• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hama Tikus Sawah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Hama Tikus Sawah"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

BAB I

TIKUS SAWAH

TIKUS SAWAH

Penyerangan Gejala yang di timbulkan hama tikus sawah

Penyerangan Gejala yang di timbulkan hama tikus sawah

Tikus sawah (Rattus argentiventer)

Tikus sawah (Rattus argentiventer)

a. Ekobiologi

a. Ekobiologi

Tikus mempunyai kemampuan berkembangbiak sangat cepat dengan jumlah

Tikus mempunyai kemampuan berkembangbiak sangat cepat dengan jumlah

anak banyak. Variasi jumlah anak tikus adalah 6-18 ekor (rerata 10 ekor)

anak banyak. Variasi jumlah anak tikus adalah 6-18 ekor (rerata 10 ekor)

dengan seks rasio 1:1. Dalam satu musim tanam tikus dapat mencapai

dengan seks rasio 1:1. Dalam satu musim tanam tikus dapat mencapai

kepadatan populasi yang sangat tinggi. Perkembangbiakan tikus selalu terjadi

kepadatan populasi yang sangat tinggi. Perkembangbiakan tikus selalu terjadi

pada stadia vegetatif sehingga pada setiap akhir musim tanam (2-5 minggu

pada stadia vegetatif sehingga pada setiap akhir musim tanam (2-5 minggu

setelah panen) akan dijumpai puncak

setelah panen) akan dijumpai puncak

kepadatan populasi. Tikus sawah dapat

kepadatan populasi. Tikus sawah dapat

berkembang biak mulai pada umur 1,5-5 bulan. Setelah kawin, masa bunting

berkembang biak mulai pada umur 1,5-5 bulan. Setelah kawin, masa bunting

memerlukan waktu 21 hari. Selama 1 tahun seekor tikus betina dapat

memerlukan waktu 21 hari. Selama 1 tahun seekor tikus betina dapat

melahirkan 4 kali sehingga dalam 1 tahun dapat dilahirkan 32 anak, dan

melahirkan 4 kali sehingga dalam 1 tahun dapat dilahirkan 32 anak, dan

populasi dari satu pasang tikus sapat mencapai 1200 ekor turunan.

populasi dari satu pasang tikus sapat mencapai 1200 ekor turunan.

Tikus mempunyai indra penglihatan yang lemah dan buta warna namun

Tikus mempunyai indra penglihatan yang lemah dan buta warna namun

diimbangi indra penciuman, peraba dan pendengaran yang tajam. Perubahan

diimbangi indra penciuman, peraba dan pendengaran yang tajam. Perubahan

kepadatan populasi tikus sangat dipengaruhi oleh stadia pertumbuhan

kepadatan populasi tikus sangat dipengaruhi oleh stadia pertumbuhan

tanaman dan kondisi lapang. Pada saat ada pertanaman, tikus hadir di

tanaman dan kondisi lapang. Pada saat ada pertanaman, tikus hadir di

lalpang, namun pada kondisi lapangan diberakan / diistirahatkan atau tidak

lalpang, namun pada kondisi lapangan diberakan / diistirahatkan atau tidak

ada makanan maka tikus sawah akan

ada makanan maka tikus sawah akan

menginfestasi tepat-tepat penyimpanan

menginfestasi tepat-tepat penyimpanan

/ perumahan penduduk sekitar atau pindah ke tempat lain yang tersedia

/ perumahan penduduk sekitar atau pindah ke tempat lain yang tersedia

makanan.

makanan.

b.

b.

Gejala

Gejala serangan

serangan

Pada tanaman padi kerusakan karena serangan tikus terjadi akibat batang

Pada tanaman padi kerusakan karena serangan tikus terjadi akibat batang

padi digigit / dipotong. Bekas

padi digigit / dipotong. Bekas gigitan terlihat membentuk sudut potong kurang

gigitan terlihat membentuk sudut potong kurang

lebih 45 derajat dan masih

lebih 45 derajat dan masih mempunyai sisa bagian batang yang tidak

mempunyai sisa bagian batang yang tidak

terpotong.

terpotong.

Pada tanaman fase vegetatif, seekor tikus dapat merusak antara 11

Pada tanaman fase vegetatif, seekor tikus dapat merusak antara 11

-176

-176

(2)

meningkat menjadi 24-246 batang per malam. Kerusakan berat karena

serangan tikus biasanya hanya menyisakan beberapa baris tanaman pada

bagian tepi.

Besarnya kerugian karena serangan tikus ditentukan oleh banyaknya anakan

yang gagal menghasilkan malai masak pada waktu panen.

c. Pengendalian

Usaha untuk mengendalikan ‘si monyong’ tikus ini sudah banyak dilakukan

oleh para petani,mulai dari sanitasi,kultur teknik,fisik,cara hayati,mekanik dan

kimia.Namun diakui,bahwa cara-cara pengendalian tersebut belum dilakukan

secara terpadu,sehingga harapan untuk menekan populasi tikus pada tingkat

yang tidak merugikan ternyata sulit dicapai.

Pengendalian hama secara terpadu (PHT) ini akan terlaksana dengan baik

bila petani menghayati konsep dasarnya dan menguasai berbagai cara

pengendalian ke dalam suatu program yang sesuai dengan jenis organisme

pengganggu dan ekosistem pertanian di tempat tersebut.

Konsep pengendalian hama terpadi,sebenarnya sudah dikenal sejak tahun

1947-an,meskipun sebelumnya penanggulangan hama dengan jalan

memadukan beberapa pengendalian sudah dilaksana kan.

LANGKAH AWAL

PHT

dapat

didefinisikan

sebagai

cara

pengendalian dengan memasukkan beberapa

cara pengendalian yang terpilih dan serasi serta

memperhatikan

segi

ekonomi,ekologi

dan

toksikologi sehingga popilasi hama berada pada

tingkat

yang

secara

ekonomi

tidak

merugikan.Artinta,bahwa PHT bertujuan untuk

menekan populasi hama sampai pada tingkat

(3)

yang tidak merugikan,pengelolaan kelestarian alam dan optimasi produksi

pertanian.

Sebelum melangkah pada usaha pengendalian tikus sawah dengan menerapkan

PHT,sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu biologi dan ekologi tikus,sehingga

petani akan lebih mudah meng identifikasi untuk selanjutnya dilakukan

pengendalian.

Tikus termasuk ordo Rodentia,famili Muridae dan sub-famili Murinae.Dari sub-famili

ini ada dua genus yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia

yakni genus Mus dan Rattus.

Pada umumnya,tikus sawah (Rattus orgentiventer) tinggal di pesawahan dan

sekitarnya,mempunyai kemampuan berkembang biak sangat pesat.Jika secara

teoritis,tikus mampu berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun dari satu

pasang ekor tikus saja. Walaupun keadaan ini jarang terjadi,tetapi hal ini

menggambarkan, betapa pesatnya populasi tikus dalam setahun.

Perkembangan tikus di alam banyak dipengaruhi faktor lingkungan,terutama

ketersediaannya sumber makanan,dan populasi tikus akan meninglat berkaitan

dengan puncak pada masa generatif.

Kegiatan tikus lebih aktif pada malam hari,dan kegiatan hariannya sangat teratur

mulai dari mencari makanan,minum,mencari pasangan sampai orientasi

kawasan.Untuk menghindari dari lingkungan yang tudak menguntungkan,tikus

biasanya membuat sarang pada daerah lembab,dekat dengan sumber air dan

makanan seperti di batang pohon,sela-sela batu,gili-gili irigasi,tanggul,jalan kereta

api dan bukit bukit kecil.

Petani dapat membedakan mana yang disebut tikus sawah dan mana tikus

rumah.Pada umumnya,tikus salah selain melakukan aktivitasnya di sawah,juga

dapat melakukan aktivitasnya di rumah. Sedangkan tikus rumah (Rattus ratusdiardii)

hanya melakukan aktivitasnya hanya di rumah saja.

(4)

tak terpotong.Pada fase vegetatif tikus dapat merusak 11-176 batang per

malam.Sedangkan pada saat bunting,kemampuan merusak meningkat menjadi

24-246 batang padi per malam.

Sebagai binatang pengerat,tikus dalammemenuhi kebutuhan hidupnya mengerat

batang padi dengan perbandingan 5:1,yakni 5 batang padi dikerat hanya untuk

mengasah giginya supaya tidak tambang panjang,dan 1 batang padi di makan untuk

kebutuhan hidupnya.

PHT YANG TEPAT & EFEKTIF

Jika sudah mengetahui biologi dan ekologi tikus,maka diharapkan petani dapat

mengendalikan tikus dengan tepat dan efektif dengan melihat kondisi lingkungan di

lapangan,serta mampu menerapkan konsep PHT.Pengendalian tikus sawah harus

dimulai secara diri, yakni dimulai pada saat sawah bera (setelah panen),pada masa

gevetatif dan masa generatif.Pengendalian hama tikus pada saat sawah bera bias

dilakukan dengan 5 cara sebagai berikut:

Pertama dengan sanitasi lingkungan,melakukan pembersihan rumput rumput

atau semak-semak yang biasa digunakan tikus untuk bersarang.

Kedua,yakni cara fisik dan mekanik,dengan melakukan pembongkaran

sarang tikus,kemudian dibutu dan dibunuh (gropyokan) secara missal dan

memasukkan air ke dalam sarangnya,tikus yang keluar dibunuh tanpa

merusak pematang.

Ketiga,yakni cara kultur teknik dengan cara melakukan penanam secara

serempak meliputi areal yang laus,misalnya seluas 0-100 hektar.Cara ini

dilakukan untuk menghindari tersedianya makanan bagi tikus.

Keempat,yakni melalui cara biologi/hayati dengan memanfaatkan

musuh-,usuh alaminya seperti ular sanca, ularwelang,anjing dan lainnya.

Kelima,yaitu dengan memasang tirai persemaian pada saat padi disemai,di

mana cara ini dilakukan untuk melindungi persemaian padi dari tanaman

tikus.Bahan yang digunakan dari lembaran plastik atau lembaran kaleng

bekas,tirai di pasang di sekitar persemaian dengan tingga sekitar 50 cm.

(5)

RODENTISIDA

Pengendalian tikus pada saat padi pada masa gevetatif dilakukan secara sanitasi

lingkungan dan kimia (Rodentisida).Cara tersebut di nilai cukup efekti,karena pada

masa vegetatif tikus sudah mulai melakukan penyerangan terhadap areal

pesawahan dan merusak batang padi.Cara rodentisida dilakukan bila populasi tikus

yang tinggi.

Rodentisida yang biasa digunakan adalah racun akut dan racun

anti-koagulan.Contoh rodentisida akut yakni czincposphide diberikan dengan cara

diumpankan dengan dosis 22 gram per hektar dicampur umpan sebanyak 2,5

kg.Sedangkan rodentisida antikoagulan yakni racumin,tomorin,dekafit,klerat,RMB

dan lainnya yang siap pakai yang penggunaannya dengan rodentisida akut.

Sementara

bahan

yang

bisa

digunakan

sebagai

umpan

antara

lain

beras,gabah,jagung,ketela pohon,ubi jalar dan lainnya.Penempatan umpan dapat

dipasang sepanjang kira-kira 25 gram per hektar pertumpukan dengan jarak 4

meter.

Sebelum

pemberian

umpan

beracun

sebaiknya

dilakukan

perumpanan

pendahuluan.Hal ini bertujuan untuk membiasakan tikus makan umpan dengan jalan

memberi umpan tanpa racun selama 2-3 hari.Waktu pengumpnanan disesuaikan

dengan keadaan populasi tikus.Umpan diberikan 15 hari sebelum tanaman,15 hari

setelah tanam, dan 45 hari setelah tanam.

Sesungguhnya,cara penggunaan rodentisida di lapangan menurut konsep

PHT,hendaknya dilakukan sebagai alternative terakhir apabila cara cara

pengendalian lain dinilai tidak efektif lagi.Itupun dengan catatan,penggunaannya

harus secara bijaksana dan tepat dosis.

Pengendalian hama tikus ketika generatif,yang lebih baik dan efektif adalah dengan

pengemposan. Adapun cara pengemposan dilakukan dengan menggunakan asap

atau gas beracun yakni hasil pembakaran serbuk belerang bersama merang atau

sabut kelapa dengan perbandingan 1: 1,5 kemudian dimasukkan ke dalam liang

(6)

BAB II

PESTISIDA

Jenis

 –

 Jenis Pestisida

Pestisida adalah sebutan untuk semua jenis obat (zat/bahan kimia) pembasmi hama

yang ditujukan untuk melindungi tanaman dari serangan serangga, jamur, bakteri,

virus dan hama lainnya seperti tikus, bekicot, dan nematoda (cacing).

Walaupun demikian, istilah pestisida tidak hanya dimaksudkan untuk racun

pemberantas hama tanaman dan hasil pertanian, tetapi juga racun untuk

memberantas binatang atau serangga dalam rumah, perkantoran atau gudang, serta

zat pengatur tumbuh pada tumbuhan di luar pupuk.

Pestisida yang biasa digunakan para petani dapat digolongkan menurut beberapa

hal berikut:

Berdasarkan Fungsi/sasaran penggunaannya, pestisida dibagi menjadi 6 jenis

yaitu:

1. Insektisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas serangga

seperti belalang, kepik, wereng, dan ulat. Insektisida juga digunakan untuk

memberantas serangga di rumah, perkantoran atau gudang, seperti nyamuk,

kutu busuk, rayap, dan semut. Contoh: basudin, basminon, tiodan, diklorovinil

dimetil fosfat, diazinon,dll.

2. Fungisida

adalah pestisida untuk memberantas/mencegah pertumbuhan

 jamur/cendawan seperti bercak daun, karat daun, busuk daun, dan cacar

daun. Contoh: tembaga oksiklorida, tembaga (I) oksida, carbendazim,

organomerkuri, dan natrium dikromat.

3. Bakterisida

adalah pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Salah

satu contoh bakterisida adalah tetramycin yang digunakan untuk membunuh

virus CVPD yang menyerang tanaman jeruk. Umumnya bakteri yang telah

menyerang suatu tanaman sukar diberantas. Pemberian obat biasanya

segera diberikan kepada tanaman lainnya yang masih sehat sesuai dengan

dosis tertentu.

4. Rodentisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama

tanaman berupa hewan pengerat seperti tikus. Lazimnya diberikan sebagai

umpan yang sebelumnya dicampur dengan beras atau jagung. Hanya

penggunaannya harus hati-hati, karena dapat mematikan juga hewan ternak

yang memakannya. Contohnya: Warangan.

5. Nematisida

adalah pestisida yang digunakan untuk memberantas hama

tanaman berupa nematoda (cacing). Hama jenis ini biasanya menyerang

bagian akar dan umbi tanaman. Nematisida biasanya digunakan pada

perkebunan kopi atau lada. Nematisida bersifat dapat meracuni tanaman, jadi

penggunaannya 3 minggu sebelum musim tanam. Selain memberantas

(7)

nematoda, obat ini juga dapat memberantas serangga dan jamur. Dipasaran

dikenal dengan nama DD, Vapam, dan Dazomet.

6.

Herbisida adalah pestisida yang digunakan untuk membasmi tanaman

pengganggu (gulma) seperti alang-alang, rerumputan, eceng gondok, dll.

Contoh: ammonium sulfonat dan pentaklorofenol.

B. Berdasarkan bahan aktifnya, pestisida dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

-

Pestisida organik (Organic pesticide): pestisida yang bahan aktifnya adalah

bahan organik yang berasal dari bagian tanaman atau binatang, misal: neem

oil yang berasal dari pohon mimba (neem).

-

Pestisida elemen (Elemental pesticide): pestisida yang bahan aktifnya berasal

dari alam seperti: sulfur.

-

Pestisida kimia/sintetis (Syntetic pesticide): pestisida yang berasal dari

campuran bahan-bahan kimia.

C. Berdasarkan cara kerjanya, pestisida dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

-

Pestisida sistemik (Systemic Pesticide): adalah pestisida yang diserap dan

dialirkan ke seluruh bagian tanaman sehingga akan menjadi racun bagi hama

yang

memakannya.

Kelebihannya

tidak

hilang

karena

disiram.

Kelemahannya, ada bagian tanaman yang dimakan hama agar pestisida ini

bekerja. Pestisida ini untuk mencegah tanaman dari serangan hama. Contoh:

Neem oil.

-Pestisida kontak langsung (Contact pesticide): adalah pestisida yang

reaksinya akan bekerja bila bersentuhan langsung dengan hama, baik ketika

makan ataupun sedang berjalan. Jika hama sudah menyerang lebih baik

menggunakan jenis pestisida ini. Contoh: Sebagian besar pestisida kimia.

Efek Penggunaan Pestisida bagi lingkungan hidup

Usaha peningkatan produksi pertanian tidak hanya dilakukan melalui pemupukan

tetapi juga melalui upaya perlindungan tanaman agar  tanaman bebas dari serangan

hama penyakit.

Untuk pemberantasan hama tersebut salah satunya adalah dengan menggunakan

berbagai jenis zat kimia yang disebut dengan pestisida. Namun penggunaan

pestisida telah menimbulkan dampak negatif, baik itu bagi kesehatan manusia

maupun bagi kelestarian lingkungan. Dampak negatif ini akan terus terjadi

seandainya kita tidak hati-hati dalam memilih jenis dan cara penggunaannya.

Adapun dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan pestisida

diantaranya:

1. Tanaman yang diberi pestisida dapat menyerap pestisida yang kemudian

terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Pestisida yang sukar

(8)

terurai akan berkumpul pada hewan pemakan tumbuhan tersebut termasuk

manusia. Secara tidak langsung dan tidak sengaja, tubuh mahluk hidup itu

telah tercemar pestisida. Bila seorang ibu menyusui memakan makanan dari

tumbuhan yang telah tercemar pestisida maka bayi yang disusui

menanggung resiko yang lebih besar untuk teracuni oleh pestisida tersebut

daripada sang ibu. Zat beracun ini akan pindah ke tubuh bayi lewat air susu

yang diberikan. Dan kemudian racun ini akan terkumpul dalam tubuh bayi

(bioakumulasi).

2. Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke

dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi

dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang.

Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti

plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi

dalam tubuh ikan. Tentu saja akan sangat berbahaya bila ikan tersebut

termakan oleh burung-burung atau manusia. Salah satu kasus yang pernah

terjadi adalah turunnya populasi burung pelikan coklat dan burung kasa dari

daerah Artika sampai daerah Antartika. Setelah diteliti ternyata

burung-burung tersebut banyak yang tercemar oleh pestisida organiklor yang menjadi

penyebab rusaknya dinding telur burung itu sehingga gagal ketika dierami.

Bila dibiarkan terus tentu saja perkembangbiakan burung itu akan terhenti,

dan akhirnya jenis burung itu akan punah.

3. Ada kemungkinan munculnya hama spesies baru yang tahan terhadap

takaran pestisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah bila takaran

pestisida diperbesar jumlahnya. Akibatnya, jelas akan mempercepat dan

memperbesar tingkat pencemaran pestisida pada makhluk hidup dan

lingkungan kehidupan, tidak terkecuali manusia yang menjadi pelaku

utamanya.

Upaya Mengurangi Efek Negatif Pestisida

Mengurangi residu

 Ada beberapa langkah untuk mengurangi residu yang menempel pada sayuran,

antara lain dengan mencucinya secara bersih dengan menggunakan air yang

mengalir, bukan dengan air diam. Jika yang kita gunakan air diam (direndam) justru

sangat memungkinkan racun yang telah larut menempel kembali ke sayuran.

Berbagai percobaan menunjukkan bahwa pencucian bisa menurunkan residu

sebanyak 70 persen untuk jenis pestisida karbaril dan hampir 50 persen untuk DDT.

Mencuci sayur sebaiknya jangan lupa membersihkan bagian-bagian yang terlindung

mengingat bagian ini pun tak luput dari semprotan petani. Untuk kubis misalnya,

lazim kita lihat petani mengarahkan belalai alat semprot ke arah krop (bagian bulat

dari kubis yang dimakan) sehingga memungkinkan pestisida masuk ke bagian dalam

krop.

Selain pencucian, perendaman dalam air panas (blanching) juga dapat menurunkan

residu. Ada baiknya kita mengurangi konsumsi sayur yang masih mentah karena

diperkirakan mengandung residu lebih tinggi dibanding kalau sudah dimasak terlebih

dulu. Pemasakan atau pengolahan baik dalam skala rumah tangga atau industri

terbukti dapat menekan tekanan kandungan residu pestisida pada sayuran.

(9)

Sayur-sayuran memang diperlukan tubuh untuk mencukupi kebutuhan kita akan

berbagai mineral dan vitamin penting. Tetapi, karena di sana ada bahaya,

kehati-hatian sangatlah dituntut dalam hal ini. Ada baiknya memang kalau kita tahu dari

mana sayur itu dihasilkan. Tetapi paling aman pastilah kalau kita menghasilkan

sayuran sendiri, dengan memanfaatkan pekarangan rumah, dengan pot sekalipun.

Karena pestisida tidak hanya beracun bagi hama, tetapi dapat juga mematikan

organisme yang berguna, ternak piaraan, dan bahkan manusia, maka agar terhindar

dari dampak negatif yang timbul, penyimpanan dan penggunaannya harus dilakukan

secara hati-hati dan dilakukan sesuai petunjuk.

Selain itu, untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida dapat pula dilakukan

dengan cara menggunakan pestisida alami atau pestisida yang berasal dari

tumbuhan (biopestisida). Biopestisida tidak mencemari lingkungan karena bersifat

mudah terurai (biodegradable) sehingga relatif aman bagi ternak peliharaan dan

manusia. Sebagai contoh adalah air rebusan dari batang dan daun tomat dapat

digunakan untuk memberantas ulat dan lalat hijau.

Kita juga dapat menggunakan air rebusan daun kemanggi untuk memberantas

serangga. Selain tumbuhan tersebut, masih banyak tumbuhan lain yang

mengandung bioaktif pestisida seperti tanaman mindi, bunga mentega, rumput mala,

tuba, kunir, kucai, dll.

Cara Menggunakan Pestisida Kimia dengan baik

Pestisida secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang digunakan

untuk mengendalikan jasad pengganggu yang merugikan kepentingan manusia. Di

bidang pertanian, penggunaan pestisida juga telah dirasakan manfaatnya untuk

meningkatkan produksi. Namun, disadari atau tidak bahwa pestisida merupakan

bahan berbahaya yang dapat menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesehatan

manusia dan kelestarian lingkungan hidup apabila penggunaannya tidak bijaksana.

Cara penggunaan pestisida yang tepat merupakan salah satu faktor yang penting

dalam menentukan keberhasilan pengendalian hama, walaupun jenis pestisidanya

bagus namun bila penggunaannya tidak benar, akan memberikan hasil yang sia-sia.

Hal-hal teknis yang perlu diperhatikan dalam ketepatan penggunaan pestisida biasa

disebut dengan istilah “ 5 tepat 

“ yaitu:

1.

Tepat Dosis/ Konsentrasi

Penggunaan dosis dibawah anjuran akan menyebabkan hama/penyakit tidak

mati bahkan menjadikan hama kebal terhadap pestisida. Sedangkan dengan

dosis berlebihan akan mengakibatkan boros biaya.

Dosis merupakan jumlah pestisida yang dibutuhkan per satuan luas lahan

(Kg/Ha, Liter/ Ha), sedangkan Konsentrasi adalah jumlah yang harus

dicampurkan dalam setiap liter air (gram/liter, ml/ lt)

2.

Tepat Waktu

Penyemprotan sebaiknya dilakukan pagi antara jam 06.00 - 10.00 WIB atau

sore hari antara jam 15.00-17.00 WIB. Waktu untuk penyemprotan pestisida

ada beberapa macam :

(10)

Preventif (pencegahan) Penyemprotan yang di- lakukan sebelum terjadi

serangan hama atau penyakit

Kuratif adalah penyemprotan yang dilakukan setelah ada serangan hama

atau penyakit.

Eradikatif adalah penyemprotan yang dilakukan untuk membersihkan apabila

ada ledakan hama atau penyakit

Sistem kalender adalah penyemprotan yang dilakukan secara berkala tanpa

memperhatikan adanya serangan hama atau penyakit.

3.

Tepat Cara

Penggunaan pestisida harus disesuaikan dengan bentuk pestisida.

Bentuk formulasi pestisida antara lain:

EC ( Emulsible Concentrate )

Berbentuk cairan pekat, penggunaannya dengan cara disemprotkan.

WP ( Wettable Powder )

Berbentuk tepung, penggunaanya dilarutkan dengan air terlebih dahulu

sebelum disemprotkan.

G ( Granule )

Berbentuk butiran. Penggunaanya dengan cara langsung ditaburkan di lahan.

D ( Dust )

Berbentuk tepung, penggunaanya dengan cara dihembuskan.

4.

Tepat Sasaran

Sasaran penyemprotan pestisida secara biologis dikelompokkan menjadi 3

yaitu: Hama, Penyakit, Gulma.

5.

Tepat Jenis

Jenis pestisida yang digunakan harus sesuai dengan hama atau penyakit yang

akan dikendalikan, jenis-jenis pestisida

¨

Insektisida untuk pengendalian serangga

¨

Fungisida untuk pengendalian jamur

¨

Rodentisida untuk pengendalian tikus

¨

Herbisida untuk pengendalian gulma

¨

 A karis ida untuk pengendalian tungau

¨

Bakterisida untuk pengendalian bakteri

Referensi

Dokumen terkait

sawah, sehingga diperlukan inovasi terhadap pengendalian yang telah dilakukan dengan memperhatikan sifat biologi tikus sawah yaitu dengan trap barrier system (TBS). TBS

Tikus sawah Subang memiliki tingkat kejeraan lebih tinggi dari pada tikus sawah Pati karena berdasarkan hasil wawancara terhadap petani melalui kuesioner didapatkan hasil bahwa

Data jum- lah bangkai tikus yang ditemukan dari beberapa kegiatan pengendalian hama tikus dengan meng- gunakan alat teknologi tepat guna pengasapan modern

Dari hasil penelitian ini diharapkan akan diketahuinya kondisi kemiskinan yang dialami oleh masyarakat petani sawah atau untuk melihat kedalaman dari aspek kemiskinan

Mercon yang dibuat peneliti Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa mampu menekan populasi tikus sebesar 80 hingga 90% dari jumlah sarang aktif (Thamrin dan Asikin, 1996b),

Hal ini membuktikan bahwa pemeliharaan burung hantu Tyto alba untuk pengendalian tikus sangat efektif karena dapat menurunkan tingkat serangan tikus dari serangan tikus

LBTS dirancang untuk dapat dibongkar-pasang dan dipindahkan dengan cepat ke lokasi yang berpopulasi tikus tinggi - digunakan terpal sebagai bahan LTBS agar praktis dan lebih

Kajian ini meneliti potensi burung hantu Tyto alba sebagai pemangsa alami untuk mengendalikan hama tikus di perkebunan kelapa sawit PT. Socfindo Kebun