PERATURAN DAN PROSEDUR
AJUDIKASI
Badan Mediasi dan Arbitrase
Asuransi Indonesia
(BMAI)
Gedung Menara Duta Lt. 7, Wing A Jl. HR. Rasuna Said Kav. B-9 Jakarta 12910 Telp: (021) 527 4145, Faks: (021) 527 4146, Email: [email protected] Website: www.bmai.or.id
DAFTAR ISI
Daftar isi ... 5
Kata Pengantar ... 9
LOGO………... 11
Visi dan Misi Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia………... 12
Badan Mediasi Dan Arbitrase Asuransi Indonesia... 13
Surat Keputusan (No.009/SK- BMAI/11.2014) Tentang Peraturan & Prosedur Ajudikasi Badan Mediasi Dan Arbitrase Asuransi Indonesia……….. 17
Arti dan Istilah ... 18
Ruang Lingkup Peraturan dan Prosedur……… 22
Pernyataan Persetujuan ... 23
Pemberitahuan Penting dan Catatan Penting Kepada Tertanggung …………... 23
Pemohon……….. 24
Sengketa yang dapat ditangani oleh BMAI ... 25
Sengketa yang dikecualikan ... 25
Kewenangan dan Fungsi BMAI……….. 26
Pelayanan lainnya kepada Masyarakat Tertanggung...………... 27
Pendaftaran Permohonan Ajudikasi……….. 28
Sekretaris………. 30
Proses Pemeriksaan Permohonan oleh Sekretaris….. 30
Ketentuan Umum Pemeriksaan……… 31
Proses dan Perjanjian Ajudikasi……… 32
Penunjukan Kuasa Tetap……….. 32
Jawaban... 33
Pencabutan Permohonan Ajudikasi serta Perubahan Permohonan Ajudikasi dan Jawaban... 34
Bahasa……… 35
Tempat……….. 35
Jangka waktu Pemeriksaan……….. 35
Dokumentasi, Korespondensi dan Komunikasi………. 36
Kerahasiaan……… 38
Panggilan Dengar Pendapat……… 39
Upaya Perdamaian……… 40
Pembuktian………. 41
Saksi-saksi Ahli……….. 41
Penutupan Pemeriksaan………. 42
Persyaratan Ajudikator……… 37
Pembentukan Majelis……….. 42
Kewajiban dan Tanggung Jawab Ajudikator………. 40
Alasan Tuntutan Hak Ingkar………. 46
Pengajuan Tuntutan Hak Ingkar……… 47
Pemeriksaan Atas Tuntutan Hak Ingkar……….. 47
Pengunduran Diri Ajudikator……….. 49
Penggantian Ajudikator karena Alasan Lain………. 50
Berakhirnya Tugas Ajudikator………. 50
Akibat Penggantian dan Pengunduran Diri ... 51
Putusan Ajudikasi……… Penyusunan Putusan Ajudikasi……….. 52
Sidang Pembacaan Putusan………. 54
Koreksi Terhadan Putusan Ajudikasi………. 54
Pelaksanaan Putusan Ajudikasi……… 55
Pelepasan Tanggung Jawab ... 57
Tidak ada Tuntutan ... 57
Indemnitas ... 58
Bukan Penasehat Hukum ... 58
LAMPIRAN - LAMPIRAN
Lampiran – 1: SK Nomor: (No. 009/SK-BMAI/11.2014): (Pasal 4 ayat c) – Pemberitahuan Penting ... 61 Lampiran – 2: SK Nomor: (No. 009/SK-BMAI/11.2014):
(Pasal 4 ayat d) – Catatan Penting ... 62 Lampiran – 3: SK Nomor: (No. 009/SK-BMAI/11.2014)
Pasal 11 ayat 2): Formulir Permohonan Penyelesaian
Sengketa melalui Ajudikasi (FPPSAj) ... 63 Lampiran – 4: SK Nomor: (No. 009/SK-BMAI/11.2014):
(Pasal 15 ayat 1) – Perjanjian Ajudikasi ... 65 Lampiran – 5: SK Nomor: (No. 009/SK-BMAI/11.2015)
(Pasal 15 ayat 2) – Prosedur dan Perjanjian
Ajudikasi BMAI ... 68 Lampiran – 6: SK Nomor: (No. 009/SK-BMAI/11.2014
(Pasal 16 ayat 4) – Surat Kuasa Khusus………... 83 Lampiran – 7: SK Nomor: (No. 009/SK-BMAI/11.2014)
(Pasal 17 ayat 2) – Formulir Penunjukan Penerjemah... 85 Lampiran – 8: SK Nomor: (No. 009/SK-BMAI/11.2014)
(Pasal 30 ayat 4 & 5b dan Pasal 32 ayat 3 – Pedoman
Benturan Kepentingan……... 86 Lampiran – 9: SK Nomor: (No. 009/SK-BMAI/11.2014)
(Pasal 31 ayat 2) – Etika Perilaku………... 94 Lampiran – 10: SK Nomor: (No. 009/SK-BMAI/11.2014)
(pasal 41 ayat 4) – Surat Pernyataan Penyelesaian
KATA PENGANTAR
Peraturan BMAI tentang “Proses Penanganan Sengketa Melalui Mediasi dan atau Ajudikasi” telah ditetapkan untuk pertama kalinya pada bulan September 2006, saat BMAI mu-lai beroperasi. Dan seiring dengan berjalannya waktu, terha-dap peraturan tersebut telah diadakan penyesuaian dan per-baikan melalui Keputusan BMAI No. 001/SK-BMAI/04.2010 tanggal 01 April 2010 tentang Proses Pena-nganan Sengketa Melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi.
Dengan diterbitkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 1/POJK.07/2014, tanggal 16 Janjuari 2014, tentang “Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di
Sek-tor Jasa Keuangan” oleh OSek-toritas Jasa Keuangan RI, maka
Pe-raturan BMAI tentang Proses Penanganan Sengketa Melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi harus disesuaikan dan diperbaiki lagi. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan menetapkan agar Pe-raturan dan Prosedur Mediasi dipisahkan dari PePe-raturan dan Prosedur Ajudikasi. Oleh karenanya, buku ini hanya berisi ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang Ajudikasi yang diselenggarakan di BMAI. Penyesuaian dan perbaikan terse-but dilakukan dengan menerbitkan Surat Keputusan BMAI No.009/SK-BMAI/11.2014, tanggal 01 Nopember 2014 ten-tang “Peraturan dan Prosedur Ajudikasi BMAI”.
Sejalan dengan ketentuan POJK disebut di atas, BMAI telah memperluas kegiatannya dengan menjadi lembaga Ar-bitrase dan oleh karena itu Badan Mediasi Asuransi
Indone-sia telah me-ngubah namanya menjadi “Badan Mediasi dan Arbitrase Asu-ransi Indonesia”. Namun demikian, meskipun
namanya, diubah, singkatannya tetap dipertahankan, yaitu: BMAI. Perubahan nama dan perluasan kegiatan BMAI ini telah disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI melalui Surat Keputusan Nomor AHU-52.AH.01.08 Tahun 2014, tang-gal 25 Pebruari 2014. Untuk menjalankan kegiatan berarbi-trase, BMAI telah mempunyai suatu perangkat peraturan
yang lain yaitu “Peraturan dan Prosedur Arbitrase BMAI”. Dengan mulai berlakunya Keputusan BMAI No. 009/SK-BMAI/11.2014 tentang “Peraturan dan Prosedur Ajudikasi
BMAI”, maka Keputusan BMAI No. 001/SK-BMAI/04.2010
tentang Proses Penanganan Sengketa Melalui Mediasi dan/ atau Ajudikasi dan Petunjuk Pelaksanaan Proses atau Prose-dur Penanganan Sengketa dinyatakan tidak berlaku lagi.
Diharapkan Peraturan dan Prosedur Ajudikasi BMAI ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, terutama bagi Calon Pemohon dan Anggota. Semoga proses penyelesaian Sengketa melalui Ajudikasi oleh BMAI dapat ber-jalan dengan lebih baik lagi.
Jakarta, 01 November 2014
Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia.
Frans Lamury
LOGO
Logo BMAI terdiri dari sebuah marka, tipografi BMAI, dan tipografi Badan Mediasi Dan Arbitrase Asuransi Indonesia, yang bermakna:
1. Marka berbentuk dot atau titik yang terbentuk dari dua ba-ngun yang melambangkan sinkronisasi atau keselarasan, artinya sesuai dengan tugas BMAI sebagai mediator. 2. Jumlah dot dalam satu baris pada tiap bangunnya sebanyak
12 untuk mengingatkan tanggal berdirinya BMAI.
3. Tipografi utama memakai font LilyUPC, yang memiliki bentuk sederhana namun modern dan profesional yang melambangkan kedamaian dan keluwesan institusi. 4. Tipografi pendukung memakai font Eras Medium ITC yang
bermakna bijak dan profesional.
5. Pada tipografi a berbayang bermakna bahwa BMAI selain sebagai penyelenggara Mediasi dan Ajudikasi juga sebagai badan Arbitrase Asuransi.
6. Warna merah pada dot menyimbolkan komunikasi yang hangat dan berhasil guna.
7. Warna biru pada dot menyimbolkan semangat BMAI yang dapat dipercaya, dewasa, dan kokoh.
8. Warna hitam pada tipografi menyimbolkan kerapihan, profesional, dan mandirinya sebuah institusi
BADAN MEDIASI DAN ARBITRASE ASURANSI INDONESIA (BMAI)
VISI
MEMBERIKAN PELAYANAN PENYELESAIAN SENGKETA KLAIM ASURANSI SECARA ADIL MELALUI ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DAN PELAYANAN KONSUMEN ASURANSI UNTUK MENUMBUHKAN KEPERCAYAAN DAN MINAT
MASYARAKAT BERASURANSI DEMI MEWUJUDKAN KEHIDUPAN YANG NYAMAN DAN SEJAHTERA.
MISI
SECARA PROFESIONAL, INDEPENDEN DAN IMPARSIAL,
• MEMBANTU MENYELESAIKAN SENGKETA KLAIM ASURANSI AN-TARA PENANGGUNG DAN TERTANGGUNG MELALUI ALTERNA-TIF PENYELESAIAN SENGKETA,
• MEMBERIKAN INFORMASI DAN PEMAHAMAN KEPADA MA-SYARAKAT TENTANG PERASURANSIAN DAN MANAJEMEN RISIKO,
• MEMBERIKAN MASUKAN KEPADA PEMERINTAH DAN PELAKU USAHA PERASURANSIAN BAHAN PEMBELAJARAN DARI SENG-KETA-SENGKETA YANG DITANGANI.
