• Tidak ada hasil yang ditemukan

INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS TERHADAP KEJADIAN ATOPI PADA ANAK SEKOLAH DASAR BUNDO KANDUNG DI KECAMATAN MEDAN POLONIA KOTA MEDAN SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS TERHADAP KEJADIAN ATOPI PADA ANAK SEKOLAH DASAR BUNDO KANDUNG DI KECAMATAN MEDAN POLONIA KOTA MEDAN SKRIPSI"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS TERHADAP KEJADIAN ATOPI PADA ANAK SEKOLAH DASAR BUNDO

KANDUNG DI KECAMATAN MEDAN POLONIA KOTA MEDAN

SKRIPSI

Oleh : Hubert Halim

160100213

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS TERHADAP KEJADIAN ATOPI PADA ANAK SEKOLAH DASAR BUNDO

KANDUNG DI KECAMATAN MEDAN POLONIA KOTA MEDAN

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh : Hubert Halim

160100213

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(3)
(4)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan berkat-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Skripsi ini berjudul “Infeksi Soil Transmitted Helminths Terhadap Kejadian Atopi Pada Anak Sekolah Dasar Bundo Kandung di Kecamatan Medan Polonia Kota Medan” dan merupakan salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, penulis mendapat banyak dukungan baik secara moril maupun materiil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp. S(K), yang telah mendukung skripsi ini.

2. Dosen pembimbing penulis, dr. Nurfida Khairina Arrasyid, M.Kes., yang telah banyak memberikan arahan, masukan, dan motivasi kepada penulis sehingga skripsi ini dapat berjalan dengan lancar dan selesai pada waktunya.

3. Ketua penguji, dr. Esther Reny Deswani Sitorus, M.Ked (PA)., Sp.PA dan anggota penguji, dr. Dewi Saputri, MKT, yang telah memberikan kritikan yang membangun selama pembuatan skripsi.

4. Dosen pembimbing akademik, dr. Malayana Rahmita Nasution, M.Ked (Clin-Path), Sp.PK, yang senantiasa membimbing serta memotivasi penulis selama proses perkuliahan.

5. Seluruh staf pengajar dan sivitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas bimbingan dan ilmu yang diberikan selama masa perkuliahan sehingga penulis menyelesaikan skripsi.

6. Kedua orang tua penulis, Chandra Alim dan Angelin, ketiga saudara

penulis, Edward Halim, Steven Halim dan Jennifer Halim, yang senantiasa

memberikan kasih sayang dan rasa kebersamaan dalam membantu dan

menyertai penulis dari awal penulisan proposal hingga penyelesaian

skripsi ini.

(5)

iii

7. Sahabat-sahabat seperjuangan penulis, Angeline, Jason, Wilbert Joe, Marlisa, Nicholas Davis, Vincent Alexander serta sahabat-sahabat lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah saling bahu membahu menolong satu sama lain sejak awal perkuliahan sehingga skripsi ini dapat selesai.

8. Sahabat-sahabat baik penulis, Kayudra Likuis, Steven Djingga, Yordinand yang telah menghadirkan rasa kebersamaan yang konstan dan dukungan yang berperan besar dalam pengerjaan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi konten maupun cara penulisannya. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran agar penulis dapat menyempurnakan skripsi ini.

Akhir kata, penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat dan mampu memberikan sumbangsih bagi bangsa dan Negara terutama dalam bidang pendidikan kedokteran.

Medan, 26 November 2019 Penulis,

Hubert Halim

160100213

(6)

iv

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Pengesahan ... i

Kata Pengantar . ... ii

Daftar Isi ... iv

Daftar Gambar... vi

Daftar Tabel ... vii

Daftar Lampiran ... viii

Daftar Singakatan ... ix

Abstrak ... xii

Abstract. ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.3.1 Tujuan Umum ... 4

1.3.2 Tujuan Khusus ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.4.1 Bidang Penelitian ... 4

1.4.2 Bidang Pendidikan ... 4

1.4.3 Bidang Pelayanan Masyarakat ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Soil Transmitted Helminths ... 5

2.1.1 Definisi ... 5

2.1.2 Epidemiologi ... 5

2.1.3 Jenis-jenis cacing ... 5

2.1.4 Diagnosis ... 8

2.1.5 Penatalaksaan ... 10

2.2 Alergi ... 11

2.2.1 Definisi ... 11

2.2.2 Patofisiologi ... 11

2.2.3 Manifestasi Penyakit Alergi ... 12

2.2.4 Diagnosis ... 13

2.2.5 Kuesioner ISAAC ... 15

2.3 Dermatitis Atopik ... 15

2.3.1 Definisi ... 15

2.3.2 Epidemiologi ... 15

2.3.3 Gejala Klinis... 16

2.3.4 Diagnosis ... 16

2.3.5 Tatalaksana ... 17

2.4 Rinitis Alergi ... 18

2.4.1 Definisi ... 18

2.4.2 Klasifikasi ... 18

2.4.3 Gejala Klinis... 19

2.4.4 Tatalaksana ... 19

(7)

v

2.5 Asma ... 20

2.5.1 Definisi ... 20

2.5.2 Epidemiologi ... 20

2.5.3 Klasifikasi ... 21

2.5.4 Diagnosis ... 21

2.5.5 Tatalaksana ... 24

2.6 Infeksi Soil Transmitted Helminths dengan Alergi ... 25

2.7 Kerangka Konsep ... 26

2.8 Kerangka Teori ... 27

BAB III METODE PENELITIAN ... 28

3.1 Rancangan Penelitian ... 28

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28

3.3 Populasi dan Sampel ... 28

3.3.1 Populasi ... 28

3.3.2 Sampel ... 28

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 30

3.4.1 Data Primer ... 30

3.4.2 Cara Pengumpulan Data ... 30

3.5 Metode Analisa Data ... 30

3.6 Definisi Operasional ... 31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 32

4.1 Analisis Univariat ... 33

4.2 Analisis Bivariat ... 36

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 38

4.1 Kesimpulan ... 38

4.2 Saran ... 39

DAFTAR PUSTAKA ... 40

LAMPIRAN ... 44

(8)

vi

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Siklus hidup Hookworm ... 6

2.2 Siklus hidup A.lumbricoides ... 7

2.3 Siklus hidup T.trichiura ... 8

2.4 Terapi simtomatik rinitis alergi ... 20

2.5 Tatalaksana asma ... 24

2.6 Kerangka teori ... 26

2.7 Kerangka konsep ... 27

(9)

vii

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Derajat asma ... 21

2.2 Kriteria diagnosis asma ... 23

3.1 Definisi operasional ... 31

4.1 Gambaran karakteristik sampel penelitian ... 32

4.2 Data distribusi sampel berdasarkan gejala asma ... 33

4.3 Data distribusi sampel berdasarkan gejala dermatitis ... 33

4.4 Data distribusi sampel berdasarkan gejala rinitis ... 34

4.5 Data distribusi sampel berdasarkan kejadian infeksi STH ... 35

4.6 Data distribusi cacing usus berdasarkan hasil pemeriksaan ... 35

4.7 Hubungan kejadian infeksi STH dengan gejala atopi ... 36

(10)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul Halaman

A Pernyataan Orisinalititas ... 44

B Biodata Penulis ... 45

C Lembar Penjelasan ... 47

D Lembar Persetujuan Responden ... 48

E Kuesioner Penelitian ... 49

F Ethical Clearence ... 52

G Surat Penyataan Sekolah ... 53

H Surat Izin Penelitian... 54

(11)

ix

DAFTAR SINGKATAN

AACC : American Association for Clinically Chemistry

AAD : American Academy of Dermatology

APC : Antigen Presenting Cell

ARIA : Allergic Rhinitis and It's Impact on Asthma

ASCIA : Australian Society of Clinical Immunology and Allergy

BKB : Batuk Kronik Berulang

CDC : Centers for Disease Control and Prevention

DA : Dermatitis Atopik

Dinkes : Dinas Kesehatan

FeNO : Fractional Exhaled Nitric Oxide

FEV : Forced Expiratory Volume

FVC : Forced Volume Capacity

GINA : Global Initiative for Asthma IDAI : Ikatan Dokter Anak Indonesia

IFN : Interferon

IgE : Immunoglobulin E

IgM : Immunoglobulin M

IL : Interleukin

ISAAC : The International Study Of Asthma and Allergies in Childhood

Kemenkes RI : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia KSDAI : Kelompok Studi Dermatologi Anak Indonesia

LABA : Long Acting β Agonist

MDI : Metered Dose Inhaler

MHC : Major Histocompatibility Complex

NaCl : Natrium Klorida

PEFR : Peak Expiratory Flow Rate

Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyrakat RAST : Radio allergosorbent Test Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar

SD : Sekolah Dasar

(12)

x

SPT : Skin Prick Test

STH : Soil Transmitted Helminths

Th : T-helper

WAO : World Allergy Organization

WHO : World Health Organization

(13)

xi

ABSTRAK

Latar belakang : Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara alergi dan kecacingan. Respon sistem imun tubuh manusia yang terinfeksi cacing sama dengan respon imun terhadap penyakit alergi yaitu respon Th2 yang ditandai dengan peningkatan kadar interleukin-4 (IL-4) dan interleukin-5 (IL-5) disertai dengan peningkatan kadar immunoglobulin E (IgE) dan eosinofil. Walaupun kedua penyakit ini memiliki respon imun yang sama tetapi kedua penyakit ini terjadi pada daerah yang berbeda dimana penyakit alergi lebih sering terjadi di negara maju dengan sanitasi yang baik dan penyakit infeksi cacing lebih sering terjadi di daerah yang higienisitas yang kurang baik. Keadaan ini menimbulkan dugaan bahwa infeksi cacing dapat melindungi seseorang terhadap munculnya alergi.. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada keterkaitan antara infeksi STH dengan atopi pada siswa SDS Bundo Kandung. Metode: Metode penelitian bersifat deskriptif analitik dengan desain cross-sectional.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh orangtua dan mengambil sampel feses responden. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan angka infeksi STH berdasarkan analisis sampel tinja yaitu 12,2% (N=6). Berdasarkan hasil kuesioner, tidak ada anak memiliki gejala asma dan lebih banyak anak tidak memiliki gejala rinitis alergik dan dermatitis atopik (N=9, 18,4% dan N=1, 2%). Pada data dilakukan analisis fisher exact dan ditemukan hubungan yang tidak signifikan antara kejadian infeksi STH dengan gejala atopi pada anak SD Bundo Kandung Medan. Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara kejadian infeksi STH dengan gejala atopi.

Kata Kunci : Infeksi, Soil Transmitted Helmiths, Atopi

(14)

xii

ABSTRACT

Background. The results showed the relationship between allergies and helminthiasis. The response of immune system in human body which infected with worms is the same as the immune response to allergic diseases, i.e Th2 response which is characterized by increased levels of interleukin-4 (IL-4) and interleukin-5 (IL-5) followed by increased levels of immunoglobulin E (IgE) and eosinophils.Although both diseases have the same immune response, they both occur in different areas where allergic diseases are more common in developed countries with good sanitation and worm infections are more common in areas with poor hygiene.This situation made the assumption that worm infection can protect a person against the allergies development.

Objective. This study was conducted to determine whether the incidence of STH infection is related to atopy in Bundo Kandung elementary school students. Methods. This research is a descriptive analytic study with cross sectional design. Data collection was carried out using a questionnaire filled out by parents and subject’s feses. Results. Total sample obtained is 49 people. Based on the feces sample analysis, 12,2% of the children were infected with STH (N=6)

.

Based on result of the questionnaire, no children had asthma symptoms and more children did not have symptoms of allergic rhinitis and atopic dermatitis (N = 9, 18.4% and N = 1, 2%). Fisher exact analysis was conducted on the data and found no significant relationship between the incidence of STH infection with atopy symptoms in Bundo Kandung Medan elementary school children. Conclusion. No significant relationship was found between the incidence of STH infection with atopic symptoms.

Keywords : Infection, Soil Transmitted Helminths, Atopy

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Infeksi Soil Transmitted Helminth (STH) merupakan infeksi terbanyak di dunia dan lebih banyak mempengaruhi di lingkungan yang kurang sanitasinya.

Infeksi ditransmisikan melalui telur yang terdapat pada feses yang mengontaminasi tanah di daerah dimana sanitasinya kurang. Spesies utama yang paling sering menginfeksi manusia adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) (WHO, 2019).

Lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% dari populasi dunia terinfeksi oleh STH.

Infeksi paling banyak terdapat daerah tropikal dan subtropikal, khususnya di Afrika, Amerika, Cina, dan Asia Timur (WHO, 2019). Secara geografis, insidensi infeksi parasit ini bervariasi. Prevalensi infeksi Ascaris lumbricoides yang tinggi terdapat di Cina dan Asia Tenggara. Pada negara-negara di Asia Tengah, askariasis terutama terdapat di daerah lembab. Sekitar 45% terdapat di Amerika Tengah dan Amerika Selatan (Ideham, B dan Pusarawati, S, 2007).

Di Indonesia prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak. Frekuensinya 60-90%. Insidens infeksi hookworm tinggi ditemukan pada penduduk di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Seringkali pekerja perkebunan yang langsung berhubungan dengan tanah mendapat infeksi lebih dari 70%. Sedangkan prevalensi T.trichiura di beberapa pedesaan di Indonesia frekuensinya berkisar 30-90%. Di daerah yang sangat endemik, infeksi dapat dicegah dengan pembuatan jamban yang baik, pendidikan tentang sanitas dan kebersihan perorangan, terutama anak, mencuci tangan sebelum makan, dan mencuci sayuran yang dimakan mentah adalah penting apalagi di negeri yang memakai tinja sebagai pupuk (Sutanto et al., 2008).

Infeksi STH dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan anemia.

Larva cacing Ascaris lumbricoides dapat mengakibatkan kerusakan paru-paru

sedangkan cacing dewasa dapat mengakibatkan mual, nafsu makan

(16)

berkurang, diare atau konstipasi, lesu, tidak bergairah dan kurang konsentrasi.

Pada anak infeksi kronis dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan akibat dari penurunan nafsu makan, terganggunya proses pencernaan dan malabsorbsi. Pada cacing Trichuris trichiura bagian anterior cacing yang masuk dalam mukosa usus menyebabkan trauma yang menimbulkan peradangan dan perdarahan sehingga mengakibatkan anemia karena cacing menghisap darah manusia. Pada cacing Necator americanus dan Ancylostoma duodenale dapat mengakibatkan kehilangan darah karena invasi parasit di mukosa dan submukosa usus halus (Kemenkes RI, 2012).

Atopi adalah kecenderungan seseorang atau keluarga untuk memproduksi antibodi IgE sebagai respons terhadap paparan alergen yang sedikit, sehingga mengakibatkan seseorang akan mengalami penyakit alergi seperti asma, rinitis alergi atau dermatitis atopik (WAO, 2015).

Prevalensi dermatitis atopik meningkat setiap tahunnya di Indonesia, rekapitulasi yang dilakukan oleh Kelompok Studi Dermatologi Anak (KSDAI) dari lima kota besar di Indonesia, dermatitis atopik masih menempati peringkat pertama (23,67%) dari 10 besar penyakit kulit anak dan dari sepuluh rumah sakit besar yang tersebar di seluruh Indonesia dan pada tahun 2010 kejadian dermatitis mencapai 36% angka kejadian (Ludfi, 2012).

Prevalensi rinitis alergi di beberapa kota di Indonesia adalah sebagai berikut : pada tahun 2008, prevalensi di Jakarta Barat sebanyak 16,4% pada anak usia 13- 14 tahun dengan kuesioner ISAAC (Zulkifar, 2008); pada tahun 2011, prevalensi di Semarang dengan instrumen penelitian yang sama adalah 30,2% pada anak usia 16-19 tahun (Nugraha, 2011); pada tahun 2010, penelitian di Medan didapatkan sebanyak 61.7% (Nadraja. I, 2010).

Penyakit asma di Indonesia termasuk dalam sepuluh besar penyakit penyebab

kesakitan dan kematian. Angka kejadian asma tertinggi dari hasil survei Riskesdas

di tahun 2013 mencapai 4,5% dengan penderita terbanyak adalah perempuan yaitu

4,6% dan laki-laki sebanyak 4,4% (Riskesdas, 2013). Hasil studi pendahuluan

yang peneliti lakukan pada tanggal 06 Juni 2016 di Dinas Kesehatan Kota

Surakarta dengan melihat data dari 17 puskesmas di Surakarta untuk angka

(17)

3

kejadian asma pada tahun 2013 terdapat total penderita asma sebanyak 2.112 penderita, sedangkan pada tahun 2014 jumlah penderita bertambah sebanyak 2.363 orang, dan pada tahun 2015 jumlah anak yang menderita asma terus mengalami peningkatan sebanyak 4.425 orang dan jumlah tertinggi berada di Puskesmas Sibela Mojosongo Kota Surakarta (Dinkes Surakarta, 2015).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara alergi dan kecacingan ini. Alergi dan kecacingan bisa berhubungan negatif, positif, maupun tidak ada hubungan sama sekali (Wahyuni, 2006; Cooper, 2009). Infeksi cacing tambang sendiri dilaporkan berkaitan dengan penurunan persentase asma di Ethiopia (Cooper, 2009).

Respon sistem imun tubuh manusia yang terinfeksi cacing sama dengan respon imun terhadap penyakit alergi yaitu respon Th2 yang ditandai dengan peningkatan kadar interleukin-4 (IL-4) dan interleukin-5 (IL-5) disertai dengan peningkatan kadar immunoglobulin E (IgE) dan eosinofil. Walaupun kedua penyakit ini memiliki respon imun yang sama tetapi kedua penyakit ini terjadi pada daerah yang berbeda dimana penyakit alergi lebih sering terjadi di negara maju dengan sanitasi yang baik dan penyakit infeksi cacing lebih sering terjadi di daerah yang higienisitas yang kurang baik. Keadaan ini menimbulkan dugaan bahwa infeksi cacing dapat melindungi seseorang terhadap munculnya alergi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan peneliti sebagai berikut : Apakah ada hubungan infeksi STH terhadap kejadian atopi pada anak SD Bundo Kandung?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara infeksi STH terhadap kejadian atopi pada

anak SD Bundo Kandung di Medan.

(18)

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui gambaran karakteristik sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin, umur, dan kelas .

2. Untuk mengetahui data distribusi sampel berdasarkan gejala asma.

3. Untuk mengetahui data distribusi sampel berdasarkan gejala dermatitis.

4. Untuk mengetahui data distribusi sampel berdasarkan gejala rinitis.

5. Untuk mengetahui prevalensi infeksi STH di SD Bundo Kandung.

6. Untuk mengetahui spesies STH yang menginfeksi anak SD Bundo Kandung.

7. Untuk mengetahui prevalensi riwayat atopi SD Bundo Kandung.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bidang Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian lebih lanjut tentang hubungan infeksi STH dengan kejadian atopi.

1.4.2 Bidang Pendidikan

Penelitian ini diharapkan sebagai sarana untuk melatih berpikir secara logis dan sistematis serta mampu menyelenggarakan suatu penelitian berdasarkan metode yang baik dan benar.

1.4.3 Bidang Pelayanan Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi bagi masyarakat

tentang hubungan antara infeksi STH dengan kejadian atopi.

(19)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Soil Transmitted Helminth (STH)

2.1.1 Definisi

Soil Transmitted Helminth adalah cacing usus yang menginfeksi manusia yang ditularkan melalui tanah yang terkontaminasi antara lain terdiri dari Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale dan Necator americanus (CDC, 2013).

2.1.2 Epidemiologi

Lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% dari populasi dunia terinfeksi oleh STH.

Infeksi paling banyak terdapat daerah tropikal dan subtropikal, khususnya di Afrika, Amerika, Cina, dan Asia Timur (WHO, 2019). Lebih dari 267 juta anak pada usia prasekolah dan lebih dari 568 juta anak usia sekolah tinggal di daerah yang berpotensi terinfeksi soil transmitted helminth (STH), dan membutuhkan perawatan dan pencegahan (WHO, 2019).

2.1.3 Jenis - jenis Cacing 1. Hookworm

Hookworm berkembang biak di usus halus. Telur cacing tambang

dikeluarkan melalui tinja orang yang terinfeksi. Jika orang yang terinfeksi buang

air besar di lingkungan yang terbuka (dekat semak-semak, di kebun, atau ladang)

jika kotoran orang yang terinfeksi digunakan sebagai pupuk, telur terdeposit di

dalam tanah. Telur kemudian menjadi matang dan menetas, melepaskan larva

(cacing imatur). Larva matang memiliki bentuk yang dapat menembus kulit

manusia. Sebagian infeksi cacing tambang diperoleh akibat berjalan tanpa

menggunakan alas kaki di atas tanah yang terkontaminasi. Salah satu jenis cacing

tambang juga dapat ditularkan akibat tertelan larva (CDC, 2013).

(20)

Sebagian besar orang yang terinfeksi cacing tambang tidak memiliki gejala.

Beberapa orang memiliki gejala gastrointestinal, terutama orang yang pertama kali terinfeksi cacing. Gejala paling serius dari infeksi cacing tambang adalah kekurangan darah yang akan menjadi anemia, ditambah dengan berkurangnya protein. Infeksi cacing tambang dapat diobati dengan obat yang diresepkan oleh penyedia layanan kesehatan Anda (CDC, 2013).

Gambar 2.1 Siklus hidup Hookworm (CDC, 2013).

2. Ascaris lumbricoides

Ascaris lumbricoides hidup di usus halus. Telur Ascaris lumbricoides

dikeluarkan bersama tinja orang yang terinfeksi. Jika orang yang terinfeksi buang

air besar di lingkungan terbuka (misalnya, semak-semak, kebun, atau ladang),

atau jika kotoran orang yang terinfeksi digunakan sebagai pupuk, telur terdeposit

di dalam tanah. Telur-telur yang tersimpan di dalam tanah kemudian menjadi

matang menjadi bentuk parasit yang infektif. Askariasis disebabkan oleh menelan

telur. Hal ini dapat terjadi ketika tangan atau jari yang terkontasimasi kotoran

(21)

7

dimasukan ke dalam mulut, atau dengan mengonsumsi sayuran atau buah-buahan yang tidak dimasak, dicuci, atau dikupas (CDC, 2013).

Orang yang terinfeksi Ascaris lumbricoides seringkali tidak menunjukkan gejala. Gejala yang muncul biasanya tidak serius, misalnya ketidaknyaman pada abdomen. Infeksi yang berat dapat menyebabkan penyumbatan pada usus dan mengganggu pertumbuhan pada anak-anak. Gejala lain seperti batuk adalah karena migrasi cacing di dalam tubuh (CDC, 2013).

Gambar 2.2 Siklus hidup A.lumbricoides (CDC, 2013).

3. Trichuris trichiura

Cacing cambuk hidup di usus besar dan telur cacing dikeluarkan melalui

kotoran orang yang terinfeksi. Jika orang yang terinfeksi buang air besar di

lingkungan yang terbuka, atau jika kotoran orang yang terinfeksi digunakan

sebagai pupuk, telur akan terdeposit di dalam tanah. Telur cacing kemudian

berkembang menjadi bentuk yang infektif. Infeksi cacing cambuk diperoleh akibat

tertelan telur Trichuris trichiura. Hal ini dapat terjadi ketika tangan atau jari yang

(22)

terkontasimasi kotoran dimasukan ke dalam mulut, atau dengan mengonsumsi sayuran atau buah-buahan yang tidak dimasak, dicuci, atau dikupas dengan baik (CDC, 2013).

Orang yang terinfeksi cacing cambuk dapat mengalami infeksi yang ringan maupun berat. Orang dengan infeksi ringan biasanya tidak menunjukan gejala.

Orang dengan infeksi yang berat akan menunjukan gejala seperti: sering buang air besar dan merasa kesakitan saat membuang air besar dimana kotoran mengandung campuran dari mukus, air, dan darah. Prolaps ani juga dapat terjadi. Anak-anak dengan infeksi berat dapat mengalami anemia yang berat dan terhambat pertumbuhannya. Infeksi cacing cambuk dapat diobati dengan obat yang diresepkan oleh penyedia layanan kesehatan Anda (CDC, 2013).

Gambar 2.3 Siklus hidup T.trichiura (CDC, 2013).

2.1.4 Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium

melalui salah satu teknik pemeriksaan di bawah ini:

(23)

9

1. Direct wet smear

Pengecatan langsung (Direct wet smear) dipergunakan untuk permeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi yang berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Metode pengecatan langsung harus dilakukan sebelum dilakukakan pemeriksaan dengan metode konsentrasi. Dengan metode pengecatan langsung telur cacing dan larva dapat langusng dilihat untuk menentukan ada tidaknya telur tanpa menggunakan pewarnaan (Mahode, 2011).

2. Fecal concentration method

Apabila jumlah parasit dalam specimen tinja rendah, pemeriksaan dengan metode pengecatan langsung tidak dapat mendeteksi parasit dengan baik maka tinja harus dikonsentrasi. Telur, kista, larva utuh setelah prosedur konsentrasi.

Sedangkan tropozoit dapat hancur selama proses. Terdapat dua cara yang dilakukan yaitu cara sedimentasi dan cara pengapungan tinja (flotasi) (Mahode, 2011).

a. Teknik pengapungan tinja

Metode ini direkomendasikan untuk pendeteksian telur hookworm (metode terbaik), Ascaris lumbricoides, dan, Trichuris trichiura. Metode ini tidak sesuai digunakan untuk pendeteksian trematoda dan Schistosoma spp, larva Strongiloides stercoralis, kista, trofozoit, atau protozoa.

b. Teknik sedimentasi ( Formaldehid-deterjen)

Teknik sedimentasi formaldehid-detergen merupakan teknik yang tidak mahal, aman, dan sebagai metode sedimentasi kuantitatif yang sederhana, yaitu dengan cara mencampurkan sejumlah feses ke dalam larutan formaldehid-detergen yang berat jenisnya kecil. Suspensi disaring dan kemudian, didiamkan sampai telur- telur mengendap dengan sendirinya sesuai beratnya. Detergen "membersihkan"

debris feses dalam waktu singkat. Setelah proses sedimentasi dan pembersihan

selesai, sejumlah keeil endapan. halus yang terbentuk diamati di bawah mikroskop

untuk meneari telur-telur, yang kemudian dihitung sehingga dapat diperoleh hasil

pemeriksaan kuantitatif.

(24)

3. Metode Kato-Katz

Metode yang paling sering digunakan untuk menentukan kuantitas dari telur cacing. Metode ini berfungsi untuk menentukan efektifitas obat anti cacing (sebelum dan sesudah diberi obat) dan untuk menentukan derajat keparahan infeksi (Mahode, 2011).

4. Metode Harada-Mori

Metode Harada-Mori ditemukan oleh Harada dan Mori pada tahun 1955.

Metode Harada-Mori merupakan metode kultur untuk fase larva nematoda.

Strip kertas saring dicelupkan sebagian ke dalam tabung reaksi berisi air.

Setiap larva yang terdapat dalam spesimen akan bermigrasi menjauhi arus air, yang tel'jadi akibat adanya gaya kapiler, dan terakumulasi pada bagian dasar tabung (Mahode, 2011).

2.1.5 Penatalaksanaan

Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau secara massal. Untuk perorangan dapat digunakan bermacam-macam obat misalnya : piperasin, pirantel pamoat 10 mg/kgBB, dosis tunggal mebendazol 500 mg atau albendazol 400 mg 1. Ascaris lumbricoides

- Pirantel pamoat, 10 mg/kgBB, dosis tunggal - Mebendazol 500 mg, dosis tunggal

- Albendazol 400 mg, dosis tunggal (Sutanto et al., 2008) 2. Hookworm

Pengobatan terhadap cacing dewasa digunakan gabungan pirantel-pamoat dengan mebendazol, dengan cara pirantel pamoat dosis tunggal 10 mg/kgBB diberikan pada pagi hari diikuti dengan pemberian mebendazol 100 mg 2 kali sehari selama 3 hari berturut-turut. (Sutanto et al., 2008)

3. Trichuris trichiura

- Albendazol 400 mg (dosis tunggal)

- Mebendazol 100 mg (dua kali sehari selama tiga hari berturut-turut) (Sutanto

et al., 2008)

(25)

11

2.2 Alergi 2.2.1 Definisi

Alergi adalah kondisi kronis yang melibatkan reaksi abnormal terhadap zat yang tidak berbahaya bagi sebagian besar orang. Zat-zat ini dikenal sebagai alergen dan dapat ditemukan pada tungau debu, hewan peliharaan, serbuk sari, serangga, kutu, jamur, makanan, dan beberapa obat (ASCIA, 2017).

Atopi adalah kecenderungan seseorang atau keluarga untuk memproduksi antibodi IgE sebagai respons terhadap paparan alergen yang sedikit, sehingga mengakibatkan seseorang akan mengalami penyakit alergi seperti asma, rhinokonjungtivitis atau dermatitis (WAO, 2015). Atopi diasosiasikan dengan peningkatan respons imun terhadap alergen yang umum, terutama alergen yang dihirup dan alergen makanan. Perkembangan penyakit yang berhubungan dengan atopi (dermatitis atopi, rinitis dan asma) dinamakan atopy march atau allergic march.

2.2.2 Patofisiologi 1. Fase sensitisasi

Alergen memasuki tubuh manusia melalui berbagai rute diantaranya kulit, saluran nafas, dan saluran pencernaan. Ketika masuk, alergen akan dijamu serta diproses oleh Antigen Presenting Cells (APCs). Kemudian APC akan mempresentasikan Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas II kepada sel limfosit T helper (Th0) di dalam limfe sekunder. Sel Th0 akan mengeluarkan Interleukin-4 (IL-4) yang merubah proliferasi sel Th menjadi Th2. Sel Th2 akan menginduksi sel limfosit B (sel B) untuk memproduksi Imunoglobulin (Ig). Pada orang dengan alergi, Th1 tidak cukup kuat menghasilkan interferon gamma (IFN- ɤ) untuk mengimbangi aktivitas Th2, sehingga Th2 akan lebih aktif memproduksi IL-4. Hal ini menyebabkan sel B menukar produksi antibodi IgM menjadi IgE.

IgE akan menempel pada reseptor IgE berafinitas tinggi (FcƐRI) pada sel mast, basofil dan eosinofil.

2. Fase reaksi

(26)

Beberapa menit setelah paparan ulang alergen, sel mast akan mengalami degranulasi yaitu suatu proses pengeluaran isi granul ke lingkungan ekstrasel yang berupa histamin, prostaglandin, serta sitokin-sitokin yang menimbulkan gejala klinis.

3. Fase reaksi lambat

Fase ini dimulai pada 2-6 jam setelah paparan alergen dan puncaknya setelah 6-9 jam. Mediator inflamasi akan menginduksi sel imun seperti basofil, eosinofil dan monosit bermigrasi ke tempat kontak dengan paparan alergen. Sel-sel tersebut akan mengeluarkan substansi inflamasi spesifik yang menyebabkan aktivitas imun berkepanjangan serta kerusakan jaringan

2.2.3 Manifestasi Penyakit Alergi 1. Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik (DA) atau eksim atopik adalah penyakit merupakan kelainan kulit tersering pada anak. Dermatitis atopik telah menjadi masalah kesehatan yang penting terutama pada bayi dan anak saat ini karena menyebabkan kondisi yang tidak nyaman pada bayi dan anak akibat iritasi dan rasa gatal yang dominan di daerah kulit sehingga dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak. Pada sebagian besar pasien, DA merupakan penyakit alergi awal terjadi sebelum asma dan rinitis alergi di kemudian hari. Dermatitis atopi terjadi akibat interaksi multifaktorial, yaitu faktor genetik (keturunan), lingkungan, gangguan fungsi sawar (pelindung) kulit, faktor imunologik, dan infeksi (IDAI, 2018).

