BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan hasil kebudayaan manusia yang sangat penting karena

Teks penuh

(1)

1.1 Latar Belakang

Bahasa merupakan hasil kebudayaan manusia yang sangat penting karena bahasa dipakai sebagai alat untuk berkomunikasi bagi masyarakat pemakainya (Pateda, 1987:4). Dalam konteks ini, komunikasi tidak akan terjadi dengan baik manakala manusia tidak menggunakan suatu media representatif, yaitu bahasa. Untuk itu, maka dapat dikatakan bahwa bahasa adalah sarana khas bagi manusia di dalam berkomunikasi (Kaelan, 1998: 285). Sebagai alat komunikasi manusia, bahasa adalah suatu sistem yang bersifat sistemis. Yang termasuk sistemis adalah bahwa bahasa itu bukan suatu sistem tunggal, melainkan terdiri pula dari beberapa subsistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik (Chaer, 1994: 4).

Keberadaan bahasa sebagai alat komunikasi bagi manusia ini menjadikan bahasa senantiasa mengalami pertumbuhan dan perkembangan karena bahasa tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Kedinamisan bahasa disebabkan oleh kedinamisan masyarakat pemakai bahasa. Masyarakat bersifat dinamis dalam arti tiap hari terdapat perubahan. Perubahan itu tampak dari sifat dan hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat itu sendiri. Oleh karena bahasa bersifat dinamis, maka terjadi perubahan-perubahan terutama dalam hal penambahan kosakata dan juga aspek-aspek lain dari bahasa (Pateda, 1987: 77). Perkembangan bahasa (kosakata) sejalan dengan adanya kebutuhan manusia yang semakin beragam sehingga diperlukan istilah baru untuk melengkapinya.

(2)

Misalnya saja, kebutuhan manusia untuk memperoleh berbagai macam hiburan, yang salah satunya adalah bermain game.

Pro Evolution Soccer (PES resmi disingkat dan dikenal sebagai World Soccer: Winning Eleven di Jepang dan Korea Selatan) adalah video game sepak bola yang dikembangkan dan diterbitkan oleh Konami. Game serial ini telah diproduksi di bawah bimbingan Shingo "Seabass" Takatsuka.

Pro Evolution Soccer pertama kali dirilis di Eropa pada tahun 2001, sedangkan untuk kawasan Asia dirilis dengan nama yang berbeda, yaitu Winning Eleven. Akan tetapi, pada tahun 2013 Pro Evolution Soccer lebih populer di kalangan masyarakat Indonesia dan luar negeri. Untuk meraup pasar yang lebih banyak, Konami membuat lebih banyak fitur di game rilisan terbaru, Pro Evolution Soccer 2013. Selain tambahan fitur pada permainan, Konami juga menambah aplikasi pilihan bahasa antarmuka (Language User Interfaces) pada

menu bar dan sub menu bar yang lebih banyak, salah satunya adalah bahasa Arab. Tidak seperti halnya bahasa alami, bahasa pemrograman komputer (bahasa antarmuka) ini sedikit lebih rumit. Bahasa “buatan” ini dirancang sedemikian rupa agar kalimat-kalimat pernyataannya mempunyai bentuk yang tepat sehingga memudahkan penerjemah program (interpreter) untuk menguraikannya menjadi urutan instruksi yang dimengerti oleh komputer. Jika komputer mampu memproses bahasa buatan maka dengan pendalaman teknik tertentu, komputer mampu pula “mengerti” bahasa alami. Dengan pengertian yang dimiliki ini, akan lebih mudah bagi manusia untuk berkomunikasi dengan komputer. Pemahaman bahasa alami oleh komputer ini dipandang sebagai bahasa antarmuka (language

(3)

user interface) yang paling memadai untuk menghilangkan hambatan komunikasi antara manusia dan komputer (Yusuf dan Sumardi, 1989: 75)

Dalam sosiolinguistik, bahasa antarmuka (language user interfaces) masuk dalam bidang register. Register adalah satu variasi dalam tutur yang dipergunakan oleh sekelompok orang tertentu yang disesuaikan dengan profesi dan perhatian yang sama (Parera, 1993: 133).

Variasi-variasi bahasa berbentuk lisan dan tulisan. Dalam bahasa lisan mempergunakan alat-alat bicara, sedangkan bahasa tulisan memerlukan media dalam pengungkapannya. Kridalaksana (2008: 59) menyatakan variasi bahasa yang digunakan dalam bidang terkait biasanya akan terlihat cirinya dalam bidang kosakata sehingga penggunaan kosakata tersebut akan sangat berbeda antara satu bidang dengan bidang lainnya, lalu dipilihlah kosakata secara estetis mempunyai sifat kombinasi bunyi yang enak didengar (eufoni) dan daya lingkup yang paling tepat.

