POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA JURUSAN DIII JAMU 2012

125  12  Download (0)

Full text

(1)

1

MATERI KULIAH

FORMULASI TEKNOLOGI

PENYUSUN :

DIMAS SURYO ARIBOWO., S. Far., M. Sc., Apt

POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA

JURUSAN DIII JAMU

(2)

2

PENDAHULUAN

Indonesia terkenal dengan khasanah tanaman obatnya. Namun demikian, pengembangan tanaman obat Indonesia dirasakan belum maksimal. Padahal, dunia barat kini diliputi semangat kembali ke alam, salah satunya mencari upaya pengobatan melalui bahan-bahan yang tersebar di alam.

Jauh sebelum pelayanan kesehatan internal dengan obat-obatan modern menyentuh masyarakat. Selain bagi ekonomi, efek samping dari obat herbal sangat kecil. Oleh karena itu, penggunaan obat herbal alami dengan formulasi yang sangat penting dan tentunya sangat aman dan efektif.

Penggunaan tanaman obat untuk penyembuhan suatu penyakit didasarkan pada pengalaman secara turun-temurun diwariskan ke generasi berikutnya.

Setiap manusia pada hakekatnya mendambakan hidup sehat dan sejahtera lahir dan batin. Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, disamping kebutuhan akan sandang, pangan, papan dan pendidikan, karena hanya dengan kondisi kesehatan yang baik serta tubuh yang prima manusia dapat melaksanakan proses kehidupan untuk tumbuh dan berkembang menjalankan segala aktivitas hidupnya.

Maka tidak terlalu berlebihan, jika ada selogan “Kesehatan memang bukan segala-galanya, tetapi tanpa kesehatan anda tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan segala-galanya itu mungkin akan sirna”. Bertolak dari hal itu maka upaya kesehatan terpadu (sehat jasmani, rokhani dan sosial) mutlak diperlukan baik secara pribadi maupun kelompok masyarakat untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010. Keterpaduan upaya kesehatan tersebut meliputi pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) serta peningkatan kesehatan (promotif). Berbagai cara bisa dilakukan dalam rangka memperoleh derajat kesehatan yang optimal, salah satunya dengan memanfaatkan tanaman obat yang dikemas dalam bentuk jamu atau obat tradisional.

Adapun yang dimaksud dengan obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik atau campuran bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

Kategori obat bahan alam antara lain jamu, herbal terstandar dan fitofarmaka. Pengelompokan tersebut berdasar atas cara pembuatan, klaim pengguna dan tingkat pembuktian khasiat,yaitu:

1. Jamu

(3)

3 keamanannya baru terbukti setelah secara empiris berdasarkan pengalama turun-temurun. Sebuah ramuan disebut jamu jika telah digunakan masyarakat melewati 3 generasi. Artinya bila umur satu generasi rata-rata 60 tahun, sebuah ramuan disebut jamu jika bertahan minimal 180 tahun.

Sebagai contoh, masyarakat telah menggunakan rimpang temulawak untuk mengatasi hepatitis selama ratusan tahun. Pembuktian khasiat tersebut baru sebatas pengalaman, selama belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa temulawak sebagai antihepatitis. Jadi Curcuma xanthorriza itu tetaplah jamu. Artinya ketika dikemas dan dipasarkan, prosuden dilarang mengklaim temulawak sebagai obat.

Selain tertulis "jamu", dikemasan produk tertera logo berupa ranting daun berwarna hijau dalam lingkaran.

Di pasaran banyak beredar produksi kamu seperti Tolak Angin (PT Sido Muncul), Pil Binari (PT Tenaga Tani Farma), Curmaxan dan Diacinn (Lansida Herbal), dll.

2. Obat Herbal Terstandar

Obat Herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandardisasi.

Jamu dapat dinaikkan kelasnya menjadi herbal terstandar dengan syarat bentuk sediaannya berupa ekstrak dengan bahan dan proses pembuatan yang terstandarisasi. Disamping itu herbal terstandar harus melewati uji praklinis seperti uji toksisitas (keamanan), kisaran dosis, farmakodinamik (kemanfaatan) dan teratogenik (keamanan terhadap janin).

Uji praklinis meliputi in vivo dan in vitro. Riset in vivo dilakukan terhadap hewan uji seperti mencit, tikus ratus-ratus galur, kelinci atau hewan uji lain.

(4)

4 saat ini, di Indonesia baru 17 produk herbal terstandar yang beredar di pasaran. Sebagai contoh Diapet (PT Soho Indonesia), Kiranti (PT Ultra Prima Abadi), Psidii (PJ Tradimun), Diabmeneer (PT Nyonya Meneer), dll. Kemasan produk Herbal Terstandar berlogo jari-jari daun dalam lingkaran.

3. Fitofarmaka

Fitofarmaka adalah obat dari bahan alam terutama dari alam nabati, yang khasiatnya jelas dan terbuat dari bahan baku, baik berupa simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan minimal, sehingga terjamin keseragaman komponen aktif, keamanan dan kegunaannya.

Sebuah herbal terstandar dapat dinaikkan kelasnya menjadi fitofarmaka setelah melalui uji klinis pada manusia. Dosis dari hewan coba dikonversi ke dosis aman bagi manusia. Dari uji itulah dapat diketahui kesamaan efek pada hewan coba dan manusia. Bisa jadi terbukti ampuh ketika diuji pada hewan coba, belum tentu ampuh juga ketika dicobakan pada manusia.

Uji klinis terdiri atas single center yang dilakukan di laboratorium penelitian dan multicenter di berbagai lokasi agar lebih obyektif. Setelah lolos uji fitofarmaka, produsen dapat mengklaim produknya sebagai obat. Namun demikian, klaim tidak boleh menyimpang dari materi uji klinis sebelumnya. Misalnya, ketika uji klinis hanya sebagai antikanker, produsen dilarang mengklaim produknya sebagai antikanker dan antidiabetes. Kemasan produk fitofarmaka berupa jari-jari daun yang membentuk bintang dalam lingkaran.

Saat ini di Indonesia baru terdapat 5 fitofarmaka, contoh Nodiar (PT Kimia Farma), Stimuno (PT Dexa Medica), Rheumaneer PT. Nyonya Meneer), Tensigard dan X-Gra (PT Phapros).

(5)

5 Itulah tiga kriteria produk bahan alam dan tahapan panjang yang harus dilalui oleh produsen obat bahan alam untuk mendapatkan status tertinggi sebagai obat yaitu fitofarmaka. Semua uji tersebut ditempuh demi keamanan konsumen.

Penggunaan obat tradisional di Indonesia sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, sebelum obat modern ditemukan dan dipasarkan. Hal itu tercermin antara lain pada lukisan di relief Candi Borobudur dan resep tanaman obat yang ditulis dari tahun 991 sampai 1016 pada daun lontar di Bali.

Indonesia yang beriklim tropis merupakan Negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Indonesia memiliki sekitar 25 000-30 000 spesies tanaman yang merupakan 80% dari jenis tanaman di dunia dan 90 % dari jenis tanaman di Asia.

Oleh karena itu makalah ini dibuat agar masyarakat lebih mengerti tentang obat tradisional dan penggunaannya. Tanaman yang dijelaskan dalam makalah ini diantaranya, Kejibeling, Meniran, sirih, kunyit, jahe, rosella, mengkudu, jintan hitam, jambu biji, dan daun ungu.

Jamu merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia khususnya di bidang kesehatan dan estetika. Semangat “back to nature” yang mendunia dan dukungan dari pemerintah menjadikan jamu yang beberapa dasawarsa sebelumnya sempat terpinggirkan, saat ini telah menjadi salah satu komoditi yang patut diperhitungkan. Dalam rangka memperluas penerimaan dari konsumen, beberapa produk jamu tradisional saat ini dikemas dalam bentuk sediaan yang lebih praktis, modern dengan rasa yang mudah diterima pula, alias tidak pahit. Parameter rasa ini merupakan satu hal yang sangat penting mengingat jamu pada awalnya sering tidak dilirik karena berkonotasi pahit.

