Hak Dan Asasi dan Manusia

25 

Teks penuh

(1)

Hak Asasi Manusia

Sejak tahun 1998, isu mengenai HAM berkembang dengan pesat dan seringkali menjadi objek kajian dan penelitian di berbagai perguruan tinggi dan lembaga-lembaga lainnya. Kajian dan penelitian HAM senantiasa pnting dilakukan mengngat materi HAM ini akan menjadi materi yang diajarkan diseluruh tingkat pendidikan formal di Indonesia.

A. Pengertian HAM

Menurut Teaching Human Rights yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Hak hidup, misalnya, adalah klaim untuk memperoleh dan melakukan segala sesuatu yang dapat membuat seseorang tetap hidup. Tanpa hak tersebut eksistensinya sebagai manusia akan hilang.1

Pernyataan awal Hak Asasi Manusia (HAM) yang dikemukakan oleh John Locke, Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai sesuatu yang bersifat kodrati. Karena sifatnya yang demikian, maka tidak ada kekuasaan apa pun di dunia yang dapat mencabut hak asasi setiap manusia. Menurut Prof.Miriam Budiardjo Hak Asasi Manusia adalah hak yang dimiliki manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahiran atau kehadirannya di dalam kehidupan masyarakat.2

Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak-hak yang bersifat mendasar dan inheren dengan jati diri manusia secara universal.

Hak Asasi Manusia ini tertuang dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Menurut UU ini, Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum,

1 A.Ubaedillah dan Abdul Rozak, Pancasila, Demokrasi, HAM Dan Masyarakat Madani,

Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2011, hlm.110

2 Prof.Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,

(2)

pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

B. Perkembangan HAM di Eropa

1. Sebelum Deklarasi Universal HAM 1948

Para ahli HAM menyatakan bahwa sejarah HAM bermula dari kawasan Eropa. Sebagian mengatakan jauh sebelum peradaban Eropa muncul, HAM telah populer di masa kejayaan Islam. Wacana awal HAM di Eropa dimulai dengan lahirnya Magna Charta yang membatasi kekuasaan absolut para penguasa atau raja-raja. Kekuasaan absolut raja, seperti menciptakan hukum tetapi tidak terikat dengan peraturan yang mereka buat, menjadi dibatasi dan kekuasaan mereka harus dipertanggungjawabkan secara hukum. Sejak lahirnya Magna Charta pada tahun 1215, raja yang melanggar aturan kekuasaan harus diadili dan mempertanggungjawabkan kebijakan pemerintahannya di hadapan parlemen.

Lahirnya Magna Charta merupakan cikal bakal lahirnya monarki konstitusional. Keterikatan penguasa dengan hukum dapat dilihat pada pasal 21 Magna Charta yang menyatakan bahwa “para Pangeran dan Baron dihukum atau didenda berdasarkan atas kesamaan, dan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukannya.” Sedangkan pada pasal 40 ditegaskan bahwa “tak seorang pun menghendaki kita mengingkari atau menunda tegaknya hak atau keadilan.”3

Empat abad kemudian, tepatnya pada 1689, lahir Undang-Undang Hak Asasi Manusia (HAM) di Inggris. Pada masa itu pula muncul istilah equality before the law, kesetaraan manusia di muka hukum. Menurut Bill of Rights, asas persamaan manusia di hadapan hukum harus diwujudkan betapa pun berat rintangan yang dihadapi, karena tanpa hak persamaan maka hak kebebasan mustahi dapat terwujud. Untuk mewujudkan kebebasan yang bersendikan persamaan hak warga negara tersebut, lahirlah sejumlah istilah dan teori sosial yang identik dengan perkembangan dan karakter masyarakat Eropa, dan selanjutnya Amerika:

3 A.Ubaedillah dan Abdul Rozak, Pancasila, Demokrasi, HAM Dan Masyarakat Madani,

(3)

kontrak sosial (J.J.Rousseau), trias politica (Montesquieu), teori hukum kodrati (John Locke), dan hak-hak dasar persamaan dan kebebasan (Thomas Jefferson).

Teori kontrak sosial adalah teori yang menyatakan bahwa hubungan antara penguasa (raja) dan rakyat didasari oleh sebuah kontrak yang ketentuan-ketentuannya mengikat kedua belah pihak.

Trias politica adalah teori tentang sistem politik yang membagi kekuasaan pemerintahan negara dalam tiga komponen: pemerintah (eksekutif), parlemen (legislatif), dan kekuasaan peradilan (yudikatif).

Teori hukum kodrati adalah teori yang menyatakan bahwa didalam masyarakat manusia ada hak-hak dasar manusia yang tidak dapat dilanggar oleh negara dan tidak diserahkan kepada negara.

Hak-hak dasar persamaan dan kebebasan adalah teori yang mengatakan bahwa semua manusia dilahirkan sama dan merdeka.

Perkembangan Hak Asasi Manusia (HAM) selanjutnya ditandai oleh munculnya wacana empat hak kebebasan manusia (the four freedoms) di Amerika Serikat pada 6 Januari 1941, yang diproklamirkan oleh Presiden Theodore Roosevelt. Keempat hak itu adalah: hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, hak kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran agama sesuai yang dipeluknya, hak bebas dari kemiskinan, dan hak bebas dari rasa takut.

Tiga tahun kemudian, dalam Konferensi Buruh Internasional di Philadelphia, Amerika Serikat, dihasilkan sebuah deklarasi HAM. Deklarasi Philadephia 1994 ini memuat pentingnya menciptakan perdamaian dunia berdasarkan keadilan sosial dan perlindungan seluruh manusia apa pun ras, kepercayaan, dan jenis kelaminnya. Deklarasi ini juga memuat prinsip HAM yang menyerukan jaminan setiap orang untuk mengejar pemenuhan kebutuhan material dan spiritual secara bebas dan bermartabat serta jaminan keamanan ekonomi dan kesempatan yang sama. Hak-hak tersebut kemudian dijadikan dasar perumusan Deklarasi Universal HAM (DUHAM) yang dikukuhkan oleh PBB dalam Universal Declaration of Human Rights (UDHR) pada tahun 1948.

(4)

Generasi pertama. Menurut generasi ini pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik. Dampak Perang Dunia II sangat mewarnai pemikiran generasi ini, dimana totalitersme dan munculnya keinginan negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan tertib hukum yang baru sangat kuat. Seperangkat hukum yang disepakati sangat sarat dengan hak-hak yuridis, seperti hak untuk hidup, hak untuk tidak menjadi budak, hak untuk tidak disiksa dan ditahan, hak kesamaan dan keadilan dalam proses hukum, hak praduga tidak bersalah, dan sebagainya.

Generasi kedua. Pada era ini pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis seperti yang dikampanyekan generasi pertama, tetapi juga menyeruakan hak-hak sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Pada generasi kedua ini lahir dua konvensi HAM Internasional di bidang ekonomi, sosial, dan budaya, serta konvensi bidang sipil dan hak-hak politik sipil (international covenant on economic, social, and cultural rights dan international covenant on civil and political rights). Kedua konvensi tersebut disepakati dalam sidang umum PBB 1996.

Generasi ketiga. Generasi ini menyerukan wacana kesatuan HAM antara hak ekonomi, sosial, budaya, politik, dan hukum dalam satu bagian integral yang dikenal dengan istilah hak-hak melaksanakan pembangunan (the rights of development), sebagaimana dinyatakan oleh Komisi Keadilan Internasional (International Comission of Justice). Pada era generasi ketiga ini peranan negara tampak begitu dominan.

(5)

3. Perkembangan HAM di Indonesia

a. Periode Sebelum Kemerdekaan (1908-1945)

Pemikiran HAM dalam periode sebelum kemerdekaan dapat dijumpai dalam sejarah kemunculan organisasi pergerakan nasional, seperti Boedi Oetomo (1908), Sarekat Islam (1911), Indische Partij (1912), Partai Komunis Indonesia (1920), Perhimpunan Indonesia (1925), dan Partai Nasional Indonesia (1927). Lahirnya organisasi pergerakan nasional itu tidak bisa dilepaskan dari sejarah pelenggaran HAM yang dilakukan oleh penguasa kolonial, penjajahan, dan pemerasan hak-hak masyarakat terjajah.

Dalam sejarah pemikiran HAM di Indonesia, Boedi Oetomo mewakili organisasi pergerakan nasional mula-mula yang menyuarakan kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial maupun lewat tulisan di surat kabar. Inti dari perjuangan Boedi Oetomo adalah perjuangan akan kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui organisasi massa dan konsep perwailan rakyat.

Diskursus HAM terjadi pula di kalangan tokoh pergerakan Sarekat Islam (SI), mereka menyerukan pentingnya usaha-usaha untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial yang dilakukan pemerintah kolonial. Berbeda dengan pemikiran HAM dikalangan tokoh nasionalis sekuler.

b. Periode Setelah Kemerdekaan

 Periode 1945-1950

Pemikiran HAM pada periode awal pasca kemerdekaan masih menekankan pada wacana hak untuk merdeka, hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang didirikan, serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di parlemen.

 Periode 1950-1959

(6)

Konvensi Genewa tahun 1949 yang mencakup perlindungan hak bagi korban perang, tawanan perang, dan perlindungan sipil di waktu perang. 2) Konvensi tentang Hak Politik Perempuan yang mencakup hak perempuan untuk memilih dan dipilih tanpa perlakuan diskriminasi, serta hak perempuan untuk menempati jabatan publik.

 Periode 1959-1966

Periode ini merupakan masa berakhirnya Demokrasi Liberal, digantikan oleh sistem Demokrasi Terpimpin yang terpusat pada kekuasaan Presiden Soekarno. Melalui sistem Demokrasi Terpimpin kekuasaan terpusat ditangan presiden. Presiden tidak dapat dikontrol oleh parlemen, sebaliknya parlemen dikendalikan oleh presiden. Kekuasaan Presiden Soekarno bersifat absolut, bahkan dinobatkan sebagai Presiden RI seumur hidup. Akibat langsung dari model pemeritahan yang sangat individual ini adalah pemasangan hak-hak asasi warga negara. Semua pandangan politik masyarakat diarahkan harus sejalan dengan kebijakan pemerintah yang otoriter.

 Periode 1966-1998

Pada mulanya, lahirnya Orde Baru menjanjikan harapan baru bagi penegakan HAM di Indonesia. Namun pada kenyataannya, Orde Baru telah menorehkan sejarah hitam pelanggaran HAM di Indonesia. Janji-janji Orde Baru tentang pelaksanaan HAM di Indonesia mengalami kemunduran amat pesat sejak awal 1970-an hingga 1980-an. Sama halnya dengan Orde Lama, Orde Baru memandang HAM dan demokrasi sebagai produk Barat yang individualistik dan bertentangan dengan prinsip gotong-royong dan kekeluargaan yang dianut oleh bangsa Indonesia.

C. Konseptualisasi Hak Asasi Manusia

1.

HAM Perspektif Barat

(7)

was extended to ethics via natural law theori. Just as positive lawmakers, confers legal rights, so the natural confers natural rights.4

Secara ringkas, uraian berikut akan menggambarkan kronologis konseptualisasi penegakan HAM yang diakui secara yuridis-formal. Pertama, dimulai yang paling dini, oleh munculnya “Perjanjian Agung” (Magna Charta) di Inggris pada 15 Juni 1215, sebagai bagian dari pemberontakan para baron terhadap raja John (saudara Raja Richard berhati singa, seorang pemimpin tentara salib). Isi pokok dokumen itu ialah hendaknya raja tak melakukan pelanggaran terhadap hak miliki dan kebebasan pribadi seorang pun, dari rakyat (sebenarnya cukup ironis bahwa pendorong pemberontakan para baron itu sendiri antara lain ialah dikenakannya pajak yang sangat besar, dan dipaksakannya para baron untuk membolehkan anak-anak perempuan mereka kawin dengan rakyat biasa).5 Kedua, keluarnya Bill of Rights pada 1628 yang berisi penegasan

tentang pembatasan kekuasaan raja dan dihilangkannya hak raja untuk melaksanakan kekuasaan terhadap siapa pun, atau untuk memenjarakan, menyiksa, dan mengirimkan tentara kepada siapa pun, tanpa dasar hukum.

Ketiga, Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat pada 6 Juli 1776, yang memuat penegasan bahwa setiap orang dilahirkan dalam persamaan dan kebebasan dengan hak untuk hidup dan mengejar kebahagiaan, serta keharusan mengganti pemerintahan yang tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan dasar tersebut. Keempat, Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia dan Warga Negara (Declaration des Droits de L’Homme et du Citoyen / Declaration of the Rights of Man and of the Citizen) dari Perancis pada 4 Agustus 1789, dengan titik berat kepada lima hak asasi pemilikan harta (propiete), kebebasan (liberte), persamaan (egalite), keamanan (securite) dan perlawanan terhadap penindasan (resistence a l’oppression). Kelima, Deklarasi Universal tentang Hak-Hak

4 Majda El-Muhtaj, M.Hum, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia, Kencana

Prenada Media Group, Jakarta, 2005, hlm.50

5 Majda El-Muhtaj, M.Hum, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia, Kencana

(8)

Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights/UDHR), pada 10 Desember 1948 yang memuat pokok-pokok tentang kebebasan, persamaan, pemilikan harta, hak-hak dalam perkawinan, pendidikan, hak kerja, dan kebebasan beragama (termasuk pindah agama).

Dari perkembangan historis diatas, dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan flosofs yang tajam, baik dari segi nilai maupun orientasi. Di Inggris menekankan pada pembatasan raja, di Amerika Serikat mengutamakan kebebasan individu, di Perancis memprioritaskan egalitarianisme persamaan kedudukan di hadapan hukum (equality before the law), di Rusia tidak diperkenalkan hak individu, tetapi hanya mengakui hak sosial dan kolektif.

Setiap kali kita menyebut hak-hak asasi, dengan sendirinya rujukan paling baku ialah UDHR/DUHAM. Ini wajar dan merupakan keharusan, karena UDHR merupakan puncak konseptualisasi manusia sejagat yang menyatakan dukungan dan pengakuan yang tegas tentang hak asasi manusia. Begitu pun UDHR/DUHAM dipandang sebagai puncak konseptualisasi HAM sejagat, apa yang tertuang didalamnya dilihat dari perspektif perkembangan generasi HAM adalah termasuk kedalam generasi pertama dari empat generasi HAM yang ada. Cirinya yang terpenting adalah bahwa pengertian HAM hanya terbatas pada bidang hukum dan politik. Sangat wajar dikarenakan beberapa hal, yakni realitas politik global pasca-Perang Dunia II, dan adanya keinginan kuat negara-negara baru untuk menciptakan tertib hukum dan politik yang baru.

2. HAM Perspektif Islam

Seiring dengan menguatnya kesadaran global akan arti penting HAM dewasa ini, persoalan tentang universalitas HAM dan hubunganny dengan berbagai sistem nilai atau tradisi agama terus menjadi pusat perhatian dalam perbincangan wacana HAM kontemporer. Harus diakui bahwa agama berperan memberikan landasan etik kehidupan manusia.6

6 Majda El-Muhtaj, M.Hum, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia, Kencana

(9)

Perkembangan wacana global tentang HAM memberikan penilaian tersendiri bagi posisi Islam. Menurut Supriyanto Abdi, setidaknya terdapat tiga varian pandangan tentang hubungan Islam dengan HAM, baik yang dikemukakan oleh para sarjana Barat atau pemikir Muslim sendiri, yakni: pertama, menegaskan bahwa Islam tidak sesuai dengan gagasan dan konsepsi HAM modern. Kedua, menyatakan bahwa Islam menerima semangat kemanusiaan HAM modern, tetapi pada saat yang sama menolak landasan sekulernya dan menggantinya dengan landasan Islami. Ketiga, menegaskan bahwa HAM modern adalah khazanah kemanusiaan universal dan Islam (bisa dan seharusnya) memberikan landasan normatif yang sangat kuat terhadapnya.

3. HAM Perspektif Konstitusi Indonesia UUD 1945 a. UUD 1945

UUD 1945 sering disebut dengan “UUD Proklamasi”. Dikatakan demikian karena kemunculannya bersamaan dengan lahirnya Negara Indonesia melalui proklamasi kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pergulatan pemikiran, khususnya pengaturan HAM dalam konstitusi begitu intens terjadi dalam persidangan-persidangan BPUPKI dan PPKI. Satu hal menarik bahwa meskipun UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis yang didalamnya memuat hak-hak dasar manusia Indonesia serta kewajiban-kewajiban yang bersifat dasar pula, namun istilah perkataan HAM itu sendiri sebenarnya tidak dijumpai dalam UUD 1945, baik dalam Pembukaan, Batang Tubuh, maupun Penjelasannya. Yang ditemukan bukanlah HAM, tetapi hanyalah hak dan kewajiban warga negara (HAW).

b. Konstitusi RIS 1949

(10)

pada pasal 7 ayat (1) yang berbunyi, “Setiap orang diakui sebagai manusia”. Selain itu, hak atas perlindungan hukum juga termuat pada pasal 13 ayat (1), “Setiap orang berhak, dalam persamaan jang tak memihak, dalam hal menetapkan hak-hak dan kewajiban-kewajibannja dan dalam hal menetapkan apakah suatu tuntutan hukuman jang dimadjukan terhadapnja beralasan atau tidak”.

c. UUDS 1950

UUDS 1950 terdiri atas 6 bagian dan 43 pasal. Dari tiga UUD yang berlaku sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, menurut Adnan Buyung Nasution, negara ini pernah memiliki UUD yang memuat pasal-pasal tentang HAM yang lebih lengkap daripada UUDR/DURHAM, yaitu UUDS 1950. Ketentuan HAM diatur pada bagian V (Hak-hak dan Kebebasan-kebebasan Dasar Manusia) dari mulai pasal 7 sampai pasal 33. Menariknya, pemerintah juga memiliki kewajiban dasar konstitusional yang diatur sedemikian rupa, sebagaimana diatur pada bagian IV (Azas-azas Dasar), pasal 35 sampai dengan pasal 43. Kewajiban dasar ini dapat dilihat, misalnya pada pasal 36 yang berbunyi: “Penguasa memadjukan kepastian dan djaminan sosial, teristimewa pemastian dan pendjaminan sjarat-sjarat perburuhan yang baik, pentjegahan dan pemberantasan pengangguran serta penjelenggaraan persediaan untuk hari tua dan pemeliharaan djanda-djanda dan anak djatim-piatu.”

d. Kembali Kepada UUD 1945

(11)

e. Amandemen UUD 1945

Terdapat empat kali perubahan yang berturut-turut telah dilakukan sejak tahun 1999 sampai dengan 2002. Khususnya mengenai pengaturan HAM, dapat dilihat pada Perubahan Kedua UUD 1945 Tahun 2000. Perubahan dan kemajuan signifkan adalah dengan dicantumkannya persoalan HAM secara tegas dalam sebuah bab tersendiri, yakni Bab XA (Hak Asasi Manusia) dari mulai pasal 28A sampai dengan 28J. Penegasan HAM kelihatan menjadi semakin eksplisit, sebagaimana ditegaskan pada pasal 28A yang berbunyi, “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.” Kemajuan lain dapat juga dilihat pada pasal 28J yang berbunyi, “Hak hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.”

Berdasarkan ketentuan dari seluruh konstitusi yang berlaku di Indonesia dapat dikatakan bahwa konseptualisasi HAM di Indonesia telah mengalami proses dialektika yang serius dan panjang.

D. Jaminan Konstitusi Atas Hak Asasi Manusia

Menurut Steenbeek, sebagaimana dikutip oleh Sri Soemantri, UUD berisi tiga pokok materi muatan, yakni pertama, adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan warga negara; kedua, ditetapkannya susunan ketatanegaraan suatu negara yang bersifat fundamental; dan ketiga, adanya pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan yang juga bersifat fundamental.7

Dalam konteks jaminan atas HAM, konstitusi memberikan arti penting tersendiri bagi terciptanya sebuah paradigma negara hukum sebagai buah dari proses dialektika demokrasi yang telah berjalan secara amat panjang dalam lintasan sejarah peradaban manusia. Jaminan atas

7 Majda El-Muhtaj, M.Hum, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia, Kencana

(12)

HAM meneguhkan pendirian bahwa negara bertanggung jawab atas tegaknya supremasi hukum.

Konstitusi merupakan napas kehidupan ketatanegaraan sebuah bangsa, tidak terkecuali bagi Indonesia. Konstitusi sebagai perwujudan konsensus dan penjelmaan dari kemauan rakyat memberikan jaminan atas keberlangsungan hidup berikut HAM secara nyata. Oleh karena itu, jaminan jaminan konstitusi atas HAM adalah bukti dari hakikat, kedudukan dan fungsi konstitusi itu sendiri bagi seluruh rakyat Indonesia.

E. Materi Muatan HAM Dalam UUD 1945

Menyikapi jaminan UUD 1945 atas HAM, terdapat pandangan yang beragam. Setidaknya, ada tiga kelompok pandangan, yakni: pertama, mereka yang berpandangan bahwa UUD 1945 tidak memberikan jaminan atas HAM secara komprehensif; kedua, mereka yang berpandangan UUD 1945 memberikan jaminan atas HAM secara komprehensif; dan ketiga, berpandangan bahwa UUD 1945 hanya memberikan pokok-pokok jaminan atas HAM.

Pandangan pertama didukung oleh Mahfud MD dan Bambang Sutiyoso. Hal ini didasarkan bahwa istilah HAM tidak ditemukan secara eksplisit didalam Pembukaan, Batang Tubuh, maupun Penjelasannya. Justru, menurut Sutiyoso, didalam UUD 1945 hanya ditemukan pencantuman dengan tegas perkataan hak dan kewajiban warga negara, dan hak-hak DPR. Menurut Mahfud, tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa UUD 1945 itu sebenarnya tidak banyak memberi perhatian pada HAM, bahkan UUD 1945 tidak berbicara apa pun tentang HAM universal kecuali dalam dua hal, yaitu Sila Keempat Pancasila yang meletakkan asas “ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dan pasal 29 yang menderivasikan jaminan “Kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah.”

(13)

Atas dasar itu, HAM yang tersirat di dalam UUD 1945 bersumber dari falsafah dasar dan pandangan hidup bangsa, yaitu Pancasila. Dengan kata lain, Pancasila merupakan nilai-nilai HAM yang hidup dalam kepribadian bangsa. Dahlan Thaib mengatakan bila dikaji dalam Pembukaan, Batang Tubuh maupun Penjelasan akan ditemukan setidaknya ada 15 (lima belas) prinsip hak asasi manusia, yakni sebagai berikut: (1) hak untuk menentukan nasib sendiri, (2) hak akan warga negara, (3) hak akan persamaan dan kesamaan di hadapan hukum, (4) hak untuk bekerja, (5) hak akan hidup layak, (6) hak untuk berserikat, (7) hak untuk menyatakan pendapat, (8) hak untuk beragama, (9) hak untuk membela negara, (10) hak untuk mendapatkan pengajaran, (11) hak akan kesejahteraaan sosial, (12) hak akan jaminan sosial, (13) hak akan kebebasan dan kemandirian peradilan, (14) hak mempertahankan tradisi budaya, (15) hak mempertahankan tradisi budaya. Hal yang sama ditegaskan Azhary, kalau ada yang beranggapan bahwa UUD 1945 tidak atau kurang menjamin HAM, itu adalah suatu anggapan yang keliru.

(14)

F. Perkembangan Pengaturan Hak Asasi Manusia

Ismail Suny berpendapat bahwa terdapat tiga kemungkinan bentuk hukum yang dapat menampung rincian HAM itu.8

Pertama, menjadikannya bagian yang integral dari UUD 1945, yaitu dengan cara melakukan amandemen-amandemen pada UUD 1945, sebagai yang ditempuh dengan Piagam Hak-Hak Warganegara (The Bill of Rights), yang merupakan Amandemen I-X pada Konstitusi Amerika Serikat. Cara semacam ini akan menjamin tetap terpeliharanya UUD 1945 sebagai naskah historis dimana dalam the body of the Constitution tidak diadakan perubahan-perubahan, tetapi hanya tambahan-tambahan. Prosedurnya menurut hukum konstitusi diatur dalam pasal37.

Kedua, menetapkan dalam Ketetapan MPR. Keberadaannya, suatu Ketetapan MPR pada umumnya tidak mengatur ancaman hukuman bagi pelanggarnya dalam precise detail, tetapi hanya garis-garis besar haluan negara, sekedar ‘a declaration of general principles’, tanpa akibat hukum sama sekali.

Ketiga, mengundangkannya dalam suatu undang-undang berikut sanksi hukuman terhadap pelanggarnya.

UUD 1945 yang pada awalnya hanya memuat enam pasal yang mengatur tentang HAM, kemudian mengalami perubahan-perubahan yang sangat signifkan yang kemudian dituangkan dalam Perubahan Kedua UUD 1945 pada bulan Agustus tahun 2000. Sebenarnya, sebelum Perubahan Kedua dilakukan, telah terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang dapat dikatakan sebagai pembuka terjadinya Perubahan. Ketentuan itu antara lain Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang HAM, Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN, serta UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Perubahan Kedua UUD 1945. Pada pembahasan Rancangan UUD yang dilakukan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 Soekarno sebagai

8 Prof.Dr.Bagir Manan,S.H.,MCL.,dkk, Perkembangan Pemikiran Dan Pengaturan Hak Asasi

(15)

Ketua Panitian Perancang UUD telah menyatakan kehendak bahwa dikemudian hari akan dibuat suatu UUD baru, karena UUD yang dibuat adalah UUD sementara atau yang ia namakan sebagai UUD kilat. Dari hal itu, tampak kearifan dari para pembentuk UUD 1945 yang menyadari bahwa UUD tersebut tidak lengkap sehingga membuka peluang untuk diadakan perubahan atau penyempurnaan yang kemudian diatur dalam pasal 37. Salah satu ketidakberhasilan UUD 1945 sebagai dasar pelaksana prinsip-prinsip demokrasi dan negara berdasarkan atas hukum antara lain disebabkan adanya kekosongan materi muatan, misalnya tentang HAM.

Wacana tentang perlunya HAM dimasukkan ke dalam UUD berkembang ketika kesadaran akan pentingnya jaminan perlindungan HAM semakin meningkat menyusul tumbangnya rejim otoriter. Walaupun telah ada UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM yang didasari oleh TAP MPR No. XVII Tahun 1998, namun dimasukkannya HAM kedalam konstitusi diharapkan akan semakin memperkuat komitmen untuk pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia, karena akan menjadikannya sebagai hak yang dilindungi secara konstitusional (constitutional rights). Pesan ini kemudian ditangkap oleh Panitia Ad Hoc (PAH) I dan direkomendasikan kepada Sidang Tahunan MPR Tahun 2000 agar dimasukkan ke dalam Amandemen ke-2 UUD 1945. Pasal-pasal tentang HAM dimasukkan kedalam Bab XA dari pasal 28A sampai dengan pasal 28J. Beberapa ahli hukum bahkan berpendapat bahwa pasal 28I Perubahan Kedua ini merupakan constitutional constraint bagi penegakan HAM di Indonesia.

(16)

Ketentuan yang terdapat dalam Ketetapan No. XVII/MPR/1998 menugaskan kepada lembaga-lembaga tinggi negara dan seluruh aparat pemerintah untuk menghormati dan menegakkan serta menyebarluaskan pemahaman HAM kepada seluruh masyarakat. Selain itu kepada Presiden dan DPR juga ditugaskan untuk meratifkasi berbagai instrumen internasional sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Ketetapan ini sekaligus menegaskan peningkatan dasar hukum Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang semula berupa Keppres menjadi UU dan Komisi ini berfungsi untuk melakukan penyuluhan, pengkajian, pemantauan, penelitian dan mediasi tentang HAM.

UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. UU yang diundangkan pada tanggal 23 September 1999 dipandang sebagai salah satu peraturan pelaksana dari Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998. Hal ini ternyata dalam satu dasar hukumnya yang mencantumkan Ketetapan tersebut.

Pada saat UU ini sedang didiskusikan terdapat beberapa pendapat yang terbagi dalam dua kategori besar, yakni pendapat yang menyatakan bahwa pada dasarnya ketentuan mengenai HAM tersebar dalam berbagai UU, dan oleh karena itu tidak perlu dibuat satu UU khusus tentang HAM. Pendapat lain mengatakan bahwa pembentukan UU materi khusus tentang HAM perlu dilakukan mengingat Ketetapan MPR tidak berlaku operasional dab berbagai UU yang ada belum seluruhnya menampung materi HAM.

(17)

G. Bentuk-Bentuk Hak Asasi Manusia

Pertama, Hak Personal, Hak Legal, Hak Sipil dan Politik dalam DUHAM pasal 3 terdiri dari:

1. Hak untuk hidup, kebebasan dan keamanan pribadi. 2. Hak bebas dari perbudakan dan penghambaan.

3. Hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan atau hukuman yang kejam, tak berperikemanusiaan ataupun merendahkan derajat kemanusiaan.

4. Hak untuk memperoleh pengakuan hukum dimana saja secara pribadi.

5. Hak untuk memperoleh pengampunan hukum secara efektif.

6. Hak bebas dari penangkapan, penahanan atau pembuangan sewenang-wenang.

7. Hak untuk peradilan yang interpenden dan tidak memihak. 8. Hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah.

9. Hak bebas dari campur tangan yang sewenang-wenang terhadap kekuasaan pribadi, keluarga, tempat tinggal, maupun surat-surat. 10. Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan nama

baik.

11. Hak atas perlindungan hukum terhadap serangan semacam itu.

12. Hak bergerak.

13. Hak memperoleh suaka. 14. Hak atas satu kebangsaan.

15. Hak untuk menikah dan membentuk keluarga. 16. Hak untuk mempunyai hak milik.

17. Hak bebas berpikir, berkesadaran dan beragama. 18. Hak bebas berpikir dan menyatakan pendapat. 19. Hak untuk berhimpun dan berserikat.

(18)

Kedua, Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya dalam DUHAM terdiri dari: 1. Hak atas jaminan sosial.

2. Hak untuk bekerja.

3. Hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. 4. Hak untuk bergabung kedalam serikat-serikat buruh. 5. Hak atas istirahat dan waktu senggang.

6. Hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan.

7. Hak atas pendidikan.

8. Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat.

Kemudian, bentuk-bentuk HAM di Indonesia terdapat dalam UUD 1945 (hasil amandemen I-IV), yakni terdiri dari:

1. Hak kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. 2. Hak kedudukan yang sama di dalam hukum. 3. Hak kebebasan berkumpul.

4. Hak kebebasan beragama. 5. Hak penghidupan yang layak. 6. Hak kebebasan berserikat.

7. Hak memperoleh pendidikan atau pengajaran.

Sementara itu secara operasional lagi bentuk-bentuk HAM terdapat dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, yakni:

1. Hak untuk hidup.

2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. 3. Hak mengembangkan diri.

4. Hak memperoleh keadilan. 5. Hak atas kebebasan pribadi. 6. Hak atas rasa aman.

7. Hak atas kesejahteraan.

(19)

10. Hak anak.9

H. Hak-Hak Asasi Manusia Dalam Tatalaksana Peradilan

Hormat terhadap hak-hak asasi manusia merupakan bagian integral dalam pelaksanaan yang benar dari setiap sistem peradilan kejahatan. Promosi dan perlindungan atas hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan asasi sudah merupakan bagian integral dari missi PBB sejak pendiriannya pada tahun 1945.10 Prinsip ini termanifestasi dalam

Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia, yang disahkan oleh Sidang Umum pada tahun 1948, yang pada kalimat pertama Mukadimahnya menyatakan: “Sedang pengakuan terhadap martabat yang melekat dan terhadap hak-hak yang sepadan dan tidak dapat diganggu gugat dari semua manusia adalah dasar untuk kebebasan, keadilan dan kedamaian dunia.”11 Deklarasi itu menyerukan adanya perlindungan hukum terhadap

campur tangan sewenang-wenang atas kehidupan pribadi orang, keluarga, rumah tangga dan surat menyurat dari semua orang. Sejak diterimanya Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia pada tahun 1948, Sidang Umum telah mensahkan banyak rekomendasi dan konvensi mengenai hak-hak asasi manusia. Masalah-masalahnya menyangkut soal pembunuhan suku bangsa, diskriminasi ras, apartheid, pengungsi, manusia tanpa kewarganegaraan, hak-hak wanita, perbudakan, perkawinan, anak-anak, remaja, (aliens), (asylum), kaum cacat fsik dan mental, penyiksaan, pembangunan dan kemajuan sosial.

Pada umumnya hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan tadi dirujuk kepada Komisi Ketiga dari Sidang Umum, yang memperbincangkan masalah-masalah sosial, kemanusiaan, dan kebudayaan. Untuk menerapkan instrumen-instrumen hak asasi manusia PBB itu telah didirikan pelbagai lembaga khusus. Diantaranya ada dua yang paling langsung terkait dengan penyalahgunaan hak-hak asasi

9 Prof.Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,

2008, hlm.323

10 Adnan Buyung Nasution dan A.Patra M.Zen, Instrumen Internasional Pokok Hak Asasi

Manusia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2006,hlm.100

11 Jendral.Pol (Purn) Drs.Kumanto, Hak Asasi Manusia Dalam Penegakan Hukum, PT.Cipta

(20)

manusia dalam tatalaksana peradilan kejahatan. Komisi Anti Penyiksaan dibentuk pada tahun 1987 sebagai realisasi dari pasal 17 dari konvensi Anti Penyiksaan dan Perlakuan atau hukuman lain yang Kejam, tidak manusiawi , atau melecehkan martabat manusia. Kelompok tiga yang menindaklanjuti Konvensi Internasional tentang Penindasan dan Hukuman dari Kejahatan Apartheid, terdiri dari tiga anggota Komisi Hak-Hak Asasi. Mereka ini setiap tahun ditunjuk oleh Ketua Komisi. Dalam menyusun draft proposal untuk suatu Konvensi Hak-Hak Anak Pusat ini bekerja sama dengan dana PBB untuk anak-anak (UNICEF). Konvensi ini disahkan oleh Sidang Umum pada tahun 1989.

Di antara pasal-pasalnya terdapat beberapa pasal yang menyangkut tatalaksana peradilan untuk perkara-perkara kecil, yang menyatakan bahwa dalam pengadilan anak, maka pengadilan harus memberikan pertimbangan utama terhadap apa yang terbaik bagi anak dan pendapat anak supaya diperhatikan. Negara-negara harus melindungi anak-anak agar tidak dirugikan ataupun ditelantarkan baik secara fsik maupun mental, termasuk diantaranya penyalahgunaan atau pemerasan seksual. Negara-negara harus melindungi anak-anak dari penggunaan obat bius secara tidak sah dan keterlibatan mereka dalam pembuatan ataupun pengedarannya, segala upaya untuk menghapuskan (abduction) dan pengedaran obat bius diantara anak-anak harus dilakukan. Anak dibawah umur 18 tahun tidak oleh dijatuhi hukuman berat atau seumur hidup atas kejahatan yang dilakukannya, dan anak-anak yang ditahan harus dipisahkan dari orang-orang dewasa dan tidak boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam dan merendahkan martabat kemanusiaan.12

Akhirnya Komisi Tinggi PBB untuk para pengungsi dan empat badan khusus dalam sistem PBB melibatkan diri secara aktif dalam masalah-masalah hak-hak asasi manusia. Badan-badan itu adalah Organisasi Pekerja Internasional (ILO), Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan Organisasi PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO). Semenjak tahun 1988, Program Global WHO untuk AIDS telah mempelajari keadaan

(21)

penyakit infeksi HIV dilingkungan penjara dan mempersiapkan rekomendasi untuk perawatan individual bagi para narapidana yang terinfeksi HIV, UNESCO bekerja sama dengan Institut PBB di Amerika latin untuk Pencegahan Kejahatan dan Perlakuan terhadap Pelanggar (ILANUD) telah menyiapkan draft model perjanjian bilateral untuk penanggulangan kejahatan dalam bidang warisan budaya, sebagai bahan pertimbangan bagi Komisi Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan.

I. Pengadilan HAM

Pasal 1 angka 3 menentukan bahwa yang dimaksud dengan Pengadilan Hak Asasi Manusia atau Pengadilan HAM adalah pengadilan

khusus terhadap pelanggaran HAM yang berat.

Jika apa yang dimaksud dengan Pengadilan HAM seperti yang ditentukan didalam pasal 1 angka 3 dikaitkan dengan pasal 2 yang menentukan bahwa Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada dilingkungan Peradilan Umum, dan pasal 4 yang menentukan bahwa Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat, maka menjadi jelas bahwa yang dimaksud dengan Pengadilan HAM adalah pengadilan yang ada di lingkungan Peradilan Umum yang hanya bertugas dan berwenang untuk memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat saja.13

Yang dimaksud dengan kalimat “di lingkungan Peradilan Umum” dalam pasal 2 tersebut adalah di lingkungan Peradilan Umum seperti yang dimaksud oleh pasal 10 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970. Seperti diketahui pasal 10 ayat 1 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 menentukan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan: a) Peradilan Umum, b) Peradilan Agama, c) Peradilan Militer, d) Peradilan Tata Usaha Negara.

