KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, maka buku Profil Kesehatan Kota Surabaya Tahun 2013 dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Profil Kesehatan Kota Surabaya merupakan salah satu produk dari Sistem Informasi Kesehatan Kota Surabaya yang dapat dipergunakan untuk memantau dan mengevaluasi indikator kesehatan sebagai bahan masukan penyusunan program-program pembangunan kesehatan di Kota Surabaya.
Kepada semua pihak yang menyumbang pikiran serta tenaganya hingga terbitnya buku Profil Kesehatan Kota Surabaya Tahun 2013 ini sangat kami hargai dan kami ucapkan terima kasih.
Surabaya, Juli 2014
KEPALA DINAS KESEHATAN KOTA SURABAYA
drg. FEBRIA RACHMANITA Pembina Tingkat I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...
DAFTAR ISI ……….
i ii
BAB I PENDAHULUAN BAB I - 1
BAB II GAMBARAN UMUM KOTA
A. B. C. D. E. F. Keadaan Geografi……...………. Kependudukan………..……… Gambaran Umum Dinas……….……….. Visi dan Misi Dinas……….. Program Pembangunan Kesehatan………... Sasaran Pembangunan Kesehatan……….
BAB II-1 BAB II-1 BAB II-2 BAB II-3 BAB II-5 BAB II-7
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN
A. B. C. Mortalitas……….. Morbiditas………...……….. Status Gizi……..……….. BAB III-2 BAB III-4 BAB III-13
BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. B. C. D.
Pelayanan Kesehatan…...………. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan…………. Perilaku Hidup Masyarakat….………. Kesehatan Lingkungan………..…..
BAB IV-1 BAB IV-20 BAB IV-22 BAB IV-25
BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN A. B. C. Sarana Kesehatan…………...……….. Tenaga Kesehatan……… Upaya Kesehatan Perorangan………...
BAB V-1 BAB V-3 BAB V-5 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan……….. B. Saran………. BAB VI-1 BAB VI-1 LAMPIRAN TABEL GRAFIK
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam Pembangunan Nasional Bidang Kesehatan disebutkan bahwa Sistem Informasi Kesehatan perlu dimantapkan dan dikembangkan untuk menunjang pelaksanaan manajemen dan pengembangan upaya kesehatan. Salah satu produk penting dalam Sistem Informasi Kesehatan adalah profil kesehatan.
Profil Kesehatan Kota Surabaya merupakan gambaran situasi Kesehatan di Kota Surabaya yang berisi data atau informasi yang menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di Kota Surabaya. Oleh karena itu Profil Kesehatan Kota Surabaya dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mengevaluasi kemajuan pembangunan kesehatan di Kota Surabaya dan sebagai bahan acuan untuk perencanaan program kesehatan di tahun selanjutnya.
Adapun sistematika penyajian dari Profil Kesehatan Kota Surabaya tahun 2013 adalah sebagai berikut :
Bab I. Pendahuluan terdiri dari, maksud dan tujuan Profil Kesehatan kota serta sistematika penyajian.
Bab II. Gambaran umum Kota Surabaya yang meliputi ; keadaan geografis,
data kependudukan dan gambaran umum Dinas Kesehatan Kota Surabaya.
Bab III. Situasi Derajat Kesehatan yang memuat indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat.
Bab IV. Situasi Upaya Kesehatan yang memuat tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan serta mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal ( SPM ) bidang kesehatan lainnya.
Bab V. Situasi Sumber Daya Kesehatan yang memuat tentang sarana
kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.
BabVI. Kesimpulan dan Saran Lampiran
Berisi tabel-tabel data terkait kesehatan yang responsif gender.
Dengan pembangunan yang lebih intensif, berkesinambungan dan merata dengan ditunjang oleh informasi kesehatan yang tepat dan akurat maka diharapkan derajat kesehatan masyarakat dapat meningkat dan menjangkau seluruh masyarakat.
BAB II
GAMBARAN UMUM KOTA SURABAYA
A.
KEADAAN GEOGRAFILetak Geografis Kota Surabaya berada antara 1120 36’’ dan 1120 54’’ Bujur Timur serta antara 070 12’’ garis Lintang Selatan. Luas wilayah Kota Surabaya 326,37 km2 terdiri dari 31 kecamatan dan 160 kelurahan.
Kota Surabaya terletak di daerah yang strategis sehingga Surabaya dapat dengan mudah dijangkau melalui jalur darat, udara dan laut. Surabaya dibatasi oleh wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Selat Madura
Sebelah Timur : Selat Madura
Sebelah Selatan : Kabupaten Sidoarjo
Sebelah Barat : Kabupaten Gresik
B.
KEPENDUDUKANData kependudukan sangat penting dan mempunyai arti yang strategis dalam pembangunan pada umumnya dan bidang kesehatan pada khususnya, sebab hampir semua kegiatan pembangunan kesehatan obyek sasarannya adalah masyarakat atau penduduk.
Adapun jumlah penduduk kota Surabaya tahun 2013 adalah 2.816.729 jiwa meliputi jumlah penduduk laki-laki 1.390.020 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 1.426.709 jiwa dengan rasio jenis kelamin 97,43 dan rasio beban tanggungan 37,80. Rata-rata anggota keluarga
disetiap rumah tangga sekitar 4 jiwa dengan kepadatan penduduk 8.630 jiwa/km2 (Tabel 1,2,3).
Berdasarkan perbandingan antar jenis kelamin distribusi penduduk komposisinya sebagai berikut : pada kelompok umur 1-4 tahun jumlah laki-laki 93.111 jiwa dan perempuan 88.152 jiwa; pada kelompok umur 15-19 tahun jumlah laki-laki 112.733 jiwa dan perempuan 118.686 jiwa; pada kelompok usia produktif (15 - 44 tahun) penduduk laki laki berjumlah 724.549 jiwa dan perempuan berjumlah 751.075 jiwa. Kelompok umur usia lanjut (> 65 tahun) dari jenis kelamin perempuan menempati jumlah terbesar dibanding dengan usila laki-laki yaitu 74.239 jiwa, sedangkan usila laki-laki sejumlah 59.373 jiwa. (Tabel 2, 3)
Data kependudukan tidak lepas dengan data pendidikan. Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap dijadikan pertimbangan dalam mengukur tingkat pembangunan di suatu negara. Melalui pengetahuan, tingkat pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor pencetus yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku hidup sehat ( Tabel 4-5 ).
C.
GAMBARAN UMUM DINAS KESEHATANDinas Kesehatan sesuai dengan Peraturan Walikota Surabaya Nomor 42 Tahun 2011 tentang Rincian Tugas dan Fungsi Dinas Kesehatan Kota Surabaya mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan azas otonomi dan tugas pembantuan di bidang kesehatan.
Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana tersebut di atas Dinas Kesehatan Kota Surabaya mempunyai fungsi antara lain :
1. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan.
