• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pembayaran I (SP I) Central Banking

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sistem Pembayaran I (SP I) Central Banking"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)Central Banking. Sistem Pembayaran I (SP I).

(2) TUJUAN PEMBELAJARAN ●. ●. Mahasiwa memahami peran penting Bank Sentral dalam penyelenggaraan sistem pembayaran baik untuk transaksi bernilai besar maupun ritel beserta berbagai tahapan evolusinya. Mahasiswa memahami konsep dasar dan berbagai mekanisme sistem pembayaran baik tunai dan non-tunai, kebijakan serta arah pengembangan ke depan dalam rangka menjamin terselenggaranya sistem pembayaran secara aman, handal dan efisien..

(3) Outline Pengajaran 01. 02 Proses Penyelesaian dalam Sistem Pembayaran. Dimensi Konseptual Sistem Pembayaran. 03 Peran Bank Sentral dalam Sistem Pembayaran. 04. 05. Sistem Pembayaran di Indonesia. Isu Strategis Sistem Pembayaran.

(4) Definisi SP ● Sistem pembayaran adalah sebuah sistem yang di dalamnya terdapat: ○ seperagkat aturan; ○ kontrak/perjanjian; ○ fasilitas; dan ○ mekanisme operasional. ● Yang digunakan untuk: ○ mengirim; ○ meratifikasi dan menerima pembayaran, serta ○ memenuhi kewajiban pembayaran. ● Melalui pertukaran nilai antara individu, bank dan institusi lainnya baik domestik maupun lintas batas "antar negara”..

(5) Tujuan SP Tujuan umum dari sistem pembayaran adalah memungkinkan orang untuk memindahkan account dari satu bank ke bank lainnya (Sheppard, 1996)..

(6) Komponen SP. Instrumen dalam SP yang digunakan untuk mengatur hak dan kewajiban keuangan dari peserta yang terlibat. Lembaga yang menyediakan layanan SP. Kerangka hukum yang mengatur ruang lingkup hukum dan instrumen SP, hak dan kewajiban peserta, sanksi, dan aturan lainnya.. Kerangka kerja kebijakan SP harus jelas yang mendasari pengembangan SP.

(7) Mengapa SP Penting?. Volume dan nilai transaksi yang semakin besar. Resiko transaksi yang semakin besar. Kompleksitas dari transaksi. Perkembangan teknologi.

(8) Peran SP dalam Perekonomian Sistem pembayaran memiliki tiga peranan dalam perekonomian (Sheppard, 1996).. Stabilitas keuangan Gangguan pada sistem pembayaran akan menyebabkan keterlambatan atau kegagalan kewajiban pembayaran, yang pada gilirannya akan menyebabkan penurunan kepercayaan publik terhadap likuiditas dan stabilitas sistem keuangan dan perbankan.. Instrumen kebijakan moneter. Dengan sistem pembayaran yang lancar, kebijakan moneter dapat mempengaruhi likuiditas ekonomi sehingga proses transmisi kebijakan moneter dari sistem perbankan ke sektor riil dapat berjalan lancar.. Efisiensi ekonomi. Keterlambatan dan ketidakakuratan dalam pembayaran akan mengganggu perencanaan keuangan bisnis dan pada akhirnya akan mengakibatkan penurunan produktivitas ekonomi..

(9) Elemen Penting dalam SP Otorisasi pelaksanaan pembayaran. Terdapat tiga elemen utama dalam SP (Sheppard, 1996). Pembayar memberikan otoritas kepada bank dimana uangnya berada untuk melakukan transfer/pembayaran. Pertukaran perintah pembayaran antarbank yang terlibat dalam proses transaksi pembayaran. Hal ini sering disebut dengan kliring Setelmen (penyelesaian transaksi) antarbank yang terlibat dalam proses transaksi pembayaran. Bank pembayar harus mengkompensasi bank penerima secara bilateral atau melalui rekening yang dimiliki oleh bank-bank tersebut pada lembaga penyelenggara kliring, biasanya bank sentral suatu negara..

(10) Lembaga dalam SP Lembaga-lembaga yang terkait dengan SP. Lembaga yang menyelenggarakan sistem pembayaran Umumnya adalah bank sentral masing-masing negara atau lembaga independent (milik pemerintah atau swasta) yang diberi kewenangan oleh pemerintah untuk menyelenggaran sistem pembayaran.. Lembaga yang mengatur dan mengawasi sistem pembayaran. Bank sentral masing-masing negara.. Lembaga yang memberikan jasa pelayanan pembayaran. Bank dan lembaga keuangan non bank.. Lembaga pendukung sistem pembayaran. Penyelesaian masalah yang terjadi antara pihakpihak yang terlibat dalam sistem pembayaran (disputes dan complaints) bisanya ditunjuk suatu lembaga arbitrase..

(11) Prinsip-Prinsip Dasar SP 1. 2.. Terdapat 10 prinsip dasar dalam sistem pembayaran (The Committee on Payment and Settlement Systems (2001). Sistem pembayaran harus memiliki landasan hukum yang kuat; Sistem pembayaran harus mempunyai aturan dan prosedur yang memungkinkan peserta memahami risiko keuangan yang mungkin akan dihadapi; 3. Sistem ini harus memiliki prosedur yang jelas untuk manajemen risiko kredit dan risiko likuiditas; 4. *Sistem ini harus menjamin agar setelmen dapat dilakukan pada hari yang sama, minimal pada akhir hari; 5. *Untuk sistem yang memiliki multilateral netting, minimal sistem ini harus mampu memastikan penyelesaian setelmen harian yang cepat pada saat peserta tidak mampu menyelesaikan kewajibannya untuk satu setelmen terbesar; 6. Aset yang digunakan untuk setelmen sebaiknya berada di bank sentral (claim on the central bank). Dalam hal aset yang berada di luar bank sentral yang digunakan, maka aset tersebut harus tidak memiliki (atau kecil) risiko kredit dan risiko likuiditas; 7. Sistem ini harus menjamin tingkat keamanan dan kepercayaan operasional yang tinggi, dan harus memiliki penanganan darurat untuk penyelesaian pemrosesan harian yang cepat; 8. Sistem ini harus menyediakan alat untuk melakukan pembayaran yang praktis untuk pemakainya dan efisien untuk perekonomian; 9. Sistem ini harus memiliki tujuan dan kriteria yang transparan untuk peserta, yang memungkinkan akses yang adil dan transparan; dan 10. Pengaturan (governance arrangements) dari sistem ini harus efektif, akuntabel, dan transparan. Notes: * SP minimal memiliki 2 prinsip ini..

(12) Risiko-risiko SP (1) Terdapat 3 risiko dalam sistem pembayaran (Sheppard, 1996). Risiko kredit, risiko ini timbul dari nasabah yang ingin melakukan transaksi pembayaran.. Risiko ini ada dua, yaitu: - Risiko karena dana yang dimiliki oleh nasabah tidak cukup; dan - Risiko yang timbul karena alat pembayaran yang digunakan oleh nasabah ditolak.. Risiko penyelenggara setelmen. Risiko yang bukan bank sentral, risiko yang timbul karena kegagalan sistem pembayaran. Risiko setelmen, risiko yang timbul karena keterlambatan setelmen antara bank-bank yang terlibat dalam suatu transaksi. Keterlambatan tersebut disebabkan oleh dua hal, yaitu: a. Keterlambatan penyampaian instruksi pembayaran dari bank pengirim ke bank penerima; b. Keterlambatan penyelenggaraan setelmen..

(13) Risiko-risiko SP (2) Terdapat 5 risiko dalam sistem pembayaran (CPSS-BIS, 1996). Risiko. 1. Risiko kredit. Definisi. Risiko kredit. Risiko muncul ketika salah satu peserta dalam sistem pembayaran tidak dapat memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo atau di masa depan.. Risiko likuiditas. Risiko muncul ketika salah satu peserta dalam sistem pembayaran tidak memiliki cukup dana untuk memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo, meskipun mungkin di masa depan;. Risiko operasional. Risiko yang ditimbulkan oleh faktor operasional, seperti kesalahan fungsi teknis atau operasional, yang dapat menyebabkan atau memperburuk risiko kredit dan risiko likuiditas.. Risiko hukum. Kerangka hukum yang lemah atau ketidakpastian hukum dapat menyebabkan atau memperburuk risiko kredit dan risiko likuiditas;. Risiko sistemik. Ketidakmampuan satu peserta untuk memenuhi kewajibannya, atau gangguan dalam sistem menyebabkan ketidakmampuan peserta lain untuk memenuhi kewajiban mereka yang jatuh tempo. Lebih lanjut, kegagalan pembayaran ini dapat menyebar luas sehingga pada akhirnya dapat membahayakan sistem atau pasar keuangan..

(14) Karakteristik Instrumen dalam SP Terdapat tiga instrumen dalam sistem pembayaran (Sheppard, 1996). Instrumen SP. 1. Risiko kredit. Keterangan. Bentuk fisik. Berupa: a. Warkat atau dokumen  cek, bilyet giro, nota debet, nota kredit b. Kartu  kartu kredit, kartu debet, kartu ATM, smart cards c. Tanpa fisik  internet atau telepon.. Sistem pengamanan,. Untuk memastikan bahwa instruksi diberikan oleh yang berhak/pemilik rekening, dan bukan merupakan pemalsuan Bentuk pengamaan sangat tergantung pada bentuk fisik.. Basis pembayaran. Terdapat dua jenis, yaitu: a. Debit-based  penyampaian instruksi pembayaran dari pembayar ke penerima dana. b. Credit-based  dimulai dengan penyampaian instruksi pembayaran dari pembayar ke bank pembayar yang selanjutnya disampaikan ke bank penerima..

(15) Proses Penyelesaian Pembayaran Instrumen SP. Keterangan. Hubungan Bilateral vs Multilateral. a. Hubungan bilateral artinya setiap bank mempunyai hubungan koresponden dengan bank lain, tanpa melalui pihak ketiga, dimana setiap bank memilik rekening di bank korespondennya. b. Hubungan multilateral artinya hubungan koresponden antarbank dilakukan melalui pihak ketiga atau agen setelmen.. Sistem Batch vs Real Time. a. Sistem batch artinya instruksi pembayaran dikumpulkan terlebih dahulu sedangkan pemrosesannya dilakukan kemudian dalam jumlah tertentu sekaligus pada satu waktu tertentu, sehingga sering juga disebut sebagai sistem deferred ‘tertunda”. b. Sistem real time artinya penyampaian dan pemrosesan instruksi pembayaran dilakukan satu demi satu seketika setiap datangnya instruksi pembayaran.. Settlement Gross vs Net. a. Settlement gross artinya setiap instruksi pembayaran dikirim dari bank pembayar ke bank sentral dan secara individu diselesaikan pada rekening bank pembayar dan bank penerima, sehingga akan terdapat pembukuan debet dan kredit untuk setiap instruksi pembayaran yang diselesaikan. b. Settlement net artinya Bank tidak menyelesaikan instruksi pembayaran secara individu, seperti pada setelmen gross, melainkan bank mengumpulkan semua tagihan dan kewajiban dalam periode tertentu yang kemudian dibuatkan posisi final sebelum proses setelmen.. Real Time Gross Settlement (RTGS). Proses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran yang dilakukan per transaksi dan bersifat real-time. Kliring,. Sistem penyelesaian transaksi berbasis deffered net multilateral. Setelmen sistem pembayaran bernilai kecil pada umumnya menggunakan sistem kliring..

(16) Peran Bank Sentral dalam SP Keterlibatan atau peran bank sentral dalam SP meliputi empat hal (Sheppard, 1996). Pemakai sistem pembayaran BS mempunyai transaksi yang harus dilaksanakan, seperti setelmen dari operasi pasar terbuka, transaksi devisa, pembayaran tagihan, gaji, pensiun, dsb.. Anggota sistem pembayaran BS perlu membayar dan menerima pembayaran atas nama nasabahnya sendiri, seperti pemerintah dan lembaga keuangan internasional.. Penyedia sistem pembayaran. BS menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan sistem pembayaran.. Pelindung kepentingan umum Sebagai regulator, pengawas anggota sistem pembayaran (pengawas perbankan), administrasi dan perencanaan, dan arbitrase dalam hal terjadi perselisihan..

(17) Peran BS pada SP di Beberapa Negara Negara. Keterlibatan dalam SP. Hubungan dengan SP. Indonesia. Operator, regulator, dan pengawas. Itali. Operator dan pengawas. Malaysia. Full. Kliring dan transfer elektronik. Meksiko. Regulator. Sri Lanka. Kliring. Amerika. Operator dan pengawas. Pakistan. Sebagian. Bangladesh Perancis Cili. Kliring dimana ada kantor bank Kliring di kota-kota. Sedikit. Pengawas Regulator dan partisipasi.

(18) SISTEM PEMBAYARAN DI INDONESIA.

(19) Sejarah SP di Indonesia U No.13 TAHUN 1968 HINDIA BELANDA. 1828. UU NO.11 TAHUN 1953. 1954. de Javasche Bank Mendukung kebijakan ekonomi di koloninya Indonesia •. •. •. de Javasche Bank mempunyai hak khusus sebagai bank sirkulasi yang diijinkan untuk mencetak dan mengedarkan uang. Pembayaran melalui rekening koran baru dikenal sejak 1 Januari 1907 Perjanjian penghitungan kliring untuk wilayah Batavia (sekarang Jakarta) pertama kali ditandatangani pada 15 Februari 1909, wilayah Semarang dan Surabaya (1909), Medan (1915), Bandung (1921), dan Makasar (1922).. PERIODE KEWENANGAN DEWAN MONETER (MENTERI KEUANGAN SEBAGAI KETUA, MENTERI EKONOMI DAN GUBERNUR BANK INDONESIA SEBAGAI ANGGOTA) SELAKU PERUMUS KEBIJAKAN MONETER. 1990-1994. 1968. 1995-2000. PERAN BI PASCA HIPERINFLASI. PERIODE AWAL TERBENTUKNYA BANK INDONESIA. Pengembangan SP rekening koran (dengan cek, bank draft, nota kredit, dan warkat lainnya) dimulai sejak akhir Desember 1954.. BI menyelenggarakan kliring antarbank untuk bank-bank yang berada dalam wilayah kliring yang sama. Sistem otomasi kliring (berbasis warkat) •. bertahap diterapkan secara terbatas sejak 7 April 1990. •. Penerapan sistem otomasi kliring sepenuhnya baru dimulai sejak 4 Juni 1990 di Jakarta yang dikenal dengan Otomasi Kliring Jakarta (OKJ), Surabaya (OKS pada 6 Januari 1992) dan Medan (OKM pada 11 Januari 1994). Pada kota-kota dengan jumlah peserta dan warkat yang masih sedikit, umumnya diterapkan sistem Semi Otomasi Kliring Lokal (SOKL).. •. KEBIJAKAN DEREGULASI SISTEM KEUANGAN DAN KRISIS EKONOMI 1997 •. •. •. •. 1995, BI mulai menerapkan sistem otomasi transfer dana antar kantor terintegrasi (SAKTI). 1998, BI meresmikan pendirian Sistem Kliring Elektronik Jakarta (SKEJ). 1999, BI secara resmi menerapkan sistem transfer elektronik antarbank yang disebut Bank Indonesia Layanan Informasi dan Transaksi Elektronik (BI-LINE). 2000, BI menerapkan Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS)..

(20) Sejarah SP di Indonesia (setelah 2000).

(21) Sejarah SP di Indonesia (setelah 2000).

(22) Sejarah SP di Indonesia (setelah 2000).

(23) Sejarah SP di Indonesia (setelah 2000).

(24) Sejarah SP di Indonesia (setelah 2000).

(25) Sejarah SP di Indonesia (setelah 2000).

