BAB II. Landasan Teori. Beberapa definisi dari para ahli mengenai pajak : pengeluaran umum. Dalam Siti Resmi (2013; 01).

Teks penuh

(1)

10 BAB II

Landasan Teori

A. Pengertian Pajak

Beberapa definisi dari para ahli mengenai pajak :

Definisi pajak yang dikemukakan oleh Rochmat Soemitro: Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan udang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Dalam Siti Resmi (2013; 01).

Definisi tersebut kemudian disempurnakan, menjadi: Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiyai pengeluaran rutin dan ‘’surplus’’-nya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.

Definisi pajak yang dikemukan oleh S.I. Djajadinimgrat: Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian dari kekayaan ke kas negara yang disebabkan suatu keadaan, kejadiaan, dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan pemerintahan serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa timbal balik dari negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan secara umum. Dalam Siti Resmi (2013; 01).

Definisi pajak yang dikemukan oleh Feldmann: Pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terutang kepada penguasa (menurut

(2)

norma-11 norma yang ditetapkannya secara umum), tanpa adanya kontrapretasi, dan semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum. Dalam Siti Resmi (2013; 01- 02).

Dari beberapa definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-udang serta aturan pelaksanaannya.

2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi induvidual oleh pemerintahan.

3. Pajak dipungut oleh negara baik pemerintahan pusat maupun pemerintahan daerah.

4. Pajak diperuntukan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintahan, yang bila pemasukannya masih terdapat surplus, digunakan untuk membiyai public investment.

1. Fungsi Pajak

Dalam pembuatan peraturan pajak daerah, harus didasarkan pada pemungutan pajak secara umum yaitu demi meningkatkan kesejahteraan umum. Untuk meningkatkan kesejahtaraan umum tidak hanya memasukkan uang sebanyak banyaknya ke-kas negara saja, tetapi juga harus mempunyai sifat mengatur untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Pemasukan uang demi meningkatkan kesejahtaraan umum perlu ditingkatkan lagi serta pemungutannya harus berdasarkan dan dilaksanakan menurut norma-norma yang berlaku. Pajak dilihat dari fungsinya menurut Siti Resmi (2013;03) mempunyai dua fungsi, yaitu:

(3)

12 a. Fungsi Budgeter (Penerimaan Negara)

Pajak berfungsi budgeter artinya pajak bersifat konstraksi terhadap dana masyarakat danmemberikan kontribusi sebesar-besarnya untuk APBN, sedangkan sisi lain APBN yaitu sisi belanja atau pengeluaran berefek multi player bagi perekonomian negara. Upaya tersebut ditempuh dengan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi pemungutan pajak melalui penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak.

b. Fungsi Regulerend (Pengatur)

Pada fungsi regulereend, pajak dimaksudkan untuk mengatur perekonomian yang sesuai dengan kebijakan pemerintah, artinya pajak dapat digunakan oleh pemerintah sebagai alat untuk menjalankan perannya. Peran pemerintah dalam arti luas adalah mengatur kegiatan-kegiatan produsen dan konsumen mencapai tujuan masing-masing.

Berdasarkan kedua jenis fungsi pajak tersebut diatas, dapat dipahami atau dimengerti bahwa fungsi budgeter pajak dikaitkan dengan anggaran pendapatan dan belanja negara umumnya dan anggaran pendapatan daerah pada khususnya yang dimaksud untuk mengisi kas negara atau daerah sebanyak-banyaknya dalam rangka pembiayaan pengeluaran rutin pemerintah pusat atau daerah.

(4)

13 2. Teori Pajak

a. Teori Kepentingan

Teori ini memperhatikan memungut pembagian beban penduduk seluruhnya supaya adil. Akan tetap karena teori ini mambenarkan adanya hak pemerintah untuk memungut pajak dari rakyat dapat pula digolongkan dalam teori yang memperkuat beban pajak didasarkan atas kepentingan masing-masing orang dalam tugas pemerintah termasuk dalam perlindungan jiwa orang-orang berserta harta bendanya.

b. Teori Bukti

Menurut teori ini seseorang tidak dapat berdiri artinya tanpa adanya persekutuan dimana persekutuan ini menjelma menjadi negara. Bahkan tiap-tiap individu menyadari tugas sosial sebagai tanda bukti kebaktian kepada negara dalam bentuk iuran atau pajak. Teori gaya pikul pemungutan pajak didasarkan pada gaya pikul individu dalam masyarakat yaitu dalam tekanan pajak tidak harus sama bersarnya untuk tiap orang, jadi beban pajak harus sesuai dengan pemikul beban. Ukuran kemampuan pikul antara lain penghasilan, kekayaan, dan pengeluaran belanja seseorang.

(5)

14 3. Pengelompokan Pajak

Menurut (S. Munawir, 2000) dalam hukum pajak terdapat berbagai pembedaan jenis- jenis pajak yang terbagi dalam golongan-golongan besar. Pembedaan dan pengelompokan ini mempunyai fungsi yang berlainan pula. Berikut adalah penggolongan pajak:

a. Pengelompokan Pajak Menurut Golongannya dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Pajak Langsung

Adalah pajak yang bebannya harus dipikul sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan, tidak boleh dilimpahkan kepada orang lain, atau menurut pengertian administrasif pajak yang dikenakan secara periodik atau berkala dengan menggunakan kohir. Kohir adalah surat ketetapan pajak dimana wajib pajak tercatat sebagai pembayar pajak dengan jumlah pajaknya yang terhutang, yang merupakan dasar dari penagihan. Misalnya: Pajak Penghasilan. 2) Pajak Tidak Langsung

Adalah pajak yang oleh si penanggung dapat dilimpahkan kepada orang lain, atau menurut pengertian administratif pajak yang dapat dipungut tidak dengan kohir dan pengenaanya tidak secara langsung periodik tergantung ada tidaknya peristiwa atau halyang menyebabkan dikenakannya pajak, misalnya: Pajak Penjualan, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa.

(6)

15 b. Pengelompokan Pajak Menurut Sifatnya dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Pajak Subjektif

Adalah wajib pajak yang memperhatikan pribadi wajib pajak, pemungutannya berpengaruh pada subjeknya, keadaan pribadi wajib pajak dapat mempengaruhi besar kecilnya pajak yang harus dibayar. Misalnya: Pajak Penghasilan.

2) Pajak Objektif

Adalah pajak yang tidak memperhatikan wajib pajak, tidak memandang siapa pemilik atau keadaan wajib pajak, yang dikenakan atas objeknya. Misalnya: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.

c. Pengelompokan Pajak Menurut Lembaga Pemungutnya dibedakan menjadi dua yaitu:

1) Pajak Pusat atau Negara

Adalah pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat yang penyelenggaraannya di daerah dilakukan oleh inspeksi pajak setempat dan hasilnya digunakan untuk pembiayaan rumah tangga negara pada umumnya, yang termasuk dalam pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat adalah:

a) Pajak yang dikelola oleh inspektorat jendral pajak, misalnya: Pajak Penghasilan, pajak kekayaan, pajak pertambahan nilai barang dan jasa, pajak penjualan barang mewah, bea materai, IPEDA, bea lelang.

(7)

16 b) Pajak yang dikelola direktorat moneter, misalnya: pajak

minyak bumi.

c) Pajak yang dikelola direktorat jendral bea cukai, misalnya: bea masuk, pajak eksport.

2) Pajak Daerah

Adalah pajak yang dipungut oleh Daerah beradasarkan peraturan-peraturan pajak yang ditetapkan oleh Daerah untuk kepentingan pembiayaan rumah tangga di daerahnya, misalnya: pajak radio, pajak tontonan.

Dilihat dari sifatnya dan lembaga pemungutnya, Pajak Reklame termasuk pajak yang bersifat obyektif dan merupakan pajak daerah. Argumennya adalah karena obyek pajaknya, penyelenggaraan reklame dan lokasi reklame berada di daerah yang bersangkutan. Orang yang menyelenggarakan reklame secara jelas mengambil keuntungan darinya dan eksternelitas yang mungkin timbul secara jelas mengenai lingkungan sosial dalam alam di wilayah daerah tersebut.

(8)

17 4. Sistem Pemungutan Pajak

Thomas Sumarsan (2012:14) menjelaskan sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi :

a. Official Assessment System

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang.

Ciri-ciri Official Assessment System :

1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang berada pada fiskus.

