• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesiapan Pemerintah Kota Binjai Terhadap Binjai Smart City

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kesiapan Pemerintah Kota Binjai Terhadap Binjai Smart City"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Banyak Permasalahan kota yang muncul seiring dengan pesatnya

kepadatan penduduk yang terus bertambah, membuat kota harus siap menghadapi

permasalahan-permasalahan akibat kepadatan penduduk yang timbul. Masalah

kelangkaan sumber daya, kemacetan lalu lintas, munculnya

pemukiman-pemukiman kumuh, masalah limbah dan polusi, degradasi lingkungan, merupakan

beberapa masalah fisik kota yang ditimbulkan. Tidak hanya itu saja,

permasalahan-permasalahan kota juga bukan hanya dari segi fisik saja, sejalan

dengan terus menurunnya kualitas fisik kota, ketidakmampuan suatu kota untuk

memperbaiki kondisi akan menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap

pemerintah yang akan memicu masalah – masalah sosial. Masalah-masalah sosial

ini berkaitan dengan berbagai stakeholder, tidak hanya dapat diselesaikan oleh

pemerintah sendiri, namun dalam penyelesaiannya membutuhkan peran dari

berbagai pihak, sehingga semakin rumit untuk diselesaikan.

Munculnya permasalahan fisik dan ditambah dengan permasalahan sosial

ini membuat kota semakin tidak nyaman untuk ditinggali. Dalam menyelesaikan

permasalahan-permasalahan kota dan menjaga performanya, berbagai konsep

pembangunan maupun pengelolaan kota terus dikembangkan oleh para akademisi

maupun praktisi. Berbagai konsep yang muncul terus dikembangkan agar dapat

(2)

pengelolaan kota yang dapat memberikan kenyamanan bagi penduduknya dan

dapat terus berkelanjutan.

Konsep-konsep yang muncul tersebut bisa merupakan konsep

pengembangan kota secara keseluruhan, maupun konsep muncul dengan berdasar

pada prioritas permasalahan tertentu, seperti kemunculan konsep green city yang

memprioritaskan keberadaan ruang terbuka hijau yang berkaitan erat dengan

masalah degradasi lingkungan.

Seiring dengan kemajuan zaman, kemajuan teknologi pun tak urung juga

menjadi suatu terobosan baru yang digunakan oleh kota untuk memberikan

layanan yang semaksimal mungkin bagi penduduknya. Sehingga muncul konsep

Intelligent City, Ubiquitos City, Digital City, Wired City, Information City, dan

Smart City. Konsep - konsep tersebut berkembang dengan mendasarkan

penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam mengelola kota. Dari

beberapa literatur, dapat diketahui bahwa konsep Smart City merupakan ujung

dari pengembangan konsep pembangunan dan pengelolaan kota berbasis

teknologi informasi dan komunikasi (Deakin and Allwinkle, 2007)1

1

Allwinkle, Sam & Cruickshank, Peter (2011). Creating Smart-er Cities: An Overview. Journal of Urban Technology, Vol. 18, No. 2, April 2011, 1–16.Routledge

. Konsep

Smart City merupakan konsep yang telah melalui

penyempurnaan-penyempurnaan dari konsep yang telah terlebih dahulu berkembang dengan

menambal kekurangan-kekurangan yang ada dan mempertimbangkan aspek-aspek

(3)

Komunikasi (TIK) yang telah muncul sebelumnya. Konsep ini pada akhirnya

tidak hanya mendasarkan pembangunan dan pengelolaan kota dalam dimensi

teknologi, namun juga mencakup dimensi manusia dan dimensi institusional

(Nam & Pardo, 2011)2

Konsep Smart City adalah sebagai Kota yang dapat menyediakan berbagai

informasi yang dibutuhkan oleh warga yang tinggal tetap atau pendatang yang

tinggal tetap atau pendatang yang tinggal sementara di Kota tersebut untuk

berbagai keperluan. Informasi Kota atau “Information City” ini dibentuk dengan

mengimplementasikan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi secara

menyeluruh, dan digunakan untuk berbagai pelayanan yang dapat diberikan oleh

. Sehubungan dengan berkembangnya konsep Smart City,

pemahaman terhadap konsep Smart City ini belum jelas dan konsisten. Kota –

kota yang disebut Smart City pada awalnya memiliki terobosan baru dalam

penyelesaian – penyelesaian masalah di Kotanya, yang kemudian sukses

meningkatkan performa kotanya. Pada umumnya, pembangunan kota – kota ini

menuju Smart City diawali dengan penggunaan teknologi informasi dan

komunikasi yang biasanya bersifat parsial, pada masalah – masalah prioritas.

Sebagai contoh, Kota Amsterdam yang mendasarkan penggunaan TIK untuk

mengurangi polusi, atau Kota Songdo di Korea Selatan yang mendasarkan

pengembangan kota berbasis TIK untuk mengembangkan Songdo sebagai pusat

bisnis internasional.

2

(4)

sebuah sistem Kota. Dengan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi

(TIK) juga mendorong transparansi publik pada sistem tata kelola pemerintahan

dan perencanaan yang melibatkan warga Kota dan juga stake holder. Konsep

Smart City dibangun dan dikembangkan dalam enam dimensi, yang meliputi:

dimensi ekonomi (Smart Economy), manusia (Smart People), Tata Kelola (Smart

Governance), Mobilitas (Smart Mobility), Lingkungan (Smart Environment), dan

Kehidupan (Smart Living).

