Proposal Tesis
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS
CINTA LINGKUNGAN
(StudiPada Madrasah AliyahNegeri di Kota Medan)
Oleh:
DEDI SAHPUTRA NAPITUPULU NIM: 3003163013
PROGRAM STUDI S2 PENDIDIKAN ISLAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERISUMATERA UTARA
MEDAN
DAFTAR ISI
BAB IPENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan Masalah ... 6
C. Penjelasan Istilah ... 7
D. Tujuan Penelitian ... 8
E. Kegunaan Penelitian... 8
BAB II KAJIAN TEORITIS ... 10
A. Lembaga Pendidikan Islam ... 10
B. Pengertian dan Sejarah Perkembangan Madrasah ... 13
C. Madrasah di Indonesia ... 15
D. Lingkungan Hidup ... 20
E. Islam dan Lingkungan Hidup ... 25
F. Aktualisasi Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Cinta Lingkungan . 33 G. Kajian Terdahulu ... 35
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 37
A. Jenis Penelitian ... 37
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 39
C. Informan Penelitian ... 39
D. Sumber Data ... 40
E. Teknik Pengumpulan Data ... 40
F. Teknik Analisis Data ... 42
G. Teknik Penjamin Keabsahan Data ... 44
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Isu mengenai lingkungan hidup memang tidak terlalu populer jika
dibandingkan dengan isu politik, ekonomi, terorisme, toleransi beragama dan
isu-isu lainnya. Perhatian mengenai lingkungan hidup baru mencuat kepermukaan
manakala terjadi bencana seperti banjir, kebakaran hutan, tanah longsor dan
sebagainya. Tetapi belakangan ini lingkungan hidup menjadi ramai dibicarakan di
forum-forum ilmiah dan menjadi salah satu isu hangat dan menjadi perhatian
dunia Internasional. Selama ini banyak orang yang lalai dan lupa bahwa ternyata
kelestarian lingkungan juga memiliki dampak yang besar terhadap kesejahteraan
manusia.
Lingkungan dalam arti alam adalah keadaan (kondisi, kekuatan) sekitar
yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku organisme.1 Sedangkan yang
dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang
mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta
mahluk hidup lainnya.2 Dengan demikian, maka lingkungan hidup sangat
berpengaruh terhadap siapa saja yang berada didalamnya. Baik buruknya kualitas
seseorang tergantung dari lingkungan tempat tinggalnya. Demikian juga dengan
lembaga pendidikan, kualitasnya sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan
sekitarnya.
Interaksi antara manusia dan lingkungan sesungguhnya tidak dapat
dipisahkan. Lingkungan dapat mempengaruhi manusia tapi tidak jarang pula
bahwa kehadiran manusia juga dapat mempengaruhi bahkan merubah lingkungan.
1
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besa r Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), h. 675.
2
Keberlangsungan hidup manusia sangat ditentukan oleh kemampuannya
menyesuaikan diri dengan lingkungan (adaptasi). Oleh karenanya sangat
disayangkan bila terjadi hubungan yang kurang baik antara manusia dengan
lingkungannya.
Banyaknya bencana yang terjadi dewasa ini merupakan indikasi bahwa
kesadaran lingkungan pada sebahagian besar masyarakat kita dinilai sangat
memperihatinkan. Dimulai dari sekala Internasional bahwa menipisnya lapisan
ozon yang menyebabkan bumi ini semakin panas serta cuaca ekstim yang terjadi
di berbagai belahan dunia, masalah tersebut terbungkus dalam istilah Global
warming yang kini menjadi permasalahan yang sangat serius. Pada level Nasional
kita maklumi bersama bahwa perusakan dan pembakaran hutan khususnya
diwilayah Riau dan Kalimantan sangat masif dilakukan oleh kelompok-kelompok
orang yang tidak bertanggungjawab. Sedangkan pada tingkat lokal bencana banjir
masih sering terjadi akibat kesadaran masyarakat yang membuang sampah pada
tempatnya masih sebatas selogan saja.
Kurangnya pemahaman keberagamaan pada diri seseorang
menyebabkannya tidak mempunyai kontrol diri sehingga akan berbuat sesuka
hatinya. Sangat besar kemungkinan terjadi perusakan lingkungan atau ketidak
pedulian seseorang terhadap lingkungan sekitar dikarenakan lemahnya
pemahaman dan pengamalannya dalam beragama. Oleh sebab itu, perlu trobosan
baru dalam mengabungkan kecintaan terhadap alam melalui internalisasi
nilai-nilai keagamaan.
Realitas sosial saat ini telah membuktikan adanya kerusakan lingkungan.
Penanganannya secara teknik-intelektual sudah banyak diupayakan, namun secara
moral spiritual belum cukup diperhatikan dan dikembangkan. Oleh sebab itu,
pemahaman masalah lingkungan hidup dan penanganannya perlu diletakkan di
prinsip, nilai dan norma serta ketentuan hukum yang bersumber dari ajaran
agama.3
Alquran secara tegas telah mensinyalir bahwa berbagai kerusakan yang
terjadi di bumi ini disebabkan karena ulah tangan manusia yang tidak perduli
terhadap kelestarian lingkungan hidup sehingga akibatnya terjadi berbagai
bencana alam yang silih berganti. Didalam surah Ar-Ru>m/30: 41 telah dijelaskan
sebagai berikut:
Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian
dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kejalan yang benar”.
Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa kerusakan yang terjadi dibumi
adalah karena ulah tangan manusia. Dari sini dapat dipahami betapa Islam sangat
menaruh perhatian yang serius terhadap kelestarian lingkungan demi
kesejahteraan manusia hidup di bumi Allah ini. Lebih dari sekedar itu ayat diatas
sekaligus memberikan peringatan dan ancaman kepada manusia tentang urgensi
menjaga alam ini. Jika alam ini dirusak maka timbul bencana sebagai peringatan
kepada tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Bukan hanya itu, yang tidak
ikut berperan dalam merusak lingkungan pun juga akan terkena imbasnya.
Demikian pula di dalam hadis Rasulullah Saw juga di jelaskan bahwa
salah satu indikator keimanan seseorang adalah dengan menjaga kebersihan
lingkungannya. Dengan demikian maka sebenarnya Islam sangat memberikan
perhatikan yang serius terhadap permasalahan lingkungan. Dalam hal ibadah
misalnya, kesucian lahir dan batin, badan, pakaian serta tempat menjadi prasyarat
diterimanya amalan seseorang. Bahwa kenyataan yang dilapangan masih terdapat
3Fahmi Hamidi, “Lingkungan Hidup Dalam Perspektif Fiqih Islam”, dalam Ta‟lim
berbagai persoalan-persoalan yang tidak sesuai dengan harapan merupakan
masalah lain, yang jelas perhatian Islam terhadap lingkungan sangat serius.
Manusia diciptakan Allah dimuka bumi ini memiliki dua tugas pokok
yaitu sebagai hamba dan khalifah. Sebagai khalifah manusia ditugaskan untuk
mengatur dan menata bumi ini, tentu amanah yang diberikan kepada manusia
sangatlah berat. Sepertinya Allah tidak salah pilih, diantara makhluk ciptaannya
hanya manusialah yang diberi tugas untuk mengelola bumi demi keberlangsungan
dan kesejahteraan hidup mereka dan anak cucu generasi berikutnya. Sebagai
seorang hamba manusia tentunya harus tunduk dan patuh terhadap perintah Allah
termasuk dalam hal pengelolaan lingkungan alam ini. oleh karena itu, memelihara
dan membangun lingkungan di permukaan bumi ini adalah ajaran yang penting
dalam Islam.4
Untuk mengatasi persoalan lingkungan yang semakin hari kian krisis ini
tentu perlu dicari jalan keluar melalui berbagai upaya yang dilakukaan. Salah satu
upaya yang dimaksud adalah melalui integrasi pendidikan Islam khususnya pada
lembaga pendidikan Islam dan kesadaraan akan lingkungan hidup. Melalui
lembaga pendidikan Islam diharapkan mampu menghasilkan insan yang cinta
terhadap lingkungan. Dengan berbagai metode yang dilakukan, lembaga
pendidikan Islam diharapkan mampu mengubah setiap sendi kehidupaan
masyarakat tidak hanya mampu memecahkan persoalan keagamaan tetapi juga
peranan pendidikan Islam diharapkan mampu berkontribusi pada persolan umum
seperti sosial, ekonomi, politik termasuk kearifan terhadap lingkungan. Salah satu
cara untuk menanamkan kecintaan terhadap lingkungan khususnya di madrasah
adalah melalui dengan cara pencanangan program cinta lingkungan sebagai basis
atau visi madrasah yang kemudian diterapkan dengan tindakan nyata oleh seluruh
warga madrasah. Melalui kecintaan terhadap lingkungan hidup akan mampu
merubah prilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen
masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan
4
kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan
dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan
masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan
lingkungan untuk kepentingan sekarang dan generasi yang akan datang.5
Secara tidak langsung kondisi lingkungan berpengaruh pada kualitas
masyarakat yang berdomisili ditempat itu. Lingkungan yang kumuh biasanya
terdapat didaerah-daerah yang masyarakatnya berpendidikan dan berpenghasilan
rendah. Sementara lingkungan yang asri biasanya dihuni oleh mereka kelompok
elit. Demikian pula jika berbicara mengenai lingkungan madrasah Secara tidak
langsung lingkungan yang sejuk, rapi dan bersih akan berpengaruh terhadap
keberhasilan siswa dalam mengikuti dan menerima pelajaran di madrasah, jika
lingkungan madrasahnya baik maka para siswa akan merasa nyaman belajar
namun jika lingkungan madrasah kumuh siswa tidak akan bergairah untuk
mengikuti pelajaran.
Kesadaran akan lingkungan madrasah yang sudah tertanam pada seluruh
warga madrasah akan mengantarkan madrasah tersebut menjadi madrasah yang
berprestasi dan berhasil melaksanakan program kegiatan belajar mengajar. Hal itu
memang sangat pantas karena baik buruknya sebuah lembaga pendidikan sangat
bergantung pada kualitas lingkungannya.
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) yang berada di kota Medan adalah salah
satu bentuk lembaga pendidikan Islam favorit yang telah membuktikan bahwa
madrasah sesungguhnya mampu menerapkan kesadaran lingkungan bagi seluruh
siswa, guru dan pegawai. Hal ini dapat terwujud karena memang kesadaran akan
lingkungan tertuang secara gamblang didalam visi dan misi serta dalam tindakan
nyata.
Sebagai sebuah sekolah yang bercirikan Islam, madrasah tidak hanya
mengajarkan mata pelajaran agama saja, tetapi juga melaksanakan pembelajaran
5
umum sebagaimana yang lazim di sekolah menengah atas lainnya. Hal yang
paling menarik di madrasah adalah siswa juga dididik bagaimana melestarikan,
menjaga dan mencintai lingkungannya. Adalah patut di banggakan bahwa dari
sekian banyak sekolah yang ada di Sumatera Utara, madrasah masuk nominasi
sekolah hijau tingkat Nasional yang direkomendasikan oleh Gubernur untuk
mengikuti kompetisi Adiwiyata dari Kementrian Lingkungan Hidup bersama
sekolah-sekolah dari seluruh penjuru Nusantara. Dari pengamatan awal peneliti
bahwa pada Madrasah Aliyah Negeri yang ada di kota Medan (MAN 1, MAN 2
Model dan MAN 3 Medan) telah berhasil mewujudkan lingkungan sekolah yang
sejuk dan nyaman melalui penerapan visi dan misi madrasah yang berbasis pada
kecintaan terhadap lingkungan. Keberhasilan ini tentu tidak terlepas dari berbagai
upaya dan kerja yang telah dilakukan. Oleh karena itu apa yang telah dilakukan
oleh Madrasah Aliyah Negeri di Kota Medan menurut penulis juga patut untuk
diterapkan pada seluruh madrasah yang ada di Kota Medan dan tidak menutup
kemungkinan kepada seluruh sekolah yang ada di seluruh penjuru Negeri.
Berangkat dari latar belakang tersebut penulis tertarik untuk melakukan
penelitian yang berjudul: “Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Cinta
Lingkungan (Studi pada Madrasah Aliyah Negeri di Kota Medan)”.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana konsep lembaga pendidikan Islam berbasis cinta lingkungan di
Madrasah Aliyah Negeri di kota Medan?
2. Apa saja usaha-usaha yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah Negeri di
kota Medan dalam menerapkan konsep lembaga pendidikan Islam berbasis
cinta lingkungan ?
3. Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat dalam
menerapkan konsep lembaga pendidikan Islam berbasis cinta lingkungan
C. Penjelasan Istilah
Sebagaimana judul yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu, maka
ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan agar dapat terlihat batasan-batasan
masalah yang hendak dibahas dan menjadikan penelitian ini lebih fokus. Adapun
istilah-istilah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Lembaga secara etimologi adalah asal sesuatu, acuan, sesuatu yang
memberi bentuk pada yang lain, badan atau organisasi yang bertujuan
mengadakan sesuatu penelitian keilmuan atau melakukan suatu usaha.
Dalam pengertian fisik, lembaga berarti institute yaitu sarana atau
organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, dalam pengertian fisik
lembaga juga disebut sebagai bangunan. Sedangan pengertian lembaga
secara non-fisik atau abstrak adalah institution, yakni suatu sistem
norma untuk memenuhi kebutuhan, dapat juga disebut sebagai
pranata.6
2. Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai proses penyiapan generasi
muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai
Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia
dan memetik hasilnya di akhirat.7
3. Kata basis dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti asas, atau
dasar.8 Dalam konteks penelitian ini konsep cinta lingkungan dijadikan
sebagai dasar dan tujuan madrasah, hal ini dapat terlihat dari visi misi
yang dirumuskan oleh Madrasah Aliyah Negeri yang ada di kota Medan
memiliki kesamaan yaitu berbasis pada kecintaan terhadap lingkungan.
4. Lingkungan dalam arti alam adalah keadaan (kondisi, kekuatan) sekitar
yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku organisme.9
6
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, cet. I (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), h. 2016.
7
Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tenta ng Pendidikan Islam (Bandung:
Al-Ma‟arif, 1980), h. 94.
8
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. h. 98.
9
Lingkungan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lingkungan
yang berada di sekitar Madrasah yang menjadi lokasi penelitian.
D. Tujuan Penelitian
Sebagai jawaban dari rumusan masalah diatas, maka penelitian ini memiliki
tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui konsep lembaga pendidikan Islam berbasis cinta
lingkungan di Madrasah Aliyah Negeri di kota Medan
2. Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah
Negeri di kota Medan dalam menerapkan lembaga pendidikan Islam
berbasis cinta lingkungan
3. Untuk mengetahui Faktor-faktor apa saja yang menjadi pendukung dan
penghambat dalam menerapkan konsep lembaga pendidikan Islam
berbasis cinta lingkungan di Madrasah Aliyah Negeri di kota Medan.
E. Kegunaan Penelitian
1. Secara teoritis penelitian ini berguna untuk memperkaya khazanah ilmu
pengetahuan bagi para pembaca terutama bagi orang-orang yang
menekuni bidang pendidikan Islam. Dalam cakupan yang lebih luas
lagi, penelitian ini bertujuan untuk memberikan konsep integrasi antara
pendidikan Islam dan prilaku warga sekolah/madrasah yang cinta
terhadap lingkungan.
2. Secara empiris penelitian ini berguna memberikan masukan dan
kontribusi dalam hal konsep lembaga pendidikan Islam berbasis cinta
lingkungan melalui upaya nyata, khususnya bagi Madrasah Aliyah
Negeri yang ada di kota Medan sebagai penggagas utama yang
mencantumkan visi misi dan tindakan nyata yang cinta kepada
3. Sebagai bahan masukan sekaligus bahan kajian bagi stake holder
pendidikan khususnya bagi kepala madrasah, para guru yang berada
pada lingkup lembaga pendidikan Islam dan seluh masyarakat pada
umumnya.
4. Sebagai pelengkap dan tambahan perbendaharaan hasil penelitian
dengan harapan dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan lembaga
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Lembaga Pendidikan Islam
Sangat banyak definisi para ahli mengenai lembaga pendidikan. lembaga
yang dimaksud adalah penyelenggara pendidikan yang bertanggungjawab untuk
mencerdaskan anak bangsa. Ki Hadjar Dewantara meluaskan penyelenggaraan pendidikan dengan “tricentra” yang merupakan tempat pergaulan anak didik dan sebagai pusat pendidikan yang amat penting baginya. “Tricentra” itu adalah (1) Lembaga keluarga yang membentuk lembaga pendidikan keluarga, (2) Lembaga
perguruan yang membentuk lembaga pendidikan sekolah, (3) Lembaga pemuda
yang berbentuk lembaga pendidikan masyarakat.10
Sidi Gazalba seorang pakar agama Islam berpandangan bahwa
lembaga-lembaga yang mempunyai tanggungjawab pendidikan ialah:
1. Rumah tangga, yaitu pendidikan primer untuk fase bayi dan fase
kanak-kanak sampai usia sekolah. Pendidiknya adalah orang tua, sanak kerabat, famili, saudara-saudara dan teman sepermainan.
