BRAZIL Acre, Amapá, Amazonas, Maranhão, Mato Grosso, Pará, Rondonia, Tocantins | COLOMBIA Caquetá| INDONESIAAceh, Central Kalimantan, East
Kalimantan, North Kalimantan, Papua, West Kalimantan, West Papua | IVORY COAST Bélier, Cavally| MÉXICO Campeche, Chiapas, Jalisco, Tabasco, Quintana Roo, Yucatán| NIGERIACross River State | PERUAmazonas, Huánuco, Loreto, Madre de Dios, Piura, San Martin, Ucayali | SPAINCatalonia | USACalifornia, Illinois
"Mendukung kepemimpinan subnasional, inovasi dan kemitraan guna mengurangi deforestasi hutan tropis dan memitigasi perubahan iklim."
PERKENALKAN TIM KAMI:
(kiri ke kanan)
SELAMAT DATANG
!
1. PERTANYAAN: Silakan menuliskan pertanyaan pada chat box. Seluruh
pertanyaan akan dijawab pada akhir presentasi pada sesi tanya
jawab.
2. MIC ON MUTE: Mohon mikrofon pada posisi mute selama presentasi
dan saat orang lain sedang berbicara.
3. REKAMAN: Webinar ini akan direkam. Rekaman akan tersedia di
jejaring kami di
www.gcffund.org
UMUM
1. Latar Belakang:
•
Governors Climate and Forests Task Force
•
Governors’ Climate and Forests Fund
•
Pendekatan yurisdiksi GCFF
2. Proses Akreditasi GCFF
3. Makalah Konsep/Concept Notes
4. Kesempatan untuk Pendanaan
5. Pengumuman pertama: Tata kelola Bentang alam
6. Pengumuman kedua: Kemitraan dengan Sektor Swasta
7. Pesan Utama
BRAZIL Acre, Amapá, Amazonas, Maranhão, Mato Grosso, Pará, Rondonia, Tocantins | COLOMBIA Caquetá| INDONESIAAceh, Central Kalimantan, East
Kalimantan, North Kalimantan, Papua, West Kalimantan, West Papua | IVORY COAST Bélier, Cavally| MÉXICO Campeche, Chiapas, Jalisco, Tabasco, Quintana Roo, Yucatán| NIGERIACross River State | PERUAmazonas, Huánuco, Loreto, Madre de Dios, Piura, San Martin, Ucayali | SPAINCatalonia | USACalifornia, Illinois
LATAR BELAKANG: GOVERNORS’ CLIMATE AND
FORESTS TASK FORCE
Merupakan suatu kerja sama yang unik antara 35 negara bagian dan provinsi dari Brazil, Colombia, Indonesia, Ivory Coast, Mexico, Nigeria, Peru, Spain, dan
BRAZIL Acre, Amapá, Amazonas, Maranhão, Mato Grosso, Pará, Rondonia, Tocantins | COLOMBIA Caquetá| INDONESIAAceh, Central Kalimantan, East
Kalimantan, North Kalimantan, Papua, West Kalimantan, West Papua | IVORY COAST Bélier, Cavally| MÉXICO Campeche, Chiapas, Jalisco, Tabasco, Quintana Roo, Yucatán| NIGERIACross River State | PERUAmazonas, Huánuco, Loreto, Madre de Dios, Piura, San Martin, Ucayali | SPAINCatalonia | USACalifornia, Illinois
LATAR BELAKANG: GOVERNORS’ CLIMATE AND
FORESTS TASK FORCE
STRUKTUR DARI GCF
BRAZIL Acre Amapá Amazonas Maranhão Mato Grosso Pará Rodonia Tocantins COLOMBIA Caquetá INDONESIA Aceh C. Kalimantan E. Kalimantan N. Kalimantan Papua W. Kalimantan W. Papua IVORY COAST Cavally Bélier NIGERIA Cross River MEXICO Campeche Chiapas Jalisco Tabasco Quintana Roo Yucatán PERU Amazonas Huánuco Loreto Madre de Dios Piura San Martín Ucayali USA California Illinois SPAIN CataloniaSTRUKTUR DARI GCF
BRAZIL Acre Amapá Amazonas Maranhão Mato Grosso Pará Rodonia Tocantins COLOMBIA Caquetá INDONESIA Aceh C. Kalimantan E. Kalimantan N. Kalimantan Papua W. Kalimantan W. Papua IVORY COAST Cavally Bélier GCF SECRETARIAT IDESAM INOBU NIGERIA Cross River MEXICO Campeche Chiapas Jalisco Tabasco Quintana Roo Yucatán PRONATURA SUR PERU Amazonas Huánuco Loreto Madre de Dios Piura San Martín Ucayali MDA USA California Illinois SPAIN CataloniaSTRUKTUR DARI GCF
BRAZIL Acre Amapá Amazonas Maranhão Mato Grosso Pará Rodonia Tocantins COLOMBIA Caquetá INDONESIA Aceh C. Kalimantan E. Kalimantan N. Kalimantan Papua W. Kalimantan W. Papua IVORY COAST Cavally Bélier GCF SECRETARIAT GCFF IDESAM INOBU NIGERIA Cross River MEXICO Campeche Chiapas Jalisco Tabasco Quintana Roo Yucatán PRONATURA SUR PERU Amazonas Huánuco Loreto Madre de Dios Piura San Martín Ucayali MDA USA California Illinois SPAIN CataloniaDEKLARASI RIO BRANCO
• Diluncurkan oleh Gubernur GCF: 11
Agustus 2014 pada Pertemuan Tahunan GCF di Acre, Brazil
• Komitmen RBD memberikan kerangka kerja yang menjadi acuan bagi GCFF hingga 2020.
• Periode pendanaan GCFF sekarang ini akan mendukung kegiatan yang secara eksplisit melaksanakan tujuan dari Deklarasi Rio Branco
TARGET DARI DEKLARASI RIO BRANCO
1. Penurunan deforestasi sebesar 80% pada 2020.
2. Mengembangkan kemitraan kunci dengan sektor swasta dengan upaya
untuk mencapai rantai pasokan tanpa deforestasi.
3. Menyalurkan porsi pendanaan berbasis kinerja yang signifikan pada
masyarakat hukum adat, pemilik usaha skala kecil, dan masyarakat lainnya
yang bergantung pada hutan.
SEJARAH SINGKAT GCFF
• Mulai beroperasi pada 2013 sebagai organisasi nirlaba.
• Dirancang sebagai mekanisme pendanaan yang dapat merespon kebutuhan yang diidentifikasi oleh anggota GCF.
• Diposisikan sebagai mekanisme komplimentari atas sumber pendanaan lain, seperti FCPF, Forest Investment Program, dan komitmen bi-lateral.
VISI
Visi GCFF adalah
terwujudnya planet
yang berketahanan
dimana pemerintahan
subnasional dan
masyarakat sipil
berperan sebagai
pemimpin inovatif
dalam melaksanakan
jalannya pembangunan
rendah karbon dan
melindungi hutan
tropis.
MISI
Untuk memperkuat
KEMITRAAN SUBNASIONAL
dalam yurisdiksi anggota
GCF Task Force untuk
menurunkan emisi dari
deforestasi dan degradasi
hutan melalui pendanaan
strategis yang mendukung
kepemimpinan, inovasi, dan
PENDEKATAN YURISDIKSI UNTUK MENURUNKAN
DEFORESTASI
1. Langkah-langkah menurunkan deforestasi dalam kerangka politik-hukum dalam batas-batas suatu yurisdiksi.
PENDEKATAN YURISDIKSI UNTUK MENURUNKAN
DEFORESTASI
1. Langkah-langkah menurunkan deforestasi dalam kerangka politik-hukum dalam batas-batas suatu yurisdiksi.
2. Identifikasi penyebab deforestasi dan mencari cara untuk merubah kondisi yang menghambat keberlanjutan.
PENDEKATAN YURISDIKSI UNTUK MENURUNKAN
DEFORESTASI
1. Langkah-langkah menurunkan deforestasi dalam kerangka politik-hukum dalam batas-batas suatu yurisdiksi.
2. Identifikasi penyebab deforestasi dan mencari cara untuk merubah kondisi yang menghambat keberlanjutan.
3. Merumuskan pemecahannya dalam bentuk kebijakan, program, dan insentif (pemerintah dan swasta) yang mendorong terciptanya tata kelola bentang alam antar wilayah administrasi.