NILAI-NILAI
BADAN MEDIASI DAN ARBITRASE ASURANSI INDONESIA (BMAI)
• Pendirian BMAI
Secara resmi BMAI didirikan pada tanggal 12 Mei 2006 dan mulai beroperasi pada tanggal 25 September 2006. Pendiriannya ini sejalan dengan Surat Keputusan Ber-sama empat Menteri yaitu a) Menteri Koordinator Bidang Perekonomian No.KEP.45/M.EKON/07/2006; b) Guber-nur Bank Indonesia No.8/50/KEP.GBI/ 2006; c) Menteri Keuangan No.357/KMK. 012/2006; dan d) Menteri Nega-ra Badan Usaha Milik NegaNega-ra No.KEP-75/MBU/2006 Ten-tang Paket Kebijakan Sektor Keua-ngan yang ditetapkan di Jakarta tanggal 5 Juli 2006. Juga sejalan dengan keten-tuan Lampiran III Lembaga Keuangan Non-Bank poin - 3 program -3 tentang Perlindungan Pemegang Polis dengan Penanggung Jawab Departemen Keuangan RI.
Pendirian BMAI digagas oleh beberapa Asosiasi Perusa-haan Perasuransian Indonesia yang berada di bawah FAPI (Fede-rasi Asosiasi Perasuransian Indonesia) yaitu Aso-siasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), AsoAso-siasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan Asosiasi Asuransi Jaminan Sosial Indonesia (AAJSI) dan didukung penuh oleh Biro Perasu-ransian, Bapepam LK, Dept Keuangan RI.
BMAI didirikan dengan tujuan untuk memberikan pela-yanan yang profesional dan transparan yang berbasis pada kepuasan dan perlindungan serta penegakkan hak-hak Tertanggung atau Pemegang Polis melalui proses Mediasi dan Ajudikasi. BMAI dibentuk dengan tujuan untuk memberikan represen-tasi yang seimbang antara Tertanggung dan/atau Pemegang Polis dan Penanggung (Perusahaan Asuransi). Tertanggung atau Pemegang Polis yang tidak menyetujui penolakan tuntutan ganti rugi atau manfaat polisnya oleh Penanggung (Perusahaan Asuransi) dapat meminta bantuan BMAI untuk menyelesaikan seng-keta antara mereka. BMAI senantiasa berupaya untuk
me-nyelesaikan sengketa klaim asuransi secara lebih cepat, adil, murah dan informal.
Dengan terbitnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor: 1/POJK.07/2014 tentang Lembaga Alter-natif Penyelesaian Sengketa (LAPS) di Sektor Jasa Keuan-gan, BMAI harus mengadakan beberapa penyesuaian agar ia bisa diterima sebagai LAPS yang diakui oleh OJK. Oleh karena itu, BMAI telah memperluas kegiatannya dengan fungsi penyelenggara arbitrase dan me-ngubah namanya menjadi Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia.
• Perhimpunan Yang Independen Dan Imparsial
BMAI adalah sebuah badan hukum yang berbentuk Per-himpunan yang bersifat independen dan imparsial. BMAI memberikan pelayanan untuk penyelesaian sengketa klaim (tuntutan ganti rugi atau manfaat) Asuransi antara Anggotanya yaitu Perusahaan Asuransi dan Tertanggung atau Pemegang Polis. Mediator, Ajudikator dan Arbiter BMAI terdiri dari tokoh tokoh berpengalaman baik dalam bidang perasuransian maupun bidang hukum dan dengan demikian ada jaminan bahwa BMAI selalu bertindak inde-penden, adil dan transparan.
• Manfaat BMAI
BMAI adalah suatu lembaga yang mudah diakses masyara-kat Tertanggung atau Pemegang Polis. Melalui proses Me-diasi dan Ajudikasi BMAI membantu menyelesaikan seng-keta klaim (tuntutan ganti rugi/manfaat) dan memberikan solusi yang mudah bagi Tertanggung atau Pemegang Polis yang kurang memahami asuransi dan kurang mampu un-tuk menyelesaikan suatu perkara melalui pengadilan ne-geri, apalagi membayar biaya bantuan hukum yang mahal. BMAI mengupayakan penyelesaian sengketa klaim secara lebih cepat, adil, murah dan informal.
• Cara Pengajuan Permohonan Penyelesaian Sengketa
Tertanggung atau Pemegang Polis harus mengisi dengan lengkap Formulir Permohonan Penyelesaian Sengketa
(FPPS) yang disediakan BMAI dan menyampaikannya ke-pada BMAI, untuk digunakan sebagai dasar melakukan investigasi atas suatu Sengketa.
• Batas Nilai Tuntutan Ganti Rugi
Untuk proses Mediasi dan Ajudikasi, nilai tuntutan ganti rugi atau manfaat polis yang dipersengketakan tidak melebihi Rp 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) per klaim untuk asuransi kerugian/umum dan Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) per klaim untuk asuransi jiwa atau Asuransi jaminan sosial.
• Proses Penyelesaian Sengketa
Penyelesaian sengketa klaim (tuntutan ganti rugi/ man-faat) dilakukan oleh BMAI dalam 3 (tiga) bagian yaitu: Tahap Mediasi, Tahap Ajudikasi, serta Tahap Arbitrase.
Tahap 1- Mediasi:
Permohonan Penyelesaian Sengketa Klaim Asuransi yang diterima BMAI akan ditangani oleh Mediator yang akan berupaya agar Ter-tanggung atau Pemegang Polis dan Penang-gung (Perusahaan Asuransi) dapat mencapai kesepakatan untuk menyelesaian sengketa secara damai dan wajar bagi kedua belah pi-hak. Mediator akan bertindak se-bagai penen-gah antara Tertanggung atau Pemegang Polis (Pemohon) dan Penanggung atau Perusahaan Asuransi (Termohon).
Tahap 2 - Ajudikasi:
Bila Sengketa Klaim (tuntutan ganti rugi atau man-faat) tidak dapat diselesaikan melalui Mediasi (Ta-hap 1), maka Pihak Pemohon dapat me-ngajukan permohonan kepada Ketua BMAI agar sengket-anya dapat diselesaikan melalui proses Ajudikasi. Sengketa akan diputuskan oleh Majelis Ajudikasi yang ditunjuk oleh BMAI.
Tahap 3 - Arbitrase:
Atas sengketa klaim yang tidak dapat di-sele-saikan pada proses Mediasi atau Ajudikasi dan yang nilai sengketanya melebihi Batas Nilai Tuntutan Ganti Rugi dilakukan proses Arbi-trase. Sengketa klaim akan diperiksa dan diadili oleh Arbiter Tunggal atau Majelis Arbitrase. Keputusan arbitrase bersifat final dan mengi-kat para Pihak dan tidak dapat dimintakan banding, kasasi atau upaya hukum lainnya.
• Biaya
Pelayanan Mediasi dan Ajudikasi untuk sengketa dengan nilai klaim yang ditetapkan di atas, diberikan secara Cuma-cuma alias Gratis.
Untuk Arbitrase, biayanya ditetapkan berdasarkan nilai klaim yang dipersengketakan.
Surat Keputusan
No. 009/SK-BMAI/11.2014
Tentang:
PERATURAN DAN PROSEDUR AJUDIKASI BADAN MEDIASI DAN ARBITRASE ASURANSI INDONESIA
(BMAI)
Pengurus Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia Menimbang : a. bahwa untuk menyesuaikan dengan
peruba-han-perubahan yang terjadi dan perlu adan-ya perbaikan atas kekurangan-kekurangan pada Peraturan dan Prosedur Mediasi dan Ajudikasi tentang Proses Penanganan Seng-keta Melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi, perlu dilakukan penyesuaian secara menyeluruh terhadap Peraturan dan Prosedur Mediasi dan Ajudikasi mengenai Proses Penanganan Sengketa Melalui Mediasi dan/atau Ajudi-kasi sebagaimana diatur dalam Surat Kepu-tusan Ketua Badan Mediasi Asuransi Indo-nesia No.001/SK-BMAI/04.2010;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan se-bagaimana dimaksud dalam huruf a), dipandang perlu menetapkan Keputusan Ketua Badan Mediasi dan Arbitrase Asu-ransi Indonesia tentang Proses Penanga-nan Sengketa Melalui Ajudikasi.
Mengingat : a. Ketentuan Anggaran Dasar Badan Mediasi
dan arbitrase Asuransi Indonesia Pasal 7 tentang Kegiatan;
b. Ketentuan Anggaran Rumah Tangga Badan Mediasi dan arbitrase Asuransi Indonesia Bab IV tentang Ajudikator;
POJK. 07/2014 tentang Lembaga Alterna-tif Penyelesaian Sengketa (LAPS) di Jasa Keuangan.
d. Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tang Perlindungan konsumen Bab-XI ten-tang Badan Penyelesaian Sengketa pasal 52 tentang Tugas dan Wewenangnya; e. Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif Penyele-saian Sengketa Umum Bab II Pasal 6 ten-tang Alternatif Penyelesaian Sengketa.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DAN PROSEDUR AJUDIKASI, BADAN
MEDIASI DAN ARBITRASE ASURANSI INDONESIA (BMAI)
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1 Arti dan Istilah
Dalam Peraturan dan Prosedur Ajudikasi ini, yang dimaksud dengan:
1) “Ajudikasi” adalah cara penyelesaian Sengketa di luar ar-bitrase dan peradilan umum yang disepakati oleh Para Pi-hak untuk diselesaikan melalui BMAI dengan maksimum nilai Klaim Asuransi sebagaimana ditetapkan dalam Per-aturan dan Prosedur Ajudikasi BMAI.
2) “Ajudikator” adalah orang perseorangan yang memenuhi persyaratan sebagai Ajudikator yang ditunjuk atau diangkat oleh Pengurus BMAI sesuai dengan Peraturan dan Prose-dur Ajudikasi BMAI
Me-diasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI).
