BAB I
LAPORAN KASUS
1. Identitas Pasien Nama : Ny. W Usia : 31 Tahun Alamat : Cisompet Pendidikan : Kelas 2 SD Agama : IslamSuku Bangsa : Sunda
Status Marital : Belum Menikah
Pekerjaan : Pengangguran
Tanggal Masuk RS: 19 Januari 2016
Tanggal Keluar RS: 25 Januari 2016
Dikirim oleh : Sp.PD (27 April 2015)
Keterangan : myoma uteri + kista ovarium bilateral
Rencana Jadwal Operasi : 20 Januari 2016
Rencana kontrol pre-op : 13 Januari 2016
2. Anamnesis
Keluhan Utama: Benjolan pada perut kiri bawah
Anamnesa Khusus
Pasien datang dengan keluhan terdapat benjolan pada perut kiri bawah sejak 2 tahun yang lalu. Benjolan awalnya dirasakan sebesar telur puyuh kemudian lama kelamaan terasa membesar hingga sekarang sebesar kepalan tangan. Benjolan dapat digerakkan dan tidak terasa nyeri. Pasien mengaku sejak 1 tahun yang lalu hingga sekarang tidak mengalami menstruasi sama sekali.
Pasien mengaku 1 tahun yang lalu sebelum menstruasi terhenti, pasien mengalami demam tinggi, nyeri perut, dan nyeri kepala sehingga dirawat selama 1 minggu. Menurut keterangan keluarga pasien saat dirawat tersebut pasien mengalami demam tifoid.
Keluhan keluar darah dari jalan lahir disangkal. Keluhan mual, muntah, demam disangkal. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Pasien memiliki kebiasaan makan makanan gorengan dan makanan pedas. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol disangkal oleh pasien. Sehari-hari
3. Riwayat Obstetri
Pasien belum menikah
4. Keterangan Tambahan
A) Status Marital : Pasien belum menikah.
B) Haid : siklus haid teratur, lama 6 hari, pendarahan banyak, dan usia menarche adalah 14 tahun. 1 tahun terakhir tidak mengalami menstruasi C) Kontrasepsi : Pasien tidak pernah menggunakan kontrasepsi apapun. 5. Pemeriksaan Fisik
A) Status Presens
Keadaan Umum : Compos Mentis Tekanan Darah : 100 / 60 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 18 x/menit
Suhu : 36,2oC
Kepala: Mata : Conjunctiva : anemis -/- Sklera : ikterik -/- Leher : Tiroid : T.A.K. Kel. Getah Bening : T.A.K. Thorak : Cor : S1 S2 murni regular, Gallop (-), Murmur (-)
Pulmo : VBS Ka=Ki, Rhonki (-), Wheezing (-) Abdomen : datar, lembut, nyeri tekan (-), defans muscular (-)
Hepar : T.A.K. Lien : T.A.K. Ekstremitas : Edema : -/-/
-/- Varises :
-/-B) Status Ginekologi Pemeriksaan Luar :
o Inspeksi : Terlihat massa di regio suprapubic
o Palpasi :
Fundus Uteri : Tidak teraba
Massa Tumor: Teraba massa dengan ukuran 11x9x2 cm, permukaan licin, mobilitas (+), posisi sentral, dan konsistensi kistik.
o Perkusi : dullness pada region suprapubik Inspekulo : tidak dilakukan
Pemeriksaan Dalam :
o Vulva : T.A.K.
o Vagina : T.A.K.
