• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Berbagai kejahatan terorganisir, baik yang dilakukan perseorangan maupun oleh sekumpulan orang dalam ruang lingkup batas suatu negara kini semakin meningkat. Kejahatan tersebut dilakukan secara terorganisir dengan keterkaitan berbagai pihak. Bahkan, keberadaan batas teritorial kini bukan lagi halangan bagi perkembangan kejahatan tersebut. Mulai terkikisnya batasan-batasan teritorial suatu wilayah berbanding terbalik dengan keragaman bentuk kejahatan. Keadaan ini melahirkan bentuk kejahatan terorganisir berskala internasional tanpa terikat pada batas kewilayahan. Bentuk kejahatan ini dikenal dengan kejahatan terorganisir lintas batas negara (transnational organized crime). Menurut Michael Woodiwiss, sebagaimana dikutip oleh Lucky Nurhadiyanto yang dimaksud sebagai kejahatan terorganisir kejahatan yang dilakukan secara terorganisir dan telah berkembang meliputi beberapa bagian dunia, tanpa terikat pada batas-batas kewilayahan suatu negara atau kolektifitas masyarakat internasional (Lucky Nurhadiyanto, Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 6 No. II Agustus 2010 : 159 181 160).

Aktivitas kejahatan lintas batas negara yang terorganisir meliputi tujuh bentuk yaitu perdagangan narkoba, perdagangan senjata, penyelundupan senjata pemusnah massal, perdagangan manusia dan bagian tubuh manusia, pencucian uang, kejahatan komputer dan infiltrasi ke dalam bisnis legal. Keberlangsungan kejahatan lintas batas negara ini bertumpu pada keberadaan modal besar yang berperan sebagai penyokong sistem finansial kejahatan tersebut. Live bloods of the crime atau darah yang menghidupi kejahatan itu sendiri adalah istilah yang merefleksikan bentuk kejahatan ini. Hasil kejahatan merupakan darah yang menghidupi para pelaku yang harus disita oleh negara agar kejahatan tersebut tidak berkembang. Disamping itu, hasil kejahatan ini

(2)

berperan sebagai mata rantai yang paling lemah dalam suatu rangkaian tindak pidana (Junus Husein, 2004:4).

Kelahiran rezim hukum internasional anti pencucian uang dilatarlakangi oleh rasa frustrasi masyarakat dunia terkait upaya memberantas kejahatan perdagangan narkoba yang telah mencapai titik nadir (Junus Husein, 2004). Tingginya tingkat perdagangan narkoba berbanding lurus dengan tingkat pengkonsumsian narkoba oleh masyarakat internasional. Kehadiran rezim anti pencucian uang menjadi ujung tombak dalam memberantas kejahatan perdagangan narkoba (Grosse, 2001; van Duyne dan Levi, 2005). Fokusnya tidak lagi menangkap para pelakunya (follow the suspect), melainkan mengarah pada penyitaan dan perampasan harta kekayaan yang dihasilkan (Lucky Nurhadiyanto, Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 6 No. II Agustus 2010 : 159 181 160).

Bureau for International Narcotics and Law Enforcement Affairs, United States Department of State pada bulan Maret 2003, Indonesia ditempatkan kembali ke dalam deretan major laundering countriesdi wilayah Asia Pacific bersama dengan 53 negara antara lain seperti Australia, Kanada, Cina, Cina Taipei, Hong Kong, India, Jepang, Macau Cina, Myanmar, Nauru, Pakistan, Filipina, Singapura, Thailand, United Kingdom dan Amerika Serikat. Predikat major laundering countries diberikan kepada negara-negara yang lembaga dan sistem keuangannya dinilai terkontaminasi bisnis narkotika internasional yang ditengarai melibatkan uang dalam jumlah yang sangat besar (Junus Husein, 2004:1-2).

Lebih jauh, INCSR menyoroti pula beberapa hal yaitu upaya Indonesia dalam memberantas peredaran gelap narkoba yang dianggap masih belum memadai, kenaikan angka penyalahgunaan narkoba di dalam negeri, serta maraknya lalu lintas perdagangan gelap narkoba dari dan ke Indonesia yang melibatkan negara-negara seperti Thailand, Burma, Singapura, Afghanistan, Pakistan dan Nigeria. Kejahatan peredaran gelap narkoba sejak lama diyakini memiliki kaitan erat dengan proses pencucian uang. Sejarah perkembangan tipologi pencucian uang menunjukkan bahwa perdagangan obat bius

(3)

merupakan sumber yang paling dominan dan kejahatan asal (predicate crime) yang utama yang melahirkan kejahatan pencucian uang.