2. Sekolah, yaitu pendidikan sekunder yang mendidik anak mulai usia
sekolah sampai ia keluar dari sekolah tersebut. Pendidiknya adalah guru yang professional.
3. Kesatuan sosial, yaitu pendidikan tertier yang merupakan pendidikan
yang terakhir tetapi bersifat permanen. Pendidiknya adalah
kebudayaan, adat istiadat, suasana masyarakat setempat.11
Dari pandangan-pandangan beberapa ahli tentang siapayang
bertanggungjawab menyelenggarakan pendidikan seperti yang secara tegas di
sebut oleh Ki Hadjar Dewantara dan Sidi Gazalba adalah lembaga sekolah.12
Sekolah dalam istilah lembaga pendidikan Islam akrab di kenal dengan nama
10
Muhaimin dan Abdul Mujid, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Trigenda, 1993), h. 288.
11
Sidi Gazalba, Pendidikan Umat Islam: Masalah terbesa r Kurun Kini Menentukan Nasib Umat (Jakarta: Bharata, 1970), h. 26-27.
12
madrasah. Akan tetapi dua istilah ini oleh masyarakat sering dibeda-bedakan.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Azyumardi Azra:
Meskipun dalam kenyataannya “madrasah” berarti “sekolah”, di Indonesia istilah tersebut secara khusus mengacu kepada “sekolah (agama) Islam”. Di Nusantara sistem madrasah mulai berkembang pada dekade-dekade awal abad ke-20 pada mulanya memfokuskan diri nyaris secara eksklusif pada studi bahasa Arab dan studi Islam lainnya. Seperti Alquran, Hadis, fiqh, sejarah Islam dan mata pelajaran Islam lainya. Lama sebelumnya, madrasah secara perlahan mengadopsi matematika, geografi dan ilmu-ilmu
umum lainnya yang dimasukkan kedalam ilmu-ilmu umum lainnya.13
Di dalam catatan sejarah tercatat ada beberapa lembaga pendidikan Islam
yang turut berkontribusi pada pengembangan khazanah intelektual muslim
dimulai dari bentuk yang paling klasik sampai dengan bentuk modern. Diantara
lembaga pendidikan Islam pada masa klasik adalah kuttab, mesjid dan mesjid
khan, perpustakaan, pendidikan rendah di istana, toko-toko kitab, rumah-rumah
para ulama, majelis kesusastraan, madrasah, rumah sakit dan pendidikan tinggi.14
Dalam perkembangannya, ternyata hari ini sejumlah lembaga pendidikan Islam
tersebut yang mampu bertahan dan berkembaang pesat adalah madrasah dan
pondok pesantren.
Madrasah dan Pesantren-pesantren yang pada hakikatnya adalah suatu alat
dan sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata,yang sudah berurat berakar
dalam masyarakat Indonesia umumnya, hendaklah pula mendapat perhatian dan
bantuan yang nyata dengan berupa tuntutan dan bantuan materiil dari
pemerintah.15
Dalam rangka konvergensi, Departemen Agama menganjurkan supaya
pesantren yang tradisional dikembangkan menjadi sebuah madrasah, disusun
secara klasikal, dengan memakai kurikulum yang tetap dan memasukkan mata
13
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi Modernisasi Menuju Milenium Baru
(PT.Logos Wacana Ilmu, 1999), 72.
14
Haidar Putra Daulay dan Nurgaya Pasa, Pendidikan Islam Dalam Lintasan Sejarah: Kajian Dari Zaman Pertumbuhan Sampai Kebangkitan (Jakarta: Kencana, 2013), h. 86-99.
15
pelajaran umum disamping agama. Sehingga murid di madrasah tersebut
mendapatkan pendidikan umum yang sama dengan murid di sekolah umum.16
Dalam hubungan itu, lembaga pendidikan yang dikenal dalam khazanah
Islam banyak sekali, seperti mesjid (surau, langgar, mushala dan meunasah),
pengajian dan penerangan Islam (majelis ta‟lim), kursus-kursus keIslaman,
badan-badan konsultasi keislaman, Madrasah dan Pondok pesantren.17
Lembaga pendidikan Islam sesungguhnya berawal dari masjid, fungsi
masjid pada masaini bukan saja sebagai tempat melaksanakan ibadah wajib
seperti shalat, tetapi juga berfungsisebagai tempat untuk mengkaji ilmu
pengetahuan. Tetapi kemudian masjid sangat terbatas luasnya, sementara itu
jumlah penuntut ilmu pengetahuan semakin banyak, dan tak bisa ditampung lagi
oleh masjid.Untuk merespon hal itu, dibuatlah tempat khusus yang tempatnya
berhubungan dengaan masjid atau tempat yang tidak jauh dari masjid, mereka
menanamkan pendidikan yang mengajarkan ilmu agama itu dengan nama
Madrasah atau kuttab.18
Sebenarnya lembaga pendidikan Islam dimulai sejalan dengan pendidikan
Islam itu dimulai bersamaan dengan kedatangan agama Islam itu sendiri yaitu
pada tahun 611 M.19 Kemudian Islam berkembang pesat menyebar keseluruh
penjuru dunia serta mengalami kemajuan. Pada saat yang sama lembaga
pendidikan Islam juga menyebar keseluruh wilayah yang ditahlukkan. Oleh
karena perubahan zaman, maka pendidikan dan lembaga pendidikan Islam juga
mengalami dinamika perkembangan pada setiap aspeknya.
Dalam konteks penelitian ini lembaga pendidikan Islam yang dimaksud
adalah madrasah. Oleh karena itu, rangkaian paragraf berikut ini akan lebih fokus
membahas mengenai eksistensi madrasah, dimulai dari pengertian, sejarah berdiri
B. Pengertian dan Sejarah Perkembangan Madrasah
Madrasah dalam Shorter Encyclopedia of Islam sebagaimana yang dikutip oleh Haidar adalah “Name of an institution where the Islamic science are studied”
(nama dari suatu lembaga dimana ilmu-ilmu keIslaman diajarkan).20 Sementara
itu, menurut Peraturan Menteri Agama Nomor 1 tahun 1946 dan Peraturan
Menteri Agama Nomor 7 tahun 1950 maupun SKB Tiga Menteri (Menteri Dalam
Negeri, Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) Tahun 1975, dapat
dipahami bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan yang menjadikan mata
pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran pokok sebagai ciri khasnya yang
membedakan dengan sekolah.21
Dalam sejarah Islam, Madrasah sudah menjadi fenomena yang menonjol
sejak awal abad 11-12 M (abad ke-5 H), khusunya ketika Wazir Bani Saljuk,
Niz}am al-Muluk mendirikan Madrasah Niz}amiyah di Bagdad. Sebuah lembaga
pendidikan yang bertujuan menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi tantangan pemikiran Syi‟ah.22
Pada perkembangan berikutnya, madrasah menjadi
lembaga pendidikan yang berkembang dan menjadi trend di hampir seluruh
kekuasaan Islam.
Menurut George Makdisi sebagaimana yang dikutip oleh Ainurrafiq dan
Ahmad Ta‟arifin mengungkapkan bahwa akar sejarah pertumbuhan madrasah
dalam dunia Islam melewati tiga tahap, yaitu: (1) Tahap masjid, (2) Tahap masjid
khan, dan (3) Tahap madrasah.
Tahap masjid berlangsung terutamapada abad ke delapan dansembilan. Masjid yang dimaksud dalam konteks ini adalah masjid yang selain digunakan sebagai tempat shalat berjamaah juga digunakan sebagai majelis ta‟lim (pendidikan).
Tahap kedua adalah lembaga masjid khan, yaitu masjid yang
dilengkapi dengan bangunan khan (asrama atau pondok) yang masih
20
Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaha ruan P endidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2012), h. 98.
21
Ibid., h.106.
22Ainurrafiq dan Ahmad Ta‟arifin,
Manajemen Madrasah Berbasis Pondok pesantren
bergandengan dengan masjid. Berbeda dengan masjid biasa, masjid khan menyediakan tempat penginapan yang cukup representatif bagi para pelajar yang datang dari berbagai kota. Tahap ini mencapai perkembangan yang sangat pesat pada abad ke sepuluh.
Sedangkan tahap ketiga adalah madrasah yang khusus diperuntukkan bagi lembaga pendidikan. pada tahap ini, madrasah yang pada umumnya terdiri dari ruang belajar, ruang pemondokan, dan masjid telah berhasil mengintegrasikan kelembagaan masjid biasa (tahap pertama) dengan
masjid khan (tahap kedua).23
Satu abad setelah berdirinya Madrasah Niz}am al-Mulk, di Mesir
didirikan pula Madrasah al-Hafiz}iya>t oleh khalifah
Hafiz}lidi>nilla>hal-Fat}imiy (525 H/1131 M) di Iskandariyah dan Madrasah al-Syafi‟iya>t yang
didirikan oleh Ibn Salaz pada tahun (546 H/1151 M) di Kairo. Keduanya
merupakan madrasah pertama di Mesir, bahkan Afrika Utara.24 Pada awalnya
usaha pendirian madrasah ini dilatar belakangi oleh pertarungan pemikiran aliran
dan paham ummat Islam kala itu. Seperti paham keagamaan yang berkembang pada awal mula madrasah didirikan adalah paham Syi‟ah, maka didirikan madrasah di tempat yang lain oleh kelompok orang yang berpaham Sunni.
Pada gilirannya nanti, siapa yang berkuasa maka paham keagamaan
penguasanya lah yang di sebar luaskan dengan cara menjadikan paham tersebut
mazhab resmi Negara. Seperti kasus yang terjadi ketika awal berdirinya al-Azhar
yang dikembangkan adalah paham Syi‟ah karena penguasa ketika itu dinasti
Fat}imiyah berpaham Syiah, tetapi belakangan, beralih menjadi Sunni hingga hari
ini. Dari kenyataan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sistem politik
pemerintahan sangat berpengaruh besar pada sistem yang ada didalam lembaga
pendidikan Islam.
Kebiasaan mendirikan madrasah sebagaimana yang dilakukan oleh
khalifah terdahulu ternyata diikuti oleh kahalifah sesudahnya. Setelah dinasti
Ayyubiah diteruskan oleh sultan Mamluk (648 H/1250 M) madrasah baru terus
bermunculan, diantaranya adalah Madrasat al-S}ahibiya>t yang didirikan pada
23
Ibid.,h. 32.
24
Abd. Mukti, Pembaharuan Lembaga Pendidika n di Mesir: Studi Tentang
tahun (654 H/1256 M), Madrasat Maglat}i al-Juma>li yang didirikan pada tahun
(730 H/ 1329 M) di Kairo dan Madrasat al-Jai> yang didirikan pada tahun (768
H/1366 M) di Kairo.25
Selain dari Niz}amul Mulk, Nuruddin Zinky juga mendirikan
madrasah-madrasah, menurut catatan sejarah, beliaulah orang pertama mendirikan madrasah
di Damaskus. Madrasah yang didirikannya cukup banyak tersebar di kota-kota
Syiria sampai ke desa-desa.26 Setelah kemunduran madrasah Niz}amiyah maka
pada abad ke-13 muncul madrasah yang sangat terkenal yaitu madrasah
Mustansiriyah yang didirikan oleh khalifah al-Mustansir ayah khalifah Abbasiyah
yang terakhir Mustashim. Demikian seterusnya madrasah berkembang pesat
sampai ke India. Misalnya sangat terkenal Madrasah Deoband yang banyak
melahirkan ulama-ulama India.27 Tidak hanya sampai di India, Islam juga
menyeber ke Asia Tenggara termasuk Indonesia, seiring dengan itu pertumbuhan
lembaga pendidikan Islam termasuk madrasah mengalami perkembangan yang
pesat.
C. Madrasah di Indonesia
Tumbuh dan berkembaangnya madrasah di Indonesia tidak dapat
dipisahkan dengan tumbuh dan berkembangnya ide-ide pembaharuan dikalangan
ummat Islam. Di permulaan abad ke-20 banyaklah pulang ke tanah air para pelajar
yang telah belajar dan bermukim bertahun-tahun di Timur Tengah. Sekembalinya
mereka ke Indonesia mereka mengembangkan ide-ide baru dalam bidang
pendidikan. salah satu diantaranya melahirkan madrasah.28 Seperti yang di
ungkapkan oleh Azyumardi Azra bahwa Saling silang hubungan ulama yang
terlibat dalam jaringan menciptakan komunitas-komunitas intelektual
internasional yang saling berkaitan satu sama lain, hubungan mereka pada
25
Ibid., 61.
26
Daulay dan Pasa, Pendidikan Islam, h. 97.
27
Ibid., h. 98.
28
umumnya dalam kaitan dengan upaya pencarian ilmu melalui lembaga-lembaga
pendidikan, seperti masjid, madrasah dan ribat}. Karena itu kaitan dasar antara
mereka bersifat akademis29
Sejalan dengan itu, Faisal Ismail juga berkomentar tentang ide
pembaharuan pendidikan Islam:
Jika usaha dan upaya pembaharuan pendidikan Islam bermula dari
gagasan dan pemikiran, maka gagasan dan pemikiran pembaharuan pendidikan Islam harus dicetuskan oleh kaum cendikiawan dan sarjana Islam. Disinilah tugas, peran dan tanggungjawab para cendikiawan dan sarjana Islam dalam menyusun dan merumuskan pokok-pokok pikiran pembaharuan pendidikan Islam baik secara konseptual maupun teknis operasional. Para tokoh pendidik Islam, para ulama, para cendikiawan dan para sarjana Islam mempunyai tanggungjawab bersama dan bersama seluruh lapisan masyarakat menata dan mengembangkan pembaharuan
pendidikan.30
Lebih lanjut mengenai sejarah pertumbuhan dan perkembangan madrasah
di Indonesia serta tokoh pendirinya di jelaskan oleh Haidar Putra Daulay:
Diantara ulama yang berjasa dalam menggagas tumbuhnya
madrasah di Indonesia antara lain Syekh Abdullah Ahmad, pendiri Madrasah Adabiyah di Padang pada tahun 1909. Pada tahun 1915 Madrasah ini menjadi HIS Adabiyah yang tetap mengajarkan agama. Syekh M. Thalib Umar pada tahun 1910 mendirikan Madrasah School di Batu Sangkar. Tiga tahun kemudian madrasah ini ditutup dan baru pada tahun 1918 dibuka kembali oleh Mahmud Yunus pada tahun 1923 madrasah ini berganti nama menjadi Diniyah School. Pada tahun yang sama, Rangkayo Rahmah Elyunusiyah mendirikan Madrasah Diniyah Putri di Padang Panjang, sebelumnya yaitu pada tahun 1915 Zainudin Labai al-Yunusi mendirikan Madrasah Diniyah di Padang Panjang. Madrasah Diniyah inilah yang kemudian berkembang di Indonesia baik merupakan bagian dari pesantren atau surau, maupun berdiri di luarnya.
Dikalangan organisasi Islampun giat pula melaksanakan
pembaharuan dalam bidang pendidikan, tercatat diantara yang termasyhur adalah Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912. Dalam bidang pendidikan Muhammadiyah memakai sistem persekolahan modern waktu itu.
29
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusanta ra Abad XVII dan XVIII (Bandung: Mizan, 1998), h. 106.
30
Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis dan Refleksi Historis
Organisasi lainnya adalah al-Irsyad didirikan di Jakarta pada tahun 1913. Lembaga ini mengasuh sekolah-sekolah umum dan agama, memiliki Madrasah Awaliyah, (tiga tahun), Madrasah Ibtida‟iyah (empat tahun),
Madrasah Tajh}iyah (dua tahun), Madrasah Mu‟allimi>n (empat tahun),
dan Madrasah Takhas}sus} (dua tahun).
Di Majalengka, Jawa Barat berdiri organisasi Perhimpunan Umat
Islam (PUI) didirikan oleh K.H.A. Halim pada tahun 1917. Didirikanlah suatu lembaga pendidikan yang bernama Santri Asrama, dibagi tiga bagian, tingkat permulaan, dasar, dan lanjutan. Mata pelajaran yang diajarkan disini, disamping mata pelajaran agama dan umum juga diajarkan keterampilan seperti pertanian, pekerjaan tangan (besi dan kayu).
Di Bandung Jawa Barat, didirikan Persatuan Islam (Persis) pada
permulaan tahun 1920 oleh Ahmad Hasan dan Muhammad Natsir. Didirikan sebuah lembaga pendidikan yang mengasuh sekolah Taman Kanak-kanak, HIS, MULO, dan sebuah Sekolah Guru serta Pesantran. Nahdlatul Ulama yang didirikan pada tahun 1926 oleh K.H.Hasyim Asy‟ari juga banyak mendirikan madrasah dengan susunan sebagai berikut: Madrasah Awaliyah (dua tahun), Madrasah Ibtida‟iyah (tiga
tahun), Madrasah Tsanawiyah (tiga tahun), Madrasah Mu‟alimi>n Wust}a
(dua tahun), dan Madrasah Mu‟allimi>n „Ulya> (tiga tahun). Di Sumatera
Barat pada tahun 1928 berdiri organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang dipelopori oleh Sulaiman Ar-Rasuli pemilik surau di Candung. Diperkirakan pada tahun 1942 sudah terdapat 300 sekolah PERTI dengan 45.000 orang Murid.
Di Sumatera Utara, khususnya di kota Medan atas prakarsa guru-guru dan pelajar Maktab Islamiyah Tapanuli pada tahun 1930 didirikanlah
organisasi Al-Jam‟iyatul Washliyah. Organisasi ini juga mendirikan dua
sistem pendidikan umum dan agama. Selain itu didirikan juga madrasah yang menitikberatkan mata pelajaran agama, dapat diklasifikasikan:
Tazh}iyah (dua tahun), Ibtida‟iyah (empat tahun), Tsanawiyah (dua
tahun), Madrasah Qismul „A<li>(tiga tahun), Madrasah Takhas}s}us}
(dua tahun). organisasi berikutnya yang juga besar perannya dalam bidang pendidikan di Sumatera Utara adalah Al-Ittihadiyah. Organisasi ini didirikan pada tahun 1932. Ittihadiyah juga bergerak dalam bidang pendidikan.sejumlah sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar, menengah pertama dan atas banyak tersebar di Medan, Langkat, Deli Serdang dan
kabupaten lainnya.31
Dari kenyataan historis diatas maka dapat dikatakan bahwa semangat umat
Islam dalam menumbuh kembangkan lembaga pendidikan Islam sangat antusias.
Tidak hanya oleh kelompok intelektual dan sarjana lulusan Timur Tengah saja,
31
sesungguhnya lembaga pendidikan Islam berhutang banyak kepada ormas Islam
yang turut serta mendirikan dan memajukan lembaga pendidikan Islam.
Perkembangan dan kemajuan madrasah sebagaimana yang kita rasakan
hari ini sesungguhnya tidak terlepas dari proses panjang dan rumit. Dimulai dari
zaman pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan telah melalui dinamika yang
sangat kompleks. Eksistensi madrasah di Indonesia juga sebagai lembaga
pendidikan Islam memiliki kontribusi yang sama dengan sekolah umum lainnya
dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kelancaran pelaksanaan pendidikan di
madrasah juga sangat tergantung pada berfungsi tidaknya sistem kerjasama dalam
kehidupan umat Islam.32
Setelah membaca tuntas buku sejarah pertumbuhan dan pembaharuan
pendidikan Islam di Indonesia karya Prof. Dr. Haidar Putra Daulay, MA maka
dapat disimpulkan bahwa perkembangan Madrasah pasca kemerdekaan Indonsia
dibagi menjadi tiga fase:
Fase pertama (1945-1974)
Madrasah pada fase ini lebih terkonsentrasi kepada mata pelajaran agama, sehingga penghargaan ijazah yang dimiliki madrasah tidak sama dengan sekolah. Tamatan madrasah diperbolehkan melanjutkan pelajaran ke perguruan tinggi agama saja, begitu juga hak-hak lainnya yang dimiliki oleh sekolah tidak dimiliki oleh madrasah.
Fase kedua (1975-1989)
Madrasah pada fase ini adalah memasuki era Madrasah SKB Tiga Menteri yang telah diuraikan terdahulu. Inti pokok dari madrasah ini adalah bahwa ijazah madrasah sama dengan ijazah sekolah. Tamatan madrasah memiliki hak yang sama dengan hak yang dimiliki oleh tamatan sekolah.
Fase ketiga (1990 sampai sekarang)
Madrasah pada fase ini telah memasuki era madrasah sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam. Madrasah ini dari seluruh struktur kurikulum pengetahuan umum sama dengan sekolah, dan sebagai ciri khasnya di berikan ciri khas keislaman yang diwujudkan dalam bentuk
32
pelajaran keIslaman yang melebihi apa yang diberikan di sekolah, begitu juga suasana lingkungan sekolah yang Islami, serta pendidik dan peserta
didiknya yang memiliki ciri keIslaman.33
Seperti sekolah-sekolah yang berada dibawah naungan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat madrasah Negeri maupun swasta;
seluruhnya berada dibawah pengelolaan Departemen Agama. Seperti halnya
sekolah umum dan sekolah Islam, madrasah juga terdiri dari tiga tingkat pendidikan: Madrasah Ibtida‟iyah (dasar, 6 tahun), Madrasah Tsanawiyah
(menengah, 3 tahun) dan Madrasah Aliyah (menengah atas, 3 tahun).34 Baik
sekolah Islam maupun kebanyakan madrasah, seperti mungkin diduga, umumnya
dikelola secara swasta oleh yayasan-yayasan Islam. Hal ini penting untuk
dikemukakan, karena berbeda dengan sekolah umum yang kebanyakan dikelola
oleh Negara, sekitar 80 persen madrasah dikelola oleh swasta, atau lebih tepatnya
oleh yayasan-yayasan Islam.35
Dari kenyataan tersebut maka kita harus mengakui bahwa madrasah masih
sedikit tertinggal dari sekolah-sekolah umum. Sebabnya adalah kebanyakan
madrasah yang dikelola oleh swasta. Akibatnya dari sisi bangunan fisik, fasilitas
dan kualitas pembelajaran masih tertinggal. Hal ini juga senada dengan apa yang
pernah diungkapkan oleh Karel A. Steenbrink bahwa: “Kalau ada keluhan tentang
pesantren dan madrasah, isinya hampir selalu bukan tentang pendidikan Agama
yang kurang, namun keluhan hampir umum yaitu kurangnya pendidikan umum
yang tidaksetaraf dengan sekolah semacam dan tidak mempunyai efek sipil dalam
masyarakat”.36
Namun demikian, untuk tidak putus harapan kita harus selalu optimis
bahwa madrasah akan mampu menyaingi sekolah-sekolah umum. Data-data
terakhir ini menunjukkan bahwa prestasi yang diukir oleh madrasah tidak kalah
dengan sekolah pada level regional, Nasional bahkan pada level Internasional,
madrasah sudah mulai menunjukkan kebolehannya.
D. Lingkungan Hidup
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar kita. hidup dan
kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari pengaruh lingkungan.37 Lingkungan
juga diartikan sebagai segala sesuatu yang sifatnya eksternal terhadap individu;
karena lingkungan merupakan sumber informasi yang diperoleh melalui panca
indera yang kemudian diterima oleh otak. Lingkungan menyediakan berbagai hal
yang dapat menjadi bahan pembelajaran.38Bagi manusia, lingkungan adalah
segala sesuatu yang ada di sekitarnya, baik berupa benda hidup, benda mati, benda
nyata ataupun abstrak, termasuk manusia lainnya, serta suasana yang terbentuk
karena terjadinya interaksi diantara elemen-elemen di alam tersebut.39
Dalam terminologi Islam, lingkungan dikenal dengan Istilah “al-Bi‟ah”,
yang secara kuantitatif di gunakan dalam Alquran sebanyak 18 kali. Kata al-Bi‟ah
dalam Alquran berkonotasi pada lingkungan sebagai ruang kehidupan Khususnya
bagi spesies manusia.40 Tidak ketinggalan di dalam Undang-undang juga memuat
definisi lingkungan yaitu kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu
sendiri, kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lain.41
37
Yudi Utomo, dkk, Pendidikan Lingkungan Hidup (Malang: Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, 2009), h. 1.
38
Oos M. Anwas, “Lingkungan Sebagai Media Pembelajaran dan Pengaruhnya Terhadap Kompetensi Penyuluh Pertanian”, dalam Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. XII, h. 284.
39
Juli Soemirat Slamet, Kesehatan Lingkungan (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1996), h. 35.
40
Mujiono Abdillah, Agama Ramah Lingkunga n: Perspektif Al-Qur‟an (Jakarta: Paramadina, 2001), h. 49.
41
Dalam definisi yang agak panjang Jain mengemukakan bahwa: “… the
environment is made up as a combination of our natural and physical
surroundings and the relationship of people with that environment, wich includes
aestetic, historical, cultural, economic and social aspects”.42 Lingkungan terdiri atas suatu kombinasi alam dan fisik sekeliling dan hubungan manusia dengan
lingkungan tersebut, yang mencakup segi estetika, sejarah, budaya, ekonomi dan
aspek sosial.
Lingkungan hidup itu diartikan sebagai The phisycal, chemical and biotic
condition surrounding and organism.43 Sementara itu, lingkungan hidup adalah karunia Allah yang diamanahkan kepada manusia untuk melestarikan dan
melindunginya, bukan untuk dieksploitasi secara tidak wajar sehingga timbul
kerusakan dan ketidakseimbangan yang berakibat pada terganggunya kehidupan
didunia ini.44 Dengan maksud yang sama namun redaksi yang berbeda N.H.T.
Siahaan memberikan definisi tentang lingkungan hidup adalah semua benda, daya
dan kondisi yang terdapat dalam suatu tempat atau ruang tempat manusia atau
makhluk hidup berada dan dapat mempengaruhi hidupnya.45
Menurut Agoes Soegianto, lingkungan hidup merupakan suatu upaya
penggalian pengetahuan tentang bagaimana alam ini bekerja. Artinya adalah
bagaimana manusia mempengaruhi lingkungan dan menyelesaikan masalah
lingkungan yang sedang dihadapi manusia untuk menuju masyarakat yang
berkelanjutan. Agar dapat bertahan hidup, semua makhluk hidup harus cukup
mendapatkan makanan, udara bersih, air bersih, dan perlindungan yang
dibutuhkan sebagai kebutuhan dasarnya.46Menurut Emil Salim, guru besar
Universitas Indonesia yang juga mantan menteri pembangunan dan lingkungan
42
Jain R.K. et. al., Environmental Impact Analysis: A New Dimensioni In Decision Making, second Edition (New York: Van Nostrand Reinhold Company, 1981), h. 2.
43
Michael Allaby, Dictionary of the Environment, (London: the Mac Millan Press, 1979), h. 213.
44
AliYafie, Merintis Fikih Lingkungan Hidup (Jakarta: Ufuk Pers, 2006), h. 9.
45
N.H.T Siahaan, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan (Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 2004), h. 4.
46
Agoes Soegianto, Ilmu Lingkungan: Sarana Menuju Masyarakat Berkelanjutan
hidup di era Soeharto, lingkungan hidup diartikan sebagai segala benda, kondisi
keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruang yang kita tempati dan
mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia.47
Dari berbagai pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa lingkungan
hidup adalah ruang atau wadah yang ditempati oleh setiap makhluk hidup yang
saling berpengaruh dan berhubungan. Karenanya antara satu komponen dengan
komponen lainnya saling ketergantungan.
Menurut NommyH.T. Siahaan merumuskan unsur-unsur lingkungan
sebagai berikut:
1. Semua benda, berupa manusia, hewan, tumbuhan, organisme, tanah, air, udara, rumah, sampah, mobil dan lain-lain. Keseluruhan yang disebutkan ini digolongkan sebagai materi. Sedangkan satuan-satuannya digolongkan sebagai komponen.
2. Daya, disebut juga dengan energi
3. Keadaan, disebut juga kondisi atau situasi
4. Perilaku atau tabiat
5. Ruang, yaitu wadah berbagai komponen berada
6. Proses interaksi, disebut juga saling mempengaruhi, atau biasa pula
disebut dengan jaringan kehidupan.48
Dengan memahami unsur-unsur diatas, maka secara umum Unsur-unsur
lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga: Pertama, Unsur Hayati (Biotik)
yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia,
hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Kedua, Unsur Fisik (Abiotik), yaitu
unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah,
air, udara, iklim, dan lain-lain. Ketiga, Unsur Sosial Budaya, yaitu lingkungan
sosial dan budaya yangdibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan
keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat
mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan
ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
47
Emil Salim, Lingkungan Hidup dan Pembangunan (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995), h. 32.
48
Berdasarkan peristiwa kejadiannya, lingkungan dibedakan atas dua
macam:
1. Lingkungan Alamiah, artinya yang telah ada di alam
2. Lingkungan buatan, yang merupakan hasil karya, karsa dan ciptaan
makhluk hidup (termasuk manusia).49
Lebih lanjut menurut Azrul Aswar, pembagian lain didasarkan pada wujud
dari faktor lingkungan tersebut, yakni:
1. Lingkungan materi (substansi), dapat berupa kehidupan (biotik) seperti
manusia, hewan maupun tumbuhan, atau dapat pula mati (abiotik) seperti batu, kayu, radiasi, dan sebagainya. Disebutkan bahwa benda hidup umumnya mempunyai sifat tumbuh, berkembang, menyerap energi dari alam, peka dan responsif terhadap keadaan luar, sedangkan benda mati umumnya mempunyai sifat tidak tumbuh, tidak berkembang, sebagai reservoir energi serta tak dapat menahan energi tanpa penghancuran.
2. Lingkungan non materi, seperti adat istiadat, kebudayaan dan
kepercayaan.50
Menurut Fuad Ansyari, lingkungan hidup ada tiga bagian yaitu:
1. Lingkungan fisik (Physical Environment), Yaitu segala sesuatu di
sekitar kita yang bersifat benda mati seperti gedung, sinar, air dan lain
2. Lingkungan biologis (Biological Environment), yaitu segala sesuatu
yang berada di sekitar kita yang bersifat organis, seperti manusia, binatang, jasad renik, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya
3. Lingkungan sosial (Social Environment), yaitu manusia-manusia lain
yang berada di sekitar atau kepada siapa kita mengadakan hubungan
pergaulan.51
Sedangkan menurut Juli Soemirat Slamet lingkungan dapat
diklasifikasikan berikut:
1. Lingkungan yang hidup (biotis) dan lingkungan tidak hidup (abiotis)
2. Lingkungan alamiah, dan lingkungan buatan (manusia)
3. Lingkungan prenatal dan lingkungan postnatal
4. Lingkungan biofisis dan lingkungan psikososial
5. Lingkungan air (hydrosfir), lingkungan udara (atmosfir), lingkungan
tanah (litosfir), lingkungan biologis (biosfir) dan lingkungan sosial (sosiosfir)
6. Kombinasi dari kalsifikasi-klasifikasi tersebut.52
Antara manusia dengan lingkungan lingkungan hidupnya terdapat
hubungan yang dinamis. Perubahan dalam lingkungan hidup akan menyebabkan
perubahan dalam kelakuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang
baru. Perubahan dalam kelakuan manusia ini selanjutnya akan menyebabkan pula
perubahan dalam lingkungan hidup. Dengan adanya hubungan dinamis-sirkuler
antara manusia dan lingkungan hidupnya, dapat dikatakan hanya dalam
lingkungan hidup yang baik, manusia dapat berkembang secara maksimal, dan
hanya dengan manusia yang baik, lingkungan hidup dapat berkembang kearah
yang lebih optimal.53
Seiring dengan pertambahan penduduk, kebutuhan akan pangan semakin
meningkat. Namun peningkatan kebutuhan tersebut tidak sejalan dengan jumlah
manusia yang kian hari semakin bertambah. Karena itu diperlukanlah revolusi di
dalam bidang pertanian dengan menggunakan aneka pupuk dan zat kimia lainnya
sebagai media. Hutan yang seharusnya hijau ditebang dan dialihkan menjadi lahan
pertanian. Usaha intensifikasi pertanian secara berlebihan akan menimbulkan
dampak yang buruk terhadap lingkungan. Pemupukan dengan bahan kimia secara
berlebihan akan menimbulkan pencemaran air dan tanah. Penggunaan pestisida
untuk tanaman akan menimbulkan akibat yang buruk pula terhadap kesehatn
manusia.54
Sikap yang mengabaikan lingkungan adalah sikap yang tidak
mencerminkan suatu kepedulian bagi masa depan.55 Belakangan ini sikap manusia
terhadap lingkungan sungguh sangat memperihatinkan, dimana pada setiap
lingkungan tidak lagi dianggap penting. Jika diperhatikan kebanyakan bencana
52
Slamet, Kesehatan Lingkungan, h. 36.
53Sufrilsyah dan Fitriani, “Agama dan Kesadaran Menjaga Lingkungan Hidup”, dalam
Substantia, Vol.XIV, h. 64.
54
Risman, Pertanian Ramah Lingkungan (Jakarta: Citra Unggul Laksana, 2005), h. 4.
55
alam yang merugikan manusia justeru terjadi karena ulah tangan mereka sendiri.
Oleh karena itu, upaya penyadaran dan penanaman karakter berbasis cinta
lingkungan sangat perlu dan harus senantiasa digalakkan.
E. Islam dan Lingkungan Hidup
Penanganan lingkungan hidup seperti tersebut diatas ditengah-tengah
lingkungan umat beragama, tentu saja menghentakkan sekaligus menggelitik
pikiran kita. Adakah ajaran agama yang mengandung pesan-pesan moral dalam
hal penataan lingkungan? Jika ada, mengapa penataan dan kondisi lingkungan
hidup di tanah air belum sesuai dengan yang diharapkan? lalu dimana letak
kesalahan tersebut?.56
Jika kita melihat kembali defeinisi mengenai lingkungan hidup
sebagaimana yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, kita akan sampai
pada kesimpulan bahwa sesungguhnya lingkungan hidup adalah semua ciptaan
Allah yang saling berkaitan dan terikat dengan hukum Allah (Sunnatullah).
Masalah kebersihan lingkungan merupakan masalah serius yang dihadapi
masyarakat saat ini, jika diamati maka masalah kebersihan, sampah dan selokan
air yang kotor masih cukup merusak pemandangan di setiap penjuru tempat
tinggal kita masing-masing. Sebenarnya, salah satu karakteristik perilaku
peradaban Islam adalah perhatian yang tinggi terhadap kebersihan. Perhatian yang
tinggi ini tidak pernah ada tandingannya dalam agama-agama sebelumnya tidak
pula dalam filsafat manapun.57
Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kelestarian dan
keseimbangan Lingkungan hidup, di dalam Alquran telah banyak memberikan
informasi spiritual kepada manusia untuk selalu menjaga dan melestarikan
lingkungan, sebab apa yang Allah berikan kepada manusia semata-mata
56
Katimin, Politik Masyara kat Pluralis: Menuju Tatanan Masyarakat Berkeadilan dan Berperadaban (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2010), h. 85.
57Maizer Said Nahdi dan Aziz Gufron, “Etika Lingkungan Dalam Perspe
ktif Yusuf
merupakan suatu amanah, hal tersebut dalam Alquran banyak membuktikan
bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap
ramah lingkungan, diantara beberapa pembahasan tentang lingkungan dalam
Alquran antara lain: lingkungan sebagai suatu sistem, tanggungjawab manusia
untuk memelihara lingkungan hidup, larangan merusak lingkungan, sumber daya
vital dan problematikanya, peringatan mengenai kerusakan lingkungan hidup yang
terjadi karena ulah tangan manusia dan pengelolaan yang mengabaikan petunjuk
Allah serta solusi pengelolaan lingkungan.58
Sangat banyak sekali ayat Alquran yang menjelaskan tentang kewajiban
menjaga dan melestarikan lingkungan. Allah Swt menyebut bahwa lingkungan
dalam artian alam semesta ini merupakan nikmat anugerah-Nya kepada manusia:
Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan
untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia
ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau
petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.59
Pada ayat selanjutnya Allah menjelaskan bahwa lingkungan dan alam ini
disediakan untuk mencukupi keperluan hajat hidup manusia serta sebagai sumber
rezeki bagi manusia:
58
Abdul Majid bin Aziz, Mujizat Al-Qur‟an dan As-Sunnah Tentang IPTEK (Jakarta : Gema Insani Press, 1997), h. 194.
59
Artinya:“Dan Kami telah menghampa rkan bumi dan menjadikan padanya
gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keper luan-keperluan hidup, dan
(Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi
rezeki kepadanya”.60
Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu manusia memerlukan sumber
daya alam. Hal ini berarti manusia harus mengambil dan menggunakan sesuatu
dari lingkungan sekitarnya. Kemudian, melepaskan sisa-sisa (limbah) ke
lingkungan juga.61
Secara terang-terangan Alquran mengatakan bahwa segala jenis kerusakan
yang terjadi di permukaan bumi ini adalah ulah tangan manusia yang gagal
berinteraksi secara sehat dengan lingkungan:
Artinya: “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu)”.62
Melalui ayat ini seharusnya menjadi bahan pertimbangan bagi manusia
untuk mengelola lingkungan ini secara baik agar tidak terjadi bencana yang pada
ujungnya hanya akan menambah penderitaan manusia itu sendiri. Sedangkan pada
ayat yang lain Allah menjelaskan bahwa amr dalam bentuk larangan secara tegas
dinyatakan agar manusia tidak merusak semua yang telah diciptakan Allah.
60
Q.S. Al-Hijir/15: 19-20.
61
Risman, Bersahabat Dengan Lingkungan Hidup (Jakarta: Swakarya, 2005), h. 1.
62
Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah
(Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada -Nya dengan rasa takut (tidak
akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat
dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.63
Di dalam ayat lain dijelaskan juga bahwa melakukan tindakan yang
merusak lingkungan merupakan salah satu ciri-ciri orang munafik dan tindakan
semacam itu digolongkan kepada tindakan kejahatan
Artinya: “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk
mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang
ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”.64
Pada akhirnya, Allah memerintahkan agar anugerah alam raya yang luar
biasa ini di jaga dari kerusakan oleh manusia yang telah di daulat sebagai khalifah
di bumi:
Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan
Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat,
untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya
Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang”.65
63
Q.S. Al-A‟raf/7: 56.
64
Q.S. Al-Baqarah/2: 205.
65
Didalam Islam tidak ada pemisahan antara teologi agama dengan sosial,
budaya termasuk lingkungan. Pada dasarnya semua hal yang berkaitan dengan
pengaturan kehidupan manusia telah diatur secara lengkap dan semua tertera
didalam Alquran. Islam sangat memperhatikan dan menganjurkan agara
memperhatikan lingkungan dengan cara menjaga kebersihan. Di dalam sebuah
hadis Rasulullah Saw bersabda:
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ishaq ibn Mansur, telah menceritakan kepada kami Habban bin Hilal, telah menceritakan kepadakami Aban, telah
menceritakan kepada kami Yahya, bahwasanya Zaid telah menceritakan
kepadanya, dari Abu Malik al-Asy‟ari ia berkata, Rasulullah Saw Bersabda:
„Kebersihan itu sebahagian dari iman, Alhamdulillah keduanya memenuhi antara
langit dan bumi. Shalat itu adalah nur, sedekah itu adalah dalil dan sabar itu
adalah cahaya, serta Alquran itu hujjah untuk membelamu atau menentangmu.
Setiap manusia berusaha untuk menjual dirinya, sebagian menyelamatkannya dan
sebagian mencelakakannya”. (HR. Muslim).66
Dalam hadis yang lain Rasulullah Saw menjelaskan bahwa barang siapa
yang merusak lingkungan akan ditempatkan di neraka:
66
Muslim ibn al-H{ajja>j Abu> al-Husai>n al-Qusyai>ri an-Naisaburi>, S{ah}ih} Muslim,
Artinya: “Barang siapa yang menebang pohon tanpa alasan maka Allah akan
meletakkan kepalanya di dalam api neraka”. (HR. Abu Dawud).67
Pedoman agama Islam sangat jelas dalam membudayakan pemeliharaan
lingkungan agar tidak tercemar dan tetap bermanfaat bagi kehidupan orang
banyak terungkap melalui hadis Nabi Muhammad Saw berikut:
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. Bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
takutlah kamu sekalian terhadap dua hal yang dapat memperoleh laknat. Mereka
(para sahabat) bertanya: apakah yang dimaksud dengan dua hal yang dapat
memperoleh laknat itu? Rasulullah Saw menjawab: yaitu buang air di jalan yang
dilalui manusia dan tempat manusia berteduh”. (HR. Muslim).68
Demikian pula pada hadis yang lain, Rasulullah melarang buang air pada
air yang tergenang. Hal ini mensinyalir bahwa tradisi Islam sangat memperhatikan
lingkungan dari pencemaran:
Artinya: “Dari Jabir r.a. Bahwasanya Rasulullah Saw telah melarang buang air
pada air yang tergenang”. (HR. Muslim).69
Melihat penjelasan sekaligus pengutan ayat Alquran dan hadis diatas maka
dapat diambil kesimpulan bahwa pembahasan lingkungan hidup dalam Islam
meliputi; 1) Lingkungan hidup sebagai ciptaan Allah mencakup alam raya dan
67
Abu> Da>wud Sulaima>n ibn al-Asy‟as\ al-Sijista>ni, Sunan Abi Da> wud , Juz II (Beirut: Da>r al-Fikr, 1414 H/1994 M), h. 728.
68
Muh}yiddi>n Abi> Zakariya, Riyad}us S{a> lih}i> n (Mesir: Ja>mi‟ Al-Azhar, tt), h. 574.
69
seluruh isinya dengan Allah sebagai pusatnya. 2) Manusia dan lingkungan hidup
yakni manusia disamping sebagai hamba Allah juga sebagai Khalifah-Nya dan 3)
Alam sebagai amanah yang harus dijaga dan dilestarikan.
Islam menekankan kepada umatnya agar mencontohkan Nabi Muhammad
Saw yang membawa rahmat untuk seluruh alam. Manusia dituntun untuk
menghormati proses-proses yang sedang tumbuh dan terhadap apa saja yang ada
di bumi, etika agama terhadap lingkungan mengantarkan manusia dari kerusakan.
Setiap perusakan terhadap lingkungan hidup dinilai sebagai perusakan pada diri
manusia itu sendiri70. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah dalam Alquran
surah Hu>d/11: 61
… …
Artinya: “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan
kamu pemakmurannya.”
Dari uraian di atas dapat dipahami dan diyakini, bahwa hubungan manusia
dengan alam sekitarnya adalah hubungan yang terkait satu sama lain. Alam
semesta ciptaan Allah SWT dan lingkungan tempat manusia hidup merupakan
bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia secara keseluruhan, bahkan
amat nyata benar bahwa hubungan itu dibingkai dengan aqidah dan syari‟ah.
Pada dasarnya konsep pendidikan Islam berupaya mengembangkan
potensi peserta didik secara maksimal, yang menyangkut aspek jasmaniah,
maupun rohaniah; akal dan akhlak.Dengan optimalisasi seluruh potensi yang
dimilikinya, Pendidikan Islam berupaya mengantarkan peserta didik kearah
kedewasaan pribadi secara paripurna, yaitu yang beriman dan berilmu
pengetahuan. Kesemua itu diharapkan saling mempengaruhi antara satu dengan
yang lain dalam perkembangannya mencapai tujuan pendidikan yang
70
diinginkan,71 yaitu sebagai „Abd dan Khalifah fil ard}. Artinya, Pendidikan Islam
sebagaiAgent of change Islamic culture akan mampu menjadikan dirinya
sebagaiorang yang mampu merubah kebudayaan Islam bagi terciptanya
kemaslahatan seluruh umat manusia dan alam semesta. Disamping itu, diperlukan
pola hidup sederhana agar lingkungan dapat terpelihara dengan baik. Pola hidup
sederhana itu berarti pola hidup yang wajar dan selaras dengan lingkungannya
dengan menggunakan sumberdaya secara halal dan sah, hemat tidak
mencemarkan lingkungan hidup dan dengan daya guna yang tinggi.72
Lingkungan hidup yang dipahami sebagai obyek sekaligus amanah yang
dititipkan Allah SWT untuk manusia haruslah mendapatkan tempat seimbang
disisi manusia, dengan penempatan makna yang baik maka lingkungan hidup akan
terhindar dari nilai pemberian Tuhan untuk manusia yang harus dikuasai dan
dieksploitasi sesuai keinginan manusia itu sendiri, sebuah nilai bentuk kesadaran
yang baik terhadap lingkungan hidup haruslah ditanamkan sejak dini terhadap
pemahaman umat manusia demi keberlangsungan hidup yang harmonis sesuai
dengan cita-cita hidup beragama. Oleh karena itu, Islam sebagai Rahmatan Lil
Alamin hadir sebagai agama yang mampu memberikan pondasi nilai-nilai
kehidupan yang baik dan pendidikan Islam sebagai media untuk
mentransformasikan nilai-nilai tersebut.
Disamping itu, untuk menjaga lingkungan maka setiap orang perlu
menerapkan etika keseimbangan lingkungan, seperti yang di ungkapkan oleh
Mochammad Sodiq yaitu:
1.Manusia adalah bagian dari lingkungan yang tidak dapat dipisahkan
dengan makhluk lain dan bukan penguasa lingkungan. Dalam hal ini, manusia harus menyayangi dirinya, semua makhluk hidup lainnya serta lingkungannya.
2.Tuhan menciptakan lingkungan untuk semua penghuni alam semesta,
bukan hanya untuk manusia. manusia sebagai khalifah Tuhan harus mengelola lingkungan/alam semesta dengan benar dan adil
71
H.M. Arifin,Kapita Selekta Pendidikan Islam Dan Umum (Jakarta: Bina Aksara, 1991),h. 44.
72
3.Manusia harus mengelola dan menjaga lingkungan dengan bijaksana guna kepentingan generasi muda selanjutnya.
4.Sumber daya alam terbatas, sehingga manusia dalam pemanfaatannya
harus hemat, diperbaharui dan tidak boros
5.Hubungan manusia dengan lingkungan harus saling menguntungkan
6.Fungsi utama manusia dalam menjaga keseimbangan adalah mengawasi
dan mencegah kelompok tertentu mengeksploitasi secara berlebihan SDA dan merusak lingkungan
7.Negara berperan untuk mencegah terjadinya eksploitasi sumber daya
alam yang berlebihan.73
Manusia sebagai pelaku pendidikan memiliki peranan penting dalam
menjaga kelestarian hidup yang seimbang, maka dibutuhkan kesadaran diri
sebagai makhluk hidup yang saling keterikatan hubungan dengan yang lain.
Didalam Islam, kapasitas akan kesadaran diri manusia adalah menyadari
eksistensinya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang harus menjalankan
fungsinya sebagai khalifah (pemimpin di muka bumi ini dan mengelolanya),
sebagai Abdullah, yang punya kewajiban untuk mengabdi dan beribadah kepada
Sang Khaliq, menggunakan potensi yang diberikan Allah berupa akal, hati,
pendengaran dan penglihatan untuk memahami tanda-tanda kebesaran dan
kekuasaan Allah.
F. Aktualisasi Lembaga Pendidikan Islam Berbasis Cinta Lingkungan
Sejak tahun 1972 semua Negara di dunia, termasuk Indonesia, mulai
menangani masalah-masalah lingkungan hidup.74 Pada saat ini kesadaran
lingkungan sudah meningkat. Masalah pencemaran sudah banyak menarik minat,
mulai dari lapisan bawah sampai pejabat tinggi pemerintah. Setiap pemerintah
daerah mewajibkan pembuatan pengolahan limbah kepada pimpinan industri di
daerahnya. Bahkan sudah ada yang diajukan ke pengadilan karena pelanggaran
limbah ini. Sejak saat itu isu mengenai lingkungan menjadi permasalahan serius
bagi bangsa ini.75 Pemerintah selalu mengingatkan kepada setiap instansi pada
73
Mochammad Sodiq, Ilmu Kealaman Dasar (Jakarta: Kencana, 2014), h. 181.
74
Salim, Lingkungan Hidup, h. 58.
75
berbagai kesempatan agar memperhatikan lingkungan masing-masing, sedapat
mungkin menciptakan instansi yang peduli dan berbudaya terhadap lingkungan.
Lembaga pendidikan sesungguhnya merupakan tempat yang paling efektif
dalam menumbuhkan akhlak terhadap lingkungan. Hal ini dikarenakan
keberadaan lembaga pendidikan adalah untuk merubah perilaku peserta didiknya
menjadi lebih baik.76 Pada sisi yang lain lembaga pendidikan juga sudah terkelola
secara terstruktur dan terawasi. Sehingga dalam hal penerapan kebijakan akan
lebih mudah terrealisasi termasuk menanamkan budaya cinta lingkungan di
madrasah.
Lebih lanjut Muhjiddin dkk menjelaskan:
Terkait cara menumbuhkan etika lingkungan, setiap lembaga pendidikan dapat mengembangkan dua metode, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Melalui metode langsung secara sadar dimana pendidikan akhlak terhadap lingkungan dicantumkan sebagai mata pelajaran yang harus diberikan. Sedangkan melaui metode tidak langsung bertitik tolak pada pendidikan akhlak lingkungan merupakan bagian dari semua proses pendidikan. Sehingga pendidikan akhlak lingkungan dapat menjadi manifestasi dari keseluruhan aspek-aspek pendidikan yang
diorganisir dalam lembaga pendidikan yang melakukannya.77
Penyampaian materi lingkungan hidup kepada para siswa dapat dilakukan
melalui kurikulum pembelajaran yang bervariasi bertujuan untuk memberikan
pemahaman tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan persoalan
lingkungan sehari-hari. Pengembangan kurikulum berbasis lingkungan hidup
untuk mewujudkan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan dapat pula dicapai
dengan melakukan kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler secara rutin dan
menyeluruh.
Secara formal, non formal maupun informal dunia pendidikan
mengimplementasikan kepedulian terhadap lingkungan dan diwujudkan dalam
kebijakan yang mengarahkan semua pihak agar dapat melakukan pengembangan
76
Muhjiddin, et. al., Akhlak Lingkungan: Panduan Berprilaku Ramah Lingkungan
(Jakarta: Kerjasama Kementrian Lingkungan Hidup dan PP Muhammadiyah, 2011), h. 43.
77