• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ILMIAH MAKSITEK ISSN Vol. 6 No. 1 Maret 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL ILMIAH MAKSITEK ISSN Vol. 6 No. 1 Maret 2021"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

58

FAKTOR - FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK DI KOTA MEDAN UU RI NO. 23 TAHUN 2002 DAN UU NO. 35 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

SYAHRIZAL EFENDI LUBIS UNIVERSITAS ISLAM LABUHAN BATU

ABSTRACT

Formulation of the problem is what are the factors that cause sexual violence against children in the city of Medan and how the legal regulation of sexual violence crimes committed by children and how the application of the law against sexual violence crimes committed by children based on the Decision of the Medan District Court No. 65/Pid.Sus-Anak/2017/PN-Medan. The data used in this study is Secondary data. Discussed in this study is the existence of violence against girls that become a serious threat to the growth and protection of children in Sumatra Uttara. Child and women's violence has reached an emergency stage and requires the actions and participation of all parties including parents to combat it. The conclusion to this research of the factors causing sexual violence is increasing inseparable from technological advances and globalissasi. The advice is that parents should limit the apps that can be downloaded by utilizing the android app lock feature to protect the child from pornographic content that can damage the child's mental desire to commit sexual crimes. It can also be a way of protecting children from various threats both from outside and from within themselves, educating, fostering, accompanying children in various ways, preventing hunger and working on their health, and by providing self-support for children.

Keywords : Children, Crimes Of Sexual Violence

PENDAHULUAN

Salah satu titik sasaran pembangunan yang dilakukan oleh setiap bangsa adalah menciptakan kualitas bangsa yang mampu melanjutkan perjuangan dan melaksanakan misi bangsa. Anak sebagai generasi muda disamping sebagai objek juga berperan sebagai subjek pembangunan. Anak merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa. Anak merupakan modal pembangunan yang kelak akan memelihara, mempertahankan, dan mengembangkan hasil pembangunan yang ada. Oleh karena itu anak memerlukan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial secara utuh, menyeluruh, serasi, dan seimbang. Seorang anak akan menjadi harapan penerus bagi kelangsungan suatu bangsa. Sebab, pada dasarnya nasib suatu bangsa sangat tergantung pada generasi penerusnya. apabila generasi penerusnya baik, maka dapat dipastikan juga kehidupan suatu bangsa itu juga akan berlangsung baik dan sebaliknya. Begitu pentingnya generasi penerus bagi kelangsungan hudup berbangsa. Maka sudah sewajarnya jika seorang anak harus diberikan perhatian, pengawasan dan perlindungan khusus. Perlindungan pada anak dapat duwujudkan dalam berbagai bentuk, yakni melalui pemberian hak-hak terhadap anak yang dapat dikaitkan dalam hukum, seperti perlidungan atas kesejahteraan, pendidikan, perkembangan, jaminan masa depan yang cerah, dan perlindungan dari kekejaman, kekerasan, serta perlindungan-perlindungan lain yang dapat memacu tumbuh kembangnya anak secara wajar. Dalam usaha memberikan perlindungan hukum bagi anak, pemerintah memberlakukan UU mengenai kesejahteraan anak UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Dibidang kesusilaan, anak-anak menjadi obyek pelecehan dan hak-haknya dirampas membuat mereka tidak berdaya menhadapi kebiasaan individual, kultural, dan struktural yang dibenarkan. Nilai kesusilaan yang seharusnya dijaga kesuciannya sedang dikoyak dan dinodai oleh orang yang diberikan tempat untuk berlaku adidaya. Salah satu langkah antisipasi atas kejahatan tersebut dapat ditegakkan hukum pidana secara efektif melalui penegakan hukum. Sehingga dalam hal ini, melalui payung hukum hak-hak anak akan secara nyata dilindungi. Namun, perlu diingat juga bahwa penjatuhan pidana bukan semata-mata sebagai jalan balas dendam atas perbuatan yang

(2)

59

telah dilanggar melainkan adalah suatu upaya pemberian bimbingan pada pelaku tindak pidana dan sebagai upaya pengayoman atas korban dari tindak pidana yang ada, dan hakim dalam menjatuhkan suatu putusan haruslah mempertimbangkan unsur-unsur obyektif yang tidak bersifat emosi semata. Tindak pidana perkosaan atau kejahatan seksual pada umumnuya dialami oleh para wanita khususnya anak-anak yang masih muda (remaja). Kejadian ini timbul dalam masyarakat tanpa melihat keadaan sosial pelaku maupun korbannya. Kejahatan tersebut dapat timbul karena pengaruh lingkungan maupun latar belakang kejiwaan yang mempengaruhi tindak tanduk pelaku dimasa lalu maupun karena guncangan psikis spontanitas akibat adanya rangsangan seksual. Tindak pidana perkosaaan atau kejahatan seksual pada umumnya dialami oleh para wanita khususnya anak-anak yang masih muda (remaja). Kejadian ini timbul dalam masyarakat tanpa melihat keadaan sosial pelaku maupun korbannya. Kejahatan tersebut dapat timbul karena pengaruh lingkungan maupun latar belakang kejiwaan yang mempengaruhi tindak tanduk pelaku dimasa lalu maupun karena guncangan psikis sopntanitas akibat adanya rangsangan seksual. Rangsangan seksual yang tidak terkendali inilah yang pada gilirannya melahirkan tindak pidana kesusilaan khususnya kejahatan perkosaan. Tindak pidana ini dahulu hanya dilakukan oleh pihak lain terhadap wanita yang bukan keluar dengan melakukan ancaman dan paksaan atau kekerasan. Dalam menangani perkara anak, hakim mempunyai peran yang sangat penting kaerna putusan yang dijatuhkan terhadap anak harus dapat bertanggungjawab mengingat anak adalah orang yang keadaan psikisnya masih sangat labil, bisa jadi ketika seorang hakim salah dalam menjatuhkan hukuman, anak bukannya menjadi baik malah akan semakin menjadi lebih berani melakukan tindak kejahatan secara berulang-ulang. Dalam penjatuhan pidana terhadap anak, hakim harus bersikap adil dan perlu memperhatikan beberapa unsur dari anak tersebut diantaranya: keadaan biologis, psikologis, dan pedagogis seorang anak, serta latar belakang anak tersebut. Mengingat tujuan penghukumannya adalah sebagai upaya pencegahan, pengajaran, dan pendidikan serta tujuan demi kesejahteraan anak.

TIN JAUAN PUSTAKA

Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Kekerasan pada anak dan perempuan menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang dan perlindungan anak-anak di Sumatera Utara. Kekerasan anak dan perempuan sudah mencapai tahap darurat dan membutuhkan tindakan serta partisipasi semua pihak untuk memeranginya. Kasus kekerasan terhadap anak di Kota Medan masuk dalam kategori memprihatinkan dari banyak kasus yang terjadi di wilayah tersebut, kasus kekerasan seksual berada dalam posisi tertinggi. Karena itu Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyebut bahwa telah terjadi degradasi moral di Kota Medan. Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Yayasan Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP), Sri Eni Purnamawati. Berdasarkan data kekerasan pada anak dan perempuan di Sumut yang dikeluarkan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sampai dengan November 2017, ada 802 kasus dengan jumlah korban sebanyak 906 orang. “Jenis kekerasan yang dialami melipti kekerasan fisik, psikis, seksual, trafficking, penelantaran, dan eksploitasi. Data Kemen PP dan PA, kejahatan seksual menempati peringkat utama dengan jumlah korban anak usia di bawah 18 tahun mencapai 343 orang,” Status “Darurat Perlindungan Anak” yang disandang di Kota Medan sejak 2014 ternyata tidak membuat situasi perlindungan anak di 2015 dan 2016 menjadi lebih baik. Jaringan Perlindungan Anak (JPA) Sumatera Utara mencatat, anak-anak yang berhadapan dengan hukum baik sebagai korban, pelaku, dan saksi mencapai 331 anak-anak. Dibandingkan dengan laporan kasus pada 2015, mengalami peningkatan sekitar 33 persen. Kekerasan seksual terhadap anak masih mendomminasi jenis kekerasan terhadap anak yaitu 52 persen, yaitu 69 kasus yang dialami anak perempuan dan 6 anak laki-laki. Namun untuk kekerasan fisik, 31 anak laki-laki menjadi korbannya, sementara perempuan 12 anak. Sementara untuk anak menjadi pelaku didominasi laki-laki sebanyak 67 orang. Kompleksitas permasalahan kenakalan anak dalam kehidupan masyarakat di Kota Medan saat ini tidak terlepas dari kemajuan teknologi dan globalisasi yang memicu terjadinya berbagai tindakan sosial yang selaras dengan aturan hukum dan sosial yang berlaku. Kurangnya bimbingan dari orang tua merupakan penyebab utama terjadinya kenakalan pada anak, hal ini dikarenakan orangtua merupakan pembentuk karakter pertama bagi anak. Kenakalan anak diambil dari istilah juvenile delinquency, istilah ini berasal dari juvenile artinya young, anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja. Sedangkan delinquency artinya wrong doing yang berarti terabaikan/mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, kriminal, pelanggaran aturan, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, dan lain-lain. Ketika kita mendekati abad 21, masih banyak anak dan keluarga yang harus berhadapan dengan masalah kemiskinan, narkoba, kekerasan atau Jaringan Perlindungan Anak (JPA) Sumatera Utara mencatat, anak-anak yang berhadapan dengan hukum baik sebagai korban,

(3)

60

pelaku, dan saksi mencapai 331 anak. Dibanding dengan laporan kasus pada 2015, mengalami peningkatan sekitar 33 persen. Kekerasan seksual terhadap anak masih mendominasi jenis kekerasan terhadap anak yaitu 52 persen, yaitu 69 kasus yang dialami anak perempuan dan 6 anak laki-laki. Namun untuk kekerasan fisik, 31 anak laki-laki menjadi korbannya, sementara perempuan 12 anak. Sementara untuk anak menjadi pelaku, didominasi laki-laki sebanyak 67 orang.

Faktor-Faktor Timbulnya Kekerasan Seksual Di Kota Medan

Sebelum penulis membahas faktor-faktor timbulnya kekerasan seksual di Kota Medan, penulis ingin membahas teori-teori sebab terjadinya kejahatan yang terdapat dalam kriminologi, yaitu :

a. Teori Biologi Kriminal

Cesare Lombroso, seorang Dokter Kedokteran Kehakiman merupakan tokoh penting dalam mencari sebab-sebab kejahatan dari ciri-ciri fisik (biologis) penjahat. Ajaran-ajaran yang dikemukakan yaitu :

1. Penjahat adalah orang mempunyai bakat jahat.

2. Bakat jahat tersebut diperoleh karena kelahiran yaitu diwariskan dari nenek moyang.

3. Bakat jahat tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri biologis tertentu seperti muka yang tidak simetris, bibir tebal, hidung pesek, dan sebagainya.

4. Bakat jahat tersebut tidak dapat diubah, artinya bakat jahat tersebut tidak dapat dipengaruhi. b. Teori Psikologi Kriminal

Usaha mencari ciri-ciri psikis pada para penjahat didasarkan anggapan bahwa penjahat merupakan orang-orang yang mempunyai ciri-ciri psikis yang berbeda dengan orang-orang yang bukan penjahat dan ciri-ciri psikis tersebut terletak pada intelegensinya yang rendah. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia di tingkat individu dalam melakukan kejahatan.

c. Teori Sosiologi Kriminal

Dalam teori ini, mempelajari, meneliti, dan membahas hubungan antara masyarakat dengan anggotanya, antara kelompok baik karena hubungan tempat maupun etnis dengan anggotanya, antara kelompok dengan kelompok, sepanjang hubungan tersebut dapat menimbulkan kejahatan.

Melihat dari teori-teori sebab terjadinya kejahatan menurut kriminologi maka terjadinya kekerasan terhadap anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang memengaruhinya demikian kompleks, seperti yang dijelaskan oleh beberapa pakar berikut ini. Menurut Suharto, kekerasan terhadap anak umumnya disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak sendiri maupun faktuor eksternal yang berasal dari kondisi keluarga dan masyarakat, seperti :

a. Anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan tingkah laku, autisme, anak terlaku lugu, memiliki temperamen lemah, ketidaktahuan anak akan hak-haknya, anak terlalu bergantung pada orang dewasa.

b. Kemiskinan keluarga, orang tua menganggur, penghasilan tidak cukup, banyak anak.

c. Keluarga tunggal atau keluarga pecah, misalnya perceraian, ketiadaan ibu untuk jangka panjang atau keluarga tanpa ayah dan ibu tidak mampu memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi.

d. Keluarga yang belum matang secara psikologis, ketidaktahuan mendidik anak, harapan orang tua yang tidak realistis, anak yang tidak diinginkan, anak yang lahir di luar nikah.

e. Penyakit parah atau gangguan mental pada salah satu atau kedua orangtua, misalnya tidak mampu merawat dan mengasuh anak karena gangguan emosional dan depresi.

f. Sejarah penelantaran anak. Orang tua yang semasa kecilnya mengalami perlakuan salah cenderung memperlakukan salah anak-anaknya.

g. Kondisi lingkungan sosial yang buruk, pemukiman kumuh, tergusurnya tempat bermain anak, sikap acuh tak acuh tehadap tindakan eksploitasi, pandangan terhadap nilai anak yang terlalu rendah, meningkatnya paham ekonomi upah, lemahnya perangkat hukum, tidak adanya mekanisme kontrol sosial yang stabil. Sementara itu, Rusmil menjelaskan bahwa penyebab atau resiko terjadinya kekerasan dan penelantaran terhadap anak dibagi ke dalam tiga faktor, yaitu :

(4)

61 1) Faktor orang tua atau keluarga (Internal)

Faktor orang tua memegang peranan penting terjadinya kekerasan dan penelantaran pada anak. Faktor-faktor yang menyebabkan orang tua melakukan kekerasan pada anak diantaranya :

a) Praktik-praktik budaya yang merugikan anak : (1) Kepatuhan anak kepada orang tua (2) Hubungan asimetris

b) Dibesarkan dengan penganiayaan c) Gangguan mental

d) Belum mencapai kematangan fisik, emosi maupun sosial, terutama mereka yang mempunyai anak sebelum berusia 20 tahun

e) Pecandu minuman keras.

2) Faktor lingkungan sosial/komunitas (Eksternal)

Kondisi lingkungan sosial juga dapat menjadi pencetus terjadinya kekerasan pada anak. Faktor lingkungan sosial yang dapat menyebabkan kekerasan dan penelantaran pada anak di antaranya : a) Kemiskinan dalam masyarakat dan tekanan nilai materialistis

b) Kondisi sosial-ekonomi yang rendah

c) Adanya nilai dalam masyarakat bahwa anak adalah milik orang tua sendiri d) Status wanita yang dipandang rendah

e) Sistem keluarga patriki

f) Nilai masyarakat yang terlalu individualistis 3) Faktor anak itu sendiri (individu)

a) Penderita gangguan perkembangan, menderita penyakit kronis disebabkan ketergantungan anak kepada lingkungannya.

b) Perilaku menyimpang pada anak.

Selanjutnya Moore dan Parton yang dikutip Fentini Nugroho mengungkapkan ada orang yang berpendapat bahwa kekerasan terhadap anak lebih disebabkan oleh factor individual dan ada juga yang menganggap bahwa factor structural sosial yang lebih penting. Mereka yang menekankan factor individual mengatakan bahwa orang tua yang “berbakat” untuk menganiaya anak mempunyai karakteristik tertentu, yaitu:

1. Mempunyai latar belakang yang juga penuh kekerasan, ia juga sudah terbiasa menerima pukulan

2. Adapula yang menganggap anak sebagai individu yang seharusnya memberikan dukungan dan perhatian kepada orang tua sehingga ketika anak tidak dapat memenuhi harapan tersebut, orang tua merasa bahwa anak harus dihukum 3. Karakter lainnya adalah ketidaktahuan kebutuhan perkembangan anak, misalnya usia anak belum memungkinkan untuk melakukan sesuatu tetapi karena sempitnya pengetahuan orang tua, si anak dipaksa untuk melakukannya dan ketika ternyata anak memang belum mampu, orang tua menjadi marah.

Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori utama, yaitu : 1. Pewarisan Kekerasan Antargenerasi

Banyak anak belajar perilaku kekerasan dari orangtuanya dan ketika tumbuh menjadi dewasa mereka melakukan tindakan kekerasan kepada anaknya. Tetapi, sebagian besar anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan tidak menjadi orang dewasa yang memperlakukan kekerasan kepada anak-anaknya. Beberapa ahli yakin bahwa faktor yang mempengaruhi tindakan kekerasan di masa depan yaitu apakah anak menyadari bahwa perilaku tersebut salah. Anak yang yakin bahwa perilaku buruk dan layak mendapatkan tindakan kekerasan akan lebih sering menjadi orang tua yang memperlakukan anaknya secara salah, dibandingkan anak-anak yang yakin bahwa orang tua mereka salah untuk memperlakukan mereka dengan tindakan kekerasan.

(5)

62

Stres sosial stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan resiko kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Kondisi-kondisi sosial ini mencakup :

a. Pengangguran b. Penyakit

c. Kondisi perumahan buruk

d. Ukuran keluarga besar dari rata-rata e. Kelahiran bayi baru

f. Orang berkebutuhan khusus g. Di rumah dan kematian.

Pengguanaan alkohol dan narkoba yang umum di antara orang tua yang melakukan tindakan kekerasan mungkin memperbesar stres dan merangsang perilaku kekerasan. Karakteristik tertentu dari anak-anak, seperti: kelemahan mental, atau kecacatan perkembangan atau fisik juga meningkatkan stres dari orang tua dan meningkatkan risiko tindakan kekerasan.

2. Isolasi Sosial Dan Keterlibatan Masyarakat Bawah

Orang tua dan pengganti orang tua yang melakukan tindakan kekerasan terhadap anak cenderung terisolasi secara sosial. Sedikit sekali orangtua yang bertindak keras ikut serta dalam suatu organisasi masyarakat dan kebanyakan mempunyai hubungan yang sedikit dengan teman atau kerabat. Kekurangan keterlibatan sosial ini menghilangkan sistem dukungan dari orangtua yang bertindak keras, yang akan membantu mereka mengatasi stres keluarga atau sosial dengan lebih baik. Lagi pula, kurangnya kontak dengan masyarakat menjadikan para orangtua ini kurang memungkinkan mengubah perilaku mereka sesuai dengan nilai-nilai dan standar-standar masyarakat.

3. Struktur Keluarga

Tipe-tipe keluarga tertentuk memiliki risiko yang meningkat untuk melakukan tindakan kekerasan dan pengabaian kepada anak. Misalnya, orangtua tunggal lebih memungkinkan melakukan tindakan kekerasan terhadap anak dibandingkan dengan orangtua utuh. Karena keluarga dengan orangtua tunggal biasanya berpendapatan lebih kecil dibandingkan keluarga lain, sehingga hal tersebut dapat dikatakan sebagai penyebab meningkatnya tindakan kekerasan terhadap anak. Keluarga-keluarga yang sering bertengkar secara kronis atau istri yang diperlakukan salah mempunyai tingkat tindakan kekerasan terhadap anak lebih tinggi.

Akibat-Akibat Dari Kekerasan Seksual

Menurut Rusmil, anak-anak yang menderita kekerasan, eksploitasi, pelecehan, dan penelantaran menghadapi resiko : 1. Usia yang lebih pendek.

2. Kesehatan fisik dan mental yang buruk.

3. Masalah pendidikan (termasuk drop-out dari sekolah). 4. Kemampuan yang terbatas sebagai orangtua kelak. 5. Menjadi gelandangan.

Gambaran yang lebih jelas tentang efek tindakan kekerasn pada anak juga bisa dilihat dari penjelasan Moore dalam Fentini Nugroho yang mengamati beberapa kasus anak yang menjadi korban penganiayaan fisik. Diungkapkannya bahwa efek tindakan kekerasan tersebut demikian luas dan secara umum dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Ada yang menjadi negatif dan agresif serta mudah frustasi, ada yang menjadi sangat pasif dan apatis, ada yang tidak mempunyai kepribadian sendiri, apa yang dilakukan sepanjang hidupnya hanyalah memenuhi keinginan orangtuanya, mereka tidak mampu menghargai dirinya sendiri, ada pula yang sulit menjalin relasi dengan individu lain; dan yang tampaknya paling parah adalah timbulnya rasa benci yang luar biasa terhadap dirinya karena merasa hanya dirinyalah yang selalu bersalah sehingga menyebabkan penyiksaan terhadap dirinya, dan rasa benci terhadap dirinya sendiri seperti bunuh diri dan sebagainya. Selain akibat psikologis tersebut, Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik, seperti perkembangan tubuh yang kurang normal, juga rusaknya sistem saraf, dan sebagainya. Dari uraian di atas terlihat bahwa dampak dari tindakan

(6)

63

kekerasan terhadap anak begitu menggenaskan. Mungkin belum banyak orang menyadari bahwa pemukulan bersifat fisik itu bisa menyebabkan kerusakan emosional anak. Ciri-ciri umum anak yang mengalami kekerasan seksual dalam penjelasan Charles Zastrow dalam Suharto, yakni :

a. Tanda-Tanda Perilaku

1. Perubahan-perubahan mendadak pada perilaku : dari bahagia ke depresi atau permusuhan, dari bersahabat ke isolasi, atau dari komunikatif ke penuh rahasia.

2. Perilaku ekstrim : perilaku yang secara komparatif lebih agresif atau pasih dari teman yang lama.

3. Gangguan tidur : takut pergi ke tempat tidur, sulit tidur atau terjaga dalam waktu yang lama atau mimpi buruk.

4. Perilaku regresif : kembali pada perilaku awal perkembangan anak tersebut, seperti ngompol, mengisap jempol, dan sebagainya.

5. Perilaku anti-sosial atau nakal : bermain api, mengganggu anak lain atau binatang, tindakan-tindakan merusak. 6. Perilaku menghindar : takut akan, atau menghindar dari orang tertentu (orangtua, kakak, saudara lain, tetangga,

pengasuh), lari dari rumah, nakal atau membolos sekolah.

7. Perilaku seksual yang tidak pantas : masturbasi berlebihan, berbangsa atau bertingkah porno melebihi usianya, perilaku seduktif terhadap anak yang lebih muda, menggambar porno.

8. Penyalahgunaan NAPZA : alkohol atau obat terlarang khususnya pada anak remaja.

9. Bentuk-bentuk perlakuan salah terhadap diri sendiri : merusak diri sendiri, gangguan makan, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan berisiko tinggi, percobaan atau melakukan bunuh diri.

b. Tanda-Tanda Kognisi

1. Tidak dapat berkonsentrasi : sering melamun dan mengkhayal, fokus perhatian singkat/terpecah.

2. Minat sekolah memudar : menurunnya perhatian terhadap pekerjaan sekolah dibandingkan dengan sebelumnya. 3. Respon/reaksi berlebihan : khususnya terhadap gerakan tiba-tiba dan orang lain dalam jarak dekat.

c. Tanda-Tanda Sosial-Emosional

1. Rendahnya kepercayaan diri : perasaan tidak berharga

2. Menarik diri : mengisolasi diri dari teman, lari ke dalam khayalan atau ke bentuk-bentuk lain yang tidak berhubungan.

3. Depresi tanpa penyebab jelas : perasaan tanpa harapan dan ketidakberdayaan, pikiran dan pernyataan-pernyataan ingin bunuh diri.

4. Ketakutan berlebihan : kecemasan, hilang kepercayaan terhadap orang lain.

5. Keterbatasan perasaan : tidak dapat mencintai tidak riang seperti sebelumnya atau sebagaimana dialami oleh teman sebayanya.

d. Tanda-Tanda Fisik

1. Perasaan sakit yang tidak jelas : mengeluh sakit kepala, sakit perut, tenggorokan tanpa penyebab jelas, menurunnya berat badan secara drastis, tidak ada kenaikan berat badan secara memadai, muntah-muntah. 2. Luka-luka pada alat kelamin atau mengidap penyakit kemaluan : pada vagina, penis, atau anus yang ditandai

dengan pendarahan, lecet, nyeri atau gatal-gatal di seputar alat kelamin. 3. Hamil.

Kekerasan Seksual Ditinjau Dari Sudut Kriminologi

Kekerasan seksual sering terjadi kepada anak-anak dan perempuan, selain itu juga dimuat di dalam surat kabar maupun lewat media-media lain, dan ini sering terabaikan oleh lembaga-lembaga kompeten dalam sistem peradilan pidana, yang seharusnya memberikan perhatian dan perlindungan yang cukup berdasarkan hukum, misalnya adalah seorang siswa kelas III SMP diperkosa oleh ayah tirinya. Hal tersebut tidak seharusnya terjadi, sebab bagaimanapun korban tetap mempunyai hak untuk diperlakukan adil, dan dilindungi hak-haknya. Siapapun orangnya, menjadi korban kejahatan adalah sesuatu hal yang tidak pernah diinginkannya. Dalam kasus kekerasan seksual seringkali pelakunya adalah orang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dengan kata lain orang yang telah dikenalnya atau jadi anggota keluarga.

(7)

64

Sebagaimana yang diketahui, dampak dari perilaku kekerasan seksual terhadap anak-anak cenderung merusak mental korban bahkan seringkali mengalami keterbelakangan mental. Untuk itu sungguh beralasan jika terus mencari solusi terbaik guna pencegahan dan penanggulangannya. Hukum positif di Indonesia saat ini memang sudah mulai mau mengatur secara khusus bentuk perlindungan untuk pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual terhadap anak-anak. Meskipun demikian, dari sudut hukum acara, korban tetap mempunyai kedudukan yang sangat pasif, dan dalam hal ini sebatas diwakilkan kepentingannya oleh jaksa penuntut umum. Bahkan, seringkali kita tahu bahwa masih ada aparat hukum yang menolak untuk menegakkan hukum apabila kejahatan itu terjadi dalam lingkup domestik. Teori yang berkaitan dengan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur ini adalah sebagai berikut :

a. Teori Containment Menurut Reckless

Teori Containment menerangkan terjadinya kejahatan dari posisi individu (pelaku kejahatan) diantara presi sosial dan tarikan sosial dan tarikan sosial. Posisi individu di dalam dan diantara kedua faktor tersebut sangat menentukan bentuk pola tingkah laku yang akan terjadi. Kejahatan adalah kelemahan baik kendali (didalam) pribadi seseorang (internal control) dan kurangnya kendali dair luar atas diri orang yang bersangkutan (external control) di dalam menghadapi baik presi sosial maupun tarikan sosial tadi. Kaca mata kriminologi melalui teori ini melihat terjadinya kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur adalah disebabkan karena bukan hanya semata-mata masalah lemahnya kendali internal melainkan juga lemahnya kendali eksternal atau kendala-kendala struktural (pendidikan kesusilaan dalam keluarga, lingkungan, kediaman pelaku dan mekanisme peradilan pidana dalam kasus kekerasan seksual terahdap anak di bawah umur).

b. Teori Labeling Menurut Becker

Teori Labeling menerangkan dua hal, yaitu :

1. Tentang bagaimana dan mengapa seseorang memperoleh cap atau label

2. Bagaimana efek labeling terhadap penyimpangan tingkah laku berikutnya pada diri seseorang terhadap mana ia memperoleh cap.

Dalam konteks kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur, teori ini cenderung memberikan justifikasi atas kebenaran keterlibatan unsur pemaksaan kehendak disertai dengan cara kekerasan pada setiap kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Melekatnya cap atau label mengenai eksistensi unsur ini di dalam setiap tindak kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur telah menghilangkan kemungkinan untuk menghadirkan unsur non-kekerasan di dalam kasus tersebut.

Penerapan Hukum Tindak Pidana Yang Dilakukan Oleh Anak Hasil Putusan Tindak Pidana

Penjatuhan putusan pidana yang dilakukan oleh anak, hakim menggunakan pertimbangan yang bersifat Yuridis dan Non Yuridis. Pertimbangan yang bersifat yuridis adalah pertimbangan hakim yang didasarkan pada faktor-faktor yang terungkap di dalam persidangan dan oleh undang-undang telah ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat di dalam putusan. Disamping pertimbangan yang bersifat yuridis hakim dalam menjatuhkan putusan membuat pertimbangan yang bersifat non yuridis. Pertimbangan yuridis saja tidak cukup untuk menentukan nilai keadilan dalam pemidanaan anak di bawah umur, tanpa ditopang dengan pertimbangan non yuridis yang bersifat sosiologis, psikologis, kriminologis, dan fisolofis telah ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat di dalam putusan Yuridis dan Non Yuridis. Pertimbangan yang bersifat yuridis :

Dakwaan Jaksa Penuntut Umum

Dakwaan adalah surat atau akte yang memuat rumusan tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa yang disimpulkan dan ditarik dari hasil pemeriksaan, penyidikan, dan merupakan dasar serta landasan bagi hakim dalam pemeriksaan dimuka pengadilan :

a. Dakwaan

Merupakan dasar hukum acara pidana karena berdasarkan itulah pemeriksaan di persidangan dilakukan (Pasal 143 Ayat (1) KUHAP). Dalam menyusun sebuah surat dakwaan, hal-hal yang harus diperhatikan adalah syarat-syarat formil dan materilnya. Dakwaan berisi identitas terdakwa juga memuat uraian tindak pidana serta waktu dilakukannya tindak

(8)

65

pidana dan memuat Pasal yang dilanggar (Pasal 143 ayat (2) KUHAP). Perumusan dakwaan didasarkan dari hasil pemeriksaan pendahuluan yang dapat disusun tunggal, kumulatif, alternatif maupun subsidair :

1. Tuntutan Pidana

Tuntutan pidana biasanya menyebutkan jenis-jenis dan beratnya pidana atau jenis-jenis tindakan yang dituntut oleh jaksa penuntut umum untuk dijatuhkan oleh pengadilan kepada terdakwa, dengan menjelaskan karena telah terbukti melakukan tindak pidana yang mana, jaksa penuntut umum telah mengajukan tuntutan pidana tersebut di atas. Penyusunan surat tuntutan oleh jaksa penuntut umum disesuaikan dengan dakwaan jaksa penuntut umum dengan melihat proses pembuktian dalam persidangan, yang disesuaikan pula dengan bentuk dakwaan yang digunakan oleh jaksa penuntut umum. Sebelum sampai pada tuntutannya didalam requisitoir itu biasanya penuntut umum menjelaskan satu demi satu tentang unsur-unsur tindak pidana yang ia dakwakan kepada terdakwa, dengan memberikan alasan tentang anggapannya tersebut.

2. Keterangan Saksi

Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang merupakan keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu. Keterangan saksi merupakan alat bukti seperti yang diatur dalam Pasal 184 Ayat (1) KUHAP huruf a. sepanjang keterangan itu mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan alami sendiri, dan harus disampaikan dalam sidang pengadilan dengan mengangkat sumpah. Keterangan saksi yang disampaikan di muka sidang pengadilan yang merupakan hasil pemikiran saja atau hasil rekaan yang diperoleh dari kesaksian orang lain tidak dapat dinilai sebagai alat bukti yang sah. Kesaksian semacam ini dalam hukum acara pidana disebut dengan istilah de auditu testimonium.

3. Keterangan Terdakwa

Berdasarkan Pasal 184 Ayat (1) KUHAP huruf keterangan terdakwa digolongkan sebagai alat bukti. Keterangan terdakwa adalah apa yang dinyatakan terdakwa di sidang tentang perbuatan yang dia lakukan atau yang dia ketahui sendiri atau yang dia alami sendiri, ini diatur dalam pasal 189 KUHAP. Dalam praktek keterangan terdakwa sering dinyatakan dalam bentuk pengakuan dan penolakan, baik sebagian maupun keseluruhan terhadap dakwaan penuntut umum dan keterangan yang disampaikan oleh para saksi. Keterangan terdakwa juga merupakan jawaban atas pertanyaan baik yang diajukan oleh penuntut umum, hakim maupun penasehat hukum. Keterangan terdakwa dapat meliputi keterangan yang berupa penolakan dan keterangan yang berupa pengakuan atas semua yang didakwakan kepadanya. Dengan demikian, keterangan terdakwa yang dinyatakan dalam bentuk penolakan atau penyangkalan sebagaimana sering dijumpai dalam praktek persidangan, boleh juga dinilai sebagai alat bukti. 4. Barang-Barang Bukti

Barang bukti adalah barang yang dipergunakan oleh terdakwa untuk melakukan suatu tindak pidana atau barang sebagai hasil dari suatu tindak pidana. Barang-barang ini disita oleh penyidik untuk dijadikan sebagai bukti dalam sidang pengadilan. Barang yang digunakan sebagai bukti yang diajukan dalam sidang pengadilan bertujuan untuk menguatkan keterangan saksi, keterangan ahli, dan keterangan terdakwa untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Pertimbangan Non Yuridis :

Pertimbangan yang bersifat yuridis hakim dalam menjatuhkan putusan membuat pertimbangan yang bersifat non yuridis. Pertimbangan yuridis saja tidaklah cukup untuk menentukan nilai keadilan dalam pemidanaan anak dibawah umur, tanpa ditopang dengan pertimbangan non yuridis yang bersifat sosiologis, psikologis, kriminologis, dan filosofis. Pertimbangan non-yuridis oleh hakim dibutuhkan oleh karena itu, masalah tanggung jawab hukum yang dilakukan oleh terdakwa umur tidaklah cukup kalau hanya didasarkan pada segi normatif, visi kerugiannya saja, tetapi faktor intern dan ekstern anak yang melatarbelakangi anak dalam melakukan kenakalan atau kejahatan juga harus ikut dipertimbangkan secara arif oleh hakim yang mengadili. Aspek sosiologis berguna untuk mengkaji kondisi psikologis terdakwa pada saat melakukan suatu tindak pidana dan bagaimana sikap serta prilaku anak yang melakukan tindak pidana, dengan demikian hakim diharapkan dapat memberikan putusan yang adil.

(9)

66

Berdasarkan Putusan No. 65/Pid.sus-Anak/2017/PN-Mdn bahwa terdakwa yang melakukan tindak pidana dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, yaitu Terdakwa atas nama STEVEN ALS STEVEN HUTAGALUNG ALS GELENG didakwa terdakwa dengan dakwaan yang disusun dengan alternatif yaitu :

a. Pasal 81 ayat 2 UU RI No. 35 tahun 2014 tentang perubahan UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo UU No. RI No. 17 tahun 2016 tentang penerapan peraturan pemerintah pengganti UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi UU Jo UU RI No. 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak dalam (dakwaan) b. Menjatuhkan pidana-pidana penjara terhadap dakwaan STEVEN als STEVEN HUTAGALUNG als GELENG selama 6

tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah terdakwa tetap ditahan dan denda sebesar Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah) subsidair 4 (empat) bulan penjara.

c. Menyatakan barang bukti : Nihil

d. Menetapkan agar terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp.2000 (dua ribu rupiah).

Berdasarkan perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa yang merupakan anak pelaku tindak pidana, didasarkan pada berbagai faktor yang di antaranya adalah kurangnya perhatian orang tua dan keluarga terhadap pendidikan dan pergaulan anak, rendahnya moralitas akhlak dan budi pekerti anak maka Hakim berpendapat perbuatan terdakwa semata-mata bukanlah merupakan kesalahan pribadi dari terdakwa akan tetapi merupakan kesalahan kolektif dari orang tua, keluarga, dan masyarakat serta negara secara keseluruhan.

KESIMPULAN

Yang menjadi kesimpulan dalam laporan ini antara lain :

1. Faktor-faktor penyebab terjadinya Kekerasan Seksual terhadap anak di Kota Medan tidak terlepas dari kemajuan teknologi dan globalisasi yang memicu terjadinya berbagai tindakan sosial yang selaras dengan aturan hukum dan sosial yang berlaku. Kurangnya bimbingan dari orang tua merupakan penyebab utama terjadinya kenakalan pada anak, hal ini dikarenakan orang tua merupakan pembentuk karakter utama bagi anak. Hal paling banyak menjadi penyebab terjadinya kekerasan seksual oleh anak adalah pornografi, pengaruh teman, pengaruh narkoba/obat, pengaruh historis pernah menjadi korban atau trauma masa kecil dan pengaruh keluarga.

2. Pengaturan hukum terhadap tindak pidana kekerasan seksual yang dilakukan oleh anak maka pemerintah menetapkan UUPA dan UUSPPA agar hak-hak Anak yang berkonflik dengan hukum dapat tetap terlindungi. Dalam hal anak melakukan tindak pidana pelecehan seksual tidak dapat diupayakan diversi. Sesuai dengan aturan dalam Pasal 7 ayat (2) UUSPPA bahwa diversi hanya dapat diberikan kepada anak yang melakukan tindak pidana dengan pidana penjara dibawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana. Sedangkan dalam hal pencabulan, terhadap pelaku tindak pidana dikenakan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun, maka dari itu diversi tidak dapat diterapkan bagi anak yang melakukan tindak pidana pencabulan. Meskipun demikian, hakim dalam memutuskan kasus sanksi pidana terhadap tindak pidana pencabulan oleh anak tetap harus memperhatikan keadaan mental dan hak-hak si Anak yaitu dengan memberikan sanksi berupa tindakan sebagaimana diatur dalam Pasal 82 ayat 1 UUSPPA.

3. Penerapan hukum terhadap Putusan Hakim No. 65/Pid-sus.Anak/2017/PN.Mdn menyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Dengan sengaja Melakukan Tipu Muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya”. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun dan 6 (enam) bulan; Menjatuhkan pula pidana dengan menjalani pelatihan Kerja selama 1 (satu) bulan di UPT. LKPS Pelayanan Sosial Anak dan Remaja (PSAR) Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara di Tanjung Morawa; Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani anak dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Berdasarkan Putusan Hakim yang telah diuraikan di atas menurut analisa penulis majelis hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana menggunakan undang-undang UU RI No. 35 tahun 2014 pasal 81 ayat 2 yaitu ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

(10)

67

SARAN

Adapun saran dari penelitian ini, yakni :

1. Sebaiknya orang tua membatasi aplikasi yang boleh diunduh dengan memanfaatkan fitur pengunci aplikasi android yang ada dalam setiap gawai. Caranya cukup beragam untuk mengunci aplikasi-aplikasi tertentu yang dirasa tidak patut untuk dilihat anak-anak, misalnya mengunci aplikasi melalui kata sandi, PIN (Personal Identification Number), dan pemindai sidik jari, semua pihak harus turun dengan penuh kesadaran untuk memberikan perlindungan terhadap anak. Agar mereka tak menjadi pelaku maupun korban.

2. Perlindungan anak dapat dilakukan secara langsung maupun secara tidak langsung. Secara langsung, maksudnya kegiatan tersebut langsung ditujukan kepada anak yang menjadi sasaran penanganan langsung. Kegiatan seperti ini, antara lain dapat berupa cara melindungi anak dari berbagai ancaman baik dari luar maupun dari dalam dirinya, mendidik, membina, mendampingi anak dengan berbagai cara, mencegah kelaparan dan mengusahakan kesehatannya dengan berbagai cara, serta dengan cara menyediakan pengembangan diri bagi anak. Sedangkan yang dimaksud dengan perlindungan anak secara tidak langsung adalah kegiatan yang tidak langsung ditujukan kepada anak, melainkan orang lain yang terlibat atau melakukan kegiatan dalam usaha perlindungan terhadap anak tersebut.

3. Adapun hukuman yang telah dijatuhkan kepada pelaku, dimana pelaku merupakan anak dibawah umur merupakan hukuman seadil-adilnya menggunakan undang-undang UU RI No. 35 tahun 2014 pasal 81 ayat 2 yaitu ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain maka dari itu dibutuhkan juga pengawasan dari orang tua dari pihak Korban atau Pelaku agar lebih bisa mengawasi anak-anaknya dalam pergaulan kehidupannya agar lebih terarah dan kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Mengajarkan anaknya untuk lebih baik lagi, sebagaimana orang tua mempunyai tanggung jawab penuh terhadap anak-anaknya, jadi sudah selayaknya orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Angger Sigit Pramukti dan Fuady Primarharsya, Sistem Peadilan Pidana Anak, Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2015. Ansori Sabuan, dkk, Hukum Acara Pidana, Angkasa, Bandung, 1990.

Andrisman Tri. Hukum Pidana. Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2007.

Adi Hamzah. Dan Stiti Rahayu. Suatu Tinjauan Ringkas Sistem Pemidanaan di Indonesia. Akademika Pressindo. Jakarta. 1983.

Arif Gosita. Masalah Perlindungan Anak. Jakarta: Akademika Pressindo, 1985.

Barda Nawawi Arif Dala, Waluyadi, Hukum Perlindungan Anak, Mandar Maju, Bandung, 2009. Chazawi Adami, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, Rajawali Pers, 2013.

C.S. T. Kansil, Engelin R. Palandang, Altjeagustin Musa, Tindak Pidana dalam Undang-Undang Nasional, Jakarta, 2009. Gerson W. Bawengan, Pengantar Psikologi Kriminal, Jakarta: Pradnya Paramita, 1977.

Gultom Maidin, Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Redika Aditama, Bandung, 2013.

(11)

68

Muhammad Taufik Makarao, Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia, Studi Tentang Bentuk-bentuk Pidana Khususnya Pidana Cambuk sebagai Bentuk Pemidanaan. Kreasi Wacana. Yogyakarta. 2005.

Muladi dan Barda Nawawi Arief. Teori-teori dan Kebijakan Pidana, cetakan ketiga, PT. Alumni, Bandung. 2005.

Nanawi Barda Arif, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, 2005. Printst Darwan, Hukum Anak Indonesia, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, 1997.

Prasetyo Teguh. Hukum Pidana. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2013.

Prodjodikoro Wirjono, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Refika Aditama, 2003.

Suherman Toha, Aspek Hukum Terhadap Perlindungan Terhadap Anak, Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI, 2010.

Suryono Ekotama. A Bortus Provocatus Bagi Korban Perkosaan, Yogyakarta: Universitas Atmajaya Yogyakarta, 2001. Simanjuntak Nikolas, Acara Pidana Indonesia dalam Sirkus Hukum, Ghalia, Jakarta, 2009.

Siregar, Bismar dkk., Hukum dan Hak-hak Anak. Jakarta: Rajawali, 1986. Soedarso, Kamus Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 1992.

Soedarto. Hukum Pidana I. Semarang: Yayasan Sudarto (Fakultas Hukum Universitas Diponegoro), 1990. Soetodjo Wigiati, Hukum Pidana Anak, Bandung, PT. Refika Aditarna. 2006.

Tri Andrisman, Hukum Pidana Asas-asas dan Dasar Aturan Hukum Pidana Indonesia. UNILA. Bandar Lampung. 2007. Waluyo Bambang, Sistem Pembuktian Dalam Peradilan Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta. 1996.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini keadilan perlu ditegakan bagi Pelaku Tindak Pidana Pembunuhan Berencana, jika melihat dari system yang berlaku di Indonesia itu Kepastian Hukum

Tindak pidana pencucian uang sebagai suatu proses atau perbuatan yang bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul uang atau harta kekayaan, yang

2 Tahun 2012 yang diatur dalam Pasal 2 ayat 2 yang pada intinya menyatakan bahwa perkara tindak pidana ringan yang dilakukan oleh terdakwa dikatakan perbuatan pidana yang

Pada periode tahun 2019, current ratio sebesar 26,09 %, Rasio Debt to Equity sebesar 8.237,55 % dan rasio ROE sebesar 213,71 % ,Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kondisi

Suatu perbuatan yang merupakan hukum publik mempunyai segi satu, dapat dilakukan oleh perangkat pemerintahan didasarkan pada kekuasaan yang bersifat istimewa, dan

Berdasarkan hasil penelitian, faktor-faktor yang mempengaruhi (PUS) tidak menggunakan alat kontrasepsi yang diteliti di Desa Sigulang Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara

46 cukup terbukti secara sah dan meyakinkan, namun perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa dinyatakan tidak bersalah sengaja/alpa atau tidak melawan hukum atau ada alasan pemaaf feit

Perbedaan pidana bagi pelaku tindak pidana khamar dalam hukum Pidana Islam dibandingkan dengan hukum pidana positif Indonesia adalah dalam hukum Islam, pidana yang dijatuhkan hanya