OPTIMALISASI FUNGSI BAHASA INDONESIA
SEBAGAI WAHANA PEMBENTUKAN MENTAL DAN KARAKTER BANGSA
DI ERA GLOBALISASI MENUJU INDONESIA EMAS 2045
YOGYAKARTA, 2–3 OKTOBER 2015
PROSIDING
Undang – undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
Lingkup Hak Cipta
Pasal 2:
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setalah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72:
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL
PERTEMUAN ILMIAH BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA (PIBSI) XXXVII
OPTIMALISASI FUNGSI BAHASA INDONESIA SEBAGAI WAHANA
PEMBENTUKAN MENTAL DAN KARAKTER BANGSA DI ERA
GLOBALISASI MENUJU INDONESIA EMAS 2045
YOGYAKARTA, 2
–
3 OKTOBER 2015
Editor:
Pranowo
Yuliana Setyaningsih
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL
PERTEMUAN ILMIAH BAHASA DAN SASTRA INDONESIA (PIBSI) XXXVII OPTIMALISASI FUNGSI BAHASA INDONESIA
SEBAGAI WAHANA PEMBENTUKAN MENTAL DAN KARAKTER BANGSA DI ERA GLOBALISASI MENUJU INDONESIA EMAS 2045
YOGYAKARTA, 2–3 OKTOBER 2015
Copyright © PBSI Universitas Sanata Dharma, 2015
Diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan
Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (ADOBSI) dan penerbit Sanata Dharma University Press, 2015
Jl. Affandi (Gejayan) Mrican, Yogykarta 55281 e-mail: publisher@usd. ac. id
Editor: Pranowo Yuliana Setyaningsih
R. Kunjana Rahardi
Tata Letak dan Sampul: Robertus Marsidiq
Stefanus Candra Insep Pitomo Galih Kusumo Septina Krismawati
Gambar Sampul: Google Image Search (Montase)
Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT) PROSIDING SEMINAR NASIONAL PIBSI XXXVII Yogyakarta: Sanata Dharma University Press, 2015
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...
ii
DAFTAR ISI ...
vii
KATA PENGANTAR ...
xv
SAMBUTAN ...
xvi
MAKALAH UTAMA ...
1
PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA DAN KESIAPAN BAHASA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI DALAM RANGKA MENYONGSONG INDONESIA EMAS 2045 oleh Multamia RMT Lauder ... 2
TRAGEDI EKALAYA oleh Sudaryanto ... 12
MANIFESTASI METAKOGNISI DALAM PENULISAN ARTIKEL JURNAL oleh Yuliana Setyaningsih ... 20
JALAN SASTRA oleh Arswendo Atmowiloto ... 32
TOPIK I PEMBINAAN DAN PERENCANAAN BAHASA, SOSIOLINGUISTIK, DAN
PENDIDIKAN KARAKTER ...
35
KALIMAT LARANGAN DAN MAKNANYA DALAM KAITANNYA DENGAN PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK oleh Agnes Adhani ... 36
POLITIK BAHASA UNTUK TENAGA KERJA ASING DI INDONESIA PADA ERA PASAR BEBAS oleh Ahmad Syaifudin ... 47
CAMPUR KODE DALAM PAMFLET ORGANISASI MAHASISWA LINGKUNGAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA KAJIAN SOSIOLINGUISTIK oleh Andika Dwi Purnomo, Nike Ari S, Roni A, dan Sri Sumarsih ... 56
BAHASA INDONESIA DAN REVOLUSI MENTAL DALAM PERSPEKTIF SEMANGAT KEINDONESIAAN oleh Chattri S Widyastuti ... 65
PERGESERAN BAHASA ENGGANO DALAM LINGKUP KELUARGA DI DESA MEOK DUSUN PAKUAH KECAMATAN ENGGANO, KABUPATEN BENGKULU UTARA, PROVINSI BENGKULU oleh Eli Rustinar ... 75
EKSPRESI NOMINA PADA KLAUSA RELATIF DALAM BAHASA INDONESIA oleh F. X. Sawardi, Henry Y, dan Hesti W ... 83
NILAI EDUKASI BAHASA DAN PEMBANGUNAN KARAKTER MASYARAKAT MELALUI IKLAN POLITIK (SEBUAH KAJIAN POLISOSIOLINGUISTIK JELANG PILKADA 2015) oleh Fahrudin Eko Hardiyanto ... 96
xiii
CITRA DOMINASI PEREMPUAN DALAM WACANA HUMOR MEME BERTEMA
PACARAN oleh Sony Christian S ... 1004 ESTETIKA RESEPSI SASTRA ETNIK SEBAGAI WAHANA PEMBENTUKAN MENTAL DAN KEPRIBADIAN BANGSA oleh Teguh Trianton ... 1016 STRUKTUR PUISI ANAK INDONESIA: ANALISIS SARANA RETORIKA oleh Tri
Mulyono dan Masfu’ad Edy S ... 1028 MEMBENTUK KARAKTER BANGSA MELALUI KARYA SASTRA oleh Umi
