• Tidak ada hasil yang ditemukan

KORUPSI DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KORUPSI DI INDONESIA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

“KORUPSI DI INDONESIA”

OLEH:

NAMA

: GERRY HERMAWAN

JURUSAN : D3-TI

NIM

: 11.01.2819

NAMA DOSEN : Irton, SE.,M.Si

(2)

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada:

1. Tuhan Yang Maha Kasih yang telah menolong dan memberikan kekuatan serta tuntunan dalam mengerjakan tugas ini sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas dengan baik.

2. Orang tua yang telah memberikan semangat dan dukungan dan doa, sehingga dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.

3. Semua sahabat dan teman yang telah memberikan semangat untuk terus maju pantang menyerah.

4. Bapak dosen yang telah membimbing dan memberikan materi serta pengarahan sehingga saya bisa menyelessaikan tugas ini.

(3)

BAB I PENDAHULUAN I. I. Latar Belakang

Di Indonesia, korupsi bukanlah suatu hal yang tidak lazim di bicarakan, bahkan sudah dijadikan bahan-bahan topic berita, tema, bahkan anak-anak kecilpun sering menyebutkan kata “Korupsi” walaupun sebenarnya mereka tidak tahu menahu apa arti dari kata korupsi tersebut.

Korupsi, mengacu dalam istilah suatu kegiatan yang menguntungkan untuk dirinya sendiri dan merugikan orang lain, itu merupakan seklumit pernyataan sederhana tentang kata korupsi tersebut, namun dalam arti sebenarnya korupsi sudah tidak bisa dijabarkan seperti pernyataan tadi namun sudah ada contoh dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari di dalam diri masyarakat Indonesia, khususnya para pejabat atau petinggi negara yang umumnya sekarang membangga-banggakan dirinya sebagai pejabat, petinggi bahkan menganggap dirinya sebagai the leader tanpa melihat bahwa dirinya hanyalah seorang yang

(4)

I. II. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas , penulis mencoba merumuskan masalah yang terjadi sebagai berikut :

1. Apakah bangsa Indonesia sudah terbebas dari korupsi ?

2. Bangaimana cara yang baik untuk mengatasi mafia korupsi negara kita ?

Pendekatan Historis

Sebenarnya di Indonesia sudah mengalami massa-massa krisis sejak zaman dulu bahkan sebelum zaman era Sukarno-Hatta. Krisis di Indonesia sudah ada sejak zaman orang-orang Eropa sering berkunjung ke Indonesia dan mengambil rempah-rempah seperti Portugis, Spanyol. Krisis tersebut seperti pengambilan wilayah, membeli rempah-rempah dengan murah, dan menjajah rakyat dengan memperkerjakan rakyat pribumi dengan upah yang sangat tidak manusiawi. Namun krisis tersebut adalah krisis perebutan hak dan milik antara Indonesia dengan Penjajah, namun untuk sekarang Indonesia dalam krisis negara yang korupsi para pejabatnya namun tidak hanya pejabat saja, rakyatnya pun juga ikut korupsi. Krisis korupsi sudah muncul sejak kepemimpinan Presiden Soeharto, yang mana sistem yang Otoriter yang semua wewenang hanya Presiden saja yang boleh memutuskan sedangkan rakyat hanya boleh diam tanpa tau transparasi dari kepemimpinannya.

Mungkin sejak mengetahui adanya korupsi yang dilakukan oleh Soeharto, maka para pejabat sekarang menirunya, bahkan sangat merajalela, berkembang bagaikan jamur, tanpa malu, tanpa tau siapa dirinya sebenarnya, tanpa merasa

(5)

dosa untuk melakukan itu. Bahkan badan yang dibentuk untuk mengawasi korupsi pun bisa terkena masalah korupsi. Tidak adanya transparasi untuk rakyat mengetahui apa yang dilakukan para pejabat yang nyeleweng yang korupsi akan

mengakibatkan rakyat tidak akan mempercayai semua petinggi negara dan dapat mengakibatkan banyaknya kasus-kasus antara rakyat yang melakukan tindakan kriminal, anarki hanya untuk ingin didengarkan aspirasi tentang kasus-kasus korupsi di Indonesia khususnya.

(6)

BAB II PEMBAHASAN II.I. Korupsi

Seperti yang telah di tulis diatas, bahwa korupsi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dimana kegiatan tersebut dapat menguntungkan dirinya sendiri dan dapat merugikan orang lain.

Korupsi adalah suatu tindakan yang rendah, terkutuk dan keji, kenapa? Ya karena korupsi lah satu-satunya yang paling membuat semua orang menderita hanya demi kesenangan pribadi, bukan hanya itu saja, korupsi telah menghambat segala perkembangan di suatu bangsa atau negara khususnya Indonesia ini, korupsi sudah menjadi king of topic karena saking banyaknya para pejabat-pejabat dan

petinggi negara yang melakukan tindakan rendah tersebut dengan seenaknya saja tanpa takut akan hukuman karena baginya asal ada uang maka semua “lancar, selesai, nyantai..” padahal uang untuk menebus kerugian negara pun menggunakan uang negara, sudah korupsi, korupsi lagi dan parahnya lagi hakim atau badan pengadilan juga tidak mau kalah untuk menunjukkan bahwa dirinya juga bisa korupsi, sebagai contoh hakim yang di beri uang tutup mulut senilai ratusan dolar bahkan sampai jutaan hanya agar si pelaku korupsi tidak dapat dihukum berat bahkan kalau bisa terbebas dari jerat hukum yang semestinya si koruptor tadi sudah ada di belakang jeruji tanpa ada fasilitas yang memadai layaknya pelaku pembunuhan, ya karena korupsi memang lebih kejam dari pembunuh, karena membunuh moral, membunuh akal, membunuh semua rakyat

(7)

terutama rakyat yang harusnya adalah haknnya tidak dapat merasakan karena haknya dirampas oleh si koruptor tersebut.

Korupsi di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh pejabat, petinggi negara, namun rakyat pun bisa melakukan korupsi walaupun tidak separah seperti pejabat-pejabat negara, seperti seorang guru yang tidak masuk kerja untuk mengajar hanya karena acara yang tidak penting itupun juga disebut dengan korupsi karena ketidakhadiran seorang guru yang harusnya mengajar murid-muridnya agar menjadi pandai akan cukup mengganggu masa depan generasi muda, walaupun banyak dijumpai sekarang bahwa murid lebih suka guru tidak datang dan akhirnya pulang daripada datang dan isinya membosankan.

II.II. Akibat Korupsi Dalam Masyarakat Indonesia

Semakin banyaknya krisis korupsi di Indonesia ini akan mengakibatkan semakin terpuruknya kemajuan bangsa ini, mengapa? karena merajalelanya korupsi di kalangan pejabat dan petinggi negara dapat mengakibatkan sistem pembangunan negara, kemajuan kehidupan rakyat, kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia menjadi sirna. Salah satu contoh dari tanda-tanda munculnya krisis adalah ketika Pemilu Indonesia tahun 2009, yaitu saat banyaknya rakyat yang GOLPUT atau golongan putih atau tidak akan memilih pemimpin yang mencalonkan diri. Golput itu sendiri dikarenakan ketidakpuasan rakyat terhadap kepemimpinan pemimpin, khususnya dalam pemberantasan korupsi yang semakin membudi daya di bangsa ini.

(8)

Ketidak kepercayaan rakyat terhadap pemimpin-pemimpin yang lama akan berdampak pada calon pemimpin baru, walaupun sudah banyaknya kalangan golput, namun tetap saja jalannya pemilu tetap berjalan lancar dengan adanya dukungan-dukungan dari rakyat masih peduli dengan nasib bangsa dengan berpartisipasi untuk memilih pemimpin, walaupun seorang artis terkenal, saudara sendiri ataupun keluarga tetap saja dipilih tanpa tau apakah calon tersebut benar-benar mengetahui tentang ilmu negara.

Dari inilah, dampak-dampak buruk dari korupsi semakin terlihat, yaitu banyaknya para mahasiswa dan masyarakat berdemo, berunjuk rasa, konvoi untuk menunjukkan kekesalan dan ketidakpuasan dengan kinerja badan hukum dan presiden untuk memberantas korupsi. Banyaknya penyelewengan sumpah yang mana harusnya digunakan untuk meyakinkan tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan negara bahkan rakyat sudah tidak dijadikan pedoman lagi. Masyarakat yang harusnya ikut andil dalam penyelenggaraan negara tidak dapat ikut dikarenakan oknum-oknum yang menghalangi transparasi kasus tersebut.

Korupsi menghambat bahkan mematikan kesejahreraan rakyat, membunuh moral, dan menghambat kemajuan pembangunan bangsa. Dalam hal mematikan kesejahteraan rakyat, korupsi yang dilakukan oleh pejabat yang merugikan negara bertriliun rupiah yang harusnya uang tersebut untuk segala kebutuhan rakyat digunakan untuk kesenangan pribadi, karena itu rakyat tidak dapat merasakan hak yang semestinya ia rasakan dan mengakibatkan kemiskinan yang tidak pernah habis-habisnya di Indonesia ini, kebodohan karena subsidi pendidikan juga

(9)

dimakan oleh koruptor-koruptor yang mengakibatkan kemajuan pendidikan memprihatinkan, banyaknya anak-anak jalanan, gelandangan, dan pengangguran.

Dalam hal membunuh moral, korupsi sangatlah hal yang paling bertanggung jawab dalam hal ini, karena semakin banyaknya korupsi, maka moral masyarakat Indonesia makin bobrok dan makin terpuruk, bagaimana tidak, karena jika ingin tidak adanya krisis negara karena korupsi yang pertama di telaah adalah moral, karena dari moral lah masyarakat Indonesia dapat dinilai baik buruknya. Moral seseorang yang baik tidak akan melakukan korupsi walaupun sebutuh-butuhnya dia, dia tidak akan melakukan hal keji atau korupsi tersebut karena ia menyadari bahwa dia hanyalah pembawa amanah rakyat, dan dia adalah pelayan rakyat bukan petinggi rakyat, dan dia menyadari dampaknya kepada rakyat apabila ia melakukan korupsi tersebut, oleh karena itu apabila korupsi sudah terjadi, maka hancurlah moral bangsa yang telah dibangun sejak lama yang selama ini dipandang sebagai negara yang berPancasila tapi hanya karena sebuah uang, hanya untuk kesenangan pribadi dapat tergoda. Moral korupsi tersebut dapat menular ke semua orang dengan kenyataan banyaknya krisis Indonesia karena korupsi dari sang koruptor, tidak hanya pejabat saja, tapi juga bisa para abdi masyarakat.

Dalam hal menghambat kemajuan pembangunan bangsa, salah satu contohnya adalah pendidikan, fasilitas umum, dan hak-hak rakyat dalam hukum Indonesia.

Karena korupsi yang digunakan untuk kesenangan pribadi, yang mana uang yang seharusnya digunakan untuk pembangunan sekolah, beasiswa

(10)

pendidikan, buku, dan biaya pendidikan maka semua terhambat dan mengakibatkan banyaknya anak jalanan, gelandangan, anak-anak tidak mampu yang tidak dapat sekolah, pembangunan sekolah yang harusnya selalu di jadikan prioritas malah membuat sekolah semakin tidak layak untuk dipakai, beasiswa bagi yang tidak mampu tidak dapat dirasakan oleh anak yang tidak mampu, dan buku yang semestinya untuk menambah ilmu sesuai dengan kurikulum tidak akan bisa dirasakan oleh rakyat khususnya rakyat tidak mampu dan karen hal ini mengakibatkan kebodohan padahal mereka adalah generasi penerus yang akan menjadi pemimpin negara masa depan.

II. III. Penyelesaian Krisis Korupsi di Indonesia

Krisis Indonesia dalam korupsi ini sangat memprihatinkan, karena bagaimanapun juga belum ada badan hukum ataupun hukum yang dapat mengatur ini semua. Setiap akan ada issue pembentukan hukum untuk para koruptor entah kenapa issue tersebut seakan-akan hilang tanpa tahu dimana namun meninggalkan rasa kecurigaan rakyat apakah para koruptor telah membungkam para badan-badan penegak hukum? Ataukah memang hanya sekedar issue atau kabar burung saja yang tidak penting? Apakah koruptor takut dengan berita tentang hukum yang dibentuk untuk koruptor?. Seperti halnya pada issue pembentukan “hukum mati” untuk para koruptor, setidaknya itulah wacana yang belum lama ini terdengar , namun kemudian hilang seolah-olah ada yang menelan. Padahal apabila itu memang dibentuk, alangkah moral bangsa ini dapat diperbaiki, karena itu pertanda bahwa tidak ada ketakutan dengan para lembaga yang akan menuntut

(11)

atau bahkan ancaman yang akan menghampirinya. Demi hak rakyat, demi negara kenapa sulitnya membentuk hukum sepantas-pantasnya untuk koruptor, apakah hanya cukup hukuman akhirat dari Tuhan? Itu tidak akan membuat takut, tidak akan membuat jera, dan tidak akan ada kata berhenti untuk korupsi, korupsi dan korupsi.

Dengan pembentukan hukum atau Undang-Undang tentang tindak korupsi, maka mungkin bisa meminimaliskan kasus krisis korupsi di Indonesia, namun perlu diingat bahwa dalam pembentukan hukum dan Undang-Undang ini rakyat haruslah tahu agar tidak adanya penyelewengan dalam pembentukannya, rakyat harus tahu dan transparan tanpa ada yang disembunyikan karena semua dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Jikalau dalam pembentukan hukum dan Undang-Undang tentang korupsi ini rakyat tidak tahu menahu, maka akan mengakibatkan banyaknya kesalah pahaman antara rakyat, dan itu pula memicu aksi-aksi demonstrasi hingga berbuat anarkis.

Dalam pembentukan hukum dan Undang-Undang ini haruslah bersifat tegas, tanpa pandang bulu atau pilih kasih dan harus benar-benar memberikan efek jera kepada sang pelaku koruptor tersebut, karena apabila tidak, maka bagi koruptor tersebut tidak akan berlaku, tidak akan takut karena baginya hanya gertakan saja, dan yang penting jika ada uang maka selesai perkara. Tidak boleh ada istilah “Korupsi dalam Korupsi” yaitu sudah melakukan korupsi dan menebus kerugiannya dengan uang negara atau uang rakyat pula, hanya sebagai contoh.

Jikalau hukum atau Undang-Undang yang dibentuk adalah “hukum mati” bagi koruptor, maka mungkin koruptor lihai atau bagi calon koruptor takut akan

(12)

melakukan ini, asal hukum dan Undang-Undang ini benar-benar diterapkan, namun tidak hanya diterapkan saja untuk koruptor tapi juga badan pengawas dan penyidik korupsi Indonesia haruslah tetap di kenakan, tidak adil apabila koruptor dipenjara, namun badan pengawas dan penyidiknya melakukan korupsi juga agar tidak ada lagi tikus-tikus rakyat.

Sebelum pembentukan hukum, maka lihat dulu moral, apakah sudah baik? buruk? atau bahkan tidak karuan dan bobrok?. Semua berawal dari moral masing-masing pribadi manusia, jika moral baik maka semua baik, jika sejak awal moral tidak baik, plin-plan dan tidak yakin maka ujung-ujungnya hanya keburukan. Perbaikan moral untuk rakyat Indonesia memang sangatlah sulit, karena setiap moral manusia berbeda-beda, dan apabila Indonesia ingin membentuk moral yang seragam maka hanya akan ada perbedaan persepsi, perbedaan pandangan bahkan dapat mengakibatkan kesenjangan antara pandangan rakyat bawah dan elit.

Untuk membicarakan moral, maka sudah ada dasarnya yaitu Pancasila, karena dari 5 sila dasar Pancasila mencerminkan moral rakyat Indonesia yang berKetuhanan, berKemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan berKeadilan. Lima sila dasar tersebut adalah cermin dari pribadi rakyat Indonesia yang memiliki aneka budaya, etnis, suku, agama, dan lain-lain. Apabila memang berdasar dengan ke lima dasar Pancasila tersebut maka semua akan menjadi mudah tanpa akan adanya kesenjangan social dalam masyarakat dan juga apabila moral tersebut di dasari dengan Pancasila maka dia tidak akan melakukan sesuatu yang berlawanan dengan nilai-nilai Pancasila tersebut.

(13)

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN III. I. KESIMPULAN

Korupsi semakin merajalela dikarenakan tidak adanya ketegasan hukum yang berlaku untuk koruptor dan tidak adanya moral Pancasila yang terbentuk dalam pribadi masing-masing

Pemberantasan korupsi di Indonesia yang tidak kunjung selesai akan mengakibatkan tumbukan krisis korupsi di Indonesia, karena korupsi apabila tidak di selesaikan sampai akarnya maka hanya akan menjadi beban bagi generasi penerus selanjutnya.

III. II. SARAN

Pembaca agar lebih kritis terhadap sistem hukum dan pemerintahan Indonesia dalam pemberantasan korupsi agar semua dapat berpartisipasi dalam pemberantasan korupsi tidak hanya pejabat dan pembuat Undang-Undang saja.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Referensi : UNI SOSIAL DEMOKRAT, www.unisosdem.org , "Exemplars" untuk Menumbangkan Korupsi Oleh: Limas Sutanto, sumber Kompas, 14 November 2003

Referensi

Dokumen terkait

1) Pengukuran dan penelitian hanya dilakukan pada mesin Mori Seiki NH4000 DCG di PT Pudak Scientific. 2) Model yang akan digunakan perbaikan menggunakan metode

Dalam upaya membentuk identitas pada sebuah kawasan, dapat dilakukan dengan pendekatan terhadap elemen-elemen fisik kota, karena melalui elemen fisik inilah sebuah

Pemegang Izin/Hak Pengelolaan memiliki rencana penebangan pada areal tebangan yang disahkan oleh pejabat yang

Penggunaan Model Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa dalam Pembelajaran IPS.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Pada tahun 2012 ketika Sail Morotai berlangsung, anggota kelompok dalam hal ini Muhlis Aramin, Ishak Talib, Abdul Hair Sarambae, Abdul Haris Ismail, Ishak Kotu,

[r]

Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua bagian yaitu: bagian pertama berhubungan dengan mutu pelayanan dari program PROLANIS berdasarkan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun Averrhoa bilimbi , biji Annona squamosa , dan bunga Tithonia diversifolia terhadap mortalitas dan