Bangunan sudut merupakan bangunan yang letaknya berada di sudut persimpangan jalan dan memiliki nilai kekhasan dari pada bangunan di sekitarnya. Pada gaya bangunan, bangunan sudut tidak ada bedanya dengan bangunan sekitarnya dan ketika berkembangnya bangunan. Hal yang berbeda adalah bentuk dan penerapan gaya bangunan yang berbeda dan memiliki hal-hal yang lebih menonjol dari bangunan sekitarnya. Bangunan sudut yang berkembang di Bandung dan menjadi objek penelitian adalah bangunan-bangunan yang didirikan pada tahun 1900-1940. Saat itu, Bandung menjadi tempat para arsitek terkenal untuk membangun bangunan dengan gaya bangunan terbaru. Pada pertengahan tahun tersebut tepatnya pada awal tahun 1920 berkembangnya gaya bangunan yang modern dan lebih bervariasi bentuknya.
Dalam satu persimpangan jalan bisa lebih dari satu bangunan sudut, tapi tetap disesuaikan dengan jumlah persimpangan jalan, misalkan pada persimpangan empat maka kemungkinan terdapat empat bangunan sudut. Namun, tidak semua setiap persimpangan jalan yang sama memiliki bangunan sudut di tiap sisinya.
Keletakan bangunan-bangunan sudut lebih banyak terletak di pusat kota Bandung pada awal Abad 20 tentunya dilihat pula luas kota Bandung pada masa tersebut. Bangunan-bangunan sudut tersebut untuk mempermudah gambaran data maka terbagi dalam sembilan sektor. Sektor-sektor tersebut adalah sektor Grote Postweg (sekarang Jalan Asia Afrika dan Jalan Sudirman), sektor Bragaweg (sekarang Jalan Braga), sektor Merdekaweg (sekarang Jalan Merdeka dan Jalan Ir. H. Djuanda), sektor Oude Hospitaalweg (sekarang Jalan Veteran dan Jalan Bungsu), sektor Pasar Baroeweg (sekarang Jalan Otto Iskandardinata), sektor Roozemboomweg (sekarang Jalan R.L.L.E. Martadinata atau Jalan Riau), sektor Soematrastraat (sekarang Jalan Sumatera), sektor Papandayanlaan (sekarang Jalan Gatot Subroto), dan sektor Burgermeester Coopsweg (sekarang Jalan Pajajaran).
Peta 2.1. Keletakan Sektor Sumber: Bandung Discovery Map
2.1. Sektor Grote Postweg
Ruang lingkup Sektor Grote Postweg meliputi Jalan Jendral Sudirman, Jalan Asia Afrika, Jalan Jendral Ahmad Yani dan sekitarnya.
Sektor Grote Postweg berbatasan dengan sektor Braga dan sektor ABC di sebelah utara, sektor papandayanlaan di sebelah timur, sektor lengkong di sebelah selatan, dan sektor kininweg di sebelah barat. Grote Postweg merupakan jalur raya pos yang dibuat pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels. Pada jalur ini terdapat pusat pemerintahan kota Bandung ketika menjadi geemente. Pusat pemerintahan berada di alun-alun yang berdiri pada tahun 1810 ketika kabupaten Bandung pindah dari Krapyak ke Cikapundung. Bangunan-bangunan sudut pada sektor Grote Postweg terdapat 15 bangunan sudut yang berada di sektor Grote Postweg sepanjang jalan Asia Afrika dari perlimaan hingga jalan Sudirman-Kasmin. Bangunan tersebut , yaitu:
2.1.1. Kantor Posten Telegraf Kantoor Bandung
Bangunan Kantor Pos Besar Bandung secara administratif terletak di Jalan Asia Afrika no. 49, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Bangunan sudut tersebut berada di sudut persimpangan Jalan Asia Afrika (Grote Postweg) dan Jalan Banceuy (Bantjeuyweg). Bangunan ini berbatasan dengan Jalan Asia Afrika di sebelah selatan, Jalan Banceuy di sebelah timur, pertokoan di sebelah utara dan pertokoan di sebelah barat. Keletakan bangunan ini berada di perempatan Jalan Banceuy dan Jalan Asia Afrika, yang berada di sisi barat laut perempatan jalan.
Kantor Posten Telegraf Kantoor dibangun pada tahun 1928-1931 dengan luas bangunan 4.846 m2. Arsitek yang membangun bangunan ini adalah J. ven Gendt dengan gaya bangunan modern fungsional. Bangunan ini memiliki bentuk denah persegi panjang yang memanjang dari timur ke selatan.
Peta 2.3. Keletakan Kantor Pos Besar Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini hanya pada satu arah saja, yaitu ke arah selatan menghadap ke Jalan Asia Afrika sehingga terlihat memiliki satu tampak muka dan bangunan tersebut bertingkat dua. Pada bangunannya tidak menggunakan menara yang berada di sudut bangunan dan tidak memiliki halaman di depan bangunan tersebut. Bangunan ini terdapat tiga pintu utama yang berjejeran menghadap ke arah selatan. Pada bagian mukanya pada lantai pertama terdapat tujuh jendela yang besar, bentuk jendelanya berjejer tiga kaca yang memanjang bentuknya secara vertikal. Sedangkan pada lantai dua terdapat tujuh jendela kecil yang bentuknya sama dengan lantai satu. Bagian atapnya seperti atap tumpang dan di bagian dua ujung puncaknya terdapat hiasan seperti kubus. Kubus tersebut yang menjadikan ciri khas pada bangunan tersebut. Fungsi pertama bangunan ini sebagai Posten Telegraf Kantoor (Kantor Pos dan Giro).
2.1.2. Hotel Savoy Homann
Hotel Savoy Homann terletak di Jalan Asia Afrika no. 61 dan Jalan Savoy Homann, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi
sebelah utara, Jalan Homann di sebelah barat, bangunan perkantoran di sebelah selatan dan timur. Keletakan bangunan tersebut berada di sudut perempatan Jalan Asia Afrika dan Jalan Savoy Homann dan berada di sisi tenggara dari perempatan jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1938 oleh AF. Albers dan R.A. de Wall dengan gaya bangunannya Modern Fungsional-Art Deco Geometric. Luas bangunan 11.185 m2. Denah bangunannya seperti huruf L yang terbentuk dari barat ke timur. Bangunannya berbentuk lengkungan sehingga tidak terlihat kaku seperti bangunan persegi dan dimasukkan dalam kategori bangunan berbentuk denah tidak beraturan.
Peta 2.4. Keletakan Bangunan Hotel Savoy Homann Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Arah hadap bangunan tersebut menghadap ke utara dan barat sehingga memiliki dua tampak muka bangunan sudut dan bertingkat tiga. Bangunan tersebut terdapat menara di sudut bangunan dan memiliki halaman depan. Pintu masuk utama bangunan menghadap ke utara. Di tengah bangunan ini terdapat menara yang berbentuk persegi melengkung. Setiap lantai bangunan memiliki balkon dan pintu menuju balkon tersebut terbuat dari kaca begitu pula dengan jendelanya.
Ciri khas bangunan yang terlihat adalah bentuk denah bangunan yang berbeda seperti hotel-hotel pada umumnya. Bangunan ini awalnya sudah digunakan sebagai Hotel Savoy Homann dari tahun 1880 dengan bentuk yang berbeda.
2.1.3. Museum Konferensi Asia Afrika
Museum Konferensi Asia Afrika terletak di Jalan Asia Afrika no. 65 dan Jalan Braga, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Bangunan tersebut berada di sudut persimpangan Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika. Bangunan tersebut berbatasan dengan Jalan Asia Afrika di sebelah selatan, Jalan Braga di sebelah timur, Bioskop Majestik di sebelah utara, dan gedung merdeka di sebelah barat. Keletakannya berada di perempatan Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga serta berada di barat daya dari perempatan jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1920 oleh Ir. C.P. Wolf Schoemaker dengan gaya bangunan Art Deco. Denah bangunan seperempat lingkaran. Bangunan aslinya berbentuk persegi karena menyambut Konferensi Asia Afrika maka diubah menjadi seperempat lingkaran.
Arah hadap bangunan ini menghadap ke selatan dan timur sehingga bangunan ini memiliki dua tampak muka dan tidak bertingkat. Bangunan tersebut tidak memiliki menara dan tidak memiliki halaman depan. Pintu masuk utama bangunan ini terdapat dua, yaitu di sisi selatan dan timur. Bangunan ini banyak menggunakan jendela. Awalnya bangunan ini berbentuk persegi karena pengaruh
art deco yang kuat dan dihiasi dengan kanopi dan krei agar sinar matahari tidak masuk secara langsung ke dalam bangunan. Pada tahun 1940, A.F. Albers merenovasi bentuk bangunan melengkung dan diberi teritis dak beton yang dapat menghalangi sinar matahari masuk. Teritis tersebut sebagai gantinya dari kanopi dan krei.
Ciri khas bangunan ini adalah bentuk bangunan yang melengkung hampir mirip dengan bangunan bergaya Art Nouvo. Bangunan ini awalnya digunakan sebagai bar atau cafe, tetapi pada tahun 1980 digunakan sebagai museum.
2.1.4. Toko Asia Afrika-Pecinan
Toko tersebut terletak di Jalan Asia Afrika dan Jalan Kote, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Bangunan ini berbatasan dengan Jalan Asia Afrika di sebelah selatan, Jalan Pecinan di sebelah barat, dan pertokoan di sebelah utara dan timur. Keletakan bangunan tersebut berada di sudut perempatan Jalan Asia Afrika dan Jalan Kote. Bangunan berada di sisi timur laut dari perempatan jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1915. Arsitek dan gaya bangunan ini belum diketahui juga. Bentuk denah bangunan ini adalah persegi empat.
Peta 2.6. Keletakan Bangunan Asia Afrika-Pecinan Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Arah bangunan ini menghadap ke selatan dan barat, dan pintu masuk bangunan ini menghadap ke barat daya sehingga bangunan ini dapat dikategorikan bangunan dengan dua tampak muka. Bangunan ini juga memiliki dua lantai. Pada sisi barat daya bangunan ini terdapat menara yang menyatu dengan bangunan dan tidak memiliki halaman depan sehingga bangunan dekat dengan jalan raya. Atap bangunan berbentuk limasan dan terbuat dari genteng. Sisi barat bangunan toko ini lebih panjang daripada sisi selatan. Pada lantai dua bangunan banyak dihiasi jendela-jendela terbuat dari kaca. Ciri-ciri khas bangunan ini ada pada penggunaan awalnya hingga sekarang masih berfungsi sebagai pertokoan.
2.1.5. Gedung Merdeka
Gedung Merdeka secara administratif terletak di Jalan Asia Afrika (Grote Postweg) no. 85, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan ini berada di sudut pertigaan jalan dan berada di sisi timur laut dari pertigaan jalan.
Peta 2.7. Keletakan Gedung Merdeka
Foto oleh Maharani Qadarsih dan Peta dari Google Map
Bangunan ini dibangun pada tahun 1921, arsiteknya adalah C.P. Wolf Schoemaker dan gaya bangunannya Art Deco. Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 7.983 m2 dengan luas bangunan 6.500 m2. Bentuk denah bangunan ini berbentuk persegi panjang yang memanjang dari selatan ke utara.
Arah bangunan menghadap ke selatan, tetapi pintu masuknya hanya menghadap ke arah selatan sehingga bangunan ini memiliki satu tampak muka. Bangunan tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya dan tidak memiliki halaman pada bagian depan bangunan. Bangunan ini memiliki dua lantai. Lantai pertama terdapat ruang pertunjukan yang dahulunya digunakan untuk Konferensi Asia Afrika. Lantai kedua bangunan ini terlihat hanya pada bagian atas pintu masuk yang dahulunya sebagai tempat bar. Pintu masuk bangunan ini dilengkapi dengan pelindung atau atap yang horisontal (overstek).
Ciri khas bangunan ini adalah bentuk bangunan yang berunsur Eropa dan bergaya Art Deco. Bangunan ini awalnya digunakan sebagai bar dan gedung pertunjukan.
2.1.6. Kantor Ex. Escompto Bank Bandung
Bank Dagang Negara (Ex. Escompto Bank) terletak di Jalan Asia Afrika (dahulu Grotepostweg) no. 51, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Luas Bangunan 1.212 m². Keletakan bangunan tersebut di sudut persimpangan Jalan Asia Afrika (dahulu Grotepostweg) dan Jalan Banceuy (dahulu Bantjeyweg). Arah hadap bangunan ini bisa menghadap kedua arah, yaitu ke selatan dan barat. Keletakan bangunan sudut terletak di perempatan Jalan Banceuy dan Jalan Asia Afrika dan terletak di sisi timur laut dari perempatan jalan.
Bangunan ini merupakan peninggalan seorang arsitek terkenal dari Belanda, yaitu R. L. A. Schoemaker. Bangunan tersebut didirikan pada tahun 1912. Ukuran bangunan, yaitu panjang 60,58 meter, dan lebar 13,66 meter. Bangunan tersebut memiliki bentuk denah persegi panjang yang memanjang dari selatan ke utara.
Pintu masuk utama ke bangunan tersebut menghadap arah barat daya sehingga bangunan tersebut dapat dikategorikan bangunan dengan dua tampak muka. Bangunan ini memiliki menara jam yang terletak di atas pintu masuk
Escompto Bank dengan menggunakan hiasan jam. Bangunan tersebut juga tidak memiliki halaman pada bagian depan.
Peta 2.8. Keletakan Bangunan Escompto Bank Bandung Tahun 2008 Foto oleh Maharani Qadarsih dan peta dari Google Map
Bangunan tersebut belum mengalami pemugaran terlihat dari segi
eksterior atau bagian luar bangunan. Selain itu, berdasarkan foto-foto keadaan bangunan Bandung pada tahun 1920 dan pernyataan pada literatur yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Jawa Barat (2001) bangunan Escompto Bank
belum mengalami pemugaran hingga digunakan oleh Bank Mandiri Bandung. Pada dasarnya bangunan tidak boleh dirubah atau dipugar.
Foto 2.1. Escompto Bank tahun 1920 Sumber: Kunto, 2006
2.1.7. Hotel Swarha
Hotel Swarha terletak di Jalan Asia Afrika dan Jalan Dewi Sartika Bandung, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sudut perempatan Jalan Asia Afrika dan Jalan Dewi Sartika dan terletak di sisi barat daya perempatan jalan.
Bangunan ini didirikan pada tahun 1930-1935, arsiteknya A.F. Albers dengan gaya bangunan Nieuw Bowen. Bentuk denah bangunan tersebut berbentuk seperempat lingkaran.
Peta 2.9. Keletakan Bangunan Swarha tahun 1930 Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Arah hadap bangunan ke sisi utara-timur sehingga bangunan ini memiliki dua tampak muka dan memiliki 5 lantai. Bangunan tersebut tidak memiliki menara dan juga tidak memiliki halaman depan. Pada lantai dasar masih digunakan sebagai pertokoan hingga sekarang sedangkan sisanya menjadi bangunan yang kurang terawat dan tidak digunakan. Pada bagian atas bangunan terdapat nama bangunan, yaitu Swarha. Warna bangunan berupa warna biru dan putih. Pada lantai dua hingga lima terdapat balkon di bagian lengkungannya. Sebelumnya bangunan ini bergaya timur tengah dan atapnya tumpang seperti bangunan Cina. Gaya bangunan ini sering disebut Aalbers Look karena adanya
pengaruh dari gaya bangunan A.F.Aalbers yang cenderung menghindari elemen-elemen dekoratif. Bangunan ini awalnya digunakan sebagai toko dan hotel.
2.1.8. Toko de Vries
Toko de Vries terletak di Jalan Asia Afrika no. 81 dan Jalan Homan, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Bangunan ini didirikan pada tahun 1909. Keletakan bangunan ini berada di sudut perempatan Jalan Asia Afrika dan Jalan Homann dan terletak di sisi barat daya perempatan jalan.
Peta 2.10. Keletakan Bangunan Toko Padang Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Gaya bangunan ini adalah klasik Eropa dan pembuatnya adalah biro Edward Cuypers Hulswit. Bentuk denah bangunan tersebut berbentuk persegi panjang yang memanjang dari barat ke timur.
Bangunan toko ini memiliki dua tingkat dan menghadap ke utara (jalan Asia Afrika) dan barat (jalan Homann) sehingga bangunan ini memiliki dua tampak muka. Bangunan ini memiliki menara yang berada di sudut bangunannya dan tidak memiliki halaman depan. Pada awalnya bangunan di sisi utara memiliki ukiran di jendela, tapi sekarang sudah tidak ada lagi karena telah ditutup oleh lembaran kayu tipis. Pada bagian atap sisi timur laut terdapat bangunan seperti
intinya. Atap bangunan ini berbentuk limasan. Keadaan bangunan tersebut sekarang tidak terawat dan tidak digunakan.
Ciri khas bangunan ini adalah pada menara yang menyatu dengan bangunannya. Awalnya bangunan ini dibangunan tahun 1895 dengan gaya bangunan Oud Indisch Stijl (gaya Klasik Indies), kemudian dipugar oleh biro Edward Cuypers Hulswit menjadi bangunan seperti yang terlihat sekarang. Bangunan ini awalnya digunakan sebagai toko.
2.1.9. Toko jalan Sudirman-Kasmin
Toko ini terletak di sudut persimpangan Jalan Sudirman dan Jalan Kasmin, kota Bandung, Jawa Barat. Bangunannya terletak di sisi tenggara persimpangan empat jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1926, arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui hingga sekarang. Bentuk denah bangunan tersebut adalah berbentuk bujur sangkar.
Peta 2.11. Keletakan Bangunan Toko di jalan Sudirman-Kasmin Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap barat daya sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak muka, dan juga memiliki dua lantai. Bangunan tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunan dan juga tidak memiliki halaman di bagian muka bangunan sudut. Pintu masuknya menghadap ke barat laut yang terbuat dari kayu. Lantai satu pada sisi utara terdapat dua jendela besar dan pada sisi barat terdapat tiga jendela besar. Lantai dua terdapat dua balkon yang masing-masingnya menghadap ke barat dan barat laut. Balkon-balkon tersebut dilengkapi pintu kayu dari ruangan dalam menuju ke Balkon-balkon. Lantai dua juga dilengkapi dua jendela besar di sisi utara dan barat.
Ciri khas bangunan ini adalah toko yang digunakan pula sebagai tempat tinggal. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai pertokoan hingga sekarang.
2.1.10. Kantor jalan Asia afrika-Kaca Kaca Wetan
Kantor ini terletak di sudut persimpangan Jalan Asia Afrika no. 176-178 dan Jalan Kaca-Kaca Wetan, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Bangunannya terletak di sisi timur laut perempatan jalan. Tahun berdirinya bangunan ini, yaitu pada tahun 1910, arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui.
Peta 2.12. Keletakan Bangunan Kantor Jalan Asia Afrika-Kaca Kaca Wetan Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke barat dan selatan sehingga dapat dikategorikan bangunan sudut yang memiliki dua tampak muka dan bangunan sudut memiliki tingkat dua lantai. Bangunan sudut ini tidak memiliki menara di bagian sudutnya dan halaman pada muka bangunan sudut. Pintu utama menghadap kepada dua arah tersebut. Pada kedua sisi tersebut dilengkapi dengan koridor. Bangunan ini memiliki dua lantai. Lantai pertama terdapat jendela dan pintu serta lantai dua terdapat empat jendela yang serupa di kedua sisi.
Ciri khas bangunan ini adalah penggunaan archade pada lantai satu, sangat berbeda dengan bangunan di sekitarnya. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai perkantoran.
2.1.11. Toko Ligna
Toko Ligna terletak di sudut persimpangan Jalan Gatot Subroto no. 1 dan Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Malabar, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Bangunan tersebut terletak di sisi barat dari perlimaan jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1918. Bangunan ini bergaya tradisional Eropa dan arsiteknya belum diketahui hingga sekarang. Bentuk denah bangunan ini tidak beraturan karena terdapat dua bentuk denah bangunan yang terdiri dari lingkaran dan bujur sangkar.
Peta 2.13. Keletakan Bangunan PT Panca Niaga
Arah hadap pintu menghadap satu arah, yaitu timur sehingga memiliki satu tampak muka dan bangunannya memiliki dua lantai. Bangunan sudut tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunan dan tidak memiliki halaman pada muka bangunan. Bangunan ini pada bagian depannya membulat dengan atap berbentuk kerucut dan bagian belakangnya berbentuk persegi. Pintu masuknya terletak pada bangunan yang berdenah persegi Pada bangunan yang membulat terdapat dua lantai, lantai satu terdapat lima jendela besar, sedangkan pada lantai dua terdapat lima jendela sedang. Ciri khas bangunan ini adalah bentuk bangunan yang melengkung dan terlihat seperti atap tumpang. Awalnya bangunan ini sebagai kantor Handel Mij. Groote en Scholtz.
2.1.12. Apotek de Voor Zog
Apotek de Voor Zog terletak di sudut persimpangan Jalan Asia Afrika no. 188 dan Jalan Sunda, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Bangunan sudut tersebut terletak di sisi timur laut dari perlimaan jalan.
Bangunan ini didirikan tahun 1910-1912 dengan arsiteknya Edward Cuypers. Gaya bangunannya arsitektur Belanda Klasik. Bentuk denah bangunan ini berbentuk bujur sangkar.
Peta 2.14. Keletakan Bangunan Vigano Sumber: Dana,1990 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap timur dan utara sehingga bangunan ini memiliki dua tampak muka dan tidak memiliki lantai tingkat. Bangunan sudut tersebut memiliki menara yang menyatu dengan bangunan dan berada di sudut bangunan yang berada dipersimpangan jalan. Bangunan ini juga tidak memiliki halaman di bagian muka bangunannya. Bangunan ini memiliki dua pintu masuk, yaitu pintu menghadap timur laut dan selatan. Pada sisi utara terdapat lima jendela dan yang di sisi timur terdapat delapan jendela. Pada atap sisi timur laut terdapat menara yang atapnya membulat atau silindris dan atapnya terbuat dari semen bukan dari genteng. Menara bagian atas terdapat jendela kecil yang menghadap tiga sisi, yaitu sisi timur, selatan, dan timur laut. Awalnya bangunan ini didirikan sebagai apotek De Voor Zorg.
2.1.13. Kantor Asuransi Independent
Kantor Asuransi Independent terletak di sudut persimpangan Jalan Otto Iskandardinata dan Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Keletakan bangunan berada di sisi barat laut dari perempatan jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1920, arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui hingga sekarang. Bentuk denah bangunan sudut tersebut berbentuk bujur sangkar.
Peta 2.15. Keletakan Bangunan Kantor Asuransi Independent Foto oleh Maharani Qadarsih dan peta dari Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke timur dan selatan sehingga memiliki dua tampak muka dan memiliki bertingkat dua lantai. Bangunan sudut tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunan dan juga tidak memiliki halaman di bagian muka bangunannya. Pada tingkat dua, pada setiap sisi bangunan terdapat balkon-balkon. Terdapat pula tiga jendela dan satu pintu untuk menuju balkon. Sisi sudutnya tidak berbentuk tajam atau melengkung melainkan tumpul atau rata. Lantai satu di setiap sisi bagian mukanya di lengkapi dengan teras (arcade). Pintu masuk utama menghadap ke tenggara. Fungsi bangunannya dari awal sebagai perkantoran.
2.1.14. Bangunan Bank Nederlandsche Handel Mijn (NHM)
Bank Nederlandsche Handel Mijn terletak di sudut persimpangan Jalan Asia Afrika (Grote Postweg) dan Jalan Cikapundung Barat, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan berada di sisi barat laut dari pertigaan jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1912, arsiteknya dari biro Hulswit, Fermont en Cuypers dan gaya bangunannya neoklasik. Bentuk denah bangunan sudut tersebut berbentuk persegi panjang yang memanjang dari selatan ke utara.
Peta 2.16. Keletakan Bangunan NHM Bandung Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke arah selatan sehingga bangunannya memiliki satu tampak muka bangunan dan memiliki satu tingkat bangunan. Bangunan sudut tersebut tidak memiliki menara dan halaman di bagian muka bangunannya. Bangunan tersebut memiliki dua kolom yunani (order doric) yang terletak di sisi kanan-kiri pintu masuk. Pintu masuknya mempunyai overstek
dan hiasan-hiasan bangunan merupakan bentuk sederhana dari bangunan Javasche Bank. Ciri khas bangunan ini adalah pada bagian atapnya yang berbeda empat tugu kecil dan bentuk bangunan yang bergaya neo-klasik. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai bangunan Bank Nederlandsche Handel Mijn (NHM).
2.1.15. Hotel Preanger
Hotel Preanger terletak di sudut persimpangan Jalan Asia Afrika (Grote Postweg) dan Jalan Tamblong, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan ini berada di sisi barat daya dari perempatan jalan.
Peta 2.17. Keletakan Hotel Preanger tahun 1930 Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Bangunan ini didirikan pada tahun 1919-1929, arsiteknya Ir. C.P. Wolf Schoemaker dan juru gambar Ir. Soekarno. Bangunannya bergaya Art Deco
dengan pengaruh gaya bangunan Frank Lloyd Wright. Bentuk denah bangunan ini yaitu berbentuk seperti huruf L yang memanjang dari barat ke timur sehingga bangunan ini dimasukkan dalam kategori bangunan yang berdenah tidak beraturan.
Arah hadap bangunan ini menghadap ke selatan dan timur sehingga bangunan ini memiliki dua tampak muka dan memiliki tiga tingkat. Bangunan sudut tersebut memiliki menara di bagian sudut bangunan dan memiliki halaman di muka bangunannya. Di pintu masuknya terdapat overstek. Ciri khas bangunan ini adalah bentuk bangunan yang dihiasi oleh garis horizontal. Bangunan ini awalnya dibangun pada tahun 1825 dengan perpaduan gaya bangunan Indische Empire Stijl dan gaya Greek Re-vival. Namun, pada tahun 1919 dirubah secara sekeluruhan dan dibangun seperti sekarang. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai bangunan Bank Nederlandsche Handel Mijn (NHM).
2.2. Sektor Bragaweg/Karenweg
Ruang lingkup Sektor Bragaweg meliputi Jalan Braga, Jalan Wastukencana dan sekitarnya.
Peta 2.18. Peta Keletakan Sektor Bragaweg Sumber: Google Map
Sektor Braga berbatasan denga sektor Grote Postweg di sebelah selatan, sektor merdeka di sebelah utara, sektor lengkong di sebelah timur dan sektor Banceuy di sebelah barat. Braga merupakan tempat hiburan dan perbelanjaan pada awal abad 20. Braga awalnya bernama Pedatiweg karena pada masa itu banyak orang-orang menggunakan jalur tersebut dengan menggunakan pedati. Berubah
nama menjadi Braga karena terkenalnya Toneelvereninging Braga yang ada pada tahun 1882 atau berasal dari bahasa sunda ‘ngabaraga” yang artinya berjalan sepanjang sungai dan di dekat jalan tersebut terdapat sungai Cikapundung. Bangunan-bangunan pada sektor Bragaweg terdapat lima bangunan sudut karena daerah braga yang tidak begitu besar, yaitu
2.2.1. Toko Centre Point
Toko Center Point terletak di sudut persimpangan Jalan Braga no. 17 dan Jalan Suniaraja, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan sudut tersebut berada di sisi timur laut pertigaan jalan.
Peta 2.19. Keletakan Bangunan Centre Poin Sumber: www.geocities.comdan Google Map
Bangunan ini didirikan pada tahun 1925 di atas tanah seluas 313 m dengan luas bangunan 609 m. Bangunan tersebut dibangun oleh C. P. Wolf Schoemaker. Bentuk denah bangunan tersebut berbentuk persegi panjang yang memanjang dari selatan ke utara.
Arah hadap bangunan ini menghadap ke tenggara dan memiliki dua lantai. Pada lantai dua hanya berupa jendela tanpa terdapat balkon. Lantai satu pintunya menggunakan rolling door. Fungsi bangunan ini awalnya sebagai toko dengan kondisi yang terawat. Pada sisi bagian sudutnya melengkung dan tidak bersudut tajam. Bagian atapnya terlihat atap tumpang dan terbuat dari genteng.
2.2.2.. Kantor LKBN Antara
LKBN Antara terletak di sudut persimpangan Jalan Braga no. 112 dan Jalan Naripan, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan sudut tersebut berada di sisi barat laut dari perempatan jalan.
Bangunan ini dibangun dengan arsitek A. F. Albers pada tahun 1936, tapi gaya bangunannya belum diketahui. Bentuk denah bangunan tersebut berbentuk setengah lingkaran.
Peta 2.20. Keletakan Bangunan LKBN Antara Sumber: www.geocites.com dan Google Map
Arah hadap pintu menghadap ke Tenggara sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak muka dan memiliki dua lantai. Bangunan tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunan dan tidak memiliki halaman di bagian muka. Ventilasi bangunan ini di bagian bawah menggunakan kaca dengan
jumlah sepuluh sedangkan di lantai dua terdapat ventilasi berupa lubang udara. Pada lantai dua terdapat enam jendela dan lantai satu terdapat enam jendela yang masing-masing tiga di kanan dan kiri pintu masuk. Jendela di lantai dua menggunakan jendela krapyak yang terbuat dari kaca. Pada sisi sudutnya bangunan melengkung.
2.2.3. De Javasche Bank
De Javasche Bank terletak di sudut persimpangan Jalan Braga no. 108 dan Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut berada di sisi tenggara dari persimpangan empat jalan.
Peta 2.21. Keletakan Bangunan Bank Indonesia Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Bangunan ini dibangun pada tahun 1909 oleh arsitek Hulswit, Fermont, dan Ed. Cuypers dan gaya bangunan Neoklasik. Bentuk bangunan tersebut berdenah persegi panjang yang memanjang dari barat ke timur dan tidak bertingkat.
Arah hadap bangunan ini menghadap ke utara sehingga bangunan ini memiliki satu tampak muka bangunan sudut. Bangunan tersebut tidak bertingkat dan memiliki menara yang berada di tengah bangunan. Pada halaman depan bangunan tersebut tidak tersedia halaman sehingga langsung menuju jalan raya. Bagian tengah depan bangunan ini lebih maju dari pada sisi lainnya. Pada bagian depan bangunan terdapat empat jendela besar dan dua jendela kecil yang menghimpit pintu masuk. Di atas pintu masuk terdapat tulisan Bank Indonesia. Atap bangunan ini berbentuk limas yang di tengah-tengahnya terdapat hisan cupola yang berdenah persegi dan di atap cupola ini terbuat dari genteng. Pada empat sudut bangunan ini terdapat hiasan kemuncak. Dekorasi bangunan didominasi oleh gaya bangunan Renaissance terlihat pada bentuk gedung yang simetris, dan dekorasi garis lurus horizontal sepanjang dinding bangunan. Ciri khas bangunan ini adalah penggunaan balustrade di daerah lisplang atap, terdapat hiasan kolom doric, dan menggunakan Tympanum. Awal nama bangunan ini adalah De Javasche Bank.
2.2.4. Bank DENIS
Bank De Erste Nederlandsche Indische Spaarkas en Hypotheekbank (DENIS) terletak di sudut persimpangan jalan Braga no. 12 dan jalan Naripan, kelurahan Braga, kecamatan Sumur Bandung, kota Bandung, propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan ini berada di sisi timur laut dari pertigaan jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1935-1936 oleh A.F. Albers dengan gaya bangunannya Art Moderne. Bentuk denah bangunan sudut ini adalah berdenah tidak beraturan.
Peta 2.22. Keletakan Bangunan Bank DENIS
Sumber: djawatempodoeloe.multiply.com/photos/photo/190/52 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke selatan dan barat sehingga bangunan ini memiliki dua tampak muka dan bertingkat delapan. Bangunan sudut tersebut memiliki menara yang menyatu dengan bangunan di sudut bangunan dan tidak memiliki halaman di muka bangunan sudut tersebut. Pintu masuknya terdapat dua pintu yang arah hadapnya menghadap ke dua arah tersebut. Pada setiap lantainya terdapat balkon dengan pintu menuju balkon terbuat dari kaca begitu pula dengan jendelanya. Pada sudut bangunan terdapat menara yang berbentuk persegi. Ciri khas bangunan ini adalah bentuknya yang melengkung dengan menara yang menyatu dengan bangunan dan letaknya ditengah bangunan. Awal bangunan ini berfungsi sebagai Bank DENIS dan sekarang digunakan oleh Bank Jawa Barat.
2.2.5. Gereja Bethel
Gereja Bethel terletak di sudut persimpangan Jalan Wastukencana no. 1 dan Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Bangunan sudut yang berada di persimpangan Jalan perintis kemerdekaan (kerklaan) dan Jalan wastukencana (Logeweg). Keletakan bangunan tersebut terdapat di sisi barat laut perempatan jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1925 oleh C.P. Wolf Schoemaker dengan gaya bangunan klasik-modern. Bentuk denah bangunan sudut tersebut berbentuk salib portugis.
Peta 2.23. Keletakan Bangunan Gereja Bethel Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke timur sehingga bangunan tersebut memiliki satu tampak muka dan tidak bertingkat. Bangunan tersebut menggunakan menara dan memiliki halaman depan yang luas. Pada sisi barat daya bangunan terdapat menara yang menyatu dengan bangunan berbentuk persegi. Bagian atas menara terdapat jam dinding yang tiap sisi menara ada. Sisi kanan dan kiri pintu masuk terdapat dua jendela terbuat dari kayu dan kaca. Atap bangunan ini bertumpang dua dan terbuat dari genteng. Tiap sisi bangunan terdapat dua rangkap gable. Ciri khas bangunannya adalah hiasan bangunan dilengkapi kolom Yunani Corinthian. Sejak awal dibangun hingga sekarang bangunan ini digunakan sebagai gereja.
2.3. Sektor Merdekaweg/Schoolweg dan Dagoweg
Ruang lingkup sektor Merdekaweg dan Dagoweg meliputi Jalan Merdeka, Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Dipatiukur, Jalan Taman Sari, Jalan Rangga Gading dan sekitarnya.
Peta 2.24. Peta sektor Merdekaweg Sumber: Google Map
Sektor Merdeka berbatasan dengan dago pakar di sebelah utara, sektor Riau di sebelah timur, sektor Braga dan Lengkong di sebelah selatan dan sektor Kininweg di sebelah barat. Dagoweg merupakan tempat pemukiman orang-orang Belanda. Pemukiman orang-orang Belanda letaknya lebih tinggi dari pusat kegiatan. Letaknya yang sejuk dan masih banyaknya pohon-pohon serta banyaknya taman-taman kecil yang dibuat di daerah dago ini. Pada awal tahun 1930 dibuat jalur jalan untuk kereta kuda di tepi jalan utama. Bangunan-bangunan sudut pada sektor merdekaweg dan dagoweg terdapat 10 bangunan sudut di sektor ini berada di sepanjang jalan merdeka dan Ir. H. Djuanda, yaitu
2.3.1. Gereja Santo Petrus Katedral Bandung
Gereja Santo Petrus Katedral terletak di sudut persimpangan Jalan Merdeka no. 14 dan Jalan Jawa, Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan ini berada di sisi tenggara dari perempatan jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1922 oleh C.P. Wolf Schoemaker dengan gaya bangunan Lale Neo Gothic. Luas bangunan ini adalah 785 m2. Bentuk denah bangunan ini yaitu berdenah salib.
Peta 2.25. Keletakan Bangunan Gereja Santo Petrus Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini adalah menghadap ke barat sehingga bangunan sudut tersebut memiliki satu tampak muka dan memiliki dua tingkat. Bangunan tersebut memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya dan terletak di dekat sudut persimpangan. Bangunan tersebut tidak memiliki halaman yang luas di depan bangunannya. Tiap lantai bangunan terdapat jendela yang terbuat dari kayu begitu halnya pintu masuk. Pada bagian sudut bangunan tersebut terdapat menara yang menjulang tinggi, lebih tinggi dari bangunannya. Atap bangunannya berbentuk limasan. Atap menara runcing dan terlihat curam. Ciri khas bangunan ini adalah banyaknya hiasan kaca patri di dalam gereja yang menggambarkan kisah-kisah Kitab Suci Kristiani. Pada puncak menara terdapat hiasan salib.
2.3.2. Bangunan Juanda-Prabudimuntur
Bangunan tersebut terletak di sudut persimpangan Jalan Ir. H. Djuanda dan Jalan Prabudimuntur, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Bangunan tersebut terletak di sisi tenggara perempatan jalan.
Tahun berdirinya bangunan ini pada tahun 1920-1930, tapi arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui. Bentuk denah bangunan sudut tersebut adalah berdenah seperempat lingkaran.
Peta 2.26. Keletakan Bangunan Juanda-Prabudimuntur Foto oleh Dimas Setyo Saputro dan peta dari Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke barat laut dan bertingkat dua. Bangunan tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya, tapi bangunan tersebut terdapat halaman di bagian depan bangunannya. Bangunan tersebut bentuknya secara keseluruhan hampir sama dengan yang berada di jalan djuanda-prabudimuntur. Atap bangunan yang berbentuk kerucut. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal.
2.3.3. Bangunan Hasanuddin-Juanda
Bangunan ini terletak di sudut persimpangan Jalan Hasanuddin dan Jalan Ir. H. Djuanda, Kelurahan citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan ini berada di sisi tenggara dari pertigaan jalan.
Tahun berdirinya bangunan ini, yaitu pada tahun 1920-1930, tapi arsitek dan gaya bangunan belum diketahui hingga sekarang. Bentuk denah bangunan ini adalah berbentuk bujur sangkar.
Peta 2.27. Keletakan Bangunan Hasanuddin-Juanda Foto oleh Dimas Setyo Saputro dan peta dari Google Map
Arah hadap pintu masuk utama bangunan ke arah barat laut sehingga bangunan ini memiliki dua tampak muka dan berlantai dua. Bangunan tersebut tidak terdapat menara yang menyatu dengan bangunan tersebut, tapi memiliki
atap pelana dengan tiap lantai terdapat atap yang landai. Atap bangunan berbentuk kerucut. Awal bangunan ini fungsinya sebagai rumah tinggal.
2.3.4. Bangunan Rangga Gading-Purnawarman
Bangunan ini terletak di sudut persimpangan Jalan Rangga Gading dan Jalan Purnawarman, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan ini berada di sisi barat laut dari persimpangan empat jalan.
Tahun berdirinya bangunan ini, yaitu pada tahun 1934, tapi arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui. Bentuk denah bangunan ini adalah berdenah bujur sangkar.
Peta 2.28. Keletakan Bangunan Rangga Gading-Purnawarman Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini ke selatan-timur sehingga bangunan sudut tersebut memiliki dua tampak muka dan memiliki dua lantai. Bangunan tersebut tidak terdapat menara yang menghiasi bagian sudut bangunan, tapi memiliki halaman yang luas di bagian muka bangunannya. Pada lantai pertama terdapat pintu masuk yang menghadap ke timur dengan jendela di sisi selatan bangunan. Lantai kedua bangunan di sisi timur terbagi menjadi dua bagian. Kedua bagian tersebut terdapat jendela dengan jumlah yang sama sehingga terlihat simetris.
Hal-hal tersebut merupakan ciri khas dari bangunan ini. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal.
2.3.5. Villa Merah
Villa Merah terletak di sudut persimpangan Jalan Tamansari no. 78 dan Jalan Gelap Nyawang, Kelurahan Lebakgede, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi timur laut dari pertigaan jalan.
Peta 2.29. Keletakan Bangunan Villa Merah Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Bangunan ini dibangun pada tahun 1922 oleh R.L.A. Schoemaker dengan gaya bangunan De Stijl atau Praire. Luas bangunan ini adalah 284 m2. Bentuk denah bangunan tersebut yaitu berdenah bujur sangkar.
Arah hadap bangunan ini ke arah barat sehingga bangunan tersebut memiliki satu tampak muka dan bertingkat dua. Bangunan tersebut tidak memiliki menara yang menyatu pada bangunannya, tapi bangunannya memiliki halaman yang luas di bagian depan bangunannya. Pada bagian depan tengah bangunan terdapat ruangan yang menonjol. Di ruangan yang menonjol pada lantai satu terdapat pintu masuk utama dan pada lantai dua terdapat balkon yang pintu
menuju balkonnya terbuat dari kayu, begitu pula dengan jendelanya terbuat dari kayu. Jendelanya berada di samping kanan kiri pintu. Atap bangunan ini terbuat dari genteng dan bertumpang.
Ciri khas bangunan ini adalah warna bangunan yang berwarna merah, warna merah berasal dari batu bata merah buatan Negeri Belanda. Oleh karena itu dinamakan Villa Merah. Fungsi awal bangunan ini adalah sebagai tempat tinggal/villa.
2.3.6. Bangunan Sawung Galing-Rangga Gading
Bangunan ini terletak di sudut persimpangan Jalan Sawung Galing dan Jalan Rangga Gading, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Bangunan sudut tersebut berada di sisi dari persimpangan jalan.
Tahun berdirinya bangunan ini, yaitu pada tahun 1930, mempunyai gaya bangunanya Vernakuler, tapi arsitek dari bangunannya belum diketahui. Bentuk denah bangunan ini adalah bujur sangkar.
Peta 2.30. Keletakan Bangunan Sudut Sawung Galing-Rangga Gading Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Arah hadap bangunan tersebut menghadap ke selatan dan timur sehingga bangunan ini memiliki dua tampak muka bangunan dan dua lantai. Bangunan ini
tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya. Pada bagian muka bangunan terdapat halaman yang cukup luas. Lantai dua terdapat balkon yang menghadap ke arah ke timur. Bangunan ini menggunakan jendela-jendela dari kaca. Bangunan sudut ini memiliki hiasan ujung atap yang sama dengan Kantor Pos Besar berupa hiasan puncak kubus. Atap bangunan ini terbuat dari genteng. Fungsi bangunan sebelumnya adalah sebagai tempat tinggal hingga sekarang.
2.3.7. Drie Kliuer (Tiga Warna)
Drie Klieur terletak di sudut persimpangan Jalan Ir H Juanda dan Jalan Sultan Agung no 1, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi tenggara dari persimpangan tiga jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1938, oleh A.F. Albers dengan gaya bangunan modern (tropis) Indonesia. Bentuk denah bangunan ini adalah tidak beraturan.
Peta 2.31. Keletakan Bangunan Bank Ex. Djasa Artha Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Arah hadap bangunan tersebut menghadap ke barat daya sehingga bangunan ini memiliki satu tampak muka bangunan dan empat lantai. Bangunan ini tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya. Bagian muka bangunan terdapat halaman yang cukup luas. Pada lantai dua dan tiga terdapat balkon yang menghadap ke arah barat daya, selatan dan barat. Bangunan ini banyak menggunakan jendela-jendela dari kaca. Tiap bangunan menggunakan atap datar beton untuk menghalangi masuknya sinar matahari dan hujan. Bangunan ini sederhana dan sangat minim hiasan bangunan. Fungsi bangunan sebelumnya adalah sebagai tempat tinggal, kemudian digunakan sebagai bank dan terakhir tidak dipergunakan sehingga kondisinya sangat terawat. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai rumah tinggal.
2.3.8. Toko jalan Merdeka-Aceh
Bangunan Toko ini terletak di sudut persimpangan Jalan Merdeka dan Jalan Aceh no. 38, Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi tenggara dari persimpangan empat jalan.
Tahun berdirinya bangunan ini, yaitu pada tahun 1915, tapi arsitek dan gaya bangunannya tidak diketahui. Bentuk denah bangunan ini adalah berdenah bujur sangkar.
Peta 2.32. Keletakan Bangunan toko jalan Merdeka-Aceh Foto oleh Dimas Setyo Saputro dan peta dari Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke selatan dan barat sehingga bangunan ini memiliki dua tampak muka dan tidak bertingkat. Bangunan sudut tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya dan juga tidak memiliki halaman yang luas di depan bangunan tersebut. Pada sisi barat terdapat empat jendela kaca yang besar dan di sisi selatan terdapat dua jendela kaca, satu jendela kayu, dan satu pintu masuk dengan kanopi. Sisi barat bangunan terdapat lubang udara dan satu gable yang berbentuk segitiga bergerigi. Pada sisi selatan juga terdapat dua gable yang sama dengan sisi barat. Denah bangunannya berbentuk persegi. Sekarang bangunan ini digunakan sebagai tempat makan cepat saji. Fungsi awal bangunan ini sebagai rumah tinggal.
2.3.9. Kantor Perpustakaan Universitas Parahyangan
Kantor Perpustakaan Universitas Parahyangan terletak di sudut persimpangan Jalan Merdeka dan Jalan Aceh no. 47, Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Keletakan bangunan ini terletak di sisi barat laut dari persimpangan empat jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1930, arsitek dan gaya bangunannya tidak diketahui hingga sekarang. Fungsi awal bangunan ini sebagai perpustakaan. Bentuk denah bangunannya adalah berdenah persegi panjang yang memanjang dari timur ke barat.
Peta 2.33. Keletakan Bangunan Kantor Perpustakaan Universitas Parahyangan Foto oleh Dimas Setyo Saputro dan peta dari Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke selatan dan timur sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak muka dan tidak bertingkat. Bangunan tersebut tidak memiliki menara dan halaman yang luas di depan bangunan sudut tersebut. Bangunan ini sekarang berupa perkantoran dan perpustakaan, setiap sisinya di lengkapi dengan kaca-kaca dan pintu masuk utamanya pula banyak dihiasi dengan kaca. Atap bangunan ini terbuat dari genteng dan berbentuk limas.
2.3.10. Bangunan Kyai Gede Utama-Dipati Ukur
Bangunan ini terletak di sudut persimpangan Jalan Kyai Gede Utama dan Jalan Dipati Ukur, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi timur laut dari persimpangan tiga jalan.
Peta 2.34. Keletakan Bangunan Kyai Gede Utama-Dipati ukur Foto oleh Maharani Qadarsih dan peta dari Google Map
Tahun berdirinya bangunan ini, yaitu pada tahun 1920-1935, tapi arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui. Bentuk denah bangunan tersebut adalah berdenah segitiga yang pada sisi sudutnya tidak lancip melainkan melengkung
Arah hadap bangunannya menghadap ke arah barat daya sehingga bangunan tersebut memiliki satu tampak muka. Bangunan tersebut bertingkat dua setiap lantai bangunan memiliki atap sendiri. Bangunan tersebut pula tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya, tapi terdapat halaman yang luas di muka bangunannya. Pada lantai dua tidak tersedia balkon. Bagian depan bangunan dilengkapi oleh halaman dengan dilengkapi pagar keliling. Bangunan ini memliki pengaruh adaptasi terhadap iklim tropis. Fungsi awal bangunan sudut tersebut adalah sebagai rumah tinggal.
2.4. Sektor Oude Hospitaalweg dan Grote Lengkong
Ruang lingkup sektor Oude Hospitaalweg dan Grote Lengkong meliputi Jalan Lembong, Jalan Bungsu, Jalan Tamblong, Jalan Lengkong Besar dan sekitarnya.
Peta 2.35. Peta sektor Oude Hospitalweg Sumber: Google Map
Sektor Grote Lengkongweg berbatasan dengan Grote Postweg di sebelah selatan dan timur, sektor Braga di sebelah barat, dan sektor Dago di sebelah utara. Sektor tersebut merupakan daerah perkantoran dan pertokoan. Bangunan-bangunan sudut pada sektor Oude Hospitaalweg dan Grote Lengkong, yaitu
2.4.1. Kantor DPD Angkatan 45
Kantor DPD Angkatan 45 terletak di sudut persimpangan Jalan Bungsu dan Jalan Sunda no. 39, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi barat laut dari persimpangan empat jalan.
Bangunan ini didirikan pada tahun 1940. Arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui. Bentuk denah bangunan ini adalah berdenah persegi panjang yang memanjang dari selatan ke utara.
Peta 2.36. Keletakan Bangunan Kantor DPD Angkatan 45 Foto oleh Dimas Setyo Saputro dan peta dari Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke timur dan selatan sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak muka bangunan dan memiliki dua lantai. Bangunan tersebut memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya, tapi tidak memiliki halaman yang luas di bagian depan bangunannya. Pada sisi tenggara terdapat menara yang atapnya terbuat dari genteng. Lantai satu terdapat tiga jendela besar menghadap ke selatan dan timur dan satu menghadap ke timur laut. Hal tersebut serupa dengan yang ada di lantai dua. Ciri khas bangunan ini adalah menggunakan menara yang menyatu dengan bangunan. Fungsi awal bangunan ini adalah sebagai kantor.
2.4.2. Gedung GKP RI
Gedung GKP RI terletak di sudut persimpangan Jalan Dalem Kaum dan Jalan Lengkong Besar no. 4, Kelurahan Balonggede, Kecamatan Regol, Kota Bandung, Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi barat daya dari persimpangan empat jalan.
Peta 2.37. Keletakan Bangunan GKP RI Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Bangunan ini dibangun pada tahun 1940. Arsitek bangunan ini adalah Soekarno dan Rosseno. Bentuk denah bangunan tersebut yaitu berdenah bujur sangkar.
Arah hadap bangunan ini menghadap ke timur dan utara sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak muka dan memiliki dua lantai. Bangunan ini memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya, terletak di sudut bangunan. Bangunan tersebut memiliki halaman yang luas di bagian depan bangunannya. Pintu masuknya menghadap ke timur laut dan di lengkapi dengan kanopi. Bagian atas pintu masuk terdapat menara yang berbentuk setengah lingkaran. Menara tersebut terdapat tiga jendela kaca yang memanjang secara vertikal. Lantai dua terdapat balkon dan setiap sisi lantai dua dilengkapi oleh jendela kaca. Awalnya bangunan ini sebagai kantor.
2.5. Sektor Pasar Baroeweg-Tegallega West dan A.B.C. Straat
Ruang lingkup sektor Pasar Baroeweg-Tegallega West dan A.B.C. Straat meliputi Jalan Otto Iskandardinata, Jalan ABC, Jalan Naripan, Jalan Banceuy, dan sekitarnya.
Peta 2.38. Peta sektor Pasar Baroeweg Sumber: Google Map
Sektor ABC berbatasan dengan Grote Postweg di sebelah selatan, sektor Braga di sebelah timur, Kebon Jukut di sebelah utara, dan Kebon Jeruk di sebelah barat. Sektor ini merupak daerah perbelanjaan pada masa itu. Selain Braga, daerah ini juga terkenal sebagai daerah perbelanjaan dan merupakan daerah orang-orang Cina menjual barang-barang dagangannya. Bangunan-bangunan sudut pada sektor Pasar Baroeweg-Tegallega West dan A.B.C. Straat, yaitu
2.5.1. Toko jalan ABC
Toko tersebut terletak di sudut persimpangan Jalan Banceuy no. 51 dan Jalan ABC, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Keletakan bangunan sudut tersebut terletak di sisi barat daya persimpangan empat jalan.
Bangunan ini dibangun sekitar tahun 1928, arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui hingga sekarang. Bentuk denah bangunan tersebut adalah berdenah persegi panjang yang memanjang dari utara ke selatan.
Peta 2.39. Keletakan Bangunan Toko ABC
Sumber: www.geocities.com/bandungcity/old.htm dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap utara dan timur sehingga bangunan ini memiliki dua tampak muka. Bangunan tersebut terdapat dua tingkat, memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya. Bangunan tersebut tidak memiliki halaman yang luas di bagian depan bangunan sudut tersebut. Pintu masuknya menghadap ke timur laut. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, terdapat dua jendela besar dan satu jendela kecil. Bangunan tersebut menghadap ke timur laut. Pada atap bagian timur laut terdapat cupola yang membulat dengan 6 lubang udara dan atap tidak terbuat dari genteng. Bangunan ini dari awalnya difungsikan sebagai toko.
2.5.2. Toko Bintang Mas
Toko tersebut terletak di sudut persimpangan Jalan ABC dan Jalan Alketeri, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa
Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi tenggara persimpangan empat jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1925-1930, arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui hingga sekarang. Bentuk denah bangunan sudut tersebut adalah berdenah persegi panjang yang memanjang dari utara ke selatan.
Peta 2.40. Keletakan Bangunan Toko Bintang Mas Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke utara dan barat sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak muka dan memiliki dua lantai. Bangunan tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya dan juga tidak memiliki halaman yang luas di bagian muka bangunannya. Pintu masuknya menggunakan dengan rolling door menghadap ke barat laut. Di lantai dua terdapat tiga jendela di tiap sisinya dan juga terdapat jendela yang berbentuk lingkaran di tiap sisinya. Pada sisi barat terdapat bagian yang menonjol dan berbentuk setengah lingkaran. Bagian tersebut menonjol secara vertikal hingga menyerupai menara. Di atas pintu masuk terdapat tulisan nama toko. Sejak awal dibangun hingga sekarang bangunan ini tetap digunakan untuk pertokoan.
2.5.3. Toko Hasil Bumi Bintang
Toko Hasil Bumi Bintang terletak di sudut persimpangan Jalan Belakang Pasar no 1 dan Jalan Pasar Barat, Kota Bandung, Jawa Barat. Keletakan bangunan sudut tersebut terletak di sisi timur laut dari persimpangan tiga jalan.
Peta 2.41. Keletakan Bangunan Toko Hasil Bumi Bintang Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Bangunan ini dibangun pada tahun 1910. Arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui hingga sekarang. Bentuk denah bangunan sudut adalah berdenah bujur sangkar.
Arah hadap bangunan ini menghadap ke selatan dan barat sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak dan memiliki dua tingkat. Bangunan tersebut tidak memiliki menara dan halaman yang luas di depan bangunan tersebut. Lantai satu terdapat satu jendela dan satu pintu di kedua sisi, tapi pada sisi tenggara terdapat jendela kecil yang memanjang secara horisontal. Pada lantai dua terdapat tiga jendela di kedua sisinya, tapi pada sisi tenggara terdapat satu pintu kaca dan balkon. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai ruko.
2.5.4. Kantor Banceuy-Suniaraja
Kantor tersebut terletak di sudut persimpangan Jalan Banceuy dan Jalan Suniaraja, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan sudut tersebut terletak di sisi tenggara dari persimpangan tiga jalan.
Peta 2.42. Keletakan Bangunan Banceuy-Suniaraja Foto oleh Dimas Setyo Saputro dan peta dari Google map
Bangunan ini dibangun pada tahun 1938, arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui. Bentuk denah bangunan tersebut yaitu berdenah tidak beraturan. Arah hadap Bangunan ini menghadap ke utara-barat sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak muka dan memiliki dua tingkat. Bangunan tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya dan bangunan tersebut juga tidak memiliki halaman yang luas di bagian depan bangunannya. Bangunan sisi utara dihiasi oleh tembok yang berbentuk kotak-kotak. Awal bangunan tersebut digunakan sebagai perkantoran.
2.6. Sektor Roozeboomweg
Ruang lingkup sektor Roozeboomweg meliputi Jalan Riau/L.L.R.E Martadinata, Jalan Taman Pramuka, Jalan Taman Cempaka, Jalan Gandapura, Jalan Anggrek dan sekitarnya.
Sektor Riau berbatasan dengan sektor Soematrastraat di sebelah selatan, sektor Dago di sebelah barat, sektor Tjihauergeulis di sebelah utara, dan sektor Kebonwaroe di sebelah timur. Sektor ini merupakan wilayah pemukiman penduduk pegawai. Pada tahun 1910 Riau masih berupa perbatasan sebelah timur kota Bandung sehingga didirikan kompleks perumahan. Selain itu, di jalan Cihapit yang memotong jalan Riau terdapat kompleks perumahan untuk pegawai-pegawai kecil. Kompleks perumahan tersebut dijadikan sebagai wilayah pemukiman sehat di Bandung pada awal abad 20. Bangunan-bangunan sudut pada sektor Roozeboomweg, yaitu
2.6.1. Bangunan Cendana-Taman Pramuka
Bangunan ini terletak di sudut persimpangan Jalan Cendana dan Jalan Taman Pramuka, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bantung Wetan, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan sudut ini terletak di sisi tenggara dari persimpangan tiga jalan.
Tahun berdirinya bangunan ini, yaitu pada tahun 1930-1940, tapi arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui. Bentuk denah bangunan tersebut adalah berdenah segitiga.
Peta 2.44. Keletakan Bangunan Cendana-Taman Pramuka Foto oleh Maharani Qadarsih dan peta dari Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke barat dan utara sehingga bangunannya memiliki dua tampak muka dan tidak bertingkat. Sedangkan pintu utama bangunan menghadap ke barat laut. Bangunan ini tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya, tapi bangunan tersebut memilikihalaman yang luas berada di muka bangunannya. Atap bangunan ini berbentuk limasan dan bahannya terbuat dari genteng. Fungsi awal bangunan berupa bangunan rumah tinggal.
2.6.2. Rumah Dinas Direktur Guvernments Beddrijven
Rumah Dinas Direktur Guvernments Beddrijven terletak di sudut persimpangan Jalan R.L.E.E. Martadinata dan Jalan Banda, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi timur laut persimpangan empat jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1900, arsiteknya belum diketahui, tapi bangunannya dibangun dengan gaya Neoklasik. Bentuk denah bangunan ini adalah berdenah persegi panjang yang memanjang dari barat ke timur.
Peta 2.45. Keletakan Bangunan Martadinata-Banda Sumber: www.google.com dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke sebelah selatan begitu pula dengan pintu masuknya sehingga bangunan tersebut memiliki satu tampak muka dan tidak bertingkat. Bangunan tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya, tapi memiliki halaman yang luas di bagian muka bangunannya. Pada muka bangunan di bagian tengahnya terdapat ruangan yang menonjol berbentuk setengah lingkaran. Di ruangan menonjol tersebut terdapat pintu masuk utama berada. Pintu masuk utama bangunan diapit oleh dua jendela yang berukuran besar. Bangunan ini sudah tidak digunakan lagi dengan kondisi bangunan kurang terawat. Bangunan ini banyak dihiasi oleh kolom-kolom Ionic.
Fungsi bangunannya dari awal digunakan sebagai rumah dinas Direktur Gouvernments Bedrijven.
2.6.3. Soka-Martadinata
Bangunan tersebut terletak di sudut persimpangan Jalan Soka dan Jalan R.L.E.E. Martadinata, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi tenggara dari persimpangan empat jalan.
Peta 2.46. Keletakan Bangunan Soka-Martadinata Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Bangunan ini dibangun pada tahun 1930-1935, arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui. Denah bangunan tersebut adalah berdenah bujur sangkar.
Arah hadap bangunan ini menghadap ke timur dan selatan dan arah hadap pintu utama ke arah tenggara sehingga bangunan sudut tersebut memiliki dua tampak muka serta berlantai dua. Bangunan tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunan dan bangunan tersebut memiliki halaman yang luas di muka bangunan tersebut. Pada lantai pertama terdapat empat jendela besar dan satu pintu masuk utama. Pada lantai kedua terdapat enam jendela yang berukuran
kecil. Atap bangunan berbentuk limasan, dan di sisi tenggara atap terdapat jendela yang menonjol keluar. Atap bangunannya terbuat dari genteng. Ciri khas bangunan ini adalah bangunan rumah tinggal yang bertingkat pada masanya. Fungsi awal bangunannya berfungsi sebagai rumah tinggal.
2.6.4. Bangunan Pudak-Anggrek
Bangunan ini terletak di sudut persimpangan Jalan Pudak dan Jalan Anggrek, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat.
Peta 2.47. Keletakan Bangunan Pudak-Anggrek Foto oleh Maharani Qadarsih dan peta dari Google Maps
Tahun berdirinya bangunan ini pada tahun 1920-1930, tapi arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui. Arah hadap bangunan ini menghadap ke utara dan timur begitu pula dengan pintu masuknya sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak muka dan tidak bertingkat. Bangunan tersebut tidak memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya, tapi memiliki halaman yang luas di bagian muka bangunannya. Pada pintu masuk terdapat atap yang menonjol di atas pintu. Atap bangunan tersebut seperti beratap tumpang dua dan bahannya terbuat dari genteng. Sisi kanan dan kiri bangunan tersebut memiliki bentuk yang sama sehingga terlihat seperti simetris. Bangunan ini sekarang digunakan oleh sekolah Santa Ursula dan keadaan sekolah ini pun terawat.
2.7. Sektor Soematerastraat
Ruang Lingkup sektor Soematerastraat meliputi Jalan Sumatera, Jalan Bangka, Jalan Jawa dan sekitarnya. Sektor ini berbatasan dengan sektor Riau di sebelah utara dan timur, sektor Dago di sebalah barat, dan sektor Lengkong di sebelah selatan. Sektor ini merupakan daerah pendidikan, militer dan perkantoran. Sektor ini dekat sekali dengan wilayah perumahan, yaitu Jalan Dago dan Jalan Riau. Bangunan-bangunan sudut pada sektor Soematerastraat, yaitu
Peta 2.48. Peta Sektor Soematerastraat Sumber: Google Map
2.7.1. Gedung Markas Komando wilayah V
Kantor Markas Komando wilayah V terletak di sudut persimpangan Jalan Bangka dan Jalan Gudang Utara, Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan sudut tersebut terletak di sisi tenggara dari persimpangan tiga jalan.
Bangunan tersebut dibangun pada tahun 1915-1920, arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui hingga sekarang. Bentuk denah bangunan tersebut adalah berdenah persegi panjang yang memanjang dari barat ke timur.
Peta 2.49. Keletakan Bangunan Markas Komando wilayah V Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke utara dan timur. Pintu masuk bangunan tersebut adalah ke arah barat laut sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak muka bangunan dan tidak bertingkat. Bangunan tersebut memiliki dua menara yang menyatu dengan bangunannya. Pada sisi timur laut terdapat dua menara kembar yang menghimpit pintu masuk utama bangunan. Bangunan tersebut memiliki halaman yang luas di bagian muka bangunannya. Atap
bangunan ini berbentuk limasan. Fungsi awal bangunan ini digunakan untuk markas komando wilayah V.
2.7.2. Kantor Balai Keselamatan
Kantor Balai Keselamatan terletak di sudut persimpangan Jalan Jawa no. 20 dan Jalan Sumatera, Kelurahan Babakan Ciamis, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi barat daya dari persimpangan empat jalan.
Bangunan ini didirikan pada tahun 1920-1925 di atas tanah seluas 7845 m dan dirancang oleh F. W. Brinkman en Voorhoeve, tapi tidak diketahui gaya dari bangunan tersebut. Bentuk denah bangunan tersebut adalah berdenah bujur sangkar.
Peta 2.50. Keletakan Bangunan Balai Keselamatan Sumber: Dana, 1990 dan Google map
Arah hadap bangunan ini ke sebelah timur sehingga bangunan sudut tersebut memiliki dua tampak bangunan dan memiliki halaman yang luas di bagian muka bangunan tersebut. Bangunan ini memiliki dua lantai dan menara yang menyatu dengan bangunannya. Menaranya terdiri dari tiga lantai dengan
satu jendela menghadap timur dan selatan. pada lantai satu sisi timur pada menara tidak terdapat jendela melainkan pintu. Pada sisi timur bangunan terdapat dua jendela besar dan dua jendela kecil di tiap lantainya. Sedangkan di sisi selatan lantai satu terdapat satu jendela kecil dan dua jendela besar. Awalnya bangunan ini berfungsi sebagai Kantor Service Air dan Listrik.
2.7.3. SMP N 5 Bandung
Bangunan SMPN 5 terletak di sudut persimpangan Jalan Sumatera (Soematrastraat) no 40 dan Jalan Jawa (Javastraat), Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi timur laut dari persimpangan empat jalan.
Bangunan ini di bangun pada tahun 1917, luas bangunan 4.026m2 dengan gaya bangunan Indisch Style. Arsitek bangunan ini belum diketahui hingga sekarang. Bentuk denah bangunan tersebut adalah berdenah persegi panjang yang memanjang dari sisi selatan ke utara.
Peta 2.51. Keletakan Bangunan SMPN 5 Bandung Sumber: Kunto, 2006 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke selatan dan barat sehingga bangunan tersebut memiliki dua tampak muka dan tidak bertingkat. Bangunan tersebut memiliki dua menara kembar yang menghimpit pintu masuk dan menyatu
bangunan ini berbentuk limas dan pada kedua menara tersebut berbentuk limas serta terbuat dari genteng. Bangunan tersebut memiliki halaman yang luas di bagian muka bangunan. Penggunaan koridor pada sisi bangunan agar menghalangi masuknya sinar matahari dan hujan. Ciri khas bangunan ini adalah terdapat dua menara kembar yang mengapit pintu masuk bangunan. Awalnya bangunan ini bernama sekolah MULO, dan fungsinya dari awal digunakan untuk sekolah.
2.7.4. Bangunan Sumatra-Aceh
Bangunan ini terletak di sudut persimpangan Jalan Aceh dan Jalan Sumatera, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Keletakan bangunan tersebut terletak di sisi timur laut persimpangan tiga jalan.
Tahun berdirinya bangunan ini, yaitu pada tahun 1920-1925, tapi arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui. Bentuk denah bangunan tersebut adalah berdenah persegi panjang yang memanjang dari barat ke timur.
Peta 2.52. Keletakan Bangunan Sumatera-Aceh Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke selatan dan pintu masuknya menghadap ke arah selatan pula sehingga bangunan ini memiliki satu tampak muka dan berlantai dua. Pada lantai pertama pintu masuk utama di apit oleh dua jendela besar. Sedangkan pada lantai utama terdapat tiga jendela. Di sisi utara dan selatan terdapat dua jendela di setiap lantai pula. Atap bangunan berbentuk limasan dan terbuat dari genteng. Pada tiap sisi di bagian atap terdapat jendela yang menonjol keluar. Bangunan tersebut tidak terdapat menara yang menyatu dengan bangunannya, tapi memiliki halaman yang luas pada muka bangunannya.
2.8. Sektor Papandayanlaan
Ruang lingkup sektor Papandayanlaan meliputi Jalan Gatot Subroto, Jalan Windu, dan sekitarnya.
Peta 2.53. Peta Sektor Papandayanlaan Sumber: Google Map
Sektor Papandayanlaan berbatasan dengan Grote Postweg di sebelah barat dan utara, Tjibangkong di sebelah timur, dan Tjikawao di sebelah selatan. Sektor
ini merupakan perumahan pegawai-pegawai kecil. Bangunan-bangunan sudut pada sektor Papandayanlaan, yaitu
2.8.1. Bangunan Villa Gruno
Villa Gruno berada di sudut persimpangan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Guntur, Kelurahan Lengkong, Kecamatan Burangrang, Kota Bandung, Jawa Barat. Keletakan bangunan ini terletak di sisi tenggara dari persimpangan tiga jalan.
Bangunan ini dibangun pada tahun 1925-1935, arsitek dan gaya bangunannya belum diketahui hingga sekarang. Bentuk denah bangunan ini adalah berdenah persegi panjang yang memanjang dari barat ke timur.
Peta 2.54. Keletakan Bangunan Villa Gruno Sumber: Dana, 1990 dan Google Map
Arah hadap bangunan ini menghadap ke utara dan barat sehingga bangunannya memiliki dua tampak bangunan. Bangunan ini memiliki menara yang menyatu dengan bangunannya dan juga memiliki halaman yang luas di bagian depan bangunannya. Pada sisi barat laut terdapat menara yang beratapkan genteng dan jendela yang menghadap ke barat laut. Di sisi utara terdapat tiga