4) “Anggota” adalah perusahaan asuransi, perusahaan rea-suransi yang terdaftar dan memenuhi syarat-syarat ke-anggotaan BMAI.
5) “BMAI” adalah Perhimpunan Badan Mediasi dan Arbi-trase Asuransi Indonesia
6) “Klaim Asuransi” adalah tuntutan ganti rugi dan/atau manfaat polis Asuransi yang dapat dinilai dengan se-jumlah uang.
7) “Majelis” adalah Majelis Ajudikasi yang terdiri dari 3 orang Ajudikator atau lebih yang ditunjuk atau diang-kat oleh Pengurus BMAI sesuai dengan Peraturan dan Prosedur Ajudikasi BMAI.
8) “Mediasi” adalah proses penyelesaian Sengketa me-lalui upaya musyawarah dan mufakat antara Pemohon dan Termohon (Anggota) yang difasilitasi oleh Media-tor.
9) “Mediator” adalah karyawan tetap BMAI yang ber-wenang untuk melakukan investigasi dan proses me-diasi Sengketa yang diajukan Pemohon kepada BMAI. 10) “Para Pihak” adalah Pemohon dan Termohon
(Ang-gota).
11) “Pemohon” adalah:
a) Nasabah yang mempunyai hubungan dengan Termo-hon atau seseorang yang mempunyai kepentingan untuk menerima manfaat dari perjanjian asuransi termasuk seseorang yang atas dirinya dibuat sebuah perjanjian Asuransi atau seseorang yang mempunyai hak untuk menerima manfaat dari suatu klaim asuransi yang timbul karena adanya perjanjian, Undang-Undang atau subrograsi, atau seorang tertanggung yang dise-butkan dalam polis asuransi atau pihak ketiga yang mempunyai hak yang disebutkan dalam perjanjian Asuransi untuk mengajukan klaim atas sebuah
per-janjian asuransi yang menjamin atau diperluas untuk menjamin pertanggungan terhadap pihak ketiga. b) Anggota (Perusahaan Asuransi dan Perusahaan
Rea-suransi)
12) “Pengaduan” adalah ungkapan ketidakpuasan Pemohon yang disebabkan oleh adanya kerugian atau potensi keru-gian financial pada Pemohon yang diduga terjadi karena kesalahan atau kelalaian Anggota dalam menangani klaim Asuransi, kelangsungan kontrak Asuransi dan terbitnya polis Asuransi dan atau pemanfaatan pelayanan dan atau produk Asuransi yang disediakan Anggota.
13) “Penolakan final” adalah surat atau dokumen tertulis lainnya yang dikeluarkan oleh Anggota dan disampai-kan kepada Pemohon yang secara jelas menyatadisampai-kan bahwa surat tersebut adalah jawaban final dari Anggota tersebut atas klaim yang diajukan Pemohon.
14) “Pengawas” adalah Pengawas BMAI sebagaimana dimak-sud dalam Anggaran Dasar BMAI, beserta segala perubah-annya, jika ada.
15) “Pengurus” adalah Pengurus BMAI sebagaimana dimak-sud dalam Anggaran Dasar BMAI, beserta segala peruba-hannya, jika ada.
16) “Perjanjian Ajudikasi” adalah suatu perjanjian yang di-tandata-ngani oleh Para Pihak, Ajudikator BMAI dan Pen-gurus BMAI yang berisikan syarat-syarat dan ketentuan mengenai Prosedur Ajudikasi
17) “Perjanjian Perdamaian” adalah suatu kesepakatan peny-elesaian Sengketa antara Para Pihak yang difasilitasi oleh Mediator yang bersifat final dan mengikat Para Pihak. 18) “Permohonan Ajudikasi” adalah surat permohonan
pe-nyelesaian sengketa melalui Ajudikasi BMAI yang diaju-kan oleh Pemohon kepada BMAI, dengan menggunadiaju-kan Peraturan dan Prosedur ini, yang berisikan tuntutan dari Pemohon kepada Termohon.
dibuat oleh Majelis Ajudikasi yang bersifat final dan mengikat terhadap Pemohon dan Termohon jika Pemo-hon menerima putusan tersebut, akan tetapi tidak bersi-fat final dan mengikat terhadap Pemohon jika Pemohon tidak menyetujui putusan tersebut. Dalam hal Sengketa antara para Anggota, putusan Majelis Ajudikasi bersifat final dan mengikat bagi para Anggota dan para Anggota tidak boleh menempuh upaya hukum lainnya.
20) “Sekretaris” adalah seorang personel Sekretariat yang ditunjuk oleh Ketua BMAI untuk membantu Majelis Aju-dikasi dalam urusan pencatatan dan administrasi selama proses Ajudikasi.
21) “Sekretariat” adalah tempat yang digunakan Pengurus BMAI untuk menjalankan fungsinya sehari-hari yang dip-impin oleh Ketua BMAI.
22) “Sengketa” adalah:
a) perselisihan yang timbul sehubungan dengan pe-nolakan tertulis oleh Anggota atas klaim Asuransi, atau atas permohonan pemulihan (reinstatement) polis, atau atas klaim penebusan (surrender) polis yang diajukan oleh Pemohon kepada Anggota yang menjadi penanggung berdasarkan perjanjian asur-ansi dan yang diajukan oleh Pemohon kepada Per-himpunan paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal surat Penolakan Final, atau
b) perselisihan antara para Anggota yang menyangkut klaim Asuransi yang diajukan oleh Anggota kepada Perhimpunan paling lambat 6 (enam) bulan terhi-tung sejak timbul perselisihan. Perselisihan timbul saat salah satu Anggota menyatakan ketidak-sepaka-tan atas hal yang dipersengketakan.
Pasal 2
Ruang Lingkup Peraturan dan Prosedur
1) Peraturan dan Prosedur ini mengatur penyelesaian sen-gketa antara Para Pihak dalam suatu hubungan hukum tertentu di bidang perasuransian atau yang terkait den-gan perasuransian dan telah mengadakan Perjanjian Ajudikasi.
2) Penyelesaian sengketa berdasarkan Peraturan dan Prosedur ini dilakukan atas dasar itikad baik dengan ber-landaskan tata cara koperatif dan non konfrontatif den-gan mengesampingkan penyelesaian sengketa melalui Pengadilan Negeri atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya.
3) Sengketa yang dapat diselesaikan melalui Ajudikasi BMAI hanya sengketa yang memenuhi persyaratan seb-agai berikut:
a. sengketa di bidang perasuransian atau yang terkait dengan perasuransian
b. sengketa mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuh-nya oleh Para Pihak;
c. sengketa yang menurut peraturan perundang-un-dangan dapat diadakan perdamaian; dan
d. sengketa yang telah menempuh upaya Mediasi BMAI tetapi Para Pihak tidak berhasil mencapai Kesepakatan Perdamaian, dan belum atau tidak mencari upaya hukum lain di luar BMAI.
4) Pihak yang dapat menjadi pemohon dalam Ajudikasi BMAI hanyalah Pemohon, sedangkan Pihak yang dapat menjadi termohon dalam Ajudikasi BMAI hanyalah Termohon atau Anggota BMAI.
5) BMAI termasuk Ajudikator, Pengurus, Sekretaris dan per-sonil Sekretariat:
a. tidak dapat dianggap, dalam keadaan atau kapasi-tas apapun, bertindak sebagai penasehat hukum
menyangkut posisi hukum Para Pihak;
b. dilarang untuk memberikan, menawarkan, atau menyampaikan bantuan hukum, baik secara pro-fesional ataupun personal kepada Para Pihak. 6) Para Pihak, Ajudikator, Pengurus, Sekretaris dan
perso-nil Sekretariat wajib mengikuti ketentuan yang diatur dalam Peraturan dan Prosedur ini.
Pasal 3
Pernyataan Persetujuan
1) Anggota sepakat untuk memenuhi dan tunduk pada semua Ketentuan yang terdapat dalam Peraturan dan Prosedur Ajudikasi, termasuk semua perubahan, modi-fikasi dan/atau pemutakhiran yang mungkin dibuat oleh BMAI atas Ketentuan dari Peraturan dan Prosedur Ajudikasi ini.
2) Apabila Anggota bertindak tidak sesuai dengan Keten-tuan yang diatur pada ayat 1) pasal ini, BMAI berwenang meminta Anggota tersebut untuk melakukan langkah-langkah perbaikan yang perlu dilaksanakan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak terjadinya pelang-garan. Bila Anggota tidak memenuhi hal tersebut, BMAI akan mengenakan sanksi sesuai dengan yang ditetapkan oleh Pengawas BMAI.
Pasal 4
Pemberitahuan Penting dan Catatan Penting Kepada Tertanggung
Anggota diminta untuk:
a) memberikan penjelasan tentang keberadaan BMAI ke-pada setiap calon Tertanggung baik secara lisan atau tertulis dan mengenai peranan BMAI sebagai lembaga independen dan imparsial yang memberikan pelayanan untuk penyelesaian Sengketa.
b) mengedarkan brosur yang diterbitkan BMAI.
c) melekatkan “Pemberitahuan Penting” pada setiap po-lis yang diterbitkan sesuai Lampiran-01, Surat
Keputu-san ini.
d) memasukan “Catatan Penting” pada setiap surat Peno-lakan Final sesuai Lampiran-02, Surat Keputusan ini
Pasal 5 Pemohon
Pihak-pihak berikut disebut sebagai Pemohon dan dapat mengajukan Sengketa kepada BMAI:
1) Nasabah (Pemegang Polis) yang mempunyai hubungan perjanjian Asuransi dengan Anggota;
2) Seseorang yang mempunyai kepentingan finansial atas manfaat suatu perjanjian asuransi, termasuk orang-orang berikut:
a) Seseorang yang atas dirinya dibuat atau dimaksud-kan untuk dibuat sebuah perjanjian asuransi (Ter-tanggung);
b) Seseorang yang mempunyai hak untuk menerima manfaat dari suatu Klaim Asuransi yang timbul karena adanya perjanjian, undang-undang atau subrogasi (Termaslahat);
3) Seorang Tertanggung yang disebutkan dalam polis Asuransi.
4) Pihak ketiga yang mempunyai hak untuk mengajukan klaim atas sebuah perjanjian asuransi yang menjamin atau diperluas untuk menjamin pertanggungan terha-dap pihak ketiga.
Pasal 6
Sengketa yang dapat ditangani oleh BMAI
1) Semua Sengketa dapat diajukan dan ditangani oleh BMAI, dengan ketentuan:
a) Pemohon yang mengajukan adalah pihak yang berkepentingan.
b) Anggota yang terlibat dalam Sengketa harus meru-pakan pihak yang tunduk pada yurisdiksi BMAI karena masih terdaftar sebagai Anggota BMAI. c) Sengketa yang timbul dari permasalahan berkaitan
de-ngan hubungan Pemohon dengan Anggota. d) Lingkup Sengketa yang diajukan harus berada
dalam yurisdiksi BMAI sejak BMAI didirikan. e) Anggota tidak dapat menyelesaikan Sengketa
se-cara langsung dengan Pemohon sesuai dengan tuntutan Pemohon dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak disampaikannya keberatan oleh Pemohon kepada Anggota.
2) Nilai tuntutan ganti rugi atau manfaat polis yang diper-sengketakan tidak melebihi Rp 750.000.000 (tujuhratus limapuluh juta rupiah) per klaim untuk asuransi kerugian/ umum dan Rp 500.000.000 (limaratus juta rupiah) per klaim untuk asuransi jiwa atau Asuransi Jaminan Sosial. 3) Untuk menghindari keraguan, Ajudikator, sesuai
den-gan kasus yang dihadapi, mempunyai kewenanden-gan un-tuk menetapkan apa yang dimaksud dengan ‘per klaim’. Keputusan Ajudikator atas apa yang dimaksud dengan “per klaim” akan mengikat bagi Anggota.
Pasal 7
Sengketa Yang Dikecualikan
Sengketa berikut tidak dapat diproses oleh BMAI:
2) Kebijakan harga dan kebijakan lainnya, seperti suku premi, biaya dan kurs valuta asing;
3) Kasus yang sedang dalam proses investigasi oleh pihak yang berwajib, termasuk kasus-kasus dengan tuduhan ]
Pasal 8
Kewenangan dan Fungsi BMAI
1) BMAI akan selalu bertindak independen dalam memberi-kan pelayanan dan sebagai media yang tidak memihak (imparsial) dan penengah perselisihan dan tidak akan bertindak sebagai penasehat hukum baik bagi Anggota, Pemohon atau pihak-pihak lainnya yang mengajukan Sengketa kepadanya.
2) BMAI akan:
a) bertindak sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Peraturan dan Prosedur Ajudikasi BMAI; b) mematuhi Peraturan dan Prosedur Ajudikasi yang
ditetapkan oleh Pengawas;
c) memberikan pelayanan atas semua Sengketa yang diajukan sesuai ketentuan Pasal 6 Peraturan dan Prosedur Ajudikasi ini;
d) melakukan investigasi, pemeriksaan atas Sengketa den-gan tujuan untuk mendapatkan suatu penyelesaian; e) melakukan Ajudikasi atas Sengketa, tunduk pada
ketentuan Pasal 23 ayat 3), bilamana tidak terca-pai kesepakatan melalui Mediasi;
f ) tidak memberikan informasi umum tentang Anggota (selain bilamana dianggap wajar terkait dengan pros-es penyelpros-esaian Sengketa) dan informasi atas perjan-jian dari Anggota tersebut atau jasa pelayanan, serta tidak memberikan saran-saran hukum, akuntansi dan saran-saran profesional lainnya.
3) Pengurus dengan persetujuan Pengawas mempunyai we-wenang untuk melakukan perubahan dan penambahan
atas suatu Standar dan Ketentuan yang terdapat dalam Peraturan dan Prosedur Ajudikasi ini.
Pasal 9
Pelayanan Lainnya Kepada Masyarakat Tertanggung
Walaupun bukan merupakan tugas dan kewajiban BMAI ses-uai Anggaran Dasar, tidak tertutup kemungkinan masyarakat Tertanggung yang mengalami kesulitan dalam penyelesaian klaimnya dengan perusahan (walaupun belum ada peno-lakan tertulis dari Anggota) akan datang ke BMAI untuk men-gajukan permasalahan yang mereka hadapi. Sebagai organ-isasi publik, BMAI tentu tidak dapat menolak untuk melayani masyarakat Tertanggung tersebut. Dalam hal demikian, bu-kan dalam kapasitas sebagai penasehat hukum, BMAI abu-kan: 1) Menampung masukan/keluhan dari masyarakat
Tertang-gung dan berusaha sebaik-baiknya memberikan penjelas-an kepada masyarakat tentpenjelas-ang tugas dpenjelas-an tpenjelas-anggung-jawab BMAI.
2) Berusaha untuk menjelaskan kepada Tertanggung ter-kait permasalahan yang dihadapinya hanya sejauh sudut pandang ahli sesuai substansi masalah yang dike-mukakan Tertanggung.
3) Berusaha untuk memberikan pengarahan kepada Ter-tanggung langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk menindaklanjuti penyelesaian dengan Anggota. 4) Menginformasikan kepada Anggota keluhan yang
diteri-ma dari Tertanggung untuk dapat ditanggapi sebagaiditeri-mana mestinya.
BAB - II
PENDAFTARAN PERMOHONAN AJUDIKASI Pasal 10
Pendaftaran Permohonan Ajudikasi
1) Ajudikasi diselenggarakan berdasarkan Permohonan Ajudikasi yang diajukan pendaftarannya oleh Pemohon kepada BMAI.
2) Pendaftaran Permohonan Ajudikasi harus dilakukan oleh Pemohon dengan cara mengisi dan menyampai-kan Formulir Permohonan Penyelesaian Sengketa
Ajudikasi (FPPSAj) sesuai Lampiran – 03, Surat
Keputu-san ini, sebagai dasar BMAI melakukan investigasi atas
suatu Sengketa.
3) FPPSAj yang sudah dilengkapi diantar langsung oleh Pemohon ke alamat kantor BMAI paling lama dalam waktu 10 (sepuluh) hari terhitung sejak hari upaya pe-nyelesaian sengketa melalui Mediasi BMAI tidak men-capai Kesepakatan Perdamaian.
4) FPPSAj harus disertai Permohonan Ajudikasi sebanyak 5 (lima) rangkap dan Permohonan Ajudikasi tersebut harus: a) memuat sekurang-kurangnya:
(i) nama lengkap, dan tempat tinggal atau tempat kedudukan Para Pihak;
(ii) uraian singkat tentang sengketa; (iii) isi tuntutan; dan
b) menyertakan lampiran-lampiran: (i) akta bukti;
(ii) fotokopi/salinan dokumen bukti-bukti. 5) Konfirmasi penerimaan atau penolakan terhadap
pendaf-taran Permohonan Ajudikasi disampaikan oleh Pengurus kepada Pemohon, dengan tembusan Termohon, dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari terhitung
se-jak tanggal FPPSAj dan Permohonan Ajudikasi diterima oleh Pengurus.
6) Apabila pendaftaran Permohonan Ajudikasi ditolak Pen-gurus, surat sebagaimana dimaksud ayat (5) memuat pula alasan penolakan. Pemohon dapat mengajukannya kembali dengan memenuhi persyaratan yang diperlukan sebagaimana dimaksud ayat 4) pasal ini paling lambat 15 (lima belas) hari terhitung berakhirnya batas waktu. 7) Apabila pendaftaran Permohonan Ajudikasi dinyatakan
diterima, surat sebagaimana dimaksud ayat (5):
a. memuat pula nama 3 (tiga) orang Ajudikator yang ditunjuk Pengurus untuk memeriksa dan mengadi-li sengketa antara Pemohon dan Termohon b. melampirkan salinan Permohonan Ajudikasi
kepa-da Termohon kepa-dan meminta Termohon untuk me-nyiapkan Jawaban, yang harus diserahkan kepada Pengurus dalam waktu 10 (sepuluh) hari sejak su-rat ini diterima.
8) Terhadap pendaftaran Permohonan Ajudikasi yang diterima sebagaimana dimaksud ayat (5), Sekretariat pada tanggal yang sama dengan tanggal konfirmasi tersebut mencatatkan Permohonan Ajudikasi ke dalam buku register perkara BMAI dan membubuhkan kode nomor registrasi perkara.
9) Pengurus dapat melimpahkan kewenangan melakukan verifikasi terhadap pendaftaran Permohonan Ajudikasi kepada personil Sekretariat, termasuk untuk memberi-kan pernyataan penerimaan maupun penolamemberi-kannya.
Pasal 11 Sekretaris
1) Pengurus BMAI menunjuk 1 (satu) atau lebih personil Sekretariat untuk menjadi Sekretaris pada perkara yang akan atau sedang diproses dalam Ajudikasi.
2) Sekretaris bertugas untuk:
a. membuat berita acara pemeriksaan;
b. membuat risalah rapat permusyawaratan Majelis; c. mengurus korespondensi Ajudikasi;
d. menyimpan catatan dan dokumen Ajudikasi; e. menandatangani surat panggilan pemeriksaan
ke-pada Para Pihak atas nama Majelis;
f. membantu Majelis dalam menyusun jadwal pemeriksaan dan mengingatkan mengenai jangka waktu Ajudikasi;
g. membantu Majelis dalam membuat laporan ke-pada Pe-ngurus mengenai selesainya Ajudikasi; h. tugas-tugas lain yang mungkin diatur pada bagian
lain dari Peraturan & Prosedur ini.
3) Sekretaris wajib menjaga prinsip kerahasiaan atas pros-es Ajudikasi dan melaksanakan tugasnya sampai den-gan selesai secara profesional, bersikap netral, inde-penden dan menjaga integritas serta menjunjung tinggi kehormatan BMAI.
Pasal 12
Proses Pemeriksaan Permohonan oleh Sekretaris
1) Setelah FPPSAj diterima, Sekretaris Majelis akan meneliti hal-hal berikut:
a) apakah Sengketa telah memenuhi syarat sebagai Sengketa yang sah sesuai dengan ketentuan Pasal 6 peraturan ini.
b) apakah Sengketa merupakan Sengketa yang dike-cualikan sesuai ketentuan Pasal 7 peraturan ini. c) apakah Pemohon memenuhi syarat sebagai
Pemo-hon sesuai ketentuan Pasal 5 peraturan ini; dan d) apakah permohonan untuk melakukan
pemerik-saan di-sampaikan dalam jangka waktu sesuai ke-tentuan Pasal 11 ayat 3) peraturan ini.
2) Bila Sengketa tidak memenuhi salah satu persyaratan dalam ayat 1 di atas, Sekretariat Majelis dapat menolak untuk menindak lanjuti Sengketa tersebut.
BAB-III
PEMERIKSAAN AJUDIKASI Pasal 13
Ketentuan Umum Pemeriksaan
1) Ajudikasi BMAI dilakukan menurut Peraturan dan Prosedur ini.
2) Pemeriksaan sengketa dalam Ajudikasi dilakukan se-cara tertulis. Pemeriksaan sese-cara lisan atau tatap muka dapat dilakukan apabila dianggap perlu oleh Majelis. 3) Semua pemeriksaan sengketa oleh Majelis dilakukan
se-cara tertutup, sehingga tidak boleh dihadiri oleh orang lain selain Para Pihak, para Ajudikator dalam Majelis, dan Sekretaris, kecuali diizinkan oleh Majelis atas per-setujuan Para Pihak.
4) Para Pihak mempunyai hak dan kesempatan yang sama dan adil dalam mengemukakan pendapat, mengajukan bukti-bukti dan atau saksi-saksi masing-masing.
5) Hukum yang akan berlaku terhadap penyelesaian seng-keta adalah hukum tempat Ajudikasi dilakukan.
Pasal 14
Proses dan Perjanjian Ajudikasi
1) Sebelum proses ajudikasi dimulai, para pihak akan di-beritahukan untuk menandatangani Surat Perjanjian
Ajudikasi sesuai Lampiran – 04, Surat Keputusan ini,
untuk memastikan agar hak-hak dan kewajiban Para Pi-hak kepada satu sama lainnya telah di-nyatakan secara jelas. Bilamana Anggota tidak bersedia
menandatan-gani Perjanjian Ajudikasi, proses ajudikasi dapat tetap berjalan.
2) Proses Ajudikasi dilakukan sesuai dengan Prosedur dan
Perjanjian Ajudikasi BMAI sebagaimana dirinci dalam
Lampiran – 05, Surat Keputusan ini. Untuk menghindari
keraguan, syarat-syarat Prosedur Ajudikasi akan dican-tumkan dalam Perjanjian Ajudikasi yang ditandatangani Pemohon dan Anggota.
Pasal 15
Penunjukan Kuasa Tetap
1) Pemohon orang perorangan wajib mengikuti sendiri semua pro-ses penyelesaian Sengketa yang diselengga-rakan oleh BMAI melalui Ajudikasi dan tidak diperkenan-kan menunjuk pihak lain untuk mewakilinya. Pemohon boleh didampingi oleh paling banyak 2 (dua) orang dan para pendamping tersebut tidak mempunyai hak berbi-cara kecuali atas izin Majelis.
2) Pemohon yang berstatus perusahaan, wajib menunjuk seorang atau lebih, paling banyak 3 (tiga) karyawannya dengan menyebutkan posisi atau jabatan di perusahaan tersebut, sebagai kuasa tetap yang dapat mewakili pe-rusahaannya untuk:
a) Menangani penyelesaian Sengketa berkaitan den-gan tuntutan den-ganti rugi dan/atau tuntutan atas manfaat polis asuransi.
b) Membuat, menjawab dan/atau menandatangani surat-surat, faxsimile, email berkaitan dengan pe-nyelesaian Sengketa sebagaimana dimaksud dalam ayat 2) butir a) pasal ini.
c) Menyerahkan semua dokumen, informasi, catatan dan laporan investigasi, notulasi rapat dan lain-lain kepada BMAI yang diperlukan untuk proses peny-elesaian Sengketa se-bagaimana dimaksud dalam ayat 2) butir a) pasal ini.
Ajudi-kasi dengan menandatangani Perjanjian AjudiAjudi-kasi dan Keputusan Ajudikasi.
e) Menghadiri sidang-sidang Ajudikasi, menunjukkan bukti, ahli dan saksi jika Majelis memintanya. 3) Anggota wajib menunjuk seorang atau lebih, paling
ban-yak 3 (tiga) orang karyawannya dengan menyebutkan posisi atau jabatan di perusahaan tersebut sebagai kuasa tetap yang dapat mewakili perusahaannya untuk melak-sanakan tugas-tugas yang disebutkan pada ayat 2) butir a) sampai dengan e) pasal ini.
4) Surat kuasa tersebut diberikan tanpa hak substitusi dan berlaku sejak tanggal ditandatangani sampai dibatalkan secara tertulis oleh pemberi kuasa. Contoh Surat Kuasa
Khusus seperti Lampiran – 06, Surat Keputusan ini.
5) Pemohon dan para penerima kuasa tetap wajib menun-jukkan identitas diri dan/atau identitas kekaryawanannya.
Pasal 16 Jawaban
1) Jawaban disampaikan Termohon kepada Mejelis seba-nyak 5 (lima) rangkap dan dilampirkan:
a. akta bukti;
b. fotokopi/ salinan dokumen bukti-bukti.
2) Majelis berwenang, atas permohonan Termohon, untuk memperpanjang jangka waktu penyerahan Jawaban ber-dasarkan alasan yang sah, dengan ketentuan bahwa per-panjangan waktu tersebut tidak boleh melebihi 7 (tujuh) hari dari waktu yang semula ditentukan.
Pasal 17
Pencabutan Permohonan Ajudikasi serta Perubahan Permohonan Ajudikasi dan Jawaban
a. sebelum ada Jawaban, Pemohon dapat mencabut Permohonan Ajudikasi;
b. dalam hal sudah ada Jawaban, pencabutan Permo-honan Ajudikasi hanya diperbolehkan dengan per-setujuan Termohon, dan selanjutnya Majelis menu-tup pemeriksaan dan menyatakan Ajudikasi selesai. 2) Perubahan Permohonan Ajudikasi:
a. sebelum ada Jawaban, Pemohon dapat memper-baiki, mengubah atau menambah isi Permohonan Ajudikasi;
b. dalam hal sudah ada Jawaban, maka perbaikan, perubahan atau penambahan Permohonan Aju-dikasi hanya diperbolehkan dengan persetujuan Termohon, dan sepanjang perbaikan, perubahan atau penambahan tersebut menyangkut hal-hal yang bersifat fakta-fakta saja dan tidak menyangkut dasar-dasar hukum yang menjadi dasar Permoho-nan Ajudikasi.
3) Termohon dapat memperbaiki kesalahan pengetikan (typo error), mengubah atau menambah Jawaban paling lambat 5 (lima) hari setelah Jawaban diserahkan kepada Majelis. 4) Anggota tidak dapat menarik diri dari proses Ajudikasi.
Pasal 18 Bahasa
1) Bahasa yang digunakan dalam semua proses Ajudikasi BMAI adalah bahasa Indonesia, kecuali atas persetujuan Majelis maka Para Pihak dapat memilih bahasa lain. 2) Bila Pemohon tidak lancar menggunakan Bahasa
Indone-sia, ia boleh didampingi oleh seorang penerjemah yang ditunjuk dengan persetujuan Majelis Ajudikasi. Pener-jemah akan menerPener-jemahkan isi dari Prosedur Ajudikasi dan Perjanjian Ajudikasi kepada Pemohon. Penerjemah tidak bertindak sebagai kuasa atau penasehat hukum
dari Pemohon. Penunjukan Penerjemah dilakukan den-gan menggunakan Formulir Penunjukan Penerjemah sesuai Lampiran – 07, Surat Keputusan ini.
3) Majelis dapat memerintahkan kepada Para Pihak agar setiap dokumen atau bukti disertai dengan terjemahan ke dalam bahasa yang ditetapkan sebagaimana dimak-sud ayat 1).
Pasal 19 Tempat
Ajudikasi BMAI diselenggarakan di tempat yang ditentu-kan Pe-ngurus. Namun demikian Para Pihak boleh memilih tempat lain atas persetujuan Majelis dan Pengurus berdasar-kan alasan yang wajar.
Pasal 20
Jangka Waktu Pemeriksaan
1) Jangka waktu pemeriksaan Ajudikasi adalah paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal pembentu-kan Majelis.
2) Majelis berwenang memperpanjang jangka waktu seb-agaimana dimaksud ayat 1) apabila:
a. adanya tuntutan Hak Ingkar;
b. adanya pengunduran diri Ajudikator; c. adanya penggantian Ajudikator; d. adanya upaya perdamaian;
e. dianggap perlu oleh Majelis untuk kepentingan pemeriksaan;
f. selain alasan tersebut di atas dengan alasan yang wajar dan disetujui Para Pihak.
3) Dalam rangka menjamin kepastian waktu penyelesa-ian pemeriksaan Ajudikasi, maka pada dengar pendapat pertama, Majelis menetapkan jadwal pemeriksaan beri-kutnya sampai dengan pembacaan Putusan Ajudikasi. Dalam hal terjadi keadaan sebagaimana dimaksud ayat
2), maka dalam dengar pendapat ditetapkan revisi terha-dap perkiraan jadwal pemeriksaan dan atau perpanjan-gan jangka waktu. Perpanjanperpanjan-gan jangka waktu tersebut, jika ada, paling lama 30 (tiga puluh) hari.
4) Apabila dalam jangka waktu perpanjangan sebagaima-na dimaksud dalam ayat 3) ternyata persidangan Ajudi-kasi belum juga selesai, Majelis hanya dapat memper-panjang waktu berdasarkan persetujuan Para Pihak dan Pengurus.
5) Para Pihak sepakat bahwa sengketa harus diselesaikan dengan itikad baik secepat mungkin dan tidak akan di-tunda atau melakukan langkah-langkah lain yang dapat menghambat proses Ajudikasi yang lancar dan adil.
Pasal 21
Dokumentasi, Korespondensi dan Komunikasi
1) Terhadap pemeriksaan dalam Ajudikasi dibuat berita acara oleh Sekretaris.
2) Para Pihak dilarang merekam acara pemeriksaan Ajudi-kasi, baik rekaman audio, rekaman visual maupun reka-man audio visual.
