BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tanaman yang tumbuh di pekarangan, di pagar-pagar pekarangan atau di tegalan.

19  Download (0)

Full text

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tanaman 2.1.1 Habitat

Tanaman kecipir hanya tumbuh di daerah Asia Tenggara dan merupakan tanaman yang tumbuh di pekarangan, di pagar-pagar pekarangan atau di tegalan. Diperkirakan 4 daerah yang mungkin merupakan daerah asal tanaman kecipir yaitu Papua New Guinea, Mauritius, Madagaskar dan India (Djatmiko, 1986). 2.1.2 Morfologi Tanaman

Tanaman semak dan merambat ini mempunyai bentuk batang yang bulat, beralur, beruas dan berwarna hijau. Daunnya merupakan daun majemuk berbentuk segitiga, beranak daun tiga, berujung lancip, berpangkal tumpul, bertepi rata, panjangnya 7-8,5 cm, bertulang menyirip dan letaknya berselang-seling. Tangkai daun berbentuk bulat, beralur, bagian atas berlekuk memanjang, pada pangkal dan ujung menebal, berwarna hijau dengan noda-noda berwarna kuning. Bunganya merupakan bunga tunggal, berbentuk kupu-kupu, berada di ketiak daun, bertangkai, kelopak bagian bawah bersatu, bagian atas bertajuk empat, bertangkai putik melengkung, kepala putik berambut putih, benang sari bagian pangkal bersatu dan kepala sari berwarna kuning hingga kuning kebiru-biruan. Buahnya berupa polong, berbentuk segi empat memanjang, tepi beringgit, mempunyai panjang 30 cm dan berwarna hijau. Bijinya bulat dan berdiameter 8-10 mm berwarna coklat sedangkan akarnya berupa akar tunggang berwarna putih kecoklatan (Johnny, 1993).

(2)

2.1.3 Sistematika Tanaman

Sistematika tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC.) adalah sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Bangsa : Rosales Suku : Fabaceae Marga : Psophocarpus

Jenis : Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC (Jhonny, 1993). 2.1.4 Nama Daerah

Kacang belingbing (Palembang), Kacang botol (Melayu), Jaat (Sunda), Kecipir (Jawa Tengah), Kelongkang (Bali), Biraro (Ternate) (Jhonny, 1993). 2.1.5 Nama Asing

Wingbean (bahasa Inggris) (Djatmiko, 1986).

2.1.6 Khasiat Tanaman

Secara tradisional, daun kecipir yang direbus dengan sedikit air, air rebusannya yang telah dingin dapat digunakan untuk obat sakit mata dan telinga. Jika air rebusan tadi ditambah adas pulosari dan sedikit air lalu dihaluskan menjadi pasta, dapat digunakan sebagai obat tapal (penutup) bisul sedangkan bijinya dapat digunakan untuk penambah nafsu makan, pencegah masuk angin, mual, pusing dan anti flu (Rukmana, 2000).

(3)

2.2 Kandungan Kimia

Daun dan biji kecipir mengandung saponin, flavonoida dan tanin (Jhonny, 1993).

2.2.1 Steroida/Triterpenoida

Steroid adalah triterpenoid yang kerangka dasarnya sistem cincin siklopentana perhidrofenantren. Uji yang biasa digunakan adalah reaksi Lieberman Burchard (asam asetat anhidrida-H2SO4 pekat) yang dengan

kebanyakan triterpen dan steroid memberikan warna hijau biru (Harborne, 1987).

Gambar 2. Sruktur Steroida

Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik

yaitu skualena. Senyawa ini berstruktur siklik yang rumit, kebanyakan berupa alkohol, aldehid atau asam karboksilat. Berupa senyawa warna berbentuk kristal. Sering kali bertitik leleh tinggi dan aktif optik (Harborne, 1987).

Triterpenoid mempunyai fungsi bagi tumbuhan antara lain sebagai pengatur tumbuh misalnya seskuiterpen absisin dan diterpen giberelin. Karotenoid mempunyai fungsi sebagai senyawa warna tumbuhan dan hampir semua terpenoid C40 juga berperan sebagai pigmen fotosintesis (Sirait, M., 2007).

(4)

2.2.2 Glikosida

Glikosida adalah suatu senyawa yang jika dihidrolisis akan menghasilkan bagian gula yang disebut glikon dan bagian bukan gula disebut aglikon. Gula yang dihasilkan biasanya adalah glukosa, ramnosa dan lain sebagainya. Jika bagian gulanya adalah glukosa maka disebut glukosida sedangkan jika bagian gulanya selain glukosa disebut glikosida.

Pembagian glikosida berdasarkan atom yang menghubungkan bagian gula dan bagian bukan gula adalah sebagai berikut :

1. O-glikosida : Jika bagian gula dan bukan gula dihubungkan oleh atom O 2. S-glikosida : Jika bagian gula dan bukan gula dihubungkan oleh atom S 3. N-glikosida : Jika bagian gula dan bukan gula dihubungkan oleh atom N 4. C-glikosida : Jika bagian gula dan bukan gula dihubungkan oleh atom C

Glikosida mempunyai beberapa fungsi diantaranya sebagai penghasil hormon steroid, racun ikan, perlindungan terhadap serangga, pencahar dan lain-lain (Sirait, M., 2007).

2.2.3 Flavonoida

Flavonoida merupakan golongan fenol yang mengandung 15 atom karbon yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6 yaitu dua cincin aromatik yang

dihubungkan oleh tiga satuan karbon (Markham, 1988).

(5)

Umumnya senyawa flavonoida dalam tumbuhan terikat dengan gula disebut sebagai glikosida dan aglikon flavonoida yang berbeda-beda mungkin saja terdapat pada satu tumbuhan dalam beberapa bentuk kombinasi glikosida. Oleh karena itu dalam menganalisis flavonoida biasanya lebih baik memeriksa aglikon yang telah dihidrolisis dibandingkan dalam bentuk glukosida dengan kerumitan strukturnya. Flavonoida berkhasiat sebagai antioksidan, antibakteri dan inflamasi (Harborne, 1987).

2.2.4 Tanin

Tanin merupakan senyawa komplek yang tersusun dari polifenol yang sukar dipisahkan dan tidak membentuk kristal. Tanin tersebar hampir pada semua tumbuhan dan biasanya terdapat pada bagian daun, buah, akar dan batang. Tanin dan senyawa turunannya bekerja dengan jalan menciutkan selaput lendir pada saluran pencernaan dan di bagian kulit yang luka. Pada perawatan untuk luka bakar, tanin dapat mempercepat pembentukan jaringan yang baru sekaligus dapat melindunginya dari infeksi atau sebagai antiseptik (Tyler, 1976).

Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Menurut batasannya tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tidak larut dalam air. Dalam industri, tanin mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya menyambung silang protein. Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin yaitu tanin terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Tanin terhidrolisis penyebarannya terbatas pada tumbuhan berkeping dua sedangkan tanin terkondensasi terdapat dalam tumbuhan paku-pakuan dan gimnospermae serta tersebar luas dalam angiospermae. Tanin dapat diidentifikasi dengan cara

(6)

penambahan pereaksi ferri klorida menghasilkan warna hijau kehitaman atau biru kehitaman (Harborne, 1987).

2.2.5 Saponin

Saponin adalah glikosida triterpen dan sterol. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan, bersifat seperti sabun dan dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah. Pembentukan busa yang mantap sewaktu mengekstraksi tumbuhan atau pada waktu memekatkan ekstrak tumbuhan merupakan bukti terpercaya akan adanya saponin (Harborne, 1987).

Senyawa golongan ini banyak terdapat pada tumbuhan tinggi. Keberadaan saponin sangat mudah ditandai dengan pembentukan larutan koloidal dengan air yang apabila dikocok menimbulkan buih yang stabil. Saponin merupakan senyawa berasa pahit menusuk, menyebabkan bersin dan sering mengakibatkan iritasi terhadap selaput lendir (Gunawan & Mulyani, 1995).

Saponin juga menarik dari segi ekonomi karena mempunyai toksisitas yang umum terhadap hewan ternak (misalnya alfalfa) atau rasanya yang manis (misalnya glisirizin dari radiks liquorice) (Sirait, M., 2007).

2.3 Ekstrak 2.3.1 Pengertian

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan.

(7)

Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan dengan cara destilasi dengan pengurangan tekanan agar bahan utama obat sedikit mungkin terkena panas (Ditjen POM, 1995).

Ekstraksi merupakan suatu cara penyarian terhadap simplisia dengan menggunakan suatu penyari tertentu. Biasanya metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat. Untuk mengekstraksi senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan telebih dahulu enzimnya diinaktifkan dengan etanol panas atau dengan mengeringkan bagian tumbuhan yang diambil sebelum diekstraksi (Harborne, 1987).

2.3.2 Metode Ekstraksi

Ekstraksi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: 1. Cara dingin

a. Maserasi

Maserasi adalah proses ekstraksi menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengadukan pada temperatur ruangan. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat. b. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna, umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Prosesnya terdiri dari tahapan pengembahan bahan, maserasi antara dan perkolasi sebenarnya (penetesan dan penampungan ekstrak) terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat).

(8)

2. Cara panas a. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

b. Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru, umumnya dilakukan menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

c. Digesti

Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50oC.

d. Infus

Infus adalah ekstraksi simplisia dengan pelarut air pada suhu 90oC selama 15 menit.

e. Dekok

Dekok adalah ekstraksi simplisia dengan pelarut air pada suhu 90oC selama 30 menit. (Depkes RI, 2000).

2.4 Bakteri

Bakteri berasal dari kata bakterion (bahasa Yunani) yang berarti tongkat atau batang. Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok mikroorganisme yang bersel satu, tidak berklorofil (meskipun ada pengecualian),

(9)

berkembang biak dengan cara pembelahan diri dan berukuran sedemikian kecil sehingga hanya tampak dengan mikroskop (Dwidjoseputro, 1982).

2.4.1 Sejarah

Bakteri pertama ditemukan oleh Anthony Van Leeuwenhoek pada 1674 dengan menggunakan mikroskop buatannya sendiri. Istilah bacterium diperkenalkan dikemudian hari oleh Ehrenberg pada tahun 1828 (Anonim b, 2010).

2.4.2 Struktur Sel

Bakteri merupakan organisme prokariot yaitu memiliki kromosom tunggal dan tidak memiliki nukleus. Struktur sel bakteri yang paling penting yaitu dinding sel yang bersifat kaku dan berfungsi untuk mempertahankan bentuknya serta melindungi sel dari perubahan tekanan osmotik antara sel dengan lingkungannya. Bakteri dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif. Dinding sel bakteri Gram positif memiliki lapisan peptidoglikan yang tebal dan membrane sel sedangkan dinding sel Gram negatif memiliki 3 lapisan yaitu: membran dalam, membran luar dan lapisan peptidoglikan yang lebih tipis.

Bakteri juga dapat dikelompokkan berdasarkan bentuknya yaitu: coccus (monococcus, diplococcus, sarcina, streptococcus dan staphylococcus), basil (monobasil, diplobasil dan streptobasil) dan spiral yang berbeda-beda (spiral,

vibrio dan spirochaeta) (Irianto, K., 2007).

2.4.3 Bakteri Staphylococcus aureus

Staphylococcus berasal dari kata Staphyle yang berarti kelompok buah

(10)

bakteri flora normal pada kulit dan selaput lendir manusia. Dapat menjadi infeksi baik pada manusia maupun hewan.

Infeksi oleh jenis bakteri ini yang terutama menimbulkan penyakit pada manusia. Setiap jaringan maupun alat tubuh dapat diinfeksi olehnya dan menyebabkan timbulnya penyakit dengan tanda-tanda yang khas yaitu peradangan, nekrosis dan pembentukan abses. Bakteri ini tidak bergerak, tidak berspora dan merupakan bakteri Gram positif (Syahrurachman, A., 1994).

Klasifikasi dari bakteri ini adalah: Domain : Bacteria Phylum : Protophyta Class : Schizomycetes Ordo : Eubacteriales Famili : Micrococaceae Genus : Staphylococcus

Species : Staphylococcus aureus (Syahrurachman, A., 1994). 2.4.4 Bakteri Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri Gram positif, aerob atau

anaerob fakultatif berbentuk bola atau kokus berkelompok tidak teratur, diameter 0,8-1,0 µm tidak membentuk spora dan tidak bergerak, koloni berwarna putih dan bakteri ini tumbuh cepat pada suhu 37oC. Koloni pada pembenihan padat berbentuk bulat halus, menonjol, berkilau, tidak meghasilkan pigmen, berwarna putih porselin sehingga Staphylococcus epidemidis disebut Staphylococcus albus, koagulasi-negatif dan tidak meragi manitol. Staphylococcus epidermidis terdapat pada kulit, selaput lendir, bisul dan luka. Dapat menimbulkan penyakit melalui

(11)

kemampuannya berkembang biak dan menyebarluas dalam jaringan (Jawetz, 2001). Sistematika bakteri: Divisio : Prokariota Kelas : Schizomycetes Bangsa : Eubacteriales Suku : Micrococcaceae Marga : Staphylococcus

Jenis : Staphylococcus epidermidis (Tjitrosoepomo, G., 1994). 2.4.5 Bakteri Pseudomonas aeruginosa

Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri gram negatif aerob obligat,

berbentuk batang, bergerak, berukuran sekitar 0,5-8 x 1,5-3,0 µm, terlihat sebagai bakteri tunggal, berpasangan dan kadang-kadang membentuk rantai yang pendek.

Pseudomonas aeruginosa membentuk koloni halus dengan warna fluoresensi

kehijauan. Bakteri ini menghasilkan piosianin, suatu pigmen kebiru-biruan yang tak berfluoresensi dan berdifusi kedalam agar. Fluoresensi dapat dihasilkan bila biakan diinkubasi pada suhu 20-30oC dari pada yang dibiakkan pada suhu 35-37oC.

Pseudomonas aeruginosa tersebar luas di alam dan biasanya terdapat di

lingkungan yang lembab. Bakteri ini menyebabkan penyakit bila pertahanan tubuh inang abnormal. Dalam jumlah kecil, bakteri ini sering terdapat dalam flora usus normal dan pada kulit manusia serta merupakan patogen utama dari kelompok

Pseudomonas. Bakteri ini menimbulkan infeksi pada luka, meningitis, infeksi

(12)

Sistematika bakteri: Divisio : Protophyta Kelas : Schizomycetes Bangsa : Pseudomonadales Suku : Pseudomonadaceae Marga : Pseudomonas

Jenis : Pseudomonas aeruginosa (Buchanan dan Gibbons, 1974). 2.4.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah suhu, pH, tersedianya nutrien, air, oksigen dan potensial oksidasi reduksi.

a. Suhu

Masing-masing bakteri mempunyai suhu optimum, minimum dan maksimum untuk pertumbuhannya. Hal ini disebabkan di bawah suhu minimum dan di atas suhu maksimum, aktivitas enzim akan berhenti, bahkan pada suhu yang terlalu tinggi akan terjadi denaturasi enzim. Berdasarkan kemampuannya untuk memulai pertumbuhan, bakteri dibagi atas golongan :

1. Psikrofil : 0-20oC dengan optimum 5-15oC 2. Mesofil : 10-45oC dengan optimum 20-40oC

3. Termofil : 25-80oC dengan optimum 45-60oC (Waluyo, L., 2007). b. pH

Nilai pH medium sangat berpengaruh pada jenis mikroba yang tumbuh. Kebanyakan bakteri mempunyai pH optimum yaitu pH dimana pertumbuhannya optimum sekitar 6,5-7,5 (Waluyo, L., 2007).

(13)

c. Nutrien

Bakteri membutuhkan nutrien untuk kehidupan dan pertumbuhannya yaitu sebagai: sumber karbon, sumber nitrogen, sumber energi dan faktor pertumbuhan misalnya mineral dan vitamin. Nutrien tersebut dibutuhkan untuk membentuk energi dan menyusun komponen-komponen sel. Bakteri yang tumbuh, misalnya pada makanan, umumnya bersifat heterotrof yaitu menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi dan karbon. Kebanyakan organisme heterotrof menggunakan komponen organik yang mengandung protein sebagai sumber N tetapi beberapa bakteri dapat pula menggunakan sumber nitrogen anorganik (Waluyo, L.,2007).

d. Potensial oksidasi-reduksi (Eh)

Eh suatu perbenihan merupakan faktor yang menentukan apakah suatu bakteri yang dibiakkan dapat tumbuh atau tidak. Eh kebanyakn perbenihan bila berkontak dengan udara adalah kurang lebih +0,2 – 0,4 volt pada pH 7. Bakteri- bakteri anaerob tidak mungkin tumbuh kecuali apabila Eh perbenihan mencapai -0,2 volt (Syahrurrachman, A., 1994).

e. Oksigen

Berdasarkan keperluan oksigen, bakteri dibagi dalam 5 golongan:

1. Bakteri anaerob obligat: hidup tanpa O2, O2 toksis terhadap golongan kuman

ini.

2. Bakteri anaerob aerotoleran: tidak mati denga adanya O2.

3. Bakteri anaerob fakultatif: mampu tumbuh baik dalam suasana dengan atau tanpa O2.

(14)

5. Bakteri mikroaerofilik: hanya tumbuh baik dalam tekanan O2 yang rendah

(Syahrurachman, A., 1994). 2.4.7 Fase Pertumbuhan Bakteri

Ada 4 fase pertumbuhan bakteri : 1. Fase penyesuaian diri (lag phase)

Fase ini untuk menyesuaikan diri dengan substrat dan kondisi lingkungan di sekitarnya. Fase ini belum terjadi pembelahan sel karena beberapa enzim mungkin belum disintesis. Jumlah sel pada fase ini mungkin tetap tetapi kadang-kadang menurun. Lamanya fase ini bervariasi, dapat cepat atau lambat tergantung dari kecepatan penyesuaian dengan lingkungan di sekitarnya (Waluyo, L., 2007). 2. Fase pembelahan (logarhytmik phase)

Sel mulai membelah dengan kecepatan yang masih rendah. Setelah bakteri menyesuaikan diri dengan lingkungannya maka sel membelah degan cepat. Pada fase ini kecepatan pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh medium tumbuhnya seperti pH, kandungan nutrien dan suhu. Pada fase ini sel membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan dengan fase lainnya, selain itu sel paling sensitif terhadap keadaan lingkungan ( Waluyo, L., 2007).

3. Fase stasioner (stationary phase)

Pada fase ini jumlah populasi sel tetap karena jumlah sel yang tumbuh sama dengan jumlah sel yang mati. Ukuran sel pada fase ini lebih kecil karena sel tetap membelah meskipun zat nutrien sudah habis (Waluyo, L., 2007).

4. Fase kemunduran ( period of decline)

Pada fase ini sebagian populasi bakteri mulai mengalami kematian karena nutrien di dalam medium sudah habis dan energi cadangan di dalam sel habis.

(15)

Jumlah sel yang mati semakin lama akan semakkin banyak dan kecepatan kematian dipengaruhi kondisi nutrien dan lingkungan (Waluyo, L.,2007).

Gambar 3. Grafik pertumbuhan bakteri 2.5 Metode Isolasi Biakan Bakteri

a) Cara gores

Ose yang telah steril dicelupkan ke dalam suspensi mikroorganisme yang diencerkan, lalu dibuat serangkaian goresan sejajar yang tidak saling menutupi di atas permukaan agar yang telah padat.

b) Cara sebar

Suspensi mikroorganisme yang telah diencerkan diinokulasikan secara merata dengan menggunakan hockey stick pada permukaan media padat.

c) Cara tuang

Pengenceran inokulum yang berturut-turut diletakkan pada cawan petri steril dan dicampurkan dengan medium agar cair, lalu dibiarkan memadat. Koloni yang berkembang akan tertanam di dalam media tersebut (Stanier, 1982).

2.6 Media Pertumbuhan Bakteri

(16)

dinamakan autotrof sedangkan bakteri yang memerlukan satu atau lebih senyawa organik sebagai sumber karbon disebut heterotrof. Namun di samping sumber karbon organik, heterotrof juga memerlukan karbondioksida. Macam zat organik yang diperlukan amat beragam bergantung pada bakterinya. Ada yang memerlukan 10 macam atau lebih senyawa organik dari yang sederhana sampai kompleks (Waluyo, L., 2010).

Media biakan dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu: 1. Berdasarkan susunan kimia, media dibagi atas:

a. Media sintetik yaitu media yang yang susunan kimianya dapat diketahui dengan pasti. Komposisi media sintetik biasanya dibuat dari bahan-bahan kimia (Waluyo, L., 2010).

b. Media non-sintetik yaitu media yang susunan kimianya tidak dapat ditentukan dengan pasti. Medium ini banyak digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme. Contohnya: ekstrak daging dan pepton (Waluyo, L., 2010). 2. Berdasarkan fungsinya, dapat dibedakan menjadi:

a. Media selektif

Media selektif adalah media biakan yang selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lainnya. Misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu dapat mencegah pertumbuhan bakteri Gram positif tanpa mempengaruhi pertumbuhan bakteri Gram negatif (Waluyo, L., 2010).

b. Media diferensial

Media ini mengandung zat kimia tertentu yang memungkinkan membedakan berbagai macam tipe mikroba. Misalnya media agar darah dapat membedakan bakteri hemolitik dengan bakteri non hemolitik (Waluyo, L., 2010).

(17)

c. Media diperkaya

Media ini ditambah zat tertentu untuk menumbuhkan mikroorganisme heterotrof tertentu. Zat tersebut misalnya darah (Waluyo, L., 2010).

3. Berdasarkan konsistensinya, dibagi atas: a. Media cair

Media cair adalah media yang berbentuk cair. Misalnya kaldu nutrien, kaldu glukosa dan air pepton (Waluyo, L.,2010).

b. Media semi padat

Media semi padat dibuat dengan bahan sama dengan media padat akan tetapi yang berbeda adalah komposisi agarnya (Waluyo, L., 2010).

c. Media padat

Media padat diperoleh dengan cara menambahkan agar-agar. Agar berasal dari ganggang/alga yang berfungsi sebagai bahan pemadat. Alga digunakan karena bahan ini tidak diuraikan oleh mikroorganisme dan dapt membeku pada suhu di atas 45oC (Waluyo, L., 2010).

2.7 Pengukuran Aktivitas Antimikroba

Penentuan kepekaan bakteri patogen terhadap antimikroba dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metode pokok yaitu dilusi atau difusi.

a. Metode Dilusi

Metode ini menggunakan antimikroba dengan kadar yang menurun secara bertahap, baik dengan media cair atau padat kemudian media diinokulasi bakteri uji dan diinkubasi. Tahap akhir dilarutkan antimikroba dengan kadar yang menghambat atau mematikan.

(18)

Uji kepekaan cara dilusi agar memakan waktu dan penggunaannya dibatasi pada keadaan tertentu saja (Jawetz, 2001).

b. Metode Difusi

Metode yang paling sering digunakan adalah metode difusi agar. Cakram kertas saring berisi sejumlah tertentu obat ditempatkan pada permukaan medium padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada permukaannya. Setelah inkubasi, diameter zona hambatan sekitar cakram dipergunakan mengukur kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji (Jawetz, 2001).

c. Metode Turbidimetri

Pada cara ini digunakan media cair. Pertama dilakukan penuangan media kedalam tabung reaksi lalu ditambahkan suspensi bakteri kemudian dilakukan pemipetan larutan uji dan dilakukan inkubasi. Selanjutnya dilakukan pengukuran kekeruhan. Kekeruhan yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri diukur dengan menggunakan instrumen yang cocok, misalnya spektrofotometer setelah itu dilakukan penghitungan potensi antimikroba (Ditjen POM, 1995).

2.8 Bisul

Bisul / abscessus / furunkel adalah sekumpulan nanah (neutrofil mati) yang telah terakumulasi di rongga di jaringan setelah terinfeksi sesuatu (umumnya karena bakteri misalnya Staphylococcus, bakteri lain, jamur atau barang asing (seperti luka tembakan/tikaman). Bisul juga merupakan reaksi ketahanan dari jaringan untuk menghindari menyebarnya barang asing di tubuh (Anonim a, 2010).

(19)

Organisme atau barang asing membunuh sel sekitarnya, mengakibatkan keluarnya toksin. Toksin tersebut menyebabkan radang, sel darah putih mengalir menuju tempat tersebut dan kemudian meningkatkan aliran darah di tempat tersebut. Struktur terakhir bisul adalah dinding bisul yang terbentuk oleh sel sehat untuk mencegah barang asing tersebut masuk ke dalam tubuh dan mencegah terkenanya sel lain. Namun, enkapsulasi ini berfungsi untuk mencegah sel imun untuk menyerang bakteri atau barang asing di bisul (Anonim a, 2010).

Bisul paling sering ditemukan di daerah leher dan wajah. Akan terasa sangat nyeri jika timbul di sekitar hidung atau telinga atau pada jari-jari tangan. Bisul berawal sebagai benjolan keras berwarna merah yang mengandung nanah. Lalu benjolan ini akan berfluktuasi dan tengahnya menjadi putih atau kuning (membentuk pustula). Bisul bisa pecah spontan atau dipecahkan dan mengeluarkan nanah dan kadang mengandung sedikit darah (Anonim a, 2010).

Figure

Gambar 2. Sruktur Steroida

Gambar 2.

Sruktur Steroida p.3
Gambar 3. Grafik pertumbuhan bakteri  2.5 Metode Isolasi Biakan Bakteri

Gambar 3.

Grafik pertumbuhan bakteri 2.5 Metode Isolasi Biakan Bakteri p.15

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in