• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Kebijakan Umum Peradilan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Kebijakan Umum Peradilan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Tahunan PA Sukabumi 2010 1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Kebijakan Umum Peradilan

Lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama jo. Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, telah membawa perubahan besar terhadap fungsi, kedudukan dan kewenangan Peradilan Agama di Indonesia. Salah satu sektor yang mengalami perubahan mendasar adalah beralihnya fungsi dan kedudukan lembaga Peradilan Agama dari Peradilan Semu (Quasi

Rechtpraak) menjadi lembaga kekuasaan kehakiman yang mandiri (court of law) dalam tata hukum di Indonesia sehingga mempunyai kedudukan

yang sejajar dengan lembaga peradilan lain.

Lembaga peradilan yang mandiri (court of law) mempunyai ciri antara lain pertama tertibnya administrasi peradilan baik administrasi umum maupun administrasi teknis yustisial. Kedua, penerapan hukum acara dalam proses berperkara dilaksanakan dengan baik dan benar. Ketiga, putusan yang telah dijatuhkan hakim terhadap suatu perkara dapat dieksekusi oleh lembaga peradilan yang memutuskan perkara tersebut.

Ketiga hal ini adalah merupakan prinsip dasar yang harus berjalan secara simultan dan sejalan dengan gerak lajunya proses berperkara di lembaga peradilan tersebut, sehingga setiap putusan yang dijatuhkan benar-benar bermanfaat, mempunyai nilai keadilan dan kepastian hukum.

Secara faktual pada saat ini institusi pengadilan sedang subur-suburnya dengan berbagai cercaan dan terpaan dari sana sini atau dengan kata lain, publik sedang memihak kepada rasa ketidakpercayaan terhadap keberadaan lembaga peradilan salah, yang benarpun tetap didera dan dicerca.

Disisi lain, hakim selalu dituntut untuk mampu memutus dan menyelesaikan setiap permasalahan sekalipun masih samar atau bahkan belum ada aturannya (Prof. Dr. Stjipto Rahardjo, SH sebagaimana menyebutkan, bahwa hukum berjalan bertatih-tatih dibelakang permasalahan). Dengan kata lain sampai saat ini hukum belum bisa

(2)

Laporan Tahunan PA Sukabumi 2010 2

menjangkau terhadap masalah yang baru akan muncul dan terjadi kemudian.

Berangkat dari fakta di atas, baik dalam hal menyelaraskan fakta yang ada dengan hukum yang masih samar-samar atau sama sekali belum ada aturannya juga demi tetap tegaknya peradilan yang diharapkan, maka dalam dunia peradilan dikenal istilah “Kebijakan Mengadili/Judicial Discretion”.

Menerapkan metode “Penemuan Hukum” adalah suatu wujud kebijakan mengadili. Memutus atas nama Keadilan adalah juga suatu kebijakan mengadili. Demikian juga penggunaan pertimbangan memberatkan, meringankan, membenarkan dan menyalahkan adalah juga wujud Kebijakan Mengadili.

Akan tetapi tentunya demi untuk mencegah agar kebijakan mengadili tidak terjelembab menjadi kesewenang-wenangan, atau upaya jalan menyelundupi keberpihakan, ada beberapa prinsip yang harus dipegang teguh oleh hakim, yaitu :

1. Kebijakan mengadili harus mengandung tujuan yang tidak bertentangan dengan azas hukum utama terutama azas keadilan.

2. Kebijakan mengadili harus dapat memajukan penerapan hukum yang ada tanpa suatu diskresi, tidak menimbulkan pertentangan secara nyata dengan rasa keadilan terutama rasa keadilan si pencari keadilan.

3. Kebijakan mengadili tidak boleh mencederai azas Norma dan Konstitusi. Azas Norma dan Konstitusi merupakan batas yang tidak dapat dilampaui.

4. Kebijakan Mengadili tidak boleh mencederai hak-hak azasi pencari keadilan.

5. Kebijakan mengadili dimaksudkan untuk menemukan keseimbangan antara kepentingan pencari keadilan dan kepentingan masyarakat.

