HUBUNGAN KONSUMSI BUAH, SAYUR DAN
KEGEMUKAN PADA SISWA KELAS 5
DI SD ISLAM DARUL HIKAM BANDUNG
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Program Diploma III Kesehatan Bidang Gizi
Oleh:
LUGINA RIZKY KHAERUNISA
P17331113004
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES RI BANDUNG
JURUSAN GIZI PROGRAM STUDI DIPLOMA III
LEMBAR PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Hubungan konsumsi buah, sayur dan kegemukan pada siswa kelas 5 di SD Islam Darul Hikam
Bandung” ini telah mendapat persetujuan dan disidangkan pada tanggal 15 Juli 2016.
Menyetujui,
Pembimbing Karya Tulis Ilmiah
ABSTRAK
Khaerunisa, Lugina Rizky. 2016. Hubungan konsumsi buah, sayur dan kegemukan pada siswa kelas 5 Di SD Islam Darul Hikam Bandung. Karya Tulis Ilmiah. Program Diploma III. Jurusan Gizi. Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung. Pembimbing : Yenny Moviana, MND.
Kegemukan merupakan kelebihan berat badan karena asupan zat gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan seperti kelebihan asupan energi dan kurangnya konsumsi serat. Prevalensi kegemukan di kota Bandung sebesar 12,1%. Konsumsi buah dan sayur penduduk Indonesia masih rendah yaitu 15 gram/hari. Konsumsi buah dan sayur tinggi dapat mencegah kegemukan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Hubungan konsumsi buah, sayur dan kegemukan pada siswa kelas 5 di SD Islam Darul Hikam Bandung. Disain penelitian yang digunakan Cross sectional dengan jumlah sampel 45 siswa. Status kegemukan menggunakan IMT/U (Indeks Massa Tubuh menurut umur). Konsumsi buah dan sayur dengan Semiquantitative Food Frequency Questionnaire
(SFFQ). Data dianalisis menggunakan Chi-Square dan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan siswa yang mengalami kegemukan 46,7%. Siswa dengan konsumsi buah kurang 24,4% dan siswa dengan konsumsi sayur kurang 86,7%. Hasil analisis data menunjukan tidak ada hubungan konsumsi buah dan kegemukan (p>0.05). Adanya hubungan konsumsi sayur dan kegemukan (p<0.05). Kemungkinan adanya faktor lain yang mempengaruhi kejadian kegemukan pada anak. Perlu diadakannya penyuluhan gizi mengenai gizi seimbang, khususnya mengenai pentingnya konsumsi buah dan sayuran.
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukkur kepada Allah swt, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Hubungan konsumsi buah, sayur dan kegemukan pada siswa kelas 5 di SD Islam Nurul Hikam Bandung” ini dapat terselesaikan.
Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai syarat menyelesaikan pendidikan Program Studi Diploma III. Tanpa bantuan berbagai pihak, penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini tidak akan terwujud. Untuk itu pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Holil Par’i, SKM, M.Kes, selaku Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Bandung;
2. Ibu Yenny Moviana, MND, selaku pembimbing materi yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini;
3. Ibu Dr. Ir. MF. Aryani Sudja, MKM dan ibu Maryati Dewi, S.Gz, MPH selaku penguji Karya Tulis Ilmiah ini;
4. Kepala sekolah, Guru dan Siswa/i SD Islam Darul Hikam sebagai institusi dan sampel penelitian;
5. Kedua orangtua, dan adik serta keluarga lain yang selalu memberikan doa, semangat, dan dukungan secara moril maupun materil;
6. Teman-teman yang telah banyak membantu dan memberi dukungan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini;
ii
Saran dan kritik yang membangun penulis harapkan demi perbaikan dan pengembangan Karya Tulis Ilmiah ini. Akhir kata, hanya kepada Allah SWT penulis menyerahkan segalanya. Harapan terbesar dari penulis, semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca semua. Aamiin.
Cimahi, Juni 2016
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB IPENDAHULUAN ... 10
1.1 Latar Belakang ... 10
1.2 Rumusan Masalah ... 13
1.3 Tujuan ... 13
1.3.1 Tujuan Umum ... 13
1.3.2 Tujuan Khusus ... 13
1.4 Ruang Lingkup Penelitian ... 14
1.5 Manfaat Penelitian ... 14
1.5.1 Bagi Penulis ... 14
1.5.2 Bagi Respoden ... 14
1.5.3 Bagi Lokasi Penelitian ... 14
1.5.4 Bagi Institusi Pendidikan ... 14
1.6 Keterbatasan Peneliti ... 15
BAB IITINJAUAN PUSTAKA ... 16
2.1 Anak Usia Sekolah ... 16
2.2 Kegemukan pada Anak Usia Sekolah ... 10
iv
2.2.2 Penentuan Status Kegemukan ... 11
2.2.3 Faktor Penyebab Kegemukan pada Anak Usia Sekolah ... 12
2.2.4 Risiko Kegemukan... 16
2.3 HubunganKonsumsi Buah dan Sayur dan Kegemukan ... 18
2.3.1 Konsumsi Buah dan Sayur ... 18
2.3.2 Konsumsi Buah dan Sayur dan Kegemukan ... 22
2.4 Survei Konsumsi Pangan ... 26
2.4.1SemiquantitativeFood Frequency Questionnaire (SFFQ) ... 27
BAB IIIKERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN ... 28
DEFINISI OPERASIONAL ... 28
3.1 Kerangka Konsep ... 28
3.2 Hipotesis ... 29
3.3 Definisi Operasional ... 29
3.3.1 Konsumsi Buah ... 29
3.3.2 Konsumsi Sayur ... 29
3.3.3 Kegemukan ... 30
BAB IVMETODE PENELITIAN ... 31
4.1 Desain Penelitian ... 31
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 31
4.2.1 Tempat Penelitian ... 31
4.2.2 Waktu Penelitian ... 31
4.3 Populasi dan Sampel ... 31
4.4 Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 32
4.4.1 Data Primer ... 32
v
4.5 Pengolahan dan Analisis Data ... 33
4.5.1 Pengolahan Data ... 33
4.5.2 Analisis Data ... 34
BAB VHASIL DAN PEMBAHASAN ... 36
5.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ... 36
5.2 Gambaran Karakteristik Sampel ... 37
5.2.1 Jenis Kelamin ... 37
5.2.2 Konsumsi Buah ... 38
5.2.3 Konsumsi Sayur ... 39
5.2.4 Kegemukan ... 42
5.3 Analisis Bivariat ... 44
5.3.1 Hubungan Konsumsi Buah dengan Kegemukan ... 44
5.3.2 Hubungan Konsumsi Sayur dengan Kegemukan ... 46
BAB VISIMPULAN DAN SARAN ... 50
6.1 Simpulan ... 50
6.2 Saran ... 50
vi
DAFTAR TABEL
NOMOR
HALAMAN
Tabel 2.1 JUMLAH ANJURAN PORSI MAKAN ANAK BERDASARKAN USIA ... 17
Tabel 2.2 KLASIFIKASI STATUS GIZI MENURUT IMT/U USIA 5 – 18 TAHUN ... 11
Tabel 2.3 KANDUNGAN SERAT DALAM 100 GRAM BUAH ... 24
Tabel 2.4 KANDUNGAN SERAT DALAM 100 GRAM SAYUR ... 24
Tabel 5.1 DISTRIBUSI SAMPEL BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA SISWA SD ISLAM DARUL HIKAM ... 37
Tabel 5.2 DISTRIBUSI SAMPEL BERDASARKAN KONSUMSI BUAH
SISWA SD ISLAM DARUL HIKAM BANDUNG ... 38
Tabel 5.3 DISTRIBUSI SAMPEL BERDASARKAN KONSUMSI SAYUR
SISWA KELAS 5 SD ISLAM DARUL HIKAM BANDUNG ... 39
Tabel 5.4 DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL BERDASARKAN STATUS KEGEMUKAN SISWA KELAS 5 SD ISLAM DARUL HIKAM BANDUNG ... 42
Tabel 5.5 DISTRIBUSI FREKUENSI HUBUNGAN KONSUMSI BUAH DAN KEGEMUKAN SISWA KELAS 5 SD ISLAM DARUL
HIKAM BANDUNG ... 44
Tabel 5.6 DISTRIBUSI FREKUENSI HUBUNGAN KONSUMSI SAYUR DAN KEGEMUKAN SISWA KELAS 5 SD ISLAM DARUL
viii
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR HALAMAN
Gambar 3.1 KERANGKA KONSEPHUBUNGAN KONSUMSI BUAH, SAYUR
DAN KEGEMUKAN PADA SISWA KELAS 5 DI SD ISLAM DARUL
ix
DAFTAR LAMPIRAN
NOMOR HALAMAN
Lampiran 1 NASKAH PENJELASAN PENELITIANHUBUNGAN
KONSUMSI BUAH DAN SAYUR DENGAN KEGEMUKAN
PADA SISWA KELAS 5 DI SD ISLAM DARUL HIKAM ... 56
Lampiran 2 SURAT PERNYATAANKESEDIAAN MENGIKUTI
PENELITIAN ... 57
Lampiran 3 IDENTITAS UMUM SAMPEL ... 58
Lampiran 4 FORM WAWANCARA SFFQ ... 59
Lampiran 5 HASIL ANALISIS DATA SAMPEL SISWA SD ISLAM
DARUL HIKAM BANDUNG ... 62
Lampiran 6 DOKUMENTASI PENGAMBILAN DATA DI SD ISLAM
DARUL HIKAM ... 67
Lampiran 7 USULAN MENU SEHARI ... 68
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Status gizi adalah keadaan yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik terhadap energi dan zat- zat gizi yang diperoleh dari asupan makanan yang dampak fisiknya dapat diukur . Menurut Sunita Almatsier status gizi adalah keaadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat. Seseorang akan memiliki status gizi yang baik apabila asupan gizi sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Asupan gizi yang kurang akan menyebabkan keadaan status gizi yang buruk dan sebaliknya jika berlebih akan menyebabkan status gizi lebih (Almatsier, 2009).
Sebagai negara yang berkembang, Indonesia dihadapi oleh masalah gizi ganda. Bukan hanya masalah gizi kurang yang sekarang dihadapi Indonesia,tapi adanya masalah gizi lebih yang menambah serius bagi pembangunan bangsa Indonesia khususnya pada bidang kesehatan. Istilah gizi lebih digunakan untuk menggambarkan kejadian kegemukan atau obesitas. Kegemukan didefinisikan sebagai kelebihan berat badan karena adanya kelebihan asupan energi yang tidak sesuai dengan kebutuhan (Arisman, 2007). Prevalensi kegemukan di Indonesia terus meningkat baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak. Bahkan di beberapa Negara maju seperti Amerika kegemukan dan obesitas dikategorikan sebagai wabah (epidemic) (Depkes RI, 2010).
11
terdiri dari 3,5% sangat kurus, 6,7% kurus, 81,4% normal dan 8,5% gemuk. Prevalensi kegemukan pada anak usia tersebut meningkat dua kali dalam satu dekade terakhir. Untuk kota Bandung, menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 prevalensi status gizi pada anak usia 5-12 tahun terdiri dari kurus 6,0% dan kegemukan 12,1%. Prevalensi kegemukan di Kota Bandung tesebut jika dibandingkan dengan angka nasional (18,8%) memang lebih rendah namun untuk di Jawa barat sendiri angka tersebut jauh diatas angka jawa barat (10,7%) (Riskesdas, 2013).
Anak usia Sekolah Dasar merupakan masa dimana terjadi peningkatan nafsu makan secara alamiah, sebuah faktor yang dapat meningkatkan konsumsi makanan. Anak usia sekolah dasar berada dalam masa pertumbuhan, sehingga pada masa ini status gizi harus sangat diperhatikan agar pertumbuhan dan perkembangannya berjalan optimal. Namun untuk saat ini kegemukan sudah menjadi masalah di anak usia Sekolah dasar, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian status gizi 119 anak sekolah TK dan SD favorit di Kota Bandung, berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) 21 anak mempunyai satus gizi kurang, 57 mempunyai status gizi normal dan 35 anak serta 6 anak mempunyai status gizi lebih dan obesitas (34%). Penelitian di SD favorit di Kota Bogor didapat data anak dengan gizi lebih dan kegemukan sebesar 20% di SD swasta favorit dan 10% di SD negri favorit. Dari kedua data tersebut kegemukan masalah yang lebih besar dialami pada anak usia sekolah dan kegemukan lebih banyak ditemukan pada siswa SD swasta (Damayanti dan Muhilal, 2006).
Sebagian besar penduduk Indonesia memiliki konsumsi serat yang rendah, yaitu sebanyak 80% penduduk Indonesia hanya mengonsumsi serat 15 gram/hari, padahal konsumsi serat yang baik adalah 25 gram/hari. Berdasarkan penelitian aprianti pada anak-anak menunjukan tujuh dari tujuh anak hanya makan satu sampai dua porsi buah dan sayur yaitu setara dengan satu buah apel, ini menunjukan bahwa konsumsi serat anak masih kurang sehingga menyebabkan terjadinya kegemukan hingga obesitas. (Hamidah, 2015).
Konsumsi buah dan sayur sangat berperan bagi kesehatan karena selain mengandung banyak serat dalam buah dan sayur juga mengandung zat gizi dan non gizi lain seperti vitamin, mineral dan kandungan pigmen yang sangat berperan dalam menjaga kesehatan dari berbagai penyakit. Buah dan sayur pada umumnya kaya akan jenis mineral, diantaranya kaliaum, kalsium, natrium, magnesium dam zat besi. didalam buah dan sayur juga terdapat vitamin yang bekerja sebagai antioksidan. Antioksidan dalam buah dan sayur bekerja dengan cara mengikat lalu menghancurkan radikal bebas dan mampu melindungi tubuh dari reaksi oksidatif yang menghasilkan racun ( Padmiari, 2010).
Konsumsi pangan pada usia sekolah perlu diperhatikan kerena pada golongan usia tersebut terjadi pertumbuhan yang sangat cepat, sehingga kebutuhan gizi untuk pertumbuhan dan aktivitas meningkat. Golongan ini biasanya memiliki nafsu makan yang baik, sehingga sering mencari makanan tambahan atau jajan diluar waktu makan. Namun perubahan pola makan pada anak usia sekolah cenderung mengonsumsi makanan tinggi energi sedangkan konsumsi buah dan sayurnya yang sangat rendah (Sartika, 2011).
13
bahwa siswa SD yang mengonsumsi serat yang jarang mengalami kegemukan atau obesitas sebesar 23,1%. Dimana jarang mengonsumsi buah dan sayur adalah kurang dari median yaitu 1-2 kali/ minggu.
SD Islam Darul Hikam Bandung merupakan salah satu sekolah swasta favorit dimana mayoritas siswanya berasal dari keluarga menengah keatas dengan keadaan ekonomi baik sehingga peluang untuk memperoleh anak dengan kegemukan cukup tinggi. Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana Hubungan konsumsi buah, sayur dan kegemukan pada siswa kelas 5 Di SD Islam Darul Hikam di Kota Bandung.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah : Apakah ada hubungan konsumsi buah, sayur dan kegemukan pada siswa kelas 5 di SD Islam Darul Hikam?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan Konsumsi buah, sayur dan kegemukan pada siswa kelas 5 di SD Islam Darul Hikam Bandung.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui konsumsi buah sampel b. Mengetahui konsumsi sayur sampel c. Mengetahui status kegemukan sampel
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian yang akan dilakukan terbatas pada konsumsi buah dan sayur, serta pengukuran status gizi pada siswa kelas 5 di SD Islam Darul Hikam Bandung.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Penulis
Penelitian ini dapat menambah pemahaman penulis mengenai Hubungan konsumsi buah, sayur dan kegemukan pada siswa kelas 5 dasar serta memberikan pengalaman bagi penulis dalam menyusun sebuah karya tulis ilmiah.
1.5.2 Bagi Respoden
Dari penelitian ini responden dapat mengetahui konsumsi buah dan sayur serta mengetahui data dan status gizi responden. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi kepada responden, sehingga dapat dijadikan alternatif untuk pengendalian dan penurunan risiko selanjutnya.
1.5.3 Bagi Lokasi Penelitian
Peneliitian ini dapat menambah data tingkat konsumsi buah dan sayur serta status gizi sampel yang ada pada lokasi penelitian tersebut sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk mengadakan edukasi gizi seperti penyuluhan.
1.5.4 Bagi Institusi Pendidikan
15
sejenis, yaitu Hubungan konsumsi buah, sayur dan kegemukan pada siswa kelas 5 Dasar.
1.6 Keterbatasan Peneliti
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anak Usia Sekolah
Anak usia sekolah merupakan masa dimana usia antara lima tahun sampai remaja. Pada masa ini boleh dikatakan sebagai periode laten karena pertumbuhan fisik pada anak usia sekolah tidak sepesat tumbuh kembang balita. Anak SD usia sekitar 7-13 tahun merupakan pertumbuhan paling pesat kedua setelah masa balita. Tumbuh merupakan kegiatan dengan bertambahnya ukuran berbagai organ tubuh yang disebabkan karena peningkatan ukuran sel-sel seperti bertambahnya tinggi badan , berat badan dan sebagainya. Gizi merupakan salah satu faktor lingkungan fisik yang berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang fisik, sistem saraf, dan otak anak. Makanan yang bernilai gizi tinggi sangat mempengaruhi tumbuh kembang otak dan organ-organ lain yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Soekotjo, 1998).
Laju pertumbuhan pada anak usia sekolah ini cenderung lambat namun konsisten. Pada anak usia 1-3 tahun akan mengalami pertambahan berat badan sebanyak 2-2,5 kg dan tinggi rata-rata sebesar 12 cm pertahun. Pertambahan berat badan anak usia pra sekolah (4-6 tahun) berkisar antara 0,7-2,3 kg dan tinggi 0,9-1,2 cm pertahunnya sehingga menyebabkan tubuh mereka tampak kurus. Sedangkan untuk usia sekolah tepatnya pada usia 7-13 tahun penambahan berat badan bisa mencapai 2-4 kg dan tinggi badan 5-6 cm pertahunnya (Arisman, 2007).
17
lebih besar disebabkan karena kebutuhannya lebih banyak mengingat bertambahnya berat badan dan aktivitas fisik. Makanan dengan kandungan gizi seimbang, cukup energi, dan zat gizi sesuai kebutuhan gizi anak sekolah, sangat dianjurkan. Makanan tersebut terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, dan buah. Pengaturan makanan untuk anak sekolah bertujuan untuk membentuk kebiasaan makan yang baik dan berpartisipasi dalam aktivitas olahraga secara teratur, untuk mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal, berat badan yang normal dan menurunkan risiko menderita penyakit kronis. (Damayanti dan Muhilal, 2006).
Adapun jumlah anjuran makanan untuk anak usia 7-9 tahun dan 10-12 tahun yang dapat memenuhi kebutuhan gizi sehari:
Tabel 2.1
JUMLAH ANJURAN PORSI MAKAN SEHARI ANAK BERDASARKAN USIA
9
Anak usia sekolah pada umumnya mempunyai pola makan dan asupan yang tidak jauh berbeda dengan teman sebayanya. Adapun perbedaan asupan antara laki-laki dan perempuan dimana laki-laki mengonsumsi makanan lebih besar dari pada perempuan. Frekuensi makan anak usia sekolah pun cenderung lebih sedikit dari pada anak prasekolah, yaitu masing-masing hanya tiga kali sehari namun mereka cenderung lebih banyak mengonsumsi makanan dalam bentuk cemilan atau snack (Istiany, 2013).
Kebiasaan makan yang terbentuk pada usia ini serta jenis makanan yang disukai maupun tidak disukai merupakan dasar bagi pola konsumsi makanan dan asupan gizi pada usia selanjutnya. Pada usia ini pilihan makanan sangat dipengaruhi oleh teman sebayanya dan orang-orang lain selain keluarga seperti guru mereka disekolah. Menurut UK National Diet and Nutrition Survey ada beberapa fenomena pada anak usia sekolah yang berkaitan dengan asupan makanan yaitu:
1. Asupan lemak total pada usia 4-18 untuk laki-laki sekitar 34,3% dan untuk perempuan sedikit lebih tinggi yaitu 35,7% dari energi total
2. Asupan lemak jenuh pada usia 4-18 tahun jauh lebih tinggi dari angka yang direkomendasikan (<11%) untuk laki-laki dan perempuan rata-rata 13,5%
3. Asupan sayuran dan buah-buahan rendah (hanya 3 porsi/hari untuk laki-laki dan perempuan). Tapi hanya 7,2% anak perempuan dan 22,1% anak laki-laki yang mencapai rekomendasi tersebut, selebihnya dibawah angka kecukupan.
tersebut. Pada anak usia sekolah biasanya tidak banyak terdapat hambatan dalam pola makan. Peningkatan nafsu makan secara alami menyebabkan peningkatan konsumsi makanan. Anak usia sekolah menghabiskan waktunya seharian disekolah dan bergaul bebas dengan teman sebaya dan gurunya. Secara tidak langsung mereka akan terpengaruh oleh kebiasaan teman sebayanya sendiri sehingga pada usia sekolah ini anak cenderung lebih percaya dengan nasehat atau perkataan teman sebaya ataupun guru sekolahnya dibandingkan dengan orangtuanya sendiri. oleh karena itu kebiasan anak usia sekolah ini dapat dipengaruhi oleh kebiasaan teman-teman sebayanya (Soetardjo, 2011).
2.2 Kegemukan pada Anak Usia Sekolah
2.2.1 Pengertian Kegemukan
11
leher relatif lebih pendek serta perut buncit dengan dinding perut berlipat-lipat (Hariyani, 2011).
2.2.2 Penentuan Status Kegemukan
Keadaan obesitas ditentukan dengan mengklasifikasikan status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang merupakan rumus matematis yang berkaitan dengan lemak tubuh orang dewasa dan ditanyakan sebagai berat badan dalam kilogram dibagi dengan kwadrat tinggi badan dalam ukuran meter (Arisman, 2007).
Rumus Penentuan IMT :
Sedangkan untuk klasifikasi status gizi untuk anak usia sekolah yaitu menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) dimana menilai status gizi dengan cara membandingkan nilai IMT anak dengan IMT pada standar (median) menurut umur anak tersebut. Indeks IMT/U merupakan indikator antropometri yang sensitif memberikan gambaran adanya gangguan pertumbuhan. indeks inipun secara spesifik menunjukan adanya masalah gizi yang bersifat akut (status gizi sekarang) namun tidak untuk menunjukan adanya masalah gizi yang bersifat kronis (status gizi lampau). Kelebihan dari indeks ini adalah dapat mengetahui gambaran adanya risiko kegemukan pada anak (Jahari, 2002).
Tabel 2.2
KLASIFIKASI STATUS GIZI MENURUT IMT/U USIA 5 – 18 TAHUN
Obesitas >2 SD
Gemuk >1 SD sd 2 SD
Normal -2 SD sd <1 SD
Kurus -3 SD sd <-2 SD
Sangat Kurus <-3 SD Sumber : Kemenkes RI, 2010
2.2.3 Faktor Penyebab Kegemukan pada Anak Usia Sekolah
Ada dua faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya kegemukan pada anak, yaitu:
1. Faktor Genetik
13
mengalami kegemukan peluang anak tersebut bisa mencapai 80%. Keluarga tidak hanya berbagi gen tetapi juga pola makan dan gaya hidup yang biasanya mendorong terjadinya kegemukan atau obesitas (Nurachman, 2007).
Menurut Pudjiadi (2000), patogenesis dari kegemukan dan obesitas dapat dibagi dalam dua jenis. Jenis pertama adanya gangguan pada regulatory obesity yang berkaitan dengan pusat yang mengatur masukan makanan. Regulatory obesity merupakan sistem pengntrolan prilaku makan yang terletak pada bagian otak yaitu hippotalamus. Hipotalamus sendiri merupakan kumpulan inti sel dalam otak yang langsung berhubungan dengan bagian-bagian lain di otak dan kelenjar dibawah otak. Pada hipotalamus terdapat dua bagian yang mempengaruhi penyerapan makan yaitu Hipotalamus Literal (HL) yang meningkatkan nafsu makan (pusat makan) dan
Hipotalamus Ventromedial (HVM) yang menurunkan nafsu makan (pusat kenyang). Pada anak kegemukan ada rangsangan di hipotalamus lateral sehingga anak tersebut akan makan dengan rakus sedangkan apabila terjadi perangsangan di inti ventromedialis hipotalamus akan menyebabkan rasa kenyang bahkan menolak untuk makan. Terdapat juga beberapa pusat makan lain yang letaknya berdekatan dengan hipotalamus yang memegang peranan penting dalam pengendalian nafsu makan, yaitu amigdala dan daerah kortek sistem limbik. Jika Hipotalamus Literal rusak atau hancur makan seseorang akan menolak untuk makan dan minum kecuali secara parenteral (infus). Sedangkan jika terjadi pada
Hipotalamus Ventromedial (HVM) makan seseorang akan rakus dan kegemukan (Crement and ferre dalam Nurachman, 2007).
Genetik yang diturunknan merupakan faktor penting dalam berbagai kasus kemegukan dan obesitas namun faktor lingkungan yang justru mengambil andil yang lebih besar sebagai faktor penyebab kegemukan. Lingkungan disini termasuk prilaku atau gaya hidup. Pengaruh faktor lingkungan terutama terjadi melalui ketidakseimbangan antara pola makan, prilaku makan dan aktivitas fisik. Hal ini terutama berkaitan dengan perubahan gaya hidup yang mengarah ke sedentary life style. Yang termasuk faktor lingkungan diantaranya:
a. Pola Aktivitas
15
b. Pola Makan
Selain faktor genetik dan pola aktivitas, pola makan pun sangat berpengaruh besar dalam peningkatan risiko terjadinya kegemukan pada anak. Biasanya anak senang mengonsumsi jajanan yang bernilai kalori tinggi dan berlemak tinggi selain itu asupan buah dan sayur sangat kurang dengan alasan anak tidak menyukai buah dan sayur. Hal inilah masalah terbesar pola makan anak yang menjadi penyebab terjadinya kegemukan pada anak. Orangtua sangat berperan penting dalam membentuk kebiasaan dan pola makan anak-anak mereka. Anak sering kali berperan pasif dan hanya mengonsumsi makanan yang disediakan oleh orangtuanya. Oleh karena itu bila orang tua berperan aktif dalam menggali berbagai informasi mengenai bahan-bahan makanan maupun produk olahan makanan yang aman dan sehat bagi anak.
Pada umumnya variasi makanan yang dimakan anak usia sekolah bertambah, tetapi banyak dari mereka yang tetap menolak sayuran. Anak usia sekolah sangat menyukai makanan jajanan dibanding makanan rumah seperti bakso, siomay, gorengan dan kue-kue manis. Hal ini yang tidak terkontrol oleh orangtua karena biasanya anak jajan pada waktu sekolah. Makanan-makanan tersebut jelas tidak jelas kandungan gizinya. Selain itu, pada anak kurang menyukai makan bersama keluarga mereka lebih memilih makan sambil menonton tv (Hariyani, 2011).
Anak usia sekolah sudah tentu sangat menyukai kue-kue manis yang biasa dimakan di sela-sela waktu luang. Biasanya anak mengonsumsi cemilan minimal 3 kali/hari dimana cemuilan tersebut berkontribusi terhadap 25% asupan energi sehari. Mengemil justru dapat memberikan dampak negatif bagi tubuh karena pada cemilan sangat sarat akan serat, kalsium dan zat besi namut tinggi lemak jenuh dan gula. Hal ini dapat berdampak buruk terhadap kesehatan jika konsumsinya berlebihan. Cemilan yang paling populer dan disukai oleh anak usia sekolah adalah permen, biskuit, gorengan, coklat dll (Hariyani, 2011).
2.2.4 Risiko Kegemukan
17
meningkat. Kegemukan dihubungkan dengan adanya abnormalitas metabolik (dyslipidemia, insulin resisten dan hiperglikemia) dan hipertensi yang meningkatkan penyakit kardiovaskuler.
Kegemukan yang terjadi pada masa anak-anak dapat menyebabkan kelainan bentuk dan ukuran tulang karena pada usia anak-anak merupakan masa-masa pertumbuhan. Kegemukan pun dapat mengakibatkan rasa nyeri pada saat berdiri, berjalan maupun berlari karena memberikan tekanan dan regangan yang lebih besar terutama pada tulang kaki, dibandingkan dengan anak yang mempunyai berat badan normal (Misnardialy, 2007).
Dibawah ini risiko penyakit akibat kegemukan:
a. Hipertensi
Orang dengan kegemukan atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi). Menurut penelitian Wirakusumah (1994) bahwa anak yang mengalami kegemukan mempunyai risiko dua kali lebih besar terserang hipertensi pada usia dewsa dibandingkan anak dengan berat badan normal.
b. Jantung Koroner
Hasil penelitian menyebutkan bahwa dari 500 penderita kegemukan sekitar 88% mendapat risiko terserang penyakit jantung koroner. Penelitian lain juga menunjukan kegemukan yang terjadi pada usia anak-anak ternyata berpengaruh lebih besar terjadinya penyakit jantung dibandingkan kegemukan yang terjadi pada usia lebih tua (Proverawati, 2010).
c. Diabetes Melitus
penderita diabetes untuk mengurangi konsumsi bahan makanan sumber lemak dan lebih banyak mengonsumsi makanan tinggi serat.
d. Gout
Penderita kegemukan mempunayai risiko tinggi terhadap penyakit radang sendi yang lebih serius jika dibandingkan dengan orang dengan berat badan ideal.
e. Batu Empedu
Penderita kegemukan mempunyai risiko terserang batu empedu lebih tinggi karena ketika tubuh mengubah kelebihan lemak makanan menjadi lemak tubuh, cairan empedu lebih banyak diproduksi didalam hati dan disimpan dalam kantong empedu. Penyakit batu empedu lebih sering terjadi pada penderita obesitas tipe buah apel.
f. Kanker
Hasil penelitian menunjukan bahwa laki-laki dengan kegemukan dan obesitas akan berisikoterkena kanker usus besar, rectum dan kelenjar prostat. Sedangkan pada wanita akan berisiko terkena kanker rahim dan kanker payudara.
(Proverawati, 2010)
2.3 HubunganKonsumsi Buah dan Sayur dan Kegemukan
2.3.1 Konsumsi Buah dan Sayur
19
merupakan lanjutan dari bakal buah. Buah-buhan biasanya disantap terakhir dalam suatu acara makan atau dapat dimakan kapan saja untuk mendapatkan rasa manis. Buah biasanya dimakan mentah, tapi dapat pula diolah atau diawetkan (Muchtadi, 2011).
Menurut World Health Organisation (WHO) menganjurkan konsumsi buah dan sayur 400 gram perorang dalam satu hari yang terdiri dari 250 gram sayur ( setara dengan 2 ½ porsi atau 2 ½ gelas sayur yang telah direbus atau ditiriskan) dan 150 gram buah (setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang atau 1 ½ potong pepaya ukuran sedang atau 3 jeruk ukuran sedang). Untuk orang indonesia sendiri menurut Pedoman Gizi Seimbang (2014) anjuran konsumsi buah dan sayur untuk anak balita dan anak sekolah adalah 300-400 gram perhari dan 400-600 gram perhari untuk remaja dan orang dewasa.
menyembuhkan sakit kepala. Sedangkan kandungan karoten dan vitamin C yang terdapat pada buah dan sayur berperan penting sebagai antioksidan untuk mengatasi serangan radikal bebas yang menyebabkan terjadinya kanker. Karena serat pangan yang tinggi baik untuk mencegah sembelit, diabetes melitus, kanker kolon dan tekanan darah tinggi (Padmiari, 2010).
Kandungan zat gizi pada buah dan sayur:
a. Vitamin
21
b. Mineral
Mineral yang banyak terkandung dalam sayur dan buah seperti kalium, magnesium, kalsium dan zat besi. sebagian besar mineral berperan dalam melawan radikal bebas dalam tubuh (sebagai antioksidan) dan berperan sebagi imunitas yang mencegah terjadinya beberapa penyakit infeksi. Kalium sendiri berfungsi sebagai pemelihara keseimbangan cairan dana elektrolit dalam tubuh sehingga jika seseorang kekurangan kalium akan menyebabkan lemah, lesu kehilangan nafsu makan dan konstipasi. Dalam sayuran terutama sayuran hijau banyak mengandung zat besi dimana zat besi berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh dalam bentuk hemoglobin dalam darah. Dengan mengonsumsi sayur dan buah tubuh akan tercukupi beberapa kebutuhan mineralnya. (Almatsier, 2009).
c. Pigmen
Selain itu, dalam buah dan sayuran terdapat empat kelompok pigmen yaitu klorofil, karotenoid, antosianin dan antosantin. Warna hijau sayuran disebabkan oleh pigmen hijau yang disebut klorofil. Pigmen-pigmen tersebut merupakan sebagai antioksidan yang sangat baik tubuh karena seperti dapat menghambat terjadinya flak dalam pembuluh darah, mencegah infeksi, menghambat penuaan dan meremajakan sel-sel tubuh dan sebagai sistem kekebalan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit.
d. Serat
macam jenis karbohidrat seperti selulosa, hemiselulosa, pektin dan non Karbohidrat seperti polimer lignin, beberapa gumi dan mucilage. Karena pada umunya serat merupakan karbohidrat atau polisakarida (Winarno, 1997).
Serat dibagi menjadi dua jenis menurut daya larutnya terhadap air yaitu serat larut air dan serat tidak larut air
1. Serat larut air meliputi pektin, gum dan mucilage. Pektin banyak ditemukan pada buah dan sayur seperti pada apel, jeruk dan wortel. Pengaruh serat larut dalam saluran cerna berhubungan dengan kemampuan mereka untuk menahan air dan membentuk gumpalan gel serta membantu sebagai substrat untuk fermentasi oleh bakteri yang berada diusus besar.
2. Serat ltidak larut air terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin yang banyak terdapat pada beras, gandum, sayuran dan buah-buahan. Lignin adalah semacam material nonkarbohidrat yang termasuk juga dalam serat, yaitu komponen utama pada pohon dan memberikan struktur pada bagian batang tumbuhan. Serat ini memiliki bagian yang sangat kecil untuk dikonsumsi dan paling sering ditemukan pada kulit buah yang dapat dimakan. Serat ini penting untuk memperbesar massa feses (Padmiari, 2010).
2.3.2 Konsumsi Buah dan Sayur dan Kegemukan
23
untuk memperlambat pengosongan lambung dan memperlambat penyerapan usus terhadap glukosa hal ini menyebabkan kondisi manusia yang memberikan rasa kenyang lebih lama. Sebagian serat larut air memiliki sifat hipokolestrolemik yaitu dapat menghambat pencernaan lemak dan penghambatan sintesis kolestrol dalam hati. Selain itu serat tidak larut air memiliki fungsi yang dapat menyerap air dalam kolon, sehingga volume feses menjadi lebih besar dan akan merangsang syaraf rektum untuk memudahkan defekasi (Hamida, 2015).
Tabel 2.3
KANDUNGAN SERAT DALAM 100 GRAM BUAH
No. Bahan Kandungan Serat (gr)
1. Srikaya 0,70
2. Belimbing 0.90
3. Jambu biji 5.60
4. Nanas besar 5.64
5. Jeruk 6.07
6. Pisang ambon 7.48
7. Pepaya 8.85
8. Pisang Raja Bulu 10,34
9. Apel Manalagi 23.17
Sumber: Pusat Penelitian & Pengembangan Gizi, Bogor
Tabel 2.4
KANDUNGAN SERAT DALAM 100 GRAM SAYUR
No. Bahan Kandungan serat (gr)
1. Brokoli 0.5
2. Tauge 0.7
3. Bayam (daun) 0.8
4. Wortel 0,9
5. Daun kangkung 1.0
6. Tomat 1.2
7. Daun Singkong 1.2
8. Buncis 1.2
9. Jamur 1.2
10. Kacang Panjang 2.5
25
Beberapa manfaat serat pada buah dan sayur menurut Siti Hamida (2015):
A. Karena serat mengandung rendah energi maka dapat membuat menu makanan menjadi lebih rendah kalori
B. Makanan untuk program penurunan berat badan. Serat dapat menumbuhkan rasa kenyang jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup sehingga dapat mencegah konsumsi makanan lainnya
C. Serat dalam usus dapat mengikat glukosa, maka serat memiliki fungsi memberikan efek hipoglikemik yaitu memberi efek pada penurunan gula darah sehingga cocok untuk penderita Diabetes Melitus.
D. Konsumsi serat yang tinggi akan menyebabkan sekresi asam empedu lebih banyak mengeluarkan kolestrol dan lemak melalui feses. Hal ini sangat membantu bagi orang mengonsumsi makanan tinggi lemak dan kolestrol .
E. Serat dapat mencegah penyerapan kembali asasm empedu, lemak dan kolestrol dan memberikan efek hipoglikemik sehingga bermanfaat bagi diet hipokolestrolemik. Keadaan ini dapat mengurangi risiko terkena penyakit jantung koroner.
2.4 Survei Konsumsi Pangan
Survei penilaian konsumsi makanan adalah salah satu metode yang digunakan dalam penentuan status gizi perorangan dan kelompok secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Tujuan dari survei konsumsi pangan adalah untuk mengetahui kebiasaan makan dan menggambarkan tingkat kecukupan bahan makanan yang dikonsumsi dalam tingkat kelompok, rumah tangga, dan perorangan serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap survei konsumsi pangan (Supariasa, 2002).
Mengukur konsumsi makanan pada tingkat individu adalah cara menilai konsumsi makanan yang digunakan untuk mengetahui kebiasaan makan dan asupan gizi pada individu. Pengukuran konsumsi makanan pada individu dibedakan menjadi dua yaitu metoda kuantitatif dan kualitatif. Metoda kuantitatif digunakan untuk memperoleh data kuantitatif dimana data jumlah makanan yang dikonsumsi dapat dihitung asupan gizi perharinya sehingga dapat diketahui jumlah asupan zat gizi yang dikonsumsi individu. Yang termasuk metode kuantitatif ini diantaranya metode Recall 24 jam,
Estimated Food record dan Food Weighing. Metoda kualitatif yaitu metoda yang digunakan untuk menghasilkan data konsumsi kualitatif dimana hanya menggambarkan pola dan kebiasaan makan individu. Makanan yang dikonsumsi diukur menurut frekuensi konsumsi setiap jenis makanan. metode kualitatif ini diantaranya Food Frequency dan
Dietary History (Gibson, 2005).
27
frekuensi makanan dibedakan menjadi dua yaitu metode frekuensi makanan kualitatif (Food Frequency Questionnaire) dan metode frekuensi makanan semi kuantitatif (Semiquantitative Food Frequency Questionnaire).
2.4.1SemiquantitativeFood Frequency Questionnaire (SFFQ)
Semiquantitative Food Frequency Questionnaire (SFFQ) merupakan metode survei konsumsi makanan yang tergolong pada metoda semi kuantitatif karena pengukurannya tidak hanya menekankan pada frekuensi makan namun juga dapat digunakan untuk mengetahui secara kuantitatif berapa banyak bahan makanan yang dikonsumsi. Konsumsi makanan yang ditanyakan adalah yang spesifik untuk zat gizi tertentu, makanan tertentu atau kelompok makanan tertentu. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara wawancara langsung atau dengan responden sendiri yang memberikan tanda pada kuisioner. Kuisioner yang digunakan hanya memuat daftar sejumlah bahan makanan atau makanan dan frekuensi yang sering dikonsumsi oleh responden serta daftar makanan disesuaikan dengan tujuan pengumpulan data. Setelah mendapatkan data dilakukan pengolahan data untuk mengetahui pola dan kebiasaan makan individu tersebut dalam kurun waktu
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep
Kegemukan merupakan kelebihan berat badan sebagai akibat penimbunan lemak yang berlebihan. Kegemukan dapat diakibatkan oleh interaksi faktor lingkungan (asupan makanan dan faktor aktivitas) dan faktor genetis. Sebagian besar kejadian kegemukan pada anak disebabkan oleh faktor lingkungan yaitu asupan makanan. Salah satu asupan makanan yang berpengaruh terhadap kejadian kegemukan pada anak sekolah adalah kurangnya konsumsi sayuran dan buah.
Untuk lebih memperjelas mengenai hubungan konsumsi buah dan sayur dan kegemukan dapat dilihat pada kerangka konsep dibawah ini:
Gambar 3.1 KERANGKA KONSEP
HUBUNGAN KONSUMSI BUAH, SAYUR DAN KEGEMUKAN PADA SISWA KELAS 5 DI SD ISLAM DARUL HIKAM BANDUNG
Keterangan:
Variabel Independen : Konsumsi Buah
Konsumsi Sayur
Variabel Dependen : Kegemukan Konsumsi buah
Kegemukan
29
3.2 Hipotesis
1. Sampel dengan konsumsi buah kurang berisiko mengalami kegemukan.
2. Sampel dengan konsumsi sayur kurang berisiko mengalami kegemukan
3.3 Definisi Operasional
3.3.1 Konsumsi Buah
Rata-rata konsumsi buah perhari yang dikonsumsi oleh responden dalam kurun waktu sebulan terakhir yang dinyatakan dalam satuan gram dengan menggunakan metode SFFQ dan menggunakan alat bantu food model.
Cara Ukur : Wawancara
Alat ukur :Form Semiquantitative Food Frequency Questionnaire (SFFQ)
Hasil ukur :
1. Kurang, bila konsumsi buah <100gram/hari 2. Cukup, bila konsumsi buah ≥100 gram/hari (Pedoman Gizi Seimbang 2014)
Skala : Ordinal
3.3.2 Konsumsi Sayur
Rata-rata konsumsi sayur perhari yang dikonsumsi oleh responden dalam kurun waktu sebulan terakhir yang dinyatakan dalam satuan gram dengan menggunakan metode SFFQ dan menggunakan alat bantu food model.
Cara Ukur : Wawancara
Hasil ukur :
1. Kurang, bila konsumsi sayur <200 gram/hari 2. Cukup, bila konsumsi sayur ≥200 gram/hari (Pedoman Gizi Seimbang 2014)
Skala : Ordinal
3.3.3 Kegemukan
Kegemukan merupakan status gizi yang menunjukan adanya kelebihan asupan energi dibandingkan dengan kebutuhan dilihat dari pengukuran berat badan dan tinggi badan yang dikonversi menjadi Indeks Massa Tubuh menurut umur.
Cara ukur : Pengukuran Berat badan dan Tinggi badan Alat ukur : Antropometri
Hasil ukur :
1. Gemuk, Jika nilai z-score Indeks Massa Tubuh menurut umur >1 SD
2. Normal, Jika nilai z-score Indeks Massa Tubuh menurut umur ≤ 1 SD
(Kemenkes RI, 2010) Skala : Ordinal
31
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cross Sectional dimana dalam pengumpulan data antara variabel independen dan variabel dependen dilakukan secara bersamaan satu kali pada waktu tertentu.
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
4.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di salah satu SD di Kota Bandung yaitu SD Islam Darul Hikam yang terletak di jl. Ir. Djuanda no. 285 Bandung tepatnya didaerah Dago Atas.
4.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2016 hingga bulan April 2016.
4.3 Populasi dan Sampel
Populasi dalam Penelitian ini adalah anak kelas 5 SD Islam Darul Hikam Bandung. Sampel yang didapat dari jumlah sampel minimal dari populasi dengan perhitungan sebagai berikut:
n =
=
=
= 40,8 = 41 sampel Diketahui :
n : Besar sampel
Z1-a = simpangan rata-rata distribusi standar normal pada derajat kemaknaan 95% (1,96)
d : Tingkat kepercayaan ketepatan yang diinginkan 10% P : Prevalensi kegemukan di kota Bandung (12,1%)
Jumlah sampel minimal berdasarkan perhitungan diatas diperoleh sebanyak 41 orang.
4.4 Jenis dan Cara Pengumpulan Data
4.4.1 Data Primer
a. Data karakteristik yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh dengan cara wawancara seperti data identitas sampel meliputi nama, jenis kelamin dan umur.
b. Data konsumsi buah dan sayur diperoleh dari wawancara dengan menggunakan Form Semiquantitative Food Frequency Questionnaire (SFFQ), dengan bantuan food model sebagai alat bantu untuk memudahkan sampel dalam memperkirakan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi selama satu bulan terakhir.
33
1.4.2 Data Sekunder
Data sekunder mengenai gambaran umum sekolah diambil dari profil sekolah.
4.5 Pengolahan dan Analisis Data
4.5.1 Pengolahan Data
a. Data jenis kelamin yang diperoleh dikategorikan menjadi: 1. Laki-laki
2. Perempuan
b. Data konsumsi buah diperoleh kemudian diterjemahkan kedalam satuan gram dan dirata-ratakan menjadi asupan sehari.
Hasil konsumsi sehari yang dikategorikan: 1. Kurang, bila konsumsi buah <100gram/hari 2. Cukup, bila konsumsi buah ≥100 gram/hari (Pedoman Gizi Seimbang, 2014)
c. Data konsumsi sayur diperoleh kemudian diterjemahkan kedalam satuan gram dan dirata-ratakan menjadi asupan sehari. Hasil konsumsi sehari yang dikategorikan:
1. Kurang, bila konsumsi sayur<200 gram/hari 2. Cukup, bila konsumsi sayur ≥200 gram/hari (Pedoman Gizi Seimbang, 2014)
d. Data kegemukan diperoleh dari data tinggi badan dan berat badan yang diukur secara langsung. Kemudian diolah menggunakan program WHO Antroplus dengan memasukan data Berat badan, tinggi badan dan tanggal lahir. Hasil dikategorikan menjadi:
4.5.2 Analisis Data
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menyajikan data secara deskriptif, dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Analisis ini dilakukan terhadap data jenis kelamin, konsumsi buah dan konsumsi sayur serta data status kegemukan.
b. Analisis Bivariat
35
dengan menggunakan Fisher Exact Test dengan rumus sebagai berikut :
P =
Keterangan :
P = Probabilias / peluang yang diharapkan A + B = Jumlah nilai baris ke-1
C + D = Jumlah nilai baris ke-2 A + C = Jumlah nilai baris ke-3 B + D = Jumlah nilai baris ke-4 Kriteria Uji :
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian
SD Islam Darul Hikam merupakan sekolah dasar swasta dibawah naungan yayasan Darul Hikam yang berkedudukan di jl. Ir. Djuanda no. 285 Bandung tepatnya didaerah Dago Atas. Rata-rata siswa yang bersekolah di SD tersebut mempunyai sosial ekonomi menengah keatas. SD Darul Hikam sudah menerapkan kurikulum 2013 dengan tambahan kurikulum sendiri yang melibatkan akhlak dan spiritual seperti pembiasaan shalat berjamaah, membaca Al-Quran, hafalan hadist dan doa-doa harian.
Dalam satu angkatan sekitar 80-100 murid yang dibagi menjadi 4 kelas, dimana satu kelas dua orang guru yaitu wali kelas dan guru pendamping. Jam belajar di SD tersebut untuk kelas 1 dan 2 mulai pukul 07.00 hingga pukul 13.45 WIB. Kelas 3 sampai kelas 6 yaitu mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 14.30 WIB. SD Darul Hikam menyediakan catering makan siang bagi para murid yang ingin makan siang disekolah. Sehingga tidak semua siswa makan siang dengan jasa catering tersebut. Menu makan siang yang dihidangkan yaitu nasi, lauk hewani, lauk nabati, sayur dan buah. Disamping itu terdapat kantin sekolah bagi para murid yang ingin membeli makanan ringan dan disekitar sekolah terdapat banyak pedagang jajanan dan banyak siswa yang jajan diluar pada waktu istirahat.
masing-37
masingseperti pramuka, paskibra, olahraga dan kegiatan agama. Adapun UKS menjadi unit kesehatan sekolah yang melayani masalah kesehatan yang terjadi pada siswa. Kegiatan yang dilakukan oleh pengurus UKS hanya sebatas pengobatan jika ada siswa yang sakit atau terjadi kecelakaan kecil di Sekolah. Kegiatan lain seperti penyuluhan kesehatan dan penyuluhan gizi belum pernah dilakukan sehubungan dengan kurangnya tenaga UKS.
5.2 Gambaran Karakteristik Sampel
Gambaran karakteristik sampel meliputi jenis kelamin, data konsumsi buah, data konsumsi sayur dan status kegemukan.
5.2.1 Jenis Kelamin
Jenis kelamin sampel siswa SD Islam Darul Hikam dapat dilihat pada tabel 5.1
TABEL 5.1
DISTRIBUSI SAMPEL BERDASARKAN JENIS KELAMIN PADA SISWA KELAS 5 SD ISLAM DARUL HIKAM
Kategori n %
Laki-laki 23 51,1
Perempuan 22 48,9
Total 45 100,0
5.2.2 Konsumsi Buah
Data distribusi frekuensi sampel berdasarkan konsumsi buah siswa SD Islam Darul Hikam dapat dilihat pada tabel 5.2
TABEL 5.2
DISTRIBUSI SAMPEL BERDASARKAN KONSUMSI BUAH SISWA KELAS 5 SD ISLAM DARUL HIKAM BANDUNG
Konsumsi Buah n %
Kurang 11 24,4
Cukup 34 75,4
Total 45 100,0
Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa dari 45 sampel terdapat 11 orang (24,4%) orang sampel kurang mengonsumsi buah dan 34 orang (75,4%) sampel mengonsumsi cukup buah. Rata-rata konsumsi buah sampel yang cukup mengonsumsi buah yaitu 312,14 gram dan rata-rata konsumsi buah sampel yang kurang yaitu 65,22 gram. Untuk rata-rata-rata-rata konsumsi buah seluruh sampel yaitu 247,4 gram, jika dibandingkan dengan konsumsi buah yang dianjurkan menurut PGS 2014 yaitu 150 gram sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata konsumsi buah sampel sudah memenuhi anjuran (Kemenkes RI, 2014).
39
anak usia 10-13 tahun adalah 28-30 gram. Kebutuhan serat lainnya kemungkinan dipenuhi dari berbagai sumber serat seperti sayur, umbi-umbian dan kacang-kacangan.
Data konsumsi buah tersebut didapatkan dari hasil wawancara dengan menggunakan metode SFFQ. Dari hasil wawancara tersebut sebagian besar sampel yang cukup mengonsumsi buah dengan frekuensi konsumsi 2-3x/hari. Mayoritas sampel mengonsumsi buah pisang (1-3 buah/ hari), jeruk (1-3 buah/ hari) dan apel (1x/hari). Dalam penyelenggaraan makan disekolah sampel diberi buah 3x/minggu dengan jenis buah jeruk dan semangka. Selain buah potong, sampel mengonsumsi buah dalam bentuk jus baik yang jus yang dijual disekitaran sekolah maupun jus yang buat dirumah. Jus yang sering dikonsumsi oleh siswa seperti jus strawberry, jus mangga, jus alpukat dan jus jambu biji.
Buah merupakan sumber serat dan zat gizi yang penting bagi kesehatan. Buah memiliki kandungan energi, lemak dan natrium yang rendah serta memiliki kandungan vitamin C, karotenoid, folat dan serat makanan yang tinggi. Dari kandungan antioksidan yang tinggi tersebut buah dapat mencegah dari berbagai penyakit degeneratif. Beberapa penelitian epidemiologi menunjukan bahwa orang yang mengonsumsi buah dengan jumlah diatas rata-rata mempunyai tingkat risiko penyakit jantung, stroke dan kanker dibawah rata-rata. Selain itu rendahnya kandungan energi dan lemak pada buah berfungsi sebagai pencegah kegemukan dan sebagai pengontrol berat badan (Stewart, 2014).
5.2.3 Konsumsi Sayur
TABEL 5.3
DISTRIBUSI SAMPEL BERDASARKAN KONSUMSI SAYUR SISWA KELAS 5 SD ISLAM DARUL HIKAM BANDUNG
Kategori n %
Kurang 39 86,7
Cukup 6 13,3
Total 45 100,0
Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui bahwa dari 45 sampel terdapat 39 orang (86,7%) orang sampel kurang mengonsumsi sayur dan 6 orang (13,3%) sampel mengonsumsi cukup sayur. Rata-rata konsumsi sayur sampel yang cukup mengonsumsi sayur yaitu 309,65 gram dan rata-rata konsumsi sayur sampel yang kurang yaitu 68,21 gram. Untuk rata-rata konsumsi sayur seluruh sampel yaitu 100,4 gram, jika dibandingkan dengan anjuran menurut PGS 2014 sebanyak 250 gram konsumsi sayur sampel belum memenuhi anjuran (Kemenkes RI, 2014). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari FAO yang mengatakan bahwa konsumsi sayur di Indonesia hanya mencapai 101 gr/hari.
41
Kebutuhan serat lainnya kemungkinan dipenuhi dari berbagai sumber serat seperti sayur, umbi-umbian dan kacang-kacangan.
Dari hasil wawancara SFFQ tersebut sebagian sampel dengan konsumsi sayuran kurang mengonsumsi sayuran terutama sayuran hijau. Rata-rata konsumsi sayur sampel 3-4x seminggu dengan konsumsi sayur hanya 50-100 gram. Sebagian besar sampel mengatakan kurang menyukai sayuran terutama pada sayuran hijau. Sayur yang biasanya dikonsumsi diantaranya wortel, buncis dan labu siam dengan olahan capcai dan sayur sup. Untuk kelompok konsumsi sayur yang cukup rata-rata mengonsumsi sayur 2-3x perhari dengan jumlah 50-100 gram. Rata-rata sayur yang sering dikonsumsi adalah bayam, kangkung, wortel, kacang panjang, ketimun dan labu siam. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh orangtua sampel dirumah tidak selalu menyediakan sayur dalam menu hidangan makan sehari. Hal ini dapat menjadi salah satu penyebab sampel kurang mengonsumsi sayur dan tidak biasa dalam mengonsumsi sayur.
Konsumsi sayur setiap hari sangat diperlukan karena mengandung banyak zat gizi yang sangat bermanfaat untuk kesehatan seperti magnesium, kalium dan serat serta mempunyai kandungan lemak, energi, natrium yang rendah dan bebas kolestrol secara alami. Sayuran merupakan sumber serat yang baik karena terdapat serat yang larut air (pektin) dan serat yang tidak larut air seperti selulosa. Sayur dengan warna hijau mempunyai kandungan air yang sangat tinggi, kandungan energi yang rendah serta mikronutrien yang relatif tinggi. Dengan demikian sangat efektif digunakan dalam pengontrolan berat badan dan mencegah kegemukan (Yuliarti, 2008).
5.2.4 Kegemukan
Data distribusi frekuensi sampel berdasarkan Kegemukan siswa SD Islam Darul Hikam dapat dilihat pada tabel 5.4
TABEL 5.4
DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL BERDASARKAN STATUS KEGEMUKAN SISWA KELAS 5 SD ISLAM DARUL HIKAM BANDUNG
Kategori n %
Gemuk 21 46,7
Normal 24 53,3
Total 45 100,0
43
Hasil tersebut sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wisarani (2009) pada siswa SD Islam Annajah Jakarta dengan hasil 44,8% siswa SD tersebut mengalami kegemukan dan 55,2% tidak mengalami kegemukan. Dari hasil penelitian tersebut dapat dilihat bahwa persentase siswa yang mengalami kegemukan lebih kecil dari siswa yang tidak mengalami kegemukan sama halnya dengan hasil penelitian ini.
Kegemukan disebabkan oleh banyak faktor antara lain pola makan yang berlebihan terutama asupan energi dan lemak, kurangnya asupan serat, faktor genetik, kurangnya aktifitas fisik dan faktor lingkungan. Kegemukan dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak biasanya terjadi menjelang anak memasuki usia remaja hal ini karena pertumbuhan dan perkembangan anak lebih cepat sehingga berat badan meningkat dengan pesat. Kegemukan yang mulai timbul pada anak kemudian berlanjut sampai dewasa, akan lebih susah diatasi hal ini karena faktor penyebab yang sudah menahun dan sel-sel lemak yang telah bertambah banyak. Kegemukan akan menjadi faktor risiko terjadinya penyakit degeneratif pada masa dewasa seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, hipertensi dan berbagai jenis kanker (Cahyono, 2008).
5.3 Analisis Bivariat
5.3.1 Hubungan Konsumsi Buah dengan Kegemukan
Data distribusi frekuensi Hubungan Konsumsi buah dan Kegemukan siswa SD Islam Darul Hikam dapat dilihat pada tabel 5.5
TABEL 5.5
DISTRIBUSI FREKUENSI HUBUNGAN KONSUMSI BUAH DAN KEGEMUKAN PADA SISWA KELAS 5 SD ISLAM DARUL HIKAM
45
Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ratu Ayu (2011) dimana meneliti faktor risiko kegemukan pada anak 5-15 tahun di Indonesia dengan hasil tidak adanya hubungan antara konsumsi buah dengan kegemukan (p=0,092). Pada penelitian tersebut dikatakan bahwa anak yang mengonsumsi buah <3porsi/hari sebanyak 7,1% mengalami kegemukan dan 92,9% tidak mengalami kegemukan. Penelitian lain yang sejalan yaitu penelitian tentang Faktor Risiko Obesitas pada anak SD Insan Kamil Kota bogor oleh Pramuditha (2011) dengan hasil tidak adanya hubungan frekuensi konsumsi buah dengan Obesitas (p 0,736).
Konsumsi buah yang cukup seharusnya dapat mencegah dari kegemukan, namun ada beberapa sampel dengan konsumsi cukup buah namun mengalami kegemukan. hal ini dapat disebabkan karena konsumsi buah dalam bentuk lain seperti jus. Dari hasil wawancara SFFQ sampel mengatakan selain mengonsumsi buah potong juga mengonsumsi buah dalam bentuk jus. Sebagian besar jus buah diperoleh dari penjual jus diarea sekolah dengan rata-rata sampel mengonsumsi jus 2-4x seminggu. Ketidak ada hubungan antara konsumsi buah dengan kegemukan salah satunya dapat disebabkan oleh konsumsi buah dalam bentuk jus hal ini dikarenakan dalam jus diberi penambahan gula sekitar 1-2 penukar. Dengan demikian buah yang awalnya rendah energi menjadi tinggi energi dengan penambahan gula. Selain itu adanya faktor lain yang menyebabkan kegemukan yang tidak diteliti seperti adanya riwayat kegemukan di keluarga, faktor aktifitas fisik, asupan lemak dan asupan energi.
merupakan pektin berguna untuk memperlambat pengosongan lambung dan memperlambat penyerapan usus terhadap glukosa hal ini menyebabkan kondisi manusia yang memberikan rasa kenyang lebih lama. Hal tersebut dapat meminimalisir anak dalam mengonsumsi makanan lain yang tinggi kalori sehingga dapt mencegah dari kegemukan (Padmiari, 2010).
Buah pun selain mengandung tinggi serat juga mengandung beberapa zat gizi yang penting bagi kesehatan. Buah merupakan sumber vitamin dan mineral seperti vitamin A (Beta-karoten), Vit. C, Vit. E, magnesium, zinc, fospor dan asam folat. Kandungan antioksidan pada buah dapat menetralisir radikal bebas dalam tubuh sehngga dapat mencegah dari bebrapa penyakit seperti penyakit jantung koroner dan kanker. Rendahnya kandungan kolesrtol dan lemak pada buah pun menjadi salah satu cara dalam mengurangi risiko penyakit degeneratif. Pigmen dalam buah sama halnya mempunyai berbagai manfaat bagi kesehatan seperti karotenoid pada buah berwarna orange dan kuning sangat berperan pada kesehatan mata dan merupakan sumber antioksidan yang tinggi (Juwaeriah, 2013).
Dengan demikian pentingnya konsumsi buah pada anak selain dapat mencegah dari kegemukan juga dapat menjaga kesehatan anak untuk masa yang akan datang.
5.3.2 Hubungan Konsumsi Sayur dengan Kegemukan
47
TABEL 5.6
DISTRIBUSI FREKUENSI HUBUNGAN KONSUMSI SAYUR DAN KEGEMUKAN PADA SISWA KELAS 5 SD ISLAM DARUL HIKAM
BANDUNG tersebut diantaranya dari 6 orang sampel yang memiliki konsumsi sayur yang cukup diantaranya tidak ada yang berstatus gizi gemuk dan 6 orang (13,3%) berstatus gizi normal. Sedangkan pada sampel dengan konsumsi sayur kurang (39 orang) sebanyak 21 orang (46,7%) berstatus gizi gemuk dan 18 orang (40%) berstatus gizi normal. Hasil uji statistik menggunakan Chi-Square ditemukan nilai harapan < 5 pada > 20% dari total sel maka menggunakan Fisher Exact Test dan menunjukan adanya hubungan dengan kegemukan (p=0,023).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2013) terhadap perilaku konsumsi buah dan sayur pada anak kegemukan didapatkan hasil bahwa rata-rata dalam satu hari anak yang kegemukan hanya mengonsumsi satu porsi sayur (32,3%) dan 38,7% anak tidak mengonsumsi sayur. Dari penelitian tersebut pun diketahui bahwa 64,5% anak kegemukan menyukai daging dan 93,5% menyukai fast food.
Sayur merupakan sumber serat yang paling baik karena selain mengandung serat makanan dan juga serat kasar (Crude Fiber) yang tinggi. Bahan makanan dengan kandungan serat kasar yang tinggi memiliki kandungan energi, gula dan lemak yang lebih rendah dari sumber serat lain dengan demikian sayur lebih efektif dalam mengurangi risiko terjadinya kegemukan dan obesitas. Serat dalam sayur dapat menyerap air dalam kolon, sehingga volume feses menjadi lebih besar dan akan merangsang syaraf rektum untuk memudahkan defekasi. Serat larut air yang terdapat dalam buah dan sayur berguna untuk memperlambat pengosongan lambung dan memperlambat penyerapan usus terhadap glukosa hal ini memberikan rasa kenyang lebih lamasehingga dapat mencegah konsumsi makanan lainnya. Sebagian serat larut air memiliki sifat hipokolestrolemik yaitu dapat menghambat pencernaan lemak dan penghambatan sintesis kolestrol dalam hati (Hamida, 2015).
49
Selain serat, sayur kaya akan kadar mineral-mineral lain seperti zat besi, asam folat, mangan, magnesium dan kalium. Tingginya kandungan mineral pada sayur berfungsi sebagai zat pengatur, pertumbuhan, pemeliharaan, dan pengganti sel-sel tubuh manusia. Sama halnya dengan buah, sayuran merupakan sumber antioksidan yang berasal dari pigmen pada sayur yang baik bagi kesehatan.
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
6.1.1 Jumlah Jenis kelamin sampel seimbang antara laki-laki dan perempuan.Sampel laki-laki sebanyak 23 orang (51,1%) dan sampel perempuan sebanyak 22 orang (48,9%).
6.1.2 Sampel yang tidak mengalami kegemukan yaitu sebanyak 24 orang (53,3%) lebih besar dari Sampel yang mengalami kegemukan sebanyak 21 orang (46,7%).
6.1.3 Sampel dengan konsumsi buah cukup yaitu sebanyak 34 orang (75,4%) lebih besar dari pada sampel dengan konsumsi buah kurang yaitu sebanyak 11 orang (24,4%).
6.1.4 Sampel dengan konsumsi sayur cukup yaitu sebanyak 6 orang (13,3%) lebih kecil dari sampel dengan konsumsi sayur kurang yaitu sebanyak 39 orang (86,7%)
6.1.5 Hasil uji statistik menunjukan tidak adanya hubungan antatra konsumsi buah dengan kegemukan p= 0,100 (p>0,05)
6.1.6 Hasil uji statistik menunjukan adanya hubungan antara konsumsi sayur dengan kegemukan p=0,023 (p<0,05)
6.2 Saran
6.2.1 Untuk memenuhi kebutuhan akan konsumsi buah sebaiknya untuk makan siang yang disediakan sekolah, buah disediakan setiap hari dengan jenis yang bervasiasi.
51
pengetahuan mengenai konsumsi buah dan sayur untuk meningkatkan pengetahuan siswa.
6.2.3 Konsumsi buah dalam bentuk jus, lebih baik dan sehat tanpa penambahan gula namun dapat diganti dengan madu.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama.
Almatsier, Sunita., Soetardjo, S.,Soekarti, M. 2011. Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Arisman. 2007. Buku Ajar Ilmu Gizi: Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Cahyono, S.B. 2008. Gaya Hidup dan Penyakit Modern. Yogyakarta: Kanisius.
Danusukarto, Sukotjo. 1988. Penyakit Anak Pencegahan dan Perawatannya. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Dewi, Yessica. 2013. Studi Deskriptif: Presepsi dan Prilaku Makan Buah dan Sayuran Pada Anak Obesitas dan Orang Tua. Volume 2 No. 1.
Universtas Surabaya.
http://journal.ubaya.ac.id/index.php/jimus/article/viewFile/205/181 (14 September 2015 13:01)
Gandy, Joan Webster et al. 2002. Gizi dan Dietetika.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Gibson, R. 2005. Principles of Nutritional AssesmentSecond Edition.Oxford University; New York.
Hamidah, Siti. 2015. Sayuran dan Buah serta Manfaatnya bagi Kesehatan. Universitas Negeri Surabaya.
53
Istiany, Ari & Rusilanti. 2013. Gizi Terapan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Jahari, A. 2004. Penilaian Status Gizi berdasarkan Antropometri. Bogor : Puslitbang Gizi dan Makanan.
Juwaeriah. 2012. Gambaran Pola Konsumsi Sayur dan Buah Terhadap Kejadian Obesitas pada Siswa SMP Islam Athirah 1 Kajaolalido Makasar Tahun 2012. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin.
Kementrian Kesehatan RI. Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar 2010, Provinsi Jawa Barat. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI, Jakarta.
Kementrian Kesehatan RI. (2011). Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Kegemukan dan Obesitas pada Anak Sekolah.
Direktorat Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI, Jakarta
Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI, Jakarta.
Kementrian Kesehatan RI. (2014). Pedoman Gizi Seimbang. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI, Jakarta.
Kementrian Kesehatan RI. Buku 2: Riskesdas Dalam Angka Provinsi Jawa Barat 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI, Jakarta
Misnadiarly, 2007. Obesitas sebagai Faktor Risiko terhadap Beberapa Penyakit. Jakarta: Pustaka Obor Populer.
Muctadi, Tien R. Dkk. 2011. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bandung: PT. Alfabeta,
Muhilal, D. Damayanti, Soekirman. 2006. Hidup Sehat Gizi Seimbang dalam Siklus Kehidupan . Jakarta: PT. Primamedia Pustaka.
Notoatmodjo, Soekidjo et al. 2007. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipat.
Nurachman. 2007. Obesitas dikalangan Anak-Anak dan Dampaknya terhadap Penyakit Kardiovaskuler. Universitas Muhammadiyah Semarang
Padmiari, Ida Ayu Eka. 2010. Manfaat Buah-buahan dan Sayur-sayuran.
Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar
Pramuditha, Riksa Aditya. 2011. Faktor Risiko Obesitas Pada Anak Usia Sekolah di SD Insan Kamil Kota Bogor. Institut Pertanian Bogor Proverawati, Atikah & Wati. Erna Kusuma 2010.Ilmu Gizi untuk
Keperawatan & Gizi Kesehatan,Bantul : PT. Nuha Medika.
Pudjiadi, Solihin. 2000. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Sartika, Ratu Ayu. 2011. Faktor Risiko Obesitas pada Anak Usia 5-15 Tahun di Indonesia. Volume 15 No.1. Universitas Indonesia.
Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
55
Sriwahyuni. 2013. Pola Konsumsi Buah dan Sayur serta Asupan Zat Gizi Makro dan Serat Pada Anak di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan.
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin Makasar.
Wisarani. 2009. Hubungan antara Aktivitas Fisik, Kebiasaan Konsumsi Serat dan Faktor Lain dengan Kejadian Oobesitas pada Siswa SD Islam Annajah Jakarta tahun 2009. Fakultas Kesehatan Masyarakat UI; Jakarta
Winarno, FG. 1984. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Lampiran 1
NASKAH PENJELASAN PENELITIAN
HUBUNGAN KONSUMSI BUAH DAN SAYUR DENGAN KEGEMUKAN PADA SISWA KELAS 5 DI SD ISLAM DARUL HIKAM
Saya Lugina Rizky Khaerunisa, mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Bandung, Program Diploma III, akan melakukan penelitian mengenai Hubungan Konsumsi Buah dan sayur dengan Kegemukan pada Siswa Kelas 5 di SD Islam Darul Hikam Bandung. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara konsumsi buah dan sayur dengan kegemukan pada anak usia sekolah.
Penelitian ini akan memerlukan waktu sekitar 30 menit meliputi wawancara identitas diri, pengukuran tinggi badan dan berat badan serta wawancara konsumsi buah dan sayur yang dikonsumsi selama satu bulan terakhir. Adapun sasaran dari penelitian ini adalah siswa siswi kelas 5 SD Islam Darul Hikam .
Manfaat langsung dari penelitian ini adalah responden mengetahui status gizinya apakah termasuk kegemukan atau tidak dan responden dapat mengetahui konsumsi buah dan sayur selama sebulan apakah sudah memenuhi kebutuhan atau belum. Setelah melakukan wawancara, responden akan menerima kompensasi berupa bingkisan sebagai ungkapan rasa terima kasih.
57
Lampiran 2
SURAT PERNYATAAN
KESEDIAAN MENGIKUTI PENELITIAN
Saya orangtua dari siswa SD Isam Darul HIkam, telah mendapatkan penjelasan mengenai penelitian “Hubungan konsumsi buah, sayur dan kegemukan pada siswa kelas 5 di SD Islam Darul Hikam”, oleh karena itu saya mengizinkan anak saya:
Nama : ...
Kelas : ...
Alamat : ...
No. Tlp : ...
menjadi responden dalam penelitian tersebut dengan memberikan informasi yang diperlukan sebagai berikut :
1. Identitas Diri
2. Data Tinggi badan dan Berat badan
3. Data konsumsi buah dan sayur satu bulan terakhir
Demikian pernyataan ini saya buat untuk digunakan sebagaimana mestinya.
Bandung, ... 2016
Orangtua