Mujawazah ... 1039 SISTEM KEPERCAYAAN MASYARAKAT DAYAK DALAM NOVEL PERAWAN
KARYA KORRIE LAYUN RAMPAN oleh Wiekandini Dyah P ... 1050 SEKS DALAM CERITA-CERITA UMAR KAYAM oleh Wiranta ... 1059
TOPIK V SASTRA LISAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER ... 1074 FOLKLOR ASAL-USUL CALON PRESIDEN SEBAGAI STRATEGI LEGITIMASI
KUASA PADA KAMPANYE PILPRES INDONESIA 2014 oleh M. Ardi K ... 1075 PELESTARIAN BAHASA DAERAH (SUNDA) DALAM UPAYA MENGOKOHKAN
KEBUDAYAAN NASIONAL oleh Asep Firdaus dan David S ... 1088
KATA DAN FRASE BERMAKNA ‘WAKTU’ DALAM BAHASA JAWA BANYUMASAN
oleh Ashari H, Siti Junawaroh, dan Etin P ... 1096 POSISI DAN FUNGSI DAGELAN DALAM PERTUNJUKAN KETOPRAK DI
SURAKARTA oleh Chafit Ulya ... 1103 EDUKASI SEKS YANG TEREFLEKSI MELALUI MEDIA CERPEN UNTUK REMAJA
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA oleh David S dan Aa Juhanda ... 1109 BENTUK PEMERTAHANAN BAHASA JAWA DALAM PERTUNJUKAN KESENIAN
TRADISIONAL KUDA LUMPING DI JAWA TENGAH oleh Hari Bakti M dan Imam Baehaqie ... 1121 NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT KECAMATAN
MUNGKA KABUPATEN LIMA PULUH KOTA PROVINSI SUMATERA BARAT oleh
Hasnul Fikri dan Syofiani ... 1132 PENGARUH RITUAL TRADISIONAL TERHADAP PERKEMBANGAN NILAI
SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT STUDI KASUS PROSESI RITUAL LABUHAN LAUT DI GEMPOL SEWU WELERI oleh Ken Widyawati ... 1145 KESENIAN TRADISIONAL DALAM PERGESERAN BUDAYA STUDI KASUS
KESENIAN MENAK KONCER KECAMATAN SUMOWONO KABUPATEN
SEMARANG JAWA TENGAH oleh Laura Andri ... 1160 FUNGSI PAPAREGHAN (PANTUN MADURA) BAGI MASYARAKATNYA oleh
M. Tauhed Supratman ... 1168 KAJIAN INTERTEKSTUAL ANTARA NOVEL GELANG GIOK NAGA KARYA LENY
1016
ESTETIKA RESEPSI SASTRA ETNIK
SEBAGAI WAHANA PEMBENTUKAN MENTAL
DAN KEPRIBADIAN BANGSA
Teguh Trianton
Universitas Muhammadiyah Purwokerto [email protected]
ABSTRAK
Nilai-nilai luhur, jatidiri bangsa Indonesia mulai pudar. Ini terlihat dari gaya hidup generasi muda yang sangat materialistik, hedonis, konsumeristik. Gaya hidup menyimpang dari karakter, mental, kepribadian bangsa yang adiluhung. Mental dan kepribadian bangsa Indonesia dibentuk dari nilai-nilai budi pekerti luhur yang berasal dari beragam etnik budaya di nusantara. Nilai budi pekerti merupakan wujud kearifan lokal yang berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi kehidupan manusia. Nilai budi pekerti mengendap dan tersimpan dalam teks-teks sastra etnik. Pembentukan mental dan kepribadian bangsa merupakan inti dari pendidikan. Estetika resepsi menjadi salah satu wahana pembentukan mental dan kepribadian bangsa.
Kata Kunci: estetika resepsi, sastra etnik, pembentukan mental
ABSTRACT
The identity of the Indonesian people began to fade. This is evident from the lifestyle of the young generation who are very materialistic, hedonistic, and consumerism. Lifestyle deviate from the character and the valuable national identity. Thecharacterand personality of the Indonesian nation was formed from the values of noble character who come from diverse ethnic cultures in the archipelago. Character value is a form of local wisdom that serves as a guide that gives direction and orientation of human life. Character value sediment and stored in ethnic literary texts. Character building and personality of the nation is at the heart of education. Reception aesthetics into one vehicle mental formation and personality of the nation.
Keywords: Aesthetics reception, Ethnic literature, Character building
A. PENDAHULUAN
Optimalisasi fungsi bahasa Indonesia sebagai wahana pembentukan mental dan karakter bangsa ...