Apa sebab untuk memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat sampai perlu dibentuk Pengadilan HAM, didalam

13 R.Wiyono,S.H, Pengadilan Hak Asasi Manusia di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2006,

(22)

Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 disebutkan bahwa dibentuknya Pengadilan HAM tersebut dilaksanakan atas pertimbangan sebagai berikut:

1. Pelanggaran HAM yang berat merupakan extra ordinary crimes dan berdampak secara luas, baik pada tingkat nasional maupun internasional dan bukan merupakan tindak pidana yang diatur dalam KUHP serta menimbulkan kerugian, baik materiil maupun immateriil yang mengakibatkan perasaan tidak aman, baik terhadap perseorangan maupun masyarakat, sehingga perlu segera dipulihkan dalam mewujudkan supramasi hukum untuk mencapai kedamaian ketertiban, ketentraman, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

2. Terhadap perkara pelanggaran HAM yang berat diperlukan langkah-langkah penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan yang bersifat khusus, yaitu:

a. Diperlukan penyelidikan dengan membentuk tim ad hoc, penyidik ad hoc, penuntut umum ad hoc dan haki ad hoc.

b. Diperlukan penegasan bahwa penyelidikan, hanya dilakukan oleh Komnas HAM, sedangkan penyidik tidak berwenang menerima laporan atau pengaduan sebagaimana diatur dalam KUHP.

c. Diperlukan ketentuan mengenai tenggang waktu tertentu untuk melakukan penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan.

d. Diperlukan ketentuan mengenai perlindungan korban dan saksi. e. Diperlukan ketentuan yang menegaskan tidak ada kadaluarsa

bagi pelanggaran HAM yang berat.14

J. Lingkup Kewenangan

1. Lingkup Kewenangan Absolut

Mengenai lingkup kewenangan absolut atau kompetensi absolut dari Pengadilan HAM, oleh pasal 4 ditentukan bahwa Pengadilan HAM mempunyai tugas dan wewenang untuk memeriksa dan memutus perkara

14 Todung Mulya Lubis, Jalan Panjang Hak Asasi Manusia, PT.Gramedia Pustaka Utama,

(23)

pelanggaran HAM yang berat dan sudah tentu yang dimaksud dengan perkara pelanggaran HAM yang berat ini adalah perkara pelanggaran HAM yang berat yang terjadi sesudah berlakunya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 pada tanggal 23 November 2000, yaitu pelanggaran HAM yang berat meliputi: a) kejahatan genosida, b) kejahatan terhadap kemanusiaan.15

Tidak semua perkara pelanggaran HAM yang berat menjadi lingkup kewenangan absolut atau kompetensi absolut dari Pengadilan HAM, karena pasal 6 menentukan bahwa Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat yang dilakukan oleh seseorang yang berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan, yaitu suatu ketentuan yang sama dengan ketentuan yang terdapat dalam pasal 26 Statuta Roma. Sedangkan yang dimaksud dengan memerikas dan memutus dalam pasal 4 disebutkan, menyelesaikan perkara yang menyangkut kompetensi, restitusi dan rehabilitasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Lingkup Kewenangan Relatif

Disamping menentukan tentang tempat kedudukan dari Pengadilan HAM, pasal 3 ayat 1 juga menentukan tentang lingkup kewenangan relatif atau kompetensi relatif dari Pengadilan HAM, yaitu daerah hukum Pengadilan HAM meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan.

Jika diingat bahwa Pengadilan HAM adalah merupakan pengadilan pada Pengadilan Negeri, maka sebenarnya lingkup kewenangan relatif atau kompetensi relatif dari Pengadilan HAM dengan sendirinya sama dengan lingkup kewenangan relatif atau kompetensi relatif dari Pengadilan Negeri, sehingga tidak diperlukan lagi adanya ketentuan bahwa daerah hukum Pengadilan HAM meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan seperti yang ditentukan oleh pasal 3 ayat 1.

15 Prof.H.Rozali Abdullah,S.H dan Syamsir,S.H, Perkembangan HAM Dan Keberadaan

(24)

Daftar Pustaka

Abdullah, Rozali, dan Syamsir, 2004. Perkembangan HAM Dan Keberadaan Peradilan HAM Di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia

Budiardjo, Miriam, 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama

Buyung Nasution, Adnan, dan M.Zen, Patra, 2006. Instrumen Internasional Pokok Hak Asasi Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

El-Muhtaj, Majda, 2005. Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia.

(25)

Kumanto, 1996. Hak Asasi Manusia Dalam Penegakan Hukum. Jakarta: PT.Cipta Manunggal

Manan, Bagir, 2006. Perkembangan Pemikiran Dan Pengaturan Hak Asasi Manusia Di Indonesia. Bandung: P.T Alumni

Mulya Lubis, Todung, 2005. Jalan Panjang Hak Asasi Manusia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Rahayu, Minto, 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Grasindo

Ubaedillah, A, dan Abdul Rozak, 2011. Pancasila, Demokrasi, HAM, dan Masyarakat Madani. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...