Pengaruh Profesionalisme Auditor terhadap
Pertimbangan Tingkat Materialitas dan Risiko Audit Putri Ramadhayanti 15919056
Latar Belakang
Masyarakat kita telah memberikan pengertian khusus atas istilah profesional. Seorang profesional diharapkan dapat berperilaku pada tingkat yang lebih tinggi dari yang dilakukan oleh sebagian besar anggota masyarakat lain. Sebagai contoh, ketika pers memberikan bahwa seorang dokter, biarawan, senator, atau akuntan publik telah didakwa melakukan suatu kejahatan, mayoritas masyarakat akan merasa lebih kecewa ketimbang jika hal yang sama terjadi pada seseorang yang bukan profesional. Arti istilah profesional adalah tanggung jawab untuk bertindak lebih dari sekedar memenuhi tanggung jawab diri sendiri maupun ketentuan hukum dan peraturan masyarakat. Akuntan publik, sebagai profesional, mengakui adanya tanggung jawab kepada masyarakat, klien, serta rekan praktisi, termasuk perilaku yang terhormat, meskipun itu berarti pengorbanan diri.
Alasan utama mengharapkan tingkat perilaku profesional yang tinggi oleh setiap profesi adalah kebutuhan akan kepercayaan publik atas kualitas jasa yang diberikan oleh profesi, tanpa memandang individu yang menyediakan jasa tersebut. Bagi akuntan publik, kepercayaan klien dan pemakai laporan keuangan eksternal atas kualitas audit dan jasa lainnya sangatlah penting. Jika para pemakai jasa tidak memiliki kepercayaan kepada para dokter, hakim, atau akuntan publik, maka kemampuan para profesional itu untuk melayani klien serta masyarakat secara efektif akan hilang.
para pemakai laporan keuangan lainnya, akuntan publik dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai.
Sebagai pihak yang dipercaya untuk memberikan penilaian secara independen terhadap sebuah laporan keuangan perusahaan, auditor dituntut melakukan pekerjaannya seprofesional mungkin dengan menghindari terjadinya kesalahan dalam penilaian. Apabila terdapat kesalahan dalam penilaian, maka akan berdampak pada pihak-pihak yang menggunakan hasil penilaian auditor sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam perencanaan audit, akuntan publik harus mempertimbangkan masalah penetapan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan dan pertimbangan awal tingkat materialitas untuk pencapaian tujuan audit.
Untuk mewujudkan pencapaian tujuan tersebut, auditor harus melakukan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang sesuai standar dengan memahami konsep-konsep yang ada yaitu, konsep-konsep materialitas dan risiko audit dalam merencanakan dan melakukan proses audit. Konsep materialitas merupakan dasar penerapan standar auditing terutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Dengan konsep ini, auditor menentukan standar hal-hal yang tergolong material atau tidak material. Hal ini menjadi sangat penting karena pendapat yang diberikan auditor merupakan pendapat terhadap hal-hal yang bersifat material saja. Maka ruang lingkup pemeriksaan dan penentuan pendapat yang akan diberikan, bergantung pada interprestasi dan pemahaman auditor terhadap nilai-nilai yang termasuk dalam hal yang material ataupun tidak material.
Sedangkan konsep risiko merupakan risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material serta dalam sebuah laporan auditor meliputi dua frase penting yang terkait langsung dengan materialitas dan risiko audit
Pembahasan
Untuk menjalankan tugas secara profesional, seorang auditor harus membuat perencanaan sebelum melakukan proses pengauditan laporan keuangan, termasuk penentuan tingkat materialitas dan risiko audit. Karena konsep materialitas dan risiko dalam auditing berkaitan erat dan tidak dapat terpisahkan. Risiko adalah ukuran ketidakpastian, sedangkan materialitas mengukur besarannya. Secara bersama-sama, keduanya mengukur ketidakpastian jumlah dengan besaran tertentu.Seorang akuntan publik yang profesional, akan mempertimbangkan material atau tidaknya informasi dengan tepat, karena hal ini berhubungan dengan jenis pendapatyang akan diberikan. Jadi, semakin profesional seorang auditor, maka Pertimbangan Tingkat Materialitas dalam laporan keuangan akan semakin tepat.
Materialitas dan risiko audit dipertimbangkan oleh auditor pada saat perencanaan dan pelaksanaan audit atas laporan keuangan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai berikut :
1. Risiko audit dan materialitas, bersama dengan hal-hal lain perlu dipertimbangkan dalam menentukan sifat, saat dan luas prosedur audit serta dalam mengevaluasi hasil prosedur tersebut.
2. Laporan keuangan mengandung salah saji material apabila laporan keuangan tersebut mengandung salah saji yang dampaknya, secara individual maupun keseluruhan, cukup signifikan sehingga dapat mengakibatkan laporan keuangan tidak disajikan secara wajar, dalam hal semua yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Salah saji dapat terjadi sebagai akibat penerapan yang keliru prinsip akuntansi tersebut, penyimpangan fakta, atau dihilangkannya informasi yang diperlukan.
3. Dalam mengambil kesimpulan mengenai materialitas dampak suatu salah saji, secara individual ataupun keseluruhan, auditor umumnya harus mempertimbangkan sifat dan jumlahnya dalam hubungan dengan sifat dan nilai pos laporan keuangan yang sedang diaudit. Sebagi contoh, suatu jumlah yang material atas laporan keuangan suatu satuan usaha mungkin tidak cukup material bagi satuan usaha yang lain yang mempunyai ukuran dan sifat yang berbeda. Begitu juga apa yang dipandang material untuk laporan keuangan suatu satuan usaha dapat pula berubah dari suatu periode ke periode yang lain.
Pertimbangan mengenai materialitas yang digunakan auditor dihubungkan dengan keadaan sekitarnya dan mencakup pertimbangan kualitatif dan kuantitatif.
Kesimpulan