keluarga. Kontribusi vitamin A dan C dari buah dan sayur terhadap konsumsi dan kecukupan siswa masih rendah. Tidak terdapat hubungan antara tingkat sosial ekonomi keluarga dengan frekuensi konsumsi buah dan sayur, namun terdapat hubungan antara besar keluarga dengan frekuensi konsumsi sayur, pendidikan ibu dengan kontribusi vitamin C sayur, dan uang saku dengan kontribusi vitamin C sayur terhadap konsumsi siswa. Tidak terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi buah dan sayur dengan status gizi siswa.
Kata kunci: anak sekolah dasar, konsumsi buah, konsumsi sayur, sosial ekonomi, status gizi
ABSTRACT
UTHU DWIFITRI. Fruit and Vegetable Consumption on Elementary School Children According to Different Socio-Economic Status in Bogor City. Supervised by SITI MADANIJAH dan YAYAT HERYATNO.
This research aim to examine the consumption of fruit and vegetable on elementary school children according to different socio-economic status in Bogor City. This research used the design of cross sectional study. Subjects taken in random who represents students who are registered in 20 elementary schools in Bogor City. There were no difference between the frequency of fruit and vegetable consumption of students in both groups of social economy. The contribution of vitamins A and C from fruit and vegetable consumption and the adequacy of the students were still low. There were no correlation between socio-economic families with the frequency of fruit and vegetable consumption, but there were a correlation between family size with vegetable consumption frequency, mother's education with the contribution of vitamin C in vegetable, and allowance with the contribution of vitamin C from vegetable consumption of students. There were no correlation between fruit and vegetable consumption frequency with the nutritional status of students.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi
dari Program Studi Ilmu Gizi pada Departemen Gizi Masyarakat
KONSUMSI BUAH DAN SAYUR PADA ANAK SEKOLAH
DASAR MENURUT STATUS SOSIAL EKONOMI BERBEDA
DI KOTA BOGOR
UTHU DWIFITRI
DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Konsumsi Buah dan Sayur pada Anak Sekolah Dasar menurut Status Sosial Ekonomi Berbeda di Kota Bogor
Nama : Uthu Dwifitri NIM : I14090013
Disetujui oleh
Prof Dr Ir Siti Madanijah, MS Pembimbing I
Yayat Heryatno, SP, MPS Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr Rimbawan Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul “Konsumsi Buah dan Sayur pada Anak Sekolah Dasar menurut Status Sosial Ekonomi Berbeda di Kota Bogor”. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ayahanda (Risman Hapri, SST), ibunda (Munarti), kakak (Ahmad Hafiz, Amd Kep) dan adik (Ulfa Maharani) serta keluarga besar yang selalu memberikan kasih sayang dan dukungan selama pengerjaan skripsi ini. 2. Prof Dr Ir Siti Madanijah, MS dan Yayat Heryatno, SP, MPS selaku dosen
pembimbing yang telah memberikan waktu dalam pembimbingan penulisan skripsi ini.
3. Prof Dr Ir Ali Khomsan, MS selaku dosen pemandu seminar dan penguji atas masukan dan saran yang diberikan.
4. Seluruh staf pendidik dan kependidikan Departemen Gizi Masyarakat atas bimbingan, arahan dan bantuannya selama menjalani perkuliahan.
5. Teman-teman penelitian (Dian, Ibet, Irul, Kak Ai, dan enumerator), teman-teman seperjuangan (Fithri, Rini, Sonia, Dira, Diah, Ruroh), teman-teman-teman-teman pembahas seminar (Ami, Isna, Susan, Umami), teman-teman WJers (Inga Tipa, Fefi, Mbak Kanjeng, Mbak Kudil, Mbak Pipit, Pungky, Fera, Deska, Mimi, Risna, Ica, Nova, Rey, Dila) dan teman-teman Gizi Masyarakat dan IMBR yang telah memberikan saran, semangat dan dukungan.
6. Serta semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Februari 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 1
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
KERANGKA PEMIKIRAN 2
METODE 4
Desain, Waktu dan Tempat 4
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh 4
Jenis dan Cara Pengumpulan Data 5
Pengolahan dan Analisis Data 5
Definisi Operasional 8
HASIL DAN PEMBAHASAN 9
Profil Kota Bogor 9
Karakteristik Siswa 9
Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga 10
Frekuensi Konsumsi Buah dan Sayur 13
Kontribusi Vitamin A dan C dari Buah dan Sayur 17
Status Gizi 19
Hubungan Sosial Ekonomi Keluarga dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur 21 Hubungan Frekuensi Konsumsi Buah dan Sayur dengan Status Gizi Siswa 22
SIMPULAN DAN SARAN 23
Simpulan 23
Saran 23
DAFTAR PUSTAKA 24
DAFTAR TABEL
1 Pengategorian variabel penelitian 6
2 Sebaran siswa berdasarkan jenis kelamin siswa dan akreditasi sekolah 9 3 Statistik deskriptif sebaran umur siswa berdasarkan jenis kelamin 10 4 Statistik deskriptif sebaran siswa berdasarkan besar keluarga dan
akreditasi sekolah 10
5 Sebaran siswa berdasarkan tingkat pendidikan orangtua dan
akreditasi sekolah 11
6 Sebaran siswa berdasarkan pekerjaan orangtua dan akreditasi sekolah 12 7 Sebaran siswa berdasarkan tingkat pendapatan keluarga dan
akreditasi sekolah 12
8 Statistik deskriptif sebaran siswa berdasarkan uang saku dan
akreditasi sekolah 13
9 Statistik deskriptif sebaran siswa menurut jenis buah yang
dikonsumsi berdasarkan akreditasi sekolah 14
10 Sebaran siswa menurut frekuensi konsumsi buah berdasarkan
akreditasi sekolah 15
11 Statistik deskriptif sebaran siswa menurut jenis sayur yang
dikonsumsi berdasarkan akreditasi sekolah 15
12 Sebaran siswa menurut frekuensi konsumsi sayur berdasarkan
akreditasi sekolah 16
13 Kontribusi buah dan sayur terhadap total konsumsi vitamin A dan C
berdasarkan akreditasi sekolah 18
14 Kontribusi buah dan sayur terhadap kecukupan vitamin A dan C
berdasarkan akreditasi sekolah 19
15 Statistik deskriptif status gizi (TB/U) siswa berdasarkan akreditasi
sekolah 20
16 Statistik deskriptif status gizi (IMT/U) siswa berdasarkan akreditasi
sekolah 20
17 Hasil uji Spearman variabel yang berhubungan 21
DAFTAR LAMPIRAN
1 Hasil uji Spearman variabel sosial ekonomi keluarga dengan frekuensi konsumsi dan kontribusi vitami A dan C buah dan sayur 21 2 Hasil uji Spearman variabel frekuensi konsumsi buah dan sayur
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia adalah negara tropis yang kaya akan buah dan sayur. Buah dan sayur merupakan bahan makanan yang banyak mengandung zat gizi, tetapi jarang dikonsumsi oleh mayoritas penduduk Indonesia khususnya anak-anak. Apabila terjadi kekurangan dalam mengonsumsi buah dan sayur dapat menyebabkan tubuh kekurangan zat gizi seperti vitamin, mineral, serat, dan tidak seimbangnya asam basa tubuh, sehingga dapat mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit (Farida 2010).
Secara kuantitatif konsumsi buah dan sayur di Indonesia menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun, namun tingkat konsumsinya masih lebih rendah dibandingkan dengan anjuran pola pangan harapan (PPH). Pada tahun 2009 konsumsi buah dan sayur masing-masing sebesar 22.8 kg dan 49.1 kg/kapita/tahun. Jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan rekomendasi
Food Agriculture Organization (FAO) yaitu masing-masing 75 kg/kapita/tahun (Ariani 2010). Data Riskesdas (2007) menunjukkan bahwa secara keseluruhan penduduk umur di atas 10 tahun yang kurang mengonsumsi buah dan sayur masih tinggi yaitu sebesar 93.6%. Sedangkan data penduduk Jawa Barat umur 10 tahun ke atas yang kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 96.4%. Hal ini terkait pergeseran pola makan pada anak-anak, dimana cenderung mengonsumsi makanan tinggi energi dan rendah serat yang berdampak pada kejadian obesitas dan penyakit degeneratif. Status gizi merupakan indikator kualitas sumberdaya manusia, sehingga diperlukan upaya-upaya perbaikan status gizi. Penerapan pola makan yang sehat dan terpenuhinya kebutuhan gizi merupakan strategi penting dalam usaha mencegah permasalahan gizi sejak dini.