2. Rinitis Alergik

Rinitis alergi adalah salah satu penyakit alergi yang umumnya diderita pada

usia anak sekolah dan dapat terus berlangsung sampai dewasa apabila tidak

ditangani dengan baik. Angka kejadian rinitis alergi di dunia bervariasi dan dapat

mencapai 40% populasi pada anak, dan sekitar 10-30% dewasa. Penyakit alergi

lain seperti asma atau dermatitis atopik (eksim) dapat juga menyertai rinitis alergi

ini. Bagi penderita asma, apabila rinitis alergi tidak ditangani dengan baik, maka

serangan asma dapat sulit dikontrol dan juga sebaliknya.

(27)

13

Anak yang berisiko menderita rinitis alergi adalah anak-anak dengan riwayat penyakit alergi pada keluarga. Perlu ditelusuri riwayat penyakit alergi seperti asma, rinitis alergi, atau dermatitis atopik (eksim) pada orang tua dan saudara sekandung. Apabila ada orang tua atau saudara sekandung memiliki riwayat penyakit alergi, maka anak mempunyai risiko lebih tinggi menderita penyakit alergi termasuk rinitis alergi (IDAI, 2014).

3. Asma

Penyakit asma merupakan proses inflamasi kronik saluran pernapasan yang melibatkan banyak sel dan elemennya. Proses inflamasi kronik ini menyebabkan saluran pernapasan menjadi hiperesponsif,, sehingga memudahkan terjadinya bronkokonstriksi, edema, dan hipersekresi kelenjar, yang menghasilkan pembatasan aliran udara di saluran pernapasan dengan manifestasi klinik yang periodic berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, batuk-batuk terutama pada malam hari atau dini hari/subuh. Gejala ini berhubungan dengan luasnya inflamasi, yang derajatnya bervariasi dan bersifat reversible secara spontan maupun dengan atau tanpa pengobatan (GINA, 2011).

2.2.4 Diagnosis 1. Anamnesis

Gejala dermatitis atopi umumnya memiliki keluhan dan gejala kulit kering, kemerahan, bersisik, dan gatal pada satu atau beberapa tempat di wajah, leher, lipatan siku/lutut, siku/lutut, pergelangan kaki hilang timbul, dan berlangsung lama (kronik). Pada rinitis alergi terjadi reaksi alergi yang menyebabkan peradangan pada daerah hidung yang dapat menyebabkan keluarnya sekret/lendir (pilek), rasa gatal, bersin, dan hidung tersumbat. Keluhan ini dapat disertai juga dengan mata merah, gatal, dan berair. Keluhan lain yang dapat menyertai adalah mimisan, tidur mengorok, gangguan pada telinga, sakit kepala apabila terjadi komplikasi sinusitis. Gejala asma berupa adanya lebih dari satu gejala berikut:

mengi, sesak napas, batuk, dan dada terasa berat cenderung pada malam hari atau menjelang pagi.

2. Pemeriksaan penunjang

(28)

a. Pemeriksaan skin prick test

Skin prick test merupakan tes yang paling sering dikerjakan untuk menentukan adanya IgE spesifik untuk beberapa alasan. Skin prick test tidak invasif, aman, hasil dapat diperoleh dengan cepat (15-20 menit), lebih murah dibandingkan pemeriksaan IgE spesifik dalam darah dan mempunyai hasil yang cukup baik.

Namun, tes ini tidak dapat dilakukan pada keadaan: (1). Kelainan kulit yang luas karena SPT harus dikerjakan pada kulit yang sehat (2) Tidak menghentikan konsumsi obat antihistamin/obat anti alergi, karena bila obat tersebut dihentikan keluhan alergi yang timbul sangat berat (3) Dermatografisme (keadaan kulit yang menjadi bentol dan merah apabila ditekan/digores). Prosedur SPT dimulai dengan meneteskan beberapa jenis cairan alergen yang akan diujikan di daerah lengan bawah. Jarum akan digunakan untuk mencukit/menusuk kulit pada lokasi alergen.

Proses ini akan menimbulkan sedikit rasa sakit tapi tidak akan menimbulkan perdarahan. Setelah seluruh alergen dicukit, anak diminta untuk menunggu selama 15 menit. Setelah 15 menit akan timbul bentol dan kemerahan di lokasi alergen yang sensitif (IDAI, 2015).

b. Uji tempel kulit

Pemeriksaan ini dilakukan untuk evaluasi reaksi hipersensitivitas tipe lambat.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menempelkan alergen di kulit selama 2-3 hari (IDAI, 2015).

c. Pemeriksaan Laboratorium - Kadar IgE spesifik alergen

Pemeriksaan kadar IgE spesifik dapat dilakukan dengan RAST (Radio allergosorbent test). Pemeriksaan kadar IgE spesifik bertujuan untuk mengukur jumlah antibodi IgE spesifik alergen dalam darah untuk mendeteksi alergi terhadap suatu zat tertentu (AACC, 2018).

- Kadar IgE total serum

Pemeriksaan IgE total dilakukan untuk menunjang diagnosis penyakit alergi.

Pemeriksaan IgE total adalah pemeriksaan darah yang mendeteksi jumlah total

protein IgE (termasuk antibodi alergi) tetapi tidak mengidentifikasi alergen

(29)

15

spesifik. Kondisi selain alergi seperti infeksi parasit dan beberapa penyakit imunodefisiensi juga dapat menyebabkan tingkat IgE meningkat (AACC, 2018).

- Pemeriksaan darah lengkap

Pemeriksaan darah lengkap dilakukan untuk mengukur kadar eosinofil.

Peningkatan eosinofil terjadi pada orang dengan alergi, infeksi parasit, pajanan obat, dan defisiensi imun (AACC, 2018).

2.2.5 Kuesioner International Study of Asthma and Allergies In Childhood (ISAAC)

ISAAC, The International Study of Asthma and Allergies in Childhood, adalah program penelitian epidemiologi di seluruh dunia yang didirikan pada tahun 1991 untuk menyelidiki asma, rinitis, dan eksim pada anak-anak karena tingkat kewaspadaan yang besar bahwa kondisi tersebut meningkat di negara- negara barat dan berkembang.

2.3 Dermatitis Atopik 2.3.1 Definisi

Dermatitis atopik adalah peradangan kulit kronis dan residif, biasanya terjadi selama masa bayi dan anak. Dermatitis atopik (DA) sering dihubungkan dengan peningkatan IgE dan riwayat atopi dan cenderung diwariskan. Rasa gatal pada DA bisa sangat kuat yang menyebabakan anak tidak bisa tidur dan menyebabkan anak menggaruk yang dapat menyebabkan infeksi kulit (AAD, 2018).

2.3.2 Epidemiologi

Prevalensi DA secara umum berkisar antara 10-20 % pada anak, sedangkan 1-

3% pada populasi dewasa. Sebagian besar orang (90%) mendapatkan DA sebelum

usia ke-5. DA jarang dimulai ketika seseorang sudah dewasa (AAD, 2018).

(30)

2.3.3 Gejala Klinis

Berdasarkan usia pasien dan distribusi kelainan kulit, DA dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase infantil (0-2 tahun), anak (2 tahun-pubertas), dan dewasa.

1. Fase infantil (2 bulan-2 tahun)

Umumnya lesi awal muncul pada usia 2 bulan, biasanya simetris pada kedua pipi, kemudian menyebar ke dahi, kulit kepala, telinga, leher, pergelangan tangan dan tungkai.

2. Fase anak (2-10 tahun)

Fase ini dapat bersifat langsung maupun lanjutan dari fase infantil, muncul di lipat siku, lipat lutut, lesi juga bisa mengenai bagian luar sendi serta pergelangan tangan dan pergelangan kaki, kelopak mata dan leher. Anak dapat mengalami gangguan fungsional karena nyeri apabila timbul luka pada kulit. Pada dermatitis berat (lebih dari 50% luas permukaan tubuh) seringkali terjadi gangguan psikologis.

3. Fase remaja dan dewasa (>13 tahun)

Lesi khas pada fase ini adalah eksim likenifikasi (penebalan kulit) pada daerah lipatan, plak hiperpigmentasi (perubahan warna kulit menjadi lebih gelap), dan skuama (bersisik) di pergelangan tangan, pergelangan kaki, leher dan kelopak mata (IDAI, 2018).

2.3.4 Diagnosis

Diagnosis DA didasarkan 3 kriteria mayor + 3 kriteria minor dari kriteria Hanifin dan Rajka

Kriteria mayor : 1. Pruritus

2. Dermatitis di wajah atau ekstensor pada bayi dan anak 3. Dermatitis di fleksor pada dewasa

4. Dermatitis kronis/residif

5. Riwayat atopi pada penderita/keluarga Kriteria minor :

1. Xerosis kutis

(31)

17

2. Infeksi kulit

3. Dermatitis non spesifik pada tangan atau kaki 4. Iktiosis/hiperlinier palmaris/keratosis piliaris 5. Ptiarisis alba

6. Dermatitis di papilla mammae

7. White demographism dan delayed blanch response 8. Cheilitis

9. Lipatan infraorbita Dennie-Morgan 10. Konjungtivitis berulang

11. Keratokonus

12. Katarak subkapsular anterior 13. Orbita gelap

14. Muka eritema

15. Gatal bila berkeringat

16. Intoleransi terhadap wol/pelarut lemak 17. Aksentuasi perifolukular

18. Hipersensitif terhadap makanan

19. Perjalanan penyakit terpengaruh faktor lingkungan/emosi 20. Tes kulit alergi tipe akut positif

21. Kadar IgE serum meningkat 22. Awitan usia dini

2.3.4 Tatalaksana

Tatalaksana bertujuan untuk mengurangi tanda dan gejala penyakit dan juga

mencegah kekambuhan di kemudian hari. Panduan Diagnosis dan Tatalaksana

Dermatitis Atopik di Indonesia yang disusun oleh Kelompok Studi Dermatologi

Anak Indonesia dan Kelompok Studi Imunodermatologi Perhimpunan Dokter

Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia bekerjasama dengan Unit Kelompok

Koordinasi Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, menyebutkan bahwa

tatalaksana DA meliputi penghindaran dan modifikasi faktor pencetus

lingkungan/modifikasi gaya hidup, memperkuat dan mempertahankan fungsi

(32)

sawar kulit yang optimal, menghilangkan penyakit kulit inflamasi, mengendalikan dan mengeliminasi siklus gatal-garuk, dan edukasi serta caregivers (IDAI, 2018).

2.4 Rinitis Alergi 2.4.1 Definisi

Rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinorea, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE (ARIA, 2012).

2.4.2 Klasifikasi

Klasifikasi menurut Allergic Rhinitis and Its Impact On Asthma berdasarkan karakteristik gejala, rinitis alergi dapat dibagi menjadi :

1. Ringan (mild), harus memenuhi semua hal berikut ini :

 Tidak ada gangguan tidur

 Tidak ada gangguan aktivitas sehari-hari, olahraga, dan rekreasi

 Tidak ada gangguan pada pekerjaan dan aktivitas belajar

 Tidak ada gejala yang berat

2. Sedang-berat (moderate-severe), memenuhi satu atau lebih dari hal-hal berikut:

 Gangguan tidur

 Gangguan aktivitas sehari-hari, olahraga, dan rekreasi

 Gangguan pada pekerjaan dan aktivitas belajar

 Gejala yang berat

Berdasarkan frekuensi gejala dibagi menjadi :

1. Intermitten : kurang dari 4 hari dalam seminggu atau kurang dari 4 minggu berturut-turut.

2. Persisten : lebih dari 4 hari dalam seminggu dan lebih dari 4 minggu berturut-

turut.

(33)

19

2.4.3 Gejala Klinis

Pada rinitis alergi terjadi reaksi alergi yang menyebabkan peradangan pada daerah hidung yang dapat menyebabkan keluarnya sekret/lendir (pilek), rasa gatal, bersin, dan hidung buntu. Keluhan ini dapat disertai juga dengan mata merah, gatal, dan berair. Keluhan lain yang dapat menyertai adalah mimisan, tidur mengorok, gangguan pada telinga, sakit kepala apabila terjadi komplikasi sinusitis. Gejala-gejala ini bervariasi dari ringan-sedang sampai berat. Pada anak dengan gejala rinitis alergi yang berat, maka kegiatan anak pada pagi hari dapat terganggu karena kualitas tidur malam yang tidak optimal akibat obstruksi/sumbatan pada hidung yang cukup berat. Konsentrasi anak di sekolah dapat terganggu karena anak merasa masih mengantuk, prestasi belajar dapat menurun. Penyakit alergi lain seperti asma atau dermatitis atopik (eksim) dapat juga menyertai rinitis alergi ini (IDAI, 2014).

2.4.4 Tatalaksana

1. Antihistamin diberikan untuk gejala ringan. Contohnya : cetrizine (10 mg PO 1x/hari), fexofenadine (120 mg 1x/hari), loratadin (10 mg PO 1x/hari)

2. Dekongestan diberikan apabila disertai obstruksi nasal. Termasuk adrenergic (vasokontriktor). Hindari pemakaian jangka lama untuk menghindari rinitis medikamentosa.

3. Kortikosteroid diberikan untuk gejala sedang-berat atau persisten. Contohnya : beclomethasone (168 – 336 µg/hari), budesonide (252 µg/hari), fluticasone (100-200 µg/hari).

4. Kromalin sodium diberikan untuk menurunkan jumlah akumulasi sel-sel eosinofil pada biosi muka pernderita rinitis alergi serta dapat menekan fungsi sel-sel proinflammatory.

5. Antikolinergik topical (Ipatropium Bromida) diberikan untuk menghambat pelepasan asetilkolin, stimulasi parasimpatis (mengurangi gejala rinore).

6. Antileukotrien diberikan untuk mengatasi gejala hidung tersumbat.

(34)

Gambar 2.4 Terapi simtomatik rinitis alergi (ARIA, 2012).

2.5 Asma 2.5.1 Definisi

Asma adalah penyakit saluran respiratori dengan dasar inflamasi kronik yang mengakibatkan obstruksi dan hiperaktivitas saluran respiratori dengan derajat bervariasi. Manifestasi klinis asma dapat berupa batuk, wheezing, sesak napas, dada tertekan yang timbul secara kronik dan atau berulang, reversibel, cenderung memperberat pada malam atau dini hari, dan biasanya timbuka jika ada pencetus (IDAI, 2016).

2.5.2 Epidemiologi

National Health Interview Survey di Amerika Serikat memperkirakan bahwa

setidaknya 7,5 juta orang penduduk negeri itu mengidap bronkitis kronik, lebih

dari 2 juta orang menderita emfisema dan setidaknya 6,5 juta orang menderita

salah satu bentuk asma. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 300 juta orang

menderita asma dan tahun 2025 diperkirakan jumlah pasien asma mencapai 400

juta. Jumlah ini dapat saja lebih besar mengingat asma merupakan penyakit yang

underdiagnosed. Buruknya kualitas udara dan berubahnya pola hidup masyarakat

(35)

21

diperkirakan menjadi penyebab meningkatnya penderita asma. Data dari berbagai negara menunjukan bahwa prevalensi penyakit asma berkisar antara 1-18%

(GINA, 2011).

2.5.3 Klasifikasi

Klasifikasi kekerapan dibuat pada kunjungan-kunjungan awal dan dibuat berdasarkan anamnesis:

Tabel 2.1 Derajat Asma (IDAI, 2016)

Derajat asma Uraian kekerapan gejala asma

Intermitten Episode gejala asma <6x/bulan atau jarak gejala > 6 minggu Persisten ringan Episode gejala asma >1x/bulan, <1x/ minggu

Persisten sedang Episode gejala asma >1x/minggu, namun tidak setiap hari Persisten berat Episode gejala asma terjadi hampir setiap hari

Keterangan :

1. Klasifikasi berdasarkan kekerapan gejala dibuat setelah dibuat diagnosis kerja asma dan dilakukan tata laksana umum (pengendalian lingkungan, penghindaran pencetus) selama 6 minggu.

2. Jika sudah yakin diagnosis asma dan klasifikasi sejak kunjungan awal, tatalaksana dapat dilakukan sesuai klasifikasi.

3. Klasifikasi kekerapan ditujukan sebagai acuan awal penetapan jenjang tata laksana jangka panjang.

4. Jika ada keraguan dalam menentukan klasifikasi kekerapan, masukkan ke dalam klasifikasi lebih berat.

2.5.4 Diagnosis 1. Anamnesis

Keluhan wheezing dan atau batuk berulang merupakan manifestasi klinis yang

diterima luas sebagai titik awal diagnosis asma. Gejala respiratori asma berupa

kombinasi dari batu, wheezing, sesak napas, rasa dada tertekan, dan produksi

(36)

sputum. Chronic recurrent cough (batuk kronik berulang, BKB) dapat menjadi petunjuk awal untuk membantu diagnosis asma. Gejala dengan karakteristik yang khas diperlukan untuk menegakkan diagnosis asma. Karakteristik yang khas diperlukan untuk menegakkan diagnosis asma. Karakteristik yang mengarah ke asma adalah :

 Gejala timbul secara episodic atau berulang.

 Timbul bila ada faktor pencetus.

 Adanya riwayat alergi pada pasien dan keluarganya.

 Variabilitas, yaitu intensitas gejala bervariasi dari waktu ke waktu bahkan dalam 24 jam. Biasanya gejala lebih berat pada malam hari (nocturnal)

 Reversibilitas, yaitu gejala dapat membaik secara spontan atau dengan pemberian obat pereda asma.

2. Pemeriksaan fisik

Dalam keadaan stabil tanpa gejala, pada pemeriksaan fisik pasien biasanya tidak ditemukan kelainan. Dalam keadaan sedang bergejala batuk atau sesak, dapat terdengar wheezing, baik yang terdengar langsung (audible wheeze) atau yang terdengar dengan stetoskop. Selain itu, perlu dicari gejala alergi lain pada pasien seperti dermatitis atopi atau rinitis alergi dan dapat pula dijumpai tanda alergi seperti Allergic shiners atau geographic tongue.

3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan ini untuk menunjukkan variabilitas gangguan aliran napas akibat obstruksi, hiperaktivitas, dan inflamasi saluran respiratori, atau adanya atopi pada pasien.

 Uji fungsi paru dengan spirometri sekaligus uji reversibilitas dan untuk menilai variabilitas. Pada fasilitas terbatas dapat dilakukan pemeriksaan dengan peakflowmeter.

 Skin prick test, eosinofil total darah, pemeriksaan IgE spesifik.

 Uji inflamasi saluran respiratori: FeNo(fractional exhaled nitric oxide),

eosinofil sputum.

(37)

23

 Uji provokasi bronkus dengan exercise, metakolin, atau larutan salin hipertonik.

Tabel 2.2 Kriteria Diagnosis Asma (IDAI, 2016).

Gejala Karakteristik

Wheezing, batuk, sesak napas, dada tertekan, produksi sputum

Biasanya lebih dari 1 gejala respiratori Gejala berfluktuasi intensitasnya seiring

waktu

Gejala memberat pada malam atau dini hari

Gejala timbul bila ada pencetus Konfirmasi adanya limitasi aliran udara ekspirasi

Gambaran obstruksi saluran respiratori FEV 1 rendah (<80% nilai prediksi) FEV 1 / FVC < 90 %

Uji reversiblitas (pascabronkodilator) Peningkatan FEV > 12%

Variabilitas Perbedaan PEFR harian 13%

Uji provokasi Penurunan FEV>20 % atau PEFR >15%

(38)

2.5.5 Tatalaksana

Gambar 2.5 Tatalaksana asma (IDAI, 2016)

(39)

25

2.6 Hubungan Infeksi Soil Transmitted Helmiths dengan Atopi

Ada kesamaan dalam jalur imunologis antara infeksi cacing dengan alergi yang ditandai dengan peningkatan eosinofil, IgE dalam serum, basofil dan sel mast dalam jaringan yang merupakan respon hipersensitivitas tipe 1 (Andiarsa et al., 2012). Respon imunologis pada infeksi cacing dan alergi ini merupakan respon Thelper2 yaitu diferensiasi dan polarisasi sel limfosit T lebih dominan pada Th2. (Rusjdi, 2015)

Apabila ditinjau dari segi epidemiologi, prevalensi penyakit alergi cenderung lebih banyak terjadi di daerah maju dengan higiene dan sanitasi yang baik sedangkan infeksi cacing banyak terjadi di daerah dengan sanitiasi yang kurang baik. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan apakah kecacingan mempunyai efek proteksi terhadap manifestasi klinis berbagai macam penyakit alergi. Hal ini dapat dihubungkan dengan teori hygiene hypothesis yaitu kurangnya paparan tubuh terhadap agen infeksi akan menyebabkan sistem imun tidak berkembang secara sempurna pada polarisasi Th1 dan terjadi peningkatan polarisasi Th2 yang menyebabkan peningkatan prevalensi alergi (Rusjdi, 2015).

Infeksi cacing dapat memberikan efek proteksi terhadap penyakit alergi dengan mekanisme berupa IgE blocking hypothesis, penghambatan oleh IgG4, dan modified Th2 response (Rusjdi, 2015).

1. IgE blocking hypothesis

Pada infeksi cacing terjadi pembentukan IgE poliklonal yang tidak spesifik.

IgE poliklonal ini akan menempel pada reseptor Fcϵ sel mast sehingga penempelan IgE spesifik dari alergen akan terhambat yang mengakibatkan degranulasi histamin dan reaksi immediate hypersensitivity tidak terjadi (Yazdanbakhsh M.Kremsner; Ree, RV, 2002).

2. Penghambatan oleh IgG4

Infeksi cacing berkaitan dengan peningkatan antibodi IgG4 (isotope dari Th-2

dependent). Antibodi IgG4 akan menghambat degranulasi IgE dari sel efektor

sehingga dapat menekan reaksi alergi. Antibodi ini juga dapat menghambat

IgE untuk berikatan dengan alergen dengan cara menetralkan molekul alergen

(40)

sebelum alergen tersebut berinteraksi dengan IgE yang terikat dengan sel mast (Yazdanbakhsh M.Kremsner; Ree, RV, 2002).

3. Modified Th2 response

Pada infeksi cacing kronis terjadi respon “modified Th2” atau hiporesponsif sel T yang menyebabkan induksi antigen presenting cell (APC) untuk mengaktivasi sel Treg (T regulator) yang akan menghasilkan sitokin anti inflamasi yaitu IL-10 dan TGF-β dimana peningkatan kedua sitokin ini dapat menghambat imunitas seluler dan inflamasi alergi (Yazdanbakhsh M.Kremsner; Ree, RV, 2002).

2.7 Kerangka Konsep

Gambar 2.6 Kerangka konsep

Kuesioner ISAAC

Catatan :

--- : Alat ukur

: Variabel dependen : Variabel Independen

Infeksi STH Atopi

Kuesioner & direct wet

smear

(41)

27

2.8 Kerangka Teori

Gambar 2.7 Kerangka teori

Penghambatan oleh IgG4

Interaksi IgE dengan alergen

Reaksi Alergi Infeksi STH

Ascaris lumbricoides Hookworm Trichuris trichiura

Hubungan STH dengan atopi

Blocking hypothesis

Modified Th2 response

Atopi

Rinitis alergi

Asma Dermatitis

atopik Penempelan IgE spesifik

Degranulasi histamine

& immediate response

Hiporesponsif sel T

T regulator

↑IL-10 ↑TGF β

Keterangan :

: Menghambat

(42)

28 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian potong lintang (cross sectional) untuk mengetahui hubungan antara infeksi STH sampel dengan riwayat atopi sampel.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Bundo Kandung di Kecamatan Medan Polonia Kota Medan, sedangkan pemeriksaan sampel dilaksanakan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah siswa SD Bundo Kandung.

3.3.2 Sampel

Metode sampling pada penelitian ini adalah stratified random sampling, yaitu dengan mengambil beberapa siswa untuk mewakili setiap tingkat pendidikan secara acak. Selain itu, sampel harus memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi selama penelitian berlangsung.

Perkiraan besar sampel minimal :

(43)

29

Keterangan:

n = jumlah sampel minimal yang dibutuhkan Z = derajat kepercayaan = 1,96

d = limit of error = 0,1

p = proporsi kejadian infeksi STH = 0,86 (Dirjen PPM dan PL, 2004) Berdasarkan rumus tersebut, besar sampel yang dibutuhkan adalah:

n = 46,25 ≈ 47

Berdasarkan perhitungan di atas, didapatkan sampel minimal sebanyak 47 orang.

Adapun kriteria inklusi dan eksklusi dalam pemilihan sampel penelitian ini adalah:

1. Kriteria inklusi

 Siswa dan orangtua bersedia mengisi kuesioner dan mengumpulkan feses.

 Siswa bersedia mengikuti penelitian ditandai dengan penandatanganan form inform consent oleh orang tua.

2. Kriteria eksklusi

 Data tidak lengkap (tidak mengembalikan pot tinja atau tidak

mengumpulkan kuesioner).

(44)

 Siswa yang sedang mengonsumsi obat anti helminth.

 Siswa serta orang tua yang mengundurkan diri ketika penelitian.

3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer

Pada penelitian ini, data yang diambil adalah data primer yang berupa hasil pemeriksaan feses dengan metode direct wet smear di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan kuesioner ISAAC yang diisi oleh orang tua subjek penelitian.

3.4.2 Cara Pengumpulan Data

Siswa diminta untuk mengambil sedikit dari feses mereka dengan menggunakan stik eskrim dan dimasukkan ke dalam pot. Kemudian, sampel feses yang sudah dikumpulkan diidentifikasi di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan metode direct wet smear.

Sementara untuk riwayat atopi, siswa diminta untuk mengisi kuesioner International

Study Of Asthma And Allergies In Childhood (ISAAC) mengenai asma, dermatitis atopi,

dan rinitis alergi.

3.5 Metode Analisa Data

Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) editing, dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data; (2) coding, data yang telah terkumpul dikoreksi, kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah dengan komputer; (3) entry, memasukan data ke program komputer; (4) cleaning data, pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan ke dalam komputer guna menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukan data kemudian dilakukan koreksi.

Data yang telah dikumpul diolah dengan menggunakan perangkat lunak

statistik dan dianalisis dengan dilakukan uji Fisher Exact kemudian disajikan

dalam bentuk tabel.

(45)

31

3.6 Definisi Operasional

Tabel 3.1 Defnisi operasional

No Variabel Definisi Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala

ukur

1 Asma

bronkial

Anak yang sedang atau pernah mengalami

asma berdasarkan interpretasi kuesioner

Mengisi kuesioner ISAAC dalam bahasa Indonesia

Kuesioner Positif : Bila terdapat gejala dari penyakit

asma Negatif : Bila tidak terdapat gejala dari

penyakit asma berdasarkan kuesioner

ISAAC

Nominal

2 Dermatitis atopik

Anak yang sedang atau pernah mengalami

dermatitis atopik berdasarkan interpretasi kuesioner

Mengisi kuesioner ISAAC dalam bahasa Indonesia

Kuesioner Positif : Bila terdapat gejala dari penyakit

dermatitis Negatif : Bila tidak terdapat gejala dari penyakit dermatitis berdasarkan kuesioner

ISAAC

Nominal

3 Rinitis alergi

Anak yang sedang atau pernah mengalami

rinitis alergi berdasarkan interpretasi kuesioner

Mengisi kuesioner ISAAC dalam bahasa Indonesia

Kuesioner Positif : Bila terdapat gejala dari penyakit

rinitis Negatif : Bila tidak terdapat gejala dari

penyakit rinitis berdasarkan kuesioner

ISAAC

Nominal

4 Infeksi STH

Infeksi cacing yang dilihat dari ada tidaknya telur dalam

feses

Memeriksa sampel feses dengan metode direct wet smear

Observasi Hasil identifikasi cacing:

(+) Ditemukan telur cacing (-) Tidak ditemukan

telur cacing

Nominal

(46)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Bundo Kandung yang berlokasi di Jalan Starban Gang Imam, Kecamatan Medan Polonia,, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara 20157.

Sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 1-6 SD yang berusia 7- 13 tahun. Jumlah seluruh sampel penelitian adalah 49 orang yang dipilih dengan metode stratified random sampling dan seluruhnya memenuhi kriteria inklusi.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh langsung. Data yang diperoleh berupa data riwayat atopi anak yang diperoleh melalui kuesioner wawancara, serta data infeksi STH anak yang diperoleh melalui pemeriksaan sampel tinja. Gambaran karakteristik responden yang diamati meliputi jenis kelamin dan kelas dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Gambaran karakteristik sampel penelitian

KARAKTERISTIK JUMLAH (ORANG) PERSENTASE (%)

Jenis Kelamin

Perempuan 23 46,9

Laki-laki 26 53,1

Usia (tahun)

7 3 6,1

8 9 18,4

9 7 14,3

10 2 4,1

11 11 22,4

12 14 28,6

13 3 6,1

Kelas

I 3 6,1

II 10 20,4

III 6 12,2

IV - -

V 13 26,5

VI 17 34,7

Total 49 100

(47)

33

Dari tabel 4.1 di atas dapat dilihat dari jenis kelamin memiliki persentase siswa dengan jenis kelamin laki-laki (53,1%) lebih banyak dari persentase siswa dengan jenis kelamin perempuan (46,9%). Apabila dilihat dari usia, sebagian besar siswa berusia 12 tahun (28,4%). Apabila dilihat dari kelas, jumlah terbanyak siswa berada di kelas VI yaitu 17 siswa (34,7%).

4.1 Analisis Univariat

Tabel 4.2 Data distribusi sampel berdasarkan gejala asma

Asma Jumlah (orang) Persentase (%)

Positif 0 0

Negatif 49 100,0

Total 49 100

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa semua siswa tidak memiliki gejala asma (n = 49; 100%). Tidak terdapatnya anak yang mengalami gejala asma mungkin disebabkan sebagian besar tidak memiliki kedua orang tua yang ada riwayat/gejala asma karena diketahui bahwa asma merupakan penyakit yang diturunkan dalam keluarga. Hal ini telah dibuktikan dalam berbagai penelitian bahwa kejadian asma pada anak berhubungan kuat dengan riwayat asma pada kedua orangtuanya. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Laisina et al (2007) pada anak sekolah dasar Kecamatan Wenang Kota Manado yang menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat asma pada orangtua dengan kejadian asma pada anak (p<0.001).

Tabel 4.3 Data distribusi sampel berdasarkan gejala dermatitis

Dermatitis Jumlah (orang) Persentase (%)

Positif 1 2,0

Negatif 48 98,0

Total 49 100

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa lebih banyak siswa yang

tidak memiliki gejala dermatitis (n=48; 98%) daripada siswa yang memiliki gejala

Gambar

Gambar 2.1 Siklus hidup  Hookworm  (CDC, 2013).
Gambar 2.2 Siklus hidup A.lumbricoides (CDC, 2013).
Gambar 2.3 Siklus hidup T.trichiura (CDC, 2013).
Gambar 2.4 Terapi simtomatik rinitis alergi (ARIA, 2012).
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan metode cross-sectional untuk menilai hubungan antara suku dengan gaya hidup sehat dan infeksi STH

Untuk mengetahui pekerjaan orang tua yang kontak dengan tanah merupakan faktor risiko infeksi STH pada anak SD baik di dataran tinggi maupun rendah di Kabupaten Gianyar

Gambaran klinis walaupun tidak khas, tidak cukup mendukung untuk memastikan untuk dapat membedakan dengan anemia karena defisiensi makanan atau karena infeksi

Dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dan Sosial ekonomi dengan infeksi STH sedangkan pengetahuan ibu mempunyai pengaruh terhadap

Dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu dan Sosial ekonomi dengan infeksi STH sedangkan pengetahuan ibu mempunyai pengaruh terhadap

mikroskopik feses ini akan digunakan untuk mencari hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang kecacingan (infeksi Soil Transmitted Helminths) dengan angka

Berdasarkan penelitian Andiarsa et al pada tahun 2013 didapatkan hasil bahwa populasi yang mengalami atopi cenderung lebih banyak pada populasi yang tidak

Terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan membeli jajanan yang disekitarnya banyak lalat dengan kejadian infeksi STH pada siswa sekolah dasar di SDN Ciberem Kecamatan Sumbang