2) Wajib pajak bersifat pasif.

3) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

b. Self Assessment System

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.

c. Withholding System

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.

(9)

18 B. Otonomi Daerah dan Pendapatan Daerah

Pasal 1 UUD 1945 menetapkan negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Selanjutnya dalam pasal 18 UUD 1945 beserta penjelasannya menyatakan bahwa daerah Indonesia terbagi dalam daerah yang bersifat otonom dan bersifat daerah administrasi. Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumber-sumber daya nasional yang memberikan kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan kinerja daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju masyarakat madani yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Penyelenggaraan pemerintahan daerah juga merupakan subsistem dari pemerintahan negara sehingga antara keuangan daerah dengan keuangan negara akan mempunyai hubungan yang erat dan saling mempengaruhi.

Untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah diperlukan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab di daerah serta secara proporsional diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah. Sumber pembiayaan pemerintahan daerah dalam rangka perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah dilaksanakan atas dasar desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Setiap penyerahan atau pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada daerah dalam rangka desentralisasi dan

(10)

19 dekonsentrasi disertai dengan pengalihan sumber daya manusia dan sarana serta pengalokasian anggaran yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan penyerahan dan pelimpahan kewenangan tersebut. Sedangkan penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dalam rangka tugas pembantuan disertai pengalokasian anggaran.

Dari ketiga jenis pelimpahan wewenang tersebut, hanya pelimpahan wewenang dalam rangka pelaksanaan desentralisasi saja yang merupakan sumber keuangan daerah melalui alokasi dana perimbangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Sedangkan alokasi dana dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam rangka dekonsentrasi dan tugas pembantuan tidak merupakan sumber penerimaan APBD dan di administrasikan serta dipertanggung jawabkan secara terpisah dari administrasi keuangan dalam pembiayaan pelaksanaan desentralisasi.

1. Pajak Daerah

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah, yang dimaksud dengan pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak daerah ini terdiri atas:

(11)

20 a. Pajak Daerah tingkat I (Propinsi)

Contoh: Pajak kendaraan bermotor dan kendaraan diatas air, bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB), pajak bahan bakar kendaraan bermotor dan pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan.

b. Pajak Daerah tingkat II (Kabupaten/Kota)

Contoh: Pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak mineral bukan logam dan batuan, pajak parkir, pajak pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan, pajak sarang burung walet, pajak bumi dan bangunan pedesaan dan perkotaan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. Dalam pengelolaan pemungutan pajak daerah berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Menurut Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah, menyebutkan jenis-jenis pajak daerah Kabupaten/Kotaterdiri dari:

1) Pajak Hotel

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan retribusi Daerah, Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah kamar

(12)

21 lebih dari 10 (sepuluh). Tarif Pajak Hotel ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (Pasal 35 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009). 2) Pajak Restoran

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran. Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering. Tarif Pajak Restoran ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (Pasal 40 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

3) Pajak Hiburan

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah, Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan. Hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran. Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35% (tiga puluh lima persen). Khusus untuk hiburan berupa pagelaran busana, kontes kecantikan, diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi uap/spa, tarif Pajak Hiburan dapat ditetapkan paling tinggi sebesar 75% (tujuh puluh lima persen). Khusus hiburan kesenian rakyat/tradisional dikenakan tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling

(13)

22 tinggi sebesar 10% (Pasal 45 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

4) Pajak Reklame

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame. Reklame adalah benda, alat, perbuatan, atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau untuk menarik perhatian umum terhadap barang, jasa, orang, atau badan, yang dapat dilihat, dibaca, didengar, dirasakan, dan/atau dinikmati oleh umum. Tarif Pajak Reklame ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (Pasal 50 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

5) Pajak Penerangan Jalan

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari sumber lain. Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). Penggunaan tenaga listrik dari sumber lain oleh industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam, tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 3% (tiga persen). Penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri, tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling

(14)

23 tinggi sebesar 1,5% (Pasal 55 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

6) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah pajak atas kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam dan/atau permukaan bumi untuk dimanfaatkan. Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah mineral bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud di dalam peraturan perundang-undangan di bidang mineral dan batubara. Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (Pasal 60 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

7) Pajak Parkir

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara. Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi sebesar 30% (Pasal 65 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

(15)

24 8) Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah. Air Tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan paling tinggi sebesar 20% (Pasal 70 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

9) Pajak Sarang Burung Walet

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Sarang Burung Walet adalah pajak atas kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet. Burung walet adalah satwa yang termasuk marga collocalia, yaitu collocalia fuchliap haga, collocalia maxina, collocalia esculanta,dan collocalia linchi. Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (Pasal 75 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

10) Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk

(16)

25 kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan. Bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah kabupaten/kota. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan pedalaman dan/atau laut. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan paling tinggi sebesar 0,3% (Pasal 80 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009). 11) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak atas perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau Badan. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (Pasal 88 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009).

Selain memungut pajak, Pemerintah Daerah juga bisa memungut retribusi. Adapun yang dimaksud retribusi menurut Undang-undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa yang diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

(17)

26 C. Pajak Reklame

Pajak Reklame adalah salah satu pajak daerah dan salah satu sumber pendapatan asli daerah yang menunujukan posisi strategis dalam hal pendanaan pembiayaan daerah. PAD merupakan bagian dari pendapatan daerah yang salah satunya bersumber dari pajak. Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame. Penyelenggaraan reklame adalah orang atau badan yang menyelenggarakan reklame, baik untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya.

1. Dasar Hukum Pajak Reklame

Dasar hukum pajak reklame pada suatu Kabupaten atau Kota adalah Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah, Peraturan daerah Kota Tangerang Nomor 8 tahun 1999 tentang Pajak Reklame. Asas yang mendasari penagihan dan pembebanan Pajak Reklame, menurut Mardiasmo (2000) meliputi:

a. Memberikan kemudahan dan kesederhanaan. b. Kepastian hukum.

c. Mudah dimengerti dan adil. d. Menghindari pajak berganda.

Pajak Reklame merupakan pajak daerah yang hasil penerimaannya harus seluruhnya diserahkan kepada Daerah Kabupaten/ Kota. Khusus Pajak Reklame yang dipungut oleh pemerintah kota sebagian diperuntukkan bagi pedesaan dan perkotaan di wilayah daerah kabupaten

(18)

27 tempat pemungutan Pajak Reklame. Hasil penerimaan Pajak Reklame tersebut diperuntukan paling sedikit sepuluh persen bagi perdesaan dan perkotaan di wilayah kotamadya yang bersangkutan. Pajak ini dikenakan atas semua penyelenggaraan reklame. Seperti diketahui Pajak Reklame dikenakan atas semua penyelenggaraan reklame, otomatis yang menjadi objeknya adalah semua penyelenggaraan reklame. Reklame adalah benda, alat, perbuatan, media yang menurut bentuk dan corak ragamnya memiliki tujuan komersial, digunakan untuk memperkenalkan, menganjurkan atau memujikan suatu barang, jasa atau orang ataupun untuk menarik perhatian umum kepada suatu barang, jasa atau orang yang ditempatkan atau yang dapatdilihat, dibaca dan atau didengar dari suatu tempat oleh umum, kecuali yang dilakukan oleh pemerintah.

2. Jenis-jenis Reklame

Penyelenggaraan reklame yang ditetapkan menjadi objek Pajak Reklame (Perda Kota Tangerang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pajak Reklame) adalah sebagaimana tersebut di bawah ini:

a. Reklame Papan/Billboard

Reklame yang terbuat dari papan, kayu termasuk seng atau bahan lain yang sejenis, dipasang atau digantung atau dibuat pada bangunan, tembok, dinding, pagar, pohon, tiang dan sebagainya baik bersinar maupun yang disinari.

(19)

28 b. Reklame Megatron/Videotron/Large Electronic Display (LED)

Reklame yang menggunakan layar monitor besar berupa program reklame atau iklan bersinar dengan gambar dan atau tulisan berwarna yang dapat berubah-ubah, terprogram dan difungsikan dengan tenaga listrik.

c. Reklame Kain

Reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan bahan kain, termasuk kertas, plastik, karet atau bahan lain yang sejenis dengan itu. d. Reklame Melekat (Stiker/Poster)

Reklame yang berbentuk lembaran lepas, diselenggarakan dengan cara disebarkan, dipasang, digantung pada suatu benda dengan ketentuan luasnya tidak lebih dari 200 cm2 perlembar.

e. Reklame Selebaran

Reklame yang berbentuk lembaran lepas, diselenggarakan dengan cara disebarkan, diberikan atau dapat diminta dengan ketentuan tidak untuk ditempelkan, diletakkan, dipasang atau digantungkan pada suatu benda lain.

f. Reklame Berjalan

Reklame yang ditempatkan pada kendaraan yang diselenggarakan dengan menggunakan kendaraan atau dengan cara dibawa oleh orang. g. Reklame Udara

Reklame yang diselenggarakan diudara dengan menggunakan gas, laser, pesawat atau alat lain yang sejenis.

(20)

29 h. Reklame Suara

Reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan kata-kata yang diucapkan atau dengan suara yang ditimbulkan dari atau oleh perantara alat.

i. Reklame Film/Slide

Reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan klise berupa kaca atau film, ataupun bahan-bahan sejenis, sebagai alat untuk diproyeksikan dan atau dipancarkan pada layar atau benda lain yang ada di ruangan.

j. Reklame Peragaan

Reklame yang diselenggarakan dengan cara memperagakan suatu barang dengan atau tanpa disertai suara.

D. Pajak Hotel

Hotel adalah bangunan khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap/ istirahat, memperoleh pelayanan, dan atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran termasuk bangunan lainnya yang menyatu di kelola dan dimiliki oleh pihak yang sama kecuali untuk pertokoan dan perkantoran.

1. Dasar Hukum Pajak Hotel

Dasar hukum pajak hotel pada suatu Kabupaten atau Kota adalah Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah, Peraturan daerah Kota Tangerang Nomor 11 tahun 2008 tentang

(21)

30 Pajak Hotel. Asas yang mendasari penagihan dan pembebanan Pajak hotel. Pajak Hotel merupakan pajak daerah yang hasil penerimaannya harus seluruhnya diserahkan kepada Daerah Kabupaten/ Kota. Khusus Pajak Hotel yang dipungut oleh pemerintah kota sebagian diperuntukkan bagi pedesaan dan perkotaan di wilayah daerah kabupaten tempat pemungutan Pajak Hotel. Hasil penerimaan Pajak Hotel tersebut diperuntukan paling sedikit sepuluh persen bagi perdesaan dan perkotaan di wilayah kotamadya yang bersangkutan. Pajak ini dikenakan atas semua pelayanan hotel. Seperti diketahui Pajak Hotel dikenakan atas semua pelayanan hotel, otomatis yang menjadi objeknya adalah semua pelayanan fasilitas dan ruangan untuk kegiatan acara di hotel. Hotel adalah bentuk bangunan, lambang, perusahaan atau badan usaha akomodasi yang menyediakan pelayanan jasa penginapan, penyedia makanan dan minuman serta fasilitas jasa lainnya dimana semua pelayanan itu diperuntukkan bagi masyarakat umum, baik mereka yang bermalam di hotel tersebut ataupun mereka yang hanya menggunakan fasilitas tertentu yang dimiliki hotel itu, kecuali yang dilakukan oleh pemerintah.

2. Jenis-jenis Hotel

Penyelenggaraan hotel yang ditetapkan menjadi objek Pajak Hotel (Perda Kota Tangerang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Pajak Hotel) adalah sebagaimana tersebut di bawah ini:

(22)

31 a. Gubuk Pariwisata (cottage)

b. Motel

c. Wisma Pariwisata d. Pesanggrahan/Hostel e. Losmen

f. Bungalow

g. Rumah Penginapan/Rumah Kost

E. Pajak Hiburan

Pajak hiburan adalah adalah pungutan daerah atas penyelenggaraan hiburan. Hiburan adalah semua jenis pertunjukan, permainan, ketangkasan, dan atau keramaian dengan nama dan bentuk apapun yang ditonton atau dinikmati oleh setiap orang dengan dipungut bayaran, tidak termasuk penggunaan fasilitas untuk berolah raga. Penyelenggara hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan hiburan baik untuk dan atas nama sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya.

1. Dasar Hukum Pajak Hiburan

Dasar hukum pajak hiburan pada suatu Kabupaten atau Kota adalah Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah, Peraturan daerah Kota Tangerang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pajak Hiburan. Asas yang mendasari penagihan dan pembebanan Pajak hiburan. Pajak Hiburan merupakan pajak daerah yang hasil

(23)

32 penerimaannya harus seluruhnya diserahkan kepada Daerah Kabupaten/ Kota. Khusus Pajak Hiburan yang dipungut oleh pemerintah kota sebagian diperuntukkan bagi perdesaan dan perkotaan di wilayah daerah kotamadya tempat pemungutan Pajak Hiburan. Hasil penerimaan Pajak Hiburan tersebut diperuntukan paling tinggi tiga puluh lima persen bagi desa di wilayah kotamadya yang bersangkutan. Pajak ini dikenakan atas semua penyelenggaraan hiburan. Seperti diketahui Pajak Hibran dikenakan atas semua penyelenggaraan hiburan, otomatis yang menjadi objeknya adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran. Hiburan adalah semua jenis pertunjukan, permainan, ketangkasan, dan atau keramaian dengan nama dan bentuk apapun yang ditonton atau dinikmati oleh setiap orang dengan dipungut bayaran, kecuali yang dilakukan oleh pemerintah.

2. Jenis-jenis Hiburan

Penyelenggaraan hiburan yang ditetapkan menjadi objek Pajak Hiburan (Perda Kota Tangerang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pajak Hiburan) adalah sebagaimana tersebut di bawah ini:

a. Pertunjukan film

b. Pertunjukan Kesenian dan Sejenisnya c. Pagelaran Musik dan Tari

d. Diskotik e. Karaoke f. Klub Malam

(24)

33 g. Permainan Billiard h. Permainan Ketangkasan i. Panti Pijat j. Mandi Uap k. Pertandingan Olahraga l. Tempat Rekreasi m. Kolam Renang

n. Persewaan Video Kaset, VCD/DVD, LD

o. Pasar Malam dan Hiburan Umum Komersial lainnya

F. Retribusi Daerah

Menurut UU No. 28 tahun 2009, Retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau badan. Berbeda dengan pajak pusat seperti Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak, Retribusi yang dapat di sebut sebagai Pajak Daerah dikelola oleh Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda).

1. Dasar Hukum Retribusi Daerah

Dasar hukum retribusi daerah pada suatu Kabupaten atau Kota adalah Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah, Peraturan daerah Kota Tangerang Nomor 7 tahun 2010 tentang Retribusi Daerah. Asas yang mendasari penagihan dan

(25)

34 pembebanan Retribusi Daerah. Retribusi Daerah merupakan PAD yang hasil penerimaannya harus seluruhnya diserahkan kepada Daerah Kabupaten/ Kota. Khusus Retribusi Daerah yang dipungut oleh pemerintah kota sebagian diperuntukkan bagi perdesaan dan perkotaan di wilayah daerah kotamadya tempat pemungutan Retribusi Daerah, kecuali yang dilakukan oleh pemerintahan.

2. Jenis-jenis Retribusi Dearah

Penyelenggaraan retribusi daerah yang ditetapkan menjadi objek retribusi daerah adalah sebagai jenis pungutan yang disediakan oleh pemerintah daerah (Perda Kota Tangerang Nomor 7 Tahun 2010 tentang pajak daerah dan Retribusi Daerah). Retribusi daerah terbagi menjadi tiga golongann yaitu:

a. Retribusi Jasa Umum

Objek retribusi ini berupa pelayanan yang disediakan Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Subjeknya adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/menikmati pelayanan jasa umum yang bersangkutan. Prinsip dan sasaran penetapan tarif jenis Retribusi Daerah adalah berdasarkan kebijakan daerah dengan mempertimbangkan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, dan aspek keadilan.

(26)

35 1) Retribusi jasa umum bersifat bukan pajak dan bersifat bukan

retribusi jasa usaha atau perizinan tertentu

2) Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam rangka palaksanaan desentralisasi

3) Jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi Orang Pribadi atau Badan yang diharuskan membayar retribusi, disamping untuk melayani kepentingan dan kemanfaatan umum

4) Jasa tersebut layak dikenakan retribusi

5) Retribusi tidak bertentangan dengan kebijakan nasional mengenai penyelenggaraannya

6) Retribusi dapat dipikul secara efektif dan efisien, serta merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang potensial

7) Pemungutan retribusi memungkinkan penyediaan jasa tersebut dengan tingkat dan atau kualitas pelayanan yang lebih baik.

Retribusi jenis ini misalnya: Retribusi Pelayanan Kesehatan, Retribusi Pelayanan Kebersihan, Retribusi Biaya Cetak KTP dan Akte Catatan Sipil, Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat, Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum, Retribusi Pelayanan Pasar, Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor, Retribusi Pemerikasaan Alat Pemadam Kebakaran, Retribusi Biaya Cek Peta, dan Retribusi Pengujian Kapal Perikanan.

(27)

36 b. Retribusi Jasa Usaha

Objek retribusi ini berupa pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial. Subjeknya adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan/menikmati pelayanan jasa umum yang bersangkutan. Prinsip dan sasaran penetapan tarif jenis Retribusi Daerah adalah berdasarkan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana keuntungan yang pantas diterima oleh pengusaha swasta sejenis yang beroperasi secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.

1) Retribusi Jasa Usaha bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa Umum atau Retribusi Perizinan Tertentu;

2) jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial yang seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai atau terdapatnya harta yang dimiliki/dikuasai Daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh Pemerintah Daerah.

Retribusi jenis ini misalnya: Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah, Retribusi Pasar Grosir/Pertokoan, Retribusi Tempat Pelelangan, Retribusi Terminal, Retribusi Tempat Khusus Parkir, Retribusi Tempat Penginapan, Retribusi Penyedotan Kakus, Retribusi Rumah Potong Hewan, Retribusi Pelayanan Pelabuhan Kapal, Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga, Retribusi Penyeberangan di Atas Air, Retribusi Pengolahan Limbah Cair, dan Retribusi Penjualan Produksi Limbah.

(28)

37 c. Retribusi Perizinan

Objek retribusi ini yaitu kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan SDA, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Subjeknya adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh izin tertentu dari Pemerintah Daerah. Prinsip dan sasaran penetapan tarif jenis Retribusi Daerah adalah berdasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan.

G. Penelitian Terdahulu

NO Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 Rizki Yulianto (2006) “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Reklame di Kota Semarang” Variabel obyek reklame billboard, jumlah penduduk, jumlah industri dan PDRB per kapita berpengaruh positif

dan signifikan

(29)

38 pajak reklame di Kota Semarang. Dari nilai standardized

coefficients diketahui

PDRB merupakan

variabel yang dominan mempengaruhi

penerimaan pajak reklame diikuti

variabel obyek

reklame, jumlah industri dan jumlah penduduk.

2 Hakki (2008) “ penerimaan pajak dan retribusi daerah sebelum

dan pada masa otonomi daerah di Kota Bogor “

hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penerimaan pajak daerah di Kota Bogor sangat dipengaruhi oleh variabel tingkat inflasi. Sedangkan penerimaan retribusi daerah di kota Bogor dipengaruhi oleh

(30)

39 variable tingkat inflasi, uji kendaraan bermotor, dan jumlah pengunjung obyek wisata.

3 Agus Rahmanto

(2007)

“Efektifitas Pajak Hotel dan Kontribusinya terhadap Pajak Daerah di Kabupaten Semarang tahun 2000- 2004”

Efektifitas

pengelolaan pajak hotel

di Kabupaten

Semarang tahun 2000-2004 nilainya terus mengalami

peningkatan dari tahun ke tahun. Kontribusi pajak hotel terhadap pajak daerah sebesar

10,9% sisanya

dipengaruhi oleh unsur pajak daerah yang lain. Efektifitas yang

meningkat akan

dibarengi dengan pengoptimalan potensi yang ada sehingga akan

(31)

40 meningkatkan PAD. 4 Betharia B

Naibaho

Analisis Ekstensifikasi Obyek Pajak Hiburan

Dalam Rangka

Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah studi kasus DKI Jakarta

Bentuk perluasan basis pajak yang sesuai dikarenakan telah bergesernya suatu fungsi olahraga menjadi suatu hiburan yang mengundang banyak masyarakat untuk menikmatinya