Penambahan fitur bahasa Arab dalam game Pro Evolution Soccer 2013 ini menambah istilah-istilah baru dan berdampak pada perkembangan bahasa. Misalnya seperti istilah “ رتويبمكلا al-kambiyūtar” dan “تنرتنلإا al-intarnat” . Dua

istilah tersebut merupakan contoh yang dikenal dalam game Pro Evolution Soccer 2013 berbahasa Arab. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dikaji lebih jauh tentang istilah-istilah game Pro Evolution Soccer 2013 dengan kajian register dengan harapan dapat menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan bahasa Arab.

(4)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah apa jenis register yang digunakan dalam Menu bar dan Sub Menu Bar game Pro Evolution Soccer 2013 berbahasa Arab.

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan, tujuan penelitian ini adalah mengetahui register yang digunakan pada Menu Bar dan Sub Bar game Pro Evolution Soccer 2013 berbahasa Arab.

1.4 Tinjauan Pustaka

Penelitian mengenai register telah dilakukan para peneliti sebelumnya, di antaranya adalah Baehaqi (2002), Atmawati (2002), Pakaya (2009), Rasdisyah (2010), dan Hamarin (2012)

Baehaqi (2002) meneliti register dalam tesisnya yang berjudul “Pemakaian Register Ketuhanan dalam Kehidupan Masyarakat Muslim di Indonesia”. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa yang dimaksud register dalam masyarakat muslim di Indonesia adalah satuan-satuan lingual yang mengandung kosakata khusus, yaitu Allah, Rabb, Tuhan, atau yang mengacu kepada Tuhan (dalam perspektif Islam), yang biasa dipakai oleh masyarakat Indonesia untuk berkomunikasi dengan-Nya maupun sesamanya. Secara umum, register ketuhanan ini berfungsi sebagai ungkapan penyandaran diri kepada Tuhannya, dalam rangka mencapai keefektifan dalam berkomunikasi atau penghilangan rintangan-rintangan komunikasi dengan penuturnya.

(5)

Atmawati (2002) dalam tesisnya yang berjudul “Register Dakwah: Studi Kasus Dakwah Islam oleh K.H Zainuddin M.Z” didapat kesimpulan bahwa struktur dan komponen dakwah Islam digunakan secara bervariasi. Jadi, komponen tersebut membentuk struktur tidak tetap atau tidak monoton.

Pakaya (2009) meneliti register dalam tesisnya yang berjudul “Register Hukum: Kajian Tentang: Karakteristik, Struktur, dan Makna Istilah”. Berdasarkan hasil penelitian pada tesis istilah register bahasa hukum ini menunjukkan bahwa bahasa hukum di Indonesia memiliki ciri tersendiri. Ciri tersebut terlihat jelas pada pemanifestasian di dalam produk hukum yang digunakan, juga dapat diidentifikasi berdasarkan komunikasi verbal yang dibangun di antara pelaku atau perangkat hukum.

Rasdisyah (2010) menulis skripsi yang berjudul “Frame Tools Screen pada

Menu dan Sub Menu Bar Microsoft Office Outlook 2007 berbahasa Arab”. Skripsi tersebut membahas istilah-istilah yang terdapat dalam sistem dialog bar yang menjadi faktor utama terjadinya komunikasi antara sistem dengan penggunanya. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat banyak istilah baru yang merupakan bahasa serapan dari bahasa dasar Microsoft (bahasa Inggris) yang mengalami penterjemahan ke dalam bahasa Arab. Identifikasi register dalam skripsi Rasdisyah (2010) ini telah menghasilkan banyak istilah yang memiliki kedudukan gramatikal yang berbeda. Beberapa di antaranya memiliki kesamaan istilah dalam kehidupan sehari-hari, tetapi memiliki arti istilah yang berbeda.

(6)

Hamarin (2012) dalam skripsinya yang berjudul “Menu Bar dan Sub Menu Bar Facebook Berbahasa Arab” membahas istilah-istilah yang terdapat pada sistem website facebook. Dalam skripsi tersebut ditemukan istilah-istilah bahasa Arab yang dipengaruhi oleh bahasa Inggris, tidak sedikit pula dari istilah-istilah yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Berdasarkan keterangan dan penjelasan tersebut maka penelitian dalam

Menu bar dan sub menu bar dalam Pro Evolution Soccer 2013 yang membahas istilah-istilah dalam gamePro Evolution Soccer inilayak untuk dilakukan.

1.5 Landasan Teori

Penelitian tentang register ini tidak dapat terlepas dari pendekatan sosiolinguistik dan semantik. Berikut ini akan diuraikan satu persatu mengenai hal tersebut.

1.5.1 Sosiolinguistik

Ditinjau dari nama, sosiolinguistik menyangkut sosiologi dan linguistik, karena itu sosiolinguistik menyangkut dengan kedua kajian tersebut. Sosio- adalah masyarakat, dan linguistik- adalah kajian bahasa. Jadi, sosiolinguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi kemasyarakatan (Sumarsono dan Paina Partana, 2004: 1). Sementara itu, menurut Chaer dan Agustina (2004: 2) Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu dalam masyarakat. Sosiolinguistik sebenarnya tidak memperhatikan “aturan permainan” dalam tata bahasa, tetapi yang diperhatikan bagaimana pemakaian bahasa sehingga dia menjalankan fungsinya semaksimal mungkin (Pateda. 1987: 4). Sosiolinguistik lebih

(7)

berhubungan dengan perincian-perincian penggunaan bahasa yang sebenarnya, seperti deskripsi pola-pola pemakaian bahasa/dialek dalam budaya tertentu, pilihan pemakaian bahasa/dialek tertentu yang dilakukan penutur, topik, dan latar pembicaraan. Salah satu konsep dasar dalam sosiolinguistik yang harus kita pahami adalah gagasan tentang bahasa dan ragam (variasi) bahasa. Bahasa bukan sesuatu yang monolitik, yang tunggal, jadi bahasa mesti mengandung keragaman (Sumarsono, 2007: 17).

Fishman (1972: 4) melihat sosiolinguistik dari sudut adanya hubungan antara variasi bahasa, fungsi bahasa, dan pemakaian bahasa serta adanya perubahan-perubahan sebagai akibat terjadinya interaksi antara ketiganya. Sementara itu, konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung di University of California, Los Angeles, tahun 1964, telah merumuskan adanya tujuh dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. Ketujuh dimensi yang merupakan masalah dalam sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial penutur, (2) identitas sosial dari pendengar yang terlibat dalam proses komunikasi, (3) lingkungan sosial tempat perisitiwa tutur terjadi, (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial, (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentuk-bentuk ujaran, (6) tingkatan variasi dan ragam linguistik, dan (7) penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik (Chaer dan Agustina, 2010: 5).

1.5.2 Register

Wardaugh (1988: 48) menyatakan bahwa: Register is another complicating factor in any study of language varieties. „Register adalah suatu faktor yang rumit dalam studi mengenai variasi bahasa‟. Register juga merupakan variasi tutur

(8)

untuk menyampaikan bermacam-macam maksud. Chaer dan Agustina (2004: 68) menambahkan bahwa variasi bahasa berkenaan dengan penggunaannya, pemakaiannya, atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam, atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan, dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra jurnalistik, militer, pertanian, pelayaran, perekonomian, perdagangan, pendidikan, dan kegiatan keilmuan. Variasi bahasa berdasarkan bidang kegiatan ini yang paling tampak cirinya adalah dalam bidang kosakata. Setiap bidang kegiatan ini biasanya mempunyai sejumlah kosakata khusus atau tertentu yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya dalam bahasa Indonesia ragam jurnalistik dikenal sering menanggalkan awalan me- atau awalan

ber- yang di dalam ragam bahasa baku harus digunakan, seperti kalimat,“Gubernur tinjau daerah banjir” (dalam bahasa baku berbunyi, “Gubernur meninjau daerah banjir”).

Variasi bahasa berdasarkan fungsi ini lazim disebut register. Dalam pembicaraan mengenai register ini biasanya dikaitkan dengan masalah dialek. Kalau dialek berkenaan dengan bahasa itu digunakan oleh siapa, di mana, dan kapan, maka register berkenaan dengan masalah bahasa itu digunakan untuk kegiatan apa (Chaer dan Agustina, 2004: 69).

1.5.3 Semantik

Menurut Kridalaksana (1983: 149), semantik adalah bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna dari ungkapan dan juga dengan struktur

(9)

makna suatu wicara atau sistem dan penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa atau bahasa pada umumnya. Selanjutnya, Chaer (2002: 2) menambahkan, semantik diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik.

Untuk mengetahui apa yang disebut makna atau arti maka harus melihat teori de Saussure bahwa setiap tanda linguistik terdiri dari dua unsur, yaitu (1) yang diartikan (signified) dan (2) yang mengartikan (signifier). Yang diartikan (signified) sebenarnya tidak lain dari konsep atau makna dari suatu tanda bunyi. Adapun yang mengartikan (signifier) itu tidak lain adalah bunyi-bunyi itu, terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Jadi, dengan kata lain setiap tanda linguistik terdiri dari unsur bunyi dan unsur makna (Chaer, 2002: 29). Jadi, semantik merupakan kajian yang membicarakan hubungan antara kata dengan konsep atau makna dari kata tersebut, serta benda atau hal yang dirujuk oleh makna itu yang berada di luar dunia bahasa. Kajian semantik dalam penelitian ini tentunya menganalisis jenis makna, yaitu makna register yang terdapat pada menu bar dan sub menu bar game Pro Evolution Soccer 2013

berbahasa Arab. 1.6 Metode Penelitian

Metode yang dilakukan dalam penelitian ada tiga tahapan, yaitu (1) metode penyediaan data, (2) metode analisis data, dan (3) metode penyajian hasil analisis data (Sudaryanto, 1993: 5). Metode penyediaan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak (1993: 15-18), yaitu pengumpulan data dengan cara menyimak penggunaan bahasa Arab pada Menu Bar dan Sub Bar game Pro

(10)

Evolution Soccer 2013 berbahasa Arab. Kemudian dilanjutkan dengan teknik catat, yaitu dilakukan dengan mencatat penggunaan register dalam Menu Bar dan

Sub Bar game Pro Evolution Soccer 2013 berbahasa Arab berserta konteksnya pada kartu data. Dengan demikian, aspek situasi yang mewarnai data penelitian ini dapat dimunculkan ke objek permasalahannya. Data diseleksi dan kemudian diklasifikasikan yang dianggap mendukung permasalahan di atas untuk dianalisis. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan. Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya berada di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (language) yang bersangkutan atau diteliti (Sudaryanto, 1993: 13). Adapun teknik dasarnya menggunakan teknik pilah unsur penentu yang alat penentunya berupa referen bahasa. Teknik pilah unsur penentu adalah teknik analisis data dengan cara memilah-milah satuan kebahasaan yang dianalisis dengan alat penentu yang berupa daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki oleh penelitinya (Sudaryanto, 1993: 1). Data yang berupa kata, frasa, dan kalimat berbahasa Arab dalam game Pro Evolution Soccer

2013 dipadankan dengan bahasa Inggris dengan tujuan untuk menentukan identitas objek penelitian. Dalam hal ini, satuan kebahasaan yang berupa register dalam game Pro Evolution Soccer 2013 berbahasa Arab diidentifikasikan berdasarkan jenis-jenisnya. Akhirnya data yang telah dianalisis dipaparkan dalam sebuah laporan penelitian.

Penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode informal, yaitu penyajian laporan penelitian yang berwujud perumusan dengan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993: 145).

(11)

1.7 Sistematika Penulisan

Bab I berisi pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, permasalahan, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, sistematika penulisan, dan pedoman transliterasi Arab-Latin. Bab II berisi register dan Menu Bar dan Sub Bar game Pro Evolution Soccer 2013

berbahasa Arab. Bab III berisi analisis peristilahan dalam tools game Pro Evolution Soccer 2013 berbahasa Arab tinjauan register. Bab IV merupakan kesimpulan dan saran.

I.8 Pedoman Transliterasi Arab-Latin

Pedoman transliterasi Arab-Latin dalam penelitian ini menggunakan pedoman transliterasi dari keputusan bersama Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI no. 158 tahun 1987 dan no. 0543 b/U/1987.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan transliterasi Arab meliputi konsonan, vokal, ta’marbuṭah, syaddah, kata sandang, hamzah, penulisan kata, dan penulisan huruf kapital. Berikut ini penjelasan kedelapan hal tersebut di atas.

1. Konsonan

Fonem konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, dalam transliterasi ini sebagian dilambangkan dengan tanda, dan sebagian yang lain dengan huruf dan tanda sekaligus.

(12)

Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan ا Alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan ب bā` b Be ت tā` t Te

ث Ṡā` ṡ es (dengan titik diatasnya)

ج Jīm j Je

ح hā` ḥ ha (dengan titik di bawahnya)

خ khā` kh Ka dan ha

د Dal d De

ذ Żal ż zet (dengan titik di atasnya)

ر rā` r Er

ز Zai z Zet

س Sīn s Es

ش Syīn sy es dan ye

ص ṣād ṣ es (dengan titik di bawahnya)

ض Dād ḍ de (dengan titik di bawahnya)

ط ṭāˋ ṭ te (dengan titik di bawahnya)

ظ ẓāˋ ẓ zet (dengan titik di bawahnya)

ع ‘ain „ koma terbalik (di atas)

غ Gain g Ge ف fāˋ f Ef ق Qāf q Ki ك Kāf k Ka ل lām l El م mīm m Em ن nūn n En

Huruf arab Nama Huruf latin Keterangan

و wāwu w We

ه Hāˋ h Ha

ء hamzah ′ apostrof, tetapi lambang ini

tidak dipergunakan untuk hamzah di awal kata

(13)

2. Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

Vokal tunggal Vokal rangkap Vokal panjang

Tanda Latin Tanda Latin Tanda Latin

ﹷ A ي...ﹶ ai ى... ا...ﹶ ā

ﹻ I و ...ﹶ au ي...ﹻ ī

ﹹ U و ...ﹸ ū

3. Ta’ Marbuṭah

Transliterasi untuk ta’ marbuṭah ada dua: Pertama, ta’ marbuṭah yang hidup atau mendapat harakat /fatḥah/, /kasrah/, dan /ḍammah/, transliterasinya adalah /t/. Kedua, kalau pada kata yang terakhir dengan ta’ marbuṭah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah maka

ta’ marbuṭah itu ditransliterasikan dengan ha (h). Contoh:

لافطلأا ةضور

/rauḍah al-aṭfāl/

/rauḍatul-aṭfāl/ 4. Syaddah (Tasydid)

Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda, tanda /syaddah/ atau tanda /tasydid/, dalam transliterasi ini tanda

(14)

/syaddah/ tersebut dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan huruf yang diberi tanda /syaddah/ itu.

Contoh:

انّبر

/rabbanā/

لّزن

/nazzala/

5. Kata Sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu “

لا

”. Namun, dalam transliterasi ini kata sandang itu dibedakan atas kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah dan kata sandang yang diikuti oleh huruf

qamariyah. Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf /I/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu. Sedangkan kata sandang diikuti oleh huruf qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan huruf aturan yang digariskan di depan dan sesuai pula dengan bunyinya. Baik diikuti huruf

syamsiyyah maupun huruf qamariyah, kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikuti dan dihubungkan dengan tanda sempang.

Contoh:

سُ مْ شَّلاا

/as-syamsu/

سُ قَ قَلاا

/al-qalamu/

6. Hamzah

Dinyatakan di depan bahwa hamzah ditransliterasikan dengan apostrof. Namun, itu hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Bila hamzah itu terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab berupa alif.

(15)

Contoh:

نودخأت

/ta’khużūna/

ّنإِ

/inna/

7. Penulisan Kata

Pada dasarnya setiap kata, baik fi‘l, ism, maupun ḥarf, ditulis terpisah. Hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya.

Contoh:

ينقزاّراا يرخ وله للها ّن و

/Wa innallāha lahuwa khair ar-rāziqīna/

/Wa innallāha lahuwa

khairur-rāziqīna/

نازيلماو ليكاا اوفوأف

/Fa aufū al-kaila wa al-mīzāna/

/Fa aufūl-kaila wal-mīzāna/

8. Huruf Kapital

Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam transliterasi ini huruf tersebut digunakan juga. Penggunaan huruf kapital seperti apa yang berlaku dalam EYD, di antaranya huruf kapital digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri dan permulaan kalimat. Bila nama diri itu didahului oleh kata sandang, maka yang dituliskan dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya.

Contoh:

(16)

نآرلاا هيف لزنأ يذاا ناضمر رهش

/Syahru Ramaḍān al-lażī unzila fih al-Qur’ān/

/Syahru Ramaḍānal-lażī unzila fihil-Qur’ān/ Penggunaan huruf awal kapital untuk Allah hanya berlaku bila dalam tulisan Arab-nya memang lengkap demikian dan kalau penulisan itu disatukan dengan kata lain sehingga ada huruf atau harakat yang dihilangkan, huruf kapital tidak dipergunakan.

Contoh:

بيرق حتفو للها نم رصن

/Naṣrun minallāhi wa fatḥun qarīb/

اعيجم رملأا لله

/lillāhi al-amru jamī‘an/

Figur

Memperbarui...

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di