• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS CINTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS CINTA"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

Proposal Tesis

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS

CINTA LINGKUNGAN

(StudiPada Madrasah AliyahNegeri di Kota Medan)

Oleh:

DEDI SAHPUTRA NAPITUPULU NIM: 3003163013

PROGRAM STUDI S2 PENDIDIKAN ISLAM

PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERISUMATERA UTARA

MEDAN

(2)

DAFTAR ISI

BAB IPENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 6

C. Penjelasan Istilah ... 7

D. Tujuan Penelitian ... 8

E. Kegunaan Penelitian... 8

BAB II KAJIAN TEORITIS ... 10

A. Lembaga Pendidikan Islam ... 10

B. Pengertian dan Sejarah Perkembangan Madrasah ... 13

C. Madrasah di Indonesia ... 15

D. Lingkungan Hidup ... 20

E. Islam dan Lingkungan Hidup ... 25

F. Aktualisasi Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Cinta Lingkungan . 33 G. Kajian Terdahulu ... 35

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 37

A. Jenis Penelitian ... 37

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 39

C. Informan Penelitian ... 39

D. Sumber Data ... 40

E. Teknik Pengumpulan Data ... 40

F. Teknik Analisis Data ... 42

G. Teknik Penjamin Keabsahan Data ... 44

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Isu mengenai lingkungan hidup memang tidak terlalu populer jika

dibandingkan dengan isu politik, ekonomi, terorisme, toleransi beragama dan

isu-isu lainnya. Perhatian mengenai lingkungan hidup baru mencuat kepermukaan

manakala terjadi bencana seperti banjir, kebakaran hutan, tanah longsor dan

sebagainya. Tetapi belakangan ini lingkungan hidup menjadi ramai dibicarakan di

forum-forum ilmiah dan menjadi salah satu isu hangat dan menjadi perhatian

dunia Internasional. Selama ini banyak orang yang lalai dan lupa bahwa ternyata

kelestarian lingkungan juga memiliki dampak yang besar terhadap kesejahteraan

manusia.

Lingkungan dalam arti alam adalah keadaan (kondisi, kekuatan) sekitar

yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku organisme.1 Sedangkan yang

dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,

daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang

mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta

mahluk hidup lainnya.2 Dengan demikian, maka lingkungan hidup sangat

berpengaruh terhadap siapa saja yang berada didalamnya. Baik buruknya kualitas

seseorang tergantung dari lingkungan tempat tinggalnya. Demikian juga dengan

lembaga pendidikan, kualitasnya sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan

sekitarnya.

Interaksi antara manusia dan lingkungan sesungguhnya tidak dapat

dipisahkan. Lingkungan dapat mempengaruhi manusia tapi tidak jarang pula

bahwa kehadiran manusia juga dapat mempengaruhi bahkan merubah lingkungan.

1

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besa r Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h. 675.

2

(4)

Keberlangsungan hidup manusia sangat ditentukan oleh kemampuannya

menyesuaikan diri dengan lingkungan (adaptasi). Oleh karenanya sangat

disayangkan bila terjadi hubungan yang kurang baik antara manusia dengan

lingkungannya.

Banyaknya bencana yang terjadi dewasa ini merupakan indikasi bahwa

kesadaran lingkungan pada sebahagian besar masyarakat kita dinilai sangat

memperihatinkan. Dimulai dari sekala Internasional bahwa menipisnya lapisan

ozon yang menyebabkan bumi ini semakin panas serta cuaca ekstim yang terjadi

di berbagai belahan dunia, masalah tersebut terbungkus dalam istilah Global

warming yang kini menjadi permasalahan yang sangat serius. Pada level Nasional

kita maklumi bersama bahwa perusakan dan pembakaran hutan khususnya

diwilayah Riau dan Kalimantan sangat masif dilakukan oleh kelompok-kelompok

orang yang tidak bertanggungjawab. Sedangkan pada tingkat lokal bencana banjir

masih sering terjadi akibat kesadaran masyarakat yang membuang sampah pada

tempatnya masih sebatas selogan saja.

Kurangnya pemahaman keberagamaan pada diri seseorang

menyebabkannya tidak mempunyai kontrol diri sehingga akan berbuat sesuka

hatinya. Sangat besar kemungkinan terjadi perusakan lingkungan atau ketidak

pedulian seseorang terhadap lingkungan sekitar dikarenakan lemahnya

pemahaman dan pengamalannya dalam beragama. Oleh sebab itu, perlu trobosan

baru dalam mengabungkan kecintaan terhadap alam melalui internalisasi

nilai-nilai keagamaan.

Realitas sosial saat ini telah membuktikan adanya kerusakan lingkungan.

Penanganannya secara teknik-intelektual sudah banyak diupayakan, namun secara

moral spiritual belum cukup diperhatikan dan dikembangkan. Oleh sebab itu,

pemahaman masalah lingkungan hidup dan penanganannya perlu diletakkan di

(5)

prinsip, nilai dan norma serta ketentuan hukum yang bersumber dari ajaran

agama.3

Alquran secara tegas telah mensinyalir bahwa berbagai kerusakan yang

terjadi di bumi ini disebabkan karena ulah tangan manusia yang tidak perduli

terhadap kelestarian lingkungan hidup sehingga akibatnya terjadi berbagai

bencana alam yang silih berganti. Didalam surah Ar-Ru>m/30: 41 telah dijelaskan

sebagai berikut:

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena

perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian

dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kejalan yang benar.

Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa kerusakan yang terjadi dibumi

adalah karena ulah tangan manusia. Dari sini dapat dipahami betapa Islam sangat

menaruh perhatian yang serius terhadap kelestarian lingkungan demi

kesejahteraan manusia hidup di bumi Allah ini. Lebih dari sekedar itu ayat diatas

sekaligus memberikan peringatan dan ancaman kepada manusia tentang urgensi

menjaga alam ini. Jika alam ini dirusak maka timbul bencana sebagai peringatan

kepada tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Bukan hanya itu, yang tidak

ikut berperan dalam merusak lingkungan pun juga akan terkena imbasnya.

Demikian pula di dalam hadis Rasulullah Saw juga di jelaskan bahwa

salah satu indikator keimanan seseorang adalah dengan menjaga kebersihan

lingkungannya. Dengan demikian maka sebenarnya Islam sangat memberikan

perhatikan yang serius terhadap permasalahan lingkungan. Dalam hal ibadah

misalnya, kesucian lahir dan batin, badan, pakaian serta tempat menjadi prasyarat

diterimanya amalan seseorang. Bahwa kenyataan yang dilapangan masih terdapat

3Fahmi Hamidi, “Lingkungan Hidup Dalam Perspektif Fiqih Islam”, dalam Ta‟lim

(6)

berbagai persoalan-persoalan yang tidak sesuai dengan harapan merupakan

masalah lain, yang jelas perhatian Islam terhadap lingkungan sangat serius.

Manusia diciptakan Allah dimuka bumi ini memiliki dua tugas pokok

yaitu sebagai hamba dan khalifah. Sebagai khalifah manusia ditugaskan untuk

mengatur dan menata bumi ini, tentu amanah yang diberikan kepada manusia

sangatlah berat. Sepertinya Allah tidak salah pilih, diantara makhluk ciptaannya

hanya manusialah yang diberi tugas untuk mengelola bumi demi keberlangsungan

dan kesejahteraan hidup mereka dan anak cucu generasi berikutnya. Sebagai

seorang hamba manusia tentunya harus tunduk dan patuh terhadap perintah Allah

termasuk dalam hal pengelolaan lingkungan alam ini. oleh karena itu, memelihara

dan membangun lingkungan di permukaan bumi ini adalah ajaran yang penting

dalam Islam.4

Untuk mengatasi persoalan lingkungan yang semakin hari kian krisis ini

tentu perlu dicari jalan keluar melalui berbagai upaya yang dilakukaan. Salah satu

upaya yang dimaksud adalah melalui integrasi pendidikan Islam khususnya pada

lembaga pendidikan Islam dan kesadaraan akan lingkungan hidup. Melalui

lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu menghasilkan insan yang cinta

terhadap lingkungan. Dengan berbagai metode yang dilakukan, lembaga

pendidikan Islam diharapkan mampu mengubah setiap sendi kehidupaan

masyarakat tidak hanya mampu memecahkan persoalan keagamaan tetapi juga

peranan pendidikan Islam diharapkan mampu berkontribusi pada persolan umum

seperti sosial, ekonomi, politik termasuk kearifan terhadap lingkungan. Salah satu

cara untuk menanamkan kecintaan terhadap lingkungan khususnya di madrasah

adalah melalui dengan cara pencanangan program cinta lingkungan sebagai basis

atau visi madrasah yang kemudian diterapkan dengan tindakan nyata oleh seluruh

warga madrasah. Melalui kecintaan terhadap lingkungan hidup akan mampu

merubah prilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen

masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan

4

(7)

kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan

dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan

masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan

lingkungan untuk kepentingan sekarang dan generasi yang akan datang.5

Secara tidak langsung kondisi lingkungan berpengaruh pada kualitas

masyarakat yang berdomisili ditempat itu. Lingkungan yang kumuh biasanya

terdapat didaerah-daerah yang masyarakatnya berpendidikan dan berpenghasilan

rendah. Sementara lingkungan yang asri biasanya dihuni oleh mereka kelompok

elit. Demikian pula jika berbicara mengenai lingkungan madrasah Secara tidak

langsung lingkungan yang sejuk, rapi dan bersih akan berpengaruh terhadap

keberhasilan siswa dalam mengikuti dan menerima pelajaran di madrasah, jika

lingkungan madrasahnya baik maka para siswa akan merasa nyaman belajar

namun jika lingkungan madrasah kumuh siswa tidak akan bergairah untuk

mengikuti pelajaran.

