• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Riset di Era Kebijakan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka dan Kelompok Riset

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Manajemen Riset di Era Kebijakan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka dan Kelompok Riset"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

Achmad Benny Mutiara

Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi, Universitas Gunadarma SEKJEN-APTIKOM

2021

Manajemen Riset di Era Kebijakan

Merdeka Belajar - Kampus Merdeka

(2)

Latar Belakang

Kebijakan “Merdeka Belajar

dan

Kampus Merdeka ”

 Permasalahan PT

di Indonesia:

 Inefisien, otonomi, tata kelola, mutu, relevansi dgn kemajuan

Kampus Merdeka dapat

:

 Mendobrak tembok antar disiplin keilmuan

 Kurikulum yang lebih flexible

 Modalitas pembelajaran bervariasi (experiential learning, community service/engaged learning)

 Reformasi manajemen internal dan tata kelola

 Tujuan: Lulusan yang lebih berkualitas dan relevan dengan kebutuhan

(3)

8 Indikator Kinerja Utama (

IKU

)

yang menjadi Landasan Transformasi Perguruan Tinggi

(4)
(5)
(6)
(7)

1. Latar Belakang

Penelitian/Riset

Melalui penelitian mahasiswa dapat membangun cara berpikir kritis, hal

yang sangat dibutuhkan untuk berbagai rumpun keilmuan pada jenjang

pendidikan tinggi.

 Dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa akan lebih mendalami, memahami, dan mampu melakukan metode riset secara lebih baik.

Bagi mahasiswa yang memiliki passion menjadi peneliti, merdeka belajar

dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan penelitian di Lembaga riset/pusat

studi.

Bagi mahasiswa yang memiliki minat dan keinginan berprofesi dalam bidang

riset, peluang untuk magang di laboratorium pusat riset merupakan

dambaan mereka.

 Selain itu, Laboratorium/Lembaga riset terkadang kekurangan asisten peneliti saat mengerjakan proyek riset yang berjangka pendek (1 semester – 1 tahun).

(8)

2. Tujuan Kegiatan

Penelitian/Riset

Tujuan program penelitian/riset antara lain:

1.

Penelitian mahasiswa diharapkan dapat ditingkatkan mutunya.

Selain itu, pengalaman mahasiswa dalam proyek riset yang besar

akan memperkuat pool talent peneliti secara topikal.

2.

Mahasiswa mendapatkan kompetensi penelitian melalui

pembimbingan langsung oleh peneliti di lembaga riset/pusat

studi.

3.

Meningkatkan ekosistem dan kualitas riset di laboratorium dan

lembaga riset Indonesia dengan memberikan sumber daya

(9)

3. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan

Penelitian/Riset

Mekanisme pelaksanaan penelitian/riset

1)

Perguruan Tinggi:

a) Membuat kesepakatan dalam bentuk dokumen kerja sama (MoU/SPK) dengan mitra dari lembaga riset/laboratorium riset.

b) Memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengikuti seleksi hingga evaluasi program riset di lembaga/laboratorium riset di luar kampus.

c) Menunjuk dosen pembimbing untuk melakukan pembimbingan, pengawasan, serta bersama-sama dengan peneliti di lembaga/laboratorium riset untuk memberikan nilai.

d) Dosen bersama-sama dengan peneliti menyusun form logbook.

e) Melakukan evaluasi akhir dan penyetaraan kegiatan riset di lembaga/laboratorium menjadi mata kuliah yang relevan (SKS) serta program berkesinambungan.

f) Menyusun pedoman teknis kegiatan pembelajaran melalui penelitian/riset.

g) Melaporkan hasil kegiatan belajar ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi.

(10)

3. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan

Penelitian/Riset

2)

Lembaga Mitra:

a) Menjamin terselenggaranya kegiatan riset mahasiswa di lembaga mitra sesuai dengan kesepakatan.

b) Menunjuk pendamping untuk mahasiswa dalam menjalankan riset.

c) Bersama-sama dengan dosen pendamping melakukan evaluasi dan penilaian terhadap proyek riset yang dilakukan oleh mahasiswa.

3)

Mahasiswa:

a) Dengan persetujuan Dosen Pembimbing Akademik (DPA), mahasiswa mendaftarkan diri untuk program asisten riset.

b) Melaksanakan kegiatan riset sesuai dengan arahan dari Lembaga riset/pusat studi tempat melakukan riset.

c) Mengisi logbook sesuai dengan aktivitas yang dilakukan.

d) Menyusun laporan kegiatan dan menyampaikan laporan dalam bentuk laporan penelitian/skripsi atau publikasi ilmiah.

(11)

3. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan

Penelitian/Riset

4)

Dosen Pendamping/Pembimbing

a) Dosen pembimbing/pendamping program Asistensi Riset merupakan dosen tetap PT.

b) Dosen pembimbing merupakan dosen-dosen dari pengampu mata kuliah yang terkait dengan program asistensi riset.

c) Pembimbing/pendamping terdiri dari satu atau lebih dosen, sesuai dengan mekanisme yang terdapat pada Program Studi.

d) Dosen Pembimbing ditunjuk dan ditetapkan oleh Program Studi berdasarkan surat tugas.

e) Dosen pembimbing bersama-sama dengan peneliti (pembimbing lapangan) menyusun melakukan monitoring terhadap logbook mahasiswa.

(12)

3. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan

Penelitian/Riset

5)

Pembimbing/Pendamping Lapangan

a) Pembimbing/pendamping lapangan merupakan peneliti dari lembaga Riset yang merupakan lembaga mitra tempat mahasiswa melaksanakan program Asistensi Riset.

b) Pembimbing/pendamping lapangan ditunjuk dan ditetapkan oleh lembaga riset yang merupakan lembaga mitra tempat mahasiswa melaksanakan program

(13)

4. Bobot sks dan Kesetaraan Kegiatan

Penelitian/Riset

Ketentuan beban sks

dalam kegiatan ini mencapai total beban 20 sks atau

setara dalam satu semester kegiatan mahasiswa.

Penghitungan sks

untuk pembelajaran di luar kampus setara dengan 170

(seratus tujuh puluh) menit per minggu per semester, sehingga 1 (satu) sks

setara dengan 2.720 (dua ribu tujuh ratus dua puluh) menit kegiatan

mahasiswa (45,3 jam kegiatan).

Jadi 20 sks setara dengan 54.400

(lima puluh empat ribu empat ratus) menit

kegiatan atau 906 jam kegiatan.

(14)

5. Bentuk Kegiatan

Penelitian/Riset

Model kegiatan penelitian/riset adalah bentuk terstruktur (structured). Kegiatan penelitian juga dapat distrukturkan sesuai dengan kurikulum yang ditempuh oleh mahasiswa. Duapuluh sks tersebut dinyatakan dalam bentuk kesetaraan dengan mata kuliah yang ditawarkan yang kompetensinya sejalan dengan kegiatan penelitian

(15)

5. Bentuk Kegiatan

Penelitian/Riset

Kegiatan penelitian juga dapat distrukturkan sesuai dengan kurikulum yang ditempuh oleh mahasiswa juga dapat ditempuh dalam 2 semester atau 1 tahun yang disetarakan dengan 40 sks (1.812 Jam).

Empat puluh sks tersebut dinyatakan dalam bentuk kesetara-an dengan mata kuliah yang ditawarkan yang kompetensinya sejalan

dengan kegiatan penelitian.

Beban kegiatan dan sks penelitian mahasis-wa selama 2 semester sebagai berikut

(16)
(17)

APTIKOM

HUB –

Collabo-ration

KERJA-SAMA LN KERJA-SAMA ANTAR PT INFO-KOM KERJA-SAMA INDUS-TRI

APTIKOM INISIATIVE

IN SUPPORTING “KAMPUS MERDEKA”

KERJA-SAMA PEMERINT AH CENTRE OF EXCELL-ENCE PT-PT ANGGOTA APTIKOM K1 K2 K3 K4 K5 K6 PERTUKARAN MAHASISWA MAGANG MAHASISWA VISITING SCHOLAR/PROFESSOR DUAL DEGREE

KERJASAMA RISET DAN PUBLIKASI JOIN INTERNASIONAL CONFERENCE

K7 JOINT ON LINE COURSE MELALUI MOOC APTIKOM

K9 K8 KEGIATAN-KEGIATAN PELATIHAN WIRAUSAHA PENGABDIAN MASYARAKAT K8 K1 K3 K4 K5 K6 K7 K2 PUSAT INKU-BATOR BISNIS K9 K5 K1 K5 K8 K7 K8 PIB 1, PIB 2, DST COE3 COE4

SMART CITY R & D SMEs e-BUSINNES R & D

COE5 DIGITAL DEMOCRACY R & D

COE6 GREEN ENVIRONMENT & CIRCULAR ECONOMY R & D

COE7 E-CULTURAL HERITAGE & NATURAL HISTORY R & D

COE2 COE1

SMART SOCIETY & CIVILIZATION R & D MANUFACTURING INDUSTRY 4.0 R & D

(18)

PEMETAAN APTIKOM INISIATIF KE HAK MAHASISWA “KAMPUS MERDEKA”

KERJASAMA LUAR NEGERI KERJASAMA ANTAR PT-PT INFOKOM MAGANG

---

---

PROYEK DESA

---

---

MENGAJAR DI SEKOLAH

---

---

PERTUKARAN MAHASISWA

PENELITIAN

KEGIATAN WIRAUSAHA

---

---

PROYEK/ STUDI INDEPENDEN

---

PROYEK KEMANUSIAAN

---

K1 K3 K4 K5 K6 K7 K1 K5 K7 K8

(19)

KERJASAMA INDUSTRI

KERJASAMA PEMERINTAH

CENTRE OF

EXECLLENCE PUSAT INKUBATOR BISNIS

MAGANG

---

---

---

PROYEK DESA

---

---

MENGAJAR DI SEKOLAH

---

---

---

PERTUKARAN MAHASISWA

---

---

---

---

PENELITIAN

---

---

---

KEGIATAN WIRAUSAHA

---

---

---

PROYEK/ STUDI INDEPENDEN

---

---

---

PROYEK KEMANUSIAAN

---

---

---

PEMETAAN APTIKOM INISIATIF KE HAK MAHASISWA “KAMPUS MERDEKA”

(20)
(21)
(22)

Global Research Report –Feb-2021

From the Institute for Scientific Information (ISI) http://www.webofsciencegroup.com/isi

(23)

Kondisi

Indonesia

Riset Perguruan Tinggi

Ibarat Menara Gading

(Tinggi Tinggi di atas dan jauh dari jangkauan masyarakat)

banyak sekali riset yang sudah dibuat hanya disimpan atau dinikmati kalangan tertentu, yaitu para peneliti

di perguruan tinggi sendiri.

riset yang dilakukan di perguruan tinggi seyogyanya menghasilkan manfaat yang bisa digunakan oleh

masyarakat.

Dalam Forum Rektor Indonesia

(2016), Presiden Joko Widodo:

• bahwa hilirisasi riset harus

dilaku-kan agar riset yang dilakudilaku-kan oleh

perguruan tinggi benar-benar

da-pat dirasakan oleh masyarakat.

Melalui hasil risetnya, PT harus

da-pat berkontribusi dalam

pemba-ngunan lingkungan sekitar, tidak

ha-nya di dalam lingkungan kampus

(24)

Kondisi

Indonesia

Menteri Ristekdikti

Mohamad Nasir, pada

Sept.2015

• hilirisasi yang dimaksud

ada-lah implementasi metode hasil penelitian dalam ber-bagai hal, sehingga masya-rakat bisa turut menikmati hasilnya.

Misalnya riset yang

berorientasi pada manfaat, seperti cara untuk mencegah banjir atau riset yang dapat diaplikasikan di dunia industri.

Direktur RPM, Prof. Ocky

Karna Radjasa, Nov.

2015

• Hasil riset atau penelitian tak

boleh hanya berhenti menjadi laporan, dipubli-kasikan, dan dipatenkan saja. Namun,

harus sampai menjadi produk yang bisa dikomersialkan

untuk kese-jahteraan

masyarakat. Untuk hilirisasi

hasil penelitian, tak harus pada industri besar. Bisa juga

penerapannya langsung

menyentuh lapisan masyarakat (industri kecil). Hal ini juga

termasuk hilirisasi

Untuk memaksimalkan hilirisasi riset

• perguruan tinggi dapat bekerja sama dengan pemerintah maupun swasta.

• perlu meningkatkan kembali manajemen pengelolaan kampus dan kemampuan untuk mencari pendanaan secara kreatif.

(25)

Kondisi

Indonesia

Index kompetitif global

(2017-2018)

• Indonesia

36

• Singapura 32

• Malaysia 23

• Thailand 32

• (World Economic Forum,

2018).

Global Innovation Index (2018)

• Indonesia

85

• Singapura 5

• Malaysia 35

• Thailand 44

• Brunei Darussalam

Kriteria yang masih tergolong rendah bagi Indonesia antara lain institutions : kelembagaan,

innovation : daya inovasi, dan technology readiness : tingkat kesiapan teknologi yang dihasilkan lembaga riset Indonesia.

(26)

Kebijakan

Pemerintah

Beberapa kebijakan Kemdikbud dan Ristekbrin yang telah

dilakukan untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian

antara lain:

1.

Hibah,

2.

Beban kinerja dosen/BKD,

3.

Tingkat Kesiapterapan Teknologi,

4.

Evaluasi Kinerja penelitian dan pengabdian ke

masyarakat

(27)

Skema Kategori

Hibah Penelitian

A. Penelitian Kompetitif Nasional • Penelitian Dasar (PD) • Penelitian Terapan (PT) • Penelitian Pengem-bangan (PP)

• Penelitian Dosen Pemu-la (PDP)

• Penelitian Kerjasama Antar Perguruan Tinggi (PKPT) • Penelitian Pascasarjana (PPS) B. Penelitian Desentralisasi • Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT) • Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) • Penelitian Pengem-bangan Unggulan Perguruan Tinggi (PPUPT) C. Penelitian Penugasan • Konsorsium Riset Unggulan Perguruan Tinggi (KRU-PT) • Kajian Kebijakan Strategis (KKS)

• World Class Research (WCR)

(28)

Skema Kategori

PkM

A. PkM Kompetitif Nasional

• Program Kemitraan Masyarakat (PKM)

• Program Kemitraan Masyarakat Stimulus (PKMS)

• Program KKN dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM)

• Program Pengembangan Kewirausahaan (PPK)

• Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD)

• Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK)

• Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM)

• Program Kemitraan Wilayah (PKW)

B. PkM Desentralisasi • Program Pemberdayaan Masyarakat Unggulan Perguruan Tinggi (PPMUPT) C. PkM Penugasan • Program Penerapan Ipteks kepada Masyarakat (PPIM)

(29)

Skema

Operasi dan Tipe Penelitian

Universitas

Kategori

Penelitian SKEMA-SKEMA

OPERASI TIPE PENELITIAN UNIVERSITAS

Kompetitif Nasional Desentralisasi Mandiri Utama Madya Binaan

SKEMA NASIONAL KOMPETITIF NASIONAL PENELITIAN DASAR -     PENELITIAN TERAPAN -     PENEITIAN PENGEMBANGAN -    - PENEITIAN PENINGKATAN KAPASITAS

PENELITIAN DOSEN PEMULA (PDP) - - - -

PENELITIAN KERJASAMA ANTAR PERGURUAN

TINGGI (PKPT) - - -  

PENELITIAN PASCASARJANA(PPS) – TESIS MAGISTER, DISERTASI DOKTOR, POST DOKTORAL, PMDSU -     SKEMA DESENTRALISASI PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI PDUPT     - PTUPT     - PPUPT     - SKEMA PENUGASAN

PENUGASAN PENELITIAN STRATEGIS      

(30)

Beban

kinerja dosen/BKD

Laporan BKD antara lain:

1. Tugas pendidikan dan penelitian sedikit sepadan dengan 9 sks yang dilaksanakan di PT yang bersangkutan,

2. Tugas pengabdian kepada masyarakat dapat dilaksanakan melalui kegiatan

pengabdian kepada masyararkat yang diselenggarakan oleh PT yang bersangkutan atau melalui lembaga lain sesuai dengan peraturan perundangan undangan,

3. Tugas penunjang Tridharma PT dapat diperhitungkan sksnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan,

4. Tugas melakukan pengabdian kepada masyarakat dan tugas penunjang paling sedikit sepadan dengan 3 (tiga) sks,

5. Tugas melaksanakan kewajiban khusus bagi profesor sekurang-kurangnya sepadan dengan 3 sks setiap tahun.

(31)

Tingkat

Kesiapterapan Teknologi (TKT)

Salah satu tolok ukur hasil penelitian diarahkan sampai ke hilir

adalah

mengukur tingkat kesiapterapan teknologi

(TKT/technology readiness level atau TKT).

TKT

adalah

tingkat kondisi kematangan atau kesiapterapan suatu

hasil penelitian dan pengembangan teknologi tertentu

yang

diukur secara sistematis dengan tujuan untuk dapat diadopsi oleh

pengguna, baik oleh pemerintah, industri maupun masyarakat

(32)

Tingkat

Kesiapterapan Teknologi (TKT)

TKT merupakan ukuran yang menunjukkan tahapan atau tingkat kematangan

atau kesiapan teknologi pada skala 1–9, yang mana antara satu tingkat

dengan tingkat yang lain saling terkait dan menjadi landasan bagi tingkatan

berikutnya.

Hasil pengukuran TKT digunakan oleh (Daulay, 2016):

a) Pengambil kebijakan dalam merumuskan, melaksanakan, dan mengevaluasi program riset dan pengembangan,

b) Pelaku kegiatan dalam menentukan tingkat kesiapterapan teknologi untuk dimanfaatkan dan diadopsi, dan

(33)

Tingkat

Kesiapterapan Teknologi (TKT)

TKT mempunyai skala 1 sampai 9, skala tersebut adalah:

1) Prinsip dasar dari teknologi diteliti dan dilaporkan, 2) Formulasi konsep dan/atau aplikasi teknologi,

3) Pembuktian konsep (proof-of-concept) fungsi dan/atau karakteristik penting secara

analitis dan eksperimental,

4) Validasi komponen/subsistem dalam lingkungan laboratorium,

5) Validasi komponen/subsistem dalam suatu lingkungan yang relevan,

6) Demonstrasi model atau prototipe sistem/subsistem dalam suatu lingkungan yang relevan,

7) Demonstrasi prototipe sistem dalam lingkungan sebenarnya,

8) Sistem telah lengkap dan handal melalui pengujian dan demonstrasi dalam lingkungan sebenarnya,

(34)

Tingkat

Kesiapterapan Teknologi (TKT)

(35)

Evaluasi Kinerja

Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Untuk evaluasi kinerja penelitian dan pengabdian kepada

masyarakat, data luaran yang dinilai adalah:

1.

Jurnal internasional dan jurnal internasional bereputasi,

2.

Jurnal nasional terakreditasi,

3.

Buku ajar/teks,

4.

Hak kekayaan intelektual/HKI,

5.

Teknologi tepat guna, dan

(36)
(37)
(38)
(39)

ACM: Special

Interest Groups (SIGs)

ACM's Special Interest Groups (SIGs)

adalah

Sumber utama penelitian orisinal dan perspektif pribadi dari para pemikir

terkemuka dunia dari berbagai disiplin ilmu komputasi.

SIG membina komunitas teknis dalam spesialisasi masing-masing dan

bertujuan untuk memajukan keterampilan anggotanya, membuat mereka

tetap mengikuti tren yang muncul, dan menawarkan peluang untuk

berjejaring dengan kolega.

SIG menerbitkan buletin dan majalah, mendorong keunggulan melalui

berbagai program pengakuan, dan mengatur konferensi dan aktivitas dalam

skala lokal-ke-global.

(40)

ACM: Special

Interest Groups (SIGs)

SIGACCESS

Special Interest Group on Accessibility and Computing

SIGACT

Special Interest Group on Algorithms & Computation Theory

SIGADA

Special Interest Group on Ada Programming Language

SIGAI

Special Interest Group on Artificial Intelligence

SIGAPP

Special Interest Group on Applied Computing

SIGARCH

Special Interest Group on Computer Architecture

SIGBED

Special Interest Group on Embedded Systems

SIGBIO

Special Interest Group on Bioinformatics, Computational Biology

(41)

ACM: Special

Interest Groups (SIGs)

SIGCHI

Special Interest Group on Computer-Human Interaction

SIGCOMM

Special Interest Group on Data Communication

SIGCSE

Special Interest Group on Computer Science Education

SIGDA

Special Interest Group on Design Automation

SIGDOC

Special Interest Group on Design of Communication

SIGecom

Special Interest Group on Economics and Computation

SIGEnergy

ACM Special Interest Group on Energy Systems and Informatics

SIGEVO

Special Interest Group on Genetic and Evolutionary Computation

(42)

ACM: Special

Interest Groups (SIGs)

SIGHPC

Special Interest Group on High Performance Computing

SIGIR

Special Interest Group on Information Retrieval

SIGITE

Special Interest Group on Information Technology Education

SIGKDD

Special Interest Group on Knowledge Discovery in Data

SIGLOG

Special Interest Group on Logic and Computation

SIGMETRICS

Special Interest Group on Measurement and Evaluation

SIGMICRO

Special Interest Group on Microarchitecture

SIGMIS

Special Interest Group on Management Information Systems

SIGMM

Special Interest Group on Multimedia Systems

SIGMOBILE

Special Interest Group on Mobility of Systems, Users, Data &

Comp

(43)

ACM: Special

Interest Groups (SIGs)

SIGMOD

Special Interest Group on Management of Data

SIGOPS

Special Interest Group on Operating Systems

SIGPLAN

Special Interest Group on Programming Languages

SIGSAC

Special Interest Group on Security, Audit and Control

SIGSAM

Special Interest Group on Symbolic & Algebraic Manipulation

SIGSIM

Special Interest Group on Simulation

SIGSOFT

Special Interest Group on Software Engineering

SIGSPATIAL

Special Interest Group on Spatial Information

SIGUCCS

Special Interest Group on University & College Computing Services

(44)
(45)

Referensi

Dokumen terkait

1.1) Membuat kesepakatan dalam bentuk dokumen kerja sama (MoU/SPK) dengan mitra dari lembaga riset/laboratorium riset. 1.2) Memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengikuti

Melihat dari penelitian sebelumnya yang mengambil topik serupa,Tri Dewi Nugraheni(Nugraheni, 2018) dengan judul Pengembangan media pembelajaran interaktif

Hal senada juga kemukakan oleh (Syafwan, 2013) dan (Noor & Norlaila, 2014), dalam penelitiannya bahwa proses kegiatan belajar mengajar di kelas pada

simultan, didapatkan total keuntungan DCSC tertinggi yaitu sebesar Rp 719.085. ANALISIS SENSITIVITAS Pada analisis sensitivitas dilakukan perubahan terhadap parameter

a) Membuat kesepakatan dalam bentuk dokumen kerja sama (MoU/SPK) dengan mitra antara lain proses pembelajaran, pengakuan kredit semester dan penilaian. b) Menyusun program

Pelaksanaan Penelitian/Riset diuraikan sebagai berikut. 1) UM Kendari dan lembaga riset/perguruan tinggi menyusun kesepakatan dalam bentuk dokumen yang berisi antara lain

Apabila saat dilakukan pengecekan kabel telepon yang telah selesai dicrimp dengan menggunakan cable tester dan roset kabel tidak tersambung, hal ini dapat disebabkan

IDENTIFIKASI MOLEKULER SPESIES TAENIA DAN SEROPREVALENSI CYSTICERCOSIS PADA PENDERITA TAENIASIS YANG DATANG KE BAGIAN PARASITOLOGI FAKULTAS 2 101 NI LUH