26 A. Pengertian Strategi
Suatu strategi mempunyai dasar atau skema untuk mencapai sasaran yang dituju. Jadi pada dasarnya strategi (strategy) adalah alat untuk mencapai tujuan jangka panjang.28 Strategi merupakan faktor yang penting dalam pencapaian tujuan perusahaan. Keberhasilan suatu usaha tergantung pada kemampuan pimpinan yang bersangkutan dalam merumuskan strategi yang digunakan. Strategi yang digunakan oleh berbagai perusahaan sangat tergantung dari tujuan perusahaan, keadaan perusahaan dan lingkungan yang ada.29
Tujuan utama adanya strategi adalah proses untuk mencapai pemahaman dan komitmen dari semua manajer dan karyawan untuk mencapai tujuan badan usaha.30 Tujuan bisa jangka panjang, yaitu yang ingin dicapai dalam kurun waktu lebih dari 1 tahun (1-5 tahun yang akan datang), dan tujuan jangka pendek, yaitu yang ingin dicapai dalam kurun waktu 1 tahun atau kurang. Ada pula tujuan strategi, yaitu yang ingin dicapai agar posisi dan daya saing bisnis makin kuat. Disamping itu ada tujuan finansial, yaitu target yang ditentukan manajemen bertalian dengan kinerja finansial.31
28 Fred R David, Manajemen Strategi, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), hlm. 16-17.
29 Thomas Secokusomo, Analisis Strategi Kontemporer : Konsep.Teknik. Aplikasi,hlm. 11.
30 Fred R David, Manajemen Strategi, hlm. 23.
31
B. Pengertian Penghimpunan Dana
Kegiatan usaha yang utama adalah penghimpunan dana dan penyaluran dana. Penyaluran dana bertujuan memperoleh penerimaan dapat dilakukan apabila dana telah dihimpun. Penghimpunan dana dari masyarakat perlu dilakukan dengan cara-cara tertentu sehingga efisien dan dapat disesuaikan dengan rencana penggunaan dana tersebut. Keberhasilan suatu bank dalam memenuhi maksud itu dipengaruhi hal-hal berikut.
1. Kepercayaan masyarakat pada bank yang bersangkutan. Gambaran sebuah bank secara umum dimata masyarakat sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat pada bank tersebut.
2. Perkiraan tingkat pendapatan yang akan diperoleh oleh penyimpan dana relatif terhadap pendapatan dari alternatif investasi lain dengan tingkat risiko yang seimbang.
3. Risiko penyimpanan dana. Apabila sebuah bank dapat memberikan tingkat kepastian yang tinggi atas dana masyarakat untuk dapat ditarik lagi sesuai waktu yang telah dijanjikan, maka masyarakat semakin bersedia untuk menempatkan dananya di bank tersebut.
4. Pelayanan yang diberikan oleh bank kepada penyimpan dana. Pelayanan yang baik akan membuat penyimpan dana merasa dihargai, diperhatikan dan dihormati sehingga merasa senang untuk terus bertransaksi keuangan dengan bank tersebut. Pelayanan ini bisa berupa pelayanan dari petugas bank, pemberian hadiah, atau pemberian fasilitas lain.32
32
C. Uraian Mengenai Strategi Penghimpunan Dana
Kegiatan strategi penghimpunan dana dari masyarakat perlu dilakukan dengan cara-cara tertentu sehingga efisien dan dapat disesuaikan dengan rencana penggunaan dana tersebut. Cara-cara yang dimaksud diantaranya adalah:
1) Menyadari Pentingnya Iklan dari Mulut ke Mulut dari Para Nasabah yang Puas.
Iklan adalah semua bentuk penyajian dan promosi nonpersonal atas ide, barang, atau jasa yang dilakukan oleh bank sponsor tertentu.Karena periklanan merupakan promosi nonpersonal, periklanan menggunakan media, antara lain: TV, radio, kemasan, katalog, brosur, leaflet, majalah, billboard, spanduk, simbol, logo, balon udara, mobil box, bahan-bahan audio visual, film.33
Bentuk promosi seperti ini bergantung pada terwujudnya pelayanan yang baik, karena dari para penabung yang merasa nyaman dan puas atas apa yang diperoleh selama menjadi anggota pada suatu bank, menjadi alat iklan yang efektif.34 Iklan yang paling efektif bagaimanapun bentuknya adalah yang mengaitkan dengan jelas kebutuhan atau hasrat calon nasabah akan jasa-jasa tertentu yang sanggup dan ingin diberikan bank.
33 Herry Sutanto dan Khaerul Umam, Manajemen Pemasaran Bank Syariah, (Bandung:
Pustaka Setia, 2013), hlm. 383.
34 Soetanto Hadinoto, Strategi Pendanaan Bank dan Manajemen Pasiva, (Jakarta: PT Elex
Oleh karena itu, adalah penting bagi pembuat kebijaksanaan untuk menentukan bukan saja berapa besar bank akan mengeluarkan biaya untuk iklan tetapi juga untuk menilai dan tetap menilai lagi efektivitas program bank dalam hubungan masyarakat.35
2) Pembinaan Nasabah Simpanan
Pembinaan Nasabah Simpanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh petugas/pejabat bank dalam upaya menciptakan hubungan yang harmonis dan positif antara bank dengan nasabah simpanan sehingga tercapai kepuasan bersama yang berkelanjutan. Dari pengertian tersebut diharapkan bahwa dengan pembinaan nasabah yang dilakukan secara berkesinambungan nasabah akan mengetahui pula tentang syarat-syarat, ketentuan serta hak dan kewajibannya sebagai nasabah simpanan.
Mengingat hubungan bank dengan nasabah merupakan hubungan kemitraan (mitra bisnis) maka tujuan akhir dari pembinaan nasabah simpanan adalah untuk mengembangkan usaha bank.
Adapun tujuan pembinaan nasabah simpanan di bank adalah:
1. Nasabah dapat memahami segala ketentuan tentang hak dan kewajibannya, yang telah disepakati bersama.
2. Petugas/pejabat bank dapat mengantisipasi apabila terjadi complain atau penyimpangan.
3. Pelaksanaan waskat (pengawasan melekat) terhadap mekanisme kerja pelayanan nasabah dapat dievaluasi dengan baik.
35 Muchdarsyah Sinungan, Manajemen Dana Bank, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), hlm.
4. Memberi masukan pengelolaan keuangan nasabah.36 3) Tabungan Berhadiah
Gemerlapnya hadiah yang kini marak ditawarkan banyak bank, pertama kali justru dirintis di Bali, yakni dari Bank Dagang Bali dengan nama Tabungan Berhadiah (sejak tahun 1971). Menurut pengamat penulis, tabungan berhadiah di negara berkembang, seperti Indonesia, masih diperlukan karena adanya pengaruh kultur; sebagian besar masyarakat penabung masih tertarik dengan hadiah-hadiah.
Biasanya, bank membuat brosur berwarna yang menampilkan gambar hadiah-hadiah yang menarik. Isi brosur menekankan pada keuntungan-keuntungan yang akan diterima para penabung.37
4) Peningkatan Dana Bank Melalui SDM/Training
Training adalah pelatihan yang diberikan kepada pegawai baik dalam bentuk in class (belajar di kelas) maupun on the job training (praktik langsung di lapangan) tentang staff skill atau hard skill yang dibutuhkan seorang pegawai dalam menunjang produktivitas kerjanya. Tujuan training bagi pegawai bank adalah untuk:
1. Melatih atau meningkatkan kecakapan pegawai baik dari segi staf skill maupun hard skill.
2. Memotivasi pegawai untuk bekerja lebih baik.
3. Meningkatkan kemampuan produktivitas perusahaan.
36 Soetanto Hadinoto, Strategi Pendanaan Bank dan Manajemen Pasiva, hlm. 81-82.
37
4. Mendorong pemahaman nilai-nilai perusahaan dan menanamkan kepada setiap pegawai agar memiliki perilaku yang sesuai dengan kode etik bank.38
Khusus untuk meningkatkan dana bank, diperlukan pendidikan aplikasi untuk mendidik para calon Saving Officer dengan dibekali pengetahuan antara lain: Soft Skill ( keterampilan berkomunikas), juga tentang, manajemen pendanaan dan pengetahuan komputer serta internet. Pendidikan ini berlangsung kurang lebih 1 (satu) bulan disertai on the job
training dan outbond di tempat-tempat di luar kota.
Setelah mereka mendapatkan pengetahuan dana tersebut, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan di kantor-kantor cabang bank, terutama di kota-kota besar. Selanjutnya setelah itu mereka diperlukan, menambah pengetahuan, pendidikan, pendanaan yang lebih meningkat. Dengan cara ini diharapkan para staff officer dapat melaksanakn tugasnya dengan lebih terampil agar dapat menghasilkan pengetahuan yang inovatif dan menghaslkan peningkatan dana yang lebih baik di bank yang bersangkutan.39
D. Wadi’ah Yad adh-Dhamanah sebagai akad produk Sitabel
Dalam kegiatan penghimpunan dana, khususnya produk Sitabel, pihak BMT menggunakan akad Wadi’ah Yad adh-Dhamanah.
38 Ibid., hlm. 129.
39
1. Pengertian Al-Wadi’ah
Dalam tradisi fiqih Islam, prinsip titipan atau simpanan dikenal dengan prinsip al-wadi’ah. Al-wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki. Sedangkan pengertian dari Wadi’ah Yad adh-Dhamanah yaitu pihak yang menerima titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan.40
Wadi’ah Yad adh-Dhamanah memiliki karakteristik seperti berikut ini.
a. Harta dan barang yang dititipkan boleh dan dapat dimanfaatkan oleh yang menerima titipan.
b. Karena dapat dimanfaatkan, barang dan harta yang dititipkan tersebut tentu menghasilkan manfaat. Sekalipun demikian, tidak ada keharusan bagi penerima titipan untuk memberikan hasil pemanfaatan kepada si penitip.
c. Produk perbankan yang sesuai dengan akad ini yaitu giro dan tabungan.
d. Bank Konvensional memberikan jasa giro sebagai imbalan yang dihitung berdasarkan persentase yang telah ditetapkan. Adapun pada Bank Syariah, pemberian bonus (semacam giro) tidak boleh
40
disebutkan dalam kontrak ataupun dijanjikan dalam akad, tetapibenar-benar pemberian sepihak sebagai tanda terima kasih dari pihak bank. e. Jumlah pemberian bonus sepenuhnya merupakan kewenangan
manajemen Bank Syariah karena pada prinsipnya dalam akad ini penekanannya adalah titipan.
f. Produk tabungan juga dapat menggunakan akad wadi’ah karena pada prinsipnya tabungan mirip dengan giro, yaitu simpanan yang bisa diambil setiap saat. Perbedaannya, tabungan tidak dapat ditarik dengan cek atau alat lain yang dipersamakan.41
2. Landasan syariah Al-Wadi’ah 1. Al-Qur’an
ِئ
اٍَِلٌَْأ َىلِئ ِتاَواَمَلأْا اَُّْدَإُت ْنَأ ْمُكُزُمْأَي َللها َّن
...
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya …" (an-Nisa’: 58)
ًَُّبَر ًََّللا ِقَّتَيْلََ ًَُتَواَمَأ َهِمُتْؤا يِذَّلا ِّدَإُيْلَف اًضْعَب ْمُكُضْعَب َهِمَأ ْنِاَف
. . .
...“ ... Maka jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya ...” (al Baqarah: 283)
ِدُُْقُعْلاِب اُُْفََْأ اُُْىَمآ َهْيِذَّلا اٍَُّيَأاَي
…
"Hai orang yang beriman! Penuhilah aqad-aqad itu …" (al-Ma’idah:1) 2. Al-Hadits
Hadis riwayat Abu Dawud dan al-Tirmidzi:
41
َكَواَخ ْهَم ْهُخَت َلاََ َكَىَمَتْئا ِهَم ىَلِئ َةَواَمَلأْا ِّدَأ
(
لاقَ ،يذمزتلاَ دَاد ُبأ ياَر
هسح ثيذح
)
“Sampaikanlah (tunaikanlah) amanat kepada yang berhak menerimanya dan jangan membalas khianat kepada orang yang telah menghianatimu.” (HR Abu Dawud dan menurut Tirmidzi hadits ini hasan, sedang Imam Hakim mengkategorikannya sahih).
3. Ijma
Para tokoh ulama Islam sepanjang zaman telah melakukan ijma (konsensus) terhadap legitimasi al-wadi’ah karena kebutuhan manusia terhadap hal ini jelasterlihat, seperti dikutip oleh Dr. Azzuhaily dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu dari kitab al-Mughni wa Syrh Kabir li Ibni Qudhamah dan Mubsuth li Imam Sarakhsy.42
3. Rukun dan syarat al-Wadi’ah
Menurut Syafi’iyah al-wadi’ah memiliki tiga rukun, yaitu:
a. Barang yang dititipkan, syarat barang yang dititipkan adalah barang atau benda itu merupakan sesuatu yang dapat dimiliki menurut Syara’. b. Orang yang menitipkan dan yang menerima titipan, disyaratkan bagi penitip dan penerima titipan sudah baligh, berakal, serta syarat-syarat lain yang sesuai dengan syarat-syarat berwakil.
c. Shighat ijab dan kabul al-wadi’ah, disyaratkan pada ijab kabul ini dimengerti oleh kedua belah pihak, baik dengan jelas maupun samar.43
Rukun dari akad titipan wadiah yang harus dipenuhi dalam transaksi yaitu sebagai berikut:44
42 Ibid., hlm. 85-86.
43
a) Barang atau uang yang disimpan/dititipkan (wadiah).
b) Pemilik barang atau uang yang bertindak sebagai pihak yang menitipkan (muwaddi).
c) Pihak yang menyimpan atau memberikan jasa custodian (mustawada). d) Ijab qabul (siqhat).
Syarat- syarat yang harus ada pada akad wadiah, yaitu:45 a) Baligh, sudah cukup umur.
b) Berakal, tidak mengalami gangguan kejiwaan
c) Barang titipan disyaratkan harus bisa dipegang atau tetap dalam genggaman tangan seseorang.
Syarat wadiah yang harus dipenuhi adalah syarat mengenai bonus sebagai berikut:46
a) Bonus merupakan kebijakan dari (prerogatif) penyimpan. b) Bonus tidak disyaratkan sebelumnya.
4. Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN)
Tabungan diatur dalam Fatwa DSN No. 02/DSN-MUI/IV/2000. Pada Fatwa ini disebutkan ketentuan mengenai tabungan yang berdasarkan akad Wadiah, yaitu:
a. Bersifat Simpanan.
b. Simpanan bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepakatan.
44
Sunarto Zulkifli, Panduan Praktis Perbankan Syariah, (Jakarta: Zikrul Hakim, 2003), hlm. 34.
45 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008),
hlm. 174.
46
c. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian ('athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.47
5. Praktek Wadiah Yad Adh-Dhamanah di Lembaga Keuangan Syariah Mengacu pada wadiah yad adh-dhamanah, Bank sebagai penerima simpanan dapat memanfaatkan wadiah yad adh-dhamanah, untuk tujuan sebagai berikut:
a. Current account (giro)
b. Saving account (tabungan berjangka)
Sebagai konsekuensi dari wadiah yad adh-dhamanah, semua keuntungan yang dihasilkan dari dana titipan tersebut menjadi milik bank. Sebagai imbalan, si penyimpan mendapat jaminan keamanan terhadap hartanya, demikian juga fasilitas-fasilitas tabungan berjangka lainnya.
Sungguhpun demikian, bank sebagai penerima titipan, sekaligus juga pihak yang telah memanfaatkan dana tersebut, tidak dilarang untuk memberikan semacam insentif berupa bonus dengan catatan tidak disyaratkan sebelum dan jumlahnya tidak ditetapkan dalam nominal atau presentase secara advance. Tetapi betul-betul merupakan kebijaksanaan dari manajemen lembaga keuangan syariah untuk memberikan bonus atau insentif.48
47 M. Ichwan Sam, dkk, Himpunan Fatwa Keuangan Syariah, (Penerbit Erlangga, 2014),
hlm. 53
48
6. Skema al-Wadi’ah Yad adh-Dhamanah Gambar 2.1
Skema al-Wadi’ah Yad adh-Dhamanah 1. Titipan Dana
4. Beri Bonus
3. Bagi Hasil 2. Pemanfaatan Dana NASABAH Muwaddi’ (Penitip) BANK Mustawda’ (Penyimpan) UNSER OF FUND (Nasabah Pengguna Dana)