BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang 1.1.Latar belakang
Perkembangan ilmu penegtahuan yang miim dikarenakan rendahnya minat baca Perkembangan ilmu penegtahuan yang miim dikarenakan rendahnya minat baca masyarakat pada saat ini.mengktitik buku salah satu cara yang dilakukan untuk menaikan masyarakat pada saat ini.mengktitik buku salah satu cara yang dilakukan untuk menaikan ketertarikan minat baca sekarang terhadap suatu pokok bahasan.Mengkritik buku ini adalah ketertarikan minat baca sekarang terhadap suatu pokok bahasan.Mengkritik buku ini adalah suatu tulisan atau ulasana mengenai sebuah hasil karya atau buku,baik berpa buku fiksi suatu tulisan atau ulasana mengenai sebuah hasil karya atau buku,baik berpa buku fiksi ataupun buku non fiksi,jiga daapt diartikan sebagai karya ilmiah yang melukiskan ataupun buku non fiksi,jiga daapt diartikan sebagai karya ilmiah yang melukiskan pemahaman terhadap isi sebuah buku.
pemahaman terhadap isi sebuah buku.
Mengkritik buku dilakukan bukan untuk menjatuhkan atau menaikan nilai suatu buku Mengkritik buku dilakukan bukan untuk menjatuhkan atau menaikan nilai suatu buku melainkan untuk menjelaskan apa perbedaanya suatu buku yaitu kelebihan dana kekuranagn melainkan untuk menjelaskan apa perbedaanya suatu buku yaitu kelebihan dana kekuranagn yang akan menjadi bahan pertimbanagan atau ulasan tentang seuah buku keada pembaca yang akan menjadi bahan pertimbanagan atau ulasan tentang seuah buku keada pembaca perihal
perihal buku-buku baru buku-buku baru .Dan .Dan ulasan ulasan klebihan klebihan maupun kekurangan maupun kekurangan buku tersebut buku tersebut ,yang lebih,yang lebih jelasnya d
jelasnya dalam mengkritik alam mengkritik buku,kita dapat buku,kita dapat menguraikan isi menguraikan isi pokok pemikiran pokok pemikiran pengarang daripengarang dari buku yang bersangkutan dan diikuti pendapat terhada isi buku. Uraian isi buku memuat ruang buku yang bersangkutan dan diikuti pendapat terhada isi buku. Uraian isi buku memuat ruang lingkup permasalahan yan dibahas pengarang.caara pengarangmenjelasakan dan lingkup permasalahan yan dibahas pengarang.caara pengarangmenjelasakan dan menyelesaikan permasalahan konsep dan teori yang dikembangkan,serta kesimpulan “dengan menyelesaikan permasalahan konsep dan teori yang dikembangkan,serta kesimpulan “dengan demikian laporan buku atau resensi sangatbermanfaat untuk mengetahui isi buku selain itu demikian laporan buku atau resensi sangatbermanfaat untuk mengetahui isi buku selain itu akan tahu mengenai kekurangan dan kelebihan buku yang telah
akan tahu mengenai kekurangan dan kelebihan buku yang telah dibaca.dibaca.
1.2.Tujuan 1.2.Tujuan
Kritik buku ini dibuat salah satu refrensi ilmu yag bermanfaat untuk menambah wawasan Kritik buku ini dibuat salah satu refrensi ilmu yag bermanfaat untuk menambah wawasan oenulis maupun pembaca dalam mengetahui kekurangan dan kelebihan suatu buku,menjadi oenulis maupun pembaca dalam mengetahui kekurangan dan kelebihan suatu buku,menjadi bahan
bahan pertimbanag,dan pertimbanag,dan juga juga menyelesaikan menyelesaikan salah salah satu satu tugas tugas kelompok kelompok bangunan bangunan air air dandan irigasi pada jurusan teknik bangunan.
irigasi pada jurusan teknik bangunan.
1.3.Manfaat 1.3.Manfaat
1.
1. Membantu para pembaca mengetahi gamabran dan penilaian gambaran sebuah bukuMembantu para pembaca mengetahi gamabran dan penilaian gambaran sebuah buku atau hasil karya lainya secara ringkas.
atau hasil karya lainya secara ringkas. 2.
2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang di critik serta Mengetahui latarMengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang di critik serta Mengetahui latar belakang dan alasan uku tersebut diterbitkan
belakang dan alasan uku tersebut diterbitkan 3.
3. Menguji kualitas buku dengan membandingkan terhadap karya dari penulis yangMenguji kualitas buku dengan membandingkan terhadap karya dari penulis yang sama atau penulis lainnya, Memberikan masuskan kepada penulis buku berupa kritik sama atau penulis lainnya, Memberikan masuskan kepada penulis buku berupa kritik dan saharan terhadap cara penulisan ,isi ,dan subtansi buku.
BAB II BAB II IDENTITAS BUKU IDENTITAS BUKU BUKU UTAMA BUKU UTAMA 1.
1. Judul Judul : : perencanaan perencanaan pengajaranpengajaran 2.
2. Edisi Edisi : : ---- ----3.
3. Pengarang/editor Pengarang/editor : : Dr.Ir.Rumila Dr.Ir.Rumila Harahap Harahap dan dan Suharaini,ST, Suharaini,ST, MTMT 4.
4. Penerbit Penerbit : : --- ---5.
5. Kota Kota terrbit terrbit : : medanmedan 6.
6. Tahun Tahun terbit terbit : : pebuari pebuari 20182018 7.
---BUKU PEMBANDING
1. Judul : Hidrologi Teknik
2. Edisi : kedua
3. Pengarang/editor : C.D. Soemarto, B.I.E DIPL.H/Ir.Purnom Wahyu indarto
4. Penerbit : Erlangga
5. Kota terrbit : solo 6. Tahun terbit : ---7. ISBN : ---BAB III RINGKASAN BUKU BAB I 1.1.Uraian materi.
Berdasarkan keputusan mengenai sejarah kehidupan masyarakat dapat ketahui bahwa hubungan antara manusia dengan suber daya air sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu.
Kerajaan-kerajaan besar yang sempat mencapai kejayaannya,baik dinegara kita maupun debelahan dunia lainnya,muncul dan berkembang dari embah dan tepi sungai (kerajaan majapahit, sriwijaya, mesir, mesopotania D.L.L.)
Hal yang menyebabkan eratnya hubungan manusia dengan suber daya air antara lain.: a. Kebutuhan manusia akan kebutuhan nabati.
Manusia juga membutuhkan asupan nabati, jenis makanan ini didapat oleh manusia dari usaha dengan mengelola tanah dengan tumbuhan penghasil makanan.tanaman tersebut membutuhkan panganan khususnya, terutama dalam pengaturan akan kebutuhan airnya,manusia kemudian membuat saluran yang berfungsi sebagai prasarana pengambil, pengatur dan pembagi air sungai untuk membasahi lahan tanamannya.
b. Kebutuhan manusia akan kemamanan dan kenyamanan hidupnya:
Sungai adalah mitra yang baik bagi kehidupan manusiam, namun dalam keadaan saat-saaat tertentu sungaipun adalah musuh.manusia yang akan merusak kenyamanan dan keamanan
hidupnya.jadi manusia kemudian berfikir dan berupaya untuk sebanyak-banyaknya memanfaatkan sifat dan erilaku sungai yang menguntungkan dan memperkecil atau menghilangkan sifat yang merugikan kehidupannya.Misalanya bendungan-bendungan pusat listrik tenaga air ataupun membuat bangunan yang diharapkan akan dapat melindungi manusia terhadap bencana yang ditimbulkan oleh perilaku sungai misalanya : krib,tanggul,penahan leereng,beronjong dan fasilitas lainya.
Pengertian irigasi yaituh usaha menyeddiakan dan pengaturaan air untuk menunjang pertanian yang sejenisnya meliputi irigasi permukaan,irigasi raya,irigasi air dibawah tanah,
irigasi pompa, dan irigasi tambak.irigasi dimaksudkan untuk mendukung produktifitas usaha tani guna meningkatkan produktifitas dalam rangka ketahanan pangan nasional.
Adapun fungsi irigasi secara umun antara lain: 1. Memasok kebutuhan air tanaman
2. Mengurangi kerusakan akibat frost 3. Menurunkan suhu tanah
4. Melunakana lapisan keras pada saat pengolahan tanah
Irigasi berarti mengalirkan air sevcara buatan dari sumber air yang tersedia kepada sebidang lahan untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
1.1.1. Beberapa pengertian:
Daerah pengaliran , adalah daerah pada pengaliran sungai(DPS),dimana terjadi
peristiwa-peristiwa alam dan perubahan hidro-klimatologi akan mempengaruhi kondisi pengaliran pada sungai.
Daerah irigasi, adalah kesatuan wilayah atau daerah yag mendapat air dari satu
jaringan irigasi.
Daerah potensial,daerah yang mempunyai kemungkinan baik untuk
dikembangkan.
Daerah fungsional,adalah bagian daerah potensial yang telah memiliki
jaringan irigasi yang telah dikembangkan .
Jaringan irigasi, untuk pengaturan jaringan irigasi mulai dari penyediaan
,pengambilan, pemabagian ,pembariaan dan penggunaan
Petak irigasi, lahan yang memperoleh pembarian air.
Penyediaan irigasi, penentuan banyak air yang dapat dipergunakan untuk
Pembagian air irigasi, dilaksanakan oleh pihak yang berwenang dalam
ekspoitasi pada jaringan irigasi.
Pemberian air irigasi Penggunaan air irigasi
Pengairan addalah pengguna air pada tanaman utuk keperluaan penyediaan air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.
Tujuan pengairan adalah:
1. Membasahi tanaman 2. Menyuburkan tanah 3. Meninggikan tanah 4. Mengatur suhu tanah 5. Membersikan tanah 6. Menambah air tanah 7. Perikanan.
1.1.2. Sedangkan tujuan lain dari pengaliran adalah:
1. Memenuhi kebutuhan industri, misalnya: pabrik semen dan pabrik kertas 2. Memenuhi kebutuhan air minum
3. Perikanan darat
4. Memenuhi kebutuhan listrik..
Macam-macam suber pengaliran.
1. Mata air 2. Air sungai 3. Peresapan 4. Penyiraman
Macam-macam bangunan pelengkap
1. Bangunan penyadap .
Jaringan irigasi teknik memerlukan penyadap dimana pada bangunan penyadap dilengkapi dengan bangunan penyadap dilengkapi dengan bangunan bergerak atau rumah pompa.
2. Bangunan pembawa terdiri dari saluran-saluran a. Saluran primer
c. Saluran tersier d. Saluran kuarter 3. Bangunan pembagi
Bak-bak pembagi yang dilengkapi dengan pintu pengaturan air dan debit air biasanya terdapat pada cabang saluran sekunder dan tersier
4. Bangunan pembawa
Merupakan saluran drainase yang berfungsi untuk membuang air yang berlebih pada peak sawah.biasanya memakai sytem pembuangan pembukaan.
Selain itu juga bangunan-bangunan lain yang dibutuhkan antara l ain;
1. Bangunan pemecah energi 2. Bangunan silang
3. Bangunan pengaman
1.1.3. Kebutuhan air daalam pengairan diperoleh: a. Iklim
b. Stuktur tanah c. Tujuan pengairan
d. Cara-cara pengolahan tanah e. Faktor besar petak
f. Jenis tanah g. Pengaturan air
Dengan demikian daerah dapat berkembang lebih cepat disamping tu areal persawahan tambah luas dalam hal ini pembebanan petak kebutuhan juga dipenuhi oleh saaluran sekunder dan saluran dibatasi salurana drainase untuk daerah yang tidak ditanami padi maka pada musim hujan tanah ini tidak perlu memerlukan pangairan,sehingga bila suatu petak pada daerah yang tidak terluap dari daerah yang tidak membutukan air dengan demikian luas daerah akan semakin luas..
Contoh aliran teknis. 1. Petak tersier utuh 2. Petak tersier terbagi
3. Kebutuhan dasar dipakai sebagai eksperimen ditegal ,cara pembeliannya dengan cara galia atau rotasi perhitungan.
Misalnya dalam pengerjaan sawah tidak terjasi keserataan ,keuntungan adalah kebutuhan air ,majka banguna pembagi mejadi kecil.dengan demikian aliran air menjadi kecil sehingga akan terjadi reduksidaari kebutuhan
Aliaran teknis
Aliran diatur untuk menyesuaikan debit air yang tersedia dan diusahakan agar timbul faktor reduksi sebesar-besarnya dan masih dapat mencapai reduksi sebesar-besarnya.
Syarat-syarat petak.:
1. Letak petak tersier antara kurang lebih 80-150 HA
2. Luas petak diusahakan mempunyai luas yang sama tetapi petak harus mempunyai batas yang sesuai kebutuhan pada tiap-tipa petak
a. Batas alami = bukit,sungai lembah DLL b. Batas buatan = jalan raya rel kerta api DLL
3. Dalam tiap bidang salah satu petak harus dapat menggunakan air yang baik,baguanan pembagi ditempatkan pada suatu yang paling tinggi agar bisa mengaliri air.
4. Tanah dalam stu petak tersier harus dapat dimiliki oleh suatu desa yang paling anyak 3 desa.
Macam- macam saluran 1. Saluran pembagi
Saluran pembagi sedapat mungkin sebagai saluran punggung, sehingga demikan kita dapat membagi air pada kedua belas sisi.misalanya dalam silang denan jalan raya.dengan jalan kereta api maupun yang lain sedapat mungkin bangunanya sedikit saja karena saluran primer merupakan salauran trance oleh karena itu banyak mengalami silangan-silangan kareana jugaa mengikuti garis kontur.
2. Saluran pembuang
Untuk tata saluran pembuang merupakan saluran tarnce atau saluran lembah tidak perlu sejajar kontur miring gaya relatif kira-kira 1 : 50.
Momen klantur.
Adalah tiap-tiap saluran harus diberi nama sedemikian rupa sehingga daro kumpulan huruf dan angka dimana dari keterangan ini dapat diketahui letaknya dimana sehingga jika ada saluran yang rusak hanya dapat dengan menyebut nama saja dapat diketahui dimana rusaknya
BAB II JARINGAN IRIGASI
A. PETAK IKHTISAR
Petak ikhtisar adalah cara penggambaran berbagai macam bagian dari suatu jaringan irigasi yang saling berhubungan. Petak ikhtisar tersebut dapat dilihat pada petak tata letak.
Petak ikhtisar irigasi tersebut memperlihatkan:
Bangunan – bangunan utama Jaringan dan trase saluran irigasi
Jaringan dan trase dan saluran pembuang Petak – petak primer, skunder, dan tersier Lokasi bangunan
Batas-batas daerah irigasi Jaringan dan trase jalan
Daerah – daerah daerah yang tidak diairi (misal desa – desa)
Daerah – daerah yang tidak dapat diairi (tanah jelek, terlalu tinggi dsb
Petak ikhtisar umum dibuat berdasarkan peta topografi yang dilengkapi dengan garis – garis kontur dengan skala 1:25.000. petak ikhtisar detail yang biasa disebut peta petak, dipakai untuk perencanaan dibuat dengan skala 1:5000, dan untuk petak tersier 1: 5000, atau 1 : 2000.
1. Petak Tersier
Perencanaan dasar yang berkenaan dengan unit tanah adalah petak tersier. Petak ini menerima air irigasi yang di alirkan dan di ukur pada bangunan sadap (off take) tersier yang menjadi tanggung jawab Dinas Perairan. Bangunan sadap tersier mengalirkan airnya kesaluran tersier. Faktor penting lainnya adalah jumlah petani dalam satu petak, jenis tanaman dan topografi. Di daerah – didaerah yang ditanami padi luas petak tersier idealnya maksimum 50 ha, tapi dalam keadaan tertentu dapat ditolelir sampai 75 ha,disesuaikan dengan kondisi tofografi dan kemudahan eksploitasi dengan tujuan agar pelaksanaan operasi dan pemeliharaan lebih mudah. Petak tersier harus mempunyai batas – batas yang jelas seperti misalnya parit, jalan, batas desa dan batas perubahan bentu medan (terrain fault). Petak tersier di bagi menjadi petak – petak kuarter, masing – masing seluas kurang lebih 8 – 15 ha.
2. Petak Sekunder
Petak sekunder terdiri beberapa petak tersier yang kesemuanya dilayani oleh satu saluran sekunder. Biasanya petak sekunder menerima air dari banguan bagi yang terletak disaluran primer atau sekunder. Batas – batas petak sekunder pada umumnya berupa tanda
– tanda topografi yang jelas, seperti misalnya saluran pembuang. Luas petak sekunder biasa berbeda – beda, tergantung pada situasi daerah. Saluran sekunder sering terletak di punggung medan mengairi kedua sisi saluan hingga saluran pembuang yang
membatasinya. 3. Pertak Primer
Petak perimer terdiri beberapa petak sekunder , yang mengambil air langsung dari saluran primer. Petak primer dilayani oleh satu saluran yang mengambil airnya langsung dari sum,biasnya sungai. Proyek- proyek irigasi tertentu mempunyai dua saluran primer , ini menghasilkan dua petak primer.
B. BANGUNAN
1. Bangunan Utama
Bangunan utama adalah sebagai kompleks bangunan yang direncanakan disepanjang sungai atau aliran air untuk membelokkan air ke dalam jaringan saluran agar dapat di pakai untuk keperluan irigasi. Bangunan utama bisa mengurangi kandungan sedimen yang berlebihan, serta mengukur banyaknya air yang masuk. Bangunan utama terdiri dari bendung dengan peredam energi, satu atau dua pengambilan utama pintu bilas kolam olak dan kantong lumpur, tanggul banjir pekerjaan sungai dan bangunan – bangunan pelengkap.Berikut ini akan dijelaskan beberapa kategori.
a. Bendung, Bendung Gerak
Bendung (weir) atau bendung gerak dipakai untuk meninggikan muka air disungai sampai pada ketinggian yang diperlukan agar air dapat di alirkan ke saluran irigasi dan petak tersier. Ketinggian itu akan menentukan luas daerah yang diairi . bendung gerak gerak adalah bangunan yang dilengkapi dengan pintu yang dapat dibuka untuk mengalirkan air pada waktu terjadi banjir besar dan ditutup apabila aliran kecil.
b. Bendung karet
Bendung karet memiliki dua bagian pokok yaitu tubuh bendung yang terbuat dari karet dan pondasi beton yang berbentuk plat beton sebagai dudukan tebung karet serta dilengkapi satu ruang kontrol beberapa perlengkapan (mesin) untuk mengontrol mengembang dan mengempisnya tabung karet.
c. Pengambilan bebas
Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat ditepi sungai yang mengalirkan air sungaimkejaringan irigasi, tanpa mengatur tinggi muka air di sungai.
Wadung digunakan untuk menampung air irigasi pada waktu terjadi surplus air disungai agar dapat dipakai sewaktu – waktu terjadi kekurangan air.fungsi utama waduk adalah untuk mengatur aliran sungai.
e. Stasiun pompa
Irigasi dengan pompa bisa dipertimbangkan apabilapengambilan secara gravitasi ternyata tidak layak dilihat dari segi teknis maupun ekonomis.
C. JARINGAN IRIGASI
1. Jaringan Irigasi Utama
Saluran perimer membawa air dari bendung kesaluran sekunder dan kepetak – petak
tersier. Batas ujung saluran primer adalah pada bangunan bagi yang terakhir.
Saluaran sekunder membawa air dari saluran primer ke petak – petak tersier yang
dilayani oleh saluran sekunder tersebut. Batas ujung sauran ini adalah pada bangunan sadap terakhir.
Saluran pembawa membawa air irigasi dari sumber yang memberi air pada banguna
utama proyek ke jaringan irigasi primer.
Saluran muka tersier membawa air dari bangunan sadap tersier ke petak tersier yang
terletak di beberapa petak tersier lainnya. 2. Jaringan Saluran Irigasi tersier
Saluran tersier membawa air dari bangunan sadap tersier dijaringan utama kedalm
petak tersier lalu kesaluran kuarter.
Saluran kuarter membawa air dari boks bagi kuarter malalui bangunan sadap tersier
atau parit sawah ke sawah – sawah.
Perlu dilemgkapi jalan petani di tingkat jaringan tersier dan kuarter sepanjang itu
memang diperlukan oleh petani setempat dan dengan persetujuan petani setempat pula.
Pembangunan sanggar tani sebagai sarana untuk diskusi antar petani sehingga
partisipasi petani lebih meningkat, dan pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi petani setempat sertadiharapkan letaknya dapat mewakili wilayah P3A atau GP3A setempat.
D. SALURAN PEMBUANG
1. Jaringan saluran pembuang tersier
Saluaran pembuang tersier terletak diantara petak – petak tersier yang termasuk
dalam unit irigasi irigasi sekunder. 2. Jaringan saluran pembuang utama
saluran pembuang sekunder penampang air dari jaringan pembuang tersier
saluran pembuang primer mengalirkan air lebih dari saluran pembuang sekunder
keluar daerah irigasi.
E. JARINGAN IRIGASI SEMITEKNIS
Perbedaan antara jaringan irigasi sederhana dan jaringan semiteknis adalah bahwa jaringan semiteknis ini bendungnya terletak di sungailengkap dengan bangunan pengambilan dan bangunan pengukur dibagian hilirnya.mungkin juga dibangun beberapa bangunan permanen di jaringan saluran.
F. BANGUNAN PENGATUR MUKA AIR
Bangunan – banguna pengatur muka air mengatur/mengontrol muka air di jaringan irigasi utama sampai batas – batas yang diperlukan untuk dapat memberikan debit yang konstan kepada bangunan sadap tersier.bangunan pengatru mempunyai potongan pengontrol aliran yang dapat di stel atau tetap. Untuk bagian – bagian pengatur yang dapat distel di anjurkan untuk menggunakan pintu (sorong) radial atau lai nnya.
G. BANGUNAN PEMBAWA
Bangunan – bangunan pembawa membawa air dari ruas hulu ke ruas hilir saluaran.aliran yang melalui bangunan ini bisa superkritis atau subkritis.
1. Bangunan pembawa dengan aliran superkritis 2. Bangunan terjun
3. Got miring
4. Bangunan pembawa dengan aliran subkritis (banguanan silang) seperti: a. Gorong – gorong b. Talang c. Sipon d. Jembatan sipon e. Flum f. Saluran tertutup g. Terowongan
H. BANGUNAN LINDUNG
Diperlukan untuk melindungi saluran baik dari dalam maupun dariluar. 1. Bangunan pembuang silang
Gorong – gorong adalah bangunan pembuang silang yang paling umum di gunakan sebagai lindung luar,.
2. Pelimpah
Ada tiga type lindung dalam yang umum di pakai yaitu saluran pelimpah, sipon pelimpah dan pintu pelimpah otomatis.
3. Bangunan penggolontor sedimen
Untuk mengeluarkan endapan sedimen sepanjang saluran primer dan sekunder pada lokasi persilangan dengan sungai.
4. Bangunan pengurus 5. Saluran gendong
Adalah saluran drainase yang sejajar dengan saluran irigasi, berfungsi mencegah aliran permukaan dari luar areal irigasi yang masuk kedalam saluran irigasi.
6. Jalan dan jembatan
Diperlukan untuk indpeksi, eksploitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dan pembuang oleh Dinas Pengairan.
7. Bangunan pelengkap
Tangul – tanggul diperlukan untuk melindungi daerah irigasi terhadap banjir yang berasal dari sungai atau saluran pembuang yang besar.
I. STANDAR TATA NAMA
Nama – nama yang diberikan untuk saluran – saluran irigasi harus jelas dan logis. Nama yang diberikan harus pendek dan tidak ada tapsiran ganda.
1. Daerah irigasi
Daerah irigasi dapat diberi nama sesuai dengan nama daerah setempat, atau desa penting di daerah itu yang biasanya terletak dekat dengan jaringan bangunan utama atau sungai yang airnya di ambil untuk keperluan irigasi.
2. Jarngan irigasi primer
Saluran irigasi primer sebaiknya di beri nama ses uai dengan daerah irigasi yang di layani. 3. jaringan irigasi tersier
4. Jaringan pembuang
Setiap pembangunan jaringan irigasi dilengkapi dengan pembangunan jaringan drainase yang merupakan satu kesatuan dengan jaringan irigasi yang bersangkutan.
5. Tata warna peta
Biru untuk jaringan irigasi
Merah untuk sungai dan jaringan pembuang Coklat untuk jaringan jalan
Kuning untuk daerah yang tidak diairi
Hijau untuk perbatasn kabupaten, kecamatan, desa dan kampung Merah untuk tata nama bangunan
Hitam untuk jalan kereta api
Warna bayangan akan dipakai untuk batas – batas petak sekunder, batas – batas
petak tersier akan di arsir dengan warsna yang lebih muda dari warna yang sama (untuk petak sekunder).
BAB III
ANALISA HIDROLOGI
Sumber air yang digunakan umumnya ersumber dari sungai, untuk meyelsaikan persoalan irigasu sangat berhubungan dengan aspek hidrologi khusunya masalah hujan sebgai sumber air yang akan di alirkan ke sungai. Pada sistem irigasi di rencanakan saluran sebgai tempat air mnegalir ke petak sawah dan mengalirkan ke tempat pembuangan akhir. Desain hidrologi diperlukan untuk mengetahui debit pengaliran.
3.I Tujuan Umum Pembelajaran
Pada perteuan ini mahasiswa akan mempelajari tentang sistem saluran irigasi dari saluran/ badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area) secara mikro. Sistem jaingan ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran primer.
Sistem irigasi dari saluran mikro yaitu sistem saluran dan bangunan perlengkapan drainase yang menampung dan mengalirkan air dari daerah tangkapan hujan. Secara keseluruhan yang termasuk dalam sistem saluran mikro adalah daluran di sepanjang sisi jalan, saluran/ selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong dan lain sebagainnya di
mana debit air yang dapat ditampungnya tidak terlalu besar. 3.IITujuan Khusu Pembelajaran
Setelah mengikuti perkuliahan mata kuliah ini diharapkan mahasiswa memiliki kompetensi dasar berupa kemampuan :
1. Mengetahui Saluran Makro dan saluran Mikro.
2. Memahami siklus hidrologi proses sirkulasi pengolahan data hujan 3. Mengetahui Analisa Curah Hujan Renacana untuk kebutuhan irigasi
3.III URAIAN MATERI
Sisklus Hidrologi menurut Suripin (2004) adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi,
evaporasi dan transpirasi. Air di bumi mengalami suatu siklus melalui serangkaian peristiwa yang berlangsung terus- menerus, di mana kita tidak tahu kapan dan dari mana berawalnya dan kapan pula akan berakhirnya. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju, hujan gemiris atau kabut. Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontiniu dalam tiga cara yang berbeda :
Evaporasi/transpirasi : air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman,
dan sebagainya kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air ( awan) itu akan menjadi bintik – bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk
hujan, salju dan es.
Infiltrasi/ perkolasi ke dalam tanah : air bergerak ke dalam tanah melalui
celah-celah dan pori – pori tanah dan bantuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal di bawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.
Air Permukaan : air bergerak di atas permukaan tanah dekat dengan aliran
utama dan danau, makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai- sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut. Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk,rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses
perjalan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem Daerah Aliran Sungai (DAS).
Hujan merupakan komponen yang sangatpenting dalam analisis hidrologi. Pengukuran hujan dilakukan selama 24 jam baik secara manual maupun otomatis, dengan cara ini berarti hujan yang diketahui adalah hujan total yang terjadi selama satu hari. Dalam analisa yang digunakan curah hujan rencana, hujan rencana yang dimaksud adalah hujan harian maksimum yang akan digunakan untuk menghitung intensitas hujan, kemudian intensitas ini dihunakan untuk mengestimasi debit rencana. Untuk berbagai kepentingan perancangan drainase tertentu data hujan yang diperlukan tidak hanya ata hujan harian, tetapi juga distribusi jam jaman atau menitan. Hal ini akan membawa konsekuen dala pemilihan ata, dan dianjurkan untuk menggunakan data hujan hasil pengukuran dengan alat ukur otomatis. Dalam perencanaan saluran drainase periode ulang (retunt period) yang dipergunakan tergantung dari fungsi saluran serta daerah tangkapan hujan yang akan dikeringkan. Menurut pengalaman, penggunaan priode ulang untuk perencanaan :
- Saluran Kwater : priode ulang 1 tahun - Saluran tersier : periode ulang 2 tahun - Saluran sekunder : periode ulang 5 tahun - Saluran primer : priode ulang 10 tahun
1. Huan Rerata Daerah Aliran a. Cara Rata- rata Aljabar
= (
+
+
+⋯
)……….(.)
Di mana R = curah hujan daerah, n = jumlah pos pengamatan, R 1, R 2, R n = curah hujan tiap
pos pengamatan.
b. Metode Thiessen
= (
+
+
+⋯
+⋯
Dimana R= curah hujan daerah, R 1, R 2, R n= curah hujan tiap pos pengamatan, A1, A2,
An= luas daerah tiap pos pengamatan.
c. Metode Isohyet
= (
+
+ ⋯
Dimana R= curah hujan daerah, R 1, R 2, R n= curah hujan rata-rata pada area , A1, A2, An;
A1, A2, An= luas area antara garis isohyt (topografi)
Dalam hal area lokasi yang ditentukan ini tidak dipakai area DPL (diatas permukaan laut) karena berada dalam luasan daerah yang kecil yang dipakai hanya area lokas saja walaupun daerahnya lebih tinggi maka digunakan elevasi galian dan timbunan
BAB IV
DASAR-DASAR PERHITUNGAN DI SALURAN
Analisisperencanaansaluranirigasidilakukandenganmenganalisis data klimatologidan data fisiklahankemudian di bandingkandengan data teknis system salurandarilapangan (eksisting).
4.1. TUJUAN UMUM PEMBELAJARAN
PadapertemuanMahasiswaakannmengetahuiperhitungankebutuhan air irigasi ,luaspenampangsaluran, kecepatanaliran. PerhitunganEvapotranspirasidanmengalirkan air darisuatusaluran.
4.2. TUJUAN KHUSUS PEMEBELAJARAN 1. Mengetahuiperhitungansaluran
2. Mengetahuiperitunganevapotranspirasi
3. Mmengetahuiperhitungan debit air yang dibutuhkan
4. Memahamiperencanaansaluran, saluransekunderdanakhirnyamenjadisalurantersier. 4.3. URAIAN MATERI
4.3.1. DIMENSI SALURAN
Untukmengetahuimendimensisaluranterlebihdahulukitacari debit air yang dibutuhkandenganmenggunakan, Rumus
Q = A. a. C
Dimana : Q = Debitr air yang dibutuhkanpadasaluran (
/ detik )A = Luas areal yang akan di airi (Ha)
A = kebutuhan air perhektar (1.5
/det/ Ha)C = Koefisienlengkapkapasitastegaluntuktiapluas areal yang di aliri.
Setelah Q di Peroleh, makakitacari ;
KecepatanAliran (V)
Luaspenampangsaluran (A)
Sehingga di perolehharga b da h Dimana
A = Luaspenampangbasahsaluran (
)b = lebardasarsaluran (m)
h = tinggipermukaan air daridasarsaluran (m) m = cot α = x/h= x= m.h
1/m = kemiringandindingsaluran ( 1 vertical dan horizontal) BAB V
PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR
Petak tersier 135. 65 ha — 3 petak sub tersier:
A. 53. 10 ha, kebutuhan air 2.84 ltr/det/ha B. 47. 55 ha, kebutuhan air 2.95 ltr/det/ha C. 35.500 ha, kebutuhan air 3.26 ltr/det/ha
Air tidak cukup rencanakan rotasi
1. Q > 65%. Q maks, waktu pemberian air secara terus menerus
2. Q > 65%. Q maks, waktu pemberian air dilakukan secara bergilir (rotasi) Perhitugan debit rencana:
1.) Pemberian air bila Q= 100% Qmaks
Letak: A. 53.10 x 2.84=150.80 ltr/dtk B. 47.55 x 2.95= 140.27 ltr/dtk C. 35.00 x 3.26= 114.10 ltr/dtk Jumlah Q maks= 405.17 ltr/dtk Jika air yang ada > Q maks = 405.17ltr/dtk. Letak pemberian air secara terus menerus
2.) Jika Q= 65%, Qmaks= 65% x 405,17= 263.36 ltr/dtk. Pemberian air bergilir
Periode 1: A dan B diairi, C tidak
Kebutuhan tersier
A =
.
.
263.36 = 138.94 /
B = 47.55
100.65 263.36 = 124.42 /
BAB VI
PERHITUNGAN BANGUNAN BAGI
Bangunan bagi adalah suatu bangunan yang dapat membagikan air ke saluran yang lain. Bangunan bagi terdapat pada saluran yang menuju petak sawah dan terletak pada bangunan terjun.
Rumus untuk menghitung bangunan bagi untuk tiap-tiap petak sawah adal ah:
= 1,45 ..32
Dimana: Q =Debit (m3/ dtk) B = Lebar bendung (m) H = Tinggi air (m)
Untuk mnghitung bangunan bagi pada bangunan terjun digunakan rumus:
B = Q
1,7 32
E=h+ V2
2
Dimana: B = Lebar bendung (m) Q = Debit (m3/dtk)E = Tinggi garis energi dihulu (m) M = Koefisien horizontal
H = Tinggi air dihulu (m/dtk) G = Grafitasi(9,81 m/dtk2)
Untuk SS1 Q = 0,5041 m3/dtk V = 0,4508 m/dtk b = 0,748 m h = 0,748m I = 6,54 x 10-4 Untuk ST1 Q = 0,1674 m3/dtk V = 0,3058 m/dtk b = 0,5235 m h = 0,5235 m I = 4,39 x 10-4 Untuk ST2 Q = 0,1194 m3/dtk V = 0,2898 m/dtk b = 0,454 m h = 0,454 m I = 6,31 x 10-4
Dimensi pintu pembagi untuk Saluran Sekunder 1 (SS1) Q = 0,5041 m3/dtk Ambil = h’ =1,25.h =1,25 . 0,748 = 0,935 m g = 9,81 m/dtk2 z = 0,1 m µ = 0,85 (koefisien) ST1
Lebar bukaan efektif pintu air pembagi
Dimensi pintu pembagi untuk Saluran Tersier 1 (ST1) Q = 0,1674 m3/dtk Ambil = h’ =1,25.h =1,25 . 0,5335 = 0,6544 m g = 9,81 m/dtk2 z = 0,1 m µ = 0,85 (koefisien)
Lebar bukaan efektif pintu air pembagi Q = µ. b’. h’.
√ 2..
Dimensi pintu pembagi untuk Saluran Tersier 2 (ST2) Q = 0,1194 m3/dtk Ambil = h’ =1,25.h =1,25 . 0,454 = 0,5675 m g = 9,81 m/dtk2 z = 0,1 m µ = 0,85 (koefisien)
Lebar bukaan efektif pintu air pembagi Q = µ. b’. h’.
√ 2..
Diperoleh Dimensi Pintu Pembagi Untuk:
Saluran Sekunder 1 (SS1) b’=0,4528 h’=0,935 Saluran Tersier 1 (ST1) b’=0,2686 h’=0,645 Saluran Tersier 2(ST2) b’=0,2104 h’=0,568
BAB VII
Rumus : Yq = Ya – Yb X (Xb + Yb) Xa
Dimana : Yq = titik elevasi tanah asli.
Ya = evaluasi titik tinjau menuju kontur atas.
Yb = evaluasi titik tinjau menuju kontur bawah. Xa = jarak antara kontur atas menuju kekontur bawah. Xb = jarak titik tinjau (Ya) menuju kekontur bawah.
BAB VIII
PERENCANAAN BANGUNAN-BANGUNAN AIR. Bangunan terjun ada jenis yaitu :
Bangunan terjun tegak lurus ( vertical drop ) Bangunan terjun miring (incline drop)
8.1 Bangunan terjun tegak lurus ( vertical drop )
Bangunan terjun denganbidang tegak lurus sering dipakai pada saluran induk dan sekunder.
8.2 Bangunan terjun miring (incline drop)bangunan miring dipakai apabila tinggi terjun 2 > 2,00 m dan Q> 2,5 m3/ detik, biasanya dipakai tipe hanjer.
Z= (beda tinggi antara dasar saluran dihulu dengan dasar saluran dihili r) + (h1-h2). Dimana : Z = tinggi terjun
h1 = tinggi muka air dihulu (m) h2 = tinggi muka air dihilir (m)
8.3 Rumus-rumus untuk perhitungan bangunan terjun miring : H = h1 +
ℎ =
.
B =
,, . /
Bila 4/3 ≤ Z/H ≤ IQ, maka D= L= R = 1,1 Z+H
a = 0,15.H.
/
Bila 1/3 ≤ Z/H ≤ 4/3, maka D = L= R = 0.67 Z+ 1,4 H a = 0,2.H.
/
Keterangan :
h1 = tinggi muka air di hulu (m) V = kecepatan air dihulu (m/dtk) G = Gravitasi (9,81 m/dtk)
M = koefisien = 1.5
HC = kedalaman kritis (m)
D = kedalaman ruang ulakan (m)
R = jari-jari crest pada down stream (m) L = panjang ruang makan (m)
Z = tinggi terjun
r = jari-jari crest pada down stream (m) W = lebar ambang hilir (m)
a = tinggi ambang hilir (m)
E = tinggi garis energi di mudik (m) D = lebar bukaan efektif (m)
8.4 perhitungan bangunan terjun
8.5 perencanaan perhitungan gorong-gorong
Gorong-gorong atau urug-urug digunakan untuk mengalirkan air dengan baik dan teratur dimana memotong jalan utama atau tempat tertentu yang diperlukan .
BAB IV PEMBAHASAN
A.
Kelebihan dan Kekurangan BukuBuku Utama
1. Dilihat dari aspek tampilan buku (face value), Buku yang direview memiliki tampilan yang menarik dengan menggunakan simbol penerbit dalam tampilan dan juga tampilan buku juga menggunakan warna cerah
Kekurangan dalam aspek tampilan buku, Buku yang direview memiliki warna yang sedikit mencolok dengan penggunaan warna yang membuat pembaca menarik dalam membaca dan juga terkadang membuat pembaca sedikit norak akan penggunaan warna dalam tampilan warna buku.
2. Dari aspek layout dan tata letak, serta tata tulis, Buku yang direview menggunakan penggunaan yang baik dan pengaturan akan font dan huruf dalam tulisan yang dimuat
dalm buku.
Kekurangan buku dapat dilihat dari penempatan akan gambar yang sedikit kurang tearatur dalam penggunaan dan perletakannya, dan juga sedikit kurang tertata dalam perletakan rumus dan pembahasan.
3. Dari aspek isi buku , Buku yang direview memuat berbagai isi yang menarik yang dimulai dari penggunaan gambar akan penjelasan dan pemaparan dalam sub bab kajian yang dibahas. Isi buku juga dilengkapi dengan penjelasan yang dimuat dan dikandung dengan menggunakan rumus serta penjelasan dalam bab topik yang dibahas. Isi buku juga menggunakan data-data pendukung yang dimuat dari berbagai sumber, yang dimana dapat menambah wawasan dalam pengertjaan dan penyelesaian soal yang dimuat dalm isi buku.
Kekurangan isi buku dapat dilihat dari kajian teori yang dimuat dalam isi pembahasan buku dan juga penataan akan gambar yang dimuat dalam buku, yang imana dapat
4. Dari aspek tata bahasa, Buku yang direview menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dengan bahasan Indonesia sehingga pembaca juga tertarik dalam memahami dan membaca buku.
Kelemahan tata bahasa buku dimuat dari pemakaian bahasa asing, yang membuat pembaca sedikit kurang tertarik dalam membaca buku.
Buku Pembanding
1. Dilihat dari Aspek tampilan buku (face value), Buku yang direview adalah buku yang menarik yang dimana buku tersebut memiliki tampilan latar gambar yang menarik sesuai dengan judul dan isi pemaparan materi. Buku tersebut mempunyai warna yang mencolok yang dimana dapat memikat pembaca dalam membaca dan memahami buku. Kelemahan tampilan buku dapatdilihat dari sisi peletakan gambar yang dimana sedikit kurang dan perlu ditambahkan penambahan akan gambar lain untuk tampilan. 2. Dari aspek Layout dan tata letak, serta tata tulis, Buku yang direview termasuk buku
yang menggunakan peletakan gambar dan penggunaan gambar yang menarik pembaca, Jika pembaca memiliki minat dan hobi membaca buku terhadap gambar
maka pembaca tersebut mungkin dapat lebih mudah mengerti. Tata tulis dan letak pada buku ini juga menggunakan font yang sesuai dengan isi buku.
Kelemahan buku ini, buku menggunakan tata tulis dan bahasa yang dimana menggunakan bahasa asing dalam pembahasan yang akan membuat pembaca terkadang kebingungan dalam mengartikannya.
3. Dari aspek Isi buku, Buku dalam setiap kajian perbab menggunakan isi yang memuat gambar dan penjelasan dilengkapi dengan diagram penjelasan dalam setiap judul topik penjelasan. Isi buku juga menggunakan data pendukungn yang dimuat dari berbagai sumber sebagai pendukung dalam penjelasandan penyelesaian akan contoh soal yang dimuat dalam buku. Buku juga menggunakan isi rumus dalam penjelasan akan materi dan soal perhitungan yang dimuat dalam kajian isi buku. Isi buku juga memuat rangkaian penjelasan penyelesaian dan gambar dalam isi buku.
Kelemahan isi buku dilihat dari pemaparan dalam buku, dimulai dari penjelasan dan kurang nya kajian teori dan pengertian yang dimuat dalam penjelasan isi buku.
4. Dari aspek Tata bahasa, buku yang direview memiliki bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami sesuai dengan bahasayang digunakan oleh pembaca.Meskipun dalam isi buku menggunakan bahasa asing.
Kekurangan dalam Tata bahasa buku menggunakan bahasa asing yang terkadang tidak memuat penjelasan akan bahasa tersebut sehingga dapat membuat bingung para pembaca.
5.1. Kesimpulan
Irigasi adalah Suatu usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian yang sejenisnya meliputi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Irigasi mendukung produktivitas usaha bidang tani dan ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat melalui keberlangsungan sistem irigasi. Analisis perencanaan saluran irigasi dilakukan dengan menganalisis data klimatologi dan data fisik lahan (daerah tangkapan) kemudian dibandingkan dengan data teknik sistem saluran lapangan (eksisting). Perencanaan gorong-gorong dilakukan dengan menggunakan tampak saluran berbentuk segi empat.
Perencanaan dasar yang berkenaan dengan unit tanah adalah petak tersier, yang diaman menerima air irigasi yang dialiri dan diukur pada bangunan sadap tersier yang dilakukan Dinas Pengairan. Sumber air yang digunakan pada umumnya bersumber dari sungai, untuk menyelesaikan persoalan irigasi sangat berhubungan dengan aspek hidrologi khusus permasalahan hujan sebagai sumber air yang akan dialiri sungai.
5.2.Saran
Berdasarkan pendalaman dan penyajian akan CriticalBook Report maupun terhadap buku yang dikritik, saran yang dapat diberikan demi kemajuan dan perkembangan kearah yang lebih baik yakni, Dalam kajian setiap buku baiknya lebih dimuat mencakup gambar dan data-data pendukung dari sumber lain guna penyempurnaan data-data analisis dalam Irigasi.
Critical Book Report ini masih jauh dari sempurna karena masih banyak ditemukan kesalahan di sana sini, oleh sebab itu penyusun berharap kritik dan saran dari kawan sekalian pembaca artikel ini terutama dosen pengampu mata kuliah Bangunan Air dan Irigasi. Sebaiknya gambar pada setiap buku lebih di perbanyak lagi gambar dan keterangan di setiap pembahasan, semoga kajian ini dapat bermanfaat buat kita semua.
DAFTAR PUSTAKA