Organized crime selalu menggunakan metode pencucian uang ini untuk menyembu-nyikan, menyamarkan atau mengaburkan hasil bisnis haram itu agar nampak seolah-olah merupakan hasil dari kegiatan yang sah. Selanjutnya, uang hasil jual beli narkoba yang telah dicuci itu digunakan lagi untuk melakukan kejahatan serupa atau mengembangkan kejahatan-kejahatan baru. Perkembangan peredaran obat bius di beberapa negara bahkan telah mencapai titik nadir. Gerard Wyrsch (1990) mengungkapkan bahwa pencucian uang yang berasal dari bisnis narkotika di Amerika Serikat diperkirakan mencapai 100 sampai dengan 300 milyar dollar pertahunnya. Sedangkan di Eropa berkisar antara 300 sampai 500 milyar dollar pertahunnya, suatu angka yang fantastis (Junus Husein, 2004:3).

FATF (Financial Action Task Force on Money Laundering) dalam annual reporttahun 1995-1996 memperkirakan bahwa dari 600 milyar sampai satu trilyun dollar uang yang dicuci pertahunnya, sebagian besar berasal dari bisnis haram perdagangan gelap narkoba. Perkiraan jumlah di atas setiap tahun mengalami peningkatan sehingga dikenal istilah narco dollar, sekaligus menunjukkan bahwa persoalan peredaran gelap narkoba merupakan kejahatan internasional (international crime) dan persoalan seluruh negara. Sejarah mencatat pula bahwa kelahiran rezim hukum internasional yang memerangi kejahatan pencucian uang dimulai pada saat masyarakat internasional merasa frustrasi dengan upaya memberantas kejahatan perdagangan gelap narkoba.

Pada saat itu, rezim anti pencucian uang dianggap sebagai paradigma baru dalam memberantas kejahatan yang tidak lagi difokuskan pada upaya menangkap pelakunya, melainkan lebih diarahkan pada penyitaan dan perampasan harta kekayaan yang dihasilkan. Logika dari memfokuskan pada hasil kejahatannya adalah bahwa motivasi pelaku kejahatan akan menjadi hilang apabila pelaku dihalang-halangi untuk menikmati hasil kejahatannya. Melihat korelasi yang erat antara kejahatan peredaran gelap narkoba sebagai predicate crime dan kejahatan pencucian uang sebagai derivative-nya, maka

(4)

sangat jelas bahwa keberhasilan perang melawan kejahatan peredaran gelap narkoba di suatu negara sangat ditentukan oleh efektivitas rezim anti pencucian uang di negara itu. Dalam konteks Indonesia, hal menarik yang menjadi pertanyaan adalah apakah rezim anti pencucian uang Indonesia sudah cukup memadai untuk mendukung upaya pencegahan dan pemberantasan kejahatan peredaran gelap narkoba di tanah air (Junus Husein, 2004:4).

Sekitar dua ratus tiga puluh juta orang dari seluruh dunia atau sekitar lima persen dari populasi dunia diperkirakan telah menyalahgunakan narkoba minimal sekali menurut data dunia pada 2010. Angka ini anehnya terus merangkak naik pada tahun berikutnya padahal berbagai upaya telah dilakukan dari pemberantasan terhadap pelaku, pengedar, maupun produsennya. Tren figur tersebut berlanjut secara stabil di tahun 2012 dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi sebuah eskalasi di tahun 2013. Dari sejarah perjalanan peredaran Narkoba di dunia dapat dibuktikan bahwa bahaya penyalahgunaan Narkotika dan peredaran gelapnya mengancam dan merugikan kehidupan manusia; hal yang diamini oleh seluruh negara di dunia. Sejarah panjang tersebut menjadi pengalaman berarti bagi seluruh bangsa dan negara dalam menciptakan sebuah komitmen untuk memberantas Narkotika secara menyeluruh (M. Nurdin, diakses di http://www.BNN.co.id pada hari Minggu tanggal 16 Juni 2013 pukul 20.05 WIB).

Pada umumnya pelaku tindak pidana berusaha menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan yang merupakan hasil dari tindak pidana dengan berbagai cara agar Harta Kekayaan hasil tindak pidananya susah ditelusuri oleh aparat penegak hukum, sehingga dengan leluasa memanfaatkan Harta Kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang sah maupun tidak sah. Karena itu, tindak pidana Pencucian Uang tidak hanya mengancam stabilitas dan integritas sistem perekonomian dan sistem keuangan, tetapi juga dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 8 Tahun

(5)

2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang).

Dalam konsep antipencucian uang, pelaku dan hasil tindak pidana dapat diketahui melalui penelusuran untuk selanjutnya hasil tindak pidana tersebut dirampas untuk negara atau dikembalikan kepada yang berhak. Apabila Harta Kekayaan hasil tindak pidana yang dikuasai oleh pelaku atau organisasi kejahatan dapat disita atau dirampas, dengan sendirinya dapat menurunkan tingkat kriminalitas. Untuk itu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang memerlukan landasan hukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum, efektivitas penegakan hukum serta penelusuran dan pengembalian Harta Kekayaan hasil tindak pidana.

Tindak Pidana Narkotika tidak lagi dilakukan secara perseorangan, melainkan melibatkan banyak orang yang secara bersama-sama, bahkan merupakan satu sindikat yang terorganisasi dengan jaringan yang luas yang bekerja secara rapi dan sangat rahasia baik di tingkat nasional maupun internasional. Berdasarkan hal tersebut guna peningkatan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Narkotika perlu dilakukan pembaruan terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Hal ini juga untuk mencegah adanya kecenderungan yang semakin meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif dengan korban yang meluas, terutama di kalangan anak-anak, remaja, dan generasi muda pada umumnya (Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika).

Mengingat betapa seriusnya dampak yang ditimbulkan oleh tindak pidana pencucian uang dan narkotika terhadap kehidupan bangsa dan negara di segala bidang kehidupan, maka harus ada langkah penegakan hukum yang serius untuk menanggulanginya. Penegakan hukum terhadap tindak pidana pencucian uang dan narkotika secara normatif diatur di dalam hukum acara pidana yang berlaku, yaitu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara pidana. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mengatur juga tentang

(6)

ketentuan hukum acara pidana. Hal demikian tidak jadi masalah karena memang dimungkinkan dalam asas peraturan perundang-undangan, yaitu lex specialis derogat lex generalis.

Sesuai ketentuan KUHAP, maka penyelesaian suatu perkara pidana termasuk perkara pencucian uang dan narkotika, harus melalui berbagai tahapan yaitu penyidikan, penuntututan, peradilan dan pelaksanaan putusan. Putusan menjadi puncak dari proses pembuktian di persidangan. Jika terdakwa terbukti bersalah, maka hakim akan menjatuhkan putusan pemidanaan, sebaliknya jika dakwaan tidak terbukti maka terdakwa akan mendapatkan putusan bebas. Terhadap putusan tersebut maka terdakwa atau penuntut umum mempunyai hak untuk mengajukan upaya hukum.

KUHAP membedakan upaya hukum menjadi dua jenis, yaitu upaya hukum biasa dan luar biasa. Upaya hukum biasa ada beberapa jenis, diantaranya adalah upaya hukum banding. Pengadilan yang memeriksa permohonan banding adalah Pengadilan Tinggi, dimana putusan yang dijatuhkan bisa berupa memperkuat putusan pengadilan negeri, mengubah putusan pengadilan negeri atau membatalkan putusan pengadilan negeri. Pemeriksaan di Pengadilan Tinggi didasarkan atas berkas perkara, surat-surat yang timbul dipersidangan yang berhubungan dengan perkara dan putusan Pengadilan Negeri.

Salah satu perkara pencucian uang dan narkotika yang beberapa waktu yang lalu mendapatkan perhatian luas dari masyarakat adalah perkara yang melibatkan mantan salah satu pegawai Lembaga Pemasyarakatan Narkotika di Nusakambangan. Pengadilan Negeri Cilacap menjatuhkan putusan pemidanaan berupa pidana penjara selama tujuh tahun dan denda satu milyar kepada terdakwa. Terhadap putusan tersebut, baik terdakwa maupun penuntut umum mengajukan banding kepada Pengadilan Tinggi Semarang.

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis mengkaji lebih dalam mengenai bagaimanakah argumentasi hukum penuntut umum dan terdakwa dalam pengajuan upaya hukum banding terhadap Putusan Pengadilan Negeri Cilacap dalam perkara narkotika dan pencucian uang dan

(7)

bagaimankah argumentasi hukum hakim Pengadilan Tinggi Semarang dalam memeriksa dan memutuskan permohonan banding dalam perkara tersebut, melalui penyusunan penelitian hukum dengan judul

ARGUMENTASI HUKUM PENUNTUT UMUM DAN TERDAKWA DALAM PENGAJUAN UPAYA HUKUM BANDING TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN NEGERI CILACAP DALAM PERKARA NARKOTIKA DAN PENCUCIAN UANG (STUDI KASUS DALAM PUTUSAN PENGADILAN TINGGI SEMARANG NOMOR :

B. Perumusan Masalah

Agar permasalahan yang hendak diteliti tidak mengalami perluasan konteks dan supaya penelitian yang dilaksanakan lebih mendalam maka diperlukan suatu pembatasan masalah. Pokok permasalahan yang hendak menjadi tujuan penulis yaitu terbatas pada masalah yang berkaitan dengan analisis yuridis argumentasi hukum penuntut umum dan terdakwa dalam pengajuan upaya hukum banding terhadap putusan Pengadilan Negeri Cilacap dalam perkara narkotika dan pencucian uang (studi kasus dalam putusan Pengadilan Negeri Semarang Nomor : 49/Pid.Sus/2012/PT.Smg).

Perumusan masalah merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian yang bertujuan untuk mendapat jawaban atas permasalahan yang diteliti.Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas dan diteliti lebih mendalam. Adapun beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimanakah argumentasi hukum Penuntut Umum dan terdakwa dalam pengajuan upaya hukum banding terhadap putusan Pengadilan Negeri Cilacap dalam perkara narkotika dan pencucian uang?

2. Bagaimanakah argumentasi hukum hakim Pengadilan Tinggi Semarang dalam perkara narkotika dan pencucian uang?

(8)

C. Tujuan Penelitian

Dalam suatu penelitian pada dasarnya memiliki suatu tujuan tertentu yang hendak dicapai. Tujuan penelitian juga harus jelas sebagai target yang ingin dicapai sebagai pemecahan permasalahan yang dihadapi (tujuan obyektif) maupun untuk memenuhi kebutuhan perorangan (tujuan subyektif). Adapaun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Tujuan Obyektif

a. Untuk mengetahui argumentasi hukum Penuntut Umum dan terdakwa dalam pengajuan upaya hukum banding terhadap Putusan Pengadilan Negeri Cilacap dalam perkara narkotika dan pencucian uang.

b. Untuk mengetahui argumentasi hukum hakim Pengadilan Tinggi Semarang dalam memeriksa dan memutus permohonan banding dalam perkara narkotika dan pencucian uang.

2. Tujuan Subyektif

a. Untuk memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar S1 dalam bidang Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

b. Untuk menambah wawasan, pengetahuan dan kemampuan penulis dalam penelitian hukum khususnya di bidang Hukum Acara Pidana.

D. Manfaat Penelitian

Dalam suatu penelitian sangat diharapkan adanya manfaat dan kegunaan, karena nilai dari suatu penelitian ditentukan oleh besarnya manfaat yang dapat diambil dari penelitian tersebut. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penulis hukum ini adalah :

1. Manfaat Teoritis

a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan Ilmu Hukum pada umumnya dan Hukum Acara Pidana pada khususnya.

(9)

b. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memperkaya referensi dan literatur kepustakaan di bidang karya ilmiah.

c. Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu memecahkan suatu permasalahan yang diteliti oleh penulis.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membentuk pola pikir yang kritis bagi masyarakat dan penulis dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

pemikiran mengenai argumentasi hukum Penuntut Umum dan terdakwa dalam pengajuan upaya hukum banding terhadap Putusan Pengadilan Negeri Cilacap dan argumentasi hukum hakim Pengadilan Tinggi Semarang dalam memeriksa dan memutus permohonan banding dalam perkara narkotika dan pencucian uang.

E. Metode Penelitian

Adapun metode penelitian yang akan digunakan penulis dalam penulisan hukum ini adalah sebagai berikut :

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif atau penelitian hukum doktrinal, yaitu penelitian berdasarkan bahan-bahan hukum (library based) yang fokusnya pada membaca dan mempelajari bahan-bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan-bahan hukum disusun secara sistematis dan juga dikaji untuk selanjutnya dapat ditarik kesimpulan atas apa yang diperoleh.

2. Sifat Penelitian

Dalam penelitian hukum ini, penulis menggunakan penelitian yang bersifat preskriptif dan terapan. Ilmu hukum memiliki karakteristik

(10)

sebagai ilmu yang bersifat preskriptif dan terapan, maka penelitian ini juga bersifat preskriptif. Sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, ilmu hukum mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum. Sebagai ilmu terapan, ilmu hukum menetapkan standar prosedur, ketentuan-ketentuan, rambu-rambu dalam melaksanakan aktifitas hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2010:22).

3. Pendekatan Penelitian

Menurut Peter Mahmud Marzuki, ada beberapa macam pendekatan dalam penelitian hukum. Dengan pendekatan tersebut, peneliti akan mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang ditelitinya. Pendekatan dalam penelitian hukum itu terdiri dari (Peter Mahmud Marzuki, 2010:93) :

a. pendekatan Perundang-undangan (statute approach); b. pendekatan kasus (case approach);

c. pendekatan historis (historical approach);

d. pendekatan komparatif (comparative approach); dan e. pendekatan konseptual (conceptual approach)

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kasus (case approach). Pendekatan kasus dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (Peter Mahmud Marzuki, 2010: 94).

4. Jenis dan Sumber Penelitian

Sumber bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

a) Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif, yang artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi, atau risalah dalam

(11)

pembuatan peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2010:141).

Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Tindak Pidana Narkotika.

4) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

5) Putusan Mahkamah Agung Nomor 49/Pid.Sus/2012/PT.Smg. b) Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penulisan hukum ini, meliputi:

1) Buku-buku ilmiah dibidang hukum

2) Makalah-makalah dan hasil-hasil karya ilmiah para sarjana 3) Jurnal-jurnal hukum

4) Literatur dan hasil penelitian lainnya 5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Jenis peneltian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, sehingga teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan adalah studi kepustakaan, pengumpulan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder diinventarisasi dan diklasifikasi dengan menyesuaikan masalah yang diteliti.

6. Teknik Analisis Bahan Hukum

Tahap analisisbahan hukum adalah tahap yang penting dalam menentukan suatu penelitian. Analisis bahan hukum dalam suatu penelitian adalah menguraikan atau memecahkan masalah yang akan diteliti berdasarkan atas bahan hukum yang telah diperoleh kemudian diolah kedalam pokok permasalahan.

(12)

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penalaran deduktif. Sumber penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini dengan mengkaji dari penelitian studi kepustakaan, studi putusan, aturan perundang-undangan beserta dokumen-dokumen yang dapat membantu menafsirkan norma terkait, kemudian sumber penelitian tersebut diolah dan dianalisis untuk menjawab permasalahan yang diteliti dan akhirnya menarik kesimpulan.

F. Sistematika Penulisan Hukum

Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang sistematika penulisan hukum yang sesuai dengan aturan dalam penulisan hukum, maka penulis menjabarkan dalam bentuk sistematika penulisan hukum yang terdiri dari (empat) bab, yang tiap-tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian ini.

Adapun sistematika penulisan hukum ini adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini, penulis menguraikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan penulisan hukum ini.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, penulis menguraikan tentang landasan teori atau memberikan penjelasan secara teoritik berdasarkan literatur-literatur yang berkaitan dengan penulisan hukum ini. Landasan teori tersebut meliputi tinjauan umum tentang Hukum Acara Pidana, hak-hak yang dimiliki terdakwa, pembuktian penuntut umum, tindak pidana perumahan dan pemukiman, dan putusan hakim.Sedangkan dalam kerangka pemikiran penulis menampilkan bagan kerangka pemikiran.

(13)

BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis membahas dan menjawab permasalahan yang berdasarkan rumusan masalah, yaitu : pertama, argumentasi hukum Penuntut Umum dan terdakwa dalam pengajuan upaya hukum banding terhadap Putusan Pengadilan Negeri Cilacap dalam perkara narkotika dan pencucian uang. Kedua, argumentasi hukum hakim Pengadilan Tinggi Semarang dalam memeriksa dan memutus permohonan banding dalam perkara narkotika dan pencucian uang.

BAB IV : PENUTUP

Pada bab ini, penulis menguraikan mengenai kesimpulan yang dapat diperoleh dari keseluruhan hasil pembahasan, serta saran-saran yang diperoleh penulis dalam penyusunan penelitian hukum ini.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan latar belakang masalah, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana transformasi nilai-nilai kearifan lokal pada

Pembatasan permasalahan dilakukan agar penelitian lebih terarah, terfokus, dan tidak menyimpang dari sasaran pokok penelitian dengan menfokuskan penelitian pada masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, penulis dapat mengidentifikasi masalah umum yang akan diungkap dalam penelitian ini yaitu bagaimana

Permasalahan yang ditemukan penulis adalah masih rendahnya kinerja guru yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi sebagai guru dalam kemampuan penguasaan

Telah tersedianya data-data yang sangat mungkin untuk dijangkau oleh penulis karena penelitian yang dilakukan oleh penulis langsung dalam instansi hukum yang berkaitan dengan

Dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah penelitian yang telah diuraikan di atas, maka penulis membatasi permasalahan yang akan dikaji dan diungkapkan

Berdasarkan permasalahan yang diuraikan dalam rumusan masalah umum dalam penelitian tindakan kelas ini adalah : “Bagaimanakah penerapan pendekatan kontekstual

Dari latar belakang masalah dan indentifikasi masalah penelitian yang telah diuraikan di atas, maka penulis membatasi permasalahan yang akan dikaji dan