1
D
AFTAR ISI
Hal.
DELINEASI WILAYAH
2
ISU DAN PERMASALAHAN
6
KEUNGGULAN WILAYAH
19
KONSEP AWAL PENGEMBANGAN
22
KETERANGAN COVER:
Tari Topeng Cirebon - http://indonesia-heritage.net
Keraton di Cirebon - http://sudutnusantara.com
Paksi Naga Liman - http://www.yptravel.com/wisata/kraton-kanoman
2
D
ELINEASI WILAYAH
Cirebon Raya merupakan salah satu Wilayah Metropolitan yang sedang dan akan terus berkembang di Provinsi Jawa Barat. Seperti Bodebek Karpur dan Bandung Raya, Wilayah Metropolitan ini memiliki ciri aglomerasi jumlah penduduk, aktivitas sosial dan ekonomi, serta persentase lahan terbangun yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di sekitarnya.
Berdasarkan data-data empiris, pada tahun 2010, Metropolitan Cirebon Raya memiliki jumlah penduduk sebesar 1,58 juta jiwa di 29 kecamatan yang terdapat di tiga Kabupaten/Kota (Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Kuningan) dengan luas lahan terbangun sekitar 25%.
Berdasarkan proyeksi tahun 2015, 2020, 2025 dan 2040, jumlah penduduk di Metropolitan Cirebon Raya akan meningkat dengan pesat, begitu pula dengan luas wilayah urban dan suburbannya. Mulai tahun 2015, ciri metropolitan telah beraglomerasi hingga ke Kabupaten Majalengka. Pada tahun 2040, Metropolitan Cirebon Raya diprediksikan akan meluas hingga ke Kabupaten Indramayu.
GAMBAR 1 WILAYAH METROPOLITAN CIREBON RAYA TAHUN 2010 Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011, Data: SP 2010, GIS Bappeda Jabar 2010
3 kabupaten/kota 29 kecamatan 1.58 juta penduduk Luas area 57.369 Ha
Urban
3
GAMBAR 2 WILAYAH METROPOLITAN CIREBON RAYA TAHUN 2015 Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011, Data: SP 2010, GIS Bappeda Jabar 2010
GAMBAR 3 WILAYAH METROPOLITAN CIREBON RAYA TAHUN 2020 Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011, Data: SP 2010, GIS Bappeda Jabar 2010
4 kabupaten/kota 30 kecamatan 2.4 juta penduduk Luas area 60.425 Ha
4 kabupaten/kota 34 kecamatan 3.9 juta penduduk Luas area71.775 Ha
Urban
Suburban
Urban
4
GAMBAR 4 WILAYAH METROPOLITAN CIREBON RAYA TAHUN 2025 Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011, Data: SP 2010, GIS Bappeda Jabar 2010
GAMBAR 5 WILAYAH METROPOLITAN CIREBON RAYA TAHUN 2040 Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011, Data: SP 2010, GIS Bappeda Jabar 2010
4 kabupaten/kota 41 kecamatan 6.58 juta penduduk luas area 98.722 Ha
Urban
Suburban
5 kabupaten/kota 43 kecamatan Luas area 106.554 Ha
Urban
5
Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi masyarakat mendorong peningkatan kebutuhan akan berbagai infrastruktur perkotaan, seperti infrastruktur transportasi, air bersih, persampahan, listrik dan energi, telekomunikasi, dan infrastruktur pendukung lainnya. Infrastruktur transportasi strategis seperti jalan tol, jalur kereta api, serta pelabuhan laut dan udara juga menjadi semakin penting untuk diperhatikan, karena ketersediaannya mampu memberikan akses penghubung yang lebih baik antara Wilayah Metropolitan Cirebon Raya dengan wilayah lain di sekitarnya.
6
I
SU DAN PERMASALAHAN
Dalam mengembangkan metropolitan, terdapat beberapa isu dan permasalahan yang menjadi perhatian. Beberapa isu dan permasalahan yang terdapat di Metropolitan Cirebon Raya antara lain terkait masalah transportasi, sosial dan kependudukan, masalah lingkungan, dan juga ketersediaan infrastruktur. Isu dan permasalahan tersebut sebaiknya menjadi suatu pertimbangan dalam pengembangan Metropolitan Cirebon Raya sebagai salah satu metropolitan di Jawa Barat.
A. Transportasi
7
GAMBAR 6 INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI METROPOLITAN CIREBON RAYA 2010 Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011, Data: SP 2010, GIS Bappeda Jabar 2010
8
Penggunaan lahan di Metropolitan Cirebon Raya tahun 2010 yaitu seluas 13.786.478 Ha. Kawasan terbangun ini akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Metropolitan Cirebon Raya. Kawasan terbangun ini sebagian besar mengikuti infrastruktur jalan yang ada di Metropolitan Cirebon Raya.
GAMBAR 8 KAWASAN TERBANGUN METROPOLITAN CIREBON RAYA 2010 Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011, GIS Bappeda Jabar 2010
Transportasi berperan sebagai penghubung pusat kegiatan atau pusat aktivitas penduduk seperti pusat pelayanan pendidikan, permukiman penduduk, pusat kesehatan, pusat perdagangan, dan pusat-pusat lainnya, termasuk menghubungkan antara pusat kegiatan internal dengan wilayah yang lebih luas (lingkup eksternal), yang dapat dicapai dengan adanya ketersediaan bandar udara, stasiun KA, pelabuhan, terminal, dan jalan tol. Transportasi dikatakan layak apabila transportasi tersebut dapat menghubungkan pusat-pusat aktivitas tersebut dan saling terintegrasi satu sama lain.
9
Proyeksi terhadap jumlah penduduk dijadikan acuan dalam membuat rencana transportasi agar sesuai dengan kebutuhan penduduk di masa yang akan datang. Hasil proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2015, 2020, 2025 dan 2040, Metropolitan Cirebon Raya akan mengalami perkembangan area metropolitan. Adanya perkembangan wilayah tersebut tentunya akan berimplikasi pada kebutuhan infrastruktur transportasi di Metropolitan Cirebon. Infrastruktur transportasi yang ada saat ini belum sepenuhnya mengakomodir perluasan perkembangan wilayah urban sehingga masih perlu dilakukan penambahan infrastruktur transportasi yang menunjang.
Berdasarkan rencana pengembangan infrastruktur baik di tingkat provinsi maupun di tingkat pusat, terdapat beberapa rencana pengembangan yang berpotensi memberikan tarikan yang besar pada peningkatan jumlah pendatang dan aktivitas perekonomian di Metropolitan Cirebon Raya. Dapat dikatakan bahwa peningkatan jumlah penduduk pada tahun 2025 akan berpotensi lebih besar dibandingkan dengan proyeksi penduduk 2025 yang telah disebutkan sebelumnya.
GAMBAR 9 KINERJA LALU LINTAS DI PKN CIREBON 2012
Sumber: Perencanaan Transportasi Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, 2012
10
antara lain jalan raya Kadipaten yang menghubungkan Cirebon dengan Bandung dan jalan raya Cadas-Pangeran sebagai koridor utama yang menghubungan Metropolitan Cirebon Raya dengan daerah lainnya, sementara koridor lainnya hanya berupa jalan-jalan kecil. Sementara itu, kondisi koridor-koridor utama tersebut sudah tidak mampu menampung pergerakan yang besar antara Metropolitan Cirebon Raya dengan daerah sekitarnya. Sebagai contoh, jalan raya Cadas-Pangeran sebagai koridor utama, dengan demand yang besar, tingkat kemacetan di jalan raya tersebut sudah cukup memprihatinkan. Hal ini juga diperparah dengan kondisi infrastruktur yang jauh dari ideal. Akibatnya, setiap terdapat gangguan yang terjadi di jalan tersebut, maka aktivitas pergerakan akan sepenuhnya terhambat.
Sementara itu, dari sisi internal, kondisi infrastruktur transportasi di Metropolitan Cirebon Raya semakin lama semakin mengalami penurunan kualitas. Berdasarkan hasil survei dari Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat di beberapa ruas jalan, sebanyak 48% ruas jalan utama di Metropolitan Cirebon Raya memiliki level of service B, 44% dengan level of service C, 8% dengan level of service C, dan tidak ada ruas jalan dengan level of service A. Hal ini perlu menjadi perhatian, mengingat potensi peningkatan pergerakan dan aktivitas perekonomian di Metropolitan Cirebon Raya juga harus didukung dengan peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur transportasi di dalamnya.
Secara umum, terdapat beberapa isu strategis transportasi yang menjadi perhatian khusus di wilahan BKPP III Cirebon terutama dalam lingkup Metropolitan Cirebon Raya. Isu tersebut yaitu:
GAMBAR 10 ISU STRATEGIS SEKTOR TRANSPORTASI DI WILAYAH BKPP III CIREBON Sumber: Musrenbang Provinsi Jawa Barat, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah
Provinsi Jawa Barat, 2013
1. Perbaikan Jalan Kabupaten/Kota bersama dunia usaha
2. Jalan menuju Sentra Industri, Sentra Wisata, dan Sentra Pertanian 3. Pengembangan Transportasi Massal Perkotaan dan Terminal 4. Pembangunan Bandara Kertajati
5. Pembebasan Lahan Kertajati Sisi Darat dan Udara
6. Pembebasan Lahan Segmen: Jalan Tol Sumedang-Kertajati dan Tol Cikopo – Palimanan
11
B. Infrastruktur Permukiman
Kebutuhan Perumahan: Perhitungan kebutuhan infrastruktur perumahan dilakukan untuk mengetahui besarnya kebutuhan perumahan dibandingkan dengan ketersediaannya saat ini. Adapun secara umum, perhitungan kebutuhan perumahan di wilayah Metropolitan Cirebon Raya dilakukan secara sederhana, dengan mempertimbangkan:
1. Jumlah rumah tangga yang ada di Metropolitan Cirebon Raya 2. Jumlah penduduk yang ada di Metropolitan Cirebon Raya 3. Jumlah rata-rata anggota keluarga di Metropolitan Cirebon Raya 4. Jumlah rumah yang telah tersedia di Metropolitan Cirebon Raya
Penentuan besar kebutuhan perumahan didasarkan pada jumlah penduduk Metropolitan Cirebon Raya saat ini yang kemudian dihitung dalam satuan rumah tangga. Pada tahun 2010, jumlah rumah tangga di Metropolitan Cirebon Raya adalah sebesar 395.530 jiwa yang tersebar di 3 (tiga) Kabupaten/Kota. Adapun jumlah rumah tangga Metropolitan Cirebon Raya dihitung dengan formula:
Dengan mengasumsikan bahwa satu rumah tangga terdiri dari 4 (empat) jiwa, maka berdasarkan data jumlah penduduk eksisting akan dapat diketahui perkiraan jumlah rumah tangga di Metropolitan Cirebon Raya. Berikut adalah hasil perkiraan jumlah rumah tangga di Metropolitan Cirebon Raya beserta jumlah penduduk eksisting tahun 2010.
TABEL 1
JUMLAH PENDUDUK DAN RUMAH TANGGA DI METROPOLITAN CIREBON RAYA 2010
Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Jumlah Rumah Tangga
Kota Cirebon 304.152 76.038
Kab. Cirebon 1.253.337 313.334
Kab. Kuningan 24.630 6.158
JUMLAH 1.528.119 395.530
Sumber: Hasil Analisis, 2012 Jumlah Rumah
Yang Dibutuhkan =
12
Sementara itu, jumlah rumah yang tersedia di Metropolitan Cirebon Raya dihitung berdasarkan persentase jumlah rumah di Jawa Barat. Jumlah rumah di Jawa Barat sebesar 75,67% dari jumlah rumah tangga di Jawa Barat, sehingga didapatkan angka sebesar 8.133.251 rumah. Selanjutnya, jumlah rumah di masing-masing Kabupaten/Kota dihitung berdasarkan persentase jumlah penduduk. Adapun jumlah rumah yang tersedia pada masing-masing Kabupaten/Kota di Metropolitan Cirebon Raya yaitu:
TABEL 2
JUMLAH RUMAH YANG TERSEDIA DI METROPOLITAN CIREBON RAYA 2010
Kabupaten/Kota Jumlah Rumah di Jawa
Barat*) Persentase
Kabupaten Cirebon 2,92 237.100
Kabupaten Kuningan 0,06 4.659
JUMLAH 299.297
*) 75,67%*jumlah rumah tangga di Jawa Barat Rumah tangga di Jawa Barat = 42.993.267/4
Sumber: Hasil Analisis, 2012
Berdasarkan tabel di atas, dengan membandingkan jumlah kebutuhan rumah dengan jumlah rumah yang tersedia, maka didapat backlog perumahan di Metropolitan Cirebon Raya. Adapun besarnya backlog perumahan di Metropolitan Cirebon Raya adalah sebagai berikut:
TABEL 3
BACKLOG RUMAH DI METROPOLITAN CIREBON RAYA TAHUN 2010
Kabupaten/Kota Jumlah Kebutuhan
Rumah
Jumlah Rumah
yang Tersedia Backlog
Kota Cirebon 76.038 57.538 18.500
Kabupaten Cirebon 313.334 237.100 76.234
Kabupaten Kuningan 6.158 4.659 1.499
JUMLAH 96.233
Sumber: Hasil Analisis, 2012
13
tersebut, maka akan dapat dilakukan analisis lebih lanjut terhadap luas kebutuhan lahan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan permukiman di Metropolitan Cirebon Raya.
Untuk menghitung jumlah tambahan lahan yang dibutuhkan dalam pemenuhan kebutuhan rumah secara keselutuhan, maka digunakan asumsi untuk membangun satu unit rumah sebesar 36 m2. Dasar perhitungan yang digunakan dalam asumsi tersebut yaitu bahwa satu orang membutuhkan 9 m2 lahan. Nilai ini merupakan nilai yang ditetapkan oleh International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (ICESCR) pasal 2 ayat (1) serta dalam UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Adapun jumlah kebutuhan lahan tambahan untuk menutupi backlog perumahan adalah sebesar 3.464.388 m2 atau 346,4 Ha.
Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, maka jumlah backlog perumahan akan terus bertambah pula. Sementara itu, lahan untuk pengembangan perumahan semakin terbatas. Dengan demikian, perumahan baru harus dikembangkan secara vertikal untuk meminimalisasi penggunaan lahan. Selain itu, dapat dilakukan pula redevelopment pada beberapa kawasan perumahan yang tidak tertata dengan baik, misalnya permukiman kumuh dan padat. Dengan penataan kembali menjadi perumahan vertikal, maka akan tersedia lahan untuk perumahan yang lebih banyak sehingga dapat mengatasi backlog perumahan.
Kebutuhan Air Bersih: Sistem penyediaan air bersih merupakan salah satu infrastruktur penunjang Perumahan dan Permukiman. Infrastruktur ini memegang peranan penting bagi kelangsungan hidup penduduk yang mendiami suatu kawasan perumahan dan permukiman.
14
perhitungan kebutuhan air bersih tersebut, digunakan tiga standar perhitungan kebutuhan minimum. Adapun standar minimum air bersih tersebut antara lain:
1. Berdasarkan kesepakatan Konferensi Air PBB di Mal del Plata Argentina tahun 1977, kebutuhan dasar air bersih disarankan bagi setiap orang adalah sebanyak 50 liter/hari;
2. Berdasarkan Permendagri no.23 tahun 2006 tentang Pedoman Teknis dan Tata Cara Pengaturan Air Minum pada Perusahaan Air Minum, kebutuhan dasar air bersih disarankan bagi setiap orang adalah 60 liter/hari;
3. Berdasarkan standar kebutuhan air bersih menurut Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, kebutuhan dasar air bersih disarankan bagi setiap orang adalah sebanyak 160 liter/hari.
Dengan memperhatikan jumlah penduduk di Metropolitan Cirebon Raya tahun 2010, maka kebutuhan air bersih untuk perumahan dan permukiman tahun 2010 adalah:
TABEL 4
KEBUTUHAN AIR BERSIH DOMESTIK METROPOLITAN CIREBON RAYA TAHUN 2010
Kabupaten/Kota Kebutuhan Air Bersih Domestik (l/hari)
Konferensi Air PBB Permendagri 23/2006 PU Cipta Karya
Kota Cirebon 15.207.600 18.249.120 48.664.320
Kabupaten Cirebon 62.666.850 75.200.220 200.533.920 Kabupaten Kuningan 1.231.500 1.477.800 3.940.800
JUMLAH 79.105.950 94.927.140 253.139.040
Sumber: Hasil Analisis WJPMDM, 2012
15
TABEL 5
KEBUTUHAN AIR BERSIH DOMESTIK DI WILAYAH METROPOLITAN CIREBON RAYA BERDASARKAN DPU CIPTA KARYA (160 LITER/ ORANG/ HARI)
Kabupaten/ Kota
Kebutuhan Air Bersih Domestik Berdasarkan DPU Cipta Karya (Liter/ Orang/ Hari)
2010 2015 2020 2025
Kab. Cirebon 200.533.920 304.832.218 484.314.572 753.191.373
Kota Cirebon 48.664.320 71.503.854 105.062.615 153.547.351
Kab. Majalengka - - 29.645.321 71.951.972
Kab. Kuningan 3.940.800 5.790.328 8.507.891 74.196.984
TOTAL 253.139.040 382.126.400 627.530.400 1.052.887.680
Sumber: Hasil Analisis WJPMDM, 2012
Selain itu, dilakukan pula perhitungan kebutuhan air bersih non domestik dengan menggunakan standar yang sama. Kebutuhan air bersih non domestik dihitung berdasarkan asumsi sebesar 20 persen dari kebutuhan air bersih domestik.
TABEL 6
KEBUTUHAN AIR BERSIH NON DOMESTIK DI WILAYAH METROPOLITAN CIREBON RAYA
Kabupaten/ Kota
Kebutuhan Air Bersih Non Domestik Proxy 20 Persen (liter/ orang/ hari)
2010 2015 2020 2025
Kab. Cirebon 40.106.784 60.966.444 96.862.914 150.638.275
Kota Cirebon 9.732.864 14.300.771 21.012.523 30.709.470
Kab. Majalengka - - 5.929.064 14.390.394
Kab. Kuningan 788.160 1.158.066 1.701.578 14.839.397
TOTAL 50.627.808 76.425.280 125.506.080 210.577.536 Sumber: Hasil Analisis WJPMDM, 2012
16
TABEL 7
TOTAL KEBUTUHAN AIR BERSIH DOMESTIK DAN NON DOMESTIK DI WILAYAH METROPOLITAN CIREBON RAYA
Kabupaten/ Kota
Kebutuhan Air Bersih Domestik dan Non Domestik Proxy 20 Persen (liter/ orang/ hari)
2010 2015 2020 2025
Kab. Cirebon 240.640.704 365.798.662 581.177.487 903.829.648
Kota Cirebon 58.397.184 85.804.624 126.075.138 184.256.821
Kab. Majalengka - - 35.574.386 86.342.366
Kab. Kuningan 4.728.960 6.948.394 10.209.470 89.036.381
TOTAL 303.766.848 458.551.680 753.036.480 1.263.465.216
Sumber: Hasil Analisis WJPMDM, 2012
Setelah mendapatkan jumlah produksi air bersih ideal berdasarkan perhitungan, maka perlu untuk membandingkannya dengan kondisi eksisting, sehingga dapat diketahui bagaimana kondisi pemenuhan kebutuhan air tahun 2010 di Metropolitan Cirebon Raya. Adapun kondisi pemenuhan kebutuhan air bersih Metropolitan Cirebon Raya adalah sebagai berikut:
TABEL 8
PERBANDINGAN KAPASITAS PRODUKSI EKSISTING DAN PRODUKSI AIR BERSIH BERDASARKAN PERHITUNGAN METROPOLITAN CIREBON RAYA
Kabupaten/Kota Kapasitas Termanfaatkan Produksi Air Bersih Domestik (l/hari)
l/det l/hr 2010 2025
Kabupaten Cirebon 347,5 29.980.800 240.640.704 903.829.648
Kota Cirebon 830 71.712.000 58.397.184 184.256.821 Kabupaten
Majalengka
141 12.182.400 - 86.342.366
Kabupaten Kuningan
216 18.662.400 4.728.960 89.036.381
TOTAL - 132.537.600 303.766.848 1.263.465.216
Sumber: Hasil Analisis WJPMDM, 2012
17
pemenuhan kebutuhan air bersih yang cukup signifikan di Metropolitan Cirebon Raya. Dengan melihat hal tersebut, maka perlu adanya penyediaan dan pemeliharaan air bersih yang lebih baik lagi, termasuk pencarian sumber air bersih alternatif lainnya, sehingga segala kebutuhan air, termasuk kebutuhan untuk perumahan dan permukiman dapat terpenuhi dengan baik.
Kebutuhan Infrastruktur Pengelolaan Sampah: Produksi sampah di wilayah Metropolitan Cirebon Raya diakibatkan dari adanya kegiatan industri, perdagangan, pertanian, rumah tangga, dan sebagainya. Peningkatan produksi sampah per harinya terutama disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk Metropolitan Cirebon Raya serta meningkatnya aktivitas masyarakat setempat.
Untuk melihat bagaimana kebutuhan akan fasilitas pengelolaan sampah di Metropolitan Cirebon Raya, maka dilakukan perhitungan terhadap besarnya produksi sampah per harinya. Nilai tersebut merupakan nilai pendekatan yang diperoleh melalui kalkulasi antara jumlah penduduk eksisting dengan nilai rata-rata produksi sampah per jiwa per hari. Adapun nilai rata-rata standar yang digunakan merupakan nilai yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, dimana ditentukan bahwa setiap orang rata-rata menghasilkan 0,8 kg sampah domestik perhari.
Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan, maka diperoleh besarnya produksi sampah domestik per hari di Metropolitan Cirebon Raya. Adapun besar produksi sampah domestik tersebut adalah sebagai berikut:
TABEL 9
TOTAL PRODUKSI SAMPAH METROPOLITAN CIREBON RAYA TAHUN 2010
Kabupaten/ Kota Volume Sampah (ton/ hari)
Kota Cirebon 243,3
1.265,7
Kab. Cirebon 1.002,7
Kab. Kuningan 19,7
Sumber: Hasil Analisis WJPMDM, 2012
18
penyediaan gerobak sampah atau bak sampah besar di tingkat kelurahan, dan seterusnya, serta pemanfaatan yang lebih efektif TPS dan TPA yang telah tersedia.
C. Kependudukan
Penduduk menjadi salah satu isu dan permasalahan yang muncul di Metropolitan Cirebon Raya. Jumlah penduduk yang terus bertambah menyebabkan kebutuhan akan infrastruktur pun meningkat. Selain itu, banyaknya jumlah penduduk ini tidaklah merata satu sama lainnya sehingga kepadatan penduduk tinggi hanya berfokus di beberapa wilayah padahal di wilayah lain kepadatan penduduknya rendah. Jumlah penduduk yang banyak juga dapat menimbulkan pengangguran ketika mereka tidak memiliki pekerjaan sehingga memicu tindakan kriminalitas dan juga munculnya masyarakat miskin perkotaan.
Isu dan permasalahan kependudukan di Metropolitan Cirebon juga dapat dilihat dari kualitas penduduknya, yang dicerminkan dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Apabila dibandingkan dengan IPM Jawa Barat, sebagian besar kabupaten/kota di Metropolitan Cirebon Raya memiliki IPM yang lebih rendah dibandingkan dengan IPM Jawa Barat, yaitu Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan, sementara hanya Kota Cirebon yang memiliki IPM lebih tinggi dari rata-rata IPM Jawa Barat. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena IPM mempengaruhi tingkat daya saing Metropolitan Cirebon Raya baik dalam lingkup Jawa Barat maupun Indonesia dan Internasional.
19
K
EUNGGULAN WILAYAH
METROPOLITAN CIREBON RAYA
Metropolitan Cirebon Raya sebagai salah satu metropolitan di Provinsi Jawa Barat memiliki keunggulan yang berbeda dengan Metropolitan Bodebek Karpur dan Metropolitan Bandung Raya. Keunggulan yang dimiliki tersebut juga berbeda antar Kota dan Kabupaten yang termasuk ke dalam Metropolitan Cirebon Raya. Metropolitan Cirebon Raya terdiri dari Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka. Meskipun demikian, keunggulan setiap Kota/Kabupaten tersebut tentunya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan Metropolitan Cirebon Raya secara keseluruhan.
Dalam mengindentifikasi keunggulan-keunggulan yang dimiliki masing-masing daerah, dapat dilihat berdasarkan keunggulan absolut (absolute advantage), keunggulan komparatif (comparative advantage), dan keunggulan kompetitif
(competitive advantage). Masing-masing keunggulan tersebut dapat berbeda satu sama lainnya.
Secara umum, karakteristik antar Kota dan Kabupaten yang termasuk ke dalam wilayah Metropolitan Cirebon Raya memiliki beberapa persamaan. Jika dilihat sebagai satu wilayah metropolitan, dapat dikatakan bahwa keberadaan objek wisata sejarah, wisata alam dan wisata budaya dapat menjadi keunggulan absolut dari Metropolitan Cirebon Raya. Hal tersebut terlihat dari persebaran objek-objek wisata yang cukup banyak.
20
TABEL 10
KEUNGGULAN WILAYAH METROPOLITAN CIREBON RAYA Absolute Advantage
Daerah iklim tropis berupa dataran rendah,
Sumber: Analisis Tim WJPMDM, 2011
Metropolitan Cirebon Raya merupakan daerah iklim tropis berupa dataran rendah dan pegunungan dengan kekhasan budaya dan sejarah yang berbeda dengan wilayah lain. Budaya menjadi salah satu ciri khas dari Metropolitan Cirebon Raya seperti tari topeng, kuda lumping, tayuban dan budaya-budaya lainnya. Keanekaragaman budaya tersebut menjadi keunggulan absolut dari Metropolitan Cirebon Raya. Selain itu, keberadaan kampung batik Trusmi juga menjadi keunggulan absolut dari nilai segi budaya karena wilayah-wilayah lain tidak memiliki perkampungan batik Trusmi.
21
Trusmi dapat mewakili budaya Cirebon yang mampu bersaing dengan batik hasil produksi wilayah lain seperti Batik Tasik, Batik Pekalongan, Batik Solo, dan Batik Yogya.
Metropolitan Cirebon Raya memiliki letak yang strategis dengan tersedianya lahan yang cukup luas untuk investasi. Letaknya yang strategis tersebut akan memberikan keuntungan antara lain kemudahan akses keluar dan masuk wilayah tersebut karena berada di jalur pantura dan terhubung dengan kota lainnya seperti Jakarta dan Bandung. Keberadaan Metropolitan Cirebon Raya yang strategis ini dapat dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain yang berada pada lokasi strategis pula.
Adanya industri-industri skala kecil sampai industri besar serta ketersediaan sumber daya alam menyebabkan munculnya tenaga kerja-tenaga kerja yang terampil. Tenaga kerja di Metropolitan Cirebon Raya sangat terampil dalam membuat kerajinan rotan dan juga perabot rumah tangga. Selain itu, tenaga kerja di Metropolitan Cirebon Raya terampil dalam hal membatik baik buatan tangan ataupun dengan bantuan alat.
22
K
ONSEP AWAL PENGEMBANGAN
METROPOLITAN CIREBON RAYA
Pengembangan Metropolitan Cirebon Raya diharapkan dapat sejalan dengan konsep pengembangan metropolitan dan growth center sebagai penghela percepatan pembangunan di Jawa Barat. Untuk itu diperlukan konsep pengembangan masing-masing metropolitan di Jawa Barat dengan mengoptimalkan pemanfaatan komponen atau faktor-faktor produksi yang terdapat di wilayah metropolitan masing-masing. Berdasarkan potensi dan perkembangan jumlah penduduk serta aktivitas perekonomian di Metropolitan Cirebon Raya, maka pengembangunan Metropolitan Cirebon Raya akan diarahkan sebagai Metropolitan Budaya dan Sejarah dengan sektor unggulan pariwisata, industri, dan kerajinan.
Pengembangan Metropolitan Cirebon Raya sebagai Metropolitan Budaya dan Sejarah
Budaya dan sejarah menjadi hal yang sangat melekat dengan Metropolitan Cirebon Raya. Berdasarkan keunggulan yang dimiliki Metropolitan Cirebon Raya, terdapat berbagai macam budaya yang berkembang di metropolitan tersebut. Budaya yang berkembang telah menjadi ciri khas Metropolitan Cirebon Raya sebagai Metropolitan Budaya dan Sejarah.
Untuk dapat mengembangkan konsep Metropolitan Cirebon Raya sebagai penghela percepatan pembangunan di Jawa Barat, diperlukan strategi pengembangan yang sesuai dengan keunggulan dan permasalahan yang dimiliki wilayah tersebut. Dalam mengembangkan konsep pengembangan Metropolitan Cirebon Raya sebagai metropolitan budaya dan sejarah, pelestarian warisan budaya dan kawasan cagar budaya sebagai daya tarik wisata baik skala lokal, regional, nasional dan internasional diperlukan. Hal tersebut dilakukan mengingat keberadaan warisan budaya tersebut perlu dijaga sebagai aset wilayah yang akan menghela pembangunan wilayah tersebut.
23
pula didukung oleh penyediaan infrastruktur dasar untuk pengembangan metropolitan secara menyeluruh seperti penyediaan perumahan vertikal skala besar di Kota Cirebon, penyediaan fasilitas pendidikan, kesehatan, peribadatan, peparkiran dan fasilitas dasar lainnya sesuai dengan hirarki skala pelayanan yang melayani pusat-pusat kegiatan masyarakat serta penyediaan infrastruktur permukiman, energi, transportasi, telekomunikasi, dan sumber daya air.
Pengembangan Metropolitan Cirebon Raya dengan Sektor Unggulan Wisata
Wisata menjadi salah satu sektor yang dapat mendorong pencapaian Metropolitan Cirebon Raya sebagai metropolitan budaya dan sejarah. Prioritas pengembangan produk wisata dan strategi pemasaran juga perlu dilakukan sebagai salah satu upaya preservasi warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi yang juga dapat dijadikan potensi wisata dan penggerak pembangunan untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan potensi wisata tersebut juga harus disertai dengan peningkatan sarana dan prasarana penunjang seperti aksesibilitas jalan yang terintegrasi antar kawasan wisata, optimalisasi sarana dan prasarana transportasi, penyediaan hotel dan restoran di sekitar tempat wisata, penyediaan pusat informasi wisata dan rekreasi serta fasilitas perdagangan sebagai bagian dari pengembangan wisata.
Wisata alam, wisata budaya dan wisata budaya merupakan bagian dari wisata yang ada di Metropolitan Cirebon Raya. Keragaman jenis wisata tersebut telah mencirikan budaya dan sejarah di Metropolitan Cirebon Raya. Pengembangan terhadap sektor wisata tersebut akan mendorong perekonomian Metropolitan Cirebon Raya sehingga sektor wisata tersebut perlu dikembangkan secara optimal. Pengoptimalan sektor wisata di Metropolitan Cirebon Raya dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari pemeliharaan, peningkatan, serta pengawasan terhadap objek-objek wisata yang telah tersedia.
Pengembangan Metropolitan Cirebon Raya dengan Sektor Unggulan Industri
24
Untuk mengarahkan agar sektor industri dapat berperan optimal, maka selanjutnya akan dibentuk kawasan industri yang terintegrasi di wilayah Metropolitan Cirebon Raya, tepatnya di Aerocity Kabupaten Majalengka. Aerocity merupaan bagian yang tidak terpisahkan dari Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati. Pengembangan industri di kawasan Aerocity tersebut akan meningkatkan perekonomian dan menyerap tenaga kerja.
Pengembangan Metropolitan Cirebon Raya dengan Sektor Unggulan Kerajinan
Pengembangan kerajinan berupa kerajinan batik dan rotan yang menjadi ciri khas Metropolitan Cirebon Raya akan menjadi salah satu ikon budaya di metropolitan tersebut. Dalam mengembangkan konsep pengembangan Metropolitan Cirebon Raya sebagai metropolitan budaya dan sejarah dengan sektor unggulan kerajinan, prioritas terhadap peningkatan dan pertumbuhan kegiatan kerajinan batik dan kerajinan rotan diperlukan sebagai bagian dari budaya Cirebonan. Selain itu, pengembangan kegiatan kerajinan batik dan rotan sebaiknya dilakukan secara terintegrasi, ramah lingkungan, berteknologi tinggi dan mampu membangkitkan kegiatan ekonomi wilayah.
Pengembangan kerajinan perlu juga ditunjang dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai bagi kegiatan industri seperti penyediaan air baku, sistem pengelolaan limbah yang baik dan aksesibilitas untuk jalur distribusi bahan baku serta pemasaran hasil produksi. Keberadaan industri kerajinan yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar pun perlu ditunjang dengan penyediaan perumahan vertikal skala besar untuk dapat menampung jumlah penduduk metropolitan yang terus meningkat. Pengembangan perumahan vertikal skala besar tersebut juga perlu ditunjang dengan penyediaan infrastruktur permukiman yang memadai.
25
Pengembangan Metropolitan Cirebon Raya Sebagai Penghela Ekonomi
Pada dasarnya, sebagai penghela ekonomi, pengembangan metropolitan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, menambah lapangan kerja, dan memperluas pasar bagi produk-produk Jawa Barat. Keberadaan kegiatan-kegiatan seperti pariwisata, hotel dan restoran, perdagangan yang berkembang di Metropolitan Cirebon Raya juga akan menyerap tenaga kerja, membuka peluang investasi serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Industri batik merupakan salah satu industri yang berkembang di Metropolitan Cirebon Raya yang akan dapat memperluas pasar bagi produk-produk batik yang dihasilkan dengan ciri khas tersendiri. Sama halnya dengan industri batik, industri kerajinan rotan di Metropolitan Cirebon Raya akan dapat menyerap tenaga kerja yang cukup banyak sehingga produk kerajinan yang dihasilkan dalam jumlah yang besar pula. Produk kerajinan yang dihasilkan dapat diekspor sehingga akan mempengaruhi pendapatan daerah apalagi jika nilai ekspornya terus meningkat. Dengan kondisi tersebut tentunya keberadaan industri kerajinan rotan ini akan menjadi penghela ekonomi bagi Jawa Barat.
Rencana pembangunan Aerocity Kertajati di Kabupaten Majalengka akan menarik investasi baik dalam dan luar negeri serta meningkatkan efisiensi ekonomi karena adanya aglomerasi kegiatan industri di kawasan tersebut. Melalui kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan memanfaatkan potensi industri dan mengembangkan industri rumah tangga menjadi skala industri lebih tinggi, penyerapan tenaga kerja menjadi semakin tinggi dan produksi pun semakin meningkat. Hal tersebut tentunya akan dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di wilayah Metropolitan Cirebon Raya secara khusus dan Jawa Barat secara keseluruhan.
26
Kawasan pesisir dengan hasil laut, tambang mineral, serta minyak dan gas yang cukup melimpah dapat pula menjadi penghela ekonomi masyarakat. Selain dari hasil pengolahan yang dilakukan, laut dapat menjadi sumber mata pencaharian masyarakat pesisir yang menjadi sumber pendapatan mereka sehari-hari. Jika sumber daya alam tersebut dapat dikelola dengan baik dan benar pasti dapat memberikan manfaat yang nyata secara ekonomi, sehingga menarik investor domestik dan mancanegara.
Pengembangan Metropolitan Cirebon Raya Sebagai Penghela Kesejahteraan
Pengembangan metropolitan akan berdampak terhadap peningkatan kebutuhan dasar masyarakat dan juga pada pertumbuhan wilayah sekitar metropolitan. Keberadaan industri-industri baik skala kecil, menengah, dan besar akan mempengaruhi kebutuhan fasilitas-fasilitas dasar seperti kebutuhan air bersih untuk industri. Pengembangan kawasan industri di Metropolitan Cirebon Raya tidak semata-mata hanya mengembangkan industrinya saja tetapi juga dibutuhkan ketersediaan sarana dan prasarana pendukung lainnya. Infrastruktur strategis di wilayah Metropolitan Cirebon Raya harus dapat terpenuhi agar pengembangan metropolitan ini dapat menghela kesejahteraan bagi masyarakat.
Sebagai penghela kesejahteraan, pengembangan metropolitan ini akan dapat memberikan pengaruh terhadap wilayah sekitarnya. Misalnya saja, adanya kebutuhan bahan baku untuk industri yang berada di Metropolitan Cirebon Raya akan mendorong keterkaitan wilayah metropolitan dengan wilayah sekitarnya sebagai penyedia bahan baku untuk industri. Hal tersebut akan memberikan benefit tidak hanya untuk wilayah metropolitan tetapi juga untuk wilayah
hinterland-nya yang pada akhirnya dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.
Letak Metropolitan Cirebon Raya yang strategis berada di jalur pantura dan didukung dengan infrastruktur memadai dapat memberikan kelancaran kegiatan ekonomi masyarakat sehingga membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Masyarakat dapat melakukan kegiatan ekonomi yang bersifat regional dengan adanya akses keluar dan masuk Metropolitan Cirebon Raya sehingga cakupan aktivitas kegiatan ekonomi mereka meluas.
27
biasanya tidak hanya menarik tenaga kerja lokal tetapi juga tenaga kerja luar wilayah Metropolitan Cirebon Raya. Peluang kerja ini juga sekaligus dapat mengatasi salah satu permasalahan yang kerap kali muncul di metropolitan yaitu masalah pengangguran yang dapat menyebabkan kriminalitas. Dengan berkurangnya pengangguran, kesejahteraan masyarakat akan meningkat dari segi kualitas hidup. Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan juga akan terjadi dengan pengembangan metropolitan.
Pengembangan Metropolitan Cirebon Raya Sebagai Penghela Modernisasi
Konsep pengembangan Metropolitan Cirebon Raya harus dapat menjadi penghela modernisasi yang setidaknya akan mampu membawa perubahan dalam diri masyarakat ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, pengembangan metropolitan ini akan dapat meningkatkan kualitas good governance dan meningkatkan efisiensi serta efektivitas penggunaan sumber daya. Dalam konteks pengembangan Metropolitan Cirebon Raya, modernisasi dapat diterapkan melalui penggunaan alat-alat dan teknologi canggih dalam kegiatan industri. Penggunaan alat-alat tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari kegiatan produksi serta modernisasi penyediaan infrastruktur. Selain itu, melalui pemahaman dan keahlian dari setiap individu yang mau berpikir secara rasional, kegiatan industri dapat lebih dikembangkan dengan adanya inovasi-inovasi baru dari setiap kegiatan yang dilakukan sehingga dapat pula mengembangkan produktivitas masyarakat.
Pemikiran terhadap peninggalan budaya juga tentunya jangan sampai menjadi penghalang modernisasi. Adanya pemikiran yang luas untuk mengembangkan potensi warisan budaya dengan menghubungkan modernisasi dengan kearifan lokal juga menjadi salah satu cara mempromosikan modernisasi di kalangan masyarakat. Masyarakat seharusnya dapat lebih membuka wawasan untuk dapat menggali potensi diri agar dapat bersaing dengan wilayah lain. Sebagai contoh, pelestarian budaya membatik akan dapat menghela modernisasi dengan penggunaan alat-alat berteknologi dalam produksinya.
Pengembangan Metropolitan Cirebon Raya Sebagai Penghela Keberlanjutan
28
Taman Nasional Gunung Ciremai merupakan salah satu daerah konservasi dan dimanfaatkan pula sebagai kawasan wisata skala regional. Keberadaan taman nasional ini di wilayah Metropolitan Cirebon Raya telah memberikan keuntungan bagi peningkatan ekonomi wilayah metropolitan. Dengan kebijakan pemerintah menjadikan taman nasional tersebut menjadi salah satu daerah konservasi, akan mendukung pula terciptanya pembangunan yang berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan peluang mencapai target 45% kawasana lindung di Jawa Barat. Konsep pembangunan berkelanjutan yang selama ini selalu dikaitkan dengan lingkungan sekitar dapat pula terwujud dalam Metropolitan Cirebon Raya sehingga pengembangannya dapat menjadi penghela keberlanjutan bagi pembangunan Jawa Barat secara menyeluruh. Selain Taman Nasional Gunung Ciremai, kawasan wisata alam lainnya akan dimanfaatkan sebagai daerah konservasi untuk turut menjaga keberlanjutan pembangunan.
Masuknya para investor yang berinvestasi di Metropolitan Cirebon Raya akan memungkinkan terjadinya kelayakan finansial bagi penyediaan infrastruktur perkotaan dan kondisi fiskal yang berkelanjutan. Sebagai contoh, rencana pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati dan Aerocity Majalengka merupakan salah satu bentuk kelayakan finansial bagi penyediaan infrastruktur yang dapat menghela keberlanjutan bagi seluruh Jawa Barat.
Konsep Pengembangan Infrastruktur dan Prasarana Wilayah Metropolitan Cirebon Raya
Secara umum, karakteristik antar Kota dan Kabupaten yang termasuk ke dalam wilayah Metropolitan Cirebon Raya memiliki beberapa persamaan. Jika dilihat dalam satu wilayah metropolitan, dapat dikatakan bahwa keberadaan objek wisata sejarah, wisata alam dan wisata budaya dapat menjadi keunggulan dari Metropolitan Cirebon Raya.
29
A. Sektor Transportasi
Transportasi merupakan proses pergerakan orang dan/atau barang dari satu lokasi ke lokasi lain. Untuk mengakomodasi pergerakan yang terjadi, maka perlu ditunjang oleh fasilitas dan layanan transportasi yang memadai, seperti fasilitas jalan, layanan angkutan umum, bandar udara, serta fasilitas dan layanan transportasi lainnya. Secara umum, konsep pengembangan sektor transportasi di Metropolitan Cirebon Raya dapat dibagi menjadi 2 (dua) bagian utama, yaitu sistem transportasi internal dan sistem transportasi eksternal.
1. Sistem Transportasi Internal
Pergerakan internal merupakan pergerakan yang terjadi di dalam lingkup metropolitan Cirebon Raya. Pergerakan tersebut dapat dilihat dari, 1) pergerakan antar pusat-pusat kegiatan; 2) pergerakan antara pusat-pusat kegiatan dengan daerah layanannya; dan 3) pergerakan ke objek-objek pariwisata.
30
TABEL 11
KRITERIA HIRARKI JARINGAN ANGKUTAN UMUM
No Fungsi Hubungan Kelas Trayek Syarat Jalan Jenis Armada
1 PKN PKN Trayek utama (lintas
batas)
Jalan arteri primer Kereta api
Bus besar
8 sPPK sPPK Trayek utama Jalan arteri sekunder
9 sPPK PL Trayek feeder Jalan arteri sekunder
10 sPPK PL
(perumahan)
Trayek feeder Jalan lokal sekunder Bus besar/
sedang
11 PL PL Trayek feeder Jalan lokal sekunder
12 PL PL
(perumahan)
Trayek feeder Jalan lokal sekunder
13 PL
(perumahan) PL
(perumahan)
Trayek lingkungan Jalan lokal sekunder Bus sedang/
kecil Sumber: UU no 22/2009 dan KM 35/2003
31
32
TABEL 12
KONSEP HIRARKI JARINGAN TRANSPORTASI DI KOTA CIREBON
No. Deskripsi lokasi Pusat Kegiatan
Hubungan Pusat Kegiatan
Hirarki Jaringan Transportasi Jaringan
Prasarana Jalan Hirarki Trayek
1. Sebagian Kel.
Kejaksan
Kel. Panjunan PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Pekiringan PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Larangan PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Kecapi PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Karyamulya PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Argasunya PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
2. Kel. Panjunan
Kel. Pekiringan sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Larangan sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Kecapi sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Karyamulya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Argasunya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
3.
Kel. Pekiringan
Kel. Larangan sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Kecapi sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Karyamulya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Argasunya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Kecapi Kel. Karyamulya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Argasunya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Karyamulya Kel. Argasunya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
4.
33
TABEL 13
KONSEP HIRARKI JARINGAN TRANSPORTASI DI KABUPATEN CIREBON
No. Deskripsi lokasi Pusat Kegiatan
Hubungan Pusat Kegiatan
Hirarki Jaringan Transportasi Jaringan
Prasarana Jalan Hirarki Trayek
1. Kec. Ciledug
Karangsembung PKL – PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Karangwareng PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Tengahtani PKL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Talun PKL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Kedawung PKL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Gunungjati PKL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
4. Kec. Palimanan
Kec. Plumbon PKL - PKLp Lokal Primer Trayek Utama
Kec. Klangenan PKL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Kejaksan Kota Cirebon
Kec. Astanajapura
Kab. Cirebon PPK - PKLp Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Weru
Kab. Cirebon PPK - PKLp Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Plumbon
Kab. Cirebon PPK - PKLp Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Kapetakan
Kab. Cirebon PPK - PKLp Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Cibingbin
Kab. Kuningan PPK - PKLp Arteri Sekunder Trayek Utama
34
TABEL 14
KONSEP HIRARKI JARINGAN TRANSPORTASI DI KABUPATEN KUNINGAN
No. Deskripsi lokasi Pusat Kegiatan
Hubungan
Kec. Mandirancan PPL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Cigugur PPL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Dukupuntang
Kab Cirebon PPL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec.
Sindangwangi Kab. Majalengka
PPL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
2 Kec. Cilimus
Kec. Mandirancan PKL - PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Pancalang PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Jalaksana PKL – PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec.
Cigandamekar PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Cigugur PKL - PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
3 Kec. Pancalang
Kec. Mandirancan PPL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Cilimus PPL – PKL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Beber PPL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Talun
Kab. Cirebon PPL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2013
TABEL 15
KONSEP HIRARKI JARINGAN TRANSPORTASI DI KABUPATEN MAJALENGKA
No. Deskripsi lokasi Pusat Kegiatan
Hubungan
Kec. Leuwimunding PPK – PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Palasan PPK – PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Susukan
Kab. Cirebon PPK – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
2 Kec.
Leuwimunding
Kec. Sindangwangi PPK – PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Palasah PPK – PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kab. Cirebon PPK - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
35
Berdasarkan tabel-tabel di atas, dapat terlihat bahwa konsep jaringan prasarana jalan di Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan sedikit berbeda dengan arahan jaringan prasarana jalan di Kota Cirebon. Jaringan prasarana jalan di Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan lebih didominasi oleh jalan lokal, dimana hal ini disebabkan oleh struktur ruang di Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka yang memiliki cukup banyak Pusat Kegiatan Lingkungan (PKL).
Adapun untuk moda transportasi publik, berdasarkan karakteristik hirarki jalannya, maka Kota Cirebon sebagian besar dipenuhi dengan moda transportasi trayek utama dan trayek cabang, seperti Kereta Api, Bus Besar, dan Bus Sedang. Untuk itu, untuk koridor kecil hingga medium pada Kota Cirebon, transportasi publik berbasis jalan dengan fasilitas eksklusif dapat melayani sebagai sistem transportasi metropolitan yang efisien, seperti BRT, LRT, Bus, dan Tram. Hal ini juga berlaku pada Kabupaten Cirebon, Majalengka, dan Kuningan.
36
TABEL 16
PERSYARAKAT PENENTUAN LOKASI TERMINAL
No Terminal Persyaratan Teknis Lokasi
1. Terminal
tipe A
1. Terletak dalam jaringan trayek antar kota antar propinsi dan/atau angkutan
lalu lintas batas negara;
2. Terletak di jalan arteri dengan kelas jalan sekurang-kurangnya kelas IIIA;
3. Jarak antara dua terminal penumpang tipe A, sekurang-kurangnya 20 km di
Pulau Jawa, 30 km di Pulau Sumatera dan 50 km di pulau lainnya;
4. Luas lahan yang tersedia sekurang-kurangnya 5 ha untuk terminal di Pulau
Jawa dan Sumatera, dan 3 ha di pulau lainnya;
5. Mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal dengan
jarak sekurang-kurangnya 100 m di Pulau Jawa dan 50 m di pulau lainnya, dihitung dari jalan ke pintu keluar atau masuk terminal.
2. Terminal
tipe B
1. Terletak dalam jaringan trayek antar kota dalam propinsi;
2. Terletak di jalan arteri atau kolektor dengan kelas jalan sekurang-kurangnya
kelas IIIB;
3. Jarak antara dua terminal penumpang tipe B atau dengan terminal
penumpang tipe A, sekurang-kurangnya 15 km di Pulau Jawa dan 30 km di Pulau lainnya;
4. Tersedia lahan sekurang-kurangnya 3 ha untuk terminal di Pulau Jawa dan
Sumatera, dan 2 ha untuk terminal di pulau lainnya;
5. Mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal dengan
jarak sekurang-kurangnya 50 m di Pulau Jawa dan 30 m di pulau lainnya, dihitung dari jalan ke pintu keluar atau masuk terminal.
3. Terminal
tipe C
1. Terletak di dalam wilayah Kabupaten daerah Tingkat II dan dalam jaringan
trayek pedesaan;
2. Terletak di jalan kolektor atau lokal dengan kelas jalan paling tinggi kelas IIIA;
3. Tersedia lahan sesuai dengan permintaan angkutan;
4. Mempunyai akses jalan masuk atau keluar ke dan dari terminal, sesuai
kebutuhan untuk kelancaran lalu lintas di sekitar terminal.
Sumber: KM 31/1995 tentang Terminal Transportasi Jalan, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, 2012
37
TABEL 17
KEBUTUHAN LOKASI TERMINAL METROPOLITAN CIREBON RAYA 2025
No Kabupaten/Kota Kebutuhan Lokasi Terminal
1 Kota Cirebon 1. Terminal Tipe A di Kecamatan Harjamukti
2. Terminal Tipe C di Kecamatan Kesambi
3. Terminal Tipe C di Kecamatan Panjunan
4. Terminal Tipe C di Kecamatan Pekiringan
5. Terminal Tipe C Kecamatan Larangan dan Kecamatan Kecapi
6. Terminal Tipe C di Kecamatan Karyamulya
7. Terminal Tipe C di Kecamatan Argasunya
2 Kabupaten Cirebon 1. Terminal Tipe B di Kecamatan Losari
2. Terminal Tipe B di Kecamatan Arjawinangun
3. Terminal Tipe C di Kecamatan Ciledug
4. Terminal Tipe C di Kecamatan Astanajapura
5. Terminal Tipe C di Kecamatan Babakan
6. Terminal Tipe C di Kecamatan Karangsembung
7. Terminal Tipe C di Kecamatan Kedawung
8. Terminal Tipe C di Kecamatan Klangenan
9. Terminal Tipe C di Kecamatan Gegesik
10. Terminal Wisata di Kecamatan Weru
3 Kabupaten
Majalengka
1. Terminal Tipe A di Kecamatan Kadipaten
2. Terminal Tipe C di Kecamatan Ligung
3. Terminal Tipe C di Kecamatan Sumberjaya
4. Terminal Tipe C di Kecamatan Leuwimunding
5. Terminal Tipe C di Kecamatan Sindangwang
4 Kabupaten
Kuningan
1. Terminal Tipe A Kertawangunan
2. Terminal Tipe C di Kecamatan Mandirancan
Sumber: Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, 2012
38
GAMBAR 13 LOKASI WISATA UNGGULAN DI METROPOLITAN CIREBON RAYA Sumber: RIPPDA, 2005
Sebagai metropolitan dengan konsep pengembangan sektor unggulan berbasis pariwisata, industri, dan kerajinan, kemudahan akses ke objek-objek pariwisata menjadi faktor penting dalam mendorong pengembangan pariwisata. Kemudahan akses tersebut dapat dilihat dari kondisi infrastruktur jalan penghubung objek-objek wisata serta ketersediaan moda angkutan, dan terminal pariwisata sebagai tempat pergantian moda transportasi. Untuk itu, perlu adanya penyediaan terminal pariwisata di beberapa lokasi strategis, sebagai penunjang aksesibilitas ke lokasi wisata unggulan di Metropolitan Cirebon Raya.
2. Sistem Transportasi Eksternal
39
pesawat terbang, kereta api, kapal laut, maupun bus besar. Untuk itu, perlu adanya penyediaan sarana penunjang transportasi tersebut yaitu Bandar udara, stasiun kereta api, pelabuhan, jalan tol, dan jalan nasional atau provinsi.
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah baik pada tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota, terdapat beberapa rencana pembangunan infrastruktur strategis yang memungkinkan adanya pergerakan besar di wilayah Metropolitan Cirebon Raya. Beberapa pembangunan tersebut antara lain:
GAMBAR 14 RENCANA PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI METROPOLITAN CIREBON RAYA
Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011
Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati dan Aerocity merupakan potensi dan tantangan bagi pembangunan di Metropolitan Cirebon Raya yang perlu untuk dimanfaatkan. Untuk mengakomodasi berbagai pergerakan yang timbul dari pembangunan Bandar Udara Internasional tersebut, beberapa langkah perlu dilakukan, terutama berkaitan dengan aksesibilitas antara BIJB Kertajati dan Aerocity dengan Metropolitan Cirebon Raya.
40
serta mendukung besarnya potensi pergerakan yang timbul pada masing-masing Kabupaten/Kota, antara lain:
TABEL 18
PROGRAM PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR JALAN DAN PERHUBUNGAN DI METROPOLITAN CIREBON
Program Lokasi Sumber Dana Jangka
Waktu Pembangunan Jalan Tol Jalan Tol Cisumdawu APBD Kab/Kota, APBD
Provinsi, APBN,
APBN, Swasta 2009-2023
Pembangunan/Pening-katan Jalur Jalan Poros
Cirebon-Cikijing-Ciamis-Pangandaran
APBD Provinsi, APBN 2009-2018
Revitalisasi Jalur KA Rancaekek-Jatinangor- Tanjugsari-Kertajati-Kadipaten-Cirebon
APBN, Swasta 2009-2028
Pembangunan Terminal Tipe A
Perkotaan Cirebon APBD Kab/Kota, APBD Provinsi, APBN
APBD Provinsi, APBN 2011-2028
Peningkatan Kapasitas dan Fungsi Pelabuhan
Pelabuhan Arjuna (Kota Cirebon)
APBD Provinsi, APBN 2012-2029
Pembangunan Sistem Angkutan Umum Massal
Perkotaan Cirebon APBD Kab/Kota, APBD Provinsi, APBN, Swasta
2010-2029
41
TABEL 19
ARAH KEBIJAKAN TRANSPORTASI KA 2010-2014
Arah Kebijakan Target
Rehabilitasi jalur KA Jalur Cikampek-Cirebon, Jalur Semarang-Cirebon
Peningkatan jalur KA, reaktivasi lintas mati dan peningkatan spoor emplasemen
Jalur Cirebon-Tegal, Jalur Semarang-Cirebon, Jalur Cirebon-Kroya, Jalur Cirebon-Kadipaten Pembangunan jalur KA
baru/shorcut/parsial double track/double track/double double track
Jalur Cirebon-Brebes, Jalur Cirebon-Kroya
Peningkatan/modernisasi persinyalan perkeretaapian
Peningkatan persinyalan mekanik menjadi elektrik pada Stasiun Cirebon
Peningkatan saluran blok dengan kabel FO pada jalur Tegal-Cirebon
Modifikasi sistem CTC/CTS pada Stasiun Cirebon
Pembangunan/rehabilitasi bangunan operasional perkeretaapian
Perluasan stock yard di Pekalongan dan Cirebon/Jatibarang
Sumber: Renstra Kementerian Perhubungan 2010-2014
GAMBAR 15 USULAN PENGEMBANGAN JALAN DI METROPOLITAN CIREBON RAYA Sumber: Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, 2013
produk-42
produk ekonomi seperti produk pertanian, industri, kerajinan, dan sebagainya dapat berjalan dengan lancar.
Proses distribusi barang dapat dilakukan baik menggunakan moda transportasi darat, laut, maupun udara. Kemudahan aksesibilitas dari pusat produksi atau pusat bahan baku ke pusat distribusi dan konsumsi menjadi faktor yang penting dalam sistem pengangkutan barang, termasuk di dalamnya aksesibilitas antara pusat produksi menuju stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara sebagai pintu gerbang distribusi barang ke lokasi yang lebih luas.
Secara umum, perencanaan pengembangan sistem angkutan barang, terbagi menjadi 3, yaitu:
a. Jangka Pendek: Angkutan barang dengan ukuran tertentu tidak boleh masuk ke jalan perkotaan dan ditetapkannya rute angkutan barang; pembatasan loading dan unloading di perkotaan, baik tempat maupun waktu
b. Jangka Menengah: Dibangun terminal angkutan barang/ dry port/ inland port; tersedianya pergudangan yang melengkapi sistem angkutan barang
c. Jangka Panjang: Lebih terintegrasinya sistem angkutan barang antar moda (jalan raya, kereta api, dan laut)
43
TABEL 20
PERENCANAAN SISTEM TRANSPORTASI BARANG DI METROPOLITAN CIREBON RAYA
No Jangka Waktu Perencanaan Transportasi Barang
1 Jangka Pendek - Pembangunan Jalur Lingkar di Kota Cirebon - Pembangunan Jalur Lingkar di Kabupaten Cirebon
2 Jangka Menengah - Pembangunan pelabuhan barang di Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu
- Pembangunan/ penataan pelabuhan perikanan di Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu
- Peningkatan terminal truk di Kecamatan Gempol - Peningkatan beberapa fungsi stasiun di Kota Cirebon,
Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Indramayu
- Peningkatan kapasitas dan fungsi pelabuhan Arjuna (Kota Cirebon)
- Pembangunan Bandaran Internasional Jawa Barat Kertajati dan Kertajati Aerocity
3 Jangka Panjang Integrasi sistem angkutan barang antar moda berupa
perbaikan dan pembangunan jalan, peningkatan status jalan penghubung menuju bandara, pelabuhan, dan stasiun.
Sumber: RTRW Jawa Barat, Hasil Analisis Tim WJP-MDM, 2013
B. Sektor Perumahan
Peningkatan jumlah penduduk di suatu wilayah secara umum juga akan mempengaruhi peningkatan kebutuhan sektor perumahan. Hal ini dapat menjadi permasalahan yang besar terutama di wilayah Metropolitan apabila tidak dilakukan perencanaan yang matang. Aktivitas perekonomian yang semakin tinggi mendorong banyaknya pendatang yang masuk ke dalam wilayah metropolitan. Banyaknya potensi pendatang tersebut harus dapat diakomodasi dengan baik oleh pemerintah. Hal ini sejalan dengan visi kebijakan dan strategi nasional perumahan
da per uki a K“NPP yaitu “etiap ora g KK I do esia mampu memenuhi
kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau pada lingkungan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan dalam upaya terbentuknya masyarakat yang
berjatidiri, a diri, da produktif .
44
infrastruktur strategis tersebut mendorong meningkatnya nilai lahan akan perumahan di perkotaan. Sementara di sisi lain, hingga saat ini masih terdapat backlog yang besar di beberapa daerah di Metropolitan Cirebon Raya yang memungkinkan semakin besarnya defisit ketersediaan perumahan di masa depan apabila tidak segera ditindaklanjuti. Selain kebutuhan perumahan dan peningkatan nilai lahan, persoalan penyediaan ruang terbuka di wilayah metropolitan tetap harus menjadi perhatian besar, mengingat adanya ruang terbuka dapat menjadi sarana interaksi, aktivitas, dan sebagai penjaga keseimbangan lingkungan.
Untuk itu, pengembangan hunian vertikal di wilayah Metropolitan Cirebon Raya dapat menjadi salah satu alternatif yang baik dalam memenuhi segala tantangan dan peluang yang dihadapi di wilayah Metropolitan Cirebon Raya. Mengingat pentingnya sektor perumahan dalam pengembangan wilayah Metropolitan, maka beberapa rencana yang telah dibuat untuk menampung kebutuhan akan perumahan di wilayah perkotaan Metropolitan Cirebon Raya adalah sebagai berikut:
TABEL 21
RENCANA PENGEMBANGAN SEKTOR PERUMAHAN DI METROPOLITAN CIREBON RAYA
No Kabupaten/Kota Rencana Pengembangan Infrastruktur Permukiman
1 Kota Cirebon Pengembangan hunian vertikal layak huni di kawasan
perumahan kepadatan tinggi
Penataan lingkungan perumahan disekitar badan air sungai Kesunean dan Krian
Pengembangan kawasan perumahan berdasarkan ketentuang luas kapling rumah
Kawasan perumahan kepadatan tinggi diarahkan di BWK I dan BWK II; Kwasan perumahan kepadatan sedang diarahkan di BWK III; dan Kawasan perumahan kepadatan rendah diarahkan di BWK IV
2 Kabupaten Cirebon Pembangunan prasarana permukiman
Pembangunan dan pengembangan skala pengembang minimal 250 unit rumah
Studi kelayakan lokasi lingkungan siap bangun Pengembangan rumah skala besar (lisiba)
Pembangunan rumah susun sederhana (hunian vertikal) 3 Kabupaten
Majalengka
45
No Kabupaten/Kota Rencana Pengembangan Infrastruktur Permukiman
karakteristik intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi, mencakup kawasan perkotaan yang menjadi kota inti PKW
Mengendalikan kawasan permukiman horizontal pada kawasan perkotaan dengan intensitas pemanfaatan ruang menengah, termasuk kota mandiri dan kota satelit dan kawasan perkotaan yang memiliki karakteristik intensitas pemanfaatan ruang menegah, mencakup kawasan perkotaan selain yang berfungsi sebagai kota inti PKW
4 Kabupaten Kuningan
Pembangunan kawasan perumahan baru
Perluasan dan pembangunan kawasan permukiman swadaya
Perbaikan kualitas perumahan yang ada dan lingkungan perumahan
Penyediaan berbagai fasilitas sosial ekonomi yang mampu mendorong perkembangan kawasan perkotaan
Mengembalikan fasilitas ruang publik 5 Kabupaten
Indramayu
Pengembangan kawasan permukiman perkotaan diupayakan tidak merambah areal pertanian lahan basah beririgasi teknis
Permukiman perkotaan diarahkan untuk mengisi kawasan belum terbangun di ibukota kecamatan terutama pada pusat-pusat wilayah pengembangan pembangunan
Perbaikan lingkungan permukiman terutama pada kawasan padat kumuh
Sumber: Rencana Tata Ruang Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Indramayu 2011-2031
46
perumahaan dapat lebih teratasi dan ruang terbuka sebagai elemen penting kehidupan masyarakat metropolitan juga dapat dipenuhi dengan baik.
Selain memperhatikan potensi pemenuhan kebutuhan perumahan di masa akan datang bagi masyarakat secara umum, potensi penyediaan perumahan di Metropolitan Cirebon Raya tidak akan pernah lepas dari penyediaan hunian bagi masyarakat kurang mampu atau masyarakat menengah ke bawah, karena masyarakat tersebut juga merupakan bagian dari Metropolitan Cirebon Raya. Perkembangan hunian kumuh yang tidak terawat dan tidak tertata dengan baik, tidak hanya mempengaruhi bagaimana tampak Metropolitan Cirebon Raya, tetapi juga mempengaruhi kualitas hidup masyarakat tersebut. Untuk itu, beberapa langkah dapat dilakukan antara lain:
a. Penyediaan prasarana dasar (PSD) bagi kawasan RSH b. Penataan dan peremajaan kawasan
c. Pembangunan rumah susun sederhana sewa d. Peningkatan kualitas permukiman
Keempat langkah tersebut dapat mendorong penataan wilayah Metropolitan Cirebon Raya yang lebih teratur dan terarah serta dapat menampung berbagai kebutuhan akan infrastruktur perumahan dari berbagai pihak, baik kelas menengah ke atas maupun menengah ke bawah.
C. Sektor Persampahan
Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan: mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis; dan mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup. Proses pengelolaan sampah di wilayah Metropolitan dimulai dari timbunan (hulu) yang berasal dari permukiman, pasar, komersial, industri, perkantoran, dan sebagainya sampai dengan pembuangan akhir.
47
beralih ke pola pengurangan dan pemanfaatan sampah sejak dari sumbernya, sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA sudah sangat berkurang. Menurut UU No.18 Tahun 2008, pengelolaan sampah didefinisikan sebagai kegiatan yang sistematis, meyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Kegiatan pengurangan meliputi: pembatasan timbunan sampah; pendauran ulang sampah; dan/ atau pemanfaatan kembali sampah.
Prasarana pengangkutan sampah dapat berupa gerobak/sepeda/motor sampah atau truk terbuka. Adanya perubahan paradigma penanganan sampah tersebut, maka diperlukan perubahan pola pengangkutan sampah baik untuk sampah tercampur maupun sampah terpilah.
GAMBAR 16 LANDASAN PERATURAN HUKUM DAN KETENTUAN PENGELOLAAN SAMPAH DI JAWA BARAT
Sumber: Dinas Permukiman dan Perumahan Provinsi Jawa Barat, 2012
48
sistem pembuangan terbuka paling lama 1 (tahun) dan diharuskan menutup tempat pemrosesan akhir sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka paling lama 5 (lima) tahun terhitung sejak berlakunya Undang-undang tersebut. Untuk itu, proses perencanaan memegang peranan penting dalam pelaksanaan pengelolaan persampahan. Keterlibatan dalam pengelolaan persampahan tidak hanya oleh pemangku kepentingan tetapi termasuk masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Untuk itu, perlu dilakukan identifikasi sampah baik timbunan (berat atau volume) serta komposisinya.
TABEL 22
RENCANA PENGELOLAAN JARINGAN PERSAMPAHAN DI METROPOLITAN CIREBON RAYA
No Kabupaten/Kota Rencana Pengelolaan Persampahan
1 Kota Cirebon Reduksi dan pengolahan sampah secara terpadu di TPS
hingga di TPPAS Kopi Luhur
Pengolahan sampah buangan industri yang berbahaya hingga layak dan tidak berbahaya untuk dibuang ke
TPPAS
Pengolahan sampah yang berasal dari rumah sakit dengan incinerator untuk selanjutnya dibuang ke TPPAS Penyediaan TPS pada wilayah yang tidak memiliki TPS atau wilayah yang jarak ke TPS terdekat lebih dari 1km TPPAS menggunakan sistem sanitary landfill
Penyediaan infrastruktur yang menunjang sistem sanitary landfill
2 Kabupaten Cirebon Penyusunan rencana induk pengelolaan persampahan
Kabupaten
Pengembangan teknologi komposing sampah organik pada kawasan permukiman perdesaan dan perkotaan pengembangan TPS diletakan pada pusat kegiatan
masyarakat meliputi pasar, permukiman, perkantoran, dan fasilitas sosial berada di setiap kecamatan
Peningkatan pemanfaatan TPPAS yang ada dengan sistem pengelolaan sampah sanitary landfill, meliputi: TPPAS Gunung Santri, TPPAS Ciawi Japura, TPPAS Ciledug
Pembangunan TPPAS dengan sistem pengelolaan sampah sanitary landfill di Kecamatan Gempol
Persiapan pembangunan TPPAS Regional di Kabupaten 3 Kabupaten
Majalengka
49
No Kabupaten/Kota Rencana Pengelolaan Persampahan
Talaga
TPS ditempatkan di pusat kegiatan masyarakat di seluruh kecamatan meliputi: pasar, permukiman, perkantoran, fasilitas sosial lainnya
Pengembangan usaha daur ulang sampah, kertas, kaca dan plastic dan/atau sampah kering
Penerapan penanganan akhir sampah secara sanitary landfill
4 Kabupaten Kuningan
Pengembangan TPS disediakan di setiap kecamatan Optimalisasi TPPAS Ciniru di Kecamatan Jalaksana Pembangunan TPPAS Karangmuncang dengan metoda
sanitary landfill di Kecamatan Cigandamekar
Peningkatan kualitas prasarana pengolahan limbah medis dan limbah B3 mandiri, meliputi: Kecamatan Kuningan, Kecamatan Cilimus, Kecamatan Cigugur, dan Kecamatan Sindangagung
Pengembangan pengelolaan sampah skala lingkungan berbasis komunitas dengan pendekatan metode 3R.
5 Kabupaten Indramayu
Pengembangan sistem pengangkutan diprioritaskan pada kawasan permukiman perkotaan dan pusat kegiatan masyarakat
Pengembangan sistem komposting pada kawasan perdesaan dan permukiman berkepadatan rendah Pengembangan TPST, meliputi: TPST Pecuk, TPSK
Kebuleb, TPST Kertawinangun, TPST Mekarjati
Peningkatan sistem pengelolaan dengan sanitary landfill pada TPST dan dengan sistem 3R
Sumber: Rencana Tata Ruang Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Indramayu 2011-2031
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa berdasarkan amanat UU No. 18 Tahun 2008, sistem operasional TPA diharuskan untuk menerapkan sistem sanitary landfill. Hal ini berimplikasi bagi Pemerintah Daerah di dalam pengelolaan sampah, mengingat pembuatan maupun pengelolaan TPA dengan sistem sanitary landfill
50
GAMBAR 17 SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH LOKAL DAN REGIONAL Sumber: Dinas Permukiman dan Perumahan Provinsi Jawa Barat, 2012
Selain itu, penerapan sistem sanitary landfill juga membutuhkan lokasi lahan yang cukup luas dan memenuhi persyaratan teknis tertentu. Sementara tidak semua pemerintah daerah memiliki lahan yang cukup dan sesuai dengan persyaratan lokasi TPA. Oleh karenanya untuk mengatasi hal tersebut, salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan Pengelolaan TPA Regional.
Pembangunan dan pengelolaan TPA Regional merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah di tingkat Kabupaten/Kota. Pembangunan dan pengelolaan TPA Regional tersebut dapat dibangun dan dikelola langsung oleh Pemerintah Provinsi ataupun kerjasama antara Kabupaten/Kota yang terlibat.
51
aktivitas ekonomi di Metropolitan Cirebon Raya perlu untuk segera dikaji lebih jauh seiring dengan berbagai pembangunan infrastruktur strategis lainnya.
GAMBAR 18 Eksisting dan Lokasi Rencana TPPAS di Provinsi Jawa Barat Sumber: Dinas Permukiman dan Perumahan Provinsi Jawa Barat, 2012