Kesadaran akan lingkungan madrasah yang sudah tertanam pada seluruh

warga madrasah akan mengantarkan madrasah tersebut menjadi madrasah yang

berprestasi dan berhasil melaksanakan program kegiatan belajar mengajar. Hal itu

memang sangat pantas karena baik buruknya sebuah lembaga pendidikan sangat

bergantung pada kualitas lingkungannya.

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) yang berada di kota Medan adalah salah

satu bentuk lembaga pendidikan Islam favorit yang telah membuktikan bahwa

madrasah sesungguhnya mampu menerapkan kesadaran lingkungan bagi seluruh

siswa, guru dan pegawai. Hal ini dapat terwujud karena memang kesadaran akan

lingkungan tertuang secara gamblang didalam visi dan misi serta dalam tindakan

nyata.

Sebagai sebuah sekolah yang bercirikan Islam, madrasah tidak hanya

mengajarkan mata pelajaran agama saja, tetapi juga melaksanakan pembelajaran

5

(8)

umum sebagaimana yang lazim di sekolah menengah atas lainnya. Hal yang

paling menarik di madrasah adalah siswa juga dididik bagaimana melestarikan,

menjaga dan mencintai lingkungannya. Adalah patut di banggakan bahwa dari

sekian banyak sekolah yang ada di Sumatera Utara, madrasah masuk nominasi

sekolah hijau tingkat Nasional yang direkomendasikan oleh Gubernur untuk

mengikuti kompetisi Adiwiyata dari Kementrian Lingkungan Hidup bersama

sekolah-sekolah dari seluruh penjuru Nusantara. Dari pengamatan awal peneliti

bahwa pada Madrasah Aliyah Negeri yang ada di kota Medan (MAN 1, MAN 2

Model dan MAN 3 Medan) telah berhasil mewujudkan lingkungan sekolah yang

sejuk dan nyaman melalui penerapan visi dan misi madrasah yang berbasis pada

kecintaan terhadap lingkungan. Keberhasilan ini tentu tidak terlepas dari berbagai

upaya dan kerja yang telah dilakukan. Oleh karena itu apa yang telah dilakukan

oleh Madrasah Aliyah Negeri di Kota Medan menurut penulis juga patut untuk

diterapkan pada seluruh madrasah yang ada di Kota Medan dan tidak menutup

kemungkinan kepada seluruh sekolah yang ada di seluruh penjuru Negeri.

Berangkat dari latar belakang tersebut penulis tertarik untuk melakukan

penelitian yang berjudul: “Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Cinta

Lingkungan (Studi pada Madrasah Aliyah Negeri di Kota Medan)”.

B. Perumusan Masalah

1. Bagaimana konsep lembaga pendidikan Islam berbasis cinta lingkungan di

Madrasah Aliyah Negeri di kota Medan?

2. Apa saja usaha-usaha yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah Negeri di

kota Medan dalam menerapkan konsep lembaga pendidikan Islam berbasis

cinta lingkungan ?

3. Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat dalam

menerapkan konsep lembaga pendidikan Islam berbasis cinta lingkungan

(9)

C. Penjelasan Istilah

Sebagaimana judul yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu, maka

ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan agar dapat terlihat batasan-batasan

masalah yang hendak dibahas dan menjadikan penelitian ini lebih fokus. Adapun

istilah-istilah yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Lembaga secara etimologi adalah asal sesuatu, acuan, sesuatu yang

memberi bentuk pada yang lain, badan atau organisasi yang bertujuan

mengadakan sesuatu penelitian keilmuan atau melakukan suatu usaha.

Dalam pengertian fisik, lembaga berarti institute yaitu sarana atau

organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, dalam pengertian fisik

lembaga juga disebut sebagai bangunan. Sedangan pengertian lembaga

secara non-fisik atau abstrak adalah institution, yakni suatu sistem

norma untuk memenuhi kebutuhan, dapat juga disebut sebagai

pranata.6

2. Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai proses penyiapan generasi

muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai

Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia

dan memetik hasilnya di akhirat.7

3. Kata basis dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti asas, atau

dasar.8 Dalam konteks penelitian ini konsep cinta lingkungan dijadikan

sebagai dasar dan tujuan madrasah, hal ini dapat terlihat dari visi misi

yang dirumuskan oleh Madrasah Aliyah Negeri yang ada di kota Medan

memiliki kesamaan yaitu berbasis pada kecintaan terhadap lingkungan.

4. Lingkungan dalam arti alam adalah keadaan (kondisi, kekuatan) sekitar

yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku organisme.9

6

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, cet. I (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 2016.

7

Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tenta ng Pendidikan Islam (Bandung:

Al-Ma‟arif, 1980), h. 94.

8

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. h. 98.

9

(10)

Lingkungan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lingkungan

yang berada di sekitar Madrasah yang menjadi lokasi penelitian.

D. Tujuan Penelitian

Sebagai jawaban dari rumusan masalah diatas, maka penelitian ini memiliki

tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui konsep lembaga pendidikan Islam berbasis cinta

lingkungan di Madrasah Aliyah Negeri di kota Medan

2. Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah

Negeri di kota Medan dalam menerapkan lembaga pendidikan Islam

berbasis cinta lingkungan

3. Untuk mengetahui Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan

penghambat dalam menerapkan konsep lembaga pendidikan Islam

berbasis cinta lingkungan di Madrasah Aliyah Negeri di kota Medan.

E. Kegunaan Penelitian

1. Secara teoritis penelitian ini berguna untuk memperkaya khazanah ilmu

pengetahuan bagi para pembaca terutama bagi orang-orang yang

menekuni bidang pendidikan Islam. Dalam cakupan yang lebih luas

lagi, penelitian ini bertujuan untuk memberikan konsep integrasi antara

pendidikan Islam dan prilaku warga sekolah/madrasah yang cinta

terhadap lingkungan.

2. Secara empiris penelitian ini berguna memberikan masukan dan

kontribusi dalam hal konsep lembaga pendidikan Islam berbasis cinta

lingkungan melalui upaya nyata, khususnya bagi Madrasah Aliyah

Negeri yang ada di kota Medan sebagai penggagas utama yang

mencantumkan visi misi dan tindakan nyata yang cinta kepada

(11)

3. Sebagai bahan masukan sekaligus bahan kajian bagi stake holder

pendidikan khususnya bagi kepala madrasah, para guru yang berada

pada lingkup lembaga pendidikan Islam dan seluh masyarakat pada

umumnya.

4. Sebagai pelengkap dan tambahan perbendaharaan hasil penelitian

dengan harapan dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan lembaga

(12)

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Lembaga Pendidikan Islam

Sangat banyak definisi para ahli mengenai lembaga pendidikan. lembaga

yang dimaksud adalah penyelenggara pendidikan yang bertanggungjawab untuk

mencerdaskan anak bangsa. Ki Hadjar Dewantara meluaskan penyelenggaraan pendidikan dengan “tricentra” yang merupakan tempat pergaulan anak didik dan sebagai pusat pendidikan yang amat penting baginya. “Tricentra” itu adalah (1) Lembaga keluarga yang membentuk lembaga pendidikan keluarga, (2) Lembaga

perguruan yang membentuk lembaga pendidikan sekolah, (3) Lembaga pemuda

yang berbentuk lembaga pendidikan masyarakat.10

Sidi Gazalba seorang pakar agama Islam berpandangan bahwa

lembaga-lembaga yang mempunyai tanggungjawab pendidikan ialah:

1. Rumah tangga, yaitu pendidikan primer untuk fase bayi dan fase

kanak-kanak sampai usia sekolah. Pendidiknya adalah orang tua, sanak kerabat, famili, saudara-saudara dan teman sepermainan.

2. Sekolah, yaitu pendidikan sekunder yang mendidik anak mulai usia

sekolah sampai ia keluar dari sekolah tersebut. Pendidiknya adalah guru yang professional.