Smart City awalnya diterapkan di negara Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Pada mulanya Smart City bertujuan untuk menciptakan kemandirian daerah dan

meningkatkan layanan publik. Konsep dan implementasinya pun makin

berkembang. Kini Smart City sudah diterapkan di banyak negara di berbagai

belahan dunia, salah satunya yaitu Indonesia. Implementasi Smart City juga

terjadi di sejumlah kota dan daerah di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu

negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Sebagaimana kota-kota besar

lainnya di dunia, di Indonesia pun kota-kota besar memiliki jumlah penduduk

yang lebih banyak. Hal ini dipicu dengan pemusatan fasilitas hidup yang lebih

baik di daerah perkotaan. Jumlah penduduk yang besar, tidak merata, dan tidak

dikelola dengan baik, akan menimbulkan beragam masalah. Pemasalahan yang

muncul bukan saja terkait dengan masalah sosial, tapi juga lingkungan hidup dan

kualitas hidup masyarakat.

Fakta yang terjadi adalah kecenderungan manusia untuk memadati

(5)

permasalahan ini. Makin banyaknya kota atau daerah di Indonesia yang

menerapkan Smart City di berbagai bidang kehidupan, diharapkan mampu

mengurangi permasalahan-permasalahan yang terjadi di perkotaan. Beberapa

masalah tersebut antara lain pemukiman kumuh, layanan publik yang tidak

memuaskan, angka kejahatan yang meningkat, sampah, banjir, kemacetan dan

lain-lain. Dalam skala yang lebih besar, diharapkan dapat meningkatkan

kesejahteraan masyarakat serta menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara

yang lebih baik lagi. Walau begitu, Kota Surabaya menjadi salah satu Kota di

Indonesia yang telah memenangkan predikat Smart City yang diperoleh pada

ajang Smart City Award 2011 yang diadakan oleh majalah Warta Ekonomi. Smart

City Awards dari majalah Warta Ekonomi ini merupakan penghargaan yang

diberikan kepada kota yang sukses membangun sistem teknologi informasi dan

komunikasi yang terintegrasi sehingga mampu meningkatkan kualitas pelayanan

publik3

3

Surabaya.go.id diakses 22 September 2011

. Kemudian Kota yang juga sudah menerapkan konsep Smart City adalah

Kota Bandung yang sekarang dipimpin oleh Ridwan Kamil, pemerintah kota

Bandung melakukan manajemen-manajemen kota yang lebih baik dari pada

kota-kota lain di Indonesia sehingga dapat meningkatkan performa Kota yang pada

akhirnya mengantarkan kota Bandung menjadi finalis World Smart City Award

2015. Kota Bandung masuk kedalam finalis di ajang tersebut atas inovasi

(6)

Daerah – daerah yang menerapkan konsep Smart City menunjukkan

perubahan yang sangat baik, maka dari itu Pemerintah Kota Binjai juga sudah

memulai persiapan untuk membuat konsep Smart City yang merupakan Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Binjai tahun 2016-2021.4

Kota Binjai terdiri dari 5 (lima) kecamatan yaitu kecamatan Binjai Selatan,

Binjai Kota, Binjai Timur, Binjai Utara, dan Binjai Barat dengan 37 kelurahan Kota Binjai sebagai salah satu Kota di Provinsi Sumatera Utara yang hanya

berjarak 22 km dari Kota Medan, bahkan batas terluar Kota Medan hanya berjarak

8 km. Sebelum berstatus Kota Madya, Binjai adalah Ibukota Kabupaten Langkat

yang kemudian dipindahkan ke Stabat. Binjai berbatasan langsung dengan

Kabupaten langkat disebelah Barat dan Utara serta Kabupaten Deli Serdang di

sebelah timur dan selatan. Binjai merupakan salah satu daerah dalam proyek

pembangunan transportasi Mebidang yang meliputi kawasan Medan, Binjai dan

Deli Serdang.

Letak Kota Binjai juga sangat strategis dengan adanya transportasi yang

mempermudah masyarakat untuk memobilitas kedaerah lain sehingga

perkembangan yang diharapkan bisa terwujud dengan dukungan yang diberikan

Pemerintah Kota Binjai dalam hal pelayanan publik yang semakin baik. Saat ini,

Binjai dan Medan dihubungkan oleh jalan raya lintas Sumatera yang

menghubungkan antara Medan dan Banda Aceh.

2017 pukul 09.18 WIB

5

(7)

Binjai terletak dikawasan yang memiliki banyak potensi untuk menjadi

daerah yang lebih maju lagi, dimana merupakan Kota transit yang dilalui jalan

dari Kota Medan menuju Provinsi Aceh. Kemudian, banyak masyarakat yang

memiliki mata pencaharian sebagai pedagang, terutama di tempat persinggahan

bus lintas yang melewati Kota Binjai. Selain itu, Kota Binjai juga dikenal sebagai

kota penghasil rambutan yang merupakan buah khas daerah Kota Binjai. Tidak

sedikit masyarakat yang menjadi petani rambutan dan menjual hasilnya dipinggir

jalan yang dilalui bus lintas Sumatera, hal ini membuat ciri khas Binjai sangat

terlihat ketika para petani menjual rambutan pada musimnya di sepanjang jalan.

Walaupun hasil pertanian ini cukup potensial, namun demikian sektor yang lebih

menonjol dalam kegiatan perekonomian daerah adalah sektor Home Industri.

Banyak terdapat industri pengolahan di Kota Binjai seperti pembuatan tahu,tempe

ataupun kerupuk.

Walaupun Kota Binjai memiliki modal untuk menjadi daerah yang lebih

sejahtera, tetapi masih banyak permasalahan masyarakat Kota Binjai yang masih

belum bisa diselesaikan oleh Pemerintahannya, seperti dalam bidang ekonomi,

pelayanan publik yang tidak memuaskan, angka kejahatan yang meningkat,

sampah, banjir, kemacetan, maupun birokrasi pemerintahan. Sebagian masyarakat

Binjai yang memiliki rumah di sempadan sungai masih sering terkena banjir dan

juga pernah jalanan Kota di Binjai digenang-in oleh air banjir yang meluap dari

(8)

Kemacetan merupakan masalah yang setiap hari dirasakan masyarakat,

karena itu menjadi persoalan yang harus diselesaikan Pemerintah Kota Binjai,

walaupun kebijakan Pemerintah membuat jalur satu arah di Kota Binjai tetapi

tetap saja hal tersebut belum bisa diselesaikan. Dewasa ini, selain kemacetan yang

merupakan persoalan penting yang harus diselesaikan, keamanan masyarakat juga

perlu untuk ditingkatkan mengingat tingkat kriminalitas yang ada di Kota Binjai

semakin meningkat. Kemudian Pelayanan yang diberikan Pemerintah tehadap

pelayanan publik masih jauh dari kata nyaman dan tidak transparan. Hal ini tidak

terlepas dari konsep pemerintahan yang selama ini dijalankan, jika konsep

pemerintah diubah maka akan menjadi pemerintahan yang cerdas melalui

birokrasi yang berkesinambungan guna mewujudkan tata kelola pemerintahan

kota yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya. Untuk itu, Pemerintah Kota

Binjai sudah mempersiapkan konsep Smart City yang akan diterapkan di Kota

Binjai yang diharapkan dapat membawa Kota Binjai menjadi lebih baik dan

menyelesaikan masalah masyarakat .

Pemerintah mempersiapkan pembangunan Kota Binjai dalam lima tahun

ke depan akan dibangun dalam totalitas perwujudan Kota Cerdas (Smart City)

yang melingkupi pemerintahan yang cerdas, sumber daya manusia yang cerdas,

infrastruktur pendukung mobilitas masyarakat yang produktif dan akan membuka

peluang masyarakat lebih banyak lagi untuk kesejahteraan, perekonomian tinggi

dengan dukungan pengelolaan sumber daya alam berwawasan lingkungan. Dalam

(9)

depan diarahkan kepada pembinaan aparatur pemerintahan yang profesional,

berkompetisi dan memiliki integritas, sehingga dapat mewujudkan birokrasi yang

transparan. Kemudian mewujudkan penegakan hukum dan penerbitan keamanan,

peningkatan kehidupan beragam melalui penciptaan suasana kehidupan yang

nyaman dan aman.

Pemerintah Kota Binjai mempersiapkan untuk menerapkan Smart City

dengan terwujudnya kota layak huni yang akan mengoptimalisasi pembangunan

aspek fisik fasilitas perkotaan, prasarana, tata ruang dan lain – lain dan aspek non

fisik (interaksi sosial, ekonomi, hukum dan politik) yang terwujud dari indikator

seperti tersedianya berbagai kebutuhan dasar masyarakat perkotaan dalam

terpenuhinya air bersih, listrik, dan hunian yang layak.

Tersedianya berbagai fasilitas umum dan fasilitas sosial seperti

transportasi publik, taman kota, fasilitas ibadah dan kesehatan. Tersedianya ruang

dan tempat publik untuk bersosialisasi dan berinteraksi, keamanan dengan bebas

dari rasa takut. Pemerintah juga mendukung fungsi ekonomi, sosial, budaya dan

sanitasi lingkungan yang baik serta keindahan lingkungan fisik. Menurut berita

yang diterbitkan oleh Portal Pemerintah Kota Binjai, Gubernur Sumatera Utara

sudah melakukan Soft Launching Binjai Smart City serta penandatanganan

komitmen bersama antara Pemerintah Kota Binjai dengan Politeknik Negeri

Medan dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Pemerintah Juga sudah

(10)

Binjai dalam mempersiapkan Binjai Smart City (BSC)6

Berdasarkan latar belakang Kota Binjai yang menjadi kota transit, juga

memiliki peluang yang cukup besar untuk menjadi sejahtera, dan juga mobilitas

masyarakat didukung dengan transportasi yang cukup membantu seperti adanya

bus MEBIDANG. Dalam hal ini pelayanan yang diberikan pemerintah dalam

pelayanan publik belum memuaskan masyarakat sehingga pemerintah Kota Binjai . Dengan adanya langkah

awal yang akan membuat kemajuan Kota Binjai diarahkan kepada peningkatan

daya saing pada sektor permukiman, jasa, perdagangan dan industri dan

meningkatnya investasi sehingga masyarakat menjadi sejahtera mengandung

pengertian terwujudnya peningkatan pendapatan, peningkatan kesejahteraan sosial

masyarakat, meningkatkan daya saing pada sektor pemukiman, jasa, perdagangan,

dan industri. Juga penyediaan dan perluasan kesempatan kerja, pemerintahan yang

cerdas, sumber daya manusia yang cerdas, infrastruktur pendukung mobilitas

masyarakat yang produktif dan akan membuka peluang masyarakat lebih banyak

lagi untuk kesejahteraan, perekonomian tinggi dengan dukungan pengelolaan

sumber daya alam berwawasan lingkungan.

Penerapan konsep Smart City yang dilakukan Pemerintah Kota Binjai

memerlukan persiapan yang sangat matang, terutama dalam mendisiplinkan

aparatur pemerintahan yang akan menjalankannya perlu diteliti karena merupakan

kota yang memiliki potensi dan seharusnya bisa membuat masyarakat menjadi

sejahtera dan dengan program inovasi yang dipersiapkan pemerintah Kota Binjai.

6

(11)

akan menerapkan konsep Smart City. Maka penulis tertarik dalam penulisan

penelitian yang berjudul : Kesiapan Pemerintah Kota Binjai Terhadap Binjai

Smart City

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya di latar belakang,

maka rumusan masalah dari peneliti ini adalah bagaimana persiapan Pemerintah

Kota Binjai dalam menuju Binjai Smart City dalam waktu 5 tahun (2016-2021)?

1.3 Batasan Masalah

Dalam penelitian ini, penulis membuat batasan masalah yang akan dibahas

agar tujuan dari hasil penelitian ini tidak menyimpang dari judul yang telah

dibuat. Oleh sebab itu batasan penelitian ini berfokus kepada:

1. Bagaimana langkah – langkah yang dipersiapkan menuju Binjai Smart

City?.

2. Hambatan apa saja yang dialami menuju Binjai Smart City?

3. Faktor – faktor pendukung menuju Binjai Smart City?

1.4 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui langkah – langkah pemerintah Kota Binjai menuju

Binjai Smart City.

2. Untuk mengetahui hambatan yang dialami Pemerintah Kota Binjai menuju

(12)

3. Untuk mengetahui faktor – faktor pendukung Pemerintah Kota Binjai

menuju Binjai Smart City.

1.5 Manfaat penelitian

1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah

pengetahuan di Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara tentang pembangunan politik di kota Binjai

dengan studi tentang Smart City pada tahun 2016-2021. serta dapat

menjadi rujukan dan referensi bagi peneliti lainnya,

2. Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan

masukan mengenai strategi – strategi pembangunan kota menuju konsep

Smart City dan menjadi refrensi bagi kota lain untuk menerapkan konsep

yang sama.

3. Secara pribadi, penelitian ini sebagai salah satu syarat yang harus

dikerjakan sebagai skripsi untuk lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

(13)

1.6 Kerangka Teori

1.6.1 Teori Kebijakan Publik

Kebijakan publik merupakan suatu ilmu multidisipliner karena melibatkan

banyak disiplin ilmu seperti ilmu politik, sosial, ekonomi, dan psikologi. Studi

kebijakan berkembang pada awal 1970-an terutama melalui tulisan Harold D.

Laswell. Definisi dari kebijakan publik yang paling awal dikemukakan oleh

Harold Laswell dan Abraham Kaplan yang mendefinisikan kebijakan

publik/public policy sebagai “suatu program yang diproyeksikan dengan

tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan praktik-praktik tertentu (aprojected of goals, values, and

practices)”. Menurut Thomas R. Dye dalam kebijakan publik adalah “segala yang

dikerjakan pemerintah, mengapa mereka melakukan, dan perbedaan yang

dihasilkannya (what government did, why they do it, and what differences it

makes)”. Dalam pemahaman bahwa “keputusan” termasuk juga ketika pemerintah

memutuskan untuk “tidak memutuskan” atau memutuskan untuk “tidak

mengurus” suatu isu, maka pemahaman ini juga merujuk pada definisi Thomas R.

Dye yang menyatakan bahwa kebijakan publik merupakan “segala sesuatu yang

dikerjakan dan tidak dikerjakan oleh pemerintah”.7

7

H.A.R Tilaar dan Riant Nugroho, Kebijakan Pendidikan, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2008), hal. 185.

Senada dengan definisi Dye,

George C. Edwards III dan Ira Sharkansky juga menyatakan bahwa kebijakan

(14)

“Apa yang dinyatakan dan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah yang dapat ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan atau dalam policy statement yang berbentuk pidato-pidato dan wacana yang diungkapkan pejabat politik dan pejabat pemerintah yang segera

ditindaklanjuti dengan program-program dan tindakan pemerintah.”8

Kedua definisi baik dari Dye dan Edwards III dan Sharkansky sama-sama

menyetujui bahwa kebijakan publik juga termasuk juga dalam hal “keputusan

untuk tidak melakukan tindakan apapun”. memberi contoh bahwa keputusan

pemerintah untuk menunda pelaksanaan Undang-Undang Anti Pornografi dan

Pornoaksi sehingga dalam hal ini pemerintah tidak melakukan tindakan apapun

untuk menjalankan Undang-Undang tersebut juga termasuk kebijakan publik.9

a. Kebijakan publik berisi tujuan, nilai-nilai, dan praktik/pelaksanaannya.

Berdasarkan definisi-definisi kebijakan publik yang dipaparkan di atas, maka

kebijakan publik memiliki konsep-konsep sebagai berikut :

b. Kebijakan publik tersebut dibuat oleh badan pemerintah, bukan organisasi

swasta.

c. Kebijakan publik tersebut menyangkut pilihan yang dilakukan atau tidak

dilakukan oleh pemerintah.

Menurut Subarsono kebijakan publik dapat berupa Undang-Undang,

Peraturan Pemerintah, Peraturan Pemerintah Provinsi, Peraturan Pemerintah

Kota/Kabupaten, dan Keputusan Walikota/Bupati. Berdasarkan Peraturan Menteri

ini, pernyataan pejabat publik juga merupakan bagian kebijakan publik. Hal ini

8

Sri Suwitri, Konsep Dasar Kebijakan Publik, (Universitas Diponegoro Semarang), hal. 9. 9

(15)

dapat dipahami karena pejabat publik adalah salah satu aktor kebijakan yang turut

berperan dalam implementasi kebijakan itu sendiri.10

Kebijakan dapat juga dipandang sebagai sistem. Bila kebijakan dipandang

sebagai sebuah sistem, maka kebijakan memiliki elemen-elemen pembentuknya.

Menurut Thomas R. Dye terdapat tiga elemen kebijakan yang membentuk sistem

kebijakan. Dye menggambarkan ketiga elemen kebijakan tersebut sebagai

kebijakan publik/public policy, pelaku kebijakan / policy stakeholders, dan

lingkungan kebijakan/policy environment.11

Ketiga elemen ini saling memiliki andil, dan saling mempengaruhi.

Sebagai contoh, pelaku kebijakan dapat mempunyai andil dalam kebijakan,

namun mereka juga dapat pula dipengaruhi oleh keputusan pemerintah.

Lingkungan kebijakan juga mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pembuat

kebijakan dan kebijakan publik itu sendiri. Dalam Bukunya Dunn menyatakan,

“Oleh karena itu, sistem kebijakan berisi proses yang dialektis, yang berarti

bahwa dimensi obyektif dan subyektif dari pembuat kebijakan tidak tepisahkan di

dalam prakteknya”

12

10

A.G Subarsono, Analisa Kebijakan Publik, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005), hal. 3. 11

William N Dunn, Pengantar Analisis Kebijakan Publik Edisi Kedua, (Yogyakarta, Gadjah Mada University Press), hal. 110.

12

Ibid., William N Dunn, hal. 111.

. Jika kebijakan dapat dipandang sebagai suatu sistem, maka

kebijakan juga dapat dipandang sebagai proses. Dilihat dari proses kebijakan,

(16)

oleh David Easton. David Easton menjelaskan bahwa proses kebijakan dapat

dianalogikan dengan sistem biologi :

“Pada dasarnya sistem biologi merupakan proses interaksi antara mahluk hidup dan lingkungannya, yang akhirnya menciptakan kelangsungan perubahan hidup yang relatif stabil. Dalam terminologi ini Easton menganalogikannya dengan kehidupan sistem politik. Kebijakan publik dengan model sistem mengandaikan bahwa kebijakan merupakan hasil

atau output dari sistem (politik). Seperti dipelajari dalam ilmu politik,

sistem politik terdiri dari input, throughput, dan output.”13

Model proses kebijakan publik dari Easton mengasumsikan proses

kebijakan publik dalam sistem politik dengan mengandalkan input yang berupa

tuntutan (demand) dan dukungan (support). Model Easton ini tergolong dalam

model yang sederhana, sehingga model Easton ini dikembangkan oleh para

akademisi lain seperti Anderson, Dye, Dunn, serta Patton dan Savicky.

Selanjutnya Baik Dunn maupun Patton & Sawicky mengemukakan model-model

proses kebijakan yang lebih bersifat siklis daripada tahap-tahap/stages. Dunn

menambahkan proses forecasting, recommendation, dan monitoring. Hampir

sama seperti Anderson, dkk. Dye, Dunn membuat analisis pada tiap tahap dari

proses kebijakan dari model Anderson, dkk. dan Dye. Dunn menjelaskan Pada

tiap tahap kebijakan Dunn mendefinisikan analisis kebijakan yang semestinya

dilakukan. Pada tahap penyusunan agenda/agenda setting, analisis yang mesti

dilakukan adalah perumusan masalah/identification of policy problem. Dalam hal

ini Dunn membuat sintesis dari model Anderson, dkk. dan Dye yaitu

13

(17)

menggabungkan tahapan antara identification of problem dan agenda setting dari

Dye dengan tahap policy agenda dari Anderson. Pada tahap formulasi

kebijakan/policy formulation, terdapat langkah analisis yang seharusnya

dilakukan yaitu peramalan/forecasting. Dunn menjelaskan :

“Peramalan dapat menguji masa depan yang plausibel, potensial, dan secara normatif bernilai, mengestimasi akibat dari kebijakan yang ada atau yang diusulkan, mengenali kendala-kendala yang mungkin akan terjadi dalam pencapaian tujuan, dan mengestimasi kelayakan politik (dukungan dan oposisi) dari berbagai pilihan.”

Dunn memberi contoh forecasting pada kebijakan asuransi kesehatan di

AS dengan proyeksi statistik yang menyebutkan bahwa pemerintah AS akan

kehabisan dana asuransi kesehatan masyarakat pada tahun 2005 jika tidak ada

pendapatan tambahan. Pada tahap adopsi kebijakan/policy adoption yang

merupakan tahap yang dikemukakan Anderson, dkk. seharusnya dilakukan

analisis rekomendasi kebijakan. Rekomendasi kebijakan merupakan hasil dari

analisis berbagai alternatif kebijakan setelah alternatif-alternatif tersebut

diestimasikan melalui peramalan.14

“Rencana adalah 20% keberhasilan, implementasi adalah 60% sisanya, 20% sisanya adalah bagaimana kita mengendalikan implementasi. Implementasi kebijakan adalah hal yang paling berat, karena di sini masalah-masalah yang 23 kadang tidak dijumpai dalam konsep, muncul di lapangan. Selain itu, ancaman utama, adalah konsistensi implementasi.”

Mengenai implementasi kebijakan, Nugroho

(18)

Melihat bahwa implementasi merupakan tugas yang memakan sumber

daya/resources paling besar, maka tugas implementasi kebijakan juga sepatutnya

mendapatkan perhatian lebih. Terkadang dalam praktik proses kebijakan publik,

terdapat pandangan bahwa implementasi akan bisa berjalan secara otomatis

setelah formulasi kebijakan berhasil dilakukan. Nugroho menyatakan

implementation myopia yang sering terjadi di Indonesia salah satunya adalah

“Selama ini kita anggap kalau kebijakan sudah dibuat, implementasi akan jalan

dengan sendirinya”. Terkadang sumber daya sebagian besar dihabiskan untuk

membuat perencanaan padahal justru tahap implementasi kebijakan yang

seharusnya memakan sumber daya paling besar, bukan sebaliknya.

1.7 Kerangka Konsep

1.7.1 Kerangka Konsep Smart City

Konsep Smart City atau Kota Pintar pada dasarnya telah digagas dan mulai

diterapkan di kota-kota negara maju sejak awal milenium baru yang lalu.

Fenomena ini tidak lepas dari kemajuan teknologi internet yang mulai digunakan

dalam banyak aspek kehidupan pada saat itu. Internet dengan fitur World Wide

Web-nya yang pada awalnya hanya digunakan oleh kalangan pemerintah dan

(19)

media komunikasi dan transaksi massal yang mempengaruhi seluruh aspek

kehidupan.16

Menurut R. Bintarto, kota merupakan suatu bentang budaya yang

ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan nonalami dengan gejala pemusatan

penduduk yang cukup besar, corak kehidupan yang lebih heterogen dan

materialistis dibandingkan dengan daerah disekitarnya.17

Menurut Peraturan menteri dalam negeri nomor 2 Tahun 1987, Pasal 1,

kota adalah pusat pemukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan

administrasi yang diatur dalam perundang-undangan, serta pemukiman yang telah

memperhatikan watak dan ciri kehidupan perkotaan.18

16

Coe, A., Paquet, G., & Roy, J. E-governance and smart communities: A social learning challenge. (Social Science Computer Review, 19(1), 2001), hal. 80.

17

Bintarto. 1982. Interaksi Desa Kota Dan Permasalahannya. Indonesia: Ghalia. hal 72

18

Peraturan menteri dalam negeri nomor 2 Tahun 1987, Pasal 1

Ada banyak definisi dari

Smart City diantaranya yang menyebutkan bahwa kota akan menjadi pintar

apabila investasi pada sumber daya manusia dan modal sosial serta infrastruktur

sistem komunikasi tradisional dan modern dapat meningkatkan pertumbuhan

ekonomi yang berkelanjutan dan kehidupan yang berkualitas, dengan pengelolaan

sumber daya alam yang bijaksana, melalui tata pemerintahan yang partisipatif.

Ada juga yang menjelaskan bahwa kota pintar adalah area geografis tertentu

dimana teknologi canggih seperti ICT, logistik, produksi energy, dan lain-lain,

saling melengkapi dalam rangka untuk menciptakan manfaat bagi penduduk kota

(20)

yang cerdas, yang dikelola oleh tata pemerintahan yang tertib dengan

kebijakan-kebijakan yang baik19

Konsep ini juga mempunyai beberapa elemen sebagai ciri khas dalam

Smart City, untuk mewujudkan hal tersebut perlu membangun enam unsur

dimensi dari Smart City yaitu:

.

Pada intinya yang dimaksud dengan konsep Kota Pintar ini adalah

penggunaan data digital dan sistem informasi teknologi dalam skala besar untuk

perencanaan dan manajemen perkotaan. Dalam definisi ini sebenarnya kota-kota

di Amerika pada akhir abad ke-20 sudah mulai mengenal dan menggunakan data

digital sebagai input dalam pengelolaan Kota. Namun, seiring perkembangan

zaman, konsep Kota Pintar ini pun mengalami perubahan dan variasi. Ada yang

terfokus pada pengembangan infrastruktur Information Teknologi pada area

tertentu saja, sehingga muncul istilah Smart Communities. Tapi ada juga yang

coba menerapkannya dalam skala kota yang lebih luas namun disinilah muncul

masalah-masalah seperti nilai investasi yang sangat tinggi, sumber daya manusia

yang tidak mendukung, kondisi sosial politik yang tidak stabil, sampai kepada

bencana-bencana alam yang terjadi. Sehingga kemudian berkembang konsep Kota

Pintar dalam konteks yang lebih luas.

20

19

Dameri R.P, “Defining an evaluation framework for digital cities implementation”, (IEEE International Conference on Information Society (i-Society), 2012), hal. 64. 20

(21)

1. Ekonomi Pintar (Smart Economy)

Smart Economy atau ekonomi cerdas mencakup inovasi dan persaingan,

jika semakin banyak inovasi-inovasi baru yang dikembangkan maka akan

menambah peluang usaha baru dan meningkatkan persaingan pasar usaha/modal.

2. Mobilitas Pintar (Smart Mobility)

Smart mobility termasuk pada transportasi dan pembangunan infrastruktur.

Pembangunan infrastruktur diwujudkan melalui penguatan system perencanaan

infrastruktur kota, pengembangan aliran sungai, peningkatan kualitas dan

kuantitas air bersih, pengembangan system transportasi, pengembangan

perumahan dan permukiman, dan peningkatan konsistensi pengendalian

pembangunan infrastruktur.

3. Lingkungan Pintar (Smart Environment)

Lingkungan pintar berarti lingkungan yang bisa memberikan kenyamanan,

keberlanjutan sumber daya, keindahan fisik maupun non fisik, visual maupun

tidak,bagi masyarakat dan publik. Menurut undang-undang tentang penataan

ruang, mensyaratkan 30 % lahan perkotaan harus difungsikan untuk ruang terbuka

hijau baik privat maupun publik. Lingkungan yang bersih tertata merupakan

(22)

4. Masyarakat Pintar (Smart People)

Pembangunan senantiasa membutuhkan modal, baik modal ekonomi

(economic capital), modal manusia (human capital) maupun modal sosial (social

capital). Kemudahan akses modal dan pelatihan-pelatihan bagi UMKM dapat

meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mereka dalam mengembangkan

usahanya.

5. Kehidupan Pintar (Smart Living)

Berbudaya, berarti bahwa manusia memiliki kualitas hidup yang terukur

(budaya). Kualitas hidup tersebut bersifat dinamis, dalam artian selalu berusaha

memperbaiki dirinya sendiri. Pencapaian budaya pada manusia, secara langsung

maupun tidak langsung merupakan hasil dari pendidikan. Maka kualitas

pendidikan yang baik adalah jaminan atas kualitas budaya, dan atau budaya yang

berkualitas merupakan hasil dari pendidikan yang berkualitas.

6. Pemerintah Pintar (Smart Governance)

Kunci utama keberhasilan penyelengaraan pemerintahan adalah Good

Governance. Yaitu paradigma, sistem dan proses penyelenggaraan pemerintahan

dan pembangunan yang mengindahkan prinsip-prinsip supremasi hukum,

kemanusiaan, keadilan, demokrasi, partisipasi, transparansi, profesionalitas, dan

(23)

“desentralisasi, daya guna, hasil guna, pemerintahan yang bersih, bertanggung

jawab, dan berdaya saing”.

Ciri-ciri kota antara lain:

1. Masyarakatnya heterogen artinya masyarakat yang terdiri dari berbagai

kelompok etnis, ras, strata sosial, bahasa dan dialek, serta tradisi kultural yang

berbeda.

2. Bersifat individualistis dan materialistis yaitu sikap kehidupan masyarakat

kota cenderung pada individualisme, yaitu masing-masing anggota masyarakat

berusaha sendiri-sendiri tanpa terikat oleh orang lain. Selain itu, persaingan di

kota sangat ketat sehingga penduduknya lebih memikirkan kepentingan

sendiri dan cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.

3. Mata pencaharian non agraris, artinya masyarakat kota tidak lagi bermata

pencaharian di bidang pertanian, melainkan sebagai pedagang, karyawan

swasta, PNS penjual jasa dan professional.

4. Corak kehidupan bersifat gesselchaft artinya hubungan kekeluargaan antara

masyarakat kota mulai pudar. Masyarakat kota senangtiasa merasa hanya satu

ikatan dengan seprofesi, dan anggota sekumpulan dan sekepentingan saja.

5. Terjadi kesenjangan social antara golongan masyarakat kaya dan masyarakat

miskin artinya kelompok yang berpenghasilan besar mempunyai celah yang

sangat besar dengan kelompok penduduk yang berpenghasilan rendah bahkan

(24)

6. Norma-norma agama tidak begitu ketat artinya penduduk yang individualistis

dan materialistis tidak lagi memperhatikan norma-norma agama diakibatkan

kesibukan dan persaingan yang terlalu padat di kota. Sehingga tidak

menyempatkan waktu untuk mengikuti kajian-kajian agama.

7. Pandangan hidup lebih rasional artinya keadaan kota yang begitu ketat

sehingga penduduk lebih dituntut untuk bersifat rasional daripada mengikuti

perasaan.

8. Menerapkan strategi keruangan artinya adanya pemisahan antara kelompok

kelas social atas dan kelompok social bawah. Kelompok social atas yang

dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang lengkap sedangkan kelompok

kelas bawah menempati perumahan kumuh.21

Berdasarkan fungsinya:

1. Kota pusat produksi, yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat produksi

atau pemasok, baik yang berupa bahan mentah, barang setengah jadi, maupun

barang jadi. Contoh (batubara), Arun dan Bontang (LPG), dan lain-lain.

Contoh kota produsen barang setengah jadi dan barang jadi, yaitu kota-kota

industri seperti Jakarta, Bandung, Cilegon, Gresik, surabaya, dan lain-lain.

2. Kota pusat perdagangan, yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat

perdagangan, baik untuk domestik maupun internasional, misalnya Jakarta,

Singapura, Hongkong, Rotterdam, dan Bremen.

21

(25)

3. Kota pusat pemerintahan, yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat

kesehatan dan rekreasi, umumnya terletak di daratan tinggi yang sejuk atau di

tepi pantai, misalnya Cipanas, Kaliurang, Monoco, Palm Beach, dan Florida.

1.8 Metodologi Penelitian

1.8.1 Metode Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan metodologis yaitu deskriptif. Penelitian

deskriptif adalah suatu cara yang digunakan untuk memecahkan masalah yang ada

pada masa sekarang berdasarkan fakta dan data-data yang ada. Penelitian ini

dibuat untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau

fenomena.22

Tujuan dasar penelitian deskriptif ini adalah membuat deskripsi,

gambaran, atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta,

sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Jenis penelitian ini

tidak sampai mempersoalkan jalinan hubungan antara variabel yang ada, tidak

dimaksudkan untuk menarik generalisasi yang menjelaskan variable-variabel yang

menyebabkan suatu gejala atau kenyataan sosial. Karenanya pada penelitian

deskriptif tidak menggunakan atau tidak melakukan pengujian hipotesa seperti

22

(26)

yang dilakukan pada penelitian ekspalanatif berarti tidak dimaksudkan untuk

membangun dan mengembangkan perbendaharaan teori.23

Studi ini pada dasarnya bertumpu pada penelitian kualitatif. Aplikasi

penelitian kualitatif ini adalah konsekuensi metodologi dari penggunaan metode

deskriptif. Bogdan dan Taylor mengungkapkan bahwa “metodologi kualitatif”

sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata

tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. 1.8.2 Jenis Penelitian

24

Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah dimana penelitian

tersebut akan dilakukan. Adapun penelitian yang akan dilakukan oleh penulis

mengambil lokasi di kota Binjai provinsi Sumatera Utara khusunya pemerintah

kota Binjai. Dalam perkembangannya Kota Binjai sebagai salah satu Daerah

Tingkat II di Propinsi Sumatera Utara telah membenahi dirinya dengan Penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan atau proses

penjaringan informasi dari kondisi sewajarnya dalam kehidupan suatu objek,

dihubungkan dengan pemecahan masalah, baik dari sudut pandang teoritis

maupun praktis. Peneliti menggunakan penelitian kualitatif karena bisa

menjelaskan permasalahan yang terjadi dengan jelas.

1.8.3 Lokasi Penelitian

23

Sanafiah Faisal, Format Penelitian Sosial Dasar-Dasar Aplikasi, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada), hal. 20.

24

(27)

melakukan pemekaran wilayahnya. Semenjak ditetapkan Peraturan Pemerintah

No.10 Tahun 1986 wilayah Kota daerah Kota Binjai telah diperluas menjadi 90,23

Km2 dengan 5 wilayah kecamatan yang terdiri dari 11 desa dan 19 kelurahan.

Setelah diadakan pemecahan desa dan kelurahan pada tahun 1993 maka jumlah

desa menjadi 17 dan kelurahan 20. Perubahan ini berdasarkan keputusan

Gubernur Sumatera Utara Nomor 140-1395/SK/1993 tanggal 3 Juni 1993 tentang

Pembentukan 6 desa persiapan dan 1 kelurahan persiapan di Kota Binjai.

Berdasarkan SK Gubernur Sumatera Utara No.146/2624/SK/ 1996 tanggal 7

Agustus 1996, 17 desa menjadi kelurahan.25

4. Suhandoko (Tokoh Masyarakat Kota Binjai,dan Kepala Lingkungan daerah

Binjai Barat).

1.8.4 Data dan Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, data yang dipergunakan adalah data primer dan data

sekunder. Dimana data primer adalah data yang diperoleh langsung melalui

wawancara mendalam kepada sumbernya, adapun yang menjadi narasumber yaitu

sebagai berikut :

1. Iedya Fadillah, S.Pd (Kepala Seksi Pengelolaan dan Komunikasi).

2. Amransyah (Kabid Perekonomian dan Budaya Bappeda).

3. Saumanda Tazilio Ierhasy, SE (Staf ahli Binjai Smart City).

25

(28)

Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui berbagai sumber seperti

buku, majalah, laporan, jurnal, dan dokumen lainnya. Teknik pengumpulan data

yang digunakan dengan cara observasi langsung kinerja yang dilakukan.

1.8.5 Teknik Analisa Data

Teknik data yang digunakan dalam penelitian ini adala dengan

menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif, dimana teknik ini

melakukan analisa atas masalah yang ada sehingga diperoleh gambaran jelas

tentang objek yang akan diteliti dan kemudian dilakukan penarikan kesimpulan.

1.9 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan merupakan suatu penjabaran secara deskriptif

tentang hal – hal yang akan ditulis,yang secara garis besar terdiri dari bagian awal,

bagian isi dan bagian akhir. Dalam Penulisan Penelitian ini penulis membaginya

ke dalam empat bab. Adapun susunan penulisan penelitian ini adalah sebagai

berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini akan menguraikan dan menjelaskan mengenai latar

belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan manfaat

penelitian, kerangka teori, metodologi penelitian, dan sistematika penelitian

BAB II : Profil Dan Konsep Pembangunan Politik Pemerintah Kota Binjai

(29)

Dalam bab ini akan menggambarkan segala sesuatu mengenai objek

penelitian yaitu profil tentang kota Binjai dan konsep pembangunan politik dalam

menuju smart city di kota Binjai.

BAB III : Menganalisis Kebijakan Politik Pemerintah Kota Binjai Dalam

Menyikapi Faktor-Faktor yang Menghambat dan Mendukung

Dalam Proses Pembangunan Di Kota Binjai Dalam Program Binjai

Smart City.

Bab ini membahas data dan fakta yang diperoleh dari wawancara, buku,

jurnal, majalah, koran, serta internet dan juga akan menyajikan pembahasan dan

analisis data dan fakta tersebut.

BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan yang diperoleh

dari hasil analisis data pada bab-bab sebelumnya serta berisi kemungkinan adanya

Referensi

Dokumen terkait

Dari tabel tersebut diketahui bahwa lokasi ditemukannya M. nigra dengan densitas tinggi adalah Cagar Alam Tangkoko Batuangus, lokasi dengan densitas sedang adalah Cagar

Dari beberapa pemaknaan di Negara-negara tersebut tentang temporary employee , dapat diketahui bahwa temporary employee hanya memiliki masa kerja atau kontrak yang singkat

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Se jauhmanakah

Tulis semua jawapan di ruang yang disediakan.. Kertas soalan ini mengandungi 8 halaman bercetak Nama

Hasil pada penilaian hubungan antara kategori derajat merokok indeks Brinkman dengan nilai saturasi oksigen yang diukur dengan menggunakan pulsa Oksimetri yang

Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena berkat rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Time

Allan Fisher is a computer scientist, and was the Associate Dean for Undergraduate Education in Carnegie Mellon's School o f Computer Science during the term o

Tujuan penelitian : Diketahui efektivitas kompres hangat terhadap penurunan dismenorhea (nyeri haid) pada mahasiswa angkatan 2007 STIKES ‘AISYIYAH Yogyakart a.. Metode penelitian