• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada dasarnya SDN I Ilomata didirikan pada tahun Sekolah ini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada dasarnya SDN I Ilomata didirikan pada tahun Sekolah ini"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

34 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada dasarnya SDN I Ilomata didirikan pada tahun 1967. Sekolah ini dipimpin oleh kepala sekolah yang bernama Harun Dj. Nur, S.Pd. Sekolah ini berada di Desa Ilomata Kecmatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara. Sekolah ini terdiri dari atas 9 buah ruangan, di antarnya difungsikan sebagai ruang kepala sekolah, Perpustakaan, dewan guru dan ruangan lainnya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Secara lengkap dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 1.1

Keadaam Sarana dan Prasarana Pendidikan di SDN 1 Ilomata Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara

No Jenis Bangunan Jumlah Keterangan

1 2 3 4 5 6 7

Ruang Kepala Sekolah Ruang Dewan Guru Ruang Perpustakaan

Ruang Belajar Kantin Sekolah Kamar Mandi/WC Guru Kamar Mandi/WC Siswa

1 Buah 1 Buah 1 Buah 6 Biah 1 Buah 1 Buah 1 Buah Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Sumber Data: SDN I Ilomata Kecamatan Atinggola. 2013

(2)

35 Terkait dengan siswa, maka berikut disajikan data siswa sesuai dengan tingkatan kelas di SDN I Ilomata tahun ajaran 2012/2013:

Tabel 1.2

Keadaan Siswa Di SDN I Ilomata

No Kelas Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. KELAS I KELAS II KELAS III KELAS IV KELAS V KELAS VI 19 Orang 20 Orang 21 Orang 26 Orang 28 Orang 30 Orang JUMLAH 144

Sumber data: SDN I Ilomata Kecamatan Atinggola.

Tabel di atas menunjukan bahwa jumlah siswa SDN 1 Ilomata Kecamatan Atinggola adalah 144 orang yang tersebar pada 6 tingkatan kelas.

Terkait data guru dapat dilihat dari Tabel berikut ini: Tabel. 1.3

Data Guru SDN I Ilomata

No Nama Guru Jabatan

1 Harun Dj. Nur, S.Pd Kepala Sekolah 2 Amir Mahmud Guru Kelas 3 Nikson Dunggio, S.Pd Guru Kelas 4 Heldi Buhang, S.Pd Guru Kelas 5 Non Hula, S.Pd Guru Kelas 6 Witin Lahabila, S.Pd GMP

7 Jurnain Dangkua, S.PdI Guru Agama 8 Indria Ningsih Dunggio GMP

(3)

36 4.1.1 Temuan Umum

Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai data dan hasil wawancara yang telah dilakukan dari semua sumber informan tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada pembelajaran PKn di SDN 1 Ilomata Kecamatan Atinggola, temuan yang dikemukakan pada bagian ini berdasarkan pada paparan data yang diperoleh di lapangan dan dirumuskan berdasarkan interpretasi data.

Penyajian temuan tersebut bertujuan untuk menjawab permasalahan penelitian. Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab terdahulu. Atas dasar fokus penelitian dan paparan data yang telah disajikan sebelumnya. Akhirnya dihasilkan temuan-temuan. Adapun aspek-aspek temuan umum dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Guru mengajarkan materi pada pembelajaran PKn selama ini telah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw di SDN 1 Ilomata Kecamatan Atinggola. Tujuan dilaksanakan pembelajaran menggunakan model ini yaitu ntuk memeproleh sejumlah siswa dengan hasil belajar yang di atas rata-rata ketuntasan sekolah.

Adapun hasil penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini menurut guru pengajar melalui hasil wawancara adalah dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pembelajaran PKn lebih menarik untuk diajarkan dan siswa terlihat senang menerima pelajaran. Hal ini terjadi karena guru menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan penyajian kelas dan selama pembelajaran, guru memberikan kuis untuk mengevaluasi dan memberikan penghangatan

(4)

37 suasana. Di samping itu, guru pengajar meberikan penghargaan bagi kelompok yang menyajikan hasil kerjanya dengan baik di depan kelas. Dengan adanya kuis yang dikerjakan secara mandiri dan kerja sama siswa dalam menjawab LKS, kemudian bagi mereka yang sangat baik pekerjaannya diberikan penghargaan maka hal ini membuat pembelajaran saat itu berlangsung menarik, aktif dan menyenangkan.

Dengan demikian secara umum ditemukan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sangat membantu guru dalam meningatkan kualitas pembelajaran PKn. Guru merasa terbantu dalam mengatasi berbagai prblem yang dihadapi di kelas.

4.1.2 Temuan Khusus

a) Penerapan Model Pembelajaran Cooperatif Learning Tipe Jigsaw dalam pembelajaran PKn di SDN 1 Ilomata

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diyakini dapat menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh siswa SDN I Ilomata pada pembelajaran PKn, karena model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya.

Menurut Elliot Aronson (Dalam Ibrahim dkk, 2000) langkah-langkah penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw adalah sebagai berikut:

(5)

38 a. Orientasi

Pendidik menyampaiakan tujuan pembelajaran yang akan diberikan. Memberikan penekanan tentang manfaat penggunaan metode Jigsaw dalam proses belajar mengajar. Mengingatkan senantiasa percaya diri, kritis, kooperatif dalam model belajaran ini. Peserta didik diminta belajar konsep secara ke seluruhan secara untuk memperoleh gambaran keseluran dari konsep. (Bisa juga pemahaman konsep ini menjadi tugas yang sebelumya harus sudah dibaca di rumah).

b. Pengelompokan

Misalkan dalam kelas ada 20 Siswa, yang kita tahu kemampuan matematikanya dan sudah dirangking (siswa tidak perlu tahu), kita bagi dalam bagi 25% (Rangking 1- 5) kelompok sangat baik, 25% (rangking 6 -10) kelompok baik, 25% selanjutnya (rangking 11-15) kelompok sedang, 25% (rangking 15 -20) Rendah.

c. Pembentukan dan pembinaan kelompok expert Selanjutnya group itu dipecah menjadi kelompok yang akan mempelajari materi yang kita berikan dan dibina supaya jadi expert, berdasarkan indeknya.

d. Diskusi (Pemaparan) kelompok ahli dalam group

Expertist (peserta didik ahli) dalam konsep tertentu ini, masing masing kembali dalam group semula. Pada fase ini ke -lima group (1-5) memiliki ahli dalam konsep-konsep tertentu (Workksheet 1 -4). Selanjutnya pendidik mempersilahkan anggota group untuk mempresentasikan keahliannya kepada groupnya masing-masing, satu persatu. Proses ini diharapakan akan terjadi

(6)

39 shearing pengetahuan antara mereka. Aturan dalam fase ini adalah: Siswa memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap anggota tim mempelajari materi yang diberikan.

- Memperolah pengetahuan baru adalah tangg ung jawab bersama, jadi tidak ada yang selasi belajar sampai setiap anggota menguasai konsep.

- Tanyakan pada anggota group sebelum tanya pada pendidik

- Pembicaraan dilakukan secara pelan agar tidak menggangu group lain. - Akhiri diskusi dengan “merayakannya” a gar memperoleh kepuasan.

e. Test (Penilaian).

Pada fase ini guru memberikan test tulis untuk dikerjakan oleh siswa yang memuat seluruh konsep yang didiskusikan. Pada test ini siswa tidak diperkenankan untuk bekerjasama. Jika pada saat belajar mereka saling bahumembahu untuk memperoleh konsep yang benar, maka pada saat penilaian ini mereka harus bekerja sendiri -sendiri, jika mungkin tempat dudknya agak dijauhkan.

f. Pengakuan Kelompok

Penilaian pada pembelajaran kooperatif berdasarkan skor peningkatan individu, tidak didasarkan pada skor akhir yang diperoleh siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata -rata skor sebelumnya. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi poin maksimum pada kelompoknya dalam sistem skor kelompok. Siswa m emperoleh skor untuk kelompoknya didasarkan pada skor kuis mereka melampaui skor dasar mereka. Perhitungan skor

(7)

40 peningkatan, dan kriteria penghargaan kelompok menggunakan kriteria berikut. Tabel Perhitungan Nilai Peningkatan.

Ini sejalan dengan apa yang diutarakan oleh guru SDN I Ilomata bahwa Permasalahan yang terjadi pada pembelajaran PKn adalah kurangnya morivasi siswa dalam belajar, karena materi dalam pembelajaran PKn kurang menarik perhatian siswa. (wawancara, Non Hula, S.Pd, 08 April 2013).

Selanjutnya beliau menuturkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi masalah pembelajaran dalam pembelajaran PKn adalah Motivasi siswa, minat, keterampilan guru dalam mengajar, metode yang digunakan, media, model pembelajaran yang tepat yang sesuai dengan pembelajaran dan karakteristik siswa.

b) Kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan model cooperative learning Tipe Jigsaw

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa permasalah-permasalahan yang dihadapi dan menjadi kendala antara lain:

1) keasadaran siswa kurang dan masih ada siswa yang tidak memperhatikan saat guru menjelaskan

2) kerjasama dalam kelompok belum berjalan optimal, karena para siswa masih terbiasa dengan model pembelajaran sebelumnya yaitu ekspositori, selain itu masih ada siswa yang hanya menunggu jawaban dari temannya 3) Kurangnya kekompakan dalam tim belajar di dalam kelas

4) manajemen waktu pelaksanaan pembelajaran oleh peneliti masih kurang

c. Upaya-upaya guru dalam Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw di SDN 1 Ilomata Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara

Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu guru memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya, serta kualitas belajarnya. Hal ini menuntut perubahan

(8)

41 dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelolah proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pengelolah proses belajar mengajar, bertindak selaku fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pengajaran yang baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai.

Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga ia mau belajar karena memang siswalah objek utama dalam belajar. Dalam menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif sedikitnya ada lima jenis variabel yang menentukan keberhasilan belajar siswa

Ini sejalan dengan penuturan (Wawancara, Heldi Buhang, S.Pd, 08 April 2013) bahwa upaya-upaya yang dilakukan seorang guru dalam mengatasi masalah pembelajaran Pkn yaitu yaitu : (1) melibatkan siswa secara aktif, (2) menarik minat dan perhatian siswa, (3) membangkitkan motivasi siswa, (4) prinsip individualitas, dan (5) peragaan dalam pengajaran. Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar. Dengan demikian, aktifitas siswa sangat dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswalah seharusnya banyak aktif. Dengan melihat bahwa aktifitas siswa sangat dibutuhkan, maka tentunya hal harus didukung oleh adanya minat dari siswa itu sendiri dalam belajar. Untuk itu dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn perlu adanya usaha-usaha sebagai berikut : (1) memberikan motivasi belajar kepada anak, (2) menggunakan metode belajar mengajar yang bervariasi, (3) meningkatkan kerjasama orang tua dan guru.

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang guru Pkn di SDN I Ilomata (Heldi Buhang, S.Pd, 08 April 2013) bahwa “Peningkatan dalam pembelajaran PKn terjadi karena selama proses belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, dengan model ini guru mendorong dan memotivasi siswa baik dalam kelompok asal maupun kelompok ahli.

(9)

42 Hal tersebut membuktikan bahwa proses belajar mengajar yang dikelola oleh guru telah menunjukkan ciri dari pembelajaran kooperatif. Seperti yang dikemukakan oleh Ibrahim (2000), bahwa terdapat 7 langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diantaranya adalah menyampaikan tujuan, memotivasi siswa dan memberi apersepsi pada tahap ini, guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran, memotivasi siswa belajar dan memberi apersepsi.

Kepala SDN I Ilomata (wawancara, Harun Dj. Nur, S.Pd, 09 April 2013) menjelaskan bahwa Secara psikologis model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini memberikan manfaat yang sangat besar terhadap siswa, antara lain : (1) memotivasi siswa untuk belajar giat karena adanya tekanan dari teman kelompoknya serta menyadari akan penilaian yang berkelanjutan, (2) menghilangkan rasa takut pada anak untuk mengungkapkan pendapatnya dan menjawab pertanyaan, dan (3) menumbuhkan kemampuan kerja sama siswa, berfikir kritis dan kemampuan membantu teman.

Hal ini sesuai dengan pendapat Khoirul dalam Supriyadi (2003) mengemukakan beberapa tujuan khusus model pembelajaran tipe Jigsaw diantaranya adalah mengkaji kebergantungan positif dalam menyampaikan dan menerima informasi diantara anggota kelompok untuk mendorong kedewasaan berfikir dan menyediakan kesempatan berlatih bicara (dan mendengar) untuk berlatih dalam menyampaikan informasi.

Heldi Buhang S.Pd (Wawancara, 11 Mei 2013) menjelaskan bahwa tahap-tahap pembelajaran kooperatif yang dilaksanakan di SDN I Ilomata meliputi Tahap persiapan, Kegiatan Inti, dan kegiatan akhir.

a. Persiapan

Kegiatan persiapan meliputi:

1) mengkomunikasikan tujuan yang akan dibahas, 2) memberi motivasi,

(10)

43 3) menjelaskan materi prasyarat,

4) memberi petunjuk sebelum siswa mengerjakan LKS. b. Kegiatan Inti

Kegiatan inti meliputi:

1) melatihkan keterampilan kooperatif,

2) mengawasi setiap kelompok secara bergiliran,

3) mendorong siswa agar meminta bantuan kepada teman sekelompok sebelum

meminta bantuan kepada guru,

4) memberikan bantuan kepada kelompok yang mengalami kesulitan dengan menggunakan scaffolding,

5) memberi umpan balik. b. Kegiatan Akhir meliputi:

1) membimbing siswa membuat kesimpulan, 2) mengajukan pertanyaan kuis.

c. Suasana Kelas

Suasana kelas dapat dilihat dari kegiatan siswa. 1) Antusias siswa mengerjakan LKS

2) Antusias guru dalam kegiatan pembelajaran.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh guru terhadap penerapan pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ternyata terjadi peningkatan yang signifikan pada hasil belajar siswa yaitu rata-rata siswa memiliki nilai 75 ke atas.

(11)

44 Upaya untuk perbaikan model pembelajaran yang diterapkan tersebut melalui deskripsi sebagai berikut:

1) Guru bersikap tegas dan mengingatkan kepada siswa untuk benar-benar memperhatikan supaya bisa mendapatkan peningkatan skor individu yang nantinya akan berpengaruh pada nilai kelompok. Dan bagi kelompok yang mencapai prestasi tinggi akan mendapatkan hadiah

2) Memberikan pengawasan yang lebih kepada siswa tersebut supaya peniliti bisa segera meminta siswa untuk ikut mengerjakan LKS

3) Peneliti memberikan batasan waktu yang lebih jelas untuk setiap aktivitas siswa selama proses pembelajaran agar seluruh aktivitas siswa berjalan baik.

4.2 Pembahasan

Konsep utama dari belajar kooperatif adalah sebagai berikut. Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memas tikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan yang lain. Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah sama -sama tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa kontribusi semua anggota kelompok sangat bernilai.

(12)

45 Pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw yang dilaksanakan di SDN I Ilomata telah memberikan hasil yang signifikan dalam peningkatan hasil pembelajaran siswa. Hasil observasi pada pembelajaran siswa menunjukkan bahwa siswa masih merasa asing dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Hal ini terlihat pada pertemuan pertama, siswa masih merasa asing dengan model pembelajaran ini dan masih kelihatan kaku dalam melakukan prosedur model pembelajaran ini, sehingga dalam keadaan ini suasana kelas ini terlihat gaduh. Untuk mengatasinya guru memberikan informasi yang lebih detail kepada siswa disaat mereka mulai kebingungan dalam kegiatan pembelajaran ini. Pemberian informasi ini dilakukan tidak hanya pertemuan pertama saja melainkan juga pada pertemuan berikutnya. Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dalam kelompok, persentase rata–rata aktivitas siswa yang memberikan perhatian penuh terhadap informasi yang diberikan hanya sekitar 77,8%. Dalam aspek ini terlihat bahwa masih ada siswa yang kurang memperhatikan penjelasan dari guru. Kemudian pada siklus II, rata – rata siswa yang memberikan perhatian penuh terhadap informasi yang diberikan sebesar 93,9%. Peningkatan ini terjadi karena selama proses belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini guru mendorong dan memotivasi siswa baik dalam kelompok asal maupun kelompok ahli. Hal tersebut membuktikan bahwa proses belajar mengajar yang dikelola oleh guru telah menunjukkan ciri dari pembelajaran kooperatif. Seperti yang dikemukakan oleh Ibrahim (2000), bahwa terdapat 7 langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diantaranya adalah menyampaikan tujuan, memotivasi siswa dan memberi apersepsi pada tahap ini,

(13)

46 guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran, memotivasi siswa belajar dan memberi apersepsi.

Hasil observasi terhadap aktivitas siswa yang mengerjakan materi LKS dalam kelompok sebesar 75,3%, ditemukan permasalahan siswa yaitu siswa yang hanya diam dan menunggu jawaban dari temannya ini disebabkan karena seringnya siswa mengerjakan tugas secara individu. Oleh karena itu, untuk perbaikan pada siklus selanjutnya maka guru akan memberikan penilaian kepada siswa yang mampu menyelesaikan LKS dengan benar untuk setiap kelompok selain itu guru juga harus terus membimbing siswa dalam kelompok sehingga siswa dapat mengerjakan LKS dengan terarah dan benar hal ini terlihat persentase aktivitas siswa yang mengerjakan LKS dalam kelompok mengalami peningkatan yaitu 92,8%. Menurut Ismail (2002), bahwa dalam pembelajaran kooperatif, selama proses belajar mengajar berlangsung, guru melatih dan memberikan bimbingan kepada kelompok belajar untuk menemukan penyelesaian suatu masalah. Persentase aktivitas siswa yang berdiskusi aktif dalam kelompoknya pada siklus I hanya sekitar 70,9%, kurangnya kerjasama siswa dikarenakan pada saat kerja kelompok didominasi oleh sebagian kecil siswa dan beberapa siswa tidak merasa bertanggung jawab kepada kelompoknya. Hal ini disebabkan karena masih ada siswa yang malu untuk berdiskusi karena merasa memiliki kemampuan yang kurang dibanding dengan teman sekelompoknya, sebagian siswa masih merasa tidak nyaman dengan anggota kelompok barunya yang semula selalu bekerja sama dengan teman sebangkunya, harus menyesuaikan diri dengan kelompok barunya. Hal ini terlihat dari suasana kelas yang gaduh saat kerjasama menyelesaikan soal. Suasana ini mulai kelihatan agak sedikit berkurang pada pertemuan selanjutnya terlihat semakin aktifnya siswa dalam menyelesaikan LKS dan sebagian besar siswa sudah mampu bekerja sama dalam kelompok. Guru melatih keterampilan kooperatif siswa dan juga memberikan informasi kepada siswa, pentingnya kerjasama atau berdiskusi dalam kelompok untuk memperoleh hasil belajar yang lebih baik secara individual, sehingga persentase aktivitas siswa dalam bekerjasama menyelesaikan soal dalam kelompok belajar pada mencapai 92,8%. Hal ini berarti siswa semakin aktif dan menyadari pentingnya kerjasama dalam kelompok untuk memberikan nilai terbaik untuk kelompoknya ketika proses pembelajaran tipe Jigsaw ini berlagsung. Persentase siswa yang mengajukan pertanyaan/ menanggapi pertanyaan diperoleh 48,6%. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian terhadap informasi yang diberikan sehingga tidak memahami pelajaran yang diajarkan serta kurangnya kerjasama antara siswa sehingga tidak terjadi pertukaran pikiran/pendapat serta ada 2– orang siswa dalam setiap kelompok yang tidak mengajukan ataupun menanggapi suatu pertanyaan karena merasa sukar untuk mengeluarkan pendapatnya serta merasa malu dan takut untuk menyampaikan pendapat maupun menjawab pertanyaan. Pemberian penghargaan/penguatan yang dilakukan oleh guru adalah untuk memacu semangat siswa dalam belajar sehingga siswa lebih termotivasi untuk menyampaikan pendapat atau menjawab pertanyaan dengan berani dan terbukti pada siklus II persentase aktivitas siswa mencapai 80,6%.

Gambar

Tabel di atas menunjukan bahwa jumlah siswa SDN 1 Ilomata Kecamatan  Atinggola adalah 144 orang yang tersebar pada 6 tingkatan kelas

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Khitbah secara syar’i mempunyai posisi sebagai janji untuk menikah pada waktu yang disepakati. Janji tersebut mengikat kedua pihak yang berjanji. seseorang yang

Untuk mendukung kinerja bidang keuangan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral agar mendapatkan penilaian WTP (wajar tanpa pengecualian) dari BPK (Badan

[r]

Untuk menguji penerbitan Surat Keputusan penetapan tanah terlantar telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sesuai dengan Asas-Asas Umum Pemerin- tahan

Jl.. ketinggian manakah metode yang dianggap lebih akurat tersebut efektif perhitungannya. Efisiensi perencanaan gedung ini akan dibandingkan melalui indikator biaya.

Wahai kaum guru semua Bangunkan rakyat dari gulita Kita lah penyuluh bangsa. Pembimbing melangkah

Pengeplotan ini adalah untuk memvisualisasikan hasil pengolahan data, yanag pertama yaitu nilai anomali TEC di setiap stasiun pengamatan, dan yang kedua adalah posisi