17
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014TINGKAT PELAYANAN JALAN MASUK KOTA KEDIRI BAGIAN TIMUR Oleh : Yosef Cahyo SP., ST., MT., M.Eng *)
Abstrak
Kota Kediri yang merupakan salah satu kota besar di Jawa Timur, mengalami perkembangan yang cukup pesat dan tentunya mempunyai hubungan timbal balik dengan wilayah kabupaten dan kota sekitarnya. Maka diperlukan prasarana dan tingkat pelayanan jalan yang memadai. Apakah tingkat pelayanan jalan masuk kota Kediri bagian Timur sudah memadai berdasarkan Tinjauan Teknik? Metode penelitian yang dilakukan adalh pengumpulan data sebagai berikut :
a. Data Primer diperoleh dengan mengadakan penelitian langsung di lapangan, yaitu volume lalu lintas pada ruas jalan gerbang masuk kota dan jalan arteri kota Kediri.
b. Data Sekunder diperoleh dari instansi-instansi pemerintah yang berhubungan dengan Analisa Tingkat Pelayanan Jalan, seperti :
- tingkat pertumbuhan kendaraan kota Kediri - volume lalu lintas harian rata-rata kota Kediri
Menganalisa Data Volume Lalu Lintas.dengan menghitung besarnya arus lalu lintas satu jalur pada waktu sibuk dianggap sebagai bahan evaluasi dalam menentukan tingkat pelayanan jalan.
Selanjutnya Tingkat Pelayanan Jalan ditentukan dari perbandingan antara volume arus ( V ) dengan kapasitas ( C ) per jalur adalah sebagai berikut :
V / C < 0,8 => Arus stabil
0,8 < V / C < 1 => Arus hampir terganggu
V / C = 1 =>Arus terganggu
V / C < 1 => Arus dipaksakan (tersendat) Hasil Analisa Kapasitas Jalan Masuk Kota Kediri 1. Kediri – Pare : - V/C 1 : 0.995
- V/C 2 : 1.067 2. Kediri – Wates : - V/C 1 : 0.671 - V/C 2 : 0.854 Dari data analisa diatas dapat dilihat bahwa :
- Jalur Kediri – Pare termasuk Arus Terganggu dan dipaksakan. - Jalur Kediri – Wates termasuk Arus Hampir Terganggu.
1.1. Latar Belakang
Transportasi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan kita. Transportasi adalah suatu kegiatan untuk memindahkan orang dan atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dan fasilitas yang digunakan untuk memindahkan. Perpindahan / pergerakan manusia dan atau barang merupakan hal yang penting dipikirkan khususnya di daerah perkotaan karena sangat
menunjang dalam kehidupan perekonomian.
Di Negara berkembang, penyediaan sarana transportasi sering masih dibawah standar atau bahkan sangat kurang. Hal ini dapat mempengaruhi sistem pengelolaan Sumber Daya Alam, tenaga kerja, produksi suatu daerah. Dalam saat inilah justru kebijaksanaan Pemerintah Daerah *) Dosen Fakultas Tehnik Universitas Kadiri
18
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014menjadi sangat penting khususnya dalam bidang transportasi.
Demikian halnya dengan kota Kediri yang merupakan salah satu kota besar di Jawa Timur, mengalami perkembangan yang cukup pesat dan tentunya mempunyai hubungan timbal balik dengan wilayah kabupaten dan kota sekitarnya. Maka diperlukan prasarana dan tingkat pelayanan jalan yang memadai. Pembangunan fasilitas – fasilitas kota ditujukan untuk keperluan saat ini dan masa yang akan datang. 1.2. Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: Apakah tingkat pelayanan jalan masuk kota Kediri bagian Timur sudah memadai berdasarkan Tinjauan Teknik? 1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Meneliti tingkat kelayakan pelayanan jalan masuk kota Kediri bagian Timur saat ini.
Dari penelitian ini diharapkan dapat diperoleh sebab dan faktor apa yang mempengaruhi tingkat pelayanan jalan di beberapa ruas jalan masuk di Kota Kediri bagian Timur.
Menginfentarisasi masalah yang timbul terhadap kegiatan lalu-lintas di jalan masuk kota Kediri bagian Timur.
Untuk mengevaluasi kondisi dan sistem transportasi yang ada, sehingga dapat menunjang masalah-masalah yang timbul untuk dapat segera diatasi tingkat penanganannya.
1.4. Batasan Masalah
Dalam hal ini peneliti hanya membatasi pada masalah :
Hanya meneliti kepadatan lalu-lintas pada jalan masuk kota Kediri bagian Timur.
Memperbandingankan Volume dan Kapasitas untuk mendapatkan Tingkat Pelayanan Jalan.
BAB II
KERANGKA DASAR TEORI 2.1. Pengertian Perencanaan
Transportasi
Kegiatan perencanaan bukanlah sesuatu yang kaku, yang tidak dapat dirubah, tetapi perlu selalu direvisi pada periode waktu tertentu, walaupun sangat diharapkan revisi yang dilakukan tidak terlalu besar.
Sebagaimana dikatakan oleh Friedman : “ Perencanaan adalah suatu cara berfikir yang berorientasi, kepada masa datang, sangat berkenaan dengan hubungan antara tujuan dan keputusan dan keputusan – keputusan kolektif dan mengusahakan kebijaksanaan dari Program yang menyeluruh. Bilamana cara berfikir ini ditetapkan, maka dapat dikatakan bahwa perencanaan sedang dilaksanakan “.
2.1.1. Proses Umum Perencanaan Transportasi
Perencanaan Transportasi perkotaan sudah dibentuk di Amerika Serikat dan banyak negara lainnya sebagai suatu proses perencanaan untuk sarana transportasi milik umum di dalam daerah Metropolitan. Disamping itu rencana transportasi harus juga dikoordinasikan dengan penggunaan tanah dan rencana-rencana lainnya untuk daerah itu. Perencanaan ini harus dilaksanakan secara terus menerus, sehingga rencana jangka panjang maupun program yang segera dilaksanakan dapat dimodifikasi untuk memenuhi perubahan yang ada. Sebagai akibat dari syarat – syarat ini ; proses perencanaan Transportasi biasa disebut dengan Proses Perencanaan 3.C yaitu Continuing (menerus), Comprehensive (menyeluruh), Coordinated (terkoordinasi).
Studi pengangkutan yang paling sederhana terdiri dari empat tahapan : - Mensurvey pergerakan lalu lintas
19
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014- Menganalisis faktor sosio ekonomi yang mengakibatkan timbulnya gerakan-gerakan itu.
- Proyeksi permintaan lalu lintas dimasa datang
- Merancang jalan-jalan baru dan lebar untuk menampung permintaan itu.
2.2. Klasifikasi Dan Fungsi Jalan 2.2.1. Klasifikasi Jalan Berdasarkan
Peraturan Dirjen Bina Marga UU. No. 13 / 1980
a. Kelas jalan menurut fungsi - Jalan Utama
Yaitu jalan-jalan yang melayani lalu lintas yang tinggi antara kota – kota penting. Jalan – jalan dalam golongan ini harus direncanakan untuk dapat melayani lalu lintas yang cepat dan berat.
-Jalan Sekunder
Yaitu jalan-jalan yang melayani lalu lintas yang cukup tinggi antara kota-kota penting dan kota – kota yang lebih kecil, serta melayani daerah-daerah sekitarnya.
-Jalan Penghubung
Yaitu jalan-jalan untuk keperluan aktifitas daerah, yang juga dipakai sebagai jalan penghubung antara jalan-jalan dan golongan yang sama atau berlainan.
b. Kelas jalan menurut tekanan gandar dibagi menjadi beberapa kelas :
Klas Jalan Tekanan Gandar I II III A III B 7 ton 5 ton 3,5 ton 2,75 ton IV 1,5 ton
2.3. Parameter Tingkat Layanan Jalan 2.3.1. Volume, Kecapatan Rencana,
Kapasitas dan Tingkat Pelayanan. a. Volume Lalu Lintas
Volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melintasi satu titik pengamatan dalam satuan-satuan waktu (hari, jam atau menit). Volume lalu lintas yang ini membutuhkan lebar perkerasan jalan yang lebih lebar, sehingga tercipta kenyamanan dan keamanan. Sebaliknya jalan yang terlalu lebar untuk volume lalu lintas yang terlalu rendah cenderung membahayakan, karena pengemudi cenderung mengemudikan kendaraannya pada kecapatan tinggi. Satuan volume lalu lintas yang umum digunakan sehubungan dgn penentuan jumlah lebar dan lebar jalan adalah : - Lalu lintas harian rata-rata. - Volume jalan perencanaan 1. Lalu Lintas Harian Rata-rata
Lalu lintas harian rata - rata adalah volume lalu lintas harian rata-rata dalam satu hari. Dari cara memperoleh data tersebut dikenal dua jenis lalu lintas harian rata-rata tahunan (LHRT) dan lalu lintas harian rata-rata.
LHRT adalah jumlah lalu lintas kendaraan rata-rata yang melewati satu satu jalur jalan selama 24 jam dan diperoleh dari data-data selama 1 tahun penuh.
LHRT= Jumlah lalu lintas 1thn 360
LHRT dinyatakan dalam SMP/Hari/ 2 arah.
LHR adalah jumlah kendaraan yang diperoleh selama pengamatan dibandingkan atau dibagi dengan lamanya pengamatan.
20
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014LHR= Jumlah lalu lintas selama pengamatan .. ( 2.2. )
lamanya pengamatan Pada umumnya lalu lintas pada jalan raya terdiri dari campuran kendaraan cepat, kendaraan lambat, kendaraan berat, kendaraan ringan dan kendaraan tidak bermotor, maka dalam hubungannya dengan kapasitas jalan mengakibatkan adanya pengaruh dari setiap jenis kendaraan tersebut terhadap keseluruhan arus lalu lintas. Pengaruh ini diperhitungkan dengan mengekivalenkan terhadap kendaraan standart.
Faktor Ekivalen (FE) yang digunakan untuk menilai setiap kendaraan terhadap kendaraan standart didasarkan pada peraturan perencanaan geometrik menurut Bina
Marga dengan
mempergunakan kendaraan penumpang sebagai kendaraan standart. Maka dengan demikian satuan LHR dinyatakan dengan Satuan Mobil Penumpang (SMP), nilai perbandingan untuk berbagai jenis kendaraan pada kondisi daerah datar adalah sebagai berikut :
- Kend. penumpang/ motor ...1,0
- Truck kecil (berat < 5 ton ) ..2,5
- Truck sedang (berat > 5 ton) ..2,5 - Bus ………3, 0 - Truck berat ………3,0 2. Volume Jam Perencanaan
(VJP).
LHRT dan LHR adalah volume lalu lintas dalam satu
hari, merupakan volume harian, sehingga nilai LHRT dan LHR ini tidak dapat memberikan gambaran tentang fluktuasi arus lalu lintas lebih pendek dari 24 jam. Oleh karena itu LHR dan LHRT itu tidak dapat langsung digunakan dalam perencanaan geometrik.
Arus lalu lintas yang berfariasi dari jam ke jam berikutnya dalam satu hari, maka sangat cocoklah jika volume lalu lintas dalam satu jam dipergunakan untuk perencanaan.
Volume dalam satu jam yang dipakai untuk perencanaan dinamakan Volume Jam Perencanaan (VJP). Volume Jam Perencanaan dihitung sebagai berikut :
- Volume tersebut tidak boleh terlalu sering terdapat pada distirbusi arus lalu lintas setiap jam untuk perode satu tahun. - Apabila terdapat volume
arus lalu lintas per jam yang melebihi volume jam perencanaan, maka kelebihan tersebut tidak boleh mempunyai nilai yang terlalu besar.
- Volume tersebut tidak boleh mempunyai nilai yang sangat besar sehingga akan mengakibatkan jalan menjadi lengang dan biayapun mahal.
VJP untuk jalan arteri sebaiknya diambilkan pada kondisi ini. Secara teoritis jalan direncanakan dengan VJP pada kondisi ditumit lengkung akan mengalami volume lalu lintas lebih besar dari volume perencanaan selama 30 jam dari 365 x 24
21
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014jam yang ada setiap tahunnya. Hal ini cukup dapat diterima daripada direncanakan.
VJP = K x LHR atau LHR = VJP .. ( 2.3. ) K
K = faktor VJP yang dipengaruhi oleh pemilihan jam sibuk beberapa, dan jalan antar kota atau jalan didalam kota. Nilai dapat bervariasi antara 10% - 15% untuk jalan antar kota, sedangkan untuk jalan dalam kota faktor K akan lebih kecil.
b. Kapasitas
Kapasitas adalah jumlah kendaraan maksimum yang dapat melewati suatu penampang jalan pada jalur jalan selama satu jam dengan kondisi serta arus lalu lintas tertentu.
Perbedaan antara VJP dan kapasitas adalah VJP menunjukkan jumlah arus lalu lintas yang direncanakan akan melewati suatu penumpang jalan selama satu jam, sedangkan kapasitas menunjukkan jumlah arus lalu lintas yang maksimum dapat melewati penampang tersebut dalam waktu satu jam sesuai dengan kondisi jalan.
c. Tingkat pelayanan
Lebar dan jumlah jalur yang dibutuhkan tidak dapat direncanakan dengan baik walaupun VJP/LHR telah ditentukan. Hal ini disebabkan karena tingkat kenyamanan dan keamanan yang akan diberikan oleh lajur yang dibutuhkan akan lebih lebar jika pelayanan dari jalan diharapkan lebih tinggi.
Tingkat pelayanan jalan merupakan kondisi gabungan yang ditunjukkan dari hubungan antara V/C dan kecepatan seperti ditunjukkan pad gambar 2.1.
Gambar 2.1. Tingkat Pelayanan Jalan
High way Capacity manual membagi tingkat pelayanan jalan atas keadaan yaitu :
Tingkat Pelayanan Jalan A, dengan ciri-ciri ;
- Arus lalu lintas bebas tanpa hambatan.
- Volume dan kepadatan lalu lintas rendah
- Kecepatan kendaraan merupakan pilihan pengemudi.
Tingkat Pelayanan B dengan ciri-ciri : - Arus lalu lintas stabil
- Kecepatan mulai dipengaruhi oleh keadaan lalu lintas tetapi tetap dapat dipilih sesuai kehendak pengemudi
Tingkat Pelayanan C dengan ciri-ciri : - Arus lalu lintas masih stabil - Kecepatan perjalanan dan
kebebasan bergerak sudah dipengaruhi oleh besarnya volume lalu lintas sehingga pengemudi tidak dapat lagi memiliki kecepatan yang diinginkan.
Tingkat Pelayanan D dengan ciri-ciri : - Arus lalu lintas sudah tidak stabil - Perubahan volume lalu lintas
sangat mempengaruhi besarnya kecepatan perjalanan
Tingkat Pelayanan E dengan ciri-ciri : - Arus lalu lintas sudah tidak stabil - Volumenya kira-kira sama dengan
kapasitasnya
- Sering terjadi kemacetan
22
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014- Arus lalu lintas tertahan pada kecepatan rendah
- Sering terjadi kemacetan - Arus lalu lintas rendah 2.4. Teknik Analisa
2.4.1. Menganalisa Data Volume Lalu Lintas Besarnya arus lalu lintas satu jalur pada waktu sibuk dianggap sebagai bahan evaluasi didalam menentukan tingkat pelayanan jalan. Dari data lalu lintas pada waktu sibuk dapat dihitung besarnya arus yaitu dengan mengalikan tiap jenis kendaraan.
Dasarnya diambil Satuan Mobil Penumpang ( SMP = 1 ) hingga diperoleh besarnya arus pada waktu sibuk ( V = SMP / Jam ).
Prosentase Truk dihitung dari : Pt = Kendaraan Total Jumlah Truck Jumlah x 100 % .. ( 3.2. ) Untuk Pt = ………. %
Sumber : EDWARD K. MORLOK; PENGANTAR TEKNIK DAN PERENCANAAN TRANSPORTASI
Didapat :
WC = Faktor reduksi untuk kebebasan samping
FC = Faktor reduksi untuk kendaraan berat.
CI = Kapasitas Ideal
Maka kapasitas jalan = CI.FC.WC ( SMP / Jam )
Dari sini dapat dihitung kapasitas per jalur. Jalur Jumlah Jalan Kapasitas = C ... ( 3.4 ) Selanjutnya Tingkat Pelayanan Jalan dapat ditentukan dari perbandingan antara Volume arus dengan kapasitas per jalur ( V/C ). 2.4.2. Analisa Kapasitas
Untuk jalan tak terbagi, analisa dilakukan pada kedua arah lalu lintas. Untuk jalan terbagi,
analisa dilakukan terpisah pada masing-masing arah lalu lintas, seolah – olah masing-masing arah merupakan jalan satu arah yang terpisah. Gunakan data masukan dari Formulir UR-1 dan UR-2 untuk menentukan kapasitas, dengan menggunakan Formulir UR-3.
C = C0 x FCW x FCSP x FCSF x FCCS Dimana :
C = Kapasitas
C0 = Kapasitas dasar (smp/jam)
FCW =Faktor penyesuaian lebar jalur lalu-lintas
FCSP =Faktor penyesuaian pemisahan arah FCSF = Faktor penyesuaian hambatan samping
FCCS = Faktor penyesuaian ukuran kota Faktor penyesuaian ukuran kota
2.4.3. Kapasitas Dasar
Tentukan kapasitas dasar ( C0 ) dari tabel C-1 : 11 dan masukan nilainya ke dalam Formulir UR-3, kolom 11. Tipe Jalan Kapasitas Dasar (smp/jam) Catatan Empat lajur
terbagi atau Jalan satu-arah
Empat lajur tak terbagi
Dua lajur tak terbagi 1650 1500 2900 Per lajur Per lajur Total dua arah
Tabel C-1:1 Kapasitas dasar jalan perkotaan Kapasitas dasar jalan lebih dari empat lajur (banyak lajur) dapat ditentukan dengan menggunakan kapasitas per lajur yang diberikan dalam tabel C-1:1, walaupun lajur tersebut mempunyai lebar yang tidak standar (penyesuaian untuk lebar dilakukan dalam langkah C-2 di bawah)
2.4.4. Faktor Penyesuaian Kapasitas Untuk Lebar Jalur Lalu Lintas (Fcw).
Tentukan penyesuaian untuk lebar jalur lalu lintas dari Tabel C-2:1 berdasarkan lajur lalu lintas efektif (WC) (Lihat formulir UR-1) dan masukan hasilnya ke dalam Formulir UR-3, kolom 12. Tipe Jalan Lebar jalur la lin efektif (WC) (m) FCW
23
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014Empat lajur terbagi atau jalan satu-arah Per lajur 3,00 3,25 3,50 3,75 4,00 0,92 0,96 1,00 1,04 1,08 Empat lajur tak
terbagi Per lajur 3,00 3,25 3,50 3,75 4,00 0,91 0,95 1,00 1,05 1,09 Dua lajur tak
terbagi
Total dua arah 5 6 7 8 9 10 11 0,56 0,87 1,00 1,14 1,25 1,29 1,34 Tabel C-2:1. Penyesuaian kapasitas untuk pengaruh lebar jalur lalu lintas jalan perkotaan (FCW).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Alur Penelitian
3.2. Sistem Pendekatan Studi
Untuk melihat sejauh mana pengaruh adanya jalur 2 arah terhadap kepadatan lalu lintas, perlu diketahui terlebih dahulu jalur distribusi volume kendaraan yang masuk ke Kota Kediri.
Dalam penelitian distribusi kendaraan pada jalur masuk di kota Kediri digunakan Metode Pendekatan dengan uraian sbb :
Adanya hubungan antara daerah asal kendaraan pribadi dengan tempat tujuan sebagai daya tarik, akan menyebabkan terjadinya pendistribusian volume kendaraan.
Adanya hubungan antara daerah asal kendaraan umum dan angkutan barang dengan tempat tujuan, akan menyebabkan terjadinya pendistribusian volume kendaraan. Dengan demikian akan dapat diketahui sistem distribusi kendaraan sebagai pengaturan jalur transportasi. Untuk mendapatkan volume kendaraan pada jalur-jalur masuk kota Kediri, distribusi kendaraan yang mungkin ditempuh adalah sebagai berikut :
Dari arah Pare ke Kediri
Dari arah Wates ke Kediri Untuk mengetahui pengaruh kepadatan lalu lintas dengan mengambil beberapa ruas jalan tersebut sebagai sampel. Dan dari penelitian ini juga dapat dilihat prosentase semua jenis kendaraan terhadap volume lalu lintas yang melalui jalan tersebut.
3.3. Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan sebagai berikut :
c. Data Primer
Data yang diperoleh dengan mengadakan penelitian langsung di lapangan, yaitu volume lalu lintas pada ruas jalan gerbang masuk kota dan jalan arteri kota Kediri. d. Data Sekunder
24
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014Data yang diperoleh dari instansi-instansi pemerintah yang berhubungan dengan Analisa Tingkat Pelayanan Jalan, seperti : - tingkat pertumbuhan kendaraan kota Kediri
- volume lalu lintas harian rata-rata kota Kediri
3.4. Teknik Analisa
Menganalisa Data Volume Lalu Lintas.
Besarnya arus lalu lintas satu jalur pada waktu sibuk dianggap sebagai bahan evaluasi didalam menentukan tingkat pelayanan jalan.
Dari data lalu lintas pada waktu sibuk dapat dihitung besarnya arus yaitu dengan mengalikan tiap jenis kendaraan.
Dasar diambil Satuan Mobil Penumpang (SMP = 1) hingga diperoleh besarnya arus pada waktu sibuk ( V = SMP/jam ).
Prosentasi Truk dihitung dari : Pt = Jumlah Truk X 100 %
Jumlah total kendaraan Untuk Pt = …….%
Sumber: Edward K.Morlok, Pengantar Teknik & Perencanaan Transportasi Didapat :
WC = Faktor Reduksi untuk kebebasan samping
FC = Faktor Reduksi untuk kendaraan berat
CI = Kapasitas ideal C = Kapasitas Maka kapasitas jalan :
C = CI. FC. WC (SMP/jam)
Dari sini dapat dihitung kapasitas per jalur :
Kapasitas jalan = C
Jumlah jalur
Selanjutnya Tingkat Pelayanan Jalan dapat ditentukan dari perbandingan antara volume arus ( V ) dengan kapasitas ( C ) per jalur adalah sebagai berikut : V / C < 0,8 => Arus stabil 0,8 < V / C < 1 => Arus hampir terganggu V / C = 1 =>Arus terganggu V / C < 1 =>Arus dipaksakan (tersendat) BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN 4.1. Data Penelitian dan Perhitungan Hasil Data survey lapangan yang dilakukan pada jam sibuk 06.00 – 07.00 , 07.00 – 08.00
Pos I , Ruas Jalan : Kediri - Pare Jarak Pintu masuk : 300 m
Hari / tanggal : Senin 19 Mei 2014 Hasil Perhitungan :
V=1(1308+149)+3(43+8+4)+2,5(14)+0,5(131) = 1722,5 Smp/Jam
Prosentase Sepeda Motor = 1308 x 100 % = 78,9 % 1657
Prosentase Sedan, Jeep, Mobil Penumpang = 149 x 100 % = 9 %
1706
Prosentase Pick Up, Micro truck = 43 x 100 % = 2,6 % 1657 Prosentse Bus = 8 x 100 % = 0,5 % 1657 Prosentase Truck = 14 x 100 % = 0,8 % 1657 prosentase Sepeda = 131 x 100 % = 7,9 % 1657
Faktor kondisi untuk Tc dan Bc (Edward K Morlok Perencanaan Transportasi. Hal 125). Tc = 100
100 – PT ( Et x Pt ) Bc = 100
100 – Pb + ( Eb x Pb ) Maka didapat :
Faktor Reduksi Truck ( Tt ) = 1,029 Faktor Reduksi Bus ( Tb ) = 1,020 C = 1650 x 1 x 1,029 x 1,020 = 1731,8
25
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014V/C = 1722,5 = 0,995 1731,8
Pos Ia , Ruas Jalan : Kediri - Pare Jarak Pintu masuk kota : 300 m Hari / tanggal : Senin 19 Mei 2014 Hasil Perhitungan :
V = 1821 Smp/Jam
Prosentase Sepeda Motor = 79,3 %
Prosentse sedan,Jeep,mbl Penumpang=11,7% Prosentase Pick Up, Micro truck = 1,9% Prosentse Bus = 0,5 %
Prosentase Truck = 0,05 % Prosentase Sepeda = 6,1 %
Faktor Reduksi Truck ( Tt ) = 1,007 Faktor Reduksi Bus ( Tb ) = 1,016
C = 1706,575 V/C = 1,067
Pos II , Ruas Jalan : Kediri - Wates Jarak Pintu masuk kota : 300 m Hari / tanggal : 25 Mei 2014
Hasil Perhitungan V = 1073,5 Smp/Jam Prosentase Sepeda Motor = 76,4 %
Prosentse Sedan,Jeep,Mbl Penumpang=4,8% Prosentase Pick Up, Micro truck = 3,1 % Prosentse Bus = 0,9 %
Prosentase Truck = 0,8 %
Prosentase Truck 3 As/Gandeng/Trailer=0,8% Prosentase Sepeda = 13,3 %
Faktor Reduksi Truck ( Tt ) = 1,028 Faktor Reduksi Bus ( Tb ) = 1,037
C = 1599,054
V/C = 1073,5 = 0,671 1599,054
Pos IIa , Ruas Jalan : Kediri – Wates Jarak Pintu masuk kota : 300 m Hari / tanggal : 25 Mei 2014 Perhitungan V = 1362 Smp/Jam Prosentase Sepeda Motor = 77,0 %
Prosentase Sedan,Jeep,mbl Penumpang= 6,1% Prosentase Pick Up, Micro truck = 3,4 % Prosentse Bus = 0,2 %
Prosentase Truck 2 As = 1,5 %
Prosentase Truck 3 As/Gandeng/Trailer=0,4% Prosentase Sepeda = 11,4 %
Faktor Reduksi Truck ( Tt ) = 1,055 Faktor Reduksi Bus ( Tb ) = 1,008 C = 1595,16
V/C = 0,854
4.2. Analisa dan Hasil Penelitian 4.2.1. Sarana
Jumlah kendaraan bermotor pada tahun 2013 di Kota Kediri mencapai 84622 kendaraan yang terdiri sepda motor, bus, mobil penumpang dan mobil barang (Lampiran 2).
Jenis kendaraan bermotor yang paling tinggi adalah sepeda motor yaitu 232.005 dan paling kecil adalah kendaraan khusus yaitu sebanyak 38 kendaraan (Lampiran 2).
4.2.2. Prasarana Jalan
Tersedianya prasarana perhubungan darat terutama jalan merupakan masalah yang fital, sehingga perlu mendapatkan perhatian dari pihak/ Instansi yang terkait terutama Dinas Pekerjaan Umum. Hal ini dikarenakan baik buruknya kondisi prasarana jalan akan sangat mempengaruhi terhadap mobilitas transportasi di Kota Kediri. Kelancaran dan ketertiban transportasi harus di dukung oleh jalan yang baik.
Adapun prasarana jalan di Kota Kediri berdasarkan pembinaannya terbagi menjadi empat kelas jalan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran Table 3 mengenai panjang, lebar dan perkerasan jalan menurut status pembinaan jalan.
Hasil Analisa Kapasitas Jalan Masuk Kota Kediri 1. Kediri – Pare : - V/C 1 : 0.995 - V/C 2 : 1.067 2. Kediri – Wates : - V/C 1 : 0.671 - V/C 2 : 0.854
Dari data analisa diatas dapat dilihat bahwa : - Jalur Kediri – Pare termasuk Arus
Terganggu dan dipaksakan.
- Jalur Kediri – Wates termasuk Arus Hampir Terganggu.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
26
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014Dari analisis ini diperoleh beberapa kesimpulan yaitu :
1. Diperoleh lalu lintas harian rata-rata yang beragam di ruas jalur masuk kota Kediri bagian Timur.
2. Diperoleh tingkat layanan jalan masuk kota Kediri yang beragam pula, karena setiap jalur masuk mempunyai karakteristik jalan yang berbeda. 3. Hasil Analisa Kapasitas Jalan Masuk
Kota Kediri 1. Kediri – Pare : - V/C 1 : 0.995 - V/C 2 : 1.067 2. Kediri – Wates: - V/C 1 : 0.671 - V/C 2 : 0.854 5.2. Saran
Secara garis besar, usaha – usaha yang penting dilaksanakan untuk mengatasi masalah tingkat pelayanan jalan masuk kota Kediri meliputi :
1. Pelebaran jalan pada arus jalan masuk kota Kediri khususnya arus yang sudah padat.
2. Pembatasan terhadap gerak kendaraan yang masuk ke Kota Kediri, terutama kendaraan berat ( Bus / Truck 2 As ). 3. Dengan adanya penelitian ini
diharapkan Pemerintah Daerah dapat memprioritaskan sarana dan prasarana jalan masuk kota Kediri. Bisa dilakukan dengan memperlebar lajur
jalan atau memberikan jalur alternatif pada kendaraan berat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, Manual Kapasitas Jalan Indonesia ( MKJI ), Dirjend Bina Marga RI, Jakarta, 1997
2. Basister D. and Hall P., Transport and Public PolicyPlanning, Mansell, London, 1981
3. Edward K. Morlok, Introduction to Transportation Engineering and Planning, Mc. Graw Hill Inc. New York USA ( Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi, Erlangga, 1995 )
4. Ofyar Z. Tamin, Perencanaan & Pemodelan Transportasi, ITB, Bandung, 2013
5. Publikasi Dijend Dikti, Sistem Transportasi, Gunadarma, Jakarta, 1997
6. Publikasi Dirjend Dikti, Rekayasa Jalan Raya, Gunadarma, Jakarta, 1997 7. Publikasi Catatan Kuliah, Dasar-2
Sistem Transportasi, ITB, Bandung, 2001
8. Publikasi Catatan Kuliah Pascasarjana, Sistem Transportasi, UNTAG, Sby, 2014
9. Sukirman.S., Dasar – dasar Perencanaan Geometrik Jalan, Nova, Bdg, 1994
10.Suwarjoko PW., Pengelolaan Lalu - Lintas dan Angkutan Jalan, ITB, Bdg, 2002
27
Jurnal Ilmiah Berkala Universitas Kadiri, Edisi : Pebruari 2014 – Mei 2014LAMPIRAN Tabel 1. Data Hasil Survey Jumlah Lalu Lintas Harian
Pos Sepeda Motor/ scooter Sedan, Jeep, Mobil Penumpang Pick Up Micro Truck Opelet Mobil Hantaran Bis Truck 2 As Truck 3 As/lebih Truck Gandeng Trailer Kendaraan tidak Bermotor (Sepeda) Total Smp 1 1 3 3 2,5 3 0,5 I 1308 149 43 8 14 4 131 1657 Ia 1410 208 35 7 8 1 108 1777 II 790 50 32 10 7 7 138 1034 IIa 1000 80 44 2 19 - 148 1298
Tabel 2. Jumlah Kendaraan bermotor Kota Kediri
TAHUN MOBIL PENUMPANG MOBIL BUS MOBIL BARANG KEND. KHUSUS SPD. MOTOR KET 2010 8450 459 5931 9 49291 Unit 2011 8967 469 6156 9 54217 Unit 2012 9549 493 6489 9 60962 Unit 2013 9901 502 6676 11 67535 Unit JUMLAH 27867 1923 25252 38 232005 Unit
Sumber : Polres Kota Kediri
Tabel 3. Panjang dan lebar perkerasan jalan menurut status pembinaan. No Fungsi Jalan Panjang (KM) Lebar (KM) Ket
1 Jalan Nasional 20.27 14 -
2 Jalan Propinsi 7.390 8 -
3 Jalan Kabupaten - - -
4 Jalan Kota 304.047 5 -
Jumlah 331.707 27 -
Sumber : Dinas PU Kota Kediri Tabel 4. Kapasitas Jalan Kota Kediri No Nama Jalan Panjan
g ( m ) Lebar ( m ) Volume (smp/jam) Kapasita s Kec. (Km/ja m) Nilai V / C Ratio proporsi Bobot 35% 1 Jl. A. Yani 0.42 13 787 2796 35.48 7.09 2.48 0.94 2 Jl. Mauni 2.58 4 269 1242 39.23 7.96 2.79 0.96