ECOTROPHIC
JURNAL ILMU LINGKUNGANOURNAL OF ENVIRONMENTAL SCIENCE
Volume 5 No. 2 NoVemBeR 2010 ISSN 1907-5626
/
PENGANTAR REDAKSI
MEMBANGUN SENAPAS DENGAN ALAM ... iii MoDEL PEMBERDAyAAN MASyARAKAT SEKITAR KAwASAN HUTAN LINDUNG JoMPI KABUPATEN MUNA, PRovINSI SULAwESI TENGGARA
Dasmin Sidu ... 79 DAMPAK SoSIAL EKoNoMI KERUSAKAN HUTAN CyCLooPS PADA MASyARAKAT DI DISTRIK SENTANI, KABUPATEN JAyAPURA
Hutajulu Halomoan ... 85 HUBUNGAN FAKToR LINGKUNGAN DAN PERILAKU MASyARAKAT DENGAN KEBERADAAN JENTIK NyAMUK PENULAR DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI wILAyAH KERJA PUSKESMAS KUTA UTARA
Mardiyani Nugrahaningsih, N Adi Putra, I W Redi Aryanta ... 93 EvALUASI PENGELoLAAN REFRIGERAN CFC, DAN HFC DENGAN MESIN 3R DAN UJI UNJUK KERJA MESIN PENDINGIN STUDI KASUS PADA BENGKEL AC MoBIL DI DENPASAR – BALI
I Made Rasta, I W. Kasa dan I Gede Mahardika ... 99 SELEKSI DAN PEMANFAATAN ACTINoMyCETES SEBAGAI MIKRoBA ANTAGoNIS yANG RAMAH LINGKUNGAN TERHADAP Fusarium oxysporum f.sp. cubense SECARA IN vITRo
I Made Sudarma ... 106 ANLISIS KUALITAS AIR DAN LINGKUNGAN FISIK PADA PERLINDUNGAN MATA AIR DI KERJA PUSKESMAS TABANAN, KABUPATEN TABANAN
I Ketut Aryana, Made Sudiana Mahendra, I Gede Mahardika ... 110 IDENTIFICATIoN oF THE SToCK/PoPULATIoN oF GREEN TURTLE (Chelonia mydas) IN THE SUKAMADE (EAST JAvA) NESTING BEACH
Hidayatun Nisa, Purwanasari, IB Windia Adnyana ... 118 MAKRoZooBENTHoS DI TUKAD BAUSAN, DESA PERERENAN, KABUPATEN BADUNG, BALI
Ni Made Suartini, Ni Wayan Sudatri, Made Pharmawati dan A. A. G. Raka Dalem ... 121 STUDy oF PREvALENCE oN CoRAL BLEACHING AND DISEASES
Eghbert Elvan Ampou ... 125 PREDICTIoN oF MoNTHLy RAINFALL BASED oN THE TRMM PRECIPITATIoN RADAR SATELLITE DATA ovER REGIoN oF INDoNESIA
R. Prasetia, T. Osawa, I W. S. Adnyana... 131 IDENTIFIKASI SEKS RASIo TUKIK PENyU HIJAU (Chelonia mydas) DAN PENyU BELIMBING (Dermochelys coriacea) DI BERBAGAI PANTAI PENELURAN UTAMA DI INDoNESIA
Studi kasus di pantai Sukamade - Jawa timur; Pulau Sangalaki - Kalimantan Timur dan Suaka Marga Satwa Jamursba Medi - Papua Barat
Dwi Suprapti , I.B. Windia Adnyana, I. Wy. Arthana ... 137 THE ETHNoECoLoGICAL STUDy oF SAToyAMA
I Putu Gede Ardhana ... 142 PETUNJUK PENULISAN NASKAH ... 147
Penanggung Jawab
Direktur Program Pascasarjana universitas udayana Ketua PenYuntIng
Dr. Ir. I Wayan Arthana, mS. PenYuntIng PenYelIa Prof. Dr. Ir. I Wayan Redi Aryanta,mSc.
PenYuntIng PelaKsana
Prof. Dr. Ir. made Sudiana mahendra, mAppSc. (Pencemaran) Prof. Dr. Ir. I Wayan Kasa, m.Rur.Sc (Biologi lingkungan)
Prof. Dr. Ir. I Nyoman merit, m.Agr. (lingkungan Tanah) Prof. Dr. I Wayan Ardika, mA. (lingkungan Sosial-budaya)
Prof. Dr. Ir. I Wayan Suarna, mS. (Pencemaran) Prof. Dr. Ir. made Antara, mS. (ekonomi lingkungan) Prof. Dr. Ir. I Wayan Sandi Adnyana, mS. (Konservasi Tanah dan Air)
Prof. Dr. made Arya utama, SH, mH. (Hukum lingkungan) MItRa bestaRI
Prof. Dr. Bonar Pasaribu (IPB) Prof. Dr. Susumu Kanno (Tokai university)
Dr. Alan Wilson (INI RADeF) Pengelola
Dr. I W. Budiarsa Suyasa, mS. Drh. I Ketut Suada, mSi. Dra. Ida Ayu Alit laksmiwati, mSi.
KeseKRetaRIatan Putu martini I Wayan Nampa
I made Karsika InstItusI PeneRbIt
Program Studi magister Ilmu lingkungan Program Pascasarjana universitas udayana
alaMat ReDaKsI Jl. P.B. Sudirman Denpasar
Telp. (0361) 261182/255345 Fax. (0361) 261182 email : [email protected]
Jurnal Ilmu lingkungan eCoTHRoPIC merupakan media publikasi bagi hasil-hasil penelitian, artikel dan resensi buku di bidang ilmu lingkungan yang diterbitkan dua kali setahun, yaitu bulan mei dan November.
ECOTROPHIC
JURNAL ILMU LINGKUNGANJOURNAL OF ENVIRONMENTAL SCIENCE
Volume 5 No. 2 NoVemBeR 2010 ISSN 1907-5626
m
PengantaR ReDaKsI
MeMbangun senaPas Dengan alaM
P
embangunan adalah menunjang kehidupan yang semakin berkembang, membangun hendaknya seiring dengan napas alam. Paradigma membangun yang senada dengan alam adalah pengembangan ekowisata atau sering juga disebut dengan ekoturisme, atau wisata ekologi. Rumusan ‘ecotourism’ sudah ada sejak 1987 yang dikemukakan olehHector Ceballos-Lascurain yaitu sbb:
“Nature or ecotourism can be defined as tourism that consist in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objectives of studying, ad-miring, and enjoying the scenery and its wild plantas and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in the areas.”
“Wisata alam atau pariwisata ekologis adalah perjalanan ketempat-tempat alami yang relatif masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemari) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini.”
Rumusan di atas hanyalah penggambaran tentang kegiatan wisata alam biasa. Rumusan ini kemudian berkembang dengan paradigma ekowisata adalah perjalanan yang bertang-gung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat
“Ecotourism is responsible travel to natural areas which conserved the environment and improves the welfare of local people.”
Pengembangan yang menggambarkan kegiatan wisata di alam terbuka, dengan kand-ungan unsur-unsur kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahtraan penduduk setempat. Ekowisata merupakan upaya untuk memaksimalkan dan sekaligus melestarikan pontensi sumber-sumber alam dan budaya untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan yang berkesinambungan. Dengan kata lain ekowisata adalah kegiatan wisata alam plus plus.
Adanya unsur plus plus di atas yaitu kepudulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahtraan masyarakat setempat ditimbulkan oleh:
1. Kekuatiran akan makin rusaknya lingkungan oleh pembangunan yang bersifat ek-sploatatif terhadap sumber daya alam.
2. Asumsi bahwa pariwisata membutuhkan lingkungan yang baik dan sehat.
3. Kelestarian lingkungan tidak mungkin dijaga tanpa partisipasi aktif masyarakat setempat.
4. Partisipasi masyarakat lokal akan timbul jika mereka dapat memperoleh manfaat ekonomi (‘economical benefit’) dari lingkungan yang lestari.
5. Kehadiran wisatawan (khususnya ekowisatawan) ke tempat-tempat yang masih alami itu memberikan peluas bagi penduduk setempat untuk mendapatkan penghasilan alternatif dengan menjadi pemandu wisata, porter, membuka homestay, pondok ekowisata (ecolodge), warung dan usaha-usaha lain yang berkaitan dengan ekow-isata, sehingga dapat meningkatkan kesejahtraan mereka atau meningkatkan kualitas hidpu penduduk lokal, baik secara materiil, spirituil, kulturil maupun intelektual. Selanjutnya berkembang Ekowisata Berbasis Komunitas (community-based ecot-ourism) merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola dan diawasi oleh masyarakat
setempat. Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati oleh masyarakat setempat. Jadi dalam hal ini masyarakat memiliki wewenang yang memadai untuk mengendalikan kegiatan ekowisata
Den pasar ini menganut sistem tersebut untuk dikembangkan dengan kon-sep tersebut. Prinsip dasar pengembangan ekowisata adalah lima prinsip peng-embangan ekowisata dari sembilan prinsip utama pengpeng-embangan ekowisata yang telah dipenuhi sesuai dengan lokakarya ekowisata se-Bali di sanur 3-5 September 2002, yaitu: memiliki kepedulian, komitmen & tanggung jawab terhadap konservasi alam & warisan budaya, peka & menghormati nilai-nilai sosial budaya dan tradisi keagamaan masyarakat setempat, mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku, pengembangannya di-dasarkan atas persetujuan masyarakat setempat melalui musyawarah, sistem pengelolaan yang serasi dan seimbang sesuai dengan konsep Tri Hita Karana. Sedangkan empat prinsip
yang belum dipenuhi, yaitu: memberdayakan dan mengoptimalkan partisipasi serta sekali-gus memberikan kontribusi secara kontinyu terhadap masyarakat setempat, menyediakan pemahaman yang dapat memberikan peluang kepada wisatawan untuk menikmati alam dan meningkatkan kecintaannya terhadap alam, secara konsisten memberikan kepuasan kepada konsumen, dipasarkan dan dipromosikan dengan jujur dan akurat sehingga sesuai dengan harapan (pemasaran yang bertanggung jawab).
Redaksi
MoDel PeMbeRDaYaan MasYaRaKat seKItaR Kawasan Hutan lInDung JoMPI KabuPaten Muna, PRovInsI sulawesI tenggaRa
Dasmin Sidu
Staf Pengajar Pascasarjana dan Jurusan Agribisnis Universitas Haluoleo Kendari serta Staf Ahli Lingkungan Hidup Bidang Sosial Ekonomi Di Kab. Buton Utara dan Kab.Kolaka Utara Provinsi Sulawesi Tenggara
ABSTRACT
Forest as an asset of national development is really beneficial for life and livelihood. It brings benefits eco-logically, culturally, and economically on condition that the forest is properly exploited. For that purpose, forest should be managed, protected, and exploited continuously for the sake of the people’s welfare, not only for the present but also for the next generation. Jompi Preserved Forest Area is one of the preserved forest areas in Muna Regency, which is now in very bad condition. The people living around the forest are powerless. This research aims: to formulate a model of community empowerment adjusted to the local condition. The technique of col-lecting samples used is cluster sampling, covering 226 heads of family. The analysis used is correlation analysis
of Rank Spearman (rs), Multiple Regression, and Path Analysis. The result of analysis shows that the people’s productivity and capability are still relatively low. This condition is resulted from the physical, human, and so-cial capitals in the community. Similarly, the low capability of the empowerment facilitators and empowerment process also contribute to this situation. The effective empowerment model for the community around the pre-served forest is the one that integrates the physical, human, and social capitals, and the facilitators’ capability and empowerment process to create the power that can improve the productivity and capability of the community living around the Jompi Preserved Forest Area.
Keywords: Empowerment, Preserved Forest Area, powerless, and stakeholders.
PENDAHULUAN
Berdasarkan fungsinya, hutan dibagi menjadi hu-tan konservasi, huhu-tan lindung dan huhu-tan produksi. Hu tan dengan fungsi konservasi dan lindungnya berperan dalam mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan air dan kesuburan tanah. Ketersediaan air dan kesuburan tanah merupakan urat nadi kehidupan mahluk yang ada di muka bumi ini (UU RI No. 41 Tahun 1999). Hutan juga memiliki fungsi ekologi yaitu sebagai penimbun karbon melalui kegiatan fotositensisnya dapat mengubah gas CO2 di udara menjadi karbohidrat yang merupakan sumber energi bagi mahluk hidup, termasuk manusia (Ida & Carol, 2003). Oleh karena itu, hutan memiliki manfaat yang nyata bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat, baik manfaat ekologi, sosial budaya maupun ekono-mi. Untuk itu, hutan perlu dilindungi, dikelola dan dimanfaatkan secara berkesi-nambungan untuk kese-jah teraan masyarakat, baik generasi sekarang maupun yang akan datang.
Kerusakan hutan telah terjadi sejak lama, sebagai akibat dari aktivitas manusia yang tidak memper-timbangan kelestariannya, seperti pembalakan liar ( il-legal logging) dan perambahan. Pembalakan liar dan
perambahan semakin marak seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, desakan kebutuhan semakin meningkat, kebutuhan akan lahan pertanian dan perkebunan meningkat, kebutuhan lahan pemu-kiman baru terus bertambah, dan lain sebagainya.
Ke-rusakan hutan saat ini tidak hanya terjadi di kawasan hutan produksi dan hutan konservasi tetapi juga sudah merambah pada kawasan hutan lindung. Pada hal, hu-tan lindung mempunyai fungsi pokok sebagai perlin-dungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mence-gah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Luas kawasan hutan Kabupaten Muna sebesar ± 237.377 ha atau 51,3% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Muna. Dari luas kawasan hutan tersebut, ± 46.363 ha atau 19,53% adalah kawasan hutan lin-dung. Kawasan hutan lindung Jompi memiliki luas ± 1.927 ha atau 4, 2% dari luas kawan hutan lindung di Kabupaten Muna. Dari luas Kawasan hutan lindung Jompi tersebut, ± 1.233 ha atau 63,99% adalah hutan jati alam dan ± 694 ha atau 36,01% adalah hutan cam-puran. Kawasan hutan lindung Jompi telah mengalami kerusakan yang cukup serius, ± 1.080 ha atau 56,05% (seluruhnya hutan jati) sudah rusak dan ± 263 ha atau 13,65% terancam rusak dan ± 578 ha atau 30% dalam keadaan aman (Dinas Kehutanan Kabupaten Muna, 2006).
Kawasan hutan lindung Jompi secara admnistrasi berbatasan dengan lima kecamatan, yakni: Kecamatan Batalaiworu di sebelah Utara, Kecamatan Katobu di sebelah Timur, Kecamatan Duruka di sebelah Selatan, Kecamatan Kontunaga dan Watuputeh di sebelah Ba-rat. Berdasarkan data dari BPMD Kabupaten Muna menunjukkan bahwa sebagian besar kelurahan/desa di lima kecamatan tersebut tergolong miskin dan tidak
80
ECOTROPHIC ❖ Volume 5 Nomor 2 TahuN 2010 ISSN : 1907-5626 Model Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung Jompi Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara [Dasmin Sidu]
81 berdaya. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa
ma-syarakat di sekitar kawasan hutan lindung Jompi masih miskin dan tidak berdaya? Sejauhmana tingkat keber-dayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung Jompi saat ini dan model pemberdayaan masyarakat seperti apa yang sesuai dengan kondisi masyarakat se-kitar kawasan hutan lindung Jompi? Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian secara mendalam sehingga dapat merumuskan model pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung yang sesuai dengan kondisi lokal.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di sekitar kawasan hutan lin-dung Jompi Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Teng-gara dengan menggunakan teknik klaster sebagai teknik pengambilan sampel penelitian), yaitu kawasan hutan lindung Jompi dibagi menjadi klaster Watupute, Kontu-naga dan Duruka sebagai unit analisis kecamatan. Dari tiga unit kecamatan ini diambil secara acak kelurahan/ desa yang bersentuhan langsung dengan kawasan hutan lindung Jompi dan terletak di bagian hulu dan tengah DAS Jompi. Semua KK yang bermata pencaharian utama sebagai petani di kelurahan/desa yang terpilih merupakan populasi penelitian. Dengan menggunakan rumus Solvin dengan tingkatan kesalahan 0,06 persen diperolah 226 KK sebagai sampel penelitian.
Alat analisis yang digunakan adalah uji korelasi
Rank Spearman (rs) untuk mengetahui kuat dan arah hubungan antar variabel, regresi berganda untuk mengetahui koefisien regresi setiap variabel independen terhadap variabel dependen, dan path anlysis untuk
mengetahui besarnya pengaruh (sumbangan efektif) variabel independen terhadap variabel dependen baik langsung, tidak langsung, bersama-sama maupun dari luar model sehingga akan melahirkan model pember-dayaan yang efektif.
HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Responden
Sebagain besar responden merupakan usia produktif dengan tingkat pendidikan rendah, memiliki lahan yang sempit dan bermatapencaharian utama sebagai petani. Pola pemanfaatan lahan dominan untuk perladann-gan dan perkebunan (68,41%). Sistem pertanian yang digunakan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Jompi masih tradisional dan berorientasi konsumtif.
Kondisi ketersediaan modal fisik (physical capital)
seperti sarana dan prasarana produksi, pendidikan, kesehatan ekonomi, komunikasi dan transportasi) yang mendukung aktivitas masyarakat kurang tersedia, demikian juga modal manusia (human capital) yang
dimiliki masih tergolong rendah. Kondisi modal sosial (social capital) masyarakat sekitar kawasan
hutan lindung Jompi tergolong sedang, mereka saling bekerjasama, saling percaya antar sesama, patuh terhadap norma yang ada, peduli terhadap sesama dan sering terlibat dalam aktivitas organisasi sosial yang ada di lingkungannya. Namun sebagian besar kondisi kehidupan masyarakat di sekitar tidak berdaya. Secara rinci karakteristik responden di sajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Distribusi profil renponden dan peubah penelitian Uraian Kategori Responden Jumlah
(Jiwa)
Persen-tase (%)
(1) (2) (3) (4)
Umur Belum produktif ( < 14 ) 0 0
Produktif ( 15-59 ) 161 71.20
Non produktif ( > 59 ) 65 28.80 Tingkat Pendidikan Rendah(Tdk tamat-tamat
SD ) 134 59.30
Sedang (Tdk Tamat-Tamat
SMP/SMA 83 36.70
Tinggi (Tdk Tamat-Tamat PT) 9 4.00 Luas Lahan Sempit (<1,0 ha ) 197 87.20
Sedang (1,0-2,0 ha) 24 10.60
Luas (>2,00) 5 2.20
Physical Capital (X1) Tersedia (skor 72-88) 20 8.8
Kurang tersedia
(skor 58-71) 155 68.6
Tidak tersedia (skor 43-57) 51 22.6
Human Capital (X2) Tinggi (skor 80-104) 69 30.5
Sedang (skor 75-83) 65 28.8
Rendah (skor 56-74) 92 40.7
Sosial Capital (X3) Tinggi (skor 98-118) 27 11.9
Sedang (skor 74-97) 160 70.8 Rendah (skor 60-73) 39 17.3 Kemampuan Pelaku Pember-dayaan (X4) Tinggi (skor 74-97) 43 19.7 Sedang (skor 74-97) 64 28.3 Rendah (skor 60-73) 119 52.6 Proses Pember-dayaan (Y1) Efektif (skor 44-57) 12 5.3 Kurang efektif (skor 29-43) 87 38.5
Tidak efektif (skor 15-28) 127 56.2
Tingkat
Keberdayaan (Y2) Berdaya (skor 37-47) Kurang berdaya (skor 25-36) 2773 11.932.3
Tidak Berdaya (skor 14-24) 126 55.8
Sumber : Hasil analisis data primer
Model Efektif Pemberdayaan Masyarakat
Perumusan model pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Jompi bertujuan untuk menyederhanakan faktor-faktor yang secara konseptual didukung oleh beberapa kajian teori yang relevan dan mampu menjelaskan keadaan suatu sistem. Berdasarkan kajian literatur, maka mo-del pemberdayaan secara konseptual dibangun seper-ti yang disajikan pada Gambar 1. Faktor-faktor yang menjadi komponen model pemberdayaan warga ma-syarakat terdiri dari faktor input, process, output dan out-came. Faktor input terdiri dari modal fisik, modal
ma-nusia, dan modal sosial, faktor yang berfungsi sebagai
process adalah kemampuan pelaku pemberdayaan dan
proses pemberdayaan, sedangkan faktor output adalah
tingkat keberdayaan masyarakat dan faktor outcame
adalah masyarakat sejahtera dan hutan lestari.
Faktor-faktor yang ada dalam model pemberdayaan
masyarakat yang dibangun berdasarkan teori dan logi-ka, dianalisis mengunakan analisis jalur (path analysis)
berdasarkan data empirik dari hasil survei, pengama-tan, wawancara, indepth interview dan focus grup discus-sion (FGD). Analisis jalur (path analysis) dimaksudkan
untuk memperoleh nilai pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung, pengaruh secara bersama-sama dan pengaruh di luar model untuk setiap faktor. Selain itu, analisis jalur juga bermanfaat untuk menentukan
jalur-jalur efektif yang merupakan prioritas dalam mening-katkan faktor output dan outcame atau sebagai bahan
pertimbangan dalam merumuskan kebijakan dalam rangka pencapaian hasil yang diinginkan. Hasil anali-sis jalur diperoleh koefisien jalur seperti yang disajikan
pada Tabel 1.
Tabel 1 Nilai Koefisien jalur faktor-faktor yang mempangaruhi keberdayaan warga masyarakat
Hubungan antar
Variabel Lambang Koefisien Jalur (p)
X1 dengan X2 p21 0.140* X1 dengan X3 p31 0.316** X2dengan X3 p32 0.239** X1 dengan Y1 pY11 0.230** X2 dengan Y1 pY12 0.181** X3 dengan Y1 pY13 0.272** X4 dengan Y1 pY14 0.290** X1 dengan Y2 pY21 0.111* X2 dengan Y2 pY22 0.030* X3 dengan Y2 pY23 0.077* X4 dengan Y2 pY24 0.165** Y1 dengan Y2 pY2Y1 0.493**
Keterangan : * Signifikan pada α = 0,05 ** Signifikan pada α = 0,01
Berdasarkan hasil perhitungan keofisien jalur se-perti yang tampak pada Tabel 1 menunjukkan bahwa semua faktor atau variabel bebas memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap tingkat keberdayaan warga masyarakat. Faktor proses pemberdayaan warga masyarakat dan kemampuan pelaku pember-dayaan merupakan dua faktor yang penting dalam meningkatkan keberdayaan masyarakat dengan nilai koefisien jalur yang signifikan
pada α 0.01. Hal ini mengandung makna bahwa tingkat keberdayaan masyarakat dapat ditingkatkan melalui perbaikan proses pem-berdayaan masyarakat terutama pelibatan masyarakat dalam pro-ses perencanaan dan pelaksanaan program dan meningkatkan ke-mampuan pelaku pemberdaya-an, terutama terkait peningkatan ketrampilan dan sikap keberpi-hakan pada masyarakat. Secara empirikal model hubungan dan besarnya pengaruh faktor-faktor modal fisik, modal manusia, mo-dal sosial, kemampuan pelaku
pemberdayaan dan proses pemberdayaan terhadap keberdayaan warga masyarakat divisualisasikan pada Gambar 1.
Berdasarkan perhitungan keofisien jalur dan arah hubungan antar variabel pada Gambar 1, maka analisis data dilanjutkan dengan proses dekomposisi korelasi antar variabel bebas dengan variabel terikat dengan tujuan untuk menemukan besarnya pengaruh langsung (Direct Effect) dan hubungan tidak langsung (Indirect Effect) dan selanjutnya dilakukan interprestasi data
dengan mengadakan estimasi yang lebih eksak yaitu dengan jalan menghitung proporsi (sumbangan efek-tif) variasi keberdayaan masyarakat (Y2)yang dapat dijelaskan melalui variabel bebas (X1, X2, X3, X4, dan Y1). Besarnya sumbangan efektif dapat dihitung dengan mengalikan koefisien jalur (p) dengan koefi-sien korelasi product moment (r). Hasil perhitungan
dekom-posisi dan besarnya sumbangan efektif dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Nilai sumbangan efektif faktor-faktor yang menjadi unsur model efektif pemberdayaan masyarakat
Pola hubungan antar Variabel Nilai Dekom-posisi Total Nilai Sumbangan Efektif Total.
Lang-sung LangsungTidak Lang-sung LangsungTidak X1 melalui X2 0.111 0.0042 - 0.0412 0.0016 -X1 melalui X3 - 0.0243 - - 0.0090 -X1 melalui Y1 - 0.1134 - - 0.0421 -X1 melalui X2 & X3 - 0.0026 - - 0.0010 -X1 melalui X2 & Y1 - 0.0125 - - 0.0046 -X1 melalui X3 & Y1 - 0.0424 - - 0.0157 -X1 melalui X2, X3 & Y1 - 0.0045 0.2039 - 0.0017 0.1169 X2 melalui X3 0.030 0.0184 - 0.0069 0.0042 -X2 melalui Y1 - 0.0892 - - 0.0204 -X2 melalui X3 & Y1 - 0.0320 0.1396 - 0.0073 0.0388 X3 melalui Y1 0.077 0.1341 0.2111 0.0287 0.0500 0.0787 X4 melalui Y1 0.165 0.1430 0.308 0.0751 0.0651 0.1402 Y1 0.493 - 0.493 0.3066 - 0.3066 Jumlah Gabungan 0.4585 0.2227 0.6812
Sumber : Hasil analisis data primer.
5 Berdasarkan hasil perhitungan keofisien jalur seperti yang tampak pada Tabel 1 menunjukkan bahwa semua faktor atau variabel bebas memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap tingkat keberdayaan warga masyarakat. Faktor proses pemberdayaan warga masyarakat dan kemampuan pelaku pemberdayaan merupakan dua faktor yang penting dalam meningkatkan keberdayaan masyarakat dengan nilai koefisien jalur yang signifikan pada α 0.01. Hal ini mengandung makna bahwa tingkat keberdayaan masyarakat dapat ditingkatkan melalui perbaikan proses pemberdayaan masyarakat terutama pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program dan meningkatkan kemampuan pelaku pemberdayaan, terutama terkait peningkatan ketrampilan dan sikap keberpihakan pada masyarakat. Secara empirikal model hubungan dan besarnya pengaruh faktor-faktor modal fisik, modal manusia, modal sosial, kemampuan pelaku pemberdayaan dan proses pemberdayaan terhadap keberdayaan warga masyarakat divisualisasikan pada Gambar 1.
Gambar 1 Model hubungan dan besarnya koefisien jalur antar variabel yang mempengaruhi keberdayaan warga masyarakat
Proses Pemberdayaan
(Y1)
p32(0.239)
Keterangan :
: Pengaruh langsung : Pengaruh tidak langsung
Keberdayaan Warga Masyarakat (Y2) p64(0.493) p64(0.165) p64(0.111) p64(0.030) p64(0.077) p31(0.316) p62 (0.181) p61(0.230) p63(0.272) p64(0.290) p21 (0.140*) Modal Fisik (X1) Modal Manusia (X2) Modal Sosial (X3) Kemampuan Pelaku Pemberdayaan (X4)
Berdasarkan perhitungan keofisien jalur dan arah hubungan antar variabel pada Gambar 1, maka analisis data dilanjutkan dengan proses dekomposisi korelasi antar variabel bebas dengan variabel terikat dengan tujuan untuk menemukan besarnya pengaruh langsung (Direct Effect) dan hubungan tidak langsung (Indirect Effect) dan selanjutnya dilakukan interprestasi data dengan mengadakan estimasi yang lebih eksak Gambar 1 Model hubungan dan besarnya koefisien jalur antar variabel yang mempengaruhi
82
ECOTROPHIC ❖ Volume 5 Nomor 2 TahuN 2010 ISSN : 1907-5626 Model Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung Jompi Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara [Dasmin Sidu]
83 Tabel 2 menunjukkan bahwa pola hubungan
langsung yang memiliki sumbangan efektif terbesar adalah faktor proses pemberdayaan dan faktor kemampuan pelaku pemberdayaan. Artinya, dalam
meningkatkan keberdayaan masyarakat maka upaya yang di lakukan adalah memperbaiki proses pember-dayaan terutama terkait dengan pelibatan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program dan meningkatkan kemampuan pelaku pemberdayaan terutama terkait dengan peningkatan ketrampilan dan sikap .
Pola hubungan tidak langsung yang efektif terlihat pada faktor proses pemberdayaan dan modal sosial.
Hal ini ditunjukkan dari nilai sumbangan efektif pada setiap faktor yang melalui faktor proses pemberdayaan dan modal sosial selalu memiliki sumbangan efektif
yang lebih besar dibanding melalui faktor lain. Artinya, kedua faktor tersebut merupakan faktor yang efektif untuk menjembatani pengaruh faktor kemampuan pelaku pemberdayaan, modal fisik, modal sosial dan modal manusia terhadap keberdayaan warga masyarakat.
Total pengaruh faktor modal fisik, modal manusia, modal sosial, kemam-puan pelaku pemberdayaan
dan proses pemberdayaan terhadap faktor keber-daya-an warga masyarakat sebesar 68 persen. Hal ini bermakna, bahwa 68 persen variasi tingkat keber-dayaan warga masyarakat (Y2) dapat dijelaskan secara
berturut-turut melalui faktor proses pemberdayaan (Y1), tingkat kemampuan pelaku pemberdayaan (X4), ketersediaan modal fisik (X1), kekuatan modal sosial (X3), dan kualitas modal manusia (X2). Oleh karena itu, perpaduan faktor-faktor tersebut merupakan model efektif pemberdayaan warga masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Jompi saat ini. Untuk lebih jelasnya model efektif pember-dayaan warga masyarakat dapat divisualisasikan seperti Gambar 2.
Semua proporsi varian tingkat keberdayaan masyarakat pada semua pola hubungan yang terjadi (lihat Gambar 1) dapat dijelaskan dengan baik melalui hubungan langsung dengan proses pemberdayaan, karena dalam pola hubungan langsung dengan ke-berdayaan masyarakat, faktor proses pemke-berdayaan memiliki sumbangan efektif (lihat Tabel 2) yang pal-ing tpal-inggi dibandpal-ing faktor lain. Hal ini mengandung makna bahwa keberhasilan suatu program pember-dayaan yang berpotensi meningkatkan keberpember-dayaan masyarakat sangat ditentukan oleh faktor proses pem-berdayaan yang efektif. Proses pempem-berdayaan yang efektif adalah proses pemberdayaan yang melibatkan masyarakat dengan mengoptimalkan modal muanusia, modal sosial, potensi dan sumberdaya lokal. Semakin efektif proses pemberdayaan, maka akan semakin tinggi tingkat keberdayaan masyarakat sasaran.
Besarnya sumbangan efektif variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) baik melalui pola
hubungan langsung (direct effect) maupun hubungan
tidak langsung (indirect effect) disajikan pada Tabel 3.
Pada Tabel 3 juga menunjukkan bahwa pola hubungan tidak langsung faktor proses pemberdayaan dan modal sosial (sosial capital) memiliki sumbangan
efektif paling tinggi dibanding faktor kemampuan pelaku pemberdayaan, modal fisik (physical capi-tal), dan modal manusia (human capital). Artinya,
bahwa kedua faktor tersebut merupakan faktor yang paling efektif untuk menjembatani pengaruh faktor kemampuan pelaku pemberdayaan, modal fisik (physical capital), modal sosial (social capital) dan
modal manusia (human capital) terhadap tingkat
ke-berdayaan masyarakat.
Total pengaruh (langsung dan tidak langsung) faktor modal fisik (physical capital), modal manusia (human capital), modal sosial (social capital), kemampuan
pelaku pemberdayaan dan proses pemberdayaan
terhadap faktor keberdayaan masyarakat sebesar 88,20%. Hal ini bermakna, bahwa 88,20% variasi tingkat keberdayaan masyarakat (Y) dapat dijelaskan oleh faktor independen (X) yang secara berturut-turut dari faktor yang memiliki pengaruh tertinggi adalah faktor proses pemberdayaan (X5), modal fisik ( physi-cal capital) (X1), kemampuan pelaku pemberdayaan
(X4), modal sosial (social capital) (X3), dan faktor
modal manusia (human capital) (X2).
Agar model efektif pemberdayaan dapat mening-katkan keberdayaan warga masyarakat, maka dikem-bangkan strategi sebagai berikut; pertama,
menyempur-nakan proses pemberdayaan dengan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam tahapan proses berdayaan meningkatkan kemampuan pelaku
pem-berdayaan, terutama terkait dengan ketrampilan dan sikap keberpihakan pada masyarakat dan penguatan modal sosial masyarakat; kedua, untuk meningkatkan
kemampuan pelaku pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan pelatihan, kursus, seminar dan lain sebagainya; dan ketiga, untuk menguatkan
modal sosial masyarakat dilakukan melalui kegiatan penyuluhan, pendampingan dan pelibatan masyarakat dalam proses pemberdayaan secara optimal dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kerjasama, saling percaya, mentaati norma, kepedulian terhadap sesama dan keikutsertaan dalam aktivitas organisasi sosial masyarakat dan keempat,
perlu disadari bahwa selain variabel yang diungkapkan dalam modal ini masih ada variabel di luar model dan diduga mempengaruhi keberdayaan masyarakat, seperti tingkat pendapatan, dinamika kelompok, penegakan hukum dan sebagainya.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
1) Tingkat keberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung Jompi adalah masih rendah, hal ini disebabkan oleh rendahnya modal fisik ( physi-cal capital), modal manusia (human capital),
kemampuan pelaku pemberdayaan, dan lemahnya proses pemberdayaan masyarakat.
2) Faktor proses pemberdayan dan modal sosial (so-cial capital) merupakan faktor yang paling efektif
dalam menjembatani pengaruh modal fisik ( physi-cal capital), modal manusia (human capital), dan
kemampuan pelaku pemberdayaan terhadap tingkat keberdayaan masyarakat.
3) Model pemberdayaan yang efektif adalah model yang memadukan dan meningkatkan faktor proses pemberdayaan dan ketersediaan modal fisik ( physi-cal capital), kemampuan pelaku pemberdayaan,
modal sosial (social capital) dan modal manusia (human capital) masyarakat.
Saran
1) Dalam meningkatkan keberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung Jompi, maka upaya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam proses pember-dayaan mulai dari perencanaan program sampai pemanfaatan hasil yang didukung oleh modal fisik (physical capital) dan kemampuan pelaku
pember-dayaan.
2) Perlu upaya tertentu yang dapat meningkatan mod-al manusia dan menguatatan modmod-al sosimod-al, seperti menyediakan fasilitas kursus dan latihan
3) Agar model pemberdayaan masyarakat yang efek-tif dapat diaplikasikan, maka perlu ada dukungan dan komitmen yang kuat dari semua
stakehold-7 lebih jelasnya model efektif pember-dayaan warga masyarakat dapat divisualisasikan seperti gambar 2.
Keterangan :
Outcome
Input Process Output
Physical Capital (X1) Kemampuan Pelaku Pemberdayaan (X4) Masyarakat Sejahtera Hutan Lestari Human Capital (X2) Social Capital (X3) Proses Pemberdayaan (Y1) Keberdayaan Masyarakat (Y2) E2 = 0. 81 8 EY2 =0.118 R2 =0.882 EY1 =0.228 0.064 0.147 0.073 0.109 0.083 0.286 0.055 0.098 0.214 0.125 0.138 0.052 0.060 0.130 R2 =0.0368 E3 =0.632 R 2 = 0. 18 2 R2 =0.777
: Pengaruh langsung : Pengaruh tidak langsung : Jalur efektif : Pengaruh dari luar model
Gambar 2 Model efektif pemberdayaan masyasakat di sekitar kawasan hutan lindung Jompi
Semua proporsi varian tingkat keberdayaan masyarakat pada semua pola hubungan yang terjadi (lihat Gambar 1) dapat dijelaskan dengan baik melalui hubungan langsung dengan proses pemberdayaan, karena dalam pola hubungan langsung dengan keberdayaan masyarakat, faktor proses pemberdayaan memiliki sumbangan efektif (lihat Tabel 2) yang paling tinggi dibanding faktor lain. Hal ini mengandung makna bahwa keberhasilan suatu program pemberdayaan yang berpotensi meningkatkan keberdayaan masyarakat sangat ditentukan oleh faktor proses pemberdayaan yang efektif. Proses pemberdayaan yang efektif adalah proses pemberdayaan yang melibatkan masyarakat dengan mengoptimalkan modal muanusia, modal sosial, potensi dan sumberdaya lokal. Semakin efektif proses pemberdayaan, maka akan semakin
Gambar 2 Model efektif pemberdayaan masyasakat di sekitar kawasan hutan lindung Jompi
Tabel 3 Nilai sumbangan efektif variabel X terhadap variabel Y Pola hubungan antar
Variabel
Nilai
Dekom-posisi Total. Nilai Sumbangan Efektif Total.
Lang-sung LangsungTidak Lang-sung LangsungTidak X1 melalui X2 0.177 0.0143 - 0.0979 0.0079 -X1 melalui X3 - 0.0335 - - 0.0185 -X1 melalui X5 - 0.1067 - - 0.0590 -X1 melalui X2 & X3 - 0.0027 - - 0.0015 -X1 melalui X2 & X5 - 0.0059 - - 0.0032 -X1 melalui X3 & X5 - 0.0191 - - 0.0106 -X1 melalui X2, X3 & X5 - 0.0016 0.3879 - 0.0009 0,1995 X2 melalui X3 0.119 0.0229 - 0.0550 0.0106 -X2 melalui X5 - 0.0489 - - 0.0226 -X2 melalui X3 & X5 - 0.0131 0.2210 - 0.0061 0.1022 X3 melalui X5 0.134 0.0767 0.3107 0.0734 0.0420 0.1154 X4 melalui X2 0.140 0.0315 - 0.0825 0.0186 -X4 melalui X3 - 0.0403 - - 0.0238 -X4 melalui X5 - 0.0597 - - 0.0352 -X4 melalui X2 & X3 - 0.0061 - - 0.0036 -X4 melalui X2 & X5 - 0.0130 - - 0.0076 -X4 melalui X3 & X5 - 0.0231 - - 0.0136 -X4 melalui X2, X3 & X5 - 0.0035 0.3518 - 0.0020 0.1869 X5 0.401 - 0.401 0.2859 - 0.2859 Jumlah Gabungan 0.5947 0.2373 0.8820
ECOTROPHIC ❖ Volume 5 Nomor 2 TahuN 2010 ISSN : 1907-5626
ers (pemerintah, swasta/pelaku bisnis, pemerhati lingkungan/LSM dan masyarakat) terutama dalam hal pendanaan dan pembinaan secara partisipatif. 4) Agar dapat memahami secara mendalam pengaruh
faktor modal sosial (social capital) terhadap tingkat
keberdayaan masyarakat, maka perlu dilakukan penelitian pada masyarakat yang memiliki kondisi sosial budaya yang berbeda, terutama berbeda dalam hal matapencarian dan orientasi budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2003. Statistik Dinas Kehutanan Kabupaten Muna, Raha: Dishut.
Fukuyama, F. 2000. The Great Disruption : Human Nature and the Reconstitution of Social Order. Simon & Scuster: New
York
Ida Aju P.R. & Carol J. P. Colfer.2003. Kemana Harus Melang-kah?. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Ife, Jim. 1995. Community Development: Creating Community Alternatives,Vision, Analysis and Practice. Longman:
Aus-tralia.
Jamasy, O. 2004. Keadilan, Pemberdayaan, & Penanggulangan Kemiskinan. Jakarta: Blantika
Putnam, Robert D. 1995. “Bowling Alone : America’s Declining Social Capital”. Jurnal Democracy 6.
Slamet, Margono. 2003. ”Pemberdayaan Masyarakat.” Dalam Membetuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan . Disunting oleh Ida Yustina dan Adjat Sudradjat. Bogor:IPB Press.
Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alva-beta.
Suharto, E. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyak : Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial da Pekerjaan Sosial.Rafika Aditama.
Sudjana. 2003. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Bandung: Tarsito. Bandung.
Sumardjo. 1999. “Transformasi Model Penyuluhan Pertanian Menuju Pengembangan Kemandirian Petani : Kasus di Propinsi Jawa Barat.” Disertasi: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor: IPB
Todaro, P.M. 1997. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga.
Tjokrowinoto, Moeljarto. 2001. Pembangunan: Dilema dan Tantangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Winarsunu, T. 2004. Statistik dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Malang: UMM Press.
DaMPaK sosIal eKonoMI KeRusaKan Hutan CYClooPs PaDa MasYaRaKat DI DIstRIK sentanI, KabuPaten JaYaPuRa
Hutajulu Halomoan
Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih Jayapura-Papua [email protected]
ABSTRACT
Area size of degraded land in Cycloops was 9.374 ha, from the total area size of 22.500 ha. The objectives of this research were describing forest damage in Cycloops, estimating economic impact from Cycloops for-est damage, and formulating action for overcoming Cycloops forfor-est damage. This research was conducted by the following approach es: change of productivity, cost of medical remedy, qualitative description, and transfer benefit. The research results show whereas the impact of flood/landslides in Cycloops has reduced farming productivity with the loss value of Rp 35,725,262,500, decreased public health Rp 152,325,000, the damage to public facilities and infrastructure Rp 51,778,194,000. The total value of economic loss as a result of floods/ landslides in Cycloops was Rp 88,401,754,100. Value of WTP community Rp 24,513,878,150. The results of AHP show that stakeholder LMA and the Community an important role in controlling the forest damage in Cycloops with value 0.30. A right approach of policies in the form of Preserved and Environmentally-Friendly Forest had the value of 0.66. The ratio value of consistency was 0.04. An alternative policy for the development of Cycloops region is an Empowerment of Forest Community with the value of 0.34, which means that the local community must be empowered.
Keywords: social economic impact, forest damage, community, CAPC
PENDAHULUAN Latar Belakang
Indonesia memiliki hutan sebesar 137.090.468 hektar. Hutan terluas berada di Kalimantan (36 juta hektar), Papua (32 juta hektar), Sulawesi (10 juta hektar) Sumatera (22 juta hektar) dan sisanya tersebar di berbagai pulau lainnya (Departemen Kehutanan, 2008).
Secara ekonomi hutan bermanfaat sebagai bahan baku industri kayu, penyediaan lapangan kerja, wisata daerah, dan salah satu sumber pendapatan daerah dan pendapatan nasional. Hutan juga bermanfaat sebagai penyangga kehidupan, pengaturan tata air dan sumber mata air, menjaga kesuburan tanah, keseimbangan iklim dan kualitas udara, biodiversity (flora dan fauna).
Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi Indone-sia, yang memanfaatkan sumber daya alam termasuk hutan sebagai input pembangunan, cenderung dilakukan secara eksploitatif yang berdampak pada kerusakan hutan dan lahan. Data kerusakan hutan nasional diperkirakan mencapai angka 2,83 juta hektar/ tahun (Departemen Kehutanan, 2005).
Dengan semakin berkurangnya tutupan hutan In-donesia, sebagian besar kawasan Indonesia menjadi kawasan yang rentan terhadap bencana ekologis ( eco-logical disaster), seperti bencana kekeringan, banjir
maupun tanah longsor. Menurut data dari Bakor-nas Penanggulangan Bencana, sejak 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat telah terjadi 647 bencana di Indonesia akibat kerusakan hutan dengan 2.022
korban jiwa dan kerugian miliaran rupiah, dengan 85% dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor.
Provinsi Papua memiliki luas kawasan hutan sebesar
± 32 juta hektar. Hutan Papua yang terdiri dari hutan lindung, hutan suaka alam dan pelestarian alam, hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas, hutan produksi konversi dan kawasan perairan (Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, 2008). Sedangkan Kabupaten Jayapura memiliki luas kawasan hutan sebesar 1.353.407 hektar, dari luas tersebut sebesar 236.459 hektar telah mengalami kerusakan.
Hutan Cagar Alam Cycloops adalah salah satu hutan suaka alam yang terdapat di Kabupaten Jayapura. Luas hutan Cycloops sebesar 22500 hektar, Sedangkan luas lahan kritis sebesar 9.374 hektar yang terdiri dari 2.703 hektar di dalam kawasan inti dan 6.671 hektar di kawasan penyangga (Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, 2008).
Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura (2008) terdapat sekitar 5.000 warga atau 1.000 KK yang bermukim di sekitar lokasi Cycloops. Hutan Cycloops dihuni oleh suku Ormu, Tepera, Moi, Sentani, Humbolt, Numbay, serta suku Wamena, Paniai dan suku dari luar Papua.
Kerusakan kawasan Cycloops sebagai akibat dari pembangunan, sehingga memaksa masyarakat setem-pat memanfaatkan sumber daya alam sebagai input dalam mendapatkan pendapatan serta aktivitas ma-syarakat lainnya yakni penebangan pohon secara liar baik untuk membuat rumah dan dijadikan sebagai
ECOTROPHIC ❖ Volume 5 Nomor 2 TahuN 2010 ISSN : 1907-5626 Dampak Sosial Ekonomi Kerusakan Hutan Cycloops Pada Masyarakat di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura [Hutajulu Halomoan]
arang untuk dijual pada pemilik warung makan. Se-hingga pada tahun 2007 Cycloops mengalami erosi dan longsor yang menimbulkan kerusakan ekologi dan kerugian pada masyarakat.
Dari uraian di atas maka penulis mencoba meru-muskan permasalahan pengelolaan Cycloops serta dampak longsor Cycloops yaitu; Bagaimanakah kon-disi kerusakan hutan Cycloops selama ini?, Berapa be-sar dampak kerusakan hutan Cycloops terhadap ting-kat kesejahteraan (pendapatan, kesehatan, sosial dan budaya) masyarakat? dan Bagaimana upaya mengatasi masalah kerusakan kawasan Cycloops oleh stakeholder
(Masyarakat Adat, Pemerintah, LSM dan Swasta)? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kerusakan hutan Cycloops yang dirasakan oleh masyarakat, memperkirakan dampak kerusakan hutan Cycloops terhadap tingkat kesejahteraan (pendapatan, kesehatan, sosial dan budaya) masyarakat, merumuskan tindakan untuk mengatasi masalah kerusakan hutan Cycloops dan rekomendasi pengembangan hutan Cy-cloops.
Studi ini melakukan estimasi tentang dampak kerusakan hutan Cycloops terhadap tingkat kesejahteraan (pendapatan, kesehatan, sosial dan budaya) masyarakat. Obyek penelitian adalah masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Cycloops yang mengalami bencana dan kerusakan harta benda, fasilitas sarana dan prasana yang disediakan pemerintah yaitu bangunan, jalan dan lain se-bagainya. Asumsi yang dipakai pada penelitian ini adalah masyarakat yang mengalami bencana adalah masyarakat yang juga melakukan kerusakan (penebangan liar, pembangunan rumah, konversi lahan dan sebagainya).
Dari hasil analisis dirumuskan upaya-upaya yang dapat dilaksanakan oleh seluruh stakeholder dalam mengatasi kerusakan kawasan Cycloops dan mengembangkan model pengembangan yang baik dan berkelanjutan.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di tiga Kelurahan (Kelurahan Hinekombe, Kelurahan Sentani Kota, dan Kelurahan Dobonsolo) Distrik Sentani Kabupaten Jayapura, dan dilaksanakan pada bulan Februari 2009.
Studi ini melakukan estimasi tentang dampak kerusakan hutan Cycloops terhadap tingkat kese-jahteraan (pendapatan, kesehatan, sosial dan budaya) masyarakat. Obyek penelitian dalam studi ini adalah masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Cycloops yang mengalami bencana dan kerusakan harta benda, selain itu fasilitas sarana dan prasana yang disediakan pemerintah yakni bangunan, infrastruktur jalan dan lain sebagainya. Asumsi yang dipakai pada penelitian ini adalah masyarakat yang mengalami bencana adalah masyarakat yang juga melakukan kerusakan (penebangan liar, pembangunan rumah, konversi lahan dan sebagainya).
Studi ini juga merumuskan upaya-upaya yang dapat dilaksanakan oleh seluruh stakeholder yang berhubungan dengan pengelolaan hutan Cycloops termasuk masyarakat yang mendiami kawasan Cy-cloops dan masyarakat yang terkena dampak kerusakan, dalam mengatasi masalah kerusakan kawasan Cycloops dan mengembangkan model pengembangan yang baik dan berkelanjutan.
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer berupa data hasil wawancara tentang penurunan kesejahteraan masyarakat yang meliputi penurunan produksi hasil pertanian dan perkebunan, jumlah pengeluaran masyarakat untuk berobat ke Puskesmas dan Rumah Sakit, penurunan manfaat perlindungan, pandangan tentang keberada-an hutkeberada-an Cycloops. Data Sekunder berupa gambarkeberada-an umum wilayah kabupaten jayapura terdiri dari iklim, topografi, vegetasi, flora dan fauna, kondisi sosial eko-nomi masyarakat dan lain sebagainya.
Metode Pengambilan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di dekat kawasan hutan Cycloops yang merasakan dampak langsung akibat longsor/erosi hutan Cycloops pada bulan Maret tahun 2007 di Distrik Sentani. Jumlah populasi yang mendiami kawasan Cycloops adalah sebanyak 5.000 orang atau sebanyak 1.000 Kepala Keluarga (KK dasar penentuan sampel yakni dengan metode Sampel Acak Distrati-fikasi (stratified random sampling) yakni :
1. Melakukan stratifikasi dan memilih penduduk secara langsung yang terkena dampak longsor/ erosi berdasarkan jenis pekerjaan (petani, pegawai negeri, TNI/ABRI, pengusaha atau pegawai swasta, pengumpul pasir, pedagang).
2. Menentukan jumlah sampel atau responden penduduk minimal 10% atau sekitar 100 KK di Distrik Sentani. Sampel berdasarkan keragaman pekerjaan dan homogenitas dampak yang ditimbulkan oleh erosi/longsor (lama tidak kerja, jenis penyakit, jenis usaha, dampaknya pada kesehatan).
Metode sampel/responden dalam pengambilan kebijakan yakni metode purposive sampling dengan
pertimbangan bahwa responden adalah pelaku (indi-vidu atau lembaga) yang mempengaruhi pengambilan kebijakan, baik langsung maupun tidak langsung dalam pengelolaan kawasan Cycloops. Responden terdiri dari tujuh orang yang dianggap mewakili stakeholder yaitu
pejabat atau staf yang menguasai permasalahan yang berasal dari beberapa instansi/lembaga, antara lain: Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura, Balai Pengelolaan Konservasi Sumberdaya alam (BKSDA), Pakar Perguruan Tinggi, Tokoh Masyarakat atau Tokoh Adat, LSM Lokal Bidang
Lingkungan Hidup, LSM Internasional Bidang Lingkungan Hidup, dan Swasta (Pengusaha).
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari :
Analisis Tingkat Penurunan Produksi Pertanian dengan menggunakan Pendekatan Perubahan Produktivitas :
Pendekatan ini mengacu pada perubahan produk-tivitas dalam sistem produksi pertanian, perkebunan, dan perikanan. Pada umumnya teknik ini diterapkan untuk menduga perbedaan produksi output sebelum dan sesudah dampak dari suatu aktivitas maupun intervensi pengelolaan.
Metode ini menghitung dari sisi kerugian (apa yang hilang) akibat suatu tindakan. Pendekatan ini menjadi dasar bagi pembayaran kompensasi bagi property yang
semestinya dibeli oleh pemerintah untuk tujuan seperti membangun jalan tol, bandara, instalasi militer dan lain-lain. Misalnya suatu wilayah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, diperlukan biaya kompensasi bagi petani atau pemilik lahan yang merelakan tanahnya dipergunakan untuk tujuan pembangunan yang ramah lingkungan misalnya: cagar alam, hutan lindung dan lain-lain. Seperti perhitungan berikut ini :
} {
1 1 ( ) )
n n i j
PHPT PHPTBij PHPTSij LTPij HPTij
= =
= Σ Σ − × ×
Dimana:
PHPT : Nilai kerugian turunnya hasil panen tanaman pertanian/ perkebunan (Rp)
PHPTBij : Jumlah hasil panen tanaman pertanian/perkebunan ke-i per hektar sebelum erosi, di lokasi j (kg/ha) PHPTSij : Jumlah hasil panen tanaman pertanian/perkebunan
ke-i per hektar setelah erosi, di lokasi j (kg/ha) LTPij : Luas tanaman pertanian/perkebunan ke-i sekarang, di
lokasi j (ha)
HPTij : Harga produksi tanaman pertanian/perkebunan ke-i sekarang, di lokasi j (Rp/kg)
i : Jenis tanaman pertanian/perkebunan
j : Areal perkebunan dan pertanian di Kawasan hutan CAPC.
Analisis Dampak Kerusakan Hutan Cycloops Terha-dap Kesehatan Masyarakat Dengan Menggunakan Pendekatan Biaya Pengobatan (Cost of Illness).
Metode Biaya Pengobatan (cost of Illness), digunakan
untuk memperkirakan biaya morbiditas akibat perubahan yang menyebabkan orang menderita sakit. Total biaya dihitung baik secara langsung maupun tidak langsung. Biaya langsung, yaitu mengukur biaya yang harus disediakan untuk perlakukan penderita lain meliputi: a) perawatan pada rumah sakit, b) perawatan selama penyembuhan, c) pelayanan kesehatan yang lain, dan d) obat-obatan.
Biaya tidak langsung mengukur nilai kehilangan produktivitas akibat seseorang menderita sakit. Biaya tidak langsung meliputi pendapatan yang hilang akibat
seseorang menderita sakit sehingga tidak bekerja. Taksiran biaya tidak termasuk rasa sakit yang diderita dan biaya penderitaannya sendiri. Umumnya digu-nakan untuk menilai dampak polusi udara terhadap morbiditas.
Analisa Dampak Sosial Yang Dirasakan Masyarakat di Distrik Sentani Sebagai Dampak Dari Erosi/ Longsor Hutan CAPC dengan Menggunakan Pendekatan Deskriptif-Kualitatif.
Analisa deskriptif-kualitatif mengacu pada Miles dan
Huberman (1992) yaitu dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan untuk
mengamati dampak sosial dan dampak lingkungan yang dirasakan masyarakat akibat erosi/longsor hutan CAPC.
Analisa Nilai Penurunan Kawasan Perlindungan dengan Memakai Pendekatan Transfer Benefit
Perhitungan nilai manfaat untuk penurunan kawa-san perlindungan didasarkan kepada pendekatan trans-fer benefit. Nilai transtrans-fer benefit konservasi biodiversity
untuk vegetasi hutan di Indonesia sebesar US$ 300/ km2/tahun (konversi US$ 1= Rp 2500), menurut
EEPSEA dan WWF (1998) dalam Glover dan Timot-hy (1999). Notasi perhitungan nilai pilihan konservasi
biodiversity sebagai berikut :
1 ( ) n j j j NPKB NKB LA = = ∑ × Dimana :
NPKB = Nilai manfaat pilihan konservasi biodiversity (Rp) NKBj = Nilai konservasi biodiversity/km2/tahun di lokasi
long-sor-j (Rp/km2/tahun) LAj = Luas areal longsor ke-j (km2)
j = (Hutan CAPC).
Analisis Nilai Ekonomi Total (NET)
Total nilai ekonomi suatu sumberdaya dikelom-pokkan menjadi 2 (dua) yaitu: nilai penggunaan (use value) dan nilai intrinsik (non use value) (Pearce
dan Turner, 1990; Pearce dan Moran, 1994; Turner, Pearce dan Bateman, 1994). Selanjutnya, dijelaskan bahwa nilai penggunaan (use value) dibagi lagi menjadi
nilai penggunaan langsung (direct use value), nilai
penggunaan tidak langsung (indirect use value) dan
nilai pilihan (option value). Nilai penggunaan diperoleh
dari pemanfaatan aktual lingkungan (Turner, Pearce dan Bateman, 1994). Nilai penggunaan berhubungan dengan nilai karena responden memanfaatkannya atau berharap akan memanfaatkan di masa mendatang (Pearce dan Moran, 1994).
TEV = UV + NUV UV = DUV + IUV + OV NUV = XV + BV
ECOTROPHIC ❖ Volume 5 Nomor 2 TahuN 2010 ISSN : 1907-5626 Dampak Sosial Ekonomi Kerusakan Hutan Cycloops Pada Masyarakat di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura [Hutajulu Halomoan]
TEV = (DUV + IUV + BV) + (XV + BV)
Keterangan :
TEV = Total Economic Value (total nilai ekonomi) UV = Use Value (nilai penggunaan)
NUV = Non Use Value (nilai instrinsik)
DUV = Direct Use Value (nilai penggunaan langsung) IUV = Indirect Use Value (nilai penggunaan tak langsung) OV = Option Value (nilai pilihan)
XV = Existence Value (nilai keberadaan) BV = Bequest Value (nilai warisan/kebangaan)
Nilai penggunaan langsung adalah nilai yang diten-tukan oleh kontribusi lingkungan pada aliran produksi dan konsumsi (Munasinghe, 1993). Nilai penggunaan langsung berkaitan dengan output yang langsung da-pat dikonsumsi misalnya makanan, biomas, kesehatan, rekreasi (Pearce dan Moran, 1994). Sedangkan nilai penggunaan tidak langsung ditentukan oleh manfaat yang berasal dari jasa-jasa lingkungan dalam mendu-kung aliran produksi dan konsumsi (Munasinghe, 1993). Nilai pilihan (option value) berkaitan dengan
pilihan pemanfaatan lingkungan di masa datang. Per-nyataan preferensi (kesediaan membayar) untuk kon-servasi sistem lingkungan atau komponen sistem ber-hadapan dengan beberapa kemungkinan pemanfaatan oleh individu di hari kemudian.
Nilai intrinsik dikelompokan menjadi dua bagian
yaitu: nilai warisan (bequest value) dan nilai keberadaan
(existence value). Nilai intrinsik berhubungan dengan
kesediaan membayar positif, jika responden tidak bermaksud memanfaatkannya dan tidak ada kein-ginan untuk memanfaatkannya (Pearce dan Moran, 1994). Nilai warisan berhubungan dengan kesediaan membayar untuk melindungi manfaat lingkungan bagi generasi mendatang. Nilai warisan adalah bukan nilai penggunaan untuk individu penilai, tetapi merupakan potensi penggunaan atau bukan penggunaan di masa datang (Turner et. al, 1994). Nilai keberadaan muncul,
karena adanya kepuasaan atas keberadaan sumberdaya, meskipun penilai tidak ada keinginan untuk meman-faatkannya.
Nilai ekonomi total (NET) dampak kerusakan hutan CAPC diformulasikan sebagai berikut :
NET = ML
Dimana:
ML = Manfaat langsung
Pendekatan yang digunakan untuk menghitung nilai ekonomi total hutan CAPC adalah dengan menggunakan Metode Perubahan Produktivitas, Cost of Illness, dan Deskriptif Kualitatif (Gambar 1).
Analisis Kebijakan
Dye (1978) mendefinisikan kebijakan publik se-bagai ”what-ever government choice to do or not to do”
(apapun yang dipilih pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan). Perumusan kebijakan adalah proses sosial dimana proses intelektual melekat didalamnya
tidak berarti bahwa efektivitas relatif dari proses in-telektual tidak dapat ditingkatkan, atau proses sosial dapat diperbaiki (Bauer dalam Dunn, 2003).
Oleh karena analisis kebijakan merupakan bentuk etika terapan yang pada akhirnya berupaya mencipta-kan pengetahuan yang dapat meningkatmencipta-kan efisiensi pilihan atas berbagai alternatif kebijakan. Model kebi-jakan adalah sajian yang sederhana mengenai aspek-aspek terpilih dari suatu situasi problematis yang disusun untuk tujuan-tujuan khusus. Model-model kebijakan tersebut yaitu: 1) Model Deskriptif, 2) Mo-del Normatif, 3) MoMo-del Verbal, 4) MoMo-del Simbolik, 5) Model Prosedural, 6) Model Pengganti, dan 7) Model Prespektif.
Menurut Dunn (2003) analisis kebijakan adalah awal, bukan akhir, dari upaya untuk meningkatkan pro-ses pembuatan kebijakan berikut hasilnya. Dalam kai-tannya dengan analisis kebijakan pengelolaan kawasan CAPC, maka model kebijakan yang dianggap paling sesuai adalah model prosedural. Model prosedural ini menggunakan serangkaian prosedur sederhana untuk menunjukkan dinamika hubungan diantara variabel-variabel yang dipercayakan memberikan ciri pada ma-salah kebijakan.
Bentuk sederhana dari model prosedural adalah ”pohon keputusan”. Pohon keputusan berguna untuk
membandingkan estimasi subjektif mengenai akibat-akibat yang mungkin dari berbagai pilihan kebijakan dimana ada kondisi terdapat kesulitan untuk mem-perhitungkan resiko dan ketidakpastian data yang ada. Untuk penelitian ini digunakan tiga pendekatan dalam menganalisis kebijakan (Tabel 1) tiga pendekatan ana-lisis kebijakan.
Tabel 1 Tiga Pendekatan Analisis Kebijakan
No. Pendekatan Pertanyaan Utama Tipe Informasi 1. 2. 3. Empiris Valuatif Normatif
Adakah dan akankah (fakta) Apa manfaatnya (nilai) Apa yang harus dipebuat (aksi)
Deskriptif dan Prediktif Valuatif
Preskriptif
Sumber : Dunn, 2003.
Pendekatan Analisis Hirarki Proses (AHP)
Analisis hirarki proses (AHP) atau yang juga dikenal dengan istilah proses hirarki analitik (PHA) atau analisis jenjang keputusan (AJK), pertama kali dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970. AHP didesain untuk menangkap secara rasional persepsi orang yang berhubungan sangat erat dengan permasalahan tertentu, melalui prosedur yang didesain
untuk sampai pada suatu skala preferensi di antara berbagai sel alternatif.
AHP merupakan suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat suatu model permasalahan yang tidak mempunyai suatu struktur, dan biasanya diterapkan untuk masalah-masalah yang terukur (kualitatif),
maupun masalah-masalah yang memerlukan pendapat (judgement) maupun pada situasi yang kompleks atau
masalah yang tidak terstruktur, pada situasi dimana data, informasi statistik sangat minim atau tidak ada sama sekali dan hanya bersifat kualitatif yang didasari oleh persepsi, pengalaman maupun intuisi.
Dalam penyelesaian permasalahan dengan AHP ada beberapa prinsip dasar yang harus dipahami antara lain:
a. Dekomposisi, setelah didefinisikan maka dilakukan
dekomposisi yaitu memecah persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya. Untuk mendapatkan ha-sil yang akurat maka, dilakukan pemecahan unsur-unsur tersebut sampai tidak dapat dipecahkan lagi sehingga didapat beberapa tingkatan dari persoalan tadi.
b. Comparative Judgement, prinsip ini berarti membuat
penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP karena akan berpengaruh terhadap prioritas elemen-elemen. Hasil dari penilaian ini lebih mu-dah disajikan dalam bentuk perbandingan berpa-sangan (pairwise comparation).
c. Syntheses of Priority, dari setiap matrik pairwise comperation kemudian dicari eigen vektornya
un-tuk mendapat prioritas lokal. Karena matrik pair-wise comparation terdapat suatu tingkat maka untuk
mendapat prioritas global, harus dilakukan sintesis diantara prioritas lokal. Prosedur melakukan sinte-sis berbeda menurut bentuk hirarki. Pengurutan eleelemen menurut kepentingan relatif men-urut prosedur sintesis dinamakan priority setting.
d. Logical Consistency, konsistensi memiliki dua
mak-na, pertama, bahwa obyek-obyek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai dengan keragaman dan rele-vansinya. Kedua, adalah tingkat hubungan antara obyek-obyek yang didasarkan pada kriteria terten-tu.
e. Pendekatan AHP menggunakan skala Saaty (1991) mulai dari bobot 1 sampai 9. Nilai bobot 1 menggambarkan sama penting (untuk atribut yang sama skalanya selalu diberi nilai bobotnya 1), sedangkan nilai 9 menggambarkan kasus atribut yang ”penting absolut”, penting dibandingkan dengan lainnya.
Tahap paling penting dari AHP adalah penilaian pasangan (judgement) antara faktor pada suatu tingkat
hirarki. Penilaian ini dilanjutkan untuk memberikan bobot numerik atau verbal berdasarkan perbandingan
berpasangan antara faktor yang satu dengan faktor yang lainnya. Selanjutnya melakukan analisis untuk menentukan faktor mana yang paling tinggi atau paling rendah peranannya terhadap level atas dimana faktor tersebut berada.
Keberhasilan penggunaan AHP tergantung pada penggunaan hirarki yang tepat dan problem yang tidak terukur sampai pada pengambilan keputusan, karena AHP mampu mengkonversi faktor-faktor yang tidak dapat diukur (intangible) dalam aturan yang biasa
dibandingkan. Untuk mengisi perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen terhadap elemen lain, maka dapat digunakan pembobotan berdasarkan skala AHP yang disampaikan oleh Saaty (1991) disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Skala Banding Secara Berpasangan Model Saaty
Intensi-tas Kepen-tingan
Definisi Penjelasan
1. Kedua elemen yang dibandingkan
sama pentingnya (equal) Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar pada sifat itu 3. Elemen yang sedikit lebih penting
dibanding elemen yang lain (moderate)
Pengalaman dan pertimbangan sedikit mendukung satu elemen yang lainnya
5. Elemen yang satu sangat penting
dibanding elemen lainnya (strong)Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat mendukung satu elemen atas elemen yang lainnya 7. Satu elemen jelas lebih penting
daripada elemen lainnya (very
strong)
Satu elemen dengan kuat men-dukung, dominansi mendukung tingkat penegasan tinggi yang mungkin menguat
9. Satu elemen mutlak lebih penting dibandingkan elemen lainnya (extreme)
Yang satu atas yang lainnya me-miliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan 2,4,6,8 Apabila ragu-ragu diantara kedua
elemen yang diperbandingkan didekati dengan nilai yang ber-dekatan
Kompromi diperlukan antara dua pertimbangan
1/(-9) Jika untuk aktivitas i mendapat suatu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikan bila dibandingkan dengan i.
Sumber: Saaty, (1991).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Kerusakan Hutan CAPC yang Dirasakan Oleh Masyarakat
Kerusakan hutan CAPC yang terjadi beberapa tahun terakhir ini memang sangat besar, hal itu terlihat dari semakin banyaknya penebangan liar, konversi lahan menjadi lahan pertanian, pembangunan rumah di atas gunung Cycloops, serta kegiatan-kegiatan masyarakat suku Wamena, Paniai dan lainnya yang tidak bertanggungjawab dan menyebabkan kerusakan pada flora yang menjadi endemik di Cycloops.
Dampak sosial yang dirasakan oleh masyarakat yakni berupa biaya sosial, perubahan budaya/gaya hidup dan munculnya kecemburuan sosial. Sedangkan pada aspek modal sosial yang dirasakan masyarakat mengalami peningkatan, hal itu disebabkan oleh komunikasi, solidaritas antar masyarakat semakin baik.
Pada aspek budaya atau kebiasaan hidup sehari-hari
sistem berhadapan dengan beberapa kemungkinan pemanfaatan oleh individu di hari kemudian.
Nilai intrinsik dikelompokan menjadi dua bagian yaitu: nilai warisan (bequest
value) dan nilai keberadaan (existence value). Nilai intrinsik berhubungan dengan
kesediaan membayar positif, jika responden tidak bermaksud memanfaatkannya dan tidak ada keinginan untuk memanfaatkannya (Pearce dan Moran, 1994). Nilai warisan berhubungan dengan kesediaan membayar untuk melindungi manfaat lingkungan bagi generasi mendatang. Nilai warisan adalah bukan nilai penggunaan untuk individu penilai, tetapi merupakan potensi penggunaan atau bukan penggunaan di masa datang (Turner et.
al, 1994). Nilai keberadaan muncul, karena adanya kepuasaan atas keberadaan
sumberdaya, meskipun penilai tidak ada keinginan untuk memanfaatkannya.
Nilai ekonomi total (NET) dampak kerusakan hutan CAPC diformulasikan sebagai berikut :
N E T = M L
Dimana:
ML = Manfaat langsung
Pendekatan yang digunakan untuk menghitung nilai ekonomi total hutan CAPC adalah dengan menggunakan Metode Perubahan Produktivitas, Cost of Illness, dan
Deskriptif Kualitatif (Gambar 1).
T E V
USE VALUE
Gambar 1 Teknik Pendekatan Perhitungan Nilai Ekonomi Total Analisis Kebijakan
Dye (1978) mendefinisikan kebijakan publik sebagai ”what-ever government choice to
do or not to do” (apapun yang dipilih pemerintah untuk dilakukan dan tidak dilakukan).
Perumusan kebijakan adalah proses sosial dimana proses intelektual melekat didalamnya tidak berarti bahwa efektivitas relatif dari proses intelektual tidak dapat ditingkatkan, atau proses sosial dapat diperbaiki (Bauer dalam Dunn, 2003).
Oleh karena analisis kebijakan merupakan bentuk etika terapan yang pada akhirnya berupaya menciptakan pengetahuan yang dapat meningkatkan efisiensi pilihan atas berbagai alternatif kebijakan. Model kebijakan adalah sajian yang sederhana mengenai aspek-aspek terpilih dari suatu situasi problematis yang disusun untuk tujuan-tujuan khusus. Model-model kebijakan tersebut yaitu: 1) Model Deskriptif, 2) Model Normatif, 3) Model Verbal, 4) Model Simbolik, 5) Model Prosedural, 6) Model Pengganti, dan 7) Model Prespektif.
Menurut Dunn (2003) analisis kebijakan adalah awal, bukan akhir, dari upaya untuk meningkatkan proses pembuatan kebijakan berikut hasilnya. Dalam kaitannya dengan analisis kebijakan pengelolaan kawasan CAPC, maka model kebijakan yang dianggap paling sesuai adalah model prosedural. Model prosedural ini menggunakan serangkaian prosedur sederhana
COST OF ILLNESS
PERUBAHAN
PRODUKTIVITAS TRANSFER BENEFIT DESKRIPTIFKUALITATIF
6 Gambar 1 Teknik Pendekatan Perhitungan Nilai Ekonomi Total