• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4 HASIL PENELITIAN"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

47

HASIL PENELITIAN

4. Hasil Penelitian

4.1. Gambaran Obyek Penelitian 4.1.1. Profil Perusahaan

Dikutip dari Buku Paduan Klinik Konsultasi HKI – IKM, pada tahun 1998 Ditjen IKM Kementerian Perindustrian mendirikan Klinik HKI – IKM untuk memberikan layanan pendaftaran dan konsultasi subjek-subjek HKI kepada pelaku industri kecil dan menengah. Yang bertujuan untuk menyebarluaskan informasi tentang HKI dan meningkatkan pelayanan terhadap dunia usaha dengan melalui berbagai program dan kegiatan seperti pembinaan, sosialisasi, konsultasi, bimbingan layanan, promosi, dan pelatihan teknis HKI untuk dunia usaha IKM.

Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah adalah unsur pelaksana yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Perindustrian yang mempunyai tugas untuk merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang industri kecil dan menengah. Yang beralamatkan di Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav. 52 – 53 Lt. 15, Jakarta Selatan.

Klinik Konsultasi HKI – IKM memberikan Layanan Sosialisasi dan Promosi. Layanan sosialisasi klinik konsultasi HKI - IKM memberikan berbagai informasi di bidang HKI berupa penyebarluasan seperti sosialisasi tentang HKI, buku panduan HKI, dan informasi lainnya tentang HKI. Sedangkan layanan promosi yang diberikan di Klinik Konsultasi HKI – IKM seperti melalui partisipasi dalam berbagai event pameran di dalam negeri termasuk memberikan fasilitas ruang pamer di stand Klinik HKI bagi produk yang telah terdaftar HKI-nya.

Adapaun tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan pada Klinik Konsultasi HKI – IKM antara lain :

a. mengingkatnya pemahaman dan kesadaran serta motivasi aparat Pembina dan Pengusaha IKM terhadap manfaat perlindungan HKI

b. Meningkatnya pendaftaran hak-hak karya intelektual para pengusaha IKM bidang Merek, Paten, Hak Cipta, dan Desain Industri.

(2)

Visi dan misi dari Klinik Konsultasi HKI – IKM adalah antara lain yaitu : A. Visi dan Misi

Visi:

Menjadikan klinik HKI-IKM -sebagai lembaga layanan kekayaan intelektual yang profesional, dinamis, dan bersinergi.

Misi:

1. Mengembangkan IKM melalui pembinaan, bimbingan, konsultasi fasilitasi dan promosi serta meningkatkan kerjasama kelembagaan.

2. Meningkatkan kemampuan SDM di bidang Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

B. Tujuan

Meningkatkan pelayanan terhadap dunia usaha melalui pembinaan, bimbingan, konsultasi, promosi bagi Industri Kecil Menengah dan memberikan arahan di dalam memperoleh layanan HKI melalui Klinik Konsultasi HKI-IKM.

C. Sasaran

1. Meningkatnya jumlah para pengusaha industri kecil dan menengah untuk memperoleh pelayanan prima dari Klinik Konsultasi HKI-IKM.

2. Meningkatnya kesadaran para pengusaha industri kecil menengah untuk dapat memperoleh layanan pendaftaran subyek-subyek HKI.

3. Terciptanya kesamaan tindak antara para pengusaha industri kecil menengah sebagai variabel yang dilayani dan aparat pembina sebagai variabel yang melayani.

(3)

Gambar 4.2 Struktur Organisasi Direktorat Jenderal IKM

(4)

4.1.2. Profil Program/ Unit Kerja 4.1.2.1 Tugas dan Fungsi

1. Pengarah:

Memberikan pengarahan kepada unit kerja yang terlibat dalam program pengembangan HKI dilingkungan Direktorat Jenderal IKM, utamanya kepada KKH-IKM.

2. Pembina Harian:

Membantu pengarah memberikan arahan teknis operasional kepada berbagai unit kerja yang terlibat dalam program pengembangan HKI, utamanya kepada KKH-IKM.

3. Tim Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Menyidik pelanggaran-pelanggaran HKI. 4. Pengurus Harian

a. Ketua:

Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan bidang HKI di lingkungan Ditjen IKM dan terhadap industri kecil menengah dalam upaya perlindungan HKI baik dalam bentuk program dan kerjasama, sosialisasi dan promosi, advokasi dan bimbingan dan Pendaftaran.

b. Sekretaris/Manager Pengelola:

1. Mengkoordinasikan kegiatan pelaksanaan/ operasional Klinik Konsultasi HKI-IKM

2. Melaksanakan tugas kesekretariatan dan layanan administrasi.

3. Mengkoordinasikan kerjasama kegiatan HKI bagi IKM dengan instansi terkait.

4. Melakukan layanan administarsi pendafataran cipta, merek dan indikasi geografis, paten, desain industri, rahasia dagang dan desain tata letak sirkuit terpadu.

c. Bidang-Bidang:

1. Bidang Program dan Kerjasama;

Mengembangkan program kerjasama pelayanan HKI dengan Instansi terkait.

2. Bidang Sosialisasi dan Promosi;

Memberikan layanan promosi, penyebarluasan informasi, sosialiasasi dan konsultasi pelayanan HKI.

(5)

3. Bidang Advokasi;

Memberikan layanan penyelesaian kasus terkait HKI. 4. Bidang Bimbingan dan Pendaftaran;

Memberikan bimbingan, layanan pendaftaran HKI, dan menyiapkan SDM (Fasilitator) dm fasilitasi tenaga ahli.

4.1.2.2 Layanan Klinik Konsultasi HKI – IKM A. Program dan Kerjasama

KKH-IKM mengembangkan kerjasama dengan instansi terkait di bidang HKI dan merumuskan program dan kegiatan pembinaan pelayanan HKI bagi IKM. Layanan kerjasama meliputi:

a. Direktorat Jenderal HKI Kementerian Hukum dan HAM. b. Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek).

c. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). d. Yayasan Karya Cipta Indoensia (YKCI). e. Penegak Hukum (Kepolisian dan Kejaksaan). f. Perguruan Tinggi.

g. Dinas Perindustrian dan Perdagangan. h. Instansi terkait lainnya.

B. Sosialisasi dan Promosi 1. Layanan Sosialisasi

(6)

KKH-IKM memberikan berbagai informasi di bidang HKI berupa penyebarluasan:

a. Sosialisasi tentang HKI bagi aparat pembina, dunia usaha dan masyarakat luas.

b. Buku panduan HKI. c. Brosur /leaflet.

d. Informasi lainnya tentang HKI.

Perolehan layanan informasi diberikan secara langsung di kantor sekretariat KKH-IKM dengan membawa identitas diri dan tidak dikenakan biaya sepanjang jenis informasi yang dibutuhkan tersedia di KKH-IKM.

2. Layanan Promosi

Gambar 4.5 Layanan Promosi Stand Pameran Klinik Konsultasi HKI – IKM KKH-IKM memberikan layanan promosi melalui partisipasi dalam berbagai event pameran di dalam negeri termasuk memberikan fasilitas ruang pamer di stand Klinik HKI bagi produk telah terdaftar HKI-nya.

C. Advokasi

KKH-IKM memberikan fasilitasi layanan konsultasi advokasi kepada IKM dalam rangka membantu penyelesaian kasus atau permasalahan di bidang HKI, menyangkut:

a. Kasus Pemalsuan b. Kasus Pembajakan c. Kasus Peniruan d. Kasus Penolakan

(7)

D. Bimbingan dan Pendaftaran

KKH-IKM melakukan fasilitasi bimbingan dan pendaftaran untuk perlindungan HKI bagi produk IKM. Fasilitasi Bimbingan dan Pendaftaran dapat dilakukan kerjasama dengan instansi terkait dalam rangka perlindungan terhadap subtansi HKI.

1. KKH-IKM memberikan kesempatan kepada aparat, pengusaha IKM dan masyarakat luas untuk mendapatkan pelayanan bimbingan dan pendaftaran baik secara langsung maupun tidak langsung melalui telepon, e-mail dan surat menyurat dengan Tim KKH-IKM, menyangkut:

a. Teknis pemecahan masalah penerapan substansi HKI. b. Teknis pemecahan masalah perlindungan terhadap HKI. c. Persiapan penerapan HKI.

d. Proses penyelesaian administrasi HKI.

e. Proses penyelesaian kelengkapan dokumen dalam rangka pendaftaran HKI.

Untuk mendapatkan layanan bimbingan dan pendaftaran, dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Menghubungi kantor sekretariat KKH-IKM melalui telepon, surat menyurat dan e-mail pada setiap hari kerja.

b. Langsung mendatangi kantor sekretariat KKH-IKM untuk melakukan konsultasi langsung dengan Tim KKH-IKM.

c. Untuk memperlancar jalannya konsultasi, pengusaha IKM atau masyarakat lainnya terlebih dahulu agar mempersiapkan pokok-pokok materi HKI yang akan dikonsultasikan.

d. Pelaksanaan konsultasi dilakukan pada setiap hari kerja, yakni Hari Senin s/d Jum'at mulai pukul 09.00 s/d 16.00 WIB.

2. KKH-IKM menyediakan bantuan fasilitator dan tenaga ahli untuk memberikan bimbingan dan konsultasi bagi IKM dan masyarakat lain yang membutuhkan, menyangkut:

a. Pengembangan unsur HKI.

(8)

3. KKH-IKM menyediakan layanan penyelenggaraan bimbingan di bidang HKI meliputi: Sosialisasi, dan Pelatihan Fasilitator HKI.

Untuk mendapatkan layanan tersebut, dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Menyampaikan permohonan secara tertulis kepada KKH-IKM dengan mencantumkan identitas, alamat dan telepon/ faximile ybs.

b. Pelaksanaan pelatihan akan diselenggarakan apabila jumlah peserta pelatihan minimal 15 orang dan maksimal 25 orang dan tersedianya ruangan yang cukup layak untuk kebutuhan proses belajar.

Gambar 4.6 Prosedur Tata Cara Pendaftaran Merek 4.1.3. Profil Informan

No. Nama Jabatan Lama

Bekerja

1. Dra. Euis Saedah Dirjen IKM 3,5 tahun

2. Drs. Dulles Sihombing, M.Si Ketua Klinik Konsultasi HKI 4 bulan

3. Angga Walesa Yudha Pengelola Klinik Konsultasi HKI 3,5 tahun

4. Siti Megawati Admin Klinik Konsultasi HKI 4 bulan

Tabel 4.1 Profil Informan Internal Perusahaan

No. Nama Pekerjaan Usia

1. Bernard Wiraswasta, Pemilik “Motoplas” 32 tahun

2. Frans Pegawai Swasta 26 tahun

(9)

4.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan 4.2.1. Pengumpulan Data

Tanggal Narasumber Tempat Durasi Keterangan

14-04-14 Dra. Euis Saedah Dirjen IKM Ruang Dirjen IKM Kementerian Perindustrian Lt. 15 0:09:49 Rekaman jelas, hanya waktu wawancara sangat terbatas 14-04-14 Drs. Dulles Sihombing, M.Si

Ketua Klinik Konsultasi HKI Klinik Konsultasi HKI, Lt. 15 0:19:30 Jawaban yang diberikan sangat detail 15-04-14

Angga Walesa Yudha Pengelola Klinik Konsultasi HKI Klinik Konsultasi HKI, Lt. 15 0:10:15 Suasana pada saat wawancara berisik 17-04-14 Siti Megawati

Admin Klinik Konsultasi HKI Klinik Konsultasi HKI, Lt. 15 0:11:16 Jawaban sangat singkat, perlu dilakukan wawancara ulang 25-04-14 Frans

Visitor Klinik Konsultasi HKI Pameran Produk Kreatif Indonesia, PRJ, Jakarta 0:05:10 Hasil rekaman wawancara hilang 10-05-14

Angga Walesa Yudha Pengelola Klinik Konsultasi HKI Klinik Konsultasi HKI, Lt. 15 0:07:06

Via telp karena beliau sedang di

luar kota

05-05-14

Bernard

Visitor Klinik Konsultasi HKI Klinik Konsultasi HKI, Lt. 15 0:04:06 Jawaban tidak sesuai pertanyaan 08-05-14 Bernard

Visitor Klinik Konsultasi HKI

Klinik Konsultasi HKI, Lt. 15

0:04:06 Via telepon agar efisien waktu

(10)

08-05-14

Siti Megawati

Admin Klinik Konsultasi HKI Klinik Konsultasi HKI, Lt. 15 0:09:06 Wawancara pertama belum lengkap

20-05-14 Dra. Euis Saedah

Dirjen IKM Ditjen IKM 0:04:06

Waktu sangat terburu-buru Tabel 4.3 Data Wawancara Informan Internal Perusahaan dan Publik

4.2.2. Keabsahan Data 4.2.2.1 Dra. Euis Saedah (A)

Untuk dapat dipercaya oleh pelaku IKM dalam menjalankan strategi untuk membangun brand awareness melalui Klinik Konsultasi HKI – IKM, A mengatakan langkah-langkah yang dilakukan adalah dengan melakukan program-program kegiatan seperti memberikan fasilitasi pendaftaran HKI yang terdiri dari pendaftaran merek, hak cipta, hak paten, dan desain industri. Yang kedua yaitu mengadakan sosialisasi HKI ke daerah-daerah di Indonesia. Selanjutnya memberikan pelatihan fasilitator tentang HKI tingkat pemula kepada aparat pembina pusat dan daerah.

Fungsi dari keberadaan Klinik ini sendiri menurut A yang terutama adalah untuk membantu IKM untuk melindungi Hak kita menjualnya, salah satu dari Hak ini adalah merek atau branding maka dari itu, sehingga kita mencoba melakukan semacam penyuluhan dan pemberian pengertian kepada para pelaku IKM, dimana kita peduli dengan produk/ merek mereka dan juga dalam menunjukkan merek itu kita juga memberikan bimbingan merek seperti apa yang cocok untuk berbagai tipe produk. Lalu setelah mereka mempunyai merek yang kita coba tuntun dengan berbagai macam pengertian-pengertian tadi kita juga memfasilitasi mereka untuk mendaftarkan mereknya ke Direktorat Hak Kekayaan Intelektual dengan harapan mereka mempunyai hak atas merek yang diciptakan tadi. Namun hal ini dirasa belum cukup untuk meningkatan brand awareness tentang kesadaran pendaftaran merek, karena menurut A strategi yang terpenting dalam strategi pemasaran adalah dengan memberikan pelayanan terbaik terhadap IKM dengan selalu memberikan informasi dan melakukan sosialisasi-sosialisasi ke daerah tanpa saling menunggu-nunggu karena dari pihak nya yang masih keterbatasan anggaran. Tentu saja memang dalam melakukan suatu hal, pasti ada saja hambatannya seperti penjelasan dari A karena balik lagi melihat kurangnya antusias IKM tentang pentingnya pendaftaran merek

(11)

sehingga harus lebih bekerja keras untuk melakukan strategi agar tidak ada lagi hambatan-hambatan dalam melakukan sosialisasi prosedur pendaftaran merek.

Tantangan yang dihadapi IKM komponen agar dapat bersaing ialah berupa peningkatan kualitas dan ketersediaan bahan baku dalam negeri, kompetensi SDM, peningkatan teknologi dan standarisasi, serta perluasan akses pasar.

Pernyataan ini telah dikonfirmasi oleh Narasumber B dalam bentuk konfirmasi pernyataan melalui membercheck yang diberikan tanggal 15 Mei 2014.

4.2.2.2 Drs. Dulles Sihombing, M.si (B)

Menurut B, Publikasi HKI yang dilakukan oleh Klinik Konsultasi HKI – IKM itu ada 2 (dua) hal, yang pertama yang bersifat indoor dan yang dan bersifat outdoor (diluar gedung), yang bersifat indoor itu tentunya publikasinya melalui yang sosialisasi-sosialisasi, sementara yang diluar itu bisa kita lakukan melalui media, media itu-media elektronik yang pernah di sounding di TV. Contoh publikasi HKI yang sudah pernah ada di TV itu menjelaskan bagaimana pentingnya melindungi Hak nya web, karena Hak Merek, karena merek ini sangat penting bagi keberlangsungan perusahannya. Sebagai contoh misalnya IKM itu masih banyak yang belum memahami informasi HKI, dimana subjek dari HKI itu sendiri salah satunya adalah merek. Dijelaskan oleh B, di dalam peraturan perundang-undangan sistem HKI, ketika pelaku IKM kita mau eksport pada umumnya melalui pihak ketiga yaitu melalui eksportir sehingga ketika sampai di negara tujuan, tidak tertutup kemungkinan nanti didaftarkan di negara tujuan eksport. Oleh karena itu kami selalu menghimbau, baik melalui media TV agar setiap pelaku IKM yang akan melakukan eksport yang sebelumnya didaftarkan dulu mereknya di dalam negeri, kemudian dia mendaftarkan merek itu ke negara tujuan eksport. Seperti itu penjelasan singkatnya, jadi itu beberapa hal yang telah kita lakukan baik pertemuan-pertemuan dengan pihak IKM yang memang sudah memulai usaha eksport.

Dalam Perlindungannya melalui pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual, yang terbanyak adalah Perlindungan Hak Merek. Memang yang terbanyak itu adalah perlindungan Hak Merek, hak itu ketika dia perorangan karena memang itu yang kita berikan fasilitas kepada perusahaan atau industri kecil maka persyaratannya mudah hanya memberikan Surat Pernyataan bahwa itu mereknya sendiri, lalu prosedur dalam pendaftarann merek selanjutnya yaitu kemudian melengkapi syarat-syaratnya KTP dan fotokopi nya, kemudian etiket merek yang akan didaftarkan itu sebanyak

(12)

26. Kemudian ada lagi formulir yang harus diisi sampai formulir pendaftaran selesai. Tetapi ketika badan usaha, maka akte pendiriannya harus dilegalisasi dari notaris yang membuatnya dan NPWP. Kalau perorangan sangat sederhana sekali untuk pendaftarannya.

Pernyataan ini telah dikonfirmasi oleh Narasumber B dalam bentuk konfirmasi pernyataan melalui membercheck yang diberikan tanggal 15 Mei 2014.

4.2.2.3 Angga Walesa Yudha (C)

Klinik ini didirikan untuk membantu pelaku IKM. Bentuk kegiatannya adalah bimbingan dan konsultasi, bisa langsung dan tidak langsung, bimbingan langsung itu dari IKM biasanya kita mensosialisasikan ke daerah-daerah. Jadi tidak semua kegiatan dipusatkan di klinik kita ini, tetapi di klinik kita lebih banyak menjadi narasumber pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dan diadakan oleh Dinas Provinsi atau Kabupaten Kota. Selain bimbingan konsultasi disini juga memberikan layanan advokasi, artinya advokasi disini permasalahan sengketa.

Sebagai Pembina Klinik Konsultasi HKI – IKM yang memiliki tugas pokok untuk mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan bidang HKI di lingkungan Ditjen IKM dan terhadap industri kecil menengah dalam upaya perlindungan HKI baik dalam bentuk program dan kerjasama, sosialisasi dan promosi, advokasi dan bimbingan dan pendaftaran.

C mengatakan pemasyarakatan HKI di kalangan pengusaha IKM dimaksudkan untuk menimbulkan kesadaran akan pentingnya daya kreasi dan inovasi intelektual sebagai kemampuan yang perlu diraih oleh para pengusaha industri yang ingin maju sebagai faktor pembentuk kemampuan daya saing industri. Oleh karena itu karya temuan orang lain yang didaftarkan untuk dilindungi harus dihormati dan dihargai. Di samping itu kesadaran dan wawasan mengenai HKI diharapkan akan dapat menimbulkan motivasi dan dorongan agar pengusaha IKM terdorong untuk berkreasi dan berinovasi di bidang produk dan teknologi produksi, serta manajemen.

Saat ini ia sedang fokus di bidang advokasi perlindungan HKI, C melakukan pendampingan kepada IKM yang sedang bermasalah, masalah yang sedang diurus yaitu Sengketa Hak Cipta Motif Batik antara pedagang Tanah Abang yaitu Bapak Edo pemilik Toko Eka Jaya yang telah menjadi tersangka karena telah memperdagangkan tekstil motif batik yang telah terdaftar milik Ibu Lie Wan Joeng

(13)

(Pelapor), dan Direktur PT. Cipta Lestari Ideanusa/ Exatex Bapak Santo juga tersangka yang digugat sebagai pihak yang telah memperbanyak motif batik Batu Raden 8111 dan motif batik Batu Raden 8114 milik Pelapor.

Sebagai Pembina Klinik HKI ia melakukan strategi pendekatan tanggung jawab sosial kepada pihak Ibu Lie Wan Joeng dalam menyelesaikan masalah ini dengan cara menumbuhkan sikap tanggung jawab sosial bahwa tujuan dan sasaran yang hendak dicapai bukan ditujukan untuk mengambil keputusan sepihak dari publik sasarannya (keuntungan intern bagi pihak Klinik HKI) namun justru tujuannya untuk terlebih untuk pihak pelapor. Karena Klinik HKI sendiri merupakan sub bagian organisasi yang bersifat non-profit.

Pernyataan ini telah dikonfirmasi oleh Narasumber C dalam bentuk konfirmasi pernyataan melalui membercheck yang diberikan tanggal 5 Mei 2014.

4.2.2.4 Siti Megawati (D)

Sebagai admin yang merangkap sebagai Humas di Klinik ini, D mengatakan tugas utamanya dalam strategi komunikasi dalam mempublikasikan Klinik Konsultasi HKI – IKM adalah untuk turut berperan serta dalam memberikan sosialisasi yang berupa kunjungan kedaerah-daerah kepada industri kecil dan menengah mengenai pentingnya perlindungan HKI, membuat pelatihan HKI, menangani konsultasi seputar Klinik HKI baik di dalam klinik sendiri maupun di luar klinik seperti dalam kegiatan pameran-pameran, dan juga memberikan advokasi hki bagi pihak yang bersengketa. Langkah-langkah yang ia lakukan untuk mendapat kepercayaan dari media dan visitor yang datang langsung ke Klinik untuk berkonsultasi seputar HKI adalah dengan cara pendekatan persuasif dan edukatif, karena sesuai fungsinya sebagai humas adalah menciptakan komunikasi dua arah (timbal balik) dengan menyebarkan informasi dari Klinik HKI kepada pihak publiknya yaitu pelaku IKM yang sifatnya dengan cara mendidik dan memberikan penerangan maupun dengan melakukan pendekatan persuasif agar tercipta saling pengertian, menghargai pemahaman toleransi dan lain sebagainya, apalagi pengenalan sistem kekayaan intelektual di Indonesia masih minim. Strategi pemasaran lainnya yaitu dengan mengikuti banyak pameran.

D menyadari masih terdapat kendala dalam melakukan strategi untuk sosialisasi HKI, kendalanya yaitu pelaku IKM sendiri. Hambatan prinsip tetap ada, namun sejauh ini masih dapat diatasi terutama dalam memberikan pelayanan kepada

(14)

tamu. Beberapa fasilitas yang ada difungsikan secara optimal, sehingga semua yang menjadi kebutuhan tamu dapat terpenuhi. Penilaian dilakukan terhadap keberhasilan kegiatan eksternal dan internal dalam mencapai target kerja yang telah ditetapkan, begitu ucapannya. Maka peran D sebagai humas untuk meningkatkan awareness Klinik Konsultasi HKI – IKM ia bertanggung jawab untuk publikasi tentang subyek-subyek HKI, peran HKI dalam perdagangan bebas. Ini menjadi bekal baginya sebagai Humas Klinik HKI dalam rangka untuk menyebarluaskan HKI bagi masyarakat khususnya para pelaku IKM. Gunanya adalah untuk mencegah persaingan usaha yang tidak sehat dan sebagai peningkat daya saing dan untuk pembentukan image, karena suatu produk yang dilindungi HKI akan mudah dikenal dan digemari masyarakat atau konsumen, selanjutnya penggunaan Hak Kekayaan Intelektual secara terus menerus akan membentuk image terhadap produk terkait.

Pernyataan ini telah dikonfirmasi oleh Narasumber D dalam bentuk konfirmasi pernyataan melalui membercheck yang diberikan tanggal 9 Mei 2014.

4.2.3. Analisis Data a. Reduksi Data

Berikut adalah Penyajian Data Wawancara dengan Informan narasumber Internal Perusahaan yaitu Dirjen HKI, Dra. Euis Saedah.

No. Pertanyaan Jawaban

1. Dalam menjalankan

strategi untuk membangun brand awareness melalui Klinik Konsultasi HKI-IKM, apa saja yang dilakukan untuk dapat dipercaya oleh pelaku IKM?

Langkah-langkah yang dilakukan adalan dengan melakukan program – program kegiatan seperti memberikan fasilitas pendaftaran HKI yang terdiri dari pendaftarak merek, hak cipta, hak paten dan desain industry. 2. Selain melakukan kegiatan

Fasilits Pendaftaran, apa saja rencana kegiatan

Diluar kegiatan/program pkok yang telah disusun, menurut pandangan kami

(15)

untuk tahun 2014? perlu dilakukan beberapa kegiatan lainnya yang lebih luas dan lebih fokus yaitu antara lain promosi merek melalui website pameran dan lain-lain 3. Apa fungsi dari

keberadaan Klinik Konsultasi HKI ini sendiri?

Keberadaan Klinik ini ada beberapa fungsi, terutama yang dilakukan untuk membantu IKM untuk melindungi Hak kita menjualnya, salah satu dari Hak ini adalah merek atau branding

4. Apakah tujuan utaman dari kegiatan sosialisasi HKI?

Tujuan utamanya yaitu selain untuk pemerataan informasi akan arti penting apa pentingnya HKI juga bertujuan dengan mengikis image Indonesia yang masih sering disudutkan sebagai Negara Priority Watch List didalam pelanggaran HKI 5. Sampai dengan saat ini,

sejauh mana tingkat kesadaran pelaku IKM untuk melindungi pendaftaran merek?

Masih banyak pelaku IKM yang menjiplak secara khususnya, jadi kesadaran yang kita maksud adalah mendaftarkan merek atas produk dari IKM tetapi jangan sampai menjiplak kekayaan intelektual orang lain.

(16)

6. Publikasi tentang HKI apa saja yang sudah dilakukan oleh Ditjen IKM untuk Klinik Konsultasi HKI - IKM?

Ada 2(dua) hal dalam mempublikasikan hak kekayaan intelektual, yang pertama publikasi dan pengertian kepada Klinik kita juga mempromosikan keberadaan Klinik ini supaya makin banyak iklan yang tahu, Kedua Klinik sendiri melakukan semacam promosi kepada Dunia Usaha untuk menyadarkan pengertian pada IKM yang terutama mereka peduli dengan sasaran mereka mau mendaftarkan hak merek mereka,

7. Apakah publikasi di Klinik Konsultasi HKI

mempengaruhi munculnya tingkah laku agresif dari pelaku IKM?

Ya, tetapi efeknya memang belum begitu besar.Pelaku IKM sendiri masih kesulitan dalam mengartikan sebuah konsepnya sendiri 8. Apa manfaat HKI dari segi

keuntungan bagi

perusahaan / pelaku IKM?

Ada banyak manfaat HKI bagi IKM tetapi menurut saya yang terpenting adalah untuk mencegah persaingan usaha yang tidak sehat dan sebagai peningkat daya saing. 9. Apa pendapat Ibu pribadi,

selaku Ketua Tim

Hidup itu kan dinamis, mungkin sekarang kita

(17)

Penyidik dalam

pembuatan informasi di brosur dan Buku Paduan Klinik Konsultasi HKI – IKM yang sekarang

apakah sudah lengkap atau belum? Mengingat brosur dan buku paduan tersebut terus direvisi hampir setiap tahunnya.

melihat sama hal nya kita membuat brosur tahun lalu waktu itu sudah baik begitu berjalan banyak masukan, saran, bukan tidak mungkin setelah dijalankan diadakan adalagi revisi, masukan, kritik kita dapat informasi tentang teknologi, tentang ilmu pembuatan desain yang mungkin dapat diubah-ubah.

10. Tanggal 26 April 2014 lalu Hari HKI Sedunia, Apakah ada acara khusus?

Dari Ditjen IKM

Kementerian Perindustrian sendiri untuk secara khusus tidak

ada,Kemenperin tidak membuat acara dalam rangka Hari HKI Sedunia.Tetapi kita berpartisipasi acara yang diselenggarakan oleh Kemenhumham, artinya secara khusus tidak mengadakan acara untuk merayakan Hari HKI 11. Pihak HKI hanya

menunggu untuk melakukan sosialisasi panggilan dari atau ke daerah. Hal ini dilakukan karena permasalahan

Iya kita mengakui hal ini, kita memang

melaksanakannya

menunggu undangan dari daerah saja.Anggaran yang ada memang tidak cukup,

(18)

utamanya yaitu

keterbatasan anggaran, bagaimana cara untuk menyelesaikan

permasalahan ini ?

sangat terbatas.Tetapi kita mengoptimalkan dan kita justru ingin memberikan sosialisasi pada mereka yang membutuhkan.Maka sekarang kita coba

tawarkan pada daerah, kalau daerah menganggap bahwa perlu informasi tentang pentingnya HKI silahkan mereka yang mengundang atau memprakasai untuk diberikan layanan sosialisasi HKI 12. Apakah pernah ada

negosiasi yang dilakukan klinik HKI dengan pelaku IKM? Negosiasi yang seperti apa contohnya?

Ada, contohnya kasus sengketa kain tekstil motif batik milik Ibu Lie Wan Joeng yang diperjualkan di Toko Eka Jaya, Pasar Tanah Abang.Beberapa hari yang lalu pihak dari API datang kesini (Klinik Konsultasi) untuk

melakukan negosiasi kasus sengketa kain nya.Sampai saat ini kasusnya sudah ditangani oleh DItjen IKM dan pihak kepolisian 13. Bagaimana tanggapan/

keadaan dari pihak pelapor selaku pihak yang

dirugikan?

Pihak pelapor sangat merasa dirugikan oleh pihak tersangka yaitu Bapak Edo pemilik Toko

(19)

Eka Jaya dan Direktur PT. Cipta Lestari Ideanusa Bapak Santo karena telah menurunkan Brand Image kain motif batik miliknya 14. Dari Ditjen IKM sendiri

apakah pernah

mengadakan program CSR?

Balik lagi ke permasalahan utama yaitu minimnya anggaran dana, dan memang tidak ada dana khusus untuk program CSR (Coorporate Social Responsibility). Tetapi kita pernah dimanfaatkan oleh perusahaan yang memang memiliki CSR untuk membantu para binaannya Tabel 4.4 Penyajian Data Wawancara dengan narasumber Internal Dirjen HKI Berikut adalah Penyajian Data Wawancara kedua dengan Informan sebagai Narasumber Internal Perusahaan :

Pertanyaan Kata Kunci Jawaban Kata Kunci Jawaban

Angga (C) Mega (D) a. Segmenting 1. Bagaimana segmentasi PR melalui Klinik Konsultasi HKI – IKM? Teori Segmentasi PR dapat diterapkan di Klinik HKI-IKM dengan

mengelompokkan pengunjung yang datang berdasarkan komoditi. Karena tiap-tiap komoditi memiliki kebutuhan akan brand positioning yang berbeda.

Segmenting dari Klinik Konsultasi HKI – IKM adalah pelaku IKM

sendiri, karena Klinik HKI ini didirikan untuk

membantu memfasilitasi IKM dalam kesadaran mengenai HKI.

(20)

1. Upaya apa yang dilakukan oleh PR pada Klinik Konsultasi HKI – IKM agar mencapai tujuan yang telah ditetap kan?

Melakukan Sosialisasi di berbagai daerah di Indonesia (2014: Jambi, Sumatera Selatan,

Lampung, Kalteng, Kalsel, Bengkulu, Jabar, Jatim, Sulteng, Maluku, NTT, Papua Barat),

berpartisipasi pada

berbagai pameran berskala nasional, aktif pada

berbagai forum koordinasi HKI, serta memberikan fasilitas pendaftaran HKI secara gratis bagi

pengusaha IKM

Memberikan pelatihan-pelatihan kepada disperindag, sekolah-sekolah, dan instansi terkait di daerah-daerah Ikut serta dalam

pameran-pameran di indonesia, dengan turut serta dalam kegiatan ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat keberadaan klinik hki Mengikuti

kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan HKI

2 Tingkat kedatangan visitor pada Klinik Konsultasi HKI – IKM dari awal hingga sekarang meningkat atau tidak?

Setiap tahun, jumlah pengunjung Klinik IKM mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran pengusaha IKM akan pentingnya HKI dalam mendukung

pengembangan usaha mereka semakin tinggi.

hingga sekarang meningkat atau tidak? Dengan banyaknya kegiatan sosalisasi tentu saja meningkatkan jumlah pengunjung yang datang ke Klinik HKI.

c. Positioning

1. Seperti apa

perencanaan yang dibuat oleh Klinik

Kementerian/Lembaga dalam merencanakan kegiatan tahun anggaran

Menambah anggaran APBN untuk tahun depan agar publikasi sosialisasi

(21)

Konsultasi HKI – IKM dalam membangun PR di perusahaan?

berikutnya dibatasi oleh ketersediaan anggaran. Oleh karena itu, harus dibuat strategi prioritas pengembangan HKI berdasarkan anggaran yang tersedia.

ke daerah-daerah tidak terjadi seperti sikap yang saling tunggu menunggu

2. Seperti apa positioning PR pada Klinik Konsultasi HKI – IKM?

Memberikan pemahaman akan pentingnya HKI kepada pengusaha IKM

Klinik hki memposisikan dirinya sebagai pelayanan informasi publik

khususnya dalam bidang kekayaan intelektual.

3. Apakah peran PR sebagai controlling atau pengawas dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan demi meningkatnya

kesadaran merek pada masyarakat?

Dengan terus melakukan berbagai kegiatan

sosialisasi di berbagai daerah dan menganalisa trend tingkat kesadaran pengusaha IKM di daerah, khususnya di luar Jawa serta memberikan bantuan fasilitasi pendaftaran HKI bagi pengusaha IKM

Peran PR sebagai pengawas adalah membantu memastikan berjalannya kegiatan-kegiatan seperti dalam hal sosialisasi agar dapat berjalan dengan baik.

d. Promotion

1. Strategi promosi apa yang diterapkan oleh

PR untuk

meningkatkan

kesadaran merek agar masyarakat semakin mengenal Klinik

Dengan mencetak buku panduan HKI dan brosur/leaflet mengenai HKI, melakukan

sosialisasi HKI di berbagai daerah, berpartisipasi pada pameran berskala

Memberikan pelatihan-pelatihan kepada disperindag, sekolah-sekolah, dan instansi terkait di daerah-daerah dengan tujuan agar setelah pelatihan selesai mereka

(22)

Konsultasi HKI – IKM?

nasional,

menyebarluaskan informasi dan kebijakan melalui media internal dan eksternal, serta

memberikan fasilitas pendaftaran HKI bagi pengusaha industri kecil.

dapat turut

mensosialisasikan

pengetahuannya di daerah tersebut.

2. Sejak kapan Klinik Konsultasi HKI – IKMmenjalankan strategi ini? Apakah strategi promosi ini sangat bermanfaat?

Sejak awal berdirinya Klinik HKI-IKM, yaitu pada tahun 1998. Namun pada saat awal Klinik HKI-IKM berdiri,

sumberdaya dan anggaran yang tersedia masih sangat terbatas, jadi wilayah sasaran pengembangan HKI masih terpusat di Jakarta dan pulau Jawa.

Sejak pertama kali

didirikan pada tahun 1998 sosialisasi ini sudah di perkenalkan, terbukti sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesadaran pelaku IKM khususnya dalam hal pendaftaran hak merek.

3. Apakah strategi ini tetap dipakai sampai saat ini? Dan apakah strategi tersebut masih efektif?

Ya. Strategi ini masih tetap

dipakai sampai saat ini karena terbukti efektif dengan selalu

meningkatnya pendaftaran form merek bagi IKM.

e. Product

1. Apakah melalui Klinik Konsultasi HKI – IKM ini dapat meningkatkan popularitas keberadaan

Iya, di tahap Brand Recall ini kami makin berusaha untuk menyadarkan para pelaku IKM ntuk

Dengan adanya berbagai kunjungan ke bebagai daerah dapat

(23)

klinik ini? mengetahui betapa pentingnya HKI

klinik hki, karena selain membahas mengenai pentingnya hki, juga membahas mengenai peran dan fungsi hki di masyarakat.

2. Apakah ancaman yang dimiliki PR pada Klinik Konsultasi HKI – IKM?

Masih kurangnya

kesadaran pengusaha IKM tentang pentingnya HKI dalam meningkatkan daya saing produk yang

dihasilkan, terutama bagi para pengusaha IKM yang di luar Jawa.

f. Place

1. Bagaimana posisi Klinik Konsultasi HKI – IKMditinjau dari segi kemudahan mengakses dan kemudahan melakukan publikasi?

Sangat baik. Klinik HKI-IKM dapat dikunjungi setiap hari kerja, Senin-Jumat, jam 08.00-16.00. Klinik HKI-IKM juga memiliki line telp yang bisa dihubungi pada setiap hari kerja.

Klinik HKI IKM terletak di LT 15 kementerian perindustrian, sangat mudah di akses karena bertempat di Jl. Gatot Subroto Jakarta Selatan yang merupakan kawasan yang strategis.

1. Bagaimana peran PR di Klinik HKI?

Turut serta pada berbagai kegiatan Sosialisasi HKI, aktif pada kegiatan Forum Koordinasi terkait HKI, berpartisipasi pada

Ikut mensosialisasikan klinik hki kepada masyarakat khususnya bagi Industri kecil dan menengah.

(24)

berbagai pameran produk berskala nasional,

2. Apa saja pekerjaan PR di Klinik Konsultasi HKI – IKM? (job descriptions)

− Menerima IKM dan aparat pembina IKM yang melakukan konsultasi dan

pendaftaran HKI serta memberikan informasi terkait subjek HKI. − Memberikan dan

mengumpulkan kuisioner kepuasan layanan publik kepada pengunjung Klinik Konsultasi HKI.

− Menyebarkan informasi melalui berbagai

kegiatan yang diikuti oleh Klinik HKI-IKM

Turut berperan serta dalam memberikan sosialisasi berupa kunjungan kedaerah-daerah kepada industri kecil dan menengah mengenai pentingnya perlindungan HKI,membuat pelatihan HKI, menangani

konsultasi seputar klinik hki baik didalam klinik sendiri maupun dalam kegiatan pameran-pameran, memberikan advokasi hki bagi pihak yang bersengketa.

3. Apakah peran PR sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran merek pada masyarakat melalui Klinik Konsultasi HKI – IKM?

Ya. Mayoritas pengusaha IKM khususnya yang berada di luar Jawa masih belum sadar akan

pentingnya HKI, terlebih dalam menyambut Pasar Bebas ASEAN pada tahun 2015. Peran PR pada Klinik HKI-IKM, dalam hal ini untuk turut menyebarluaskan akan pentingnya HKI, serta

Sangat membantu, melalui kegiatan konsultasi dalam Klinik HKI maupun pameran, PR memberikan pengertian kepada

masyarakat mengenai pentingnya pendaftaran merek bagi IKM.

(25)

menginformasikan keberadaan Klinik HKI-IKM kepada pengusaha IKM yang membantu pengusaha IKM dalam melindungi HKI-nya, menjadi krusial.

Tabel 4.5 Penyajian Data Wawancara dengan narasumber Internal Tabel Penyajian Data Wawancara Informan sebagai Narasumber Eksternal : Keterangan :

X = Bernard Y = Frans

No. Pertanyaan Jawaban

Narasumber X

Jawaban Narasumber Y 1. Apa yang anda ketahui

tentang Public Relations?

Seorang yang pekerjaannya bertugas mengenai segala yg berhubungan dgn aktivitas komunikasi, promosi

PR atau Humas adalah yg menciptakan dan menjaga citra

perusahaan dari atau ke masyarakat

2. Sejauh mana anda tahu mengenai Klinik Konsultasi HKI – IKM?

Saya tahu tentang Klinik ini sejak 2tahun lalu, ketika saya memulai usaha

Klinik HKI adalah bagian dr Ditjen IKM yang menangani hal-hal yg berkaitan dgn HKI

3. Bagaimana pendapat anda mengenai Klinik Konsultasi HKI – IKM ini?

Sangat membantu kalangan Dikenal masyarakat khususnya pengusaha IKM

(26)

pengusaha IKM 4. Bagaimana pelayanan yang

diberikan oleh Klinik Konsultasi HKI – IKM?

Dari segi konsultasi sangat baik, informatif. Semuanya ram Saya mendapatkan pelayanan yg baik

5. Sudah berapa kali anda datang ke Klinik Konsultasi HKI – IKM?

3 kali 1 kali

6. Kegiatan apa yang anda lakukan ketika datang ke Klinik Konsultasi HKI – IKM? Pertama-tama konsultasi seputar HKI, lalu sekarang proses pendaftaran merek Konsultasi HKI

7. Apakah Humas disini sudah dapat dikatakan berhasil dalam meningkatkan kesadaran merek pada Klinik Konsultasi HKI – IKM?

Sudah, karena saya tahu klinik ini juga dari sendiri

Sudah, dgn seringnya melakukan sosialisasi-sosialisasi ke daerah di Indonesia

8. Menurut penilaian anda, dimana tingkat brand awareness Klinik HKI – IKM? Top of mind, karena klinik ini membantu saya untuk memberi hak merek& paten produk saya.

Brand Recall, karena menurut saya masih banyak IKM di pelosok Indonesia yang blm tau keberadaan klinik ini

9. Apakah ada kendala selama anda datang, berkonsultasi, dsb di Klinik Konsultasi HKI

Tidak ada, prosedurnya sudah jelas

Tidak ada, bukan sekedar konsultasi tapi saya seperti diberi

(27)

– IKM? apalagi saya dijelaskan secara langsung

pengaahan

10. Apa saran anda untuk Humas kami dalam hal agar

meningkatkan kesadaran merek pada Klinik Konsultasi HKI – IKM? Kuota pendaftaran merek ditambah, jgn hanya 20merek/ bulan Publikasi media

elektronik, agar mudah mengetahui info dan Tanya jawab via social media

Tabel 4.6 Penyajian Data Wawancara dengan narasumber Eksternal

b. Display Data

Penelitian yang berjudul Sosialisasi Klinik Konsultasi HKI – IKM oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Untuk Meningkatkan Brand Awareness Hak Kekayaan Intelektual menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2014 sampai dengan 20 Mei 2014 di Klinik Konsultasi HKI – IKM, Ditjen IKM Kementerian Perindustrian yang beralamatkan di Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 52-53, Lt. 15. Maksud dari kajian penelitian untuk menganalisis strategi pemasaran yang telah dilakukan Klinik Konsultasi HKI – IKM. Karena keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur melalui pendapatan yang didapatkan tapi juga bagaimana perusahaan tersebut mampu untuk mempertahankan eksistensinya di dunia bisnis jasa yang dijalani, apalagi Klinik Konsultasi HKI – IKM ini merupakan bagian dari sub divisi dari Ditjen IKM yang merupakan non-profit, maksudnya dimana visitor yang rata-rata adalah pengusaha IKM tidak dipungut biaya dalam beronsultasi disini. Selain berkonsultasi mengenai seputar Hak Kekayaan Intelektual, ada juga kegiatan publikasi lainnya seperti pembinaan, sosialisasi, konsultasi, bimbingan layanan, promosi, dan pelatihan teknis HKI untuk dunia usaha IKM.

Branding adalah masalah utama di sektor IKM, karena mayoritas IKM belum mengutamakan merek. Kondisi tersebut terjadi karena pelaku usaha IKM pada umumnya memiliki keterbatasan modal usaha dan kesadaran rendah akan pentingnya penggunaan merek pada hasil produksinya, IKM juga memiliki keterbatasan dalam hal promosi.

(28)

Menurut Indra Jaya Sihombing, Master Trainer Unlimited Media Training Jakarta pada koran Suara Merdeka tanggal 20 Maret 2010 pada kolom Advertensia mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus dicermati agar suatu brand dapat terus bertahan bahkan menjadi pemenang, yaitu:

1. Upayakan brand berbeda dari pesaing

Cara paling sederhana mengetahui perbedaan ini adalah mencermati perilaku pemasaran pesaing. Segala hal yang bisa diamati di antaranya desain kemasan, isi atau kandungan produk, aktivitas-aktivitas komunikasi, termasuk iklan dan public relations. Kalau suatu brand tidak memiliki perbedaan khas dan bernilai jual tinggi, maka kemungkinan untuk bertahan akan relatif sulit, sebab konsumen akan melihatnya sebagai brand yang biasa-biasa saja. Maka dari itu, disini fungsi Klinik Konsultasi HKI – IKM adalah untuk memberi saran dan masukan kepada pelaku IKM untuk memberi tahu syarat-syarat apa saja dalam menentukan merek dari suatu produk.

2. Pastikan brand memiliki janji bernilai dan benar-benar bisa terealisasi

Tugas dari Klinik HKI adalah untuk memberikan pelayanan maksimal kepada IKM untuk menentukan brand pada produknya.

3. Bertindaklah layaknya pemimpin sehingga suara didengar

4. Intregasikan segala jalur komunikasi yang tersedia dengan efektif

Antarmedia yang digunakan harus terjalin kerja sama saling mendukung dalam kesamaan pesan, atau eksekusi yang tidak berbeda-beda. Brand pemenang biasanya melakukan komunikasi luas dan massal untuk memantapkan citranya sebagai pemimpin.

Untuk meningkatkan pemasaran seiring dengan makin ketatnya persaingan, dengan adanya eksistensi keberadaan Klinik HKI maka pelaku IKM akan terbantu tentang HKI. Masih minimnya perhatian IKM pada bidang pemasaran mengakibatkan sebagian bisnis mereka tersendat dan kurang maju.

Meskipun memiliki produk yang bagus dan unik, namun tidak akan berarti jika gagal mengkomunikasikan pada orang lain karena bukan hal yang mudah untuk bisa mem-branding-kan produk pada sektor IKM. Ini pekerjaan rumah yang luar biasa bagi Ditjen HKI, Pemerintah akan membantu pelaku usaha disektor IKM agar mempunyai 'branding' dan memudahkan masyarakat mengenali produknya sehingga lebih dikenal di pasaran. Dalam wawancara yang telah dilakukan pada tanggal 14

(29)

April, Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah mengatakan bahwa pemerintah akan membantu penguatan merek di sektor IKM. Beliau berharap pelaku IKM dapat memanfaatkan fasilitas Klinik ini degan baik. Untuk itu kepada IKM yang ingin melakukan konsultasi dalam perbaikan kemasan, merek, label, maupun penciptaan desain silahkan datang ke Klinik Konsultasi HKI – IKM yang berada di lantai 15 Gedung Kementerian Perindustrian, karena program-program yang ada disini adalah tanpa dipungut biaya.

Jika pelaku IKM benar-benar berniat serius menggeluti sebuah usaha dan bermimpi untuk menjadi besar, berikut ini trik dari Dirjen IKM yang harus diperhatikan untuk mewujudkan menjadi pengusaha IKM yang sukses :

1. Buat organisasi bisnis yang sesuai untuk bisnis Anda 2. Belajarlah agar wawasan makin terbuka

3. Percaya diri namun jangan sekehendak hatinya

4. Jangan sekedar mengikuti pasar, jadilah pendikte pasar 5. Jangan pelit untuk berinvestasi jangka panjang

6. Jangan cepat merasa puas

7. Perlakukan SDM/ pekerja Anda sebagai aset, bukan sebagai budak 8. Bisnis Anda harus terbuka agar cepat berkembang.

Strategi Humas yang dilakukan Klinik Konsultasi HKI – IKM dalam melakukan terobosan untuk meningkatkan brand awareness Hak Kekayaan Intelektual yaitu dengan cara memperbanyak brosur, buku paduan, dan cetakan sebagainya yang berisikan tentang subjek HKI. Dan juga melalui media Majalah “GEMA”. Majalah GEMA merupakan media cetak Ditjen IKM Kementerian Perindustrian yang berisikan berita-berita industri, diproduksi dan dicetak oleh Ditjen IKM, lalu disebarkan/ didistribusikan melalui Dinas Perindag Kabupaten/ Kota dan juga disebarkan ke instansi-instansi pemerintah lainnya yang terkait.

Di dalam buku Peni R. Pramono yang berjudul Brand atau Merek Kunci Sukses Usaha, terdapat 4 (empat) tingkat dalam piramida brand awareness yaitu sebagai berikut (2012:52) :

a. Unaware of brand

Tahapan ini telah dilalui oleh Klinik HKI saat pertama kali didirikan di Ditjen IKM Kementerian Perindustrian. Pada tahap itu, masyarakat

(30)

masih belum mengenal dan mengetahui Klinik Konsultasi HKI – IKM dan masih awam terhadap klinik ini.

b. Brand recognition

Pada tahapan ini, masyarakat sudah mampu mengidentifikasi, memahami, mengetahui tentang keberadaan Klinik Konsultasi HKI – IKM.

c. Brand recall

Pada tahapan ini, para pelaku IKM datang ke Klinik HKI untuk melakukan konsultasi, ataupun pendaftaran HKI, advokasi, dsb. Disini visitor/ pelaku IKM mampu datang dengan sendirinya tanpa diberikan stimulus.

d. Top of mind

Pada tahapan ini, pelaku IKM mengingat merek (Klinik HKI) sebagai yang pertama kali muncul di pikiran saat berbicara mengenai tata cara prosedur pendaftaran HKI khususnya Hak Merek.

Dari keempat tingkatan brand awareness yang dijabarkan diatas dan hasil wawancara yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Klinik Konsultasi HKI – IKM telah menempatkan posisinya sebagai Brand Recall di kalangan masyarakat/ pelaku IKM. Hal ini dibuktikan dengan pelaku IKM/ visitor yang menganggap jasa yang diberikan oleh Klinik HKI dalam hal ini sudah sesuai dengan harapan tim Public Relations. Para pelaku IKM/ visitor Klinik HKI juga telah menyadari akan keberadaan klinik ini melalui brosur dan buku paduan, baik cetak maupun online di website resmi Kementerian Perindustrian. Meskipun begitu, tim Humas Klinik HKI masih ingin menambah jenis publisitas melalui media massa cetak agar tingkat kesadaran masyarakat dapat terus bertahan yaitu dengan melalui media Majalah GEMA.

Dalam menjalankan fungsi dan tugasnya Klinik Konsultasi HKI – IKM, humas dari kinik ini memiliki ruang lingkup pekerjaan. Indikator dari strategi sederhana pekerjaan yang dilakukan humas disingkat menjadi PENCILS yaitu antara lain Publikasi, Media Identitas, Sponsorship, Pidato, Berita, Kegiatan Layanan Publik, dan kegiatan perusahaan lainnya. Di Klinik Konsultasi HKI – IKM sendiri, lebih fokus atau lebih menitikberatkan kepada strategi publikasi. Publikasi yang dilakukan Klinik Konsultasi HKI – IKM melalui publikasi dengan cara sosialisasi-sosialisasi. Berikut beberapa sosialisasi-sosialisasi yang telah dilakukan Klinik

(31)

Konsultasi HKI – IKM pada tahun 2013 yang telah dikutip dari Buku Laporan Akhir Kegiatan HKI – IKM Tahun 2013 dalam rangka meningkatkan brand awareness kepada pelaku IKM antara lain :

1. Sosialisasi dan Diskusi Interaktif HKI bagi anggota HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia) dengan peserta sebanyak 100 orang, yang bertema “KEKAYAAN INTELEKTUAL SEBAGAI ASSET MASA DEPAN BANGSA”. Kegiatan sosialisasi ini diselenggarakan oleh DPP HIPPI bekerja sama dengan Ditjen IKM pada tanggal 23 April 2013 lalu di Ruang Garuda, Gedung Kementerian Perindustrian. Yang bertindak sebagai narasumber pada kegiatan ini adalah :

a. Dr. Suryani S. Motik : Ketua Umum DPP HIPPI b. Andrew Bethlen : Konsultan HKI

c. Ita Supit : Ketua Asosiasi Franchise Indonesia

2. Sosialisasi HKI bagi IKM dan Aparat dinas Perindustrian Kabupaten/ Kota dan Provinsi Bengkulu dengan peserta sebanyak 50 orang. Sosialisasi ini diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu bekerjasama dengan Ditjen IKM pada tanggal 18 Juni 2013 di Hotel Panorama Bengkulu. Yang bertindak sebagai narasumber pada kegiatan ini adalah : a. Ir. Lukman Hakim Lubis : Ketua Klinik Konsultasi HKI – IKM b. Asrin Naholo SMI. : Fasilitator Klinik Konsultasi HKI – IKM

(32)

3. Sosialisasi Prosedur dan Tata Cara Pendaftaran Merek bagi 60 perusahaan diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan bekerjasama dengan Ditjen IKM pada tanggal 27 Juni 2013 di Hotel Bumi Asih Kota Palembang. Yang bertindak sebagai narasumber pada kegiatan ini yaitu Syamsir Zein, SH, Fasilitator Klinik Konsultasi HKI – IKM.

Gambar 4.8 Sosialisasi Prosedur dan Tata Cara Pendaftaran Merek

4. Sosialisasi Prosedur Pendaftaran Merek Dagang bagi 50 IKM anggota Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) Jawa Timur, yang diselenggarakan oleh APRISINDO Jawa Timur bekerjasama Ditjen IKM pada tanggal 18 September 2013 yang bertempat di kantor APRISINDO, Ruko Permata Juanda Super Blok A No. 86-87, Juanda, Sidoarjo. Yang bertindak sebagai narasumber pada acara ini adalah :

a. DR. David Sukardi Kodrat : Ketua Pasca Sarjana Univ. Ciputra Surabaya b. Ir. Lukman Hakim Lubis : Ketua Klinik Konsultasi HKI – IKM

(33)

5. Sosialsasi HKI dan SNI dengan peserta sebanyak 120 IKM yang merupakan anggota Dekranasda Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dekranasda Provinsi DKI pada tanggal 29 Oktober 2013, bertempat di UPT. Balai Tekstil Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta, Jl. Letjen. Soeprapto Kav. 3 Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Yang bertindak sebagai narasumber pada acara ini adalah :

a. Ir. Lukman Hakim Lubis : Ketua Klinik Konsultasi HKI – IKM b. Radison Silalahi : Pustan Kementerian Perindustrian

Gambar 4.10 Sosialisasi HKI dan SNI dengan Dekranasda Jakarta

Kenyataan yang ada, sadar HKI yang belum dari pelaku-pelaku IKM adalah kendala utamanya, jadi sebenarnya walau kita sudah banyak melakukan sosialsiasi dibarengi dengan fasiltasi pendaftaran. Fasilitasi kan terbatas dari pemerintah itu hanya untuk mendorong mereka agar mau mendaftarkan, tetapi kesadaran pelaku IKM untuk bisa melindungi usahanya dengan HKI memang masih terbatas.

Untuk mempertahankan tingkat kesadaran masyarakat akan Klinik HKI, tim Public Relations seharusnya sudah melakukan kegiatan publikasi melalui jenis media massa cetak lainnya yaitu Majalah GEMA atau media internet seperti twitter. Walaupun sudah memiliki target untuk dapat meningkatkan brand awareness HKI, namun bentuk publikasi ini masih belum terlaksana.

c. Interpretasi Data

Jika dilihat dari testimoni dari visitor sendiri/ pelaku IKM, rata-rata mengatakan bahwa pelayanan dari Klinik Konsultasi HKI – IKM sudah baik. Hasil data penelitian juga mengambarkan bahwa strategi marketing public relations yang dilakukan oleh Klinik Konsultasi HKI – IKM sudah cukup efektif namun belum

(34)

optimal. Kekurangannya terletak pada anggaran dana untuk sosialisasi-sosialisasi HKI ke daerah dan juga kurang diliput oleh media sehingga tidak banyak orang yang tahu mengenai Hak Kekayaan Intelektual khususnya pada prosedur pendaftaran merek. Penempatan material publikasi seperti banner dan spanduk juga jarang dilihat, biasanya hanya dilihat jika ada pameran saja. Proses kegiatan marketing public relations dititik pusatkan di Klinik HKI sendiri.

Klinik Konsultasi HKI – IKM merupakan lembaga khusus yang didirikan oleh Departemen Perindustrian yang khusus untuk menangani HKI di sektor industri, khususnya sektor Industri Kecil dan Menengah yang berfungsi untuk memberikan layanan bagi IKM agar dapat lebih cepat memahami dan mengetahui yang berkaitan tentang Hak Kekayaan Intelektualdan mengimplementasikannya melalui berbagai kegiatan, seperti: konsultasi, sosialisasi, bimbingan dan penerapan HKI, pelatihan dan advokasi guna meminimalisir pelanggaran-pelanggaran HKI di sektor IKM.

Namun begitu, Klinik Konsultasi HKI – IKM masih membutuhkan banyak strategi untuk menempatkan produk di masyarakat serta mempertahankan tingkat brand awareness karena belum maksimal. Masih banyak masyarakat Indonesia khususnya pelaku IKM yang tidak mengetahui subyek HKI. Untuk membangun brand awareness, Klinik Konsultasi HKI – IKM memanfaatkan kegiatan publikasi melalui media massa cetak, yaitu Majalah GEMA. Permasalahan yang timbul adalah penggunaan media massa cetak sebagai sarana publikasi yang masih belum maksimal. Hal ini menjadikan jangkauan publikasi Klinik Konsultasi HKI – IKM belum optimal dan dapat menyebabkan brand awareness masyarakat akan Klinik Konsultasi HKI – IKM akan berkurang bahkan hilang jika memang tidak ada strategi lainnya.

Gambar

Gambar 4.1 Indikator Kinerja Utama Tahun 2014
Gambar 4.2 Struktur Organisasi Direktorat Jenderal IKM
Gambar 4.4 Layanan Sosialisasi & Fasilitasi HKI
Gambar 4.5 Layanan Promosi Stand Pameran Klinik Konsultasi HKI – IKM  KKH-IKM  memberikan  layanan  promosi  melalui  partisipasi  dalam  berbagai  event pameran di dalam negeri termasuk memberikan fasilitas ruang pamer di stand  Klinik HKI bagi produk tel
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada variabel yang digunakan dalam penelitian, penelitian ini menggunakan jumlah pendapatan dan jumlah biaya

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pembelajaran lebih difokuskan kepada siswa atau student center sedangkan guru sebagai fasilitator dalam

• Dan pada 1989, formasi International Council of Chemical Association (ICCA), badan dunia industri kimia yang mewakili produsen kimia dari seluruh dunia, tengah memimpin

Dari beberapa pengertian diatas, perubahan sosial dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian diantara unsur-unsur yang

Karema bentenan dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan keputusan pembelian aktiva tetap tapi tidak dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan manajemen, karena sunk

 Guru mengajukan pertanyaan : Apa yang kamu ketahui tentang embalase?, Siswa diminta mendiskusikan pertanyaan tersebut.  Guru menjelaskan bahwa embalase merupakan reklame

Penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) Bappeda Kota Bogor Tahun 2010-2014 ini, telah diupayakan menampung substansi dari Rencana

Pada tahap pendefinisian kebu- tuhan awal meliputi data yang berhu- bungan dengan perancangan sistem keha- diran dosen, tool yang digunakan untuk membuat perancangan