PENDEKATAN YURISDIKSI UNTUK MENURUNKAN
DEFORESTASI
1. Langkah-langkah menurunkan deforestasi dalam kerangka politik-hukum dalam batas-batas suatu yurisdiksi.
2. Identifikasi penyebab deforestasi dan mencari cara untuk merubah kondisi yang menghambat keberlanjutan.
3. Merumuskan pemecahannya dalam bentuk kebijakan, program, dan insentif (pemerintah dan swasta) yang mendorong terciptanya tata kelola bentang alam antar wilayah administrasi.
4. Mempromosikan upaya para pemangku kepentingan dalam tata kelola bentang alam dan kehutanan.
PENDEKATAN YURISDIKSI UNTUK MENURUNKAN
DEFORESTASI
1. Langkah-langkah menurunkan deforestasi dalam kerangka politik-hukum dalam batas-batas suatu yurisdiksi.
2. Identifikasi penyebab deforestasi dan mencari cara untuk merubah kondisi yang menghambat keberlanjutan.
3. Merumuskan pemecahannya dalam bentuk kebijakan, program, dan insentif (pemerintah dan swasta) yang mendorong terciptanya tata kelola bentang alam antar wilayah administrasi.
4. Mempromosikan upaya para pemangku kepentingan dalam tata kelola bentang alam dan kehutanan.
5. Mencari cara untuk meningkatkan penghidupan dan mempromosikan keseimbangan antara produksi dan konservasi.
BRAZIL Acre, Amapá, Amazonas, Maranhão, Mato Grosso, Pará, Rondonia, Tocantins | COLOMBIA Caquetá| INDONESIAAceh, Central Kalimantan, East
Kalimantan, North Kalimantan, Papua, West Kalimantan, West Papua | IVORY COAST Bélier, Cavally| MÉXICO Campeche, Chiapas, Jalisco, Tabasco, Quintana Roo, Yucatán| NIGERIACross River State | PERUAmazonas, Huánuco, Loreto, Madre de Dios, Piura, San Martin, Ucayali | SPAINCatalonia | USACalifornia, Illinois
1. Seleksi Mitra 2. 3. Concept Notes 4. Proposal Design 5. M & E Accreditation
PROSES
OPERASIONAL
KAMI:
MENDUKUNG
KEMITRAAN
YURISDIKSIONAL
BRAZIL Acre, Amapá, Amazonas, Maranhão, Mato Grosso, Pará, Rondonia, Tocantins | COLOMBIA Caquetá| INDONESIAAceh, Central Kalimantan, East
Kalimantan, North Kalimantan, Papua, West Kalimantan, West Papua | IVORY COAST Bélier, Cavally| MÉXICO Campeche, Chiapas, Jalisco, Tabasco, Quintana Roo, Yucatán| NIGERIACross River State | PERUAmazonas, Huánuco, Loreto, Madre de Dios, Piura, San Martin, Ucayali | SPAINCatalonia | USACalifornia, Illinois
1. Seleksi Mitra 2. 3. Concept Notes 4. Proposal Design 5. M & E Akreditasi
PROSES
OPERASIONAL
KAMI:
MENDUKUNG
KEMITRAAN
YURISDIKSIONAL
BRAZIL Acre, Amapá, Amazonas, Maranhão, Mato Grosso, Pará, Rondonia, Tocantins | COLOMBIA Caquetá| INDONESIAAceh, Central Kalimantan, East
Kalimantan, North Kalimantan, Papua, West Kalimantan, West Papua | IVORY COAST Bélier, Cavally| MÉXICO Campeche, Chiapas, Jalisco, Tabasco, Quintana Roo, Yucatán| NIGERIACross River State | PERUAmazonas, Huánuco, Loreto, Madre de Dios, Piura, San Martin, Ucayali | SPAINCatalonia | USACalifornia, Illinois
1. Seleksi Mitra 2. Akreditasi 3. Makalah Konsep 4. Proposal Design 5. M & E
PROSES
OPERASIONAL
KAMI:
MENDUKUNG
KEMITRAAN
YURISDIKSIONAL
BRAZIL Acre, Amapá, Amazonas, Maranhão, Mato Grosso, Pará, Rondonia, Tocantins | COLOMBIA Caquetá| INDONESIAAceh, Central Kalimantan, East
Kalimantan, North Kalimantan, Papua, West Kalimantan, West Papua | IVORY COAST Bélier, Cavally| MÉXICO Campeche, Chiapas, Jalisco, Tabasco, Quintana Roo, Yucatán| NIGERIACross River State | PERUAmazonas, Huánuco, Loreto, Madre de Dios, Piura, San Martin, Ucayali | SPAINCatalonia | USACalifornia, Illinois
1. Seleksi Mitra 2. Akreditasi 3. Makalah Konsep 4. Rancangan Proposal 5. M & E
PROSES
OPERASIONAL
KAMI:
MENDUKUNG
KEMITRAAN
YURISDIKSIONAL
BRAZIL Acre, Amapá, Amazonas, Maranhão, Mato Grosso, Pará, Rondonia, Tocantins | COLOMBIA Caquetá| INDONESIAAceh, Central Kalimantan, East
Kalimantan, North Kalimantan, Papua, West Kalimantan, West Papua | IVORY COAST Bélier, Cavally| MÉXICO Campeche, Chiapas, Jalisco, Tabasco, Quintana Roo, Yucatán| NIGERIACross River State | PERUAmazonas, Huánuco, Loreto, Madre de Dios, Piura, San Martin, Ucayali | SPAINCatalonia | USACalifornia, Illinois
1. Seleksi Mitra 2. Akreditasi 3. Makalah Konsep 4. Rancangan Proposal 5. M & E
PROSES
OPERASIONAL
KAMI:
MENDUKUNG
KEMITRAAN
YURISDIKSIONAL
AKREDITASI
Agar dapat memperoleh pendanaan dari GCFF, lembaga harus
melengkapi proses akreditasi.
Proses ini mrpkn evaluasi thd pendaftaran lembaga yg mencakup:
•
Pengelolaan fidusia
•
Tata kelola organisasi
•
Kompetensi teknis
•
Latar belakang dalam mengelola dan melaksanakan kegiatan
AKREDITASI
Batas akhir untuk mengirimkan pendaftaran akreditasi untuk
proposal sekarang ini adalah:
•
31 Desember 2016.
Informasi tambahan dapat dilihat di:
•
http://www.gcffund.org/get-acc
•
Kirim email ke: [email protected]
•
Tanya jawab pada akhir webinar.
MAKALAH KONSEP
•
Memberikan kesempatan bagi anggota untuk mengirimkan ide
dari proyek untuk mendapatkan masukan
•
Hanya akan diterima bila dikirimkan langsung oleh anggota ke
GCFF
•
GCFF memiliki format standar, tetapi juga akan menerima format
5. KESEMPATAN PENDANAAN
SAAT INI
RFP SAAT INI
Dibuka dua kesempatan untuk mengirim proposal:
1. Penguatan tata kelola dan kapasitas bentang alam:
•
Kesempatan pendanaan ini meningkatkan tata kelola kehutanan
melalui penataan kesenjangan kapasitas yang diidentifikasi di
masing-masing yurisdiksi GCF.
RFP SAAT INI
Dibuka dua kesempatan untuk mengirim proposal:
1. Penguatan tata kelola dan kapasitas bentang alam:
•
Kesempatan pendanaan ini meningkatkan tata kelola kehutanan
melalui penataan kesenjangan kapasitas yang diidentifikasi di
masing-masing yurisdiksi GCF.
•
Kisaran proyek hingga USD 650.000.
2. Kemitraan yurisdiksi untuk hutan, iklim, dan pertanian:
•
Kesempatan pendanaan ini untuk mengembangkan kemitraan
pemerintah dan badan usaha dalam mengatasi produksi komoditas
yang menjadi penyebab deforestasi.
6. PENGUATAN TATA KELOLA DAN
KAPASITAS BENTANG ALAM
JALAN MENUJU PROGRAM YURISDIKSIONAL
Kapasitas Tata kelola Bentang alam
•
Meningkatkan aspek kunci dari bentang alam
• Legal, institutional and regulatory frameworks
• Planning and decision making processes
• Implementation and enforcement
• Example outputs: regulations, policies, mechanisms for cross-sectoral collaboration, training, land-use plans, monitoring systems, etc.)
JALAN MENUJU PROGRAM YURISDIKSIONAL
Kapasitas Tata kelola Bentang alam
•
Meningkatkan aspek kunci dari bentang alam
• Kerangka kerja legal, institusional dan regulasi
• Proses penyusunan perencanaan dan keputusan
• Implementasi dan pengawasan
• Contoh output: regulasi, kebijakan, mekanisme untuk kerja sama antar sektor, pelatihan, rencana tata guna lahan, sistem pemantauan, dll
JALAN MENUJU PROGRAM YURISDIKSIONAL
Kapasitas Tata kelola Bentang alam
•
Meningkatkan aspek kunci dari bentang alam
• Kerangka kerja legal, institusional dan regulasi
• Proses penyusunan perencanaan dan keputusan
• Implementasi dan pengawasan
• Contoh output: regulasi, kebijakan, mekanisme untuk kerja sama antar sektor, pelatihan, rencana tata guna lahan, sistem monitoring, dll
•
Program REDD+ yurisdiksional lanjutan
• Terkait dengan Proses Nasional dan NDCs
• Readiness di tingkat subnasional (MRV, kerangka legal, safeguards, rencana keuangan dan pengaturan kelembagaan, dll.)
PENGUATAN TATA KELOLA
DAN KAPASITAS BENTANG ALAM
Contoh Kegiatan:
•
Mengembangkan atau meningkatkan mekanisme untuk kejelasan tenurial
tanah dan hak atas properti dan pengembangan registrasi lahan.
•
Mekanisme perancangan kelembagaan yang memfasilitasi aliran dari
pembayaran berbasis kinerja kepada yurisdiksi GCF dengan koordinasi
pemerintahan nasional.
•
Mengembangkan regulasi utama untuk menerapkan aturan perubahan
iklim tingkat yurisdiksi.
•
Melancarkan proses untuk alokasi konsesi/izin hutan baru, dan pengkajian
ulang tumpang tindih klaim atas lahan yang terjadi.
PENGUATAN TATA KELOLA DAN KAPASITAS
BENTANG ALAM
Praktik terbaik:
•
Fokus pada kondisi pemungkin
•
Sehubungan dengan terbatasnya pendanaan,
maka harus berpikir secara strategis. Apakah
penyebab deforestasi, dan apa saja peran kunci
dari lembaga subnasional dalam mengendalikan
perubahan tata guna lahan?
•
Mengatasi penyebab deforestasi secara eksplisit
•
Seharusnya terdapat hubungan yang jelas antara
kegiatan dan mengatasi penyebab utama dari
PENGUATAN TATA KELOLA DAN KAPASITAS
BENTANG ALAM
Praktik terbaik:
•
Fokus pada kondisi pemungkin
•
Sehubungan dengan terbatasnya pendanaan,
maka harus berpikir secara strategis. Apakah
penyebab deforestasi, dan apa saja peran kunci
dari lembaga subnasional dalam mengendalikan
perubahan tata guna lahan?
•
Mengatasi penyebab deforestasi secara eksplisit
•
Seharusnya terdapat hubungan yang jelas antara
kegiatan dan mengatasi penyebab utama dari
PENGUATAN TATA KELOLA
DAN KAPASITAS BENTANG ALAM
Praktik terbaik:
•
Untuk kesiapan REDD+ yurisdiksional
•
Koordinasi dengan pemerintah pusat dan fokus pada tanggung
jawab kunci dari yurisdiksi subnasional untuk suksesnya program
REDD+
•
Terhubung dengan keputusan di bawah UNFCCC
PENGUATAN TATA KELOLA DAN KAPASITAS
BENTANG ALAM
Praktik terbaik
:
•
Kapasitas TIDAK sama dengan melaksanakan lokakarya
•
Pertimbangkan tentang sumber daya finansial, manusia,
teknologi, legal, dan kelembagaan ketika mengembangkan
kapasitas. Pastikan baseline yang tepat yang disiapkan sebagai
landasan.
7. KEMITRAAN YURISDIKSIONAL
UNTUK HUTAN, IKLIM DAN
KEMITRAAN YURISDIKSIONAL UNTUK HUTAN,
IKLIM DAN PERTANIAN
MENURUNKAN
DEFORESTASI
DARI
KOMODITAS
ORNOP, KONSULTAN: Bantuan teknis YURISDIKSI GCF:Kebijakan, Koordinasi Antar Sektor
SEKTOR SWASTA, LEMBAGA KEUANGAN:
Insentif (Keuangan, insentif pasar, berbasis-kinerja)
PRODUSEN, AGEN DI RANTAI PASOKAN: Meningkatkan efisiensi
pada rantai pasokan dan praktik produksi
KEMITRAAN YURISDIKSIONAL UNTUK HUTAN,
IKLIM DAN PERTANIAN
Contoh Kegiatan:
•
Mendukung institusionalisasi dari kerja sama pemerintah-bidang usaha
berdasarkan yurisdiksi.
•
Mengembangkan mekanisme keuangan untuk mendukung transisi dari
pengusaha kecil mengarah pada praktik yg berkelanjutan.
•
Kerja sama antar sektor untuk meningkatkan pelaksanaan dari
perangkat zonasi/tata ruang, dengan mempertimbangkan paradigma
perlindungan produksi.
•
Mengembangkan dan melaksanakan sistem pemantauan/landasan
untuk menelusuri perkembangan menuju bebas deforestasi pada
yursidiksi/produksi komoditi yang berkelanjutan di yurisdiksi GCF
utama.
KEMITRAAN YURISDIKSIONAL UNTUK HUTAN,
IKLIM DAN PERTANIAN
Praktik terbaik:
• Dapatkan dukungan tingkat tinggi
• Kepemimpinan tingkat tinggi dibutuhkan untuk mencapai kemitraan dan menarik para pemangku kepentingan yang tepat untuk bersatu. Proposal terbaik akan
mencakup surat dukungan dari pemimpin tingkat tinggi – contohnya: Gubernur, Kepala Dinas Pertanian, Kepala BAPPEDA, Kepala BLH.
KEMITRAAN YURISDIKSIONAL UNTUK HUTAN,
IKLIM DAN PERTANIAN
Praktik terbaik:
• Dapatkan dukungan tingkat tinggi
• Kepemimpinan tingkat tinggi dibutuhkan untuk mencapai kemitraan dan menarik para pemangku kepentingan yang tepat untuk bersatu. Proposal terbaik akan
mencakup surat dukungan dari pemimpin tingkat tinggi – contohnya: Gubernur, Kepala Dinas Pertanian, Kepala BAPPEDA, Kepala BLH.
• Integrasikan kemitraan menjadi proses yang resmi
KEMITRAAN YURISDIKSIONAL UNTUK HUTAN,
IKLIM DAN PERTANIAN
Praktik terbaik:
• Dapatkan dukungan tingkat tinggi
• Kepemimpinan tingkat tinggi dibutuhkan untuk mencapai kemitraan dan menarik para pemangku kepentingan yang tepat untuk bersatu. Proposal terbaik akan
mencakup surat dukungan dari pemimpin tingkat tinggi – contohnya: Gubernur, Kepala Dinas Pertanian, Kepala BAPPEDA, Kepala BLH.
• Integrasikan kemitraan menjadi proses yang resmi
• Contohnya: pada perubahan zonasi tata guna lahan atau proses tata ruang.
• Libatkan perusahaan dan produsen yang aktif pada rantai pasokan
• Petakan para pelaku dan masukan partisipasi mereka dalam proposal.
Pertimbangkan juga produsen setempat dan pembeli komoditi sebagai pemangku kepentingan utama.
KEMITRAAN YURISDIKSIONAL UNTUK HUTAN,
IKLIM DAN PERTANIAN
Praktik terbaik:
• Pastikan kegiatan jelas keterkaitannya untuk melindungi hutan, bukan hanya meningkatkan produksi
• Peningkatan produktifitas pertanian memiliki risiko meningkatnya
deforestasi sebagai peningkatan biaya kesempatan. Dengan demikian, maka merupakan hal penting dalam proposal untuk mengartikulasikan bagaimana kegiatan dan rencana dikembangkan melalui kemitraan yang akan melakukan perlindungan dan mempromosikan pencadangan lahan hutan.
KEMITRAAN YURISDIKSIONAL UNTUK HUTAN,
IKLIM DAN PERTANIAN
Praktik terbaik:
• Pastikan kegiatan jelas keterkaitannya untuk melindungi hutan, bukan hanya meningkatkan produksi
• Peningkatan produktifitas pertanian memiliki risiko meningkatnya
deforestasi sebagai peningkatan biaya kesempatan. Dengan demikian, maka merupakan hal penting dalam proposal untuk mengartikulasikan bagaimana kegiatan dan rencana dikembangkan melalui kemitraan yang akan melakukan perlindungan dan mempromosikan pencadangan lahan hutan.
• Promosikan koordinasi antar sektor
• Seringkali terjadi kurangnya koordinasi antar sektor antara lingkungan
hidup, perencanaan, dan pertanian. Pertimbangkan untuk membangun kemitraan sebagai kesempatan kunci untuk mengatasi isu koordinasi dan melibatkan semua lembaga terkait untuk membicarakan pemecahannya.
8. ISU-ISU UTAMA
PERANCANGAN PROPOSAL
• Pengeloaan Berbasis Kinerja
• Jangan tanyakan apa yang akan dilakukan, tetapi apa yang anda inginkan untuk tercapai? Pastikan hasil yang diharapkan mungkin tercapai, logis, dan
menunjukkan adanya keterkaitan sebab akibat. Kembangkan baseline yang bagus dan hubungkan dengan RF GCFF global
PERANCANGAN PROPOSAL
• Pengeloaan Berbasis Kinerja
• Jangan tanyakan apa yang akan dilakukan, tetapi apa yang anda inginkan untuk tercapai? Pastikan hasil yang diharapkan mungkin tercapai, logis, dan
menunjukkan adanya keterkaitan sebab akibat. Kembangkan baseline yang bagus dan hubungkan dengan RF GCFF global.
• Pastikan semua risiko teridentifikasi, kembangkan rencana pengelolaannya
• Manfaatkan format Lampiran 1 dari proposal dengan baik. Risiko harus teridentifikasi, rencana mitigasi harus disiapkan, dan sistem pemantauan dikembangkan. Pemantauan risiko harus dilaporkan ke GCFF setiap kuartal.
PERANCANGAN PROPOSAL
• Pengeloaan Berbasis Kinerja
• Jangan tanyakan apa yang akan dilakukan, tetapi apa yang anda inginkan untuk
tercapai? Pastikan hasil yang diharapkan mungkin tercapai, logis, dan
menunjukkan adanya keterkaitan sebab akibat. Kembangkan baseline yang bagus dan hubungkan dengan RF GCFF global
• Pastikan semua risiko teridentifikasi, kembangkan rencana pengelolaannya
• Manfaatkan format Lampiran 1 dari proposal dengan baik. Risiko harus teridentifikasi, rencana mitigasi harus disiapkan, dan sistem pemantauan dikembangkan. Pemantauan risiko harus dilaporkan ke GCFF setiap kuartal.
PESAN UTAMA
• Bekerja pada tingkat yurisdiksi
• Bagian dari tujuan GCFF adalah intervensi di tingkat provinsi untuk mengatasi penyebab utama dari deforestasi dan mencapai hasil yang signifikan.
PESAN UTAMA
• Bekerja pada tingkat yurisdiksi
• Bagian dari tujuan GCFF adalah intervensi di tingkat provinsi untuk mengatasi penyebab utama dari deforestasi dan mencapai hasil yang signifikan, dan
• Kapitalisasi pada kepemimpinan politik
PESAN UTAMA
• Bekerja pada tingkat yurisdiksi
• Bagian dari tujuan GCFF adalah intervensi di tingkat provinsi untuk mengatasi
penyebab utama dari deforestasi dan mencapai hasil yang signifikan
• Kapitalisasi pada kepemimpinan politik
• sudah ada komitmen yang ambisius yang merupakan kesiapan dari GCF • Fokus pada hasil nyata yang sesuai dengan Rio Branco Declaration
PESAN UTAMA
• Koordinasi dan keja sama dengan lembaga tingkat nasional
• Jalin strategi, kebijakan, dan langkah-langkah di tingkat yang berbeda. Revisi NDC memberikan kesempatan untuk meningkatkan dialog. Pertimbangkan untuk memperoleh surat dukungan.
• Pecahkan masalah yang menghambat akses ke pendanaan yang ada
• Petakan sumber-sumber pendanaan, pertimbangkan kekurangan yang mungkin ada, untuk mengakses sumber-sumber tersebut
• Masukkan kegiatan-kegiatan untuk pengembangan dan kirimkan proposal ke sumber pendanaan lain. Temukan kaitan dengan proses Green Climate Fund.