• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Estetika Dalam Antologi Puisi Suara Peri Dan Mimpi Kajian Resepsi Sastra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Nilai Estetika Dalam Antologi Puisi Suara Peri Dan Mimpi Kajian Resepsi Sastra"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Effendi, S. 1974. Bimbingan Apresiasi Puisi . Ende: Nusa Indah.

Jauss, Hans Robert. 1974. “Literary History as A Challenge to Literary Teory” dalam New Direction in Literary History, Ralp Cohen (ed.) London: Roudledge & Keegan Paul.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2001. Beberapa Teori Sastra Metode Kritik dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Suharto dan Tata Iryanto. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia Terbaru. Surabaya: Indah .

Teew, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

(2)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Sumber Data

Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Judul : Suara Peri dan Mimpi

Jenis : Antologi Puisi

Pengarang : HMJ Bahasa dan Sastra Indonesia Sumut Penerbit : Laboratorium Sastra Medan

Tebal Buku : 105 halaman Ukuran : 14 cm x 20 cm Cetakan : Pertama Tahun : 2009

Warna Sampul : Hitam, putih, hijau, dan emas.

Gambar Sampul : Tulisan lama yang tidak jelas hurufnya dan sebuah bayangan manusia berdiri menutupi sebagian tulisan tersebut

Desain sampul : T Agus Chaidir

(3)

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Lokasi adalah letak atau tempat. (Alwi, dkk 2003:680). Adapun lokasi penelitian ini adalah di lingkungan Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penulis melakukan penelitian terhadap objek selama 1 (satu) bulan.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah sekelompok orang, benda, atau hal yang menjadi sumber pengambilan sampel; suatu kumpulan yang memenuhi syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. (Alwi, dkk 2003:889).

Berdasarkan pengertian di atas maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah puisi-puisi yang terdapat dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi. Antologi puisi Suara Peri dan Mimpi terdiri dari 77 puisi.

3.3.2 Sampel

(4)

Dari 77 puisi yang terdapat dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi tersebut diambil lima puisi yang mampu mewakili puisi lainnya.

3.4 Responden

Data yang dibutuhkan untuk mendukung penelitian ini diperoleh dari responden. Responden adalah orang yang memberikan reaksi, tanggapan atau penilaian. Dalam hal ini penelitian terhadap antologi puisi Suara Peri dan Mimpi melibatkan dua puluh responden dan masing-masing responden akan memberikan interpretasi terhadap puisi tersebut. Responden dalam penelitian ini yaitu mahasiswa stambuk 2011 Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu dengan mengedarkan angket kepada para responden yaitu mahasiswa Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

(5)

Teks puisi memiliki dua struktur yaitu struktur fisik dan struktur batin. Dalam pertanyaan yang akan dibagikan kepada responden, peneliti akan menanyakan tentang kedua struktur puisi tersebut.

1.Struktur Fisik

Struktur fisik puisi dapat diuraikan dalam metode puisi, yakni unsur estetik yang membangun struktur luar dari puisi. Struktur fisik atau kebahasaan ini dapat dibagi menjadi beberapa unsur, antara lain: diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif (majas), verifikasi, dan tatawajah puisi. (Waluyo, 1987:71).

Diksi adalah pemilihan kata. Penyair sangat cermat dalam memilih kata-kata sebab kata-kata-kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata di dalam konteks lainnya, dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. (Waluyo, 1987:72).

Pengimajian adalah kata-kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Bait atau baris puisi itu seolah mengandung gema suara, benda yang tampak, atau sesuatu yang dapat kita rasakan, raba atau sentuh. (Waluyo, 1987:78).

(6)

Bahasa figuratif atau majas disebut juga sebagai bahasa kiasan. Majas dapat diartikan bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna (Waluyo, 1987:83).

Verifikasi berhubungan dengan unsur bunyi dalam puisi. Bunyi dalam puisi menghasilkan rima dan ritma. Rima dapat diartikan pula pengulangan bunyi secara langsung dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Mengenai ritma, akan sangat berhubungan dengan bunyi dan juga berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. (Waluyo, 1987:90).

Tatawajah merupakan unsur fisik sebuah puisi yang dapat kita lihat langsung bahkan tanpa perlu dibaca terlebih dahulu apalagi menafsirkannya lebih dulu. (Waluyo, 1987:103).

2. Struktur Batin

Struktur batin puisi mengungkapkan apa yang hendak dikemukakan oleh penyair dengan perasaan dan suasana jiwanya. (Waluyo, 1987: 102). Struktur batin puisi disebut juga dengan istilah hakikat puisi. Ada empat unsur struktur batin puisi, yakni tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada dan suasana, dan amanat (pesan).

(7)

Dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair lainnya, sehingga hasil puisi yang diciptakan berbeda pula. (Waluyo, 1987:121).

“Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sikap penyair kepada pembaca ini disebut nada puisi. Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. (Waluyo, 1987:125)."

Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi itu. Tujuan/ amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan. (Waluyo, 1987:130).

3.6 Teknik Analisis Data

Metode yang digunakan dalam menganalisis karya sastra adalah metode deskriptif. Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk teknik analisis data sebagai berikut:

(8)
(9)

BAB IV

NILAI ESTETIKA DALAM ANTOLOGI PUISI SUARA PERI DAN MIMPI KAJIAN RESEPSI SASTRA

Karya sastra pada umumnya mengandung nilai-nilai estetika. Estetika resepsi atau estetika tanggapan adalah estetika (ilmu keindahan) yang didasarkan pada tanggapan-tanggapan atau resepsi-resepsi pembaca terhadap karya sastra. (Pradopo, 2001:206). Tanggapan terhadap nilai-nilai estetika yang terkandung dalam sebuah karya sastra berbeda-beda antara pembaca yang satu dengan pembaca lainnya. Dalam hal ini, seorang pengarang sangat membutuhkan pengetahuan tentang estetika agar karyanya lebih indah di mata para pembaca dan lebih indah dirasakan para penikmat sastra.

(10)

pembangun sebuah karya sastra, yaitu berdasarkan struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik merupakan unsur pembangun puisi yang bersifat fisik dan tampak dalam bentuk susunan kata-katanya. Struktur batin merupakan unsur pambangun puisi yang tidak tampak langsung dalam penulisan kata-katanya.

4.1 Struktur Puisi Antologi Puisi Suara Peri dan Mimpi 4.1.1 Puisi 1 ”Soza Ceritalah”

yang bijak ceritalah kemana nyawa bergelut ceritalah . .,Angin ‘kan kurebus

Soza Soza

Tidur diabadikan atau mati. Bagikan aku kisah ini,

rebah. rebah. Rebahlah, api membakar api debu kepada debu

ceritalah ketika jalan menarikmu

ceritalah tentang tanah memanggil-manggil bagaimana nyawamu dibenamkan. . ., ceritalah. . .,

(11)

ceritalah padaku bagaimana aku mengakhiri tentang diri tentang sunyi tentang rindu tentang

cinta tentang hitam gelap malam tentang hidup tentang jiwa dan tentang perubahan diratakan bumi

di jalan mana kau titipkan kebesaran ini jalan mana , . .,

Soza Soza

Ceritalah kemana nyawa bergelut Angin ‘kan kurebus

Niat Syukur Telaumbanua

Menggunakan teori resepsi sastra yang melibatkan pembaca mahasiswa Sastra Indonesia stambuk 2011 untuk memberikan interpretasi terhadap puisi ”Soza Ceritalah” maka peneliti mendapatkan hasil seperti berikut.

Sebelas orang melihat dan menemukan nilai estetika di dalamnya dari struktur fisik. Sembilan orang melihat dan menemukan nilai estetika di dalamnya dari struktur batin.

Puisi ”Soza Ceritalah” dibangun dengan menggunakan struktur batin dan menjadikan feeling sebagai unsur dasar.

(12)

menjadikan nada dan suasana sebagai unsur dasar yang membangun puisi tersebut.

Berikut adalah responden yang melihat puisi ”Soza Ceritalah” dari struktur fisik. Lima orang menjadikan bahasa figuratif sebagai unsur dasar, empat orang menjadikan diksi, dan dua orang menjadikan pengimajian sebagai unsur dasar yang membangun puisi tersebut.

4.1.2 Puisi 2 ”Tragedi Penguasa” Tak ada lagi rasa dari yang kuasa tertinggal hanya kata dan bau sampah dalam serapah

Tada lagi asa setelah raksasa

sudah dulu kini merasa tak punya lebih perkasa

Tragedi penguasa

(13)

Menggunakan teori resepsi sastra yang melibatkan pembaca mahasiswa Sastra Indonesia stambuk 2011 untuk memberikan interpretasi terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” maka peneliti mendapatkan seperti berikut.

Enam orang melihat dan menemukan nilai estetika di dalamnya dari struktur fisik. Empat belas orang melihat dan menemukan nilai estetika di dalamnya dari struktur batin.

Puisi ”Tragedi Penguasa” dibangun dengan menggunakan struktur fisik dan menjadikan diksisebagai unsur dasar.

Berikut adalah responden yang melihat puisi ”Tragedi Penguasa” dari struktur batin. Tujuh orang menjadikan feeling sebagai unsur dasar dan tujuh orang menjadikan amanat sebagai unsur dasar yang membangun puisi tersebut.

Berikut adalah responden yang melihat puisi ”Tragedi Penguasa” dari struktur fisik. Tiga orang menjadikan bahasa figuratif sebagai unsur dasar, dua orang verifikasi, dan satu orang menjadikan kata konkret sebagai unsur dasar yang membangun puisi tersebut.

4.1.3 Puisi 3 ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak kukirim)” Mak, t’lah ku terima suratmu.

Dari pak pos yang linglung sebab tak tau dimana kamar kos muramku.

(14)

Mak, kalau kabar yang kau pertanyakan. Sungguh aku dalam keadaan baik saja. Tapi, aku masih penyair yang membuali kata, Meluapkan asa dari balik kekuatan jiwa.

Sungguh, tak perlu emak ceritakan betapa rindunya emak dengan anakmu ini. Bukan maksud hati mak, tapi kerinduan ini hanya akan meluap di angan-angan. Maka cukuplah emak pandangi wajahku dalam fatamorgana, keremangan kisah hidup kita.

Sungguh mak, masih teringat jelas tatapmu yang memendam harap dari balik kelopak mata sayumu.

Sungguh mak, tak ku lupa lambaian tangan ringkihmu mengiringi kepergianku dengan senyum kegetiran yang terus coba kau sembunyikan.

Jalan ini t’lah aku tempuh dengan atau tanpa senyum dari bibirmu. Sabarlah, kelak...

Ah...sudahlah mak, titip salam buat Aek dan Cici. Juga Bapak. Tapi, sungguh mak, jangan bilang dulu ke mereka kalau aku memilih jadi penyair.

(15)

Menggunakan teori resepsi sastra yang melibatkan pembaca mahasiswa Sastra Indonesia stambuk 2011 untuk memberikan interpretasi terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak kukirim)” maka peneliti mendapatkan hasil seperti berikut. Dua puluh orang melihat dan menemukan nilai estetika di dalamnya dari struktur batin.

Puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak kukirim)” dibangun dengan menggunakan struktur batin dan menjadikan nada dan suasana sebagai unsur dasar.

Berikut adalah responden yang melihat puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak kukirim)” dari struktur batin. Tujuh belas orang menjadikan feeling sebagai unsur dasar dan tiga orang menjadikan amanat sebagai unsur dasar yang membangun puisi tersebut.

4.1.4 Puisi 4 ”Buat Yang Namanya Manusia” Sakitmu bukan mati

Tidurmu bukan diam dan

Diammu bukan malam.

Semuanya bermula saat kau bernafas

dan akan berakhir sampai degupan nadi terakhirmu berhenti.

(16)

Kalu tak ada perjuangan

Mengeluh hanya milik pecundang, sampah! Buta saja kalau tak berani menatap silaunya pagi Lari, sembunyi jika tak ingin terpanggang matahari Teriklah...

”Aku masih belum akan mati

Sampai mentari tak lagi terbit dari penghujung timur”

Menggunakan teori resepsi sastra yang melibatkan pembaca mahasiswa Sastra Indonesia stambuk 2011 untuk memberikan interpretasi terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” maka peneliti mendapatkan hasil seperti berikut. Delapan belas orang melihat dan menemukan nilai estetika di dalamnya dari struktur batin dan dua orang melihat dan menemukan nilai estetika di dalamnya dari struktur fisik.

Puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” dibangun dengan menggunakan struktur batin dan menjadikan feeling sebagai unsur dasar.

Berikut adalah responden yang melihat puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” dari struktur batin. Sebelas orang menjadikan amanat sebagai unsur dasar, lima orang feeling, satu orang tema, dan satu orang menjadikan nada dan suasana sebagai unsur dasar yang membangun puisi tersebut.

(17)

satu orang menjadikan bahasa figuratif sebagai unsur dasar yang membangun puisi tersebut.

4.1.5 Puisi 5 ”busuk. busuk. busuk!!!”

Kita sedang tertindas oleh kebusukan:

busukhati.busukrasa.busukakhlak.busukmoral.busukmulut.busuk mata

busuktelinga.busuknurani!

busukbadan.busuksenyum.busukkarya.busukharta.busukkebaikan. busukidealis.busukreformis.busukcinta.busukperhatian.

busukjanjijanji.busukberagama.busukiman. busukatasnamarakyat!

busukkepala.busukcerita.busukmenolong.busukomongan. busuktindakan.busuk.busuk!!!

Ya!Ciumlah!,Busukbukan?

Penyair-pun ikut.jadi busuk.

Bicara tentang nurani- eh gak taunya busuk juga- Bicara akhlak- busuk juga –

(18)

Busuk.busuk.busuk!!!!

takutmiskin janganjadi penyair-supaya.takbusuk!--supaya tak melonte-

... sudah,

penguasanyabusuk. birokratnyabusuk. pendidikannyabusuk. kesejahteraannyabusuk.

ee.ee.ee penyairnya-pun-membusuk!

Bambang Riyanto

Menggunakan teori resepsi sastra yang melibatkan pembaca mahasiswa Sastra Indonesia stambuk 2011 untuk memberikan interpretasi terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” maka peneliti mendapatkan hasil seperti berikut. Sembilan orang melihat dan menemukan nilai estetika di dalamnya dari struktur fisik dan sebelas orang melihat dan menemukan nilai estetika di dalamnya dari struktur batin.

Puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” dibangun dengan menggunakan struktur fisik dan menjadikan verifikasisebagai unsur dasar.

(19)

Berikut adalah responden yang melihat puisi ”busuk. busuk. busuk.!!!” dari struktur fisik. Empat orang menjadikan diksi sebagai unsur dasar, tiga orang verifikasi, dan dua orang menjadikan bahasa figuratif sebagai unsur dasar yang membangun puisi tersebut.

4.2 Interpretasi Responden Terhadap Nilai Estetika Antologi Puisi Suara Peri dan Mimpi

4.2.1 Puisi 1 ”Soza Ceritalah”

Puisi ”Soza Ceritalah” bercerita tentang perasaaan penyair yang gamang menghadapi hari esok. Penyair menumpahkan rasa ketakutannya dalam lirik-lirik yang penuh kekhawatiran. Secara tersirat terlihat keputusasaan yang dialami penyair dan mencoba menemukan arti dari setiap tanda tanya yang memenuhi jiwanya.

Responden 1 : Elina

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Elina adalah tentang perasaan penyair yang takut akan kematian yang menjemputnya. Ketika maut memanggilnya, tidak mungkin ia bisa menolak panggilan yang Mahakuasa. Penyair menceritakan tentang bagaimana suasana kematian yang diketahuinya, karena kematian adalah hal yang pasti akan menjemput semua orang yang berada di bumi.

Responden 2 : Rano P Saragih

(20)

bagaimana rasanya kematian seseorang yang sangat dekat dengan dirinya sehingga penyair merasa sangat kehilangan.

Responden 3 : Meriah Kita Deliani Barus

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Meriah adalah tentang pemakaian kalimat yang sangat banyak dipenuhi dengan kata-kata yang khas atau gaya bahasa yang bagus.

Responden 4 : Jumpa Riama Tampubolon

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Jumpa Riama adalah tentang pemilihan kata (diksi) yang cukup baik yang dibuat oleh pengarang.

Responden 5 : Doni Syahputra

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Doni adalah tentang pemilihan kata (diksi) yang sangat tepat.

Responden 6 : Yudi A.P

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Yudi adalah tentang pemakaian majas atau gaya bahasa yang cukup menarik. Responden 7 : Aga Fransisko Ginting

(21)

Responden 8 : Royani Marbun

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Royani adalah puisi tersebut banyak menggunakan majas dan pengimajinasian pengarang serta perasaan pengarang tentang sesuatu yang ingin ia tegaskan.

Responden 9 : Riryn Afryani

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Riryn adalah tentang perasaan penyair yang takut menghadapi hari esok.

Responden 10 : Ratna N Saragih

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Ratna adalah tentang perasaan penyair yang khawatir dan takut menghadapi hari esok.

Responden 11 : Johandi Sinaga

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Johandi adalah tentang penggunaan bahasa kiasan atau majas yang tidak biasa. Responden 12 : Jefri F Ambarita

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Jefri adalah tentang perasaan penyair yang disampaikan penuh dengan kekhawatiran terhadap hari esok.

Responden 13 : Novra

(22)

Responden 14 : Mika

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Mika adalah tentang perasaan penyair yang ingin mengetahui jalan kehidupannya di hari esok. Penyair ingin tidak merasa bersalah ketika melakukan aktivitasnya dan ingin selalu berada di jalan yang benar.

Responden 15 : Ririn Handayani

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Ririn adalah tentang perasaan penyair yang mencoba mencari makna hidup dan ingin mempersiapkan diri untuk hidup mendatang.

Responden 16 : Ahmad Dermawan

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Ahmad adalah tentang penggunaan majas atau gaya bahasa yang bijak dan menyentuh.

Responden 17 : Yosafat

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Yosafat adalah tentang penggunaan bahasa figuratif yang cukup menarik.

Responden 18 : Devi Lusiana Siahaan

(23)

Responden 19 : Immanuel

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” menurut Immanuel adalah tentang pengimajian yang baik. Susunan kata-kata dalam puisi tersebut mengungkapkan pengalaman penyair.

Responden 20 : Natalia Simangunsong

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Soza Ceritalah” adalah tentang perasaaan penyair yang begitu khawatir akan dirinya.

4.2.2 Puisi 2 ”Trgedi Penguasa”

Puisi ”Tragedi Penguasa” menggunakan pemilihan kata yang tepat. Dalam puisi tersebut penyair sangat pandai dalam memilih kata-kata dan mempertimbangkan komposisi bunyi dalam rima dan irama.

Responden 1 : Elina

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Elina adalah sebuah amanat atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada masyarakat mengenai para penguasa negeri ini yang bertindak semena-mena. Akibat dari kelalaian penguasa maka rakyatlah yang menanggung kesusahannya.

Responden 2 : Rano P Saragih

(24)

Responden 3 : Meriah Kita Deliani Barus

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Meriah adalah amanat atau pesan yang disampaikan penyair tentang penguasa yang penuh janji palsu.

Responden 4 : Jumpa Riama Tampubolon

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Jumpa adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan pengarang mengenai sebuah janji yang sudah tidak ada artinya lagi.

Responden 5 : Doni Syahputra

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Doni adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair bahwa penguasa selalu menindas yang lemah.

Responden 6 : Yudi A.P

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Yudi adalah tentang verifikasi yang baik yang terdapat dalam puisi tersebut.

Responden 7 : Aga Fransisko Ginting

(25)

Responden 8 : Royani Marbun

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Royani adalah tentang perasaan penyair yang merasa kecewa terhadap pemerintahan.

Responden 9 : Riryn Afryani

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Riryn adalah tentang perasaan penyair yang kecewa terhadap penguasa-penguasa yang tidak menjalankan dan menepati janji-janjinya. Penyair menuangkan kekecewaannya dalam lirik-lirik yang penuh dengan kekecewaan. Responden 10 : Ratna N Saragih

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Ratna adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair tentang penguasa yang hanya dipenuhi janji-janji palsu. Setelah menduduki kursi pemerintahan mereka melupakannya.

Responden 11 : Johandi Sinaga

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Johandi adalah tentang pemakaian kata konkret yang baik. Penyair sangat pandai dalam mengkonkretkan kata-kata dalam puisi tersebut.

Responden 12 : Jefri F Ambarita

(26)

Responden 13 : Novra

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Novra adalah tentang penggunaan bahasa figuratif atau gaya bahasa yang menarik dan cukup baik.

Responden 14 : Mika

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Mika adalah tentang perasaan penyair yang kecewa terhadap sistem pemerintahan negara Indonesia yang tidak tepat janji.

Responden 15 : Ririn Handayani

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Ririn adalah tentang perasaan penyair yang bosan dan kecewa terhadap moral manusia yang tidak peduli terhadap negeri yang penuh dengan huru-hara, bencana, dan bualan.

Responden 16 : Ahmad Dermawan

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” adalah tentang perasaan penyair atau ungkapan emosi jiwa penyair yang tidak memahami jiwa-jiwa penguasa. Pengarang merasa prihatin dan menggambarkan kekecewaannya melalui puisi tersebut.

Responden 17 : Yosafat

(27)

Responden 18 : Devi Lusiana Siahaan

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Devi adalah tentang perasaan penyair yang marah dan kecewa terhadap para penguasa di negerinya.

Responden 19 : Immanuel

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Immanuel adalah tentang penggunaan verifikasi yaitu unsur bunyi dalam puisi tersebut sangat baik.

Responden 20 : Natalia Simangunsong

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Tragedi Penguasa” menurut Natalia adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair terhadap para penguasa yang semena-mena.

4.2.3 Puisi 3 ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)”

Puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” memiliki nada dan suasana yang cukup baik. Dalam puisi tersebut penyair bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca, tetapi suasana dalam puisi tersebut membuat pembaca merasa terharu.

Responden 1 : Elina

(28)

siap menjadi penyair karena terlihat dari liriknya dalam bait kelima bahwa anggota keluarganya janganlah dulu tahu kecuali emaknya sendiri.

Responden 2 : Rano P Saragih

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Rano adalah tentang perasaan penyair yang memendam rindu kepada ibunya dan bagaimana ia menjalani hidup dan apa tujuan hidup yang ia inginkan, namun tidak disampaikannya kepada ibunya yang kita tidak tahu apa sebabnya.

Responden 3 : Meriah Kita Deliani Barus

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Meriah adalah tentang perasaan penyair berupa cerita tentang isi hatinya yang ingin disampaikannya kepada ibunya, namun tidak disampaikannya.

Responden 4 : Jumpa Riama Tampubolon

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Jumpa adalah tentang perasaan penyair yaitu rindu yang tidak tersampaikan kepada orangtuanya.

Responden 5 : Doni Syahputra

(29)

Responden 6 : Yudi A.P

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Yudi adalah tentang perasaan penyair yang begitu rindu kepada ibunya.

Responden 7 : Aga Fransisko Ginting

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Aga adalah tentang perasaan penyair yang memendam rasa rindunya kepada keluarganya.

Responden 8 : Royani Marbun

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Royani adalah tentang perasaan penyair yang merasa sedih karena rindu kepada keluarganya.

Responden 9 : Riryn Afryani

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Riryn adalah tentang perasaan penyair yang rindu kepada keluarganya dan menuangkan perasaan rindunya dalam lirik-lirik yang penuh dengan kerinduan.

Responden 10 : Ratna N Saragih

(30)

Responden 11 : Johandi Sinaga

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Johandi adalah tentang perasaan penyair yang merindukan ibunya dan hanya mengungkapkannya dengan kata-kata.

Responden 12 : Jefri F Ambarita

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Jefri adalah tentang perasaan penyair yang merasakan kerinduan yang luar biasa terhadap seseorang yang tak sampai.

Responden 13 : Novra

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Novra adalah tentang rasa bersalah terhadap keluarganya karena tidak dapat memberikan keadaan dirinya kepada keluarganya. Responden 14 : Mika

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Mika adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan oleh penyair yaitu tentang pilihan terhadap profesi hidup.

Responden 15 : Ririn Handayani

(31)

Responden 16 : Ahmad Dermawan

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Ahmad adalah tentang perasaan penyair yaitu kerinduan terhadap ibunya.

Responden 17 : Yosafat

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi “Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Yosafat adalah tentang perasaan penyair yaitu perasaan bersalah terhadap dirinya.

Responden 18 : Devi Lusiana Siahaan

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Devi adalah tentang perasaan penyair yang sangat rindu terhadap orangtuanya.

Responden 19 : Immanuel

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Surat Balasan Untuk Emak (yang tak ku kirim)” menurut Immanuel adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu tentang pilihan hidup.

Responden 20 : Natalia Simangunsong

(32)

4.2.4 Puisi 4 ”Buat Yang Namanya Manusia”

Puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” bercerita tentang perasaan penyair yang kecewa dan secara langsung mengungkapkan rasa kekecewaannya tersebut dengan sindiran lewat kata-kata yang terdapat dalam puisinya tersebut.

Responden 1 : Elina

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Elina adalah bagaimana penyair mengambil tema yaitu ”manusia dan kelakuannya” serta memberikan contoh bagaimana manusia itu harus berjuang menghadapi hidup dan nasib.

Responden 2 : Rano P Saragih

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Rano adalah tentang perasaan penyair yaitu bagaimana penyair menyemangati dirinya sendiri dengan kata-katanya.

Responden 3 : Meriah Kita Deliani Barus

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Meriah adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair bahwa mengeluh itu hanya milik pecundang.

Responden 4 : Jumpa Riama Tampubolon

(33)

Responden 5 : Doni Syahputra

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Doni adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu jangan pernah menyerah dalm menghadapi segala halangan dan rintangan yang ada.

Responden 6 : Yudi A.P

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Yudi adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan pengarang yaitu jangan pernah mengeluh dan jangan pernah menyerah.

Responden 7 : Aga Fransisko Ginting

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Aga adalah tentang perasaan penyair yang merasa tersakiti hatinya secara mendalam.

Responden 8 : Royani Marbun

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Royani adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu harus tetap semangat dan berjuang tanpa menyerah.

Responden 9 : Riryn Afryani

(34)

Responden 10 : Ratna N Saragih

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Ratna adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu pentingnya suatu perjuangan dalam hidup dan jangan pernah lari dari kenyataan.

Responden 11 : Johandi Sinaga

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Johandi adalah tentang perasaan penyair yang ingin berjuang bukan hanya sekali, tetapi akan terus berjuang.

Responden 12 : Jefri F Ambarita

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Jefri adalah tentang amanat atau pesan yang ingin disampaikan penyair yaitu agar tidak patah semangat dalam menghadapi kerasnya hidup ini. Responden 13 : Novra

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Novra adalah tentang bahasa figuratif atau gaya bahasa yang cukup baik dan menarik.

Responden 14 : Mika

(35)

Responden 15 : Ririn Handayani

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Ririn adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu agar kita tidak kenal putus asa dalam memperjuangkan hidup.

Responden 16 : Ahmad Dermawan

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Ahmad adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu tentang semangat seseorang yang tidak mau pasrah dalam menjalani hidup.

Responden 17 : Yosafat

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Yosafat adalah tentang pemilihan kata (diksi) yang baik dan menarik.

Responden 18 : Devi Lusiana Siahaan

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Devi adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu supaya jangan pernah menyerah.

Responden 19 : Immanuel

(36)

Responden 20 : Natalia Simangunsong

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” menurut Natalia adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu jangan pernah mengeluh dan jangan pernah menyerah.

4.2.5 Puisi 5 ”busuk. busuk. busuk!!!”

Puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” memiliki verifikasi yang menghasilkan rima dan ritma yang indah. Dalam puisi tersebut terlihat jelas pengulangan kata yang membentuk sebuah musikalitas dan menjadikan puisi tersebut menjadi indah.

Responden 1 : Elina

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Elina adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu penyair memberitahukan bahwa hampir semua masyarakat sudah mulai busuk. Responden 2 : Rano P Saragih

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Rano adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu bahwa negara ini sudah menjadi busuk karena penguasa negarapun busuk.

Responden 3 : Meriah Kita Deliani Barus

(37)

Responden 4 : Jumpa Riama Tampubolon

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Jumpa adalah tentang pemilihan kata (diksi) yang tepat. Penyair sangat pandai dalam memilih kata-katanya.

Responden 5 : Doni Syahputra

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Doni adalah tentang perasaan penyair yang menganggap segala sesuatunya itu busuk.

Responden 6 : Yudi A.P

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Yudi adalah tentang pemilihan kata (diksi) yang baik. Puisi tersebut menggunakan diksi yang menarik.

Responden 7 : Aga Fransisko Ginting

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Aga adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu tentang mulut seseorang yang sangat tidak bisa dipercayai omongannya.

Responden 8 : Royani Marbun

(38)

Responden 9 : Riryn Afryani

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Riryn adalah tentang verifikasi. Penyair menuangkan pengalamannya lewat verifikasi yang menghasilkan ritma yang berhubungan dengan pengulangan bunyi

Responden 10 : Ratna N Saragih

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Ratna adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair. Penyair mencoba memperhatikan keadaan yang ada di negara ini yang dipenuhi oleh kebusukan dan tidak ada yang tidak busuk.

Responden 11 : Johandi Sinaga

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Johandi adalah tentang verifikasi. Dalam puisi tersebut terdapat unsur bunyi yang sangat baik.

Responden 12 : Jefri F Ambarita

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Jefri adalah tentang pemilihan kata ( diksi). Penyair sangat pandai dalam membuat pemilihan kata sehingga puisinya menjadi indah.

Responden 13 : Novra

(39)

Responden 14 : Mika

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Mika adalah tentang nada. Penyair yang bersikap lugas terhadap sikap manusia dari segala sudut. Baik dari sudut profesi maupun perilaku. Penyair dengan lugas mengatakan sikap manusia itu busuk.

Responden 15 : Ririn Handayani

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Ririn adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan pengarang yaitu mengenai moral koruptor yang bobrok mencerminkan kebusukan mental manusia saat ini.

Responden 16 : Ahmad Dermawan

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Ahmad adalah tentang amanat atau pesan yang disampaikan penyair yaitu tentang moral manusia saat ini yang dipenuhi dengan kebusukan.

Responden 17 : Yosafat

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Yosafat adalah tentang penggunaaan bahasa figuratif yang cukup baik. Responden 18 : Devi Lusiana Siahaan

(40)

Responden 19 : Immanuel

Interpretasi tentang nilai estetika terhadap puisi ”busuk. busuk. busuk!!!” menurut Immanuel adalah tentang verifikasi. Dalam puisi tersebut terdapat unsur bunyi yang baik dan menarik.

Responden 20 : Natalia Simangunsong

(41)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Telah dilakukan penelitian terhadap Antologi Puisi Suara Peri dan Mimpi menggunakan kajian resepsi sastra. Dapat diambil kesimpulan seperti berikut ini. a. Struktur Fisik dan Batin

1. Struktur Fisik

Diksi, pengimajian, bahasa figuratif, verifikasi, dan kata konkret merupakan unsur struktur fisik yang dijadikan alasan oleh responden yang memilih struktur fisik sebagai unsur dasar yang membangun puisi tersebut. 2. Struktur Batin

Amanat, nada dan suasana, tema, dan feeling merupakan unsur struktur batin yang dijadikan alasan oleh responden yang memilih struktur batin sebagai unsur dasar yang membangun puisi tersebut.

b. Interpretasi Responden

(42)

menyerah adalah amanat yang disampaikan penyair dalam puisi ”Buat Yang Namanya Manusia” dan itulah yang menjadi unsur nilai estetika dalam puisi tersebut. Manusia sedang ditindas oleh kebusukan adalah amanat yang disampaikan penyair dalam puisi ”busuk. busuk. busuk.!!!” dan itulah yang menjadi unsur nilai estetika dalam puisi tersebut.

5.2 Saran

(43)

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, dkk, 2003:588). Konsep-konsep yang dipakai di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

2.1.1 Antologi

Antologi merupakan kumpulan karya tulis pilihan dari seseorang atau beberapa orang pengarang. Semua karya tulis yang terdapat di dalam antologi jelaslah merupakan karya-karya pilihan dari seorang pengarang.

2.1.2 Puisi

Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. (Waluyo, 1991:25).

2.1.3 Antologi Puisi

(44)

merupakan karya-karya pilihan dari seorang pengarang. Sebuah karya dikatakan baik jika karya tersebut mampu mencapai sebuah pencapaian estetika, diksi, dan gaya bahasa. Antologi puisi Suara Peri dan Mimpi merupakan antologi puisi HMJ Bahasa dan Sastra Indonesia Sumatera Utara yang diterbitkan pada tahun 2009. Antologi puisi tersebut merupakan hasil karya mahasiswa-mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia se-Sumatera Utara, termasuk jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara.

2.1.4 Resepsi Sastra

Resepsi sastra merupakan penelitian teks sastra dengan bertitik tolak pada pembaca yang memberi reaksi atau tanggapan terhadap teks itu. Karya sastra tidak sama pembacaan, pemahaman, dan penilaiannya sepanjang masa atau dalam seluruh golongan masyarakat tertentu (Pradopo, 2001:117). Ini adalah fakta yang diketahui oleh setiap orang yang sadar akan keragaman interpretasi yang diberikan kepada karya sastra.

2.2 Landasan Teori

(45)

2.2.1 Estetika Resepsi

Dalam estetika resepsi peran pembaca sangat menonjol. Pembaca berperan aktif dalam memberikan tanggapan atau mengiterpretasi sebuah karya sastra. Pradopo (2001:207) mengatakan bahwa setiap orang akan berbeda dalam menanggapi sebuah karya sastra. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori estetika resepsi dalam mengkaji antologi puisi Suara Peri dan Mimpi. Dalam teori estetika resepsi, yang menjadi perhatian utama adalah pembaca karya sastra di antara jalinan segitiga pengarang, karya sastra, dan masyarakat pembaca. (Jauss, 1974:12). Hal ini disebabkan bahwa kehidupan historis sebuah karya sastra tidak terpikirkan tanpa partisipasi para pembacanya. Pembaca itu mempunyai peranan aktif, bahkan merupakan kekuatan pembentuk sejarah. (Jauss,1974:12).

Metode estetika resepsi mendasarkan diri pada teori bahwa karya sastra itu sejak terbitnya selalu mendapat resepsi atau tanggapan para pembacanya. Menurut Jauss (1974:12) apresiasi pembaca pertama terhadap sebuah karya sastra akan dilanjutkan dan diperkaya melalui tanggapan-tanggapan yang lebih lanjut dari generasi ke generasi. Dengan cara ini maka historis karya sastra akan ditentukan dan nilai estetikanya tertungkap. (Jauss, 1974:14).

(46)

waktu. Namun, harus diingat bahwa dalam satu kurun waktu itu biasanya ada norma-norma yang sama dalam memahami karya sastra. Akan tetapi, karena tiap-tiap orang itu mempunyai cakrawala harapan sendiri, berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, bahkan juga ideologinya, maka mereka akan menanggapi sebuah karya sastra secara berbeda-beda. Misalnya saja, tanggapan pembaca yang berpaham “seni untuk seni” akan berbeda dengan tanggapan pembaca yang berpaham “seni untuk masyarakat”.

Untuk mengetahui tanggapan-tanggapan yang bermacam-macam itu, dapat dikumpulkan tanggapan-tanggapan pembaca yang menulis (kritikus) ataupun dapat dilakukan dengan mengedarkan angket kepada pembaca-pembaca sekurun waktu. Dari hasil angket yang diedarkan itu, dapat diteliti konkretisasi dari masing-masing pembaca. Dengan demikian dapat disimpulkan bagaimana nilai sebuah karya sastra itu pada suatu kurun waktu.

(47)

2.2.2 Interpretasi Sastra

Interpretasi adalah pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoretis terhadap sesuatu. Interpretasi sering juga disebut sebagai suatu bentuk penafsiran. Maka interpretasi sastra adalah pemberian kesan, pendapat, atau pandangan terhadap suatu karya sastra. Dari dahulu sampai sekarang karya sastra itu selalu mendapat tanggapan-tanggapan atau interpretasi-interpretasi pembaca, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama atau secara massal. (Pradopo, 2001:206).

Seorang dengan yang lain itu akan berbeda dalam menginterpretasi sebuah karya sastra. Begitu juga, tiap periode itu berbeda dengan periode lain dalam menginterpretasikan sebuah karya sastra. Menurut Pradopo (2001: 207) hal ini disebabkan oleh perbedaan cakrawala harapannya. Cakrawala harapan ini ialah harapan-harapan seorang pembaca terhadap karya sastra.

2.3 Tinjauan Pustaka

Tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan, dan pendapat (sesudah menyelidiki atau mempelajari). Pustaka adalah kitab, buku, buku primbon. (Alwi, dkk, 2003:912).

(48)

visual dan lapis makna) dari puisi yang terdapat dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi. Selain membahas struktur pembangun puisi, skripsi tersebut juga membahas bentuk pengungkapan ekspresi pada puisi yang terdapat dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi.

(49)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Karya sastra merupakan gambaran dari kehidupan sosial masyarakat. Karya sastra diciptakan oleh para sastrawan untuk dapat dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan masyarakat. Teew (1988:23) mengatakan bahwa sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Karya sastra diciptakan pengarang berdasarkan pengalaman yang dialaminya sendiri atau pengalaman yang dialami oleh orang lain di dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian dituangkannya ke dalam sebuah karya sastra.

Karya sastra di samping sebagai alat untuk menghibur juga digunakan sebagai alat untuk pendidikan. Menurut Panuti Sudjiman (1988:12) motivasi membaca karya sastra ada tiga, yakni sebagai pengisi waktu, sebagai hiburan, dan untuk mencari pengalaman baru. Karya sastra mengandung nilai-nilai estetika. Tanggapan terhadap nilai-nilai estetika yang terkandung dalam sebuah karya sastra berbeda-beda antara pembaca yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini, seorang pengarang sangat membutuhkan pengetahuan tentang estetika agar karyanya lebih indah di mata para pembaca dan lebih enak dirasakan para penikmat sastra.

(50)

secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya. (Waluyo, 1991:25).

Berbagai aspek kehidupan masyarakat yang mengungkapkan berbagai perasaan di dalamnya misalnya latar belakang kehidupan masyarakat menjadi dasar dalam pencitaan sebuah puisi. Pengarang dapat menimbulkan respon emosi yang dapat berasal dari diri pengarang sendiri, tetapi bisa juga dari pembaca berupa kekecewaan, kemarahan dan sebagainya yang merupakan penilaian pembaca terhadap cerita yang dibuat oleh pengarang.

Ada beberapa karya sastra yang dikumpulkan kemudian dibuat menjadi sebuah buku yang dinamakan antologi. Antologi merupakan kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang. Salah satu jenis karya sastra yang sering dibuat menjadi sebuah antologi adalah puisi.

Antologi puisi Suara Peri dan Mimpi adalah antologi puisi HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Bahasa dan Sastra Indonesia Sumatera Utara yang diterbitkan pada 2009. HMJ Bahasa dan Sastra Indonesia Sumatera Utara merupakan perhimpunan dari mahasiswa - mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang berada di Sumatera Utara.

(51)

memasuki dunia metafisika, dunia gaib dan dunia imajinasi yang mistis, yang butuh perenungan untuk dimaknai atau diapresiasi.

Banyak puisi yang terdapat dalam antologi ini yang harus dibaca untuk diberi tanggapan (penilaian). Penilaian ini untuk melihat sejauh mana para penulis mampu menyerap pengetahuan tentang proses dan teknik penciptaan puisi. Khususnya hal-hal yang memungkinkan adanya warna baru baik dalam bentuk maupun gaya perpuisian masa kini. Selanjutnya, sebuah penelitian terhadap teks sastra yang menjadikan pembaca sebagai pusat (inti) dalam memberikan reaksi atau tanggapan terhadap teks sastra itu sendiri dikenal dengan resepsi sastra. Karya sastra tidak sama pembacaan, pemahaman, dan penilaiannya sepanjang masa atau dalam seluruh golongan masyarakat tertentu. (Pradopo, 2001:117). Ini adalah fakta yang diketahui oleh setiap orang yang sadar akan keragaman interpretasi yang diberikan kepada karya sastra.

(52)

1.2 Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(1) Bagaimanakah struktur yang membangun puisi yang terdapat dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi?

(2) Bagaimanakah nilai estetika serta interpretasi responden terhadap antologi puisi Suara Peri dan Mimpi?

1.3 Batasan Masalah

Sebuah penelitian sangat membutuhkan batasan masalah agar penelitian tersebut terarah dan tidak terlalu luas sehingga tujuan penelitian dapat tercapai. Adapun yang menjadi batasan masalah dalam penelitian ini yaitu hanya menganalisis nilai estetika serta hasil interpretasi responden terhadap puisi yang terdapat dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi dan menganalisis struktur yang membangun puisi tersebut.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang dirumuskan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut

(53)

(2) Untuk mendeskripsikan nilai estetika serta interpretasi responden terhadap puisi yang terdapat dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi.

1.4.2 Manfaat Penelitian

Penelitian tentunya harus memberikan manfaat kepada pembaca. Adapun manfaat yang diharapkan peneliti adalah:

1. Menjadi acuan pembaca dalam memahami struktur yang membangun sebuah puisi.

(54)

ABSTRAK

NILAI ESTETIKA DALAM ANTOLOGI PUISI SUARA PERI DAN MIMPI KAJIAN RESEPSI SASTRA

NICOLAUS HUTAJULU Fakultas Ilmu Budaya USU

Penelitian ini dilandasi pemikiran bahwa pada dasarnya semua karya sastra termasuk puisi memiliki nilai estetika tersendiri dan masing-masing orang pasti akan berbeda dalam memberikan interpretasi atau tanggapan terhadap suatu karya .Penelitin ini dimaksudkan untuk melihat cara pandang mahasiswa Departemen Sastra Indonesia USU khususnya stambuk 2011 dalam melihat nilai-nilai estetika yang terkandung di dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi. Cara pandang mahasiswa stambuk 2011 Departemen Sastra Indonesia yang sekaligus dijadikan responden selanjutnya diberi ruang dalam penelitian ini untuk menerapkan teori resepsi sastra terhadap antologi puisi Suara Peri dan Mimpi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai estetika yang terkandung dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi terbentuk pada ruang yang berbeda yaitu struktur fisik dan struktur batin.

(55)

NILAI ESTETIKA DALAM ANTOLOGI PUISI

SUARA PERI DAN MIMPI KAJIAN RESEPSI SASTRA

SKRIPSI

OLEH:

NICOLAUS HUTAJULU

080701023

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

(56)

NILAI ESTETIKA DALAM ANTOLOGI PUISI

SUARA PERI DAN MIMPI KAJIAN RESEPSI SASTRA

Oleh : NICOLAUS H

080701023

Skripsi ini diajukan untuk melengkapi persyaratan memperoleh gelar sarjana sastra dan telah disetujui oleh:

Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs. Isma Tantawi, M.A. Dra. Keristiana, M.Hum.

NIP. 19600207 198601 1 001 NIP. 19610610 198601 2 001

Departemen Sastra Indonesia Ketua,

(57)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini tidak pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana di perguruan tinggi. Sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis maupun diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dijadikan sebagai sumber referensi pada skripsi ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya buat ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang saya peroleh.

Medan, Oktober 2014

(58)

ABSTRAK

NILAI ESTETIKA DALAM ANTOLOGI PUISI SUARA PERI DAN MIMPI KAJIAN RESEPSI SASTRA

NICOLAUS HUTAJULU Fakultas Ilmu Budaya USU

Penelitian ini dilandasi pemikiran bahwa pada dasarnya semua karya sastra termasuk puisi memiliki nilai estetika tersendiri dan masing-masing orang pasti akan berbeda dalam memberikan interpretasi atau tanggapan terhadap suatu karya .Penelitin ini dimaksudkan untuk melihat cara pandang mahasiswa Departemen Sastra Indonesia USU khususnya stambuk 2011 dalam melihat nilai-nilai estetika yang terkandung di dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi. Cara pandang mahasiswa stambuk 2011 Departemen Sastra Indonesia yang sekaligus dijadikan responden selanjutnya diberi ruang dalam penelitian ini untuk menerapkan teori resepsi sastra terhadap antologi puisi Suara Peri dan Mimpi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai estetika yang terkandung dalam antologi puisi Suara Peri dan Mimpi terbentuk pada ruang yang berbeda yaitu struktur fisik dan struktur batin.

(59)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Nilai Estetika dalam Antologi Puisi Suara Peri dan Mimpi Kajian Resepsi Sastra. Proses dari awal sampai akhir penulisan skripsi ini sangat banyak kesulitan yang penulis alami, namun berkat saran dan dukungan dari semua pihak, semua hambatan dapat penulis atasi. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Rektor dan Pembantu Rektor Universitas Sumatera Utara, Medan. Terima kasih atas kesempatan dan fasilitas-fasilitas yang telah penulis gunakan selama kuliah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Medan.

2. Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU, Medan. Terima kasih atas arahan dan bimbingan yang Bapak berikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, USU, Medan.

(60)

dengan sungguh-sungguh, sehingga penulis dapat memahami proses penelitian dari awal sampai akhir.

5. Staf pengajar di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumateara Utara, yang telah memberi pengajaran dan pengetahuan selama menjalankan perkuliahan.

6. Kedua orang tua saya Joni Martin Hutajulu dan Animar Nababan. Terima kasih atas semua usaha dan doa, sehingga saya dapat menyelesaikan perkuliahan di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, USU, Medan.

7. Semua pihak yang pernah membantu penulis. Terima kasih untuk segala bentuk bantuannya. Walau tidak saya sebutkan namanya satu per satu, namun penulis tetap mengenangnya sampai akhir hayat.

Dalam usaha pengumpulan dan pengolahan data serta penulisan skripsi ini, penulis telah berusaha dengan sunguh-sungguh. Namun demikian, jika ada kekurangan dan kelemahan, penulis bersedia menerima saran yang bersifat membina, demi sikap ilmiah dan perbaikan bagi penulis pada masa mendatang.

Medan, 13 Oktober 2014 Penulis,

(61)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

PERNYATAAN ... ii

1.4.1 TujuanPenelitian ... 4

1.4.2 ManfaatPenelitian ... 5

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Konsep ... 6

2.1.1 Antologi ... 6

2.1.2 Puisi ... 6

2.1.3 Antologi Puisi ... 6

2.1.4 Resepsi Sastra ... 7

2.2 LandasanTeori ... 7

2.2.1 Estetika Resepsi ... 8

2.2.2 Interpretasi Sastra ... 10

2.3 Tinjauan Pustaka ... 11

BAB III METODE PENELITIAN ... 12

(62)

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 13

3.2.1 Lokasi Penelitian ... 13

3.2.2 Waktu penelitian ... 13

3.3Populasi dan Sampel ... 13

3.3.1 Populasi ... 13

3.3.2 Sampel ... 13

3.4 Responden ... 14

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 14

3.6 Teknik Analisis Data ... 17

BAB IV PEMBAHASAN ... 19

4.1 StrukturPuisiAntologiPuisiSuaraPeridanMimpi ... 19

4.1.1 Puisi 1 “SozaCeritalah” ... 19

4.1.2 Puisi 2 “TragediPenguasa” ... 24

4.1.3 Puisi 3 “SuratBalasanUntukEmak (yang takkukirim)” ... 28

4.1.4 Puisi 4 “Buat Yang NamanyaManusia” ... 33

4.1.5 Puisi 5 “busuk.busuk.busuk!!!” ... 37

4.2 InterpretasiResponden ... 42

4.2.1 Puisi 1 “SozaCeritalah” ... 42

4.2.2 Puisi 2 “TragediPenguasa” ... 46

4.2.3 Puisi 3 “SuratBalasanUntukEmak (yang takkukirim) ... 50

4.2.4 Puisi 4 “Buat Yang NamanyaManusia” ... 55

4.2.5 Puisi 5 “busuk.busuk.busuk!!!” ... 59

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 63

5.1 Simpulan ... 63

5.1.1 StrukturPembangunAntologiPuisiSuaraPeridanMimpi ... 63

5.1.1.1 Puisi “SozaCeritalah” ... 63

5.1.1.2 Puisi “TragediPenguasa” ... 63

5.1.1.3 Puisi “SuratBalasanUntukEmak (yang takkukirim)” ... 64

(63)

5.1.1.5 Puisi “busuk.busuk.busuk!!!” ... 65

5.1.2 InterpretasiResponden ... 65

5.1.2.1 Puisi “SozaCeritalah” ... 65

5.1.2.2 Puisi “TragediPenguasa” ... 66

5.1.2.3 Puisi “SuratBalasanUntukEmak (yangtakkukirim) ... 66

5.1.2.4 Puisi “Buat Yang NamanyaManusia” ... 67

5.1.2.5 Puisi “busuk.busuk.busuk.busuk!!!” ... 67

5.2 Saran ... 67

Referensi

Dokumen terkait

ESTETIKA DAN ATAVISME PANTUN DALAM PUISI INDONESIA MODERN SERTA PEMANFAATANNYA SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA Universitas Pendidikan Indonesia |

aspek diksi, majas, rima, ritma, tema, penginraan, perasaan, nada dan suasana, serta amanat maupun nilai karakter yang terkandung dalam puisi. aspek diksi, majas,

Sumber data dalam penelitian ini adalah buku antalogi puisi 99 Untuk Tuhanku karya Emha Ainun Nadjib, yang teknik pengabilan datanya dengan teknik sempling

Yusuf Candra Tri R. ASPEK RELIGIUS DALAM ANTOLOGI PUISI 99 UNTUK TUHANKU KARYA EMHA AINUN NADJIB: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR

yang senantiasa memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Aspek Religi dalam kumpulan puisi Antologi

Meninjau analisis singkat tentang penggalan-penggalan puisi di beberapa bab dalam buku Jakarta Estetika Banal, dapat disimpulkan bahwa setiap penggalan puisi memiliki

Karya ini berjudul “Estetika dan Atavisme Pantun dalam Puisi Indonesia Modern dan Pemanfaatannya Sebagai Alternatif Bahan Pengajaran Sastra di SMA” yang mengangkat

Dalam antologi puisi Celana yang diterbitkan pada tahun 1999, penyair menggunakan repetisi sebanyak 30 kali dalam berbagai bentuk dan yang tidak digunakan adalah