3) Pengiriman surat-menyurat disampaikan oleh Sekre-taris kepada penandatangan Permohonan Ajudikasi dan atau Jawaban. Apabila ada perubahan, maka mas-ing-masing Pihak harus memastikan telah memberikan informasi kepada Sekretariat mengenai nama, nomor telepon, nomor faksimili dan alamat secara lengkap un-tuk tujuan surat-menyurat dari dan ke masing-masing Pihak, dan setiap perubahan-perubahan selanjutnya berkenaan dengan hal-hal tersebut.
4) Setiap Pihak tidak boleh melakukan komunikasi den-gan satu atau lebih Ajudikator dari Majelis denden-gan cara bagaimanapun sehubungan dengan Permohonan Ajudi-kasi yang bersangkutan kecuali dalam dengar pendapat, atau disertai suatu salinan yang juga dikirimkan kepada
Pihak lain melalui Sekretaris. Pelanggaran terhadap ke-tentuan ayat 3) ini dapat menjadi indikasi terpenuhinya alasan untuk mengajukan Hak Ingkar.
5) Penyampaian atau pendistribusian surat-menyurat dari Majelis kepada Para Pihak, maupun dari satu Pihak ke-pada Majelis dan Pihak lain, harus dilakukan dalam kes-empatan dengar pendapat dan atau melalui Sekretariat. 6) Penyampaian atau pendistribusian surat-menyurat dari
Sekretaris kepada Para Pihak, maupun dari Para Pihak kepada Sekretaris, dapat disampaikan melalui kurir, pos tercatat, faksimili dan atau e-mail.
7) Pengiriman oleh Sekretaris kepada Para Pihak melalui faksimili dan atau e-mail adalah sama sahnya dengan pengiriman melalui kurir dan atau pos tercatat dengan bukti penerimaan yang cukup. Apabila pengiriman me-lalui faksimili dan atau e-mail sudah diterima dengan baik dan jelas, maka pengiriman surat asli melalui kurir dan atau pos tercatat boleh untuk tidak dilakukan lagi oleh Sekretariat kepada Para Pihak.
8) Surat-menyurat yang tidak memenuhi ketentuan ayat 3), ayat 4), ayat 5) atau ayat 6) adalah tidak sah dan diang-gap tidak pernah ada.
9) Penyampaian dokumen Permohonan Ajudikasi, Jawaban, ketera-ngan tertulis saksi fakta/ saksi ahli, dan daftar bukti harus disertai dengan softcopy dalam format words docu-ment.
Pasal 22 Kerahasiaan
1) Proses Ajudikasi bersifat rahasia dan berlangsung secara tertutup yang hanya dihadiri oleh Para Pihak, Majelis dan Sekretaris, kecuali Para Pihak menghendaki lain atau bila diperlukan untuk pelaksanaan Putusan Ajudikasi seb-agaimana alasan yang diperbolehkan menurut Peraturan dan Prosedur ini.
Aju-dikasi sebagaimana alasan yang diperbolehkan menurut Peraturan dan Prosedur ini, maka semua orang yang ter-libat dalam proses Ajudikasi harus menjaga kerahasiaan baik selama perundingan maupun setelah selesai, dan tidak menggunakan untuk tujuan apapun terhadap: a. fakta bahwa proses Ajudikasi akan, sedang dan
atau telah berlangsung;
b. hal-hal yang muncul dalam proses Ajudikasi; c. pendapat yang dikemukakan, klaim, usulan-usulan
atau proposal yang diajukan Para Pihak untuk pe-nyelesaian sengketa;
d. semua bahan yang diserahkan dan pembicaraan yang dilakukan selama proses Ajudikasi;
e. semua data, informasi, korespondensi, dan ba-han baik dalam bentuk cetak tertulis maupun elektronik, mengenai masalah yang didiskusikan, klaim, proposal dan tanggapan yang disampaikan, termasuk isi Putusan Ajudikasi;
f. alasan penolakan Pemohon terhadap Putusan Aju-dikasi, jika ada.
2) Ketentuan kerahasiaan tetap melekat atas orang yang terlibat dalam proses Ajudikasi sebagaimana dimaksud ayat 1) setelah selesainya Ajudikasi.
3) BMAI dan atau salah satu Pihak berhak menuntut Pihak yang melakukan pelanggaran terhadap ayat 1) berupa tuntutan termasuk namun tidak terbatas pada:
a. ganti rugi penuh atas kerugian yang ditimbulkan; b. biaya upaya hukum yang dilakukannya
sehubun-gan densehubun-gan pelanggaran tersebut; dan atau c. jaminan tidak terulangnya kembali pelanggaran
tersebut di kemudian hari.
4) Dalam hal terjadi pelanggaran terhadap ayat 1) ini, Majelis berhak untuk menghentikan proses Ajudikasi.
Pasal 23
Panggilan Dengar Pendapat
1) Paling lama 5 (lima) hari setelah menerima berkas Per-mohonan Ajudikasi dan Jawaban dari Pengurus, Majelis melalui Sekretaris menyampaikan surat panggilan den-gar pendapat pertama kepada Para Pihak yang akan dis-elenggarakan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal disampaikannya surat panggilan tersebut kepada Para Pihak.
2) Apabila pada hari yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud ayat 1), Pemohon tanpa suatu alasan yang sah tidak datang menghadap sedangkan Pemohon telah dipanggil secara patut, maka Majelis menyatakan bahwa Permohonan Ajudikasi gugur dan tugas Majelis selesai. Untuk selanjutnya persengketaan tersebut ti-dak dapat lagi diajukan kepada Ajudikasi BMAI.
3) Apabila pada hari yang telah ditentukan sebagaimana dimaksud ayat 1), Termohon tanpa suatu alasan sah tidak datang menghadap sedangkan Termohon telah dipanggil secara pa-tut, maka Majelis menunda dengar pendapat dan melakukan pemanggilan kembali. Dengar pendapat akan diselenggarakan kembali paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak pemanggilan kedua disam-paikan kepada Termohon.
4) Apabila Termohon tetap tidak datang dalam dengar pendapat tanpa alasan sah sedangkan Termohon telah dipanggil secara patut, maka pemeriksaan akan diterus-kan tanpa kehadiran Termohon.
5) Ketidakhadiran Termohon atas surat-surat panggilan se-bagaimana dimaksud ayat 1) dan ayat 3), atau tidak me-nyerahkan Jawaban sesuai waktu yang ditentukan, dapat dianggap oleh Majelis bahwa Termohon telah melepaskan haknya untuk mengajukan bantahan terhadap Permoho-nan Ajudikasi.
6) Panggilan untuk dengar pendapat berikutnya ditetap-kan oleh Majelis dalam Prosedur dengar pendapat, atau
melalui surat panggilan yang akan disampaikan oleh Sek-retaris.
7) Majelis dapat melakukan pemeriksaan dengan salah satu Pihak, baik sebelum ataupun setelah dengar pendapat, asalkan mengenai hal tersebut diketahui oleh Pihak lain.
Pasal 24 Upaya Perdamaian
1) Apabila selama masa pemeriksaan, Para Pihak setuju untuk melakukan upaya damai, Majelis dapat menunda proses peme-riksaan Ajudikasi paling lama 30 (tiga puluh) hari untuk memberikan kesempatan kepada Para Pihak dalam mengupayakan perdamaian sesuai pilihan pe-nyelesaian yang disepakati oleh Para Pihak. Para Pihak menghadap kembali kepada Majelis pada hari dengar pendapat yang ditetapkan untuk melaporkan hasil upaya perdamaian tersebut.
2) Dalam hal upaya perdamaian berhasil mencapai ke-sepakatan perdamaian. Keke-sepakatan tersebut harus memuat klausul pencabutan Permohonan Ajudikasi dan menyatakan perkara telah selesai. Berdasarkan ke-sepakatan perdamaian tersebut, Pemohon menyatakan mencabut Permohonan Ajudikasi di hadapan Majelis dalam dengar pendapat sebagaimana dimaksud ayat 1), dan untuk selanjutnya Majelis menutup pemerik-saan dan menyatakan Ajudikasi selesai.
3) Pemeriksaan Ajudikasi dilanjutkan jika upaya perda-maian tidak berhasil.
Pasal 25 Pembuktian
1) Para Pihak diberikan kesempatan yang sama dan adil untuk mengajukan bukti yang dianggap perlu untuk menguatkan pendiriannya disertai dengan akta bukti yang berisikan daftar bukti dan penjelasan mengenai
alasan suatu bukti diajukan.
2) Alat pembuktian meliputi bukti tertulis, bukti elektron-ik, saksi, persangkaan, pengakuan dan sumpah.
3) Majelis berwenang menentukan apakah bukti-bukti dapat diterima, relevan dan menyangkut materi seng-keta.
Pasal 26 Saksi dan Ahli
1) Atas permintaan Majelis dan atau salah satu Pihak, dapat dipanggil saksi dan atau ahli untuk didengar ket-erangannya dalam dengar pendapat di bawah sumpah. 2) Biaya pemanggilan saksi dan ahli dibebankan kepada
yang meminta.
3) Pengurus dilarang untuk menjadi saksi atau ahli dalam pemeriksaan Ajudikasi BMAI.
4) Majelis dapat menolak pengajuan seorang saksi dan atau ahli apabila menurut pandangan Majelis seseorang tersebut diragukan untuk bisa memberikan keterangan yang bebas disebabkan hubungannya dengan salah satu Pihak.
Pasal 27
Penutupan Pemeriksaan
Apabila pemeriksaan telah dianggap cukup oleh Majelis, maka Majelis menyatakan pemeriksaan ditutup dan menetapkan jad-wal sidang pembacaan Putusan Ajudikasi.
BAB-IV
PENUNJUKAN AJUDIKATOR Pasal 28
Persyaratan Ajudikator
1) Untuk dapat menjadi Ajudikator BMAI, seseorang harus tercatat sebagai Ajudikator Tetap BMAI.
2) Pengurus mengangkat seseorang sebagai Ajudikator Tetap BMAI menurut ketentuan sebagai berikut bahwa pencalonan se-seorang untuk menjadi Ajudikator Tetap BMAI berdasarkan tata cara pemilihan Ajudikator ses-uai Anggaran Dasar BMAI Pasal 13, antara lain:
a. Pengurus mencari calon Ajudikator melalui reko-mendasi langsung dari tokoh-tokoh usaha pera-suransian atau praktisi hukum, dengan syarat an-tara lain:
a). Orang perorangan warga Negara Indonesia dan cakap melakukan perbuatan hukum; b). Tidak pernah masuk dalam daftar orang
ter-cela yang tidak boleh melakukan tindakan tertentu di bidang usaha perasuransian; c). Tidak pernah dihukum karena status tindak
pidana kejahatan berdasarkan putusan yang telah mendapatkan kekuatan hukum tetap; d). Memiliki pengetahuan yang memadai dan
atau pengalaman dibidang usaha perasuransi-an atau di bidperasuransi-ang hukum sekurperasuransi-ang-kurperasuransi-angnya 15 (lima belas) tahun;
e). Direkomendasikan oleh Dewan Pengurus salah satu asosiasi perusahaan Asuransi atau Pihak-pihak lain yang kompeten untuk itu; f). Bersedia untuk bekerja secara sukarela untuk
bertindak sebagai hakim atau ajudikator dalam memutuskan suatu perseketaan klaim antara Pemohon dengan Anggota Perhimpunan.
b. Pengurus melakukan pendekatan kepada calon-calon yang direkomendasikan untuk meminta kes-ediaannya untuk dicalonkan sebagai Ajudikator. c. Apabila seseorang dimaksud, atas permohonan
kesediaan yang disampaikan dari Pengurus, ber-sedia menjadi calon Ajudikator Tetap BMAI, maka Pengurus meminta yang bersangkutan menyam-paikan resume jati diri dan riwayat hidup beser-ta fotokopi dokumen-dokumen pendukung dan mengikuti uji kecakapan dan kelayakan (fit and proper test) yang dilakukan oleh Pengurus.
d. Pengurus melakukan seleksi administratif atas calon-calon yang bersedia untuk dicalonkan. e. Apabila dianggap perlu, Pengawas dapat
melaku-kan wa-wancara langsung dengan para calon yang diajukan oleh Pengurus.
f. Pengurus menyampaikan nama-nama calon ke-pada Pengawas untuk persetujuannya sebagai seleksi akhir.
3) Apabila setelah diangkat sebagai Ajudikator Tetap BMAI ternyata di kemudian hari Ajudikator tersebut mengala-mi perubahan kondisi pada dirinya yang mengakibatkan tidak terpenuhinya 1 (satu) atau lebih syarat-syarat se-bagaimana dimaksud ayat 2) butir a. a). pasal ini, maka Pengurus segera memutuskan untuk:
a. mencabut statusnya sebagai Ajudikator Tetap BMAI secara permanen; atau
b. membekukan statusnya sebagai Ajudikator Tetap BMAI untuk sementara waktu sampai dengan di-penuhinya kembali syarat-syarat yang diperlukan. 4) Dalam hal keputusan pencabutan atau pembekuan
di-maksud dalam ayat 3) dikeluarkan oleh Pengurus pada saat Ajudikator yang bersangkutan tengah menjalankan tugasnya sebagai Anggota Majelis, pada saat Ajudikasi berada dalam tahap apapun, maka Pengurus segera menghentikan proses Ajudikasi dimaksud sampai
den-gan ditunjuk Ajudikator baru sesuai denden-gan Peraturan dan Prosedur ini.
5) Pengurus menerbitkan Daftar Ajudikator Tetap BMAI yang terbuka untuk umum, dan memperbaharuinya se-tiap kali ada perubahan pada daftar tersebut.
Pasal 29
Pembentukan Majelis
1) Majelis yang akan memeriksa perkara melalui Ajudikasi dibentuk oleh Pengurus dan terdiri dari 3 (tiga) Ajudika-tor, salah seorang di antaranya ditunjuk sebagai Ketua Majelis.
2) Dalam suatu Majelis, paling kurang 1 (satu) Ajudikator berlatar belakang profesi bidang hukum.
3) Ajudikator yang ditunjuk oleh Pengurus sebagai Ajudika-tor perkara dalam suatu Majelis berhak untuk menerima atau menolak penunjukan tersebut.
4) Apabila Ajudikator menerima penunjukan, maka Aju-dikator di dalam jawabannya sekaligus melampirkan surat pernyataan dan keterbukaan dalam format yang ditetapkan dari waktu ke waktu oleh BMAI dengan memperhatikan Pedoman Benturan Kepentingan seb-agaimana dimaksud dalam Lampiran – 08 Surat
Kepu-tusan ini. Ajudikator bertanggung jawab penuh atas
segala risiko hukum yang timbul dari kebenaran surat pernyataan dan keterbukaan yang telah dibuat dan di-tandatanganinya tersebut.
5) Ajudikator hanya boleh menerima penunjukan apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. masih tercantum dalam Daftar Ajudikator Tetap BMAI;
b. memperhatikan dan tunduk pada Pedoman Ben-turan Kepentingan;
c. tidak berada dalam pengaruh dan atau tekanan siapapun untuk menjalankan tugas sebagai Ajudi-kator yang akan mempengaruhi intergritas dan ke-mandiriannya dalam mengambil keputusan; d. dalam keadaan sehat secara jasmani maupun
ro-hani sehingga mampu menjalankan tugas sebagai Ajudikator dengan sebaik-baiknya;
e. membuat surat pernyataan dan keterbukaan seb-agaimana dimaksud ayat 4) dengan jujur dan benar. 6) Majelis sudah harus terbentuk paling lambat 14 (empat
belas) hari terhitung sejak BMAI menyampaikan surat kon-firmasi penerimaan pendaftaran Permohonan Ajudikasi ke-pada Para Pihak.
7) Pembentukan Majelis dituangkan dalam suatu kepu-tusan Pe-ngurus. Kepukepu-tusan tersebut bersifat final dan mengikat Para Pihak kecuali ada pengajuan Hak Ingkar. 8) Segera setelah Majelis terbentuk, Pengurus menyerah-kan berkas Permohonan Ajudikasi kepada Majelis me-lalui Sekretaris supaya Majelis dapat segera menetapkan sidang pertama.
9) Ajudikator tidak dapat menarik diri atau mengundurkan diri, kecuali:
a. akibat diterimanya tuntutan Hak Ingkar;
b. tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud
ayat 5);
c. alasan lain yang wajar dan mendapatkan per-setujuan Para Pihak.
Pasal 30
Kewajiban dan Tanggungjawab Ajudikator
1) Ajudikator, dalam menjalankan fungsinya, wajib menaati ketentuan Peraturan dan Prosedur ini dan Etika Perilaku. Terhadap dugaan pelanggaran Peraturan dan Prosedur ini dan Etika Perilaku akan diproses BMAI melalui sidang kode etik.
2) Etika Perilaku yang berlaku terhadap Ajudikator adalah sama dengan Etika Perilaku Arbiter dan Mediator BMAI
Lampiran – 09, Surat Keputusan ini.
3) Ajudikator wajib menjaga prinsip kerahasiaan atas seng-keta yang ditanganinya kecuali diperintahkan oleh pen-gadilan dan atau peraturan perundang-undangan untuk diungkapkan.
4) Ajudikator berkewajiban melaksanakan tugasnya sam-pai selesai secara profesional, bersikap netral, inde-penden dan menjaga integritas serta menjunjung tinggi Etika Perilaku.
5) Ajudikator wajib memberikan kesempatan yang sama dan adil kepada Para Pihak untuk didengar keterangannya dan mengungkapkan bukti-bukti yang dimilikinya.
6) Ajudikator wajib segera mengundurkan diri apabila ke-mudian menyadari bahwa ia ternyata tidak memenuhi 1 (satu) atau lebih syarat-syarat sebagaimana dimaksud Pasal 31 ayat 10 sampai dengan ayat 5) peraturan ini. 7) Ajudikator tidak dapat dikenakan tanggung jawab hukum
apapun atas segala tindakan yang diambil selama proses pemeriksaan berlangsung untuk menjalankan fungsinya sebagai Ajudikator, kecuali dapat dibuktikan adanya iti-kad tidak baik dari tindakan tersebut.
8) Dalam hal Majelis, tanpa alasan yang sah, tidak mem-berikan Putusan Ajudikasi dalam jangka waktu yang telah ditentukan, para Ajudikator dalam Majelis terse-but dapat dihukum untuk mengganti biaya dan keru-gian yang diakibatkan karena kelambatan tersebut ke-pada Para Pihak.
Pasal 31
Alasan Tuntutan Hak Ingkar
Terhadap Ajudikator dapat diajukan tuntutan Hak Ingkar apabila: 1) terdapat cukup alasan dan bukti yang menimbulkan ker-aguan bahwa Ajudikator akan melakukan tugasnya tidak secara bebas;
2) terdapat cukup alasan dan bukti yang menimbulkan keraguan bahwa Ajudikator akan berpihak dalam men-gambil putusan;
3) terbukti adanya hubungan kekeluargaan, keuangan atau pekerjaan dengan salah satu Pihak sehingga melanggar ketentuan me-ngenai Pedoman Benturan Kepentingan; 4) terdapat cukup alasan dan bukti bahwa Ajudikator
melakukan perbuatan tercela dalam pemeriksaan; atau 5) tidak memenuhi 1 (satu) atau lebih persyaratan se-bagaimana dimaksud Pasal 32 ayat 1) sampai dengan ayat 4).
Pasal 32
Pengajuan Tuntutan Hak Ingkar
1) Pihak yang berkeberatan terhadap penunjukan seorang Ajudikator harus mengajukan tuntutan Hak Ingkar dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari sejak penunjukan atau pengangkatan Ajudikator yang bersangkutan, atau sejak mengetahui fakta-fakta yang dapat menunjukkan alasan Hak Ingkar sebagaimana dimaksud Pasal 32. 2) Tuntutan Hak Ingkar harus diajukan secara tertulis oleh
salah satu Pihak kepada Pengurus, tembusan Majelis dan Pihak lain, dengan menyebutkan alasan tuntutannya. 3) Apabila tidak ada tuntutan Hak Ingkar terhadap Ajudikator
dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud ayat 1), Para Pihak dianggap melepaskan atau tidak menggunakan Hak Ingkar.
Pasal 33
Pemeriksaan atas Tuntutan Hak Ingkar
1) Pengurus memberikan kesempatan kepada Ajudikator yang bersangkutan dan Pihak lain untuk memberikan tanggapan terhadap tuntutan Hak Ingkar dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal
menerima salinan tuntutan Hak Ingkar dan menyampai-kannya kepada Pengurus.
