1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kota merupakan pusat berbagai kegiatan yakni: pemerintahan, perdagangan, pendidikan, permukiman dan kegiatan lainnya dengan intensitas dan jumlah kegiatan yang sangat tinggi dengan mata pencaharian penduduknya tidak lagi bertumpu pada sektor pertanian, melainkan pada sektor perdagangan dan jasa. Dalam Imendagri No. 14 Tahun 1983, kota didefinisikan sebagai suatu pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan, wilayah administratif yang diatur dalam peraturan perundangan serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri perkotaan, sedangkan kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi (PerMendagri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan).
Peningkatan jumlah penduduk kota yang disertai dengan meningkatnya berbagai kegiatan di kota, mengakibatkan kualitas lingkungan kota menjadi semakin menurun. Oleh karena kota merupakan tempat terakumulasinya sumberdaya manusia dengan berbagai aktivitasnya yang sangat penting dalam menentukan kekuatan dan masa depan bangsa, maka kualitas lingkungan kota harus mendapat perhatian yang utama.
Kota dan kabupaten jumlahnya di Indonesia sebanyak 416 (Malarangeng 2006). Jika kota dan kabupaten kualitas lingkungannya rusak, maka kesehatan dan produktivitasnya pun akan menurun, sehingga kekuatan bangsa dapat menurun dan masa depan bangsa pun akan menjadi suram. Hal ini harus dicegah agar kota-kota yang saat ini ada dapat tetap lestari keberadaannya, bahkan dapat berfungsi dengan maksimal sebagai pusat berbagai kegiatan. Namun pada kenyataannya saat ini, manusia modern di kota secara sadar atau pun tidak telah menyisihkan hutan dan pepohonan. Lingkungan hidup manusia yang hidup di kota yang semula berhutan atau berpepohonan kini sudah menjadi berkurang luasan dan jumlah pohonnya, sedangkan di lain pihak jumlah kendaraan bermotor terus bertambah
dari tahun ke tahun yang mengakibatkan kualitas lingkungan kota menjadi semakin menurun. Pencemaran udara yang disertai dengan meningkatnya kadar gas CO2 di udara akan menjadikan lingkungan kota menjadi lingkungan yang tidak sehat.
Pada lingkungan yang tidak tercemar, konsentrasi oksigen dan karbon-dioksida masing-masing sekitar 20,95% dan 0,03% (300 ppmv). Konsentrasi gas CO2 pada masa sebelum maraknya industri sebesar 275 ppmv sedangkan pada masa sekarang konsentrasinya sebesar 350 ppmv. Jika laju penambahan penggunaan bahan bakar minyak dan gas tidak berubah, maka dalam kurun waktu 60 tahun mendatang konsentrasi gas CO2 akan meningkat menjadi 550 ppmv. Perubahan konsentrasi gas ini dari 275 menjadi 550 ppmv akan mengakibatkan peningkatan suhu udara sebesar 5oF (2,78oC) (Http://www.physics.uci.edu/ ~silverma/resourxces.ppt. 2007). Sementara Keeling dan Whorf (2005) menya-takan dari pantauan yang dilakukan pada 4 buah menara dengan ketinggian 7 meter dan 1 buah menara dengan ketinggian 27 meter di Mauna Loa, Hawaii menunjukkan bahwa konsentrasi gas ini pada tahun 1959 sebesar 315,98 ppmv dan pada tahun 2004 menjadi 377,38 ppmv (http://en.wikipedia.org/ wiki/Carbon dioxide 2006). Oleh sebab itu konsentrasi gas ini di atmosfer harus diturunkan ke tingkat yang aman yakni 300 - 350 ppm.
Saat ini banyak dibicarakan masalah sequestration dan sink. Sequestration didefinisikan sebagai removing carbon dioxide from the air atau process of
increasing carbon content of a carbon pool other than atmosphere, sedangkan sink didefinisikan sebagai any process or mechanism which removes a greenhouse gas from the atmosphere (Wikipedia 2005).
Telah dijelaskan bahwa konsentrasi gas CO2 di atmosfer terus meningkat. Peningkatan kadar gas CO2 di udara sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar minyak dan gas. Penambahan gas ini sebesar 7,81 Gt (7,81x109 ton) CO2 setara dengan 2,13 Gt Karbon akan mengakibatkan peningkatan sebesar 1 ppmv CO2 (Trenbeth 1981) dalam (CDIAC 2005).
Gas CO2 memiliki berat jenis 1,5 kali lebih besar daripada udara, merupakan salah satu gas rumah kaca yang kemudian mengakibatkan pemanasan global. Peningkatannya sebesar 100 ppmv akan mengakibatkan peningkatan suhu udara
sekitar 1oC. Hal ini disebabkan karena gas ini mampu menyerap gelombang panjang yang panjangnya 4.26 µm (asymmetric stretching vibrational mode) (http://www. wikipedia-mirror.co.za/wiki/Infrared_spectroscopy 2006).
Akibat adanya pemanasan global, flora dan fauna yang sensitif terhadap perubahan suhu udara akan bergerak ke arah kutub atau ke tempat yang lebih tinggi. Peningkatan suhu sebesar 1oC akan mengakibatkan satwa liar pindah sejauh 100-150 km mendekati kutub atau 150 m ke tempat yang lebih tinggi (http://mason.gmu.edu/~klargen/111lectclimatechange.htm 2006).
Pengaruh buruk lainnya akibat dari pemanasan global adalah cuaca menjadi lebih ekstrim, meningkatnya evapotranspirasi, meningkatnya suhu udara dan permukaan air laut serta mudah terjadinya kebakaran hutan dan kelangkaan air (http://en.wikipedia.org/wiki/Effects_of_global_warming 2006). Selain dari baha-ya baha-yang telah disebutkan di atas, pemanasan global juga akan mengakibatkan mencairnya es di kutub, sehingga mengakibatkan naiknya permukaan air laut dan tenggelamnya kota-kota pantai. Dampak ini akan sangat dirasakan pada daratan dan pulau kecil yang terletak pada 40o - 70o LU (Landsberg dan Gower 1997). Metro TV pada tanggal 18 Agustus menyiarkan bahwa kutub Selatan mengalami penyusutan permukaan es yang terparah. Jika hal ini dibiarkan, maka diperkirakan es yang menyelimuti kutub Selatan akan hilang pada tahun 2030.
Dampak negatif lainnya akibat dari tingginya kadar CO2 di udara ambien adalah menurunnya tingkat kesehatan manusia. Gas ini bersifat asfiksian dan iritan (http://en.wikipedia.org/wiki/Carbon_dioxide 2006). Asfiksian artinya gas ini mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen, seolah-olah kadar oksigen di udara sangat rendah, padahal konsentrasi gas oksigen di udara masih tetap sekitar 20,95%. Jika gas CO2 dihirup oleh manusia dalam jangka waktu yang sangat lama, maka akan mengakibatkan rendahnya kadar oksi-hemoglobin (Hb-O2) dan sebaliknya kadar asam karbonat (H2CO3) dan karbamino-hemoglobin (Hb-CO2) di dalam darah akan meningkat. Hal ini karena daya ikat (afinitas) gas CO2 dengan hemoglobin lebih kuat 20 kali daripada afinitas gas O2 dengan hemoglobin (http://people.eku.edu/ritchisong/301notes6.htm 2005, http://www/ msnencarta/respiratorysystem.mh1 2005 dan http://www.cdli.ca/~dpower/resp/ exchange. htm#Cellular 2005). Selain dari itu, bahaya yang dapat ditimbulkan
oleh terhirupnya gas ini pada konsentrasi yang tinggi adalah timbulnya rasa asam di dalam mulut dan rasa sakit pada rongga hidung dan saluran tenggorokan (Http://www.indopedia.org/carbon_dioxide.html 2006), sebagai akibat dari larut-nya gas ini dalam cairan yang melapisi permukaan kedua organ itu yang kemu-dian membentuk asam karbonat (H2CO3) yang dapat mengiritasi lapisan permuka-an pada salurpermuka-an hidung dpermuka-an tenggorokpermuka-an. Oleh sebab itu, Aerias (2005) menyata-kan batas aman konsentrasi ambien gas ini di udara luar adalah 700 ppmv dan di dalam ruangan antara 300 – 500 ppmv. Sedangkan OSHA dalam Indopedia (2006) menyatakan konsentrasi gas ini di dalam lingkungan kerja sebaiknya kurang dari 5.000 ppmv. Lebih lanjut OHSA (2006) menyatakan bahwa pada konsentrasi 30.000 ppmv (3%), para pekerja diperbolehkan mendapat paparan kurang dari 10 menit saja.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa gas CO2 dapat menyebabkan pemanasan global dan rusaknya ekosistem darat dan laut serta dapat menurunkan kesehatan manusia yang dianggap sangat merugikan, maka konsentrasi gas CO2 di udara ambien harus diupayakan tidak terus bertambah naik. Salah satu upaya yang dapat ditempuh di lingkungan kota dan perkotaan adalah program hutan kota dan penghijauan. Hutan kota, taman kota, peneduh jalan, sawah, kebun dan beberapa bentuk ruang terbuka hijau lainnya dapat menyerap gas ini melalui proses fotosintesis. Namun pada kenyataannya dalam dekade belakangan ini, luasan ruang terbuka hijau dalam bentuk sawah, ladang dan kebun terus berkurang, karena berubah menjadi permukiman dan areal terbangun lainnya sedangkan di lain pihak penggunaan bahan bakar minyak dan gas sebagai pengemisi gas CO2 pun terus bertambah. Oleh sebab itu, perlu penambahan luasan hutan kota sebagai penyerap gas ini.
Kota Bogor mempunyai kedudukan yang sangat strategis karena: 1. Merupakan pendukung ibu kota negara,
2. Merupakan pusat pendidikan dan juga pusat penelitian pertanian, 3. Tempat rekreasi dan jasa perdagangan,
4. Selain merupakan daerah permukiman untuk warga Kota Bogor sendiri, juga untuk penglaju (commutter) yang bekerja di DKI Jakarta, dan
5. Merupakan salah satu daerah tangkapan air untuk DKI Jakarta.
Walaupun Kota Bogor mempunyai kedudukan yang penting sebagai pe-nyangga ibu kota negara, namun pada kenyataannya belakangan ini, Kota Bogor merupakan pengemisi polutan udara yang semakin penting. Kota ini dijuluki dengan "Kota sejuta angkot". Konsentrasi polutan udara yang terukur pada tahun 2001-2003 terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Konsentrasi pencemar udara di Kota Bogor tahun 2001 - 2003
Polutan SO2 CO NO2 03 HK Pb TSP NH3 H2S Satuan µg/Nm3 µg/Nm3 µg/Nm3 µg/Nm3 µg/Nm3 µg/Nm3 µg/Nm3 µg/Nm3 µg/Nm3 Baku Mutu 365 10.000 150 235 160 2 230 2000 24 Pertigaan Pancasan 2001 15,29 tt 2231 tt tt tt 175 0,09 7,28 2002 22,68 514,5 68,68 132 10,75 0,11 483,76 0 9,06 2003 29,66 772,4 92,81 127,4 11,12 1,98 276,7 0,04 tt Pertigaan Jembatan Merah
2001 6,11 tt 15,21 tt tt tt 225 0,09 7,28 2002 15,75 429,52 51,98 26,4 6,22 0,06 203,11 0 tt 2003 28,92 854,79 157,78 103,2 12,28 0,92 269,73 0,07 4,23 Pertigaan Jalan Mawar
2001 11,1 tt 15,2 tt tt tt 150 0,05 3,21 2002 19,21 487,11 53,83 4,41 7,82 0,1 273,5 0 2,28
2003 2932 758,96 92,81 9,88 13,01 0,71 229 0,05 2,04
Pertigaan Jambu Dua
2001 9,11 tt 16,25 tt tt tt 281 0,04 5,11 2002 45,75 512,42 167,06 6,62 7,65 0,08 189,78 0 339 2003 30,73 612,25 51,05 153,2 13,26 0,79 207,69 0,08 4,23 Pertigaan Tugu Kujang
2001 3,21 tt 15,22 tt tt tt 200 0,01 3,17 2002 22,28 511,39 74,25 22,1 1138 0,09 139,11 0 433 2003 31,62 645,34 64,97 144,2 10,24 0,96 11534 0,12 236 Keterangan: tt = tidak terukur
Sedangkan Santosa telah meneliti kandungan polutan udara di beberapa tempat di Kota Bogor tahun 2003 dan 2004. Hasil dari penelitiannya dapat disimpulkan bahwa kandungan polutan udara masih berada di bawah baku mutu, namun di Baranang Siang sudah hampir mendekati baku mutu udara. Sebagian data dari hasil penelitiannya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Konsentrasi polutan udara di Kota Bogor tahun 2003 dan 2004 No. Lokasi
Musim Hujan Tahun 2003
Musim Kemarau Tahun 2004
SO2 NO2 CO SO2 NO2 CO
1. Jl. Jend. Sudirman 21,49 59,01 7,50 22,24 62,94 7,24 2. Jl. Merdeka 5,63 25,08 3,25 5,87 26,36 3,10 3. Jl. Kapten Muslihat 7,90 23,51 4,00 8,52 25,39 4,89 4. Babakan 23,12 67,35 8,13 23,40 71,62 8,47 5. Cimahpar 14,76 34,82 5,00 16,92 37,12 3,82 6. Baranangsiang 24,35 72,42 9,75 24,81 73,96 8,98 7. Pasar Bogor 18,63 49,16 8,13 19,06 50,74 8,74 8. Empang 12,76 45,52 5,63 12,20 48,57 6,04 9. Lawang gintung 20,51 54,64 8,13 22,16 53,90 9,06 Sumber: Santosa (2004).
Dari data yang terdapat pada kedua tabel di atas dapat dinyatakan bahwa kualitas lingkungan udara di Kota Bogor semakin terancam dan semakin meng-khawatirkan. Oleh sebab itu, perlu penanganan masalah lingkungan sejak dini, agar masalah lingkungan Kota Bogor dapat diatasi dan diantisipasi dengan baik.
Sesungguhnya, pembakaran bahan bakar minyak dan gas selain menghasilkan pencemar udara juga menghasilkan gas CO2. Konsentrasi gas ini semakin meningkat dengan semakin meningkatnya populasi dan macam ragam kegiatan manusia yang banyak membutuhkan bahan bakar minyak dan gas. Pada tahun 2000 konsentrasi gas ini yang terukur di Mauna Loa, Hawaii sebesar 370 ppmv dan tahun 2005 menjadi 380 ppmv (lihat Gambar 1).
Gamb Telah sangat pe gunaan ba menghasil sungguh-s ini merupa Dalam pada ruan luasan rua lahan perm telah terja tambah d Kecamata ruang terb hijaunya b bar 1. Penin Sum h dijelaskan enting, nam ahan bakar m lkan gas CO sungguh, ka akan salah s m keadaan y ng terbuka ang terbuka mukiman d adi perubah dan ada pul an Bogor U buka hijau, berkurang se ngkatan kon mber: http://e n terdahulu mun tengah minyak dan O2, maka a arena akan m
satu gas rum yang ideal g hijau. Pada
hijau di Ko dan areal ter han luasan la yang be Utara dan B sedangkan eperti ditunj nsentrasi ga en.wikipedi u bahwa Ko terancam n gas selain ancaman ga mengakibatk mah kaca.
gas CO2 dap a kenyataan ota Bogor te rbangun lai ruang terb erkurang lu ogor Barat n empat kec njukkan pada as CO2 tahun ia.org/wiki/ ota Bogor pencemaran n menghasil as CO2 pun kan efek pe pat diserap n beberapa erus menuru innya. Pada buka hijau. uasan ruang yang meng camatan lai a Tabel 3 be n 1960 – 20 Carbon_dio memiliki k n udara. M kan pencem harus dipe emanasan gl oleh vegeta tahun terak un, karena b a rentang w Ada kecam g terbuka h galami pert innya luasa erikut ini. 005. oxide kedudukan Mengingat p maran udara erhatikan de lobal, karen
asi yang ter khir ini kea berubah me waktu 1999-matan yang hijaunya. H tambahan lu an ruang ter yang peng-a jugpeng-a engan na gas rdapat adaan enjadi -2002 g ber-Hanya uasan rbuka
Tabel 3. Luasan taman dan jalur hijau di Kota Bogor tahun 1999 - 2002 No Kecamatan Luasan (m 2) 1999 2002 1 Bogor Selatan 9.228 4.634 2 Bogor Timur 46.791 6.559 3 Bogor Utara 7.383 23.232 4 Bogor Tengah 57.198 44.716 5 Bogor Barat 6.987 9.614 6 Tanah Sareal 29.101 13.091 Jumlah 156.689 101.848
Sumber: Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bogor (2004)
Kondisi ruang terbuka hijau di luar sawah dan kebun di dalam Kota Bogor pada tahun 2006 yang tidak berbeda keadaannya dengan tahun 2004 dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini. Berbagai bentuk ruang terbuka hijau dan karakteristik-nya pernah diteliti tahun 2004. Hasil penelitiankarakteristik-nya dapat dilihat pada lampiran 15, 16, 17, 18 dan 19.
Tabel 4. Luasan beberapa bentuk ruang terbuka hijau di dalam Kota Bogor tahun 2004
No Lokasi Luas (m2)
1 Kebun Raya Bogor 870.000
2 Hutan Penelitian Dramaga/CIFOR 577.500 3 Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat 446.300
4 Istana Presiden 240.000
5 Lembaga Penelitian Kehutanan Gunung Batu 50.000
6 Taman kota 19.352
7 Taman Jalur 17.183
8 Jalur Hijau 81.432
9 Pohon Peneduh Jalan a. Kec. Bogor Tengah b. Kec. Bogor Utara c. Kec. Bogor Selatan d. Kec. Bogor Timur e. Kec. Bogor Barat f. Kec. Tanah Sareal
3.534 pohon 132 pohon 968 pohon 4.023 pohon 1.142 pohon 659 pohon Sumber: Bapeda Kota Bogor (2004).
Permasalahan yang muncul adalah konsentrasi gas CO2 yang terus meningkat, sejalan dengan meningkatnya penggunaan bahan bakar minyak dan gas, sedang-kan di lain pihak kemampuan sink gas ini terus berkurang, karena menurunnya luasan ruang terbuka hijau. Salah satu upaya untuk menekan laju pertambahan konsentrasi gas ini di udara ambien adalah dengan menambah kapasitas sink-nya dengan menambah luasan ruang terbuka hijau hutan kota.
Ruang terbuka hijau hutan kota merupakan bagian dari ruang terbuka hijau kota. Ruang terbuka hijau kota terdiri dari ruang terbuka hijau hutan kota dan ruang terbuka hijau non hutan kota. Ruang terbuka hijau non hutan kota terdiri dari: hutan, kebun, sawah serta semak dan rumput, sedangkan ruang terbuka hijau hutan kota adalah areal bervegetasi pohon yang sudah dikukuhkan sebagai kawasan hutan kota, untuk selanjutnya disebut hutan kota, sedangkan ruang terbuka hijau non hutan kota disebut ruang terbuka hijau saja. Pembahasan khusus tentang definisi hutan kota dapat dilihat pada Bab 2.9.
Alasan pemilihan hutan kota antara lain karena: (1). Mengingat sudah dikukuhkan, maka alih fungsi lahan menjadi agak sulit. (2). Pembangunan hutan kota mempunyai tujuan yang jelas dalam pengelolaan lingkungan. (3). Biomassa daun yang banyak dapat meningkatkan kesejukan dan kenyamanan (Grey dan Deneke 1978, Robinette 1983). (4). Hutan Kota tidak membutuhkan perawatan yang intensif dibandingkan taman kota. Oleh sebab itu, dana yang diperlukan untuk perawatan dan pemeliharaannya relatif murah. (5). Merupakan habitat yang baik untuk burung dan satwa liar lainnya. (6). Mikroorganisme pada humus di lantai hutan dapat menyerap gas CO (karbon monoksida) yang sangat beracun bagi manusia dan hewan (Smith 1981) dan (6). Dapat mengurangi intensitas bahaya hujan asam (Smith 1985 dan Koto 1991).
Luasan hutan kota di Kota Bogor saat ini 144,75 ha (1,22%), terdiri dari Kebun Raya Bogor (87 ha) dan hutan penelitian Dramaga (57,75 ha). Dengan semakin meningkatnya jumlah emisi gas CO2 sementara luasan ruang terbuka hijau semakin menurun, maka dibutuhkan hutan kota. Hal ini dimaksudkan agar penambahan gas CO2 di atmosfer dapat ditekan serendah mungkin.
1.2. Tujuan Penelitian
Tujuan umum dari penelitian ini adalah menentukan jumlah kebutuhan luasan hutan kota sebagai sink gas CO2 antropogenik dari bahan bakar minyak dan gas dengan simulasi model sistem dinamik serta menentukan daya dukung kepen-dudukan Kota Bogor berdasarkan analisis emisi dan sink gas CO2. Tujuan umum ini dapat dicapai dengan melakukan beberapa sub-penelitian dengan tujuan khusus:
(1). Menganalisis emisi gas CO2. Penelitian ini terdiri dari: estimasi kebutuhan bahan bakar minyak dan gas, estimasi emisi gas CO2 dan estimasi konsentrasi gas CO2 di masa yang akan datang.
(2). Menganalisis daya sink gas CO2 oleh pohon dan ruang terbuka hijau. Penelitian ini terdiri dari: daya sink gas CO2 per pohon di Kebun Raya Bogor dan Hutan Penelitian Dramaga dan penghitungan daya sink oleh berbagai bentuk ruang terbuka hijau yang terdiri dari: areal bervegetasi rapat, areal bervegetasi jarang, sawah, semak dan rumput.
1.3. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini dari segi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah memberikan masukan baru bahwa kebutuhan luasan hutan kota tidak statik tapi dapat secara dinamik sesuai dengan kuantitas permasalahan yang diperkirakan akan muncul di masa yang akan datang. Beberapa keputusan pemerintah tidak tegas menyatakan luasan hutan kota dapat berubah secara dinamik. InMendagri No. 14 tahun 1988 menyatakan bahwa luasan ruang terbuka hijau kota seluas 40%. Demikian juga dengan PP No. 63 tahun 2002 pasal 9 ayat 1 yang menyatakan bahwa luasan hutan kota minimal 10% dari luasan kota. Sementara PP Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 pasal 9 ayat 1 menyatakan luas ideal ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan minimal 20%. Demikian pula dengan Undang-undang Republik Indonesia No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang pada pasal 29 ayat 2 yang menyatakan ruang terbuka hijau kota paling sedikit 30% dari luas wilayah kota. Selanjutnya pada ayat 3 dinyatakan ruang terbuka hijau publik paling sedikit 20% dari luas wilayah kota.
Manfaat lainnya dari penelitian ini adalah merupakan bahan masukan untuk Pemerintah Kota Bogor dalam menyusun Rencana Tata Ruang Kota Bogor tahun
2009 – 2014 dalam menunjang visi Kota Bogor: ”Sebagai kota jasa yang nyaman dengan masyarakat madani dan pemerintahan amanah”. Visi sebelumnya adalah ”Kota Bogor sebagai kota dalam taman yang berwawasan lingkungan menuju kota internasional dan kota jasa”.
Oleh karena hutan kota dapat bertindak sebagai sink gas CO2, maka program hutan kota dapat diusulkan untuk dipertimbangkan sebagai salah satu upaya mitigasi meningkatnya konsentrasi gas CO2 dalam mekanisme pembangunan bersih. Dengan dikembangkannya program hutan kota di Kota Bogor yang mempunyai peluang bisnis perdagangan karbon, maka pengembangan program hutan kota di Kota Bogor ke depan dapat dijadikan sebagai salah satu masukan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bogor melalui bisnis perdagangan karbon. 1.4. Kebaharuan Penelitian
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan selama ini yaitu penentuan luasan hutan kota menggunakan pendekatan nilai daya sink tanaman hutan kota yang tetap yaitu daya sink tanaman tidak dipengaruhi oleh umur tanaman. Nilai
sink yang dipergunakan adalah nilai maksimum sink tanaman yang sudah dewasa.
Selain dari itu peranan ruang terbuka hijau masih belum dimasukkan dalam perhitungan. Padahal hutan, kebun, sawah serta semak dan rumput semuanya itu dapat berperan sebagai sink gas CO2.
Kebaharuan (novelty) dari penelitian ini adalah penentuan kebutuhan luasan hutan kota dengan model sistem dinamik berdasarkan peubah: daya sink gas CO2 yang berubah-ubah sesuai umur pohon, jumlah populasi manusia yang terus bertambah, terjadi persaingan kebutuhan antara lahan kota untuk lahan terbangun dan lahan untuk hutan kota, emisi gas CO2 dari bahan bakar minyak dan gas dan konsentrasi gas CO2 ambien yang terus meningkat, sementara luasan ruang terbuka hijau dalam bentuk: areal bervegetasi rapat, vegetasi jarang, sawah serta semak dan rumput yang berfungsi sebagai sink gas CO2 terus menurun.