Penelitian mengenai konsumsi pangan anak sekolah telah banyak dilakukan, namun mengenai konsumsi buah dan sayur menurut status sosial ekonomi berbeda di Kota Bogor belum pernah dilakukan secara khusus. Dari uraian yang telah disampaikan di atas, dirasakan pentingnya mengkaji pola konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah dasar (SD) menurut status sosial ekonomi berbeda di Kota Bogor.
Perumusan Masalah
2
Tujuan Penelitian Tujuan umum
Tujuan umum penelitian ini adalah mengkaji pola konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah dasar (SD) menurut status sosial ekonomi berbeda yaitu SD akreditasi A (mewakili status sosial ekonomi tinggi) dan SD akreditasi B (mewakili status sosial ekonomi rendah) di Kota Bogor.
Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi karakteristik individu dan sosial ekonomi keluarga siswa akreditasi A dan B
2. Menganalisis frekuensi konsumsi buah dan sayur siswa akreditasi A dan B 3. Menganalisis kontribusi buah dan sayur terhadap total konsumsi dan
kecukupan vitamin A dan vitamin C siswa akreditasi A dan B
4. Menganalisis hubungan sosial ekonomi keluarga dengan pola konsumsi buah dan sayur siswa akreditasi A dan B
5. Menganalisis hubungan frekuensi konsumsi buah dan sayur dengan status gizi siswa akreditasi A dan B.
Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat dan orangtua gambaran konsumsi serta pentingnya konsumsi buah dan sayur pada anak. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi kepada Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan dalam mengambil kebijakan dan sebagai masukan bagi pembuatan program gizi.
KERANGKA PEMIKIRAN
Usia anak-anak merupakan golongan yang paling rawan terhadap gizi di negara berkembang. Anak-anak perlu mendapat perhatian khusus karena kualitas sumber daya manusia kedepannya sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda masa kini, sehingga kecukupan zat gizi yang seimbang menjadi penting dalam terwujudnya generasi yang gemilang di masa yang akan datang.
Kecukupan gizi memegang peranan penting selama usia sekolah untuk menjamin anak-anak tersebut mencapai potensi pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan yang optimal. Pada usia ini, kebiasaan makan yang terbentuk, jenis makanan yang disukai dan tidak disukai, merupakan dasar bagi pola konsumsi makanan dan asupan gizi anak usia selanjutnya. Selain keluarga, pemilihan makanan merekapun sangat dipengaruhi oleh teman sebaya dan orang-orang lain.
3 memiliki kecenderungan mengonsumsi makanan fast food, junk food dan soft drink yang tinggi energi, tinggi garam, tinggi lemak, tinggi karbohidrat sederhana dan rendah serat.
Buah dan sayur sangat penting peranannya dalam kesehatan dan sekaligus pencapaian kualitas sumberdaya manusia. Salah satu sumber bahan pangan yang baik untuk memperoleh zat gizi adalah buah dan sayur. Berdasarkan data Riskesdas (2007), di Provinsi Jawa Barat hampir semua (96.4%) penduduk diatas 10 tahun ke atas kurang makan buah dan sayur dan terdapat merata di semua daerah. Padahal, sayur dan buah memiliki manfaat yang dahsyat karena merupakan sumber vitamin dan mineral serta komponen bioaktif yang disebut antioksidan. Kandungan serat yang tinggi pada buah dan sayur mampu mempermudah proses pencernaan. Bahkan, berdasarkan WHO dan FAO, kekurangan asupan buah dan sayur dapat menyebabkan risiko kematian akibat kanker saluran cerna sebesar 14%, risiko kematian akibat penyakit jantung koroner sebesar 11%, dan kematian akibat stroke sebesar 9% dan meningkatkan risiko kejadian obesitas. Pentingnya konsumsi buah dan sayur minimal 5 porsi buah dan sayur dalam sehari sangat dianjurkan. Perlunya perhatian khusus terhadap konsumsi buah dan sayur terutama pada anak-anak.
Keterangan:
= Variabel yang diteliti = Variabel yang tidak diteliti = Hubungan yang diteliti = Hubungan yang tidak diteliti
4
METODE
Desain, Waktu dan Tempat
Penelitian ini menggunakan data dasar penelitian yang berjudul “Pola Konsumsi Pangan Sumber Serat dan Formulasi Produk Intervensi pada Anak Usia Sekolah” yang dilakukan oleh Madanijah et al. (2013) kerjasama Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di 20 SD terpilih di Kota Bogor. Pengambilan data dilaksanakan selama bulan Agustus hingga September 2013.
Jumlah dan Cara Penarikan Contoh
Populasi dalam penelitian dasar adalah anak laki-laki dan perempuan usia 9-13 tahun (kelas 5 dan 6 SD) yang tinggal di Kota Bogor, sedangkan populasi yang dilakukan penelitian adalah anak-anak yang terdaftar di 20 SD akreditasi A dan B yang tersebar di 6 kecamatan di Kota Bogor yang dipilih secara random sampling. Jumlah SD di setiap kecamatan ditentukan proporsional berdasarkan jumlah penduduk di kecamatan tersebut terhadap jumlah penduduk Kota Bogor, menurut data statistik Kota Bogor 2008. Jumlah SD di setiap kecamatan adalah sebagai berikut:
Kecamatan Bogor selatan : 4 SD Kecamatan Bogor timur : 2 SD Kecamatanan Bogor utara : 3 SD Kecamatan Bogor tengah : 3 SD Kecamatan Bogor barat : 4 SD Kecamatan Bogor tanah sareal : 4 SD
Jumlah responden penelitian dasar tersebut ditentukan berdasarkan angka simpangan baku asupan serat pada anak sekolah menurut data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) 2003-2006, yakni 12.0 g/hari, dengan ketepatan absolut sebesar 1.5 g/hari. Berikut adalah rumus perhitungan pengambilan contoh penelitian dasar:
n = ( ) dengan Z = 1,96 S = 12 d = 1,5
5 Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder meliputi karakteristik siswa, karakteristik sosial ekonomi keluarga, konsumsi buah dan sayur (food recall dan food frequency) serta status gizi siswa. Selain itu, terdapat pula data sekolah dan profil wilayah Kota Bogor. Data tersebut diperoleh melalui wawancara langsung pada siswa dan pengisian kuesioner sosial ekonomi keluarga oleh orangtua siswa meliputi:
a. Data karakteristik siswa (jenis kelamin dan umur) menggunakan kuesioner yang diisi oleh siswa dan karakteristik sosial ekonomi keluarga (pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, pendapatan orangtua, suku, besar keluarga, dan uang saku siswa) menggunakan kuesioner yang diisi oleh orangtua.
b. Data konsumsi buah dan sayur anak diperoleh melalui metode food recall
yaitu pada hari libur dan hari sekolah. Pemilihan kedua hari tersebut dilakukan untuk mencerminkan rata-rata konsumsi buah dan sayur. Data konsumsi buah dan sayur yang dikumpulkan adalah konsumsi buah dan sayur dalam bentuk mentah atau olahannya. (Kuesioner yang diisi oleh siswa melalui wawancara).
c. Data Food Frequency Questionnaires (FFQ) diperoleh melalui pengukuran frekuensi konsumsi buah dan sayur dalam seminggu terakhir. (Kuesioner yang diisi oleh siswa melalui wawancara).
d. Data status gizi dikumpulkan dengan pemeriksaan antropometri yang meliputi berat badan dan tinggi badan. Data antropometri untuk mengukur status gizi anak meliputi berat badan dan tinggi badan diperoleh melalui pengukuran secara langsung. Alat yang digunakan untuk mengukur berat badan yaitu timbangan injak digital dengan kapasitas 150 kg dan dengan ketelitian 0.1 kg. Tinggi badan diukur dengan menggunakan alat
microtoise berkapasitas 200 cm dengan ketelitian 0.1 cm.
Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu coding, entry, cleaning dan analisis data. Data dianalisis secara statistik deskriptif dan statistik inferensia menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan Statistical Program for Social Science(SPSS for window versi 16.0).
6
Analisis statistik yang dilakukan adalah analisis deskriptif yang meliputi karakteristik siswa dan sosial ekonomi keluarga, konsumsi pangan meliputi frekuensi konsumsi dan jenis buah dan sayur dan status gizi; analisis T-test Mann-Whitney digunakan untuk menguji beda antara dua kelompok yaitu sekolah akreditasi A dan akreditasi B. Uji korelasi Spearman dilakukan untuk menguji hubungan antara sosial ekonomi keluarga dengan frekuensi konsumsi buah dan sayur dan kontribusi vitamin A dan C buah dan sayur; dan menguji hubungan frekuensi konsumsi buah dan sayur dengan status gizi. Kategori variabel penelitian dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1 Pengategorian variabel penelitian
No Variabel Pengategorian Data Referensi
2. Jenis kelamin 1 = Laki-laki
2 = Perempuan
B. Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga
1. Suku Sunda
Jawa
Lainnya
2. Besar keluarga kecil (≤ 4 orang)
sedang (5-7 orang
besar (≥ 8 orang)
Hurlock (1999)
3. Pendidikan orangtua Tidak sekolah
7
No Variabel Pengategorian Data Referensi
5. Pendapatan keluarga < 1 juta/bulan
1-1.9 juta/bulan
2-3.9 juta/bulan
4-6 juta/bulan
> 6 juta/bulan 6. Uang saku siswa Rendah (1000-4000)
Sedang (4000-7000)
8
Definisi Operasional
Buah dan sayur adalah bagian dari tanaman yang dapat berupa daun, bunga, buah, dan akar yang dapat dimakan sebagai pelengkap makan nasi atau dimakan secara terpisah.
Konsumsi buah dan sayur adalah konsumsi buah dan sayur dalam hal jenis, jumlah dan frekuensi makan.
Jumlah konsumsi buah dan sayur adalah jumlah buah dan sayur yang dikonsumsi baik dalam bentuk mentah atau olahannya maupun dalam bentuk padat atau cair.
Frekuensi konsumsi buah dan sayur adalah derajat keseringan mengonsumsi buah dan sayur dalam satu minggu terakhir yang dinyatakan dalam kali/minggu.
Anak sekolah dasar adalah anak yang menjalani pendidikan sekolah dasar yang terdaftar di Dinas Pendidikan Kota Bogor yang berusia 9 sampai 13 tahun. Berat badan adalah massa tubuh dalam satuan kilogram yang diukur
menggunakan timbangan injak dengan ketelitian 0.1 kg.
Tinggi badan adalah pengukuran tinggi badan subjek penelitian dalam posisi berdiri tegak sempurna menempel ke dinding dan menghadap ke depan diukur menggunakan microtoise denganketelitian 0.1 cm.
Umur adalah umur siswa pada saat penelitian dilakukan yang dinyatakan dalam tahun.
Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh siswa berdasarkan indeks TB/U dan IMT/U.
Karakteristik siswa adalah data yang meliputi jenis kelamin dan umur siswa. Karakteristik sosial ekonomi keluarga adalah data yang meliputi suku, besar
keluarga, pendidikan dan pekerjaan orangtua, pendapatan keluarga dan uang saku siswa.
Suku adalah suku asal orangtua siswa (ayah dan ibu).
Besar keluarga adalah jumlah keluarga inti siswa, keluarga kecil ≤ 4 orang, keluarga sedang 5-7 orang, dan keluarga besar ≥ 8 orang.
Pendidikan orangtua adalah jenjang pendidikan tertinggi yang pernah ditempuh oleh orangtua responden yang dikategorikan menjadi tidak sekolah, SD/sederajat, SMP/sederajat, SMA/sederajat, dan Perguruan Tinggi.
Pekerjaan orangtua adalah sumber mata pencaharian orangtua untuk memperoleh penghasilan yang digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.
Pendapatan keluarga adalah besarnya pendapatan atau penghasilan keluarga yang diperoleh dalam sebulan yang terdiri dari penghasilan ayah maupun ibu (bila bekerja) yang digunakan untuk memenuhi semua kebutuhan anggota keluarga.
9
HASIL DAN PEMBAHASAN
Profil Kota Bogor
Bogor merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Barat. Kota Bogor terletak diantara 106 derajat 43’30’’BT 106 derajat 51’00’’BT dan 30’30’’LS – 6 derajat 41’00’’LS serta mempunyai ketinggian rata-rata minimal 190 meter, maksimal 350 meter dengan jarak dari ibukota kurang lebih 60 kilometer, dengan luas wilayah 11.850 ha, merupakan daerah perbukitan bergelombang dengan ketinggian yang bervariasi antara 0 sampai dengan >360 m diatas permukaan laut dengan kemiringan lereng berkisar 0-2% (datar) seluas 1.109.89 ha, 2-15% (landai) seluas 8.091.27 ha, 15-25% (agak curam) seluas 1.109.89 ha, 25-40% (curam) seluas 764.96 ha dan >40% (sangat curam) seluas 119.94 ha.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 tahun 1950 Kota Bogor ditetapkan menjadi Kota Besar dan Kota Praja yang terbagi dalam 2 wilayah Kecamatan 22 kelurahan, 5 kecamatan dan 1 perwakilan kecamatan. Terakhir berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1992, perwakilan kecamatan Tanah Sareal ditingkatkan statusnya menjadi kecamatan, kini terdapat 6 kecamatan dan 68 kelurahan. Lokasi Kota Bogor yang dekat dengan ibukota negara dan kedudukannya diantara jalur tujuan Puncak-Cianjur merupakan potensi yang strategis untuk perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Adanya Kebun Raya yang di dalamnya terdapat Istana Bogor merupakan tujuan wisata yang menarik.
Mayoritas penduduk Kota Bogor sebagian besar bermata pencaharian sebagai karyawan (PNS/BUMN/SWASTA) dan wiraswasta/pedagang. Mereka berdagang dengan memanfaatkan hasil pertanian dan perkebunan yang tersebar di daerah pinggiran Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Sebagian kecil lainnya bekerja di bidang pertukangan dan pertanian.
Karakteristik Siswa Umur dan Jenis Kelamin
Anak sekolah dasar yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa laki-laki dan perempuan dengan jumlah masing-masing 263 siswa laki-laki (49.9%) dan 264 siswa perempuan (50.1%). Pada SD akreditasi A memiliki persentase laki-laki lebih banyak yaitu 50.2%; sedangkan SD akreditasi B, siswa perempuan relatif lebih banyak yaitu 50.4% perempuan.
Tabel 2 Sebaran siswa berdasarkan jenis kelamin siswa dan akreditasi sekolah Variabel Akreditasi A Akreditasi B Total
n % n % n %
Jenis Kelamin
Laki-laki 147 50,2 116 49,6 263 49,9 Perempuan 146 49,8 118 50,4 264 50,1
10
Sebaran usia siswa adalah berkisar antara di bawah 9 tahun sampai lebih dari 13 tahun, dan sebagian besar siswa berumur 11 tahun yaitu 49% di SD akreditasi A dan 50% di SD akreditasi B. Median umur siswa adalah 11(9;13) tahun.
Tabel 3 Statistik deskriptif sebaran umur siswa berdasarkan jenis kelamin Umur (tahun) Laki-laki Perempuan Total
n % n % n %
< 10 tahun 4 1.5 6 2.3 10 1.9 10 tahun 78 29.7 95 36.0 173 32.8 11 tahun 129 49.0 132 50.0 261 49.5 12 tahun 44 16.7 29 11.0 73 13.9
≥ 13 tahun 8 3.0 2 0.8 10 1.9
Total 263 100 264 100 527 100
Median 11 11 11
Minimum 9 9 9
Maksimum 13 13 13
Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga Besar keluarga
Besar keluarga adalah banyaknya anggota rumah tangga yang bertempat tinggal di rumah tangga tersebut (Depkes 2008). Median besar keluarga siswa SD akreditasi A dan B adalah sama yaitu 5(2;12) orang. Sebagian besar (lebih dari 95%) keluarga siswa merupakan keluarga kecil dan sedang (besar keluarga 2 sampai 7 orang); hanya kurang dari 5% yang termasuk keluarga besar (besar keluarga 8 orang atau lebih). Tidak terdapat perbedaan antara besar keluarga siswa SD akreditasi A dan B (p=0.730).
Tabel 4 Statistik deskriptif sebaran siswa berdasarkan besar keluarga dan akreditasi sekolah
Besar Keluarga Akreditasi A Akreditasi B Total Uji Statistik
n % n % n % x2 p
Kecil 133 45.4 107 45.7 240 45.5 Sedang 150 51.2 111 47.4 261 49.5 Besar 10 3.4 16 6.8 26 4.9
Total 293 100 234 100 527 100 0.345 0.730
Median 5 5 5
Minimum 2 2 2
Maximum 2 12 12
Pendidikan Orang tua
11 akreditasi A dan B adalah SMA/sederajat, kemudian diikuti perguruan tinggi pada sekolah akreditasi A, dan SD dan SMP pada sekolah akreditasi B. Terdapat perbedaan antara pendidikan ayah siswa di SD akreditasi A dan B (p=0.000). Sebagian besar ibu siswa SD akreditasi A berpendidikan SMA (42%) dan diikuti Perguruan Tinggi (26.3%); sedangkan di SD akreditasi B, ibu siswa umumnya berpendidikan SD, SMP dan SMA. Terdapat perbedaan nyata antara pendidikan ibu siswa di SD akreditasi A dan B (p=0.000).
Tabel 5 Sebaran siswa berdasarkan tingkat pendidikan orangtua dan akreditasi sekolah
Tingkat Pendidikan Akreditasi A Akreditasi B Total Uji Statistik* n % n % n % x2 p Ayah
Tidak sekolah 4 1.4 8 3.4 12 2.3 SD/Sederajat 39 13.3 53 22.6 92 17.5 SMP/Sederajat 28 9.6 56 23.9 84 15.9 SMA/Sederajat 125 42.7 101 43.2 26 42.9 Perguruan tinggi 97 33.1 16 6.8 113 21.4
Total 293 100 234 100 527 100 -7.537 0.000 Ibu
Tidak sekolah 0 0.0 4 1.7 4 0.8 SD/Sederajat 52 17.7 83 35.5 135 25.6 SMP/Sederajat 41 14.0 70 29.9 111 21.1 SMA/Sederajat 123 42.0 64 27.4 187 35.5 Perguruan tinggi 77 26.3 13 5.6 90 17.1
Total 293 100 234 100 527 100 -8.296 0.000 Keterangan: *) Sangat signifikan (< 0.01)
Pekerjaan Orangtua
Pekerjaan adalah jenis kegiatan yang menggunakan waktu terbanyak seseorang atau yang memberikan penghasilan terbesar (Depkes 2008). Jenis pekerjaan orangtua merupakan salah satu indikator dari besarnya pendapatan keluarga. Pekerjaan berhubungan langsung dengan tingkat pendapatan dan dapat berpengaruh terhadap besar-kecilnya perhatian seseorang terhadap konsumsi makanan.
12
Tabel 6 Sebaran siswa berdasarkan pekerjaan orangtua dan akreditasi sekolah Jenis Pekerjaan Akreditasi A Akreditasi B Total Uji Statistik*
n % n % n % x2 p Ayah
PNS/POLRI/TNI 41 14.0 10 4.3 51 9.7 Swasta 118 40.3 86 36.8 204 38.7 Wiraswasta 86 29.4 69 29.5 155 29.4 Petani/buruh tani 9 3.1 20 8.5 29 5.5 Lainnya 39 13.3 49 20.9 88 16.7
Total 293 100 234 100 527 100 -3.472 0.001 Ibu
PNS/POLRI/TNI 14 4.8 2 0.9 16 3.0 Swasta 24 8.2 9 3.8 33 6.3 Petani/buruh tani 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Wiraswasta 20 6.8 12 5.1 32 6.1 Ibu rumah tangga 226 77.1 199 85.0 425 80.6 Lainnya 9 3.1 12 5.1 21 4.0
Total 293 100 234 100 527 100 -3.370 0.001 Keterangan: *) Sangat signifikan (< 0.01)
Pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga merupakan jumlah penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan anggota keluarga dalam satu bulan yang dinilai dalam bentuk uang. Menurut Soekirman (2000), konsumsi makanan baik jumlah maupun mutunya dipengaruhi oleh faktor pendapatan keluarga. Tingginya tingkat pendapatan cenderung diikuti dengan tingginya jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi. Pendapatan keluarga siswa SD akreditasi A lebih baik, siswa yang keluarga berpendapatan diatas Rp 6 juta/bulan banyak terdapat pada siswa SD akreditasi A, sedangkan sebanyak 55.1% keluarga siswa akreditasi B berpendapatan <1 juta/bulan. Terdapat perbedaan total pendapatan keluarga siswa SD akreditasi A dan B (p=0.000).
Tabel 7 Sebaran siswa berdasarkan tingkat pendapatan keluarga dan akreditasi sekolah
Tingkat Pendapatan (Rp/bulan)
Akreditasi A Akreditasi B Total Uji Statistik*
n % n % n % x2 P
< 1 juta 82 28.0 129 55.1 211 40.0 1-1.9 juta 67 22.9 69 29.5 136 25.8 2-3.9 juta 55 18.8 31 13.2 86 16.3 4-6 juta 43 14.7 5 2.1 48 9.1 > 6 juta 46 15.7 0 0.0 46 8.7
13 Uang saku
Seseorang akan menggunakan uang yang diperolehnya untuk melakukan pembelian terhadap suatu produk barang atau jasa tertentu. Begitu pula halnya dengan anak usia sekolah yang biasanya diberi uang saku oleh orangtuanya baik dari keluarga berpendapatan tinggi maupun keluarga berpendapatan rendah.
Uang saku yang dimiliki siswa berkisar antara Rp 0 sampai Rp 30 000/orang/hari, yang biasa digunakan untuk membeli makanan jajanan. Median uang saku siswa sekolah akreditasi A sebesar Rp 5 000(0-30 000) dan sekolah akreditasi B sebesar Rp 5 000(0-15 000). Sebagian besar siswa baik akreditasi A dan B memiliki uang saku kategori sedang. Untuk kategori rendah banyak terdapat pada siswa SD akreditasi B (42.3%) dan kategori sangat tinggi banyak terdapat pada siswa SD akreditasi A (26.3%). Terdapat perbedaan yang signifikan antara besar uang saku siswa di sekolah berakreditasi A dan B (p=0.000).
Tabel 8 Statistik deskriptif sebaran siswa berdasarkan uang saku dan akreditasi sekolah
Uang Saku (Rp/hari) Akreditasi A Akreditasi B Total Uji Statistik
n % n % n % x2 p
Rendah 63 21.5 99 42.3 62 30.7 Sedang 136 46.4 104 44.4 240 45.5 Tinggi 17 5.8 10 4.3 27 5.1 Sangat tinggi 77 26.3 21 9.0 98 18.6
Total 293 100 234 100 527 100 -6.246 0.000 Median 5000 5000 5000
Minimum 0 0 0 Maksimum 30000 15000 30000 Keterangan: *) Sangat signifikan (< 0.01)
Frekuensi Konsumsi Buah dan Sayur
Menurut Truswell (2007) buah adalah indung telur matang yang manis dan biasanya dimakan sebagai hidangan pembuka atau penutup, sedangkan sayur merupakan bagian dari tanaman, selain buah yang digunakan sebagai makanan. Menurut Sediaoetomo (2006), buah adalah bagian dari tanaman yang strukturnya mengelilingi biji dimana struktur tersebut berasal dari indung telur atau sebagai
fundamen (bagian) dari bunga itu sendiri, sedangkan sayur adalah bahan makanan yang berasal dari tumbuhan. Semua bagian tumbuhan dapat dijadikan bahan makanan sayur antara lain daun (sebagian besar sayur adalah daun), batang (wortel adalah umbi batang), bunga (jantung pisang), dan buah muda (labu).
14
fiber) serta sejumlah antioksidan yang telah terbukti mempunyai peranan penting untuk menjaga kesehatan tubuh (Muchtadi 2000).
Berdasarkan data statistik pertanian hortikultura 2011, selama tahun 2007-2009 produksi sayuran nasional meningkat dari 9.5 juta ton menjadi 10.6 juta ton dengan laju kenaikan sebesar 6.0% per tahun. Adapun produksi buah-buahan pada tahun 2007-2009 meningkat dari 17.1 juta ton menjadi 18.7 juta ton dengan laju kenaikan sebesar 4.4% (Deptan 2013).
Konsumsi Buah
Buah yang paling banyak dikonsumsi oleh siswa baik di sekolah berakreditasi A dan B adalah pisang (64.9%). Data Deptan (2013) menunjukkan bahwa Jawa Barat merupakan provinsi penghasil pisang terbesar dengan produksi 1.415.694 ton atau sekitar 22.2% dari total produksi pisang nasional. Siswa yang mengonsumsi buah-buahan lainnya berturut-turut yaitu jeruk (55.0%), mangga (41.1%), jambu biji (39.3%), melon (38.1%), pepaya (31.3%), alpukat (26.9%), anggur (21.8%), dan nanas (15.6%) yang memiliki persentase terkecil. Median konsumsi buah siswa sebanyak 63.0(2.5;374.0) g/hari. Pada sekolah berakreditasi A median sebesar 63.0(13.5;314.5) g/hari dan pada sekolah berakreditasi B sebesar 63.8(2.5;374) g/hari. Menurut anjuran pedoman gizi seimbang, konsumsi buah seharusnya 200 g/hari (4 porsi) (Depkes 2005).
Tabel 9 Statistik deskriptif sebaran siswa menurut jenis buah yang dikonsumsi berdasarkan akreditasi sekolah
Jenis Buah-buahan Akreditasi A Akreditasi B Total
n % n % n %
Pisang 192 65.5 150 64.1 342 64.9 Melon 117 39.9 84 35.9 201 38.1 Jambu biji 101 34.5 106 45.3 207 39.3 Alpukat 87 29.7 55 23.5 142 26.9
Total 293 100 234 100 527 100
Median (Min-Max) (g/hari) 63.0(13.5-314.5) 63.8(2.5-374) 63.0(2.5-374.0)
15 dalam penelitiannya menunjukkan tidak adanya perbedaan pengaruh tipe sekolah dengan tingginya konsumsi buah siswa.
Tabel 10 Sebaran siswa menurut frekuensi konsumsi buah berdasarkan akreditasi sekolah
Frekuensi Buah Akreditasi A Akreditasi B Total Uji Statistik
n % n % n % x2 P
Tidak Pernah 22 7.5 12 5.1 34 6.5 1-2 kali/minggu 46 15.7 48 20.5 94 17.8 3-6 kali/minggu 75 25.6 59 25.2 134 25.4 >7 kali/minggu 150 51.2 115 49.1 265 50.3
Total 293 100 234 100 527 100 -0.318 0.751
Konsumsi Sayur
Siswa SD baik akreditasi A dan B paling banyak mengonsumsi bayam (67.4%). Kemudian diikuti sayuran lainnya berturut-turut wortel (60.0%), kangkung (56.4%), sawi (21.1%), kol (20.9%), kacang panjang (18.4%), daun singkong (14.8%), kembang kol (14.0%), katuk (8.2%), selada (8.0%) dan sayuran yang paling sedikit dikonsumsi adalah brokoli (4.4%). Median konsumsi sayur siswa penelitian adalah 30(0;128) g/hari. Pada siswa SD akreditasi A median sebesar 25.0(0;128) g/hari dan siswa SD akreditasi B 36.5(5;110.5) g/hari. Bila dibandingkan dengan anjuran pedoman gizi seimbang, tingkat konsumsi tersebut masih sangat rendah, dimana anjuran yang seharusnya dikonsumsi sebanyak 300 g/hari (3 porsi) (Depkes 2005). Berdasarkan status sosial ekonomi keluarga, siswa dengan sosial ekonomi yang rendah (akreditasi B) lebih banyak mengonsumsi sayur. Hal ini terjadi karena siswa tersebut lebih sering mengonsumsi sayur sebagai lauk makan nasi.
Tabel 11 Statistik deskriptif sebaran siswa menurut jenis sayur yang dikonsumsi berdasarkan akreditasi sekolah
Jenis Sayur-sayuran Akreditasi A Akreditasi B Total
n % n % n %
Bayam 204 69.6 151 64.5 355 67.4 Kangkung 162 55.3 135 57.7 297 56.4
Selada 27 9.2 15 6.4 42 8.0
Kacang panjang 57 19.5 40 17.1 97 18.4 Daun singkong 40 13.7 38 16.2 78 14.8
Katuk 20 6.8 23 9.8 43 8.2
Wortel 178 60.8 138 59.0 316 60.0
Sawi 61 20.8 50 21.4 111 21.1
Kembang kol 47 16.0 27 11.5 74 14.0
Kol 69 23.5 41 17.5 110 20.9
Brokoli 11 3.8 12 5.1 23 4.4
Total 293 100 234 100 527 100
16
Secara keseluruhan siswa SD akreditasi A dan B paling banyak mengonsumsi sayur lebih dari 7 kali/minggu (48.0%). Pada SD akreditasi A siswa yang tidak pernah mengonsumsi sayur sebanayk 7.8%, 1-2 kali/minggu sebanyak 11.6%, 3-6 kali/minggu sebanyak 29.0% dan tertinggi lebih dari 7 kali/minggu sebanyak 51.5%. Sedangkan pada SD akreditasi B, hanya 7.7% siswa yang tidak pernah mengonsumsi sayur, 1-2 kali/minggu sebanyak 15.8%, 3-6 kali/minggu sebanyak 32.9% dan lebih dari 7 kali/minggu sebanyak 43.6%. Tidak terdapat perbedaan yang nyata antara frekuensi konsumsi sayur siswa SD akreditasi A dan B (p=0.088). Rasmussen et al. (2006) dalam penelitiannya menunjukkan pengaruh tipe sekolah yang diteliti dari empat penelitian berbeda, siswa dari dua sekolah
non-public schools mengonsumsi sayur yang paling tinggi.
Tabel 12 Sebaran siswa menurut frekuensi konsumsi sayur berdasarkan akreditasi sekolah
Frekuensi Sayur Akreditasi A Akreditasi B Total Uji Statistik
n % n % n % x2 P
Tidak Pernah 23 7.8 18 7.7 41 7.8 1-2 kali/minggu 34 11.6 37 15.8 71 13.5 3-6 kali/minggu 85 29.0 77 32.9 162 30.7 >7 kali/minggu 151 51.5 102 43.6 253 48.0
Total 293 100 234 100 527 100 -1.431 0.152
Menurut Hardono (1998) dalam Setiowati (2000), masih rendahnya konsumsi buah dan sayur di Indonesia terkait dengan beberapa faktor, disamping pendapatan, konsumsi tersebut tampaknya juga terkait dengan masalah masih rendahnya kesadaran mengonsumsi buah dan sayur, rendahnya ketersediaan buah dan sayur dan kurangnya keterjangkauan konsumsi produk oleh rumahtangga. Padahal menurut Rust et al. (2005), studi epidemologi menunjukkan bahwa tingginya konsumsi buah dan sayur berkorelasi dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner, berbagai jenis kanker, dan penyakit lainnya. Selain itu, rendahnya konsumsi buah dan sayur merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kematian karena kanker di seluruh dunia (Danaei et al. (2005).
Penelitian Wind et al. (2005) menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan konsumsi buah dan sayur yaitu faktor personal (positive health beliefs, preferensi, kurangnya pengetahuan dan praktik) dan faktor lingkungan (ketersediaan buah dan sayur di rumah dan sekolah serta praktik dari orangtua). Dalam rangka meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta ketersediaannya, tindakan yang dapat dilakukan antara lain dengan memberi pendidikan/penyuluhan dan motivasi kepada anak dan faktor lingkungannya (orangtua dan sekolah).
17 lebih banyak daripada program intervensi satu komponen saja. Program multi komponen merupakan program yang memberikan motivasi dan mengikutsertakan anak-anak dan keluarganya untuk merubah kebiasaan makan serta menyediakan buah dan sayur yang gratis. Program ini dapat meningkatkan konsumsi harian buah dan sayur dengan rata-rata 20-30 gram/hari.
Kontribusi Vitamin A dan C dari Buah dan Sayur
Mengingat Indonesia sebagai negara tropis yang kaya akan buah dan sayur, sangat disayangkan jika konsumsi buah dan sayur masyarakat masih relatif rendah dibandingkan negara lain yang bukan penghasil buah dan sayur. Kekurangan buah dan sayur dapat menyebabkan tubuh kekurangan zat-zat gizi seperti vitamin dan mineral yang sangat bermanfaat dan dibutuhkan tubuh. Sedangkan kelebihan buah dan sayur dapat berakibat membebani kerja dan fungsi ginjal.
Vitamin merupakan zat organik yang diperlukan dalam jumlah relatif kecil namun sangat penting untuk pertumbuhan normal serta pemeliharaan kesehatan, dan harus selalu tersedia dalam makanan karena tak dapat disintesa oleh tubuh. Berdasarkan kelarutannya, terdapat 2 kelompok vitamin yaitu vitamin larut lemak (vitamin A, D, E, dan K) dan vitamin larut air (vitamin B kompleks dan C).
Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Sumber vitamin A adalah hati, telur, susu (di dalam lemaknya), dan mentega. Sumber karoten adalah daun singkong, daun kacang, kangkung, bayam, kacang panjang, buncis, wortel, tomat, jagung kuning, pepaya, nangka masak, dan jeruk (Almatsier 2004). Vitamin A berfungsi dalam penglihatan, diferensiasi sel, fungsi kekebalan tubuh, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, pencegahan kanker dan penyakit jantung. Selain itu, vitamin A juga berperan dalam pembentukan sel darah merah, kemungkinan melalui interaksi dengan zat besi (Fe). Kelebihan konsumsi vitamin A dapat menyebabkan toksisitas dan mempunyai efek teratogenik bagi wanita hamil. Oleh karena itu, asupan vitamin A harus sesuai dan memenuhi kebutuhan serta menghindari kelebihan vitamin A (Almatsier 2004).
Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh, yaitu untuk mensintesis kolagen, karnitin, serotinin, noradrenalin, absorpsi kalsium, mencegah infeksi, mencegah kanker, dan penyakit jantung (Almatsier 2004). Wirakusumah (1998) menambahkan bahwa banyak fungsi yang dapat diperoleh dari vitamin C yang secara alami diperoleh dari buah-buahan, antara lain untuk menyembuhkan luka, kesehatan gusi, dan mencegah terjadinya luka memar. Pada derajat yang lebih ringan, kekurangan vitamin C berpengaruh pada sistem pertahanan tubuh dan kecepatan penyembuhan luka. Asupan vitamin C yang tinggi akan meningkatkan risiko timbulnya batu ginjal karena meningkatnya produksi oksalat,
rebound scurvy akibat penurunan yang mendadak. Selain itu pada beberapa orang dapat mengakibatkan gangguan pada lambung dan diare.
18
mungkin (belum terlalu lama dalam kondisi terbuka atau sudah dikupas di udara bebas) (Wirakusumah 1998).
Kontribusi terhadap Total Konsumsi
Kontribusi vitamin A dari buah di kedua kelompok akreditasi sekolah masih rendah yaitu (2.2% di SD akreditasi A dan 2.3% di SD akreditasi B). Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Wulansari (2009) pada remaja perkotaan dan perdesaan dengan nilai masing-masing 3.1% dan 3.1%. Sedangkan kontribusi vitamin C dari buah di kedua kelompok akreditasi sekolah juga masih rendah yaitu 14.9% di SD akreditasi A dan 19.8% di SD akreditasi B. Hasil ini berbeda dengan Wulansari (2009) bahwa kontribusi vitamin C dari buah sudah mencapai 61.7% di perkotaan dan 65.9% di perdesaan.
Kontribusi vitamin A dari sayur terhadap total konsumsi vitamin A di SD akreditasi A dan B berturut-turut adalah 15.9% dan 21.4%. Kontribusi vitamin C dari sayur terhadap total konsumsi hampir sama antara SD akreditasi A dan B yaitu masing-masing 6.0% di SD akreditasi A dan 10.6% di SD akreditasi B. Hasil tersebut berbeda dengan penelitian Wulansari (2009) bahwa kontribusi vitamin A dan C dari sayur nilainya mencapai lebih dari 20.0%. Pada kedua kelompok akreditasi sekolah, terdapat perbedaan vitamin A dan C dari konsumsi sayur siswa (p=0.013, p=0.000) dan terdapat perbedaan kontribusi vitamin A dan C sayur terhadap konsumsi (p=0.008, p=0.001).
Tabel 13 Kontribusi buah dan sayur terhadap total konsumsi vitamin A dan C berdasarkan akreditasi sekolah
Parameter Kontribusi Gizi Akreditasi A Akreditasi B Uji Statistik
Vitamin A x2 P
Total Konsumsi (RE) 415.0 405.7 -1.442 0.149
Konsumsi dari Buah (RE) 9.2 9.5 -0.387 0.699
Konsumsi dari Sayur (RE) 66.0 86.7 -2.481 0.013
Kontribusi Buah terhadap Total Konsumsi (%) 2.2 2.3 -0.332 0.740 Kontribusi Sayur terhadap Total Konsumsi (%) 15.9 21.4 -2.670 0.008 Vitamin C
Total Konsumsi (mg) 32.3 27.8 -0.449 0.740
Konsumsi dari Buah (mg) 4.8 5.5 -1.363 0.173
Konsumsi dari Sayur (mg) 1.9 2.9 -3.637 0.000
Kontribusi Buah terhadap Total Konsumsi (%) 14.9 19.8 -1.338 0.181 Kontribusi Sayur terhadap Total Konsumsi (%) 6.0 10.6 -3.466 0.001
Kontribusi terhadap Kecukupan
19 buah dan sayur pada anak-anak yang berumur 11 tahun jauh dari tujuan pencapaian dan food-based dietary guidelines pada tingkat nasional maupun internasional. Pada kedua kelompok akreditasi sekolah, terdapat perbedaan vitamin A dan C dari konsumsi sayur siswa (p=0.013, p=0.013) dan terdapat perbedaan kontribusi vitamin A dan C sayur terhadap konsumsi (p=0.000, p=0.000).
Tabel 14 Kontribusi buah dan sayur terhadap kecukupan vitamin A dan C berdasarkan akreditasi sekolah
Parameter Kontribusi Gizi Akreditasi A Akreditasi B Uji Statistik
x2 p
Vitamin A
Konsumsi dari Buah (RE) 9.2 9.5 -0.387 0.699
Konsumsi dari Sayur (RE) 66.0 86.7 -2.481 0.013
Kontribusi Buah terhadap AKG* (%) 2.2 2.3 -0.387 0.699 Kontribusi Sayur terhadap AKG * (%) 15.9 21.4 -2.474 0.013 Vitamin C
Konsumsi dari Buah (mg) 4.8 5.5 -1.363 0.173
Konsumsi dari Sayur (mg) 1.9 2.9 -3.637 0.000
Kontribusi Buah terhadap AKG** (%) 14.9 19.8 -1.366 0.172 Kontribusi Sayur terhadap AKG** (%) 6.0 10.6 -3.629 0.000 Keterangan: *) AKG vitamin A sebesar 600 RE, **) AKG vitamin C sebesar 50 mg
Perubahan pola konsumsi pangan di Indonesia telah menyebabkan berkurangnya konsumsi buah dan sayur pada hampir semua provinsi di Indonesia. Saat ini orang cenderung mengonsumsi makanan yang serba instan dan praktis. Adanya kecenderungan tersebut menyebabkan rendahnya konsumsi buah dan sayur pada masyarakat, karena adanya upaya pemenuhan kebutuhan vitamin melalui konsumsi berbagai suplemen vitamin yang tersedia di pasaran (Muchtadi 2000). Sandvik et al. (2005) dalam penelitiannya, sebagian besar siswa menunjukkan secara positif bahwa faktor personal dan sosial yang mempengaruhi konsumsi buah dan sayur. Ketersediaan buah dan sayur di sekolah dan waktu lenggang, serta ketersediaan di rumah adalah cara untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur.
Status Gizi
20
dibandingkan SD akreditasi B. Keadaan ekonomi akan mempengaruhi konsumsi makanan dan asupan zat gizi yang pada akhirnya juga mempengaruhi status gizi. Berdasarkan hasil uji beda Mann-Whitney terdapat perbedaan yang nyata antara status gizi (TB/U) siswa di SD akreditasi A dengan siswa di SD akreditasi B (p=0.001).
Tabel 15 Statistik deskriptif status gizi (TB/U) siswa berdasarkan akreditasi sekolah
Kategori status gizi Akreditasi A Akreditasi B Total Uji Statistik*
n % n % n % x2 p
Sangat pendek 10 3.4 13 5.6 23 4.4 Pendek 33 11.3 49 20.9 82 15.6 Normal 250 85.3 172 73.5 422 80.1
Total 293 100 234 100 527 100 -3.331 0.001 Median Z-score -0.88 -1.27 -1.05
Minimum Z-score -4.06 -4.59 -4.59 Maksimum Z-score 2.62 2.04 2.62 Keterangan: *) Sangat signifikan (< 0.01)
Status gizi menurut IMT/U juga menunjukkan bahwa status gizi lebih banyak ditemukan pada SD akreditasi A (21.8%) dibandingkan SD akrediatsi B (14.9%). Sebagian besar siswa memiliki status gizi normal yaitu sebanyak 373 orang (70.8%). Hal ini sejalan dengan data Riskesdas (2010), prevalensi status gizi normal anak umur 6-12 tahun di Jawa Barat sebagian besar normal yaitu sebesar 81.4%. Persentase siswa dengan status gizi overweight dan obese pada sekolah dasar negeri di Kota Bogor masing-masing sebesar 10.8% dan 8%. Hasil ini lebih tinggi daripada hasil penelitian Masti (2009) bahwa pada anak sekolah dasar negeri di Bogor terdapat overweight dan obese masing-masing sebesar 8.3% dan 4.2%. Riskesdas (2010) menunjukkan masalah kegemukan pada anak umur 6-12 tahun masih tinggi yaitu 9.2%. Hasil analisis uji beda Mann-Whitney menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan status gizi (IMT/U) siswa di sekolah berakreditasi A dengan siswa di sekolah berakreditasi B (p=0.077).
Tabel 16 Statistik deskriptif status gizi (IMT/U) siswa berdasarkan akreditasi sekolah
Kategori status gizi Akreditasi A Akreditasi B Total Uji Statistik
n % n % n % x2 p
Sangat kurus 4 1.4 5 2.1 9 1.7 Kurus 25 8.5 21 9.0 46 8.7 Normal 200 68.3 173 73.9 373 70.8
Overweight 37 12.6 20 8.5 57 10.8
Obese 27 9.2 15 6.4 42 8.0
Severe obese 0 0.0 0 0.0 0 0.0
Total 293 100 234 100 527 100 -1.770 0.077 Median Z-score -0.35 -0.58 -0.47
21 Hubungan Sosial Ekonomi Keluarga dengan Pola Konsumsi Buah dan Sayur
(Frekuensi Konsumsi dan Kontribusi Vitamin A dan C)
Buah dan sayur merupakan suatu kelompok pangan yang mengandung berbagai zat gizi (vitamin dan mineral), serat, serta senyawa fitokimia yang sangat dibutuhkan dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan salah satu sumber serat terbesar dibanding pangan lainnya. Faktor kebiasaan dan ekonomi dapat menjadi alasan rendahnya frekuensi dan jumlah konsumsi buah dan sayur pada siswa.
Tabel 17 Hasil uji Spearman variabel yang berhubungan
Variabel Uji
Tidak terdapat hubungan antara pendapatan keluarga dengan frekuensi konsumsi buah dan sayur siswa serta kontribusi vitamin A dan C dari buah dan sayur. Pendapatan yang lebih tinggi tidak selalu menjamin siswa mengonsumsi buah dan sayur lebih banyak. Hal ini sejalan dengan Berg (2006), peningkatan pendapatan tidak selalu membawa perbaikan pada pola konsumsi pangan, karena walaupun banyak pengeluaran untuk pangan belum tentu kualitas dan kuantitas makanan yang dibeli menjadi lebih baik. Berbeda dengan penelitian Dibsdall et al.
(2003) dan Kamphuis et al. (2006) bahwa sebagian besar penduduk dengan pendapatan rumahtangga yang rendah mempunyai tingkat konsumsi buah dan sayur yang rendah pula. Rasmussen et al. (2006) dalam penelitiannya menunjukkan adanya hubungan positif antara rendahnya sosial ekonomi keluarga khususnya pendapatan keluarga dengan rendahnya konsumsi buah dan sayur. Pendidikan
22
hubungan yang negatif pada tingkat pendidikan ibu, siswa yang memiliki ibu dengan pendidikan lebih tinggi lebih sedikit mengonsumsi buah dan sayur. Meskipun ibu tersebut memiliki akses media yang lebih baik dan memiliki pengetahuan gizi dan kesehatan, namun perilaku mereka cenderung mengonsumsi makanan yang tinggi lemak (Wang et al. 2006).
Besar Keluarga
Tidak terdapat hubungan antara besar keluarga dengan frekuensi konsumsi buah, namun terdapat hubungan antara besar keluarga dengan frekuensi konsumsi sayur (rs=0.087, p=0.045). Selain itu, tidak terdapat hubungan antara besar keluarga dengan kontribusi vitamin A dan C dari buah dan sayur. Hal ini sejalan dengan Rasmussen et al. (2006), Pratiwi (2006) dan Wulansari (2009), bahwa pengaruh besar keluarga dalam penelitian tersebut menunjukkan tidak terdapat hubungan dengan konsumsi buah dan sayur pada anak. Namun Srimaryani (2010), menunjukkan semakin besar jumlah anggota keluarga akan semakin besar pangan yang dikonsumsi dan pembagian makanan dalam keluarga tersebut akan lebih sedikit dibanding keluarga dengan jumlah sedikit.
Uang Saku
Tidak terdapat hubungan uang saku siswa dengan frekuensi konsumsi buah dan sayur siswa. Pada kontribusi vitamin A dan C dari buah juga tidak menunjukkan adanya hubungan. Namun hubungan uang saku dengan kontribusi vitamin C dari konsumsi sayur menunjukkan adanya hubungan yang negatif (rs= -0.091, p=0.036). Diasumsikan siswa sebagian besar tidak mengalokasikan uang saku untuk membeli buah atau sayur sebagai jajanan untuk dikonsumsi. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Paramita (2013) pada remaja terdapat hubungan yang signifikan antara uang saku dengan konsumsi buah. Namun frekuensi konsumsi sayur sejalan dengan penelitian tersebut, yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara uang saku dengan konsumsi sayur.
23
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Siswa sebagai subjek penelitian terdiri dari 263 laki-laki dan 264 perempuan. Umur siswa berkisar antara 9-13 tahun dan sebagian besar berumur 11 tahun. Pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan orangtua serta uang saku siswa SD akreditasi A lebih tinggi dibandingkan akreditasi B. Jenis buah dan sayur yang paling sering dikonsumsi siswa SD baik dengan status sosial ekonomi tinggi maupun rendah adalah pisang dan bayam. Jumlah konsumsi buah dan sayur siswa di kedua kelompok sosial ekonomi masih di bawah anjuran. Tidak terdapat perbedaan antara frekuensi konsumsi buah dan sayur. Kontribusi vitamin A dan C dari buah dan sayur terhadap konsumsi dan kecukupan juga masih rendah. Jadi, sosial ekonomi yang tinggi tidak menjamin tingginya konsumsi buah dan sayur siswa.
Status gizi (TB/U dan IMT/U) siswa SD di kedua kelompok sosial ekonomi sebagian besar normal. Prevalensi stunting siswa SD dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (14.7%) lebih sedikit dibandingkan siswa SD dengan status sosial ekonomi yang lebih rendah (26.5%). Sedangkan prevalensi kegemukan siswa SD dengan status sosial ekonomi lebih tinggi (21.8%) lebih banyak dibandingkan siswa SD dengan status sosial ekonomi rendah (14.9%). Hal ini menunjukkan bahwa status sosial ekonomi mempengaruhi status gizi siswa. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sosial ekonomi keluarga dengan frekuensi konsumsi buah dan sayur. Terdapat hubungan antara besar keluarga dengan frekuensi konsumsi sayur (rs=0.087, p=0.045), hubungan pendidikan ibu dengan kontribusi vitamin C dari sayur terhadap konsumsi dan kecukupan (rs=-0,103, p=0,018 dan rs=-0,098, p=0,025), dan hubungan uang saku dengan kontribusi vitamin C dari sayur terhadap konsumsi (rs=-0,091, p=0,036). Tidak terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi buah dan sayur dengan status gizi siswa (rs=-0.014, p=0.746 dan rs=-0.023, p=0.591).
Saran
Perlu peningkatan konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah dasar mengingat pentingnya mengonsumsi buah dan sayur dalam jumlah cukup agar kebutuhan zat gizi yang terkandung dalam buah dan sayur terpenuhi. Perlunya keterlibatan orangtua dan keluarga yang bertanggung jawab terhadap ketersediaan makanan dalam peningkatan konsumsi buah dan sayur. Perlu juga penyebaran informasi manfaat buah dan sayur secara luas; dari pihak sekolah, stakeholder
24
DAFTAR PUSTAKA
[Balitbangkes] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI. 2008. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007: Laporan Nasional. Jakarta (ID): Balitbangkes Depkes RI.
[Balitbangkes] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI. 2011. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010: Laporan Nasional. Jakarta (ID): Balitbangkes Depkes RI.
[Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta (ID): Depkes RI dan JICA.
[Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). Jakarta (ID): Depkes RI.
[FAO] Food and Nutrition Technical Report Series. 2001. Human Energy Requirements. Rome: FAO/WHO/UNU.
[WHO] World Health Organization. 2007. BMI Classification. http://apps.who.int/bmi/index [21 Januari 2014].
Almatsier S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka Utama.
Berg. 2006. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. Jakarta (ID).
Ariani M. 2010. Analisis Konsumsi Pangan Tingkat Masyarakat Mendukung Pencapaian Diversifikasi Pangan. Gizi Indon PERSAGI, 33(1), 20—28.
Danaei G, Vander Hoorn S, Lopez AD, Murray CJ, Ezzati M. 2005. Causes of cancer in the world: comparative risk assessment of nine behavioural and environmental risk factors. Lancet, 366, 1784—1793.
Deptan. 2013. Roadmap Diversifikasi Pangan 2011-2015. Jakarta (ID): Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI.
Dibsdall LA, Lambert N, Bobbin RF, Frewer LJ. 2003. Low-income consumers' attitudes and behaviour towards access. availability and motivation to eat fruit and vegetables. Public Health Nutrition 6(2), 159—68.
DKBM. 2008. Daftar Komposisi Bahan Makanan Indonesia.
Evans CEL, Christian MS, Cleghorn CL, Greenwood DC, Cade JE. 2012. Systematic review and meta-analysis of school-based interventions to improve daily fruit and vegetable intake in children aged 5 to12 year. Am J Clin Nutr, 96, 889—901.
Farida. 2010. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur pada Remaja di Indonesia Tahun 2007 [Skripsi]. Jakarta (ID): UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Gibson RS. 2005. Principles of Nutrition Assessment Ed ke-2. New York (US): Oxford University.
Hurlock EB. 1999. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi Kelima. Jakarta (ID): Erlangga.
Kamphuis CBM van, Lenthe FJ, Giskes K Brug J, Mackenbach JP. 2006. Perceived environmental determinants of physical activity and fruit and vegetable consumption among low and high socioeconomic groups in the Netherlands HealthPlace. Am J Clin Nutr, 45, 107—114.
25 Madanijah et al. 2013. Pola Konsumsi Pangan Sumber Serat dan Formulasi Produk Intervensi pada Anak Usia Sekolah. Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center–Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor.
Masti S E. 2009. Keragaan Status Gizi. Aktivitas Fisik. Konsumsi Pangan serta Tingkat Kecukupan Energi dan Zat Gizi Anak Sekolah Dasar Di Kota Bogor [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.
Muchtadi D. 2000. Sayur-sayuran Sumber Serat dan Antioksidan: Mencegah Penyakit Degeneratif. Bogor (ID): Fakultas Teknologi Pertanian, IPB.
Overby NC, Klepp KI, Bere E. 2012. Introduction of a school fruit program in associated with reduced frequency of consumption of unhealthy snacks. Am J Clin Nutr, 96, 1100—3.
Paramita I. 2013. Analisis hubungan konsumsi buah dan sayur dengan ukuran lingkar pinggang pada perempuan usia dewasa muda [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Gizi Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor.
Pratiwi W. 2006. Analisis Hubungan Pengetahuan Gizi. Sikap dan Preferensi dengan Kebiasaan Makan Sayuran Ibu Rumah Tangga di Perkotaan dan Pedesaan Bogor [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Rasmussen M, Krolner R, Klepp K, Lytle L, Brug J, Bere E, Due P. 2006. Determinants of Fruit and Vegetable Consumption among Children and Adolescents: A Review of The Literature. Part I: Quantitative Studies. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity. BioMed Central Ltd, 3(22), 479—5868.
Roos EB et al. 2001. Household Educational Level as a Determinant of Consumption of Raw Vegetable among Male and Female Adolescents.Journal of American Health Foundation and Academic Press.
Rust P, Elmadfa I. 2005. Attitude adults to the consumption of fruits and vegetabales. Diet Diversification and Health Promotion. Forum Nutr, 57, 91— 99.
Sandvik C, de Bourdeaudhuij I, Due P, Brug J, Wind M, Bere E, Pérez, Rodrigo C, Wolf A, Elmadfa I, Thórsdóttir I, Vaz de Almeida M.D, Yngve A, Klepp K.-I. 2005. Personal, Social and Environmental Factors regarding Fruit and Vegetable Intake among Schoolchildren in Nine European Countries. Ann Nutr Metab, 49, 255—266
Setiowati N. 2000. Konsumsi dan preferensi sayur dan buah pada remaja di SMU 1 Bogor dan SMU 1 Pamekasan [skripsi]. Bogor (ID): Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Soekirman. 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat.
Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional.
Srimaryani DI. 2010. Pola Konsumsi Pangan dan Status Gizi pada Rumah Tangga Peserta Program Pemberdayaan Masyarakat di Kota dan Kabupaten Bogor [Skripsi]. Bogor (ID): IPB.
26
Wang Y, Bentley ME, Zhai Fengying, Popkin BM. 2005. Tracking of dietary intake patterns of Chinese from childhood to adolescence over a six-year follow-up period. J Nutr, 132, 430—438.
Wind M, Bobelijn K, de Bourdeaudhuij I, Klepp K.-I, Brug J. 2005. A Qualitative Exploration of Determinants of Fruit and Vegetable Intake among 10- and 11-Year-Old Schoolchildren in the Low Countries. Ann Nutr Metab, 49, 228— 235.
Wirakusumah E. 1998. Buah dan Sayur untuk Terapi. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
WNPG. 2012. Widyakarya Pangan dan Gizi: Daftar Angka Kecukupan Gizi. Wulansari. 2009. Konsumsi serta Preferensi Buah dan Sayur pada Remaja SMA
dengan Status Sosial Ekonomi yang Berbeda di Bogor [Skripsi]. Bogor (ID): IPB.
Yngve A, Wolf A, Poortvliet E, Elmadfa i, Brug J, Ehrenblad B, Franchini B, Haraldsdotti RJ, Krolner R, Maes L et al. 2005. Fruit and Vegetable Intake in a Sample of 11-Year-Old Children in 9 European Countries: The Pro Children Cross-Sectional Survey. Ann Nutr Metab, 49, 212—220.
Zenk SN. 2005. Fruit and Vegetable Intake in African American: Income and Store Characteristic.Am Journal Prev Med, 29(1), 1—9.
27
LAMPIRAN
Lampiran 1 Hasil uji Spearman variabel sosial ekonomi keluarga dengan frekuensi konsumsi dan kontribusi vitamin A dan C buah dan sayur
Variabel Uji Spearman
Pendapatan Keluarga
Pendidikan
Ayah Pendidikan Ibu Besar Keluarga Uang Saku
Buah Sayur Buah Sayur Buah Sayur Buah Sayur Buah Sayur
Frekuensi Konsumsi
rs -0,052 -0,013 -0,073 -0,008 -0,006 -0,028 -0,021 0,087 -0,004 -0,040 P 0,237 0,762 0,092 0,851 0,886 0,523 0,629 0,045 0,922 0,364 Kontribusi Vit A
Konsumsi
rs 0,041 -0,016 0,044 -0,031 0,045 -0,057 -0,048 0,040 0,068 -0,069 P 0,344 0,716 0,310 0,479 0,298 0,188 0,268 0,358 0,120 0,115 Kontribusi Vit C
Konsumsi
rs -0,017 -0,063 -0,002 -0,054 0,005 -0,103 -0,064 0,064 0,022 -0,091 P 0,698 0,149 0,972 0,212 0,913 0,018 0,144 0,141 0,613 0,036
Kontribusi Vit A Kecukupan
rs 0,041 0,009 0,043 -0,006 0,043 -0,042 -0,050 0,037 0,630 -0,062 P 0,347 0,835 0,322 0,883 0,322 0,336 0,248 0,402 0,147 0,152 Kontribusi Vit C
Kecukupan
rs -0,013 -0,055 0,001 -0,050 0,005 -0,098 -0,065 0,052 0,025 -0,084 P 0,760 0,208 0,986 0,250 0,903 0,025 0,134 0,230 0,574 0,053
Lampiran 2 Hasil uji Spearman variabel frekuensi konsumsi buah dan sayur dengan status gizi
Variabel Uji Spearman Status Gizi
Frekuensi Buah rs -0,014 P 0,746
28
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan pada tanggal 12 April 1992. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, putri pasangan Bapak Risman Hapri, SST dan Ibu Munarti. Pendidikan TK ditempuh pada tahun 1996-1997 di TK Kemala Bhayangkari Bengkulu Selatan. Kemudian pendidikan SD ditempuh pada tahun 1997-2003 di SD Negeri 21 Bengkulu Selatan, kemudian melanjutkan di SMP Negeri 2 Bengkulu Selatan tahun 2003-2006 dan SMA Negeri 5 Bengkulu Selatan tahun 2006-2009.
Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Fakultas Ekologi Manusia, Departemen Gizi Masyarakat melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2009. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam berbagai kepanitian dan organisasi, yaitu divisi event organizer (EO) Koperasi Mahasiswa (KOPMA) IPB (2009-2010), ketua divisi humas di Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) IMBR (2010-2011), ketua Eco-Agrifarma IPB (2011-2012), anggota klub kulinari HIMAGIZI (2011-2012), anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo IPB (2009-2012),