• Tidak ada hasil yang ditemukan

SERAH TERIMA DIGESTER TERNAK. Kulonprogo, DI. Yogyakarta. Oleh : Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA Menteri Negara Lingkungan Hidup

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SERAH TERIMA DIGESTER TERNAK. Kulonprogo, DI. Yogyakarta. Oleh : Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA Menteri Negara Lingkungan Hidup"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

SERAH TERIMA

DIGESTER TERNAK

Oleh :

Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA

Menteri Negara Lingkungan Hidup

Kulonprogo, DI. Yogyakarta 31 Mei 2012

Kulonprogo, DI. Yogyakarta

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

Gedung B, Lantai 4 Jl. D.I Panjaitan Kav. 24 Jakarta Timur 13410 Telp. (021) 8580107, Fax. (021) 8580107

(2)

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Tahun 2009, Usaha Mikro dan Kecil (UMK) berjumlah 52.723.470 atau 99,92% dari total usaha di Indonesia, bisa kita bandingkan dengan usaha menengah dan besar yang jumlahnya hanya 45.810 atau 0,09%. Sedangkan dalam hal tenaga kerja, UMK menyerap 93.533.767 tenaga kerja atau 94,59% dari seluruh tenaga kerja. Sementara itu Usaha Menengah dan Besar menyerap tenaga kerja 5.352.236 atau hanya 5,41%.

Namun demikian, Usaha Skala Kecil (USK) juga memberikan kontribusi negatif dikarenakan kurangnya permodalan, lemahnya pengetahuan dan pemahaman para pengusaha serta minimnya pembinaan dari pemerintah menjadikan USK berpotensi memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pencemaran lingkungan (air, udara lokal maupun global). Permasalahan tersebut pada gilirannya sering mengakibatkan konflik sosial antar masyarakat.

Gambaran Umum

(3)

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Tahun 2009, Usaha Mikro dan Kecil (UMK) berjumlah 52.723.470 atau 99,92% dari total usaha di Indonesia, bisa kita bandingkan dengan usaha menengah dan besar yang jumlahnya hanya 45.810 atau 0,09%. Sedangkan dalam hal tenaga kerja, UMK menyerap 93.533.767 tenaga kerja atau 94,59% dari seluruh tenaga kerja. Sementara itu Usaha Menengah dan Besar menyerap tenaga kerja 5.352.236 atau hanya 5,41%.

Namun demikian, Usaha Skala Kecil (USK) juga memberikan kontribusi negatif dikarenakan kurangnya permodalan, lemahnya pengetahuan dan pemahaman para pengusaha serta minimnya pembinaan dari pemerintah menjadikan USK berpotensi memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pencemaran lingkungan (air, udara lokal maupun global). Permasalahan tersebut pada gilirannya sering mengakibatkan konflik sosial antar masyarakat.

Gambaran Umum

SERAH TERIMA

(4)

1. Prinsip Kerja Biodigester

2. Model Biodigester

a. Biodigester bahan fiber untuk kotoran ternak

Gambar 1. Prinsip Kerja Teknologi Biogas

b. Biodigester dan IPAL bahan semen untuk air limbah tahu

c. Biodigester bahan plastik

(5)

1. Prinsip Kerja Biodigester

2. Model Biodigester

a. Biodigester bahan fiber untuk kotoran ternak

2 |

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup

| 3

Gambar 1. Prinsip Kerja Teknologi Biogas

b. Biodigester dan IPAL bahan semen untuk air limbah tahu

c. Biodigester bahan plastik

(6)

Perhitungan Biaya Investasi Biodigester dan IPAL

1 Kg kedelai menghasilkan air limbah 20 Liter, Biogas 30 Liter

1 Ekor sapi menghasilkan limbah 12 Kg, Biogas 40 Liter

Estimasi Investasi Kontruksi IPAL Biogas Tahu dan Biodigester Sapi

Data Gabungan Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (GAKOPTINDO) Tahun 2008 menunjukan bahwa pemanfaatan kedelai untuk industri tahu dan tempe skala kecil dan menengah (IKM) di seluruh Indonesia sekitar 850 ribu ton per tahun.Sementara itu jumlah sapi (dewasa dan bakalan) di Indonesia menurut data Dirjen Peternakan, Kementerian Pertanian Tahun 2009 sebanyak 13 juta ekor.

(Sumber: Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP), 2010) Biaya Tipe Teknologi IPAL Biogas Industri Tahu

Biodigester ternak per 4,5 m3

Semen Ferro

Semen

Fiber

Estimasi

Biaya (Rp) 12 juta 10 juta 5 juta

Plastik 3 juta Jumlah penggunaan kedelai (kg/hr) X 0,02 m3 X 4 hari X Rp. 2 juta

Perhitungan Potensi Beban

Pencemaran, Emisi Gas Rumah Kaca

(GRK) dan Manfaat Ekonomi Biogas

Jenis USK Potensi penurunan beban pencemaran (kg per hari) Potensi penurunan emisi gas rumah kaca (kg per hari)

Potensi Manfaat Ekonomi

BOD CO2 Subtitusi bahan bakar (LPG) kg per hari Rupiah (juta) per hari Industri Tahu Penggunaan kedelai per hari x 0,05 x 80% Penggunaan kedelai per hari x 0,0294 x 25 Penggunaan kedelai per hari x 0,03 x 0,46 Penggunaan kedelai per hari x 0,03 x 0,46 x 5.000 Ternak Sapi Perah Jumlah sapi X 0,292 x 30% Jumlah sapi x 0,008 x 25 Jumlah sapi x 12 X 0,04 x 0,46 Jumlah sapi x 12 X 0,04 x 0,46 x 5.000 Ternak Sapi Potong Jumlah sapi X 0,292 x 30% Jumlah sapi x 0,003 x 25 Jumlah sapi x 12 X 0,04 x 0,46 Jumlah sapi x 12 X 0,04 x 0,46 x 5.000

Rumus Perhitungan Potensi Beban Pencemaran,

emisi gas rumah kaca dan manfaat ekonomi dari

penggunaan teknologi biogas

(7)

4 |

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup

| 5

Perhitungan Biaya Investasi Biodigester dan IPAL

1 Kg kedelai menghasilkan air limbah 20 Liter, Biogas 30 Liter

1 Ekor sapi menghasilkan limbah 12 Kg, Biogas 40 Liter

Estimasi Investasi Kontruksi IPAL Biogas Tahu dan Biodigester Sapi

Data Gabungan Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (GAKOPTINDO) Tahun 2008 menunjukan bahwa pemanfaatan kedelai untuk industri tahu dan tempe skala kecil dan menengah (IKM) di seluruh Indonesia sekitar 850 ribu ton per tahun.Sementara itu jumlah sapi (dewasa dan bakalan) di Indonesia menurut data Dirjen Peternakan, Kementerian Pertanian Tahun 2009 sebanyak 13 juta ekor.

(Sumber: Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP), 2010) Biaya Tipe Teknologi IPAL Biogas Industri Tahu

Biodigester ternak per 4,5 m3

Semen Ferro

Semen

Fiber

Estimasi

Biaya (Rp) 12 juta 10 juta 5 juta

Plastik 3 juta Jumlah penggunaan kedelai (kg/hr) X 0,02 m3 X 4 hari X Rp. 2 juta

Perhitungan Potensi Beban

Pencemaran, Emisi Gas Rumah Kaca

(GRK) dan Manfaat Ekonomi Biogas

Jenis USK Potensi penurunan beban pencemaran (kg per hari) Potensi penurunan emisi gas rumah kaca (kg per hari)

Potensi Manfaat Ekonomi

BOD CO2 Subtitusi bahan bakar (LPG) kg per hari Rupiah (juta) per hari Industri Tahu Penggunaan kedelai per hari x 0,05 x 80% Penggunaan kedelai per hari x 0,0294 x 25 Penggunaan kedelai per hari x 0,03 x 0,46 Penggunaan kedelai per hari x 0,03 x 0,46 x 5.000 Ternak Sapi Perah Jumlah sapi X 0,292 x 30% Jumlah sapi x 0,008 x 25 Jumlah sapi x 12 X 0,04 x 0,46 Jumlah sapi x 12 X 0,04 x 0,46 x 5.000 Ternak Sapi Potong Jumlah sapi X 0,292 x 30% Jumlah sapi x 0,003 x 25 Jumlah sapi x 12 X 0,04 x 0,46 Jumlah sapi x 12 X 0,04 x 0,46 x 5.000

Rumus Perhitungan Potensi Beban Pencemaran,

emisi gas rumah kaca dan manfaat ekonomi dari

penggunaan teknologi biogas

(8)

Potensi Penurunan Beban Pencemaran dan Emisi

GRK serta Keuntungan Ekonomi Se Indonesia

Potensi Penurunan Beban Pencemaran dan Emisi

GRK Serta Keuntungan Ekonomi Se DI. Yogyakarta.

Tabel Bantuan KLH Tahun 2010 & 2011 dan

Manfaatnya

Perkiraan biaya investasi yang diperlukan untuk membangun sarana fisik biodigester ternak menggunakan bahan ferro semen di seluruh indonesia tersebut sebesar Rp.32,7 triliun. Sedangkan investasi yang diperlukan untuk membangun kontruksi IPAL biogas industri tahu diperkirakan Rp.340 Triliun. Biaya sebesar itu belum termasuk pemipaan, yang perhitungannya didasarkan pada jumlah industri tahu di sentra dan jarak antara rumah produksi dengan lokasi IPAL biogas.

(Sumber: Hasil Perhitungan KLH, 2010)

Ternak Sapi 418,5 2,3 milyar 15, 6 juta 5,3 triliun 3.141.637 Industri Tahu 32,9 24,7 juta 0,6 juta 56,7 milyar 33.796

Potensi Penurunan Beban Pencemaran BOD (ton/th) Jenis USK Biogas yang dihasilkan (m3/th) Reduksi Emisi GRK setara CO2 (ton/th) Keuntungan Ekonomi (rupiah/th) Jumlah keluarga yang memanfaatkan biogas (KK) No KapasitasProduksi (kg/hari) Lokasi (kab/Kota) Potensi Penurunan Beban Pencemaran BOD (kg/hr) Emisi GRKReduksi setara CO2 (kg/hr) Potensi Manfaat Biogas (m3/hr) Substitusi Energi (LPG) (kg/hr) Ekonomi (rupiah/ hr) Jumlah Keluarga Nilai Bantuan (KK) 1 Kulonprogo 34,82 1196,10 212,64 97,81 489.072 167 Total 443 925.505.200 34,82 1196,10 212,64 97,81 489.072 167 443 925.505.200

Tabel Potensi Manfaat Biogas Industri Tahu di Provinsi DI. Yogyakarta Tabel Potensi Manfaat Biogas Ternak Sapi di Provinsi DI. Yogyakarta

1 No 2009 Tahun 281.882 Jumlah Potensi Penurunan Beban Pencemar (kg/hari) 22.156 Reduksi GRK (kg/hari) 24.692.863 Biogas m3/hari 135.303 Konversi LPG (kg/hari) 62.240 Potensi Manfaat Ekonomi (Rupiah per hari) 311.197.728 Jumlah keluarga 67.652 1 No 2008 Tahun Potensi Penurunan Beban Pencemaran (kg/hari) 4.209 Kapasitas Produksi (kg kedelai /hari) 105.217 Emisi Setara CO2 (kg/hari) 77.334 Substitusi Energi (LPG) 1.452 Biogas (m3/hari) 3.156 Potensi Manfaat Ekonomi (Rupiah per hari) 7.259.949 Jumlah keluarga 1.578

(9)

Potensi Penurunan Beban Pencemaran dan Emisi

GRK serta Keuntungan Ekonomi Se Indonesia

Potensi Penurunan Beban Pencemaran dan Emisi

GRK Serta Keuntungan Ekonomi Se DI. Yogyakarta.

Tabel Bantuan KLH Tahun 2010 & 2011 dan

Manfaatnya

6 |

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan

| 7

Perkiraan biaya investasi yang diperlukan untuk membangun sarana fisik biodigester ternak menggunakan bahan ferro semen di seluruh indonesia tersebut sebesar Rp.32,7 triliun. Sedangkan investasi yang diperlukan untuk membangun kontruksi IPAL biogas industri tahu diperkirakan Rp.340 Triliun. Biaya sebesar itu belum termasuk pemipaan, yang perhitungannya didasarkan pada jumlah industri tahu di sentra dan jarak antara rumah produksi dengan lokasi IPAL biogas.

(Sumber: Hasil Perhitungan KLH, 2010)

Ternak Sapi 418,5 2,3 milyar 15, 6 juta 5,3 triliun 3.141.637 Industri Tahu 32,9 24,7 juta 0,6 juta 56,7 milyar 33.796

Potensi Penurunan Beban Pencemaran BOD (ton/th) Jenis USK Biogas yang dihasilkan (m3/th) Reduksi Emisi GRK setara CO2 (ton/th) Keuntungan Ekonomi (rupiah/th) Jumlah keluarga yang memanfaatkan biogas (KK) No KapasitasProduksi (kg/hari) Lokasi (kab/Kota) Potensi Penurunan Beban Pencemaran BOD (kg/hr) Emisi GRKReduksi setara CO2 (kg/hr) Potensi Manfaat Biogas (m3/hr) Substitusi Energi (LPG) (kg/hr) Ekonomi (rupiah/ hr) Jumlah Keluarga Nilai Bantuan (KK) 1 Kulonprogo 34,82 1196,10 212,64 97,81 489.072 167 Total 443 925.505.200 34,82 1196,10 212,64 97,81 489.072 167 443 925.505.200

Kementerian Lingkungan Hidup

Tabel Potensi Manfaat Biogas Industri Tahu di Provinsi DI. Yogyakarta Tabel Potensi Manfaat Biogas Ternak Sapi di Provinsi DI. Yogyakarta

1 No 2009 Tahun 281.882 Jumlah Potensi Penurunan Beban Pencemar (kg/hari) 22.156 Reduksi GRK (kg/hari) 24.692.863 Biogas m3/hari 135.303 Konversi LPG (kg/hari) 62.240 Potensi Manfaat Ekonomi (Rupiah per hari) 311.197.728 Jumlah keluarga 67.652 1 No 2008 Tahun Potensi Penurunan Beban Pencemaran (kg/hari) 4.209 Kapasitas Produksi (kg kedelai /hari) 105.217 Emisi Setara CO2 (kg/hari) 77.334 Substitusi Energi (LPG) 1.452 Biogas (m3/hari) 3.156 Potensi Manfaat Ekonomi (Rupiah per hari) 7.259.949 Jumlah keluarga 1.578

(10)
(11)

8 |

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan

(12)

SERAH TERIMA

DIGESTER TERNAK

Oleh :

Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA

Menteri Negara Lingkungan Hidup

Kulonprogo, DI. Yogyakarta 31 Mei 2012

Kulonprogo, DI. Yogyakarta

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP

Gedung B, Lantai 4 Jl. D.I Panjaitan Kav. 24 Jakarta Timur 13410 Telp. (021) 8580107, Fax. (021) 8580107

Gambar

Gambar 1. Prinsip Kerja Teknologi Biogas
Gambar 1. Prinsip Kerja Teknologi Biogas
Tabel Bantuan KLH Tahun 2010 & 2011 dan  Manfaatnya
Tabel Bantuan KLH Tahun 2010 & 2011 dan  Manfaatnya

Referensi

Dokumen terkait

Jenis ragi yang digunakan sangat berpengaruh terhadap terhadap kadar lemak dan kadar serat kasar tempe namun konsentrasi ragi berpengaruh terhadap kadar air, kadar protein dan

Kemampuan Citra Quickbird yang digunakan dalam penelitian guna mengidentifikasi 5 parameter yaitu pola bangunan, lebar jalan masuk, kondisi pohon pelindung, pengaruh

Menurut Schein (dalam Harjana,1997:9) budaya organisasi adalah pola asumsi dasar bentukan, temuan atau kembangan suatu kelompok orang yang telah bekerja dengan cukup baik

%kala prioritas usulan rencana kegiatan pembangunan desa untuk 1 (satu) tahun anggaran berikutnya yang tercantum dalam dokumen RPJM

Pemberian rekombinan hormon pertumbuhan melalui metode perendaman pada ikan lele sangkuriang dengan lama waktu 30 menit dapat meningkatkan pertumbuhan bobot

Pentingnya kualitas bagi aparat pemerintah desa dalam pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan dari hasil penelitian menunjukan bahwa faktor sikap mental, faktor

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa memelihara, menolong, memberikan kekuatan dan kesehatan kepada kita di dalam segala usaha dan tugas-tugas kita sebagai panitia natal 2015 dan tahun baru