• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 Pendekatan Metodologi & Metode Kerja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 Pendekatan Metodologi & Metode Kerja"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PENDEKATAN,

METODOLOGI DAN

PROGRAM KERJA

3.1 Umum

Sesuai pemahaman konsultan dalam Kerangka Acuan Tugas, maka uraian dan penjelasan kegiatan yang telah dipaparkan di atas, dapat dirumuskan dalam suatu langkah-angkah pendekatan permasalahan dan aplikasi metode paling efektif sehubungan dengan pelaksanaan layanan jasa pada proyek termaksud.

Pendekatan dan metodologi layanan jasa Konsultan tersebut telah disimpulkan dalam bentuk rencana kerja yang dilengkapi dengan jadwal

(2)

pekerjaan, jadwal penugasan personil, tugas masing-masing tenaga ahli, tempat tugas dan lain sebagainya yang sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Hal-hal yang pokok dalam penanganan masalah layanan jasa tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut :

Disamping memberikan layanan jasa supervisi sesuai Kerangka Acuan Tugas, konsultan akan berusaha pula mengaplikasikan pengalamannya untuk melakukaan langkah-langkah efektif sehingga dapat memberikan hasil yang terbaik.

Memberikan layanan manajemen untuk pelaksanaan proyek fisik pembangunan rusun, mulai dari proses penyiapan lelang, lelang dan pengawasan fisik sampai dengan proyek pembangunan selesai

Melaksanakan pengawasan untuk pengendalian biaya proyek dan berusaha dalam hal efisiensi penggunaan biaya proyek.

Melakukan monitoring kemajuan pekerjaan, juga akan senantiasa membuat metode pelaksanaan dan menyusun teknik penjadwalan kegiatan untuk mendapatkan penghematan waktu.

Senantiasa berorientasi pada pelaksanaan program pengawasan jaminan mutu secara efektif.

(3)

Senantiasa menjalin kerjasama secara harmonis dengan pihak kontraktor dalam memecahkan masalah-masalah pelaksanaan pekerjaan dan pendaya-gunakan struktur organisasinya.

3.2 Pendekatan

Didalam pekerjaan ini konsultan akan mengunakan beberapa pendekatan untuk dapat menjawab tujuan dari pekerjaan ini. namun sebelum itu konsultan akan memberikan gambar proses skematik yang diharapkan dapat menjadi panduan.

Seperti yang telah dijelaskan dalam kerangka acuan kerja bahwa pemenuhan kebutuhan perumahan di Indonesia masih belum teralisir sepenuhnya sebagai akibat dari pertambahan penduduk tidak diimbangi dengan ketersediaan perumahan, serta rendahnya kemampuan ekonomi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan papan dan pertumbuhan perumahan baru rata-rata 800.000 unit per tahun menyebabkan backlog. Sehubungan dengan backlog tersebut diatas, Kementerian Perumahan Rakyat mempunyai sasaran khusus dalam bidang rumah susun sesuai dengan rencana strategis 2010-2014. Target RPJM tersebut digambarkan dalam beberapa tabel dibawah ini.

Lingkup Pekerjaan Tujuan Pekerjaan Pendekatan Metodologi dan Program Kerja

(4)

NO PROGRAM/ KEGIATAN TARGET SATUAN 1. Pengembangan Perumahan Formal

a. Rumah Susun Sewa 380 TB

b. Rumah Susun Milik 180 TB

2. Fasilitasi Pembangunan Rumah

Khusus 5.000 unit

3. Peraturan 9 buah

Tabel 1. Target RPJM Nasional Tahun 2010-2014

NO KEGIATAN SATUAN

SASARAN

unit anggaran

1. Pembangunan Rusunawa TB 115 718.750.000

2. Fasilitasi Pembangunan Rumah Khusus

unit 1.088 92.480.000

RENCANA T.A. 2013 811.230.000

Tabel 2. Rencana Tahun Anggaran 2013

Data statistik status penghunian rumah susun sewa wilayah sumatera dapat dilihat pada tabel berikut :

(5)

(TB)

TERHUNI BELUM TERHUNI

1. NAD 10,00 1,00 9,00 2. SUMATERA UTARA 16,50 3,50 13,00 3. SUMATERA BARAT 14,00 2,00 12,00 4. RIAU 9,00 3,00 6,00 5. KEPULAUAN RIAU 17,00 8,00 9,00 6. JAMBI 5,00 1,00 4,00 7. BENGKULU 2,50 1,50 1,00 8. SUMATERA SELATAN 8,00 1,00 7,00 9. KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 1,00 1,00 10. LAMPUNG 6,00 2,00 4,00 TOTAL 89,00 17,00 72,00

Tabel 3. Status Penghunian Rumah Susun Sewa Wilayah Sumatera. 3.2.1 Pendekatan Teknis

Pendekatan teknis dalam usulan teknis ini disesuaikan dengan lingkup kegiatan yang akan dicapai sesuai kerangka acuan pekerjaan.

(6)

Lingkup kegiatan utama kegiatan ini adalah : a. Manajemen proyek

b. Supervisi pelaksanaan pembangunan

3.2.2 Lokasi Kegiatan

Lokasi kegiatan Manajemen Konstruksi dilaksanakan pada wilayah kerja PPK Wilayah I Sumatera dan Jabodetabek untuk Pembangunan Rusunawa Tahun Anggaran 2013 antara lain:

(7)
(8)
(9)
(10)
(11)

3.3 Manajemen Proyek

Dalam lingkungan proyek, yang disebut persetujuan adalah “harus tertulis”, karenanya “manajemen proyek harus ada“ dan akan bersandarkan pada aspek hukum, bahwa yang penting adalah apa yang tertulis.

Dalam pelaksanaan Pekerjaan Manajemen Konstruksi Wilayah I (Sumatera dan Jabodetabek) TA. 2013, sistem manajemen proyek ini dalam bentuk prosedural pekerjaan, dimaksudkan untuk memberikan guidelines/petunjuk kepada setiap personil dalam organisasi, tentang bagaimana dia seharusnya melakukan kegiatan dan berkomunikasi dalam lingkungan proyek.

Prosedur, form dan guideline merupakan alat yang dapat menggambarkan proses manajemen proyek, dan juga merupakan suatu kerangka/format dalam pengumpulan, pemrosesan dan mengkomunikasikan data dan informasi aktifitas proyek dalam bentuk yang teratur dan standar. Secara spesifik maksud dari adanya dokumen prosedural adalah :

uidelines dan keseragaman

Mempersatukan tim proyek

(12)

bagi proyek lain.

Metode pendekatan teknis Manajemen Konstruksi Wilayah I (Sumatera dan Jabodetabek) adalah :

1. Menguraikan kondisi permasalahan kebutuhan untuk proses penyediaan rumah susun sewa :

a. Kebijaksanaan pembangunan Rusunawa b. Kondisi lokasi saat ini.

2. Pengkajian terhadap kondisi lokasi, penduduk, tingkat aksesibilitas dan kebutuhan (demand) serta faktor-faktor pendukung lainnya. Pengkajian ini dimaksudkan untuk melihat potensi dan kecenderungan perkembangan kebutuhan (demand).

3. Melakukan identifikasi faktor-faktor pendukung..

4. Merumuskan berbagai indikator berdasarkan analisis supply dan demand, perumusan tersebut sebagai bahan perumusan alternatif pembangunan Rusunawa baik aspek fisik maupun prasarana.

Untuk melakukan lima (4) pendekatan tersebut, konsultan membaginya dalam beberapa langkah teknis kegiatan sebagai berikut ;

1. Tahap Perencanaan (Planning)

Semua proyek konstruksi dimulai dari gagasan atau rencana dan dibangun berdasarkan kebutuhan (need).

2. Tahap Studi Kelayakan (Feasibility Study)

Pada tahap ini adalah untuk meyakinkan pemilik proyek bahwa proyek konstruksi yang diusulkan layak untuk dilaksanakan.

Kegiatan yang dilaksanakan :

• Menyusun rancangan proyek secara kasar dan membuat estimasi biaya

(13)

• Meramalkan manfaat yang akan diperoleh • Menyusun analisis kelayakan proyek

• Menganalisis dampak lingkungan yang akan terjadi 3. Tahap Penjelasan (Briefing)

Pada tahap ini pemilik proyek menjelaskan fungsi proyek dan biaya yang diijinkan sehingga konsultan perencana dapat dengan tepat menafsirkan keinginan pemilik.

Kegiatan yang dilaksanakan :

• Menyusun rencana kerja dan menunjuk para perencana dan tenaga ahli

• Mempertimbangkan kebutuhan pemakai, keadaan lokasi dan lapangan, merencanakan rancangan, taksiran biaya, persyaratan mutu.

• Mempersiapkan ruang lingkup kerja, jadwal waktu, taksiran biaya, dan implikasinya, serta rencana pelaksanaan

• Mempersiapkan sketsa dengan skala 1 : 1000, 1 : 1500 atau 1 : 2000, yang menggambarkan denah dan batas-batas proyek.

4. Tahap Perancangan (Design) Desain dilaksanakan dua tahap : (1) Tahap Pradesain

Pada tahap pradesain rancangan proyek dibuat secara garis besar dan berdasarkan pada tahap penjelasan proyek

(2) Tahap desain rinci.

Jika rancangan sudah disetujui sesuai keinginan pemilik proyek maka dilanjutkan pada tahap desain rinci yang berfungsi sebagai

(14)

pegangan dalam pelaksanaan dilapangan. Secara garis besar kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap desain ini antara lain : a. Mengembangkan ikhtisar proyek menjadi penyelesaian akhir. b. Memeriksa masalah teknis.

c. Meminta persetujuan akhir ikhtisar dari proyek

d. Mempersiapkan:

Rancangan skema (pradesain) termasuk taksiran biaya rancangan terperinci (desain rinci)

gambar kerja, spesifikasi, dan jadwal daftar volume

taksiran biaya akhir jadwal waktu

5. Tahap Pengadaan/Pelelangan (Procurement/Tender)

Pada tahap ini bertujuan untuk mendapatkan kontraktor yang akan mengerjakan proyek konstruksi tersebut, atau bahkan mencari sub kontraktornya

Kegiatan yang dilaksanakan : • Prakulaifikasi

• Dokumen Kontrak

Salah satu hal yang perlu diperhatikan pada tahap pelelangan adalah mengenai dokumen kontrak. Dokumen kontrak sendiri didefinisikan sebagai dokumen legal yang menguraikan tugas dan tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Dokumen kontrak akan terjadi setelah terjadi kontrak atau ikatan kerja sama antara 2 pihak atau

(15)

lebih. Sebelum hal itu terjadi terdapat proses pengadaan atau proses pelelangan dimana diperlukan Dokumen Lelang. Perbedaan kedua dokumen dapat dilihat pada Tabel 4

No. Dokumen Lelang

(DL)

Dokumen Kontrak (DK)

Catatan

1 Persyaratan Lelang - Tidak ada pada

Dokumen Kontrak

2 Bentuk Penawaran Surat Penawaran Dapat berubah dari

DL ke DK

3 Persyaratan

Kontrak: (a) Umum, (b) Khusus

Persyaratan Kontrak: (a) Umum, (b) Khusus

Dapat berubah dari DL ke DK

4 Bentuk Perjanjian (Kontrak)

Surat Perjanjian (Kontrak)

Dapat berubah dari DL ke DK

5 Gambar Rencana Gambar Rencana Dapat berubah dari

DL ke DK

6 Spesifikasi Spesifikasi Dapat berubah dari

DL ke DK

7 Daftar Volume Daftar Volume Dapat berubah dari

DL ke DK 8 - Berita acara, Addendum, dll Catatan atau tambahan atas Perubahan / Kesepakatan

6. Tahap Pelaksanaan (Construction)

Tujuan pada tahap ini adalah mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam batasan biaya, waktu yang sudah disepakati, serta dengan mutu yang telah disyaratkan.

(16)

Kegiatan yang dilaksanakan adalah merencanakan, mengkoordinasikan, mengendalikan semua oprasional di lapangan :

• Kegiatan perencanaan dan pengendalian adalah:

• Kegiatan Koordinasi

egiatan pembangunan

7. Tahap Pemeliharaan dan Persiapan Penggunaan (Maintenance & Start Up)

Tujuan pada tahap ini adalah untuk menjamin agar bangunan yang telah sesuai dengan dokumen kontrak dan semua fasilitas bekerja sebagaimana mestinya.

Kegiatan yang dilakukan adalah :

• Mempersiapkan data-data pelaksanaan, baik berupa data-data selama pelaksanaan maupun gambar pelaksanaan (as build drawing)

• Meneliti bangunan secara cermat dan memperbaiki kerusakan- kerusakan

• Mempersiapkan petunjuk oprasional/pelaksanaan serta pedoman pemeliharaan.

(17)

• Melatih staff untuk melaksanakan pemeliharaan

Manajemen proyek pelaksanaan konstruksi terdiri dari : 3.3.1 Pengendalian Proyek

Pengendalian proyek pada intinya mencakup pengendalian atas rencana-rencana Manajemen yang telah disebutkan di atas dan akan meliputi :

 Rencana Pengendalian Waktu/Schedule

 Rencana Pengendalian Lingkup Pekerjaan

 Rencana Pengendalian Biaya

 Rencana Pengendalian Dokumen

 Rencana Pengendalian Kualitas Pekerjaan / Mutu

 Rencana Pengendalian Kuantitas

Proses pengendalian berlangsung melalui langkah-langkah sebagai berikut:

 Laporan

 Analisis

 Identifikasi Arah Perubahan

 Periksa Penyebabnya

 Tentukan Langkah Korektif

Laporan yang digunakan untuk pengendalian merupakan laporan-laporan kemajuan Proyek yang kemudian menghasilkan Rencana Pelaksanaan yang diperbaharui (Project Plan Updates) berikut rencana-rencana tindakan koreksi.

Walaupun dokumentasi pengendalian terekam secara periodik melalui laporan-laporan Mingguan, dan Bulanan, namun pada kenyataannya pengendalian proyek sebenarnya akan dilakukan secara daily basis. Aktifitas pengendalian juga terutama akan tercermin dalam kegiatan

(18)

rapat pengendalian perkembangan proyek yang dilakukan secara periodik maupun khusus.

3.3.2 Pengendalian Mutu

Pengendalian mutu/kualitas bukan hanya dalam segi bahan/material yang dipakai harus sesuai dengan persyaratan-persyaratan dalam kontrak saja tetapi meliputi mutu dan kualitas pelaksanaan harus baik. Keduanya harus dilaksanakan bersama, karena keduanya saling terkait satu dengan lainnya dan tak dapat dipisahkan dalam mencapai hasil pekerjaan yang dikatakan baik dan memenuhi persyaratan.

3.3.3 Pengendalian Kualitas Bahan

Bahan material yang dipakai dilapangan harus memenuhi persyaratan, untuk dapat menyatakan bahwa bahan/material tersebut dapat dipakai atau ditolak, tolak ukur yang harus dipakai oleh Manajemen Konstruksi adalah :

a. Berita Acara Aanwizing b. Kontrak Pekerjaan

c. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) d. Peraturan Standarisasi yang berlaku e. Gambar Pelaksanaan

f. Hasil Test Laboratorium

g. Peraturan Pemerintah, Kepres, dll.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengendalian kualitas bahan yaitu :

(19)

Bahan yang akan digunakan harus memenuhi ketentuan yang ada untuk mencapai kualitas bahan yang baik

2. Penyimpanan

Penyimpanan material yang kurang baik akan menyebabkan kerusakan pada material yang akan digunakan, penyimpanan harus diperhatikan untuk bahan yang berubah langsung karena kena air.

3.3.2 Pengendalian Kualitas Pelaksanaan

Kualitas pelaksanaan sangatlah penting dalam menentukan hasil akhir yang akan dicapai, pengendalian kualitas tidak kalah pentingnya dari kualitas bahan karena bahan yang bagus kalau tidak tepat dalam pelaksanaan di lapangan maka tidak akan mendapatkan hasil yang baik, maka pengendalian kualitas pelaksanaan sangat penting diperhatikan untuk menghasilkan hasil yang maksimum sesuai dengan persyaratan.

3.3.3 Quality Assurance Plan

QA Plan dimaksudkan untuk memberi keyakinan bahwa kontraktor melaksanakan pekerjaan dan menghasilkan produk sesuai dengan Quality Plan dan sesuai dengan persyaratan mutu yang ditetapkan dalam spesifikasi. Sedangkan secara spesifik tujuannya adalah :

a) Menetapkan Quality Plan dan Kontraktor b) Menjamin dilaksanakan penerapnnya c) Mengontrol interface pekerjaan

a. Quality Control

Pada Prinsipnya Kontraktor dituntut untuk memiliki sistem pengendalian kualitas (quality kontrol) dalam seluruh tahapan pelaksanaan pekerjaan yang meliputi sistem pengadaan material, keahlian kerja (workmanship),

(20)

pengawasan, pemeriksaan, dan pengetesan, dan sistem lain yang diperlukan utnuk menghasilkan kualitas sesuai dengan persyaratan, yang dibuktikan dengan pendokumentasian yang terecord dengan baik atas implementasi semua proses konstruksi tersebut.

Pendokumentasian implementasi proses konstruksi di atas adalah terdiri dari :

 Certificate Test untuk semua material konstruksi dan peralatan mekanikal dan elektrikal.

 Spesifikasi untuk item/komponen yang difabrikasi sebelumnya (pre-fabrication) dan/atau mix design untuk beton.

 Certificate of Compliance untuks emua material dan/atau komponen yang didatangkan (di impor) dari pihak ketiga.

 Lembaran Checklist pada setiap tahapan pekerjaan dari tahap Pra Konstruksi, selama Konstruksi dan Pasca Konstruksi : yang dapat memberikan petunjuk telah dilaksanakannya proses pemeriksaan sesuai dengan kemajuan pekerjaannya.

b. Pemberitahuan Kegiatan Operasi (Notice of Operation)

Kontraktor bila diperlukan harus memberi tahu kepada Konsultan Manajemen Konstruksi semua informasi tertulis mengenai lokasi material diperoleh dan lokasi mana pekerjaan sedang disiapkan. Semua pekerjaan permanen harus dilaksanakan dengan persetujuan Konsultan. Pemberitahuan tertulis yang lengkap harus diajukan dalam waktu yang mencukupi sebelumnya agar Konsultan dapat mengatur kegiatan inspeksi yang diperlukan untuk proses persetujuan pelaksanaan konstruksi.

c. Monitoring dan Pemeriksaan Ulang.

Adalah tugas tim Manajemen Konstruksi untuk mengadakan monitoring dan pengawasan pekerjaan konstruksi dan dokumentasi yang tetapi tidak terbatas pada disebutkan di atas, dengan cara melaksanakan pemeriksaan ulang terhadap item-item beberapa item yang tercantum

(21)

dalam checklist yang telah lengkap dilakukan (diisi, dipenuhi) dan mengajukannya pada Pimpro untuk memperoleh persetujuan.

d. Perintah dan Tindakan Koreksi

Dalam hal pada pemeriksaan ulang tersebut didapati ketidaksesuaian dengan persyaratan (non compliance) diperlukan dikeluarkannya Perintah Tindakan Koreksi (Corrective Action Request) oleh Konsultan.

e. Kewajiban kontraktor atas Perbaikan Ketidaksesuaian

Kontraktor selanjutnya dituntut untuk melaksanakan kewajiban untuk memperbaiki ketidaksesuaian pekerjaan. Kelalaian atas pelaksanaan kewajiban tersebut dapat mengakibatkan Kontraktor harus menanggung resiko atas biaya yang dikeluarkan untuk melakukan proses pebaikan oleh pihak lain yang ditunjuk.

3.3.4 Pengendalian Kuantitas

Pengendalian Kuantitas meliputi volume, baik itu panjang, lebar, tinggi dan lainya. Konsultan Manajemen Konstruksi harus mengawasi pelaksanaan proyek dengan teliti sehingga tidak terjadi pencurian yang biasanya dilakukan oleh Kontraktor yaitu masalah panjang, lebar, ataupun pencurian masalah spesifikasi campuran adukan di beton sekunder, sehingga mengakibatkan kualitas tidak sesuai dengan perencanaan.

3.3.5 Pengendalian Dana

Dalam proses pelaksanaan pekerjaan di lapangan, dapat terjadi perubahan-perubahan yang mengakibatkan adanya Addendum pekerjaan, dimana dapat dilaksanakan setelah ada surat resmi dari Pimpro/Pimbagpro.

(22)

1. Penyesuaian di lapangan, setelah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh oleh pihak-pihak yang terkait, sehingga terpaksa ada pekerjaan tambah, untuk ini Pimpro memberitahukan dengan surat resmi kepada pemborong dengan tembusan kepada pihak-pihak terkait tentang adanya pekerjaan tambah tersebut, dan sekaligus minta kepada pemborong untuk segera mengajukan penawaran biaya pekerjaan tambah tersebut. 2. Pemborong kemudian menjawab dengan surat resmi dengan

tembusan pada pihak-pihak terkait, sekaligus mengajukan biaya tambahan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

3. Konsultan Manajemen Konstruksi berkewajiban untuk ikut meneliti pekerjaan tambah/kurang yang akan dilaksanakan.

4. Mengecek perhitungan Volume Pekerjaan tambah/kurang

5. Harga satuan pekerjaan tambah yang jenisnya sama dengan pekerjaan sebelumnya harus sama jika berbeda perlu dilakukan pemeriksaan. Setelah disepakati harga pekerjaan tambah tersebut, Pimpro memberi perintah resmi untuk dilaksanakan.

6. Pelaksanaan pekerjaan tambah oleh Pemborong sebelum surat perintah tertulis dari Pimpro, tidak dapat dibenarkan.

7. Pekerjaan tambah disini harus diperhatikan nilainya terhadap kontrak awal, bila nilai pekerjaan tambah melampaui 10% dari kontrak, maka harus dibuat Kontrak baru bukan Addendum. Sebaliknya bila nilai pekerjaan tambah kurang dari 10%, maka cukup dibuat Addendum.

3.3.6 Pengendalian Waktu

Pekerjaan Manajemen Konstruksi Wilayah I Sumatera dan Jabodetabek TA. 2013 sesuai jadwal sangat penting, maka dalam Manajemen Konstruksi

(23)

yang matang dalam bentuk Time Schedule monitoring pekerjaan, yang diperjelas lagi dengan Weekly Schedule, untuk membuat keduanya perlu adanya pemahaman yang perlu diperhatikan yaitu :

a. Time Schedule

Kebenaran/ketetelitian pembuatan Time Schedule mengenai :

 Item pekerjaan yang dilaksanakan.

 Awal dan akhirnya Item pekerjaan dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

 Bobot fisik pada tiap Item pekerjaan berupa prosentase.

 Keterkaitan pekerjaan satu dengan lainnya, perlu adanya evaluasi khusus kapan pekerjaan ini dimulai dan harus berakhir. Time Schedule perlu dievaluasi kebenarannya yang menyangkut :

o Tenaga kerja harus sesuai dengan jenis pekerjaan, jumlahnya serta keterampilannya.

o Material/Bahan harus tepat waktu dengan kualitas yang sesuai spesifikasi yang ada dalam kontrak.

o Jumlah dan jenis peralatan yang dipergunakan harus disesuaikan dengan jenis dan volume pekerjaan.

o Metode/Sistem yang digunakan harus dapat mendukung semua kegiatan/pekerjaan di lapangan.

o Koordinasi harus berjalan dengan baik, sehingga menciptakan keserasian disetiap bagian pekerjaan yang terkait.

b. WeeklySchedule Dibuat untuk :

-item pekerjaan selama periode satu minggu -langkah pelaksanaan setiap minggu

(24)

daripada bobot rencana kalau tidak segera diatasi maka keterlambatan semakin membengkak, sehingga tidak bisa tepat waktu, jadi tujuannya adalah mengantisipasi keterlambatan pekerjaan di proyek.

Penyusunan Schedule proyek yang dapat dipertanggungjawabkan dan memudahkan pengendaliannya adalah Schedule proyek yang realistis. Pengendalian Schedule proyek juga hanya dapat dilakukan dengan baik apabila informasi rencana-rencana kegiatan tersediakan setiap saat/periode dan tercatat atau terorganisasikan secara rapih, dimulai dari adanya master Schedule proyek sebagai baseline.

Schedule harus dapat meliputi seluruh jenis kegiatan proyek antara lain :

Project preparation phase Design phase

Tendering phase Demoliton works Construction phase Fitting out phase

Commissioning -Handover- migration phase

Yang dibuat dalam beberapa jenjang antara lain : Project master Schedule

Individual contract Schedule Be-weekly Schedule

Demikian juga, pengendalian akan efektif apabila : dilakukan secara prioritas, mulai dari batasan-batasan milestone strategis, bagian-bagian paling krusial atau kritikal selama penyelenggaraan proyek;

(25)

koordinasi-koordinasi Schedule secara periodik; dan responsif dalam menyikapi proggres atau kendala yang terjadi.

Bagian-bagian kritikal serta kendala yang dapat segera diidentifikasi dalam pengendalian Schedule ini diperkirakan antara lain :

-pekerjaan fabrikasi

-perubahan pekerjaan

pekerjaan sesuai metode pelaksanaan yang ditetapkan.

Team Manajemen Konstruksi akan menggunakan perangkat lunak MS Project sebagai fasilitas planning, monitoring & control Schedule. Pengendalian Schedule akan dimulai dari, atau masukan pertamanya adalah Schedule proyek, kemudian diperiksa laporan-laporan kemajuan termasuk adanya permintaan perubahan-perubahan rencana. Dari hasil pantauan akan dikeluarkan Schedule updates berikut rencana tindakan lainnya. Bagan atau format kontrol yang dipakai adalah Project Schedule Tracker.

3.3.7 Peralatan Dan Metode Kerja

Pemakaian peralatan di lapangan tergantung dari beberapa faktor pertimbangan, antara lain :

(26)

b. Waktu yang tersedia untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah direncanakan.

c. Faktor kesulitan yang ada dilapangan baik itu mengenai lokasi yang jauh, susahnya transportasi dan lain-lainnya. d. Sistem / metode kerja yang akan dipakai.

e. Biaya yang dianggarkan. 3.3.8 Keselamatan Dan Keamanan Kerja

Kecelakaan kerja sebisa mungkin dihindari baik itu mengenai tenaga kerja maupun material dan bahan, yang mempengaruhi prestasi kerja dan pada akhirnya berdampak pada biaya proyek, baik langsung maupun tidak langsung, secara umum ada beberapa prinsip dasar pencegahan kecelakaan yang dipengaruhi pada setiap lokasi pekerjaan misalnya : 1. Peralatan yang akan digunakan harus berkondisi baik.

2. Menggunakan alat harus sesuai dengan kemampuan alat dan petunjuk yang diperbolehkandalam buku petunjuk yang dikeluarkan oleh pabrik dan sesuai fungsinya

3. Penggunaan alat pelindung ditempat yang sekiranya berbahaya baik itu menggunakan helm, sepatu pengaman, baju pengaman dll.

4. Dalam pelaksanaan pekerjaan harus teratur dan tidak simpang siur dan tidak menyalahi peraturan teknis yang ada

5. Selalu mengadakan Check dan Recheck terhadap peralatan kerja yang dipakai, sehingga layak dipakai atau tidak, bila kurang memenuhi jangan dipaksakan menggunakan alat tersebut kalau tidak 100% keadaan alat siap pakai.

Selain itu yang biasa terjadi adalah terjadinya pencurian terhadap materil dan bahan dilapangan, dan untuk menghindari pencurian terhadap bahan yang sering terjadi maka Kontraktor harus melaksanakan :

1. Pembuatan pagar pengaman disekeliling proyek, bisa berupa seng, kawat berduri, dll.

(27)

2. Penerangan lampu di lokasi.

3. Melakukan Penjagaan di lokasi proyek.

3.3.9 Pembinaan Pekerjaan

Dalam Pembinaan Pekerjaan menyangkut pada Koordinasi pekerjaan yang baik. Koordinasi terbagi dalam 2 bagian, yaitu :

Koordinasi lapangan/pelaksanaan

Yang dimaksud adalah Mengkoordinasi pada pekerjaan-pekerjaan satu dengan yang lainnya yang saling terkait antara pekerjaan sipil, arsitektur dan mekanikal / elektrikal, dalam mengkoordinasi di lapangan bisa dilakukan dengan Site Meeting setiap seminggu sekali, tetapi kalau ada yang mendesak bisa dilakukan meeting saat itu juga, sehingga Site Meeting dilakukan tergantung dari kebutuhan yang dihadapi dilapangan.

Koordinasi keluar

Yang dimaksud adalah koordinasi yang menyangkut hubungan konsultan Manajemen Konstruksi, Kontraktor, Staf Manajemen Konstruksi dan pihak-pihak terkait lainnya mengenai proyek yang sedang dihadapi sehingga informasi yang diterima baik oleh Kontraktor maupun Konsultan Manajemen Konstruksi tidak tumpang tindih, dan tidak ada kesimpang siuran dari fersi masing-masing.

3.10 PENGENDALIAN WAKTU

Secara umum pengendalian waktu pelaksanaan proyek dilakukan melalui metode “fast tracking” pada jadwal proyek. Dapat digambarkan gagasan tersebut melalui skema berikut :

(28)

Penghematan waktu sebagaimana diatas, akan lebih banyak diperoleh melalui perencanaan jadwal waktu pelaksanaan fisik, secara akurat. Perlu pula dukungan perencanaan engineering dan procurement/logistic yang memadai sehingga penghematan waktu dapat diperoleh atau paling kurang jangka waktu (time frame) yang ditetapkan tidak terlampaui, sebagaimana ditunjukkan pada jadual induk terlampir.

Guna menjamin tidak terlampauinya kerangka waktu proyek, metoda fast tracking bahkan dapat ditarik sejak masa perancangan, terpadu dengan masa lelang dan masa pelaksanaan sesudahnya. Dapat digambarkan melalui skema berikut :

(29)

Metoda fast tracking pada jadwal induk sebagaimana ditunjukkan diatas, mempunyai implikasi proyek tidak dapat dilaksanakan dalam satu kesatuan paket pekerjaan. Melainkan dalam beberapa paket, dan seterusnya. Pembagian paket pekerjaan (packeting) tidak dapat disusun sekedar berdasarkan atas fenomena waktu sebagaimana contoh diatas, melainkan pula pertimbangan lainnya, seperti kekhususan (specific/nature) pekerjaan, daya dukung Pemborong, efisiensi serta efektifitas pengaturan ruang kerja dan lain-lain.

Pemaketan tersebut menuntut atau melahirkan konsekuensi perlunya koordinasi kuat, semenjak proses engineering sampai dengan pelaksanaan instalasi konstruksi dilapangan. Suatu kondisi yang tepat dimiliki oleh Konsultan Pengawas yang berada pada fungsi kontrol saja. Sementara Konsultan Perencana yang berada pada fungsi aksi tidak diposisikan untuk melaksanakan tugas demikian.

(30)

dilakukan pada bagian-bagian proyek yang dapat dipisahkan (detachable) dari pekerjaan induknya.

3.3.10 Pengendalian Biaya

Pemaketan pekerjaan sebagaimana dibahas diatas, sebagaimana tertuang diatas kertas mempunyai dampak positif, berkurangnya nilai faktor pajak, faktor overhead & profit pada harga yang ditawarkan Pemborong. Tetapi biasanya tidak diikuti dengan perhitungan meningkatnya overhead Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas, sebagai akibat peningkatan kegiatan pengendalian.

Metoda lain dalam pengendalian biaya, tepatnya penghematan biaya, dilakukan melalui proses value engineering. Suatu metoda peninjauan ulang (review) dokumen rancangan, dengan membuang faktor-faktor yang sebenarnya tidak diperlukan (unnecessary), juga faktor-faktor yang berlebihan melampaui kebutuhan minimal. Faktor-faktor demikian muncul sebagai akibat penerapan “rule of thumb” yang berlebihan, standard kebutuhan yang telah berubah, pola kerja lapangan yang telah berubah pula dan lain sebagainya. Suatu bahasan teknis detail yang dapat diterangkan melalui ilmu struktur, target utama value engineering. Pekerjaan struktur lazimnya adalah butir terbesar dalam perhitungan biaya konstruksi, karenanya menjadi objek utama value engineering. Sesuatu yang tidak akan terjadi pada proyek ini, karenanya kecilnya biaya pekerjaan struktur. Sementara value engineering pada pekerjaan finish arsitektur tidak lazim dilakukan karena banyaknya muatan non teknis, sedangkan pada pekerjaan utilitas biasanya telah dirancang dengan efisien.

Satu-satunya peluang pengendalian biaya pada proyek ini, adalah mengatur keseimbangan nilai pekerjaan perubahan (variation/change order) yang tidak dapat dihindarkan, agar tidak melampaui batas anggaran dan dana cadangan.

(31)

3.3.11 Pengendalian Mutu

Seharusnya pengendalian mutu tidak lagi menjadi issue atau pokok bahasan lagi. Konsultan Perencana, Pemborong dan Supplier diharapkan telah memiliki standard performance yang memadai.

Sehingga pemeriksaan mutu yang dilakukan Konsultan Pengawas melalui proses Quality Assurance Plan dan Quality Control, semenjak masa perancangan, engineering/ perencanaan sampai dengan konstruksi/instalasi, hanya akan menjaring kesalahan yang bersifat manusiawi (human error), yang karenanya dapat diperbaiki dengan sukarela. Bukan kesalahan yang disengaja (by crime), bahkan pula yang direncanakan (created crime).

Pemilihan para pelaku proyek karenanya perlu mensyaratkan ketiga faktor pengendalian diatas sebagai kriteria utama, sehingga proyek dapat diharapkan berjalan dengan semestinya. Pada sisi lain diharapkan kesediaan Pemberi Tugas melonggarkan atau dapat disebut terobosan atas kebiasaan pendanaan yang telah baku. Situasi krisis ekonomi yang masih berlangsung dewasa ini, telah menghancurkan skema pembiayaan proyek yang berlaku. Bahan-bahan harus dipesan sebelum diproduk, bahan yang ada harus dibayar didepan atau cash and carry, sementara suku bunga bank masih tinggi, faktor-faktor yang akan dibebankan pada penawaran harga dan pada akhirnya pada implementasi lapangan akan terjadi tarik ulur antara jadwal konstruksi dan finansial cash flow. Kesediaan Pemberi Tugas membayar “material on site” pada proses perhitungan prestasi pembayaran (payment progress) yang dilakukan secara bulanan, akan lebih “berarti” dibandingkan dengan ketiga teori pengendalian diatas.

(32)

3.14 PEMBINAAN KERJA

Konsultan Manajemen Konstruksi tidak hanya bertugas mengadakan Manajemen Konstruksi terhadap mutu/kualitas, dana, dan waktu pekerjaan, tetapi juga harus memberikan pembinaan terhadap kontraktor baik itu dalam segi teknis juga mengenai administrasi dengan bertitik tolak pada Aanwijzing juga di tuntut mempunyai leadership dan pemahaman dalam bidang teknis dan administratif. Di sini seorang Manajemen Konstruksi tidak hanya bisa menyalahkan atau membenarkan suatu pekerjaan dengan bertitik tolak pada dokumen kontrak, tetapi seorang Manajemen Konstruksi harus bisa memberikan pengarahan serta penjelasan mengenai pendapatnya dilapangan mengapa pekerjaan yang dilakukan oleh pihak kontraktor dikatakan salah, tetapi harus bisa memberikan alternatif mencari jalan keluar terhadap perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan, agar pekerjaan tersebut dapat terus berlanjut tidak berhenti. Artinya pembinaan tersebut sangatlah berarti bila diberikan sebelum pekerjaan dimulai dan selama proses pelaksanaan. Hal ini sangat berarti karena dapat menghindari terjadinya kesalahan- kesalahan yang dilakukan oleh pihak kontraktor. Seringkali terjadi pembinaan tidak diberikan sehingga terjadi kesalahan fatal yang mana sulit untuk diperbaiki dan terpaksa dibongkar karena tidak sesuai dan tidak bisa ditoliler karena tidak sesuai dengan perencaannya. Disinilah pentingnya arti pembinaan kerja yang harus diberikan oleh seorang Manajemen Konstruksi agar kesalahan-kesalahan sedini mungkin dapat dimonitor. Pembinaan disini bisa dalam segi teknis maupun administratif.

1. Bidang teknis antara lain :

o Mengevaluasi metode kerja yang akan dipakai oleh pihak kontraktor. o Memberikan masukan dan saran berkaitan dengan metode yang

akan dipakai, kelemahannya apa dan tindakan apa yang harus dilakukan. o Apabila terjadi perbedaan pendapat/pandangan dalam metode yang

(33)

dipilih dapat didiskusikan sehingga diperoleh pemecahannya. 2. Bidang administrasi antara lain :

o Memberikan pengarahan tentang prosedur perijinan pelaksanaan pekerjaan, persetujuan material, pergantian material, dan lain-lain.

o Memberikan pengarahan berkenaan dengan prosedur adanya pekerjaan tambah/kurang atau Addendum yang harus ditempuh

o Prosedur Addendum perpanjangan waktu. o Prosedur surat menyurat.

3.15 KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

Keselamatan dan Keamanan pada masa konstruksi biasanya meliputi : - Keselamatan

o Peraturan keselamatan kerja di lapangan. o Organisasi keselamatan kerja yang diperlukan.

o Fasilitas kesehatan kerja (helm, lampu, rambu-rambu, fasilitas P3K, dan lain sebagainya.

o Demonstrasi/pelatihan. o Inspeksi periodik. - Keamanan

o Organisasi keamanan yang diperlukan berikut personil. o Ijin serta kontak-kontak yang diperlukan.

o Peraturan keamanan di proyek.

o Fasilitas keamanan seperti: pagar, gerbang, gardu/tower jaga, lampu spot, kartu identitas, handly talkie, dan lain sebagainya.

(34)

o Demonstrasi/pelatihan. o Inspeksi periodik.

3.4 Supervisi Konstruksi

Sebelum dilakukan pengawasan lapangan harus dipahami terlebih dahulu kegiatan dan jenis bangunan yang akan dilaksanakan pembangunanannya :

1. Tipe yang akan dibangun 2. Luas bangunan

3. Konsep bangunan 4. ME yang akan dipasang

5. Acessories bangunan yang akan diinstalasi

Dengan demikian, maka sistem pengawasan dan supervisi konstruksi menjadi hal yang sangat penting sehingga diperlukan suatu wadah organisasi yang memadai dalam melakukan monitor terhadap segala aspek pekerjaan sedemikian rupa sehingga proyek ini dapat selesai tepat waktu, tepat mutu dan tepat biaya.

Untuk memenuhi target di atas, perlu disiapkan program kerja dan menyusun satu tim memadai dalam jumlah dan kualitas yang terdiri dari tenaga-tenaga ahli seperti yang dipaparkan pada usulan teknik ini pada point lainnya.

Dalam hal ini, perlu ditambah satu bagian dalam hal penyediaan bangunan yang dapat diandalkan menjadi suatu bangunan yang baik, sesuai spesifikasi yang disyaratkan, Konsultan lebih mengutamakan hal-hal yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan pekerjaan konstruksi di lapangan dengan asumsi-asumsi sebagai berikut :

(35)

mengenai pelaksanaan Dokumen Kontrak baik fisik maupun administrasi teknis yang tentunya dapat dipahami oleh kontraktor. Kegiatan ini dilakukan diawali dari Pre Construction Meeting ( Rapat Pendahuluan ) dan aktivitas lain pada masa mobilisasi.

b) Mengarahkan kontraktor untuk melakukan survei detail dan inventarisasi lapangan kemudian melakukan rekayasa lapangan sesuai dengan kondlsi dan kebutuhan lapangan. Hasil rekayasa lapangan di konsultasikan dengan Tim teknis dari Satuan Kerja Penyediaan Perumahan, Pusat Pengembangan Perumahan, Kementerian Perumahan Rakyat. ltem pekerjaan yang dapat dilaksanakan disesuaikan dengan dana yang tersedia dengan melakukan optimalisasi.

c) Mengarahkan kontraktor dalam persiapan metode pelaksanaan untuk semua kegiatan pekerjaan dan membantu membuat revisi bila memerlukan peningkatan metode tersebut.

d) Mengarahkan kontraktor untuk merencanakan dan menyusun jadwal pelaksanaan pekerjaan.

e) Bekerjasama dengan kontraktor dalam optimalisasi hasil kerja dari tenaga kerjanya dan pendayagunaan peralatannya.

f) Senantiasa melakukan monitoring persediaan material dan peralatan yang memadai selama pelaksanaan.

g) Melakukan pengujian lapangan baik untuk pengujian tanah maupun material tainnya dengan tujuan utama adalah tercapainya program jaminan mutu

h) Secara periodik mengadakan Rapat Mingguan dengan pihak kontraktor guna membahas semua kegiatan pekerjaan, terutama mengenai langkah-langkah yang diperlukan untuk peningkatan dan efisiensi pelaksanaan di lapangan. Juga untuk membahas secara detail dan menyelesaikan setiap masalah yang timbul, kaitan dengan pengawasan mutu dan kemajuan pekerjaan.

(36)

kontraktor tidak terlambat dalam proses sejak pembualan dan koreksi hingga mendapat persetujuan.

j) Menyelesaikan setiap perubahan dari perencanaan program, termasuk gambar rencana dan spesifikasinya.

k) Membimbing kontraktor agar dapat memproduksi aggregate dengan mutu sesuai spesifikasi yang telah disyaratkan.

l) Memeriksa dan menandatangani sertifikat pembayaran Bulanan Kontraktor, sehingga penerimaan pembayaran dapat tepat pada waktunya, tanpa mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan selanjutnya.

m) Membuat laporan kepada Direksi secara tengkap dan kontinyu tentang segata kemajuan pekerjaan metalui surat menyurat dan laporan kemajuan pekerjaan bulanan.

n) Mengadakan rapat koordinasi sebulan sekali ( yang harus dihadiri oleh staf utama dari Direksi dan Konsultan serta Kontraktor) untuk membahas dan memecahkan masalah penting yang terjadi selama pelaksanaan proyek.

o) Senantiasa menjalin hubungan secara harmonis dengan orang yang terlibat pada proyek ini.

Penjelasan tentang rencana usutan supervisi akan diuraikan dalam sub bab berikut ini.

3.4.1 Pekerjaan Persiapan

Apabila Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) kontraktor atau surat resmi lainnya, yang menyatakan bahwa kontraktor sudah bisa memulai pekerjaan maka harus segera dilakukan langkah-langkah untuk memulai pekerjaan persiapan sebagai tahap pelaksanaan supervisi konstruksi, antara lain :

(37)

1) Atas persetujuan satuan Kerja Penyediaan Perumahan melakukan mobilisasi personil dan peralatan termasuk menyediakan kantor proyek dan perlengkapannya serta alat transportasi.

2) Menyiapkan blanko standar dan membuat format laporan yang akan digunakan selama pelaksanaan supervisi konstruksi (laporan lnspector, laporan pengujian tanah dan bahan, blanko pengecekan topo-survey, blanko pengukuran volume pekerjaan, blanko persetujuan request, surat menyurat antar instansi, blanko rekaman pengiriman dan pemakaian peralatan / kendaraan dan lain-lain).

3) Mengikuti atau memfasilitasi terlaksananya pre construction Meeting untuk mendapatkan kesepakatan mengenai paling tidak 4 hal sebagai berikut :

Kesamaan pengertian terhadap pasal-pasal DOKUMEN KONTRAK menyangkut:

o Variasi pekerjaan ( Pekerjaan tambah - kurang ) o Termination atau for feiture

o Mobilisasi

o Sub letting/ sub kontraktor o Asuransi

o Dan lain-lain yang dianggap perlu.

Kesepakatan tentang tata cara dan proses administrasi, menyangkut : o Request, approval & examination of works.

(38)

o Drawing / gambar o MC & Eskalasi o PHO dan FHO o Addendum kontrak

o Dan lain-lain yang dianggap pertu

Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur teknis pelaksanaan pekerjaan utama (Major Item )

o Kemungkinan adanya perubahan komposisi / jumlah peralatan atau urutan kegiatan pekerjaan yang tetah dituangkan kedalam program mobilisasi dan jadwal konstruksi yang telah disepakati menjelang penandatanganan kontrak.

Hasil-hasil Pre Construction Meeting dituangkan dalam bentuk Berita Acara yang ditandatangani bersama oleh :

a) PPK, Tim Teknis, Konsultan Supervisi dan General Superintendent kontraktor.

b) Hal-hal penting lainnya harus dilakukan oleh konsultan pada tahap awal pekerjaan adalah pengkajian ulang secara terinci dan evaluasi data yang telah ada seperti standar perencanaan, rencana spesifikasi, surat keterangan material, persyaratan kontrak, rencana aggaran biaya, rencana kerja, dan lain-lain. Hal ini bermanfaat untuk menghilangkan keraguan atau mengoreksi kesalahan yang dapat ditemukan serta dapat mengurangi biaya proyek dan menghemat waktu pelaksanaan dengan pertimbangan yang dapat diterima secara teknis. Dalam Kerangka Acuan Kerja telah dikemukakan bahwa studi terdahulu atas jalan yang akan dikerjakan ini belum ada, sehingga akan dikoordinasikan dengan

(39)

PPK dan Tim Teknis untuk melakukan rekayasa lapangan dan selanjutnya kaji ulang perencanaan sesuai dengan tingkat dan prosedur baku yang sudah ada. produk Kaji ulang perencanaan akan disetesaikan datam priode mobitisasi, sehingga tidak menghambat aktivitas kontraktor datam tahapan konstruksi selanjutnya. Untuk proyek pendek ( non multy years), kaji ulang harus selesai dalam waktu 2 minggu setelah serah terima lahan, dan dilakukan contract change order oleh panitia peneliti Pelakanaan Kontrak kemudian dibuatkan Amandemen Kontrak. 3.4.2 Pengaturan Angkutan Material

1. Umum

Selama periode konstruksi, masyarakat tentu akan terganggu oleh aktivitas mobilisasi angkutan material menuju lokasi pekerjaan. Hal ini tidak dapat dihindari, sebagai akibat konsekuensi akan dilewatinya wilayaah pemukiman menuju lokasi pekerjaan konstruksi. Untuk itu disarankan agar melakukan koordinasi dengan tokoh masyarakat setempat dan pihak-pihak terkait selama pelaksanaan konstruksi.

2. Usulan Pengaturan Angkutan Material

Konsultan akan mengusulkan untuk melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait dengan pertimbangan secara matang dan teliti untuk meminimalkan gangguan dan ketidaknyamanan yang dialami oleh masyarakat. Dengan demikian konsultan juga percaya bahwa dalam penyusunan rencana pelaksanaan konstruki telah menjadi bagian pertimbangan dalam hal ini.

Sebagai tambahan, rencana secara terinci datam pengawasan dan pengaturan lalu lintas harus disusun sebagai berikut :

(40)

harus menyiapkan rencana detail tentang metode yang terbaik untuk pengawasan dan pengaturan lalu lintas selama setiap tahap periode konstruksi. Rencana tersebut harus meliputi semua kemungkinan metode pengawasan dan pengaturan lalu lintas.

Setelah Kontraktor merumuskan rencana awal, maka harus mengadakan rapat konsultasi dengan pihak konsultan, Proyek Manajer dan wakil dari instansi lain yang terkait secara langsung guna membahas seturuh aspek perencanaan dan memutuskan metode yang paling efektif yang akan digunakan dalam pengawasan dan pengaturan lalu lintas.

Selain itu, konsultan juga akan melakukan koordinasi dengan kontraktor mengenai pemanfaatan jalan kerja agar tetap dapat terpelihara.

Setelah rencana kontraktor tersebut sudah disiapkan, maka harus diperiksa oteh konsultan (terkait dengan wakil dari instansi yang menghadiri rapat). Setiap perubahan dan tambahan akan dikembalikan. Selama pelaksanaan kontraktor menyelesaikan rencana tersebut, kemudian dikirim guna mendapat konstruksi, konsultan harus senantiasa mengarahkan kontraktor untuk merevisi rencana pengawasan dan pengaturan latu lintas jika perlu.

3.4.3 Program Jaminan Mutu

Pada dekade terakhir ini skala dan kompleksibititas proyek jalan semakin bertambah besar, dana terbatas, periode pelaksanaan singkat dan tuntutan untuk menghindari kesalahan pelaksanaan semakin intensif. Menurut konsultan paling tidak ada 3 hal yang paling mendasar mengenai program jaminan mutu yang akan diuraikan berikut ini, yakni:

(41)

a. Pemahaman terhadap Syarat-syarat teknis pekerjaan.

Secara garis besar spesifikasi terdiri dari 6 pokok uraian sebagai berikut : 1) Uraian atau lingkup pekerjaan :

a. Mencakup seluruh bagian-bagian pekerjaan yang tercakup dalam artikel / jenis pekerjaan yang dimaksud

b. Pada umumnya yang tercakup lebih luas / banyak dari judul / jenis pekerjaan itu sendiri.

c. Menentukan jenis peralatan yang diperlukan d. Mempengaruhi struktur analisa harga satuan 2) Bahan atau Material

a. Mencakup ketentuan bahan baku maupun bahan olahan b. Mencakup tata cara "handling"

c. Metode pelaksanaan dan peralatan yang digunakan

d. Sebelum pelaksanaan diharuskan melakukan percobaan/pengujian e. Mengatur cara dan urut-urutan pelaksanaan, peralatan yang disarankan, keadaan cuaca yang disarankan, pengendalian mutu setiap tahap pelaksanaan

3) Syarat hasil akhir dan pengendalian mutu ;

a. Merupakan persyaratan paling penting / menentukan sebelum pekerjaan tersebut layak untuk diterima dan dibayar

(42)

4) Cara pengukuran hasil kerja

a. Mengandung unsur "penyederhanaan" dan memperkecil kemungkinan "silang pendapat" di lapangan

b. Hasilnya pada umumnya lebih kecil dari apa yang telah dikerjakan ( dari sudut kuantitas )

c. Sangat mempengaruhi "faktor koreksi" datam analisa harga satuan. 5) Cara pembayaran.

a. Mencakup satuan dari pembayaran ( Rp/ton, Rp/m2, Rp/liter' dll ) b. Pembayaran dimaksudkan sebagai "kompensasi" dari tenaga kerja, bahan, peralatan, dsb, untuk metaksanakan bagian-bagian pekerjaan yang tercakup datam diskripsi pekerjaan yang dimaksud.

Penjelasan tersebut menyiratkan bahwa tidak akan mungkin diperoleh hasil yang optimal dari proyek tanpa dilakukan pemahaman dan penerapan Dokumen Proyek secara baik oleh semua pihak yang terkait.

b. Pelaksanaan kendali mutu yang benar.

Tata cara pengendalian mutu yang baik khususnya yang berkenaan dengan persyaratan teknik :

1. Tahap Pengendalian mutu yang baik Ada tiga tahap Pengendalian mutu :

Pengendalian mutu bahan baku Pengendalian mutu bahan otahan

(43)

2. Jenis Pengendalian mutu yang baik.

Ada dua jenis pengendalian mutu yang harus dilakukan

Mutu tentang dimensi ( panjang, lebar, lebat. Elevasi,kemiringan, kerataan, dsb )

Mutu tentang kuatitas fisik 3. Aplikasi Spesifikasi yang benar.

Struktur Spesifikasi selalu mencakup 5 hal untuk tiap jenis pekerjaan maupun bahan, Yakni:

Jenis pemeriksaan material Metode pemeriksaan Frekuensi pemeriksaan Persyaratan mutu Toleransi

c. Persetujuan atau Penolakan Pekerjaan

Pada setiap bagian pekerjaan yang sudah selesai, Konsultan akan mengadakan metode "lnspeksi untuk menerima hasil pekerjaan" secara tepat. Jika pekerjaan sudah dilakukan secara memuaskan dan sesuai dengan spesifikasi dalam Dokumen Kontrak, konsultan akan membuat rekomendasi secara resmi kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Pekerjaan yang tidak dapat diterima atau tidak sesuai dengan spesifikasi, akibat penyimpangan kualitas karena pelaksanaan yang buruk, pemakaian bahan yang rusak, atau akibat hal lain sehingga ditolak akan diberikan catatan secara tertutis mengenai alasan penolakan tersebut,

(44)

dengan mengkoordinasikannya kepada tim teknis dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) berkaitan dengan setiap pekerjaan Yang ditotak.

Program jaminan mutu, yang akan dilaksanakan oleh konsultan dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya akan mengacu pada program jaminan mutu yang diuraikan diatas. Oleh sebab itu dalam penanganan proyek ini selain tenaga professional yang kualified yang akan ditugaskan, tenaga teknis yang akan diturunkan juga adalah tenaga-tenaga yang sudah matang dan berpengalaman di bidang tugasnya masing- masing.

3.4.4 Monitoring Kemajuan Pekerjaan 1. Pengendalian Jadwal Pelaksanaan

Salah satu hal yang harus dilaksanakan konsultan setelah Surat Perintah Mulai Kerja (SMPK) adalah metakukan diskusi dengan kontraktor mengenai jadwal pelaksanaan yang lebih terinci, untuk bersama-sama penyusun jadwal tersebut.

Berdasarkan pengalaman dalam supervisi konstruksi pada proyek yang sejenis, konsultan menyadari benar bahwa jadwal membutuhkan evaluasi yang berkesinambungan untuk memantau kelemahan struktur organisasi kontraktor, metode pelaksanaan, penugasan personil, penggunaan peralatan dan lain sebagainya.

Pada umumnya petaksanaan kontrak dibagi atas 3 periode : Periode satu : Rencana pelaksanaan 0 - 30 %

Periode dua : Rencana pelaksanaan 30 - 70% Priode tiga : Rencana pelaksanaan 70 - 100% Suatu proyek dikatakan kritis bila :

(45)

Pada priode kesatu : keterlambatan > 25% Pada priode kedua : ketertambatan > 15 % Pada Periode ketiga : Fisik belum selesai. Proyek dikategorikan terlambat bila :

Pada priode kesatu : keterlambatan 10 - 25 % Pada priode kedua : keterlambatan 10 - 15 %

Untuk Proyek kritis harus dilakukan Show Cause Meeting.

Oleh sebab itu Konsultan merencanakan akan mengendalikan kemajuan pekerjaan konstruksi dengan CPM (Criticat Path Methode) dari jadwal pelaksanaan kerja. Dengan CPM jadwal diperbaharui berdasarkan progress perbulan dengan Komputer. Sehingga Konsultan (Supervision Team) akan melibatkan diri dengan semua aspek kegiatan pengendalian kemajuan kerja.

Konsultan secara periodik setiap minggu, mengevaluasi jadwal kontraktor tentang kemajuan dari kegiatan lapangan dan langkah-langkah perbaikan yang harus diambil untuk mengurangi keterlambatan yang dialami.

Jika diprediksi bahwa bagian pekerjaan yang kritis ( Criticat Path ) akan tertunda, konsultan segera memfasilitasi pelaksanaan rapat khusus dengan kontraktor dan Pimpro/Pimbagpro untuk mendiskusikan semua item pekerjaan berhubungan dengan masalah tersebut, menunjukkan secara tepat apa permasalahannya, memberi pengarahan bagaimana mencari jalan keluarnya dan menginstruksikan kontraktor untuk mengambil tindakan segera. Perlu dicatat bahwa hal ini harus diambil bukan setelah Critical Path ditunda.

(46)

Sebelum pekerjaan konstruksi, konsultan akan mengkaji ulang dan melakukan evaluasi tentang rencana kerja kontraktor yang memperlihatkan metode usulan dan prosedur pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

Rencana kerja ini menggambarkan secara detaiL program kerja kontraktor seperti mobilisasi, jadwat petaksanaan yang memperhitungkan lalu lintas dan faktor keamanan, metodotogi pelaksanaan, program pengendalian mutu, metode pengadaan dan penyimpanan material, penggunaan peralatan kerja, organisasi kerja, sub kontraktor (jika ada) dan lain-lainnya.

Pertimbangan KonsuLtan atas rencana kerja kontraktor akan memerlukan perhatian khusus terutama pada beberapa pokok persoalan berikut ini :

1. Metode pelaksanaan untuk mendapatkan mutu kerja sesuai dengan spesifikasi dan syarat-syarat kontrak

2. Jadwal pelaksanaan pekerjaan secara detail dengan metode Critical Path dan atas pertimbangan semua kegiatan item pekerjaan yang sating berkaitan

3. Perhitungan pengendalian keselamatan, terutama keamanan latu lintas yang ada dengan mempertimbangkan kenyamanan masyarakat

4. Mobilisasi peralatan dan personil yang memadai.

Berdasarkan hasil evaluasi di atas, konsultan akan meminta kontraktor untuk merevisi rencana kerja dan membantu bila diperlukan. Setelah rencana kerja tersebut diperbaiki sesuai dengan pertimbangan konsultan, walaupun tetah disetujui. Akan tetapi tetap dikaji ulang lebih jauh diperlukan.

jika memang Konsultan juga akan mengkoordinasikan dengan kontraktor untuk menerapkan sistem penjadwalan dan monitoring dengan

(47)

menggunakan diagram anak panah (Arrow diagram) yang menggambarkan hubungan antara lokasi dan waktu pelaksanaan dari setiap item pekerjaan.

Setiap item pekerjaan akan dihitung berapa lama pekerjaan pada lokasi tertentu akan dikerjakan, sumber daya peralatan dan material dan tenaga yang menunjang pekerjaan tersebut dan keterkaitannya dengan item pekerjaan lain. Dengan demikian Arrow diagram memungkinkan beberapa jenis pekerjaan dapat dilakukan secara frontal tanpa saling mengganggu, khususnya untuk optimalisasi pemakaian peralatan.

3. Perencanaan dan Koordinasi Kemajuan Jadwal CPM

Suatu metode yang efektif untuk kemajuan pekerjaan secara memuaskan, atau bahkan untuk meningkatkannya, adalah hal yang memerlukan perhatian terutama dari segi penjadwalan proyek dan rapat koordinasi yang diadakan setiap Minggu (sebaiknya setiap hari Senin pagi) antara konsultan dan kontraktor. Dalam rapat ini harus dihadiri oleh personil utama dari kedua pihak, untuk rumusan rencana kerja selanjutnya.

Pada saat yang sama, setiap masalah yang timbul yang dapat mempengaruhi metode CPM, akan dianalisa dengan langkah-langkah yang tepat untuk mendapatkan pemecahannya. Dalam hal ini, sebelum diadakan rapat bersama staf pada setiap akhir Minggu (hari sabtu) untuk membicarakan kegiatan Minggu tersebut dan menentukan bobot kemajuan yang dicapai'

Kemudian kontraktor harus pula mempersiapkan sebuah jadwal Bar-Chart sederhana yang memperlihatkan jadwal pekerjaan selanjutnya yang direncanakan pada Minggu berikut dan menunjukkan Rapat Koordinasi Mingguan pada setiap hari Senin antara konsultan dan kontraktor.

(48)

akan membantu secara efektif konsultan maupun kontraktor di lapangan terutama pengaturan personilnya guna menghilangkan keraguan, sehingga dapat dapat mengakibatkan kemajuan yang lebih positif.

Sepanjang koordinasi yang baik dan terpelihara antara konsultan dan kontraktor, maka akan memudahkan terutama dalam memperbaiki kesalahan-kesalahan, memecahkan masalah dan menghindarkan kesalah pahaman serta akan memungkinkan tercapainya pekerjaan yang maksimum.

4. Evaluasi Ulang Terhadap Gambar Pelaksanaan Kontraktor

Kontraktor diharuskan menyerahkan gambar petaksanaan kepada Konsultan untuk disetujui, dimana diperlihatkan secara lengkap dan lebih rinci seluruh bangunan/struktur yang harus dibangun sesuai Construction Plant yang digunakan, waktu untuk pekerjaan persiapan, pemeriksaan, perbaikan dan persetujuan gambar pelaksanaan yang bisa dipertimbangkan dan jika tidak akan terjadi keterlambatan kemajuan kerja. Dengan menyadari akan hal ini, konsultan dengan kontraktor menyusun jadwal proses gambar pelaksanaan dan dipersiapkan untuk disetujui sesuai prioritas yang dapat mempengaruhi critical path.

5. Memacu Keterlambatan Pekerjaan

Bila Kontraktor gagal memenuhi target dalam sesuai jadwal yang telah disepakati sebelumnya baik akibat kelalaian kontraktor maupun akibat permasalahan tertentu sehingga terjadi deviasi yang cukup besar, maka konsultan akan segera mengusulkan untuk dilakukan Show Cause Meeting ( Rapat pembuktian ). Untuk proyek LCB ( Local Competitive Bidding ) tingkatan pelaksanaan Show Cause Meeting dilakukan sesuai deviasi keterlambatan proyek dengan urutan tingkatan sbb :

(49)

Ketertarribatan 15 - 25 % dilakukan SCM tingkat Tim Teknis. Keterlambatan > 25 % dilakukan SCM tingkat PPK

Materi rapat Show Cause Meeting mencakup hal sebagai berikut :

Pembuktian tentang kemungkinan / kesanggupan kontraktor bila diberi kesempatan umtuk mengatasi keterlambatan atau masalah

Test Case yang diperintahkan kepada kontraktor guna membuktikan kesanggupannya dalam jangka waktu tertentu.

Usul tindak lanjut atas hasil evaluasi test case kepada jenjang yang lebih tinggi, sampai ke Kepala Satuan Kerja.

Keputusan akhir atas pelaksanaan Show Cause Meeting dapat berupa : Dilanjutkan dengan perpanjangan waktu

Dilanjutkan tapi denda pada akhir masa kontrak apabila pekerjaan belum terselesaikan

Kerja sama dengan Pihak Ketiga / Three Parties Agreement (TPA ). For Feiture.

Pemutusan Kontrak.

a. Perpanjangan waktu pelaksanaan.

Dalam pelaksanaan fisik kadang-kadang dijumpai hal-hal yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam penentuan waktu pelakanaan datam dokumen kontrak, sehingga bagaimanapun upaya kontraktor untuk mengerjakan tugasnya tetap terjadi keterlambatan dari progress yang dibuat berdasarkan waktu pelaksanaan sesuai dengan dokumen kontrak. Untuk kasus demikian, kontraktor akan mengajukan perpanjangan waktu

(50)

dengan alasan-alasan tertentu. Hal-hal yang layak dipertimbangkan untuk pemberian rekomendasi perpanjangan waktu okeh konsultan adakah sebagai berikut :

Pekerjaan tambah / kurang. Walaupun CCO yang disepakati adalah CCO balance, namun item pekerjaan tambah yang diberikan memerlukan waktu pelaksanaan yangl lebih lama dibanding dengan pengurangan item pekerjaan lain sebelumnya, misalnya Penambahan kuantitas item pekerjaan Pasangan batu atau saluran pasangan batu dengan mortar yang dikerjakan secara manual

Perubahan Desain. Misalnya perubahan ketebalan rabart sehingga kuantitasnya meningkat dibanding dengan pengurangan ketebalan

Bencana Alam. Bila terjadi bencana alam misalnya terjadi banjir, tanah longsor dan lain-lain sehingga aktivitas kontraktor terhambat atau ada bagian pekerjaan yang rusak yang harus diperbaiki kembali oteh kontraktor. Bencana alam harus dibuktikan dengan pernyataan dari Bupati / Gubernur'

Hambatan Proyek. Proyek terhambat baik akibat "hilang" nya material pokok dari pasaran, misatnya aspal atau semen maupun hambatan karena pembebasan tanah di lokasi yang belum beres.

Force Majeure. Terjadinya hal-hal yang diluar kekuasaan kedua pihak ( Kontraktor dan pemitik Proyek ) misalnya : terjadi perang, pemberontakan, perang saudara, huru-hara atau kekacauan lainnya. Kasus ini juga harus di "back up" dengan Pernyataan dari Gubernur.

Hujan yang luar biasa. secara umum hari hujan memang sudah diperhitungkan dalam menghitung waktu pelaksanaan dalam dokumen kontrak, oleh sebab itu kondisi yang bisa dipertimbangkan adalah bila hujan yang terjadi merupakan hujan yang luar biasa akibat perubahan

(51)

musim, misalnya terjadinya fenomena "El Nino" pada tahun 1997 - 1998. Curah hujan yang terjadi harus dibuktikan data pencatatan curah hujan harian.

Prosedur pengusulan sampai persetujuan perpanjangan waktu pelaksanaan dapat dikemukakan sebagai berikut :

Kontraktor : Mengajukan usulan tertutis dengan dilengkapi alasan perpanjangan waktu dan waktu tambahan yang dibutuhkan kepada Pemimpin Proyek dengan tembusan Konsultan Supervisi.

Konsultan supervisi : mempelajari usulan kontraktor dan membuat Justifikasi teknis termasuk mengevaluasi kebutuhan waktu pelaksanaan.

Pemimpin Proyek meminta kepada Panitia Peneliti Pelaksanaan Kontrak untuk membahas usulan Kontraktor.

Panitia Peneliti melaksanakan rapat yang dihadiri oleh unsure Proyek, Konsultan Supervisi dan Kontraktor. untuk membahas usulan kontraktor tersebut. Panitia Peneliti memberikan rekomendasi kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) mengenai usulan tersebut termasuk waktu yang disetujui apabila perpanjangan waktu diberikan yang dituangkan dalam Berita Acara Rapat.

Dengan dasar tersebut Pejabat Pembuat Komitmen (PPk) membuat amandemen / addendum kontrak

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan sebelum Amandemen Kontrak diterbitkan adalah :

Semua jaminan (uang muka, pelaksanaan dan lain-lain) harus disesuaikan.

Jadwal pelaksanaan fisik Curva S disesuaikan, dengan tetap mempertahankan kemiringan curva.

(52)

3.4.5 Pengendalian Biaya Proyek 1. U m u m

Konsultan menyadari sepenuhnya dalam hal pengendalian semua biaya yang berhubungan dengan proyek dan akan membuat usaha pengendalian secara dini hingga akhir tahap konstruksi. Berbagai cara untuk meLakukan hal ini, seperti penggunaan computer untuk pengolahan data pembiayaan, menghindari keterlambatan kemajuan pekerjaan, mempertahankan pekerjaan tambah kurang seminimal mungkin, dan menjamin prosedur petaksanaan konstruksi yang pating efisien.

Dalam pengendalian biaya proyek yaitu meminimalkan biaya operasi lapangan, menyiapkan sertifikat pembayaran secara teliti dan meyakinkan Kontraktor dengan membayar pekerjaan yang telah dikerjakan, menyiapkan perkiraan pekerjaan sisa secara berkala sehingga jadwaI pembayaran bisa disesuaikan dengan taksiran kemajuan pekerjaan yang tepat, dan menjamin bahwa pekerjaan telah diterima sesuai dengan spesifikasi.

Sebagai ringkasan, cara terbaik untuk mengendalikan biaya proyek secara keseluruhan adalah mengoptimalkan pekerjaan yang telah selesai dan menjamin bahwa tanggal penyelesaian kontrak dapat dicapai tanpa adanya perpanjangan waktu.

2. Sistem Komputer untuk Pengolahan Data Pembiayaan Proyek

Menjaga data biaya proyek yang terbaru adatah bagian yang terpenting dari supervisi konstruksi tetapi kegiatan ini menjadi sulit dan memerlukan waktu, dengan akibatnya sering menjadikan kurang efektifnya metode ini. Tetapi pada proyek ini Konsultan akan menggunakan system Komputer yang bisa beroperasi dilapangan tanpa memerlukan alat penunjang yang lebih memadai. Hal ini berarti bahwa konsultan harus dapat mengolah

(53)

semua data yang berhubungan dengan pengontrolan biaya proyek secara cermat, teliti dan cepat.

a. Persiapan dan Pemrosesan Tagihan Kontraktor

Sistem pembayaran yang biasa digunakan terhadap prestasi kontraktor terdiri dari :

* Sistem Monthly Certificate ( SMC )

System Monthty certificate merupakan cara pembayaran yang terhadap prestasi pekerjaan kontraktor setiap bulan. Oleh karena itu Kontraktor akan mengajukan tagihan setiap bulan kepada proyek mengenai prestasi pekerjaan yang bisa diterima baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

Dari Pengalaman mengerjakan proyek sejenis beberapa hal yang berkaitan dengan sistem MC ini dapat dikemukakan sebagai berikut:

Harus diajukan setiap bulan meskipun progress yang ditagihkan Rp.o. Diajukan setiap tanggal 25 bulan yang bersangkutan Maksimal 7 hari setelah tanggal pengajuan sudah harus ada tanggapan, diterima , diperbaiki atau ditolak.

Maksimal 10 hari setelah pengajuan SPP diajukan Ke PPK. Tanggal 10 bulan berikut sudah disetujui untuk dibayar.

Bila ada perbedaan pendapat terhadap item pekerjaan yang diajukan, MC bisa jalan terus dengan menunda item pekerjaan yang masih bermasalah.

Bila belum tercapai kesepakatan dapat dibayarkan 70%.

(54)

untuk agregat dari kuantitas yang telah siap dilapangan.

Oleh karena dalam MC digunakan sistem kumulatif maka dalam setiap pengajuan MC terdapat potongan-potongan yang terdiri dari : * Nilai bersih MC sebelumnya

* 10 % untuk jaminan pemeliharaan * Angsuran uang Muka

* Pajak, denda dan lainnya

Pengajuan MC j uga ditengkapi dengan asuransi, sewa alat dan retribusi tambang galian golongan C

Sistem Termyn

Termyn dibayarkan apabila prestasi kontraktor telah mencapai progress tertentu yang tercantum dalam kontrak. Penelitian dan pemeriksaan dilakukan oleh Direksi Teknik/Konsultan Supervisi sesuai dengan progress yang diajukan. Maksimal 10 hari setelah pengajuan dokumen termyn, SPP sudah harus disajikan.

Konsultan akan memeriksa dan mengevaluasi hasil pengukuran material dan opname pekerjaan yang dapat diterima dan hasil pekerjaan sesuai dalam ketentuan Dokumen Kontrak. Metode pengukuran dan perhitungan yang dipakai dalam menentukan jumlah material terpasang dan hasil pekerjaan yang dapat diterima sebagaimana ditunjukkan Dokumen Kontrak.

Kegiatan ini penting, sehingga Tim konsultan dipimpin Site Manager/Team Leader didampingi oleh Quality Engineer/Chief lnspector dengan dibantu tenaga teknik lainnya memeriksa pengukuran hasil pekerjaan dengan teliti dan dapat diterima Konsultan dengan cara tepat akan memeriksa

(55)

pengukuran hasil pekerjaan yang sudah disiapkan oleh kontraktor dan akan menerima sesuai jumlah pekerjaan yang sebenarnya sesuai dengan spesifikasi. Konsultan kemudian akan merekomendasikan Sertifikat Pembayaran Bulanan atas pekerjaan yang telah selesai dan disetujui.

Format blanko standar yang digunakan disiapkan khusus untuk sertifikat pembayaran bulanan yang tetah disetujui Direksi.

Jumlah pembayaran secara bertahap akan dihitung sebagaimana mestinya sesuai dengan harga satuan dan jumlah pekerjaan yang sudah disetujui oteh Konsultan.

Sertifikat bulanan ditanda tangani oleh konsultan dan kontraktor kemudian Pembuat Komitmen (PPK) untuk persetujuan Pembayaran.

b. Pemeriksaan Jumlah Material Sisa dan Perkiraan Biaya Berkala

Konsultan akan mengkaji ulang dan memeriksa secara berkata pekerjaan sisa, sehingga dapat dibuat perkiraan biaya untuk semua pekerjaan yang telah dilaksanakan dan disampaikan kepada Direksi secara berkesinambungan tentang keadaan perkiraan keseimbangan pekerjaan yang harus diselesaikan' Untuk hal ini Konsultan akan menyiapkan jadwal pembayaran berdasarkan kemajuan pekerjaan dengan taksiran dan secara rutin diperbaharui secara berkata pula seiring dengan kemajuan pekerjaan yang sebenarnya serta setiap perubahan jadwal pekerjaan.

2.2.7 Pengendalian Keselamatan

Keselamatan personil adalah hal yang sangat penting dan menjadi hal yang harus dipertimbangkan dalam setiap pekerjaan konstruksi khususnya akibat terjadinya bangkitan lalu lintas berhubung dengan pelaksanaan

Gambar

Tabel 2. Rencana Tahun Anggaran 2013
Tabel 3. Status Penghunian Rumah Susun Sewa Wilayah Sumatera.
Gambar  (a)  menunjukkan  rumah  (almari)  tempat  penyimpanan  peralatan  pemadam  kebakaran

Referensi

Dokumen terkait

Setelah mendapatkan fokus pada bagian mana yang akan diteliti maka bersama dengan pihak perusahaan terlebih dahulu melakukan observasi awal yaitu dengan melihat kondisi

Tahap-tahap tersebut adalah tahap awal penelitian, tahap pengumpulan dan analisis data kondisi awal, tahap implementasi perbaikan metode kerja, tahap pengumpulan dan

Operasional variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator serta skala dari variable-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat

merupakan langkah yang penting karena data yang terkumpul nantinya dipakai sebagai informasi yang valid dan representatif guna pemecahan masalah dimana dalam

Print out LMS adalah dokumen yang akan dilakukan observasi guna mendapatkan informasi pendukung dan penguat ataupun informasi baru yang belum didapatkan dari

Penulis dalam menentukan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah siswa SMA Negeri 1 Bandung kelas X-7 dan kelas X-8. Kelas X-7 digunakan sebagai kelompok

Langkah-langkah dalam pengolahan data adalah sebagai berikut : a) Mengidentifikasi pihak pengambil keputusan. Pihak pengambil keputusan ini terdiri dari Manager PPIC, Manager

Langkah akhir analisis ini adalah menarik kesimpulan sementara yang berhubungan dengan representasi prinsip-prinsip kesantunan tuturan. Agar simpulan memiliki