(26) Sejarah SP di Indonesia (setelah 2000).

(27) Sejarah SP di Indonesia (setelah 2000).

(28) Mekanisme Pembayaran. • Mayoritas masyarakat di Indonesia masih lebih menyukai menggunakan uang tunai sebagai alat pembayarannya barang dan jasa sehari-hari. • Penggunaan cek dan bilyet giro umumnya terbatas untuk perusahaan atau anggota masyarakat dari golongan ekonomi kuat. • Layanan pembayaran untuk konsumen semakin berkembang terutama di wilayah perkotaan: jaringan dan sistem layanan bank online, layanan kredit/debet langsung secara elektronik, kartu kredit/debet, jaringan ATM dan POS, smart card, dan postal money order. • Layanan perbankan elektronik melalui telpon/internet juga mulai berkembang..

(29) Perkembangan Landasan Hukum SP (1) UU 23/1999 tentang Bank Indonesia jo UU 6/2009 Pasal 1(6). Sistem pembayaran adalah suatu sistem yang mencakup seperangkat aturan, lembaga, dan mekanisme, yang digunakan untuk melaksanakan pemindahan dana guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi”. Pasal 7. Pasal 8. Tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.. Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Bank Indonesia mempunyai tugas sebagai berikut: menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter; mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; mengatur dan mengawasi Bank.. Pasal 15(1) Dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b, Bank Indonesia berwenang: melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran; mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan tentang kegiatannya; dan menetapkan penggunaan alat pembayaran..

(30) Landasan Hukum Bank Indonesia (2) Menimbang Poin (c). UU No. 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana. Penyelenggaraan transfer dana yang aman, lancar, dan memberikan kepastian bagi pihak terkait diharapkan dapat mewujudkan kelancaran sistem pembayaran nasional.. Pasal 1 Transfer Dana adalah rangkaian kegiatan yang dimulai dengan perintah dari pengirim asal yang bertujuan memindahkan sejumlah dana kepada penerima yang disebutkan dalam perintah transfer dana sampai dengan diterimanya dana oleh penerima..

(31) Peran Bank Indonesia dalam SP •. •. • •. Bank Indonesia dalam sistem pembayaran adalah sebagai regulator, fasilitator, dan katalisator pengembangan sistem pembayaran di Indonesia. Pengaturan terhadap sistem pembayaran di Indonesia yang diatur dalam berbagai ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia antara lain memuat: 1. Cakupan wewenang dan tanggungjawab penyelenggara sistem pembayaran, termasuk tanggung jawab yang berkaitan dengan manajemen risiko; 2. Jenis penyelenggaraan jasa sistem pembayaran dan prosedur pemberian persetujuan; 3. Persyaratan keamanan dan efisiensi dalam penyelenggaraan jasa sistem pembayaran; 4. Penyelenggara jasa sistem pembayaran yang wajib menyampaikan laporan, jenis laporan kegiatan, dan tata cara penyampaiannya; 5. Jenis dan persyaratan keamanan instrumen pembayaran yang dapat digunakan di Indonesia termasuk instrumen pembayaran yang bersifat elektronis, seperti kartu Automated Teller Machine (ATM), kartu debet, kartu kredit, kartu prabayar, dan kartu elektronik; dan 6. Sanksi terhadap pelanggaran ketentuan Bank Indonesia yang tidak ditaati. Bank Indonesia juga berperan sebagai lembaga pengawas. Bank Indonesia sebagai lembaga penyelenggara sistem pembayaran..

(32) Lembaga terkait dalam SP di Indonesia •. •. Lembaga yang terkait dengan sistem pembayaran di Indonesia meliputi: 1. bank sentral, 2. bank, 3. lembaga bukan bank, seperti kantor pos, lembaga kliring, pasar modal, lembaga penerbit kartu kredit, 4. lembaga penyedia jasa jaringan komunikasi dibidang sistem pembayaran, dan lembaga terkait sistem pembayaran lainnya. Untuk penyelenggaraan jasa efek, berdasarkan ketentuan Surat Keputusan Menteri Keuangan tahun 1990, kegiatan kliring dan penyelesaian transaksi bursa efek diselenggarakan oleh PT Kliring Deposit Efek Indonesia (PT KDEI) di bawah pengawasan Badan Pengawasan Pasar Modal (BAPEPAM)..

(33) BLUEPRINT SISTEM PEMBAYARAN INDONESIA 2025.

(34) Revolusi Digital-Sistem Kuangan • Revolusi digital disertai dengan perubahan prilaku transaksi dari agen ekonomi. o Prilaku belanja masyarakat mengarah kepada sistem online o Metode pembayaran mengarah kepada pembayaran non-tunai yang kemudian akan didomnasi oleh sistem mobile. o Sekat-sekat yuridiksi (borderless) akan memudar Mengurangi kedaulan ekonomi nasional • Di dunia keuangan, pelaku non-bank yang belum banyak terkena pengaturan (less-regulated) mulai merambah layanan keuangan yang selama ini didominasi bank. • Kunci utama dari era digital adalah terkait dengan data. • Sistem keuangan dituntut pada kondisi cepat, efisien, dan tetap mengutamakan keamanan..

(35) Sistem Pembayarn Ritel di Indonesia • Bank Indonesia (2019) menunjukkan bahwa volume transaksi dengan menggunakan transaksi digital semakin mendominasi dari waktu ke waktu dibandingkan kartu kredit dan kartu debit. • Hal ini didukung oleh bisnis platform online terutama fintech dan e-commerce semakin meningkat dari waktu ke waktu. o Data BI (2019): 272 pelaku fintech dan 200 pelaku e-commerce o Khusus untuk fintech didominasi oleh pinjaman sebanyak 172 pelaku. • Transaksi fintech leading dan e-commerce tumbuh dalam trend eksponensial. • Pada sistem pembayaran, kinerja transaksi fintech bahkan semakin mendekati kinerja perbankan, khususnya untuk transaksi e-commerce. • Preferensi masyarakat terhadap layanan pembayaran yang ditawarkan oleh fintech untuk transaksi e-commerce terus menguat termasuk pedagang..

(36) Tantangan SP di Era Digtal.

(37) Visi SP Indonesia (SPI) 2025.

(38) Inisiatif untuk Mewujudkan SPI 2025 Inisiaif 1 Mendukung kebijakan ekonomi di Open banking. Inisiatif ini akan dicapai melalui standardisasi open Application Programming Interface (API)..  standar data, standar teknis API, standar keamanan, dan standar governance termasuk standar kontraktual.  Langkah ini memungkinkan keterbukaan informasi keuangan dan interlink antara bank dan fintech.. Inisiatif 2 Pembayaran Ritel. Inisiatif ini akan dicapai melalui pengembangan infrastruktur yang mendukung ketersediaan layanan pembayaran secara real time, seamless, tersedia 24 jam dan 7 hari (24/7) dengan tingkat keamanan dan efisiensi yang tinggi secara end to end.. Inisiatif 4. Inisiatif 3. Data. Infrastruktur Pasar Keuangan Inisiatif ini akan dicapai melalui modernisasi infrastruktur dan penguatan kerangka regulasi infrastruktur pasar keuangan. Modern isasi BI-RTGS, BI-SSSS termasuk fungsi CSD, dan BI-ETP, serta penguatan kerangka regulasi terkait CCP dan TR termasuk pengembangannya.. Inisiatif ini akan dicapai melalui pengembangan infrastruktur publik untuk pengelolaan data.. •. •. Target: keterbukaan data (data openness), transparansi, dan disiplin pasar. pengembangan data hub, integrasi pelaporan dan pengembangan Payment ID juga merupakan key deliverables dalam inisiatif ini.. Inisiaif 5 Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan. Inisiatif ini akan dicapai melalui penguatan kerangka pengaturan, perizinan, dan pengawasan. •. kerangka pengaturan termasuk kerangka proteksi data pribadi dan keamanan siber, integrasi perizinan dan pengawasan termasuk pemanfaatan regtech dan suptech..

(39) Target Outcome Blueprint SPI 2025.

(40) Isu Strategis SP Uang digital Bank Sentral (Central Bank Digital Currency/CBDC) • • •. Ada dua hal. Kenapa CBDC penting (CPMI, 2018) CBDC akan berdampak pada payments, monetary policy implementation and financial stability. Kim and Kwon (2019) the introduction of deposits in CBDC account essentially decreases supply of private credit by commercial banks, which raises the nominal interest rate and hence lowers a commercial bank's reserve-deposit ratio. Digital Payment Payment channel. Payment technologies Players: saat ini terdapat 45 penyelenggara uang elektronik yang telah memperoleh izin dari Bank Indonesia per 26 Maret 2020. Kenapa CBDC penting (CPMI, 2018) • interest in technological innovations for the financial sector; • the emergence of new entrants into payment services and intermediation; • declining use of cash in a few countries; and • increasing attention to so-called private digital tokens.

(41) Referensi ●. ●. ●. ● ● ● ● ●. ● ● ●. Bank Indonesia (2020). Sistem Pembayaran di Indonesia. Diakses pada laman https://www.bi.go.id/id/sistem-pembayaran/diindonesia/Contents/Default.aspx Bank Indonesia (2019). Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025, Bank Indonesia: Menavigasi Sistem Pembayaran Nasional di Era Digital. Bank Indonesia. Subari dan Ascarya (2003). Kebijakan Sistem Pembayaran di Indonesia. Seri Kebangsentralan No. 8. Bank Indonesia. Bank Indonesia (2019). Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025, Bank Indonesia: Menavigasi Sistem Pembayaran Nasional di Era Digital. Bank Indonesia Chandavarkar, Anand. 1996. Central Banking in Developing Countries, MacMillan Press Ltd. Fry, Maxwell J. et al. (1999), Payment System in Global Perspective, Bank of England, London. Committee on Payment and Settlement Systems. 2000, Core Principles for Systemically Important Payment Systems, Bank for International Settlements, Basel, Switzerland. Committee on Payment and Settlement Systems. 2001. Recommendations for Securities Settlement Systems, Bank for International Settlements, Basel, Switzerland, November. Committee on Payment and Settlement Systems. 2002. Assessment Methodology for Recommendations for Securities Settlement Systems, Bank for International Settlements, Basel, Switzerland, November Committee on Payment and Settlement Systems. 2003. Payment and Settlement Systems in Selected Countries, Bank for International Settlements, Basel, Switzerland, April Sheppard, David. 1996. ‘Payment Systems’, Handbook in Central Banking no.8, Centre for Central Banking Studies Bank of England. Subari dan Ascarya (2003). Kebijakan Sistem Pembayaran di Indonesia. Seri Kebangsentralan No. 8. Bank Indonesia..

(42) TERIMAKASIH.

(43)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, siswa dapat menyampaikan pendapatnya, sehingga guru mengetahui sejauh mana pemahaman siswa pada materi yang telah diajarkan (Suprijono, 2011:109).

catatan teori), penjelasan- penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi. Kesimpulan- kesimpulan ini ditangani secara longgar,

Suatu nilai moral hanya bias diwujudkan dalam perbuatan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang yang bersangkutan; (2) berkaitan dengan hati nurani, mewujudkan nilai

[r]

Hal tersebut merupakan basis yang melatarbelakangi munculnya konsep kemitraan (contractfarming/partnership). Landasan peraturan mengenai kemitraan di Indonesia

Buckle (2007) menyatakan bahwa, telur ayam mempunyai struktur yang sangat khusus yang mengandung zat gizi yang cukup untuk mengembangkan sel yang telah dibuahi menjadi seekor

Cendo xitrol adalah obat tetes mata yang digunakan untuk mengobati penyakit Cendo xitrol adalah obat tetes mata yang digunakan untuk mengobati penyakit mata

Perlu pemasangan alat ukur flow rate gas sebelum masuk dan keluar dari setiap alat di pabrik urea pusri II, hal ini digunakan untuk meningkatkan keakuratan pembacaan jumlah gas