PENGARUH MEDIA SOSIAL (PATH) TERHADAP PERILAKU
KONSUMTIF DALAM PERSPEKTIF ISLAM
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia Dosen Pengampu: Zein Muttaqin, S.E.I., M.A
Disusun oleh:
ILHAMI ITSNANISA GHILMA
14423013
PRODI EKONOMI ISLAM FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaiku Wr.Wb
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pengaruh Media Sosial (Path) Terhadap Perilaku Konsumtif Dalam Perspektif Islam.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapat bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak terutama Bapak Zein Muttaqin selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa. Oleh karena itu dengan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memeprbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap makalah ini memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Yogyakarta, 22 Desember 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...2
C. Tujuan Penulisan...2
BAB II PEMBAHASAN A. Landasan Teori...3
1. Media Sosial (Path)...3
2. Gaya Hidup...3
3. Perilaku Konsumtif...4
3.1... Pengertian Perilaku Konsumtif 4 3.2...Faktor- Faktor Perilaku Konsumtif 4 3.3...Karakteristik Perilaku Konsumtif 6 4. Perilaku Konsumtif Dalam Perspektif Islam...8
B. Analisis...9
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan...10
B. Saran ...10
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bicara mengenai internet tentu tidak lepas dari maraknya penggunaan jejaring sosial yang kini ramai melanda pengguna internet di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Setelah fenomena facebook dan Twitter saat ini muncul jejaring sosial baru yang kini menjadi sangat trend di kalangananak mudahingga dewasa yakni jejaring sosial Path. Path memungkinkan penggunannya untuk berkontribusi setiap waktu di dalam jejaring sosial ini dimana Path menjadi media yang tepat untuk meceritakan kehiduan penggunannya setiap hari. Kemampuannya menyediakan fasilitas untuk menjawab kebutuhan manusia akan aktualisasi diri menjadikan jejaring sosial ini tidak hanya sebagai media yang tepat untuk eksistensi penggunanya.
Eksistensi diri sekarang ini menjadi sebuah kebutuhan untuk para remaja. Mereka selalu menunjukkan apa saja yang mereka lakukan, seakan mereka sedang berlomba untuk menunjukkan keeksitensian dirinya. Untuk itu mereka lebih sering pergi ke suatu tempat dan membeli sesuatu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan yang nantinya akan mereka tunjukkan ke publik lewat fitur yang terdapat di jejaring sosial Path agar mendapat pujian.
Gaya hidup seperti ini dapat menimbuklan adanya gejala konsumtifisme, sedangkan konsumifisme dapat didefinisikan sebagai sebagai pola hidup individu atau masyarakat yang mempunyai keinginan untuk membeli atau menggunakan barang dan jasa yang kurang atau tidak dibutuhkan (Lestari, 2006) .
Seperti yang dikatakan oleh Rromm bahwa keinginan masyarakat dalam era kehidupan yang modern untuk mengonsumsi sesuatu tampaknyatelah kehilangan hubungan dengan kebutuhan yang sesungguhnya, membeli saat ini sering kali dilakukan secara berlebihan sebagai usaha untuk memperoleh kesenangan atau kebahagiaan, meskipun sebenarnya kebahagiaan yang diperoleh hanya bersifat semu.
Budaya konsumtivisme menimbulkan shopilimia. Dalam psikologi ini dikenal sebagai compulsive buying disorder (penyakitkecanduabelanja). Penderita tidak menyadari dirinya terjebak dalam kubangan metamorfosa antara keinginandan kebutuhan. Ini bisa menyerangsiapa saja, perempuan ataupun laki-laki. Contoh dari makna konsumtif yang akan dikaji penulis yaitu membeli ponsel jenis baru, mengikuti trend, memakai fashio yang sedang trend, pergi ke sutau tempat yang sedang menjadi trend dan kegiatan lain yang dapat dibagikan atau ditunjukan melaui jejaring sosial Path.
Awalnya konsumtif hanya terbatas pada kebutuhan pokokuntuk hidup akan tetapi meningkat kepada kebutuhan yang lebih tinggi dikarekan faktorgaya hidup yang menjadi berlebih-lebihan. Gaya hidup juga dapat menjadi ajang ekspresi dan adaptasi seseorang terhadap budaya yang tengah melanda, sehingga tindakan seseorang didasarkan pada pola yang baru yang dilahirkan akibat perkembangan zaman. Dengan ini bentuk budaya modern menghadirkan gaya hidup modern menjadi acuan dalambersikap maupun bertindak. Termasuk ketika hadir produk-produk baru dianggap bagian dari bentuk simbolis gaya hidup masa kini.
namun dalam kebebasannya itu harus berpijak pada aturan-aturan konsumtif (perilaku-perilaku konsumtif) yang telah diatur dalam ajaran Islam pada umumnya.