H. Kerangka Pemikiran dan Model Konseptual

1. Hubungan Pajak Reklame terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Tangerang.

Potensi ekonomi daerah sangat menentukan dalam upaya meningkatkan kemampuan keuangan daerah bagi penyelenggaraan otonomi daerah. Salah satu komponen pajak daerah yang berlaku pada tingkat Kabupaten/Kota adalah pajak reklame. Sebagai salah satu unsur penerimaan daerah, perlu dilakukan penilaian terhadap penerimaan pajak ini untuk mengetahui keberhasilan pemerintah daerah terutama Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah dalam melaksanakan tugasnya. Dalam mengukur keberhasilan penerimaan pajak, suatu instansi selama ini masih menggunakan sistem target

(32)

41 yakni perbandingan antara rencana anggaran dan realisasi penerimaan. Penggunaan tolak ukur ini masih belum menggambarkan keberhasilan penerimaan pajak yang sesungguhnya. Perlu adanya suatu penilaian yang lebih komprehensif dalam menilai keberhasilan penerimaan pajak reklame dan kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), sehingga penerimaannya dapat lebih ditingkatkan lagi. Sehingga pajak reklame yang ada berpengaruh positif terhadap pendapatan Asli Daerah Kota Tangerang.

H1 : Pajak Reklame berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah kota Tangerang.

2. Hubungan Pajak Hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah kota Tangerang.

Jasa dalam bidang perhotelan yang meliputi penyewaan kamar dan fasilitas hotel yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum dengan memberikan kontrapretasi berupa pembayaran merupakan objek Pajak Daerah dan bukan merupakan objek Pajak Penghasilan Pasal 4 (2) Final. Namun hal ini akan tidak berlaku apabila penyewaan tersebut merupakan penyewaan ruang yang dipunyai oleh hotel namun bukan merupakan fasilitas dari jasa perhotelan sehingga kegiatan penyewaan yang demikian akan menjadi objek Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan Pasal 4 (2). Sehingga pajak hotel berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Kota Tangerang .

(33)

42 H2 : Pajak Hotel berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah kota Tangerang.

3. Hubungan Pajak Hiburan terhadap Pendapatan Asli Daerah kota Tangerang.

Pembangunan Nasional Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur melalui peningkatan taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat dalam rangka mewujudkan tujuan dari pembangunan nasional, maka pelaksanaan pembangunan harus merata diseluruh Tanah Air dan ini tidak terlepas dari adanya pembangunan daerah merupakan bagian yang sangat penting dari pembangunan nasional. Guna memperlancar pembangunan nasional maka perlu digunakan suatu dana yang berasal dari penerimaan Negara yaitu dari Pemungutan Pajak Daerah. Pemungutan Pajak Daerah merupakan perwujudan dari pengabdian dan peran wajib pajak untuk langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan yang diperlukan untuk pembiayaan Negara dan Pembangunan Nasional. Pajak hiburan dapat menambah pemasukan pendapatan khususnya di daerah Kota Tangerang .

H3 : Pajak Hiburan berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah kota Tangerang.

(34)

43 4. Hubungan Retribusi Daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah kota

Tangerang.

Jenis pajak daerah dan retribusi daerah yang dipungut oleh Pemerintah Daerah Kota Tangerang mengalami pasang surut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat tersebut. Sesuai dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi regional, Pemerintah Daerah Kota Tangerang telah memangkas beragam jenis pungutan pajak daerah dan retribusi daerah yang dapat memberikan dampak negatif terhadap perekonomian di daerah. Di samping itu, untuk mempertinggi perolehan pendapatan daerah, khususnya yang berasal dari komponen pajak daerah dan retribusi daerah, Pemerintah Daerah Kota Tangerang telah melakukan perampingan jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah yang dipungutnya dengan menghapus pungutan yang secara ekonomis memberatkan dan tetap memberlakukan pungutan yang secara ekonomi dapat memberikan sumbangan yang signifikan bagi pendapatan daerah.

H4 : Pajak daerah dan retribusi daerah berpengaruh positif terhadap Pendapatan Asli Daerah kota Tangerang.

(35)

44 5. Model Konseptual

Gambar 2.1

Model Konseptual Penelitian

PAJAK REKLAME (X1)

PAJAK HOTEL (X2)

PAJAK HIBURAN (X3)

RETRIBUSI DAERAH (X4)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :