AS2103 Astronomi Posisi
Ferry M. Simatupang
Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung
Disclaimer
Slide kuliah ini untuk pemakaian internal di Prodi Astronomi ITB.
Tidak untuk disebar atau digunakan
di tempat lain.
Outline
Koreksi Posisi Benda Langit 1. Refraksi
2. Aberasi 3. Paralaks
4. Presesi & Nutasi
2. Aberasi
Aberasi
▪ Bergesernya posisi-tampak bintang akibat gerak Bumi.
▪ Bintang-bintang akan tampak tergeser sesuai arah
gerak Bumi
Aberasi (2)
▪ Andaikan kecepatan Bumi adalah v.
Selama selang waktu t, cahaya menempuh jarak ct sepanjang
teleskop, dan Bumi bergerak sejauh vt
▪ adalah sudut arah bintang relatif
terhadap gerak Bumi, dan ’ adalah
sudut arah tampak bintang
Aberasi (3)
Perbedaan sudut yang teramati dan yang sebenarnya:
∆𝜃 = 𝜃 − 𝜃′
Dari segitiga di gambar:
sin ∆𝜃
𝑣𝑡 = sin 𝜃′
𝑐𝑡 sin ∆𝜃 = 𝑣
𝑐 sin 𝜃′ = 𝑣
𝑐 sin 𝜃 − ∆𝜃 sin ∆𝜃 = 𝑣
𝑐 sin 𝜃 cos ∆𝜃 − cos 𝜃 sin ∆𝜃
Aberasi (4)
Jika kedua sisi bagi dengan cos ∆𝜃, diperoleh:
tan ∆𝜃 = 𝑣
𝑐 sin 𝜃 1 + 𝑣
𝑐 cos 𝜃
−1
Karena ∆𝜃 sangat kecil, maka tan ∆𝜃 = ∆𝜃, persamaan di atas dapat ditulis:
∆𝜃 = 𝑣
𝑐 sin 𝜃 − 1
2 𝑣 𝑐
2 sin 2𝜃 + ⋯ 𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑟𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖𝑣𝑖𝑠𝑡𝑖𝑘
Aberasi (5)
∆𝜃 = 𝑣
𝑐 sin 𝜃 = 𝜅 sin 𝜃
dengan adalah konstanta aberasi tahunan, yang
dapat diukur tapi juga dapat diturunkan
Konstanta Aberasi Tahunan
κ = 𝑣
𝑐 = 2𝜋 𝑟𝑎𝑑𝑖𝑢𝑠 𝑜𝑟𝑏𝑖𝑡 𝐵𝑢𝑚𝑖 𝑃𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝑜𝑟𝑏𝑖𝑡 𝐵𝑢𝑚𝑖 × 𝑐
κ = 2𝜋 1.5 × 1013
31.56 × 106 3 × 1010 𝑟𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛
κ = 2𝜋 1.5 × 1013 × 206265
31.56 × 106 3 × 1010 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 𝑏𝑢𝑠𝑢𝑟 ′′
κ = 20′′. 47
Konstanta Aberasi Diurnal
Rotasi Bumi juga mempengaruhi, dan:
κ
𝑑= 𝑣
𝑐 = 2𝜋𝑅
𝐸cos 𝜙 × 206265 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑠𝑖𝑑𝑒𝑟𝑖s × 𝑐
κ
𝑑= 0
′′. 32 cos 𝜙
Dengan R
E= radius Bumi, dan = lintang pengamat
Efek Aberasi
▪ Akibat aberasi tahunan, semua bintang dalam satu tahun tampak bergerak dalam elips kecil di langit, dengan setengah sumbu panjang elips , dan
setengah sumbu pendek elips sin , dengan
adalah lintang ekliptika benda langit.
▪ Jika kita anggap orbit Bumi adalah lingkaran, maka besar sudutnya merupakan sudut siku- siku terhadap jari-jari. Sehingga arah gerak bumi selalu
membentuk sudut 90 terhadap arah Matahari.
▪ F adalah "arah apex Bumi", di ekliptika, 90 di belakang
Matahari.
▪ F = S − 90
Gerak Revolusi Bumi
Aberasi Tahunan Pada Dan
Anggap orbit Bumi berupa lingkaran dengan kecepatan v konstan. Jika E adalah posisi Bumi setiap saat, arah gerak EF tegak lurus SE.
Misalkan E atau S 1 adalah arah titik vernal equinox, maka:
▪ ES adalah bujur Matahari ().
▪ Bujur titik F adalah ( − 90). Titik F akan
terletak 90 di belakang posisi Matahari
pada ekliptika.
Aberasi Tahunan Pada Dan (2)
Dengan menganggap Bumi sebagai pusat bola langit, titik F akan menelusuri ekliptika secara lengkap tiap tahun.
aberasi yang diperoleh akibat gerakan Bumi ini disebut Aberasi tahunan.
Pergeseran ini akan terulang setiap tahun.
▪ Misalkan F menunjukkan arah gerak Bumi dan F = − 90. Misalkan X adalah posisi benar sebuah
bintang, maka pergeseran aberasi akan terjadi pada bidang XEF.
Bintang akan bergeser sepanjang lingkaran besar XF dan diamati berada di X’.
▪ Bila XF = dan X’F = 1, maka menurut persamaan:
= − = sin (5)
Aberasi Tahunan Pada Dan (3)
▪ Misalkan K adalah kutub ekliptika, buat lingkaran
besar KX, KX’ dan lingkaran kecil XY berkutub K.
▪ Jika (,) dan (
1,
1) masing- masing adalah koordinat
ekliptika X dan X’, maka:
1− = XKY dan
1− = X’Y
Aberasi Tahunan Pada Dan (4)
Karena XY = XKY sin KX, maka: XY = (1−) cos .
Jika
= 1 − , dan = 1 − , maka:
XY = cos dan X’Y = - (6) Dalam segitiga kecil XX’Y, sudut YXX’ = , maka:
XY = XX’ cos dan X’Y = XX’ sin .
Dari persamaan (5) dan (6), diperoleh:
= sin cos sec (7)
= - sin sin (8)
Tinjau segitiga bola KXF:
KX = 90 − KF = 90
XF =
KXF = 90 +
dan XKF = ( − 90) − .
Mengingat formula sinus:
sin XF sin KXF = sin KF sin XKF
Sehingga diperoleh:
sin cos = -cos(−) (9)
Dengan menggunakan formula analog (Formula C):
sin 𝑋𝐹 cos 𝐾𝑋𝐹 = cos 𝐾𝐹 sin 𝐾𝑋 − sin 𝐾𝐹 cos 𝐾𝑋 cos 𝑋𝐾𝐹 diperoleh:
sin 𝜃 sin 𝜑 = sin 𝛽 sin ⊙ −𝜆 (10)
Dari (6) sampai (10):
= - sec cos(-) (11)
= - sin sin(-) (12)
Misalkan X adalah posisi benar bintang dengan koordinat ekuatorial (,); dan X’ adalah posisi teramati bintang dengan koordinat ekuatorial (’,’) Buat lingkaran kecil XY yang sejajar ekuator. Maka:
XPY = ’ – dan XY = XPY sin PX.
Misalkan = ’ – , dan = ’ – , maka:
= XY sec
= -X’Y Tetapi:
XY = XX’ cos YXX’
X’Y = XX’ sin YXX’
dengan persamaan aberasi (persamaan 4), diperoleh:
Aberasi Tahunan Pada RA Dan Dec
= sin sec cos YXX’ (13)
= - sin sin YXX’ (14)
Misalkan A, D menyatakan RA dan Dec F (arah gerak Bumi pada ekliptika). Dari segitiga bola PXF:
𝑃𝑋 = 90° − 𝛿, 𝑃𝐹 = 90° − 𝐷, 𝑋𝑃𝐹 = 𝐴 − 𝛼, 𝑋𝐹 = 𝜃 dan 𝑃𝑋𝐹 = 90° + 𝑌𝑋𝑋
′.
Coba gunakan: formula sinus dan formula analog, dan temukan
hubungan ’ dengan dan ’ dengan
Aberasi Tahunan Pada RA Dan Dec
• Posisi sebenarnya
Aberasi Tahunan Pada RA Dan Dec
• Posisi sebenarnya
Definisi Konstanta Aberasi Yang Tepat
▪ Konstanta Aberasi didefinisikan sebagai perbandingan
kecepatan gerak melingkar planet (dengan mengabaikan massanya) dengan kecepatan cahaya
▪ Jika kita anggap orbit Bumi adalah lingkaran dan jarak Bumi dari Matahari adalah a = 149 600 × 10
6m, jumlah detik
dalam tahun sideris adalah T = 31 556 925.974 7 s , dan kecepatan cahaya adalah c = 299 792.5 × 10
3ms
-1, maka:
𝜅 = 206265 𝑣
𝑐 = 206265 2𝜋𝑎
𝑐𝑇 = 20.
′′492
Definisi Konstanta Aberasi Yang Tepat (2)
▪ Pada kenyataannya, eksentrisitas orbit Bumi adalah e = 0.016 74, sehingga
𝜅 = 206265 𝑣
𝑐 = 206265 2𝜋𝑎
𝑐𝑇 1 − 𝑒2 1 2Τ = 20.′′ 4966
▪ Dengan demikian paralaks horisontal Matahari 𝑃 = 206265 𝑅⊕
Sehingga 𝑎
𝜅𝑃 = 2𝜋𝑅⊕ 206265 2 𝑐𝑇 1 − 𝑒2 1 2Τ
Aberasi Diurnal
▪ Selain gerak pengamat mengelilingi Matahari, juga ada gerak harian akibat rotasi bumi. Misalkan adalah jari-jari Bumi, dan adalah lintang pengamat. Lingkaran lintang sama yang melalui
pengamat mempunyai jari-jari sebesar cos . Satu hari sideris = 86 164 detik, maka kecepatan rotasi Bumi: 2𝜋𝜌 cos 𝜙
86164 km/s.
▪ Bila jari-jari Bumi 6 378 km, maka kecepatan rotasi Bumi = 0.464 cos km/s.
▪ Jika didefinisikan tetapan aberasi diurnal:
κ𝑑 = 0.464
𝑐 cos 𝜙 cosec 1" = 0". 32 cos ϕ
Jika X dan X’ adalah posisi benar dan posisi yang diamati dari sebuah bintang. Dengan persamaan (4):
XX’ = sin Buat lingkaran deklinasi sama, XY
Karena sudut jam diukur ke barat dari meridian pengamat, maka sudut jam X’ < X, karena gerak Bumi tegak lurus
meridian pengamat dan berarah ke timur. Jika H dan H’
adalah sudut jam X dan X’, maka H – H’ = XPY.
Misalkan H = H – H’ dan = ’ – , maka:
XY = XPY sin PX = -H cos dengan adalah deklinasi benar.
Juga 𝑋′𝑌 = −Δ𝛿
Tetapi 𝑋𝑌 = 𝑋𝑋′cos 𝑌𝑋𝑋’ dan 𝑋′𝑌 = 𝑋𝑋′ sin 𝑌𝑋𝑋′
Sehingga:
−Δ𝐻 cos 𝛿 = 𝜅 sin 𝜃 cos 𝑌𝑋𝑋′
(31)
−𝛿 = 𝜅 sin 𝜃 sin 𝑌𝑋𝑋′
Tinjau segitiga bola 𝑃𝑋𝐸: 𝑃𝑋 = 90° − 𝛿, 𝑃𝐸 = 90°.
𝑋𝐸 = 𝐻, 𝑃𝑋𝐸 = 90° + 𝑌𝑋𝑋′ , 𝑋𝑃𝐸 = 𝐻 − 270°.
Dengan formula sinus dan analog, diperoleh:
sin 𝑋𝐸 sin 𝑃𝑋𝐸 = sin 𝑋𝑃𝐸 sin 𝑃𝐸
sin 𝑋𝐸 cos 𝑃𝑋𝐸 = cos 𝑃𝐸 sin 𝑃𝑋 − sin 𝑃𝐸 cos 𝑃𝑋 cos 𝑋𝑃𝐸 Atau
sin 𝜃 cos 𝑌𝑋𝑋′ = cos 𝐻
sin 𝜃 sin 𝑌𝑋𝑋′ = − sin 𝛿 sin 𝐻
Bila kita gunakan persamaan (31) dan nilai = 0”.32 cos , maka diperoleh:
Δ𝐻 = 𝐻
′− 𝐻 = −0". 32 cos 𝜙 cos 𝐻 sec 𝛿 (32) Δ𝛿 = 𝛿
′− 𝛿 = 0". 32 cos 𝜙 sin 𝐻 sin 𝛿 (33)
Persamaan (32) dan (33) memberikan efek aberasi diurnal pada sudut jam dan deklinasi bintang.
Bila bintang berada di meridian, dari persamaan (33),
tampak bahwa efek pada deklinasi adalah 0 karena H = 0.
Aberasi Planet
▪ Misalkan t adalah saat pengamatan Matahari, Bulan, planet atau komet. Karena cahaya memiliki kelajuan yang berhingga misalkan saat pengamatan terjadi sesudah detik sinar meninggalkan benda yang diamati, maka posisi yang diperoleh berdasar atas anggapan Bumi diam. Tapi posisi ini sebetulnya bukan posisi saat t, tetapi saat (t – ). Jika jarak planet diketahui, bisa dihitung, sehingga posisi benar saat (t – ) bisa diperoleh.
▪ Jika RA dan Dec ingin dihitung, kita harus menambah sebesar
dan pada RA dan Dec pada saat (t – ).
▪ dan adalah kecepatan perubahan dan per satuan waktu.