1017
mencerminkan nilai kearifan budaya lokal. Nilai-nilai luhur, jatidiri, kepribadian bangsa semakin pudar. Ini terlihat dari gaya hidup generasi muda yang sangat materialistik, hedonis, dan konsumeristik. Nilai-nilai budi pekerti yang bersumber dari kearifan lokal tergerus oleh nilai-nilai budaya asing yang bersifat instan. Masyarakat, khususnya generasi muda; pelajar dan mahasiswa, saat ini mengalami krisis identitas, krisis kebudayaan, dan krisis nilai-nilai budi pekerti luhur. Masyarakat Indonesia kontemporer tengah mengalami krisis kultural sebagai dampak globalisasi (Piliang, 2004; Ibrahim, 2005; Pepperell, 2009; Chaney, 2009; Abdullah, 2009; Piliang, 2011; Ibrahim, 2011; Sayuti, 2011; Hoed, 2014).
Pelipatan dunia adalah proses dan relasi yang sangat kompleks, multidimensi, dan multibentuk, yang melibatkan berbagai aspek kehidupan, mulai dari persoalan publik, sosial, ekonomi, budaya, hingga persoalan paling privasi; mentalitas dan spiritualitas. Salah satu akibatnya adalah terjadi penetrasi budaya asing yang mengancam eksistensi budaya lokal dan nilai-nilai luhur sebagai identitas bangsa yang terkandung di dalamnya (Piliang, 2011: 49; Ibrahim, 2011; Hoed, 2014).
Undang-undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberi amanah tentang pentingnya pendidikan karakter. Undang-undang ini memberi
arah tujuan pendidikan nasional untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Secara tegas disebutkan pada Pasal 3, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pembentukan mental dan kepribadian merupakan inti dari pendidikan yang sungguhnya. Proses pembentukan karakter ini dapat dilaksanakan dengan berbagai jalan. Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan tiga jalur pendidikan, yaitu pendidikan formal, nonformal, dan informal. Ketiga jalur ini dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan. Demikian juga dengan pendidikan nonformal, yang memiliki nilai strategis
dalam pembentukan karakter atau mental. Dua jalur pendidikan ini menjadi penopang keberhasilan pembentukan mental dan kepribadian melalui jalur pendidikan formal.
Terminologi “pendidikan karakter” sebenarnya bukanlah hal baru dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. Presiden RI pertama, Soekarno telah menyinggung soal pembangunan nasional dan karakter bangsa (nationl and character building). Kemudian, di awal Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, melalui Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Yahya Muhaimin, wacana tentang pendidikan karakter dan budi pekerti kembali digulirkan, sebagai amanat Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999.
1018
Se m inar Nas ional P IBS I X X X V IIJangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025. Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.”
Pada tahun 2010; Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) kembali menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai bagian dari rencana strategis lima tahun (2010-2014). Dalam Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025, disebutkan bahwa pendidikan karakter dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa. Pendidikan karakter merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.
Sementara itu, untuk memberikan arah implementasi pendidikan karakter, pada tahun 2010 Kementerian Pendidikan Nasional, menyusun Rencana Aksi Nasional Pendidikan
Karakter (RAN PK). Di dalamnya disebutkan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan seluruh warga sekolah untuk memberikan keputusan baik-buruk, keteladanan, memelihara apa yang baik & mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Kemudian, gagasan pendidikan karakter ini dilanjutkan oleh Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kala dengan slogan revolusi mental. Revolusi metal adalah upaya sengaja dengan kesadaran dan drastismengubah kondisi mental, meliputi cara berpikir, karakter dan kepribadian, darisatu kondisi agar berubah menjadi lebih baik. Kondisi mental dianggap baik jika suatu mental sigap dan tangkas menghadapiberbagai perubahan, memiliki kemandirian dan kemerdekaan pribadi, rasionaldan luas dalam berpikir, tahan terhadap godaan-godaan yang melanggar normadan etika, mau bekerja keras membangun kedaulatan politik, ekonomi, dan budaya (Salam, 2014).
B. SASTRA ETNIK DAN KEPRIBADIAN BANGSA
Sastra Indonesia pada dasarnya adalah sastra lokal. Persoalan-persoalan yang ditulis oleh sastrawan merupakan persoalan yang bersumber dari budaya-budaya lokal yang disebut etnik. Dari sinilah, muncul terminologi sastra etnik. Ia menjadi bercitra Indonesia
Optimalisasi fungsi bahasa Indonesia sebagai wahana pembentukan mental dan karakter bangsa ...
1019
yang menjadi meliu pengarangnya. Sastra yang demikian, mengandung nilai pendidikan, pengetahuan budaya, dan masyarakat global yang partikular. Karya sastra yang demikian disebut sastra etnik. Sebagai rekaman budaya, sastra harus dipahami melalui interpretasi yang mendalam dengan melibatkan pembaca secara aktif (Sayuti, 2014: 1-3; Triwikromo, 2014: 1-4; Teeuw, 1983: 11; Ratna, 2007: 25; Setyobudi, 2009; Ratna, 2011: 31; Endraswara, 2013: 13; Manuaba, 2015).
Karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dengan bahasa sebagai mediumnya. Karya sastra sebagai simbol verbal, memiliki beberapa peranan baik dalam usaha; pemahaman (mode of comprehension), cara perhubungan (mode of communication), dan cara penciptaan (mode of creation). Objek karya sastra adalah realitas apapun yang dimaksud oleh pengarang. Jika realitas yang dikemukakan melalui karya sastra merupakan bagian dari sejarah, maka karya dapat memenuhi tiga peran tersebut. Pertama, karya sastra akan mencoba menerjemahkan peristiwa itu dengan bahasa yang imajiner sesuai dengan pemahaman sastrawan. Kedua, karya sastra dapat menjadi piranti bagi pengarang untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan atas suatu peristiwa sejarah, dan ketiga, seperti halnya karya sejarah, karya sastra dapat merupakan
rekonstruksi atas sebuah peristiwa sejarah atau budaya (Prodopo, 2007: 121; Kuntowijoyo, 2006: 171).
Sastra memiliki hubungan yang erat dengan budaya. Sastra secara harfiah sastra dapat dipahami sebagai alat untuk mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan intruksi yang baik. Sedangkan kebudayaan adalah keseluruhan aktivitas manusia, termasuk pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat-istiadat, etnik, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku. Jadi, sastra dan kebudayaan berbagi wilayah yang sama, aktivitas manusia, tetapi dengan cara yang berbeda, sastra melalui kemampuan imajinasi dan kreativitas -sebagai kemampuan emosional pengarang-, sedangkan kebudayaan lebih banyak melalui kemampuan akal, sebagai kemampuan intelektualitas. Kebudayaan mengolah alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang bersifat materi. Sedangkan sastra mengolah alam melalui tulisan, membangun dunia baru sebagai ‘dunia dalam kata’, hasilnya adalah jenis-jenis karya sastra, seperti: puisi, novel, drama, cerita-cerita rakyat, dan sebagainya. Dengan demikian, sastra merupakan bagian integral budaya yang berisi berbagai anasir pembentuk
kepribadian dan mental bangsa. Sastra yang demikian sering disebut sastra etnik, sastra kedaerahan, atau sastra berkearifan lokal.
Kearifan lokal merupakan sikap, pandangan, dan kemampuan orang di suatu
komunitas dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya. Kearifan lokal memberikan kepada komunitas itu; daya tahan dan daya tumbuh di dalam wilayah di mana komunitas itu berada. Dengan kata lain kearifan lokal menjadi jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal (Saini KM, 2005).
1020
Se m inar Nas ional P IBS I X X X V IIumum, kearifan lokal memiliki ciri dan fungsi berikut. (1) Sebagai penanda identitas sebuah komunitas.(2) Sebagai elemen perekat kohesi sosial.(3) Sebagai unsur budaya yang tumbuh dari bawah, eksis dan berkembang dalam masyarakat; bukan unsur budaya yang dipaksakan dari atas. (4) Berfungsi memberikan warna kebersamaan bagi sebuah komunitas. (5) Dapat mengubah pola pikir dan hubungan timbal balik individu dan
kelompok dengan meletakkannya di atas landasan yang sama (common ground). (6)
Mampu mendorong terbangunnya kebersamaan, apresiasi dan mekanisme bersama untuk mempertahankan diri dari kemungkinan terjadinya gangguan atau pengrusakan solidaritas kelompok sebagai komunitas yang utuh dan terintegrasi (Abdullah [ed.], 2008: 7-8).
Sastra merupakan bagian kesenian, sedangkan kesenian sendiri merupakan bagian dari budaya masyarakat tertentu. Lantas, masyarakat memberi makna terhadap sastra, bukan sebaliknya. Di sini terjadi pola interkoneksi antara sastra, masyarakat, dan budaya masyarakat. Artinya, sebagai bagian budaya secara keseluruhan, manfaat karya sastra diperoleh dengan menikmati unsur-unsur keindahan. Di dalamnya akan ditemukan nilai-nilai pendidikan karakter, kepribadian, mentalitas bangsa dalam berbagai bentuk presentasi kearifan lokal, seperti adat istiadat, konflik sosial, pola-pola perilaku, dan sejarah
yang merupakan unsur pembangunnya. Anasir budaya yang terdapat dalam teks sastra hanya dapat dipahami oleh manusia dengan pikiran dan perasaan, yaitu dengan intuisi, penafsiran, unsur-unsur, sebab akibat, dan seterusnya. Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan pembelajaran sastra.
C. PEMBELAJARAN SASTRA
Karya sastra sesungguhnya tidak pernah lahir dalam situasi yang kosong budaya. Artinya, karya sastra lahir sebagai manifestasi, mimesi, atau refleksi kondisi budaya sebuah entitas sosail. Karya sastra ditulis sebagai sebuah tanggapan terhadap situasi sosial budaya yang melingkupi diri penulisnya. Sastra dapat lahir sebagai sebuah respon positif dari kondisi budaya, pada saat yang sama ia dapat lahir sebagai sebuah penolakan terhadap sebuah situasi budaya. Sastra pada gilirannya menjadi bagian dari produk budaya masyarakat. Di sisi lain, karya sastra bisa jadi hanya berupa artefak, benda mati, yang baru dapat mempunyai makna dan menjadi objek estetis jika diberi makna (konkretisasi) oleh pembaca (Teeuw, 1983: 11; Teeuw, 1984: 191).
Teks sastra menempati posisi yang strategis dalam proses pembelajaran sastra. Praktek pengajaran sastra menunjuk pada telaah suatu karya sebagi fakta pengetahuan, kemudian membongkar teks tersebut dengan jalan mengapresiasi atau mengkaji guna
lebih memaknai penghayatan seseorang dalam mengapresiasi dan mempelajari sastra (Pertiwi, 2009: 79).
Optimalisasi fungsi bahasa Indonesia sebagai wahana pembentukan mental dan karakter bangsa ...
1021
mengenal dan mampu mengapresiasi karya sastra yang menerapkan kaidah estetika naratif keindonesiaan. Ketiga, konvensi naratif sastra berkearifan lokal akan memperkaya kompetensi kesastraan (literary competence) siswa sehingga dapat bersikap objektif dalam mengapresiasi karya sastra (Soedjijono, 2008: 31).
Genre sastra dapat dijadikan sarana untuk membentuk karakter bangsa, jika ia mengandung sedikitnya empat nilai atau aspek; (1) literer-estetis, (2) humanistis, (3) etis dan moral, dan (4) religius -sufistis- profetis (Saryono, 2009: 52-186).
Pembelajaran sastra bermanfaat untuk menunjang pemahaman budaya tempat sastra dihasilkan, sehingga akan terbentuk pemahaman tentang kepribadian dan mentalitas bangsa. Pada masyarakat Indonesia yang multikultural, pembelajaran sastra berkontribusi memberi pemahaman budaya antardaerah, sehingga terjalin hubungan saling pengertian antara suku bangsa yang berbeda. Dalam pembelajaran berbasis kelas, teks sastra dapat dijadikan materi utama pengajaran bahasa, menyajikan situasi komunikasi yang otentik, dan kontekstual. Belajar merupakan kegiatan aktif dalam membangun makna melalui interaksi edukatif antara siswa, guru, dan sumber belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam pengajaran sastra, guru bertanggung jawab menciptakan situasi yang
mendorong prakarsa, motivasi, agar siswa mampu belajar, sehingga terbentuk peserta didik yang memiliki karakter dan budi pekerti luhur (Khatib, 2012: 32-36; Waluyo, 2013: 1-10; Suwandi, 2013: 1-8).
D. ESTETIKA RESEPSI DAN PEMBENTUKAN MENTAL
Teks sastra mempunyai sifat yang unik. Ia baru memiliki makna jika telah dibaca dan diinterpretasi oleh pembaca. Pada mulanya, teks sastra hadir di hadapan pembaca sebagai sesuatu yang netral. Teks sastra yang netral memberikan peluang kepada pembaca untuk memberikan tanggapan sesuai dengan pengalaman, pengetahuan, perasaan, dan tujuan membacanya.
Rentang waktu juga dapat mempengaruhi tanggapan pembaca. Misalnya, kisah dalam novel-novel klasik akan ditafsirkan lain oleh pembaca masa kini. Pada dasarnya setiap pembaca memiliki kebebasan untuk memberikan makna pada saat berdialog (berinteraksi) dengan teks, karena manusia pada hakekatnya pemberi makna, homo significan (Teeuw, 1984: 61-62; Teeuw, 1983: 34).
Sebagai pemberi makna, pembaca akan memberikan makna sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya; harapan, pengalaman, perasaan, pengetahuan. Latar belakang sosial dan budaya pembaca yang berbeda akan menunjukkan perbedaaan tanggapan terhadap
teks yang dibacanya, termasuk ruang dan waktu baca (konteks). Oleh karena itu, keragaman makna akan muncul pada diri pembaca sebagai hasil interaksi antara pembaca dan teks yang dibacanya. Sebuah teks yang sama jika dibaca oleh beberapa pembaca, dapat memunculkan keragaman tanggapan.
1022
Se m inar Nas ional P IBS I X X X V IIfamiliar works of the literary-historical surroundings; and third, through the opposition between fiction and reality (Jauss, 1983: 24).
Cakrawala ekspektasi ini dipengaruhi oleh; pertama, norma-norma umum yang ke luar dari teks yang baru dibaca; kedua, pengetahuan dan pengalaman pembaca atau semua teks yang telah dibaca sebelumnya; dan ketiga, pertentangan antara fiksi dan kenyataan, misalnya kemampuan pembaca memahami teks baru baik berdasarkan harapan-harapan terhadap karya sastra maupun dari pengetahuan tentang kehidupan.
Pendekatan estetika resepsi berfokus pada konsep hubungan dialektis antara teks, pembaca dan interaksinya dalam menemukan makna. This approach must focus on two
basic, interdependent areas: one, the intersection between text and reality, the other, that between text and reader, and necessary to find some way of pinpointing this intersection if one gauge the effectiveness of fiction as a mean of communication (Iser, 1978: 54).
Istilah estetika resepsi mengacu pada konsep respon estetik (aesthetic response) atau resepsi penerimaan. Alasannya, meski pusat perhatian peneroka (pembaca) pada wilayah teks, tetapi prosedur pembacaan mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca pada fokus yang berbeda-beda. Karya sastra sebagai suatu yang diformulasikan kembali (imajinasi) dari
sesuatu yang telah diformulasikan dalam realita (Iser, 1978: 182).
Dalam interaksi dengan teks sastra, pembaca harus menggunakan imajinasinya sehingga ia bertindak sebagai pemberi arti. Arti yang ditemukan dalam teks bukanlah arti teks itu semata-mata, tetapi arti yang dikongkretkan pembaca melalui proses rekonstruksi. Arti suatu teks ada dalam interaksi antara teks dan pembaca. Intensitas interaksi antara pembaca dan teks dapat dipengaruhi oleh perilaku keseharian pembaca, terutama pengalaman baca, dan pengalaman dan pengetahuan (literary repertoire). Secara umum pengalaman hidup dapat dijadikan bantuan dalam memahami teks narasi fiksi (Iser, 1978: 20).
Estetika resepsi mengkaji teks sastra dengan bertitik tolak pada reaksi atau tanggapan pembaca terhadap teks yang dibacanya. Secara ringkas estetika resepsi (esthetics of reception)dapat disebut sebagai ajaran yang menyelidiki teks sastra berdasarkan reaksi pembaca yang riil. Estetika resepsi memberikan peluang pada pembaca untuk menafsir makna terhadap karya sastra yang dibaca, sehingga dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadapnya. Tanggapan itu mungkin bersifat pasif atau bersifat aktif. Di satu
sisi seorang pembaca dapat memahami karya itu, di saat yang lain dapat melihat hakikat estetika yang ada di dalamnya dan bagaimana mewujudkannya (Segers, 1978: 35; Junus 1985: 1; Pradopo, 2003: 206).
Optimalisasi fungsi bahasa Indonesia sebagai wahana pembentukan mental dan karakter bangsa ...
1023
Pembaca tidak akan mendekati sebuah teks tertentu dengan kepala kosong; mereka juga membawa perbendaharaan harta berupa harapan, asumsi, dan pengalaman (Allen, 1988; Allen, 2004: 9).
Sastra adalah karya imajinasi. Imajinasi merupakan wilayah khusus, daerah otonom, yang tidak perlu dicocok-cocokkan dengan kenyataan. Walaupun sesuatu bersifat imajinatif tetapi ia tidak harus irrasional. Tetapi karya sastra merupakan refleksi kehidupan manusia. Sehingga sesuatu yang bersifat imajinatif dalam teks sastra boleh jadi memiliki referensi riil dalam kehidupan nyata (Dahana, 2001: 25).
Sastra memiliki potensi yang besar untuk membawa perubahan pada masyarakat ke arah yang lebih baik. Dengan kata lain, sastra berpotensi merubah dan membentuk karakter pembacanya. Karya sastra dapat dijadikan media untuk menanamkan karakter pada pembacanya (Herfanda, 2008: 131).
Karya sastra sebagai sumber pendidikan, pembentukan mental, dan kepribadian bangsa memiliki tiga nilai strategis yaitu; (1) alat komunikasi, (2) konservasi nilai kultural, dan (3) media edukasi. Karya sastra sebagai alat komunikasi berfungsi menyampaikan pesan atau gagasan dari pengarang pada pembacanya. Karya sastra sebagai sarana
konservasi nilai-nilai kultural, karena di dalamnya merepresentasikan dan
mendokumentasikan nilai-nilai budaya. Karya sastra menjadi media edukasi karena di dalamnya syarat nilai moral dan nilai kebudayaan luhur. Dengan kandungan nilai kearifan budaya tersebut, karya sastra harus dikaji, sehingga nilai kearifan budaya yang telah digali dapat ditanamkan kembali sebagai upaya merekonstruksi identitas bangsa.
Melalui kajian estetika resepsi, karya sastra secara pragmatis mendapatkan ruang tafsir yang luas. Pendekatan ini mempertimbangkan implikasi pembaca dengan berbagai kompetensinya. Secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai perspektif baru dalam studi sastra. Estetika resepsi berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca (Segers, 2000: 35-47).
Kajian estetika resepsi dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu resepsi sinkronis dan resepsi diakronis. Resepsi sinkronis meneliti karya sastra dalam hubungannya dengan pembaca pada satu zaman. Sedangkan resepsi sinkronis meneliti karya sastra berdasar penilaian pembaca sepanjang zaman (Luxemburg, 1982: 80).
Dalam prosedur pembentukan mental dan kepribadian bangsa, sastra merupakan fitur
budaya yang mampu memberikan pemahaman tentang nilai-nilai karakter, sastra menjadi moda transimi nilai-nilai karakter, dan sastra merupakan cara merekontruksi nilai-nilai yang berlaku dalam sebuah entitas budaya.