2) Dalam hal tuntutan Hak Ingkar disetujui oleh Ajudika-tor yang bersangkutan dan atau Pihak lain, maka dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari terhitung sejak tanggal diajukannya tanggapan sebagaimana dimaksud ayat 1) Pengurus mengeluarkan keputusan pemberhen-tian Ajudikator yang bersangkutan dari Majelis.
3) Dalam hal tuntutan Hak Ingkar tidak disetujui oleh Aju-dikator yang bersangkutan dan Pihak lain, maka Pe-ngurus akan memutuskan tuntutan Hak Ingkar terse-but dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari terhitung sejak tanggal disampaikannya tanggapan se-bagaimana dimaksud ayat 1), dengan ketentuan: a. apabila Pengurus memutuskan bahwa tuntutan
Hak Ingkar beralasan, maka tuntutan Hak Ingkar dinyatakan diterima dan Pengurus mengeluarkan keputusan pemberhentian Ajudikator yang ber-sangkutan dari Majelis;
b. apabila Pengurus memutuskan bahwa tuntutan Hak Ingkar tidak cukup beralasan, maka tuntutan Hak Ingkar dinyatakan ditolak dan Ajudikator yang bersangkutan wajib melanjutkan tugasnya.
4) Keputusan Pengurus atas tuntutan Hak Ingkar bersifat final dan mengikat, serta tidak dapat diajukan upaya perlawanan.
Pasal 34
Pengunduran Diri Ajudikator
1) Dalam hal Ajudikator bermaksud untuk mengundurkan diri dengan alasan sebagaimana dimaksud Pasal 32 ayat 1) sampai dengan ayat 4), Ajudikator yang bersangkutan harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Pengurus, dengan tembusan Para Pihak dan Majelis. 2) Pengurus memberikan kesempatan kepada Para Pihak
jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari terhitung sejak tanggal menerima salinan pengunduran diri. 3) Apabila Para Pihak sama sependapat untuk menolak
permohonan pengunduran diri Ajudikator, maka Ajudi-kator yang bersangkutan wajib melanjutkan tugasnya. 4) Apabila Para Pihak sama sependapat untuk menerima
permohonan pengunduran diri Ajudikator, maka dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari terhitung sejak tanggal diajukannya tanggapan sebagaimana dimaksud ayat 2) Pengurus mengeluarkan keputusan pemberhen-tian Ajudikator yang bersangkutan dari Majelis.
5) Dalam hal Para Pihak berbeda pendapat terhadap per-mohonan pengunduran diri Ajudikator, maka Pengu-rus akan memutuskan permohonan pengunduran diri tersebut dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari terhitung sejak tanggal lewatnya jangka waktu seb-agaimana dimaksud ayat 2).
6) Apabila Pengurus menilai bahwa permohonan pengun-duran diri Ajudikator beralasan, maka permohonan pen-gunduran diri dinyatakan diterima dan Pengurus menge-luarkan keputusan pemberhentian Ajudikator yang bersangkut-an dari Majelis.
7) Apabila Pengurus menilai bahwa permohonan pengun-duran diri Ajudikator tidak cukup beralasan, maka permo-honan pengunduran diri dinyatakan ditolak dan Ajudika-tor yang bersangkutan wajib melanjutkan tugasnya. 8) Dalam hal setelah lewatnya jangka waktu sebagaimana
dimaksud ayat 2) salah satu Pihak atau Para Pihak tidak memberikan tanggapan sama sekali, maka Para Pihak dianggap menerima permohonan pengunduran diri Aju-dikator. Selanjutnya dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari terhitung sejak berakhirnya jangka waktu pemberian tanggapan sebagaimana dimaksud ayat 2), Pengurus mengeluarkan keputusan pemberhentian Aju-dikator yang bersangkutan dari Majelis.
9) Keputusan Pengurus atas permohonan pengunduran diri Ajudikator bersifat final dan mengikat, serta tidak
dapat diajukan upaya perlawanan.
10) Dalam hal Ajudikator yang mengajukan pengunduran diri tidak mematuhi ketentuan ayat 3) atau ayat 7) un-tuk melanjutkan tugasnya kembali, maka Pengurus akan memberikan peringatan keras kepada Ajudikator yang bersangkutan.
11) Apabila dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak disampaikannya surat teguran tersebut Ajudikator yang bersangkutan tetap tidak melanjutkan tugasnya kembali, maka Pengurus segera mengeluar-kan keputusan pemberhentian Ajudikator yang ber-sangkutan dari Majelis dan mencabut statusnya sebagai Ajudikator Tetap BMAI.
Pasal 35
Penggantian Ajudikator karena Alasan Lain
Dalam hal selama proses Ajudikasi, Ajudikator meninggal dunia atau dalam keadaan berhalangan tetap sehingga tidak dapat melaksanakan kewajibannya, maka Ajudikator yang bersangkutan harus diganti.
Pasal 36
Berakhirnya Tugas Ajudikator
Tugas Ajudikator berakhir karena: 1) Putusan Ajudikasi telah diambil;
2) jangka waktu yang telah ditentukan, atau sesudah di-sepakati oleh Para Pihak untuk diperpanjang, telah lam-pau; atau
3) akibat diganti karena alasan atau sebab sebagaimana diatur dalam Peraturan dan Prosedur ini.
Pasal 37
Akibat Penggantian dan Pengunduran Diri Ajudikator
1) Proses Ajudikasi dihentikan untuk sementara waktu apa-bila terjadi pengajuan Hak Ingkar, permohonan pengun-duran diri Ajudikator, dan atau penggantian Ajudikator dalam suatu Majelis.
2) Dalam hal terjadi pemberhentian Ajudikator selama proses Ajudikasi sebagaimana diatur dalam Peraturan dan Prosedur ini, maka seorang Ajudikator penggan-ti akan diangkat dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari terhitung sejak tanggal terjadinya pem-berhentian tersebut.
3) Pada prinsipnya Ajudikator pengganti bertugas melan-jutkan penyelesaian sengketa yang bersangkutan ber-dasarkan pemeriksaan terakhir yang telah diadakan. 4) Dalam hal Ketua Majelis diganti, semua pemeriksaan
yang telah diadakan harus diulang kembali berdasarkan surat dan dokumen yang ada. Yang dimaksud dengan “pemeriksaan diulang kembali” dalam ayat ini adalah pengulangan terhadap Prosedur mendengar keteran-gan Para Pihak, saksi dan atau ahli, sedangkan segala surat dan dokumen yang telah diserahkan tidak perlu diulang kembali.
5) Dalam hal anggota Majelis diganti, maka pemeriksaan di-ulang kembali secara tertib cukup oleh dan di antara para Ajudikator berdasarkan berita Prosedur dan surat-surat yang ada.
6) Apabila terjadi pergantian Ajudikator, maka jangka waktu pemeriksaan dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga pu-luh) hari.
BAB -V PUTUSAN AJUDIKASI
Pasal 38 Sifat Ajudikasi
1) Keikutsertaan Para Pihak dalam proses Ajudikasi adalah berdasarkan kerelaan Para Pihak sendiri tanpa adanya paksaan, dan harus dijalani dengan sopan, saling meng-hormati dan tertib.
2) Keharusan bagi Termohon untuk menerima apapun Pu-tusan Ajudikasi, dan sebaliknya diberikannya opsi bagi Pemohon untuk menerima atau tidak menerima Putu-san Ajudikasi, adalah sifat dasar dari mekanisme Ajudi-kasi sehingga Para Pihak tidak akan membuat Perjan-jian Ajudikasi tanpa adanya kedua hal tersebut.
3) Putusan Ajudikasi mempunyai kekuatan yang bersifat final dan mengikat Para Pihak setelah Pemohon me-nyatakan menerima putusan tersebut.
4) Putusan Ajudikasi yang telah diterima Pemohon seb-agaimana dimaksud ayat 3) harus dilaksanakan dengan itikad baik oleh Para Pihak dan tidak dapat diajukan perla-wanan atau bantahan.
Pasal 39
Penyusunan Putusan Ajudikasi
1) Ketua Majelis bertugas menyiapkan rancangan Putusan Ajudikasi dan Anggota Majelis menyampaikan masing-mas-ing pertimbangannya secara tertulis kepada Ketua Majelis. 2) Putusan Ajudikasi memuat:
a. nama lengkap dan alamat Para Pihak; b. uraian singkat sengketa;
c. pendirian Para Pihak;
pemeriksaan;
e. pertimbangan dan kesimpulan Majelis; f. amar putusan;
g. tempat dan tanggal putusan; h. tanda tangan Majelis;
i. kolom pernyataan persetujuan pada bagian akhir Pu-tusan Ajudikasi yang harus ditandatangani oleh Pemo-hon jika PemoPemo-hon menerima Putusan Adjukasi. 3) Majelis mengambil putusan berdasarkan keadilan dan
kepatutan (ex aequo et bono).
4) Meskipun diperbolehkan adanya perbedaan pendapat antara para Ajudikator dalam Majelis, namun keputu-san dalam Majelis adalah keputukeputu-san kolektif di mana keputusan Majelis diambil atas dasar musyawarah un-tuk mufakat. Apabila tidak tercapai musyawarah mu-fakat di antara para Ajudikator, keputusan diambil atas dasar suara terbanyak.
5) Putusan Ajudikasi harus ditandatangani oleh para Aju-dikator dalam Majelis. Apabila Putusan Ajudikasi tidak ditandatangani oleh 1 (satu) Ajudikator dengan alasan sakit atau meninggal dunia atau alasan apapun, tidak mempengaruhi Putusan Ajudikasi. Alasan tentang tidak adanya tanda tangan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini harus dicantumkan dalam Putusan Ajudikasi. 6) Putusan Ajudikasi dibuat dalam bahasa Indonesia, dan
dapat dituangkan pula dalam bahasa lain jika disepak-ati Para Pihak. Dalam hal naskah asli Putusan Ajudikasi dibuat dalam bahasa lain, maka suatu terjemahan res-mi harus disediakan oleh BMAI atas biaya Para Pihak.
Pasal 40
Sidang Pembacaan Putusan Ajudikasi
1) Dalam waktu paling lama 20 (dua puluh) hari setelah pemeriksaan dinyatakan ditutup sebagaimana dimak-sud Pasal 28, Putusan Ajudikasi harus dimak-sudah dibacakan