BAB II KERANGKA TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA. bidang waktu serta perubahan-perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam waktu tersebut (Keraf

Teks penuh

(1)

BAB II

KERANGKA TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teori

2.1.1 Linguistik Historis Komparatif

Linguistik historis komparatif adalah cabang ilmu bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu serta perubahan-perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam waktu tersebut (Keraf 1996:22). Menurut Fernandez (1996:14) linguistik historis komparatif sebagai cabang linguistik mempunyai tugas utama antara lain menetapkan fakta dan tingkat kekerabatan antarbahasa yang berkaitan erat dengan pengelompokan bahasa-bahasa kerabat.

Selanjutnya Mbete (2009 : 1) mengatakan bahwa linguistik historis komparatif adalah cabang linguistik yang mempelajari dan mengkaji bahasa dalam dimensi waktu, khususnya masa lalu. Dengan dimensi waktu ini, bahasa yang dikaji bersifat diakronis, berbeda dengan linguistik deskriptif yang bersifat sinkronik. Linguistik historis komparatif bertujuan untuk menjelaskan adanya hubungan kekerabatan dan kesejarahan bahasa – bahasa di suatu kawasan tertentu. Hubungan kekerabtan atau keseasalan yang ditemukan itu diabstraksikan dalam bentuk silsilah. Di balik hubungan itu, tersirat fakta – fakta kebahsaan yang dijadikan dasar penentuan dan pembuktianhubungan kekerabatan. Fakta – fakta kebahsaan itu menggambarkan proses kesejarahan bahasa – bahasa kerabat itu dalam perjalananan waktu. Proses kesejarahan berkaitan dengan perubahan dan penerusan unsur (statis) dan struktur bahasa.

Dengan memperhatikan luas lingkup linguistik historis komparatif, Keraf (1996 : 23) mengemukakan tujuan dan kepentingan linguistik historis komparatif beberapa di antaranya sebagai berikut:

1. Mempersoalkan bahasa – bahasa yang serumpun dengan mengadakan perbandingan mengenai unsur – unsur yang menunjukkan kekerabatannya. Bidang – bidang yang dipergunakan untuk mengadakan perbandingan semacam itu adalah : fonologi dan morfologi. Usaha untuk mengadakan perbandingan di bidang sintaksis belum membawa hasil yang

(2)

2. Mengadakan rekonstruksi bahasa – bahasa yang ada dewasa ini kepada bahasa – bahasa purba (bahasa – bahasa proto) atau bahasa – bahasa yang menurunkan bahasa – bahasa kontemporer. Atau dengan kata lain linguistik historis komparatif berusaha menemukan bahasa proto yang menurunkan bahasa – bahasa moderen.

2.1.2 Metode Rekonstruksi

Metode rekonstruksi merupakan pemulihan, baik fonem-fonem purba (proto) maupun morfem-morfem proto, yang dianggap pernah ada dalam bahasa-bahasa purba, yang sama sekali tidak memiliki naskah-naskah tertulis (Keraf, 1996 : 59).

Rekonstruksi fonem dan rekonstruksi morfem dimungkinkan karena para ahli menerima suatu asumsi bahwa jika diketahui fonem-fonem kerabat dari suatu fonem proto, maka sebenarnya fonem proto itu dapat ditelusuri kembali bentuk tuanya. Untuk mengadakan rekonstruksi fonem-fonem dan morfem-morfem bahasa kerabat kepada fonem-fonem dan morfem – morfem bahasa proto yang diperkirakan menurunkan bahasa kerabat tersebut maka perlu dikakukan beberapa tahapan, yaitu mencatat semua korespondensi fonemis dalam bahasa-bahasa kerabat yang dibandingkan. Membandingkan unsur-unsur yang menunjukkan kontras itu dalam lingkungan yang lebih luas dengan mencari pasangan-pasangan baru. Mengadakan rekonstruksi tiap fonem yang terkandung dalam pasangan kata-kata yang dibandingkan. (Keraf, 1996 : 60). Beberapa hal yang harus diperhatikan kembali sebelum melakukan rekonstruksi protobahasa, khususnya rekonstruksi tataran fonologi dan leksikon ialah selain menyisihkan kata-kata pinjaman, peneliti harus menemukan kata dasar atau dasar kata. (Mbete, 2002 : 37)

Selanjutnya Mbete (2002 : 38) mengatakan bahwa rekonstruksi dapat dilakukan melalui dua arah yaitu dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah. Rekonstruksi dari bawah ke atas bertujuan untuk menentukan bentuk –bentuk proto (fonem, dan morfem/kata) yang dihipotesiskan sebagai asal dari bentuk-bentuk turunan serta menggambarkan kaidah dan proses perubahannya.Selanjutnya rekonstruksi dari atas ke bawah bertujuan untuk memerikan keterwarisan, baik secara linear maupun dengan perubahan. Prosedur kerja rekonstruksi sesuai dengan kenyataan korespondensi yang ada pada bahasa Bali, Sasak, dan Sumbawa, Mbete (2002 : 40) menjabarkannya sebagai berikut:

(3)

1. Jikalau perangkat kata seasal (perangkat kognat) dari semua bahasa memperlihatkan kesepadanan fonem secara teratur, khususnya dari fonem tertentu yang sedang dibandingkan, maka protofonem yang ditetapkan adalah fonem itu juga.

2. Jikalau perangkat kata seasal memperlihatkan kesepadanan fonem dan fonem yang dibandingkan menunjukkan kebedaan karena perubahan yang teratur pada lingkungan tertentu, dan pada bahasa tertentu pula, maka protofonem yang direkonstruksi dan ditetapkan itu didasarkan pada kaidah perubahan.

3. Jikalau dalam bahasa itu ditemukan dua macam kesepadanan atau korespondensi yang teratur maka keduanya harus ditandai dengan tanda yang berbeda.

4. Jikalau perangkat kata seasal memperlihatkan kesepadanan fonem, dan fonem yang dibandingkan itu menunjukkan perbedaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kaidah perubahan sehingga tidak dapat diketahui pula mana fonem yang asli, maka protofonemnya ditetapkan di antara kedua fonem itu dengan apitan tanda kurung. Ketentuan ini terutama berkaitang dengan perubahan yang tidak tertaur dalam rangka rekonstruksi leksikon.

Selanjutnya menurut Crowley (dalam Panggabean, 2013 : 35) rekonstruksi adalah perkiraan tentang kemungkinan bentuk proto-bahasa dengan menelusuri perubahan – perubahan yang terjadi di antara proto-bahasa dengan bahasa – bahasa berkerabat yang diturunkannya (sister languages). Crowley menjelaskan untuk melakukan rekonstruksi bentuk – bentuk proto-bahasa, dilakukan beberapa hal berikut

1. Langkah pertama adalah memisahkan kata atau kata – kata yang berkerabat dari kata – kata yang tidak berkerabat. Misalnya, /tafuafi/ ‘membuat api’ harus dikeluarkan dari data

b. Tonga b. Samoa b.Rarotong b. Hawai Gloss

tafuafi siɁa Ɂika hiɁa Membuat api

2. Langkah kedua adalah menetukan korespondensi bunyi pada bahasa – bahasa yang berkerabat seperti pada glos dilarang pada data berikut

(4)

b. Tonga t a p u

b.Samoa t a p u

b. Rarotong t a p u

b. Hawai k a p u

Perangkat korespondensi dalam data di atas adalah /t-t-t-k/, /a-a-a-a/, /p-p-p-p/, /u-u-u-u/. 3. Langkah ketiga adalah memeriksa perangkat bunyi berkorespondensi yang mempunyai

perbedaan untuk menentukan proto-fonemnya seperti data berikut:

b. Tonga b. Samoa b. Rarotong b. Hawai

t t t k

ŋ ŋ ŋ n

Perbedaan perangkat bunyi pada data pertama adalah /t-k/ dan pada data kedua adalah / ŋ-n/. Ada kemungkinan /*t/ atau /*k/ adalah proto dari /t/ dan /k/ serta /* ŋ/ atau /*n/ adalah proto dari / ŋ/ atau /n/. Namun karena /t/ dan / ŋ/ mempunyai distribusi paling luas atau rekurensi paling luas pada data yang ada, maka /*t/ dan /* ŋ/ adalah fonem – fonem proto dalam keempat bahasa tersebut.

2.2 Tinjauan Pustaka

Suatu penelitian maupun hasil penelitian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari unsur-unsur lainnya, baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan permasalahan yang sedang dibahas oleh seorang peneliti atau penulis.

Sebuah karya ilmiah mutlak membutuhkan referensi atau acuan yang menopang proyek yang dikerjakannya. Sejauh yang peneliti ketahui belum ada penelitian yang meneliti tingkat kekerabatan

(5)

bahasa Melayu. Namun, pembicaraan mengenai tingkat kekerabatan sudah banyak yang menelitinya hanya saja menggunakan perbandingan bahasa yang berbeda.

Beberapa karya ilmiah yang dapat digunaka sebagai referensi atau acuan adalah sebagai berikut: ”Refleksi Fonem Vokal Bahasa Melayu Purba dalam Bahasa Melayu Asahan” (Widayati, 2001), ”Pertalian Bunyi Bahasa Austronesia Purba dengan Bahasa Lio dan Bahasa Ngada di Flores Tengah” (Mbete, 1981), “Refleksi Fonem Proto-Austronesia pada Bahasa Sasak dan Sumbawa” (Basuki, 1981), “ Beberapa Perubahan Bunyi Vokal Proto Austronesia dalam Bahasa Mandailing dan Toba” (Siregar, 2010), “Refleksi fonem vokal proto austronesia dalam Bahasa Aceh dan Bahasa Melayu Dialek langkat” (Sari, 2011)

Penelitian Widayati (2001) “Refleksi Fonem Vokal Bahasa Melayu Purba dalam Bahasa Melayu Asahan” menyimpulkan fonem-fonem turunan dalam bahasa Melayu Asahan (BMA) yang merupakan refleksi langsung dari proto Melayu (PM) dan tetap sebagai retensi dan ada pula yang telah mengalami inovasi bentuk. PM *a >a pada silabel final, penultima, dan antepenultima merupakan bentuk retensi yang tetap dalam ada dalam BMA sementara o pada silabel penultima dan ǝ pada silabel antepenultima merupakan bentuk inovatif ; PM *i pada silabel final, penultima dan antepenultima > i merupakan bentuk retensi dalam BMA sementara variasinya e, ǝ, dan a adalah bentu inovatif; *u pada silabel final, penultima dan antepenultima > u merupakan bentuk retensi dan o pada silabel final, penultima , dan ǝ,a,i antepenultima >o, dan pada silabel antepenultima >a, i adalah bentuk inovatif.

Penelitian berjudul “Pertalian Bunyi Bahasa Austronesia Purba Bahasa Lio dan Ngada di Flores Tengah” dilakukan oleh Mbete (1981), membahas bagaimana sebenarnya bunyi Austronesia Purba dengan bahasa Lio dan Ngada di Flores Tengah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah:

 Sebagian besar bunyi bahasa Austronesia Purba tetap terwarisi dalam bahasa Lio dan Ngada.  Selain tetap terwaris, beberapa fonem bahasa Austronesia Purba mengalami perubahan bunyi

(6)

 Perubahan bunyi bahasa Austronesia dalam bahasa Lio dan Ngada, dapat digolongkan dalam beberapa jenis yaitu penggantian (substitusi), penyatuan (merger), pemekaran (split), dan penghilangan.

Basuki (1981) meneliti “Refleksi Fonem Proto-Austronesia pada Bahasa Sasak dan Sumbawa” menyimpulkan hasil penelitian tentang bahasa Sasak dan Sumbawa pada masa lalu pernah mengalami sejarah perkembangan bersama, pada suatu masa yang lebih muda dari masa perkembangan bahasa Austronesia. Di dalam pohon keluarga bahasa Austronesia, tempat bahasa meso (bahasa Proto) adalah lebih rendah dari Proto-Melayu Polinesia.

Siregar (2010) meneliti “Beberapa Perubahan Bunyi Vokal Proto Austronesia dalam Bahasa Mandailing dan Toba” membuktikan beberapa hal sebagai berikut:

 Perubahan fonem vokal PAN dalam BBM dan BBT terjadi secara linear dan inovasi.  Distribusi perubahan fonem vokal PAN *a, *i, *u dalam BBM dan BBT mempunyai

distribusi yang lengkap yaitu fonem PAN *a , *i, *u berubah dalam BBM dan BBT pada posisi awal, tengah dan akhir. Sedangkan perubahan fonem vokal PAN *ǝ dalam BBM dan BBT tidak pernah terjadi pada posisi akhir.

 Perubahan bunyi PAN dalam BBM dan BBT lebih banyak berubah secara tidak beraturan (sporadis) dibandingkan berubah secara beraturan. Perubahan secara beraturan PAN dalam BBM hanya dapat dilihat pada fonem PAN *a > a pada posisi awal, tengah, dan akhir dan pada fonem PAN *ǝ > o pada posisi awal dan tengah. Perubahan secara beraturan PAN dalam BBT dapat dilihat pada fonem PAN *a > a pada posisi awal, tengah, dan Akhir dan pada fonem PAN *ǝ > /o/ pada posisi awal dan tengah.

 Jika dilihat dari perubahan fonem vokal PAN dalam BBM dan BBT yang lebih dominan berubah secara linear pada lingkungan yang sama pula dapat disimpulkan BBM dan BBT berkerabat. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Adelaar (1981 : 55) yang menyatakan BBM dan BBT berkerabat dan diturunkan dari Proto Batak Bagian Selatan.

 Dari semua temuan, pembahasan temuan, dan diskusi dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa asumsi masyarakat selama ini yang selalu mengasosiasikan Batak itu

(7)

Sari (2011) meneliti “Refleksi Fonem Vokal Proto Austronesia dalam Bahasa Aceh dan Bahasa Melayu Dialek Langkat”. Penelitian ini menyimpulkan sebagai berikut :

 Ditemukan adanya refleksi fonem proto Austronesia dalam BA dan BMDL, baik refleksi langsung dari PAN yang tetap sebagai retensi maupun yang telah mengalami inovasi bentuk.

 Ditemukan adanya retensi dan inovasi dalam BA dan BMDL.

a. Refleksi retensi PAN dalam BA terdapat pada vokal *a, *i, *u dan *|.

b. Refleksi inovasi PAN dalam BA pada vokal *a berubah bentuk menjadi tiga vokal baru, yaitu /u/, /o/, dan /|/.

c. Refleksi inovasi PAN dalam BA pada vokal *i berubah bentuk menjadi empat vokal baru, yaitu /u/, /e/, /o/, dan /E/.

d. Refleksi inovasi PAN dalam BA pada vokal *u berubah bentuk menjadi tiga vokal baru, yaitu /e/, /o/, dan /E/.

e. Refleksi inovasi PAN dalam BA pada vokal *| berubah bentuk menjadi vokal baru, yaitu /a/.

f. Refleksi retensi PAN dalam BMDL terdapat pada vokal *a, *i, *u dan *|.

g. Refleksi inovasi PAN dalam BMDL pada vokal *u berubah bentuk menjadi vokal baru, yaitu /O/.

h. Refleksi inovasi PAN dalam BMDL pada vokal *| berubah bentuk menjadi vokal baru, yaitu /a/.

Hasil penelitian – penelitian di atas telah memberikan kontribusi baik secara teoritis maupun metodologis terhadap penelitian ini. Secara teoritis hasil penelitian terdahulu memberikan sumbangan teori mengenai fonem proto Austronesia dan teori mengenai rekonstruksi. Secara metodologis, hasil penelitian terdahulu memberi sumbangan terhadap bagaimana cara kerja metode rekonstruksi bahasa.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :