Sanksi Pelanggaran Pasal 113 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Sanksi Pelanggaran Pasal 113

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta

(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). (2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa

izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa

izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana

dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

(4)

The Marriage Season

Linda Lael Miller

(5)

Originally published as The Marriage Season © 2015 Linda Lael Miller

Translation by Elex Media Komputindo as The Marriage Season © 2017

All right reserved including the right of reproduction in whole or in part in any form.

This edition published by arrangement with Harlequin HQN This is a work of fiction. Names, characters, places, and incidents are either the product of the author’s imagination or are used fictitiously, and any resemblance to actual persons, living or dead, business establishment, events, or locales is entirely coincidental. All right reserved.

Alih bahasa: Ine Milasari Hidajat

Hak Cipta Terjemahan Indonesia Penerbit PT Elex Media Komputindo Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang Diterbitkan pertama kali tahun 2017 oleh Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta

717030269

ISBN: 978-602-04-0104-1

Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab percetakan

(6)

Untuk Kate, sang penyelamat hidup. Terima kasih!

(7)

DEDAUNAN MELAYANG TURUN bagaikan hujan dan mengotori jalan dengan warna cerah, merah dan emas pohon aspen. Udaranya dingin, bersih dan segar, aroma musim gugur. Di atas, langit tak berawan, sepenuhnya biru Wyoming.

Cuaca yang sempurna untuk latihan.

Becca “Bex” Stuart melesat melewati pelari lain dengan sebuah anggukan. Jalan itu sibuk di Sabtu pagi ini. Mustang Creek sudah membuat serangkaian jalur kota yang dikhususkan untuk berjalan, bersepeda, dan berlari, dan uang itu, menurutnya, sudah digunakan dengan baik. Dia jelas-jelas memanfaatkan pajak yang dibayarkannya setiap kali punya kesempatan.

Hanya berlari ringan. Itulah targetnya di pagi yang indah ini. Untungnya, berkat bisnisnya, Bex memiliki akses menuju perlengkapan atletik terbaik yang ada, sehingga dia bisa mendapatkan waktu yang akurat. Maraton yang akan datang adalah 42 kilometer seperti biasanya, dan strateginya adalah dengan

(8)

2

Linda Lael Miller

lahan meningkatkan jarak. Kemudian dia akan mulai mengurangi frekuensi latihan. Hari Sabtu yang akan datang seharusnya dia akan siap.

Teman-temannya berpikir dia sudah gila.

Berdasarkan pengalaman, karena ini bukan perlombaan ketahanannya yang pertama, Bex tahu mungkin saja mereka benar. Kilometer ketigapuluh adalah titik di mana kau hanya ingin meninggalkannya dan berhenti, tapi kalau berhasil melewatinya ... kau akan aman.

Teleponnya, ditaruh di celana pendeknya, ber-bunyi.

Sebuah pesan.

Dia bisa membacanya sambil berlari; tetapi dia tidak bisa membalas, tidak tanpa berhenti, dan dia tidak berniat berhenti sekarang.

Itu dari salah seorang sahabat karibnya, Melody, yang baru saja menikah, maka namanya sekarang Mrs. Spencer Hogan.

Temui kami di peternakan untuk makan siang?

Hadleigh dan aku ingin bicara denganmu.

Berdasarkan pedometer mutakhirnya, itu adalah wak-tu yang memungkinkan asal yang mereka maksud adalah sekitar tengah hari. Dia berhasil mengetik OK tanpa menghentikan langkahnya.

(9)

3

The Marriage Season

Jelas selanjutnya dia akan ada mandi sebelum dia duduk bersama manusia lain untuk makan—demi kebaikan mereka. Walaupun udaranya dingin, Bex berkeringat, seperti yang seharusnya, karena kalau tidak berarti dia belum berusaha sekuat tenaga.

“Bex? Bex Stuart?” Suara laki-laki. Familier.

Suara itu menyentakkan Bex keluar dari kabut endorfinnya, membawa dunia di sekelilingnya kembali ke dalam fokus.

Dia baru saja mencapai putaran kedua mengelilingi Pioneer Park, dan tempat itu penuh dengan anak-anak kecil yang berisik, merayakan kehidupan secara umum. Suara laki-laki itu milik Tate Calder, Bex melihat dengan kesal, dua anak lelaki pria itu berada di tengah kerumunan anak-anak yang merayap di seluruh sarana taman bermain.

Seperti biasanya, Tate kelihatan tenang dan tampan dengan parasnya yang bersih, rambut ikal cokelat-kemerahan, dan mata gelap. Pria itu mengenakan jaket kulit dan celana jins yang bagus, sementara dia terbalut dalam pakaian terlusuh yang dimilikinya— dan, tentu saja, juga berkeringat.

Hebat.

“Hai,” kata Bex. Bukan sapaan luar biasa, tapi setidaknya ramah. Sedikit terengah-engah, Bex berlari di tempat, tubuhnya dalam autopilot. Pertahankan

(10)

4

Linda Lael Miller

Sebenarnya itu tidak sulit. Sekadar melihat pria itu sepertinya sudah menimbulkan efek aerobik padanya.

Dia pernah bertemu dengan Tate dua atau tiga kali sebelumnya, karena pria itu adalah teman suami Hadleigh, Tripp, dulu kedua pria itu terbang untuk perusahaan yang sama sebagai pilot sewaan, sebelum Tripp memutuskan sudah waktunya dia menjual perusahaan dan pulang ke Mustang Creek.

Mata gelap Tate tampak geli, tidak melewatkan satu hal pun. “Bagaimana kabarmu?”

“Baik.” Nah, itu baru jawaban pintar. Ya, dia jelas-jelas ahli dalam percakapan, genius dengan kata-kata. Tate menyeringai. “Sepertinya kau sedang buru-buru, jadi aku tidak akan menahanmu. Tripp bilang kau sedang berlatih untuk maraton.” Sebuah jeda singkat yang disengaja. Apa artinya? “Benarkah?”

“Benar,” sahut Bex. Dia berhasil tersenyum kecil, cukup bersahabat, namun goyah. “Senang bertemu denganmu,” katanya, berusaha menjauhkan diri dari pria itu, masih berlari. Masih tidak pergi ke mana pun. “Apa yang bisa kubilang? Kurasa aku penggemar hukuman.” Hebat. Komentar pintar yang lain. Kesal terhadap dirinya sendiri, Bex berlari pergi, mungkin memperbaiki catatan waktunya sedikit, karena dia tidak ingin Tate mengingat dirinya dengan wajah mengilap dan ekor kuda yang berantakan.

Benar-benar beruntung. Atau sial, lebih tepatnya.

(11)

5

The Marriage Season

Tate memang sangat menggoda, Bex tidak dapat menyangkalnya, tapi dia menangkap kesan, nyaris di bawah sadar, bahwa pria itu sama enggannya dengan dirinya untuk terlibat. Istri Tate sudah meninggal, sedangkan Bex sendiri kehilangan Will di Afghanistan—tidak sulit untuk melihat masalah psikologisnya.

Dengan pikiran ruwet, Bex menyelesaikan larinya dan kembali ke rumah. Di sana, dia mandi air panas, mengenakan sweter merah favoritnya serta celana jins hitam dan, mungkin sebagai penghormatan terhadap kekuatan kosmik yang mengendalikan kesombongan, dia menghabiskan beberapa menit tambahan untuk menata rambut dan memulaskan lip gloss.

Puas sudah kelihatan oke, Bex meninggalkan rumah, masuk ke dalam SUV sporty-nya dan, setelah mampir sebentar di pusat kota, bergegas menjumpai Mel dan Hadleigh.

Tiba di peternakan Galloway beberapa menit setelahnya, Bex merasakan sebuah tusukan, suatu sensasi manis-getir di suatu tempat di bagian belakang hatinya. Terselip di antara pegunungan yang menjulang, sungai-sungai sejernih kristal serta pepohonan tua, rumah dan gudang dan bangunan lainnya—bahkan pagar-pagar dan kandang ternaknya—seolah memang seharusnya berada di sana, merupakan bagian yang alami dari pemandangan itu sendiri.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :