Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
pISSN: 2302-299X
Vol. 5 No. 2, Agustus 2016
eISSN: 2407-7860
Nomor Akreditasi: 561/Akred/P2MI-LIPI/09/2013 Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea adalah publikasi ilmiah hasil penelitian bidang kehutanan. Jurnal ini diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Maret dan Agustus oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia.
Wallacea Journal of Forestry Research is a scientific publication reporting research findings in the field of forestry. The journal is published two times per year in March and August by Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar, Research Development and Innovation Agency, Ministry of Environment and Forestry of Indonesia.
Penanggung Jawab (Responsible person) : Ir. Misto, M.P. (Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar) Dewan Redaksi (Editorial Boards):
Ketua (Editor in chief), merangkap anggota : Hasnawir, S.Hut, M.Sc, Ph.D. (Konservasi Sumberdaya Hutan, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar)
Anggota (Members):
1. Prof. Dr. Ir. Muh. Dassir, M.Si. (Sosiologi Antropologi Kehutanan, Universitas Hasanuddin)
2. Dr. Ir. Usman Arsyad, M.S. (Perencanaan Rehabilitasi Lahan, Universitas Hasanuddin) 3. Dr. Ir. Syamsuddin Millang, M.S. (Agroforestri,
Universitas Hasanuddin)
4. Dr. Suhasman, S.Hut, M.Si. (Biokomposit, Universitas Hasanuddin)
5. Dr. Ir. Andi Sadapotto, M.P. (Serangga dan Hama Hutan, Universitas Hasanuddin)
6. Ir. M. Kudeng Sallata, M.Sc. (Hidrologi dan Konservasi Tanah, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Makassar)
7. Ir. Hunggul Yudono, M.Si (Konservasi Sumber Daya Hutan, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar)
8. Dr. Abdul Kadir Wakka, S.Hut M.Si (Sosial Ekonomi Kehutanan, Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar)
Mitra bestari (Peer reviewer) :
1. Prof. Dr. Ir. Amran Achmad, M.Sc. (Konservasi Biologi, Universitas Hasanuddin, Makassar) 2. Prof. Dr. Ir. Samuel A. Paembonan, M.Sc.
(Silvikultur, Universitas Hasanuddin, Makassar) 3. Dr. Ir. Anwar Umar, M.S. (Tanah Hutan, Universitas
Hasanuddin, Makassar)
4. Prof. Dr. Ir. Baharuddin Nurkin, M.Sc. (Silvikultur, Universitas Hasanuddin, Makassar)
5. Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, M.S. (Hidrologi dan Konservasi Tanah, Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia, Bogor)
6. Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka, M.Sc (Ekologi Hutan, Universitas Hasanuddin, Makasssar)
7. Prof. Dr. Ir. Muhammad Restu, M.P. (Genetika dan Pemuliaan Hutan, Universitas Hasanuddin, Makassar)
8. Dr. Ir. Budi Leksono, M.P. (Pemuliaan Tanaman Hutan, Balai Besar Penelitian Bioteknologi & Pemuliaan Tanaman Hutan, Yogyakarta)
9. Prof. Dr. Ir. Musrizal Muin, M.Sc. (Pengawetan Kayu, Universitas Hasanuddin, Makassar)
10.Prof. Dr. Ir. Supratman, M.P. (Manajemen Hutan, Universitas Hasanuddin, Makassar)
11.Ir. Rudi A. Maturbongs, M.Si (Biologi Konservasi, Universitas Negeri Papua, Manokwari)
12.Muhammad Yusran (Kebijakan Kehutanan dan Lingkungan, Universitas Hasanuddin, Makassar) 13.Dr.Ir. Naresworo Nugroho, M.Sc (Pengolahan hasil
hutan, IPB, Bogor)
14.Dr. Ir.Cahyo Wibowo, M.Sc.F. Trop (Ilmu tanah hutan, IPB, Bogor)
15.Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi bekas tambang, IPB, Bogor)
16.Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc F Trop (Ekologi Flora, IPB, Bogor)
Ketua (Chairman) : Ir. Turbani Munda, M.Hut (Kepala Seksi Data, Informasi & Kerjasama) Anggota (Members) : 1. Ir. Sahara Nompo
Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar (Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar)
Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi (Research, Development and Innovation Agency)
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (Ministry of Environment and Forestry of Indonesia) Alamat (address) : Jalan Perintis kemerdekaan Km. 16 Makassar 90243, Sulawesi Selatan, Indonesia Telepon (Phone) : 62-411-554049
Fax (Fax) : 62-411-554058
|
I
PENGANTAR REDAKSI
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea akreditasi LIPI: 561/Akred/P2MI-LIPI/09/2013
dan Nomor Digital Object Identifier (DOI) Prefix: 10.18330 sejak Nopember 2015 telah
menggunakan aplikasi Open Journal Sysytem (OJS) dalam pengelolaan dan penerbitan artikel.
Kami berusaha meningkatkan kualitas dengan mendaftarkan jurnal ke mesin pengindeks
akademik internasional agar dampaknya bisa lebih meluas. Sebagai bentuk kemudahan, sejak
terbit pertama kali jurnal kami tidak memungut biaya sedikitpun kepada penulis dalam
pengolahan artikel.
Alhamdulillah Vol. 5 No. 2 ini adalah terbitan kedua melalui
submission online yang
diterbitkan pada bulan Agustus 2016, tentunya setelah sebelumnya melalui proses telaah
dari para reviewer. Untuk itu pada kesempatan ini pengelola Jurnal Penelitian Kehutanan
Wallacea mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada mitra
bestari (peer reviewers) yang telah menelaah naskah yang dimuat pada edisi Vol. 5 No. 2,
Agustus tahun 2016 :
1.
Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo (LIPI
–
Bogor)
2.
Dr. Budiadi, S.Hut, M.Agr.Sc. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta)
3.
Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka, M.Sc (Universitas Hasanuddin, Makasssar)
4.
Dr. Ir. A. Ngaloken Gintings, M.S. (Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia,
Bogor)
5.
Dr. Ir. Budi Leksono, M.P. (Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman
Hutan, Yogyakarta)
6.
Prof. Dr. Ir. Samuel A. Paembonan, M.Sc. (Universitas Hasanuddin, Makassar)
7.
Ir. Rudi A. Maturbongs, M.Si (Universitas Negeri Papua, Manokwari)
Kami berharap publikasi ini turut berkontribusi dalam peningkatan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Makassar, Agustus 2016
|
|
III
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
pISSN: 2302-299X
Vol. 5 No.2, Agustus 2016
eISSN: 2407-7860
Nomor Akreditasi:
561/Akred/P2MI-LIPI/09/2013
DAFTAR ISI
(CONTENTS)
Sitti Saleha dan Putu Oka Ngakan ... 103-111
SEBARAN DAN STRUKTUR POPULASI ANAKAN Diospyros celebica Bakh. DI
BAWAH POHON INDUKNYA
(Distribution and Population Structure of the Juvenile of Diospyros celebica Bakh.
under the Canopy of Their Mother-Tree)
Mukhlisi dan WawanGunawan ... 113-122
REGENERASI ALAMI SEMAI MANGROVE DI AREAL TERDEGRADASI TAMAN
NASIONAL KUTAI
(Natural Regeneration of Mangrove Seedlings in Degraded Area of Kutai National
Park)
Rina Laksmi Hendrati, Diah Rachmawati, dan Asri Cahyaning Pamuji ... 123-133
RESPON KEKERINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN, KADAR PROLIN DAN
ANATOMI AKAR Acacia auriculiformis Cunn., Tectona grandis L., Alstonia
spectabilis Br., DAN Cedrela odorata L.
(Drought Responses on Growth, Proline Content and Root Anatomy of Acacia
auriculiformis Cunn., Tectona grandis L., Alstonia spectabilis Br., and Cedrela
odorata L.)
Adi Susilo dan Indra A.S.L.P.Putri ... 135-149
DAMPAK SISTEM SILVIKULTUR INTENSIF (SILIN) TERHADAP KOMUNITAS
BURUNG BAWAH TAJUK DI PT TRIWIRA ASTA BHARATA, KALTIM
(Impact of Intensive Sylviculture System (TPTII/SILIN) on Understory Bird
Community at Triwira Asta Bharata Forest Concession, East Kalimantan)
Aditya Hani dan Encep Rachman ... 151-158
PERTUMBUHAN TANAMAN NYAMPLUNG SAMPAI UMUR 4 (EMPAT) TAHUN
PADA TIGA POLA TANAM DAN DOSIS PUPUK DI LAHAN PANTAI BERPASIR
PANGANDARAN, JAWA BARAT
(Growth of Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) on Three Planting Patterns
and Dose of Fertilizer on Sandy Beach Pangandaran, West Java)
Afandi Ahmad, Muhammad Buce Saleh dan Teddy Rusolono ... 159-169
MODEL SPASIAL DEFORESTASI DI KPHP POIGAR, PROVINSI SULAWESI UTARA
(Spatial Modeling of Deforestation in FMU of Poigar, North Sulawesi)
M. Kudeng Sallata ... 171-184
PARTISIPASI PETANI PADA PENERAPAN TEKNIK REHABILITASI LAHAN DAN
KONSERVASI TANAH DI WILAYAH DAS MIKRO
(
Farmer’s
Particiption on Application of Land Rehabilitation and Soil
Conservation Engineering on Micro Watershed
)
Kusnadi, I Nengah Surati Jaya, Nining Puspaningsih, Makin Basuki, dan Lukman
Hakim ... 185-194
MODEL PENDUGA KUALITAS TEMPAT TUMBUH JATI (Tectona grandis)
MENGGUNAKAN CITRA RESOLUSI SANGAT TINGGI PESAWAT TIDAK
BERAWAK DI KPH NGANJUK
Lembar Abstrak |
V
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
pISSN: 2302-299X
Vol. 5 No. 2, Agustus 2016
eISSN: 2407-7860
Nomor Akreditasi:
561/Akred/P2MI-LIPI/09/2013
Kata kunci bersumber dari artikel. Lembar abstrak ini boleh difotokopi tanpa izin dan biaya
UDC (OSDCF) 630*1
Sitti Saleha dan Putu Oka Ngakan (Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin)
SEBARAN DAN STRUKTUR POPULASI ANAKAN Diospyros celebica Bakh. DI BAWAH POHON INDUKNYA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 No.2, Agustus 2016, hlm: 103 - 111
Abstrak
Pola sebaran dan struktur populasi Diospyros celebica di bawah tegakan pohon induknya telah diteliti di Hutan Pendidikan Universitas Hasanuddin di Kabupaten Maros. Satu hektare plot berbentuk persegi empat ditempatkan di dalam tegakan hutan alam sekunder yang didominasi oleh pohon D. celebica. Seluruh individu yang ditemukan di dalam plot diukur diameternya pada ketinggian 130 cm di atas permukaan tanah. Individu yang tingginya kurang dari 130 cm dikategorikan sebagai anakan dan hanya diukur tingginya. Analisis dengan menggunakan Indeks Sebaran Morishita (Iδ) menunjukkan bahwa pola distribusi D. celebica adalah mengelompok untuk seluruh tingkat pertumbuhan. Pola sebaran anakan tidak berkaitan secara nyata dengan kelerengan habitat, tetapi menunjukkan korelasi yang positif dan nyata dengan tingkat penutupan tajuk pohon induknya. Jumlah anakan ditemukan melimpah di bawah pohon induknya, namun sejalan dengan pertumbuhannya kekuatan korelasi semakin melemah, sampai akhirnya korelasi terbalik menjadi negatif pada tingkat pertumbuhan pohon. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa lebih banyak individu D. celebica ditemukan pada habitat dengan kelerengan yang lebih curam, namun korelasinya tidak nyata. Ketersediaan anakan yang melimpah di bawah pohon induknya mengindikasikan bahwa regenasi alami eboni berjalan cukup baik.
Kata Kunci: Diospyros celebica, tingkat pertumbuhan, sebaran, penutupan tajuk
UDC (OSDCF) 630*1
Mukhlisi (Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (BPTKSDA) Samboja) dan Wawan Gunawan (Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)
REGENERASI ALAMI SEMAI MANGROVE DI AREAL TERDEGRADASI TAMAN NASIONAL KUTAI
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 No.2, Agustus 2016, hlm: 113 - 122
Abstrak
Regenerasi semai pada hutan mangrove merupakan salah satu bagian penting dalam proses suksesi sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis regenerasi alami semai pada areal terdegradasi di Taman Nasional Kutai, khususnya di Bontang dan Sangkima. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah inventarisasi semai jenis-jenis mangrove yang tumbuh secara alami dan pengukuran kondisi lingkungan tanah dan air. Inventarisasi vegetasi dilakukan dengan membuat petak tunggal yang diletakkan secara sengaja pada petak tanaman rehabilitasi seluas 0,98 ha (Bontang) dan 1,04 ha (Sangkima). Sampel tanah diambil secara komposit dari lima titik pada petak pengamatan dengan kedalaman 0-30 cm dan 31-60 cm. Sampel air diambil dari setiap lokasi petak pengamatan sebanyak 200 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kawasan Bontang dan Sangkima tumbuh enam jenis mangrove, berturut-turut di kawasan Bontang terdiri dari jenis
Acrostichum aureum, Scyphiphora hydrophyllacea, Rhizophora apiculata dan Ceriops tagal, sedangkan
| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 No.2, Agustus 2016
VI
surut, dan kimia air (salinitas, NO3, COD). Sedangkan di Sangkima memiliki korelasi positif yang kuat
dengan parameter lingkungan seperti tekstur tanah (sand) dan kimia air (Mg, Al, pH, COD, BOD, DO, TSS). Untuk meningkatkan keberhasilan restorasi areal terdegradasi hutan mangrove di Taman Nasional Kutai, perlu memperhatikan aspek kesesuaian tumbuh tiap jenis mangrove berdasarkan kondisi lingkungan tiap tapak.
Kata kunci: Taman Nasional Kutai, suksesi sekunder, komposisi mangrove, lingkungan
UDC (OSDCF) 581.526.42
Rina Laksmi Hendrati, (Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Diah Rachmawati, (Lab. Fisiologi Tumb. Fak. Biologi UGM, Yogyakarta, Indonesia) dan Asri Cahyaning Pamuji (Fak. Biologi UGM, Yogyakarta, Indonesia)
RESPON KEKERINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN, KADAR PROLIN DAN ANATOMI AKAR Acacia auriculiformis Cunn., Tectona grandis L., Alstonia spectabilis Br., DAN Cedrela odorata L.
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 No.2, Agustus 2016, hlm: 123 - 133
Abstrak
Pemanasan global yang terjadi beberapa tahun terakhir telah menyebabkan terjadinya cuaca ekstrim dan peningkatan suhu bumi yang juga menyebabkan kekeringan. Dalam upaya mengantisipasi pemanasan global diperlukan adanya lingkungan yang dapat menyerap emisi karbon, salah satunya adalah hutan. Salah satu upaya untuk mempertahankan keberadaan hutan, perlu dilakukan identifikasi spesies yang adaptif terhadap kondisi kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman dan anatomi akar Acacia auriculiformis Cunn., Tectona grandis L.,
Alstonia spectabilis Br. dan Cedrela odorata L. serta membandingkan spesies yang lebih adaptif
terhadap kondisi kekeringan. Penelitian pada uji terkontrol ini, menggunakan perlakuan kekeringan selama 10, 20, 30 dan 40 hari serta tanaman kontrol yang disiram setiap 2 hari sekali. Masing-masing perlakuan dilakukan dengan 3 ulangan. Pertumbuhan tanaman yang diamati adalah tinggi, diameter, jumlah dan luas daun tanaman, kadar prolin akar serta aspek anatomis berupa diameter trakea. Pengamatan dan pengambilan sample dilakukan setiap 10 hari sekali. Data pertumbuhan dan prolin yang diperoleh dianalisis dengan uji T dan data anatomi dianalisis menggunakan ANOVA dilanjutkan uji Duncan dengan taraf signifikansi 95%. Kekeringan pada A. auriculiformis Cunn., T. grandis L., A.
spectabilis Br. dan C. odorata L. mempengaruhi pertumbuhan tanaman berupa penurunan tinggi,
diameter dan jumlah daun, namun terjadi peningkatan kadar prolin akar dan pertambahan diameter trakea akar. Hasil studi ini mengindikasikan bahwa spesies yang paling toleran dan kemungkinan adaptif terhadap kekeringan adalah spesies yang mempunyai lebih banyak variasi mekanisme respon terutama yang kemunculannya baru terlihat pada tekanan kekeringan yang tinggi.
Kata kunci: Kekeringan, jenis pohon, pertumbuhan, prolin, anatomi
UDC (OSDCF) 630*1
Adi Susilo (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan) dan Indra A.S.L.P.Putri (Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar)
DAMPAK SISTEM SILVIKULTUR INTENSIF (SILIN) TERHADAP KOMUNITAS BURUNG BAWAH TAJUK DI PT TRIWIRA ASTA BHARATA, KALTIM
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 No.2, Agustus 2016, hlm: 135 - 149
Abstrak
Lembar Abstrak |
VII
penelitian memperlihatkan bahwa pada tapak hutan TPTI, Ceyx erithacus merupakan spesies dengan nilai penting tertinggi. Pada tapak hutan TPTII/SILIN, Arachnotera longirostra merupakan burung yang memiliki nilai penting tertinggi. Kelimpahan burung, nilai indeks keragaman jenis Shannon-Weinner dan kekayaan jenis Margalef pada tapak hutan TPTI lebih rendah dibanding TPTII/SILIN, sedangkan nilai indeks dominansi Simpson pada tapak hutan TPTI lebih tinggi dibanding tapak hutan TPTII/SILIN. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang nyata pada jumlah individu, jumlah jenis dan indeks keragaman hayati Shannon-Weinner burung di antara kedua lokasi penelitian. TPTII/SILIN lebih baik dalam menopang keragaman burung bawah tajuk dibanding TPTI.
Kata kunci: Silivikultur intensif, keragaman jenis, burung bawah tajuk, konsesi hutan
UDC (OSDCF) 581.526.42
Aditya Hani dan Encep Rachman (Balai Penelitian Teknologi Agroforestry)
PERTUMBUHAN TANAMAN NYAMPLUNG SAMPAI UMUR 4 (EMPAT) TAHUN PADA TIGA POLA TANAM DAN DOSIS PUPUK DI LAHAN PANTAI BERPASIR PANGANDARAN, JAWA BARAT
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 No.2, Agustus 2016, hlm: 151 - 158
Abstrak
Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) merupakan salah satu jenis tanaman alternatif baru penghasil bioenergi. Sampai saat ini, informasi mengenai teknik budidaya dan pengolahannya sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan nyamplung pada beberapa pola tanam di lahan berpasir Pangandaran sampai umur 4 (empat) tahun. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi. Petak utama dengan pola tanam yaitu: agroforestri nyamplung, nyamplung monokultur dan nyamplung+pandan. Sub petak terdiri dari 3 (tiga) dosis pupuk dasar dan lanjutan yaitu: 1) tanpa pemupukan (kontrol), 2) pupuk organik 5 kg+NPK 100 gr/tanaman dan 3) pupuk organik 10 kg+NPK 200 gr/tanaman. Setiap kombinasi perlakuan terdiri atas 25 tanaman yang diulang sebanyak 3 kali, sehingga jumlah total tanaman yang diamati adalah 675 tanaman. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah: persentasi hidup, tinggi, diameter dan jumlah cabang sampai tanaman berumur 4 (empat) tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi kombinasi perlakuan memberikan pengaruh yang tidak nyata. Pertumbuhan tanaman dipengaruhi secara nyata oleh pola tanam dan pemupukan. Pola agroforestri menghasilkan persen hidup dan pertumbuhan tertinggi yaitu 97,33% dengan tinggi rata-rata 220 cm dan diameter rata-rata 5,08 cm. Penggunaan pupuk yang direkomendasikan adalah 5 kg pupuk organik sebagai pupuk dasar dan 100 gram pupuk NPK/tanaman sebagai pupuk lanjutan sebanyak 2 kali setahun.
Kata kunci: Lahan pantai, pola tanam, nyamplung (Calophyllum inophyllum L.)
UDC (OSDCF) 630*234
Afandi Ahmad, (Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor) Muhammad Buce Saleh dan Teddy Rusolono (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) MODEL SPASIAL DEFORESTASI DI KPHP POIGAR, PROVINSI SULAWESI UTARA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 No.2, Agustus 2016, hlm: 159 - 169
Abstrak
| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 No.2, Agustus 2016
VIII
aktual, sehingga model spasial deforestasi dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk penyusunan arah pengelolaan KPHP Poigar kedepan.
Kata kunci: Deforestasi, model regresi logistik, pemodelan spasial, KPHP Poigar
UDC (OSDCF) 630*11
M. Kudeng Sallata (Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar) PARTISIPASI PETANI PADA PENERAPAN TEKNIK REHABILITASI LAHAN DAN KONSERVASI TANAH DI WILAYAH DAS MIKRO
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 No.2, Agustus 2016, hlm: 171 - 184
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi petani terhadap penerapan teknik rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) tepat guna pada DAS mikro melalui pendekatan PRA dan PAR. Teknik RLKT baik secara mekanik maupun vegetatif telah dibangun secara partisipatif dalam demplot seluas 2 ha di DAS mikro Datara dan 2,5 ha di DAS mikro Mararin, Sulawesi Selatan. Gully plug dilengkapi stik berskala dan V-notch weir dibangun di DAS mikro Datara dan bak penampung dibangun di DAS mikro Mararin untuk memonitor dampak kegiatan RLKT terhadap sedimentasi dan runoff. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat pada kedua lokasi berfluktuasi dalam kategori rendah(<50%), sedang (51-79%) dan tinggi (>80%) terhadap target kegiatan RLKT yang telah disepakati dalam kelompok. Tingkat partisipasi sangat ditentukan dari kondisi pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) yang telah dibangun bersama. Bentuk partisipasi petani pada penerapan RLKT pada kedua demplot yaitu: rela memberi lahan untuk lokasi demplot, menanam dan memelihara pohon untuk produksi kayu, membangun dan memelihara teras gulud dan SPA, memelihara tanaman rumput dan gamal sebagai penguat teras untuk konservasi tanah. Dampak pembangunan demplot RLKT tersebut menyebabkan lapisan sedimentasi dan volume runoff mengalami penurunan di lokasi penelitian. Di demplot Datara, tinggi lapisan sedimentasi pada tahun kedua (2011) di gully plug rata-rata 32,72 cm turun menjadi 7,14 cm pada tahun keempat (2013), demikian juga debit runoff pada tahun 2010 rata-rata 44,47 liter/detik menjadi 22,98 liter/detik pada tahun 2013. Di demplot Mararin rata-rata tinggi lapisan lumpur dalam bak penampung adalah 4,89 cm tahun 2011 turun menjadi 1,99 cm pada tahun 2013 dan rata-rata volume runoff 8,5 liter/detik turun menjadi 5,6 liter/detik pada waktu yang sama.
Kata kunci: Partisipasi petani, rehabilitasi lahan, konservasi tanah, DAS mikro
UDC (OSDCF) 630*234
Kusnadi, (Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor) I Nengah Surati Jaya, Nining Puspaningsih, (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Makin Basuki, dan Lukman Hakim (KPH Nganjuk, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, Nganjuk)
MODEL PENDUGA KUALITAS TEMPAT TUMBUH JATI (Tectona grandis) MENGGUNAKAN CITRA RESOLUSI SANGAT TINGGI PESAWAT TIDAK BERAWAK DI KPH NGANJUK
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 No.2, Agustus 2016, hlm: 185 - 194
Abstrak
Kualitas tempat tumbuh merupakan salah satu informasi utama yang dibutuhkan dalam pengelolaan tegakan hutan. Kelas kualitas tempat tumbuh tegakan (bonita) perlu dievaluasi setiap periode tertentu karena kualitas tegakan hutan dapat berubah akibat pengelolaan yang diterapkan. Penelitian ini menggunakan citra resolusi sangat tinggi yang diperoleh dari pesawat tidak berawak untuk menduga kualitas tempat tumbuh jati (Tectona grandis). Citra UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang digunakan direkam pada ketinggian 400 m di atas datum (ketinggian rata-rata permukaan lahan) dengan resolusi spasial 15 cm. Model penduga kualitas tempat tumbuh dibangun menggunakan analisis diskriminan. Penelitian ini menunjukkan nilai akurasi dari fungsi diskriminan menggunakan
peubah ganda kerapatan tajuk (C) dan rata-rata diameter tajuk ( ) yaitu sebesar 60,94%.
Abstract Sheet |
IX
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
pISSN: 2302-299X
Vol. 5 Issue 2, August 2016
eISSN: 2407-7860
Accreditation Number
:
561/Akred/P2MI-LIPI/09/2013
The key words noted here are the words wich represent the concept applied in a writing.
These abstracts are allowed to copy without permision from the publisher and free of charge.
UDC (OSDCF) 630*1
Sitti Saleha dan Putu Oka Ngakan (Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin)
DISTRIBUTION AND POPULATION STRUCTURE OF THE JUVENILE OF Diospyros celebica Bakh. UNDER THE CANOPY OF THEIR MOTHER-TREE
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 Issue 2, August 2016, page: 103 - 111
Abstarct
The distribution pattern and population structure of Diospyros celebica under the conopy of their mother-tree stand were studied in the experimental forest of Hasanuddin University at Maros District. One hectar rectangular plot was established in the secondary natural forest dominated by D. celebica. All individuals of D. celebica found in the plot were recorded their diameter at hight 130 cm above ground level. Individual less than 130 cm in hight were categorized as seedling and measured their total hight
from ground level. Analyzes using Morisita’s Distribution Index (Iδ) resulted in the distribution pattern of
D. celebica was clumped for all life-stages (seedling, sapling, pole and tree). Distribution pattern of seedling was found to be not significanly correlated to the slope, but was positively and significantly correlated with the level of canopy cover of their mother-tree stand. Abundance of seedlings were found under the canopy of the mother trees. However, as the individuals grow taller the correlation became weaker, until then the correlation became negative at the tree stage. This study also indicated that for all life-stages, more individual of D. celebica were found on the habitat with steeper slopes, but the correlation was not significant. The abundant number of seedling indicates that this species has a good ability in the natural regeneration process.
Keywords: Diospyros celebica, life-stage, distribution, canopy cover
UDC (OSDCF) 630*1
Mukhlisi (Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (BPTKSDA) Samboja) dan
WawanGunawan (Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)
NATURAL REGENERATION OF MANGROVE SEEDLINGS IN DEGRADED AREA OF KUTAI NATIONAL PARK
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 Issue 2, August 2016, page: 113 - 122
Abstract
| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 Issue 2, August 2016
X
Distribution of seedlings mangrove at Bontang area has strong positive correlation with environmental parameter of soil texture (silt and clay), soil chemical (CEC, N, C, Na, Ca), tides, and water chemical (salinity, NO3 and COD). In other hand, seedlings distribution in the Sangkima area have strong positive
correlation with environmental parameters of soil texture (sand) and water chemicals (Mg, Al, pH, COD, BOD, DO, and TSS). In order to speed up of the restoration in degraded areas of Kutai National Park mangrove forest, it was need attention to suitability aspects of each species based on the environmental conditions of each site.
Keywords: Kutai National Park, secondary succesion, mangrove composition, environmental
UDC (OSDCF) 581.526.42
Rina Laksmi Hendrati, (Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan) Diah Rachmawati, (Lab. Fisiologi Tumb. Fak. Biologi UGM, Yogyakarta, Indonesia) dan Asri Cahyaning Pamuji (Fak. Biologi UGM, Yogyakarta, Indonesia)
DROUGHT RESPONSES ON GROWTH, PROLINE CONTENT AND ROOT ANATOMY OF Acacia auriculiformis Cunn., Tectona grandis L., Alstonia spectabilis Br., AND Cedrela odorata L.
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 Issue 2, August 2016, page: 123 - 133
Abstract
Global warming causes extreme weather and temperature leading to drought. Identification of drought adaptive species is essential. This research is aimed to examine growth, proline content and root anatomy of Acacia auriculifomis, Tectona grandis, Alstonia spectabilis, and Cedrela odorata and to compare the most adaptive species under drought condition. Controlled dry treatments applied were 10, 20, 30, and 40 days unwatered, and compared with control plants, each with 3 replications. Characteristics measured were height, diameter, leaf number and area, root proline content and root tracheal diameter. Data and samples were collected every 10 days. Growth and physiological data were analyzed by using T-Test, while anatomical data were analyzed by using ANOVA and DUNCAN test. Results showed that drought on A. auriculiformis, T. grandis, A. spectabilis, and C. odorata has decreased plant height, stem diameter and number of leaves but increasing proline content, and diameter of tracheas belonging to the roots. This study indicates that the most likely tolerant and adaptive species to drought are those that have the most variation of mechanisms to respond in which these characters would likely to appear at higher level of stress condition.
Keywords: Drought, trees species, growth, proline, anatomy
UDC (OSDCF) 630*1
Adi Susilo (Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan) dan Indra A.S.L.P.Putri (Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar)
IMPACT OF INTENSIVE SYLVICULTURE SYSTEM (TPTII/SILIN) ON UNDERSTORY BIRD COMMUNITY AT TRIWIRA ASTA BHARATA FOREST CONCESSION, EAST KALIMANTAN
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 Issue 2, August 2016, page: 135 - 149
Abstract
Abstract Sheet |
XI
Margalef Species Richness Index were lower in TPTI than TPTII/SILIN. Meanwhile Simpson Dominance Index was higher at TPTI than TPTII/SILIN. Statistical analysis for the data of the two forest blocks showed significant differences on number of individual, number of species and Shannon-Weiner Diversity Index. TPTII/SILIN was better in supporting understory birds community than those of TPTI.Keywords: Intensive silviculture, species diversity, understory bird, forest concession
UDC (OSDCF) 581.526.42
Aditya Hani dan Encep Rachman (Balai Penelitian Teknologi Agroforestry)
GROWTH OF NYAMPLUNG (Calophyllum inophyllum L.) ON THREE PLANTING PATTERNS AND DOSE OF FERTILIZER ON SANDY BEACH PANGANDARAN, WEST JAVA
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 Issue 2, August 2016, page: 151 - 158
Abstract
Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) is one of the new alternatives of biofuels materials in the world. Hitherto, the information on the cultivation and processing techniques is very limited. This study aims to find out the growth of nyamplung on some cropping patterns on sandy beach Pangandaran in 4 (four) years. The experimental design used in this study was split plot design. The main plots were cropping pattern: agroforestry nyamplung, nyamplung monoculture and nyamplung + pandanus, and the subplot were fertilizer doses: (1) no fertilizer (control), (2) 5 kg of organic fertilizer + 100 gr/plant NPK and (3) 10 kg of organic fertilizer + 200 gr/plant of NPK fertilizer. Each combination treatment consists of 25 plants that were repeated 3 times , so that the total number of plants observed were 675 plants. The growth parameters observed: survival rate, height, diameters and number of branches of plant until 4 years. The results of this study showed that the interaction of treatments were statistically not significant. The growth of the plants was significantly affected by cropping pattern and fertilization. The Agroforestry pattern produces the highest survival rate and growth that is 97.33% with an average height of 220 cm and an average diameter of 5.08 cm. Recommended fertilizer doses are 5 kg of organic fertilizer for base and 100 grams of advanced fertilizer NPK twice a year.
Keywords: Coastal area, cropping pattern, nyamplung (Calophyllum inophyllum L.)
UDC (OSDCF) 630*234
Afandi Ahmad, (Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor) Muhammad Buce Saleh dan Teddy Rusolono (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor)
SPATIAL MODELING OF DEFORESTATION IN FMU OF POIGAR, NORTH SULAWESI
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 Issue 2, August 2016, page: 159 - 169
Abstract
Forest is a part of the ecosystem that provides environmental services. Deforestation may decrease forest function in an ecosystem. This study aims to build a spatial model of deforestation in a forest management unit (FMU) of Poigar. Deforestation analysis carried out by analyze the change of forest cover into non-forest cover with post classification comparison technique. Driving forces of deforestation carried out by spatial modeling using binary logistic regression models (LRM). Result of logistic regression model was used to predict the deforestation in 2013 and compare the prediction result with actual deforestation. The result showed that forest loss from the 2000 to 2013 period amounted 12,668.2 hectares. Deforestation in FMU of Poigar influenced by six factors there are distance from the road, distance from the settlement, distance from the river, population density, elevation and slope. Logistic regression model was built using five explanatory variables that are the distance from the road, distance from the river, population density, elevation and slope. Population density and accessibility is the most influented factor caused deforestation in FMU of Poigar. Prediction of deforestation could predict about 58 % of actual deforestation spatialy, so spatial models of deforestation could be an information to guidance on future management of FMU of Poigar.
| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 Issue 2, August 2016
XII
UDC (OSDCF) 630*11
M. Kudeng Sallata (Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar)
FARMER’S PARTICIPTION ON APPLICATION OF LAND REHABILITATION AND SOIL CONSERVATION ENGINEERING ON MICRO WATERSHED
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 Issue 2, August 2016, page: 171 - 184
Abstract
This study aims to determine the level of farmers participation in the implementation of land rehabilitation and soil conservation (LRSC) techniques where appropriate to the micro watershed through PRA and PARapproaches. The techniques of LRSC both mechanical and vegetative methods have been built in a participatory manner in the demonstration plots of 2 ha in Datara micro watershed and of 2.5 ha in Mararin alsomicro watershed, South Sulawesi. Gully plug equipped with stick-scale and V-notch weir were constructed in Datara micro watershed and concrete tank of mud and runoff was built in Mararin micro watershed to monitor the impact of LRSC actvities to sedimentation and runoff level. The results showed the level of farmers participation at both locations fluctuated in the category of low (<50%), moderate (50-79%) and high (>80%) against targets LRSC activities that have been agreed at a meeting of the group. The level of participation is determined from the condition of the microhydro electric power who have built together. Participation of farmers on the application of LRSC on both plots are: willing to lend of their land for the location of demonstration plots, planting and maintaining trees for timber production, building and maintaining contour terraces and channel of water drainages, maintaining grass and gliricidia as reinforcement terraces for soil conservation techniques. Activities of LRSC impact plots show that layers of sedimentation and runoff volume decreased in the research sites. Demonstration plots in Datara, high sedimentation layer in the second year (2011) in gully plug average of 32.72 cm decline to 7.14 cm in the fourth year (2013), as well as runoff discharge 44.47 liter/sec in 2010 down to 22.8 liter/sec in November 2013. in Mararin plots the average height of a layer of mud in the tank in 2011 from 4.89 cmdecline to 1.99 cm in November 2013 and the runoff volume 8.5 liter/sec down to 5.6 liter/sec at the same time.
Keywords: Famers Participation, land rehabilitation, soil conservation, micro watershed
UDC (OSDCF) 630*234
Kusnadi, (Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor) I Nengah Surati Jaya, Nining Puspaningsih, (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) Makin Basuki, dan
Lukman Hakim (KPH Nganjuk, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur, Nganjuk)
ESTIMATION MODEL OF SITE QUALITY OF TEAK (Tectona grandis) USING VERY HIGH-RESOLUTION IMAGERY FROM UNMANNED AERIAL VEHICLE IN KPH NGANJUK
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.5 Issue 2, August 2016, page: 185 - 194
Abtract
Site quality is one of the main information needed in forest stand management. Site quality classes need to be evaluated every certain period because the quality of forest stands may change as a result of management applied. This study describes the use of very high-resolution imagery derived from unmanned aerial vehicle (UAV) for estimating the site quality of teak (Tectona grandis). The UAV imagery used was taken from 400 m above datum (the average land surface elevation) with ground spatial resolution of 15 cm. Site quality estimation models was built using discriminant analysis. The study found that the best accuracy from discriminant function using multiple variables canopy density (C) and average of crown diameter ( ) is 60.9%.