o Portio : tidak dilakukan
o Ostium Uteri Eksterna : tidak dilakukan o Corpus Uteri : tidak dilakukan
o Parametrium Kanan : tidak dilakukan o Parametrium Kiri : tidak dilakukan o Cavum Douglas : tidak dilakukan
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium (13 Januari 2016) Hematologi Rutin o Hb : 10,6 gr/dL (↓) o Ht : 36 % o Leukosit : 13.420 / mm3 (↑) o Trombosit : 412.000 / mm3 o Eritrosit : 4,37 juta / mm3 o Masa Pendarahan / BT : 2’ o Masa Pembekuan / CT : 7’30” Kimia Klinik o SGOT : 30 U/L o SGPT : 40 U/L o Ureum : 20 mg/dL o Kreatinin : 0,9 mg/dL o Kolesterol total : 137 mg/dL o Trigliserida : 116 mg/dL
o Glukosa darah Puasa : 111 mg/dL
o Asam urat : 5,4 mg/dL
Penanda tumor (2 Mei 2015)
CA 125 : 97,24 U/mL (normal: <= 35 U/mL)
USG (27 April 2015 dari Sp.PD)
Uterus ukuran 11 x 7 cm
Tampak massa kistik ukuran 10,3 x 9,2 x 7 cm & 10 x 7 x 4,8 cm
Kesan: mioma uteri + kista ovarium bilateral
7. Diagnosis
Kista Ovarium Bilateral
Observasi KU dan TTV Infus RL 500 cc 20 gtt Cek Hematologi Rutin Pro USG
9. Follow Up
Pasien ini dirawat di RSUD dr. Slamet Garut dari tanggal 19 Januari 2016 sampai dengan tanggal 25 Januari 2016 dengan rincian sebagai berikut: A) Pre-Operasi
Tanggal Catatan Instruksi
20/01/201 6
S : tidak ada keluhan O : KU : CM TD : 90/60 mmHg N : 72 x/m R : 20 x/m S : 36,5 0C Mata : CA +/+, SI
-/-Abd : cembung, lembut, NT (-), DM (-), terdapat massa di region suprapubic dengan ukuran 11x9 cm, konsistensi kistik, berbatas tegas, mobilitas (+), dan permukaan rata
Perdarahan : -BAB/BAK : +/+
A : Kista ovarium bilateral + anemia Hb (13/01/16) : 10,6 gr/dL
Infus RL 500cc 20gtt Rencana Operasi
Persiapan darah (tidak ada), operasi besok
21/01/201 6
S: tidak ada keluhan O : KU : CM TD : 120/70 mmHg N : 76 x/m R : 20 x/m S : 36,6 0C Mata : CA +/+, SI
-/-Abd : cembung, lembut, NT (-), DM (-), terdapat massa di region suprapubic dengan ukuran 11x9 cm, konsistensi kistik, berbatas tegas, mobilitas (+), dan permukaan rata
Perdarahan : -BAB/BAK : -/+
A : Kista ovarium bilateral + anemia
Infus RL 500cc 20gtt Rencana Operasi hari ini
Pada tanggal 21 Januari 2016, dilakukan tindakan operasi dengan rincian sebagai berikut:
Nama Ny. W Tanggal 21/01/2016
Usia 31 Tahun Operator dr. Rizki SN. Sp.OG
No. CM 765xxx Asisten Meta
Jam Mulai 10.20 WIB Ahli Anastesi dr. Dhadi Sp.An
Jam Selesai 11.50 WIB Asisten Anastesi Asti
Lama Operasi 65 Menit Jenis Anastesi NU
Diagnosis Pra-Bedah Kista Ovarium Indikasi Operasi Kista Ovarium Diagnosis Pasca Bedah Tuba-ovarii abses (TOA) ovarium sinistra + perlengketan
Jenis Operasi Wedge Resection + Ovarium sinistra adhesiolisis
Laporan Lengkap Dilakukan tindakan a dan antiseptic pada daerah perut dan sekitarnya.
Dilakukan insisi mediana inferior sepanjang ±10cm.
Setelah peritoneum dibuka, tampak massa kistik sebesar 10x10x2 cm yang mengadakan perlengketan ke ileum, peritoneum, uterus, rektum, dinding peritoneal sebelah kiri. Drainase abses tumor ± 50 cc
Dilakukan pembebasan perlengketan Kesan : Tuba-ovarii abses ovarium sinistra Massa kistik diinsisi
Perdarahan dirawat. Setelah yakin tidak ada lagi perdarahan, dilakukan reperitonealisasi.
Rongga abdomen dicuci dengan NaCl dari darah & bekuan darah hingga bersih.
Luka operasi dijahit lapis demi lapis. Perdarahan ± 400 cc dan Diuresis ± 100 cc.
B) Post-Operasi.
Setelah operasi, pasien dirawat di RSUD dr.Slamet Garut, selama 4 hari, dengan rincian sebagai berikut:
Tanggal Catatan Instruksi
22/01/201 6
POD I
S : nyeri luka bekas operasi O : KU : CM TD : 100/60 mmHg N : 90 x/m R : 20 x/m S : 36,5 0C Mata : CA +/+, SI
-/-Abd : cembung, lembut, NT (-), DM (-) BU : + 9x/menit
Perdarahan :
-LO : tertutup verban, rembesan + BAB/BAK : -/+ dc ± 400 cc
A : Post Wedge Resection Tuba-ovarii abses ovarium sinistra + anemia
Hb (21/01/16) : 8,5 gr/dL Infus RL 500cc 20gtt Cefotaxime 2x1 gr IV Metronidazole 3x500 mg Kaltrofen 2x100 mg supp Feeding Test 23/01/201 6 POD II
S : nyeri luka bekas operasi, gelisah, demam, berkeringat O : KU : CM TD : 100/60 mmHg N : 100 x/m R : 20 x/m S : 37,7 0C Mata : CA +/+, SI
-/-Abd : cembung, lembut, NT (-), DM (-) BU : + 10x/menit
Perdarahan :
-LO : tertutup verban, rembesan + BAB/BAK : -/+
A : Post Wedge Resection Tuba-ovarii abses ovarium sinistra + anemia
Infus RL 500cc 20gtt Cefadroxil 2x500 mg Metronidazole 3x500 mg As mefenamat 3x500 mg
24/01/201 6
POD III
S : nyeri luka bekas operasi, gelisah, demam, menggigil, berkeringat
O : KU : CM TD : 100/60 mmHg N : 110 x/m R : 28 x/m S : 38,0 0C Mata : CA +/+, SI
-/-Abd : cembung, lembut, NT (+), DM (-) Perdarahan :
-LO : tertutup verban, rembesan + BAB/BAK : -/+
A : Post Wedge Resection Tuba-ovarii abses ovarium sinistra + anemia
Infus RL 500cc 20gtt Cefadroxil 2x500 mg Metronidazole 3x500 mg Meropenem 2x1 gr IV Doxicyclin 2x100 mg Clindamycin 3x300 mg As mefenamat 3x500 mg Ganti verban Aff infus 25/01/201 6 POD IV
S : nyeri luka bekas operasi O : KU : CM TD : 110/60 mmHg N : 84 x/m R : 20 x/m S : 36,5 0C Mata : CA +/+, SI
-/-Abd : cembung, lembut, NT (-), DM (-) Perdarahan :
LO : kering, rembesan -BAB/BAK : +/+
A : Post Wedge Resection Tuba-ovarii abses ovarium sinistra + anemia
Cefadroxil 2x500 mg Metronidazole 3x500 mg Doxicyclin 2x100 mg Clindamycin 3x300 mg As mefenamat 3x500 mg BLPL 10. Diagnosis Akhir
PERMASALAHAN
1. Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat? Anamnesa
a. Terdapat benjolan pada perut bagian bawah sejak 2 tahun yang lalu. b. Pembesaran benjolan terjadi selama 2 tahun (non-progresif).
c. Tidak menstruasi selama 1 tahun. Pemeriksaan Fisik
a. Terdapat massa pada region suprapubic dengan ukuran 11x9x2 cm, permukaan licin, mobilitas (+), posisi sentral, dan konsistensinya kistik. b. Terdapat nyeri tekan pada abdomen.
USG
Kesan: mioma uteri + kista ovarium bilateral
Durante op:
ditemukan tuba-ovarii abses ovarium sinistra dengan perlengketan 2. Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?
Pro-bedah: dilakukan wedge resection tuba-ovarii abses ovarium sinistra 3. Bagaimanakah fungsi reproduksi pada pasien ini selanjutnya?
Quo ad vitam pada pasien ini ad bonam.
Quo ad functionam pasien ini untuk fungsi reproduksi ad bonam. Fungsi menstruasi dubia ad bonam karena pasien tidak menstruasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kista Ovarium
Kista ovarium merupakan suatu kantong abnormal yang berisi cairan atau setengah cair yang tumbuh dalam ovarium. Bentuknya kistik dan adapun yang berbentuk seperti anggur. Kista dapat berisi udara, cairan kental, atau nanah. 2.2 Klasifikasi
Kista ovarium diklasifikasikan menjadi 2 macam, yaitu: 1) Tumor ovarium jinak
Tumor ovarium jinak terdiri dari: a) Tumor ovarium non-neoplastik
Kista folikel
Kista ini paling sering ditemukan di ovarium, berasal dari folikel de graaf yang tidak berovulasi atau kista ini terjadi akibat gagalnya proses ovulasi, namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah bertumbuh dibawah pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi kista.
Kista korpus luteum
Kista inklusi germinal
Kista ini terjadi akibat invaginasi dan isolasi bagian-bagian kecil dari epitel germinativum pada permukaan ovarium.
Kista teka lutein
Kista ini terbentuk akibat meningkatnya kadar HCG yang terdapat pada mola hidatidosa, ovarium polikistik, kariokarsinoma, terapi HCG, dan klomifen sitrat. Kista ini perdisposisi terjadinya torsio, perdarahan, dan rupture kista.
Kista endometrium
Kista ini merupakan kista endometriosis yang berlokasi di ovarium.
Kista stein laventhal
Kista ini terbentuk akibat peningkatan kadar LH yang akan menyebabkan terjadinya hiper stimulasi pada ovarium.
b) Tumor ovarium neoplastic Kistoma ovarii simpleks
Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus. Biasanya bertangkai, sering bilateral, dan dapat menjadi besar.
Kistadenoma musinosum
Kista ini mecakup 16-30% dari total tumor jinak ovarium dan 85% diantaranya jinak. Kista ini pada umumnya multilokuler
dan lokulus yang berisi cairan musinosum tampak berwarna kebiruan dalam kapsul yang dindingnya tegang. Dinding tumor tersusun dari epitel kolumner yang tinggi dengan inti sel berwarna gelap terletak dibagian basal.
Kistadenoma serosum
Kista ini berasal dari epitel permukaan ovarium. Usia penderitanya berkisar 20-50 tahun. Pada 12-50% kasus, kista ini terjadi pada kedua ovarium. Kista ini berisi cairan serosa, jernih kekuningan. Proliferasi fokal pada dinding kista menyebabkan proyeksi papilomatosa ke tengah kista yang dapat bertransformasi menjadi kistadenofibroma.
Kista dermoid
Kista ini merupakan kista terbanyak yang berasal dari sel germinativum. Paling banyak diderita oleh gadis yang berusia dibawah 20 tahun.
Kistadenokarsinoma serosum Epidermoid karsinoma b) Solid Karsinoma endometroid Mesonefroma 2.3 Etiologi
Kista ovarium dapat timbul akibat stimulasi yang berlebihan terhadap gonadotropin, seperti pada kasus gestational trophoblastic neoplasma, ovulasi yang terjadi secara terus menerus, adanya zat karsinogen, zat radioaktif, asbes, virus eksogen, hidrokarbon polikistik, dan pada pasien yang sedang diobati akibat kasus infetril melalui manipulasi hormon.
Selain itu perubahan anatomis yang dapat mempengaruhi berat dan ukuran ovarium dapat mengubah posisi tuba fal;opi dan menimbulkan puntiran. Malformasi kongenital dan pemanjangan tuba fallopi juga dapat mengakibatkan terjadinya kista ovarium.
2.4 Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya kista ovarium adalah sebagai berikut: a) Ketidakseimbangan hormone estrogen dan progesterone. b) Pertumbuhan folikel yang tidak terkontrol.
c) Degenerasi ovarium. d) Genetik
e) Gaya hidup yang tidak sehat, seperti:
Konsumsi makanan tinggi lemak, kurang serat, dan berpengawet. Penggunaan zat tambahan pada makanan.
Kurang berolahraga.
Merokok dan mengkonsumsi alkohol. Terpapar dengan polusi dan agen infeksius. Stress
2.5 Patofisiologi
Banyak tumor tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor ovarium yang kecil. Sebagian besar gejala dan tanda adalah akibat dari pertumbuhan, aktivitas endokrin dan kompikasi tumor – tumor tersebut. 1) Akibat pertumbuhan
Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan pembenjolan perut. Tekanan terhadap alat–alat disekitarnya disebabkan oleh besarnya tumor atau posisisnya dalam perut. Apabila tumor mendesak kandung kemih dan dapat menimbulkan gangguan miksi, sedang suatu kista yang lebih besar tetapi terletak bebas di rongga perut kadang – kadang hanya menimbulkan rasa berat dalam perut serta dapat juga
minimal. Akan tetapi kalau perdarahan terjadi dalam jumlah yang banyak akan menimbulkan nyeri di perut.
b. Putaran tangkai
Terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm atau lebih. Adanya putaran tangkai menimbulkan tarikan melalui ligamentum infundibulopelvikum terhadap peritoneum parietale dan ini menimbulkan rasa sakit.
c. Infeksi pada tumor
Terjadi jika di dekat tumor ada sumber kuman patogen. Kista dermoid cenderung mengalami peradangan disusul pernanahan.
d. Robek dinding kista
Terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula sebagai akibat trauma, seperti jatuh atau pukulan pada perut dan lebih sering pada saat persetubuhan. Jika, robekan kista disertai hemoragi yang timbul secara akut, maka perdarahan bebas berlangsung ke uterus ke dalam rongga peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus menerus disertai tanda – tanda abdomen akut.
e. Perubahan keganasan
Setelah tumor diangkat perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis yang seksama terhadap kemungkinan perubahan keganasan. Adanya asites dalam hal ini mencurigakan, adanya anak sebar (metastasis) memperkuat diagnosa keganasan.
Nyeri perut. 2) Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan massa pada perut bagian bawah dengan ukuran >5cm. letak tumor di parametrium kiri/kanan atau mengisi cavum doughlas. Konsistensinya kistik, mobile, dan permukaan tumornya rata.
3) Pemeriksaan penunjang a. USG
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak batas tumor, apakah tumor berasal dari uterus atau ovarium, apakah tumor kistik atau solid, dan dapat dibedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang bebas atau tidak.
b. Foto Roentgen
Pemeriksaan pielogram secara intravena dan barium enema pada kolon dapat menentukan apakah tumor berasal dari ovarium atau dari tidak, misalnya pada kasus tumor kolon sigmoid.
c. Pengukuran serum CA-125
Tes darah dilakukan dengan mendeteksi zat yang dinamakan CA-125. Zat ini diasosiakan dengan kanker ovarium untuk menentukan apakah tumor bersifat jinak atau ganas.
d. Laparoskopi
Dilakukan laparoskopi untuk mengidentifikasi massa serta mengambil sedikit jaringan untuk dilakukan pemeriksaan PA.
2.7 Penatalaksanaan
Pada prinsipnya, tumor ovarium memerlukan pembedahan, tetapi ada beberapa kista benigna yang pada umumnya tidak memerlukan pembedahan seperti kista folikel de graf, kista korpus luteum dan kista endometrium. Penatalaksanaan pada tumor berbeda – beda tergantung jenis tumor neoplastik ganas atau tidak.
1) Tumor ovarium non-neoplastik
Tumor ovarium yang tidak memberikan gejala / keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi jeruk nipis dengan diameter kurang dari 5 cm termasuk tumor nonneoplastik. Tidak jarang tumor-tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan menghilang. Maka tindakan yang dilakukan ialah:
a. Menunggu selama 2 sampai 3 bulan.
b. Mengadakan pemeriksaan ginekologik berulang.
c. Mengamati peningkatan pertumbuhan tumor.
d. Mempertimbangkan tindakan operatif, apabila kesimpulan dari hasil observasi tumor tersebut bersifat neoplastik.
2) Tumor ovarium neoplastik tidak ganas
Tindakan yang dilakukan pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah :
a. Pengangkatan tumor ini adalah dengan pengangkatan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor.
b. Jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium disertai dengan pengangkatan tuba (salpingo-ooforektomi).
section) oleh seorang ahli patologi anatomik untuk mendapatkan kepastian apakah tumor tersebut ganas atau tidak.
3) Histerektomi dan salpingo-ooforektomi bilateral
Operasi yang tepat jika terdapat keganasan adalah dengan histerektomi dan salpingo-ooforektomi bilateral (pengangkatan kedua tuba). Pada wanita muda yang masih ingin mempunyai keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah (misalnya tumor sel granulosa), dapat dipertanggungjawabkan untuk mengambil risiko dengn melakukan operasi yang tidak bersifat radikal.
2.8 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus ini adalah: a) Torsi
Torsi terjadi jika pedikel sangat panjang dan tumor tidak terfiksasi pada struktur lain. Tumor yang besar jarang terjadi pemutaran karena tidak memiliki ruangan yang cukup untuk melakukan putaran. Ketika terjadi torsi, lilitan timbul pertama kali pada vena, suplai darah pada arteri tetap berlanjut, dan tumor akan berisi darah yang kemudian akan menjadi kemerahan dan kadang terjadi perdarahan intraperitoneal.
b) Ruptur
Ruptur spontan dari ovarium dapat timbul. Hal ini disebabkan suplai darah yang tidak adekuat pada dinding tumor. Pada tumor berukuran kecil maka nyeri yang dirasakan akan kecil atau minimal, akan tetapi rupture pada kista yang besar dapat mengakibatkan nyeri hebat dan mual. Pada pemeriksaan abdomen akan terdapat nyeri tekan, begitupun pada pemeriksaan pelvik akan ditemukan nyeri tekan.
2.9 Tuba ovarium abses (TOA): Definisi :
Tubo-ovarian abscess adalah akumulasi suatu keadaan penyakit inflamasi akut pelvis dimana kondisi tersebut dikarakteristikkan dengan adanya massa pada dinding pelvis yang mengalami inflamasi.
Faktor Resiko :
Abses ini dapat muncul setelah onset salpingitis, namun lebih sering akibat infeksi adnexa yang berulang. Sepertiga sampai setengah pasien mempunyai riwayat PID yang merupakan infeksi dari polymicrobial bakteri aerobic dan anaerobic.
Gejala Klinis :
Pasien dapat asimptomatik atau dalam keadaan septic shock. Onset ditemukan 2 minggu setelah menstruasi dengan nyeri pelvis dan abdomen, mual, muntah, demam, dan takikardi. Seluruh abdomen tegang dan nyeri. Leukosit dapat
USG yang terbaik dilakukan USG transvaginal dan dijumpai gambaran yang homogen, kistik, dengan dinding yang tipis, dengan batas yang tegas.
Komplikasi :
Infertility, kehamilan ektopik, chronic pelvic pain, pelvic thrombophlebitis dan ovarian vein thrombosis.
Penatalaksaan :
Biasanya respon terhadap terapi antibiotika, diindikasikan untuk dilakukan pembedahan atau drainase. Hypothesis sementara mengatakan bahwa ukuran dari TOA berhubungan dengan lamanya perawatan dirumah sakit dan peningkatan terhadap tindakan pembedahan dan drainase.
Secara umum, perawatan terhadap TOA adalah tindakan bilateral
oophorectomy dan hysterectomy. Manajemen secara medikamentosa dengan
pemberian antibiotika broad spectrum secara umum direkomendasi untuk manajemen pada TOA yang belum pecah. Pada tahun 2006 The Center For
Disease Control and Prevention Sexually Transmittede Disease Treatments Guidelines merekomendasikan pemberian antibiotika kurang dari 24 Jam secara
intra vena. Tidak terdapat spesifik antibiotika yang direkomendasikan. Namun
CDC menyarankan bahwa klindamisin atau metronidazole digunakan dengan
doksisiklin selama 14 hari perawatan untuk mereduksi bakteri gram negative
anaerobs. Tindakan pembedahan direkomedasikan apabila terdapat kegagalan