(6)

6

TEKNOLOGI SEDIAAN JAMU

(7)

7

BENTUK SEDIAAN OBAT

1. Bentuk sediaan obat padat

A. Serbuk /powder (pulvis n pulveres)

B. Granul (granual / dry granule)

C. Tablet (compresi)

D. Kapsul (capsulae)

2. Bentuk sediaan obat cair

A. Solutiones (larutan)

B. Suspensiones (suspensi)

C. Emulsa (emulsi)

Bentuk sediaan obat cair oral

A. Potiones (obat minum)

B. Elixir

C. Sirup

D. Guttae (drop, tetes)

Bentuk sediaan obat cair topikal

A. Collyrium (kolirium)

B. Guttae ophthalmiceae (tetes mata)

C. Gargarisma (gargle)

D. Mouthwash

(8)

8 F. Guttae auricularis (tetes telinga)

G. Irrigationes (irigasi)

H. Inhalatoines

I. Epithema

J. Lotion

K. Linimentum (liniment)

Bentuk sediaan cair rektal/vaginal

A. Lavament/clysma/enema

B. Douche

3. Bentuk sediaan injeksi (Injection)

4. Bentuk sediaan setengah padat

A. Cremores (krim)

B. Jelly (gel)

C. Pastae (pasta)

D. Unguenta (salep)

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 007 TAHUN 2012

TENTANG REGISTRASI OBAT TRADISIONAL Pasal 8

Obat tradisional dilarang dibuat dan/atau diedarkan dalam bentuk sediaan: a. intravaginal;

b. tetes mata; c. parenteral; dan

(9)

9

SIMPLISIA

TEKNOLOGI PENYIAPAN SIMPLISIA TERSTANDAR TANAMAN OBAT

Panen merupakan salah satu rangkaian tahapan dalam proses budidaya tanaman obat. Waktu, cara pemanenan dan penanganan bahan setelah panen merupakan periode kritis yang sangat menen-tukan kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Oleh karena itu waktu, cara panen dan penanganan tanaman yang tepat dan benar merupakan faktor penentu kua-litas dan kuantitas. Setiap jenis tanaman memiliki waktu dan cara panen yang berbeda. Tanaman yang dipanen buahnya memiliki waktu dan cara panen yang berbeda dengan tanaman yang dipanen berupa biji, rimpang, daun, kulit dan batang. Begitu juga tanaman yang mengalami stres lingkungan akan memiliki waktu panen yang ber-beda meskipun jenis tanamannya sama.

Berikut ini diuraikan saat panen yang tepat untuk beberapa jenis tanaman obat.

Biji. Panen tidak bisa dilakukan secara serentak karena perbedaan waktu pematangan dari buah atau polong yang berbeda. Pemanenan biji di-lakukan pada saat biji telah masak fisiologis. Fase ini ditandai dengan sudah maksimalnya pertumbuhan buah atau polong dan biji yang di dalamnya telah terbentuk dengan sempurna. Kulit buah atau polong mengalami perubahan warna misalnya kulit polong yang semula warna hijau kini berubah menjadi agak kekuningan dan mulai mengering. Pemanenan biji pada tanaman se-musim yang sifatnya determinate dilakukan secara serentak pada suatu luasan tertentu. Pemanenan dilaku-kan setelah 60% kulit polong atau kulit biji sudah mulai mongering. Hal ini berbeda dengan tanaman se-musim indeterminate dan tahunan, yang umumnya dipanen secara ber-kala berdasarkan pemasakan dari biji/polong.

(10)

10 yang tidak enak dan aromanya kurang sedap. Begitu pula halnya dengan pemanenan yang terlambat akan menyebabkan pe-nurunan kualitas karena akan terjadi perombakan bahan aktif yang ter-dapat di dalamnya menjadi zat lain. Selain itu tekstur buah menjadi lembek dan buah menjadi lebih cepat busuk.

Daun. Pemanenan daun dilakukan pada saat tanaman telah tumbuh maksimal dan sudah memasuki periode matang fisiologis dan dilakukan dengan memangkas tanaman. Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan pisau yang bersih atau gunting stek. Pemanenan yang terlalu cepat menyebabkan hasil produksi yang diperoleh rendah dan kandungan bahan bahan aktifnya juga rendah, seperti tanaman jati belanda dapat dipanen pada umur 1 - 1,5 tahun, jambu biji pada umur 6 - 7 bulan, cincau 3 - 4 bulan dan lidah buaya pada umur 12 - 18 bulan setelah tanam. Demikian juga dengan pe-manenan yang terlambat menyebab-kan daun mengalami penuaan (se-nescence) sehingga mutunya rendah karena bahan aktifnya sudah ter-degradasi. Pada beberapa tanaman pemanenan yang terlambat akan mempersulit proses panen.

Rimpang. Untuk jenis rimpang waktu pe-manenan bervariasi tergantung peng-gunaan. Tetapi pada umumnya pe-manenan dilakukan pada saat tanam-an berumur 8 - 10 bulan. Seperti rimpang jahe, untuk kebutuhan eks-por dalam bentuk segar jahe dipanen pada umur 8 - 9 bulan setelah tanam, sedangkan untuk bibit 10 - 12 bulan. Selanjutnya untuk keperluan pem-buatan jahe asinan, jahe awetan dan permen dipanen pada umur 4 - 6 bulan karena pada umur tersebut serat dan pati belum terlalu tinggi. Sebagai bahan obat, rimpang di-panen setelah tua yaitu umur 9 - 12 bulan setelah tanam. Untuk temu-lawak pemanenan rimpang dilaku-kan setelah tanaman berumur 10 - 12 bulan. Temulawak yang dipanen pada umur tersebut menghasilkan kadar minyak atsiri dan kurkumin yang tinggi. Penanaman rimpang dilakukan pada saat awal musim hujan dan dipanen pada pertengahan musim kemarau. Saat panen yang tepat ditandai dengan mulai menge-ringnya bagian tanaman yang berada di atas permukaan tanah (daun dan batang semu), misalnya kunyit, temulawak, jahe, dan kencur.

(11)

11 Kayu. Pemanenan kayu dilakukan setelah pada kayu terbentuk senyawa metabolit sekunder secara maksimal. Umur panen tanaman berbeda-beda tergantung jenis tanaman dan ke-cepatan pembentukan metabolit sekundernya. Tanaman secang baru dapat dipanen setelah berumur 4 sampai 5 tahun, karena apabila dipanen terlalu muda kandungan zat aktifnya seperti tanin dan sappan masih relatif sedikit.

Herba. Pada beberapa tanaman semusim, waktu panen yang tepat adalah pada saat pertumbuhan vegetatif tanaman sudah maksimal dan akan memasuki fase generatif atau dengan kata lain pemanenan dilakukan sebelum ta-naman berbunga. Pemanenan yang dilakukan terlalu awal mengakibat-kan produksi tanaman yang kita dapatkan rendah dan kandungan bahan aktifnya juga rendah. Sedang-kan jika pemanenan terlambat akan menghasilkan mutu rendah karena jumlah daun berkurang, dan batang tanaman sudah berkayu. Contohnya tanaman sambiloto sebaiknya di-panen pada umur 3 - 4 bulan, pegagan pada umur 2 - 3 bulan setelah tanam, meniran pada umur kurang lebih 3,5 bulan atau sebelum berbunga dan tanaman ceplukan dipanen setelah umur 1 - 1,5 bulan atau segera setelah timbul kuncup bunga, terbentuk.

Cara Panen

Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang diguna-kan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan. Seperti rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu atau cangkul. Bahan yang rusak atau busuk harus segera dibuang atau dipisahkan. Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong, karung dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak. Selanjutnya dalam waktu pengangkutan diusahakan supaya bahan tidak terkena panas yang berlebihan, karena dapat menyebab-kan terjadinya proses fermentasi/ busuk. Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama (hama gudang, tikus dan binatang peliharaan).

Penanganan Pasca Panen

(12)

12 proses panen tanaman tersebut. Selama proses pasca panen sangat penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan bahan yang digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan seperti masker dan sarung tangan. Tujuan dari pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Secara umum faktor-faktor dalam penanganan pasca panen yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

Penyortiran (segar)

Penyortiran segar dilakukan setelah selesai panen dengan tujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing, bahan yang tua dengan yang muda atau bahan yang ukurannya lebih besar atau lebih kecil. Bahan nabati yang baik memiliki kandungan campuran bahan organik asing tidak lebih dari 2%. Proses penyortiran pertama bertujuan untuk memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang muda dan yang tua serta untuk mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam bahan.

