• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI TRAYEK ANGKUTAN KOTA DI KABUPATEN PANDEGLANG (STUDI KASUS: TRAYEK C.2, C.4, DAN D.1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "EVALUASI TRAYEK ANGKUTAN KOTA DI KABUPATEN PANDEGLANG (STUDI KASUS: TRAYEK C.2, C.4, DAN D.1)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

85

EVALUASI TRAYEK ANGKUTAN KOTA DI KABUPATEN PANDEGLANG (STUDI KASUS: TRAYEK C.2, C.4, DAN D.1)

Ajeng Pratiwi PTDI-STTD

ABTRACT

Transportation has an important role in human life, especially human transportation. The Pandeglang area has 13 city transportation routes that are actively operating to this day. However, because there are routes that make deviations in running their routes, this has resulted in city transportation that has not been able to provide certainty for users of transportation services. This research then examines urban transportation with routes C.2, C.4, and D.1. The data used in the form of secondary data and primary data. The results of the study found that land use and demand factors are important to consider when building a new route. Then route C.2 needs to be returned to the original route. Finally, Dishub Pandeglang needs to provide supervision to the existing routes.

Keywords: Transportation, Routes, City Transportation, Land Use.

ABSTRAK

Transportasi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, khususnya angkutan transportasi manusia. Wilayah Pandeglang memiliki 13 trayek angkutan kota yang aktif beroperasi hingga hari ini. Namun karena terdapat adanya trayek yang melakukan penyimpangan dalam menjalankan rutenya, hal ini mengakibatkan angkutan kota yang belum mampu memberikan kepastian bagi para pengguna jasa angkutan. Penelitian ini kemudian meneliti angkutan kota dengan trayek C.2, C.4, dan D.1. Data yang digunakan berupa data sekunder dan data primer. Hasil dari penelitian menemukan bahwa faktor tata guna lahan dan permintaan penting untuk diperhatikan ketika membangun trayek baru. Kemudian trayek C.2 perlu dikembalikan ke rute awal. Terakhir Dishub Pandeglang perlu memberikan pengawasan kepada trayek yang ada.

Kata kunci: Transportasi, Trayek, Angkutan Kota, Tata Guna Lahan.

PENDAHULUAN

Transportasi darat khususnya angkutan kota merupakan unsur penting dalam menunjang setiap pergerakan manusia. Angkutan adalah perpindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan di ruang lalu lintas jalan. Perkembangan suatu wilayah dipengaruhi oleh angkutan umum, semakin tinggi aktifitas manusia maka permintaan akan pemenuhan kebutuhan transportasi sebagai sarana penunjang pergerakan aktifitas akan semakin meningkat. Di wilayah Kabupaten Pandeglang terdapat 13 trayek yang masih aktif beroperasi.

Adanya beberapa trayek yang kurang produktif pada rute yang dilalui berdasarkan surat keputusan bupati menyebabkan terjadinya penyimpangan trayek. Adapun jenis penyimpangan yang dilakukan yaitu mengikuti permintaan penumpang dan melalui jalan yang sama tetapi tidak sesuai dengan ijin trayek yang telah ditetapkan. Hal tersebut menyebabkan pelayanan angkutan kota yang ada belum mampu menciptakan kepastian pelayanan bagi pengguna jasa angkutan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 98 Tahun 2013 Tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek bahwa penyimpangan trayek maksimal adalah 30% dari jarak tempuh trayek. Melalui observasi awal dapat diketahui bahwa terdapat 3 trayek yang tidak memenuhi standar yang ditetapkan oleh SPM LLAJ karena penyimpangan terjadi lebih dari 30% yaitu trayek C.2, C.4 dan D.1 penyimpangan yang dilakukan trayek tersebut tidak menjangkau titik akhir rute berdasarkan ijin trayek. Melalui observasi awal dapat diketahui bahwa terdapat 3 trayek yang tidak memenuhi standar yang ditetapkan oleh SPM LLAJ karena penyimpangan terjadi lebih dari 30% yaitu trayek C.2, C.4 dan D.1 penyimpangan yang dilakukan trayek tersebut tidak menjangkau titik akhir rute berdasarkan ijin trayek..

Melihat permasalahan kondisi pelayanan jaringan trayek angkutan kota di Kabupaten Pandeglang tersebut, maka perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai unjuk kerja trayek angkutan kota di Kabupaten Pandeglang khususnya trayek C.2, C.4, dan D.1 sehingga dapat tercipta pelayanan angkutan kota yang aman, dan nyaman, sehingga pengguna jasa maupun operator tidak merasa

(2)

86 dirugikan. Untuk itu diperlukan adanya evaluasi trayek angkutan kota di Kabupaten Pandeglang agar permintaan dan pelayanan angkutan kota di Kabupaten Pandeglang dapat terselenggara secara efektif dan efisien.

KAJIAN LITERATUR Pengertian Transportasi

Definisi transportasi menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:

a) Menurut Morlok, transportasi didefinisikan sebagai kegiatan memindahkan atau mengangkut sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain.

b) Menurut Steenbrink, transportasi adalah perpindahan orang atau barang dengan menggunakan alat atau kendaraan dari satu tempat ke tempat-tempat yang terpisah secara geografis.

c) Menurut Soejono, transportasi dapat diartikan sebagai kegiatan yang memungkinkan perpindahan manusia dan atau barang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Dari pengertian tersebut maka setiap transportasi mengakibatkan terjadinya perpindahan dan pergerakan, yang berarti terjadi lalulintas.

Pengertian Permintaan Transportasi

Permintaan didefinisikan sebagai kuantitas total dari pelayanan atau jasa angkutan tertentu yang rela dan mampu dibeli oleh konsumen pada harga tertentu pada pasar tertentu pada periode tertentu dan pada kondisi-kondisi tertentu pula (Modul 005, Ekonomi Transport, STTD). Karakteristik dari permintaan angkutan umum dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Kelompok Choice. Merupakan orang yang memiliki pilihan untuk menentukan moda yang akan digunakan dalam melakukan mobilitas. Sehingga tidak ada kata terpaksa dalam menggunakan angkutan umum. Kelompok ini bisa saja menggunakan kendaraan pribadi, dengan alasan legal, finansial, dan fisik.

2. Kelompok Captive. Kelompok ini terdiri dari orang-orang yang tidak mempunyai pilihan lain selain menggunakan angkutan umum dalam melakukan mobilitas. Hal ini dikarenakan tidak dapat menggunakan kendaraan pribadi.

Pengertian Angkutan Umum Penumpang

Menurut Warpani, Angkutan umum adalah angkutan penumpang yang dilakukan dengan sistem sewa atau bayar. Termasuk dalam pengertian angkutan umum penumpang adalah angkutan kota (bus, minibus, dsb), kereta api, angkutan air dan angkutan udara.

Pengertian Trayek dan Jaringan Trayek

Trayek adalah lintasan kendaraan bermotor umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil penumpang atau mobil bus yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap, dan jenis kendaraan tetap serta berjadwal atau tidak terjadwal. Menurut Purwantoro, jaringan trayek adalah kumpulan dari trayek-trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang. Jaringan Trayek menurut pedoman teknis penyelenggaraan angkutan umum di wilayah perkotaan dalam trayek tetap dan teratur adalah kumpulan trayek yang menjadi satu kesatuan pelayanan angkutan orang.

Adapun faktor yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan jaringan trayek:

a) Pola Tata Guna Lahan Pelayanan angkutan umum diusahakan mampu menyediakan aksesibilitas yang baik. Lintasan trayek angkutan umum diusahakan melewati tata guna lahan dengan potensi permintaan yang tinggi.

b) Pola Pergerakan Penumpang Rute angkutan umum yang baik adalah arah yang mengikuti pola pergerakan penumpang angkutan sehingga tercipta pergerakan yang lebih efisien.

(3)

87 c) Kepadatan Penduduk Trayek angkutan umum yang ada diusahakan sedekat mungkin menjangkau wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi atau wilayah yang memiliki potensi permintaan yang tinggi.

d) Daerah Pelayanan Pelayanan angkutan umum, selain memperhatikan wilayahwilayah potensial pelayanan, juga menjangkau semua wilayah perkotaan yang ada.

e) Karakteristik Jaringan. Kondisi jaringan jalan akan menentukan pola pelayanan trayek angkutan umum

METODE

Penelitian ini diawali dengan melakukan pengumpulan data yang diperlukan berupa data primer maupun data sekunder. Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan analisis dengan metode- metode yang dapat diterima secara ilmiah. Data sekunder diperoleh melalui instansi-instansi terkait.

Sementara itu data primer diperoleh melalui survei ke berbagai pihak-pihak yang terlibat. Selanjutnya data akan dianalisis untuk melakukan kajian penataan jaringan trayek.

PEMBAHASAN

Eksisting Trayek dan Realisasinya a) Trayek C.2

Berdasarkan SK rute trayek yang diijinkan adalah dari Terminal Tarogong sampai ke Pagelaran melalui Jl. Bama Pagelaran. Tetapi pada kondisi eksistingnya, trayek ini memulai perjalanan dari Pasar Labuan untuk mendapatkan penumpang. Hal itu menyebabkan persaingan antar trayek. Selain itu, sepanjang rute trayek tersebut, pengemudi tidak menurunkan dan menaikkan penumpang pada tempat yang telah ditentukan, sehingga kriteria pelayanan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum dalam trayek berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 belum terpenuhi.

b) Trayek C.4

Berdasarkan SK rute trayek yang diijinkan adalah dari Terminal Tarogong sampai ke Angsana. Tetapi pada kondisi eksistingnya, Trayek ini hanya melayani perjalanan dari Tarogong sampai ke Pasar Panimbang karena demand menuju Pasar Panimbang cukup besar.

Selain itu, penyimpangan ini disebabkan karena sedikitnya permintaan penumpang yang menuju ke Wilayah Angsana. Selain itu, sepanjang rute trayek tersebut, pengemudi tidak menurunkan dan menaikkan penumpang pada tempat yang telah ditentukan, sehingga kriteria pelayanan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum dalam trayek berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 belum terpenuhi. Adapun kondisi tata guna lahan pada wilayah yang tidak dilalui oleh trayek ini didominasi kawasan persawahan, lahan hijau, dan sedikit rumah warga.

c) Trayek D.1

Berdasarkan SK rute trayek yang diijinkan adalah dari terminal Labuan menuju Caringin sampai ke Pasauran . Tetapi pada kondisi eksistingnya, trayek tersebut hanya melayani dari Pasar Labuan menuju Caringin sampai ke Carita melalui Jl. Raya Pasauran Labuan. Selain itu, sepanjang rute trayek tersebut, pengemudi tidak menurunkan dan menaikkan penumpang pada tempat yang telah ditentukan, sehingga kriteria pelayanan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum dalam trayek berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 belum terpenuhi. Adapun kondisi tata guna lahan pada wilayah yang tidak dilalui oleh trayek ini didominasi kawasan perkebunan kelapa, lahan kosong, dan sedikit rumah warga, trayek ini berada di sepanjang Pantai Carita.

Faktor yang Menyebabkan Angkutan Kota Tidak Beroperasi Hingga Titik Akhir Sesuai Rute yang Telah Ditetapkan

(4)

88 a) Pola Tata Guna Lahan (Land Use)

Peta tata guna lahan (Land Use) penting dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan rute angkutan umum untuk melihat daerah ataupun zona yang berpotensi memiliki bangkitan perjalanan yang tinggi dan untuk menghindari rute angkutan umum yang melewati daerah dengan permintaan angkutan yang kecil seperti halnya persawahan dan hutan. Adapun tata guna lahan di Kabupaten Pandeglang di dominasi oleh lahan hijau seperti sawah, kebun, dan hutan.

1) Pola Tata Guna Lahan rute yang dilalui C.4

Zona yang seharusnya dilalui oleh trayek ini berdasarkan ijin trayek adalah dari zona 18, zona 17, sampai ke zona 16. Namun pada kondisi eksisting, trayek ini tidak beroperasi sampai pada titik akhir di zona 16 namun hanya sampai zona 17. Hal ini dikarenakan jumlah permintaan pada zona 17 cukup besar sehingga para sopir angkot hanya mengambil dan menurunkan penumpang pada zona ini. Adapun tarikan pada titik akhir penyimpangan ini adalah pasar panimbang. Sehingga banyak penumpang yang melakukan perjalanan dari dan menuju pasar ini. Sedangkan pola tata guna lahan pada zona 16 yang dilalui oleh rute trayek berdasarkan ijin trayek sebagian besar berupa hutan, sawah, serta perkebunan. Adapun pemukiman warga hanya ada pada lokasi lokasi tertentu, hal tersebut mengakibatkan sedikitnya permintaan masyarakat akan penggunaan angkutan umum dan lebih memilih angkutan pribadi untuk melakukan aktivitasnya.

2) Pola Tata Guna Lahan rute yang dilalui D.1

Zona yang seharusnya dilalui oleh trayek ini berdasarkan ijin trayek adalah dari zona 19, zona 20, sampai zona 15 (perbatasan Kabupaten PandeglangCilegon). Namun pada kondisi eksisting, trayek ini tidak beroperasi sampai titik perbatasan namun trayek ini beroperasi hanya sampai titik sangiang (Carita) karena pada titik tersbut terdapat tarikan yaitu lokasi wisata pantai pasir putih, perhotelan, serta sub terminal Carita, namun sub terminal tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan dari titik Sangiang sampai titik akhir trayek seharusnya beroperasi permintaan penumpang sangat sedikit hal ini dikarenakan tata guna lahan sampai titik perbatasan sebagian besar berupa lahan pertanian dan perkebunan kelapa.

b) Permintaan Penggunan Angkutan Umum Pola perjalanan eksisting di Kabupaten Pandeglang dicari dengan melakukakan survey wawancara rumah tangga (Home Interview). Wilayah Kabupaten Pandeglang dibagi menjadi 24 zona internal dan 4 zona eksternal. Dari survey ini diperoleh banyaknya perjalanan yang dilakukan masyarakat di wilayah studi dari zona satu ke zona lainnya dalam bentuk matriks asal dan tujuan. Untuk menentukan permintaan perjalanan angkutan umum digunakan matriks asal tujuan pengguna angkutan umum yang didapat dari matriks asal tujuan perjalanan keseluruhan tahun 2017 kemudian dikalikan dengan prosentase penggunaan angkutan umum di wilayah Kabupaten Pandeglang yaitu sebesar 2%.

1. Trayek C.2

Zona yang seharusnya dilalui oleh trayek ini berdasarkan ijin trayek adalah zona 18.

Namun pada kondisi eksisting, trayek ini melakukan penyimpangan dengan mengambil penumpang pada zona 19. Hal ini dikarenakan tarikan pada zona 19 cukup besar karena pada zona tersebut terdapat pasar Labuan. Hal ini menyebabkan adanya persaingan antar sopir angkutan kota oleh karena itu, untuk menghindari adanya persaingan antar sopir dan tumpang tindih antar trayek. Maka rute trayek ini dikembalikan pada rute awal sesuai ijin trayek.

2. Trayek C.4

Zona yang seharusnya dilalui oleh trayek ini berdasarkan ijin trayek adalah dari zona 18, zona 17, sampai ke zona 16. Namun pada kondisi eksisting, trayek ini tidak beroperasi sampai pada titik akhir di zona 16 namun hanya sampai zona 17. Hal ini dikarenakan jumlah permintaan pada zona 17 cukup besar sehingga para sopir angkot hanya mengambil dan menurunkan penumpang pada zona ini. Sedangkan jumlah permintaan

(5)

89 menuju zona 16 cukup kecil. Berikut merupakan jumlah perjalanan pada zona yang dilalui trayek C.4.

Tabel 1. Matriks O/D Trayek C.4 Eksisting O/D 16 17 18 Total

16 0 5 4 9

17 2 0 94 96 19 7 194 0 201 Total 9 199 98 306

Total Perjalanan Trayek berdasarkan rute sesuai ijin trayek adalah 306 perjalanan orang/hari. Melihat tarikan dan bangkitan dari zona 16 terlalu kecil yaitu sebesar 9 perjalanan orang/hari. Maka rute trayek tersebut di potong hanya sampai zona 17. Hal tersebut dilakukan agar pelayanan trayek C.4 berjalan secara efektif dan efisien berdasarkan jumlah permintaan penumpang tertinggi yaitu sampai zona 17 dengan total perjalanan sebanyak 288 perjalanan orang/hari.

Tabel 2. Matriks O/D Trayek C.4 Usulan O/D 17 18 Total

17 0 94 94 19 194 0 201 Total 194 94 288

3) Trayek D.1

Zona yang seharusnya dilalui oleh trayek ini berdasarkan ijin trayek adalah dari zona 19, zona 20, sampai zona 15 (perbatasan Kabupaten PandeglangCilegon). Namun pada kondisi eksisting, trayek ini tidak beroperasi sampai titik perbatasan namun trayek ini beroperasi hanya sampai titik sangiang (Carita) karena pada titik tersebut terdapat tarikan yaitu lokasi wisata pantai pasir putih serta perhotelan. Sedangkan dari titik Sangiang sampai titik akhir trayek seharusnya beroperasi permintaan penumpang sangat sedikit.

Berikut merupakan jumlah perjalanan pada zona yang dilalui trayek D.1.

Tabel 3. O/D Matriks Trayek D.1 Eksisting O/D 15 19 20 Total

15 0 9 11 20 19 35 0 63 98 20 23 82 0 105 Total 58 91 74 223

Dilihat dari permintaan perjalanan menggunakan angkutan umum trayek D.1 diketahui bahwa jumlah permintaan cukup tinggi yaitu sebesar 223 perjalanan orang/hari. Namun trayek ini hanya beroperasi sampai pertengahan zona 15. Adapun berdasarkan hasil survei dinamis dapat dilihat pada loading profile jumlah perjalanan trayek D.1 sampai titik akhir memiliki jumlah penumpang yang sedikit. Oleh karena itu trayek ini di potong sesuai dengan rute penyimpangan atau sampai dengan titik CBD dari zona 15.

Penataan Rute Trayek yang Baik Agar Tercipta Kinerja Trayek yang Baik

Untuk melakukan perbaikan dalam sistem angkutan umum pada trayek di Kabupaten Pandeglang perlu adanya strategi peningkatan kinerja trayek. Berdasarkan SK.687/AJ.206/DRJD/2002 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan Dalam Trayek Tetap dan Teratur. Jaringan trayek adalah kumpulan trayek yang menjadi satu kesatuan pelayanan angkutan orang. Faktor yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan jaringan trayek diantaranya adalah pola tata guna lahan, dan pergerakan penumpang. Dengan adanya

(6)

90 perubahan tata guna lahan suatu wilayah dari tahun ke tahun maka dari itu perlu adanya pelaksanaan evaluasi trayek agar trayek yang beroperasi tetap beroperasi sesuai dengan ketetapan.

Rute trayek diusulkan berdasarkan kondisi saat ini yang dipengaruhi oleh tata guna lahan sekitar trayek dan lokasi-lokasi yang menjadi kantong penumpang atau memiliki banyak demand pada trayek tersebut.

Kinerja Trayek Setelah Dilakukan Penataan

Unjuk kerja trayek setelah dilakukan penataan mengalami perubahan. Berikut unjuk kerja trayek setelah dilakukan penataan:

Tabel 4. Tingkat Tumpang Tindih Usulan Trayek C.2, C.4, dan D.1 N

o Trayek Panjang Tumpang Tindih (KM)

Panjang Rute (Km)

Persentase Tumpang Tindih

(%)

Standar

SPM LLAJ Keterangan

1 C.2 0,2 9,3 2% 50% Memenuhi

2 C.4 0 12 0% 50% Memenuhi

3 D.1 2,5 10 25% 50% Memenuhi

Tabel 5. Tingkat Penyimpangan Usulan Trayek C.2, C.4, dan D.1 No Trayek

Panjang Penyimpangan

Trayek (Km)

Panjang Rute (Km)

Persentase Penyimpangan

Trayek (%)

Standar Keterangan

1 C.2 0 9,3 0 30% Memenuhi

2 C.4 0 12 0 30% Memenuhi

3 D.1 0 10 0 30% Memenuhi

Tabel 6. Waktu Tempuh Usulan Trayek C.2, C.4, dan D.1

No Kode Trayek Panjang Trayek Kecepatan (Km/Jam) Waktu Tempuh (menit)

1 C.2 9,3 22 25

2 C.4 12 25 29

3 D.1 10 29 22

Tabel 7. Waktu Sirkulasi Usulan Trayek C.2, C.4, dan D.1

Trayek Waktu Tempuh (Menit) δAB δBA TTA

(Menit)

TTB (Menit)

CT ABA (Menit)

TAB TBA

C.2 25 25 1 1 3 3 58

C.4 29 29 1 1 3 3 66

D.1 22 22 1 1 2 2 51

Tabel 8. Jumlah RIT Trayek C.2, C.4, dan D.1 Trayek WO (Jam) WS (Jam) RIT

C.2 11 1.03 11

C.4 11 0.91 12

D.1 11 1.19 9

Tabel 9. Waktu Antara (Headway) Trayek usulan C.2, C.4, dan D.1 Trayek Faktor Muat Kapasitas Penumpang Tertinggi Headway (Menit)

C.2 70% 12 69 7

C.4 70% 12 79 6

D.1 70% 12 100 5

Perbandingan Kinerja Trayek C.2, C.4, D.1 Eksisting Dengan Usulan

Dari data diatas dapat dilihat bahwa terjadi terjadi peningkatan kinerja angkutan trayek eksisting.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel perbandingan kinerja pelayanan trayek eksisting dengan trayek usulan

(7)

91 Tabel 10. Perbandingan Kinerja Trayek C.2, C.4, dan D.1 Eksisting dengan Usulan

No Kinerja Trayek C.2 Trayek C.4 Trayek D.1

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah

1 Panjang

Trayek 12 Km 9,3 Km 30 Km 13 Km 14,7 Km 10 Km

2 Tumpang

Tindih 10% 2% 0% 0% 25% 47%

3 Penyimpangan

Trayek 32% 0% 60% 0% 32% 0%

4 Waktu Antara

(Headway) 19 Menit 7 Menit 20 Menit 6 Menit 6 Menit 5 Menit 5 Frekuensi 3 kend/jam 9 kend/jam 3/ kend/jam 10

kend/jam

10 kend/jam

12 kend/jam

6 Waktu

PErjalanan 29 Menit 25 Menit 29 Menit 29 Menit 32 Menit 22 Menit

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa setelah dilakukan penataan terjadi peningkatan kinerja jaringan maupun pelayanan antara trayek C2, C3, dan D1 eksisting dengan usulan.

KESIMPULAN

Tiga dari tiga belas trayek yang beroperasi di Kabupaten Pandeglang melakukan penyimpangan lebih dari standar yang ditetapkan yaitu lebih dari 30%, hal ini disebabkan karena sedikitnya permintaan (demand) pada trayek sesuai SK Bupati Kabupaten Pandeglang yaitu pada trayek C.4 dengan rute tarogong-angsana, dan trayek D.1 dengan rute LabuanCarita. Trayek C.2 pada kondisi eksisting melakukan penyimpangan dengan mengambil penumpang pada rute trayek lain, hal tersebut disebabkan kurangnya pengawasan dari pemerintah dalam pengoperasian trayek tersebut.

Terjadi peningkatan kinerja trayek C.2, C.3, dan D.1 eksisting dibandingkan dengan usulan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Afri, A. 2020. Evaluasi Kinerja Pelayanan Angkutan Bus Damri Rute Kota Mataram-Bandara Internasional Lombok Berdasarkan Persepsi Pengguna (Doctoral dissertation, Universitas_Muhammadiyah_Mataram).

2. Buamona, M. S., Timboeleng, J., & Karongkong, H. H. 2017. Analisis Pelayanan Transportasi Angkutan Kota Di Kota Ternate. SPASIAL, 4(3), 82-95.

3. Fahmi, M. I., & Mawardi, W. H. 2007. Analisis Tingkat Kebutuhan Bis Sekolah Di Kota Semarang (Studi Kasus: Smu 2 Ksatrian/Smp 1 Ksatrian, Smpn 3 Semarang, Smpn 32 Semarang, Sd Santo Yusuf, Dan Sma Sedes Sapientiae/Smp Maria Mediatrix) (Doctoral Dissertation, F. Teknik Undip).

4. Hidayat, B., Wahyudi, E. R., & Septanto, D. 2015. Perencanaan Tempat Perhentian Angkutan Umum Di Jalan Wilayah Perkotaan Purwokerto. Jurnal Penelitian Sekolah Tinggi Transportasi Darat, 6(1), 100-110.

5. Jati, A. N. 2011. Kajian Tarikan Pergerakan Lalu Lintas Pada Guna Lahan Komersial Koridor Jalan Prof. Sudharto Semarang. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 8(3), 295-305.

6. Kadarisman, M., Gunawan, A., & Ismiyati, I. (2016). Kebijakan Manajemen Transportasi darat dan dampaknya terhadap perekonomian masyarakat di Kota Depok. Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik, 3(1), 41-58.

7. Nursetyo, G. 2016. Kajian Manajemen Sirkulasi Terminal Bus (Studi Kasus: Terminal Bus Tirtonadi Surakarta). Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur, 18(22).

8. Oliphina Maryance, B. W. 2020. Penataan Trayek Angkutan Pedesaan Di Kandangan Kabupaten Temanggung. Penataan Trayek Angkutan Pedesaan Di Kandangan Kabupaten Temanggung.

9. Pandey, S. V. 2016. Pentingnya Master Plan Dalam Proses Pembangunan Terminal Angkutan Jalan (Studi Kasus: Master Plan Terminal Ulu di Kabupaten Kepulauan Sitaro). Jurnal Sipil Statik, 4(6).

(8)

92 10. Permana, F. Y. 2016. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Jasa Angkutan Umum Bis Damri Cabang Bandung (Studi Kasus Trayek 09 Cicaheum-Leuwipanjang) (Doctoral Dissertation, Fakultas Ekonomi Unpas).

11. Prawira, I., & Wibowo, C. E. 2008. Peluang Pengembangan Angkutan Khusus Ke Bandara Ahmad Yani Semarang (Doctoral Dissertation, F. Teknik UNDIP).

12. Rahmat, A. R. A., & Octaviano, A. 2016. Aplikasi Pemesanan Tiket Bus Berbasis Web (Studi Kasus pada PO. Harapan Jaya). Jurnal Informatika Universitas Pamulang, 1(1), 1-11.

13. Razi, M., & Sumberdaya, I. E. K. P. 2014. Peranan Transportasi dalam Perkembangan Suatu Wilayah.

14. Siswoyo, M. P. 2008. Kebijakan dan Tantangan Pelayanan Angkutan Umum. Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan, 10(2), 171-180.

15. Wahyudi, M. E. 2018. Analisis permintaan transportasi ojek online di surabaya (study kasus gojek) (Doctoral dissertation, Universitas 17 Agustus 1945).\Burhanudin, M. A., Jumiati, I. E., &

Rahmawati, R. (2018). Peran Dinas Perhubungan Dalam Optimalisasi Fungsi Terminal Balaraja Kabupaten Tangerang (Periode 2016-2017) (Doctoral dissertation, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa).

Referensi

Dokumen terkait

Pada subbab ini akan dijelaskan proses penyusunan HR strategies. Proses penyusunan HR strategies ini berawal dari pengidentifikasian misi atau strategi dari unit HR

1) Peneliti dengan observer bekerja sama membuat rencana perbaikan pembelajaran tentang materi IPS topik jual beli dengan metode bermain peran. Dengan menggali

 Discount uang

positif terhadap kinerja keuangan, Agustina dan Tarigan (2014) menunjukkan bahwa ada perbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah penghargaan ISRA sehingga kinerja

Ada peningkatan hasil belajar peserta didik dalam model pembelajaran kooperatif tipe think pair share pada mata pelajaran SKI yang dapat. diketahui dari hasil tes

Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 6 Tahun 2011 tentang Izin Gangguan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 9 Tahun 2014

penerimaan dan pengeluaran Laporan Awal Dana Kampanye yang dilaporkan terhitung dari sejak pembukaan Rekening Khusus Dana Kampanye sampai dengan paling lambat 14 (empat belas)

Adanya akumulasi enzim biotransformasi obat karena peristiwa induksi selama 3 dan 5 hari pemejanan dengan jus kubis bunga memberikan hasil yang berbeda signifikan dari