2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum 3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang kesehatan 4. Pengelolaan ketatausahaan Dinas
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah sesuai dengan tugas dan fungsinya
STRUKTUR ORGANISASI DINAS KESEHATAN
KEPALA DINAS KESEHATAN
Jabatan Fungsional Tertentu Sekretariat
UPTD
Sub Bag. Keuangan Dan Perlengkapan Sub Bag. Tata
Usaha Bidang Pelayanan Kesehatan Bidang pengendalian Masalah Kesehatan Seksi Kesehatan Dasar Seksi Kesehatan Rujukan Seksi Kesehatan Khusus Seksi Kesehatan Lingkungan Seksi Pengendalian dan Pemberantasan penyakit Seksi Wabah dan
Bencana Sub Penyusunan Program Seksi Kefarmasian Bidang Pengambangan SDM Kesehatan Seksi Perencanaan SDM Kesehatan Seksi Pendidikan dan Pelatihan SDM Kesehatan
Bidang Jaminan dan Sarana Kesehatan
Seksi Jaminan Kesehatan Seksi Sarana dan
Peralatan Kesehatan Seksi Regstrasi
dan Akreditasi
Catatan : UPTD Meliputi : 1.Puskesmas
2.laboratorium
3. Gudang Farmasi
D. VISI DAN MISI DINAS KESEHATAN KOTA SURABAYA
Berdasarkan pada Visi Kota Surabaya Tahun 2010-2015 yaitu
“Menuju Surabaya Lebih Baik Sebagai Kota Jasa dan Perdagangan yang Cerdas, Manusiawi dan Berwawasan Lingkungan”, serta Misi ke-1
Kualitas Intelektual, Mental-Spiritual, Keterampilan serta Kesehatan Warga secara Terpadu dan Berkelanjutan”, maka dapat dirumuskan Visi,
Misi, Tujuan, Strategi Prioritas Pembangunan Kesehatan dan Sasaran Utama dalam pelaksanaan pembangunan kota Surabaya melalui Dinas Kesehatan Kota Surabaya, sebagai berikut :
1. Visi Dinas Kesehatan Kota Surabaya
Terwujudnya Masyarakat Kota Surabaya Yang Sehat, Cerdas dan Mandiri
2. Misi Dinas Kesehatan Kota Surabaya
Dalam mewujudkan masyarakat kota Surabaya yang sehat, cerdas dan mandiri maka perlu ditempuh misi sebagai berikut :
a. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk hidup sehat;
b. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan yan bermutu dan terjangkau segala lapisan masyarakat;
c. Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan ;
d. Meningkatkan pembiayaan kesehatan ;
e. Meningkatkan pemenuhan, pengembangan dan pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
3. Tujuan Pembangunan Kesehatan
Tujuan yang akan diwujudkan dari misi pertama pada Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kota Surabaya tahun 2010-2015 adalah memfasilitasi peningkatan derajat kesehatan jasmani
dan rohani segenap warga kota dengan mengimplementasikan gagasan pengembangan kota yang sehat, bersih dan hijau.
Sebagai penjabaran dari visi dan misi Dinas Kesehatan Kota Surabaya tahun 2010-2015, maka tujuan yang akan dicapai adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat kota Surabaya yang setinggi-tingginya dengan penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berdaya guna dan berhasil guna.
E. PROGRAM PEMBANGUNAN KESEHATAN DI KOTA
SURABAYA
Program Kerja Dinas Kesehatan tahun 2013 terdiri dari program dan kegiatan yang merupakan tugas dan kewenangan Dinas Kesehatan Kota yang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya Tahun 2010-2015 bidang kesehatan yaitu :
1. Program Upaya Kesehatan Masyarakat
Program ini bertujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Tolok ukur keberhasilan dari program ini adalah meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin dan cakupan kelurahan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) yang ditangani < 24 jam.
Adapun kegiatan pokok dari program tersebut antara lain : Pelayanan kesehatan keluarga miskin
Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular dan penyakit tidak menular
Pengembangan lingkungan sehat
Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya
2. Program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Puskesmas / Puskesmas Pembantu dan Jaringannya
Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan baik kesehatan primer, sekunder maupun tersier. Tolak ukur keberhasilan dari program ini adalah meningkatnya puskesmas induk yang meningkat menjadi puskesmas rawat inap dan puskesmas pembantu yang meningkat menjadi puskesmas induk.
Adapun kegiatan pokok dari program tersebut antara lain : Pengadaan peralatan kesehatan puskesmas
Pengembangan manajemen dan pelayanan puskesmas Peningkatan sarana prasarana puskesmas
Pengadaan obat dan perbekalan puskesmas
3. Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil, bayi dan balita. Tolok ukur keberhasilan program ini adalah meningkatnya cakupan pertolongan persalinan, imunisasi dasar lengkap bagi bayi 0-11 bulan, kunjungan ibu hamil K4, dan kunjungan bayi serta perawatan balita gizi buruk.
Adapun kegiatan pokok dari program tersebut antara lain : Pelayanan kesehatan ibu dan anak
Peningkatan dan perbaikan gizi
Peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.
F. SASARAN PEMBANGUNAN KESEHATAN DI KOTA SURABAYA
Prioritas pembangunan kesehatan di kota Surabaya pada tahun 2010-2015 sesuai dengan visi misi yang telah ditetapkan, difokuskan pada delapan proritas yaitu :
a. Pemberdayaan masyarakat dan promosi kesehatan;
b. Peningkatan kesehatan ibu, bayi, balita dan keluarga berencana (KB); c. Perbaikan status gizi masyarakat;
d. Pengendalian penyakit menular dan penyakit tidak menular serta penyehatan lingkungan;
e. Peningkatan pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas); f. Peningkatan pembiayaan kesehatan yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD);
g. Pemenuhan, pengembangan dan pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan;
h. Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan, keamanan, mutu dan penggunaan obat serta pengawasan obat dan makanan.
Mengacu pada visi, misi dan tujuan pembangunan kesehatan yang telah ditetapkan, maka sasaran yang hendak dicapai atau dihasilkan dalam kurun waktu lima tahun adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk hidup sehat : - Seluruh masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat; - Seluruh kelurahan menjadi kelurahan siaga;
- Seluruh posyandu direvitalisasi; - Seluruh keluarga sadar gizi.
b. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau segala lapisan masyarakat
- Setiap warga masyarakat terutama masyarakat miskin mendapat pelayanan kesehatan yang bermutu;
- Setiap bayi, anak, remaja, ibu hamil, usia lanjut dan kelompok masyarakat resiko tinggi terlindungi dari penyakit;
- Setiap puskesmas dan jaringannya dapat menjangkau dan dijangkau seluruh masyarakat di seluruh wilayah kerjanya;
- Pelayanan kesehatan di setiap rumah sakit, puskesmas dan jaringannya memenuhi standar mutu.
c. Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan
- Setiap kejadian penyakit potensial wabah terlaporkan secara cepat kepada Lurah dan instansi terkait;
- Setiap Kejadian Luar Biasa (KLB) dan wabah tertanggulangi secara cepat dan tepat sehingga tidak menimbulkan dampak kesehatan masyarakat;
- Berfungsinya Sistem Informasi Kesehatan yang evidence based dan terintegrasi di seluruh puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya.
d. Meningkatkan pembiayaan kesehatan
- Pembangunan kesehatan memperoleh prioritas penganggaran pemerintah daerah;
- Anggaran kesehatan pemerintah, diutamakan untuk upaya pencegahan dan promosi kesehatan tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif;
- Terciptanya sistem jaminan pembiayaan kesehatan terutama bagi masyarakat miskin.
e. Meningkatkan dan mendayagunakan sumber daya kesehatan
- Tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan yang kompeten di setiap kelurahan;
- Tersedianya obat essensial dan alat kesehatan yang cukup di setiap kelurahan;
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana prasarana kesehatan, melainkan
juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan dan lain-lain.
Bab ini berisi gambaran tentang derajat kesehatan antara lain uraian tentang indikator-indikator mortalitas, morbiditas dan status gizi. Mortalitas dilihat dari indikator Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI) per 100.000
kelahiran hidup, dan Angka Kematian karena penyakit.
Morbiditas atau angka kesakitan dapat dilihat dari indikator Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per 100.000 penduduk, persentase penderita HIV/AIDS terhadap penduduk berisiko dan Angka “Acute Flacid Paralysis” (AFP) pada anak usia < 15 tahun per 100.000 anak, Angka Penderita TB Paru BTA positif dan lain-lainnya.
Status gizi dilihat dari indikator persentase bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), persentase balita dengan gizi buruk, persentase Kecamatan Bebas Rawan Gizi, persentase balita yang naik berat badannya dan
persentase balita dengan berat badan dibawah garis merah (BGM) dan lain-lainnya.
A. MORTALITAS
Mortalitas merupakan angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu yang diakibatkan oleh keadaan tertentu, dapat berupa penyakit maupun karena sebab lain.
1. Angka Kematian Bayi (AKB)
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Angka kematian bayi (AKB) dapat didefinisikan sebagai banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Banyak faktor yang menjadi penyebab kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Angka Kematian Bayi tahun 2013, di Kota Surabaya sebesar 6,18 per 1.000 kelahiran hidup (Tabel 7). Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan penurunan AKB dari 7,66 per 1.000 kelahiran hidup (tahun 2012) menjadi 6,18 per 1.000 kelahiran hidup.
2. Angka Kematian Anak Balita
Angka kematian anak balita (AKABA) merupakan jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1000 kelahiran hidup. Angka Kematian Anak Balita (AKABA) di Kota Surabaya tahun 2013 menunjukkan bahwa Angka Kematian Anak Balita (AKABAL) sebesar 1,19 per 1000 kelahiran hidup (Tabel 7).
3. Angka Kematian Ibu Maternal ( AKI )
Angka Kematian Ibu (AKI) juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Angka Kematian Ibu (AKI) menggambarkan jumlah ibu atau wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.
Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan status
gizi dan kesehatan ibu, kondisi lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan
terutama untuk ibu hamil, ibu waktu melahirkan dan masa nifas. Angka Kematian Ibu (AKI) di Kota Surabaya tahun 2013 sebesar 119,15 per 100.000 kelahiran hidup (Tabel 8). Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya,
menunjukkan penurunan AKI yaitu 144,64 per100.000 kelahiran hidup (tahun 2012) menjadi 119,15 per100.000 kelahiran hidup (tahun 2013).
B.
MORBIDITAS ( Angka Kesakitan )Angka kesakitan pada penduduk berasal dari community based data yang diperoleh melalui pengamatan (surveilans) dan data yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan melalui sistim pencatatan dan pelaporan rutin dan insidentil.
Morbiditas dapat diartikan sebagai angka kesakitan, baik insiden maupun prevalensi dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.
1. Penyakit Tuberkulosis Paru ( TB-Paru )
Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri Micobacterium tuberkulosa yang lebih sering menginfeksi organ paru-paru dibanding organ tubuh lainnya. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. Penyakit ini memerlukan waktu pengobatan yang cukup lama sehingga memiliki tingkat kegagalan pengobatan yang cukup tinggi. Penyakit ini masih menjadi salah satu penyebab kematian di masyarakat yang cukup tinggi sehingga sangat perlu diwaspadai.
Jumlah kasus penyakit TB paru kasus baru di Kota Surabaya pada tahun 2013 sebanyak 3.607 orang (Tabel 10). Ada penurunan jumlah kasus baru dibanding tahun lalu. Sedangkan jumlah penemuan kasus TB Paru BTA positif tahun 2013 di Kota Surabaya sebanyak 2.070 orang, dengan Angka Penemuan Kasus ( CDR ) sebesar 68,70%, Angka kesuksesan ( Success Rate ) sebesar 78,74%. (Tabel 10 A,11, 11 A, 12).
2. Penyakit Pneumonia pada Balita
Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli), dan mempunyai gejala batuk, sesak napas, ronkhi, dan infiltrat pada foto rontgen. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).
Pada tahun 2013 jumlah kasus pneumonia balita yang ditemukan sebanyak 4.665 kasus (20,78%) dari 22.454 perkiraan balita yang menderita pneumonia. Seluruh kasus pneumonia balita yang ditemukan telah ditangani sesuai standar. Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya terlihat ada penurunan kasus pneumonia balita yang ditemukan dari 29,18% (tahun 2012) menjadi 20,78% (tahun 2013) (Tabel. 13).
Program penemuan penderita pneumonia balita masih terus ditingkatkan karena penyakit ini menjadi penyebab kematian pada balita nomor dua (dua) setelah diare. Keterlambatan penanganan kasus pneumonia pada balita masih menjadi faktor penyebab tingginya angka kematian balita akibat pneumonia. Untuk itu perlu digiatkan penyuluhan pada masyarakat tentang gejala atau tanda awal pneumonia dan bahaya yang mengancam balita bila terlambat menanganinya. Kemampuan petugas dalam mendiagnosa secara dini penyakit ini mutlak diperlukan supaya tidak ada keterlambatan penanganan. Kualitas lingkungan, status gizi, maupun perilaku pengasuhan merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kasus pneumonia pada balita.
3. HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)
Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan Human Immunodeficiency (HIV) yang menyerang sistem kekebalan manusia, yang menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain. Penyakit ini ditularkan melalui cairan tubuh penderita yang terjadi melalui proses hubungan seksual, transfusi darah, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi secara bergantian dan penularan dari ibu ke anak dalam kandungan melalui plasenta dan kegiatan menyusui.
Pada tahun 2013 ditemukan 501 kasus HIV dengan rincian penderita laki-laki 259 orang, penderita perempuan 242 orang. Sedangkan kasus AIDS di Kota Surabaya sebanyak 253 orang dengan rincian penderita laki-laki 179 orang dan penderita perempuan 74 orang. Jumlah kematian akibat AIDS dikota Surabaya ada 38 orang (Tabel 14).
Infeksi Menular Seksual adalah penyakit yang biasa ditularkan melalui hubungan seksual antara lain Gonorheae, Siphilis dan Kondiloma. Jumlah pengidap penyakit Infeksi Menular Seksual di Kota Surabaya sebanyak 10.184 orang dengan rincian penderita laki-laki 1.220 orang dan penderita perempuan 8.964 orang (Tabel 14).
Upaya pelayanan kesehatan dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS dan IMS ditujukan pada upaya pencegahan melalui penemuan penderita secara dini melalui klinik VCT (untuk kasus HIV/AIDS) dan
penanganan penderita yang ditemukan. Upaya pencegahan dalam
penanggulangan penyakit HIV/AIDS antara lain melalui skrining donor darah terhadap virus HIV pada UPTD PMI. Pada tahun 2013, jumlah pendonor darah
117.875 dan perempuan 24.260 orang (Tabel 15). Dari pendonor darah yang ada telah semuanya diperiksa (100%) (Tabel 15).
4. Penyakit Diare
Penyakit diare adalah penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya (umumnya tiga atau lebih dalam sehari). Penyakit ini dapat digolongkan penyakit ringan, tetapi jika terjadi secara mendadak dan tidak mendapatkan perawatan yang tepat maka diare dapat berakibat fatal terutama apabila diare tersebut terjadi pada anak-anak.
Penyakit diare di Kota Surabaya pada tahun 2013 sebanyak 95.105 kasus dari 60.278 perkiraan kasus yang ada atau sebesar 157,78%. Semua
kasus diare yang ditemukan telah mendapatkan penanganan sesuai standar (Tabel 16).
Kondisi iklim yang tidak menentu, rendahnya kebersihan lingkungan dan perorangan juga berperan dalam peningkatan kasus diare pada balita. Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat merupakan salah satu cara yang cukup efektif dalam menurunkan kasus diare.
5. Penyakit Kusta
Penyakit kusta atau yang sering disebut penyakit lepra, adalah suatu penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak dan mata. Diagnosis kusta dapat ditegakkan dengan kondisi sebagai berikut :
- Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot
- Adanya kuman tahan asam didalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif ) Penderita penyakit kusta dibedakan menjadi dua menurut jenis penyakit kustanya, yaitu penderita kusta PB atau Pausi Basiler dan MB atau
Multi Basiler. Indikator dalam penanggulangan penyakit kusta yaitu penemuan
kasus MB, kasus kusta pada anak dan kecacatan tingkat 2. Penemuan kasus MB menunjukkan berapa banyak pasien kusta yang berpotensi menjadi sumber penularan karena kusta tipe MB adalah kusta yang lebih menular.
Pada tahun 2013 jumlah kasus baru penderita kusta Pausi Basiler di Kota Surabaya yaitu sebanyak 10 orang, dengan rincian penderita laki-laki 6 orang, dan penderita perempuan 4 orang. Sedangkan penderita kusta kasus baru
Multi Basiler di Kota Surabaya tahun 2013 diketahui berjumlah 121 orang
dengan rincian penderita laki-laki 86 dan perempuan 35 orang (Tabel 17). Penderita kasus baru kusta usia 0-14 tahun berjumlah 11 orang dengan jumlah kecacatan tingkat 2 sebanyak 13 orang (Tabel 18). Prevalensi penyakit kusta di kota Surabaya tahun 2013 sebesar 0,53 per 10.000 penduduk ( Tabel 19 ).
Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit kusta dilakukan melalui penemuan penderita secara pasif dan aktif, pengobatan dengan Multi
Drugs Therapy (MDT). Untuk mencegah kecacatan penderita dilakukan
pemeriksaan Prevention of Disability (POD) setiap bulan selama masa pengobatan dan rehabilitasi medis. Pada tahun 2013, penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan tepat waktu ( Release From Treatment/RFT ) untuk kusta Pausi Basiler sebesar 93,33 %, sedangkan untuk kusta Multi Basiler sebesar 77,22 % ( Tabel 20 ).
6. Penyakit Demam Berdarah Dengue
Penyakit Demam Berdarah Dengue atau Dengue Haemorrhagic
Fever (DHF) merupakan salah satu penyakit yang sampai saat ini masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat karena perjalanan penyakitnya cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue yang penularannya melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti betina. Nyamuk ini mempunyai kebiasaan menggigit pada saat
pagi dan sore hari. Tempat perkembang biakannya di tempat penampungan air yang bersih.
Pada tahun 2013, jumlah pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Surabaya sebanyak 2.207 orang dengan rincian penderita laki-laki 1.102 orang dan perempuan 1.105 orang. Sedangkan kasus meninggal pada pasien DBD sebanyak 19 orang, dengan CFR 0,86 % (Tabel 23). Upaya mencegah penularan penyakit DBD yang tepat adalah dengan Pemberantasan Sarang Jentik Nyamuk (PSJN) melalui 3 M Plus (Menguras, Menutup, Membersihkan lingkungan dan Plus menghindari gigitan nyamuk Aedes
Aegypti).
7. Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi ( PD3I )
Penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas atau ditekan dengan imunisasi. PD3I antara lain penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus, Tetanus Neonatorum, Campak, Polio dan Hepatitis B.
a. Penyakit Difteri
Difteri adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh bakteri
Coryne bacterium diptheriae dengan gejala awal adalah demam 38°C,
pseudomembrane (selaput tipis) putih keabuan pada tenggorok (laring, faring, tonsil) yang tak mudah lepas dan mudah berdarah. Dapat disertai nyeri menelan, leher bengkak seperti leher sapi (bullneck) dan sesak nafas disertai bunyi (stridor).
Difteri merupakan salah satu dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Di Kota Surabaya pada tahun 2013 terdapat 83 kasus difteri, dengan rincian penderita laki-laki 52 orang, penderita perempuan 31 orang dengan kasus kematian atau Case Fatality Rate (CFR) sebanyak 3 orang (3,61 %) (Tabel 21).
b. Penyakit Pertusis
Penderita penyakit pertusis atau batuk rejan merupakan infeksi saluran nafas yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertussis. Gejala pertusis berupa batuk beruntun disertai tarikan nafas hup (whoop) yang khas dan muntah. Lama batuk bisa 1 – 3 bulan sehingga disebut batuk 100 hari. Penyakit ini biasanya terjadi pada anak berusia di bawah 1 tahun dan penularannya melalui droplet atau batuk penderita. Pada tahun 2013, di Kota Surabaya tidak ditemukan penderita pertusis (Tabel 21).
c. Tetanus Neonatorum ( TN )
Tetanus Neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk ke tubuh melalui luka. Penyakit ini menginfeksi bayi baru lahir (umur < 28 hari) yang salah satu disebabkan oleh pemotongan tali pusat dengan
kematian. Penanganan Tetanus Neonatorum tidak mudah, sehingga yang terpenting adalah upaya pencegahan melalui pertolongan persalinan yang higienis dan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) ibu hamil serta perawatan tali pusat. Pada tahun 2013, di Kota Surabaya tidak dijumpai penyakit tetanus neonatorum (tetanus yang menyerang pada bayi umur < 28 hari) (Tabel 21).
d. Penyakit Campak
Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus measles, yang disebarkan melalui droplet bersin/batuk dari penderita. Gejala awal penyakit ini adalah demam, bercak kemerahan, batuk pilek, mata merah selanjutnya timbul ruam diseluruh tubuh. Sebagaian besar kasus campak menyerang anak-anak.
Pada tahun 2013 dilaporkan suspek campak sebanyak 645 kasus yang diperoleh dari pengamatan secara klinis dan tercatat dalam laporan yang dirinci berdasarkan jenis kelamin laki-laki 271 orang dan perempuan 374 orang. Apabila dibandingkan jumlah kasus pada tahun sebelumnya
menunjukkan adanya penurunan kasus dari 717 ( tahun 2012 ) menjadi 645 ( tahun 2013 ) (Tabel 22).
e. Acute Flaccid Paralysis ( AFP )
Untuk meningkatkan sensitifitas penemuan kasus Polio, maka pengamatan dilakukan pada semua kelumpuhan yang terjadi secara akut dan sifatnya flaccid (layuh), seperti kelumpuhan pada poliomyelitis. Penyakit-penyakit yang mempunyai sifat kelumpuhan seperti poliomielitis disebut kasus
Acute Flaccid Paralysis (AFP). Target penemuan AFP adalah ≥ 2 per100.000
Penemuan kasus AFP dengan melakukan survey aktif ke rumah sakit, melalui laporan W1 dan melalui telepon. Pada tahun 2013 di Kota Surabaya ditemukan 17 kasus AFP non polio (AFP Rate Non Polio 2,66 per100.000 penduduk usia kurang dari 15 tahun), kemudian dilakukan pemeriksaan lanjutan setelah 60 hari kelumpuhan terjadi. Pemeriksaan tersebut dilaksanakan oleh petugas surveilans bekerjasama dengan dokter spesialis Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Hasil pemeriksaan lanjutan pada 17 kasus AFP tahun 2013 yaitu tidak ditemukannya polio. Apabila dibandingkan tahun 2012 menunjukkan penurunan kasus AFP non polio dari 50 kasus menjadi 17 kasus pada tahun 2013. (Tabel 9, 22)
f. Hepatitis B
Penyakit Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan serta merusak sel-sel organ hati manusia. Hepatitis diketegorikan dalam beberapa golongan, diantaranya hepetitis A,B,C,D,E,F dan G. Di Indonesia penderita penyakit Hepatitis umumnya cenderung lebih banyak mengalami golongan hepatitis B dan hepatitis C.
Di Kota Surabaya tahun 2013, pada hasil pemeriksaan di puskesmas se-Kota Surabaya, tidak ditemukan kasus hepatitis B. Sedangkan pada kasus hepatitis klinis ditemukan 58 kasus dengan persebaran penderita laki-laki 39 orang sedangkan penderita perempuan 19 orang. Apabila dibandingkan pada tahun 2012 menunjukkan adanya penurunan kasus dari 211 menjadi 58 kasus ( tahun 2013 ) (Tabel 22).
1. Penyakit – Penyakit Lain
Penyakit-penyakit lain yang mendapat perhatian di Kota Surabaya antara lain penyakit malaria dan penyakit filariasis. Penyakit malaria yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus plasmodium, dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas, dingin, menggigil) serta demam berkepanjangan. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk dari golongan Anopheles. Pada tahun 2013 ditemukan pasien penyakit malaria melalui pemeriksaan sediaan darah positif di Kota Surabaya sebanyak 5 orang. Kasus Malaria yang dirawat di Rumah Sakit Kota Surabaya merupakan kasus kronik yang berasal dari luar Surabaya ( Tabel 24, 24 A ).
Penyakit Filariasis (kaki gajah) adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Pada tahun
2013 di Kota Surabaya ditemukan penderita penyakit Filariasis sebanyak 1 kasus (Tabel 25).
C. STATUS GIZI
Menurut Gibson (1990), menyatakan status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan utilisasinya. Keadaan gizi yang baik merupakan prasyarat utama dalam mewujudkan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas. Masalah gizi terjadi di setiap siklus kehidupan, dimulai sejak dalam kandungan (janin), bayi, anak, dewasa dan usia lanjut.
Faktor penyebab status gizi terbagi menjadi dua yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung yaitu konsumsi makanan dan penyakit infeksi yang mungkin diderita. Sedangkan penyebab
tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan.
Status gizi seseorang sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum, karena di samping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individu. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusu sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui.
1. Status Gizi Bayi
Status gizi sangat erat kaitannya dengan kesehatan individu. Status gizi janin ditentukan oleh kesehatan ibu waktu hamil, sehingga akan berpengaruh pada berat badan bayi waktu lahir. Berat badan lahir bayi akan berpengaruh pada status gizi bayi.
Status gizi harus selalu dipantau sejak dalam kandungan sampai masa remaja. Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orang tua. Parameter yang umum digunakan untuk menentukan status gizi pada balita adalah berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Lingkar kepala sering digunakan sebagai ukuran status gizi untuk menggambarkan perkembangan otak.
Hal ini penting dilakukan karena status gizi akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan otak dan pertumbuhan fisik seseorang. Demikian pula dengan bayi. Bayi sejak lahir harus selalu dipantau perkembangan dan pertumbuhannya. Salah satu cara untuk memantau perkembangan dan pertumbuhan bayi melalui pemeriksaan kesehatan rutin di sarana kesehatan yang ada di Kota Surabaya.
Salah satu cara pengukuran status gizi yang umum digunakan melalui penimbangan berat badan dan kemudian dibandingkan dengan umur maupun dibandingkan dengan tinggi badan.
Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, penyakit yang diderita, status gizi dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di Kota Surabaya tahun 2013 sebesar 2,64 % dari 45.041 bayi lahir yang ditimbang dengan rincian bayi BBLR laki-laki 611 orang dan perempuan 576 orang. Apabila dibandingkan jumlah kasus BBLR pada tahun 2012 menunjukkan penurunan sebesar 0,07 % pada tahun 2013 (Tabel 26).
2. Status Gizi Balita
Salah satu indikator kesehatan pada anak usia di bawah lima tahun (balita) dapat dilihat dari status gizi. Parameter yang umum digunakan untuk menentukan status gizi pada balita adalah berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Lingkar kepala sering digunakan sebagai ukuran status gizi untuk menggambarkan perkembangan otak. Sementara parameter status gizi balita yang umum digunakan di Indonesia adalah berat badan menurut umur, dan berat badan menurut tinggi badan. Parameter ini biasanya dipakai di posyandu.
Jumlah balita di Kota Surabaya tahun 2013 adalah sebesar 224.543 anak dan dari jumlah tersebut yang melakukan penimbangan bulanan di posyandu adalah 171.334 balita (76,30%). Apabila dibandingkan dengan tahun 2012, menunjukkan adanya peningkatan jumlah balita yang ditimbang di
yang berada di bawah garis merah (BGM) adalah 1.812 balita (1,06 %) (Tabel 44). Apabila dibandingkan dengan tahun 2012 menunjukkan adanya penurunan kasus BGM sebesar 0,4 % ditahun 2013. Pengukuran status gizi balita ini menurut perhitungan BB/U ( Tabel 44, 44 A ).
Sedangkan balita yang mempunyai status gizi buruk menurut perhitungan BB/TB dari hasil survey Pemantauan Status Gizi (PSG) sebesar 0,27% atau 444 balita dari 164.022 balita yang disurvey. Apabila dibandingkan dengan tahun 2012, menunjukkan adanya penurunan kasus balita status gizi buruk sekitar 0,11 %. Dari 444 balita gizi buruk yang ditemukan semuanya telah ditangani 100% ( Tabel 45 ).
Penurunan kasus balita BGM dan balita gizi buruk dengan indikator BB/TB menunjukkan bahwa pemerintah Kota Surabaya telah berupaya secara optimal melalui program-program kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di posyandu melalui pemberian makanan tambahan bagi balita gizi buruk, PMT-Pemulihan di posyandu, kegiatan pendampingan keluarga balita gizi buruk dan lain sebagainya. Penurunan prevalensi gizi buruk dari tahun ke tahun telah
menunjukkan keseriusan pemerintah Kota Surabaya dalam upaya
BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. PELAYANAN KESEHATAN
Pada tahun 2013 jumlah Puskesmas yang ada di Kota Surabaya adalah 62 Puskesmas, yaitu 19 Puskesmas dengan perawatan dan 43 Puskesmas tanpa perawatan. Adapun Puskesmas Perawatan tersebut adalah:
1. Puskesmas Medokan Ayu;
2. Puskesmas Banyu Urip;
3. Puskesmas Jagir;
4. Puskesmas Tanah Kali Kedinding;
5. Puskesmas Sememi;
6. Puskesmas Balongsari;
7. Puskesmas Tanjungsari;
8. Puskesmas Manukan Kulon;
9. Puskesmas Pakis;
10. Puskesmas Simomulyo; 11. Puskesmas Dupak; 12. Puskesmas Kedurus;
13. Puskesmas Krembangan Selatan; 14. Puskesmas Gunung Anyar; 15. Puskesmas Sidotopo Wetan ; 16. Puskesmas Wiyung ;
17. Puskesmas Mulyorejo ; 18. Puskesmas Siwalankerto ; 19. Puskesmas Dukuh Kupang.
Untuk meningkatkan mutu jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, maka Dinas Kesehatan Kota Surabaya melakukan beberapa terobosan, antara lain dengan meningkatkan fungsi Puskesmas menjadi :
► Poli Sexual Transmited Diseases adalah sarana kesehatan yang khusus melayani pemeriksaan kesehatan pada kelompok risiko tinggi tertular Penyakit Menular Seksual (PMS). Di Kota Surabaya sampai dengan tahun 2013 terdiri dari 14 Puskesmas yaitu :
1. Puskesmas Putat Jaya ; 2. Puskesmas Perak Timur ; 3. Puskesmas Dupak ; 4. Puskesmas Sememi ; 5. Puskesmas Jagir ; 6. Puskesmas Kedurus ; 7. Puskesmas Kedung Doro ; 8. Puskesmas Pucang Sewu ; 9. Puskesmas Kalirungkut ; 10. Puskesmas Tanjungsari ; 11. Puskesmas Sawahan ; 12. Puskesmas Kenjeran ;
13. Puskesmas Morokrembangan ; 14. Puskesmas Tanah Kali Kedinding.
► Puskesmas Sore Hari adalah Puskesmas yang melakukan pelayanan pada sore hari sesuai dengan Peraturan Walikota Surabaya Nomor 29 Tahun 2013 dengan jam kerja mulai 14.30 – 17.30 WIB. Di Kota Surabaya sampai dengan tahun 2013 terdiri dari 38 Puskesmas yaitu ;
1. Puskesmas Tanah Kali Kedinding ;
4. Puskesmas Dupak ;
5. Puskesmas Wonokusumo ;
6. Puskesmas Tanjungsari ;
7. Puskesmas Tembok Dukuh ;
8. Puskesmas Tambak Rejo ;
9. Puskesmas Perak Timur ;
10. Puskesmas Krembangan Selatan ; 11. Puskesmas Rangkah ;
12. Puskesmas Pakis ; 13. Puskesmas Sawahan ; 14. Puskesmas Jagir ;
15. Puskesmas Manukan Kulon ; 16. Puskesmas Tenggilis ; 17. Puskesmas Wiyung ; 18. Puskesmas Kedurus ;
19. Puskesmas Sidotopo Wetan ; 20. Puskesmas Kedungdoro ; 21. Puskesmas Putat Jaya ; 22. Puskesmas Sememi ; 23. Puskesmas Simolawang ; 24. Puskesmas Balongsari ; 25. Puskesmas Banyu Urip ; 26. Puskesmas Asemrowo ; 27. Puskesmas Menur ; 28. Puskesmas Mojo ; 29. Puskesmas Ngagelrejo ; 30. Puskesmas Sidosermo ; 31. Puskesmas Simomulyo ; 32. Puskesmas Mulyorejo ; 33. Puskesmas Jeruk ;
35. Puskesmas Medokan Ayu ; 36. Puskesmas Pucangsewu ; 37. Puskesmas Gunung Anyar ; 38. Puskesmas Jemursari.
► Puskesmas dengan Poli Paliatif adalah Puskesmas yang mempunyai poli perawatan kesehatan terpadu yang bersifat aktif dan menyeluruh, dengan pendekatan multi disiplin yang terintegrasi, tujuannnya untuk mengurangi penderitaan pasien kanker, memperpanjang usia pasien, meningkatkan kualitas hidupnya, juga memberikan support kepada keluarganya. Salah satu kegiatan dalam poli paliatif antara lain pendampingan pasien kanker, baik saat pasien berobat ke rumah sakit, puskesmas maupun dalam kunjungan ke rumah.
Poli paliatif di Puskesmas wilayah Kota Surabaya ada 4 Puskesmas antara lain :
1. Puskesmas Balongsari 2. Puskesmas Gading 3. Puskesmas Rangkah 4. Puskesmas Pacar Keling
► Puskesmas dengan Poli Pengobatan Tradisional (BATRA) adalah Bentuk pelayanan pengobatan tradisional di Puskesmas, antara lain penyediaan tenaga D3 Battra di Puskesmas, penyuluhan Battra kepada kader, pelatihan resep herbal, pengembangan TOGA serta pengobatan tradisional akupuntur dan akupresure di Puskesmas.
Poli pengobatan tradisional (BATRA) di Kota Surabaya pada tahun 2013 ada 20 puskesmas meliputi :
1. Puskesmas Puskesmas Medokan Ayu ;
2. Puskesmas Gundih;
5. Puskesmas Banyu Urip;
6. Puskesmas Simomulyo;
7. Puskesmas Peneleh;
8. Puskesmas Tanah Kali Kedinding;
9. Puskesmas Keputih;
10. Puskesmas Jemursari ; 11. Puskesmas Ketabang ; 12. Puskesmas Sawahan ; 13. Puskesmas Pucang Sewu ; 14. Puskesmas Sidotopo Wetan ; 15. Puskesmas Sememi ; 16. Puskesmas Siwalankerto ; 17. Puskesmas Jeruk ; 18. Puskesmas Tambakrejo ; 19. Puskesmas Tenggilis ; 20. Puskesmas Morokrembangan.
► Puskesmas dengan Pelayanan Santun Lansia merupakan suatu bentuk kegiatan yang memberikan rasa kenyamana bagi Lansia saat berkunjung ke Puskesmas dengan cara memperioritaskan dan memberikan tempat tersendiri dalam memberikan pelayanan kepada Lansia di Puskesmas. Puskesmas yang dilengkapi dengan pelayanan Santun Lansia, antara lain :
1. Puskesmas Medokan Ayu; 2. Puskesmas Balongsari; 3. Puskesmas Gunung Anyar.
► Puskesmas dengan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED), di kota Surabaya tahun 2013 meliputi :
1. Puskesmas Tanjungsari ; 2. Puskesmas Simomulyo ;
4. Puskesmas Sememi ;
5. Puskesmas Tanah Kali Kedinding ; 6. Puskesmas Medokan Ayu ;
7. Puskesmas Banyu Urip ; 8. Puskesmas Jagir.
► Puskesmas dengan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja ( PKPR ) di kota Surabaya tahun 2013, meliputi :
1. Puskesmas Tambakrejo ; 2. Puskesmas Peneleh ; 3. Puskesmas Rangkah ; 4. Puskesmas Balongsari ; 5. Puskesmas Jagir ; 6. Puskesmas Pegirian ; 7. Puskesmas Medokan Ayu ;
8. Puskesmas Tanah Kali Kedinding ; 9. Puskesmas Kedung Doro ;
10. Puskesmas Mulyorejo ; 11. Puskesmas Simomulyo ; 12. Puskesmas Gayungan ; 13. Puskesmas Putat Jaya.
Bentuk kegiatan Puskesmas dengan PKPR ini meliputi konseling, pelayanan gizi, kesehatan reproduksi dan pengetahuan tentang HIV dan AIDS.
Puskesmas dengan pelayanan PKPR ini telah dilengkapi dengan tersedianya tenaga Psikolog yang kompeten.
1. Pelayanan Kesehatan Bagi Bayi dan Balita
Pelayanan kesehatan bagi bayi dan balita selain pemeriksaan kesehatan rutin, juga pemberian suplemen-suplemen yang dibutuhkan oleh bayi dan balita yang ada di Kota Surabaya. Kunjungan neonatus adalah kontak neonatus (0 – 28 hari) dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standart pada masa 6 jam sampai dengan 28 hari setelah kelahiran, minimal 3 kali 6 jam sampai dengan 48 jam setelah lahir, minimal 1 kali pada hari ke 3 sampai dengan 7 dan hari ke 8 – 28 minimal 1 kali.
Faktor mobiliasi penduduk Kota Surabaya yang cukup tinggi dapat mempengaruhi kunjungan bayi neonatus dan bayi. Kunjungan bayi neonatus (KN 1) untuk bayi berusia < 28 hari di sarana kesehatan yang meliputi puskesmas, rumah sakit, rumah bersalin atau rumah sakit bersalin yang ada di Kota Surabaya tahun 2013 sebesar 101,84 % dari 43.280 bayi yang ada di Kota
Surabaya dengan rincian laki-laki 100,82 % dan perempuan 102,88 % (Tabel 36). Sedangkan kunjungan bayi (KN lengkap) di sarana kesehatan yang
ada di Kota Surabaya pada tahun 2013 sebesar 97,56 % dengan sebaran laki-laki 96,75 % dan perempuan 98,40 %. Apabila dibandingkantahun 2012, capaian kunjungan bayi ( KN lengkap ) menunjukkan peningkatan sebesar 11,59 % pada tahun 2013 (Tabel 36). Sedangkan kunjungan bayi minimal 4 kali disarana pelayanan kesehatan di kota Surabaya pada tahun 2013 sebesar 94,62 % dari 43.280 bayi yang ada di kota Surabaya ( Tabel 37 ).
Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki resiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0 – 28 hari). Kegiatan pelayanan kesehatan bagi bayi dan balita juga
Neonatus dengan komplikasi adalah neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian. Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir, Berat Badan Lahir Rendah < 2500 gram (BBLR), sindroma gangguan pernafasan, kelainan kongenital.
Neonatus komplikasi yang ditangani adalah neonatus komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, dokter, dan bidan di sarana pelayanan kesehatan. Pada tahun 2013, cakupan neonatal risti / komplikasi yang ditangani sebesar 98,03 % dari 6.492 perkiraan sasaran neonatal komplikasi yang ada (Tabel 31).
Pelayanan kesehatan pada anak balita (12 – 59 bulan) di sarana kesehatan pada tahun 2013 sebesar 79,92% dari 181.263 balita yang ada, dengan rincian sebagai berikut balita laki – laki yang mendapat pelayanan kesehatan sebanyak 72.828 balita (78,22%) dan balita perempuan yang mendapat pelayanan kesehatan sebanyak 72.038 (81,72%). Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka pelayanan kesehatan pada anak balita tahun 2013 menunjukkan peningkatan sebesar 16,43%. (Tabel 43).
Salah satu program peningkatan kesehatan ibu dan bayi adalah penanganan neonatus dengan komplikasi, pemberian ASI eksklusif, pemberian suplemen-suplemen pada ibu, bayi, balita dan lain-lain. Pengertian ASI – Eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu saja pada bayi mulai bayi lahir sampai bayi berusia 6 bulan tanpa diberi makanan/minuman selain Air Susu Ibu kecuali obat dan vitamin. Pada usia 0-6 bulan, ASI mengandung zat-zat gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, tanpa perlu ditambah dengan makanan/minuman lain. Selain itu ASI mengandung colostrum dan zat-zat antibodi yang dapat membantu melindungi bayi dari penyakit infeksi (diare,
Cakupan bayi yang mendapat ASI - Eksklusif di Kota Surabaya tahun 2013 sebesar 62,67% dari 18.709 bayi yang ada yang diperiksa. Apabila dibandingkan dengan tahun 2012 jumlah bayi yang mendapat ASI Eksklusif tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 2,15%. Peningkatan pemberian ASI Eksklusif pada bayi tahun 2013 menunjukkan bahwa semakin meningkatknya kepedulian ibu dan keluarga untuk memberikan kasih sayang yang terbaik bagi bayinya (Tabel 41).
Selain pemberian ASI Eksklusif bagi bayi sangat penting, pemberian suplemen-suplemen yang dibutuhkan oleh bayi dan balita yang ada di Kota Surabaya adalah pemberian kapsul vitamin A. Vitamin A merupakan salah satu jenis vitamin larut dalam lemak yang berperan penting dalam tubuh. Vitamin A adalah salah satu zat gizi mikro yang diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas) dan kesehatan mata.
Pemberian kapsul vitamin A ini sangat penting karena kapsul vitamin A sangat dibutuhkan untuk kesehatan mata. Bagi bayi (usia 6-11 bulan) mendapat kapsul vitamin A berwarna biru dengan dosis 100.000 IU, sedangkan untuk balita (usia 12-59 bulan) akan mendapatkan kapsul vitamin A berwarna merah dengan dosis 200.000 IU. Pemberian kapsul vitamin A ini rutin diberikan pada bulan Februari dan Agustus.
Cakupan pemberian kapsul vitamin A di Kota Surabaya tahun 2013 untuk bayi (usia 6 – 11 bulan) tercapai 96,88% dari 43.280 bayi (usia 6 – 11 bulan) yang ada. Sedangkan cakupan pemberian kapsul vitamin A dua kali
untuk balita pada tahun 2013 sebesar 87,86% dari 181.263 balita (usia 1 – 4 tahun) yang ada (Tabel 32).
Pemberian suplemen selain kapsul vitamin A adalah pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu ( MP-ASI ) di Kota Surabaya diberikan pada balita usia 6 - 23 bulan terutama dari keluarga miskin. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada bayi usia 6 – 23 bulan (baduta) yang berasal dari keluarga miskin di Kota Surabaya pada tahun 2013, sebesar 100% dari 1.964 bayi usia 6 – 23 bulan (baduta) keluarga miskin yang ada (Tabel 42). Sedangkan balita gizi buruk yang mendapat perawatan di Kota Surabaya tahun 2013 sebesar 100% dari 444 balita gizi buruk yang ada (Tabel 45).
2. Pelayanan Kesehatan Bagi Anak dan Remaja
Pemeriksaan kesehatan untuk anak sekolah baik siswa Sekolah Dasar maupun Madrasah Ibtidaiyah kelas I dilakukan secara rutin melalui kegiatan skrining di sekolah-sekolah yang dilakukan oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/ dokter kecil) melalui penjaringan kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Pemeriksaan kesehatan ini meliputi pemeriksaan umum, gigi, telinga, mata dan lain-lain. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih, guru UKS atau dokter kecil di Kota Surabaya tahun 2013 sebesar 97,79 % dari 56.849 siswa SD yang ada dengan rincian siswa laki-laki 97,73% dan perempuan 97,84%. Apabila dibandingkan dengan cakupan pada tahun 2012, menunjukkan adanya peningkatan sebesar 1,76% (Tabel 46).
Pemeriksaan kesehatan untuk siswa SD/MI selain pemeriksaan fisik dan status gizi, juga ada pemeriksaan kesehatan gigi. Hasil pemeriksaan kesehatan gigi untuk siswa SD/MI menunjukkan hasil UKGS baik promotif
memerlukan perawatan kesehatan gigi sebanyak 67.629 siswa (33,51%), dan yang mendapatkan perawatan sebesar 45.134 siswa (66,74 %)(Tabel 53).
3. Pelayanan Kesehatan Bagi Wanita Usia Subur ( WUS )
Pelayanan kesehatan bagi wanita usia subur selain imunisasi TT, adalah pelayanan untuk keluarga berencana. Tujuan utama pelaksanaan keluarga berencana adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga serta masyarakat pada umumnya.
Peserta keluarga berencana bagi wanita usia subur terbagi menjadi peserta keluarga berencana peserta keluarga berencana aktif dan baru. Peserta keluarga berencana aktif adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang salah satu pasangannya masih menggunakan alat kontrasepsi dan terlindungi oleh alat kontrasepsi tersebut. Cakupan peserta keluarga berencana aktif yang ada di Kota Surabaya tahun 2013 sebesar 74,07% dari 354.665 pasangan usia subur. Angka cakupan peserta KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi diantara para pasangan usia subur (PUS). Sedangkan peserta KB baru yang ada di Kota Surabaya pada tahun 2013 sebesar 10,22% (Tabel 35).
Peserta keluarga berencana aktif dibagi menjadi peserta KB dengan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang jenisnya adalah IUD, MOP/MOW, implant dan peserta KB Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP) yang jenisnya suntik, pil, kondom, obat vagina dan lainnya. Peserta KB aktif di Kota Surabaya pada tahun 2013, paling banyak memilih Metode Kontrasepsi Jangka Panjang jenis IUD sebesar 8,20%, sedangkan KB Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP) yang paling banyak dipilih jenis suntik sebesar 61,71% dari 354.665 peserta KB aktif (Tabel 33).
Grafik Jenis Alat Kontasepsi yang Dipilih Peserta KB Aktif Kota Surabaya pada Tahun 2013
Grafik Jenis Alat Kontasepsi yang Dipilih Peserta KB Baru Kota Surabaya pada Tahun 2013
Peserta keluarga berencana baru juga dibagi menjadi peserta KB dengan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang jenisnya IUD, MOP/MOW, implant dan peserta KB Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP) yang jenisnya suntik, pil, kondom, obat vagina dan lainnya. Peserta KB baru di Kota Surabaya pada tahun 2013, paling banyak memilih Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) jenis IUD sebesar 5,48%, sedangkan KB non metode kontrasepsi jangka panjang (Non MKJP) yang paling banyak dipilih adalah jenis suntik sebesar 77,58%, dari 48.921 peserta KB baru (Tabel 34).
4. Pelayanan Kesehatan Bagi Ibu Hamil
Pemeriksaan kesehatan untuk ibu hamil sangat penting dilakukan sedini mungkin. Pemeriksaan kesehatan ibu hamil tidak hanya memantau perkembangan kesehatan ibu hamilnya saja, tetapi juga memantau pertumbuhan dan perkembangan janin yang ada dikandungan. Cakupan K1 merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Kunjungan pemeriksaan ibu hamil yang pertama kali dilakukan dalam satu periode kehamilan atau K1 di Kota Surabaya pada tahun 2013 sebesar 100,79% dari 48.507 ibu hamil yang ada di Kota Surabaya (Tabel 28).
K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga. Cakupan kunjungan ibu hamil untuk memeriksakan kesehatan ke sarana kesehatan yang dilakukan minimal empat kali dalam satu periode kehamilannya atau lebih dikenal dengan istilah K4. Kunjungan ibu hamil K4 sesuai standar adalah pelayanan yang mencakup
skrining status imunisasi, pengukuran tinggi fundus uteri, pemberian 90 tablet besi selama kehamilan, pemberian konseling, dan test laboratorium sederhana. Pada tahun 2013, cakupan kunjungan ibu hamil K4 di Kota Surabaya sebesar 98,11% dari 48.507 ibu hamil yang ada di Kota Surabaya. (Tabel 28).
Pada saat pemeriksaan kesehatan di sarana kesehatan, ibu hamil akan mendapat tablet Fe sebanyak 90 tablet. Pemberian tablet Fe atau tablet tambah darah ini sangat penting untuk kesehatan ibu hamil dan janin karena apabila seorang ibu hamil kekurangan Fe dapat menyebabkan abortus, kecacatan bayi atau berat badan bayi lahir rendah (BBLR).
Cakupan ibu hamil yang mendapatkan Fe1 (30 tablet) pada pemeriksaan kehamilan pertama di Kota Surabaya tahun 2013 sebesar 103,71% dari 48.507 ibu hamil yang ada di Kota Surabaya. Sedangkan cakupan ibu hamil yang mendapatkan Fe 3 (90 tablet) pada tahun 2013 sebesar 98,23%, (Tabel 30).
Melalui pemeriksaan ibu hamil di sarana kesehatan yang ada, maka dapat diketahui kondisi dan keadaan ibu dan janin yang dikandungnya. Dari hasil pemeriksaan kesehatan ibu hamil dapat diketahui ibu hamil yang risiko tinggi atau komplikasi dan ibu hamil yang normal. Ibu hamil risiko tinggi adalah ibu hamil yang mempunyai risiko atau bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan dibanding dengan ibu hamil yang normal. Yang termasuk golongan ibu hamil risiko tinggi antara lain : Tinggi Badan ibu hamil < 145 cm, Usia ibu hamil < 20 tahun dan > dari 35 tahun, jumlah anak yang pernah dilahirkan > 4 anak, Berat badan kurang, kurus, anemia dan lain-lain. Akibat yang dapat ditimbulkan dari ibu hamil yang mempunyai risiko tinggi antara lain Berat Badan Bayi Lahir Rendah, keguguran, persalinan tidak lancar/macet, janin mati dalam kandungan, ibu hamil/ibu bersalin meninggal, dan lain-lain.
Perkiraan Ibu hamil resiko tinggi atau komplikasi di Kota Surabaya tahun 2013 berjumlah 9,701 orang. Cakupan ibu hamil resiko tinggi atau komplikasi yang ditangani di sarana kesehatan sebesar 98,73% (Tabel 31). Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, cakupan ibu hamil resiko tinggi atau komplikasi yang ditangani di Kota Surabaya menunjukkan peningkatan sebesar 1,92%. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil terutama ibu hamil yang beresiko tinggi makin meningkat.
Dalam lima tahun terakhir pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terus meningkat hal ini disebabkan beberapa kegiatan telah berjalan dengan baik antara lain : kegiatan Pelayanan Obstetric Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas PONED, peningkatan kapasitas manajemen tenaga kesehatan terutama tenaga bidan dalam Asuhan Persalinan Normal, Manajemen Asfiksia, Manajemen BBLR, Pelatihan PONED dan lain-lain.
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Cakupan pelayanan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang berkompetensi pada tahun 2013 mencapai 96,03% yaitu dari 46.303 kasus persalinan yang ada (Tabel 28). Cakupan ibu nifas yang mendapat pelayanan kesehatan di Kota Surabaya tahun 2013 sebesar 89,19% dari 46.303 ibu nifas yang ada. (Tabel 28)
5. Pelayanan Imunisasi
Cakupan Kelurahan Universal Child Imunization (UCI) pada tahun 2013 adalah sebesar 63,75% dari 160 Kelurahan yang ada di Kota Surabaya (Tabel 38). Apabila dibandingkan dengan cakupan tahun 2012 maka cakupan untuk indikator ini menunjukkan peningkatan sebesar 26,87%.
Imunisasi yang diberikan pada bayi meliputi imunisasi: BCG, DPT HB 3 kali, Polio 4 kali, Campak, dan Hepatitis < 7 Hari, dengan hasil cakupan imunisasi bayi sebagai berikut : Imunisasi BCG (95,95%) apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan adanya peningkatan sebesar 4,66%, Imunisasi DPT1+HB1 (95,47%) apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan adanya peningkatan sebesar 2,89%, Imunisasi DPT3+HB3 (91,95%) apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan adanya peningkatan sebesar 2,41%, Imunisasi Polio 4 (89,57%) apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan adanya peningkatan sebesar 1,51%, Imunisasi Campak (92,16%) apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan adanya peningkatan sebesar 7,71%. Tingkat Drop Out DPT1+Hb1 terhadap campak sebesar 3,47%. Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka tingkat Drop Out DPT1+Hb1 menunjukkan penurunan sebesar 5,32% (Tabel 39, 40). Penurunan tingkat Drop
Out ini menunjukkan adanya peningkatan cakupan imunisasi pada bayi di Kota
Surabaya.
Cakupan imunisasi Tetanus Toxoid pada ibu hamil meliputi TT-1 (0,13%), TT-2 (2,04%), TT-3 (0,88%), TT-4 (2,90%), TT-5 (6,72%) dan TT-2+ (12,53%) ( Tabel 29 ).
6. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut
Masalah lanjut usia (lansia) juga perlu mendapatkan perhatian karena jumlahnya yang terus bertambah setiap tahunnya. Pertambahan penduduk lansia ini mungkin disebabkan oleh semakin meningkatnya pelayanan kesehatan dan meningkatnya usia harapan hidup masyarakat Surabaya.
Cakupan pelayanan kesehatan untuk usia lanjut (60 tahun ke atas) yang mendapat pelayanan kesehatan sebesar 73,67% dari 544.822 usia lanjut yang ada. Apabila dibandingkan dengan cakupan tahun 2012 maka cakupan untuk indikator ini menunjukkan peningkatan sebesar 6,44%. Pelayanan kesehatan pada kelompuk usila ini merupakan hasil pelaporan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan di Puskesmas. (Tabel 48)
7. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut seharusnya dilakukan sejak dini. Usia sekolah dasar merupakan saat yang ideal untuk dilakukannya upaya-upaya kesehatan gigi dan mulut karena pada usia anak sekolah dasar ini merupakan awal mula tumbuh kembang gigi permanen dan merupakan kelompok resiko tinggi karies. Salah satu upaya kesehatan gigi dan mulut yang dapat dilakukan adalah dengan pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut oleh perawat gigi.
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di 62 Puskesmas wilayah Kota Surabaya pada tahun 2013, dapat dilihat pada Tabel 52. Pelayanan dasar gigi meliputi tumpatan gigi tetap sebanyak 37.739 orang dan pencabutan gigi tetap sebanyak 24.245 orang yang diperiksa dengan rasio tumpatan atau pencabutan
73,22% dari 275.634 siswa sekolah dasar yang ada. Jumlah siswa sekolah dasar yang mendapat perawatan kesehatan gigi sebesar 66,74% dari 67.629 murid yang perlu mendapat perawatan. (Tabel 53)
Selain kegiatan pemeriksaan kesehatan gigi, juga dilakukan kegiatan sikat gigi massal di Sekolah Dasar dan setingkat di seluruh SD/MI di Kota Surabaya (77,27%) dari 946 SD/MI. Program sikat gigi massal merupakan salah satu upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam menjaga kesehatan gigi. (Tabel 53)
8. Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin
Tujuan pelaksanaan program pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin adalah meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Pelayanan kesehatan ini meliputi pelayanan rawat jalan dan rawat inap di puskesmas, pelayanan rujukan rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit.
Masyarakat miskin di Kota Surabaya tidak hanya dicakup oleh program Jamkesmas dan Jamkesda saja, melainkan juga dicakup dalam Jamkesmas Non Kuota (APBD Kota) yang ditanggung oleh Pemerintah Kota Surabaya. Hal ini menunjukkan komitmen dan kepedulian Pemerintah Kota terhadap masyarakat miskin yang berada di Kota Surabaya.
Pada tahun 2013 jumlah masyarakat miskin yang mengakses pelayanan kesehatan dasar sebesar 476.685 orang (78,63%) dari 606.238 masyarakat miskin yang ada di Kota Surabaya. Sedangkan masyarakat miskin yang mengakses pelayanan kesehatan rujukan sebesar 69,37 %. Seluruh
masyarakat miskin yang mengakses pelayanan kesehatan dasar dan rujukan semuanya telah terlayani dengan baik.( Tabel 56, 56A, 57, 57A ).
9. Upaya Penyuluhan Kesehatan
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Kegiatan penyuluhan ini dibagi dua kegiatan yang meliputi kegiatan penyuluhan kelompok dan penyuluhan massa. Jumlah penyuluhan kelompok di kota Surabaya tahun 2013 sebanyak 19.724 kegiatan, sedangkan penyuluhan massa sebanyak 382 kegiatan. (Tabel 54)
10. Kejadian Luar Biasa (KLB)
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit. Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
Jumlah keseluruhan KLB Kota Surabaya pada tahun 2013 terjadi di 87 kelurahan, dan semua kejadian luar biasa tersebut telah tertangani dalam kurun waktu < 24 jam. Jenis KLB yang ditangani adalah Difteri, Keracunan Makanan dan Hepatitis A. Ada tiga wilayah kecamatan yang bebas KLB pada tahun 2013 yaitu Kecamatan Bubutan, Kecamatan Wonocolo, dan Kecamatan Karangpilang. (Tabel 50, 51)