3. Kesatuan sosial, yaitu pendidikan tertier yang merupakan pendidikan

yang terakhir tetapi bersifat permanen. Pendidiknya adalah

kebudayaan, adat istiadat, suasana masyarakat setempat.11

Dari pandangan-pandangan beberapa ahli tentang siapayang

bertanggungjawab menyelenggarakan pendidikan seperti yang secara tegas di

sebut oleh Ki Hadjar Dewantara dan Sidi Gazalba adalah lembaga sekolah.12

Sekolah dalam istilah lembaga pendidikan Islam akrab di kenal dengan nama

10

Muhaimin dan Abdul Mujid, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda, 1993), h. 288.

11

Sidi Gazalba, Pendidikan Umat Islam: Masalah terbesa r Kurun Kini Menentukan Nasib Umat (Jakarta: Bharata, 1970), h. 26-27.

12

(13)

madrasah. Akan tetapi dua istilah ini oleh masyarakat sering dibeda-bedakan.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Azyumardi Azra:

Meskipun dalam kenyataannya “madrasah” berarti “sekolah”, di Indonesia istilah tersebut secara khusus mengacu kepada “sekolah (agama) Islam”. Di Nusantara sistem madrasah mulai berkembang pada dekade-dekade awal abad ke-20 pada mulanya memfokuskan diri nyaris secara eksklusif pada studi bahasa Arab dan studi Islam lainnya. Seperti Alquran, Hadis, fiqh, sejarah Islam dan mata pelajaran Islam lainya. Lama sebelumnya, madrasah secara perlahan mengadopsi matematika, geografi dan ilmu-ilmu

umum lainnya yang dimasukkan kedalam ilmu-ilmu umum lainnya.13

Di dalam catatan sejarah tercatat ada beberapa lembaga pendidikan Islam

yang turut berkontribusi pada pengembangan khazanah intelektual muslim

dimulai dari bentuk yang paling klasik sampai dengan bentuk modern. Diantara

lembaga pendidikan Islam pada masa klasik adalah kuttab, mesjid dan mesjid

khan, perpustakaan, pendidikan rendah di istana, toko-toko kitab, rumah-rumah

para ulama, majelis kesusastraan, madrasah, rumah sakit dan pendidikan tinggi.14

Dalam perkembangannya, ternyata hari ini sejumlah lembaga pendidikan Islam

tersebut yang mampu bertahan dan berkembaang pesat adalah madrasah dan

pondok pesantren.

Madrasah dan Pesantren-pesantren yang pada hakikatnya adalah suatu alat

dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata,yang sudah berurat berakar

dalam masyarakat Indonesia umumnya, hendaklah pula mendapat perhatian dan

bantuan yang nyata dengan berupa tuntutan dan bantuan materiil dari

pemerintah.15

Dalam rangka konvergensi, Departemen Agama menganjurkan supaya

pesantren yang tradisional dikembangkan menjadi sebuah madrasah, disusun

secara klasikal, dengan memakai kurikulum yang tetap dan memasukkan mata

13

Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi Modernisasi Menuju Milenium Baru

(PT.Logos Wacana Ilmu, 1999), 72.

14

Haidar Putra Daulay dan Nurgaya Pasa, Pendidikan Islam Dalam Lintasan Sejarah: Kajian Dari Zaman Pertumbuhan Sampai Kebangkitan (Jakarta: Kencana, 2013), h. 86-99.

15

(14)

pelajaran umum disamping agama. Sehingga murid di madrasah tersebut

mendapatkan pendidikan umum yang sama dengan murid di sekolah umum.16

Dalam hubungan itu, lembaga pendidikan yang dikenal dalam khazanah

Islam banyak sekali, seperti mesjid (surau, langgar, mushala dan meunasah),

pengajian dan penerangan Islam (majelis ta‟lim), kursus-kursus keIslaman,

badan-badan konsultasi keislaman, Madrasah dan Pondok pesantren.17

Lembaga pendidikan Islam sesungguhnya berawal dari masjid, fungsi

masjid pada masaini bukan saja sebagai tempat melaksanakan ibadah wajib

seperti shalat, tetapi juga berfungsisebagai tempat untuk mengkaji ilmu

pengetahuan. Tetapi kemudian masjid sangat terbatas luasnya, sementara itu

jumlah penuntut ilmu pengetahuan semakin banyak, dan tak bisa ditampung lagi

oleh masjid.Untuk merespon hal itu, dibuatlah tempat khusus yang tempatnya

berhubungan dengaan masjid atau tempat yang tidak jauh dari masjid, mereka

menanamkan pendidikan yang mengajarkan ilmu agama itu dengan nama

Madrasah atau kuttab.18

Sebenarnya lembaga pendidikan Islam dimulai sejalan dengan pendidikan

Islam itu dimulai bersamaan dengan kedatangan agama Islam itu sendiri yaitu

pada tahun 611 M.19 Kemudian Islam berkembang pesat menyebar keseluruh

penjuru dunia serta mengalami kemajuan. Pada saat yang sama lembaga

pendidikan Islam juga menyebar keseluruh wilayah yang ditahlukkan. Oleh

karena perubahan zaman, maka pendidikan dan lembaga pendidikan Islam juga

mengalami dinamika perkembangan pada setiap aspeknya.

Dalam konteks penelitian ini lembaga pendidikan Islam yang dimaksud

adalah madrasah. Oleh karena itu, rangkaian paragraf berikut ini akan lebih fokus

membahas mengenai eksistensi madrasah, dimulai dari pengertian, sejarah berdiri

(15)

B. Pengertian dan Sejarah Perkembangan Madrasah

Madrasah dalam Shorter Encyclopedia of Islam sebagaimana yang dikutip oleh Haidar adalah “Name of an institution where the Islamic science are studied”

(nama dari suatu lembaga dimana ilmu-ilmu keIslaman diajarkan).20 Sementara

itu, menurut Peraturan Menteri Agama Nomor 1 tahun 1946 dan Peraturan

Menteri Agama Nomor 7 tahun 1950 maupun SKB Tiga Menteri (Menteri Dalam

Negeri, Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) Tahun 1975, dapat

dipahami bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan yang menjadikan mata

pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran pokok sebagai ciri khasnya yang

membedakan dengan sekolah.21

Dalam sejarah Islam, Madrasah sudah menjadi fenomena yang menonjol

sejak awal abad 11-12 M (abad ke-5 H), khusunya ketika Wazir Bani Saljuk,

Niz}am al-Muluk mendirikan Madrasah Niz}amiyah di Bagdad. Sebuah lembaga

pendidikan yang bertujuan menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi tantangan pemikiran Syi‟ah.22

Pada perkembangan berikutnya, madrasah menjadi

lembaga pendidikan yang berkembang dan menjadi trend di hampir seluruh

kekuasaan Islam.

Menurut George Makdisi sebagaimana yang dikutip oleh Ainurrafiq dan

Ahmad Ta‟arifin mengungkapkan bahwa akar sejarah pertumbuhan madrasah

dalam dunia Islam melewati tiga tahap, yaitu: (1) Tahap masjid, (2) Tahap masjid

khan, dan (3) Tahap madrasah.

Tahap masjid berlangsung terutamapada abad ke delapan dansembilan. Masjid yang dimaksud dalam konteks ini adalah masjid yang selain digunakan sebagai tempat shalat berjamaah juga digunakan sebagai majelis ta‟lim (pendidikan).

Tahap kedua adalah lembaga masjid khan, yaitu masjid yang

dilengkapi dengan bangunan khan (asrama atau pondok) yang masih

20

Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaha ruan P endidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2012), h. 98.

21

Ibid., h.106.

22Ainurrafiq dan Ahmad Ta‟arifin,

Manajemen Madrasah Berbasis Pondok pesantren

(16)

bergandengan dengan masjid. Berbeda dengan masjid biasa, masjid khan menyediakan tempat penginapan yang cukup representatif bagi para pelajar yang datang dari berbagai kota. Tahap ini mencapai perkembangan yang sangat pesat pada abad ke sepuluh.

Sedangkan tahap ketiga adalah madrasah yang khusus diperuntukkan bagi lembaga pendidikan. pada tahap ini, madrasah yang pada umumnya terdiri dari ruang belajar, ruang pemondokan, dan masjid telah berhasil mengintegrasikan kelembagaan masjid biasa (tahap pertama) dengan

masjid khan (tahap kedua).23

Satu abad setelah berdirinya Madrasah Niz}am al-Mulk, di Mesir

didirikan pula Madrasah al-Hafiz}iya>t oleh khalifah

Hafiz}lidi>nilla>hal-Fat}imiy (525 H/1131 M) di Iskandariyah dan Madrasah al-Syafi‟iya>t yang

didirikan oleh Ibn Salaz pada tahun (546 H/1151 M) di Kairo. Keduanya

merupakan madrasah pertama di Mesir, bahkan Afrika Utara.24 Pada awalnya

usaha pendirian madrasah ini dilatar belakangi oleh pertarungan pemikiran aliran

dan paham ummat Islam kala itu. Seperti paham keagamaan yang berkembang pada awal mula madrasah didirikan adalah paham Syi‟ah, maka didirikan madrasah di tempat yang lain oleh kelompok orang yang berpaham Sunni.

Pada gilirannya nanti, siapa yang berkuasa maka paham keagamaan

penguasanya lah yang di sebar luaskan dengan cara menjadikan paham tersebut

mazhab resmi Negara. Seperti kasus yang terjadi ketika awal berdirinya al-Azhar

yang dikembangkan adalah paham Syi‟ah karena penguasa ketika itu dinasti

Fat}imiyah berpaham Syiah, tetapi belakangan, beralih menjadi Sunni hingga hari

ini. Dari kenyataan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sistem politik

pemerintahan sangat berpengaruh besar pada sistem yang ada didalam lembaga

pendidikan Islam.

Kebiasaan mendirikan madrasah sebagaimana yang dilakukan oleh

khalifah terdahulu ternyata diikuti oleh kahalifah sesudahnya. Setelah dinasti

Ayyubiah diteruskan oleh sultan Mamluk (648 H/1250 M) madrasah baru terus

bermunculan, diantaranya adalah Madrasat al-S}ahibiya>t yang didirikan pada

23

Ibid.,h. 32.

24

Abd. Mukti, Pembaharuan Lembaga Pendidika n di Mesir: Studi Tentang

(17)

tahun (654 H/1256 M), Madrasat Maglat}i al-Juma>li yang didirikan pada tahun

(730 H/ 1329 M) di Kairo dan Madrasat al-Jai> yang didirikan pada tahun (768

H/1366 M) di Kairo.25

Selain dari Niz}amul Mulk, Nuruddin Zinky juga mendirikan

madrasah-madrasah, menurut catatan sejarah, beliaulah orang pertama mendirikan madrasah

di Damaskus. Madrasah yang didirikannya cukup banyak tersebar di kota-kota

Syiria sampai ke desa-desa.26 Setelah kemunduran madrasah Niz}amiyah maka

pada abad ke-13 muncul madrasah yang sangat terkenal yaitu madrasah

Mustansiriyah yang didirikan oleh khalifah al-Mustansir ayah khalifah Abbasiyah

yang terakhir Mustashim. Demikian seterusnya madrasah berkembang pesat

sampai ke India. Misalnya sangat terkenal Madrasah Deoband yang banyak

melahirkan ulama-ulama India.27 Tidak hanya sampai di India, Islam juga

menyeber ke Asia Tenggara termasuk Indonesia, seiring dengan itu pertumbuhan

lembaga pendidikan Islam termasuk madrasah mengalami perkembangan yang

pesat.

C. Madrasah di Indonesia

Tumbuh dan berkembaangnya madrasah di Indonesia tidak dapat

dipisahkan dengan tumbuh dan berkembangnya ide-ide pembaharuan dikalangan

ummat Islam. Di permulaan abad ke-20 banyaklah pulang ke tanah air para pelajar

yang telah belajar dan bermukim bertahun-tahun di Timur Tengah. Sekembalinya

mereka ke Indonesia mereka mengembangkan ide-ide baru dalam bidang

pendidikan. salah satu diantaranya melahirkan madrasah.28 Seperti yang di

ungkapkan oleh Azyumardi Azra bahwa Saling silang hubungan ulama yang

terlibat dalam jaringan menciptakan komunitas-komunitas intelektual

internasional yang saling berkaitan satu sama lain, hubungan mereka pada

25

Ibid., 61.

26

Daulay dan Pasa, Pendidikan Islam, h. 97.

27

Ibid., h. 98.

28

(18)

umumnya dalam kaitan dengan upaya pencarian ilmu melalui lembaga-lembaga

pendidikan, seperti masjid, madrasah dan ribat}. Karena itu kaitan dasar antara

mereka bersifat akademis29

Sejalan dengan itu, Faisal Ismail juga berkomentar tentang ide

pembaharuan pendidikan Islam:

Jika usaha dan upaya pembaharuan pendidikan Islam bermula dari

gagasan dan pemikiran, maka gagasan dan pemikiran pembaharuan pendidikan Islam harus dicetuskan oleh kaum cendikiawan dan sarjana Islam. Disinilah tugas, peran dan tanggungjawab para cendikiawan dan sarjana Islam dalam menyusun dan merumuskan pokok-pokok pikiran pembaharuan pendidikan Islam baik secara konseptual maupun teknis operasional. Para tokoh pendidik Islam, para ulama, para cendikiawan dan para sarjana Islam mempunyai tanggungjawab bersama dan bersama seluruh lapisan masyarakat menata dan mengembangkan pembaharuan

pendidikan.30

Lebih lanjut mengenai sejarah pertumbuhan dan perkembangan madrasah

di Indonesia serta tokoh pendirinya di jelaskan oleh Haidar Putra Daulay:

Diantara ulama yang berjasa dalam menggagas tumbuhnya

madrasah di Indonesia antara lain Syekh Abdullah Ahmad, pendiri Madrasah Adabiyah di Padang pada tahun 1909. Pada tahun 1915 Madrasah ini menjadi HIS Adabiyah yang tetap mengajarkan agama. Syekh M. Thalib Umar pada tahun 1910 mendirikan Madrasah School di Batu Sangkar. Tiga tahun kemudian madrasah ini ditutup dan baru pada tahun 1918 dibuka kembali oleh Mahmud Yunus pada tahun 1923 madrasah ini berganti nama menjadi Diniyah School. Pada tahun yang sama, Rangkayo Rahmah Elyunusiyah mendirikan Madrasah Diniyah Putri di Padang Panjang, sebelumnya yaitu pada tahun 1915 Zainudin Labai al-Yunusi mendirikan Madrasah Diniyah di Padang Panjang. Madrasah Diniyah inilah yang kemudian berkembang di Indonesia baik merupakan bagian dari pesantren atau surau, maupun berdiri di luarnya.

Dikalangan organisasi Islampun giat pula melaksanakan

pembaharuan dalam bidang pendidikan, tercatat diantara yang termasyhur adalah Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912. Dalam bidang pendidikan Muhammadiyah memakai sistem persekolahan modern waktu itu.

29

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusanta ra Abad XVII dan XVIII (Bandung: Mizan, 1998), h. 106.

30

Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis dan Refleksi Historis

(19)

Organisasi lainnya adalah al-Irsyad didirikan di Jakarta pada tahun 1913. Lembaga ini mengasuh sekolah-sekolah umum dan agama, memiliki Madrasah Awaliyah, (tiga tahun), Madrasah Ibtida‟iyah (empat tahun),

Madrasah Tajh}iyah (dua tahun), Madrasah Mu‟allimi>n (empat tahun),

dan Madrasah Takhas}sus} (dua tahun).

Di Majalengka, Jawa Barat berdiri organisasi Perhimpunan Umat

Islam (PUI) didirikan oleh K.H.A. Halim pada tahun 1917. Didirikanlah suatu lembaga pendidikan yang bernama Santri Asrama, dibagi tiga bagian, tingkat permulaan, dasar, dan lanjutan. Mata pelajaran yang diajarkan disini, disamping mata pelajaran agama dan umum juga diajarkan keterampilan seperti pertanian, pekerjaan tangan (besi dan kayu).

Di Bandung Jawa Barat, didirikan Persatuan Islam (Persis) pada

permulaan tahun 1920 oleh Ahmad Hasan dan Muhammad Natsir. Didirikan sebuah lembaga pendidikan yang mengasuh sekolah Taman Kanak-kanak, HIS, MULO, dan sebuah Sekolah Guru serta Pesantran. Nahdlatul Ulama yang didirikan pada tahun 1926 oleh K.H.Hasyim Asy‟ari juga banyak mendirikan madrasah dengan susunan sebagai berikut: Madrasah Awaliyah (dua tahun), Madrasah Ibtida‟iyah (tiga

tahun), Madrasah Tsanawiyah (tiga tahun), Madrasah Mu‟alimi>n Wust}a

(dua tahun), dan Madrasah Mu‟allimi>n „Ulya> (tiga tahun). Di Sumatera

Barat pada tahun 1928 berdiri organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang dipelopori oleh Sulaiman Ar-Rasuli pemilik surau di Candung. Diperkirakan pada tahun 1942 sudah terdapat 300 sekolah PERTI dengan 45.000 orang Murid.

Di Sumatera Utara, khususnya di kota Medan atas prakarsa guru-guru dan pelajar Maktab Islamiyah Tapanuli pada tahun 1930 didirikanlah

organisasi Al-Jam‟iyatul Washliyah. Organisasi ini juga mendirikan dua

sistem pendidikan umum dan agama. Selain itu didirikan juga madrasah yang menitikberatkan mata pelajaran agama, dapat diklasifikasikan:

Tazh}iyah (dua tahun), Ibtida‟iyah (empat tahun), Tsanawiyah (dua

tahun), Madrasah Qismul „A<li>(tiga tahun), Madrasah Takhas}s}us}

(dua tahun). organisasi berikutnya yang juga besar perannya dalam bidang pendidikan di Sumatera Utara adalah Al-Ittihadiyah. Organisasi ini didirikan pada tahun 1932. Ittihadiyah juga bergerak dalam bidang pendidikan.sejumlah sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar, menengah pertama dan atas banyak tersebar di Medan, Langkat, Deli Serdang dan

kabupaten lainnya.31

Dari kenyataan historis diatas maka dapat dikatakan bahwa semangat umat

Islam dalam menumbuh kembangkan lembaga pendidikan Islam sangat antusias.

Tidak hanya oleh kelompok intelektual dan sarjana lulusan Timur Tengah saja,

31

(20)

sesungguhnya lembaga pendidikan Islam berhutang banyak kepada ormas Islam

yang turut serta mendirikan dan memajukan lembaga pendidikan Islam.

Perkembangan dan kemajuan madrasah sebagaimana yang kita rasakan

hari ini sesungguhnya tidak terlepas dari proses panjang dan rumit. Dimulai dari

zaman pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan telah melalui dinamika yang

sangat kompleks. Eksistensi madrasah di Indonesia juga sebagai lembaga

pendidikan Islam memiliki kontribusi yang sama dengan sekolah umum lainnya

dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kelancaran pelaksanaan pendidikan di

madrasah juga sangat tergantung pada berfungsi tidaknya sistem kerjasama dalam

kehidupan umat Islam.32

Setelah membaca tuntas buku sejarah pertumbuhan dan pembaharuan

pendidikan Islam di Indonesia karya Prof. Dr. Haidar Putra Daulay, MA maka

dapat disimpulkan bahwa perkembangan Madrasah pasca kemerdekaan Indonsia

dibagi menjadi tiga fase:

Fase pertama (1945-1974)

Madrasah pada fase ini lebih terkonsentrasi kepada mata pelajaran agama, sehingga penghargaan ijazah yang dimiliki madrasah tidak sama dengan sekolah. Tamatan madrasah diperbolehkan melanjutkan pelajaran ke perguruan tinggi agama saja, begitu juga hak-hak lainnya yang dimiliki oleh sekolah tidak dimiliki oleh madrasah.

Fase kedua (1975-1989)

Madrasah pada fase ini adalah memasuki era Madrasah SKB Tiga Menteri yang telah diuraikan terdahulu. Inti pokok dari madrasah ini adalah bahwa ijazah madrasah sama dengan ijazah sekolah. Tamatan madrasah memiliki hak yang sama dengan hak yang dimiliki oleh tamatan sekolah.

Fase ketiga (1990 sampai sekarang)

Madrasah pada fase ini telah memasuki era madrasah sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam. Madrasah ini dari seluruh struktur kurikulum pengetahuan umum sama dengan sekolah, dan sebagai ciri khasnya di berikan ciri khas keislaman yang diwujudkan dalam bentuk

32

(21)

pelajaran keIslaman yang melebihi apa yang diberikan di sekolah, begitu juga suasana lingkungan sekolah yang Islami, serta pendidik dan peserta

didiknya yang memiliki ciri keIslaman.33

Seperti sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat madrasah Negeri maupun swasta;

seluruhnya berada dibawah pengelolaan Departemen Agama. Seperti halnya

sekolah umum dan sekolah Islam, madrasah juga terdiri dari tiga tingkat pendidikan: Madrasah Ibtida‟iyah (dasar, 6 tahun), Madrasah Tsanawiyah

(menengah, 3 tahun) dan Madrasah Aliyah (menengah atas, 3 tahun).34 Baik

sekolah Islam maupun kebanyakan madrasah, seperti mungkin diduga, umumnya

dikelola secara swasta oleh yayasan-yayasan Islam. Hal ini penting untuk

dikemukakan, karena berbeda dengan sekolah umum yang kebanyakan dikelola

oleh Negara, sekitar 80 persen madrasah dikelola oleh swasta, atau lebih tepatnya

oleh yayasan-yayasan Islam.35

Dari kenyataan tersebut maka kita harus mengakui bahwa madrasah masih

sedikit tertinggal dari sekolah-sekolah umum. Sebabnya adalah kebanyakan

madrasah yang dikelola oleh swasta. Akibatnya dari sisi bangunan fisik, fasilitas

dan kualitas pembelajaran masih tertinggal. Hal ini juga senada dengan apa yang

pernah diungkapkan oleh Karel A. Steenbrink bahwa: “Kalau ada keluhan tentang

pesantren dan madrasah, isinya hampir selalu bukan tentang pendidikan Agama

yang kurang, namun keluhan hampir umum yaitu kurangnya pendidikan umum

yang tidaksetaraf dengan sekolah semacam dan tidak mempunyai efek sipil dalam

masyarakat”.36

Namun demikian, untuk tidak putus harapan kita harus selalu optimis

bahwa madrasah akan mampu menyaingi sekolah-sekolah umum. Data-data

terakhir ini menunjukkan bahwa prestasi yang diukir oleh madrasah tidak kalah

(22)

dengan sekolah pada level regional, Nasional bahkan pada level Internasional,

madrasah sudah mulai menunjukkan kebolehannya.

D. Lingkungan Hidup

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar kita. hidup dan

kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari pengaruh lingkungan.37 Lingkungan

juga diartikan sebagai segala sesuatu yang sifatnya eksternal terhadap individu;

karena lingkungan merupakan sumber informasi yang diperoleh melalui panca

indera yang kemudian diterima oleh otak. Lingkungan menyediakan berbagai hal

yang dapat menjadi bahan pembelajaran.38Bagi manusia, lingkungan adalah

segala sesuatu yang ada di sekitarnya, baik berupa benda hidup, benda mati, benda

nyata ataupun abstrak, termasuk manusia lainnya, serta suasana yang terbentuk

karena terjadinya interaksi diantara elemen-elemen di alam tersebut.39

Dalam terminologi Islam, lingkungan dikenal dengan Istilah “al-Bi‟ah”,

yang secara kuantitatif di gunakan dalam Alquran sebanyak 18 kali. Kata al-Bi‟ah

dalam Alquran berkonotasi pada lingkungan sebagai ruang kehidupan Khususnya

bagi spesies manusia.40 Tidak ketinggalan di dalam Undang-undang juga memuat

definisi lingkungan yaitu kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan

makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu

sendiri, kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk

hidup lain.41

37

Yudi Utomo, dkk, Pendidikan Lingkungan Hidup (Malang: Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, 2009), h. 1.

38

Oos M. Anwas, “Lingkungan Sebagai Media Pembelajaran dan Pengaruhnya Terhadap Kompetensi Penyuluh Pertanian”, dalam Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. XII, h. 284.

39

Juli Soemirat Slamet, Kesehatan Lingkungan (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1996), h. 35.

40

Mujiono Abdillah, Agama Ramah Lingkunga n: Perspektif Al-Qur‟an (Jakarta: Paramadina, 2001), h. 49.

41

(23)

Dalam definisi yang agak panjang Jain mengemukakan bahwa: “… the

environment is made up as a combination of our natural and physical

surroundings and the relationship of people with that environment, wich includes

aestetic, historical, cultural, economic and social aspects”.42 Lingkungan terdiri atas suatu kombinasi alam dan fisik sekeliling dan hubungan manusia dengan

lingkungan tersebut, yang mencakup segi estetika, sejarah, budaya, ekonomi dan

aspek sosial.

Lingkungan hidup itu diartikan sebagai The phisycal, chemical and biotic

condition surrounding and organism.43 Sementara itu, lingkungan hidup adalah karunia Allah yang diamanahkan kepada manusia untuk melestarikan dan

melindunginya, bukan untuk dieksploitasi secara tidak wajar sehingga timbul

kerusakan dan ketidakseimbangan yang berakibat pada terganggunya kehidupan

didunia ini.44 Dengan maksud yang sama namun redaksi yang berbeda N.H.T.

Siahaan memberikan definisi tentang lingkungan hidup adalah semua benda, daya

dan kondisi yang terdapat dalam suatu tempat atau ruang tempat manusia atau

makhluk hidup berada dan dapat mempengaruhi hidupnya.45

Menurut Agoes Soegianto, lingkungan hidup merupakan suatu upaya

penggalian pengetahuan tentang bagaimana alam ini bekerja. Artinya adalah

bagaimana manusia mempengaruhi lingkungan dan menyelesaikan masalah

lingkungan yang sedang dihadapi manusia untuk menuju masyarakat yang

berkelanjutan. Agar dapat bertahan hidup, semua makhluk hidup harus cukup

mendapatkan makanan, udara bersih, air bersih, dan perlindungan yang

dibutuhkan sebagai kebutuhan dasarnya.46Menurut Emil Salim, guru besar

Universitas Indonesia yang juga mantan menteri pembangunan dan lingkungan

42

Jain R.K. et. al., Environmental Impact Analysis: A New Dimensioni In Decision Making, second Edition (New York: Van Nostrand Reinhold Company, 1981), h. 2.

43

Michael Allaby, Dictionary of the Environment, (London: the Mac Millan Press, 1979), h. 213.

44

AliYafie, Merintis Fikih Lingkungan Hidup (Jakarta: Ufuk Pers, 2006), h. 9.

45

N.H.T Siahaan, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan (Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 2004), h. 4.

46

Agoes Soegianto, Ilmu Lingkungan: Sarana Menuju Masyarakat Berkelanjutan

(24)

hidup di era Soeharto, lingkungan hidup diartikan sebagai segala benda, kondisi

keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruang yang kita tempati dan

mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia.47

Dari berbagai pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa lingkungan

hidup adalah ruang atau wadah yang ditempati oleh setiap makhluk hidup yang

saling berpengaruh dan berhubungan. Karenanya antara satu komponen dengan

komponen lainnya saling ketergantungan.

Menurut NommyH.T. Siahaan merumuskan unsur-unsur lingkungan

sebagai berikut:

1. Semua benda, berupa manusia, hewan, tumbuhan, organisme, tanah, air, udara, rumah, sampah, mobil dan lain-lain. Keseluruhan yang disebutkan ini digolongkan sebagai materi. Sedangkan satuan-satuannya digolongkan sebagai komponen.

2. Daya, disebut juga dengan energi

3. Keadaan, disebut juga kondisi atau situasi

4. Perilaku atau tabiat

5. Ruang, yaitu wadah berbagai komponen berada

6. Proses interaksi, disebut juga saling mempengaruhi, atau biasa pula

disebut dengan jaringan kehidupan.48

Dengan memahami unsur-unsur diatas, maka secara umum Unsur-unsur

lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga: Pertama, Unsur Hayati (Biotik)

yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia,

hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Kedua, Unsur Fisik (Abiotik), yaitu

unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah,

air, udara, iklim, dan lain-lain. Ketiga, Unsur Sosial Budaya, yaitu lingkungan

sosial dan budaya yangdibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan

keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat

mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan

ditaati oleh segenap anggota masyarakat.

47

Emil Salim, Lingkungan Hidup dan Pembangunan (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995), h. 32.

48

(25)

Berdasarkan peristiwa kejadiannya, lingkungan dibedakan atas dua

macam:

1. Lingkungan Alamiah, artinya yang telah ada di alam

2. Lingkungan buatan, yang merupakan hasil karya, karsa dan ciptaan

makhluk hidup (termasuk manusia).49

Lebih lanjut menurut Azrul Aswar, pembagian lain didasarkan pada wujud

dari faktor lingkungan tersebut, yakni:

1. Lingkungan materi (substansi), dapat berupa kehidupan (biotik) seperti

manusia, hewan maupun tumbuhan, atau dapat pula mati (abiotik) seperti batu, kayu, radiasi, dan sebagainya. Disebutkan bahwa benda hidup umumnya mempunyai sifat tumbuh, berkembang, menyerap energi dari alam, peka dan responsif terhadap keadaan luar, sedangkan benda mati umumnya mempunyai sifat tidak tumbuh, tidak berkembang, sebagai reservoir energi serta tak dapat menahan energi tanpa penghancuran.

2. Lingkungan non materi, seperti adat istiadat, kebudayaan dan

kepercayaan.50

Menurut Fuad Ansyari, lingkungan hidup ada tiga bagian yaitu:

1. Lingkungan fisik (Physical Environment), Yaitu segala sesuatu di

sekitar kita yang bersifat benda mati seperti gedung, sinar, air dan lain

2. Lingkungan biologis (Biological Environment), yaitu segala sesuatu

yang berada di sekitar kita yang bersifat organis, seperti manusia, binatang, jasad renik, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya

3. Lingkungan sosial (Social Environment), yaitu manusia-manusia lain

yang berada di sekitar atau kepada siapa kita mengadakan hubungan

pergaulan.51

Sedangkan menurut Juli Soemirat Slamet lingkungan dapat

diklasifikasikan berikut:

1. Lingkungan yang hidup (biotis) dan lingkungan tidak hidup (abiotis)

2. Lingkungan alamiah, dan lingkungan buatan (manusia)

(26)

3. Lingkungan prenatal dan lingkungan postnatal

4. Lingkungan biofisis dan lingkungan psikososial

5. Lingkungan air (hydrosfir), lingkungan udara (atmosfir), lingkungan

tanah (litosfir), lingkungan biologis (biosfir) dan lingkungan sosial (sosiosfir)

6. Kombinasi dari kalsifikasi-klasifikasi tersebut.52

Antara manusia dengan lingkungan lingkungan hidupnya terdapat

hubungan yang dinamis. Perubahan dalam lingkungan hidup akan menyebabkan

perubahan dalam kelakuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang

baru. Perubahan dalam kelakuan manusia ini selanjutnya akan menyebabkan pula

perubahan dalam lingkungan hidup. Dengan adanya hubungan dinamis-sirkuler

antara manusia dan lingkungan hidupnya, dapat dikatakan hanya dalam

lingkungan hidup yang baik, manusia dapat berkembang secara maksimal, dan

hanya dengan manusia yang baik, lingkungan hidup dapat berkembang kearah

yang lebih optimal.53

Seiring dengan pertambahan penduduk, kebutuhan akan pangan semakin

meningkat. Namun peningkatan kebutuhan tersebut tidak sejalan dengan jumlah

manusia yang kian hari semakin bertambah. Karena itu diperlukanlah revolusi di

dalam bidang pertanian dengan menggunakan aneka pupuk dan zat kimia lainnya

sebagai media. Hutan yang seharusnya hijau ditebang dan dialihkan menjadi lahan

pertanian. Usaha intensifikasi pertanian secara berlebihan akan menimbulkan

dampak yang buruk terhadap lingkungan. Pemupukan dengan bahan kimia secara

berlebihan akan menimbulkan pencemaran air dan tanah. Penggunaan pestisida

untuk tanaman akan menimbulkan akibat yang buruk pula terhadap kesehatn

manusia.54

Sikap yang mengabaikan lingkungan adalah sikap yang tidak

mencerminkan suatu kepedulian bagi masa depan.55 Belakangan ini sikap manusia

terhadap lingkungan sungguh sangat memperihatinkan, dimana pada setiap

lingkungan tidak lagi dianggap penting. Jika diperhatikan kebanyakan bencana

52

Slamet, Kesehatan Lingkungan, h. 36.

53Sufrilsyah dan Fitriani, “Agama dan Kesadaran Menjaga Lingkungan Hidup”, dalam

Substantia, Vol.XIV, h. 64.

54

Risman, Pertanian Ramah Lingkungan (Jakarta: Citra Unggul Laksana, 2005), h. 4.

55

(27)

alam yang merugikan manusia justeru terjadi karena ulah tangan mereka sendiri.

Oleh karena itu, upaya penyadaran dan penanaman karakter berbasis cinta

lingkungan sangat perlu dan harus senantiasa digalakkan.

E. Islam dan Lingkungan Hidup

Penanganan lingkungan hidup seperti tersebut diatas ditengah-tengah

lingkungan umat beragama, tentu saja menghentakkan sekaligus menggelitik

pikiran kita. Adakah ajaran agama yang mengandung pesan-pesan moral dalam

hal penataan lingkungan? Jika ada, mengapa penataan dan kondisi lingkungan

hidup di tanah air belum sesuai dengan yang diharapkan? lalu dimana letak

kesalahan tersebut?.56

Jika kita melihat kembali defeinisi mengenai lingkungan hidup

sebagaimana yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, kita akan sampai

pada kesimpulan bahwa sesungguhnya lingkungan hidup adalah semua ciptaan

Allah yang saling berkaitan dan terikat dengan hukum Allah (Sunnatullah).

