Penerapan Diversi pada Tingkat Penuntut Umum terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Menurut UU No 11 Tahun 2012 (Studi Kasus di Cabang Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan di Sibuhuan)
Teks penuh
Dokumen terkait
Penulisan ini bertujuan 1) Untuk mengetahui penerapan asas peradilan cepat di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, dan 2) untuk mengetahui kendala-kendala terhadap penerapan
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menghadirkan konsep diversi dan restorative justice yang bertujuan memberikan perlindungan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Kesimpulan dalam penelitian tesis ini, 1.Aturan hukum tentang hubungan koordinasi antara sub sistem peradilan pidana dalam penerapan diversi, menurut ketentuan Pasal 7 UU
Dalam UU SPPA diversi dimaksudkan untuk menghindari efek negatif dari pemeriksaan konvensional peradilan pidana terhadap anak yang dilakukan oleh aparat penegak
Mengenai tindak pidana ringan, dalam Pasal 205 ayat (1) KUHAP, dikatakan bahwa yang diperiksa menurut acara pemeriksaan tindak pidana ringan ialah perkara yang diancam
Proses diversi dalam perkara anak sebagai pelaku tindak pidana pencabulan harus dilaksanakan di Setiap Peradilan Negeri dan penerapan diversi dilakukan sesuai pengaturan
Proses diversi dalam perkara anak sebagai pelaku tindak pidana pencabulan harus dilaksanakan di Setiap Peradilan Negeri dan penerapan diversi dilakukan sesuai pengaturan