“Reading is an activity that is guided by the text; this must be processed by the reader, who is then, in turn, affected by what he has processed” [Membaca merupakan aktivitas yang dipandu oleh teks; proses ini harus dilakukan oleh pembaca, sebaliknya pembaca dipengaruhi oleh apa yang dibacanya] (Iser, 1978: 163).
1024
Se m inar Nas ional P IBS I X X X V IIanasir estetis melalui pertemuan antara cakrawala harapan, bentuk teks dan norma-norma sastrawi yang berlaku. Pembaca selaku perebut makna akan senantiasa ditentukan oleh ruang, waktu, golongan sosial, budaya, dan pengalamannya. Di sini akan terjadi dialektika antara kompetensi pembaca dengan teks sastra, sehingga nilai-nilai luhur dalam teks sastra dielaborasi dalam alam pikiran pembaca.
Literary work has two poles, which we migth call the artistic and the aesthetic: the
artistic pole is the author’s text and the aesthetic is the realization accopmplished by the
reader. Karya sastra mempunyai dua kutub, yang dapat kita sebut dengan artistik dan estetik. Kutub artistik adalah wilayah imajinasi pengarang yang dituangkan dalam teks, dan kutub estetik adalah realisasi atau implikasi imajinasi estetik yang dilakukan pembaca (Iser, 1978: 163).
Implikasi estetik terletak pada kenyataan bahwa resepsi pertama suatu karya hanya mencakup pengujian nilai estetika dalam perbandingannya dengan karya yang sudah dibaca. The obvious historical implication of this that the understanding of the firstreader
will be sustained and enriched in a chain of receptions from generation to generation: in this way the historical significance of a work will be decided and its aesthetic value made evident (Jauss, 1983: 20)
Kejelasan implikasi historis mengenai hal ini ialah bahwa pemahaman pembaca pertama akan ditopang dan diperkaya dengan rantai resepsi dari generasi ke generasi sehingga makna historis suatu karya akan diputuskan dan dibuktikan nilai estetiknya.
E. SIMPULAN
Estetika resepsi merupakan proses pemaknaan dan penilaian karya sastra oleh pembaca. Secara sederhana, pengertian resepsi ialah respon pembaca terhadap sebuah teks. Di sini terlihat peranan pembaca menjadi penting karena orientasi pembaca terhadap teks menjadi landasan utama dalam menilai sebuah karya. Dengan pendekatan estetika resepsi, teks sastra etnik langsung mendapatkan respon dari pembaca, sesuai kompetensinya. Di sinilah titik temu antara pembaca dengan teks sastra etnik mendapatkan signifikansinya. Nilai-nilai budaya etnik, yang mengandung kearifan lokal, pendidikan budi pekerti, karakter atau mental yang terdapat dalam teks sastra mendapat respon, interpretasi oleh pembaca. Pada proses interpretasi inilah, secara sublimatif dan
laten, teks sastra membentuk kepribadian dan mental bangsa.
Fungsi terpenting dari dominasi pembaca adalah kemampuannya mengungkapkan kekayaan karya sastra. Pembaca dapat menampilkan makna secara tak terbatas, baik
Optimalisasi fungsi bahasa Indonesia sebagai wahana pembentukan mental dan karakter bangsa ...
1025
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan. 2009. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Abdullah, Irwan. dkk. (ed). 2008. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Komtemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Allen, C. (1988). Louis Rosenblatt and Theories of Reader Response. (Online). Tersedia: www.hutmu.edu/reader/online/20/intro.20.htm. (07 Juli 2011).
Allen, Pamella. 2004. Membaca, dan Membaca Lagi [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995. Terjemahan Bakdi Soemanto. Yogyakarta: Indonesia Tera.
Chaney, David. 2009. Lifestyle: Sebuah Pengantar Komprehensif. (Terj. Nuraeni. Peny. Idi Subandy Ibrahim. Cet. 4).Yogyakarta: Jalasutra.
Dahana, RadharPanca. 2001. Kebenaran dan Dusta dalam Sastra. Magelang: Indonesia
Tera.
Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Antropologi Sastra. Yogyakarta: Ombak.
Herfanda, Ahmadun. Y. 2008. ”Sastra sebagai Agen Perubahan Budaya” dalam Bahasa dan
Budaya dalam Berbagai Perspektif, Aanwar Effendi, ed.Yogyakarta: FBS UNY dan Tiara Wacana.
Hidayati, Panca Pertiwi. 2009. Teori ApresiasiProsa Fiksi. Bandung: Prisma Press
Hoed. Benny H. 2014. Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya. (Edisi. III). Depok: Komunitas Bambu.
Ibrahim, Idi Subandi (ed). 2005. Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.
Ibrahim, Idi Subandi. 2011. Kritik Budaya Komunikasi: Budaya, Media, dan Gaya Hidup dalam Prses Demokratisasi di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.
Iser, Wolfgang. 1978. The Act of Reading. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.
Jauss, Hans Robert. 1983. Toward an Aesthetic of Receptions. Diterjemahan Timothy Bahti. Mineapolis: University of Minnesota Press.
Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Khatib, Mohammad., Amir Hossein. Rahimi. 2012. “Literature and Language Teaching.” Journal of Academic and Applied Studies,Vol. 2 (6) June 2012, pp. 32-38. (Available online @ www.academians.org)
1026
Se m inar Nas ional P IBS I X X X V IIJakarta: Grasindo.
Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Luxemburg, J. dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Diterjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.
Manuaba, IB Putera. 2015. “Sastra Etnik di Tengah Budaya Global”. Kompas (Minggu, 06 September 2015, hal. 27).
Pepperell, Robert. 2009. Posthuman; Kompleksitas Kesadaran, Manusia dan Teknologi. (Terj. Hadi Purwanto). Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia Yang Berlari, Mencari Tuhan-tuhan Digital. Jakarta: Grasindo.
Piliang, Yasraf Amir. 2011. Dunia yang Dilipat: Tamsya Melampaui Batas-batas Kebudayaan (Edisi 3). Bandung: Matahari.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2003. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Sastra dan Cultural Studies. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Antropologi Sastra: Peranan Unsur-Unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saini K.M. 2005. ”Kearifan Lokal di arus Global”, dalam Pikiran Rakyat, Edisi 30 Juli 2005. Salam, Aprinus. 2014. “Revolusi Mental Dalam Perspektif”. Makalah Seminar Nasional,
FSSR UNS Surakarta, 22 Desemer 2014.
Saryono, Djoko. 2009. Dasar Apresiasi Sastra. Yogyakarta: Elmatera Publishing.
Sayuti, Suminto A. 2011. “Warisan Budaya dalam Konteks Pendidikan Karakter”, dalam Empowering Batik Dalam Membangun karakter Budaya Bangsa. Jurusan Seni Rupa Program Studi Pendidikan Seni Kerajinan, FBS UNY, Yogyakarta, hlm. 28-34.
Sayuti, Suminto A. 2014. “Sastra Indonesia sebagai Sastra Dunia: Apa Urusan Kita?”. Prosiding Seminar Internasional Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia (PIBSI) XXXVI, Membangun Citra Indonesia Di Mata Internasional Melalui Bahasa dan Sastra Indonesia. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UAD, Yogyakarta.
Segers, Rien. T. 1978. The Evaluation of Literary Text. The Peter de Rider Press: Lisse.
Optimalisasi fungsi bahasa Indonesia sebagai wahana pembentukan mental dan karakter bangsa ...
1027
Setyobudi, Imam. 2009. “Etnografi dan Genre Sastra Realisme Sosial”. Dalam Acintya, Jurnal Penelitian Seni Budaya. Vol. 1 (2) Desember 2009. Hlm. 109-118.
Soedjijono. 2008. “Novel Kearifan Lokal Sebagai Materi Pembelajaran Apresiasi Prosa.” Makalah Konferensi Internasional Kesusastraan XIX/HISKI. Batu, 12-14 Agustus 2008.
Suwandi, Sarwidji. 2013. “Peran Guru Bahasa Indonesia Yang Inspiratif untuk Mewujudkan Peserta Didik Berkarakter”. Prosiding Seminar Internasional Pertemuan Ilmiah
Bahasa dan Sastra Indonesia (PIBSI) XXXV. Pengembangan Peran Bahasa adan
Sastra Indonesia untuk Mewujudkan Generasi Berkarakter. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNS, Surakarta.
Teeuw, A. 1983. Tergantung Pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Triwikromo, Triyanto. 2014. “Bergantung pada Budaya: Sastra (Tradisional) dalam Era Kematian Sosial dan Posrealitas.” Makalah Seminar Nasional Bulan Bahasa; Awal Bercinta dengan Sastra. Prodi PBSI, FKIP, UNS, Surakarta, 25 Oktober 2014.
Waluyo, Herman J. 2013. “Pembelajaran Sastra Indonesia Berbasis Kurikulum 2013; Meningkatkan Iman, Takwa dan Akhlak Mulia, serta Cakap dan Kreatif”. Prosiding Seminar Nasional, Bulan Bahasa dan Sastra, 2013. Unwidha, Klaten.
BIODATA
Teguh Trianton, lahir di Desa Pagerandong, Kec. Mrebet Kab. Purbalingga, Jawa Tengah. Aktif di Komunitas Beranda Budaya (Purwokerto). Pernah bekerja sebagai wartawan, dan guru. Kini menjadi siswa Program Pascasarjana S3 Pendidikan Bahasa Indonesia UNS, dan mengajar di Prodi PBSI FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Buku yang telah ditulis; Ulang Tahun Hujan (antologi puisi, 2012), Identitas Wong
Banyumas (Graha Ilmu, 2012), Banyumas; Fiksi dan Fakta Sebuah Kota (Kumpulan esai,
2013), Film Sebagai Media Belajar (Graha Ilmu, 2013). E-mail: