BAB II Gambaran Umum
MEA merupakan sebuah sistem pasar tunggal yang dibentuk oleh ASEAN dengan tujuan untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan Asia Tenggara.1 MEA mulai diberlakukan pada tanggal 31 Desember 2015 lalu2. Untuk merealisasikan tujuan dari dibentuknya MEA tersebut, maka pada tahun 2015 ASEAN membentuk Blueprint MEA 2025. Blueprint MEA 2025 telah resmi disepakati oleh kepala negara anggota ASEAN pada tahun 2015.3 Mengingat bahwa UMKM merupakan instrumen ekonomi yang cukup penting di kebanyakan negara-negara anggota ASEAN, maka ASEAN juga menjadikan UMKM sebagai prioritas ekonomi yang perlu dikembangkan juga. Untuk itu dalam AECBP, rencana yang dimiliki ASEAN untuk mengembangkan UMKM terbagi menjadi 3 bagian yaitu rencana jangka panjang, rencana jangka menengah, dan rencana jangka pendek. Selain daripada rencana yang dimiliki ASEAN terhadap MEA, ASEAN juga membentuk regulasi untuk mendukung jalannya MEA melalui sebuah regulasi terhadap MEA.
3Kementerian Luar Negeri. Masyarakat Ekonomi ASEAN. Diakses Melalui
https://kemlu.go.id/portal/i/read/113/halaman_list_lainnya/masyarakat-ekonomi-ASEAN-A EC
2ibid hal.1
1Setnas ASEAN. 4 tujuan MEA. Diakses Melalui
http://setnas-asean.id/news/read/4-tujuan-mea-atau-masyarakat-ekonomi-asean-pasar-tu nggal-di-regional-asia-tenggara
Sejak resmi dimulainya MEA pada tanggal 31 Desember 20154, kini MEA sudah berusia 4 tahun lamanya. MEA merupakan kesepakatan ekonomi yang dibentuk untuk menciptakan sebuah pasar yang lebih bebas dengan biaya dagang yang dibutuhkan lebih rendah. Seiring berjalannya waktu, MEA berhasil memberikan dampak ekonomi yang cukup luar biasa terhadap negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Selain perdagangan barang, mobilitas bagi pekerja juga tenaga ahli di kawasan juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan, begitu juga dengan arus investasi yang juga mengalami perkembangan yang cukup baik.
Perkembangan ekonomi yang terjadi sebab diberlakukannya MEA tidak hanya berimbas kepada jumlah PDB dan PDB Per Kapita ASEAN saja, Perkembangan ekonomi juga terjadi terhadap ekonomi negara-negara anggota ASEAN
2.1 Rencana Pembangunan Ekonomi ASEAN diera MEA
MEA merupakan sebuah sistem pasar tunggal yang dibentuk oleh ASEAN dengan tujuan untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan Asia Tenggara, selain itu MEA juga diharapkan mampu mengatasi masalah ekonomi di negara-negara ASEAN.5 MEA mulai diberlakukan pada tanggal 31 Desember 2015 lalu6. Untuk merealisasikan tujuan dari dibentuknya MEA tersebut maka pada tahun 2015 ASEAN membentuk Blueprint MEA 2025. Blueprint MEA 2025
6ibid hal.1
5Setnas ASEAN. 4 tujuan MEA. Diakses Melalui
http://setnas-asean.id/news/read/4-tujuan-mea-atau-masyarakat-ekonomi-asean-pasar-tu nggal-di-regional-asia-tenggara
4Portal Informasi Indonesia. Integrasi Ekonomi dalam Rumpun ASEAN. Diakses melalui https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/ekonomi/integrasi-ekonomi-dalam-r umpun-asean#:~:text=Kesepuluh%20negara%20itu%20kemudian%20membuat,dimulai
%20pada%2031%20Desember%202015.
telah resmi disepakati oleh kepala negara anggota ASEAN pada tahun 2015.7 Pengesahan tersebut dilakukan melalui penandatanganan The Kuala Lumpur Declaration on the Establishment of ASEAN Community dan The Kuala Lumpur Declaration on ASEAN 2025: Forging Ahead Together8 yang akan menjadi panduan ASEAN dalam meningkatkan kualitas integrasi ekonomi ASEAN dalam 10 tahun ke depan.9 Blueprint MEA 2025 berisikan tentang harapan juga cita-cita Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di tahun 2025 mendatang yang berisi tentang 5 karakter dari MEA yang saling berkaitan dan juga saling menguatkan, diantaranya adalah:10
1. Ekonomi yang terpadu dan terintegrasi secara penuh 2. ASEAN yang berdaya saing, inovatif, serta dinamis 3. Peningkatan konektivitas dan kerjasama sektoral
4. ASEAN yang tangguh, inklusif, serta berorientasi dan berpusat pada masyarakat
5. ASEAN yang global
10Setnas ASEAN. ASEAN Economic Blueprint 2025. Diakses Melalui
http://setnas-asean.id/pilar-ekonomi#:~:text=Cetak%20Biru%20MEA%202025%20akan,s ektoral%3B%20(d)%20ASEAN%20yang
9Warta EKonomi. KTT 27 ASEAN. Diakses melalui
https://www.wartaekonomi.co.id/read81048/ktt-asean-ke27-ini-lima-pilar-asean-communit y-2025
8Bisnis Tempo. Setelah MEA ini Rencana ASEAN. Diakses Melalui
https://bisnis.tempo.co/read/721361/setelah-mea-ini-rencana-asean/full&view=ok
7Kementerian Luar Negeri. Masyarakat Ekonomi ASEAN. Diakses Melalui
https://kemlu.go.id/portal/i/read/113/halaman_list_lainnya/masyarakat-ekonomi-ASEAN-A EC
Dalam Dekade Selanjutnya ASEAN juga memberikan sebuah penekanan baru pada pengembangan dan juga promosi UMKM dalam upaya integrasi ekonominya, selain itu ASEAN juga menjadikan teknologi digital yang berkembang menjadi salah satu pengaruh untuk meningkatkan perdagangan dan juga investasi sebagai penyedia platform bisnis yang berbasis elektronik, sebagai media untuk mempromosikan tata kelola yang baik, dan juga sebagai fasilitator bagi para pengguna green technology.11 Dibentuknya ASEAN 2025 diharapkan dapat menciptakan ekonomi ASEAN yang lebih terintegrasi juga kohesif yang dapat mendukung pertumbuhan serta ketahanan ekonomi dalam menghadapi guncangan ekonomi global. Kemudian dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih adil dan inklusif sehingga hal tersebut dapat mempersempit kesenjangan pembangunan, mengurangi tingkat kemiskinan, mempertahankan tingkat pertumbuhan perkapita. Kemudian untuk mendorong sebuah pertumbuhan produktivitas yang kuat melalui inovasi, teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia. Kemudian sebagai tempat untuk mempromosikan sebuah tata kelola yang baik. Kemudian untuk memperluas konektivitas antar warga, kelembagaan, dan infrastruktur ASEAN melalui proyek kerjasama ASEAN.
Keenam, menciptakan ASEAN yang lebih dinamis dan tangguh.12
Maka dari itu, untuk mengimplementasikan ASEAN Economic Community Blueprint 2025 (AECBP), ASEAN menyusun berbagai macam
12Kementerian Luar Negeri. Masyarakat Ekonomi ASEAN. Diakses Melalui
https://kemlu.go.id/portal/i/read/113/halaman_list_lainnya/masyarakat-ekonomi-ASEAN-A EC
11Ditjen PPI. Masyarakat Ekonomi ASEAN. Diakses Melalui http://ditjenppi.kemendag.go.id/index.php/asean/asean/meaaec
rencana untuk memajukan segala sektor perdagangan baik dari perdagangan barang, jasa, investasi, pariwisata, energi, pangan, dan juga UMKM. Mengingat bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian dari kebanyakan negara-negara anggota ASEAN, maka ASEAN juga menjadikan UMKM sebagai prioritas ekonomi yang perlu dikembangkan juga. Untuk itu dalam AECBP rencana yang dimiliki ASEAN untuk mengembangkan UMKM terbagi menjadi 3 bagian yaitu rencana jangka panjang, rencana jangka menengah, dan rencana jangka pendek.
Rencana Jangka Panjang yang dibentuk ASEAN dalam ASEAN Economic Community Blueprint 2025 (AECBP) untuk mengembangkan UMKM tertuang pada karakter MEA nomor 4 mengenai ASEAN yang tangguh, inklusif, serta berorientasi dan berpusat pada masyarakat. Pada bagian ini MEA menjadikan UMKM sebagai salah satu elemen kunci agar terbentuk ASEAN yang tangguh, inklusif, yang berorientasi juga berpusat pada rakyat. Adapun rencana jangka panjang yang dimiliki adalah dengan melakukan sebuah penguatan terhadap peran dari UMKM. Penguatan peran UMKM menjadi penting dilakukan karena terdapat 2 kondisi yang diantaranya adalah UMKM merupakan tulang punggung perekonomian ASEAN, dan fenomena globalisasi menimbulkan tantangan baru yang perlu ditangani dengan lebih baik lagi agar ASEAN tetap dapat melakukan integrasi terhadap ekonominya. Dengan adanya rencana jangka panjang tersebut maka dibutuhkan program-program UMKM yang jauh lebih terstruktur dan juga terarah agar terjadi peningkatan terhadap daya saing dan ketahanan UMKM terhadap persaingan yang terjadi. Maka dari itu, dibentuklah langkah-langkah
strategis agar rencana jangka panjang tersebut dapat terealisasi dengan dibentuknya rencana jangka menengah dan pendek.
Rencana Jangka Menengah dan Rencana Jangka Pendek merupakan turunan dari rencana jangka panjang yang diantaranya adalah, Pertama dengan mempromosikan produktivitas, teknologi, dan inovasi melalui langkah-langkah untuk meningkatkan produktivitas UMKM dengan cara memahami tren utama dalam produktivitas seperti misalnya membangun sebuat klaster industri melalui keterkaitan industri, atau juga dengan mempromosikan teknologi, serta mempromosikan inovasi sebagai kunci kompetitif keuntungan melalui penggunaan teknologi dan juga penerapannya pada bisnis serta hubungan akademisi. Kedua Dengan melakukan peningkatan terhadap akses keuangan dengan cara mengembangkan serta meningkatkan kerangka kelembagaan guna meningkatkan pemahaman terhadap pembiayaan infrastruktur yang masih bersifat tradisional menjadi pembiayaan alternatif yang sifatnya non-tradisional.
Ketiga, dengan cara meningkatkan akses pasar dan internasionalisasi dengan memperluas skema dukungan untuk akses integrasi pasar ke dalam rantai pasokan global, termasuk mempromosikan kemitraan dengan perusahaan multinasional (MNC) dan juga perusahaan besar untuk meningkatkan akses dan peluang pasar, mempromosikan penggunaan e-commerce, serta meningkatkan langkah-langkah untuk mempromosikan ekspor melalui mekanisme seperti klinik ekspor, layanan penasehat, dan pemanfaatan RoO. Keempat, dengan melakukan kebijakan UMKM dan juga regulasi yang mengedepankan intra dan juga mekanisme kerjasama dan koordinasi mekanisme atas keterlibatan UMKM dalam
proses pengambilan keputusan untuk memungkinkan representasi kepentingan UMKM yang jauh lebih baik lagi, kemudian dengan cara memberikan dukungan terhadap usaha mikro di sektor informal dan juga integrasinya, serta merampingkan proses yang terlibat dalam mendapatkan izin dan pendaftaran bisnis untuk memungkinkan pembentukan bisnis yang lebih murah dan juga lebih cepat. Kelima, dengan cara mempromosikan kewirausahaan dan juga pengembangan sumber daya manusia dengan cara menciptakan lingkungan yang lebih kondusif lagi untuk kewirausahaan melalui ASEAN On-Line Academy, serta meningkatkan pengembangan sumber daya manusia bagi UMKM khususnya untuk para pemuda dan juga perempuan.
2.2 Regulasi ASEAN Terkait MEA
ASEAN merupakan sebuah Perhimpunan Bangsa-Bangsa di kawasan Asia Tenggara yang beranggota 10 negara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Kamboja, Laos, Filipina, dan Myanmar) yang memiliki pandangan yang terbuka untuk hidup dalam perdamaian, stabil dan makmur, serta terikat dalam kemitraan dan juga pembangunan yang dinamis. Karena itu, pada tahun 200313 para pemimpin ASEAN sepakat untuk membangun masyarakat ASEAN di tahun 2020, namun di dalam prosesnya para pemimpin negara anggota mempertegas komitmennya dan memutuskan untuk mempercepat pemberlakuan MEA yang kemudian menjadi tahun 2015. Dibentuknya Komunitas Masyarakat Ekonomi ASEAN diarahkan kepada pembentukan sebuah integritas ekonomi
13Kementerian Koperasi dan UKM. Masyarakat Ekonomi ASEAN. Diakses melalui http://www.depkop.go.id/masyarakat-ekonomi-asean
dengan mengurangi biaya transaksi perdagangan, memperbaiki fasilitas perdagangan juga bisnis, serta meningkatkan daya saing sektor UMKM. Untuk itu ASEAN membentuk regulasi untuk mendukung jalannya MEA melalui sebuah regulasi terhadap MEA.
1. Membentuk ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA)
ASEAN Trade in Goods Agreement atau yang biasa disebut dengan ATIGA merupakan sebuah persetujuan yang dibuat oleh ASEAN terhadap pembentukan kawasan perdagangan bebas untuk perdagangan barang antara negara-negara anggota ASEAN yang dimana seluruh negara-negara anggota ASEAN yang masuk kedalam proyek ATIGA akan mendapatkan tarif yang preferensi sepanjang memenuhi persyaratan seperti darimana barang berasal dan dengan menyerahkan invoice declaration pada saat pengajuan pemberitahuan impor.14
2. Membentuk Rules of Origin (RoO)
Rules of Origin atau yang biasa disebut dengan RoO merupakan istilah yang sangat melekat dengan kegiatan perdagangan internasional adapun pengertian dari Origin yang dimaksud diatas bukan hanya sekedar dari mana barang itu berasal melainkan juga mengenai kebangsaan ekonomi barang dalam perjanjian internasional yang juga turut diperhatikan.15RoO
15Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Mengenal Kebangsaan Ekonomi Dalam Perdagangan Internasional. Diakses melalui
https://migas.esdm.go.id/post/read/mengenal-kebangsaan-ekonomi-barang-dalam-perda
14Kementerian Keuangan. Skema ATIGA. Diakses melalui
https://www.beacukai.go.id/berita/thailand-dan-vietnam-masuk-dalam-sistem-self-certifica tion-pengenaan-tarif-bea-masuk-dalam-skema-atiga.html#:~:text=ATIGA%20adalah%20p ersetujuan%20mengenai%20pembentukan,barang%20antara%20negara%20anggota%2 0ASEAN.
merupakan sebuah aturan dan juga kriteria untuk menetapkan asal sebuah barang. ASEAN membentuk RoO untuk mencegah adanya penyimpangan arah perdagangan masuk yang berasal dari negara yang bukan anggota ASEAN, dengan adanya RoO hanya barang yang berasal dari negara anggota ASEAN yang akan mendapatkan prioritas untuk bea masuk, selain itu RoO juga dibuat untuk menentukan pembebanan bea masuk dan kewajiban pengawasan lalu lintas yang lainnya. Hal ini dilakukan oleh ASEAN sebagai upayanya untuk menciptakan ekonomi ASEAN yang terintegrasi dan kohesif.
3. Membentuk ASEAN Trade in Service Agreement (ATISA)
ASEAN Trade in Service Agreement atau yang biasa disebut dengan ATISA merupakan sebuah kesepakatan yang dibuat oleh ASEAN untuk mengatasi hambatan bagi penyedia jasa di ASEAN khususnya Indonesia.
Selain itu, ATISA juga dibentuk untuk menciptakan iklim usaha pada bidang perdagangan jasa yang stabil dan dapat diprediksi serta untuk mempersiapkan integrasi dan juga liberalisasi pada sektor jasa di masa depan.16ATISA merupakan lanjutan dari kerangka perjanjian jasa ASEAN yaitu ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) dan telah disepakati oleh para Menteri Ekonomi, Keuangan, serta Pertahanan ASEAN di Kamboja pada tahun 2012 yang lalu.17
17Ibid
16Kementerian Perdagangan. Perjanjian Perdagangan Jasa (ATISA). Diakses melalui http://ditjenppi.kemendag.go.id/index.php/berita/detail/perkuat-perdagangan-jasa-menteri- ekonomi-asean-tandatangani-perjanjian-perdagangan-jasa-atisa
gangan-internasional#:~:text=Rules%20of%20Origin%20(ROO)%20adalah,seluruhnya%
20berasal%20dari%20suatu%20negara.
4. Membentuk ASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA) ASEAN Comprehensive Investment Agreement atau yang biasa disebut dengan ACIA merupakan sebuah kesepakatan yang dibentuk oleh ASEAN dalam bidang kerjasama investasi negara-negara anggota ASEAN. ACIA dapat dimanfaatkan sebagai petunjuk bagi negara-negara anggota ASEAN dalam menindak lanjuti pilar investasi ASEAN, selain itu ACIA juga berfungsi juga untuk mengambil pemanfaatan dari liberalisasi investasi yang lebih besar juga dapat memfasilitasi investasi serta proteksi investasi yang jauh lebih baik. ACIA merupakan kelanjutan dari perjanjian Framework Agreement on ASEAN Investment Area (FA-AIA) dan kemudian disepakati oleh ASEAN pada tahun 2009.18
2.3 Perkembangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Sejak resmi dimulainya MEA pada tanggal 31 Desember 201519, kini MEA sudah berusia 4 tahun lamanya. MEA merupakan kesepakatan ekonomi yang dibentuk untuk menciptakan sebuah pasar yang lebih bebas dengan biaya dagang yang dibutuhkan lebih rendah. Seiring berjalannya waktu, MEA berhasil memberikan dampak ekonomi yang cukup luar biasa terhadap negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Selain perdagangan barang, mobilitas bagi pekerja juga tenaga ahli di kawasan juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan, begitu juga dengan arus investasi yang juga mengalami perkembangan yang cukup baik.
19Portal Informasi Indonesia. Integrasi Ekonomi dalam Rumpun ASEAN. Diakses melalui https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/ekonomi/integrasi-ekonomi-dalam-r umpun-asean#:~:text=Kesepuluh%20negara%20itu%20kemudian%20membuat,dimulai
%20pada%2031%20Desember%202015.
18Kementerian Perdagangan. Investasi. Diakses melalui
http://ditjenppi.kemendag.go.id/index.php/asean/asean/investasi
Peningkatan demi peningkatan ekonomi di kawasan Asia Tenggara mulai terlihat secara jelas melalui beberapa indikator yang diantaranya adalah National Account, Perdagangan Barang, Perdagangan Jasa, dan juga Investasi.
Perkembangan MEA terhadap perekonomian kawasan dapat ditinjau melalui kemajuan ekonomi yang dihasilkan dari masing-masing negara anggota ASEAN. Maka untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kemajuan ekonomi yang dihasilkan dari masing-masing negara ASEAN dibutuhkannya sebuah indikator yang dapat mengukur seluruh total pendapatan dari seluruh negara-negara anggota ASEAN, dan indikator yang biasa dijadikan sebagai alat ukur dari kemajuan sebuah ekonomi adalah Produk Domestik Bruto atau PDB dan juga Produk Domestik Bruto Per Kapita atau PDB Perkapita. PDB atau dalam bahasa Inggrisnya biasa disebut dengan Gross Domestic Product atau GDP merupakan sebuah nilai barang dan juga jasa dalam suatu negara yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi baik milik warga negara maupun negara asing.20 Akan tetapi, pada PDB tidak seluruhnya dicantumkan seperti nilai nilai dari seluruh kegiatan yang terjadi di luar pasar, kualitas lingkungan, dan juga distribusi pendapatan. Maka dari itu, PDB Per Kapita menjadi alat yang lebih baik yang dapat memberitahukan tentang apa yang terjadi pada rata-rata penduduk dan juga standar hidup dari warga negaranya.21 Maka dapat dipahami bahwa perbedaan antara PDB dengan PDB perkapita adalah, PDB mengukur total pendapatan
21Mankiw, N. Gregory. 2006. Pengantar Teori Ekonomi Makro. Edisi Ketiga. Jakarta:
Salemba Empat Hal.23
20S Sukirno. 2013. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Hal.35
maupun total pengeluaran perekonomian terhadap barang juga jasa dan PDB perkapita mengukur pendapatan dan juga pengeluaran dari rata-rata seseorang dalam perekonomian dan sifatnya lebih terperinci.
Asia Tenggara merupakan kawasan yang memiliki potensi besar terhadap kekuatan ekonomi karena 10 negara anggota ASEAN menghasilkan PDB yang tinggi dan pada tahun 2015 yang mana hal tersebut membuat jumlah PDB ASEAN berada pada peringkat keenam di dunia setelah Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman, dan Britania Raya.22
2.3.1 Laju Pertumbuhan PDB ASEAN 2014-2019
22Annisa Selma TP. 2018. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi PDB Negara ASEAN Tahun 2006-2016 Menggunakan Regresi Data Panel. Statistika. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
Gambar 2.1 Perkembangan PDB ASEAN tahun 2014-2019
Sumber: ASEAN Secretariat
Data diatas menunjukan jumlah PDB ASEAN dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2019. Dapat dilihat bahwasanya PDB ASEAN mengalami peningkatan, meski pada tahun 2015 sempat terjadi penurunan. Pada tahun 2014 PDB ASEAN berjumlah US $2.546.520, pada tahun 2015 PDB ASEAN berjumlah US $2.469.255, lalu di tahun 2016 jumlah PDB ASEAN berjumlah US
$2.596.838, kemudian di tahun 2017 PDB ASEAN berjumlah US $2.805.445, berikutnya di tahun 2018 PDB ASEAN Berjumlah US $2.996.699, dan pada tahun 2019 PDB ASEAN mencapai US $3.166.353. Dengan begitu maka dapat dipahami bahwa PDB ASEAN sempat mengalami sedikit penurunan di tahun 2015 namun kemudian berhasil berangsur-angsur mengalami peningkatan lagi hingga tahun 2019.23
23ASEAN Secretary. Gross Domestic Product in ASEAN. Diakses melalui https://data.aseanstats.org/
2.3.2 Laju Perkembangan PDB Per Kapita ASEAN 2014-2019
Selain pada PDB ASEAN, kenaikan dan Penurunan juga terjadi terhadap PDB per kapita ASEAN. Berbeda dari PDB sebelumnya, PDB per kapita adalah besaran pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara.
Gambar 2.2 Perkembangan PDB Per Kapita ASEAN tahun 2014-2019
Sumber: ASEAN Secretariat
Sama seperti PDB ASEAN, PDB per kapita ASEAN juga mengalami peningkatan dan sempat mengalami penurunan di tahun 2015, dimulai dari tahun 2014 nilai PDB per kapita ASEAN sejumlah US $4.103 yang kemudian di tahun 2015 jumlah PDB per kapita ASEAN berjumlah US $3.932, kemudian di tahun 2016 PDB per kapita ASEAN berjumlah US $4.086, lalu di tahun 2017 PDB per kapita ASEAN berjumlah US $4.364, berikutnya di tahun 2018 PDB per kapita ASEAN berjumlah US $4.610,9, dan pada tahun 2019 jumlah PDB per kapita ASEAN menjadi US $4.818,8. Melihat data diatas maka dapat dipahami bahwa sama halnya seperti PDB ASEAN, PDB per kapita ASEAN juga sempat mengalami penurunan di tahun 2015 akan tetapi berhasil berangsur-angsur membaik sampai di tahun 2019.24
Dari kedua data yang telah disajikan diatas maka dapat dipahami bahwa MEA memberikan dampak yang cukup baik terhadap perkembangan ekonomi kawasan Asia Tenggara.
2.4 Perkembangan Ekonomi Negara-Negara Anggota ASEAN
Pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan hal yang sangat penting untuk dicapai karena tiap-tiap negara menginginkan adanya sebuah perubahan perekonomian yang lebih baik yang mana hal tersebut menjadi sebuah indikator dari keberhasilan terhadap pembangunan ekonomi negara. Mengingat bahwa tujuan dari dibentuknya MEA adalah karena adanya sebuah kepentingan dari negara-negara anggota ASEAN dalam memperbaiki kondisi perekonomian
24ASEAN Secretary. Gross Domestic Product (GDP) Per Capita ASEAN. Diakses melalui https://data.aseanstats.org/
negaranya, maka dari itu perkembangan perekonomian menjadi tujuan yang paling utama yang dimiliki negara-negara anggota ASEAN dalam MEA.
Perkembangan ekonomi suatu negara bisa diukur melalui pertumbuhan ekonomi yang menunjukan bahwa pertumbuhan produksi barang dan juga jasa dalam selang waktu tertentu. Jumlah produksi tersebut biasa diukur menggunakan konsep nilai tambah yang diciptakan oleh sektor ekonomi di wilayang yang bersangkutan yang secara total dengan Produk Domestik Bruto (PDB).25 Maka dari itu, PDB dapat digunakan menjadi salah satu indikator untuk mengukur sebuah kinerja perekonomian dalam suatu negara, atau dapat juga dijadikan sebagai cerminan mengenai keberhasilan dari suatu pemerintahan dalam upayanya menggerakan sektor ekonomi dalam negerinya.26
PDB disajikan dalam dua konsep harga yang berbeda, yaitu harga berlaku dan harga konstan. PDB atas harga berlaku sering disebut dengan sebutan PDB nominal yaitu nilai tambah barang dan juga jasa yang dihasilkan suatu negara dalam suatu periode waktu menurut harga yang berlaku pada waktu tersebut dan biasanya PDB atas dasar harga berlaku memperlihatkan struktur perekonomian berdasarkan lapangan usaha. Kemudian PDB atas harga konstan sering disebut dengan sebutan PDB riil yang merupakan sebuah nilai tambah pada barang maupun jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai tahun
26Ibid
25Badan Pusat Statistik. Produk Domestik Bruto Triwulan Indonesia. Diakses melalui https://www.bps.go.id/publication/download.html?nrbvfeve=NDkyM2JhM2ZmZDA0Y2Qy NWU4M2RjZDk3&xzmn=aHR0cHM6Ly93d3cuYnBzLmdvLmlkL3B1YmxpY2F0aW9uLzIw MTkvMTAvMDcvNDkyM2JhM2ZmZDA0Y2QyNWU4M2RjZDk3L3BkYi1pbmRvbmVzaWE tdHJpd3VsYW5hbi0yMDE1LTIwMTkuaHRtbA%3D%3D&twoadfnoarfeauf=MjAyMS0wMy 0xNyAwNzo0Mzo1MA%3D%3D
dasar, yang mana biasanya pada PDB harga konstan memperlihatkan tingkat pertumbuhan ekonomi sebagai refleksi dari capaian pembangunan yang didapatkan dalam jangka waktu tertentu.27
Banyak hal yang telah dilakukan oleh negara-negara anggota ASEAN demi mendapatkan percepatan pertumbuhan ekonomi, mulai dari melakukan pembenahan internal hingga melakukan kerjasama internasional dalam segala bidang.28 Sejak diberlakukannya pada tahun 2015, MEA tentunya juga memberikan dampak yang baik terhadap perekonomian negara-negara anggotanya, untuk mengetahui hal tersebut dapat dilihat melalui indikator Produk Domestik Bruto (PDB), PDB per Kapita, nilai ekspor, impor, dan total perdagangan.
28Umar Congge. 2015. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) HArapan dan Tantangan Dalam Perekonomian Bangsa. Fakultas Ilmu SOsial Universitas Negeri Makassar. Hal,99
27M. Dzul Fadlli. PDB Riil dan PDB Nominal. Diakses melalui
https://studiekonomi.com/ekonomi/makro/pdb-riil-dan-pdb-nominal-pengertian-cara-meng hitung-dan-perbedaannya/
Gambar 2.3 Perkembangan PDB Negara-Negara anggota ASEAN tahun 2014-2019
Sumber: ASEAN Statistical Yearbook 2020
Grafik diatas menampilan perkembangan PDB tiap-tiap negara anggota MEA dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2019. Dari grafik diatas maka dapat dilihat bahwa terdapat 3 negara ASEAN yang memiliki jumlah PDB terbesar dibandingkan negara-negara anggota lainnya. 3 negara tersebut adalah Indonesia, Thailand, dan Singapore. Indonesia dengan jumlah PDB sebesar US $1.121.298 merupakan negara yang memiliki PDB tertinggi di ASEAN, kemudian di posisi tertinggi kedua terdapat negara Thailand dengan jumlah PDB sebesar US
$543.957, dan di posisi tertinggi ketiga terdapat negara Singapura dengan jumlah PDB sebesar US $372.062.29
29ASEAN. ASEAN Statistical Yearbook 2020. DIakses Melalui
https://www.aseanstats.org/wp-content/uploads/2020/12/ASYB_2020.pdf
Gambar 2.4 PDB Per Kapita Negara-Negara Anggota ASEAN Tahun 2014-2019
Sumber: ASEAN Statistical Yearbook 2020
Grafik diatas menunjukan data PDB per kapita tiap-tiap negara anggota MEA, dari tahun 2014 sampai dengan 2019. Berbeda dari grafik sebelumnya, kalau sebelumnya negara yang memiliki jumlah nilai tertinggi adalah Indonesia, pada grafik PDB per kapita menunjukkan bahwa Singapura menjadi negara dengan jumlah PDB per kapita tertinggi diantara negara-negara ASEAN lainnya.
Singapura dengan jumlah PDB per kapita sebesar US $65.233 merupakan negara yang memiliki PDB tertinggi di ASEAN, kemudian di posisi tertinggi kedua terdapat negara Brunei Darussalam dengan jumlah PDB per kapita sebesar US
$29.343, dan di posisi tertinggi ketiga terdapat negara Malaysia dengan jumlah PDB sebesar US $11.184.30
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa adanya sebuah perbedaan antara PDB nominal dengan PDB per kapita melalui negara yang berada di posisi paling atas. Pada PDB nominal diketahui bahwa Indonesia menjadi negara yang berada pada posisi teratas dengan jumlah PDB nominal terbesar, akan tetapi pada PDB per kapita Singapura menjadi negara yang memiliki jumlah PDB per kapita tertinggi dari negara-negara anggota ASEAN lainnya. Adanya perbedaan dalam sistem perhitungan dalam mencari nilai PDB nominal dan juga PDB per kapita, hal tersebut yang kemudian menjadi penyebab adanya perbedaan jumlah akhir.
Selain PDB nominal dan juga PDB per Kapita, indikator lainnya yang dapat menjelaskan mengenai perkembangan ekonomi negara-negara anggota MEA adalah dengan menggunakan data ekspor dan juga impor barang. Nilai ekspor memiliki pengaruh yang cukup positif dan juga signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka waktu yang tergolong lebih singkat. Apabila jumlah ekspor meningkat hal tersebut dapat mendorong peningkatan terhadap produksi dalam negeri, dan apabila produksi dalam negeri meningkat hal tersebut akan menggerakkan roda perekonomian dalam negeri yang lebih baik lagi, sehingga pertumbuhan ekonomi dalam negeri dapat meningkat.31 Begitu juga
31Ismadiyanti P.A, Fitri J.W. 2018. Pengaruh Ekspor dan Impor Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Sosial, Universitas Amikom Yogyakarta. Volume 19, No.1, Hal 8
30ASEAN. ASEAN Statistical Yearbook 2020. DIakses Melalui
https://www.aseanstats.org/wp-content/uploads/2020/12/ASYB_2020.pdf
dengan nilai impor yang sama-sama memiliki pengaruh yang cukup positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Barang dan jasa yang digunakan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan juga sebagai bahan baku produksi banyak yang diimpor dari negara luar. Apabila barang dan juga jasa diimpor dari luar negara jumlahnya meningkat maka hal tersebut dapat mendorong peningkatan kegiatan perekonomian dalam negeri baik produksi, konsumsi, bahkan distribusi, dan apabila kegiatan perekonomian berjalan dengan baik maka hal tersebut akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara.32
32Ibid, Hal 9
Gambar 2.5 Ekspor Barang Negara-Negara Anggota ASEAN Tahun 2014-2019
Sumber: ASEAN Statistics Yearbook 2020
Grafik diatas menunjukan nilai ekspor barang tiap-tiap negara anggota ASEAN dari mulai tahun 2014 sampai dengan tahun 2019. Dari grafik diatas maka dapat dilihat bahwa terdapat 3 negara ASEAN yang memiliki jumlah Ekspor terbesar dibandingkan negara-negara anggota lainnya. 3 negara tersebut adalah Singapura, Thailand, dan Malaysia. Singapura dengan nilai ekspor sebesar US $390.689 merupakan negara yang memiliki nilai ekspor tertinggi di ASEAN, kemudian di posisi tertinggi kedua terdapat negara Thailand dengan nilai ekspor sebesar US $246.140, dan di posisi tertinggi ketiga terdapat negara Malaysia dengan nilai ekspor sebesar US $238.089.33
33ASEAN. ASEAN Statistical Yearbook 2020. Diakses Melalui
https://www.aseanstats.org/wp-content/uploads/2020/12/ASYB_2020.pdf
Gambar 2.6 Impor Barang Negara-Negara Anggota ASEAN Tahun 2014-2019
Sumber: ASEAN Statistics Yearbook 2020
Grafik diatas menunjukan nilai impor barang tiap-tiap negara anggota ASEAN dari mulai tahun 2014 sampai dengan tahun 2019. Dari grafik diatas maka dapat dilihat bahwa terdapat 3 negara ASEAN yang memiliki nilai impor terbesar dibandingkan negara-negara anggota lainnya. 3 negara tersebut adalah Singapura, Vietnam, dan Thailand. Singapura dengan nilai impor sebesar US
$359.263 merupakan negara yang memiliki nilai impor tertinggi di ASEAN, kemudian di posisi tertinggi kedua terdapat negara Vietnam dengan nilai impor sebesar US $253,442, dan di posisi tertinggi ketiga terdapat negara Thailand dengan nilai ekspor sebesar US $237.108.34
34Ibid
Melihat dari 4 indikator diatas maka dapat dipahami bahwa negara-negara anggota ASEAN masih banyak yang tertinggal dalam persaingan dagang yang diciptakan oleh MEA, namun persaingan dagang akan tetap terlaksana mengingat bahwa tujuan dari MEA terbilang positif yaitu untuk mensejahterakan masyarakatnya. Maka dari itu, negara-negara anggota ASEAN lainnya yang masih jauh tertinggal di belakang harus tetap berusaha dalam menyeimbangkan kekuatan yang dimiliki agar tidak tergilas dalam persaingan tersebut. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa Singapura menjadi satu-satunya negara yang memimpin perekonomian diantara negara-negara ASEAN lainnya. Melihat dari indikator yang ada mulai dari pertumbuhan ekonomi, nilai ekspor, dan nilai impor, bahkan indikator-indikator lainnya Singapura berada pada urutan pertama dari semua negara-negara anggota ASEAN maka dapat dipahami bahwa Singapura menjadi negara yang paling kuat dan juga paling siap dalam menghadapi persaingan dagang di era MEA. Kemudian disamping negara yang paling kuat dan siap, tentunya ada juga negara yang paling lemah dan jauh tertinggal di belakang.
Adapun negara yang paling lemah dan jauh tertinggal dibelakang adalah Kamboja dan Laos. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai PDB Kamboja sebesar US $27.102 pada akhir tahun 2019 dan PDB per Kapitanya sebesar US $1.663.35 Sedangkan nilai PDB Laos sebesar US $ 18.843 pada akhir tahun 2019 dan nilai PDB per Kapitanya sebesar US $2.645.36
36Ibid
35Ibid