Masalah kebersihan lingkungan merupakan masalah serius yang dihadapi

masyarakat saat ini, jika diamati maka masalah kebersihan, sampah dan selokan

air yang kotor masih cukup merusak pemandangan di setiap penjuru tempat

tinggal kita masing-masing. Sebenarnya, salah satu karakteristik perilaku

peradaban Islam adalah perhatian yang tinggi terhadap kebersihan. Perhatian yang

tinggi ini tidak pernah ada tandingannya dalam agama-agama sebelumnya tidak

pula dalam filsafat manapun.57

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kelestarian dan

keseimbangan Lingkungan hidup, di dalam Alquran telah banyak memberikan

informasi spiritual kepada manusia untuk selalu menjaga dan melestarikan

lingkungan, sebab apa yang Allah berikan kepada manusia semata-mata

56

Katimin, Politik Masyara kat Pluralis: Menuju Tatanan Masyarakat Berkeadilan dan Berperadaban (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2010), h. 85.

57Maizer Said Nahdi dan Aziz Gufron, “Etika Lingkungan Dalam Perspe

ktif Yusuf

(28)

merupakan suatu amanah, hal tersebut dalam Alquran banyak membuktikan

bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap

ramah lingkungan, diantara beberapa pembahasan tentang lingkungan dalam

Alquran antara lain: lingkungan sebagai suatu sistem, tanggungjawab manusia

untuk memelihara lingkungan hidup, larangan merusak lingkungan, sumber daya

vital dan problematikanya, peringatan mengenai kerusakan lingkungan hidup yang

terjadi karena ulah tangan manusia dan pengelolaan yang mengabaikan petunjuk

Allah serta solusi pengelolaan lingkungan.58

Sangat banyak sekali ayat Alquran yang menjelaskan tentang kewajiban

menjaga dan melestarikan lingkungan. Allah Swt menyebut bahwa lingkungan

dalam artian alam semesta ini merupakan nikmat anugerah-Nya kepada manusia:

Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan

untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan

menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia

ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau

petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.59

Pada ayat selanjutnya Allah menjelaskan bahwa lingkungan dan alam ini

disediakan untuk mencukupi keperluan hajat hidup manusia serta sebagai sumber

rezeki bagi manusia:

58

Abdul Majid bin Aziz, Mujizat Al-Qur‟an dan As-Sunnah Tentang IPTEK (Jakarta : Gema Insani Press, 1997), h. 194.

59

(29)

Artinya:“Dan Kami telah menghampa rkan bumi dan menjadikan padanya

gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keper luan-keperluan hidup, dan

(Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi

rezeki kepadanya”.60

Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu manusia memerlukan sumber

daya alam. Hal ini berarti manusia harus mengambil dan menggunakan sesuatu

dari lingkungan sekitarnya. Kemudian, melepaskan sisa-sisa (limbah) ke

lingkungan juga.61

Secara terang-terangan Alquran mengatakan bahwa segala jenis kerusakan

yang terjadi di permukaan bumi ini adalah ulah tangan manusia yang gagal

berinteraksi secara sehat dengan lingkungan:

Artinya: “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh

perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari

kesalahan-kesalahanmu)”.62

Melalui ayat ini seharusnya menjadi bahan pertimbangan bagi manusia

untuk mengelola lingkungan ini secara baik agar tidak terjadi bencana yang pada

ujungnya hanya akan menambah penderitaan manusia itu sendiri. Sedangkan pada

ayat yang lain Allah menjelaskan bahwa amr dalam bentuk larangan secara tegas

dinyatakan agar manusia tidak merusak semua yang telah diciptakan Allah.

60

Q.S. Al-Hijir/15: 19-20.

61

Risman, Bersahabat Dengan Lingkungan Hidup (Jakarta: Swakarya, 2005), h. 1.

62

(30)

Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah

(Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada -Nya dengan rasa takut (tidak

akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat

dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.63

Di dalam ayat lain dijelaskan juga bahwa melakukan tindakan yang

merusak lingkungan merupakan salah satu ciri-ciri orang munafik dan tindakan

semacam itu digolongkan kepada tindakan kejahatan

Artinya: “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk

mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang

ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”.64

Pada akhirnya, Allah memerintahkan agar anugerah alam raya yang luar

biasa ini di jaga dari kerusakan oleh manusia yang telah di daulat sebagai khalifah

di bumi:

Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan

Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat,

untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya

Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi

Maha Penyayang”.65

63

Q.S. Al-A‟raf/7: 56.

64

Q.S. Al-Baqarah/2: 205.

65

(31)

Didalam Islam tidak ada pemisahan antara teologi agama dengan sosial,

budaya termasuk lingkungan. Pada dasarnya semua hal yang berkaitan dengan

pengaturan kehidupan manusia telah diatur secara lengkap dan semua tertera

didalam Alquran. Islam sangat memperhatikan dan menganjurkan agara

memperhatikan lingkungan dengan cara menjaga kebersihan. Di dalam sebuah

hadis Rasulullah Saw bersabda:

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ishaq ibn Mansur, telah menceritakan kepada kami Habban bin Hilal, telah menceritakan kepadakami Aban, telah

menceritakan kepada kami Yahya, bahwasanya Zaid telah menceritakan

kepadanya, dari Abu Malik al-Asy‟ari ia berkata, Rasulullah Saw Bersabda:

„Kebersihan itu sebahagian dari iman, Alhamdulillah keduanya memenuhi antara

langit dan bumi. Shalat itu adalah nur, sedekah itu adalah dalil dan sabar itu

adalah cahaya, serta Alquran itu hujjah untuk membelamu atau menentangmu.

Setiap manusia berusaha untuk menjual dirinya, sebagian menyelamatkannya dan

sebagian mencelakakannya”. (HR. Muslim).66

Dalam hadis yang lain Rasulullah Saw menjelaskan bahwa barang siapa

yang merusak lingkungan akan ditempatkan di neraka:

66

Muslim ibn al-H{ajja>j Abu> al-Husai>n al-Qusyai>ri an-Naisaburi>, S{ah}ih} Muslim,

(32)

Artinya: “Barang siapa yang menebang pohon tanpa alasan maka Allah akan

meletakkan kepalanya di dalam api neraka”. (HR. Abu Dawud).67

Pedoman agama Islam sangat jelas dalam membudayakan pemeliharaan

lingkungan agar tidak tercemar dan tetap bermanfaat bagi kehidupan orang

banyak terungkap melalui hadis Nabi Muhammad Saw berikut:

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. Bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

takutlah kamu sekalian terhadap dua hal yang dapat memperoleh laknat. Mereka

(para sahabat) bertanya: apakah yang dimaksud dengan dua hal yang dapat

memperoleh laknat itu? Rasulullah Saw menjawab: yaitu buang air di jalan yang

dilalui manusia dan tempat manusia berteduh”. (HR. Muslim).68

Demikian pula pada hadis yang lain, Rasulullah melarang buang air pada

air yang tergenang. Hal ini mensinyalir bahwa tradisi Islam sangat memperhatikan

lingkungan dari pencemaran:

Artinya: “Dari Jabir r.a. Bahwasanya Rasulullah Saw telah melarang buang air

pada air yang tergenang”. (HR. Muslim).69

Melihat penjelasan sekaligus pengutan ayat Alquran dan hadis diatas maka

dapat diambil kesimpulan bahwa pembahasan lingkungan hidup dalam Islam

meliputi; 1) Lingkungan hidup sebagai ciptaan Allah mencakup alam raya dan

67

Abu> Da>wud Sulaima>n ibn al-Asy‟as\ al-Sijista>ni, Sunan Abi Da> wud , Juz II (Beirut: Da>r al-Fikr, 1414 H/1994 M), h. 728.

68

Muh}yiddi>n Abi> Zakariya, Riyad}us S{a> lih}i> n (Mesir: Ja>mi‟ Al-Azhar, tt), h. 574.

69

(33)

seluruh isinya dengan Allah sebagai pusatnya. 2) Manusia dan lingkungan hidup

yakni manusia disamping sebagai hamba Allah juga sebagai Khalifah-Nya dan 3)

Alam sebagai amanah yang harus dijaga dan dilestarikan.

Islam menekankan kepada umatnya agar mencontohkan Nabi Muhammad

Saw yang membawa rahmat untuk seluruh alam. Manusia dituntun untuk

menghormati proses-proses yang sedang tumbuh dan terhadap apa saja yang ada

di bumi, etika agama terhadap lingkungan mengantarkan manusia dari kerusakan.

Setiap perusakan terhadap lingkungan hidup dinilai sebagai perusakan pada diri

manusia itu sendiri70. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam Alquran

surah Hu>d/11: 61

… …

Artinya: “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan

kamu pemakmurannya.”

Dari uraian di atas dapat dipahami dan diyakini, bahwa hubungan manusia

dengan alam sekitarnya adalah hubungan yang terkait satu sama lain. Alam

semesta ciptaan Allah SWT dan lingkungan tempat manusia hidup merupakan

bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia secara keseluruhan, bahkan

amat nyata benar bahwa hubungan itu dibingkai dengan aqidah dan syari‟ah.

Pada dasarnya konsep pendidikan Islam berupaya mengembangkan

potensi peserta didik secara maksimal, yang menyangkut aspek jasmaniah,

maupun rohaniah; akal dan akhlak.Dengan optimalisasi seluruh potensi yang

dimilikinya, Pendidikan Islam berupaya mengantarkan peserta didik kearah

kedewasaan pribadi secara paripurna, yaitu yang beriman dan berilmu

pengetahuan. Kesemua itu diharapkan saling mempengaruhi antara satu dengan

yang lain dalam perkembangannya mencapai tujuan pendidikan yang

70

(34)

diinginkan,71 yaitu sebagai „Abd dan Khalifah fil ard}. Artinya, Pendidikan Islam

sebagaiAgent of change Islamic culture akan mampu menjadikan dirinya

sebagaiorang yang mampu merubah kebudayaan Islam bagi terciptanya

kemaslahatan seluruh umat manusia dan alam semesta. Disamping itu, diperlukan

pola hidup sederhana agar lingkungan dapat terpelihara dengan baik. Pola hidup

sederhana itu berarti pola hidup yang wajar dan selaras dengan lingkungannya

dengan menggunakan sumberdaya secara halal dan sah, hemat tidak

mencemarkan lingkungan hidup dan dengan daya guna yang tinggi.72

Lingkungan hidup yang dipahami sebagai obyek sekaligus amanah yang

dititipkan Allah SWT untuk manusia haruslah mendapatkan tempat seimbang

disisi manusia, dengan penempatan makna yang baik maka lingkungan hidup akan

terhindar dari nilai pemberian Tuhan untuk manusia yang harus dikuasai dan

dieksploitasi sesuai keinginan manusia itu sendiri, sebuah nilai bentuk kesadaran

yang baik terhadap lingkungan hidup haruslah ditanamkan sejak dini terhadap

pemahaman umat manusia demi keberlangsungan hidup yang harmonis sesuai

dengan cita-cita hidup beragama. Oleh karena itu, Islam sebagai Rahmatan Lil

Alamin hadir sebagai agama yang mampu memberikan pondasi nilai-nilai

kehidupan yang baik dan pendidikan Islam sebagai media untuk

mentransformasikan nilai-nilai tersebut.

Disamping itu, untuk menjaga lingkungan maka setiap orang perlu

menerapkan etika keseimbangan lingkungan, seperti yang di ungkapkan oleh

Mochammad Sodiq yaitu:

1.Manusia adalah bagian dari lingkungan yang tidak dapat dipisahkan

dengan makhluk lain dan bukan penguasa lingkungan. Dalam hal ini, manusia harus menyayangi dirinya, semua makhluk hidup lainnya serta lingkungannya.

2.Tuhan menciptakan lingkungan untuk semua penghuni alam semesta,

bukan hanya untuk manusia. manusia sebagai khalifah Tuhan harus mengelola lingkungan/alam semesta dengan benar dan adil

71

H.M. Arifin,Kapita Selekta Pendidikan Islam Dan Umum (Jakarta: Bina Aksara, 1991),h. 44.

72

(35)

3.Manusia harus mengelola dan menjaga lingkungan dengan bijaksana guna kepentingan generasi muda selanjutnya.

4.Sumber daya alam terbatas, sehingga manusia dalam pemanfaatannya

harus hemat, diperbaharui dan tidak boros

5.Hubungan manusia dengan lingkungan harus saling menguntungkan

6.Fungsi utama manusia dalam menjaga keseimbangan adalah mengawasi

dan mencegah kelompok tertentu mengeksploitasi secara berlebihan SDA dan merusak lingkungan

7.Negara berperan untuk mencegah terjadinya eksploitasi sumber daya

alam yang berlebihan.73

Manusia sebagai pelaku pendidikan memiliki peranan penting dalam

menjaga kelestarian hidup yang seimbang, maka dibutuhkan kesadaran diri

sebagai makhluk hidup yang saling keterikatan hubungan dengan yang lain.

Didalam Islam, kapasitas akan kesadaran diri manusia adalah menyadari

eksistensinya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang harus menjalankan

fungsinya sebagai khalifah (pemimpin di muka bumi ini dan mengelolanya),

sebagai Abdullah, yang punya kewajiban untuk mengabdi dan beribadah kepada

Sang Khaliq, menggunakan potensi yang diberikan Allah berupa akal, hati,

pendengaran dan penglihatan untuk memahami tanda-tanda kebesaran dan

kekuasaan Allah.

F. Aktualisasi Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Cinta Lingkungan

Sejak tahun 1972 semua Negara di dunia, termasuk Indonesia, mulai

menangani masalah-masalah lingkungan hidup.74 Pada saat ini kesadaran

lingkungan sudah meningkat. Masalah pencemaran sudah banyak menarik minat,

mulai dari lapisan bawah sampai pejabat tinggi pemerintah. Setiap pemerintah

daerah mewajibkan pembuatan pengolahan limbah kepada pimpinan industri di

daerahnya. Bahkan sudah ada yang diajukan ke pengadilan karena pelanggaran

limbah ini. Sejak saat itu isu mengenai lingkungan menjadi permasalahan serius

bagi bangsa ini.75 Pemerintah selalu mengingatkan kepada setiap instansi pada

73

Mochammad Sodiq, Ilmu Kealaman Dasar (Jakarta: Kencana, 2014), h. 181.

74

Salim, Lingkungan Hidup, h. 58.

75

(36)

berbagai kesempatan agar memperhatikan lingkungan masing-masing, sedapat

mungkin menciptakan instansi yang peduli dan berbudaya terhadap lingkungan.

Lembaga pendidikan sesungguhnya merupakan tempat yang paling efektif

dalam menumbuhkan akhlak terhadap lingkungan. Hal ini dikarenakan

keberadaan lembaga pendidikan adalah untuk merubah perilaku peserta didiknya

menjadi lebih baik.76 Pada sisi yang lain lembaga pendidikan juga sudah terkelola

secara terstruktur dan terawasi. Sehingga dalam hal penerapan kebijakan akan

lebih mudah terrealisasi termasuk menanamkan budaya cinta lingkungan di

madrasah.

Lebih lanjut Muhjiddin dkk menjelaskan:

Terkait cara menumbuhkan etika lingkungan, setiap lembaga pendidikan dapat mengembangkan dua metode, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Melalui metode langsung secara sadar dimana pendidikan akhlak terhadap lingkungan dicantumkan sebagai mata pelajaran yang harus diberikan. Sedangkan melaui metode tidak langsung bertitik tolak pada pendidikan akhlak lingkungan merupakan bagian dari semua proses pendidikan. Sehingga pendidikan akhlak lingkungan dapat menjadi manifestasi dari keseluruhan aspek-aspek pendidikan yang

diorganisir dalam lembaga pendidikan yang melakukannya.77

Penyampaian materi lingkungan hidup kepada para siswa dapat dilakukan

melalui kurikulum pembelajaran yang bervariasi bertujuan untuk memberikan

pemahaman tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan persoalan

lingkungan sehari-hari. Pengembangan kurikulum berbasis lingkungan hidup

untuk mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan dapat pula dicapai

dengan melakukan kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler secara rutin dan

menyeluruh.

Secara formal, non formal maupun informal dunia pendidikan

mengimplementasikan kepedulian terhadap lingkungan dan diwujudkan dalam

kebijakan yang mengarahkan semua pihak agar dapat melakukan pengembangan

76

Muhjiddin, et. al., Akhlak Lingkungan: Panduan Berprilaku Ramah Lingkungan

(Jakarta: Kerjasama Kementrian Lingkungan Hidup dan PP Muhammadiyah, 2011), h. 43.

77

Referensi

Dokumen terkait

a) Ijazah madrasah dapat mempunyai nilai yang sama dengan nilai ijazah sekolah umum yang setingkat. b) Lulusan madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum setingkat lebih

Bukti fisik madrasah merupakan satu bagian yang sangat mendasar harus dimiliki dan diperhatikan dalam proses pemasaran jasa madrasah. Karena secara umum, calon konsumen

Satuan Pendidikan : SDN Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas : V Tahun Pelajaran : 2022 / 2023 Capaian Pembelajaran Pada akhir Fase C, pada elemen

Dokumen ini membahas tentang tujuan pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Fase

LK-5a: Menyusun Pengembangan Materi Satuan pendidikan : SMPN 2 Lamandau Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam Fase : D / VII Materi Apa Mengapa Bagaimana Untuk Apa

Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti Fase A - Fase F untuk SD/MI/Program Paket A, SMP/MTs/Program Paket B, dan SMA/MA/SMK/MAK/Pr Fase EFase F ta

Dokumen ini membahas tentang implementasi nilai-nilai karakter pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dan

Dokumen ini berisi capaian pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di fase F kelas