Achmad Benny Mutiara
Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Gunadarma SEKJEN-APTIKOM
2021
Manajemen Riset di Era Kebijakan
Merdeka Belajar - Kampus Merdeka
Latar Belakang
Kebijakan “Merdeka Belajar
dan
Kampus Merdeka ”
Permasalahan PT
di Indonesia:
Inefisien, otonomi, tata kelola, mutu, relevansi dgn kemajuan
Kampus Merdeka dapat
:
Mendobrak tembok antar disiplin keilmuan
Kurikulum yang lebih flexible
Modalitas pembelajaran bervariasi (experiential learning, community service/engaged learning)
Reformasi manajemen internal dan tata kelola
Tujuan: Lulusan yang lebih berkualitas dan relevan dengan kebutuhan
8 Indikator Kinerja Utama (
IKU
)
yang menjadi Landasan Transformasi Perguruan Tinggi1. Latar Belakang
Penelitian/Riset
Melalui penelitian mahasiswa dapat membangun cara berpikir kritis, hal
yang sangat dibutuhkan untuk berbagai rumpun keilmuan pada jenjang
pendidikan tinggi.
Dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa akan lebih mendalami, memahami, dan mampu melakukan metode riset secara lebih baik.
Bagi mahasiswa yang memiliki passion menjadi peneliti, merdeka belajar
dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan penelitian di Lembaga riset/pusat
studi.
Bagi mahasiswa yang memiliki minat dan keinginan berprofesi dalam bidang
riset, peluang untuk magang di laboratorium pusat riset merupakan
dambaan mereka.
Selain itu, Laboratorium/Lembaga riset terkadang kekurangan asisten peneliti saat mengerjakan proyek riset yang berjangka pendek (1 semester – 1 tahun).
2. Tujuan Kegiatan
Penelitian/Riset
Tujuan program penelitian/riset antara lain:
1.
Penelitian mahasiswa diharapkan dapat ditingkatkan mutunya.
Selain itu, pengalaman mahasiswa dalam proyek riset yang besar
akan memperkuat pool talent peneliti secara topikal.
2.
Mahasiswa mendapatkan kompetensi penelitian melalui
pembimbingan langsung oleh peneliti di lembaga riset/pusat
studi.
3.
Meningkatkan ekosistem dan kualitas riset di laboratorium dan
lembaga riset Indonesia dengan memberikan sumber daya
3. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan
Penelitian/Riset
Mekanisme pelaksanaan penelitian/riset
1)
Perguruan Tinggi:
a) Membuat kesepakatan dalam bentuk dokumen kerja sama (MoU/SPK) dengan mitra dari lembaga riset/laboratorium riset.
b) Memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengikuti seleksi hingga evaluasi program riset di lembaga/laboratorium riset di luar kampus.
c) Menunjuk dosen pembimbing untuk melakukan pembimbingan, pengawasan, serta bersama-sama dengan peneliti di lembaga/laboratorium riset untuk memberikan nilai.
d) Dosen bersama-sama dengan peneliti menyusun form logbook.
e) Melakukan evaluasi akhir dan penyetaraan kegiatan riset di lembaga/laboratorium menjadi mata kuliah yang relevan (SKS) serta program berkesinambungan.
f) Menyusun pedoman teknis kegiatan pembelajaran melalui penelitian/riset.
g) Melaporkan hasil kegiatan belajar ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi.
3. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan
Penelitian/Riset
2)
Lembaga Mitra:
a) Menjamin terselenggaranya kegiatan riset mahasiswa di lembaga mitra sesuai dengan kesepakatan.
b) Menunjuk pendamping untuk mahasiswa dalam menjalankan riset.
c) Bersama-sama dengan dosen pendamping melakukan evaluasi dan penilaian terhadap proyek riset yang dilakukan oleh mahasiswa.
3)
Mahasiswa:
a) Dengan persetujuan Dosen Pembimbing Akademik (DPA), mahasiswa mendaftarkan diri untuk program asisten riset.
b) Melaksanakan kegiatan riset sesuai dengan arahan dari Lembaga riset/pusat studi tempat melakukan riset.
c) Mengisi logbook sesuai dengan aktivitas yang dilakukan.
d) Menyusun laporan kegiatan dan menyampaikan laporan dalam bentuk laporan penelitian/skripsi atau publikasi ilmiah.
3. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan
Penelitian/Riset
4)
Dosen Pendamping/Pembimbing
a) Dosen pembimbing/pendamping program Asistensi Riset merupakan dosen tetap PT.
b) Dosen pembimbing merupakan dosen-dosen dari pengampu mata kuliah yang terkait dengan program asistensi riset.
c) Pembimbing/pendamping terdiri dari satu atau lebih dosen, sesuai dengan mekanisme yang terdapat pada Program Studi.
d) Dosen Pembimbing ditunjuk dan ditetapkan oleh Program Studi berdasarkan surat tugas.
e) Dosen pembimbing bersama-sama dengan peneliti (pembimbing lapangan) menyusun melakukan monitoring terhadap logbook mahasiswa.
3. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan
Penelitian/Riset
5)
Pembimbing/Pendamping Lapangan
a) Pembimbing/pendamping lapangan merupakan peneliti dari lembaga Riset yang merupakan lembaga mitra tempat mahasiswa melaksanakan program Asistensi Riset.
b) Pembimbing/pendamping lapangan ditunjuk dan ditetapkan oleh lembaga riset yang merupakan lembaga mitra tempat mahasiswa melaksanakan program
4. Bobot sks dan Kesetaraan Kegiatan
Penelitian/Riset
Ketentuan beban sks
dalam kegiatan ini mencapai total beban 20 sks atau
setara dalam satu semester kegiatan mahasiswa.
Penghitungan sks
untuk pembelajaran di luar kampus setara dengan 170
(seratus tujuh puluh) menit per minggu per semester, sehingga 1 (satu) sks
setara dengan 2.720 (dua ribu tujuh ratus dua puluh) menit kegiatan
mahasiswa (45,3 jam kegiatan).
Jadi 20 sks setara dengan 54.400
(lima puluh empat ribu empat ratus) menit
kegiatan atau 906 jam kegiatan.
5. Bentuk Kegiatan
Penelitian/Riset
Model kegiatan penelitian/riset adalah bentuk terstruktur (structured). Kegiatan penelitian juga dapat distrukturkan sesuai dengan kurikulum yang ditempuh oleh mahasiswa. Duapuluh sks tersebut dinyatakan dalam bentuk kesetaraan dengan mata kuliah yang ditawarkan yang kompetensinya sejalan dengan kegiatan penelitian
5. Bentuk Kegiatan
Penelitian/Riset
Kegiatan penelitian juga dapat distrukturkan sesuai dengan kurikulum yang ditempuh oleh mahasiswa juga dapat ditempuh dalam 2 semester atau 1 tahun yang disetarakan dengan 40 sks (1.812 Jam).
Empat puluh sks tersebut dinyatakan dalam bentuk kesetara-an dengan mata kuliah yang ditawarkan yang kompetensinya sejalan
dengan kegiatan penelitian.
Beban kegiatan dan sks penelitian mahasis-wa selama 2 semester sebagai berikut
APTIKOM
HUB –
Collabo-ration
KERJA-SAMA LN KERJA-SAMA ANTAR PT INFO-KOM KERJA-SAMA INDUS-TRIAPTIKOM INISIATIVE
IN SUPPORTING “KAMPUS MERDEKA”
KERJA-SAMA PEMERINT AH CENTRE OF EXCELL-ENCE PT-PT ANGGOTA APTIKOM K1 K2 K3 K4 K5 K6 PERTUKARAN MAHASISWA MAGANG MAHASISWA VISITING SCHOLAR/PROFESSOR DUAL DEGREE
KERJASAMA RISET DAN PUBLIKASI JOIN INTERNASIONAL CONFERENCE
K7 JOINT ON LINE COURSE MELALUI MOOC APTIKOM
K9 K8 KEGIATAN-KEGIATAN PELATIHAN WIRAUSAHA PENGABDIAN MASYARAKAT K8 K1 K3 K4 K5 K6 K7 K2 PUSAT INKU-BATOR BISNIS K9 K5 K1 K5 K8 K7 K8 PIB 1, PIB 2, DST COE3 COE4
SMART CITY R & D SMEs e-BUSINNES R & D
COE5 DIGITAL DEMOCRACY R & D
COE6 GREEN ENVIRONMENT & CIRCULAR ECONOMY R & D
COE7 E-CULTURAL HERITAGE & NATURAL HISTORY R & D
COE2 COE1
SMART SOCIETY & CIVILIZATION R & D MANUFACTURING INDUSTRY 4.0 R & D
PEMETAAN APTIKOM INISIATIF KE HAK MAHASISWA “KAMPUS MERDEKA”
KERJASAMA LUAR NEGERI KERJASAMA ANTAR PT-PT INFOKOM MAGANG---
---
PROYEK DESA---
---
MENGAJAR DI SEKOLAH---
---
PERTUKARAN MAHASISWA
PENELITIAN
KEGIATAN WIRAUSAHA---
---
PROYEK/ STUDI INDEPENDEN---
PROYEK KEMANUSIAAN---
K1 K3 K4 K5 K6 K7 K1 K5 K7 K8KERJASAMA INDUSTRI
KERJASAMA PEMERINTAH
CENTRE OF
EXECLLENCE PUSAT INKUBATOR BISNIS
MAGANG
---
---
---
PROYEK DESA---
---
MENGAJAR DI SEKOLAH---
---
---
PERTUKARAN MAHASISWA---
---
---
---
PENELITIAN---
---
---
KEGIATAN WIRAUSAHA---
---
---
PROYEK/ STUDI INDEPENDEN---
---
---
PROYEK KEMANUSIAAN---
---
---
PEMETAAN APTIKOM INISIATIF KE HAK MAHASISWA “KAMPUS MERDEKA”
Global Research Report –Feb-2021
From the Institute for Scientific Information (ISI) http://www.webofsciencegroup.com/isi
Kondisi
Indonesia
Riset Perguruan Tinggi
Ibarat Menara Gading
(Tinggi Tinggi di atas dan jauh dari jangkauan masyarakat)
banyak sekali riset yang sudah dibuat hanya disimpan atau dinikmati kalangan tertentu, yaitu para peneliti
di perguruan tinggi sendiri.
riset yang dilakukan di perguruan tinggi seyogyanya menghasilkan manfaat yang bisa digunakan oleh
masyarakat.
Dalam Forum Rektor Indonesia
(2016), Presiden Joko Widodo:
• bahwa hilirisasi riset harus
dilaku-kan agar riset yang dilakudilaku-kan oleh
perguruan tinggi benar-benar
da-pat dirasakan oleh masyarakat.
Melalui hasil risetnya, PT harus
da-pat berkontribusi dalam
pemba-ngunan lingkungan sekitar, tidak
ha-nya di dalam lingkungan kampus
Kondisi
Indonesia
Menteri Ristekdikti
Mohamad Nasir, pada
Sept.2015
• hilirisasi yang dimaksud
ada-lah implementasi metode hasil penelitian dalam ber-bagai hal, sehingga masya-rakat bisa turut menikmati hasilnya.
Misalnya riset yang
berorientasi pada manfaat, seperti cara untuk mencegah banjir atau riset yang dapat diaplikasikan di dunia industri.
Direktur RPM, Prof. Ocky
Karna Radjasa, Nov.
2015
• Hasil riset atau penelitian tak
boleh hanya berhenti menjadi laporan, dipubli-kasikan, dan dipatenkan saja. Namun,
harus sampai menjadi produk yang bisa dikomersialkan
untuk kese-jahteraan
masyarakat. Untuk hilirisasi
hasil penelitian, tak harus pada industri besar. Bisa juga
penerapannya langsung
menyentuh lapisan masyarakat (industri kecil). Hal ini juga
termasuk hilirisasi
Untuk memaksimalkan hilirisasi riset
• perguruan tinggi dapat bekerja sama dengan pemerintah maupun swasta.
• perlu meningkatkan kembali manajemen pengelolaan kampus dan kemampuan untuk mencari pendanaan secara kreatif.
Kondisi
Indonesia
Index kompetitif global
(2017-2018)
• Indonesia
36
• Singapura 32
• Malaysia 23
• Thailand 32
• (World Economic Forum,
2018).
Global Innovation Index (2018)
• Indonesia
85
• Singapura 5
• Malaysia 35
• Thailand 44
• Brunei Darussalam
Kriteria yang masih tergolong rendah bagi Indonesia antara lain institutions : kelembagaan,
innovation : daya inovasi, dan technology readiness : tingkat kesiapan teknologi yang dihasilkan lembaga riset Indonesia.
Kebijakan
Pemerintah
Beberapa kebijakan Kemdikbud dan Ristekbrin yang telah
dilakukan untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian
antara lain:
1.
Hibah,
2.
Beban kinerja dosen/BKD,
3.
Tingkat Kesiapterapan Teknologi,
4.
Evaluasi Kinerja penelitian dan pengabdian ke
masyarakat
Skema Kategori
Hibah Penelitian
A. Penelitian Kompetitif Nasional • Penelitian Dasar (PD) • Penelitian Terapan (PT) • Penelitian Pengem-bangan (PP)• Penelitian Dosen Pemu-la (PDP)
• Penelitian Kerjasama Antar Perguruan Tinggi (PKPT) • Penelitian Pascasarjana (PPS) B. Penelitian Desentralisasi • Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT) • Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) • Penelitian Pengem-bangan Unggulan Perguruan Tinggi (PPUPT) C. Penelitian Penugasan • Konsorsium Riset Unggulan Perguruan Tinggi (KRU-PT) • Kajian Kebijakan Strategis (KKS)
• World Class Research (WCR)
Skema Kategori
PkM
A. PkM Kompetitif Nasional
• Program Kemitraan Masyarakat (PKM)
• Program Kemitraan Masyarakat Stimulus (PKMS)
• Program KKN dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM)
• Program Pengembangan Kewirausahaan (PPK)
• Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD)
• Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK)
• Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM)
• Program Kemitraan Wilayah (PKW)
B. PkM Desentralisasi • Program Pemberdayaan Masyarakat Unggulan Perguruan Tinggi (PPMUPT) C. PkM Penugasan • Program Penerapan Ipteks kepada Masyarakat (PPIM)
Skema
Operasi dan Tipe Penelitian
Universitas
Kategori
Penelitian SKEMA-SKEMA
OPERASI TIPE PENELITIAN UNIVERSITAS
Kompetitif Nasional Desentralisasi Mandiri Utama Madya Binaan
SKEMA NASIONAL KOMPETITIF NASIONAL PENELITIAN DASAR - PENELITIAN TERAPAN - PENEITIAN PENGEMBANGAN - - PENEITIAN PENINGKATAN KAPASITAS
PENELITIAN DOSEN PEMULA (PDP) - - - -
PENELITIAN KERJASAMA ANTAR PERGURUAN
TINGGI (PKPT) - - -
PENELITIAN PASCASARJANA(PPS) – TESIS MAGISTER, DISERTASI DOKTOR, POST DOKTORAL, PMDSU - SKEMA DESENTRALISASI PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI PDUPT - PTUPT - PPUPT - SKEMA PENUGASAN
PENUGASAN PENELITIAN STRATEGIS
Beban
kinerja dosen/BKD
Laporan BKD antara lain:
1. Tugas pendidikan dan penelitian sedikit sepadan dengan 9 sks yang dilaksanakan di PT yang bersangkutan,
2. Tugas pengabdian kepada masyarakat dapat dilaksanakan melalui kegiatan
pengabdian kepada masyararkat yang diselenggarakan oleh PT yang bersangkutan atau melalui lembaga lain sesuai dengan peraturan perundangan undangan,
3. Tugas penunjang Tridharma PT dapat diperhitungkan sksnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan,
4. Tugas melakukan pengabdian kepada masyarakat dan tugas penunjang paling sedikit sepadan dengan 3 (tiga) sks,
5. Tugas melaksanakan kewajiban khusus bagi profesor sekurang-kurangnya sepadan dengan 3 sks setiap tahun.
Tingkat
Kesiapterapan Teknologi (TKT)
Salah satu tolok ukur hasil penelitian diarahkan sampai ke hilir
adalah
mengukur tingkat kesiapterapan teknologi
(TKT/technology readiness level atau TKT).
TKT
adalah
tingkat kondisi kematangan atau kesiapterapan suatu
hasil penelitian dan pengembangan teknologi tertentu
yang
diukur secara sistematis dengan tujuan untuk dapat diadopsi oleh
pengguna, baik oleh pemerintah, industri maupun masyarakat
Tingkat
Kesiapterapan Teknologi (TKT)
TKT merupakan ukuran yang menunjukkan tahapan atau tingkat kematangan
atau kesiapan teknologi pada skala 1–9, yang mana antara satu tingkat
dengan tingkat yang lain saling terkait dan menjadi landasan bagi tingkatan
berikutnya.
Hasil pengukuran TKT digunakan oleh (Daulay, 2016):
a) Pengambil kebijakan dalam merumuskan, melaksanakan, dan mengevaluasi program riset dan pengembangan,
b) Pelaku kegiatan dalam menentukan tingkat kesiapterapan teknologi untuk dimanfaatkan dan diadopsi, dan
Tingkat
Kesiapterapan Teknologi (TKT)
TKT mempunyai skala 1 sampai 9, skala tersebut adalah:
1) Prinsip dasar dari teknologi diteliti dan dilaporkan, 2) Formulasi konsep dan/atau aplikasi teknologi,
3) Pembuktian konsep (proof-of-concept) fungsi dan/atau karakteristik penting secara
analitis dan eksperimental,
4) Validasi komponen/subsistem dalam lingkungan laboratorium,
5) Validasi komponen/subsistem dalam suatu lingkungan yang relevan,
6) Demonstrasi model atau prototipe sistem/subsistem dalam suatu lingkungan yang relevan,
7) Demonstrasi prototipe sistem dalam lingkungan sebenarnya,
8) Sistem telah lengkap dan handal melalui pengujian dan demonstrasi dalam lingkungan sebenarnya,