6. Walau ada diskresi, putusan hakim harus semata-mata didasarkan kepada fakta yang ditemukan dalam persidangan dan tetap memutus menurut hukum. Hakim dilarang melakukan kriminalisasi terhadap hal-hal yang tidak diatur atau sesuatu yang samar-samar diatur dalam peraturan perundang-undangan. Jangankan melakukan kriminalisasi,

(3)

Laporan Tahunan PA Sukabumi 2010 3

memperluas suatu pengertian saja sangat terlarang dilakukan hakim. Salah satu yang sekarang acap kali menimbulkan rasa gundah yaitu longgarnya batas “kesalahan” yang timbul dari suatu bleid dengan perbuatan yang dapat dipidana. Begitu pula gambaran ini sama berlaku dalam perkara perdata khususnya dalam hal-hal yang menjadi kewenangan Peradilan Agama.

Dalam Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Mahkamah Agung dan Badan Peradilan dengan tema “DENGAN SEMANGAT PERUBAHAN MEMPERKOKOH LANDASAN MENUJU PERADILAN YANG AGUNG” yang berlangsung dari tanggal13 Oktober 2010 di Balikpapan.

Rumusan Hasil Diskusi Komisi II Bidang Urusan Lingkungan Peradilan Agama menyimpulkan :

1. Semua hasil rumusan Rakernas tahun 2009 di Palembang kecuali yang diadakan perubahan dalam rumusan ini, tetap berlaku dan dijadikan sebagai rumusan dalam Rakernas tahun 2010 di Balikpapan.

2. Hakim dalam mengadili perkara, harus mengetahui dengan jelas tentang fakta dan peristiwa yang ada dalam perkara tersebut. Oleh karena itu sebelum menjatuhkan putusan terlebih dahulu harus menemukan fakta dan peristiwa yang terungkap dari Penggugat dan Tergugat serta alat-alat bukti yang diajukan oleh para pihak dalam persidangan. Hakim dalam mengambil keputusan, dapat menggunakan teknik penemuan hukum dengan methode interpretasi, kontruksi dan hermeneutika hukum.

3. Hakim dalam mengambil keputusan terhadap perkara perceraian dan atau hadlanah, disamping mempertimbangkan KHI, UU No. 1 tahun 1974, Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 juga harus memperhatikan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT serta UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

4. Ahli Waris Pengganti sebagaimana tersebut dalam Psal 185 KHI pelaksanaannya dibatasi kepada keturunan garis lurus kebawah sampai dengan derajat cucu.

5. Pengadilan Agama tidak berwenang untuk mengadili sengketa yang menyangkut Perseroan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007, namun Pengadilan Agama berwenang untuk

(4)

Laporan Tahunan PA Sukabumi 2010 4

mengadili, memutus serta menyelesaikan sengketa harta bersama, maupun sengkerta waris yang objek sengketanya berupa saham di Perseroan Terbatas.

6. Untuk menghindari terjadinya penyalah gunaan penetapan itsbat nikah sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 7 ayat (3) huruf (a) KHI, agar penetapan itsbat nikah tersebut dibuat dalam satu kesatuan dengan putusan cerai gugat / ikrar talak dan dalam pertimbangan hukumnya dipertegas dengan pernyataan bahwa itsbat nikah tersebut semata-mata hanya untuk proses perceraian.

7. Masalah perceraian yang para pihaknya / salah satu pihak adalah anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), hendaknya memperhatikan Peraturan Panglima TNI No. Perpang/11/VII/2007 tanggal 4 Juli 2007 Tentang Tata Cara Pernikahan, Perceraian dan Rujuk bagi Perajurit.

8. Pelaksanaan SEMA No. 10 tahun 2010 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Hukum tidak boleh bertentangan dengan ketentuan Hukum Acara.

9. Dalam proses pemeriksaan Itsbat Nikah harus dilaksanakan secara seksama dan teliti, tidak ada istilah Tajdidun Nikah.

10. Untuk membantu Tenaga Kerja Wanita / Tenaga Kerja Indonesia yang menghadapi masalah hukum diluar negeri khususnya yang menyangkut masalah bidang perkawinan, perlu terobosan mengenai kemungkinan untuk melaksanakan pemeriksaan / persidangan perkara itsbat nikah di Kedutaan Besar Indonesia termasuk pembiayaannya.

11. Sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 15 Undang-Undang No. 20 tahun 1947 tentang Peradilan Ulangan, Hakim tingkat banding berwenang untuk memeriksa, mengadili kembali dan memutus perkara sebagai yudex factie. Dalam hal Hakim tingkat banding berpendapat putusan Hakim Tingkat Pertama lalai menerapkan ketentuan hukum formil, maka amar putusan ditingkat Banding disamping menyatakan putusan Pengadilan Agama Batal Demi Hukum, harus mengadili sendiri atau memerintahkan kepada Pengadilan tingkat Pertama untuk memeriksa ulang dan memutuskan perkaranya.

(5)

Laporan Tahunan PA Sukabumi 2010 5

12. Untuk kepastian hukum, Putusan izin ikrar talak yang tidak dilaksanakan setelah lewat tenggang waktu 6 bulan dari tanggal Penetapan Hari Sidang pengucapan ikrar talak, perlu adanya penetapan yang menyatakan bahwa putusan tentang izin ikrar talak tersebut sudah tidak berkekuatan hukum lagi.

B. Visi dan Misi Visi :

Terwujudnya Pengadilan Agama Sukabumi sebagai Peradilan Negara yang mandiri, bermanfaat dan dihormati dalam melayani dan mengayomi tuntutan masyarakat pencari keadilan.

Misi :

1. Mewujudkan Pengadilan Agama Sukabumi yang independen,mandiri dan bermartabat sebagai Peradilan Negara dan sebagai Penegak Hukum yang mampu memberikan pelayanan hukum dan keadilan untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat.

2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada Pengadilan Agama Sukabumi melalui pelaksanaan sistem pembinaan dan pengawasan mekanisme kerja baik bidang yudisial maupun non yudisial.

3. Menciptakan mekanisme kerja organisasi dan kinerja Pengadilan Agama Sukabumi yang tertata rapi dan sistematis dengan menerapkan manajemen modern dan transparansi dalam pengawasan ketatausahaan serta keperkaraan yang berbasis pemanfaatan teknologi informasi.

4. Menciptakan koordinasi dan kerja sama antara Lembaga Peradilan dan antar instansi terkait yang berbasis pada keterpaduan sistem manajemen pelayanan publik internal dan eksternal yang professional.

(6)

Laporan Tahunan PA Sukabumi 2010 31

C. Rencana Strategis

RENCANA STRATEGIS PENGADILAN AGAMA SUKABUMI TAHUN 2008 – 2013

NO VISI MISI TUJUAN SASARAN CARA PENCAPAIAN TUJUAN DAN SASARAN

KEBIJAKAN PROGRAM KEGIATAN

1 2 3 4 5 6 7 8

1. Terwujudnya Pengadilan Agama Sukabumi sebagai Peradilan Negara yang man-diri, bermartabat dan dihormati da-lam melayani dan mengayomi tun-tutan masyarakat Mewujudkan Peng-adilan Agama Sukabumi yang independen, man-diri dan bermarta-bat sebagai Peng-adilan Negara dan sebagai Penegak Hukum yang mampu memberi- Mewujudkan pro-ses pemeriksaan perkara yang mandiri dan bebas dari cam-pur tangan pihak lain; 1. Terwujudnya putusan yang berkualitas 2. Terciptanya rasa keadilan masyarakat Memberi petunjuk proses beracara yang benar, tepat dan cepat. 1. Mengadakan pertemuan rutin 2. Menyelengga-rakan diskusi 1. Melaksanakan pe-nyuluhan hukum; 2. Pembinaan aparatur

pencari keadilan kan pelayanan hu-kum dan keadilan untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat; Mewujudkan transparansi in-formasi tentang proses berper-kara Terciptanya pela-yanan yang me-muaskan untuk masyarakat pen-cari keadilan

Menyediakan sa-rana informasi melalui humas dan media internet

Pengadaan sarana untuk informasi ten-tang peradilan

1. Menyediakan kom-puter khusus untuk program aplikasi informasi perkara 2. Mengoptimalkan pemakaian dan update data SIADPA Meningkatkan pelayanan kepa-da masyarakat pencari keadilan 1. Terwujudnya pelayanan pe-nerimaan per-kara secara tertib 2. Terciptanya proses berper-kara yang baik dan benar

1. Menyelenggara-kan prosedur penerimaan per-kara secara ter-tib dan ditangani oleh pejabat ter-tentu 2. Ditetapkannya Majelis Hakim 1. Peningkatan mutu pelayanan kepada pencari keadilan dalam penerimaan perkara 2. Penyelesaian putusan yang baik dan benar serta tepat waktu

1. Menyelesaikan sisa perkara tahun lalu; 2. Menerima

pendaf-taran perkara de-ngan tertib;

3. Mengefektifkan program aplikasi SIADPA dalam pe-nerimaan pendaf-taran perkara

(7)

Laporan Tahunan PA Sukabumi 2010 32 1 2 3 4 5 6 7 8 4. Menyampaikan putusan/penetapan sesuai peraturan 2. Meningkatkan

kua-litas sumber daya manusia pada Pengadilan Agama Sukabumi melalui pelaksanaan sys-tem pembinaan dan pengawasan meka-nisme kerja baik bidang yudisial maupun non yudisial Meningkatkan profesionalisme aparat Terwujudnya aparatur peradil-an yperadil-ang profesio-nal 1. Menugaskan aparat untuk mengikuti pela-tihan yang di-programkan oleh MARI dan PTA; 2. Memotifasi

apa-rat untuk melan-jutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan menjadi dosen di Perguruan Tinggi sekitar 1. Penyampaian hasil pelatihan dalam pembinaan pegawai; 2. Pengusulan izin belajar untuk pe-gawai yang me-lanjutkan pendi-dikan ke jenjang yang lebih tinggi

1. Menyelenggarakan pembinaan rutin; 2. Menyelenggarakan

diskusi rutin dengan kajian Bindalmin dan permasalahan hukum; 3. Eksaminasi berkas perkara; 4. Mengikuti seminar/ lokakarya 3. Menciptakan

meka-nisme kerja organi-sasi dan kinerja Pengadilan Agama Sukabumi yang ter-tata rapi dan siste-matis dengan me-nerapkan manaje-men modern dan transparansi dalam pengawasan keta-tausahaan serta keperkaraan yang berbasis peman-faatan teknologi informasi Meningkatkan kinerja sesuai dengan peratur-an dperatur-an kode etik

Terciptanya kinerja pegawai sesuai dengan yang ditentukan peraturan dan kode etik dengan berbasis peman-faatan teknologi informasi 1. Melaksanakan pembinaan ter-hadap sistem kerja pegawai; 2. Mengaktifkan sistem peng-awasan terhadap kinerja pegawai 1. Peningkatan disiplin dan kwa-litas sumber daya manusia dibidang teknologi infor-masi 2. Peningkatan sis-tem pengawasan 1. Menata kembali sistem kinerja seluruh pegawai; 2. Mengoptimalkan penggunaan sistem aplikasi dan tekno-logi informasi dalam pelaksanaan tugas administrasi;

3. Melakukan peng-awasan terhadap disiplin dan kinerja pegawai secara optimal dan periodik

4. Menciptakan

koor-dinasi dan kerja sama antara lem-baga Peradilan dan

Meningkatkan ko ordinasi dan ker-ja sama dengan instansi terkait Terwujudnya koordinasi yang harmonis dan dinamis Membuka kran kerja sama dengan instansi terkait Proaktif melakukan koordinasi dengan instansi terkait 1. Memenuhi undang-an dari instansi manapun;

(8)

Laporan Tahunan PA Sukabumi 2010 33

1 2 3 4 5 6 7 8

antar instansi ter-kait yang berbasis pada keterpaduan sistem manajemen pelayanan publik internal dan ekster-nal yang profess-sional

2. Mengundang in-stansi lain dalam kegiatan PA Sukabumi; 3. Memberikan pertim-bangan hukum pada pemerintah daerah 4. Mengikuti rapat koordinasi yang diselenggarakan Pemda

Referensi

Dokumen terkait

Selan itu, dalam ayat (4) “Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan keberatan terhadap dokumen amdal” juga tidak diikuti penjelasan, sehingga dapat

Beberapa jenis ikan pada gambar dapat menyimpan udara sehingga dapat hidup di air kotor yang kekurangan 0 2• Ciri khusus yang terdapat pad a kelompok hewan terse but

Proses pembelajaran yang baik haruslah dilaksanakan secara menyenangkan sebagaimana disampaikan dalam Peraturan Pemerintah No 32 (2013) bahwa proses pembelajaran pada

Implementasi Pendekatan Saintifik dalam Langkah-Langkah Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam Jurnal Safina.. Mahnun, Nunu Media

Respon siswa merupakan tanggapan/ pendapat siswa terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan yang meliputi sikap siswa terhadap pelajaran matematika, cara guru mengajar,

22.. memberikan pendidikan formal di sekolah masing-masing, selain pendidikan formal dari pihak panti juga mendatangkan pengajar dari luar lembaga untuk menunjang kemampuan

Sasaran Strategis Meningkatkan Kompetensi Pegawai di Lingkungan Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah ditentukan oleh adanya 2 (dua) Indikator Kinerja Utama,

Suatu kenyataan yang sangat memilukan bahwa pembantaian terhadap Bosnia terjadi di hadapan sejumlah negara dengan kekuatan militer unggul namun mereka hanya