LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMAKA DHIRA PUTTA

29  14  Download (2)

Full text

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMAKA

Pembuatan Simplisia

Caesalpinia sappan

DHIRA PUTTAJAYA

31150010

MONICA AYUNING WARDANI

31150012

FAKULTAS BIOTEKNOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA

YOGYAKARTA

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat sudah lama dimiliki oleh nenek moyang kita dan hingga saat ini telah banyak yang terbukti secara ilmiah. Pemanfaatan tanaman obat Indonesia akan terus meningkat mengingat kuatnya keterkaitan bangsa Indonesia terhadap tradisi kebudayaan memakai jamu (Gunawan, 2010). Secara tradisional, pemanfaatan tanaman secang (Caesalpinia sappan L.) oleh masyarakat sudah cukup luas. Bagian tanaman secang yang sering digunakan adalah kayu dalam potongan-potongan atau serutan kayu. Tetapi selain itu, bagian lain dari tanaman secang yang dimanfaatkan adalah kayu, daun, buah, dan biji. Sampai abad ke-19, di Kalimantan kayu secang digunakan sebagai pewarna merah coklat untuk makanan. Kayu pewarna tersebut dapat dipanen setelah berumur 6-8 tahun (Lemmens, 1992). Daun secang dimanfaatkan dalam pemeraman buah pisang dan mangga, untuk proses pematangan. Daun secang juga digunakan sebagai obat “Sapraenemia”, infus dingin dari daun dapat mengobati kejang (Watt, 1962).

B. Tujuan

1. Memahami dan mampu membuat simplisia yang memiliki kualitas baik.

2. Mendapatkan ekstrak kasar (crude extract) senyawa aktif suatu simplisia dengan berbagai metode.

3. Mengetahui keberadaan kelompok senyawa alkaloid, phenolik, flavonoid, saponin, dalam suatu simplisia.

4. Mengetahui ada tidaknya aktivitas antioksidan dalam ekstrak, fraksi, senyawa murni bahan uji simplisia.

5. Mengetahui ada atau tidaknya aktivitas antibakteri dalam ekstrak, fraksi, senyawa murni bahan uji simplisia.

6. Mengetahui ada atau tidaknya aktivitas antijamur dalam ekstrak, fraksi, senyawa murni bahan uji simplisia.

(3)

DASAR TEORI

A. Tumbuhan Secang (Caesalpinia sappan L.)

Secang tumbuh liar di daerah pegunungan yang berbatu, tetapi tidak terlalu dingin dan kadang ditanam sebagai pembatas kebun. Tanaman ini menyenangi tempat terbuka dan dapat ditemukan sampai ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut. Panenan kayu dapat dilakukan mulai umur 1-2 tahun. Jika direbus, kayu memberi warna merah muda dan dapat digunakan untuk pengecatan, memberi warna pada bahan anyaman, kue, minuman, atau sebagai tinta. Perbanyakan dengan biji atau setek batang (Dalimartha, 2009).

Menurut Tjitrosoepomo (2004), taksonomi tanaman secang adalah sebagai berikut: Divisi : Spermathophyta

Species : Caesalpinia sappan Linn.

B. Nama Daerah

Pada setiap daerah kayu secang mempunyai nama yang berbeda-beda, antara lain: seupeueng (Aceh), sepang (Gayo), sopang (Batak), cang (Bali), sepel (Timor), kayu sema (Manado), sapang (Makassar), roro (Tidore) (Dalimartha, 2009).

C. Morfologi

Tumbuhan secang termasuk jenis perdu dengan tinggi 5-10 m. Batang bulat dan berwarna hijau kecoklatan. Batang dan percabangan berduri tempel yang bengkok dan letaknya tersebar. Daun majemuk menyirip ganda, panjang 25- 40 cm, jumlah anak daun 10-20 pasang yang letaknya berhadapan. Anak daun tidak bertangkai, bentuk lonjong, ujung bulat, tepi rata dan hampir sejajar, panjang 10-25 mm, lebar 3-11 mm, dan berwarna hijau. Perbungaan majemuk berbentuk malai, keluar dari ujung tangkai dengan panjang 10-40 cm, mahkota bentuk tabung, dan berwarna kuning. Buah polong, panjang 8-10 cm, lebar 3-4 cm, ujung seperti paruh, berwarna hitam jika masak, berisi biji tiga sampai empat. Biki bulat memanjang dengan panjang 15-18 m, lebar 8-11 mm, tebal 5-7 mm, dan berwarna kuning kecoklatan (Dalimartha, 2009).

(4)

Kayu secang mengandung brazilin, brazilein, asam galat, tanin, resin, resorsin, dan d-α-phellandrene. Daun dan ranting mengandung tetraacetylbrazilin, proesapanin A, 0,16-0,20% minyak atsiri yang berbau enak dan hampir tidak berwarna (Dalimartha, 2009).

Ekstrak kayu secang hasil penapisan mengandung lima senyawa aktif yang terkait dengan flavonoid baik sebagai antioksidan primer maupun antioksidan sekunder (Safitri, 2002). Telah diketahui ternyata flavonoid yang terdapat dalam ekstrak kayu secang memiliki sejumlah kemampuan yaitu dapat meredam atau menghambat pembentukan radikal bebas hidroksil, anion superoksida, radikal peroksil, radikal alkoksil, singlet oksigen, hidrogen peroksida (Miller, 2002).

E. Kegunaan

Di Indonesia, kayu secang dimanfaatkan sebagai pewarna merah minuman. Biji tumbuhan ini berfungsi sebagai bahan sedatif, kayu dan batangnya dapat mengobati TBC, diare, dan disentri, sedangkan daun-daunnya dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pematangan buah pepaya dan mangga (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup, 2007).

Kayu secang juga berkhasiat mengaktifkan aliran darah, melarutkan gumpalan darah, mengurangi bengkak (swelling), meredakan nyeri (analgesik), menghentikan perdarahan, dan antiseptik (Dalimartha, 2009).

F. Zat Warna yang Terkandung

Hasil isolasi yang dilakukan terhadap ekstrak kayu secang menunjukkan bahwa komponen utama yang terkandung di dalamnya adalah brazilin (C16H14O5). Brazilin

merupakan kristal berwarna kuning, akan tetapi jika teroksidasi akan menghasilkan senyawa brazilein (C16H12O5) yang berwarna merah (Holinesti, 2009; Prakash dan

(5)

Menurut Indriani (2003) Brazilin (C16H14O5) adalah kristal berwarna kuning yang

merupakan pigmen warna pada secang. Asam tidak berpengaruh terhadap larutan brazilin, tetapi alkali dapat membuatnya bertambah merah. Eter dan alkohol menimbulkan warna kuning pucat terhadap larutan brazilin. Brazilin akan cepat membentuk warna merah ini disebabkan oleh terbentuknya brazilein. Brazilin jika teroksidasi akan menghasilkan senyawa brazilein yang berwarna merah kecoklatan dan dapat larut dalam air.

Dikatakan oleh Holinesti (2009), bahwa eter dan alkohol akan menimbulkan warna kuning pucat terhadap larutan brazilin. Sedangkan apabila terkena sinar matahari maka brazilin akan dengan cepat membentuk warna merah. Terjadinya warna merah ini disebabkan oleh terbentuknya brazilein (C16H12O5). Brazilin termasuk ke dalam flavonoid sebagai

isoflavonoid.

Menurut Moon dkk (1992), berdasarkan aktivitas antioksidannya, brazilin mempunyai efek melindungi tubuh dari keracunan akibat radikal kimia. Selanjutnya Lim dkk (1997), membuktikan bahwa indeks antioksidatif dari ekstrak kayu secang lebih tinggi daripada antioksidan komersial (BHT atau BHA). Peneliti lain mengungkapkan bahwa brazilin diduga mempunyai efek anti-inflamasi (Winarti dan Nurdjanah, 2005).

(6)
(7)

Cara kerja : Ekstraksi :

Dihaluskan kayu secang sebanyak 100 gr

Dimasukkan ke dalam toples

Kemudian, diisikan etanol 96% sebanyak 1,5 L

Didiamkan selama 3 hari

Digantikan pelarut setiap 24 jam

Pelarut yang diganti ditampungkan ke Erlenmeyer

Didestilasi semua yang ditampung

Ekstrak disimpan di dalam kulkas

Uji Saponin :

(8)

Diambil 0,3 ml ekstrak secang

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 15 ml akuades

Divorteks selama 30 detik

Diamati buih yang terbentuk (>30 detik)

Tahap II :

Diambil 0,3 ml ekstrak secang

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 15 ml etanol

Dibagi ke dalam 3 tabung, setiap tabung berisi 5 ml

Tabung 1 sebagai blanko

Tabung 2 ditambahkan 1 tetes asam asetat anhidrat

(9)

Diamati warna kuning muda (+)

Tabung 3 ditambahkan 1-2 tetes H2SO4 pekat

Diamati cincin merah (+)

Uji Tanin :

Diambil 0,3 ml ekstrak secang

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 10 ml akuades panas

Dihomogenkan dengan vortex

Ditambahkan 4 tetes 10% NaCl

Dihomogenkan dengan vortex

Kemudian, dibagikan ke tiga tabung reaksi, masing – masing tabung 3 ml

Tabung 1 sebagai blanko

(10)

Tabung 2 ditambahkan 3 ml gelatin + 5 ml NaCl

Diamati warna putih (+) tannin

Tabung 3 ditambahkan 3 tetes FeCl3

Diamati warna hijau hitam (+) tannin

Uji Alkaloid :

Diambil 0,3 ml ekstrak secang

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 5 ml HCl 2N

Dihomogenkan dengan voteks

Dipanaskan selama 2-3 menit sambal di gojog

Setelah dingin, ditambahkan 0,3 gr NaCl

Diaduk dan disaring

(11)

Ditambahkan 5 ml HCN 2N ke dalam filtrate

Dibagikan filtrate ke tiga tabung baru, masing – masing tabung berisi 3 ml

Tabung 1 ditambahkan 1 ditambahkan 3 tetes akuades

Tabung 2 ditambahkan 3 tetes Mayer

Tabung 3 ditambahkan 3 tetes Wagner

Diamati endapan yang ada (+) alkaloid

Uji Flavonoid :

Diambil 0,3 ml ekstrak secang

Dimasukkan ke Erlenmeyer

Ditambahkan 3 ml n-heksana dan digojog hingga tidak berwarna

Dilarutkan dengan 20 ml etanol 80%

Dibagikan ke dalam tiga tabung reaksi, setiap tabung berisi 3 ml

(12)

Tabung 1 sebagai blanko

Tabung 2 ditambahkan 0,5 ml HCl pekat dan dipanaskan

diamati warna merah terang/ungu (+) leukoantosianin

Tabung 3 ditambahkan 0,5 ml HCl pekat

Ditambahkan 4 potong Mg

Diamati warna jingga (+) flavon, merah pucat (+) flavan, merah tua (+) flavonoid

Uji TLC :

Digunting plat TLC kecil-kecil sebanyak perbandingan n-heksana : etil asetat yang digunakan (100:0, 80:20, 60:40, 40:60, 30:70, 20:80, dan 0:100)

Dibuat garis start dan finish untuk running sampel

Setiap perbandingan diberi 1 tetes pipa kapiler

Dimasukkan plat ke dalam toples yang berisi larutan perbandingan n-heksana : etil asetat sesuai dengan perbandingannya

(13)

Ditinggu sampel hingga mencapai garis finish

Diambil jika sudah sampai garis finish

Difoto hasil yang didapatkan

Uji Kolom Kromatografi

Dimasukkan silica gel ke dalam kolom

Setelah itu, dimasukkan kapas ke dalam kolom

Kemudian, dimasukkan ekstrak secang secukupnya ke dalam kolom

Dimasukkan larutan perbandingan n-heksana : etil asetat sebanyak 100 ml secara bergantian (100:0, 40:60, 0:100)

Ditampung filtrate yang turun

Setelah selesai, terakhir dimasukkan methanol sebagai pencuci

Ditampung filtrate yang turun

(14)

Uji Anti-Oksidan :

Dimasukkan 25 µl ekstrak ke dalam masing-masing well

Ditambahkan 25 µl DPPH dan kontrol (asam galat dan vitamin C)

Diinkubasi selama 30 menit

Diamati perubahan warna yang terjadi

Uji Anti-Mikrobia :

Dimasukkan 40 µl NB/PDA(jamur) ke dalam masing-masing lubang well

Ditambahkan 40 µl ke dalam masing-masing well

Ditambahkan 20 µl sesuai dengan perlakuam (jamur, anti-oksidan, bakteri A, dan bakteri B) ke dalam masing-masing well

Diinkubasi selama 24 jam

Ditambahkan 10 µl indicator MTT

Diamati perubahan warna yang terjadi :

Biru ke ungu/biru ke pink maka (+) anti-mikrobia

(15)

Dicelupkan ose pada sampel hasil

Digoreskan ke dalam petri

(16)

BAB IV

HASIL & PEMBAHASAN

A. Pembuatan Simplisia

Bagian-bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat yang disebut simplisia. Istilah simplisia dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang masih berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk (Gunawan, 2010). Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari 600ºC (Ditjen POM, 2000).

Simplisia merupakan bahan awal pembuatan sediaan herbal. Mutu sediaan herbal sangat dipengaruhi oleh mutu simplisia yang digunakan. Oleh karena itu, sumber simplisia, cara pengolahan, dan penyimpanan harus dapat dilakukan dengan cara yang baik. Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai bahan sediaan herbal yang belum mengalami pengolahan apapun dan kecuali dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang telah dikeringkan (Ditjen POM, 2005).

1. Nama tanaman Secang (Caesalpinia sappan L.)

2. Bagian tanaman yang digunakan Batang

3. Nama simplisia (sesuai dengan aturan baku)

Sappan Lignum

4. Fitokimia Brazilin, brazilein, asam galat, tanin, resin, resorsin, d-α-phellandrene (Dalimartha, 2009).

5. Khasiat Mengaktifkan aliran darah, melarutkan gumpalan darah, mengurangi bengkak (swelling), meredakan nyeri (analgesik), menghentikan perdarahan, dan

antiseptik (Dalimartha, 2009).

(17)

terbawa sampai pada produk olahannya yang kemungkinan dapat menyebabkan rusaknya komponen kimia yang berkhasiat dan dapat juga menghasilkan toksin yang sangat membahayakan kesehatan (Chosdu et al. Dalam Katno, 1999).

Menurut Gunawan (2010), kualitas simplisia dipengaruhi oleh dua faktor antara lain bahan baku dan proses pembuatan simplisia. Berdasarkan bahan bakunya, simplisia bisa diperoleh dari tanaman liar dan atau dari tanaman yang dibudidayakan. Tumbuhan liar umumnya kurang baik untuk dijadikan bahan simplisia jika dibandingkan dengan hasil budidaya, karena simplisia yang dihasilkan mutunya tidak seragam.

Bahan baku yang digunakan merupakan batang secang yang telah diserut. Serutan batang secang tersebut kemudian dijemur selama ± 1 minggu di bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air, sehingga simplisia tidak mudah rusak dan tahan disimpan dalam waktu yang cukup lama.

Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda yang tergantung pada beberapa faktor, antara lain: bagian tumbuhan yang digunakan, umur tumbuhan atau bagian tumbuhan pada saat panen, waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh. Senyawa aktif akan terbentuk secara maksimal di dalam bagian tumbuhan atau tumbuhan pada umur tertentu. Tumbuhan yang pada saat panen diambil kulit batang, pengambilan dilakukan pada saat tumbuhan telah cukup umur. Agar pada saat pengambilan tidak mengganggu pertumbuhan, sebaiknya dilakukan pada musim yang menguntungkan pertumbuhan antara lain menjelang musim kemarau (Gunawan, 2010).

Pada dasarnya tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk memperluas permukaan bahan baku. Semakin luas permukaan maka bahan baku akan semakin cepat kering. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajangan khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki. Proses pengeringan simplisia bertujuan untuk 1) menurunkan kadar air sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri, 2) menghilangkan aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut kandungan zat aktif, 3) memudahkan dalam hal pengolahan proses selanjutnya (ringkas, mudah disimpan, tahan lama, dan sebagainya) (Gunawan, 2010).

(18)

Sebelum diekstraksi batang secang dihaluskan atau dijadikan serbuk terlebih dahulu, hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam melakukan ekstraksi pada tahap selanjutnya. Menurut Ditjen POM (1995), serbuk simplisia nabati adalah bentuk serbuk dari simplisia nabati dengan ukuran derajat kehalusan tertentu. Sesuai dengan derajat kehalusannya, dapat berupa serbuk sangat kasar, kasar, agak kasar, halus, dan sangat halus. Serbuk simplisia nabati tidak boleh mengandung fragmen jaringan dan benda asing yang bukan merupakan komponen asli dari simplisia yang bersangkutan antara lain telur nematoda, bagian dari serangga dan hama serta sisa tanah.

Ekstraksi suatu tanaman obat adalah pemisahan secara kimia atau fisika suatu bahan padat atau bahan cair dari suatu padatan, yaitu tanaman obat (Depkes RI, 2000). Metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dibedakan menjadi dua cara yaiut ; cara dingin dan panas. Cara dingin terbagi menjadi dua yaitu maserasi dan perkolasi, sedangkan cara panas terbagi menjadi empat jenis yaitu refluks, soxhlet, digesti, infuse dan dekok (Depkes RI, 2000).

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar) (Depkes RI, 2000). Maserasi berasal dari bahasa Latin macerase berarti mengairi atau melunakkan. Maserasi merupakan cara ekstraksi yang paling sederhana. Dasar dari maserasi adalah melarutnya bahan kandungan simplisia dari sel yang rusak, yang terbentuk pada saat penghalusan, ekstraksi (difusi) bahan kandungan dari sel yang masih utuh. Setelah selesai waktu maserasi, artinya keseimbangan antara bahan yang diekstraksi pada bagian dalam sel dengan yang masuk ke dalam cairan, telah tercapai maka proses difusi segera berakhir (Voigt, 1994).

(19)

Serbuk Secang (Caesalpinia sappan) dimaserasi dengan menggunakan etanol 96% sebanyak 1,5 liter. Maserasi dilakukan setiap 24 jam sekali sampai tiga kali pengulangan dengan penggantian etanol. Hasil maserasi disaring dengan kain saring dan disimpan di dalam wadah tertutup agar tidak menguap. Selanjutnya, filtrat secang yang diperoleh dijadikan satu dan dipekatkan dengan metode destilasi sampai diperoleh ekstrak cair.

Dari hasil ekstraksi sebanyak 132,8 gram serbuk secang diperoleh ekstrak cair sebanyak 50 ml. Berikut merupakan hasil dari pengujian parameter spesifik dari ekstrak simplisia yang meliputi identitas ekstrak dan organoleptik ekstrak :

Parameter Hasil

Identitas:

Nama ekstrak Ekstrak etanol secang

Nama Latin Caesalpinia sappan L.

Bagian tanaman Batang

Pada TLC, cuplikan yang akan dipisahkan atau dianalisa diteteskan pada pelat dengan menggunakan kapiler. Pemisahan dapat terjadi dengan memasukkan pelat ke dalam toples yang telah berisi dengan pelarut dengan perbandingan yang sudah ditentukan. Pelarut akan naik secara perlahan-lahan sepanjang pelat tersebut. Cuplikan akan terdistribusi antara fasa diam (adsorben) dan fasa gerak (pelarut). Sebagai fase gerak umumnya zat yang kurang polar dibandingkan dengan fasa diam sehingga komponen dalam cuplikan yang kurang polar akan bergerak lebih cepat dari komponen cuplikan yang lebih polar. Bila larutan mencapai ujung pelat maka pelat dikeluarkan dari toples dan dibiarkan hingga pelarut yang menempel pada pelat menguap. Akan terlihat noda-noda pada pelat yang menunjukan jumlah komponen yang ada dalam cuplikan. Perbandingan antar jarak perjalanan komponen dengan jarak perjalanan pelarut disebut Rf.

(20)

Untuk tujuan identifikasi, noda-noda sering dikarakterisasikan berdasarkan nilai Rfnya. Nilai Rf adalah rasio jarak yang dipindahkan oleh suatu zat terlarut terhadap jarak yang dipindahkan oleh garis depan pelarut selama waktu yang sama. Nilai Rf yang identik untuk suatu senyawa yang diketahui dan yang tidak diketahui dengan menggunakan beberapa system pelarut berbeda memberikan bukti yang kuat bah bahwa nilai untuk kedua senyawa tersebut adalah identic, terutama jika senyawa tersebut dijalankan secara berdampingan di sepanjang pita pada plat TLC yang sama.

Dari hasil TLC yang menggunakan perbandingan pelarut n-heksana dan etil asetat yang paling baik hasilnya yaitu perbandingan 40:60 dikarenakan pita-pita yang muncul terlihat lebih bagus atau jelas dibandingkan perbandingan lainnya.

D. Uji Fitokimia

Menurut Mulyono (1996) analisis fitokimia merupakan bagian dari ilmu farmakognosi yang mempelajari metode atau cara analisis kandungan kimia yang terdapat dalam tumbuhan atau hewan secara keseluruhan atau bagian-bagiannya, termasuk cara isolasi atau pemisahannya.

Senyawa fitokimia merupakan zat atau senyawa kimia metabolit sekunder dari tiap tanaman (Sirait, 2007). Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui secara kualitatif adanya golongan senyawa aktif dalam tumbuhan yang diharapkan dapat berperan sebagai senyawa antibakteri (Indriani, 2007). Lenny (2006) menyatakan bahwa senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktifitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya. Senyawa-senyawa kimia yang merupakan hasil metabolisme sekunder pada tumbuhan sangat beragam dan dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan senyawa bahan alam yaitu saponin, steroid, triterpenoid, alkaloid, fenolik (tanin dan flavanoid).

Data hasil uji fitokimia ekstrak secang dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Golongan Senyawa Hasil Penapisan

(21)

terdapat warna merah pucat pada ekstrak yang sudah ditetesi HCl dan dimasukkan potongan Mg. sedangkan pada pengujian tannin pada tabung ketiga positf polifenol. Hal ini dikarenakan bahwa terbentuknya warna hitam pada sampel tabung ketiga setelah ditetesi FeCl3.

E. Kolom Kromatografi

Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran. Alat tersebut berupa pipa gelas yang dilengkapi suatu kran dibagian bawah kolom untuk mengendalikan aliran zat cair, ukuran kolom tergantung dari banyaknya zat yang akan dipindahkan. Dalam kromatografi partisi cair-cair, suatu pemisahan dipengaruhi oleh distribusi sampel antara fase cair diam dan fase cair bergerak dengan membatasi kemampuan pencampuran. Jika suatu zat terlarut dikocok dalam sistem dua pelarut yang tidak bercampur atau saling melarutkan maka zat terlarut akan terdistribusi di antara kedua fase (Khopkar, 2008).

Komponen-komponen dalam campuran diadsorpsi dari larutan secara kuantitatif oleh bahan penyerap berupa pita sempit pada permukaan atas kolom. Dengan penambahan pelarut secara terus-menerus, masing-masing komponen akan bergerak turun melalui kolom dan pada bagian atas kolom akan terjadi kesetimbangan baru antara bahan penyerap, komponen campuran dan eluen. Kesetimbangan dikatakan tetap apabila suatu komponen yang satu dengan yang lainnya bergerak ke bagian bawah kolom dengan waktu atau kecepatan berbeda-beda sehingga terjadi pemisahan (Yazid, 2005).

Maka hasil dari kolom kromatografi membentuk tiga fragsi yang berbeda. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan larutan yang dipakai mempengaruhi komponen-komponen yang ada di dalam silica gel untuk menyerap ekstrak secang yang sudah ditambahkan. Sehingga pergerakan yang terjadi tergantung pada penyerapan komponen yang bergerak dengan waktu dan kecepatan yang berbeda. Sehingga jenis pelarut menentukan waktu dan kecepatan dari penyerapan komponen.

F. Antioksidan, anti mikrobia

Tanaman secang (Caesalpinia sappan L.) dari familia Caesalpiniaceae secara tradisional digunakan untuk pengobatan yang memiliki variasi sifat medisinal yaitu sebagai antikonvulsan (Baek et al, 2002), antiinflamasi, antiproliferatif, antikoagulan, antivirus, imunostimulan, antioksidan (Badami et al, 2003) dan antimikroba (Xu HX, Lee, 2004).

(22)

ini yang di uji dalam microplate yang sudah di masukan bakteri dan di plating di dalam suatu media yang berisi medium NA. Hasil membuktikan bahwa tidak ada atau sedikit bakteri yang tumbuh, hal ini dikarenakan ada senyawa yang menghambat pertumbuhan bakteri.

BAB IV KESIMPULAN

(23)

ekstrak kasar (crude extract) dari serbuk secang dengan berat 132,8 gram. Uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak secang mengandung flavon dan polifenol. Ekstrak secang juga mengandung antibakteri dan antijamur serta mengandung antioksidan yang ditunjukkan dari hasil uji antimikroba, antijamur dan uji antioksidan.

DAFTAR PUSTAKA

Badami, S., S. Moorkhoth, S.R. Rai, E. Kannan, and S. Bhojraj. 2003. Antioksidant activity of Caesalpinia sappan heartwood. Biology Pharmacy 26: 1534-1537.

(24)

[On-Line]. Available FTP:

http://www.springerlink.com/content/6702287t353463j0/fulltext.pdf Tanggal akses 14 november 2017

Dalimartha, S. 2009. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid 6. Jakarta: Pustaka Bunda.

Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Ditjen POM. 1995. Famakope Indonesia. Edisi keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Gunawan, Didik dan Sri, M. 2010. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid 1. Jakarta: Penebar Swadaya.

Holinesti, R. 2009. Studi Pemanfaatan Pigmen Brazilein Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) sebagai Pewawrna Alami serta Stabilitasnya pada Model Pangan. Jurnal Pendidikan dan Keluarga UNP.

Indriani, H. 2003. Stabilitas Pigmen Alami Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) dalam Model Minuman Ringan. Bogor: IPB.

Indriani, Y. H., 2001. Membuat Kompos Secara Kilat. Jakarta .Penebar Swadaya

Katno. 1999. Laporan Penelitian Pengaruh Penyimpanan Terhadap Angka Jamur dan Angka Lempeng Total Tiga Simplisia Nabati. Tawangmangu: Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi. Balai Penelitian Tanaman Obat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Khopkar, S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.

Lemmens, R. H. M. J, Wulijarni, Soetjipto N. 1992. Plant Resourcecs of South-East Asia No. 3 Dye and Tanin-Producing Plants. Bogor: Prosea.

Lenny, S., 2006, Senyawa Flavanoida, Fenilpropanida dan Alkaloida, Karya Ilmiah Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara.

(25)

Lioe, H. N., Adawiyah, D. R., dan Anggraeni, R. 2012. Isolation dan Characterization of The Major Natural Dyestuff Component of Brazilwood (Caesalpinia sappan L.) International Food Research Journal.

Miller, A. L. 2002. Antioxidant Flavonoid Structure Function and Clinical Usage.

Moon, C. K., K. S. Park, S. G. Kim, dan H. S. Won. 1992, Drugs and Chemical Toxicology. Drug Chem Toxicol 15 : 81 – 91.

Mulyono, Gitosudarmo, Indriyo, Agus. 1996. Prinsip Dasar Manajemen.Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA.

Prakash, L., dan Majeed, M. 2008. Natural Activities Lend Color to Cosmetics. New Delhi: Sabinsa Corporation.

Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup. 2007. Warna Alami. Mojokerto: Move Indonesia.

Safitri, R. 2002. Karakterisasi Sifat Antioksidan In Vitro Beberapa Senyawa yang Terkandung dalam Tumbuhan Secang (Caesalpinia sappan L.). Disertasi. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Sirait, Justine T. (2007). Memahami Aspek-aspek Pengelolaan Sumber Daya Manusia dalam Organisasi; Edisi kedua. Jakarta, Grasindo.

Tjitrosoepomo, G. 2004. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Cetakan kedelapan. Yogyakarta: UGM Press.

Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Penerjemah Dr. Soendani Noerono. Edisi Kelima. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Watt, J. M. 1962. Medical and Poisonous Plants of Southern and Eastern Africa. 2nd Edition.

London: Livingstone LTD.

Winarti, C., dan Nurdjanah, N. 2005. Peluang Tanaman Rempah dan Obat Sebagai Sumber Pangan Fungsional. Jurnal Litbang Pertanian 24(2), 47 – 55.

Xu H.X. and Lee S.F., 2004, The antibacterial principle of Caesalpina sappan,Phytotherapy Research, 18 (8), 647–651.

(26)
(27)

LAMPIRAN

(28)

(29)

Figure

Updating...

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in