Islam adalah agama yang memiliki keunikan terdiri dalam hal Al Qur’an tentunya di bidang Hadits, sangat komprehensif dan universal. Kompehensif berarti merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual maupun sosial (Hadis dan Sunnah). Universal berarti dapat diterapkan setiap watu dan tempat. Kajian yang komprehensif terhadap sebuah hadis dalam tradisi keilmuan Islam haruslah dilakukan dengan seimbang, yaitu dengan studi yang dapat mencakup kajian terhadap kitab-kitab Hadis (baik yang dikarang ulama’ sunni maupun syii)
Dalam hal konsumsi pun Islam mengajarkan sangat moderat dan sederhana, tidak berlebihan, tidak boros, dan tidak kekuranga karena pemborosan adalah saudara-saudara setan. Konsumtif dianggap sebagai suatu perkara yang baik, selama tidak membahayakan diri maupun orang lain. Islam mendorong manusia untuk mengkonsumsi sesuatu yang baik lagi halal untuk mewujudkan tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri, yaitu beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Artinya, manusia akan mendapatkan dua menfaat sekaligus yaitu manfaat sekarang (dunia) dan manfaat alkan datang (ahirat).
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang menjadikan aplikasi path begitu menarik dikalangan mahasiswa?
2. Bagaimana path mampu mempengaruhi pola hidup konsumtif mahasiswa dengan fasilitas yang ada di dalamnya?
3. Bagaimana pandangan Islam terhadap pola hidup konsumtif?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui sisi menarik dari Path
2. Untuk mengetahui pengaruh Path terhadap perilaku konsumtif
BAB II PEMBAHASAN
A. Landasan Teori
1. Media Sosial (Path)
Media sosial merupakan perkembangan dari teknologi komunikasi yang ada di internet. Media sosial merupakan sebuah aplikasi yang membuat koneksi kita dengan orang lain yang dapat digunakan dimana saja dan kapan saja menggunakan perangkat teknologi seperti smarthphone dan gadget lainnya yang memiliki akses internet. Media sosial menurut Hollenhorst & Michael (2010) didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan yang mengintegrasikan penggunaan teknologi dan interaksi sosial untuk berbagi pembicaraan, suara, gambar dan video (Damarwana, p.6).
Path didirikanoleh Shawn Fanning dan Dave Morrin pada tahun 2010, Dave Morrin adalah mantan eksekutif Facebook yang mendirikan Path dengan tujuan untuk membuat sebuah jurnal yang interaktif bagi penggunannya. Path mempunyai tagline “The smart journl that helps you share life with the ones you love” yaitu tentang hubungan yang bisa dipercaya sepanjang kehidupan seseorang dalam satu waktu,seseorang hanya bisa memiliki 150 true relationship, dimana hubungan dengan orang-orang di luar itu bukan hubungan yang termasuk dekat. Path memiliki beragam fitur yang memudahkan penggunanya untuk berkomunikasi dan mengekspresikan hidupnya seperti Listening to, Share Location, Take a Picture, Sleep, Update Status. (Darmawan, p.6).
1.1. Teknologi Path
Pengertian gaya hidup menurut Kotler (2002, p.192) adalah pola gaya hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas,minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Kotler (2008:168) menambahkan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi gaya hidup diantaranya adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi sikap, pengalaman, pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif persepsi. Faktor eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga, kelas sosial dan budaya.
Dari berbagai pemikian di atas dapat disimpulkan bahwa gaya hidupadalah pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapatnya dalam membelanjakan uangnya serta bagaimana seseorang mengalokasikan
waktunya dan seseorang memiliki pilihan untuk memilih gaya hidup apa yang membuat dia merasa nyaman sesuai dengan karakter dirinya. (Darmawa, p.6)
3. Perilaku Konsumtif
3.1. Pengertian Perilaku Konsumtif
Konsumtif dapat didefinisikan sebagai pola hidup individu atau masyarakat yang mempunyai keinginan untuk membeli atau menggunakan barang dan jasa yang kurang atau tidak dibutuhkan (Lestari, 2006).
Fromm (1995) mengatakan bahwa keinginan masyarakat dalam era kehidupan yang modern untuk mengonsumsi sesuatu tampaknya telah kehilangan hubungan dengan kebutuhan yang sesungguhnya. Membeli saat ini sering kali dilakukan secara berlebihan sebagai usaha seseorang untuk memperoleh kesenangan atau kebahagiaan, meskipun sebenarnya kebahagiaan yang diperoleh hanya bersifat semu.
Lebih jauh Kartodiharjo (1995) menjelaskan bahwa perilaku konsumtif sebagai sosial ekonomi perkembangannya dipengaruhi oleh faktor kultural, pentingnya peran mode yang mudah menular atau menyebabkab produk-produk tertentu. Di samping itu sikap seseorang seperti orang tidak mau ketinggalan dari temannya atau penyakit kultural yang disebut “gengsi” sering menjadi motivasi dalam memperoleh produk. Di jumpai juga gejala sosiopsokologis berupa keinginan meniru sehingga remaja berlomba-lomba yang satu ingin lebih baik dari yang lain. Perilaku konsumtif menciptakan kebiasaan pembelian produk untuk konsumsi tetapi ada motivasi lain. Konsumtifisme jenis ni cukup banyak contohnya, misalnya berbagai produk dengan merk terkenal sangat disukai meskipun mahal, seperti ponsel bermerk “iphone”. Produk bukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia, akan tetapi lebih berfungsi sebagai lambang yang disebut “Simbol Status”.
Pendapat yang lain dikemukakan setiaji (1995) menyatakan bahwa perilaku konsumtif adalah kecenderungan seseorang berperilaku berlebihan dalam membeli sesuatu atau membeli secara tidak terencana. Sebagai akibatnya mereka kemudian membelanjakan uangnya dengan membabi buta dan tidak rasional, sekedar untuk mendapatkan barang-barang yang menurut anggapan mereka dapat menjadi simbol keistimewaan.
Menurut Sumartono (2005:176) perilaku konsumtif ada;ah suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional.melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf tidak rasional lagi. Peirlaku konsumtifmelekatpada seseorang bila orang tersebut membeli sesuatu di luar kebutuhan (need) tetapi sudah kepada faktor keinginan (want).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumtif adalah suatu keinginan individu atau masyarakat untuk membeli barang mewah dengan berlebihan hanya untuk kesenangan dan menaikkan derajat sosial seseorang.
Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif ada dua, yaitu internal dan eksternal:
a. Faktor Eksternal/Lingkungan
Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh lingkungan di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Variabel-variabel yang termasuk dalam faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku konsumtif adalah kebudayaan, kelas sosial, kelompok sosial dan keluarga.
1) Kebudayaan
Budaya dapat didefinisikan sebagai hasil kreativitas manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya yang sangat menentukan bentuk perilaku dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat (Mangkunegara, 2005: 39). Manusia dengan kemampuan akal budaya telah mengembangkan berbagai macam sistem perilaku demi kebutuhan hidupnya. Kebudayaan adalah determinan yang paling fundamental dan keinginan perilaku seseorang (Kotler, 200: 224).
2) Kelas Sosial
Pada dasarnya manusia Indonesia dikelompokkan dalm tiga golongan (mangkunegara, 2005:42) yaitu: golongan atas, golongan menengah, dan golongan bawah. Perilaku konsumtif antara kelompok sosial satu dengan yang lain akan berbeda dalam hubungannya dengan perilaku konsumtif (Mangkunegara, 2005:43)
3) Keluarga
Sangat penting dalam perilaku membeli karenakeluarga adalah pengaruh konsumsi untuk banyak produk. Selain itu keluarga dapat didefinisikan sebagai suatu unit masyarakat yang terkecil yang
Faktor internal ini juga terdiri fari dua aspek, yaitu aspek psikologis dan faktor pribadi.