Pencucian

Pencucian bertujuan menghilang-kan kotoran-kotoran dan mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada bahan. Pencucian harus segera di-lakukan setelah panen karena dapat mempengaruhi mutu bahan. Pen-cucian menggunakan air bersih seperti air dari mata air, sumur atau PAM. Penggunaan air kotor menye-babkan jumlah mikroba pada bahan tidak akan berkurang bahkan akan bertambah. Pada saat pencucian per-hatikan air cucian dan air bilasan-nya, jika masih terlihat kotor ulangi pencucian/pembilasan sekali atau dua kali lagi. Perlu diperhatikan bahwa pencucian harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat mung-kin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan. Pencucian bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain :

a. Perendaman bertingkat

(13)

13 bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Metoda ini akan menghemat peng-gunaan air, namun sangat mudah melarutkan zat-zat yang terkandung dalam bahan.

b. Penyemprotan

Penyemprotan biasanya dilakukan pada bahan yang kotorannya banyak melekat pada bahan seperti rimpang, akar, umbi dan lain-lain. Proses penyemprotan dilakukan de-ngan menggunakan air yang ber-tekanan tinggi. Untuk lebih me-nyakinkan kebersihan bahan, ko-toran yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Proses ini biasanya meng-gunakan air yang cukup banyak, namun dapat mengurangi resiko hilang/larutnya kandungan dalam bahan.

c. Penyikatan (manual maupun oto-matis)

Pencucian dengan menyikat dapat dilakukan terhadap jenis bahan yang keras/tidak lunak dan kotoran-nya melekat sangat kuat. Pencucian ini memakai alat bantu sikat yang di- gunakan bentuknya bisa bermacam-macam, dalam hal ini perlu diper-hatikan kebersihan dari sikat yang digunakan. Penyikatan dilakukan terhadap bahan secara perlahan dan teratur agar tidak merusak bahannya. Pem-bilasan dilakukan pada bahan yang sudah disikat. Metode pencuci-an ini dapat menghasilkan bahan yang lebih bersih dibandingkan de-ngan metode pencucian lainnya, namun meningkatkan resiko kerusa-kan bahan, sehingga merangsang tumbuhnya bakteri atau mikro-organisme.

Penirisan/pengeringan

Setelah pencucian, bahan lang-sung ditiriskan di rak-rak pengering. Khusus untuk bahan rimpang pen-jemuran dilakukan selama 4 - 6 hari. Selesai pengeringan dilakukan kem-bali penyortiran apabila bahan lang-sung digunakan dalam bentuk segar sesuai dengan permintaan. Contoh-nya untuk rimpang jahe, perlu dilakukan penyortiran sesuai standar perdagangan, karena mutu bahan menentukan harga jual. Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar dikategorikan sebagai berikut :

• Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulit tidak terkelupas, tidak me-ngandung benda asing dan tidak berjamur.

(14)

14 • Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas maksimum 10%,

benda asing maksimum 3%, kapang mak-simum 10%.

Untuk ekspor jahe dalam bentuk asinan jahe, dipanen pada umur 3 - 4 bulan, karena pada umur tersebut serat dan pati jahe masih sedikit. Mutu jahe yang diinginkan adalah bobot 60 - 80 g/rimpang. Selesai penyortiran bahan langsung dikemas dengan menggunakan jala plastik atau sesuai dengan permintaan. Di samping dijual dalam bentuk segar, rimpang juga dapat dijual dalam bentuk kering yaitu simplisia yang dikeringkan.

Perajangan

Perajangan pada bahan dilakukan untuk mempermudah proses selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan, penyulingan minyak atsiri dan penyimpanan. Perajangan biasanya hanya dilakukan pada bahan yang ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar, rim-pang, batang, buah dan lain-lain. Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang digunakan dan ber-pengaruh terhadap kualitas simplisia yang dihasilkan. Perajangan terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif yang terkandung dalam bahan. Sedangkan jika terlalu tebal, maka pengurangan kadar air dalam bahan agak sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran dan kemungkinan besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.

Ketebalan perajangan untuk rimpang temulawak adalah sebesar 7 - 8 mm, jahe, kunyit dan kencur 3 - 5 mm. Perajangan bahan dapat dilakukan secara manual dengan pisau yang tajam dan terbuat dari steinlees ataupun dengan mesin pemotong/ perajang. Bentuk irisan split atau slice tergantung tujuan pemakaian. Untuk tujuan mendapatkan minyak atsiri yang tinggi bentuk irisan sebaiknya adalah membujur (split) dan jika ingin bahan lebih cepat kering bentuk irisan sebaiknya me-lintang (slice).

Pengeringan

(15)

15 Suhu pengeringan tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan. Pada umumnya suhu pengeringan adalah antara 40 - 600C dan hasil yang baik dari proses pengeringan adalah simplisia yang mengandung kadar air 10%. Demikian pula de-ngan waktu pengeride-ngan juga ber-variasi, tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan seperti rimpang, daun, kayu ataupun bunga. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pro-ses pengeringan adalah kebersihan (khususnya pengeringan mengguna-kan sinar matahari), kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan (tidak saling menumpuk). Penge-ringan bahan dapat dilakukan secara tradisional dengan menggunakan sinar matahari ataupun secara mo-dern dengan menggunakan alat pe-ngering seperti oven, rak pepe-ngering, blower ataupun dengan fresh dryer.

Pengeringan hasil rajangan dari temu-temuan dapat dilakukan de-ngan menggunakan sinar matahari, oven, blower dan fresh dryer pada suhu 30 - 500C. Pengeringan pada suhu terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif, sehingga mutunya dapat menurun. Untuk irisan rim-pang jahe dapat dikeringkan meng-gunakan alat pengering energi surya, dimana suhu pengering dalam ruang pengering berkisar antara 36 - 450C dengan tingkat kelembaban 32,8 - 53,3% menghasilkan kadar minyak atsiri lebih tinggi dibandingkan dengan pengeringan matahari lang-sung maupun oven. Untuk irisan temulawak yang dikeringkan dengan sinar matahari langsung, sebelum dikeringkan terlebih dulu irisan rimpang direndam dalam larutan asam sitrat 3% selama 3 jam. Selesai peren-aman irisan dicuci kembali sampai bersih, ditiriskan kemudian dijemur dipanas matahari. Tujuan dari perendaman adalah untuk mencegah terjadinya degradasi kur-kuminoid pada simplisia pada saat penjemuran juga mencegah peng-uapan minyak atsiri yang berlebihan. Dari hasil analisis diperoleh kadar minyak atsirinya 13,18% dan kur-kumin 1,89%. Di samping meng-gunakan sinar matahari langsung, penjemuran juga dapat dilakukan dengan menggunakan blower pada suhu 40 - 500C. Kelebihan dari alat ini adalah waktu penjemuran lebih singkat yaitu sekitar 8 jam, di-bandingkan dengan sinar matahari membutuhkan waktu lebih dari 1 minggu. Pelain kedua jenis pengeri-ng tersebut juga terdapat alat pengering fresh dryer, dimana suhunya hampir sama dengan suhu ruang, tempat tertutup dan lebih higienis. Kelemahan dari alat ter-sebut waktu pengeringan selama 3 hari. Untuk daun atau herba, penge-ringan dapat dilakukan dengan me-nggunakan sinar matahari di dalam tampah yang ditutup dengan kain hitam, menggunakan alat pengering fresh dryer atau cukup dikering-anginkan saja.

(16)

16 umumnya bahan (simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air ± 8 - 10%. Dengan jumlah kadar air tersebut kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan mau-pun waktu penyimpanan.

Penyortiran (kering).

Penyortiran dilakukan bertujuan untuk memisahkan benda-benda asing yang terdapat pada simplisia, misalnya akar-akar, pasir, kotoran unggas atau benda asing lainnya. Proses penyortiran merupakan tahap akhir dari pembuatan simplisia kering sebelum dilakukan pengemasan, penyimpanan atau pengolahan lebih lanjut. Setelah penyortiran simplisia ditimbang untuk mengetahui rendemen hasil dari proses pasca panen yang dilakukan.

Pengemasan

Pengemasan dapat dilakukan terhadap simplisia yang sudah di-keringkan. Jenis kemasan yang di-gunakan dapat berupa plastik, kertas maupun karung goni. Persyaratan jenis kemasan yaitu dapat menjamin mutu produk yang dikemas, mudah dipakai, tidak mempersulit pena-nganan, dapat melindungi isi pada waktu pengangkutan, tidak beracun dan tidak bereaksi dengan isi dan kalau boleh mempunyai bentuk dan rupa yang menarik.

Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut yang isinya menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman bahan yang digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, metode pe-nyimpanan.

Penyimpanan

(17)

17 diperhati-kan adalah cara penanganan yang tepat dan higienes. Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai tempat penyimpanan simplisia adalah :

• Gudang harus terpisah dari tem-pat penyimpanan bahan lainnya ataupun penyimpanan alat dan dipelihara dengan baik.

• Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau ke-mungkinan masuk air hujan.

• Suhu gudang tidak melebihi 300C.

• Kelembabab udara sebaiknya di-usahakan serendah mungkin (650 C) untuk mencegah terjadinya penyerapan air. Kelembaban udara yang tinggi dapat memacu pertumbuhan mikroorganisme se-hingga menurunkan mutu bahan baik dalam bentuk segar maupun kering.

• Masuknya sinar matahari lang-sung menyinari simplisia harus dicegah.

• Masuknya hewan, baik serangga maupun tikus yang sering me-makan simplisia yang disimpan harus dicegah.

(18)

18

GALENIK

Adalah sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang disari. Disari artinya diambil sarinya (ekstraksi) dengan menggunakan pelarut yang cocok.

Beberapa sediaan galenik :

1. tinctura 2. extracta

3. infusa

1. Tinctura

adalah larutan dalam alcohol atau hidro alcohol yang dibuat dari bahan tumbuh – tumbuhan atau dari bahan kimia. Jumlah kandungan alcohol 15 – 80 % dari total larutan. Fungsi alcohol sebagai pelarut dan anti mikroba.

Cara mendapatkan sediaan tincture ada :

a. Maserasi (untuk sebagian besar bahan) dengan metode perendaman : untuk pembuatan 100 ml tincture, maserasi dengan 750 ml pelarut yang ditetapkan atau campuran pelarut yang ditetapkan atau campuran pelarut dalam satu wadah yang dapat ditutup dan diletakan ditempat yang hangat. Digoyang goyangkan sering – sering selama 3 hari atau lebih hingga diperoleh zat yang larut dalam larutan. Penyimpanan tincture yaitu disimpan dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya, jauh dari cahaya matahari dan panas berlebih.

b. Perkolasi, sediaan simplisia ditambah pelarut terendam sempurna selama 15 menit setelah itu dipindahkan ke percolator.

Tuangkan larutan QS ad jenuh, bagian atas percolator ditutup, ketika cairan hamper menetes, keran bawah ditutup,maserasi selama 24 jam atau seperti yang ditetapkan.Buka kran biarkan perkolat mengalir dan tambahnkan pelarut QS ad perkolat 1000 ml.

(19)

19 Kandungan simplisia untuk tincture :

a. 20 g / 100 ml untuk bahan obat yang tidak berkhasiat keras.

b. 10 g / 100 ml untuk bahan obat yang berkhasiat keras.

2. Extractum

adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang ditetapkan (F I ed IV).

Bentuk ekstrak :

a. ekstrak cair / extractum liquidium. b. ekstrak kental / extractum spissum. c. ekstrak kering / extractum siccum.

Metode pembuatan :

a. Maserasi b. Perkolasi c. Reperkolasi

3. Infusa

adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90C selama 15 menit (F I ed IV).

Cara pembuatan :

Simplisia dengan derajat halus yang sesuai

a. Tambahkan air yang sesuai

b. Tambahkan air ekstra 2x berat simplisia

c. Masukan dalam panci infuse

(20)

20 Diserkai selagi panas melalui kain flannel

Jika air masih kurang tambahkan air panas melalui ampas QS ad volume yang dikehendaki.

Simplisia yang diserkai pada saat dingin :

a. Infuse daun sena b. Infuse minyak atsiri c. Infuse cortex condurango

4. Decogta

(21)

21

PULVIS

Pulvis / serbuk adalah sediaan padat berupa partikel serbuk yang merupakan campuran kering bahan obat / zat kimia, yang ditujukan pemakaian oral / topical.

Sarat :

• halus,

• kering,

• homogen

Keuntungan penggunaan pulvis :

• penyebaran obat lebih luas dan cepat dari sediaan kompak.

• Lebih cepat diabsorbsi.

• Obat lebih stabil dibandingkan dengan sediaan cair terutama obat yang rentan

rusak oleh air.

• Mengurangi local iritasi.

• Membebaskan dokter untuk pemilhan obat kombinasi dan dosis.

• Dibuat untuk zat aktif yang memiliki volume yang sangat besar.

• Lebih menguntungkan untuk anak – anak atau orang dewasa yang sukar

menelan.

• Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan si

penderita.

Kerugian : untuk bahan yang mudah rusak oleh udara atau atmosfer.

Faktor – faktor yang perlu diperhatikan dalam pencampuran :

(22)

22 b. Bj serbuk

c. Kontras warna

Cara mengenal kerusakan sediaan : secara higroskopis kerusakan dapat dilihat dari timbulnya bau tidak enak, perubahan warna, banyak yang menggumpal.

Penyimpanan : disimpan dalam wadah tertutup rapat ditempat yang sejuk dan kering dan terlindungi cahaya matahari.

Derajat halus serbuk dan pengayak dalam farmakope dinyatakan dalam uraian yang dikaitkan dengan nomor pengayak yang ditetapkan untuk pengayak baku, seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.

Sebagai pertimbangan praktis, pengayak terutama dimaksudkan untuk pengukuran derajat halus serbuk untuk sebagian buat keperluan farmasi (walaupun penggunaannya tidak meluas untuk pengukuran rentang ukuran partikel) yang bertujuan meningkatkan penyerapan obat dalam saluran cerna. Untuk pengukuran partikel dengan ukuran nominal kurang dari 100 mesh, alat lain selain pengayak mungkin lebih berguna.

Tabel : Klasifikasi serbuk berdasarkan derajat halus (menurut Fl IV) Klasifikasi Serbuk Simplisia Nabati & Hewani Bahan Kimia Nomor Batas Derajat Halus 2) Nomor Batas Derajat Halus 2) Serbuk 1) % No. Pengayak Serbuk 1) % No. Pengayak

Sangat Kasar 8 20 60

Kasar 20 40 60 20 60 40

Setengah Kasar 40 40 80 40 60 60

Halus 60 40 100 80 60 120

(23)

23 Keterangan :

1. Semua partikel serbuk melalui pengayak dengan nomor nominal tertentu

2. Batas persentase yang melewati pengayak dengan ukuran yang telah ditentukan.

A. Jenis Pulvis / Serbuk

1. Pulvis Adspersorius

Adalah serbuk ringan, bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. Umurnnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit.

Catatan :

a. Talk, kaolin dan bahan mineral Iainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas bakteri Clostridium tetani, Clostridium Wellcii, dan Bacillus Anthrocis.

b. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka

c. Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. Contoh: Pulvis Adspersorius Zinci Undecylenatis Pulyis Adspersorius (For. Nas) Sulfanilamidi Pulvis Adspersorius (Form.Indo) Pulvis Paraformaldehydi Compositus (Form. Indo) Pulvis Salicylatis Compositus (Form Indo)

2. Pulvis Dentifricius

Serbuk gigi, biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam chloroform / etanol 90 %.

3. Pulvis Sternutatorius

Adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung, sehingga serbuk tersebut harus halus sekali.

4. Pulvis Effervescent

(24)

24 Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartrat) dengan senyawa basa (natrium carbonat atau natrium bicarbonat). Interaksi asam dan basa ini dalam air akan menimbulkan suatu reaksi yang menghasilkan gas karbondioksida. Bila ke dalam campuran ini ditambahkan zat berkhasiat, maka akan segera dibebaskan sehingga memberikan efek farmakologi dengan cepat. Pada pembuatan, bagian asam dan basa harus dikeringkan secara terpisah.

B. Cara Mencampur Serbuk

Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir. Terutama untuk serbuk yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk :

1. Obat yang berbentuk kristal / bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu. 2. Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat

penambah (konstituen) dalam mortir.

3. Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah merata.

4. Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan tertebih dahulu. Obat yang volumenya kecil dimasukkan tertebih dahulu.

Serbuk dengan bahan bahan padat

Dengan memperhatikan hal hal diatas masih ada beberapa pengecualian maupun yang dikerjakan secara khusus. Seperti hal sebagai berikut :

1. Serbuk halus sekali

a. Serbuk halus tidak berkhasiat keras

• Belerang

(25)

25

• lodoform

Karena baunya yang sukar dihilangkan maka datam bedak tabur diayak terpisah (gunakan ayakan khusus).

b. Serbuk sangat halus dan berwarna

Misalnya : rifampisin, Stibii Penta Sulfidum

Serbuk dapat masuk ke dalam pori pori mortir dan warnanya sulit hitang, maka pada waktu menggerus mortir dilapisi zat tambahan (konstituen)

c. Serbuk halus berkhasiat keras

Dalam jumlah banyak, Digerus dalam mortir dengan dilapisi zat tambahan.

Dalam jumlah sedikit (kurang dari 50 mg), dibuat pengenceran.

2. Serbuk berbentuk hablur dan Kristal

Sebelum dicampur dengan bahan obat yang lain, zat digerus terlebih dahulu. Contoh : Serbuk dengan champora

Champora sangat mudah mengumpul lagi, untuk mencegahnya dikerjakan dengan mencampur dutu dengan eter atau etanol 95% (untuk obat dikeringkan dengan zat tambahan). Cara ini pun harus hati hati karena tertalu lama menggerus atau dengan sedikit ditekan waktu menggerus akan mengumpulkan kembali campuran tersebut.

Serbuk dengan asam salisilat

Serbuk sangat ringan dan mudah terbang yang akan menyebabkan rangsangan terhadap selaput lendir hidung dan mata hingga akan bersin. Dalam hal ini asam salisilat kita basahi dengan eter dan segera dikeringkan dengan zat tambahan.

Serbuk dengan asam benzoat, naftol, mentol, thymol, dikerjakan seperti di atas.

(26)

26 tumpang panas, misaInya KI dan garam garam bromida. Garam garam yang mempunyai garam exiccatusnya, lebih baik kita ganti dengan exiccatusnya.

Penggantiannya adalah sbb :

Natrii Carbonas 50% atau 1/2 bagian

Ferrosi Sulfas 60% atau 2/3 bagian

Aluminii et Kalii Sulfas 67% atau 2/3 bagian

Magnesii Sulfas 67% atau 2/3 bagian

Natrii Sulfas 50% atau 1/2 bagian

Serbuk dengan bahan setengah padat

Bahannya terdapat dalam bedak tabur. Yang termasuk bahan setengah padat adalah adeps lanae, cera flava, cera alba, parafin padat, vaselin kuning dan vaselin putih. Dalarn jumlah besar sebaiknya dilebur dulu diatas tangas air, baru dicampur dengan zat tambahan. Dalam jumlah sedikit digerus dengan penambahan aceton atau eter, baru ditambah zat tambahan.

Serbuk dengan bahan cair

1. Serbuk dengan minyak atsiri

Minyak atsiri dapat diteteskan terakhir atau dapat juga dibuat oleo sacchara, yakni campuran 2 gram gula dengan 1 tetes minyak. Bila hendak dibuat 4 g oleo sacchara anisi, kita campur 4 g saccharurn dengan 2 tetes minyak atsiri.

(27)

27 Contohnya serbuk dengan Opii Tinctura, Digitalis Tinctura, Aconiti Tinctura, Belladonnae Tinctura, Digitalis Tinctura, Ratanhiae Tinctura.

Tinctur dengan jumlah kecil dikerjakan dengan lumpang panas, kemudian dikeringkan dengan zat tambahan. Sedangkan dalam jurnlah besar dikerjakan dengan menguapkan di atas tangas air sampai kental baru ditambahkan zat tambahan (sampai dapat diserap oteh zat tambahan) aduk sampai kering kemudian diangkat. Tinctur yang diuapkan ini beratnya 0, untuk semua serbuk terbagi kehilangan berat tidak pertu diganti, sedangkan untuk serbuk tak terbagi harus diganti seberat tinctura itu dengan zat tambahan.

Zat berkhasiat dari tinctur menguap, pada umumnya terbagi menjadi 2 :

a. Tinctur yang dapat diambil bagian bagiannya

Spiritus sebagai pelarutnya diganti dengan zat tambahan. Contohnya iodii tinc, Camphor Spiritus, Tinc.Opfi Benzoica

b. Tinctur yang tidak dapat diambil bagian bagiannya

Kalau jumlahnya banyak dilakukan pengeringan pada suhu serendah mungkin, tapi kalau jumlahnya sedikit dapat ditambah langsung ke dalam campuran serbuk. Kita batasi maksimal 4 tetes dalarn 1 gram serbuk. Contohnya Valerianae Tinc, Aromatic Tinc.

Serbuk dengan Extractum

1. Extractum Siccum (ekstrak kering)

Pengerjaannya seperti membuat serbuk dengan zat padat halus. Contohnya: opii extractum, Strychni extractum.

2. Extractum Spissum (ekstrak kental)

Dikerjakan dalam lumpang panas dengan sedikit penambahan pelarut (etanol 70%) untuk mengencerkan ekstrak, kemudian tambahkan zat tambahan sebagai pengering. Contohnya Belladornnae extractum, Hyoscyami extractum.

(28)

28 Dikerjakan seperti mengerjakan serbuk dengan tinctur. Contohnya Rhamni Purshianae ext.

Serbuk dengan Tablet atau Kapsul

Dalam membuat serbuk dengan tablet dan kapsul diperlukan zat tambahan sehingga perlu diperhitungkan beratnya. Dapat kita ambil bentuk tablet atau kapsul itu langsung. Tablet digerus halus kemudian ditimbang beratnya. Kapsul dikeluarkan isinya kemudian ditimbang beratnya. Kalau tabtet/ kapsut terdiri dari satu macam zat berkhasiat diketahui kadar zat khasiatnya dapat kita timbang dalam bentuk zat aslinya. Contohnya Chlortrimeton tablet kadarnya 4 rng, dapat juga diambil Chlorpheniramin Maleas dalam bentuk serbuk yang sudah diencerkan dalam laktosa.

C. Cara Pengemasan Serbuk

Secara umumnya serbuk dibungkus dan diedarkan dalarn 2 macam kemasan yaitu kemasan untuk serbuk terbagi dan kemasan serbuk tak terbagi. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi pulveres atau tidak terbagi (pulvis).

Kemasan untuk Serbuk Terbagi

Pada umumnya serbuk terbagi terbungkus dengan kertas perkamen atau dapat juga dengan kertas sekofan atau sampul potietitena untuk melindungi serbuk dari pengaruh lingkungan. Serbuk terbagi biasanya dapat dibagi langsung (tanpa penimbangan) sebelum dibungkus dalam kertas perkamen terpisah dengan cara seteliti mungkin, sehingga tiap tiap bungkus berisi serbuk yang kurang lebih sama jumlahnya. Hat tersebut bisa dilakukan bila prosentase perbandingan pemakaian terhadap dosis maksimat kurang dari 80%. Bila prosentase perbandingan pemakaian terhadap DM sama dengan atau lebih besar dari 80% maka serbuk harus dibagi berdasarkan penimbangan satu per satu.

(29)

29 1. Letakkan kertas rata di atas permukaan meja dan lipatkan 1/2 inci ke arah kita pada garis memanjang pada kertas untuk menjaga keseragaman, langkah ini harus dilakukan bersamaan dengan lipatan pertama sebagai petunjuk.

2. Letakkan serbuk baik yang ditimbang atau dibagi bagi ke tengah kertas yang telah dilipat, satu kali lipatannya mengarah ke atas di sebelah seberang dihadapanmu. 3. Tariklah sisi panjang yang belum dilipat ke atas dan letakkanlah pada kira kira garis

lipatan pertama, lakukan hati hati supaya serbuk tidak berceceran.

4. Peganglah lipatan dan tekanlah sampai menyentuh dasar kertas dan lipatlah ke hadapanmu setebal lipatan pertama.

5. Angkat kertas, sesuaikan dengan ukuran dos tempat yang akan digunakan untuk mengemas, lipat bagian kanan dan kiri pembungkus sesuai dengan ukuran dos tadi. Atau bila pengemasnya plastik yang dilengkapi klip pada ujungnya usahakan ukuran pembungkus satu dengan yang lainnya seragam supaya tampak rapi.

6. Kertas pembungkus yang telah terlipat rapi masukkan satu per satu dalam dos atau plastik klip. Pada lipatan kertas pembungkus tidak boleh ada serbuk dan tidak boleh ada ceceran serbuk.

Kemasan untuk Serbuk Tak Terbagi

(30)

30

PULVERES

Adalah serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.

Pulveres atau Serbuk bagi adalah serbuk yang dibuat dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. Untuk serbuk bagi yang mengandung bahan yang mudah meleleh atau atsiri harus dibungkus dengan kertas perkamen atau kertas yang mengandung lilin kemudian dilapisi lagi dengan kertas logam. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik. Serbuk diracik dengan cara mencampur bahan obat satu per satu, sedikit demi sedikit dan dimulai dari bahan obat yang jumlahnya sedikit. Jika jumlah obat kurang dari 50 mg atau jumlah tidak dapat ditimbang, harus dilakukan pengenceran menggunakan zat tambahan yang cocok.

Contoh kertas :

1. kertas perkamen 2. kertas dilapisi paraffin 3. kertas selofan

Cara Penyiapan

1. Membersihkan alat dan meja, menyetarakan timbangan.

2. Baca resep dengan baik, periksa kelengkapan resep.

3. Analisa resep dengan seksama apakah ada hal-hal yang harus dilaporkan pada dokter mengenai bahan, kelengkapan ataupun sediaan. Apakah ada hal-hal khusus mengenai bahan obat, sediaan atau cara peracikan bahan yang dituangkan dalam KETERANGAN .

4. Menghitung pemakaian dibandingkan dengan Dosis Maksimal atau Dosis Lazim lalu disimpulkan jika perlu diberitahukan dokter.

5. Menghitung jumlah bahan yang dibutuhkan disesuaikan dengan bahan-bahan yang tersedia.

6. Menuliskan cara pembuatan resep sesuai dengan spesifikasi sediaan dan bahan.

(31)

31 8. Menuliskan khasiat masing-masing bahan obat.

9. Menyiapkan pelayanan informasi obat ( PIO ).

Cara Peracikan

1. Cara Pengambilan dan Pelipatan Kertas Perkamen:

a. Ambilah kertas perkamen yang bersih.

b. Hitunglah jumlah kertas perkamen sesuai dengan jumlah serbuk yang akan dibungkus/dibuat.

c. Lipatlah bagian atas dari kertas perkamen ± 1 cm.

d. Lipatlah bagian lain dari kertas perkamen hingga ujung bagian kertas perkamen tersebut tepat berada dibagian lain dalam lipatan pertama.

e. Buatlah bungkusan dengan cara melipat - lipat sehingga ujung kertas perkamen yang satu dapat masuk pada bagian ujung kertas lainnya.

f. Samakan besarnya bungkusan agar kelihatan rapih.

g. Usahakan besarnya bungkusan tidak memberikan kesan terlalu kecil atau terlalu besar.

2. Cara Membagi dan Membungkus Pulveres

a. Setelah serbuk menjadi halus, keluarkanlah serbuk tersebut dengan cara mengambil dengan menggunakan mika dari mortir, hingga seluruh serbuk keluar, dan mortir tampak bersih, tampunglah dengan kertas perkamen.

b. Bagilah serbuk keatas perkamen yang sudah tersusun rapi.

c. Mulailah dari kertas perkamen yang berada pada posisi barisan atas dan paling kiri, dilanjutkan kearah kanan, menyusul pada baris berikutnya dimulai dari bagian kiri.

d. Perhatikan dengan cermat agar pembagian serbuk sama banyak.

(32)

32 f. Setelah semua serbuk terbungkus, susunlah bungkusan dengan rapi, sama

tinggi dan menghadap arah yang sama.

g. Untuk pulveres berjumlah maksimal dua belas bungkus dapat dibagi sama rata menurut pandangan mata langsung.

h. Lebih dari dua puluh dikerjakan dengan dibagi dahulu dengan jalan penimbangan lalu dibagi sama rata.

i. Untuk bahan-bahan yang pemakaiannya lebih dari 80% dari dosis maksimalnya maka harus ditimbang satu persatu dengan cara ditimbang hasil serbuknya, tentukan berat rata-rata dikurangi 5-10 mg lalu timbang satu persatu, jika pada penimbangan sisa bagi sama rata.

3. Cara Menggunakan Mortir dan Stamper dalam Peracikan Pulveres

a. Mulut dari mortir senantiasa mengarah ke kiri.

b. Maksudnya agar ketika stamper dibersihkan stamper senantiasa tetap pada mulut mortir.

c. Bersihkan permukaan stamper dengan cara memutarnya, sementara mika tetap berada di kepala stamper.

d. Mortir diletakkan diatas meja praktik dialasi dengan lap pada waktu menggerus bahan obat.

e. Bila akan meletakkan stamper, letakkan selalu disebelah kanan dan dialasi dengan kertas, kepala stamper harus mengarah kepada kita.

f. Stamper dipegang seperti memegang pulpen.

g. Putarlah stamper berlawanan dengan arah jarum jam.

h. Gerakan tangan sebatas pergelangan, sambil setelah stamfer dibersihkan dengan menggunakan mika.

i. Bersihkan permukaan stamper dengan cara memutarnya, sementara mika tetap berada dikepala stamper.

j. Ulangi beberapa kali sampai serbuk halus.

4. Cara Mencampur Bahan – Bahan Obat Dalam Serbuk.

(33)

33 b. Dimulai dari bahan yang jumlahnya sedikit.

c. Bahan-bahan obat yang berwarna diaduk diantara dua lapisan zat netral

d. Bahan obat yang kasar dihaluskan terlebih dahulu

e. Bahan obat yang berbobot/bermasa ringan dimasukkan terakhir, begitu juga dengan bahan obat yang mudah menguap.

5. Cara Menata Serbuk dalam Kemasan

a. Kemasan pot yang ada, maka serbuk ditata dalam posisi lipatan kertas menghadap kearah yang sama, dibuat rapi panjangnya kurang lebih sama dan tidak besar pada salah satu sisi kertas serbuk, etiket dan label yang tertempel diletakkan di dalam pot.

b. Jika tersedia plastik klip, maka penataan sedemikian sehingga teratur satu posisi dan dirapikan menyesuaikan plastik klip, etiket dan label berada diluar plastik disesuaikan dengan cetakan klip.

6. Contoh Resep Pulveres

a. Resep Pulveres dengan TRITURATIO

dr. Anugerah Sehat

SIP No: 14/ KANDEP / IJIN / XII / 1988

Jl. Maluku I / 100 Semarang Telp: 024-6712345 Semarang,

R/ Coffein Ergotamin Pulv no X

S t dd I

Pro: Karina Ny.

• Dilihat dulu resep tersebut, berarti harus buka resep standard terlebih dahulu

yaitu dari Formularium Nasional ( Fornas ).

• Coffeini Ergotamini Pulveres

• Ergotamin Tartras 1 mg - Coffein 100 mg 3. Karena ergotamin jumlahnya

(34)

34

• Trituratio Ergotamin Tartras: yaitu bahan obat dikalikan hingga bobot terkecil

yang bisa ditimbang yaitu 50 mg. misalnya Trituratio Ergotamin tartras (1 = 5) berarti penimbangan akhirnya adalah 10 mg x 5 = 50 mg Pembuatannya adalah 50 mg Ergotamin Tartras ditambah laktosa ad 250mg ( dari 50 mg x 5 ) dan ditimbang = 50 mg sisanya dibungkus dan diberi tanda “ sisa trituratio Ergotamin Tartras dalam laktosa ( 1 = 5 ) ” dibungkus dalam kertas yang sudah diberi identitas terlebih dahulu, jika tidak maka kertas akan berlubang dan serbuknya tumpah keluar.

• Boleh juga pengenceran 1 = 10 , langkahnya sama yaitu timbang Ergotamin

Tartras 50 mg ditambahkan laktosa ad 500 mg. dan ditimbang = 100 mg.

• Kerasionalan sediaan pulveres untuk pasien dewasa ditanyakan, tetapi jika

dilihat dari dosis lazimnya dan khasiatnya maka resep ini memang untuk Nyonya, tetapi tetap perlu ditanyakan kerasionalan bentuk sediaannya ditanyakan apakah memang dikehendaki pulveres.

• Untuk serbuk bagi ada ketentuan massa serbuknya yaitu untuk anak-anak

(35)

35

PIL (PILULAE)

Definisi : merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung satu / lebih bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral.

Saat ini jarang digunakan karena tergusur oleh sediaan tablet dan kapsul untuk penggunaan obat kimia. Tetapi sering digunakan pada sediaan jamu.

Berdasarkan berat, pil dibedakan menjadi :

1. Boli >300 mg 2. Pil 60 – 300 mg

3. Granul < 60 mg Ph. Ned < 30 mg

Komposisi pil :

1. Bahan aktif / zat aktif

2. Bahan pengisi

3. Bahan pembasah

4. Bahan penabur

5. Bahan penyalut

Sarat yang harus dipenuhi :

1. Keseragaman bobot

2. Waktu hancur sesuai dengan monografi

3. Pada penyimpanan bentuknya harus tetap, tapi tidak begitu keras sehingga dapat hancur dalam saluran cerna.

(36)

36 Cara agar memenuhi sarat diatas :

1. Keseragaman bobot :

a. ditimbang 20 pil satu per satu,

b. hitung bobot rata – rata,

c. penyimpangan terbesar yang diperbolehkan terhadap bobot rata –rata.

2. Waktu hancur

Memenuhi waktu hancur yang tertera pada compressi F1 III

3. Bahan pengisi : jika dalam bahan obat terlalu sedikit, maka diperlukan bahan pengisi yang didapat berat pil tertentu pada umumnya berat pil 100 – 150 mg (rata – rata 120 mg).

4. Bahan pengikat : bahan ini membantu adhesi partikel – partikel, jika ditambah bahan pembasah, maka serbuk – serbuk saling berlekatan.

Bahan : dengan bahan ini maka campuran serbuk akan (kempal) dan akan terjadi massa pil yang elastic.

5. Bahan penabur : berguna untuk mencegah melekatnya adonan pada pemotong pil dan mencegah pil melekat satu dengan yang lainya.

6. Bahan penyalut : berguna untuk = menutup rasa yang tidak enak, melindungi zat yang terkandung dalam pil terhadap oksidasi ex : garam ferro, mencegah pil hancur dalam lambung pada pil – pil yang dikehendaki hancur dalam usus (pil enteric).

7. Bahan pengisi : digunakan antara lain ( akar manis, bolus alba, saccharum laktis).

8. Bahan pengikat : antara lain (succus liquiritae (2 g untuk 60 pil), tragakan 5 %, akasia 5 % - 10 % (lebih dari ini pil terlalu keras)).

Pulvis gumosus (500 mg untuk 60 pil) terdiri dari : saccharum lactis, gummi arabicum, tragakan.

Sari – sari kental, ex : ext liquiritae 1 -2 g untuk 60 pil, ext gentianae 2 -4 g untuk 60 pil.

(37)

37 Bahan penabur : menggunakan (lycopodium, talcum)

Bahan penyalut : mengguanakan tolubalsam, keratin, gelatin, gula.

Cara pembuatan pil :

a. pembuatan massa pil yang elastic

• campur serbuk kering (bahan obat, pengisi, pengikat) sampai homogen (bahan

ini harus dalam bentuk serbuk yang halus).

• Ditambah bahan pembasah sedikit – sedikit sambil ditekan hingga didapat

massa yang elastic.

b. Penggulungan

c. Pemotongan

d. Pembulatan

e. Penyalutan (jika perlu)

Enteric pil

• Dimaksudkan pil akan hancur dalam usus (tidak larut dalam lambung).

• Sebagai bahan penyalut digunakan : keratin, shellac, salol, stearic acid, dll.

• Bahan – bahan penyalut ini digunakan untuk menyalut pil- pil dengan obat / zat yang

:

a. Mengiritasi membrane mukosa lambung.

b. Terurai oleh cairan lambung.

(38)

38

TABLET

Definisi :

1. sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih / sirkuler, kedua permukaan rata / cembung mengandung satu jenis bahan obat / lebih dengan / tanpa zat tambahan (F1).

2. Sediaan padat mengandung bahan obat takaran tunggal yang dapat dikempa dari serbuk kering / granulat.

Keuntungan :

1. Dalam tablet / kapsul terdapat untuk yang tepat dari dosis lazim. 2. Biaya pembuatan paling murah.

3. Ringan dan kompak. 4. Mudah dalam pemakaian. 5. Stabilitas paling baik. 6. Biaya distribusi murah.

7. Dapat dibuat produk dengan pelepasan khusus.

Kekurangan :

1. Beberapa obat tidak dapat dikempa mejandi padat (amorf,flokulasi,bj rendah) 2. Obat yang sukar dibasahkan, lambat melarut, dosisnya besar.

3. Obat yang rasanya pahit. 4. Baunya tidak dapat hilang.

5. Peka terhadap oksigen dan kelembaban.

Tantangan dalam mendesain, memformulasikan dan membuat tablet

Tujuan akhir :

1. menghasilkan obat yang manjur, aman dan acceptable. 2. Obat yang bermutu.

3. Jadi mutu harus dibangun dari sejak awal pembuatan.

Kriteria tablet yang baik :

(39)

39 (kerapihan, kekerasan, pelunturan / perubahan kadar zat aktif)

3. Merupakan produk yang menarik.

Sediaan farmasi bahan aktif

Bahan in aktif / excipients

Sifat – sifat dipengaruhi oleh :

1. Proses variable.

2. Interaksi antara bahan tambahan dan

Dibutuhkan informasi yang banyak tentang sifat – sifat fisika kimia dari bahan aktif dan eksipien (baik tunggal / campuran / kombinasi).

Kajian preformulasi

Harmonisasi bahan aktif dengan bahan tambahan

Obat yang bermutu / berkualitas

1. Aman 2. Manjur 3. Acceptable

Bahan aktif adalah bahan berkhasiat / bahan yang bertanggung jawab efek farmakologisnya.

Fungsi :

(40)

40 Spesifikasi dan kualitas

Produk sendiri

Sumber zat aktif standart ?

Produk lain

Memenuhi spesifikasi / persyaratan farmakope dan standar internal pabrik.

Mencakup :

1. Identitas. 2. Kekuatan. 3. Kualitas. 4. Kemurnian.

Bahan tambahan (excipients)

Bahan tambahan = pembantu = penolong

Definisi :

1. Webster , suatu substansi yang inert / netral (ex : gom, amilum) sebagai vehicle / pembawa obat.

2. National formulary , suatu komponen (selain zat aktif), yang sengaja ditambahkan untuk memformulasikan suatu sediaan dalam definisi ini tidak dikatakan sebagai substansi yang inert.

3. Hand book pharmaceutical, suatu additives yang digunakan untuk merubah suatu senyawa aktif farmakologis menjadi bentuk sediaan farmasi sehingga sesuai untuk digunakan oleh pasien.

4. IPEC (international pharmaceutical excipiens council), suatu substansi selain zat aktif obat, yang telah dievaluasi kemananya dan dimasukan / ditambahkan dalam sistem penghantaran obat untuk berbagai maksud :

a. Sebagai pembantu dalam proses pembuatan.

b. Meprotect, mensupport, meningkatkan dan bioavalaibilitas. c. Untuk mengidentifikasi produk.

(41)

41 Perlu diketahui bahwa bahan tambahan bukan zat aktif dan sangat menentukan hasil akhir.

Jadi jika ingin menggunakan bahan tambahan memenuhi kriteria essential :

1. Inert secara fisiologis. 2. Stabil fisika kimia.

3. Tersedia dalam jumlah yang cukup. 4. Tidak boleh saling kontra indikasi. 5. Bebas dari segala jenis mikroba.

6. Color compatible (tidak mengganggu warna).

7. Memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh badan POM.

8. Tidak mengganggu bioavailibilitas dan dapat melepaskan zat aktifnya. 9. Harga murah.

Menurut fungsinya bahan tambahan tablet dapat dibagi menjadi :

1. Bahan pengisi (diluents / fillers). 2. Bahan pengikat (binder).

3. Bahan penghancur (disintegran). 4. Bahan pelicin.

Bahan pengisi (diluents / fillers)

Bahan pengisi ditambahkan, bila : jumlah zat aktif sedikit, za sulit dikempa, untuk memperbaiki daya kohesi sehingga dapat dikempa langsung.

Ex :

a. laktosa b. amilum

c. kalsium fosfat dibasis d. selulosa mikrokristalin

(42)

42 Bahan pengikat / perekat (binder)

Tujuan tambahan bahan pengikat :

a. Membesarkan gaya adesi pada serbuk sewaktu granulasi dan pada tablet kempa langsung.

b. Menambahkan daya kohesi yang telah ada pada bahan pengisi.

Bahan pengikat ada dalam bentuk kering, larutan (lebih efektif)

Ex :

a. Gom akasia b. Gelatin c. Sukrosa d. Povidon e. Metil selulosa

f. Karboksi metal selulosa

g. Pasta amilum terhidrolisis (mucilage amilum)

Bahan penghancur (disintegran)

Fungsi sebagai membantu hancurnya tablet setelah ditelan / jika kontak dengan lingkungan berair / cairan saluran cerna. Menyebabkan tablet pecah menjadi fragmen – fragmen menentukan kelarutan selanjutnya dari obat dan tercapainya bioavailibiltas yang diharapkan.

Ex :

a. Amilum 5 – 20 %, artinya amilum dan selulosa termodifikasi secara kimia 5% (primojel)

b. Asam alginate 5 – 10 %. c. Avicel 5 – 20 %

d. Bentonit 5 – 15 % e. Vegum 5 – 15 % f. Eksplotab 5 20 %

Mekanisme aksi bahan penghancur tablet :

(43)

43 Fungsi pokok bahan penghancur terletak pada kemampuanya mengembang dan menyerap air, juga tergantung dari jenis bahan pengahncur yang digunakan. Air penyerapan air ke dalam partikel adalah melalui celah yang terdapat diantara susunan jaringan tablet. Karena sifat hidrofilitas bahan penghancur maka perembesan air lewat pori aka lebih cepat dan efektif, sehingga akhirnya akan memisahkan partikel partikel granul dan menghancurkan tablet.

3. Perubahan bentuk.

Beberapa partikel akan mengalami deformasi dengan adanya tekanan. Tetapi partikel tersebut dapat kembali kebentuk semula.

4. Repulsion.

Teori ini menerangkan bahwa partikel tidak mengembang tetapi dengan adanya air masuk melalui jaringan kapiler didalam tablet, maka partikel akan saling tolak menolak akibat dari netralisasi muatan listrik antar partikel yang terbentuk saat pengempaan. Sehingga mereka akan saling melepaskan diri, kemudian dari susunanya di dalam komponen tablet proses ini akan membantu terjadi disintegrasi.

Bahan pelicin

Bahan pelicin dapat berfungsi sebagai :

1. Lubricant.

Untuk mengurangi gesekan selama proses pengempaan antara tablet dan dinding. 2. Glidant.

Bahan yang dapat menaikan kemampuan mengalir serbuk, umunya digunakan dalam proses kempa langsung tanpa proses granulasi.

3. Anti adherent.

Mencegah agar bahan yang dikempa tidak melekat pada permukaan stempel dan matris.

(44)

44 Ex :

a. Talk 5 % b. Mg stearat 1%

c. Derivate silica 0,25 – 3 % d. Amilum jagung 5 – 10 %

Zat pewarna, pemberi rasa dan pemanis

Fungsi zat pewarna :

1. Menutupi warna obat yang kuarng baik. 2. Identifikasi hasil produksi.

3. Membuat suatu produk yang lebih menarik.

Zat pemberi rasa dan pemanis, dibatasi pada tablet kunyah, effervescent, dan tablet lain yang dimaksudkan untuk larut dalam mulut.

Ex :

a. Manitol (pemanis) b. Sucrose (pemanis) c. Sakarin (pemanis)

Kesimpulan :

1. Bahan tambahan hampir mutlak di[perlukan dalam formulasi.

2. Walaupaun bahan tambahan merupakan bahan tidak aktif, namun berpengaruh langsung pada kualitas dan effektifitas hasil akir.

(45)

45

KAPSUL

(46)

46

SUPPOSITORIA

Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rectal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat local atau sistematik. Bahan dasar suppositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul dan ester asam lemak polietilen glikol (Anonim, 1995)

Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Bahan dasar yang sering digunakan adalah lemak coklat (Oleum cacao), polietilenglikol atau lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau Gelatin. Bobot suppositoria kalau tidak dinyatakan lain adalah 3 g untuk orang dewasa dan 2 g untuk anak. Suppositoria supaya disipan dalam wadah tertutup baik dan di tempat yang sejuk. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur, maka suppositoria akan tertarik masuk dengan sendiri.

Keuntungan penggunaan suppositoria dibanding penggunaan obat per oral atau melalui saloran pencernaan adalah :

1. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung. 2. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan

3. Obat dapat masuk langsung dalam saluradarah dan berakibat obat dapat memberi efek lebih cepat daripada penggunaan obat per oral

4. Baik, bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar (Anief, 2004)

Tujuan penggunaan suppositoria yaitu :

1. Untuk tujuan lokal, seperti pada pengobatan wasir atau hemoroid dan penyakit infeksi lainnya. Suppositoria juga dapat digunakan untuk tujuan sistemik karena dapat diserap oleh membrane mukosa dalam rectum. Hal ini dilakukan terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan seperti pada pasien yang mudah muntah atau pingsan.

2. Untuk memperoleh kerja awal yang lebih cepat. Kerja awal akan lebih cepat karena obat diserap oleh mukosa rektal dan langsung masuk ke dalam sirkulasi pembuluh darah.

(47)

47 Pembuatan suppositoria secara umum dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Bahan dasar yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau larut dalam cairan yang ada dalam rectum. Obatnya supaya larut dalam bahan dasar apabila perlu, dipanaskan. Bila obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus. Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair, dituangkan dalam cetakan suppositoria dan didinginkan. Cetakan tersebut dibuat dari besi dan dilapisi nikel atau logam lain, ada juga dubuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan suppositoria. Untuk mencetak basila dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas (Anief, 2004).

Isi berat dari suppositoria dapat ditentukan dengan membuat percobaan sebagai berikut:

1. Menimbang obat untuk sebuah suppositoria

2. Mencampur obat tersebut dengan sedikit bahan dasar yang telah dilelehkan 3. Memasukakn campuran tersebut ke dalam cetakan

4. Menambah bahan dasar yang telah dilelehkan sampai penuh

5. Mendinginkan cetakan yang berisi campuran tersebut. Setelah dingin suppositoria dikeluarkan dari cetakan dan ditimbang

6. Berat suppositoria dikurangi berat obatnya merupakan berat bahan dasar yang harus ditimbang

7. Berat jenis obat dapat dihitung dan dibuat seragam (Anief, 2004).

Untuk menghindari massa yang hilang maka selalu dibuat berlebih dan untuk menghindari massa yang melekat pada cetakan maka cetakan sebelumnya dibasahi dengan parafin, minyak lemak, spritus Saponatus (Soft soap liniment). Yang terakhir jangan digunakan untuk suppositoria yang mengandung garam logam, karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti dapat digunakan larutan Oleum Ricini dalam etanol. Untuk suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan pelican karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakan karena mengkerut (Anief, 2004).

Faktor yang mempegaruhi absorpsi obat per rektal yaitu :

1. Faktor fisiologis, antara lain pelepasan obat dari basis atau bahan dasar, difusi obat melalui mukosa, deteoksifikasi atau metabolisme, distribusi di cairan jaringan, dan terjadinya ikatan protein di dalam darah atau cairan jaringan.

(48)

48 Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak dipakai, karena pada dasarnya oleum cacao termasuk kelompok ini, utama dan kelompok ketiga merupakan golongan basis-basis lainnya. Diantara bahan-bahan berminyak atau berlemak lainnya yang biasa digunakan sebagai basis suppositoria : macam-macam asam lemak yang dihidrogenasasi dari minyak nabati seperti minyak palem dan minyak biji kapas. Juga kumpulan basis berlemak yang mengandung gabungan gliserin dengan asam lemak dengan berat molekul tinggi, seperti asam palmitat dan asam stearat, mungkin ditemukan dalam basis suppositoria berlemak.

Emulsi merupakan suatu campuran yang tidak stabil dari dua cairan yang pada dasarnya tidak saling bercampur, pada umumnya untuk membuat kedua cairan tersebut dapat bercampur diperlukan zat pengemulsi (emulsifying agent) sehingga sediaan emulsi dapat stabil (Ansel,1989; Martin, 1993). Beberapa zat pengemulsi diantaranya gom arab, tragakan, gelatin, pektin, lecithin, stearil alkohol, bentonit, dan zat pembasah atau surfaktan. Berdasarkan strukturnya zat pengemulsi bersifat amfifilik karena memiliki molekul-molekul yang terdiri dari bagian hidrofobik (oleofilik) dan hidrofilik (oleofobik) (Swarbrick, 1995).

Lecithin adalah phospolipid yang merupakan komponen essensial dari membran sel dan pada prinsipnya terdapat pada berbagai varietas makhluk hidup. Pada kenyataannya, lecithin banyak ditemukan dalam tanaman-tanaman seperti kedelai, kacang tanah, biji kapas, bunga matahari, dan jagung. Lecithin banyak digunakan dalam pendahuluan. Emulsi merupakan suatu campuran yang tidak stabil dari dua cairan yang pada dasarnya tidak saling bercampur, pada umumnya untuk membuat kedua cairan tersebut dapat bercampur diperlukan zat pengemulsi (emulsifying agent) sehingga sediaan emulsi dapat stabil (Ansel,1989; Martin, 1993). Beberapa zat pengemulsi diantaranya gom arab, tragakan, gelatin, pektin, lecithin, stearil alkohol, bentonit, dan zat pembasah atau surfaktan. Berdasarkan strukturnya zat pengemulsi bersifat amfifilik karena memiliki molekul-molekul yang terdiri dari bagian hidrofobik (oleofilik) dan hidrofilik (oleofobik) (Swarbrick, 1995).

(49)

49 Komposisi lecithin tergantung dari sumbernya.Lecithin dari telur mengandung 69% phosphatidylcoline dan 24% phosphatidylethanolamine, lecithin dari kacang kedelai mengandung 21% phosphatidylcoline, 22% phosphatidylethanolamine dan 19% phosphatidylinositol (Wade, 1994). Hingga saat ini efektivitas lecithin sebagai emulgator di dalam sediaan emulsi minyak ikan belum dilakukan pengujiaannya. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk menguji efektivitas lecithin dan mengetahui konsentrasi yang tepat untuk digunakan sebagai emulgator dalam sediaan emulsi minyak ikan.

Sedian padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal,

vagina atau uretra, umumnya meleleh , melunak atau melarut pada suhu tubuh. Untuk vagina disebut pessarium, untuk disaluran urine disebut bougie.

Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Bahan dasar yang sering digunakan adalah lemak coklat (Oleum Cacao),Polietlenglikol, atau lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau gelatin. Bobot suppositoria kalau tidak dinyatakan lain adalah 3 g untuk orang dewasa dan 2 g untuk anak. Supositoria supaya disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila bagian yang besar masuk melalui otot penutup dubur, maka suppositoria akan tertarik masuk dengan sendiri. Keuntungan penggunaan suppositoria dibanding penggunaan obat per os adalah;

1. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung.

2. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan.

3. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darahdan berakibat obat dapat memberi efek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral.

4. Baik, bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar

Tujuan penggunaan:

1. lokal: untuk memudahkan defekasi (gliserin suppositoria, bisakodil suppo), mengobati gatal, iritasi, dan inflamasi karena hemoroid (antibakteri basilla bentuk uretral), antihaemoroid, mengandung anestesi lokal, vasokontriktor adstringen, analgesik, emolien.

Figure

Tabel :

Tabel :

p.22

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in