• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

26

BAB III

METODE PENELITIAN

1.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Kemmis (dalam Rochiati, 2008) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk inkuiri reflektif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu (termasuk pendidikan). Hopkins (Trianto, 2010) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas sebagai suatu studi yang sistematis (penelitian) yang dilakukan oleh pelaku pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran melalui tindakan yang terencana dan dampak dari tindakan (aksi) yang telah dilakukan.

Dalam pelaksanaan penelitian ini, ketika mengajar di kelas, penulis menggunakan model pembelajaran kooperatif, yang didasarkan oleh metode PTK dimana pembelajaran kooperatif akan dilakukan berdasarkan siklus seperti dalam jenis penelitian PTK.

1.2 Stting dan Karakteristik Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas 5 SDN Kalibeji 01 Tuntang.

Mata pelajaran yang akan diujikan adalah mata pelajaran IPA, dengan materi gaya dan pengaruhnya. Subyek penelitian dalam peneltian tindakan kelas ini adalah siswa SD kelas 5 Sekolah Dasar Negeri Kalibeji 01 Tuntang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Mei 2013. Satu bulan tahap pelaksanaan/tindakan dan satu bulan tahap penyusunan. Pada tahap pelaksanaan terdiri dari dua siklus yaitu siklus I dan siklus II.

1.2.1 Tempat dan waktu penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas 5 SDN Kalibeji 01 Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, semester II tahun pelajaran 2012/2013.

(2)

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei semester II tahun pelajaran 2012/2013.

1.3 Varibel Penelitian dan Definisi Operasional Penelitian 1.3.1 Variabel Penelitian

Ada dua variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas atau variabel independen, dan variabel terikat atau variabel dependen. Variabel tersebut adalah sebagai berikut:

a. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi variabel yang lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode cooperative learning tipe TGT (X).

b. Variabel terikat adalah merupakan variabel yang dipengaruhi karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPA pada materi gaya dan Pengaruhnya (Y).

1.3.2 Definisi Operasional Penelitian

Cooperative Learning Tipe TGT adalah salah satu dari beberapa jenis pembelajaran kooperatif dimana siswa akan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen; dimana setelah pembagian kelompok tersebut, guru memberikan materi dan meminta siswa bekerjasama dengan cara berdiskusi dan bertanya jawab dengan anggota dalam satu kelompok; selanjutnya siswa diminta untuk mengerjakan soal yang diberikan guru. Siswa yang mendapat poin adalah siswa yang mampu menyamai atau melampaui skor yang telah diperoleh sebelumnya.

Hasil belajar adalah sebagai kemampuan yang dimiliki siswa karena telah memiliki pengalaman belajar pada mata pelajaran IPA, dimana perubahannya lebih dibatasi hanya pada ranah kognitif.

(3)

1.4 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan direncakanakan akan dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Perincian langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 3. 1

Skema Alur Pelaksanaan Penelitian Tindakan

Kondisi Akhir

Diduga hasil belajar IPA siswa kelas 5. meningkat .

Kondisi Awal

TINDAKAN

Guru: pembelajaran yang dilakukan berceramah.

Guru: menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe TGT.

Hasil belajar menjadi rendah

SIKLUS I

Dimana siswa diberikan kesempatan bekerja sendiri serta berkerja sama dengan orang lain diberikan kesempatan untuk berfikir, bertindak dan berbagi tentang materi pelajaran IPA.

SIKLUS II

Dimana siswa diberikan kesempatan bekerja sendiri serta berkerja sama dengan orang lain diberikan kesempatan untuk berfikir, bertindak dan berbagi tentang materi pelajaran IPA.

(4)

1.4.1 Siklus I 1) Perencanaan

Pada tahap ini, penulis menyusun langkah-langkah kegiatan, antara lain:

a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

b. Merancang pembelajaran dengan membentuk kelompok antara 4-5 siswa.

c. Menentukan kelompok siswa sesuai dengan kemampuan dan kecakapan masing-masing siswa.

d. Menyiapkan meja tournament tiap kelompok.

e. Menyiapkan alat peraga.

f. Membuat soal pre-test.

g. Membuat lembar observasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

h. Membuat soal post test 2) Implementasi Tindakan

Penelitian ini setiap siklus dilaksanakan 2 kali pertemuan. Dalam setiap siklus I maupun siklus II, akan dilaksanakan langkah-langkah dalam pembelajaran Team Game Tournamen adalah:

1. Melakukan apersepsi, yaitu mengajukan pertanyaan tentang materi yang akan dibahas.

2. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa.

3. Guru menjelaskan cara pembentukan kelompok dalam permaianan tournament.

4. Guru membentuk siswa kedalam kelompok belajar.

5. Membimbing kelompok belajar dan melakukan tournament.

6. Memainkan permainan sesuai dengan sruktur tipe TGT.

7. siswa diminta untuk pergi ke meja pertandingan masing-masing untuk bertanding.

8. Dalam suatu permaina terdiri dari dua kelompok pembaca, kelompok penantang I, dan kelompok penantang II.

9. Kelompok pembaca bertugas

 Ambil kartu bernomor dan cari pertanyaan pada lembar pemain.

 Baca pertanyaan keras-keras.

(5)

 Beri jawaban

10. Kelompok penantang I bertugas menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang berbeda.

11. Sedangkan kelompok penantang II bertugas, menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang berbeda.

12. Setelah selesai pertandingan, semua pelajar kembali ke kelompok masing- masing.

13. Guru dan siswa menyimpulkan materi.

14. Guru memberikan evaluasi.

15. Guru mengevaluasi hasil belajar siswa, menentukan skor individual dan kemajuannya serta menentukan skor rata-rata kelompok.

16. Memberikan penghargaan kepada kelompok dengan mengacu pada skor perkembangan individu yang dijumlahkan. Total perolehan poin menunjukkan tingkat keberhasilan kerjasama kelompok dan Melakukan tindak lanjut.

3) Observasi

Pengamatan tingkah laku oleh guru peneliti selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan. Temuan- temuan tingkah laku yang diamati merupakan bahasan yang akan diteliti sebagai pendukung keberhasilan penelitian. Pengamatan yang dilakukan untuk mengamati tingkah laku guru selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan oleh observer dengan menggunakan lembar pengamatan.

Temuan-temuan tingkah laku guru diamati mencerminkan perbaikan tingkah laku guru dalam pembelajaran yang mendukung keberhasilan/penelitian.

Analisis nilai diperoleh dari hasil tes tertulis yang dilakukan siswa diperlukan untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Berdasarkan KKM yang telah ditentukan sekolah maka ≥ 6,5 menyatakan siswa telah berhasil mencapai standar ketuntasan belajar, sedangkan nilai <6,5 menyatakan bahwa siswa belum mencapai standar ketuntasan.

(6)

4) Refleksi

Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap temuan-temuan yang berkaitan dengan hambatan dan kekurangan yang dijumpai selama tindakan berlangsung.

Kelebihan akan tetap dipertahankan, sedangkan kekurangan selanjutnya akan diperbaiki pada siklus II.

1.4.2 Siklus II 1) Perencanaan

Data yang telah diperoleh dari siklus I diidentifikasi dan hasil dari observasi pada siklus I dijadikan pedoman agar lebih baik lagi di siklus II. Pelaksanaan pembelajaran di siklus II dilaksanakan melalui hasil refleksi terhadap pembelajaran siklus I. Peneliti dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran, terlebih dahulu menyusun:

a. Membuat skema pembelajaran yang lebih terarah pada peningkatan pemahaman siswa tentang materi gaya gravitasi dan gaya gesek.

b. Menyiapkan lembar observasi guru dan siswa untuk mengamati kegiatan situasi dan kondisi selama proses belajar mengajar berlangsung.

c. Menyiapkan evaluasi.

2) Pelaksanaan

1. Melakukan apersepsi, yaitu mengajukan pertanyaan tentang materi yang akan dibahas.

2. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa.

3. Guru menjelaskan cara pembentukan kelompok dalam permaianan tournament.

4. Guru membentuk siswa kedalam kelompok belajar.

5. Membimbing kelompok belajar dan melakukan tournament.

6. Memainkan permainan sesuai dengan sruktur tipe TGT.

7. Siswa diminta untuk pergi ke meja pertandingan masing-masing untuk bertanding.

8. Dalam suatu permaina terdiri dari dua kelompok pembaca, kelompok penantang I, dan kelompok penantang II.

(7)

9. Kelompok pembaca bertugas

 Ambil kartu bernomor dan cari pertanyaan pada lembar pemain.

 Baca pertanyaan keras-keras.

 Beri jawaban

10. Kelompok penantang I bertugas menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang berbeda.

11. Sedangkan kelompok penantang II bertugas, menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang berbeda.

12. Setelah selesai pertandingan, semua pelajar kembali ke kelompok masing- masing.

13. Guru dan siswa menyimpulkan materi.

14. Guru mengevaluasi hasil belajar siswa, menentukan skor individual dan kemajuannya serta menentukan skor rata-rata kelompok.

15. Memberikan penghargaan kepada kelompok dengan mengacu pada skor perkembangan individu yang dijumlahkan. Total perolehan poin menunjukkan tingkat keberhasilan kerjasama kelompok dan Guru memberikan evaluasi.

3) Observasi

Pengamatan tingkah laku oleh guru peneliti selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan. Temuan- temuan tingkah laku yang diamati merupakan bahasan yang akan diteliti sebagai pendukung keberhasilan penelitian. Pengamatan yang dilakukan untuk mengamati tingkah laku guru selama proses pembelajaran berlangsung dilakukan oleh observer dengan menggunakan lembar pengamatan.

Temuan-temuan tingkah laku guru diamati mencerminkan perbaikan tingkah laku guru dalam pembelajaran yang mendukung keberhasilan/penelitian. Analisis nilai diperoleh dari hasil tes tertulis yang dilakukan siswa diperlukan untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa.

Berdasarkan KKM yang telah ditentukan sekolah maka ≥ 6,5 menyatakan siswa telah berhasil mencapai standar ketuntasan belajar, sedangkan nilai <6,5 menyatakan bahwa siswa belum mencapai standar ketuntasan.

(8)

4) Refleksi

Refleksi merupakan analisis hasil observasi dan hasil tes. Refleksi pada siklus II dilaksanakan segera setelah tahap implementasi/tindakan dan observasi selesai. Semua data yang diperoleh akan dipaparkan baik data maupun hasil evaluasi siswa maupun hasil observasi pembelajaran yang dilakukan guru. Hasil refleksi dari siklus II ini diharapkan dapat memenuhi indikator penelitian yang telah ditetapkan, ketuntasan hasil belajar IPA siswa kelas 5 SD Negeri Kalibeji 01 Tuntang dapat meningkat.

1.5 Jenis dan Pengumpulan Data 1.5.1 Jenis Data

Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Data kualitatif, yaitu hasil penilaian kinerja guru dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembalajaran cooperative learning tipe TGT.

2. Data kuantitatif yaitu hasil belajar siswa kelas 5 melalui tes tertulis pada setiap akhir pertemuan pra siklus, siklus I dan siklus II.

1.5.2 Cara Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian untuk mengetahui peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa kelas 5 SD Negeri Kalibeji 01 dalam mata pelajaran IPA setelah memperoleh tindakan, adalah:

1. Wawancara

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti.

2. Observasi

Observasi adalah salah satu teknik pengumpulan data yang sangat menentukan dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Observasi berarti pengamatan dengan tujuan tertentu. Observasi dilakukan secara langsung pada saat pembelajaran di kelas guna mengumpulkan data secara kualitatif mengenai pembelajaran oleh guru untuk mencatat masalah yang terjadi pada saat

(9)

Kisi-kisi pengembangan instrumen (1)

Instrumen (2)

Instrumen terpakai (5)

Uji coba (3)

Revisi (4)

tindakan yang kemudian akan menjadi refleksi sebagai tindak lanjut. Observasi dilakukan di kelas 5 SDN Kalibeji 01 Tuntang oleh guru kelas.

3. Tes

Tes dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa selama proses belajar, sehingga peneliti dapat merencanakan tindakan yang akan diambil dalam memperbaiki pembelajaran. Pemberian tindakan dilakukan melalui 2 (dua) siklus, sedangkan evaluasi dilakukan diakhir siklus untuk mengetahui prestasi belajar siswa pada setiap siklus. Tes adalah suatu alat pengumpul informasi, bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan (Suharsimi Arikunto, 2006).

Tes digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian penggunaan metode tgt dalam meningkatkan hasil belajar IPA. Alat pengumpulan data berupa teknik tes yang dibagi menjadi dua yaitu butir soal tes untuk siklus I dan butir soal tes untuk siklus 2 yang menggunakan tes pilihan ganda.

1.5.3 Alat Pengumpulan Data

Langkah-langkah yang ditempuh dalam penyusunan instrumen dilakukan dalam beberapa tahap, baik dalam pembuatan maupun uji coba. Jelasnya diuraikan pada bagan berikut:

Gambar 3. 2

Skema Langkah-langkah Penyusunan Instrumen

(10)

Tabel 3.2. merupakan langkah-langkah penyusunan instrumen, yaitu kisi- kisi pengembangan instrumen yang terdiri dari variabel, subvariabel, nomor soal menyusun pernyataan atau pertanyaan, kemudian instrumen berupa skala yang selanjutnya direvisi dan instrumen terpakai.

Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah tes tertulis dan lembar observasi. Instrumen pengumpulan data digunakan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa kelas 5 SDN Kalibeji 01 Tuntang pada pelajaran IPA materi gaya dan Pengaruhnya. Adapun rincian instrumen penelitian dalam penelitian adalah sebagai berikut:

a) Tes tertulis

Tes digunakan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Adapun kisi-kisi soal tes dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.3

Kisi-Kisi Instrumen Evaluasi pada materi gaya dan Pengaruhnya

Standar Kompetensi

Kompetensi

Dasar Indikator

Item soal No. item pilihan

ganda

Jumlah item Memahami

hubungan antara gaya, gerak, dan energi, serta fungsinya.

Siklus I

Mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak, dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet).

1. Mengelompokan benda- benda yang bersifat magnetis dan yang tidak magnetis.

1, 3, 6, 7, 8, 9, 17,

20, 5 9

2. Memberi contoh penggunaan gaya magnet dalam kehidupan sehari- hari.

4, 12, 13, 14, 16

5

3. Membuat magnet. 2, 10, 11, 15,18,

19 6

(11)

Siklus II

Mendeskripsikan hubungan antara gaya, gerak, dan energi melalui percobaan (gaya gravitasi, gaya gesek, gaya magnet).

1. Membandingkan kecepatan jatuh dua buah benda (yang berbeda berat,bentuk dan ukuran) dari ketinggian tertentu.

1, 4, 5, 6, 8, 14,

17 7

2. Menyimpulkan bahwa

gaya gravitasi

menyebabkan benda bergerak kebawah.

2, 7, 9, 16

4

3. Memprediksi seandainya tidak ada gaya gravitasi di bumi.

3,13 2

4. Membandingkan gerak benda pada permukaan yang berbeda-beda (kasar-halus).

10, 15 2

5. Menjelaskan berbagai cara memperkecil atau memperbesar gaya gesekan.

12, 18, 19 3

6. Menjelaskan manfaat dan

kerugian yang

ditimbulkan oleh gaya gesekan dalam kehidupan sehari-hari.

11, 20 2

Jumlah soal 40

Penilaian hasil belajar siswa diambil dari proses pra siklus, siklus I dan siklus II. Penetapan nilai digunakan rumus sebagai berikut (Depdiknas, 2003):

Nilai =Σskor yang diperoleh siswa

Σskor maksimum X100%

Nilai Ketuntasan Belajar =Σ siswa yang tuntas

Σ jumlah siswa X100%

(12)

Dengan kriteria:

> 90% = Baik Sekali 80 – 90% = Baik 70 – 79% = Cukup baik 60 – 69% = Kurang

< 59% = Sangat Kurang

b) Lembar observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Observasi dilakukan dengan observasi partisipan yaitu suatu proses pengamatan yang dilakukan observer dengan ikut mengambil bagian dalam domain objek yang diteliti. Data yang ingin diperoleh dari observasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan model pembelajaran kooperative tipe TGT. Adapun kisi-kisi observasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.4

Lembar Observasi Guru

No ASPEK YANG DIAMATI Skor

1 2 3 4 I Pra Pembelajaran

1. Kesiapan ruangan, alat dan medi pembelajaran 2. Memeriksa kesiapan siswa

II Membuka pembelajaran

1. Kesesuaian kegiatan apersepsi dengan materi ajar

2. Menyampaikan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai III Kegiatan inti pelajaran

A. Penguasaan materi pembelajaran

1. Mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang

(13)

relevan

B. Pendekatan/strategi pembelajaran

1. Guru membagi kelompok siswa secara heterogen 2. Guru memberikan soal diskusi pada setiap kelompok 3. Guru membimbing diskusi kelompok

4. Guru meminta siswa mempresentasikan hasil diskusi 5. Guru menyiapkan kotak berisi soal

6. Guru meminta siswa mengambil soal dan mengerjakannya dalam waktu dua menit 7. Guru mengumpulkan jawaban siswa

8. Guru menjelaskan aturan pertandingan (tournament) 9. Guru menyiapkan kotak soal yang berisi jawaban pada

setiap kelompok

C. Pemanfaatan media pembelajaran/sumber belajar 10. Menggunakan media secara efektif dan efisien 11. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media D. Pembelajaran yang menantang dan memacu

keterlibatan siswa

12. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran

13. Merespons positif terhadap partisipasi siswa 14. Memfasilitasi terjadinya interaksi guru, siswa, dan

sumber belajar

15. Menunjukan sikap terbuka terhadap respons siswa E. Penilaian proses dan hasil belajar

16. Memantau kemajuan belajar

17. Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi F. Penggunaan bahasa

18. Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar

(14)

19. Menggunakan bahas tulis yang baik dan benar Penutup

20. Melakukan refleksi pembelajaran dengan melibatkan siswa

21. Menyusun rangkuman dengan melibatkan siswa 22. Melaksanakan tindak lanjut

Total

Data hasil observasi pembelajaran yang dilakukan guru dengan menggunakan model pembelajaran kooperative tipe TGT dalam pembelajaran, dinilai dengan rumus di bawah ini (Depdiknas, 2003):

Dengan kriteria nilai sebagai berikut:

108-98 = Sangat baik 97-87 = baik

86-76 = cukup baik 75-65 = kurang

Tabel 3.5

Lembar Observasi Siswa

N O

ASPEK YANG DIAMATI SKOR

1 2 3 4 I PRA PEMBELAJARAN

1. Siswa menempati tempat duduknya masing-masing 2. Siswa siap mengikuti pembelajaran

II KEGIATAN AWAL

3. Siswa memperhatikan apersepsi yang disampaikan oleh guru

4. Memperhatikan secara seksama ketika dijelaskan

(15)

tujuan pembelajaran yang hendak dicapai III KEGIATAN INTI PEMBELAJARAN A. Penjelasan materi pembelajaran

5. Siswa memperhatikan materi pembelajaran yang dijelaskan guru

6. Siswa memahami materi yang dijelaskan guru B. Strategi pembelajaran model team games tournamen

7. Siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran 8. Siswa melakukan diskusi

9. Aktif mencatat berbagai penjelasan yang diberikan 10. Siswa mengajukan pertanyaan kepada guru

11. Siswa bekerja dalam kelompoknya

12. Siswa mengerjakan soal-soal yang di berikan guru baik soal tournamen, game, dan diskusi

C. Komunikasi

13. Siswa mengemukakan pendapat 14. Siswa memberi komentar atau bertanya

15. Siswa melaporkan soal-soal yang diberikan guru baik soal tournamen, game, dan diskusi

D. Penutup

16. Siswa membuat rangkuman hasil pembelajaran secara runtut

17. Siswa mengerjakan soal evaluasi Total

Data hasil observasi pembelajaran yang dilakukan siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperative tipe TGT dalam pembelajaran, dinilai dengan rumus di bawah ini:

(16)

Dengan kriteria nilai sebagai berikut:

68-58 = Sangat baik 57-47 = baik

46-36 = cukup baik 35-25 = kurang

3.6 Indikator Kinerja

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah dengan penggunaan model TGT dapat meningkatkan hasil belajar yang ditunjukan dengan adanya kenaikan hasil tes belajar IPA dan keaktifan siswa.

Penelitian ini juga merupakan tindakan kelas yang bertujuan untuk

memperbaiki kondisi pembelajaran, dalam hal ini hasil belajar siswa kelas 5 SD Negeri Kalibeji 01. Oleh karena itu, Kriteria keberhasilan yaitu terpenuhi batas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang berlaku disekolah tersebut. Penelitian ini dianggap berhasil apabila 90% hasil belajar siswa sudah mencapai KKM atau mencapai nilai ≥ 65.

3.7 Teknik Analisis Data

Jenis data yang penulis peroleh dari penelitian tindakan kelas ini adalah data kuantitatif yang berupa skor hasil belajar siswa dari kegiatan pembelajaran pada siklus I dan II. Data tersebut diolah dengan menggunakan teknik analisis diskriptif. Untuk memperoleh signifikasi tindakan yang dilakukan terhadap hasil belajar.

Setelah data diperoleh langkah selanjutnya yang dilakukan adalah mengolah dan menganalisis hasil belajar siswa baik nilai tes, dan lembar observasi. Data hasil tes untuk menghitung rata-rata kelas setiap siklus adalah:

x = ∑ x N

(17)

Keterangan:

x = rata-rata kelas

∑ x = jumlah seluruh skor N = banyaknya siswa

3.7.1 UJI Validitas Instrumen

Uji validitas instrumen dalam penelitian ini digunakan untuk menguji instrumen tiap item soal yang nantinya akan digunakan dalam tes individu setelah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tipe TGT untuk mengetahui validitas, instrumen terlebih dahulu diuji cobakan.

Menurut Sudjana (2010: 12), validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai.

Untuk mengetahui tingkat validitas dengan melihat angka pada (Corrected Item-Total Correlation). Selanjutnya untuk menentukan suatu item tertentu valid atau tidak valid digunakan pedoman Azwar (1999) dalam Priyatno ( 2010: 90) dapat digunakan pedoman nilai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan, tetapi Azwar mengatakan bahwa bila jumlah item belum mencukupi kita bisa menurunkan sedikit batas kriteria 0,30 menjadi 0,25 tetapi menurunkan batas kriteria di bawah 0,20 sangat tidak di sarankan.

Dalam hal ini peneliti menggunakan standar validitas 0,413 dengan jumlah responden 23 orang.

Uji coba item instrumen baik untuk pretest dan postest diterapkan pada 23 siswa kelas V SD Negeri 01 Kalibeji pada tanggal 18 April 2013. Dari hasil analisis uji validitas, dipindah skor corrected item-total correlation tertinggi siklus I yaitu : 809 dan yang terendah yaitu : 086. Sedangkan pada Siklus II yang tertinggi yaitu : 829 dan yang terendah yaitu : 022. Untuk mengetahui jumlah soal pada Siklus I dan Siklus II yang valid dan tidak valid dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

(18)

Tabel 3.6

Validitas Instrumen Penelitian Siklus I

Valid Tidak Valid

11, 15, 4, 17, 13, 12, 20, 2, 3, 7, 10,19, 6, 8, 5, 18, 9

1, 14, 16

Dari 20 soal pada siklus I terdapat 17 soal yang valid dan 3 soal yang tidak valid.

Tabel 3.7

Validitas Instrumen Penelitian Siklus II

Valid Tidak Valid

5, 20, 8, 9, 14, 17, 18, 4, 7, 10, 11, 16, 12, 13, 15

1, 2, 3, 6, 19

Dari 20 soal pada siklus II terdapat 15 soal yang valid dan 5 soal yang tidak valid.

3.7.2 Uji Reabilitas

Uji reabilitas dimaksudkan untuk menjamin instrumen yang digunakan merupakan sebuah instrument yang handal, konsistensi, dan stabil, sehingga bila digunakan berkali-kali akan menghasilkan data yang sama. Pengukuran tingkat realibilitas alat pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan Alpha croncbach. Besarnya koefisien Alpha merupakan tolok ukur dari tingkat reliabilitasnya. Tahapan uji validitas dan reliabilitas ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS 20.0 for windows (statistical product and service solutions).

Uji reliabilitas instrumen dalam penelitian ini digunakan untuk menguji instrumen tiap item soal yang nantinya akan digunakan dalam tes individual setelah pembelajaran dengan menggunakan menggunakan model pembelajaran

(19)

TGT. Untuk mengetahui validitas, intrumen terlebih dahulu diuji cobakan di kelas uji coba yaitu di kelas V SD Negeri 01 Kalibeji Tuntang.

Reliabilitas alat penilaian adalah ketepatan atau keajegan alat tersebut dalam menilai apa yang dinilainya. Artinya, kapan pun penilaian tersebut digunakan akan memberikan hasil yang sama, dan sejauh mana instrument dapat diandalkan, Sudjana (2011:16). Uji reliabilitas penelitian adalah dengan menggunakan teknik Alpha yang dikembangkan oleh George dan Mallery (1995) untuk menentukan tingkat reliabilitas instrumen menggunakan kriteria sebagai berikut :

α > 0,9 = Sangat bagus α > 0,8 = Bagus

α > 0,7 = Dapat diterima α > 0,6 = Diragukan

α < 0,5 = Tidak dapat diterima

Uji reliabilitas instrumen soal yang telah dilakukan peneliti, pada soal siklus I diperoleh hasil reliabilitas bagus karena nilai alpha α > 0,8 yaitu sebesar 0,878, sedangkan pada soal siklus II diperoleh hasil reliabilitas α > 0,8 yaitu sebesar 0,877. Hasil penghitungan reliabilitas dapat dilihat pada tabel 3.8.

(20)

Tabel 3.8

Reliabilitas Instrumen Siklus I

Reliability Statistics Cronbach's

Alpha N of Items

,878 20

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if

Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item

Deleted

item1 11,48 29,897 -,430 ,900

item2 11,22 24,723 ,580 ,869

item3 11,22 24,723 ,580 ,869

item4 11,22 24,269 ,677 ,865

item5 11,22 25,360 ,448 ,873

item6 11,26 25,020 ,514 ,871

item7 11,09 24,992 ,572 ,869

item8 11,09 25,538 ,451 ,873

item9 11,09 25,628 ,431 ,874

item10 11,09 25,174 ,532 ,870

item11 11,04 24,134 ,809 ,862

item12 11,09 24,719 ,634 ,867

item13 11,04 24,862 ,635 ,867

Item 14 11,52 27,079 ,134 ,883

item15 11,09 24,083 ,780 ,862

item16 11,48 27,261 ,086 ,885

item17 11,22 24,269 ,677 ,865

item18 11,22 25,360 ,448 ,873

item19 11,13 25,119 ,522 ,871

item20 11,09 24,719 ,634 ,867

(21)

Tabel 3.9

Reliabilitas Instrumen Siklus II

Setelah diketahui ada item yang tidak valid, maka dilakukan uji reliabilitas yang kedua dengan membuang item yang tidak valid. Pada soal siklus I diperoleh hasil reliabilitas sangat bagus karena nilai alpha α > 0,9 yaitu sebesar 0,914, sedangkan pada soal siklus II diperoleh hasil reliabilitas α > 0,9 yaitu

Reliability Statistics Cronbach's

Alpha N of Items

,877 20

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if

Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item

Deleted

item1 11,17 26,877 ,238 ,879

item2 10,91 26,174 ,353 ,876

item3 10,78 26,087 ,406 ,874

item4 10,78 25,269 ,586 ,868

item5 10,74 24,383 ,829 ,860

item6 11,17 29,787 -,340 ,896

item7 10,91 25,083 ,575 ,868

item8 10,91 25,083 ,575 ,868

item9 10,91 24,628 ,671 ,864

item10 11,00 25,091 ,569 ,868

item11 10,96 25,134 ,560 ,868

item12 10,78 25,632 ,505 ,870

item13 10,78 25,905 ,446 ,872

item14 10,91 24,628 ,671 ,864

item15 10,91 25,719 ,444 ,872

item16 10,96 25,134 ,560 ,868

item17 10,78 24,905 ,667 ,865

item18 10,74 25,292 ,613 ,867

item19 11,17 28,150 -,022 ,887

item20 10,78 24,451 ,771 ,861

(22)

sebesar 0,914. Hasil uji validitas reliabilitas yang diolah item dinyatakan valid semua. Hasil penghitungan reliabilitas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.8.1

Releabilitas Instrumen Siklus I

Reliability Statistics Cronbach's

Alpha N of Items

,914 17

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if

Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item

Deleted

item1 10,35 24,964 ,655 ,907

item2 10,35 24,964 ,655 ,907

item3 10,35 24,874 ,674 ,906

item4 10,35 25,874 ,467 ,913

item5 10,39 25,522 ,534 ,911

item6 10,22 25,723 ,543 ,910

item7 10,22 25,996 ,484 ,912

item8 10,22 26,178 ,444 ,913

item9 10,22 25,814 ,523 ,911

item10 10,17 24,787 ,794 ,904

item11 10,22 25,360 ,624 ,908

item12 10,17 25,423 ,643 ,908

item13 10,22 24,814 ,747 ,905

item14 10,35 24,874 ,674 ,906

item15 10,35 25,874 ,467 ,913

item16 10,26 25,747 ,517 ,911

item17 10,22 25,269 ,644 ,907

(23)

Tabel 3.9.1

Releabilitas Instrumen Siklus II

3.7.3 Analisi Trap Kesukaran Instrumen Item

Menurut Sudjana (2011:135), analisis tingkat kesukaran soal merupakan pengkajian terhadap soal-soal tes dari segi kesulitannya sehingga dapat diperoleh soal-soal mana yang termasuk mudah, sedang, dan sukar. Asumsi yang digunakan untuk memperoleh kualitas soal yang baik, di samping memenuhi validitas dan reliabilitas, adalah adanya keseimbangan dari tingkat kesulitan soal

Reliability Statistics Cronbach's

Alpha N of Items

,914 15

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if

Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item

Deleted

Item 1 8,61 21,976 ,500 ,912

Item 2 8,57 20,984 ,782 ,904

Item 3 8,74 21,383 ,589 ,910

Item 4 8,74 21,383 ,589 ,910

Item 5 8,74 20,747 ,736 ,905

Item 6 8,83 21,150 ,637 ,908

Item 7 8,78 21,178 ,631 ,908

Item 8 8,61 22,158 ,457 ,914

Item 9 8,61 22,431 ,393 ,916

Item 10 8,74 20,747 ,736 ,905

Item 11 8,74 21,474 ,569 ,910

Item 12 8,78 21,178 ,631 ,908

Item 13 8,61 21,340 ,654 ,908

Item 14 8,57 21,711 ,595 ,909

Item 15 8,61 20,976 ,744 ,905

(24)

tersebut. Keseimbangan yang dimaksudkan adalah adanya soal-soal yang termasuk mudah, sedang, dan sukar secara proporsional.

Tingkat kesukaran soal dipandang dari kesanggupan atau kemampuaan siswa dalam menjawab soal, bukan dilihat dari sudut guru sebagai pembuat soal.

Untuk melakukan analisis tingkat kesukaran soal adalah penentuan proporsi dan kriteria soal yang termasuk mudah, sedang, dan sukar. Dalam penelitian ini analisis tingkat kesukaran soal yang digunakan adalah menentukan kriteria soal dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

I =

Keterangan:

I = Indeks kesulitan untuk setiap butir soal.

B = Banyaknya siswa yang menjawab benar setiap butir soal.

N = Banyaknya siswa yang memberikan jawaban pada soal yang dimaksudkan.

Kriteria yang digunakan adalah makin kecil indeks yang diperoleh, makin sulit soal tersebut. Sebaliknya, makin besar indeks yang diperoleh, makin mudah soal tersebut. Kriteria indeks kesulitan soal adalah sebagai berikut:

0,00 – 0,30 = soal kategori sukar;

0,30 – 0,70 = soal kategori sedang;

0,70 – 1,00 = soal kategori mudah.

Berdasarkan perhitungan rumus dan kriteria yang digunakan pada analisis taraf kesukaran instrumen Sudjana (2011:135), maka hasil analisis untuk taraf kesukaran instrumen penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.9.1 dan 3.9.2 berikut :

(25)

Tabel 3.10

Analisis Tarap Kesukaran Instrumen Siklus I

Berdasarkan hasil pengujian pada siklus I, dapat disimpulkan bahwa kriteria taraf kesukaran soal adalah kriteria sukar, sedang dan mudah, diketahui bahwa dari 20 butir soal, ada 3 soal yang sukar, dan 15 soal yang sedang, dan 2 butir soal yang masuk dalam kategori mudah.

No. Soal N B I Kriteria

1. 23 8 0,34 Sukar

2. 23 13 0,56 Sedang

3. 23 13 0.56 Sedang

4. 23 13 0,56 Sedang

5. 23 13 0,56 Sedang

6. 23 12 0,52 Sedang

7. 23 16 0,69 Sedang

8. 23 16 0,69 Sedang

9. 23 16 0,69 Sedang

10. 23 16 0,69 Sedang

11. 23 17 0,73 Mudah

12. 23 16 0,69 Sedang

13. 23 17 0,73 Mudah

14. 23 6 0,26 Sukar

15. 23 16 0,69 Sedang

16. 23 7 0,30 Sukar

17. 23 13 0,56 Sedang

18. 23 13 0,56 Sedang

19. 23 15 0,65 Sedang

20. 23 16 0,69 Sedang

(26)

Tabel 3.11

Analisis Tarap Kesukaran Instrumen Siklus II

No. Soal N B I Kriteria

1. 23 7 0,30 Sukar

2. 23 13 0,56 Sedang

3. 23 16 0,69 Sedang

4. 23 16 0,69 Sedang

5. 23 17 0,73 Mudah

6. 23 8 0,34 Sedang

7. 23 13 0,56 Sedang

8. 23 13 0,56 Sedang

9. 23 13 0,56 Sedang

10. 23 11 0,47 Sedang

11. 23 12 0,52 Sedang

12. 23 16 0,69 Sedang

13. 23 16 0,69 Sedang

14. 23 13 0,56 Sedang

15. 23 13 0,56 Sedang

16. 23 12 0,52 Sedang

17. 23 16 0,69 Sedang

18. 23 17 0,73 Mudah

19. 23 8 0,34 Sedang

20. 23 16 0,69 Sedang

Berdasarkan hasil pengujian pada siklus II, dapat disimpulkan bahwa kriteria taraf kesukaran soal adalah kriteria sukar, sedang dan mudah, diketahui bahwa dari 20 butir soal, ada 1 soal yang sukar, dan 17 soal yang sedang, dan 2 butir soal yang masuk dalam kategori mudah.

Sedangkan teori Arikunto, (1999: 207). Mengatakan tingkat kesukaran dimaksudkan untuk mengetahui apakah soal tersebut mudah atau sukar. Tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukan sukar atau mudahnya sesuatu soal.

Gambar

Tabel  3.2.  merupakan  langkah-langkah  penyusunan  instrumen,  yaitu  kisi- kisi-kisi pengembangan instrumen yang terdiri dari variabel, subvariabel, nomor soal  menyusun  pernyataan  atau  pertanyaan,  kemudian  instrumen  berupa  skala  yang  selanjutn

Referensi

Dokumen terkait

By inviting their audiences to get to the bottom of their narrative enigmas, conspiratorial television shows encourage precisely such a behavior – and user

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.. Jenis Data 1) Data Primer. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari

Perawat merasakan kepuasan tersendiri ke- tika berhasil menolong pasien sekaligus ada rasa ketidakpuasan terhadap hasil kerja yang dilakukan, selain itu perawat juga merasakan

Manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah memperkenalkan kembali cerita rakyat Putri Mandalika kepada remaja sehingga anak dapat mengenal sosok Putri Mandalika

Aplikasi sistem informasi geografis ini dapat menampilkan data- data yang berkaitan dengan informasi tempat wisata di wilayah DKI Jakarta, memberikan kemudahan

Dikatakan sakral karena dalam adat perkawinan Batak , ada makna pengorbanan bagi parboru (pihak penganten perempuan) karena ia “berkorban” memberikan satu nyawa

33 Hubungan hukum yang dilahirkan dari adanya Perkawinan adalah hubungan hukum yang sederajat (neben ein ander) 34 antara subjek hukum yang terikat dalam hubungan

Karena pengkarya terlahir dari perkawinan silang antara orang Mandailing dan Minangkabau, dan hidup ditengah-tengah masyrakat kota yang heterogen inilah yang membuat