1) Faktor psikologis, juga sangat mempengaruhi seseorang dalam bergaya hidup kosumtif (Kotler, 2000: 238), diantaranya:
a) Motivasi, dapat mendororng karena dengan motivasi tinggi untuk membeli suatu produk, barang/jasa maka mereka senderung akan membeli tanpa menggunakan faktor rasionalnya.
b) Persepsi, berhubungan erat dengan motivasi. Dengan persepsi yang baik maka motivasi untuk bertindak akan tinggi, dan ini menyebabkan orang tersebut bertindak secara rasional.
c) Sikap pendirian dan kepercayaan. Melalui bertindak dan belajar orang akan memperoleh kepercayaan dan pendirian. Dengan kepercayaan pada penjual yang berlebihan dan dengan
pendirian yang tidak stabil dapat menyebabkan terjadinya perilaku konsumtif.
2) Faktor pribadi, menurut Kotler (2000: 232) keputusan untuk membeli sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, yaitu: a) Usia, pada usia remaja kecenderungan seseorang untuk
berperilaku konsumtif lebih besar daripada orang dewasa. Tambunan (2001: 1) menambahkan bahwa remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. b) Pekerjaan, mempengaruhi pola konsumsinya. Seseorang
dengan pekerjaan yang berbeda tentunya akan mempunyai kebutuhan yang berbeda pula, dan hal ini dapat menyebabkan seseorang berperilaku konsumtif untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaannya
c) Keadaan ekonimi. Orang yang mempunyai uang yang cukup akan cenderung lebih senang membelanjakanuangnya untuk membeli barang-barang. Sedangkan orang dengan ekonomi rendah akan cenderung hemat.
d) Kepribadian. Kepribadian dapat menentukan pola hidup seseorang, demikian juga perilaku konsumtif pada seseorang dapat dilihat dari tipe kepribadian tersbut.
e) Jenis kelamin. Kjenis kelamin mempengaruhi kebutuhan membeli, karena remaja putri cenderung lebih konsumtif dibandingkan pria (Tambunan, 2001:3)
3.3. Karakter Perilaku Konsumtif
Menurut Sumartono (dalam Fransisca, 2005: 178-179) karakteristik atau indikator perilaku konsumtif adalah sebagai berikut:
a. Membeli produk karena iming-iming hadiah
Pembelian barang tidak lagi melihat manfaatnya akan tetapi tujuannya hanya untukmendapatkan hadiah yang ditawarkan
b. Membeli produk karena kemasannya menarik.
Individu tertarik untuk suatu barang karena kemasannya yang berbeda dari yang lainnya. Kemsan suatu barang yang menarik dan unik akan membuat seseorang membeli barang tersebut.
c. Membeli produkdemi manjaga penampilan gengsi.
Gengsi membuat individu telah memilih membeli barang yang dianggap dapat menjaga enampilan diri, dibandingkan dengan membeli barang lain yang dibutuhkan.
d. Membeli produk berdasarkan pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat).
Konsumen cenderung berperilaku yang ditandakan oleh adanya kehidupan mewah sehingga cenderung menggunakan segala hal yang dianggap paling mewah.
e. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbolatau status.
f. Mamakai produk kkarenaunsur konformitas terhadap model yang mengiklankan produk.
Individu memakai sebuah barang karena tertarik untuk bisa menjadiseperti model ikan tersebut, ataupun karena yang diiklankan adalah seorang idola dari pembeli.
g. Munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri.
Individu membeli barang atau produk bukan berasarkan kebutuhan tetapi karena memiliki harga yang mahal untuk menambahkan kepercayaan diri.
h. Keinginan mencoba lebih dari dua jenis yang berbeda.
Konsumen akan cenderung menggunakan produk dengan jenis yang sama dengan merk yang lain dari produk sebelumnya ia gunakan, meskipun produk tersebut belum habis dipakai.
Konsumtif menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. Berdasarkan definisi di atas, maka dalam perilaku konsumtif menurut Tambunan (2001:1) adadua aspek mendasar, yaitu:
a. Adanya suatu keinginan mengkonsumsi secara berlebihan. Hal ini akan menimbulkan pemborosan dan bahkan inefisien biaya, apaagi bagi remaja yang belum mempunyaii penghasilan sendiri.
1) Perilaku konsumtif yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produknya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Perilaku ini hanya berdasarkan pada keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.
2) Inefisiensi biaya
Pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja yang biasanya mudah terbujuk rauan iklan,suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya sehingga menimbulkan inefisiensi biaya.
b. Perilaku tersebut dilakukan bertujuan untuk mencapai kepuasan semata. Kebutuhan yang dipenuhi hanya sekedar mengikuti arus mode, ingin mencoba produk baru, ingin memperoleh pengakuan sosial tanpa memperdulikan kecemasan. Rasa cemas di sini timbul karena merasa harus tetap mengikuti perkembangan dan tidak ingin dibilang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.
2) Memperoleh pengakuan sosial
Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebagai usia peralihan dalam mencari identitas
diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan denganberusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in (populer).
4. Perilaku Konsumtif dalam Perspektif Islam
Islam adalah agama yang ajarannya mengatur segenap perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula masalah konsumsi, Islam mengatur bagaimana manusia melakukan kegiatan-kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemaslahatan hidupnya. Seluruh aturan Islam mengenai aktivitas konsumsi terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perilaku konsumsi yang sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah ini akan membawa pelakunya mencapai keberkahan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Perilaku konsumsi yang sesuai dengan Al-Qur’an danAs-Sunnah yaitu sepertimakan dan minum yang cukup,melakukan pekerjaan yang bermanfaat (menuntut ilmu, shalat, berda), membantu orang lain dalam kebaikan, bersodakoh, merayakan Hari raya dengan tidak berlebihan dan lain sebagainya.
Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah Allah SWT kepada sang Khalifah agar dipergunakansebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama. Dalam satu pemanfaatan yangtelah diberikan kepada Khalifah adalah kegiatan ekonimi (umum) dan lebih sempit lagi kegiatan konsums (khusus). Islam mengajarkan kepada sang Khalifah untuk memakai dasar yang benar agar mendapatkan keridhaan dari Allah Sang Pencipta.
Konsumsi pada hakikatnya adalah mengeluarkan sesuatu dalam rangka memenuhikebutuhan. Konsumsi meliputi keperluan, kesenangan dankemewahan. Kesenangan atau keindahan diperbolehkan asal tidak berlebihan, yaitu tidak melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan tidak pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan . konsumen muslim tidak akan melakukan permintaan terhadap barang sama banyak dengan pendapatan, sehinggan pendapatan habis, karena mereka mempuyai kebutuhan jangka pendek (di dunia) dan kebutuhan jangka panjang (di akhirat) (Diana, 2008:55)
Pada dasarnya setiap manusia mempunyai kecenderungan berperilaku konsumtif, akan tetapitidak semua bisa menyalurkannya. Dalam surat Al-Isra’ dianjurkan untuk membelanjakan harta yang kita miliki sesuai dengan syara’ tidak berlebih-lebihan dan juga tidak kikir. Inilah yang disebut kesederhanaan dalam Islam.
B. Analisa
Hasil dari pengamatan dan pengalaman diri sendiri bahwa perilaku komsumtif yang ditimbulkan dalam penggunaan media sosial path ini sangat beragam, hal ini dapat dilihat dari adanya perubahan gaya hidup yang tinggi, Brand Images, highclass, dan transparasi kehidupan mereka ditengah-tengah para pengguna media sosial Path lainnya. Perubahan perilaku komunikasi yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi sangat besar sekali efeknya pada manusi, karena pesatnya perkembangan saat inimemberikan berbagai opsi kepada msyarakat untuk menikmati berbagai fasilitas layanan internet seperti intenret mobile phone dengan cara beraga. Hal ini pula lah yang mendorong perkembangan sebuah media sosial yang dari tahun ke tahum semakin terasa efeknya.
Menjamunya berbagai media sosial membuat tingkat penggunaanya pun melambung pesat, beragam hal menarik pun kini banyak ditawarkan oleh berbagai macam media sosial agar dapat diminati oleh masyarakat mulai dari fitur-fitur, konten bahkan isis dari media sosial sendiri. Kebiasaan masyarakat Indonesia untuk selalu mengikuti perkembangan jaman membuat media sosial Path hadir dan berbeda di tengah-tengah media sosial yang tengah menjamut saat ini. Dengan tampilan yang sederhana tapi menarik, fitur-fitur lengkap yang tidak ditemukan di media sosial lain seperti, update status, fitur sleeping awake, dll membuat tingkat penggunaan Path sangat tinggi, Path kini menjadi media sosial yang happening dan populer di kalangan masyarakat.
Untuk mengakses media sosial Path ini bisa dilakukan dimana sajadan kapan saja hanya dengan perangkat mobile phone karena Path tidak webs app, pertemanannya pun dibatasi hanya 150 orang karena itulah Path menajdi eksklusif. Dari hasil pengamatan kebanyakan orang menggunakan Path beragam seperti fiturnya menarik, tidak mau ketinggalan jaman, menginginkan keeksistensian di tengah masyarakat, dapat dikenal orang. Path juga dijadikan ajang untuk meningkatkan gaya hidup di tengah-tengah lingkungan masyarakat.
Dapat dikatakan bahwa tujuan menggunakan media sosial itu adalah untuk berinteraksi dengan orang-orang terdekat dan membagikan seluruh kehidupannya di Path. Yang mendasari motif menggunaan media sosial Path yaitu adanya strata sosial yang terjadi di kalanganmereka, Path yang hanya bisa digunakan untuk diakses di internet seperti gadegt, ponsel Iphone dan Android dengan berbagai merk yang harganya tidak dapat dijangjau oleh semua kalangan dijadikan ajang gengsi, untuk menampilkan oleh menampilkan sitra diri, eksisi, gaul dan ingin dianggap bahwa pengguna media sosial Path itu bukanlah orang yang ketinggalan jaman. Tidak seperti saat mereka menggunakan media sosial lain, mereka memang eksis tapi tidak se eksis dan se-eksklusif daat mereka memakai Path, ini menimbulkan adanya budaya sombong dan budaya peniruan pengaplikasian strata sosila yang terjadi dikalangan masyarakat.
Penggunaan terhadap Path ini cenderung ke hedonisme (lebih mementingkan kehidupan duniawi) dan mengakibatkan perilaku konsumtif. Path menjadi ajang untuk meningkatkan brand images dan ingin menjadi oran yang highclass. Ketika mereka berada di tempat hangout tempat hiburan serta temapt makan mahal seperti cafe, mall, restaurant, hotel, berlibur ke daerah yang terkenal pasti mereka mengunggahnya di Path. Jarang sekali mereka menshare di tempat murah.
Bisa dikatakan pada zaman ini lah zamannya konsumtif. Perilaku konsumtif disini merupakan tindakan konsumen dalam mendapatkan, menggunakan, dan mengamil keputusan dalam memilih suatu barang yang belum menjadi kebutuhannya serta bukan menjadi prioritas utama, hanya karena ingin mengikuti mode, mencoba produk baru, bahkan hanya untuk mempoleh pengakuan sosial dengan dominasi faktor emosi sehingga menimbulkan perilaku konsumtif. Mereka membeli suatu produk demi menjaga penampilan gengsi, menginsumsi hanya sekedar menjaga simbol atau status sosial, munculnya penialian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri. Kegiatan tersebut telah masuk ke dalam karakteristik perilaku konsumtif. Perilaku seperti ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor Eksternal seperti, kelas sosial, keluarga sedangkan faktor Internal yang muncul dari diri sendiri yaitu seperti usia, pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan jenis kelamin.
Konsumsi merupakan kegiatan yang telah diatur oleh Islam. Islam mengatur bagaimana manusia dapat melakukan kegiatan-kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemaslahatan hidupnya. Perilaku konsumsi yang sesuai dengan ketentuan Al Qur’an dan As Sunnah akan membawa pelakunya mencapai keberkahan dan kesejahteraan dalam hidupnya. Perilaku konsumsi yang sesuai dengan ajaran Islam yaitu seperti makan dan minum yang cukup, melakukan pekerjaan yang bermanfaat, membantu orang lain dalam kebaikan , bersodakoh, merayakan hari raya dengan tidak berlebihan dan lain sebagainya.
Dalam surat al Isra’ ayar 26 menerangkan yang artinya “ Dan berikanlaj hak untuk hidup berbahagialah kepada kaum keluarga, kaum sengsara dan wisatawan agama. Namun jangan engkau hambur-hamburkan hartamu secara boros”. Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa dilarang untuk boros karena sesungguhnya boros merupakan teman setan.
Hidup dengan kemegahan, pemborosan dan bermewah-mewahan bisa menjadi sebab dihilangkannya nikmat yang ada, karena hanya melahirkan kemaksiatan pada Allah. Bahkan, ia dapat menjadi penyebab hilangnya sumber daya ekonomi umat
Kemudin dalam surat al A’raf ayat 31 yang artinya “ Hai anak anak adam, pakailah pakianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlaj, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Qs. AL A’raf: 31)
Di dalam hadits dan riwayat para sahabat “apalagi ayat-ayat Al Qur’an” dianjurkan agar berlaku hemat dalam nafkah atau belanja. Diriwayatkan dari at-Tirmidzi dari Abdullah Ibnu Sirjis sampai kepada Nabi SAW, bersabda, yang artinya: “sikap yang baik, sifat kasih, dan berlaku ekonomis adalah sebagian dari empat puluh empat bagian kenabian:. (disebut dalam Shahih Al-Jami’ ash-Shagir dan di hasan kannya.(3692).
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Path memiliki fitur yang sangat beragam mulai dan lebih dari berbagai moment-monem di media sosial Path, mengomentari dan berbincang-bincang dengan sesama pengguna Path, membuat Path berubah fungsi sebagai ajang bersosialisasi, dan ajang gaya hidup yang tinggi, ini dapat dilihat dari setiap moment-momet yang dishare kebanyakan lebih mengshare sisi hedonisme dan fungsi entertainment saja, apa yang dishare menunjukkan brand images. Kehidupan highclass penggunanya, sebab mau makan, berada di tempat mana, mau tidur dan bangun tidur, serta seluruh kehidupan mereka di share di Path semua. Pengguna Path pun dapat dikatakan kecanduan karena dimanapun dan kapanpun mereka berada selalu membuka Path dengan intensitas waktu yang tinggi karena fasilitas dari Path itu yang menarik, dan karena meariknya Path tersebutlah yang membuat para pengginanya berperilaku konsumtif.
Dalam hal konsumsi Islam mengajarkan untuk sederhana, tidak berlebihan, tidak boros dantidak kekurangan karena pemborosan adalah saudara setan. Konsumtif dianggap sebagai sesuatu perkara yang baik, Selama tidak membahayakan diri dan orang lain. Islam mendorong manusia untuk mengkonsumsi sesutau yang baik lagi halal untuk mewujudkan tujuan dari penciptaan manusai itu sendiri.
Dalam surat al A’raf ayat 31 yang artinya “ Hai anak anak adam, pakailah pakianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlaj, dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Qs. AL A’raf: 31).
Dalam surat diatas ditegaskan bahwa Allah melarang kita untuk berlebih-lebihan
B. SARAN
Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, terdapat ebberapa hal yang menjadi fokus penulis. Sehingga penulis memberikan beberapa saran terkait dengan pengaruh path terhadap perilaku konsumtif, sebagai berikut:
1. Untuk penggunaan media sosial, agar lebih bijaksana tidak mengikuti orang lain atau trend yang sedang happening
2. Harus mengetahui antara keinginan dan kebutuhan dan mendahulukan kebutuhan 3. Tidak perlu memperdulikan strata sosial karena di mata Allah semua manusia itu
sama
4. Janganlah mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan karena orang yan berlebih-lebihan adalah sudara setan.
DAFTAR PUSTAKA
Darmawan. 2002. Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung. PT Remaja Rosdakarya
Kartodiharjo, S. 1995. Konsumerisme dan Perlindungan Konsumen. Akademika. No. 1 Tahun XIII. Surakarta: Muhammadiyah University Press. Halaman 30-40
Kotler, P. 1997. Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol. Edisi Revisi (terjemah Teguh, H dan Antonius, R). Jakarta: Prehalindo
Lestari, S. 2006. Hubungan Antara Harga Diri dan Konformitas dengan Perilaku Konsumtif terhadap Produk Fashion pada Remaja Putri. Skripsi. Surakarta : Fakultas Psikologi UMS Mangkinegara, A. 2005. sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya Setiaji, B. 1995. Konsumerisme. Akademika. No.1. tahun XIII. Surakarta Muhammadiyah University Press.
Tambunan, R. 2001. Remaja dan Perilaku Konsumtif. Internet. www. E-psikologo.com Ekky, P. 2013. Perilaku Para Pengguna Media Sosial Path di Kalangan Mahasiswa Unikom Kota Bandung. Skripsi. Banung: Universitas Komputer Bandung
Tri, H. 2014. Fenomena Penggunaan Path Sebagai Ajang Menunjukkan Eksistensi Diri. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro
Darmawan, dkk. Penggunaan Media Sosial Path Pada Gaya Hidup Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (Studi Deskriptif Kuantitatif di TelkomUniversity. Bandung: Telkom University Mukhtarom, I. 2013. Pemahaman yusuf Al Qaradawi Terhadap Hadis-Hadis Tentang Perilaku Konsumtif. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga