vi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PERNYATAAN ...i
KERANGAN PERBAIKAN/REVISI...ii
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR...iii
ABSTRAK...iv
UCAPAN TERIMA KASIH ...v
DAFTAR ISI ...vi
DAFTAR GAMBAR ...vii
DAFTAR TABEL ...viii
BAB I PENDAHULUAN ...1 1.1 Latar Belakang ...1 1.2 Rumusan Masalah ...4 1.3 Tujuan Penulisan ...4 1.4 Manfaat Penulisan ...4 1.5 Batasan Masalah ...4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...6
2.1 Pengertian dan Tujuan Pemberian Irigasi ...6
2.2 Distribusi Air dan Cara Pemberian Air Irigasi………...6
2.2.1 Distribusi Air ...6
2.2.2 Macam Sistem Irigasi ...7
2.2.3 Cara Pemberian Air Irigasi ...8
2.3 Pemanfaatan Air Tanah Untuk Irigasi ...9
2.3.1 Kebutuhan Air Irigasi ...10
2.3.2 Kebutuhan Air Untuk Tanah (Land Requirements) ...11
2.3.3 Koefisien Tanaman (Kc) ...15
2.3.4 Efisiensi Irigasi ...16
2.3.5 Kebutuhan Air Untuk Padi ...17
2.3.6 Kebutuhan Air Untuk Palawija ...17
2.3.7 Kebutuhan Air di Pengambilan ...17
2.3.8 Pola Tanam ...18
2.4 Irigasi Dengan Pompa Air Tanah ...19
2.4.1 Pengertian Sistem Irigasi Dengan Pompa Air Tanah ...19
2.4.2 Bagian-Bagian Irigasi Dengan Pompa Air Tanah ...20
2.4.3 Jaringan Irigasi Dengan Pompa Air Tanah ...21
2.4.4 Pembangunan Irigasi Dengan Pompa Air Tanah ...22
2.4.5 Komponen Perpipaan Irigasi Dengan Pompa Air Tanah ...23
2.4.6 Operasi Irigasi Dengan Pompa Air Tanah ...24
2.4.7 Pembiayaan Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Pompa Air Tanah..25
2.5 Analisa Kelayakan Ekonomi Menggunakan Pompa Air Tanah ...26
2.5.1 Nilai Rasio Manfaat dan Biaya (Benefit Cost Ratio / BCR) ...27
2.5.2 Net Present Value (NPV) ...28
2.5.3 Tingkat Pengembalian Internal ( IRR ) ...29
vii
2.5.5 Analisa Sensitivitas ...31
BAB III METODE PENELITIAN ...32
3.1 Umum ...33
3.2 Data ...34
3.2.1 Sumber Data ...35
3.2.2 Metode Pengumpulan Data ...39
3.2.3 Analisis Data ...46
3.3 Kerangka Penelitian ...46
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...47
4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian ...48
4.2 Analisis Hidrologi ...49
4.2.1 Iklim ...50
4.2.2 Perhitungan Kebutuhan Air Irigasi ...50
4.2.3 Ketersediaan Air Permukaan ...50
4.2.4 Neraca Air ...50
4.3 Analisa Ekonomi ...51
4.3.1 Menentukan Manfaat (Benefit) ...54
4.3.2 Penentuan Modal (Capital Cost), Biaya Tahunan (Annual Cost)...55
4.3.3 Perhitungan Benefit Cost Ratio (B/C)………...59
BAB V PENUTUP ...60
5.1 Kesimpulan ...61
5.2 Saran ...61
DAFTAR PUSTAKA ...62 LAMPIRAN
1 ABSTRAK
Bali merupakan pulau dengan penduduknya bermata pencaharian di sektor pertanian. Irigasi adalah faktor penting dalam menentukan keberhasilan petani di sawah. Irigasi pompa air tanah adalah usaha pengambilan air dari bawah permukaan tanah dengan menggunakan bantuan pompa air, kemudian didistribusikan untuk keperluan irigasi. Kabupaten Jembrana telah menggunakan pompa air tanah untuk membantu irigasi pada lahan pertanian, salah satunya di Subak Kaliakah Munduk Desa Kaliakah seluas 20 Ha. Penggunaan pompa air tanah dimaksudkan untuk mengatasi kekeringan pada saat musim kemarau, akibat dari debit sungai menurun. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kebutuhan air, serta analisis ekonomi dengan membandingkan nilai manfaat dan biaya pengadaan pompa air tanah ditinjau terhadap analisis benefit cost (B/C), selisih manfaat (B-C), tingkat pengembalian internal (IRR), periode pengembalian dan analisa sensitivitas. Hasil analisis yaitu dengan adanya bantuan pompa debitnya 10 lt/dt mampu memenuhi kebutuhan air seluas 20 ha untuk 1 kali penanaman padi dan 1 kali penanaman palawija di musim kemarau per tahunnya. Dan hasil analisis ekonomi diperoleh biaya konstruksi sebesar Rp. 1.116.760.000. Biaya oprasional dan pemeliharaan (pertahun) sebesar Rp. 42.700.000 dan manfaat irigasi pertanian adalah sebesar Rp. 332.500.000 berdasarkan BCR > 1 dan IRR > suku bunga yang berlaku, diperoleh besarnya BCR = 1,49 dan IRR = 17,83 %, dengan periode pengembalian 3,9 tahun. Sesuai analisa dapat disimpulkan proyek pengadaan pompa air tanah ini secara ekonomi dapat dikatakan layak.
2 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara umum irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Dalam hal ini irigasi diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Meskipun tidak dijelaskan lebih lanjut secara teknis tentang bagaimana cara mengairi lahan pertanian, dapat dikatakan bahwa pengertian irigasi tersebut mencakup jenis irigasi tradisional yang sederhana hingga jenis irigasi modern yang komplek.
Pengertian irigasi dalam Peraturan Pemerintah tentang Irigasi No. 20 tahun 2006 menyatakan, irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang sejenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Selanjutnya menurut Linseley (1996), menyatakan irigasi adalah berian air kepada tanah untuk menunjang curah hujan yang tidak cukup agar tersedia lengas tanah bagi pertumbuhan tanaman.
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.32/PRT/M/2007, tentang Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi, disebutkan bahwa jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkap yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi.
Ada beberapa jenis jaringan irigasi menurut Astin (2010), yaitu jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier. Jaringan irigasi primer adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri atas bangunan utama, saluran induk/primer, saluran pembuangannya, bangunan bagi, bangunan bagi-sadap, bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya. Jaringan irigasi sekunder adalah bagian dari jaringan irigasi yang terdiri atas saluran sekunder, saluran pembuangannya, bangunan bagi, bangunan bagisadap, bangunan sadap, dan bangunan pelengkapnya. Jaringan irigasi tersier adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri atas
3 saluran tersier, saluran kuarter dan saluran pembuang, boks tersier, boks kuarter, serta bangunan pelengkapnya.
Tujuan irigasi menurut Lanang (2010), yaitu dapat dilakukan secara langsung dan secara tidak langsung. Tujuan irigasi secara langsung adalah membasahi tanah, agar dicapai suatu kondisi tanah yang baik untuk pertmbuhan tanaman dalam hubungannya dengan prosentase kandungan air dan udara diantara butir-butir tanah. Pemberian air dapat juga mempunyai tujuan sebagai pengangkut bahan-bahan pupuk untuk perbaikan tanah. Tujuan irigasi secara tidak langsung adalah pemberian air yang dapat menunjang usaha pertanian melalui berbagai cara antara lain: Mengatur suhu tanah, membersihkan tanah, memberantas hama, mempertinggi permukaan air tanah, membersihkan buangan air kota (penggelontoran), menimbun tanah-tanah rendah dengan jalan mengalirkan air berlumpur dan akibat endapan lumpur tanah tersebut menjadi cukup tinggi sehingga genangan yang terjadi selanjutnya tidak terlampau dalam kemudian dimungkinkan adanya usaha pertanian.
Menurut Akmal, Masimin, dan Ella Meilianda (2014), ditinjau dari proses penyediaan, pemberian, pengelolaan dan pengaturan air, sistem irigasi dapat dikelompokkan menjadi empat jenis yaitu : (1) Sistem irigasi permukaan (surface irrigation system), (2) Sistem irigasi bawah permukaan (sub surface irrigation system), (3) Sistem irigasi dengan pemancaran (sprinkle irrigation system) dan (4) Sistem irigasi dengan tetesan (trickle irrigation / drip irrigation system).
Selanjutnya pengertian irigasi pompa air tanah menurut Pramantari (2014), dapat diartikan sebagai usaha pengambilan air dari bawah permukaan tanah (mengangkat/memindahkan air dari tempat yang lebih rendah ke tempat yg lebih tinggi) dengan bantuan pompa air, sehingga dapat mendistribusikan air untuk keperluan irigasi. Air tanah dapat dimanfaatkan yang keberadaannya pada lapisan pembawa air atau akifer, yang berada di bawah permukaan tanah, menyebabkan diperlukan fasilitas sumur serta mesin pompa. Penggunaan jaringan irigasi air tanah dapat dilakukan pada setiap sistem jaringan irigasi gravitasi, daerah yang bergelombang atau perbukitan, dan tanah porous (mudah menyerap air) yang memiliki mata air.
4 Menurut Sitanala (1989), menyatakan pengelolaan irigasi permukaan adalah mengendalikan bagian curah hujan yang mengalir di atas permukaan tanah. Tidak semua air yang mengalir di atas permukaan tanah akan sampai dan menjadi bagian dari air yang mengalir di dalam sungai atau di dalam danau, sebagian air tersebut hilang sewaktu bergerak menuju sungai atau danau tersebut.
Air tanah secara umum adalah semua air yang ditemukan di bawah permukaan Bumi. Air ini sebagian besar berasal dari hujan, salju yang mencair, dan air lainnya yang merembes melalui tanah, pasir, atau celah-celah di pada permukaan. Berkat gravitasi, air terus bergerak ke bawah permukaan Bumi, sampai tidak bisa merembes lagi. Ketika air membentur lapisan batuan atau tanah itu tidak bisa dilewati, air berkumpul di bawah permukaan bumi dan membentuk sungai/danau bawah tanah yang disebut akuifer. Menurut Kodoatie (1996), menyatakan akuifer dibagi menjadi 4, yaitu: Akuifer Bebas (Unconfined Aquifer) yaitu lapisan yang hanya sebagian terisi oleh air dan berada di atas lapisan kedap air. Permukaan tanah pada akuifer ini disebut dengan water table, yaitu permukaan air yang mempunyai tekanan hidrostatik sama dengan atmosfer. Akuifer Tertekan (Confined Aquifer) yaitu akuifer yang jumlah airnya dibatasi oleh lapisan kedap air, baik di atas maupun di bawah, serta mempunyai tekanan jenuh lebih besar dari pada tekanan atmosfer. Akuifer Semi tertekan (Semi Confined Aquifer) yaitu akuifer yang seluruhnya merupakan air jenuh, dimana bagian atasnya dibatasi oleh lapisan semi lolos air dan dibagian bawahnya merupakan lapisan kedap air. Akuifer Semi Bebas (Semi Unconfined Aquifer) yaitu akuifer yang bagian bawahnya yang merupakan lapisan kedap air, sedangkan bagian atasnya merupakan material berbutir halus, sehingga pada lapisan penutupnya masih memungkinkan adanya gerakan air. Dengan demikian akuifer ini merupakan peralihan antara akuifer bebas dengan akuifer semi tertekan.
Irigasi dengan pompa air tanah sudah banyak dilakukan di Bali khususnya di Kabupaten Jembrana Kecamatan Negara salah satunya di Desa Kaliakah, Kecamatan Negara. Dengan acuan Pramantari (2014), yang menyatakan irigasi menggunakan pompa air tanah di Desa Baler Bale Agung Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana layak secara ekonomi. Air dapat diperoleh dan mengairi sawah dengan luas areal 20
5 ha, maka petani di desa tersebut menggunakan bantuan pompa air tanah secara suplesi. Selain itu daerah aliran sungai pada Sungai Benel yang mengairi sawah untuk daerah Desa Kaliakah mengalami penurunan debit air akibat perambahan hutan menjadi gundul dan banyak digunakan untuk mengairi sawah di daerah hulu sungai menyebabkan setiap musim kemarau sering terjadi krisis air yaitu sulitnya mendapatkan air untuk mengairi sawah dari sumber air permukaan di Subak Kaliakah Munduk, Desa Kaliakah, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah irigasi menggunakan pompa air tanah mampu memenuhi kebutuhan air irigasi di Subak Kaliakah Munduk Desa Kaliakah, Kabupaten Jembrana? 2. Bagaimana investasi, operasional, dan pemeliharaan irigasi dengan pompa air
tanah di Subak Kaliakah Munduk Desa Kaliakah, Kabupaten Jembrana?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui kemampuan pompa air tanah dalam memenuhi kebutuhan air irigasi di Subak Kaliakah Munduk Desa Kaliakah, Kabupaten Jembrana. 2. Untuk mengetahui besarnya investasi, operasional, dan pemeliharaan yang
diperlukan oleh pompa air tanah untuk irigasi di Subak Kaliakah Munduk Desa Kaliakah, Kabupaten Jembrana.
1.4 Manfaat Penulisan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang analisis irigasi meggunakan pompa air tanah di Subak Kaliakah Munduk Desa Kaliakah Kabupaten Jembrana.
1.5 Batasan Masalah
Batasan Masalah dari Analisis Irigasi Menggunakan Pompa Air Tanah (Studi Kasus: Subak Kaliakah Munduk Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana) adalah:
6 1. Penelitian hanya dilakukan pada subak Kaliakah Munduk Desa Kaliakah 2. Penelitian hanya terbatas pada saat penggunaan pompa, sedangkan penggunaan
air dari air permukaan tidak ditinjau.